Anda di halaman 1dari 17

TOKSIKOLOGI INDUSTRI

“Hubungan Masa Kerja dan Lama Kerja dengan Kadar Timbal

(Pb) dalam Darah pada Bagian Pengecatan, Industri Karoseri


Semarang”

Oleh :

KELOMPOK 1

Kholid Saifulloh 25010115140193


Ardhianto Nugroho 25000117183026
Riefsy Arien M R H 25010115120047
Lina Sartika 25010115120076
Siti Oktavian 25010115120114
Ayu Febriani 25010115130277
Darsini Puji L 25010115120030

Peminatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro Semarang
Tahun 2018
PATOFISIOLOGI PAJANAN TIMBAL (Pb)

A. Pengenalan Timbal (Pb)


Timbal (Pb) atau timah hitam adalah logam berbentuk padat halus, warna
biru kecoklatan dan resisten korosi. Timbal (Pb) dapat menguap dan
bereaksi dengan oksigen di udara. Sumber polusi Pb berasal dari emisi
otomotif, bahan dasar cat dan
pembakaran batubara.

B. Faktor Risiko
 Pecandu Alkohol lebih berisiko menimbulkan gangguan saraf
 Wanita lebih rentan daripada pria
 Orang dengan sumbatan hidung berisiko lebih tinggi karena bernafas
dengan mulut
 Pekerja dengan anemia memiliki kerentanan lebih tinggi
 Pekerja malnutrisi memiliki kerentanan lebih tinggi

C. Pekerja dengan Risiko Terpajan Timbal (Pb)


 Pekerja pada Industri Baterai
 Pekerja pembuatan Kabel
 Pekerja pembuat Keramik
 Pekerja industr Peleburan logam
 Pekerja industry bahan bakar
 Pekerja di jalan raya ( penjaga pintu tol, polisi lalu lintas, dll)
 Tukang Cat
 Penambang Timbal, dIl

D. Mekanisme Pajanan Timbal (Pb)


a) Eksposisi
Pajanan Pb dapat berasal dari makanan, minuman, udara,
lingkungan umum, dan lingkungan kerja yang tercemar Pb. Masukan Pb
100 hingga 350 µg/hari dan 20µg diabsorbsi melalui inhalasi uap Pb dan
partikel dari udara lingkungan kota yang polutif. Timah hitam dan
senyawanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan
dan saluran pencernaan, sedangkan absorbsi melalui kulit sangat kecil
sehingga dapat diabaikan. Bahaya yang ditimbulkan oleh Pb tergantung
oleh ukuran partikelnya. Partikel yang lebih kecil dari 10 µg dapat
tertahan di paru-paru, sedangkan partikel yang lebih besar mengendap
di saluran
nafas bagian atas.
Absorbsi Pb melalui saluran pernafasan dipengaruhi oleh tiga proses
yaitu deposisi, pembersihan mukosiliar, dan pembersihan alveolar.
Deposisi terjadi di nasofaring, saluran trakeobronkhial, dan alveolus.
Deposisi tergantung pada ukuran partikel Pb, volume pernafasan, dan
daya larut. Partikel yang lebih besar banyak di deposit pada saluran
pernafasan bagian atas dibanding partikel yang
lebih kecil (DeRoos 1997, dan OSHA, 2005). Pembersihan mukosiliar
membawa partikel di saluran pernafasan bagian atas ke nasofaring
kemudian di telan. Rata-rata 10 – 30% Pb yang terinhalasi diabsorbsi
melalui paru-paru, dan sekitar 5-10% dari yang tertelan diabsorbsi
melalui saluran cerna (Palar,1994). Fungsi pembersihan alveolar adalah
membawa partikel ke ekskalator mukosiliar, menembus lapisan jaringan
paru kemudian menuju kelenjar limfe dan aliran darah.
b) Toksikokinetik
Sebanyak 30-40% Pb yang di absorbsi melalui seluran pernapasan
akan masuk ke aliran darah. Masuknya Pb ke aliran darah tergantung
pada ukuran partikel daya larut, volume pernafasan dan variasi faal antar
individu (Palar dalam Ardyanto, 2005). Timah hitam yang diabsorsi
diangkut oleh darah ke organ - organ tubuh sebanyak 95% Pb dalam
darah diikat oleh eritrosit. Depo Pb dalam tubuh dibagi menjadi dua
yaitu ke jaringan lunak (sumsum tulang, sistim saraf, ginjal, hati) dan ke
jaringan keras (tulang, kuku, rambut, gigi) (Palar dalam Ardyanto,
2005).
c) Toksiko dinamik
Gigi dan tulang panjang mengandung Pb yang lebih banyak
dibandingkan tulang lainnya. Pada gusi dapat terlihat lead line yaitu
pigmen berwarna abu abu pada perbatasan antara gigi dan gusi
(Goldstein & Kipen dalam Ardyanto, 2005). Hal itu merupakan ciri khas
keracunan Pb. Pada jaringan lunak sebagian Pb disimpan dalam aorta,
hati, ginjal, otak, dan kulit. Timah hitam yang ada dijaringan lunak
bersifat toksik.

DEPO TIMBAL (Pb)


Menurut Menteri Kesehatan (2002) dalam Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1406/MENKES/SK/IX/2002 tentang standar
pemeriksaan kadar timah hitam pada spesimen biomarker manusia, pengukuran
kadar timbal pada tubuh manusia dapat dilakukan melalui spesimen darah, urine,
dan rambut. Adapun pada masing-masing spesimen tersebut memiliki nilai ambang
batas yang berbeda-beda, yaitu:
1. Spesimen darah Nilai ambang batas kadar timbal dalam spesimen darah pada
orang dewasa normal adalah 10-25 µg per desiliter.
2. Spesimen urine Nilai ambang batas kadar timbal dalam spesimen urine 150
µg/ml creatinine.
3. Spesimen rambut Nilai ambang batas kadar timbal dalam spesimen rambut
0,007-1,17 mg Pb/100gr Jaringan Basah. (Palar, 2008)
Timah hitam yang diabsorsi diangkut oleh darah ke organ - organ tubuh
sebanyak 95% Pb dalam darah diikat oleh eritrosit. Sebagian Pb plasma dalam
bentuk yang dapat berdifusi dan diperkirakan dalam keseimbangan dengan pool Pb
tubuh lainnya. Yang dibagi menjadi dua yaitu ke jaringan lunak (sumsum tulang,
sistim saraf, ginjal, hati) dan ke jaringan keras (tulang, kuku, rambut, gigi (Palar,
1994). Gigi dan tulang panjang mengandung Pb yang lebih banyak dibandingkan
tulang lainnya. Pada gusi dapat terlihat lead line yaitu pigmen berwarna abu abu
pada perbatasan antara gigi dan gusi (Goldstein & Kipen, 1994). Hal itu merupakan
ciri khas keracunan Pb. Pada jaringan lunak sebagian Pb disimpan dalam aorta, hati,
ginjal, otak, dan kulit. Timah hitam yang ada dijaringan lunak bersifat toksik.
MEKANISME EKSKRESI PADA MANUSIA
Pada manusia, sistem ekskresi yang ada digunakan untuk mengeluarkan zat
sisa hasil metabolisme. Zat ini akan menjadi racun jika tidak dikeluarkan oleh
tubuh. Sistem ekskresi pada manusia meliputi proses pengeluaran urine,
pengeluaran keringat, dan pengeluaran karbondioksida yang merupakan sampah
metabolisme. Sistem ekskresi tersebut melibatkan beberapa organ penting dalam
tubuh. Semua organ-organ yang terlibat disebut dengan alat-alat ekskresi. Organ-
organ yang berperan dalam proses ekskresi manusia meliputi kulit, ginjal, paru-
paru, dan hati. Masing-masing organ tubuh manusia ini memiliki tugas yang
berbeda dalam sistem ekskresi. Hal inilah yang menjadi fokus pembahasan kita
dalam artikel ini. Memiliki pengetahuan yang baik tentang organ ekskresi ini akan
membawa kita pada pemahaman tentang sistem ekskresi manusia.

A. Sistem Ekskresi Manusia


Pada sistem ekskresi manusia ada beberapa organ yang bertanggung jawab
untuk melaksanakan tugas ekskresi tersebut. Berikut adalah organ ekskresi yang
dimaksud :

a. Kulit
Sebagai organ dalam sistem ekskresi, kulit mengeluarkan zat ekskresi
berupa keringat dan minyak. Secara garis besar, kulit memiliki dua lapisan,
yaitu lapisan epidermis dan lapisan dermis.

 Epidermis : merupakan lapisan paling atas, terdapat lapisan tanduk yang


sering mengalami pengelupasan karena sel-sel kulit yang sudah mati. Kulit
adalah organ yang paling cepat regenerasinya. Di bawah lapisan tanduk
terdapat lapisan yang mengandung pigmen dan berfungsi untuk memberi
warna pada kulit. Selain itu, di lapisan ini juga terjadi pembelahan sel
untuk membentuk sel-sel kulit baru.
 Dermis : merupakan lapisan yang terdapat di bawah lapisan epidermis.
Pada lapisan ini, terdapat jaringan ikat, jaringan lemak, akar rambut,
kelenjar minyak, kelenjar keringat, pembuluh darah, dan saraf. Kerja kulit
sebagai organ ekskresi sangat bergantung pada lapisan ini. Pengeluaran zat
sisa dalam tubuh melalui kulit sangat bergantung pada kondisi lingkungan.
Jika suhu lingkungan tinggi akan mengakibatkan pengeluaran keringat dan
minyak yang lebih tinggi. Hal ini dilakukan untuk menjaga suhu tubuh
supaya tetap stabil.

b. Paru-paru (Pulmo)
Paru-paru atau pulmo termasuk dalam alat ekskresi karena melalui
paru-paru akan dikeluarkan zat-zat sisa yang dihasilkan pada proses
pernapasan atau respirasi. Udara yang masuk melalui proses respirasi
mengandung oksigen. Jika sudah sampai alveolus, oksigen akan berdifusi
lewat pembuluh daerah yang sudah siap untuk melakukan pertukaran gas
oksigen dengan karbondioksida. Oksigen diperlukan untuk proses respirasi
tingkat seluler. Lalu, karbondioksida dikeluarkan dari tubuh sebagai zat sisa
metabolisme melalui ekspirasi.

c. Hati (Hepar)
Sistem ekskresi pada manusia melibatkan juga organ hati. Hati
merupakan salah satu organ ekskresi yang berfungsi untuk mengeluarkan
urea dan membentuk empedu. Hati terdiri dari dua gelambir, terletak di
rongga perut atas sebelah kanan. Hati berwarna merah tua. Hati disebut organ
ekskresi karena hati mengeluarkan cairan empedu. Eritrosit yang umurnya
lebih dari 120 hari dirombak di hati. Dari proses tersebut dihasilkan cairan
empedu. Cairan empedu mengandung zat warna empedu, yaitu bilirubin dan
biliverdin berwarna hijau kebiruan. Cairan empedu disekresikan di duodenum
dan mengalami oksidasi di usus sehingga terjadi perubahan warna menjadi
kekuningan. Zat warna empedu yang teroksidasi inilah yang memberikan
warna pada urine dan feses.
Dalam proses pencernaan, cairan empedu berperan untuk melarutkan
lemak. Selain mengeluarkan cairan empedu, hati juga berperan dalam
menetralkan racun yang masuk dalam tubuh dan pembentukan vitamin A dan
provitamin A, serta menyimpan karbohidrat dalarn bentuk glikogen.
d. Ginjal (Ren)
Pada sistem ekskresi manusia, ginjal berfungsi untuk membuang zat
sisa metabolisme berupa amonia, urea, dan asam urat yang merupakan zat
sisa perombakan dari protein. Ginjal juga berfungsi mengatur kadar air dan
garam dalam tubuh. Ginjal dalam tubuh kita ada dua buah, terletak di rongga
perut daerah pinggang. Letak ginjal kiri sedikit lebih tinggi daripada kanan.
Ginjal berbentuk seperti kacang dan berwarna merah keunguan. Bagian ginjal
dari luar ke dalam adalah sebagai berikut:
 Kapsul, lapisan yang menyelubungi ginjal.
 Korteks, pada lapisan ini terdapat nefron, yaitu suatu unit penyaring darah
terkecil. Pada setiap nefron terdapat badan malpighi yang terdiri dari
glomerolus (pembuluh kapiler) dan kapsula bowman. Glomerolus
dikelilingi kapsula bowman yang berbentuk cawan. Pada ginjal manusia,
terdapat kira-kira satu juta nefron.
 Medula, pada lapisan ini terdapat sebagian tubulus renalis (saluran ginjal),
lengkung henle, dan saluran pengumpul.
 Pelvis, bagian ini adalah ruang kosong pada ginjal.

Proses pembentukan urine pada manusia diproses di dalam organ


bernama ginjal. Ginjal memiliki peranan utama dalam mengatur sistem
berkemih pada manusia. Manusia masing – masing memiliki dua buah ginjal
yaitu kanan dan kiri. Ginjal memiliki struktur organ yang berfungsi sebagai
proses pembentukan urine melalui tiga tahapan yaitu :

 Proses filtrasi/ penyaringan


 Reabsorbsi/ penyerapan kembali zat-zat yang masih dibutuhkan
 Sekresi/ pengeluaran zat sisa metabolisme.

Selanjutnya adalah sekresi yaitu pengeluaran urine dari kandung kemih.


Proses pengeluaran urine ini dimulai dari ginjal kemudian dialirkan ke ureter
sampai berkumpul di kandung kemih. Setelah penuh dikandung kemih maka
akan merangsang syaraf –syaraf untuk keinginan berkemih.
Proses Pembentukan Urine
Berikut ini akan dijelaskan bagaimana proses pembentukan urine secara
jelas dan lengkap, maka proses – proses nya yaitu sebagai berikut ini :
1. Filtrasi / proses penyaringan
Filtrasi merupakan proses penyaringan zat-zat sisa metabolisme
yang harus dibuang tubuh seperti urea, Cl, H2O/ air. Ginjal merupakan
organ penyeimbang cairan dalam tubuh. Proses filtrasi terjadi di
glomerulus. Darah akan masuk ke ginjal melalui arteri afferent membawa
partikel – partikel darah yang akan disaring. Dalam glomerulus, terjadi
penyaringan yang harus melewati membran filtrasi salah satunya celah –
celah podocyte di capsula bowman.
Komponen komponen dalam darah yang kecil akan melalui celah
membran filtrasi seperti podocyte untuk terus dilanjutkan ke tubulus
proksimal. Partikel dalam darah yang besar seperti plasma dan protein/
albumin normalnya tidak dapat tersaring dan tetap di dalam darah. Proses
filtrasi ini ditentukan melalui membran filtrasi yang terdiri dari sel
entoteliel, epitel, dan podocyte. Komponen membran filtrasi ini memiliki
jarak yang cukup rapat namun masih memungkinkan partikel kecil untuk
melewatinya.
Dari proses filtrasi di glomerulus ini lalu melewati kapsula bowman
menuju tubulus proksimal. Proses filtrasi ini terjadi pada bagian renal
curpusle dari keseluruhan proses pembentukan urin. Proses filtrasi ini
menghasilkan urine yang masih mengandung zat zat yang berguna seperti
glukosa, garam, dan asam amino. Hasil filtrasi di sebut juga urine primer.
2. Reabsorbsi
Proses reabsorbsi terjadi di tubulus proksimal. Proses ini merupakan
proses diserapnya kembali zat zat yang masih bermanfaat untuk tubuh dan
masuknya zat zat lain dari tubuh yang tidak berguna. Reabsorbsi dilakukan
oleh sel sel epitel di tubulus. Zat zat yang direabsorbsi berasal dari urine
primer yang mengansung komponen seperti glukosa, asam amino, Na+,
K+, Cl–, HCO3-, Ca2+, dan air.
Air akan diserap kembali pada proses osmosis di tubulus dan loop of
henle. Zat zat yang masih berguna akan masuk kembali ke pembuluh
darah. Proses reabsorbsi ini akan terus berlangsung dari tubulus proksimal,
masuk ke tubulus descenden ke loop oh henle dan naik ke tubulus ascenden
ke tubulus distal. Saat urine berada di tubulus ascenden, garam dipompa
keluar sehingga ure menjadi lebih pekat. Dari proses reabsorbsi ini
didapatkan urine sekunder.
3. Sekresi/ Augmentasi
Proses ini sikenal juga dengan proses Augmentasi. Urine sekunder
kemudian dialirkan menuju tubulus distal dan collecting duktus atau
duktus pengumpul. Di tubulus distal, pengeluaran zat sisa oleh darah
seperti Kreatinin, H+, K+, NH3 terjadi. H+ dikeluarkan untuk menjaga pH
dalam darah. Proses ini mengandung sedikit air dan menghasiilkan urine
sesungguhnya. Urine yang sesungguhnya kemudian menuju ductud
collecting.
Urine ini mengandung urea, amonia, sisa sisa metabolisme protein,
dan zat zat racun yang berlebihan didalam darah seperti sisa sisa obat –
obatan hormon, garam mineral, dan sebagainya. Urine yang sudah jadi ini
dari duktus collecting dibawa menuju pelvis menuju kandung kemih
melalui ureter dan keluar menuju uretra untuk dikeluarkan dari tubuh. Urin
yang sesungguhnya akan ditampung lebih dulu di kandung kemih sampai
batas tertentu sampai nerves yang berada didekatnya mengirim impuls
keinginan untuk berkemih atau proses ekskresi.
4. Ekskresi
Ekskresi merupakan bentuk pengeluaran urin dalam tubuh yang
melibatkan ureter, kandung kemih, dan uretra. Proses ini merupakan
proses pengeluaran urin yang menstimulus nerves sekitar kandung kemih
sebagai penanda keinginan untuk miksi atau berkemih. Urin yang
dikeluarkan memiliki kandungan zat zat toksik bagi tubuh seperti
kreatinin, ureum, asam urat, dan hasil metabolisme lainnya termasuk sisa
obat – obatan yang dikonsumsi. Tingginya kadar kreatinin dan ureum
dalam tubuh menyatakan buruknya kondisi ginjal. Kadar kreatini juga
digunakan sebagai patokan fungsi ginjal dari hasil pemeriksaan
laboratorium.
Komponen normal dalam urine terdiri dari 96% air, 2% urea, dan
2% hasil metabolisme lainnya. Hasil metabolik lainnya yaitu seperti zat
warna dari empedu yang memberikan warna kuning pada urine, zat zat
yang berlebihan dalam darah seperti vitamin B1 dan C. Hasil dari proses
filtrasi di glomerulus hanya 1% yang merupakan bagian dari volume urine
dan 99% lainnya diserap kembali. Setiap harinya jumlah air yang
direabsorbsi kurang lebih 178 liter, glukosa 150 gram dan garam 1200
gram.
Dalam proses pembentukan urine tersebut komponen ginjal yang
paling berperan adalah nefron. Fungsi utama nefron yaitu sebagai tempat
proses terjadinya filtrasi, reabsorbsi, dan sekresi. Kerusakan pada nefron
ginjal akan mempengaruhi ketiga proses tersebut. Selain itu ginjal juga
memiliki fungsi lainnya seperti meregulasi hormon, regulasi elektrolit,
menjaga keseimbangan pH, menjaga tekanan osmolaritas, regulasi cairan
dan sisa metabolisme, dan glukoneogenesis. ke enam fungsi ginjal tersebut
berada dalam proses pembentukan urin atau lebih tepatnya proses filtrasi,
reabsorbsi, dan sekresi.

B. Ekskresi Logam Berat Timah Hitam (Pb) Pada Tubuh Manusia Yang
Terpajan
Ekskresi Pb melalui beberapa cara, yang terpenting adalah melalui ginjal
dan saluran cerna. Ekskresi Pb melalui urine sebanyak 75 – 80%, melalui feces
15% dan lainnya melalui empedu, keringat, rambut, dan kuku (Palar,1994).
Ekskresi Pb melalui saluran cerna dipengaruhi oleh saluran aktif dan pasif
kelenjar saliva, pankreas dan kelenjar lainnya di dinding usus, regenerasi sel
epitel, dan ekskresi empedu. Sedangkan Proses eksresi Pb melalui ginjal adalah
melalui filtrasiglomerulus. Kadar Pb dalam urine merupakan cerminan pajanan
baru sehingga pemeriksaan Pb urine dipakai untuk pajanan okupasional
(Goldstein & Kippen, 1994).
Pada umumnya ekskresi Pb berjalan sangat lambat. Timah hitam waktu
paruh didalam darah kurang lebih 25 hari, pada jaringan lunak 40 hari sedangkan
pada tulang 25 tahun. Ekskresi yang lambat ini menyebabkan Pb mudah
terakumulasi dalam tubuh, baik pada pajanan okupasional maupun non
okupasional (Nordberg,1998).

PENGOBATAN / MEKANISME PENANGANAN PB


Untuk mengeluarkan Pb dari dalam tubuh maka tingkat ekskresi harus
dinaikkan. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan khelat. Zat khelat yang
dipakai untuk membuang logam beracun (timbal) dari dalam tubuh harus
membentuk senyawa yang stabil dengan ion logam tersebut. Adapun khelat yang
cocok untuk digunakan adalah Kalsium disodium EDTA (CaNa2EDTA) yang
merupakan senyawa kompleks.
Di dalam tubuh, kalsium (Ca) akan digantikan oleh timbal (Pb) karena bisa
membentuk senyawa yang lebih stabil dengan EDTA. Dalam senyawa kompleks
ini Ca yang berperan sebagai atom pusat sedangkan Na dan EDTA adalah ligan-
ligan. Kalsium disodium EDTA (CaNa2EDTA) ini dalam bentuk infus yang
diberikan kepada penderita keracunan timbal (Pb). Pengobatan keracunan
plumbum bertujuan mengurangi konsentrasi plumbum bebas dalam darah dan
cairan tubuh yang dilakukan dengan berbagai cara antara lain mencegah absorbs
plumbum melalui usus dan paru, memperlancar pengeluaran plumbum dalam urine
dan empedu tanpa merusak alat-alat ekskresi.
Pemberian kalsium disodium EDTA (CaNa2EDTA) yang akan mengkhelat
timbal (Pb) dari tulang dan jaringan lunak, sehingga membentuk ion kompleks
PbNa2EDTA yang stabil dan secara cepat juga akan diekskresikan melaui urin.
CaNa2EDTA merupakan kompleks dan Pb merupakan ion logam. Berdasarkan
deret volta sifat reduktor Pb lebih kecil dibandingkan dengan Ca. Hal ini berarti
kemampuan oksidasi Pb lebih kecil dibandingkan dengan Ca sehingga posisi Ca di
EDTA akan digantikan oleh Pb. Sehingga Pb2+ akan berikatan dengan Na2EDTA
dan terbentuk kompleks PbNa2EDTA yang stabil . Akibatnya Pb akan keluar dalam
bentuk larutan berupa air seni. Sedangkan Ca2+ akan tertinggal dalam tubuh
sebagai zat gizi. Jadi kompleks kalsium disodium EDTA (CaNa2EDTA) dapat
digunakan sebagai pengikat logam timbal (Pb) dalam tubuh manusia sehingga
timbal (Pb) yang bersifat racun dapat keluar dari dalam tubuh manusia tersebut.
Pertukaran tersebut terjadi sebab [Pb Na2(EDTA)] (Kf = 1 x 1018) lebih mantap
dibanding [Ca Na2(EDTA)]2- (Kf = 4 x 1010).

Pb2+ + [CaNa2(EDTA)] → [PbNa2(EDTA)] + Ca2+

Derajat kemantapan yang tinggi dari kompleks EDTA dan beberapa lainnya
dapat dijelaskan dengan adanya cincin kelat beranggotakan lima dalam kompleks
tersebut. Pertukaran tersebut terjadi sebab [Pb Na2(EDTA)] (Kf = 1 x 1018) lebih
mantap dibanding [Ca Na2(EDTA)]2- (Kf = 4 x 1010).
A. Tata laksana
a. Keracunan akut
Efek timbal inorganic terhadap kesehatan meliputi Kolik abdomen,
konstipasi, hepatitis, pankreatitis, anemia haemolotik, encefalopati ( kejang
– kejang, sakit kepala, edema pupil, dll), akut renal failure, insomnia.
Bila aman memasuki area, segera pindahkan korban dari area
pemaparan. Bila perlu, gunakan kantong masker berkatup atau pernafasan
penyelamatan. Segera bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat.
Setelah berada di tempat aman, lakukan :
 Bebaskan jalan nafas untuk menjamin pertukaran udara
 Memberikan pernafasan buatan untuk menjamin cukupnya kebutuhan
oksigen dan pengeluaran karbon dioksida
 Bila ada kejang, beri obat anti kejang

b. Keracunan kronis
Efek terhadap kesehatan yaitu hematologic anemia, gangguan gastro
intestinal, SSP, polineuropati, nefropati, kelumpuhan saraf lengan,
gangguan paru.
 Penatalaksanaan medis untuk pengobatan simtomatis yaitu ruju ke
fasilitas pelayanan kesehatan rujukan untuk pengobatan lebih lanjut (
chelating agent, seperti kalsium disodium etilendiaminotetraasetat =
CaNa2EDTA). Hati – hati pada penderita dengan gangguan fungsi
ginjal
 Penatalaksanaan non medis, jauhkan dari pajanan lebih lanjut

B. Pencegahan
Yang dapat dilakukan sebagai bentuk pencegahan ialah sebagai berikut:
 Jauhkan dari pajanan dan hindari kontak
 Pemeriksaan kesehatan sebelum penempatan meliputi riwayat medik,
pemeriksaan fisik dan perhatian khusus pafa sistem hematopoetik, saraf dan
ginjal
 Pemeriksaan secara berkala untuk mencari tanda dan gejala terpajan timbal,
dapat juga dilakukan uji laboratorium untuk mengukur absorpsi timbal yang
berlebihan
 Merekomendasikan untuk pengawasan secara ketat terhadap sumber debu
atau uap timbal dan langkah pengendalian
 Tidak makan dan minum diruang kerja
 Tidak merokok pada waktu bekerja

MEKANISME MASUKNYA TIMBAL (Pb) DALAM TUBUH MANUSIA

Bahan kimia, ketika memasuki tubuh akan mengalami proses ADME, yaitu
absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Misalnya, setelah memasuki
tubuh, heroin dengan segera termetabolisme menjadi senyawa lain dan akhirnya
menjadi morfin, menjadikan investigasi yang lebih detil perlu dilakukan seperti
jenis biomarker (petanda biologik) zat racun tersebut, jalur paparan zat, letak jejak
injeksi zat pada kulit dan kemurnian zat tersebut untuk mengkonfirmasi hasil
diagnosa. Zat toksik juga kemungkinan dapat mengalami pengenceran dengan
adanya proses penyebaran ke seluruh tubuh sehingga sulit untuk terdeteksi.
Pada dasarnya disposisi senyawa toksik meliputi beberapa fase di antaranya
absorbsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi. Jalur masuknya timbal (Pb) ke
tubuh manusia melalui saluran pernapasan (respirasi), juga melalui saluran
pencernaan (gastrointestinal), kemudian di distribusikan ke dalam darah, dan
terikat pada sel darah. Sebagian Pb disimpan dalam jaringan lunak dan tulang,
sebagian diekskresikan lewat kulit, ginjal dan usus besar. Timbal (Pb) bersirkulasi
dalam darah setelah diabsorbsi dari usus, terutama berhubungan dengan sel darah
merah (eritrosit). Pertama didistribusikan kedalam jaringan lunak dan
berinkorporasi dalam tulang, gigi, rambut untuk dideposit (storage).17,20 Timbal
(Pb) 90 % dideposit dalam tulang dan sebagian kecil tersimpan dalam otak, pada
tulang timbal (Pb) dalam bentuk Pb fosfat / Pb3(PO4)2. Secara teori selama timbal
(Pb) terikat dalam tulang tidak akan menyebabkan gejala sakit pada penderita.
Tetapi yang berbahaya ialah toksisitas Pb yang diakibatkan gangguan absorbsi Ca
karena terjadi desorpsi Ca dari tulang yang menyebabkan penarikan deposit timbal
(Pb) dari tulang tersebut. Timbal bersifat kumulatif. Dengan waktu paruh timbal
dalam sel darah merah adalah 35 hari, dalam jaringan ginjal dan hati selama 40 hari,
sedangkan dalam tulang selama 30.

a. Absorbsi
Absorbsi Pb melalui saluran pernafasan dipengaruhi oleh tiga proses
yaitu deposisi, pembersihan mukosiliar, dan pembersihan alveolar. Deposisi
terjadi di nasofaring, saluran trakeobronkhial, dan alveolus. Deposisi
tergantung pada ukuran partikel Pb volume pernafasan dan daya larut. Partikel
yang lebih besar banyak di deposit pada saluran pernafasan bagian atas
dibanding partikel yang lebih kecil (DeRoos 1997, dan OSHA,2005).
Pembersihan mukosiliar membawa partikel di saluran pernafasan bagian atas
ke nasofaring kemudian di telan. Rata-rata 10–30% Pb yang terinhalasi
diabsorbsi melalui paru-paru, dan sekitar 5-10% dari yang tertelan diabsorbsi
melalui saluran cerna (Palar,1994). Fungsi pembersihan alveolar adalah
membawa partikel ke ekskalator mukosiliar, menembus lapisan jaringan paru
kemudian menuju kelenjar limfe dan aliran darah. Sebanyak 30-40% Pb yang
di absorbsi melalui seluran pernapasan akan masuk ke aliran darah. Masuknya
Pb ke aliran
b. Distribusi dan Penyimpanan
Timah hitam yang diabsorsi diangkut oleh darah ke organ-organ tubuh
sebanyak 95% Pb dalam darah diikat oleh eritrosit. Sebagian Pb plasma dalam
bentuk yang dapat berdifusi dan diperkirakan dalam keseimbangan dengan pool
Pb tubuh lainnya. Yang dibagi menjadi dua yaitu ke jaringan lunak (sumsum
tulang, sistim saraf, ginjal, hati) dan ke jaringan keras (tulang, kuku, rambut,
gigi (Palar, 1994). Gigi dan tulang panjang mengandung Pb yang lebih banyak
dibandingkan tulang lainnya. Pada gusi dapat terlihat lead line yaitu pigmen
berwarna abu abu pada perbatasan antara gigi dan gusi (Goldstein & Kipen,
1994). Hal itu merupakan ciri khas keracunan Pb. Pada jaringan lunak sebagian
Pb disimpan dalam aorta, hati, ginjal, otak, dan kulit. Timah hitam yang ada
dijaringan lunak bersifat toksik

c. Ekskresi
Ekskresi Pb melalui beberapa cara, yang terpenting adalah melalui
ginjal dan saluran cerna. Ekskresi Pb melalui urine sebanyak 75–80%, melalui
feces 15% dan lainnya melalui empedu, keringat, rambut, dan kuku (Palar,
1994). Ekskresi Pb melalui saluran cerna dipengaruhi oleh saluran aktif dan
pasif kelenjar saliva, pankreas dan kelenjar lainnya di dinding usus, regenerasi
sel epitel, dan ekskresi empedu. Sedangkan Proses eksresi Pb melalui ginjal
adalah melalui filtrasiglomerulus. Kadar Pb dalam urine merupakan cerminan
pajanan baru sehingga pemeriksaan Pb urine dipakai untuk pajanan okupasional
(Goldstein & Kippen, 1994). Pada umumnya ekskresi Pb berjalan sangat
lambat. Timah hitam waktu paruh didalam darah kurang lebih 25 hari, pada
jaringan lunak 40 hari sedangkan pada tulang 25 tahun. Ekskresi yang lambat
ini menyebabkan Pb mudah terakumulasi dalam tubuh, baik pada pajanan
okupasional maupun non okupasional (Nordberg,1998)

EMPAT KATEGORI TIMBAL DALAM DARAH ORANG DEWASA (µG


PB/ 100 ML DARAH)
A. (normal) < 40

B. (dapat ditoleransi) 40 – 80

C. (berlebih) 80 – 120

D. (tingkat bahaya) > 120

Organ ginjal memiliki kapasitas lebih tinggi dalam mengikat bahan kimia,
sehingga bahan kimia lebih banyak terkonsentrasi pada organ ginjal jika
dibandingkan dengan organ lainnya (Mukono, 2010). Zat-zat toksik ini akan
terakumulasi di ginjal dan menyebabkan kerusakan bagi ginjal itu sendiri. Oleh
sebab itu, Pb yang masuk kedalam darah yang kemudian di eksresikan melalui
ginjal akan terakumulasi menahun di dalam ginjal, sehingga dapat menyebabkan
terjadinya kerusakan tubulus proksimal sehingga meningkatkan Cystatin C serum.

KERENTANAN WANITA TERHADAP TIMBAL (Pb)


Wanita lebih rentan daripada pria. Hal ini disebabkan oleh perbedaan faktor
ukuran tubuh (fisiologi), keseimbangan hormonal dan perbedaan metabolisme
(Joko S, 1995).
Risiko Timbal (Pb) pada Sistem Reproduksi dan Endokrin : Efek
reproduktif meliputi berkurangnya tingkat kesuburan bagi wanita maupun pria yang
terkontaminasi Timbal (Pb), logam tersebut juga dapat melewati placenta sehingga
dapat menyebabkan kelainan pada janin. Dapat menimbulkan berat badan lahir
rendah dan prematur. Timbal (Pb) juga dapat menyebabkan kelainan pada fungsi
tiroid dengan mencegah masuknya iodine. Selain itu juga toksik itu mempengaruhi
sistem pembentukan darah, sedangkan perempuan mengalami siklus menstruasi.
sehingga perempuan lebih beresiko terpajan toksik
Pada orang dewasa Pb mengurangi kesuburan, bahkan menyebabkan
kemandulan atau keguguran pada wanita hamil, kalaupun tidak keguguran, sel otak
tidak bisa berkembang. Dampak Pb pada ibu hamil selain berpengaruh pada ibu
juga pada embrio/ janin yang dikandungnya. Selain penyakit yang diderita ibu
sangat menentukan kualitas janin dan bayi yang akan dilahirkan juga bahan kimia
atau obat-obatan, misalnya keracunan Pb organik dapat meningkatkan angka
keguguran, kelahiran mati atau kelahiran premature.

Sumber :

Direktorat Bina Kesehatan Kerja dan Olahraga. Kementrian Kesehatan RI. 2012.
Penyakit Akibat Kerja Karena Pajanan Logam Berat.

https://artikelkesker.wordpress.com/

https://media.neliti.com/media/publications/4793-ID-hubungan-kadar-pb-dalam-
darah-dengan-kejadian-hipotiroidisme-pada-wanita-usia-su.pdf

http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLING-2-1-07.pdf