Anda di halaman 1dari 30

Tanggal : 09 Maret 2018

Dosen : Dr. Ir. Irzal Nur, MT

TUGAS GEOFISIKA

“Metode Geomagnetik”

Disusun Oleh :

Sri Wulandari D621 15 018

Halilintar Rangga Swara D621 16 015

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKUTAS TEKNIK

UNIVERSITAS HASANUDDIN

GOWA

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Metode geomagnet adalah metode geofisika yang memanfaatkan sifat

kemagnetan bumi. Metode geomagnet didasarkan pada pengukuran variasi intensitas

medan magnet di permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya variasi distribusi benda

termagnetisasi di bawah permukaan bumi atau disebut juga suseptibilitas magnetik.

Metodi ini didasarkan pada pengukuran intesitas medan magnet pada batuan yang

timbul karena pengaruh dari medan magnet bumi saat batuan itu terbentuk.

Objek pengamatan dari metode ini adalah benda yang bersifat magnetik, dapat

berupa gejala struktur bawah tanah permukaan atau batuan tertentu. Metode

geomagnet banyak digunakan dalam eksplorasi panas bumi, pencarian mineral dalam

bumi, mencari nilai suseptibilitas magnetik tanah dan lain sebagainya. Kelebihan dari

metode geomagnet salah satunya adalah penerapan dan penggunaan alat yang relatif

mudah, sehingga banyak digunakan untuk proses eksplorasi bumi. Sedangkan pada hasil

penelitian metode geomagnet masih dirasa kurang, karena memerlukan proses

pengolahan data yang cukup banyak dan perlu ketelitian yang sangat tinggi. Sehingga

masih diperlukan metode geofisika lain untuk mendukung hasil dari penelitian metode

geomagnet.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Metode geomagnetik didasarkan pada sifat kemagnetan (kerentanan magnet)

batuan, yaitu kandungan magnetiknya sehingga efektifitas metode ini bergantung

kepada kontras magnetik di bawah permukaan. Di daerah panas bumi, larutan

hidrotermal dapat menimbulkan perubahan sifat kemagnetan batuan, dengan kata lain

kemagnetan batuan akan menjadi turun atau hilang akibat panas yang ditimbulkan.

Karena panas terlibat dalam alterasi hidrotermal, maka tujuan dari survei magnetik pada

daerah panas bumi adalah untuk melokalisir daerah anomali magnetik rendah yang

diduga berkaitan erat dengan manifestasi panas bumi.

2.1 Prinsip-prinsip penerapan metode magnetik.

Paleomagnetisme adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat kemagnetan bumi yang

merekam dalam batuan pada waktu pembentukannya. Untuk batuan beku, kemagnetan

mulai terekam pada saat proses pendingin magma melewati titik beku dimana mineral-

mineral bersifat magnet terinduksi oleh medan magnet bumi. Dalam suatu studi

paleomagnet untuk mengetahui arah medan magnet bumi pada saat batuan beku

terbentuk, syaratnya adalah mengetahui terlebih dahulu kemiringan tubuh tersebut yang

terjadi setelah pembekuan. Umumnya tubuh batuan beku mengalami perubahan

kemiringan saat terjadi gaya kompresi, seperti perlipatan. Seringkali kemiringanya

ditentukan dari lapisan batuan sedimen yang diterobosnya. Struktur aliran lava atau

lubang gas (amygdaloidal) dipakai untuk menentukan kemiringan awal lava dimana

dianggap subhorisontal. Hal ini tidak berlaku mutlak karena lava mengalir melalui

morfologi yang bervariasi. Batuan sedimen paling ideal untuk studi paleomagnet, tidak

saja karena perlapisanya dapat diamati, tapi juga karena proses pembentukanya relatif

lama. Arah kemagnetan yang diperoleh dari batuan sedimen terjadi karena butiran
mineral bersifat magnet hasil rombakan batuan mengalami penjajaran mineral saat

diendapkan.

Pada prinsipnya, dalam penyelidikan magnet selalu dianggap bahwa kemagnetan

batuan yang memberikan respon terhadap pengukuran magnet hanya disebabkan oleh

pengaruh kemagnetan induksi. Dengan demikian, sifat kemagnetan ini dipergunakan

sebagai dasar dalam penyelidikan-penyelidikan magnet. Sedangkan kemagnetan sisa

pada umumnya seringkali diabaikan dalam penyelidikan magnet karena disamping

pengaruhnya sangat kecil, juga untuk memperoleh besaran dan arah kemagnetannya

harus dilakukan pengukuran di laboratorium paleomagnetik dengan menggunakan alat

khusus.

Perubahan yang terjadi pada kuat medan magnet bumi adalah sangat kecil dan

memerlukan waktu yang sangat lama mencapai ratusan sampai ribuan tahun. Oleh

karena itu, dalam waktu penyelidikan magnet, kuat medan magnet tersebut selalu

dianggap konstan. Dengan menganggap kuat medan magnet bumi (H) adalah konstan,

maka besarnya intensitas magnet bumi (I) semata-mata adalah hanya tergantung pada

variasi kerentanan magnet batuan yang merefleksikan harga pengukuran magnet.

Prinsip inilah yang digunakan sebagai dasar dalam penyelidikan magnet (Telford, 1990).

2.2 Magnetisasi bumi

Medan magnet bumi dapat diasumsikan sebagai medan magnet akibat adanya

batang magnet raksasa yang terletak di dalam inti bumi, namun tidak berimpit dengan

pusat bumi. Medan magnet ini dinyatakan sebagai vector yang mempunyai besaran dan

arah. Arahnya dinyatakan sebagai deklinasi (besar sudut penyimpangan terhadap arah

utara – selatan geografis) dan inklinasi (besar sudut penyimpangan terhadap arah

horisontal). Kuat medan magnet bumi sebagian besar berasal dari dalam bumi sendiri

(94%) atau internal field, sedangkan sisanya (6%.) ditimbulkan oleh arus listrik di

permukaan dan pada atmosfir (external field).


Gambar 1. Medan magnet bumi

2.3 Sifat-sifat kemagnetan batuan

Batuan atau mineral dapat dibedakan menjadi beberapa bagian berdasarkan

perilaku atom-atom penyusunnya jika mendapat medan magnet luar H, yaitu :

diamagnetik, paramagnetik, ferromagnetik, ferrimagnetik dan antifferomagnetik. Berikut

penjelasan masing-masing bagian:

1. Diamagnetik

Batuan diamagnetik mempunyai harga suseptibilitas negatif, sehingga

intensitas imbasan dalam batuan atau mineral tersebut mengarah berlawanan

dengan gaya medan magnet, seperti pada gambar 2. Contoh batuan

diamagnetik antara lain : marmer, bismuth dan kuarsa.

Gambar 2. Spin elektron bahan diamagnetik

2. Paramagnetik
Batuan atau mineral paramagnetik mempunyai kerentanan magnet positif dan

akan mengecil sesuai dengan menurunnya suhu, seperti pada gambar 3. Sifat-

sifat paramagnetik akan timbul bila atom atau molekul suatu batuan atau

mineral memiliki momen magnet pada waktu tidak terdapat medan luar dan

interaksi antara atom lemah. Contoh batuan paramagnetik antara lain :

piroksen, olivine, garnet dan biotit.

Gambar 3. Spin elektron bahan paramagnetik

3. Ferromagnetik

Atom-atom dalam bahan ferromagnetik memiliki momen magnet dan interaksi

antara atom-atom tetangganya begitu kuat sehingga momen semua atom

dalam suatu daerah mengarah sesuai dengan medan magnet luar yang

diimbaskan, seperti yang terlihat pada gambar 4. Contohnya : besi, cobalt dan

nikel.

Gambar 4. Spin elektron bahan ferromagnetik


4. Antifferomagnetik

Suatu bahan atau material akan bersifat antifferomagnetik pada saat

kemagnetan benda ferromagnetik naik sesuai dengan kenaikan temperatur

yang kemudian hilang setelah temperatur mencapai titik Curie, seperti yang

terlihat pada Gambar 5. Contohnya hematite.

Gambar 5. Spin elektron bahan antifforrimagnetik

5. Ferrimagnetik

Bahan-bahan dikatakan ferrimagnetik bila momen magnet pada dua daerah

magnet saling berlawanan arah satu terhadap lainnya, seperti yang terlihat

pada gambar 6. Harga k cukup tinggi dan bergantung pada temperatur.

Contohnya adalah titanium.

Gambar 6. Spin elektron bahan ferrimagnetik

2.4 Teori dasar kemagnetan.

1. Gaya Magnet (F)


Gaya magnet yang ditimbulkan oleh dua buah kutub yang terpisah pada jarak

r dan memiliki muatan masing-masing 1 p dan 2 p , diberikan oleh (Telford,

1990).

dimana:

F adalah gaya yang bekerja diantara dua magnet dengan kuat medan magnet

m1 dan m2. μ adalah permeabilitas medium yang melingkupi kedua magnet. r

adalah jarak kedua magnet. m1 adalah kuat kutub magnet 1. m2 adalah kuat

kutub magnet 2.

2. Kuat medan magnet (H)

Kuat medan magnet adalah besarnya medan magnet pada suatu titik dalam

ruang yang timbul sebagai akibat sebuah kutub yang berada sejauh r dari titik

tersebut. Kuat medan magnet (H) pada suatu titik yang berjarak r dari m

didefinisikan sebagai gaya persatuan kuat kutub magnet, dapat dituliskan

sebagai:

Dimana : H adalah kuat medan magnet (A-1)

m’ adalah kutub khayal yang diukur oleh alat (m)

rˆ adalah arah dari unit vektor dari kutub negatif ke kutub positif

3. Momen magnet

Pada kenyataannya, kutub-kutub magnet selalu muncul berpasangan (dipole)

dimana dua kutub berkekuatan +m dan –m dipisahkan oleh jarak I, maka

momen magnetik ini didefinisikan sebagai:

Dimana : adalah momen magnet (m.C)

m adalah kutub magnet (m)


adalah arah dari unit vektor dari kutub negatif ke kutub positif

𝜄 adalah jarak antara dua kutub (m)

4. Intensitas magnet

Bila suatu tubuh magnetik terletak dalam suatu medan magnetik eksternal,

tubuh magnetik tersebut akan menjadi termagnetisasi oleh induksi. Intensitas

dan arah magnetisasi/ kemagnetan tubuh magnetik tersebut adalah sebanding

dengan kuat dan arah medan magnetik yang menginduksi. Intensitas

kemagnetan didefinisikan sebagai momen magnet persatuan volume.

Dimana : adalah intensitas kemagnetan (A.m-1)

adalah momen magnetik (m.C)

adalah volume (m3)

Karena kuat medan magnet bumi konstan dimana-mana, maka harga

intensitas medan magnet akan hanya tergantung pada perubahan kerentanan

magnet. Konsep inilah yang digunakan sebagai dasar dalam eksplorasi

geomagnetik.

5. Induksi magnet

Adanya medan magnetik regional yang berasal dari bumi dapat menyebabkan

terjadinya induksi magnetik pada batuan yang mempunyai suseptibilitas baik.

Total medan magnetik yang dihasilkan pada batuan ini dinyatakan sebagai

induksi magnetik(Syirojudin,2010).

Apabila suatu benda magnetik diletakkan dalam suatu medan magnetik H

maka benda tersebut akan termagnetisasi dan menghasilkan medan sendiri H’,

sehingga medan magnet total yang terukur oleh magnetometer disebut


sebagai Induksi Magnetik B yang merupakan jumlah dari medan magnetik

pada benda dengan medan magnet utama, yang dinyatakan sebagai:

Dimana : μ0 adalah permeabilitas magnetik ruang hampa. μ0 = (1+ χ ) adalah

permeabilitas magnetik relatif, sehingga persamaan tersebut dapat ditulis:

Persamaan ini menunjukkan bahwa jika medan magnetik remanen dan luar

bumi diabaikan, medan magnet total yang terukur oleh magnetometer di

permukaan bumi adalah penjumlahan dari medan bumi utama H dan variasinya

(M). M adalah anomali magnet dalam eksplorasi magnetik (Syirojudin,2010).

Dalam satuan CGS induksi magnetik B dinyatakan dalam Gauss. Namun dalam

prakteknya terukur dalam satuan Gamma (γ) dengan 1 γ setara dengan 1 nano

tesla setara dengan 10 Gauss.

6. Suseptibilitas kemagnetan

Kemudahan suatu benda magnetik untuk termagnetisasi ditentukan oleh

suseptibitas kemagnetan 𝜒 (Kahfi,2008) yang dirumuskan dengan persamaan:

M=𝜒H

Suseptibilitas dalam satuan SI dan emu dinyatakan dengan persamaan :

𝜒 = 4π 𝜒’

𝜒 adalah suseptibilitas magnetik dalam satuan SI dan 𝜒’ adalah suseptibilitas

magnetik dalam satuan emu(Syirojudin,2010).

Suseptibilitas magnetik dapat diartikan sebagai derajat kemagnetan suatu

benda. Nilai suseptibilitas magnetik untuk setiap bahan berbeda-beda, hal ini

bergantung dengan jenis bahan. Suseptibilitas magnetik ini akan menentukan

sifat magnetik pada setiap bahan. Harga 𝜒 pada batuan semakin besar apabila
dalam batuan semakin banyak dijumpai mineral-mineral yang bersifat

magnetik.

2.5 Sejarah metode magnetik

Metode magnetik pada dasarnya adalah metode yang memetakan gangguan lokal

pada medan magnet bumi yang disebabkan oleh variasi kemagnetan batuan. Metode ini

adalah metode geofisika tertua yang dikenal oleh manusia. Sejarah metode ini dimulai

dari kompas magnetik yang pertama ditemukan di Cina ± 3000 tahun yang lalu.

Kemudian pada tahun 1600, William Gilbert mempublikasikan esai “de magnete” yang

menyatakan bahwa bumi adalah sebuah magnet. Karl Fredrick Gauss menyimpulkan dari

analisis matematika bahwa medan megnet berhubungan dengan rotasi bumi. Dalam

perkembangannya kompas digunakan dalam eksplorasi di Swedia. Alat magnetometer

pertama kali diciptakan dan digunakan pada Perang Dunia II untuk mendeteksi kapal

selam. Saat ini metode magnetik merupakan salah satu metode geofisika yang paling

banyak digunakan orang karena selain mudah penggunaannya juga murah

pemakaiannya.

2.6 Macam-macam medan magnetik

Medan magnetic dapat dibedakan menjadi antara lain :

a. Medan magnetik utama

Medan magnetik utama dapat didefinisikan sebagai medan rata-rata hasil

pengukuran dalam jangka waktu yang cukup lama (lebih dari satu tahun)

mencakup daerah dengan luas lebih dari 106 km2. Proses rata-rata ini tidak

menghilangkan beberapa medan periodik yang berasal dari luar demikian juga

spektrum panjang gelombang dari medan magnetik utama dan medan magnetik

lokal (Brooke, 1966). Karena medan magnetik utama bumi berubah terhadap

waktu maka untuk menyeragamkan nilai-nilai medan utama magnetik bumi, dibuat

standard nilai yang disebut dengan International Geomagnetics Reference Field


(IGRF). Harga medan magnet utama ini ditentukan berdasarkan kesepakatan

internasional dibawah pengawasan International Association of Geomagnetic and

Aeronomy (IAGA).

GRF diperbaharui tiap 5 tahun sekali dan diperoleh dari hasil pengukuran rata-

rata pada daerah luasan sekitar 1 juta km yang dilakukan dalam waktu satu tahun.

Nilai-nilai IGRF tersebut dibuat kontur isomagnetik yang menggambarkan kontur,

dimana kontur tersebut mempunyai nilai deklinasi, inklinasi dan intensitas medan

magnetik yang sama. Peta kontur ini menunjukkan variasi medan magnetik di

permukaan bumi dan digunakan sebagai data referensi yang memperlihatkan

distribusi intensitas, deklinasi dan inklinasi medan magnetik bumi. Untuk periode

tahun 2000 – 2005 (dimana penelitian yang dilakukan termasuk dalam jangkauan

periode ini). Intensitas medan magnetik bumi berkisar antara 25.000 – 65.000 nT,

sedangkan untuk wilayah Indonesia daerah yang terletak di utara khatulistiwa

mempunyai intensitas sekitar 40.000 nT dan di selatan khatulistiwa berkisar 45.000

nT. Ada beberapa teori yang membahas penyebab medan magnetik utama,

diantaranya teori magnetisasi permanen, teori perputaran muatan listrik, teori

perputaran benda masif, induksi badai magnetik dan teori exsitasi diri dynamo.

b. Medan magnetik transien

Berdasarkan tempat sumbernya maka medan magnetik transien dibagi

menjadi dua yaitu, medan magnetik transien eksternal dan medan magnetik

internal. Medan magnetik transien eksternal atau disebut medan magnetik luar

adalah medan transien yang sumbernya berasal dari luar bumi (ionosfer,

magnetofer). Medan magnetik ini merupakan medan magnetik yang dihasilkan

dari oleh pengaruh proses pelepasan partikel tersebut dengan medan magnetik

utama serta dengan partikel atau ion-ion yang ada di angkasa. Beberapa peristiwa

yang menyebabkan medan ini diantaranya adalah drift dari konduktivitas plasma
(plasma adalah bagian dari angkasa luar yang mempunyai muatan positif dan

negatif yang jumlahnya sama), absorpsi radiasi elektromagnetik matahari oleh

ionosfer dan perambatan gelombang radio di ionosfer (Parkinson, 1983). Medan

magnetik transien ini diklasifikasikan dalam beberapa bagian:

1. Regular storm field, lokasi sumber medan magnetik ini berada di magnetosfer

dengan intensitas berkisar antara 150 nT sampai dengan 500 nT dan

periodenya berkisar antara 4 sampai 10 jam serta berulang dalam waktu 2

sampai 3 hari.

2. Irregular storm field & Substorm, sumber medan ini berada di ionosfer dan

magnetosfer, medan ini mempunyai intensitas antara 100 nT sampai 200 nT

dan sifatnya sama di permukaan bumi dengan periode antara 5 sampai 100

menit.

3. Diurnal variation, sumber dari medan ini berada di ionosfer dengan intensitas

50 sampai 200 nT dengan pcriode 24, 12, dan 8 jam dan sifatnya global.

4. Pulsation, medan ini bersumber di magnetosfer dcngan intensitas medan

antara beberapa nanotesla dengan sifat global dan mempunyai periode 1

sampai 300 detik, mekanisme penyebabnya adalah osilasi gelombang

hidromagnetik dalam magnetosfer pada ketinggian satu sampai enam kali

jari-jari bumi.

Medan magnetik transien internal adalah medan magnetik transien yang

sumbernya berasal dari bumi. Medan magnetik transien ini berdasarkan macam

sumbernya dibagi menjadi:

a) Medan Vulkanomagnetik yang dihasilkan oleh aktivitas vulkanik gunungapi

yang berhubungan dengan tekanan dan suhu, dengan intensitas berkisar

antara 3,5 nT sampai 10 nT.

b) Medan magnetik elektrofiltrasi yang dihasilkan oleh aliran air hujan yang
mengalir di celah-celah batuan di sekitar stasiun pengukuran.

c) Medan magnetik induksi yang dihasilkan oleh batuan sekitar yang mempunyai

konduktivitas tertentu, yang dipengaruhi oleh struktur geologinya. Sebagai

medan penginduksinya adalah medan magnetik transien eksternal.

c. Medan magnetik lokal/anomaly

Medan magnetik lokal sering juga disebut medan magnetik anomali (crustal

field). Medan magnetik ini dihasilkan oleh batuan yang mengandung mineral

bermagnetik seperti magnetite , titanomagnetik dan lain-lain yang berada di kerak

bumi. Dalam survei dengan metode magnetik variasi medan magnetik yang terukur

di permukaan inilah yang menjadi target dari pengukuran (anomali magnetik).

Secara garis besar anomali medan magnetik disebabkan oleh medan magnetik

remanen dan medan magnetik induksi. Medan remanen mempunyai peranan yang

besar terhadap magnetisasi batuan yaitu pada besar dan arah medan magnetiknya

serta berkaitan dengan peristiwa kemagnetan sebelumnya sehingga sangat rumit

untuk diamati. Anomali yang diperoleh dari survei merupakan hasil gabungan

medan magnetik remanen dan induksi, bila arah medan magnetik remanen sama

dengan arah medan magnetik induksi maka anomalinya bertambah besar,

demikian pula sebaliknya. Dalam survei magnetik, efek medan remanen akan

diabaikan apabila anomali medan magnetik kurang dari 25 % medan magnetik

utama bumi.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Metode Magnetik

Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi intensitas medan magnetik

di permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya variasi distribusi benda termagnetisasi

di bawah permukaan bumi. Variasi yang terukur (anomali) berada dalam latar belakang

medan yang relatif besar. Variasi intensitas medan magnetik yang terukur kemudian

ditafsirkandalam bentuk distribusi bahan magnetik di bawah permukaan, yang kemudian

dijadikan dasar bagi pendugaan keadaan geologi yang mungkin. Metode magnetik

memiliki kesamaan latar belakang fisika dengan metode gravitasi, kedua metode sama-

sama berdasarkan kepada teori potensial, sehngga keduanya sering disebut sebagai

metoda potensial. Namun demikian, ditinjau dari segi besaran fisika yang terlibat,

keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar. Dalam magnetik harus

mempertimbangkan variasi arah dan besar vektor magnetisasi. sedangkan dalam

gravitasi hanya ditinjau variasi besar vektor percepatan gravitasi. Data pengamatan

magnetik lebih menunjukan sifat residual yang kompleks. Dengan demikian, metode

magnetik memiliki variasi terhadap waktu jauh lebih besar.Pengukuran intensitas medan

magnetik bisa dilakukan melalui darat, laut dan udara. Metodemagnetik sering

digunakan dalam eksplorasi pendahuluan minyak bumi, panas bumi, dan batuan mineral

serta serta bisa diterapkan pada pencarian prospeksi benda-benda arkeologi.

Ada beberapa hal penting yang harus kita ketahui mengenai metode magnetik,

antara lain :

1. Pengukuran Medan Magnetik

Medan magnet yang terukur oleh alat magnetometer adalah gabungan dari

medan magnetik utama bumi (dari inti luar bumi). Medan magnetik eksternal
(medan magnetik dari luar bumi seperti matahari dan bulan) dan medan magnetik

kerak bumi (mineral magnetik di kerak bumi).

2. Survey Magnetik

Survey magnetik dapat dilakukan di darat, udara dan juga dalam lubang

bor.Survey magnetik udara dapat mencakup daerah yang luas dalam waktu yang

singkat. Survey ini biasanya dilakukan dengan menggunakan pesawat fuxed wing

atau helikopter. Biayanya lebih murah bila dibandingkan dengan survey di darat.

Disamping itu kualitasdata yang dihasilkannya juga bagus sehingga dapat

digunakan sebagai konsep baru dalam penentuan target eksplorasi. Gangguannya

(noise) kecil dan dapat mencakup daerah yang sulit.

a. Survey magnetik darat

Survey magnetik darat dapat dipakai melokalisir anomali secara akurat. Sinyal

dari sumber magnetik yang lemah dapat terukur dengan survey survey ini

sinyal dari sumber yang dangkal dapat ditingkatkan. Kelemahan dari survey

ini adalah lembap dalam pelaksanaannya, banyak noise dan hanya dapat

dilaksanakan pada daerah yang dapat diakses oleh manusia.

b. Survey magnetik dalam lubang bor

Yaitu survey yang dilakukan ketika kita sudah membuat lubang bor . Sinyal

dari sumber magnetik yang lemah dapat terukur karena kita sudah mendekati

mineral yang akan kita teliti.

3.2 Kelebihan dan kekurangan metode magnetik

Metode Magnetik selaku salah satu metode geofisika tentunya mempunyai

kelebihan dan kekurangan, diantaranya sebagai berikut:

1. Kelebihan Metode Magnetik

a. Metode ini sensitive terhadap perubahan vertical, umumnya digunakan untuk

mempelajari tubuh intrusi, batuan dasar, urat hydrothermal yang kaya akan
mineral ferromagnetic, struktur geologi. Umumnya tubuh intrusi, urat

hydrothermal kaya akan mineral ferromagnetic (Fe3O4, Fe2O3) yang

memberi kontras pada batuan sekelilingnya.

b. Mineral-mineral ferromagnetic akan kehilangan sifat kemagnetannya bila

dipanasi mendekati temperatur Curie oleh karena itu efektif digunakan untuk

mempelajari daerah yang dicurigai mempunyai potansi Geothermal.

c. Data acquitsition dan data proceding dilakukan tidak serumit metoda gaya

berat. Penggunaan filter matematis umum dilakukan untuk memisahkan

anomaly berdasarkan panjang gelombang maupun kedalaman sumber

anomaly magnetic yang ingin diselidiki.

2. Kekurangan Metode Magnetik

Setiap jenis batuan di bumi walaupun dalam pengklasifikasian atau penamaannya

sama, dapat saja mempunyai sifat dan karakteristik yang spesifik akibat peristiwa geologi

yang dialaminya. Sehingga bisa memberikan data yang didapat bisa berbeda dengan

kenyataan yang sebenarnya di bawah permukaan.

3.3 Magnetometer

Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi intensitas medan magnet di

permukaan bumi, dimana alat yang digunakan pada metode ini adalah magnetometer.

Magnetometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur intensitas medan magnetik.

Magnetometer pada mulanya diletakkan di pesawat terbang untuk mendeteksi kapal

selam. Dalam perkembangannya telah diciptakan magnetometer portable yang mudah

dibawa-bawa dan juga magnetometer yang digunakan untuk dimasukkan ke dalam

lubang bor.

Satuan internasional (SI) yang digunakan untuk mengukur kekuatan suatu medan

magnet adalah Tesla. Beberapa negara menggolongkan magnetometer yang sensitif

sebagai teknologi militer. Salah satu kegunaan magnetometer yang paling umum adalah
pada proses screening di bandara untuk melihat apakah seseorang membawa senjata

berbaya ke atas pesawat.

Gambar 7. Magnetometer

3.4 Metode pengukuran dan pengolahan data geomagnet

1. Metode pengukuran data geomagnetik.

Dalam melakukan pengukuran geomagnetik, peralatan paling utama yang

digunakan adalah magnetometer. Peralatan ini digunakan untuk mengukur kuat medan

magnetik di lokasi survei. Salah satu jenisnya adalah Proton Precission Magnetometer

(PPM) yang digunakan untuk mengukur nilai kuat medan magnetik total. Peralatan lain

yang bersifat pendukung di dalam survei magnetik adalah Global Positioning System

(GPS). Peralatan ini digunaka untuk mengukur posisi titik pengukuran yang meliputi

bujur, lintang, ketinggian, dan waktu. GPS ini dalam penentuan posisi suatu titik lokasi

menggunakan bantuan satelit. Penggunaan sinyal satelit karena sinyal satelit

menjangkau daerah yang sangat luas dan tidak terganggu oleh gunung, bukit, lembah

dan jurang.Beberapa peralatan penunjang lain yang sering digunakan di dalam survei

magnetik, antara lain (Sehan, 2001) :

a. Kompas geologi, untuk mengetahui arah utara dan selatan dari medan mag
net bumi.

b. Peta topografi, untuk menentukan rute perjalanan dan letak titik pengukuran

pada saat survei magnetik di lokasi

c. Sarana transportasi

d. Buku kerja, untuk mencatat data-data selama pengambilan data

e. PC atau laptop dengan software seperti Surfer, Matlab, Mag2DC, dan lain-

lain.

Pengukuran data medan magnetik di lapangan dilakukan menggunakan peralatan

PPM, yang merupakan portable magnetometer. Data yang dicatat selama proses

pengukuran adalah hari, tanggal, waktu, kuat medan magnetik, kondisi cuaca dan

lingkungan.

Dalam melakukan akuisisi data magnetik yang pertama dilakukan adalah

menentukan base station dan membuat station – station pengukuran (usahakan

membentuk grid – grid). Ukuran gridnya disesuaikan dengan luasnya lokasi pengukuran,

kemudian dilakukan pengukuran medan magnet di station – station pengukuran di setiap

lintasan, pada saat yang bersamaan pula dilakukan pengukuran variasi harian di base

station.

2. Pengaksesan data IGRF

IGRF singkatan dati The International Geomagnetic Reference Field. Merupakan

medan acuan geomagnetik intenasional. Pada dasarnya nilai IGRF merupakan nilai kuat

medan magnetik utama bumi (H0). Nilai IGRF termasuk nilai yang ikut terukur pada saat

kita melakukan pengukuran medan magnetik di permukaan bumi, yang merupakan

komponen paling besar dalam survei geomagnetik, sehingga perlu dilakukan koreksi

untuk menghilangkannya. Koreksi nilai IGRF terhadap data medan magnetik hasil

pengukuran dilakukan karena nilai yang menjadi terget survei magnetik adalan anomali

medan magnetik (ΔHr0).


Nilai IGRF yang diperoleh dikoreksikan terhadap data kuat medan magnetik total

dari hasil pengukuran di setiap stasiun atau titik lokasi pengukuran. Meskipun nilai IGRF

tidak menjadi target survei, namun nilai ini bersama-sama dengan nilai sudut inklinasi

dan sudut deklinasi sangat diperlukan pada saat memasukkan pemodelan dan

interpretasi.

3. Pengolahan data geomagnetik

Untuk memperoleh nilai anomali medan magnetik yang diinginkan, maka dilakukan

koreksi terhadap data medan magnetik total hasil pengukuran pada setiap titik lokasi

atau stasiun pengukuran, yang mencakup koreksi harian, IGRF dan topografi.

a. Koreksi Harian

Koreksi harian (diurnal correction) merupakan penyimpangan nilai medan

magnetik bumi akibat adanya perbedaan waktu dan efek radiasi matahari dalam

satu hari. Waktu yang dimaksudkan harus mengacu atau sesuai dengan waktu

pengukuran data medan magnetik di setiap titik lokasi (stasiun pengukuran) yang

akan dikoreksi. Apabila nilai variasi harian negatif, maka koreksi harian dilakukan

dengan cara menambahkan nilai variasi harian yang terekan pada waktu tertentu

terhadap data medan magnetik yang akan dikoreksi. Sebaliknya apabila variasi

harian bernilai positif, maka koreksinya dilakukan dengan cara mengurangkan nilai

variasi harian yang terekan pada waktu tertentu terhadap data medan magnetik

yang akan dikoreksi, datap dituliskan dalam persamaan

ΔH = Htotal ± ΔHharian

b. Koreksi IGRF

Data hasil pengukuran medan magnetik pada dasarnya adalah konstribusi

dari tiga komponen dasar, yaitu medan magnetik utama bumi, medan magnetik

luar dan medan anomali. Nilai medan magnetik utama tidak lain adalah niali IGRF.

Jika nilai medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi harian, maka
kontribusi medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi IGRF. Koreksi

IGRFdapat dilakukan dengan cara mengurangkan nilai IGRF terhadap nilai medan

magnetik total yang telah terkoreksi harian pada setiap titik pengukuran pada

posisi geografis yang sesuai. Persamaan koreksinya (setelah dikoreksi harian)

dapat dituliskan sebagai berikut :

ΔH = Htotal ± ΔHharian ± H0

Dimana H0 = IGRF

c. Koreksi Topografi

Koreksi topografi dilakukan jika pengaruh topografi dalam survei megnetik

sangat kuat. Koreksi topografi dalam survei geomagnetik tidak mempunyai aturan

yang jelas. Salah satu metode untuk menentukan nilai koreksinya adalah dengan

membangun suatu model topografi menggunakan pemodelan beberapa prisma

segiempat (Suryanto, 1988). Ketika melakukan pemodelan, nilai suseptibilitas

magnetik (k) batuan topografi harus diketahui, sehingga model topografi yang

dibuat, menghasilkan nilai anomali medan magnetik (ΔHtop) sesuai dengan fakta.

Selanjutnya persamaan koreksinya (setelah dilakukan koreski harian dan IGRF)

dapat dituliska sebagai

ΔH = Htotal ± ΔHharian – H0 – ΔHtop

Setelah semua koreksi dikenakan pada data-data medan magnetik yang

terukur dilapangan, maka diperoleh data anomali medan magnetik total di

topogafi. Untuk mengetahui pola anomali yang diperoleh, yang akan digunakan

sebagai dasar dalam pendugaan model struktur geologi bawah permukaan yang

mungkin, maka data anomali harus disajikan dalam bentuk peta kontur. Peta

kontur terdiri dari garis-garis kontur yang menghubungkan titik-titik yang memiliki

nilai anomali sama, yang diukur dar suatu bidang pembanding tertentu.

4. Interpretasi data geomagnetik


Secara umum interpretasi data geomagnetik terbagi menjadi dua, yaitu interpretasi

kualitatif dan kuantitatif. Interpretasi kualitatif didasarkan pada pola kontur anomali

medan magnetik yang bersumber dari distribusi benda-benda termagnetisasi atau

struktur geologi bawah permukaan bumi. Selanjutnya pola anomali medan magnetik

yang dihasilkan ditafsirkan berdasarkan informasi geologi setempat dalam bentuk

distribusi benda magnetik atau struktur geologi, yang dijadikan dasar pendugaan

terhadap keadaan geologi yang sebenarnya.

Interpretasi kuantitatif bertujuan untuk menentukan bentuk atau model dan

kedalaman benda anomali atau strukutr geologi melalui pemodelan matematis. Untuk

melakukan interpretasi kuantitatif, ada beberapa cara dimana antara satu dengan

lainnya mungkin berbeda, tergantung dari bentuk anomali yang diperoleh, sasaran yang

dicapai dan ketelitian hasil pengukuran

3.5 Contoh Kasus

STUDI ZONA MINERALISASI EMAS MENGGUNAKAN METODE GEOMAGNET DI DESA

SILIWANGA KECAMATAN LORE PEORE KABUPATEN POSO

A. Pendahuluan

Menurut Peta Geologi Lembar Poso Sulawesi (Simanjuntak, 1977),bahwa batuan

penyusun statigrafi daerah penelitian terdiri atas Formasi Napu, dan batuan Granit

Kambuno. Formasi Napu tersingkap luas di bagian timur dan selatan dari lokasi penelitian

di mana batuan penyusunnya terdiri atas batupasir, konglomerat, batulanau, dengan

sisipan lempung dan gambut. Granit kambuno berada di bagian barat dari lokasi

penelitian dengan batuan penyusunnya terdiri dari granit dan granodiorit.

Daerah penelitian umumnya didominasi oleh bukit dan pegunungan. Morfologi

bukit berada pada bagian utara dan timur, sedangkan morfologi pegunungan berada

pada bagian barat dan selatan dengan ketinggian ± 1.117 meter di atas permukaan laut.

Sebagian dari daerah penelitian dimanfaatkan warga setempat untuk daerah


persawahan yang terdapat pada bagian utara dan timur. Desa Siliwanga juga memiliki

sungai yang berarah dari timur-barat, di sepanjang aliran sungai terdapat perkebunan

kakao yang merupakan sumber penghasilan masyarakat.

Salah satu struktur geologi yang dijumpai di daerah penelitian adalah sesar. Sesar

yang dominan berada pada bagian barat dan selatan. Sesar tersebut membentuk

rekahan rekahan sehingga memungkinkan dilalui oleh hidrotermal. Dengan demikian

proses mineralisasi dapat terjadi pada daerah ini.

B. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan data sekunder magnetik. Titik pengambilan data

dilapangan dilakukan dengan cara acak (random), pengolahan data meliputi koreksi

variasi harian, koreksi IGRF, menentukan anomali magneik, dan melakukan pemodelan

menggunakan software Mag2dc.

Gambar 8. Peta lokasi penelitian

C. Hasil dan Pembahasan

Interpretasi dilakukan hanya sebatas interpretasi magnetik 2 dimensi (2D) guna


untuk memberikan gambaran bawah permukaan dan menjelaskan keberadaan zona

mineralisasi atau posisi dimana mineral-mineral yang ditargetkan berada yaitu emas (Au)

baik berupa emas murni atau dalam bentuk asosiasi dengan mineral lain.

Gambar 9. Lintasan pada peta anomali magnetik residual

Pemodelan dilakukan dengan bantuan software mag2dc, data yang dibutuhkan

sebagai input pemodelan adalah data anomali magnetik residual yang diperoleh pada

lintasan-lintasan yang diberikan pada peta anomali magnetik residual tersebut. Hal

tersebut dilakukan karena anomali magnetik residual merupakan respon megnetik

material yang berada pada permukaan bumi. Lintasan dipilih berdasarkan pada

perbedaan kontur medan magnet pada peta anomali magnetik.

Hasil pemodelan 2 dimensi penampang lintasan yang dibuat pada software

Mag2DC memberikan model batuan. Model batuan tersebut merupakan representasi dari

respon mineral bawah permukaan yang menunjukan distribusi suseptibilitas mineral

tersebut. Terdapat 5 lintasan pada peta kontur anomali medan magnet residual yang

akan digunakan untuk membuat model. Lintasan-lintasan tersebut saling berpotongan

untuk mempermudah dalam proses interpretasi dan keakuratan data yang akan

digunakan dalam pemodelan 2D. Lintasan a-a’dan b-b’ berarah dari barat timur, dan
Lintasan c-c’, d-d’dan e-e’ berarah dari utara-selatan.

1. Lintasan a-a’

Model penampang Lintasan a-a’ yang berarah barat-timur pada Gambar 10, di

peroleh 5 bentuk batuan yang yang memiliki nilai suseptibilitas yang berbeda-beda,

Kelima bentuk batuan tersebut terdapat 3 buah bentuk batuan yang memiliki nilai

kontras suseptibilitas yaitu 0,0011 SI, 0,0012 SI, dan 0,0001 SI dan

diinterpretasikan sebagai batuan yang berasosiasi dengan iron sulfida yaitu berupa

Pirit, Troilite,dan Kalkopirit. Kedalaman masing-masing model terletak 50 m

sampai 100 m dan diperkirakan sebagai batuan pembawa mineral emas.

Gambar 10. Model 2D lintasan a-a’ pada peta anomali magnetik residual

2. Lintasan b-b’

Model penampang Lintasan b-b’ yang berarah barat-timur pada Gambar 11,

diperoleh 5 bentuk batuan yang memiliki nilai suseptibilitas yang berbeda-beda,

dari kelima bentuk batuan tersebut terdapat 2 buah bentuk batuan yang memiliki

nilai kontras suseptibilitas yaitu 0,0003 SI, dan 0,0001 SI, diinterpretasikan sebagai

Porpiri dan Kalkopirit dengan kedalaman 75 meter diperkirakan sebagai batuan


pembawa batuan beku dan ironsulfida.

Gambar 11. Model 2D lintasan b-b’ pada peta anomali magnetik residual

3. Lintasan c-c’

Model penampang pada Lintasanc-c’ yang berarah utara-selatan pada Gambar

12, diperoleh 6 bentuk batuan yang memiliki nilai suseptibilitas yang berbeda-beda,

dari keenam bentuk batuan tersebut terdapat 2 bentuk batuan yang diperkirakan

sebagai batuan pembawa mineral emas yang memiliki nilai suseptibilitas 0,0001 SI

dan 0,0004 SI diinterpretasikan sebagai Kalkopirit dan Porpiri yang berasosiasi

dengan batuan beku dan iron sulfida pada kedalaman 75 m sampai 100 m.

Gambar 12. Model 2D lintasan c-c’ pada peta anomali magnetik residual
4. Lintasan d-d’

Model penampang pada Lintasand-d’ yang berarah utara-selatan pada Gambar

13, diperoleh 6 bentuk batuan yang memiliki nilai suseptibilitas yang berbeda-beda,

dari keenam bentuk batuan tersebut terdapat 3 bentuk batuan yang memiliki nilai

kontras suseptibilitas 0,0004 SI, 0,0001 SI dan 0,0013 SI yang diperkirakan

sebagai batuan pembawa mineral emas yaitu Porpiri, Kalkopirit dan Pirit yang

berasosiasi dengan batuan beku dan iron sulfida terdapat pada kedalaman 50 m

sampai100 m.

5. Lintasan e-e’

Gambar 13. Model 2D lintasan d-d’ pada peta anomali magnetik residual

5. Lintasan e-e’

Model penampang pada Lintasan e-e’ yang berarah utara-selatan pada

Gambar 14, diperoleh 5 bentuk batuan yang memiliki nilai suseptibilitas yang

berbeda-beda, dari kelima bentuk batuan terdapat 2 bentuk batuan yang memiliki

nilai kontras suseptibilitas 0,0010 SI dan 0,0002 SI diinterpretasikan sebagai Pirit

dan Kalkopirit yang diperkirakan sebagai batuan pembawa mineral emas yang

berasosiasi dengan iron sulfida dan terdapat pada kedalaman 75 m.


Gambar 14. Model 2D lintasan d-d’ pada peta anomali magnetik residual

Hasil interpretasi dan pemodelan penampang diinterpretasikan bahwa batuan di

bawah permukaan daerah penelitian didominasi oleh batuan beku, batuan sedimen dan

iron sulfides, batuan ini memiliki nilai suseptibilitas positif. Hasil pemodelan menunjukkan

kesesuaian dengan kondisi geologi daerah penelitian yaitu batuan penyusun pada daerah

penelitian terdiri dari batuan beku dan batuan sedimen, sedangkan batuan yang memiliki

nilai suseptibilitas negatif diinterpretasikan sebagai mineral nonmagnetik dan tidak

ditentukan jenis mineralnya karena tidak terdapat kesesuaian antara nilai suseptibilitas

pada setiap batuan dengan nilai suseptibilitas batuan/mineral dalam literatur.

Batuan yang diduga merupakan pembawa mineral emas adalah pirit, porfiri dan

kalkopirit tersebar pada setiap penampang. Sehingga pada setiap penampang diduga

terdapat adanya indikasi zona mineralisasi emas. Interpretasi tersebut sesuai dengan

literatur dimana emas umumnya terikat di dalam sulfida logam dan hasil pelapukan

seperti pirit dan kalkopirit.Hal ini sesuai dengan kondisi geologi lokasi penelitian dimana

batuan penyusunnya berupa granit kambuno dan kalkopirit yang merupakan salah satu

jenis mineral yang banyak dijumpai dalam granit. Selain itu, di daerah penelitian terdapat

sesar sehingga memungkinkan terjadinya proses mineralisasi emas kedalam rekahan se


bagai jalur pengendapan oleh hidrotermal.

Pemaparan hasil interpretasi menunjukan bahwa di lokasi penelitian ditemukan

adanya zona mineralisasi emas yang berasosiasi dengan mineral sulfida seperti pirit yang

sebagian besar terdapat pada bagian barat dan selatan lokasi penelitian, kalkopirit

sebagian besar terdapat pada bagian timur dan selatan lokasi penelitian dan porfiri

terdapat pada bagian barat, utara dan timur lokasi penelitian.

D. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang studi zona mineralisasi emas di Desa

Siliwanga, Kecamatan Lore Peore, Kabupaten Poso dengan metode geomagnet dapat

disimpulan bahwa terdapat zona mineralisasi emas yang diduga berasosiasi dengan

mineral lain seperti Pirit dengan nilai suseptibilitas 0,000035 SI - 0,005 SI yang sebagian

besar terdapat pada bagian barat dan selatan lokasi penelitian, Kalkopirit dengan nilai

suseptibilitas 0,000023 SI-0,0004 SI sebagian besar terdapat pada bagian timur dan

selatan lokasi penelitian dan Porpiri dengan nilai suseptibilitas 0,00025 SI-0,21 SI

terdapat pada bagian barat, utara dan timur lokasi penelitian. Mineral Pirit terdapat pada

Lintasan a-a’ dan Lintasan b-b’, mineral Porpiri terdapat pada Lintasan b-b’, Lintasan c-

c’, Lintasan d-d’ dan mineral Kalkopirit terdapat disemua Lintasan yang dapat ditemukan

pada kedalaman 50m sampai 100m.


DAFTAR PUSTAKA

Nurinaya, dkk. 2015. Studi Zona Mineralisasi Emas Menggunakan Metode Geomagnet Di
Desa Siliwanga Kecamatan Lore Peore Kabupaten Poso. Universitas Tadulako,
Palu.

Rapuan,M. 2012.Geofisika.http://mandeleyev-rapuan.blogspot.co.id/2012/04/geofisika-
terapan.html diakses pada hari kamis tanggal 22 Februari 2018.

Solikha,DE, dkk. Penerapan Metode Geomagnet Untuk Mengetahui Nilai Suseptibilitas


Magnetik Lapisan Tanah Dibandingkan Dengan Pengukuran Suseptibilitas Magnetik
Secara Langsung Studi Kasus: Lapisan Tanah Di Desa Pandensari Pujon, Malang.

Solikha,DE, dkk. Penerapan Metode Geomagnet Untuk Mengetahui Nilai Suseptibilitas


Magnetik Lapisan Tanah Dibandingkan Dengan Pengukuran Suseptibilitas Magnetik
Secara Langsung Studi Kasus: Lapisan Tanah Di Desa Pandensari Pujon, Malang.
”Dalam Rusli, Muhammad. 2009. Penelitian Potensi Bahan Magnet Alam Di Desa
Uekuli Kecamatan Tojo Kabupaten Tojo Unauna Provinsi Sulawesi Tengah.”

Solikha,DE, dkk. Penerapan Metode Geomagnet Untuk Mengetahui Nilai Suseptibilitas


Magnetik Lapisan Tanah Dibandingkan Dengan Pengukuran Suseptibilitas Magnetik
Secara Langsung Studi Kasus: Lapisan Tanah Di Desa Pandensari Pujon, Malang.
“Dalam Syirojudin, Muhamad. 2010. Penentuan Karakteristik Sesar Cimandiri
Segmen Pelabuhan Ratu-Citarik Dengan Metode Magnet Bumi. Skripsi: Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.”