Anda di halaman 1dari 65

Uji Kandungan Logam Merkuri (Hg) padaSediaan

Krim Pemutih Wajah yang Beredar Di Kota Makassar

TITIK ANGGRAENI
N11106645

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
Uji Kandungan Logam Merkuri (Hg) pada Sediaan Krim Pemutih Wajah
yang Beredar Di Kota Makassar

SKRIPSI

untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi


syarat-syarat untuk mencapai gelar sarjana

TITIK ANGGRAENI
N11106645

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini adalah karya saya sendiri,
tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar
kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya
juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan
oleh orang lain, kecuali yang tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan
dalam daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti bahwa pernyataan saya tidak benar, maka
skripsi dan gelar yang diperoleh, batal demi hukum.

Makassar, Januari 2014

Penyusun

Titik Anggraeni
UCAPAN TERIMA KASIH

ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Alhamdulillahirrobbil alamin, tiada kata yang patut diucapkan selain

puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhana Wa Ta’ala yang

senantiasa melimpahkan rahmat, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat

menyusun dan menyelesaikan tugas akhir ini sebagai salah satu syarat guna

mencapai gelar sarjana pada Program Studi Farmasi di Fakultas Farmasi

Universitas Hasanuddin.

Dalam penyusunan tugas akhir ini, penulis menyadari betapa

susahnya untuk mencapai suatu kesuksesan, bahkan penulis berulang kali

mengalami kegagalan. Penulis sangat merasakan sungguh banyak dorongan

dan bantuan dari beberapa pihak sampai tugas akhir ini selesai. Pada

kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar–besarnya

dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Ibu Dekan Farmasi Universitas Hasanuddin beserta segenap Bapak/ Ibu

dosen atas ilmu yang telah diberikan.

2. Ibu Prof. Dr. Hj. Asnah Marzuki, M.Si., Apt. selaku pembimbing utama

yang telah meluangkan waktu dan pikiran untuk mengarahkan dan

membimbing penulis hingga selesainya tugas akhir ini.


3. Ibu Dra. Hj. Nursiah Hasyim, CES., Apt. selaku pembimbing pertama

yang juga telah meluangkan waktu dan pikiran untuk membimbing

penulis.

4. Bapak Drs. Abd. Muzakkir Rewa, M. Si., Apt., Ibu Dr. Hj. Sartini, M. Si.,

Apt., dan Ibu Dra. Hj. Aisyah Fatmawaty, M. Si., Apt, selaku penguji yang

telah meluangkan waktu, dan telah meberikan saran atas penyususna

tugas akhir ini.

5. Koordinator Laboratorium Biofarmaka Kak Ile dan Kak Desi atas sarana

dan prasarana serta kesabaran yang telah diberikan kepada penulis

dalam membantu kelancaran penelitian dari awal hingga akhir.

6. Segenap Asisten Dosen, Staf Laboratorium dan Staf pegawai Fakultas

Farmasi atas bantuannya selama ini.

7. Orang tua tercinta Almarhum Rachman Kadir dan Almarhumah Siti

Nurmawati beserta seluruh keluarga atas kasih sayang, cinta, dorongan,

semangat, materi, dan doanya atas segala dukungan yang telah mereka

berikan.

8. Saudara-saudara seperjuanganku Karmila Sari Sibela, Stevy Graff Eman,

Delyana Siregar, Elsa V. Leimena, Angel Minake dan semua pihak yang

telah memberikan bantuan dan dorongan selama perkuliahan, penelitian,

dan penyusunan tugas akhir ini yang tidak sempat penulis sebutkan.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari

kesempurnaan sehingga penulis sangat mengharapkan saran dari semua


pihak yang sifatnya membangun. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis

dan pembaca.

Makassar, 2014

Titik Anggraeni
ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian tentang uji kandungan logam merkuri (Hg)


pada sediaan krim pemutih wajah yang beredar di kota makassar, secara
Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) pada panjang gelombang 235,75 nm.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menetapkan kadar
merkuri dalam beberapa merek krim pemutih yang beredar di Kota
Makassar. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode
acak. Sampel krim pemutih yang diteliti sebanyak 5 merek, masing-masing
merek terdiri dari 3 sampel. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pada
beberapa merek krim pemutih yang diteliti terdapat beberapa sampel yang
mengandung merkuri dengan kadar C II 0,0295 mg/ kg, C III 0,0518 mg/ kg,
D I 0,0738 mg/ kg, D II 0,0724 mg/ kg, D III 0,0590 mg/ kg, dan E III 0,0222
mg/ kg.
ABSTRACT

A research concerning metal content of merkuri (Hg) in some


whitening creams marketed in Makassar City, by Atomic Absorption
Spectrophotometri (AAS) in wave length 235,75 nm. The research was
aimed to identify and determine Mercury (Hg) contained in some whitening
creams marketed in Makassar City. Samples in this research were taken at
random. Sample of whitening cream were 5 brand name, each brand name
have 3 samples. From the results shows there are some brand name of
whitening creams contains Mercury (Hg) C II 0,0295 mg/ kg, C III 0,0518
mg/ kg, D I 0,0738 mg/ kg, D II 0,0724 mg/ kg, D III 0,0590 mg/ kg, and E III
0,0222 mg/ kg.
DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ………………………………….………… ii

LEMBAR PERNYATAAN …………………………………..………… iv

UCAPAN TERIMA KASIH …………………………………............... v

ABSTRAK ..………………………………………………………....…. viii

ABSTRACT ...………………………………………………………...... ix

DAFTAR ISI …..……………………………………………………….. x

DAFTAR TABEL …………..….……………………………………….. xii

DAFTAR GAMBAR ..………………………………………………….. xiii

DAFTAR LAMPIRAN …………..........……………………………….. xiv

BAB I PENDAHULUAN …………...………………………………….. 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………...…………………..………. 6

II.1 Uraian Kecantikan ………………………………................. 6

II.2 Uraian Kosmetik …………………………………………….. 7

II.2.1 PenggolonganKosmetik ………………………........ 8

II.2.2 FormulasiKosmetik …………………….………….... 9

II.3 Uraian Krim Wajah ………………………………..…....…... 9

II.4 Uraian Pemutih ……………………………………….…..… 10

II.5 Uraian Kulit ..………………………………………….……... 11

II.6 Uraian Logam Berat ………...……………………………… 14

II.7 Uraian Logam Merkuri (Hg) …....………………………….. 15


II.8 Uraian Spektrofotometri ....…………………………….…... 19

II.9 Cara Reparasi Sampel ....………………………………….. 27

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN ....………..…………………. 31

III.1 Alat dan Bahan yang Digunakan ..……………………….. 31

III.2 Penyiapan Bahan Penelitian ..……………………….…… 31

III.3 Pengambilan dan Penyiapan Sampel ......………………. 32

III.4 Prosedur Pengukuran .…………………………………..... 32

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………...…… 34

IV.1 HasilPenelitian……………………………………...……... 34

IV.2 Pembahasan…………………………………….….....…… 35

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………... 41

V.1 Kesimpulan ..………………………………………………... 41

V.2 Saran …….………………………………………………...... 41

DAFTAR PUSTAKA ……..………………………………………….... 42

LAMPIRAN …………………………………………………………..... 44
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 1. Penggolongan kosmetik berdasarkan tempat


penggunaannya …………………………………………………….. 8

Tabel 2. Hasil pengukuran serapan larutan baku logam merkuri


dengan Spektrofotometer Serapan Atom pada panjang
gelombang 253,7 nm ………………………………………….....… 46

Tabel 3. Hasil analisis logam merkuri dalam sediaan krim


pemutih wajah …………………………………..…………………… 47
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 1. Grafik kurfa baku larutan baku merkuri ...........….. 48

Gambar 2. Alat Spektrofotometer Serapan Atom PinAAcle


900T® ………………………………………………………………. 49
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

Skema 1. Pembuatan larutan baku merkuri (Hg) .............…….... 44

Skema 2. Skema kerja analisis logam merkuri (Hg) pada


sediaan krim pemutih wajah yang beredar di kota Makassar ….. 45

Contoh Perhitungan Konsentrasi Logam Merkuri (Hg) ........…… 50

Data Hasil Absorbansi Sediaan Krim Pemutih Wajah Yang


Beredar Di Kota Makassar dengan Menggunakan Alat
Spektrofotometer Serapan Atom PinAAcle 900T® …………....… 51
BAB I

PENDAHULUAN

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap wanita pasti menginginkan

penampilan yang sempurna, termasuk kulit wajah. Banyak wanita ingin

mendapatkan wajah lebih putih dan bersih, tapi tidak sedikit juga yang

memakai produk pemutih yang tidak aman, karena mengandung bahan kimia

yang tidak aman bagi tubuh misalnya merkuri. Biasanya jenis pemutih yang

mengandung bahan kimia menghasilkan kulit putih dalam sekejap, tetapi

hasilnya bisa jadi tidak sesuai dengan kulit asli kita sehingga terjadi

perbedaan yang sangat signifikan antara warna kulit wajah dengan warna

kulit tubuh kita misalnya tangan.

Seiring dengan perkembangan zaman, timbul anggapan bahwa kulit

putih jauh lebih baik bila dibandingkan dengan kulit yang berwarna lebih

gelap atau sawo matang. Dengan adanya anggapan demikian maka

timbullah berbagai macam produk perawatan kulit yang komposisinya tidak

sesuai dengan peraturan perundang undangan yang telah ditetapkan.

Masyarakat menganggap bahwa kosmetika tidak akan menimbulkan hal-hal

yang membahayakan karena hanya ditempelkan dibagian luar kulit saja,

pendapat ini tentu saja salah karena ternyata kulit mampu menyerap bahan

yang melekat pada kulit. Absorpsi kosmetika melalui kulit terjadi karena kulit

mempunyai celah anatomis yang dapat menjadi jalan masuk zat-zat yang
melekat di atasnya. Dampak dari absorpsi ini ialah efek samping kosmetika

yang dapat berlanjut menjadi efek toksik kosmetika. (1)

Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap digunakan

pada bagian luar badan untuk membersihkan, memberi daya tarik,

mengubah penampilan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik,

memperbaiki bau badan tetapi tidak untuk mengobati atau menyembuhkan

suatu penyakit (2).

Kosmetik didefinisikan berdasarkan pada tempat penggunaanya

(epidermis, rambut, kuku, bibir, organ genital bagian luar, gigi, membrane

mukosa mulut) dan tujuan pemakaiannya (pembersih, pewangi, mengubah

penampilan, memperbaiki bau badan, melindungi, dan menjaga dalam

kondisi yang baik).

Sebuah produk kosmetik yang beredar dipasaran dalam masyarakat

harus tidak menyebabkan kerusakan terhadap kesehatan manusia ketika

digunakan pada kondisi normal atau kondisi pemakaian yang mungkin dapat

digunakan, pelabelan, setiap petunjuk penggunaan dan pembuangan serta

indikasi lain atau informasi yang diberikan oleh produsen atau agen yang sah

atau oleh orang lain yang bertanggung jawab untuk menempatkan produk

pada pasaran masyarakat.(3)

Kosmetik dalam peraktek mempunyi arti yang luas yaitu ilmu dan seni

untuk memperbaiki penampilan dengan jalan memelihara dan merawat kulit,

rambut serta kuku (4).


Bahan kosmetik dapat berupa bahan tunggal ataupun campuran

bahan yang berasal dari alam dan atau sintetik yang merupakan komponen

kosmetik. Suatu produk dapat digolongkan sebagai kosmetik apabila zat-zat

yang terkandung di dalamnya berasal dari bahan alami atau bahan kimia

dalam jumlah maksimum yang telah ditentukan dan memiliki fungsi untuk

merawat dan memperindah penampilan yang sesuai dengan peraturan UU

Kesehatan dan bukan untuk terapi seperti obat. Selain itu, kosmetik juga

tidak boleh mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh dan hanya boleh bekerja di

lapisan epidermis kulit.

Dalam penggunaan kosmetik terjadi kontak antara kosmetik dengan

kulit, maka ada kemungkinan kosmetik menembus kulit ke bagian yang lebih

dalam dari tubuh. Kontak kosmetik dengan kulit menyebabkan dampak

positif berupa manfaat kosmetik dan dampak negative yang dapat berupa

jerawat dan alergi pada kulit (5).

Krim pemutih merupakan campuran bahan kimia dan atau bahan

lainnya dengan khasiat bisa memutihkan kulit atau memucatkan noda hitam

(coklat) pada kulit. Pemakaian Merkuri dalam krim Pemutih dapat

menimbulkan berbagai hal, mulai dari perubahan warna kulit yang pada

akhirnya dapat menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, alergi, iritasi kulit

serta dapat menyebabkan kanker. (1)

Konsumen harus berhati-hati dalam memilih produk kosmetik,

khususnya kosmetik pemutih wajah, karena tidak semua produk pemutih

wajah yang beredar di masyarakat aman untuk dikonsumsi. Pada Kamis


(27/12/2012) di Jakarta, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI

mengeluarkan daftar 48 kosmetik berbahaya. Kosmetik tersebut diteliti sejak

bulan Januari hingga Oktober 2012. Dari penelitian tersebut ditemukan

adanya kosmetik yang mengandung bahan berbahaya seperti merkuri

sebagai bahan pemutih, meskipun kadarnya kecil.Produk-produk kosmetik

yang memakai bahan berbahaya biasanya menunjukkan efek yang cepat

dan memuaskan, sehingga konsumen puas. Tetapi di situlah bahayanya,

karena bahan yang dipakai dapat membahayakan kesehatan. Maka, sudah

menjadi tanggung jawab BPOM untuk terus berupaya mengurangi angka

penyakit yang diakibatkan penggunaan produk-produk berbahaya," ujar

Kepala Badan POM, Lucky S Slamet. (6)

Berdasarkan PERMENKES RI No.445/MENKES/PER/V/1998

Indonesia melarang penggunaan merkuri dalam sediaan kosmetik, walaupun

saat ini penggunaan krim yang mengandung merkuri ini masih terus

digunakan. Oleh karena itu perlu diadakan pengawasan mutu prodak yang

beredar di pasaran sehingga melindungi masyarakat dari bahaya zat kimia

berbahaya, khususnya logam Merkuri. (1)

Menurut Dr. Retno I. Tranggono, SpKK menyebutkan bahwa krim

yang mengandung merkuri, awalnya memang terasa manjur dan membuat

kulit tampak putih dan sehat. Tetapi lama-kelamaan, kulit dapat menghitam

dan menyebabkan jerawat parah. Selain itu, pemakaian merkuri dalam

jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan kanker kulit, kanker payudara,

kanker leher rahim, kanker paru-paru, dan jenis kanker lainnya.


Merkuri termasuk logam berat berbahaya, yang dalam konsentrasi

kecilpun dapat bersifat racun. Pemakaian merkuri dalam krim pemutih dapat

menimbulkan berbagai hal, mulai dari perubahan warna kulit yang pada

akhirnya dapat menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, alergi, iritasi kulit

serta pemakaian dengan dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan

permanen otak, ginjal, dan gangguan perkembangan janin bahkan paparan

jangka pendek dalam dosis tinggi juga dapat menyebabkan muntahmuntah,

diare dan kerusakan paru-paru serta merupakan zat karsinogenik (dapat

menyebabkan kanker) pada manusia.

Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) digunakan untuk analisis

kuantitatif unsurunsur logam dalam jumlah sekelumit (trace) dan sangat

kelumit (ultratrace). Spektroskopi serapan atom didasarkan pada penyerapan

energi oleh atom-atom netral, dan sinar yang diserap biasanya sinar tampak

atau ultraviolet (1).

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti melakukan penelitianini

dengan maksud untuk menganalisis adanya kandungan logam Merkuri (Hg)

pada beberapa sediaan kosmetik secara spektrofotometri serapan atom.

Dengan tujuan memberikan informasi kepada masyarakat. Pada penelitian

ini, dilakukan analisis logam merkuri (Hg) pada sediaan krim pemutih wajah

yang beredar di pasaran yang tidak memiliki nomor registrasi. Pengambilan

sampel dilakukan secara acak dengan membagi 5 kawasan di kota

Makassar.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II. 1 Uraian Kecantikan

Kecantikan bukanlah sebuah konstruk fisik yang dapat diukur

secara eksak, tetapi kecantikan adalah suatu konstruk social yang

subyektif dan sangat dipengaruhi oleh budaya dan karakteristik

masyarakat. Bahkan dapat dikatakan sangat dipengaruhi oleh tren,

mode dan kesukaan temporer banyak orang (7).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikeluarkan

Departemen Pendidikan Nasional(2002), cantik diartikan sebagai

indah, elok, rupawan, atau bentuk, rupa dan lainnya tampak serasi.

Tidak dijelaskan secara rinci yang bagaimana yang serasi itu, apakah

hidung mancung dengan bibir tebal? Atau hidung biasa dengan bibir

kecil? Dan sebagainya. Akhirnya yang dinamakan cantik itu relatif dan

sifatnya subjektif (8).

Secara garis besar berbagai pendapat tentang definisi

kecantikan dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok: pertama,

kecantikan hanya bersifat fisik saja (outer beauty). Wajah yang ayu,

tubuh yang langsing, kulit putih, tinggi semampai, hidung mancung

merupakan manifestasi kecantikan fisik. Kedua, hakikat kecantikan itu

ada dalam Diri yang diistilahkan dengan inner beauty. Kepribadian,

intelektualitas, kecakapan emosional, dan kualitas-kualitas nonfisik


merupakan gambaran kecantikan model kedua ini. Ketiga, kecantikan

itu bersifat fisik dan nonfisik. Artinya perempuan yang memiliki inner

beauty juga harus memiliki outer beauty (9).

II. 2 Uraian kosmetik

Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap

digunakan pada bagian luar badan untuk membersihkan, memberI

daya tarik, mengubah penampilan, melindungi supaya tetap dalam

keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak untuk mengobati

atau menyembuhkan suatu penyakit (10).

Kosmetik sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Pada

abad ke- 19, pemakaian kosmetik mulai mendapat perhatian, yaitu

selain untuk kecantikan juga untuk kesehatan. Menurut Traggono,

perkembangan ilmu kosmetik serta industrinya baru dimulai secara

besar-besaran pada abad ke- 20.

Kosmetik dalam peraktek mempunyi arti yang luas yaitu ilmu

dan seni untuk memperbaiki penampilan dengan jalan memeliara dan

merawat kulit, rambut serta kuku (4).

Federal Food, Drugs and Cosmetic mendefinisikan kosmetik

sebagai bahan yang digunakan dengan cara menggosok, menuang,

menabur, menyemprotkan atau penggunaan lainnya pada badan

manusia di setiap tempat untuk membersihkan, mempercantik atau

merubah penampilan kulit (14).


II. 2. 1 Penggolongan Kosmetik

Saat ini banyak kosmetika yang beredar dengan berbagai

macam bentuk dan nama.

Kosmetik dapat diklasifikasikan berdasarkan tempat

penggunaannya, yaitu sebagai berikut;

Tabel 1. Penggolongan Kosmetik Berdasarkan Tempat

Penggunaannya

Bagian Tubuh Kosmetik


Krim
Losio
Serbuk
Kulit Deodoran
Make-Up
Sediaan Pembersih
Sediaan Sunscreen
Shampoo
Pewarna Rambut
Minyak Rambut
Rambut Tonik
Pengeriting Rambut
Perontok Bulu
Pencukur
Pasta Gigi
Serbuk Gigi
Kebersihan Mulut Pembersih Gigi Cair
Mouthwash
Antiseptik Mulut
Cat Kuku
Penghilang cat kuku
Kuku
Sediaan manicure dan
pedicure
Berdasarkan kegunaan dan cara kerjanya, kosmetik dapat

diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Kosmetik pemeliharaan dan perawatan kulit (skin care):

Pembersih (cleansing)

Pelembab (moisturizing)

Penipis (thinning)

Pelindung

2. Kosmetika tata arias (decorated cosmetic)

3. Kosmetika wangi-wangian

II. 2. 2 Formulasi Kosmetik

Formulasi kosmetik melibatkan pemilihan yang teliti terhadap

bahan-bahan yang digunakan untuk menghasilkan sediaan yang

bagus dan aman, sehingga kemanjuran produk sesuai yang

diinginkan konsumen. Banyak bahan-bahan yang harus

dikombinasikan untuk memproduksi sediaan kosmetik, dan berbagai

pertimbangan juga harus diberikan antara lain: pH, efek osmotic

emolien, absorpsi perkutan, dan lain-lain.

II. 3 Uraian Krim Wajah

Krim didefinisikan sebagai “cairan kental atau emulsi setengah

padat baik bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air”. Krim

biasanya digunakan sebagai emolien atau pemakaian obat pada kulit

(12).
II. 4 Uraian Pemutih

Pemutih adalah sediaan kosmetik yang dibuat untuk

memperbaiki penampakan kulit dan warna gelap yang

menyeluruh/sebagian menjadi lebih terang dan merata. Sediaan

kosmetik whitening mengandung bahan yang mampu mencerahkan

warna kulit (lightening) dan memutihkan kulit (bleaching).

Berdasarkan cara penggunaannya, produk whitening kulit

dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:

1. Skin Bleaching

Skin bleaching adalah produk whitening yang mengandung bahan

aktif yang kuat, yang berfungsi memudarkan noda-noda hitam

pada kulit. Cara penggunaannya adalah dengan mengoleskan

tipis-tipis produk tersebut pada daerah kulit yang bernoda hitam,

tidak digunakan secara merata pada kulit dan tidak digunakan

pada siang hari. Bahan aktif yang digunakan antara lain

hidrokuinon dan kombinasi hidrokuinon dengan asam retinoat.

2. Skin Lightening

Skin lightening adalah produk perawatan kulit yang digunakan

dengan tujuan agar kulit pemakai tampak lebih putih, cerah dan

bercahaya. Produk whitening kategori ini dapat digunakan secara

merata pada seluruh permukaan kulit. Bahan aktif yang biasa

digunakan antara lain asam askorbat dan derivatnya, kojic acid,

niasinamid, licorice ekstract.


II. 5 Uraian Kulit

Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan

membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan organ

yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan

kehidupan.

Secara garis besar, kulit tersusun atas tiga lapisan utama yaitu:

1. Lapisan epidermis atau kutikel

Lapisan ini terdiri atas 5 lapisan sel, yaitu :

a. Stratum korneum

b. Stratum lusidium

c. Stratum granulosum

d. Stratum spinosum

e. Stratum basale

2. Lapisan dermis (korium, kutis vera, true skin)

Lapisan dermis adalah lapisan di bawah epidermis yang jauh lebih

tebal daripada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastic

dan fibrosa padat dengan elemen-elemen selular dan folikel

rambut. Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yakni :

a. Pars papilare

b. Pars retikulare

3. Lapisan subkutis (hypodermis)

Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan

ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya (12).


Fungsi kulit antara lain:

1. Fungsi proteksi

Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau

mekanis, misalnya tekanan, gesekan, tarikan; gangguan kimiawi,

misalnya zat-zat kimia terutama yang bersifat iritan, contohnya

isol, karbol, asam, dan alkali kuat lainnya; gangguan yang bersifat

panas, misalnya radiasi, sengatan sinar ultraviolet; gangguan

infeksi luar terutama kuman/ bakteri maupun jamur.

2. Fungsi absorbs

Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda

padat, tetapi cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap,

begitupun yang larut lemak.

3. Fungsi eksresi

Kelenjar-kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna

lagi atau sisa metabolism dalam tubuh berupa NaCl, urea, asam

urat, dan ammonia.

4. Fungsi persepsi

Kulit mengandung ujung-uung saraf sensorik di dermis dan

subkutis yang dapat menerima rangsangan panas, dingin dan

rabaan.

5. Fungsi pengaturan suhu tubuh

Kulit melakukan peranan ini dengan cara mengeluarkan keringat

dan mengerutkan (otot berkontraksi) pembuluh darah kulit.


6. Fungsi pembentukan pigmen

Sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak di lapisan basal

epidermis. Paparan sinar matahari mempengaruhi produksi

melanin.

7. Fungsi keratinisasi

Kulit bermitosis sampai akhirnya sel spinosum sampai

dipermukaan kulit menjadi sel tanduk yang secara kontinyu lepas

dan diganti oleh sel yang terletak dibawahnya. Proses ini

berlangsung terus-menerus berguna untuk fungsi rehabilitasi kulit

agar dapat melaksanakan fungsinya dengan baik.

8. Fungsi pembentukan vit D

Kulit dapat membuat vitamin D dari bahan baku 7-dihidroksi

kolesterol dengan bantuan sinar matahari (11).

II. 6 Uraian Logam Berat

Logam berat adalah logam yang mempunyai berat jenis lebih

besar dari 4 kg/dm3 dan mempunyai sifat membentuk garam dengan

asam. Pada sistem periodik, logam berat mempunyai nomor atom 22

sampai 92 yang terletak pada periode 3 sampai 7. Seperti: Fe, Cu, Zn,

Sn, Pb, Cd, Mg, As, Mn dan sebagainya.

Logam-logam berat tersebut di dalam tubuh dapat bereaksi

dengan membentuk ikatan kovalen dengan ligan seperti –OH,-COO-, -

OPO3H, -C=O, -S-S-, -NH2, -SH, dan =NH. Logam berat pada

umumnya menunjukkan afinitas yang kuat dengan gugus –SH


sehingga dianggap sebagai dasar mekanisme kerja untuk sebagian

besar efek logam berat terhadap tubuh.

Logam berat di dalam tubuh tidak dapat dimetabolisme,

sehingga akan terakumulasi di dalam tubuh dan menyebabkan efek

toksik (seperti kelainan neurologis, kerusakan ginjal dan gangguan

penglihatan) dengan cara bergabung dengan satu atau beberapa

gugus reaktif (ligan) yang esensial bagi fungsi fisiologis norma.

Logam berat seperti Merkuri (Hg) memiliki afinitas yang tinggi

terhadap unsur S (sulfur) menyebabkan logam ini menyerang ikatan

belerang dalam enzim, sehingga enzim tersebut menjadi tidak aktif.

Selain sulfur, logam berat juga dapat bereaksi terhadap gugus

karboksilat (-COOH) dan amina (-NH2). Logam berat juga

mengendapkan senyawa fosfat biologis atau mengkatalis

penguraiannya

Logam berat memiliki tingkat atau daya racun yang berbeda

bergantung pada jenis, sifat kimia dan fisik logam berat tersebut.

Kementerian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup membagi

kelompok logam berat berdasarkan sifat toksisitas dalam 3

kelompok, yaitu bersifat toksik tinggi yang terdiri atas unsur-unsur

Hg, Cd, Pb, Cu, dan Zn; bersifat toksik sedang terdiri dari unsur-unsur

Cr, Ni, dan Co; dan bersifat toksik rendah yang terdiri atas unsur Mn

dan Fe.
Darmono (1995) mengurutkan toksisitas logam paling tinggi ke

paling rendah terhadap manusia yang mengkomsumsi ikan adalah

sebagai berikut Hg2+> Cd2+>Ag2+> Ni2+> Pb2+> As2+> Cr2+> Sn2+>

Zn2+. Logam berat dalam tubuh tidak dapat dimetabolisme, akan tetapi

tetap berada dalam tubuh dan memyebabkan efek toksik dengan cara

bergabung dengan satu atau beberapa gugus reaktif (ligan) yang

esensial bagi fungsi fisiologis normal.

II. 7 Uraian Logam Merkuri (Hg)

II. 7.1 Sifat-sifat Merkuri

Merkuri merupakan satu-satunya logam yang berwujud cair

pada suhu kamar. Logam murninya berwarna kepekaan, cairan tak

berbau, mengkilap, mempunyai rapatan 13,534 g/ml pada 25 oC, dan

akan menguap jika dipanaskan pada suhu 357 0C. Merkurium tak

dipengaruhi asam klorida atau asam sulfat encer (2M), tetapi mudah

bereaksi dengan nitrat. Merkurium memiliki nomor atom 80; dengan

berat atom 200,59 dan termasuk dalam golongan II B pada sistem

periodik.

II. 7.2 Bentuk-bentuk Merkuri

Dikenal 3 bentuk merkuri, yaitu :

1. Merkuri elemental (Hg)

Terdapat dalam gelas thermometer, tensimeter air raksa,

amalgam gigi, alat elektrik, batu baterai dan cat. Juga digunakan
sebagai katalisator dalam produksi soda kaustik dan desinfektan

serta untuk produksi klorin dan sodium klorida

2. Merkuri anorganik

Terdapat dalam bentuk Hg2+ (Merkuri) dan Hg+ (Merkurous),

misalnya:

Merkuri klorida (HgCl2) termasuk bentuk Hg anorganik yang

sangat toksik, kaustik, dan digunakan sebagai desinfektan.

Mercurous chloride (HgCl) yang digunakan untuk teething

powder dan laksansia (calomel)

Mercurous fulminate yang bersifat mudah terbakar.

3. Merkuri Organik

Terdapat dalam beberapa bentuk antara lain:

Metil merkuri dan etil merkuri yang keduanya termasuk bentuk

alkil rantai pendek dijumpai sebagai kontaminan logam

lingkungan. Misalnya memakan ikan yang tercemar zat

tersebut, dapat menyebabkan gangguan neurologis dan

kongenital.

Merkuri dalam bentuk alkil dijumpai sebagai antiseptik dan

fungisida.

II. 7. 3 Toksisitas

Efek merkuri pada kesehatan terutama berkaitan dengan

sistem syaraf yang sangat sensitifpada semua bentuk merkuri. Logam

merkuri dan uap merkuri logam lebih berbahaya dari bentuk-bentuk


merkuri yang lain, sebab merkuri dalam kedua bentuk tersebut lebih

banyak mencapai otak. Pemaparan kadar tinggi merkuri, baik yang

berbentuk logam, garam, maupun metil merkuri dapat merusak secara

permanen otak, ginjal maupun janin.

Pengaruhnya pada fungsi otak dapat mengakibatkan tremor,

pengurangan pendengaran atau pengurangan daya ingat. Pemaparan

dalam waktu singkat pada kadar merkuri yang tinggi dapat

mengakibatkan kerusakan paru-paru, muntah-muntah, peningkatan

tekanan darah atau denyut jantung, kerusakan kulit dan iritasi mata.

Badan lingkungan di Amerika (EPA) menentukan bahwa merkuri

klorida dan metil merkuri adalah bahan karsinogenik.

Merkuri elemental (Hg)

Inhalasi : paling sering menyebabkan keracunan

Tertelan : ternyata tidak menyebabkan efek toksik karena

aborsinya. Yang rendah kecuali ada fistula atau

penyakit inflamasi gastrointestinal atau jika merkuri

tersimpan untuk waktu lama di saluran

gastrointestinal.

Intravena : dapat menyebabkan emboli paru. Karena sifatnya

yang larut dalam lemak, bentuk merkuri ini mudah

melalui sawar otak atau plasenta. Di otak dia akan

berakumulasi di korteks cerebrum dan cerebellum

dimana dia akan teroksidasi menjadi bentuk merkuri


(Hg2+). Ion merkuri ini akan berikatan dengan sulfihidril

dari protein enzim dan protein selular sehingga

mengganggu fungsi enzim dan transport sel.

Pemanasan logam merkuri membentuk uap merkuri

oksida yang bersifat korosif pada kuit, selaput mukosa

mata, mulut dan saluran pernapasan.

Merkuri Anorganik

Sering diabsorbsi melalui gastrointestinal, paru-paru dan kulit.

Pemaparan akut dan kadar tinggi dapat menyebabkan gagal ginjal

sedangkan pada pemaparan kronis dengan dosis rendah dapat

menyebabkan proteinuria, sindroma nefrotik dan nefropati yang

berhubungan dengan gangguan imunologis.

Merkuri Organik

Terutama bentuk rantai pendek (metal merkuri) dapat

menimbulkan degenerasi neuron di korteks cerebri dan cerebellum

dan mengakibatkan farestesi distal, ataksia, dysarthria dan

penyempitan lapang pandang. Metal merkuri mudah pula melalui

plasenta dan berakumulasi dalam fetus yang mengakibatkan kematian

dalam kandungan dan cerebral palsy.

II. 8 Uraian Spektrofotometer

II. 8. 1 Prinsip Dasar

Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang

terdiri dari spectrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan


sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan

fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan

atau yang diabsorpsi. (13)

Spektrofotometer serapan atom pertama kali dikembangkan

oleh Sir Alan Walsh pada pertengahan tahun 1950-an, merupakan

salah satu metode yang lazim digunakan dalam analisis suatu

elemen. Metode spektrofotometer serapan atom memanfaatkan

serapan sebagai dasar pengukurannya, dimana terjadi penyerapan

energi cahaya oleh atom-atom netral dalam keadaan gas. Atom-atom

akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu tergantung

pada sifat unsurnya. Pada Pb akan menyerap cahaya pada panjang

gelombang 283,3 nm, pada Hg menyerap pada panjang gelombang

253,7 nm dan pada Cd akan menyerap cahaya pada panjang

gelombang 228,8 nm. Cahaya pada panjang gelombang ini

mempunyai cukup energi untuk mengubah tingkat elektronik suatu

atom yang memperoleh suatu energi,sehingga atom pada keadaan

dasar contohnya Pb 4f14 5d10 6s2 6p2 dapat ditingkatkan energinya

ketingkat eksitasi.

Dalam menganilisis suatu contoh dengan metode

spektrofotometer serapan atom, contoh yang dianalisis diuraikan

menjadi atom-atom netral yang berada dalam keadaan dasar. Proses

pengatoman suatu unsur terjadi dengan mengubah larutan mejadi

tetesan, kemudian menjadi kabut. Setelah proses pengabutan, akan


dilanjutkan dengan proses pembakaran. Energi yang diperoleh dari

nyala hasil pembakaran antara gas-gas pengoksida dan gas-gas

bahan bakar digunakan untuk membebaskan atom-atom dari

persenyawaannya. Bahan bakar yang mempunyai peranan penting

dalam proses ini adalah campuran udara dan propan yang

menghasilkan nyala dengan suhu 19250C, campuran udara dengan

asetilen yang menghasilkan nyala dengan 23000C, dan campuran

nitrogen oksida dengan asetilen menghasilkan nyala paling panas

dengan suhu 33000C.

II. 8. 2 Hubungan antara serapan dan konsentrasi

Pengukuran konsentrasi logam dengan spektrofotometer

serapan atom didasarkan pada hukum Lambert-Beer yang

menyatakan bahwa penguraian intensitas cahaya yang masuk

sebanding dengan banyaknya atom-atom dan panjang medium

absorbsi. Secara sederhana dapat dinyatakan sebagai berikut:

lt = le.e-(a.b.c)

lo/lt = e-(a.b.c)

log (lo/lt) = a.b.c

log (lo/lt) =A

A = a.b.c

Dimana :

lo = intensitas radiasi mula-mula

lt = intensitas radiasi yang diteruskan


a = absorptivitas

b = panjang medium serapan

c = konsentrasi atom yang menyerap cahaya

A = serapan

II. 8. 3 Instrumentasi SSA

Instrumentasi spektrofotometer serapan atom secara besar

terdiri sumber radiasi, atomizer, monokromator, detektor, amplifier,

dan rekorder.

a. Sumber radiasi

Sumber radiasi yang banyak digunakan dalam spektrofotometer

serapan atom adalah lampu katoda berongga (hollow chatode

lamp). Lampu ini meiliki dua elektroda, satu diantaranya berbentuk

silinder dan terbuat dari unsur yang sama dengan unsur yang

akan dianalisia. Lampu diisi dengan gas mulia bertekanan rendah.

Dengan pemberian tegangan pada arus tertentu gas mulia akan

mulai memijar sehinggga atom katoda teruapkan dengan gas

yang dipercikan.

b. Atomizer

Pada komponen ini akan terjadi 2 tingkatan proses yaitu

pengabutan larutan yang berfungsi mengubah larutan agar dapat

masuk ke dalam nyala dan pengatoman unsur dalam nyala

dengan menggunakan pembakar yang berfungsi mengubah ion

logam menjadi atom.


c. Monokromator

Monokramator merupakan alat pengatur atomic resonance line

dari spektrum yang dipancarkan oleh sumber cahaya sebagai

filter.

Monokromator akan menerima garis resonansi dengan panjang

gelombang tertentu dengan unsur yang dianalisa. Monokromator

terdiri dari optik cekung dan sebuah grating. Sinar yang diterima

cermin dipantulankan kembali ke slit width dan sinar diterima oleh

foto multiplier. Pada multiplier, sinar yang kena pada katoda akan

mengeluarkan elektron dan meloncat ke katoda berikutnya. Pada

katoda yang terakhir elektron meloncat pada anoda yang mengalir

lewat suatu tahanan sehingga dari tahanan tersebut akan timbul

suatu tegangan sebagai sinyal input dari amplifier. Proses ke

skala selanjutnya dari output amplifier dapat langsung dimasukkan

ke skala pembacaan sebagai input logaritma yang terbaca

serapan.

d. Detektor

Detektor adalah alat untuk mengamati dan melaksanakan semua

pengukuran cahaya. Alat ini dapat mengubah energi cahaya

menjadi energi listrik yang mempermudah pembacaan.

e. Amplifier

Amplifier berfungsi menguatkan sinyal elektrik yang diterima oleh

detektor yang kemudian kealat pengukur sehingga dapat dibaca.


f. Rekorder

Alat ini merupakan tempat pembacaan hasil analisa. Pada

PerkinElmer PinAAcle 900 T, rekorder langsung dihubungkan

dengan sistem komputer sehingga besar nilai serapan berikut

konsentrasinya dapat langsung dibaca.

II. 8. 4 Jenis dan Tipe SSA

Ada beberapa cara atomisasi (pembentukan atom) dalam SSA

yaitu:

a. Atomisasi dengan nyala (flame)

Suatu senyawa logam yang dipanaskan akan membentuk atom

logam pada suhu ±17000C atau lebih. Sampel yang berbentuk

cairan akan dilakukan atomisasi dengan cara memasukkan cairan

tersebut dalam nyala campuran gas bakar. Tingginya suhu yang

diperlukan untuk atomisasi setiap unsur berbeda. Beberapa unsur

dapat ditentukan dengan nyala dari campuran gas yang berbeda

tetapi penggunaan bahan bakar dan oksidan yang berbeda akan

memberikan sensitivitas yang berbeda pula.

Hal-hal yang harus diperhatikan pada atomisasi dengan nyala:

1. Standar dan sampel harus dipersiapkan dalam bentuk larutan

dan cukup stabil. Dianjurkan dengan keasaman yang rendah

untuk mencegah korosi.

2. Atomisasi dilakukan dengan nyala dari campuran gas yang

sesuai dengan unsur yang dianalisa.


3. Persyaratan bila menggunakan pelarut organik:

Tidak mudah meledak bila kena panas

Mempunyai berat jenis >0,7 g/ml

Mempunyai titik didih > 1000C

Tidak menggunakan pelarut hidrokarbon

b. Atomisasi tanpa nyala (furance)

Atomisasi tanpa nyala dilakukan dengan mengalirkan energi listrik

pada batang karbon (CRA – Carbon Rod Atomizer) atau tabung

karbon (GTA-Graphite Tube Atomizer) yang mempunyai 2

elektroda. Sampel dimasukkan dalam CRA atau GTA. Arus

listrikdialirkan sehingga batang karbon menjadi panas dan unsur

yang dianalisa akan teratomisasi. Suhu dapat diatur hingga

30000C.

Pemanasan larutan sampel melalui 3 tahapan yaitu:

1. Tahap pengeringan (drying) untuk menguapkan pelarut.

2. Pengabuan (ashing),suhu furnace dinaikkan bertahap sampai

terjadi dekomposisi dan penguapan senyawa organik yang

ada dalam sampel sehingga diperoleh garam atau oksida

logam.

3. Pengatoman

c. Atomisasi dengan pembentukan senyawa hidrida

Beberapa logam dapat membentuk hidrida yang mudah menguap.

Dengan cara pembentukan hidrida proses penguapan dapat


dilakukan pada suhu rendah atau suhu kamar. Teknik SSA

generasi hidrida dapat diterapkan untuk beberapa macam logam

yaitu : As, Sb, Se, Sn, Te, Bi. Hidrida dibentuk dengan cara

mereaksikan cuplikan dengan natrium borohidrida (NaBH4) atau

dilakukan dengan memberikan reduktor dari KI dan SnCl 2,

ditambah Zn dan asam kuat. Kemudian hidrida logam yang

terbentuk dialirkan ke sel gas panas menggunakan aliran

argon/nitrogen dan dialirkan ke dalam sel gas di atas nyala Ar-H2-

atau udara-asitilena.Selanjutnya akan teratomisasi menjadi atom-

atom bebas.

d. Cold Vapour Atomic Absorption Spectrophotometry (CVAAS)

Selain cara-cara di atas ada satu metode atomisasi yang khusus

digunakan pada Merkuri (Hg), yaitu Cold Vapor Atomic Absorption

Spectrophotometry (CVAAS). Teknik ini didasarkan pada sifat

mekuri yang dapat dengan mudah direduksi di dalam larutan

untuk menghasilkan atom bebas. Atom – atom Hg yang ada di

dalam sampel sebagai ion positif, direduksi menjadi netral dan

akan menguap sebagai atom-atom bebas pada suhu normal.

Teknik ini juga efektif untuk memisahkan merkuri dari matriksnya

sehingga meningkatkan limit pendeteksian sampai 3000 kali

dibandingkan dengan metode flame dan juga memilki interferensi

yang lebih kecil dibandingkan dengan metode furance.


II. 8. 5 Keunggulan dan kelemahan SSA

Spektrofotometer serapan atom mempunyai beberapa

keunggulan yakni:

a. Mempunyai kepekaan yang tinggi, dimana dapat menentukan

suatu unsur dengan kadar di bawah 1 bpj

b. Selektivitasnya cukup tinggi sehingga dapat menentukan

beberapa unsur sekaligus dalam suatu cuplikan tanpa perlu

pemisahan.

c. Ketelitian SSA relatif baik karena gangguan-gangguan dalam

pengukuran ternyata lebih kecil dibanding dengan instrument lain.

Ketepatannya juga cukup baik, karena sederhananya isyarat dan

telitinya hasil pengukuran yang menjadi dasar pembuatan kurva

kalibrasi.

Alat ini juga memiliki beberapa kelemahan yakni:

a. Beberapa unsur uap tidak mudah menghasilkan uap atom

dalam keadaan dasar ketika mencapai nyala seperti tidak

terdisosiasinya senyawa stabil sehinga menghalangi deteksi

dan penetapan.

b. Beberapa nyala lebih tepat untuk unsur-unsur tertentu, maka

bertambahnya contoh yang akan ditentukan memerlukan tidak

hanya satu penukar sumber cahaya, tetapi juga penukar

terhadap nyala pembakar dan sumber gas.


c. Gangguan spektral juga kadang-kadang memberikan

kesulitan yang cukup berarti. Gangguan spektral timbul bila

serapan atau emisi zat pengganggu mempengaruhi atau

dekat sekali dengan serapan atau emisi dari zat yang akan

diukur.

II. 7 Cara Preparasi Sampel

Karena peralatan yang tersedia mengharuskan cuplikan atau

contoh yang akan ditentukan unsur logamnya berupa larutan, maka

perlu diketahui cara-cara melarutkan. Cara melarutkan contoh akan

tergantung dari susunan bentuk.

a. Melarutkan dengan air

Beberapa macam materi biologis dapat langsung dilarutkan dalam

air. Namun demikian agar hasil analisis memberikan hasil yang

baik dan pengatoman dari unsur yang lebih mudah, biasanya

kepada larutan yang diperiksa ditambahkan sedikit asam nitrat.

b. Melarutkan dengan cara hidrolisis

Penentuan unsur-unsur logam dengan cara ini banyak digunakan

terutama untuk memeriksa unsur-unsur tersebut dari cuplikan

buah-buahan dan tanah.

c. Melarutkan dengan ekstraksi

Cara ini biasanya menggunakan zat pereaksi pengompleks seperti

EDTA yang membentuk kompleks khelat dengan ion logam. Cara


ekstraksi memberikan hasil yang baik untuk penetapan unsur Co,

Ni, Fe dan Cr dari berbagai contoh pada pH 6.

d. Melarutkan dengan cara destruksi

Cara ini bertujuan untuk menghilangkan zat organik dari materi

biologis sehingga yang tinggal hanya senyawa anorganik. Cara

destruksi yang dapat digunakan yaitu:

1. Destruksi kering

Pada destruksi kering contoh dipanaskan secara bertahap di

udara terbuka untuk menguapkan air, menguraikan dan

mengoksidasi contoh, selanjutnya dilabukan dalam tungku

pemanas dengan suhu maksimum berkisar 450 0C–5000C

bergantung pada contoh yang akan diperiksa.

Ada juga destruksi kering dengan suhu maksimum atau suhu

pengabuan mencapai 7500C atau bahkan sampai 9800C. hal

ini akan mempercepat proses destruksi tersebut. Untuk

analisis unsur tertentu, kadang-kadang diperlukan suhu

pengabuan yang tidak boleh terlalu tinggi berkisar 3000C-

3200C. hal ini dapat dijumpai pada analisis unsur Cd yang

akan menguap pada suhu pengabuan yang lebih tinggi. Makin

rendah suhu pengabuan maka makin lama pula waktu yang

diperlukan untuk proses tersebut, sedangkan makin tinggi

suhu pengabuan, akan besar pula kemungkinan kehilangan

unsur analit karena terbentuknya senyawa yang larut.


2. Destruksi basah

Cara destruksi basah menggunakan asam nitrat sebagai

pengoksidasi dikombinasikan asam dengan pengoksidasi

yang lain seperti asam sulfat, asam perklorat dan atau

hidrogen peroksida. Karena adanya masalah yang ditimbulkan

oleh pengunaan dari zat-zat tersebut sehingga cara ini jarang

dipakai.

Dibandingkan dengan cara kering, cara basah jelas

berlangsung pada suhu yang jauh lebih rendah. Hal ini berarti

bahwa kehilangan unsur analit karena penguapan akan jauh

lebih kecil atau bahkan dapat ditiadakan. Di lain pihak cara

basah menyita waktu yang lama dan diperlukan perhatian

analis yang besar, terus-menerus, disamping banyaknya uap

toksik yang terjadi. Jumlah asam-asam yang dipakai juga

merupakan sumber kontaminan yang potensial.

3. Metode kombinasi

Baru-baru ini telah dikembangkan suatu cara yang

sebenarnya merupakan kombinasi dari cara basah dan cara

kering. Secara garis besar dilakukan dengan cara sebagai

berikut:

Contoh destruksi secara kering dalam tungku dengan suhu

pengabuan yang relatif rendah yakni 3750C.


Residu/abu yang diperoleh dibubuhkan asam klorida untuk

dipanaskan sampai 900C.

Larutan dikisarkan sampai tepat kering, didinginkan, lalu

residu dilarutkan dalam asam encer yang sesuai.


BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN

III. 1 Alat dan Bahan Yang Digunakan

III. 1. 1 Alat yang digunakan

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cawan

porselen, Erlenmeyer 100 ml, labu tentukur 100 ml, lemari asam,

mikropipet, Spektrofotometer Serapan Atom (PinAAcle 900T®),

Neraca Analitik (Sartorius®).

III. 1. 2 Bahan yang digunakan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Air

suling, Asam Nitrit, Merkuri (II) Nitrat, sampel sediaan cream pemutih

wajah A, B, C, D, E.

III. 2 Penyiapan Bahan Penelitian

A. Pembuatan Larutan Baku Merkuri (Hg)

1 ml Hg(NO3)2 65 % dilarutkan dalam 10 ml air suling

sehingga konsentrasi Hg sebesar 100 mg/ l.

B. Pembuatan Kurva Kalibrasi Merkuri

1. Dipipet 0,1 ml; 0,3 ml; 0,5 ml; 0,8 ml; 1 ml dan diencerkan

pada labu 10 ml. sehingga konsentrasinya masing-masing

adalah 1 ppm, 3 ppm, 5 ppm, 8 ppm, 10 ppm.


2. Setelah itu ukur dengan Spektrofotometer Serapan Atom

kemudian baca absorbansi pada panjang gelombang 235,75

nm.

III. 3 Pengambilan dan Penyiapan Sampel Penelitian

Pengambilan sampel A, B, C, D, E sediaan cream pemutih

wajah dilakukan secara acak pada beberapa wilayah di kota Makassar

dan diolah sesuai dengan prosedur kerja yang ada.

III. 4 Prosedur Pengukuran

1. Sebanyak 0.5 g sampel dilarutkan dengan 10 ml asam nitrat pekat

dalam Erlenmeyer.

2. Dicukupkan volume larutan menjadi 100 ml dengan air suling.

Kemudian dimasukkan kedalam labu takar isi 100 ml.

3. Dari larutan tersebut, sebanyak 10 ml larutan dipipet ke dalam labu

takar yang lain. Lalu ditambahkan volumenya hingga 100 ml

dengan larutan HNO3 0,1 N.

4. Sebanyak 0,1 ml larutan dipipet dan dimasukkan ke dalam masing-

masing labu takar yang telah diberi label.

5. Ditambahkan ke dalamnya larutan HNO3 0,1 N hingga volume

masing-masing 100 ml.

6. Ditambahkan larutan HCl sampai menghasilkan pH 2-3

7. Dinyalakan instrumen pengukur Spektrofotometer Serapan Atom

dan diatur panjang gelombang resonansi merkuri, yaitu 253,75 nm.


8. Dituangkan sejumlah larutan sampel yang telah diberi perlakuan di

dalam wadah reaksi.

9. Dimasukkan larutan sampel ke dalam wadah (tungku) alat

Spektrofotometer Serapan Atom (AA-6300), lalu letakkan pipa di

atas wadah yang telah berisi sampel.

10. Dicatat hasil pengukuran larutan sampel tersebut.

11. Dihitung pengukuran.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. 1 HasilPenelitian

Berdasarkan hasil pengukuran logam merkuri (Hg) pada

sediaan krim pemutih wajah yang beredar dikota Makassar dengan

menggunakan metode spektrofotometri serapan atom menunjukkan

bahwa kadar merkuri dalam sampel adalah sebagai berikut:

Kadar
Kode (A)
(mg/ kg)
AI -
A II -
A III -

BI -
B II -
B III -

CI -
C II 0,0295
C III 0,0518

DI 0,0738
D II 0,0724
D III 0,0590

EI -
E II -
E III 0,0222
IV. 2 Pembahasan

Spektrofotometri serapan atom (SSA/ AAS) adalah suatu

metode analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metalloid

berdasarkan pada penyerapan (absorpsi) radiasi oleh atom-atom

bebas unsure tersebut. Metode ini sangat tepat untuk analisis dalam

konsentrasi rendah. Prinsip pengukuran dengan metode AAS adalah

adnya absorpsi sinar UV atau VIS oleh atom-atom bebas. Sinar UV

atau VIS yang diabsorpsi berasal dari emisi cahaya yang terdapat

pada sumber energy ”Hollow Cathode Lamp”. Atom-atom menyerap

cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada

sifat unsurnya. Sinar yang berasal dari ”Hollow Cathode Lamp”

diserap oleh atom-atom logam yang terdapat dalam nyala api.

Penyerapan tersebut menyebabkan tereksitasinya electron dalam kulit

atom ke tingkat energy yang lebih tinggi. Keadaan ini bersifat labil,

dimana electron akan kembali ke tingkat energy dasar (ground state),

sambil mengeluarkan energy yang berbentuk radiasi (emisi). Emisi

terjadi apabila ada electron yang terpindah ke tingkat energy yang

lebih rendah sehingga terjadi pelepasan energy dalam bentuk radiasi.

Besarnya intensitas cahaya yang diemisikan sebanding dengan

knsentrasi sampel (berupa atom) yang terdapat pada nyala api.

Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap

digunakan pada bagian luar badan untuk membersihkan, memberi

dayatarik, mengubah penampilan, melindungi supaya tetap dalam


keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak untuk mengobati

atau menyembuhkan suatu penyakit

Kosmetik didefinisikan berdasarkan pada tempat

penggunaanya (epidermis, rambut, kuku, bibir, organ genital bagian

luar, gigi, membrane mukosa mulut) dan tujuan pemakaiannya

(pembersih, pewangi, mengubah penampilan, memperbaiki

baubadan, melindungi, dan menjaga dalam kondisi yang baik).

Sebuah produk kosmetik yang beredar dipasaran dalam

masyarakat harus tidak menyebabkan kerusakan terhadap kesehatan

manusia ketika digunakan pada kondisi normal atau kondisi

pemakaian yang mungkin dapat digunakan, pelabelan, setiap petunjuk

penggunaan dan pembuangan serta indikasi lain atau informasi yang

diberikan oleh produsen atau agen yang sah atau oleh orang lain yang

bertanggung jawab untuk menempatkan produk pada pasaran

masyarakat.

Merkuri (Hg) mulai dimanfaatkan dalam bidang kosmetik

sebagai salah satu zat pembuat sediaan kosmetik karena

kemampuanny adalam menghambat pembentukan melanin pada

permukaan kulit. Merkuri mampu menjadikan kulit putih mulus dalam

waktu yang relatif singkat, akan tetapi zat ini memberikan efek negatif

bagi kesehatan, karena dapat terakumulasi di bawah kulit.

Akumulasi merkuri dalam tubuh akan menyebabkan terjadinya

degeneras isel-sel saraf di otak kecil yang menguasai koordinasi saraf


dan degenerasi sarung selaput saraf, yang akhirnya bisa

menyebabkan kelumpuhan dan kematian. Serangan juga terjadi pada

bagian otak yang mengatur penglihatan berupa berkurangnya luas

wilayah pandang.

Gejala keracunan merkuri ditandai dengan gangguan system

saraf, seperti tremor, insomnia, kepikunan, gangguan penglihatan,

gerakan tangan abnormal (ataxia), gangguan emosi. Merkuri dapat

berada dalam berbagai senyawa dan bila bereaksi dengan khlor,

belerang atau oksigen merkuri akan membentukgaram yang biasanya

berwujud padatan garam. Garam merkuri sering digunakan dalam

krim pemutih dan krim antiseptik.

Penggunaan yang terus menerus juga akan mengakibatkan

sindrom intoksikasi secara luas meliputi ulserasi rahang, lidah dan

langit-langit, gigi tanggal, gusi bengkak, gangguan ginjal, gangguan

system syaraf, gangguan kulit, gangguan darah dan gastrointestinal

bagi pemakainya

Efek merkuri pada kesehatan terutama berkaitan dengan

system syaraf, yang sangat sensitive pada semua bentuk merkuri.

Metil merkuri dan uap logam merkuri lebih berbahaya dari bentuk-

bentuk merkuri yang lain. Pemaparan kadar merkuri yang tinggi, baik

yang berbentuk logam, garam, maupun logam merkuri dapat merusak

secara permanen otak, ginjal, maupun janin. Pengaruhnya pada

fungsi otak dapat mengakibatkan tremor, pengurangan pendengaran


atau penglihatan dan pengurangan daya ingat. Pemaparan dalam

waktu singkat pada kadar merkuri yang tinggi dapat mengakibatkan

kerusakan paru-paru, muntah-muntah, peningkatan tekanan darah,

denyu tjantung, kerusakan kulit, dan iritasi mata.

Kerusakan tubuh yang akibat paparan merkuri pada umumnya

bersifat permanen. Masing-masing komponen merkuri mempunyai

perbedaan karakteristik yang berbeda seperti daya racunnya,

distribusi, akumulasi, dan waktu retensi (penyimpanan) di dalam

tubuh. Semua komponen merkuri dalam jumlah cukup akan

menimbulkan efek racun terhadap tubuh. Merkuri dapat berpengaruh

terhadap tubuh, karena dapat menghambat kerja enzim dan

menyebabkan kerusakan sel. Sifat-sifat membrane dari dinding sel

akan rusak karena pengikatan dengan merkuri, sehingga aktivitas sel

dapat terganggu. Transformasi biologi dapat terjadi pada lingkungan

atau di dalam tubuh, dimana komponen merkuri diubah menjadi

bentuk lain.

Pada penelitian ini dilakukan analisis logam merkuri (Hg) pada

sediaan krim pemutih wajah yang beredar di kota Makassar dengan 5

merek yang berbeda, dengan tujuan memberikan informasi kepada

masyarakat mengenai dampak penggunaan sediaan krim pemutih

wajah yang beredar di pasaran yang tidak memiliki nomor registrasi

(nomor izin edar). Dimana sediaan terlebih dahulu dilakukan preparasi

sampel menggunakan metode dekstruksi. Tujuannya untuk memutus


ikatan antara senyawa organic dengan logam yang akan di analisis.

Sampel diencerkan dengan larutan HNO3 pekat. Kemudian sampel

dilarutkan dengan air suling hingga volume 100 ml. Dari larutan ini

dipipet sebanyak 10 ml kedalam labu takar yang lain dan dicukupkan

volumenya hingga 100 ml dengan menggunakan larutan HNO3 0,1 N.

Kemudian sebanyak 0,1 ml larutan dipipet dan dicukupkan volumenya

hingga 100 ml dengan menggunakan larutan HNO3 0,1 N. Selanjutnya

larutan ditambahkan HCl sampai menghasilkan pH 3 dan dilanjutkan

dengan penetapan kadar Hg dengan menggunakan alat instrument

Spektrofotometer Serapan Atom.

Dekstruksi basah adalah perombakan sampel dengan asam-

asam kuat baik tunggal maupun campuran, kemudian dioksidasi

dengan menggunakan zat oksidator. Pelarut-pelarut yang dapat

digunakan dalam dekstruksi ini adalah asam nitrat, asam sulfat, asam

perklorat, dan asam klorida.

Analisis kadar Merkuri dilakukan secara AAS menggunakan

metode Flow Injection Analysis System (FIAS) yang saat ini

merupakan metode standar untuk analisis merkuri pada bahan

makanan. Pada metode ini ion merkuri dari larutan sampel direduksi

menjadi merkuri netral dengan bantuan reducting agent biasanya

adalah Sn2+ atau BH4-uap merkuri ini selanjutnya dibawa oleh carrier

solution (NH4OH 10%) ke SSA dimana kadar merkuri diukur. Metode

ini dipilih karena mampu mendeteksi kadar merkuri 0,2 ppt;3000 kali
lebih kecil dibanding batas deteksi terendah metode flame, dan juga

memiliki interference yang lebih rendah dibanding metode furnace.

Penetapan kadar logam merkuri (Hg) dengan menggunakan

spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang 253,75 nm

berdasarkan pada prinsip absorpsi cahaya oleh atom yakni pada

panjang gelombang 253,75 nm berdasarkan pada sifat unsure logam

merkuri (Hg). Untuk mengubah tingkat elektronik suatu atom. Hingga

diperoleh garis resonansi yang tepat. Hokum yang mendasari AAS ini

adalah hokum “Lambert-Beer”. Hokum Lambert menyatakan “bila

suatu sinar monokrmatik melewati medium transparan, maka

intensitas sinar yang diteruskan berkurang dengan bertambahnya

ketebalan medium yang dilalui sinar” dan Hukum Beer menyatakan

bahwa “Intensitas Sinar yang diteruskan berkurang secara

eksponensial dengan bertambahnya konsentrasi unsur yang

menyerap sinar tersebut.

Dari hasil analisis dengan menggunakan spektrofotometer

serapan atom, menunjukkan adanya logam berat pada beberapa

merek krim pemutih wajah tersebut dalam konsentrasi yang sangat

kecil yang tidak mampu memberikan efek sebagai pemutih. Dengan

kata lain, logam ini kemungkinan berasal dari cemaran pada saat

proses produksi. Syarat kadar logam berat merkuri tidak

diperbolehkan ada dalam sediaan kosmetik, meskipun dalam

konsentrasi yang sangat kecil.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

V. 1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan, bahwa sediaan

krim pemutih wajah dengan kode A I, A II, A III, B I, B II, B III, C I, E I dan E II

memenuhi syarat PERMENKES RI No.445/MENKES/PER/V/1998

menyangkut pelarangan terhadap penggunaan merkuri dalam sediaan

kosmetik.

V. 2 Saran

Perlu dilakukan uji kimia lainnya dan uji mikrobiologi pada seluruh

sediaan kosmetik yang beredar di pasaran yang tidak memiliki nomor

registrasi atau yang tidak terdaftar.


DAFTAR PUSTAKA

1. Kissi Parengkuan dkk, “Analisis Kandungan Merkuri Pada Krim Pemutih


Yang Beredar di Kota Manado”, PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi –
UNSRAT Vol. 2 No. 01 Februari 2013 ISSN 2302 – 2493, diakses 11
Juni 2013

2. Analysis of cosmetic product E-book : hal 6

3. Departemen Kesehatan RI, (1991), “Peraturan Mentri Kesehatan


Tentang Wajib Daftar Alat Kesehatan Rumah Tangga” No. 140/ Menkes/
PER/ III/ 1991. 1-4

4. Balsam, 1972, “Cosmetics Science and ztechnologgi Second Edition. Vol


1”, John Wiley an Sons Interscience. New York.

5. Nurhidayah, “Analisis Logam Berat Krim Jerawat Dari Bahan Alam


Secara Spektrofotometri Serapan Atom”

6. http://www.google.com/search?q=kosmetik+yang+ditarik+karena+menga
ndung+merkuri&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-
US:official&client=firefox-a
http://www.vemale.com/body-and-mind/cantik/19352-48-daftar-kosmetik-
berbahaya-temuan-bpom-cek-kosmetik-anda.html

7. Nasiruddin, 2008. Kadung Peke Botox, Konstruksi Ssial Tentang


Kecantikan.
http://nasiruddin.edublogs.org/2013/05/15/kadung-pake-botox-konstruksi-
sosial-tentang-kecantikan/.

8. Dst Berita: PDM Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kamis, 07-06-2012


http://labbatusel.muhammadiyah.or.id/berita/pdf/1228/kecantikan-
perempuan.html

9. Munfarida, Alya, 2007, “Genealogi Kecantikan, Ibda, Vol. 5 No. 2 Edisi


Jul-Des 2007 Purwokerto.

10. Departemen Kesehatan RI, (1991), “Peraturan Mentri Kesehatan


Tentang Wajib Daftar Alat Kesehatan Rumah Tangga” No. 140/ Menkes/
PER/ III/ 1991. 1-4
11. Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, 2005, “Ilmu penyakit Kulit dan Kelamin”,ed ke-IV, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. 3-8

12. Howard C. Ansel, 2008, “pengantar bentuk sediaan Farmasi”, ed ke-IV,


Universitas Indonesia, Jakarta.513

13. Gholib G. Ibnu, dan Rohman Abdul, 2009, “Kimia Farmasi Analisis”,
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

14. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan., (2003).


“Keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia”,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

15. Hikmawati, 2007, “Analisis Zat Warna dan Logam Berat Pada Lipstik
Tanpa Nomor Register Yang Beredar Di Pasar Sentral Makassar”

16. Zaenab, 1987, “Analisis Kadar Logam Berat Dalam Beberapa Jenis The
Yang Beredar Di ujung Pandang”, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang, 8-9

17. Syamsuddin, 1995, “Logam Berat dan Antagonis dalam Farmakologi dan
Terapi, Edisi IV”, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta

18. Sanusi H., 1980, “Sifat-Sifat Logam Berat Merkuri di Lingkungan


Perairan Tropis”, Pusat Studi Pengelolaan Sumber daya dan
Lingkungn, Fakultas Perikanan IPB, Bogor
LAMPIRAN A

SKEMA KERJA

Larutan Hg 1 ml

(1000 ppm)

- Diencerkan dengan konsentrasi 1


ppm, 3 ppm, 5 ppm, 8 ppm, dan 10
ppm.
- Masing-masing diukur dengan
Spektrofotometer serapan Atom
pada panjang gelombang 253,75
nm.

Hasil pengukuran

Kurva Linearitas Baku

Skema 1. Pembuatan larutan baku merkuri (Hg)


Sampel A, B, C, D, E
(0,5 g)

Pemeriksaan logam
Merkuri (Hg)

Spektrofotometer
serapan atom

Pengamatan dan Pengumpulan Data

Analisis Data

Pembahasan

Kesimpulan

Skema 2. Skema kerja analisis logam merkuri (Hg) pada sediaan krim
pemutih wajah yang beredar di kota Makassar
Konsentrasi Serapan
(ppm)
0 0,0005
1 0,0035
3 0,0088
5 0,0141
8 0,0224
10 0,0285

Tabel 2. Hasil pengukuran serapan larutan baku logam merkuri dengan


Spektrofotometer Serapan Atom pada panjang gelombang 253,7
nm

Persamaan garis regresi : y = a + bx

Dimana :

Y = serapan

x = konsentrasi

berdasarkan perhitungan diperoleh nilai :

a = 0,0005

b = 0,0027

r = 0,9997

RSS = 0,0015

persamaan garis regresi menjadi y = 0,0005 + 0,0027x


Berat
Kode Konsentrasi Konsentrasi Kadar
Contoh Serapan
Sediaan (ppm) ( g/ ml) (mg/ kg)
(g)
AI 0,5028 0,0002 - - -
A II 0,5008 0,0003 - - -
A III 0,5030 0,0002 - - -

BI 0,5096 - - - -
B II 0,5003 - - - -
B III 0,5068 - - - -

CI 0,5112 0,0004 - - -
-4
C II 0,5010 0,0009 0,1481 1,481 x 10 0,0295
-4
C III 0,5002 0,0012 0,2592 2,592 x 10 0,0518

-4
DI 0,5011 0,0015 0,3703 3,703 x 10 0,0738
-4
D II 0,5111 0,0015 0,3703 3,703 x 10 0,0724
-4
D III 0,5013 0,0013 0,2962 2,962x 10 0,0590

EI 0,5019 - - - -
E II 0,5206 0,0005 - - -
-4
E III 0,5001 0,0008 0,1111 1,111 x 10 0,0222

Tabel 3. Hasil analisis logam merkuri dalam sediaan krim pemutih wajah
Konsentrasi Serapan
(ppm)
0 0,0005
1 0,0035
3 0,0088
5 0,0141
8 0,0224
10 0,0285

A
0.03
y = 0,0027x + 0,0005
0.025 r = 0,9997

0.02

0.015
Series
1
0.01

0.005

0 C (ppm)
0 2 4 6 8 10 12

Gambar 1. Grafik kurva baku larutan baku merkuri


Gambar 2. Alat Spektrofotometer Serapan Atom PinAAcle 900T®
LAMPIRAN B

Perhitungan Kadar Logam Merkuri (Hg) Dalam Sampel C, D, dan E

Contoh Perhitungan Hasil Analisis Logam

Jenis Sampel : C II

Serapan (Y) : 0,0009

Volume Sampel : 100 ml = 0,1 l

Berat Sampel : 0,5010 g

Dari hasil perhitungan diperoleh persamaan regresi linier untuk logam

merkuri sebagai berikut:

Y = bX + a

Y = 0,0027X + 0,0005

Sehingga, konsentrasi CII adalah:

0,0009 = 0,0027X + 0,0005

0,0009 - 0,0005 = 0,0027X

0,0004 = 0,0027X

X = 0,1481 g/ l

Karena jumlah sampel yang digunakan dalam pengukuran sampel CII adalah

0,5010 g, maka kadar logam merkuri pada sampel CII adalah:

0,1481 g/ l x 0,1 l
=
0,5010 g

= 0,0295 g/ g

= 0,0295 mg/ kg