Anda di halaman 1dari 19

Kejahatan Seksual Terhadap Anak di Bawah Umur

Kelompok PBL E5

102012150 Abi Mayu

102013352 Manggala Senapati

102014233 Muhammad Imran Amin Bin MD Jelani

102012185 Riama Sihombing

102013165 Gabriel Cahyani Harefa

102013553 Anisa Aulia Reffida

102014036 Vivian Chau

102014084 Maria Andriana Neno

102014168 Benita Rosalie

102014228 Nur Amira Amalina Binti Mohammad Zulkifli

Falkutas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

Tahun Ajaran 2017/2018

1
Pendahuluan

Setiap harinya terjadi kasus-kasus kriminal di masyarakat, semua hal tersebut perlu ditindak
lanjuti, salah satu diantaranya ialah kasus pemerkosaan terhadap anak dibawah umur. Umumnya
hal ini diketahui dengan anak mengeluhkan perih atau sakit saat berkemih. Dengan keluhan ini
biasanya orang tua datang membawa anaknya ke dokter. Jika ditemukan hasil positif bahwa anak
tersebut telah disetubuhi, maka semua prosedur-prosedur medis dan hukum kembali lagi kepada
orang tua korban, apakah mereka menyetujui untuk ditindaklanjuti ke jalur hukum atau tidak
(delik aduan).
Skenario 3
Anda bekerja sebagai dokter di IGD sebuah rumah sakit. Pada suatu sore hari datang seorang
laki-laki berusia 45 tahun membawa anak perempuannya yang berusia 14 tahun menyatakan
bahwa anaknya tersebut baru saja pulang “dibawa lari” oleh teman laki-laki yang berusia 18
tahun selama 3 hari keluar kota. Sang ayah takut apabila telah terjadi sesuatu pada diri putrinya,
Ia juga bimbang apa yang akan diperbuatnya bila sang anak telah disetubuhi laki-laki tersebut
dan akan merasa senang apabila anda dapat menjelaskan berbagai hal tentang aspek medikolegal
dan hukum kasus anaknya.
Aspek Hukum dan Medikolegal pada Anak 14 tahun

A. Perlindungan Anak

Dengan dasar Lex specialis derogat legi generalis, yaitu hukum yang lebih spesifik dapat
menggantikan hukum yang lebih umum, maka kasus kejahatan seksual pada anak dibawah 12
tahun tersebut dapat tetap dilaporkan kepada polisi tanpa aduan dari korban maupun walinya.
KUHP pasal 287 di atas dapat digantikan oleh Undang – Undang RI No. 23 tahun 2002 Tentang
Perlindungan Anak.1

Hal ini dapat kita lihat pada Pasal 17 yang berbunyi :

(1) Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk :

a. mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang


dewasa;
b. memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan
upaya hukum yang berlaku; dan

2
c. membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak
memihak dalam sidang tertutup untuk umum.

(2) Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan
dengan hukum berhak dirahasiakan.

Dan Pasal 18 yang berbunyi :

Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan
hukum dan bantuan lainnya.

Selain itu Pasal 78 juga menerangkan mengenai kewajiban setiap orang untuk melapor ke polisi.

“Setiap orang yang mengetahui dan sengaja membiarkan anak dalam situasi darurat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari
kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual,
anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol,
psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, anak korban perdagangan,
atau anak korban kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, padahal anak tersebut
memerlukan pertolongan dan harus dibantu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).”

Selain itu pasal – pasal yang memuat ketentuan lebih rinci mengenai perlindungan anak ini
adalah :2

Pasal 1

Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan :

1. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak
yang masih dalam kandungan.
2. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan
hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal
sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari
kekerasan dan diskriminasi.

3
3. Perlindungan khusus adalah perlindungan yang diberikan kepada anak dalam situasi
darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan
terisolasi, anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang
diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol,
psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan,
perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang
menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.

Pasal 3

Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat
hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya
anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera.

Pasal 4

Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara
wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari
kekerasan dan diskriminasi.

Pasal 13

(1) Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang
bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:

a. diskriminasi;
b. eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual;
c. penelantaran;
d. kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan;
e. ketidakadilan; dan
f. perlakuan salah lainnya.

(2) Dalam hal orang tua, wali atau pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka pelaku dikenakan pemberatan hukuman.

4
Pasal 81

(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa
anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana
penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling
banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00
(enam puluh juta rupiah).

(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang
dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak
melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Pasal 82

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa,
melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau
membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima
belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga
ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

B. Kejahatan Kesusilaan

Pasal 89 KUHP
Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan. 1
Pasal 284 KUHP
(1) Dihukum dengan pidana penjara paling alma Sembilan bulan: 1a) seorang pria yang elah
kawin,yang melakukan gendak (overspel), padahal diketahui bahwa pasal 27 BW
(Burgerlyk Wetboek) berlaku baginya. 1b) seorang wanita yang telah kawin yang
melakukan gendak, padahal diketahui bahwa pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek) berlaku
baginya. 2a) seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan tu, padahal diketahuinya
bahwa yang turut bersalah telah kawin; 2b) seorang wanita yang belum kawin yang turut
serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah
kawin dan pasal 27 BW berlaku baginya.

5
Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar, dan
bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tenggang waktu tiga bulan diikuti
dengan permintaan untuk bercerai atau pisah-meja dan ranjang karena alasan itu juga.
(3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75.
(4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pegnadilan belum
dimulai.
(5) Jika bagi suami-istri itu berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama
perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum putusan yang menyatakan
pisah menja dan tempat tidur menjadi tetap.
BW pasal 27
Dalam waktu yang sama seoran laki hanya diperbolehkan mempunyai satu orang
perempuan sebagai isterinya, seorang perempuan hanya satu orang laki sebagai suaminya.
Pasal 285 KUHP
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang wanita
bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun.
Pasal 286 KUHP
Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, pada hal diketahui
bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara
paling lama sembilan tahun.
Pasal 287 KUHP
(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, pada hal diketahui
atau sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau kalau
umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu kawin, diancam dengan pidana penjara
paling lama sembilan tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umurnya wanita belum sampai
dua belas tahun atau jika ada salah suatu hal tersebut pasal 291 dan pasal 294.
(3) Pasal 289 KUHP
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk
melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan
yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.1

6
Pasal 290 KUHP
Diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun :
1. Barang siapa melakukan perbuatan cabul, dengan seseorang pada hal diketahui, bahwa
orang itu pingsan atau tidak berdaya;
2. Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang pada hal diketahui atau
sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya
tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin;
3. Barang siapa membujuk seseorang yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa
umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu
dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh
di luar perkawinan dengan orang lain.2,3
Pasal 291 KUHP
(1) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286, 287, 288 dan 290
mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama 12 tahun.
(2) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285, 286, 287 dan 290 itu
mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun.1
C. Delik Aduan
Pasal 74 KUHP
(1) Pengaduan hanya boleh diajukan dalam waktu enam bulan sejak orang yang berhak
mengadu mengetahui adanya kejahatan, jika bertempat tinggal di Indonesia, atau dalam
waktu sembilan bulan jika bertempat tinggal di luar Indonesia.
(2) Jika yang terkena kejahatan menjadi berhak mengadu pada saat tenggang tersebut dalam
ayat 1 belum habis, maka setelah saat itu pengaduan hanya masih boleh diajukan. Selama
sisa yang masih kurang pada tenggang tersebut.

Pasal 75 KUHP
Orang yang mengajukan pengaduan, berhak menarik kembali dalam waktu tiga bulan setelah
pengaduan diajukan1
Pemeriksaan Medis pada Korban dan Pelaku
Pemeriksaan kasus – kasus yang merupakan persetubuhan yang merupakan tindak pidana
hendaknya dilakukan dengan teiti dan waspada. Pemeriksa harus yakin akan semua bukti – bukti
yang ditemukannya karena berbeda dengan di klinik, ia tidak lagi mempunyai kesempatan untuk

7
melakukan pemeriksaan ulang guna memperoleh lebih banyak bukti. Tetapi dalam melaksanakan
kewajibannya, dokter jangan sampai meletakkan kepentingan si korban di bawah kepentingan
pemeriksaan, terutama bila si korban adalah anak – anak. Hendaknya pemeriksaan tidak sampai
menambah trauma psikis yang sudah di deritanya.1
A. Anamnesis
Anamnesis umum. Pengumpulan data tentang umur, tanggal dan tempat lahir, status
perkawinan, siklus haid, penggunaan obat-obatan, penyakit kelamin dan penyakit kandungan
serta adanya penyakit lain : epilepsy, katalepsi, syncope. Cari tahu pula apakah pernah
bersetubuh? Persetubuhan yang terakhir? Apakah menggunakan kondom? Keluhan saat
pemeriksaan?
Anamnesis khusus.Hal khusus yang perlu diketahui adalah waktu kejadian; tanggal dan
jam. Bila waktu antara kejadian dan pelaporan kepada yang berwajib berselang beberapa hari
atau minggu, dapat diperkirakan bahwa peristiwa itu bukan peristiwa perkosaan, tetapi
persetubuhan yang pada dasarnya tidak disetujui oleh wanita yang bersangkutan. Karena
berbagai alasan, misalnya perempuan itu merasa tertipu, cemas akan menjadi hamil atau selang
beberapa hari baru diketahui ayah atau ibu dan karena ketakutan mengaku bahwa ia telah
disetubuhi dengan paksa. Jika korban benar telah diperkosa biasanya akan segera melapor.
Tetapi saat pelaporan yang terlambat mungkin juga disebabkan karena korban diancam untuk
tidak melapor kepada polisi. Dari data ini dokter dapat mengerti mengapa ia tidak dapat
menemukan lagi spermatozoa, atau tanda-tanda lain dari persetubuhan. Tanyakan pula di mana
tempat terjadinya.1
B. Pemeriksaan Fisik4
1. Pemeriksaan Fisik pada Korban
1) Pakaian. Pakaian ditentukan helai demi helai dan dilihat apakah terdapat robekan lama atau
baru sepanjang jahitan atau melintang pada pakaian, kancing terputus akibat tatikan, bercak
darah, air mani, lumpur dan lain-lain yang mungkin berasal dari tempat kejadian. Dicatat juga
apakah pakaian rapi atau tidak, benda yang melekat dan pakaian yang mengandung trace
evidence dikirim ke laboratorium.
2) Pemeriksaan Tubuh:

8
a) Dijelaskan penampilan, keadaan emosional dan tanda-tanda bekas hilang kesedaran atau
diberikan obat seperti needle marks. Pada kasus yang diduga terjadi kehilangan kesadaran
hendaklah dilakukan pemeriksaan urin dan darah.
b) Dilihat adanya atau tidak tanda-tanda kekerasan, memer atau luka lecet pada daerah
mulut, leher, pergelangan tangan, lengan, paha bagian dalam dan pinggang.
c) Dicatat perkembangan alat kelamin sekunder, pemeriksaan refleks cahaya pupil, tinggi
dan berat badan, tekanan darah, keadaan jantung dan abdomen.
d) Dilihat juga apakah terdapat trace evidence yang melekat pada tubuh korban dan
sekiranya ada, diambil dan diperlakukan seperti bahan bukti.
3) Pemeriksaan Khusus (Bagian Genitalia). Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan
speculum hanya apabila pemeriksaan mengijinkan dan sebaiknya dilakukan oleh dokter
spesialis obstetrik dan ginekologi.
a) Rambut kemaluan. Diperiksa : Ada atau tidaknya rambut melekat karena air mani
mongering, serta rambut digunting untuk pemeriksaan laboratorium dan untuk
perbandingan dengan rambut kemaluan pria tersangka.
b) Cari bercak air mani sekitar alat kelamin, kerok dengan sisi tumpul skalpel atau swab
dengan kapas lidi dibasahi garam fisiologis.
c) Vulva. Yang perlu diperhatikan adalah: Tanda-tanda kekerasan seperti hiperemi,edema,
memar dan luka lecet akibat goresan kuku; Introitus vagina dilihat apakah ada tanda-
tanda kekerasan; Bahan sampel dari vestibulum diambil untuk pemeriksaan sperma.
d) Selaput dara. Periksa: Apakah ruptur atau tidak; tentukan apakah ruptur baru atau lama.
Pada ruptur lama, robekan menjalar sampai insertion disertai adanya jaringan parut di
bawahnya; catat lokasi ruptur dan apakah sampai insertion atau tidak; Ukur lingkaran
orifisium dengan cara memasukkan ujung kelingking atau telunjuk perlahan-lahan
sehingga teraba selaput dara menjepit ujung jari. Ukur lingkaran ujung jari pada batas ini.
Ukuran pada seorang perawan kira-kira 2,5cm dan lingkaran yang memungkinkan
persetubuhan adalah 9cm; Harus ingat bahwa persetubuhan tidak selalu terjadi deflorasi.
e) Frenulum labiorum pudenda dan commisura labiorum posterior diperiksa untuk melihat
utuh atau tidak.
f) Perlu juga dilakukan pemeriksaan untuk melihat apakah ada atau tidak penyakit kelamin.
2. Pemeriksaan Fisik pada Pelaku

9
Pemeriksaan umum yang dapat dilakukan meliputi:4

1) Pakaian.
2) Rambut kemaluan: diambil sebagai bahan pembanding sekiranya terdapat rambut yang
ditemukan di kemaluan korban.
3) Bercak semen: dicatat apakah adanya bercak semen, tidak mempunyai arti dalam pembuktian
sehingga tidak perlu ditentukan.
4) Darah: Kemungkinan darah dari deflorasi. Dilakukan pemeriksaan golongan darah yang
ditemukan.
5) Tanda bekas kekerasan akibat perlawanan oleh korban.
C. Pemeriksaan Penunjang1
1. Pemeriksaan Penunjang pada Korban

Penentuan spermatozoa (mikroskopis).Tujuannya untuk menentukan adanya sperma; Bahan


pemeriksaan: cairan vaginaMetode pemeriksaan: tanpa pewarnaan dan dengan pewarnaan.

1) Tanpa pewarnaan. Untuk melihat motilitas spermatozoa. Pemeriksaan ini paling bermakna
untuk memperkirakan saat terjadinya persetubuhan.
b) Cara pemeriksaan: Letakkan satu tetes cairan vagina pada kaca objek kemudian ditutup.
Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran 500 kali. Perhatikan pergerakkan
spermatozoa.
c) Hasil: Umumnya disepakati dalam 2 – 3 jam setelah persetubuhan masih dapat ditemukan
spermatozoa yang bergerak dalam vagina. Haid akan memperpanjang waktu ini sampai 3
– 4 jam. Berdasarkan beberapa penelitian, dapat disimpulkan bahwa spermatozoa masih
dapat ditemukan 3 hari, kadang – kadang sampai 6 hari pasca persetubuhan. Pada orang
mati, spermatozoa masih dapat ditemukan hingga 2 minggu pasca persetubuhan, bahkan
mungkin lebih lama lagi2.

2). Dengan Pewarnaan.


a) Cara pemeriksaan: buat sediaan apus dan fiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus
tersebut pada nyala api. Pulas dengan HE, biru metilen atau hijau malakit. Cara
pewarnaan yang mudah dan baik untuk kepentingan forensik adalah pulasan dengan hijau

10
malakit dengan prosedur sebagian berikut :Buat sediaan apus dari cairan vaginal pada
gelas objek, keringkan diudara, dan fiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus
tersebut pada nyala api, warnai dengan Malachite-green 1% dalam air, tunggu 10-15
menit, cuci dengan air, warnai dengan larutan Eosin Yellowish 1 %dalam air, tunggu
selama 1 menit, cuci lagi dengan air, keringkan dan periksa dibawah mikroskop.
b) Hasil: Keuntungan dengan pulasan ini adalah inti sel epitel dan leukosit tidak
terdiferensiasi, sel epitel berwarna merah muda merata dan leukosit tidak terwarnai.
Kepala spermatozoa tampak merah dan lehernya merah muda, ekornya berwarna hijau
Bila persetubuhan tidak ditemukan, belum tentu dalam vagina tidak ada ejakulat karena
kemungkinan azoosperma atau pascavasektomi. Bila hal ini terjadi, maka perlu dilakukan
penentuan cairan mani dalam cairan vagina2.
Penentuan Cairan Mani (kimiawi).Untuk membuktikan terjadinya ejakulasi pada persetubuhan
dari ditemukan cairan mani dalam sekret vagina, perlu dideteksi adanya zat-zat yang banyak
terdapat dalam cairan mani, yaitu dengan pemeriksaan laboratorium :
1) Reaksi Fosfatase Asam. Merupakan tes penyaring adanya cairan mani, menentukan apakah
bercak tersebut adalah bercak mani atau bukan, sehingga harus selalu dilakukan pada setiap
sampel yang diduga cairan mani sebelum dilakukan pemeriksaan lain. Reaksi fosfatase asam
dilakukan bila pada pemeriksaan tidak ditemukan sel spermatozoa. Tes ini tidak spesifik,
hasil positif semu dapat terjadi pada feses, air teh, kontrasepsi, sari buah dan tumbuh-
tumbuhan2.
a) Dasar reaksi (prinsip):Adanya enzim fosfatase asam dalam kadar tinggi yang dihasilkan
oleh kelenjar prostat. Enzim fosfatase asam menghidrolisis natrium alfa naftil fosfat. Alfa
naftol yang telah dibebaskan akan bereaksi dengan brentamin menghasilkan zat warna
azo yang berwarna biru ungu. Bahan pemeriksaan yang digunakan adalah cairan vaginal.
b) Reagen :Larutan A: Brentamin Fast Blue B 1 g (1) ; Natrium asetat trihidrat 20 g (2) ;
Asam asetat glasial 10 ml (3) ; Askuades 100 ml (4); pertama bahan (2) dan (3)
dilarutkan dalam (4) untuk menghasilkan larutan penyangga dengan pH 5, kemudian (1)
dilarutkan dalam larutan peyangga tersebut.Larutan B: Natrium alfa naftil fosfat 800 mg
+ aquades 10 ml.89 ml Larutan A ditambah 1 ml larutan B, lalu saring cepat ke dalam
botol yang berwarna gelap. Jika disimpan dilemari es, reagen ini dapat bertahan
berminggu-minggu dan adanya endapan tidak akan mengganggu reaksi2.

11
c) Cara pemeriksaan:Bahan yang dicurigai ditempelkan pada kertas saring yang terlebih
dahulu dibasahi dengan aquades selama beberapa menit. Kemudian kertas saring
diangkat dan disemprotkan / diteteskan dengan reagen. Ditentukan waktu reaksi dari saat
penyemprotan sampai timbul warna ungu, karena intensitas warna maksimal tercapai
secara berangsur-angsur.
d) Hasil:Bercak yang tidak mengandung enzim fosfatase memberikan warna serentak dengan
intensitas tetap, sedangkan bercak yang mengandung enzim tersebut memberikan
intensitas warna secara berangsur-angsur.Waktu reaksi 30 detik merupakan indikasi kuat
adanya cairan mani. Bila 30 – 65 detik, masih perlu dikuatkan dengan pemeriksaan
elektroforesis. Waktu reaksi > 65 detik, belum dapat menyatakan sepenuhnya tidak
terdapat cairan mani karena pernah ditemukan waktu reaksi > 65 detik tetapi spermatozoa
positif.Enzim fosfatase asam yang terdapat di dalam vagina memberikan waktu reaksi
rata-rata 90 – 100 detik. Kehamilan, adanya bakteri-bakteri dan jamur, dapat
mempercepat waktu reaksi.
2) Reaksi Florence. Reaksi ini dilakukan bila terdapat azoospermia/tidak ditemukan
spermatozoa atau cara lain untuk menentukan semen tidak dapat dilakukan.
a) Dasar:Menentukan adanya kolin.
b) Reagen (larutan lugol) dapat dibuat dari :Kalium yodida 1,5 g; Yodium 2,5 g; Akuades
30 ml.
c) Cara pemeriksaan: Cairan vaginal ditetesi larutan reagen, kemudian lihat dibawah
mikroskop.
d) Hasil:Bila terdapat mani, tampak kristal kolin periodida coklat berbentuk jarum dengan
ujung sering terbelah.Test ini tidak khas untuk cairan mani karena bahan yang berasal
dari tumbuhan atau binatang akan memperlihatkan kristal yang serupa tetapi hasil postif
pada test ini dapat menentukan kemungkinan terdapat cairan mani dan hasil negative
menentukan kemungkinan lain selain cairan mani2,4.
3. Reaksi Berberio. Reaksi ini dilakukan dan mempunyai arti bila mikroskopik tidak ditemukan
spermatozoa.
a) Dasar reaksi:Menentukan adanya spermin dalam semen.
b) Reagen :Larutan asam pikrat jenuh.

12
c) Cara pemeriksaan (sama seperti pada reaksi Florence):Bercak diekstraksi dengan sedikit
akuades. Ekstrak diletakkan pada kaca objek, biarkan mengering, tutup dengan kaca
penutup. Reagen dialirkan dengan pipet dibawah kaca penutup.
d) Hasil: Hasil positif bila, didapatkan kristal spermin pikrat kekuningan berbentuk jarum
dengan ujung tumpul. Kadang-kadang terdapat garis refraksi yang terletak longitudinal.
Kristal mungkin pula berbentuk ovoid2,4.
Penentuan Golongan Darah ABO Pada Cairan Mani.Pada individu yang termasuk golongan
sekretor (85% dari populasi), substansi golongan darah dapat dideteksi dalam cairan tubuhnya
seperti air liur, sekret vagina, cairan mani, dan lain-lain. Substansi golongan darah dalam cairan
mani jauh lebih banyak dari pada air liur (2 – 100 kali). Hanya golongan sekretor saja yang
golongan darahnya dapat ditentukan dalam semen yaitu dilakukan dengan cara absorpsi
inhibisi.1

Golongan Darah Wanita


O A B AB
Substansi ‘sendiri’ A B
H A+B
dalam sekret vagina A+H B+H
A
Substansi ‘asing’ B A H*
B
berasal dari semen H* H* A+H
A+B
Keterangan: H* = Hanya H.
Tabel 1. Gambaran substansi golongan darah dalam bahan pemeriksaan yang berasal dari forniks
posterior vagina.1
Hasilnya apabila ada substansi ‘asing’ menunjukkan di dalam vagina wanita tersebut terdapat
cairan mani.
Pemeriksaan Bercak Mani Pada Pakaian.
1) Secara visual. Bercak mani berbatas tegas dan warnanya lebih gelap daripada sekitarnya.
Bercak yang sudah agak tua berwarna kekuningan.
a) Pada bahan sutera / nilon, batas sering tidak jelas, tetapi selalu lebih gelap daripada
sekitarnya.

13
b) Pada tekstil yang tidak menyerap, bercak segar menunjukkan permukaan mengkilat dan
translusen kemudian mengering. Dalam waktu kira-kira 1 bulan akan berwarna kuning
sampai coklat.
c) Pada tekstil yang menyerap, bercak segar tidak berwarna atau bertepi kelabu yang
berangsur-angsurmenguning sampai coklat dalam waktu 1 bulan.
d) Dibawah sinar ultraviolet, bercak semen menunjukkan flouresensi putih. Bercak pada
sutera buatan atau nilon mungkin tidak berflouresensi. Flouresensi terlihat jelas pada
bercak mani pada bahan yang terbuat dari serabut katun. Bahan makanan, urin, sekret
vagina, dan serbuk deterjen yang tersisa pada pakaian sering berflouresensi juga.1
2) Secara taktil (perabaan). Bercak mani teraba kaku seperti kanji. Pada tekstil yang tidak
menyerap, bila tidak teraba kaku, masih dapat dikenali dari permukaan bercak yang teraba
kasar.Skrining awal (dengan Reagen fosfatase asam). Cara pemeriksaan:Sehelai kertas saring
yang telah dibasahi akuades ditempelkan pada bercak yang dicurigai selama 5 – 10 menit.
Keringkan lalu semprotkan / teteskan dengan reagen. Bila terlihat bercak ungu, kertas saring
diletakkan kembali pada pakaian sesuai dengan letaknya semula untuk mengetahui letak
bercak pada kain.
3) Uji pewarnaan Baecchi.
a) Reagen dapat dibuat dari:Asam fukhsin 1 % 1 ml; Biru metilen 1 % 1 ml; Asam klorida 1
% 40 ml.
b) Cara Pemeriksaan:Gunting bercak yang dicurigai sebesar 5 mm x 5 mm pada bagian pusat
bercak. Bahan dipulas dengan reagen Baecchi selama 2 – 5 menit, dicuci dalam HCL 1 %
dan dilakukan dehidrasi berturut-turut dalam alkohol 70 %, 80 % dan 95 – 100 %
(absolut). Lalu dijernihkan dalam xylol (2x)dan keringkan di antara kertas
saring.Ambillah 1 – 2 helai benang dengan jarum.Letakkan pada gelas objek dan uraikan
sampai serabut-serabut saling terpisah. Tutup dengan kaca penutup dan balsem Kanada.
Periksa dengan mikroskop pembesaran 400 x.
c) Hasil: serabut pakaian tidak berwarna, spermatozoa dengan kepala berwarna merah dan
ekor berwarna merah muda terlihat banyak menempel pada serabut benang.1

2. Pemeriksaan Penunjang pada Pelaku

14
Pemeriksaan Pria Tersangka.Untuk membuktikan bahwa seorang pria baru saja melakukan
persetubuhan dengan seseorang wanita, dapat dilakukan pemeriksaan sebagai berikut. a) Cara
lugol. Kaca objek ditempelkan dan ditekan pada glans penis, terutama pada bagian kolum,
korona serta frenulum, kemudian letakkan dengan spesimen menghadap kebawah diatas tempat
yang berisi larutan ligol dengan tujuan agar uap yodium akan mewarnai sediaan tersebut. Hasil
akan menunjukkan sel-sel epitel vagina dengan sitoplasma berwarna coklat karena mengandung
banyak glikogen.Untuk memastikan bahwa sel epitel berasal dari seorang wanita, perlu
ditentukan adanya kromatin seks (barr bodies) pada inti. Dengan pembesaran besar, perhatikan
inti sel epitel yang ditemukan dan cari barr bodies. Ciri-cirinya adalah menempel erat pada
permukaan membran inti dengan diameter kira-kira 1 µ yang berbatas jelas dengan tepi tajam
dan terletak pada satu dataran fokus dengan inti.
Kelemahan pemeriksaan ini adalah bila persetubuhan tersebut telah berlangsung lama atau
telah dilakukan pencucian pada alat kelamin pria, maka pemeriksaan ini tidak akan berguna lagi.
Pada dasarnya pemeriksaan laboratorium forensik pada korban wanita dewasa dan anak-anak
adalah sama, yang membedakan adalah pendekatan terhadap korban Pengumpulan barang bukti
harus dilakukan jika hubungan seksual terjadi dalam 72 jam sebelum pemeriksaan fisik.1
Pemeriksaan DNA. DNA menggunakan konsep polimorfisme. Polimorfisme adalah istilah
yang digunakan untuk menunjukkan adanya suatu bentuk yang berbeda dari suatu struktur dasar
yang sama. Jika terdapat variasi pada suatu lokus yang spesifik dalam suatu populasi, maka lokus
tersebut dikatakan bersifat polimorfik. Sifat polimorfik ini disamping menunjukkan variasi
individu, juga memberikan keuntungan karena dapat digunakan untuk membedakan satu orang
dengan orang lainnya. 1 Jenis pemeriksaan DNA :
a) Pemeriksaan DNA tanpa amplifikasi. Menggunakan metode Southern Blot dan memerlukan
DNA yang relatif utuh. Pemeriksaan lebih lama. Pemeriksaan dapat berupa : 1) Pelacak
multilokus : banyak pita DNA. 2) Pelacak single lokus : dua pita/orang. 1
b) Pemeriksaan DNA dengan amplifikasi. Menggunakan metode PCR. Kemampuannya bisa
memperbanyak DNA jutaan sampai milyaran kali memungkinkan dianalisisnya sampel
forensic yang jumlahnya amat minim, hal ini penting karena banyak dari sampel forensic
merupakan sampel postmortem yang tak segar lagi. Memerlukan DNA sedikit dan tidak
perlu utuh. Pemeriksaannya cenderung cepat.

15
Pemeriksaan terhadap N. gonorrhea. Pemeriksaan dari secret ureter (urut dengan jari) dan
dipulas dengan pewarnaan Gram. Pemeriksaan dilakukan pada hari ke I, III, V dan VII. Jika pada
pemeriksaan didapatkan N. gonorrhoea berarti terbukti adanya kontak seksual dengan seseorang
penderita, bila pada pria tertuduh juga ditemukan N. gonorrhea, ini merupakan petunjuk yang
cukup kuat. Jika terdapat ulkus, sekret perlu diambil untuk pemeriksaan serologik dan
bakteriologik (-).

D. Interpretasi Temuan

Dari hasil anamnesis, didapatkan informasi bahwa korban berusia 14 tahun telah pergi
bersama teman laki-laki korban dengan ajakan jalan-jalan. Kemudian korban dikurung dalam
suatu ruangan yang tidak diketahui tepatnya tempat tersebut dimana. Seejak sesampainya
ditempat tersebut teman prianya memaksakan untuk melakukan persetubuhan, karena korban
melawan dilakukanlah tindak kekerasan oleh pelaku hingga korban diikat agar tidak dapat
melakukan perlawanan lagi. Persetubuhan dilakukan oleh paksaan pelaku dan ia melakukan
tindak kekerasan dengan menampar pipi kanan dan kiri korban, mengikat pergelangan tangan
korban. Pada korban, interpretasi hasil yang dapat diperoleh dari hasil pemeriksaan medis antara
lain adalah :
Pada pemeriksaan pakaian tampak pakaian yang robek dan terlepas kancingnya. Ditemukan
memar berwarna biru kehijauan pada pipi kiri dan kanan korban, tampak robekan pada sisi kiri
bibir korban, serta terdapat memar berwarna biru dan jejas bekas ikatan pada pergelangan tangan
korban, himen tampak bentuk hymen rupture, ukuran lubang hymen 9,5 cm, tampak: adanya
robekan baru, dan lokasi robekan pada pukul 7. Pada pemeriksaan vagina dan cervix dengan
speculum tampak adanya lecet pada daerah labia mayor. Pada pemeriksaan dalam / colok dubur
tidak ditemukan rahim yang membesar.
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan pula :
1. Spermatozoa sudah tidak bergerak, menandakan persetubuhan telah terjadi lebih dari 5
jam.
2. Bercak semen dan cairan mani pada celana dalam menandakan terjadinya ejakulasi oleh
pelaku.
3. Korban aman dari kehamilan setelah tes kehamilan menunjukkan hasil negatif.

16
Berdasarkan pemeriksaan-pemeriksaan di atas, telah dapat disimpulkan korban ini masih di
bawah umur, telah terjadi persetubuhan, terjadi ejakulasi dan penetrasi, serta terjadi tindak
kekerasan.

Aspek Psikososial pada Korban dan Keluarga

Penelitian menunjukkan bahwa kejadian kejahatan susila lebih sering dilakukan oleh pihak
yang sebelumnya saling mengenal, misalnya antara tetangga, paman dengan keponakan, atau
dengan teman yang umurnya tidak berbeda jauh. Kebanyakan pelaku dari tindakan asusila
biasanya adalah orang yang usianya lebih tua.5

Tindakan ini dilakukan dapat dengan berbagai cara, misalnya pelaku langsung
mempertontonkan organ genitalnya kepada korban, atau mungkin mengajak korban menonton
video porno bersama, atau bahkan langsung menyetubuhi korban. Sedangkan korban, biasanya
mengenal pelaku dengan baik, dan pelaku sering mengiming-imingi korban dengan sesuatu.
Apapun tindakan itu, korban harus mendapatkan perlindungan dan segera diterapi secara intensif
yang dikenal sebagai terapi psikososial.

Sayangnya, anak yang menjadi korban sering kali diam dan tidak ingin menceritakan
kejadian yang dialaminya. Jika korban melakukannya berdasarkan rasa suka, maka sudah pasti
korban tidak akan melaporkan kegiatan itu kepada siapapun. Tetapi lain halnya jika korban
merasa sangat menderita atas kegiatan tersebut. Korban tersebut diam bukan karena menikmati,
tetapi karena takut akan ancaman dari pelaku, dan juga rasa malu yang kelak harus dihadapi
korban seandainya ia menceritakan masalah ini kepada orang lain, termasuk kepada orang tua.5

Di saat seperti ini, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membangun kembali mental
anak yang terpuruk. Jika anak tidak menginginkan aktivitas seksual tersebut, maka perilaku anak
dapat berubah total, misalnya menjadi lebih pendiam, sering melamun, takut untuk bertemu
dengan orang dewasa, dan sering bermimpi buruk pada malam hari. Orang tua harus membujuk
sang anak, dan dapat mengatakan bahwa tekanan yang diberikan oleh pelaku bukanlah sebuah
hal yang buruk, sehingga anak mau menceritakan masalahnya. Hal yang terbaik untuk
menghindarkan anak dari pelaku kejahatan susila adalah dengan memberikan nasihat yang pas
dan mudah dimengerti oleh anak tersebut sesuai dengan usianya. Untuk anak seperti pada kasus
diatas, karena usianya membuat sang anak sudah mulai dapat diajak berdiskusi, orang tua tidak

17
perlu menutupi apa itu hubungan seksual, dan sudah dapat memberitahu akibat dari perkosaan,
penyakit akibat hubungan kelamin, dan kehamilan yang tidak diinginkan karena mencoba-coba
melakukan hubungan seksual dengan pasangan.

Nasihat tersebut tidak dapat melindungi anak-anak 100% terbebas dari tindakan kejahatan
susila, karena sampai kapanpun tindakan kejahatan tersebut tidak akan pernah hilang. Tetapi,
dengan membekali anak dengan nasihat-nasihat tersebut, para orang tua berharap agar anak-anak
mereka dapat terbebas dari bahaya tersebut, karena sekali saja kejahatan tersebut menimpa sang
anak, maka trauma psikologis yang dihasilkan dapat menghantuinya terus menerus hingga
dewasa dan dapat mempengaruhi kehidupannya.5

Visum et Repertum6

Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan penyidik yang
berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia atau bagian dari tubuh manusia,
baik hidup maupun mati, atas permintaan tertulis (resmi) dan penyidik yang berwenang (atau
hakim untuk visum et repertum psikiatrik) yang dibuat atas sumpah atau dikuatkan dengan
sumpah, untuk kepentingan peradilan.

Visum et repertumadalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 184
KUHP. Visum et Repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana
terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana ia menguraikan segala sesuatu tentang hasil
pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap
sebagai pengganti barang bukti. Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat
dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan.
Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan
ilmu hukum sehingga dengan membaca visum et repertum, dapat diketahui dengan jelas apa
yang telah terjadi pada seseorang, dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma
hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia.6

Kesimpulan

Pada permasalahan kasus kejahatan seksual, tugas dokter tidak hanya menjalankan fungsi
maksimal dalam bidang kesehatan, namun dokter tersebut dituntut untuk memanfaatkan ilmu
pengetahuan kedokteran seoptimal mungkin dan mematuhi tuntutan undang-undang terhadapnya

18
terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan proses hukum. Tindakan perkosaan membawa
dampak emosional dan fisik kepada korbannya. Secara emosional, korban kejahatan seksual bisa
mengalami stress, depresi, goncangan jiwa, menyalahkan diri sendiri, rasa takut berhubungan
intim dengan lawan jenis, dan kehamilan yang tidak diinginkan.

Daftar Pustaka.
1. Wibisana W, Mun’im TWA, dkk. Pemeriksaan Medik pada Kasus Kejahatan Seksual.
Ilmu Kedokteran Forensik. Ed 1, Cetakan ke-2. Bagian Kedokteran Forensik FKUI.
1997:147-58.
2. Staf pengajar bagian kedokteran forensik. Prosedur medikolegal. Peraturan Perundang-
undangan Bidang Kedokteran. Cetakan ke-2. Penerbit Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1994:11-25.
3. Sampurna, B, Syamsu Z, Siswaja TD. “Bioetik dan Hukum Kedokteran”. Cetakan kedua.
Jakarta. 2007.
4. Idries, A.M., Tjiptomartono, A.L. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Proses
Penyidikan. Jakarta : Sagung Seto; 2008: h. 113-32.
5. Sadock BJ, Sadock VA. Buku ajar psikiatri klinis. Edisi ke-2. Jakarta:EGC;2010:h.456-8
6. Staf pengajar bagian kedokteran forensik FKUI. Visum et Repertum. Teknik Autopsi
Forensik. Cetakan ke-4. Penerbit Bagian Kedokteran Forensik FKUI. 2000:72-81.

19