Anda di halaman 1dari 31

THERMODINAMIKA DAN PENGGERAK MULA

“CRITICAL BOOK REPORT”


DOSEN PENGAMPU : Janter Pangaduan Simanjuntak,ST,MT,Ph.D.

PRODI TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
KATA PENGANTAR
Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran ALLAH SWT, yang
karena bimbingan-Nyalah maka penulis bisa menyelesaikan sebuah karya tulis
berupa Critical Book Report pada mata kuliah Thermodinamika dan Penggerak
Mula.

Makalah ini dibuat dalam rangka mereview, mengkritisi buku yang dipilih dan
juga sekaligus melakukan apa yang menjadi tugas mahasiswa yang mengikuti
mata kuliah “Thermodinamika dan Penggerak Mula”

Akhirnya kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-


besarnya kepada semua pihak yang sudah mendukung penyusunan makalah ini.
Selanjutnya kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sehingga
akan menumbuhkan rasa syukur kami kepada rahmat ALLAH SWT dan dalam
hal perbaikan makalah ini ke depannya.

Medan, Mei 2017

-Penulis-
DAFTAR ISI
Cover Makalah

Kata Pengantar

Daftar Isi

Pendahuluan:

1.1 Tujuan
1.2 Manfaat

Pembahasan:

2.1 Bibliografi Buku


2.2 Review Buku
Penutup:

3.1 Kritik dan Saran


3.2 Kesimpulan
PENDAHULUAN

1.1TUJUAN
 Agar kita bisa belajar berfikir kritis untuk mengemukakan
pendapat kita mengenai buku tersebut.
 Agar kita bisa memilih dan mengetahui mana buku yang
menurut kita mudah dimengerti gaya bahasanya, mudah
dipahami, memilih topic atau pokok bahasan yang baik dan
mudah dicerna.
 Agar kita dapat mengambil manfaat yaitu sisi positif dan
negative dari buku tersebut.
 Agar mahasiswa lebih memahami dan mendalami pokok
bahasan khususnya tentang kepemimpinan dan kearifan local.
 Agar kita bisa belajar dan memahami serta menganalisis baik
dan buruknya si buku tersebut.

1.2 MANFAAT
 Berguna untuk pengetahuan umum tentang Termodinamika dalam
berbagai sumber. Pembaca dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan
sebuah buku yang telah dikritik.
PEMBAHASAN

2.1 BIBLIOGRAFI BUKU


Judul buku :TERMODINAMIKA

Pengarang : Ir. Bambang Susilo, M.Sc.agr dan Dr. Ir. Bambang Dwi Argo, DEA

Penerbit : UB Press

Tahun terbit : 2010

Kota terbit : MALANG

Jumlah halaman : 152

2.2 Review Buku


BAB I
PENGERTIAN DASAR
Termodinamika terapan adalah suatu ilmu yang mempelajari hubungan kalor
(heat), kerja (work), dan sifat-sifat yang dimiliki oleh suatu sistem.
Termodinamika terapan diperlukan untuk menganalisis dan mengubah energi
panas dari sumber yang bermanfaat, seperti bahan bakar minyak atau nuklir
menjadi kerja mekanik. Mesin kalor (Heat Engine) adalah nama yang diberikan
kepada suatu sistem yang bekerja dalam suatu siklus untuk menghasilkan kerja
(work) dari suatu patokan (suplai) energi kalor yang diberikan.

1.1 Kalor, Kerja, dan Sistem

Untuk pembahasan termodinamika terapan secara luas dan tepat, perlu


terlebih dulu ditentukan konsep-konsep pengertian yang akan digunakan. Kalor
(Heat) : adalah suatu bentuk energi yang dipindahkan dari suatu benda ke benda
lain yang memiliki suhu lebih rendah, sesuai dengan perbedaan suhu di antara 2
benda tersebut.

Sistem : Suatu sistem didefinisikan sebagai suatu kumpulan benda dalam


batas-batas yang telah ditentukan dan dapat diidentifikasi . Batas-batas sistem
bisa tetap atau berubah bergantung pada definisi sistem yang ditetapkan.
Sebagai contoh fluida dalam suatu silinder pada mesin yang sifatnya bolakbalik:
mesin torak (reciprocating) selama langkah tidak statik akan ditetapkan sebagai
suatu sistem yang mempunyai batas, yakni dinding silinder dan kepala piston.
Selama piston bergerak, batasbatasnya akan bergerak juga Sistem tipe ini
dikenal sebagai jenis sistem tertutup.Suatu sistem terbuka adalah suatu sistem
dengan perpindahan masa yang melintasi batas.

Tekanan : Tekanan dari suatu sistem adalah gaya yang dihasilkan oleh
sistem tersebut pada satuan luas dari batas-batasnya. Contoh ; satuan-satuan
tekanan adalah N/m2 atau bar; dan simbol yang digunakan adalah p.
Volume spesifik adalah volume yang ditempati oleh satu satuan masa dari
sistem. Simbol yang digunakan adalah ν dan satuannya sebagai contoh adalah
m3/kg. Simbol V akan digunakan untuk volume. (catatan : volume spesifik
berbanding terbalik dengan densitas).

Kerja (work) didefinisikan sebagai hasil perkalian dari suatu gaya dan
perpindahan jarak yang searah dengan gaya tersebut. Bila batas dari suatu
sistem tertutup bergerak searah dengan gaya yang bekerja pada batas tersebut,
maka sistem bekerja pada sekelilingnya. Bila batas tersebut digerakkan ke
dalam, maka kerja diberikan dari sekeliling ke sistem tersebut. Sebagai contoh
satuan kerja adalah N.m. Jika kerja dikenakan pada satu satuan masa fluida,
maka kerja yang dilakukan per kg fluida mempunyai satuan N.m/kg. Kerja
dikenal sebagai energidalam proses peralihan. Kerja tidak pernah diisikan dalam
benda atau dimiliki oleh benda.

1.2 Sistem satuan Satuan

Internasional (SI) akan digunakan pada seluruh isi buku ini. Sistem telah
diadopsi oleh konferensi umum mengenai bobot dan pengukuran pada tahun
1960 dan kemudiandidukung oleh Organisasi Internasional untuk Standardisasi.
Panjang (meter, m), masa (kilogram, kg), waktu (detik, s), arus listrik
(ampere, A), suhu termodinamika (derajat Kelvin, K), intensitas penyinaran
(kandela, cd). Sebagai contoh, kecepatan = panjang/waktu mempunyai satuan
m/s; percepatan = kecepatan/waktu mempunyai satuan m/ s2; volume = panjang
x panjang x panjang mempunyai satuan m3, volume spesifik = volume/masa
mempunyai satuan m3/kg.

Gaya, Energi, dan Tenaga Hukum Newton II ditulis sebagai massa ×


percepatan, untuk suatu benda yang mempunyai massa tetap. F = k × m × a (m
adalah masa benda yang dipercepat dengan percepatan a, oleh suatu gaya F; k
adalah konstanta).Dalam sistem satuan yang benar seperti SI, k = 1 sehingga F
=mxa

Tekanan Satuan dari tekanan (gaya per satuan luas), adalah N/m2 dan
satuan ini kadang-kadang disebut sebagai Pascal, Pa. Untuk hal-hal yang sering
terjadi dalam ilmu termodinamika, tekanan dinyatakan dalam Pascal kecil
nilainya; satuan baru didefinisikan sebagai berikut: 1 bar = 105 N/m2 = 105 Pa.
Keuntungan penggunaan satuan seperti bar adalah bahwa tekanan tersebut
hampir sama dengan tekanan atmosfer. Dalam kenyataan standar tekanan
atmosfer secara tepat adalah 1.01325 bar. Seperti ditunjukkan pada bagian 1.1,
pada umumnya tekanan sering ditunjukkan sebagai tinggi suatu kolom cairan.
Jadi, Standar tekanan atmosfer = 1.01325 bar = 0.76 m Hg.

Suhu Dengan mudah, berbagai sifat yang dapat diukur dari suatu benda
yang berkaitan dengan suhu dapat digunakan untuk menciptakan peralatan
pengukur suhu. Sebagai contoh, panjang kolom air raksa akan beragam
berdasarkan suhu karena pemuaian dan pengerutan air raksa tersebut. Peralatan
dapat dikalibrasi dengan menandai panjang kolom tersebut bila peralatan
tersebut dibawa dalam keseimbangan kalor dengan uap dari air yang mendidih
pada tekanan atmosfer dan sekali lagi peralatan tersebut dalam keseimbangan
dengan es pada tekanan atmosfer. Pada skala Celsius 100 bagian dibuat di
antara 2 titik yang ditetapkan dan titik nol diambil pada titik es.

1.3 Tingkat Keadaan Fluida Kerja

Dalam semua masalah termodinamika terapan, kita dibatasi dengan


perpindahan energi dari atau ke dalam suatu sistem. Dalam praktik, bahan yang
diisikan di dalam batas-batas dari suatu sistem dapat berupa cairan, uap atau
gas, dan dikenal sebagai fluida kerja. Tingkat keadaan sesaat dari fluida kerja
akan didefinisikan dengan ciri tertentu yang dikenal dari sifat-sifatnya. Banyak
sifat-sifat tersebut yang tidak berarti dalam termodinamika seperti tahanan
listrik) dan tidak akan dibicarakan

BAB II
HUKUM PERTAMA TERMODINAMIKA
2.1. Konservasi Energi
Konsep-konsep energi dan hipotesa bahwa energi tidak dapat diciptakan
dan dimusnahkan telah dikembangkan oleh para ilmuwan pada awal abad ke 19
yang telah dikenal sebagai Prinsip konservasi Energi. Hukum pertama
termodinamika hanya merupakan salah satu bagian dari pernyataan prinsip
umum tersebut di atas dengan acuan khusus pada energi panas * [1] ) dan energi
mekanis.
Bila sistem mengalami siklus termodinamika maka panas bersih yang
diberikan kepada sistem sama dengan kerja bersih yang dilakukan oleh sistem
kepada sekelilingnya.

2.2 Persamaan Sistem Fluida


Tidak Mengalir Dalam bagian awal telah dinyatakan bahwa bila suatu
sistem mempunyai energi dalam tertentu dan dipakai untuk melakukan suatu
siklus dengan memindahkan panas dan kerja, maka panas bersih yang diberikan
sama dengan kerja bersih yang dilakukan. Ini adalah benar untuk siklus yang
sempurna bila energi dalam akhir dari sistem sama dengan nilai awalnya.
Selanjutnya dianalisa suatu proses yang mana energi dalam dari sistem akhirnya
lebih besar dari energi dalam awal. Perbedaan antara panas bersih yang
diberikan dan kerja bersih yang dihasilkan akan menaikan energi dalam dari
system
Bila suatu fluida tidak dalam aliran, maka energi dalamnya disebut
sebagai energi dalam dari fluida dan diberi simbol u. Energi dalam dari fluida
bergantung pada tekanan dan suhunya, serta sifat-sifatnya. Pembuktian yang
sederhana bahwa energi dalam adalah suatu sifat diberikan pada referensi 2.2.
Energi dalam dari fluida bermasa , m, ditulis dengan U sehingga m u = U.
Satuan energi dalam, U, biasanya ditulis dengan kJ.

2.3 Persamaan Untuk Sistem

Yang Mengalir Dalam bagian 2.2, energi dalam dari fluida telah
dikatakan sebagai energi yang tersimpan dari fluida karena sifat-sifat
termodinamikanya. Bila 1 kg fluida dengan energi dalam, u, sedang bergerak
dengan kecepatan C dan ketinggian Z di atas level data, maka fluida tersebut
mempunyai total energi u +(C 2 /2) + Zg, dimana C 2 /2 adalah energi kinetik
dari 1 kg fluida dan Zg adalah energi potensial dari 1 kg fluida. Banyak
kejadian dalam masalah yang praktis, laju aliran fluida melalui mesin atau
peralatan adalah konstan. Tipe aliran ini disebut sebagai aliran mantap.

BAB III

FLUIDA KERJA
3.1 Cairan, uap, dan gas

Sebagai pembahasan awal, kita perhatikan suatu diagram p-v untuk


beberapa zat tertentu. Pada umumnya fase padat tidak begitu penting dalam
termodinamika teknik, di mana pada fase ini lebih cocok untuk ahli bahan atau
ahli fisika. Bila suatu fluida dipanaskan pada tekanan konstan, ada satu suhu
tertentu yang dicirikan oleh munculnya gelembung dari uap dalam cairan;
phenomena ini dikenal sebagai proses pendidihan. Pada tekanan yang lebih
tinggi fluida akan mendidih pada suhu yang lebih tinggi
Bila suatu fluida berada pada titik didih dan terus dipanaskan pada
tekanan tetap, maka tambahan panas yang diberikan akan mengubah phase dari
bahan cair menjadi uap; selama perubahan phase, tekanan dan suhu tetap
konstan. Panas yang diberikan disebut sebagai panas laten penguapan. Semakin
tinggi tekanan, semakin sedikit jumlah panas laten yang dibutuhkan untuk
menguapkan bahan.

3.2 Penggunaan Tabel Uap


Tabel uap dapat digunakan untuk kebanyakan macam bahan yang secara
normal ada dalam phase uap (seperti uap, amonia, dan freon). Tabel-tabel
tersebut telah disusun oleh Mayhew dan Rogers dan digunakan dalam buku ini.
Tabel-tabel dari Mayhew dan rogers umumnya diperuntukan bagi uap, tetapi
beberapa sifat dari ammonia dan freon -12 juga diberikan.
Sifat-sifat zat pada tingkat keadaan jenuh Tekanan penjenuhan dan yang
berhubungan dengan suhu penjenuhan uap ditabelkan dalam kolomkolom
paralel dalam tabel pertama, untuk tekanan yang berkisar 0.006112 bar sampai
tekanan kritis 221.2 bar. Volume spesifik, energi dalam, entalpi dan entropi juga
ditabulasikan untuk uap kering jenuh pada setiap tekanan dan yang bersesuaian
suhu penjenuhan. Subskrip g digunakan untuk menotasikan tingkat kering jenuh
Interpolasi Untuk sifat-sifat yang tidak ditabelkan secara pasti dalam
tabel, perlu untuk menginterpolasinya di antara nilai-nilai yang ada pada tabel.
Sebagai contoh, untuk mendapatkan suhu, volume spesifik, energi dalam, dan
entalpi dari uap kering jenuh pada 9.8 bar, perlu untuk menginterpolasi nilai-
nilai yang diberikan di dalam tabel.
Kalor Spesifik Kalor spesifik suatu padatan atau cairan biasanya
didefinisikan sebagai kebutuhan kalor untuk menaikkan satu satuan masa
sebesar satu derajat suhu. Untuk jumlah kecil zat didefinisikan dQ = m c dT,
dimana m adalah massa, dT adalah kenaikan suhu, dan c adalah panas spesifik.
Untuk suatu gas ada ditambahkan antara dua suhu, dan karena itu gas dapat
mempunyai jumlah panas spesifik yang tak terhingga. Akan tetapi, hanya ada
dua panas spesifik untuk gas yang didefinisikan yaitu panas spesifik pada
volume konstan cv, dan panas spesifik pada tekanan konstan cp.
Catatan bahwa persamaan yang mendefinisikan panas spesifik ( dQ = m
c dT ), suhu naik, dT, mungkin sebagian disebabkan oleh masukan kerja.
Definisi harus dibatasi pada proses tidak mengalir yang reversible, oleh karena
‘irreversibilitas’ menyebabkan perubahan suhu yang tidak dapat dibedakan yang
disebabkan jumlah panas dan kuantitas kerja.
Hukum Joule Hukum Joule menyatakan bahwa energi dalam dari suatu
gas sempurna hanya merupakan fungsi suhu absolut, sehingga u = f(T). Untuk
mengevaluasi fungsi ini, kita tinjau 1 kg gas ideal yang dipanaskan pada volume
konstan. Dari persamaan energi yang tidak mengalir, 2.3, dQ = dW + du Karena
volume konstan maka tidak ada kerja yang dilakukan, dW= 0 maka dQ = du
Pada volume konstan untuk gas ideal, dari Pers. 3.11. maka untuk 1 kg dQ = cv
dT Oleh karena itu, dQ = du = cv dT, dan dengan mengintegrasikan u = cvT +
K ( dimana K adalah konstanta )
Hukum Joule menyatakan bahwa u =f(T), energi dalam bervariasi secara
linier dengan suhu mutlak. Energi dalam dapat dibuat nol pada suatu suhu
referensi sembarang. Untuk gas yang sempurna dapat diasumsikan bahwa u = 0
bila T = 0, konstanta K adalah nol, energi dalam, u = cvT untuk gas yang
sempurna (3.14) atau untuk masa, m, suatu gas yang sempurna energi dalam.

BAB IV
PROSES REVERSIBLE DAN IRREVERSIBLE

4.1 Proses Reversible Tidak Mengalir


Proses pada volume konstan Pada proses volume konstan fluida kerja
diisikan dalam suatu wadah yang kokoh (rigid), dengan demikian batas-batas
sistem tidak bergerak dan tidak ada kerja yang dapat dilakukan atau dikenakan
oleh sistem, selain dari masukan kerja pada kincir. Berhubung proses
berlangsung pada volume konstan maka diasumsikan kerja yang dilakukan
sama dengan nol, demikian pula sebaliknya.

4.2 Proses Politropik Dalam praktik


banyak ditemui proses yang mendekati hukum reversibel yang berbentuk
pvn = konstan, dimana n adalah suatu konstanta. Uap dan gas ideal keduanya
mengikuti bentuk hukum ini sepenuhnya terutama pada proses yang tidak
mengalir. Proses tersebut merupakan proses reversibel.
Throttling Suatu aliran fluida dikatakan dalam kondisi throttling bila ada
hambatan di dalam aliran, dan kecepatan aliran sebelum dan sesudah hambatan
sama atau ada perbedaan kecil yang bisa diabaikan, serta jika tidak ada
kehilangan panas ke lingkungan. Hambatan terhadap aliran dapat berupa klep
terbuka, orifice, atau adanya penurunan yang mendadak pada penampang aliran.

4.3 Proses Aliran Reversibel


Walaupun proses yang melibatkan aliran fluida dalam praktiknya sangat
irreversibel, namun dalam analisisnya biasanya diasumsikan sebagai proses
yang reversibel agar bisa menggambarkan perbandingan proses yang ideal.

4.4 Proses-Proses Irreversibel


Kriteria reversibilitas telah dijelaskan pada Sub bab 1.5. Persamaan dari Sub
bab 4.1, 4.2, dan 4.3 digunakan hanya jika proses memenuhi kriteria
reversibilitas untuk pendekatannya. Dalam suatu proses di mana fluida
terkurung di dalam ruang piston, efek gesekan bisa diabaikan. Bagaimanapun
untuk memenuhi kriteria (c) kalor harus tidak pernah ditransfer dari atau ke
dalam melewati perbedaan suhu yang terbatas. Akan tetapi, pada proses
isotermal hal ini memungkinkan, karena dalam proses lain suhu sistem berubah
secara kontinyu selama proses, untuk memenuhi kriteria (c) suhu diperlukan
medium pemanas atau pendingin eksternal untuk berubah sesuai kebutuhan

Ekspansi bebas (Ekspansi tanpa Hambatan) Proses ini telah dibahas pada Sub
bab 1.6. dalam rangka untuk menunjukkan bahwa di dalam suatu proses
irreversibel kerja yang dilakukan tidak sama dengan ʃ pdv. Anggap dua wadah
A dan B, satu sama lain saling berhubungan dengan dilengkapi kelep X, dan
diinsulasi dari perpindahan panas secara sempurna

Throttling Suatu aliran fluida dikatakan dalam kondisi throttling bila ada
hambatan di dalam aliran, dan kecepatan aliran sebelum dan sesudah hambatan
sama atau ada perbedaan kecil yang bisa diabaikan, serta jika tidak ada
kehilangan panas ke lingkungan. Hambatan terhadap aliran dapat berupa klep
terbuka, orifice, atau adanya penurunan yang mendadak pada penampang aliran.

BAB V
HUKUM KEDUA TERMODINAMIKA
Dalam Bab 2 dinyatakan bahwa menurut hokum pertama termodinamika, bila
suatu system mengalami suatu siklus sempurna, maka panas bersih yang
disuplai sama dengan kerja bersih yang dilakukan. Hal ini didasarkan pada
konsep prinsip konservasi energy yang didasarkan pada hasil pengamatan dari
kejadian alam. Hukum kedua thermodinamika , yang juga merupakan hokum
alam, menunjukan bahwa, walaupun panas netto yang dihasilkan dalam suatu
siklus besarnya sama dengan kerja bersih yang dilakukan, namun demikian
masih ada syarat yang ditekankan bahwa panas total yang diberikan harus lebih
besar dari kerja bersih yang dilakukan,di Mana selalu ada sebagian panas harus
dibuang oleh sistem. Untuk dapat mengerti hokum lebih mendalam, maka perlu
dipelajari lebih lengkap mesin kalor yang akan di diskusikan berikut ini.

5.1. Mesin
Kalor Mesin kalor adalah suatu system yang beroperasi dalam suatu siklus
sempurna dan menghasilkan kerja netto dari suatu suplai panas. Hukum kedua
menyatakan bahwa suatu sumber panas dan suatu wadah untuk buangan panas
keduanya diperlukandalam suatu sistem, Karena sejumlah panas harus selalu
dibuang oleh system tersebut. Representasi diagramatis dari mesin kalor
ditunjukkan pada Panas yang diberikan sumber adalah Q1, kerja yang dilakukan
system adalah W, dan panas yang dibuang adalah Q2. Berdasarkanhokum
pertama, dalam suatu siklus yang sempurna berlaku : Panas bersih yang
diberikan Kerja bersih yang dilakukan

5.2. Entropy
Pada sub Bab 2.2. sifat termodinamika penting yaitu energy dalam,
muncul sebagai konsekwensi dari Hukum pertama termodinamika. Sifat
termodinamika lain yang penting adalah entropy yang merupakan
konsekuensi dari hokum ke dua.Kita perhatikan suatu proses rever sibleadia
batic pada diagram p-v pada sembarang sistem. Proses ini direpresentasikan
dengan Gambar 5.6. Misalkan system tersebut memungkinkan untuk terjadinya
proses yang berlangsung reversible isothermal pada temperature T 1 dari B ke C
dan D kemudian kembali ke keadaan semula dengan proses adiabatic ke dua
dari C ke A Dengan definisi bahwa proses adiabatic adalah proses tanpa adanya
aliran panas dari atau ke dalam sistem, maka panas hanya di transfer B ke C
selama proses isotermal. Kerja yang dilakukan system ditunjukkan dengan
luasan area tertutup (lihat sub bab1.6). Oleh karena itu, terlihat proses
berlangsung dalam siklus dengan menghasilkan kerja bersih pada temperature
yang konstan. Hal ini tidak lah mungkin terjadi Karena berlawanan dengan
Hukum Termodinamika kedua. Oleh Karena itu maka anggapan tingkat
keadaan awaldari proses tersebut adalah salah, dan hal ini tidaklah mungkin
suatu proses berlangsung dengan dua kondisi adiabatis yang melalui tingkat
keadaan A yang sama.
5.3. Diagram T-s
a. Untuk Uap
5.4. Proses Reversibel dalam diagram T-s
5.5 . Entropi dan Irreversibilitas
5.6 . Ketersediaan Nilai Manfaat
BAB VI
SIKLUS-SIKLUS MESIN KALOR
BAB VI
SIKLUS-SIKLUS MESIN KALOR
6.2 Skala Suhu Absolut
6.3 Siklus Carnot untuk Gas Ideal

6.4 Siklus Tekanan Konstan


6 .5 Siklus Udara Standar
6.6 Siklus Otto
BAB VII
TERMODINAMIKA CAMPURAN TAK BEREAKSI
Hukum Dalton dan Hukum Gibbs-Dalton

Analisis Volumetrik Campuran Gas


Berat molekul dan Tetapan Campuran Gas
PENUTUP
3.1 KRITIK & SARAN
Pada buku ini, penyampaian materinya sudah baik, penulis memasukkan beberapa
contoh soal dan latihan soal yang berguna untuk memperdalam pemahaman materi disetiap
babnya. Bahasa yang di gunakan pada buku ini dapat di pahami, namun bagi kami buku ini
tetap harus membutuhkan bimbingan dosen yang ahli dalam bidangnya. Kami menyayangkan
penulisan rumus, dan grafik yang terdapat pada buku ini kurang jelas. Penulis tidak menulis
manual, melainkan mengcrop rumus dari sumber lain sehingga hasil yang tampil pada ebook
ini kurang maksimal.
Kami berharap penulis lebih cermat dalam menyajikan rumus dan grafik yang
terdapat pada buku ini, sehingga pembaca tidak kesulitan dalam membaca rumus dan
grafiknya.

3.2 Kesimpulan
Buku ini sangat berguna untuk pemahaman kita. Dari isi buku ini kita dapat menambah ilmu
dan pengetahuan kita selama serius dalam mempelajarinya. Kita juga dapat menentukan dan
menilai bagaimana buku tersebut. Dari sisi manfaat, sisi positif dan sisi negative. Buku ini
bermanfaat, karena teori yang terdapat dalam buku ini sesuai dengan materi yang kami ambil
pada mata kuliah thermodimanika. Dengan demikian, buku ini juga berguna untuk dipakai
pada proses pembelajaran di perkuliahan.