Anda di halaman 1dari 8

TUGAS I

GEOLOGI KUANTITATIF

Oleh

Puspita Damayanti

270120170012

Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Geologi Kuantitatif

Dr. Ir. Emi Sukiyah, MT.

Dr. Winantris, MS.

PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2018
TUGAS 1
1. Tuliskan kriteria populasi!
2. Tuliskan metode sampling!
3. Tuliskan contoh hasil sampling!

Jawab:
1. Tuliskan kriteria populasi!
Menurut Kuzma (1984) yang dimaksud dengan populasi adalah sekolompok
orang atau objek dengan satu karakteristik umum yang dapat diobservasi. Menurut
Notoadmojo (2002) Populasi diartikan sebagai kesuluruhan objek penelitian atau yang
diteliti. Populasi adalah generalisasi yang terdiri dari objek (benda)/subjek (orang) yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti dan
kemudian ditarik keseimpulannya.
Populasi bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari,
tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subjek/objek. Penjelasan
populasi dalam usulan penelitian, meliputi jumlah populasi dan karakteristik populasi.
Misalnya jumlah populasi sebesar 150 ibu hamil dengan karakteristik primipara,
trimester III.
Dalam mendefinisikan populasi, peneliti harus mempertimbangkan kriteria
sebagai berikut:
a) Biaya, jika ingin meneliti populasi diluar daerah atau pulau, maka peneliti harus
belajar budaya dan bahasa setempat agar terjadi interaksi yag baik. Keadaan ini
memerlukan waktu yang lama sehingga memerlukan pula biaya yang besar.
b) Praktik, kesulitan dari populasi dalam berperan serta sebagai subjek karena berasal
dari daerah yang sulit dijangkau.
c) Kemampuan orang dalam berpartisipasi dalam penelitian, kondisi kesehatan
seseorang yang menjadi subjek harus dijadikan bahan pertimbangan dalam
penentuan populasi.
d) Pertimbangan desain penelitian, pada penelitian dengan desain eksperimen, maka
diperlukan populasi yang mempunyai kriteria homogenitas dalam upaya untuk
mengendalikan variabel random, perancu, dan variabel lainnya yang akan
mengganggu dalam penelitian.
2. Tuliskan metode sampling!
3. Tuliskan contoh hasil sampling!
Sampel atau contoh adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diteliti
(Djarwanto, 1994: 43). Sampel yang baik, yang kesimpulannya dapat dikenakan pada populasi,
adalah sampel yang bersifat representatif atau yang dapat menggambarkan karakteristik
populasi. (Dikutip dari buku Metode Penelitian Drs. Kuntjojo, 2009: hlm 33.)
Dalam mengumpulkan data, jumlah sampel yang digunakan adalah rentang antara 4-10
informan dengan melihat apakah data sudah tersaturasi, apabila sampel kurang dari 10 sudah
mencapai titik saturasi maka peneliti menghentikan pencarian sampel. Dengan memperhatikan
kecakupan data dan disesuaikan dengan kemampuan peneliti (Moleong, 2004). Walaupun
demikian, peneliti tetap mengoptimalkan informan sebagai obyek penelitian untuk menggali
data. Kriteria sampel meliputi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi, dimana kriteria tersebut
menentukan dapat atau tidaknya sampel digunakan.

Prosedur Pengambilan Sampel


Langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam mengambil sampel dari populasi antara
lain:
1) Menentukan Tujuan Penelitian
2) Menentukan Populasi Penelitian
3) Menentukan Jenis Data yang Diperlukan
4) Menentukan Teknik Sampling
5) Menentukan Besarnya Sampel (Sampel Size)
6) Menentukan Unit Sampel yang Diperlukan
7) Memilih Sampel
Sumber: Prof. Dr.Soekidjo Notoadmodjo. Metode Penelitian Kesehatan, hlm:118.
Teknik Sampling
Pada garis besarnya hanya ada dua jenis sampel, yaitu sampel-sampel probabilitas
(probability samples) atau sering disebut random sample (sampel acak) dan sampel-sampel
nonprobabilitas (non bability samples). Tiap-tiap jenis sampel-sampel ini terdiri dari bebagai
macam pula. Pada prinsipnya teknit atau metode pengambilan sampel ini dibedakan menjadi
dua,yakni: teknik random (acak) dan tekni non-random. (Notoatmodjo, 2005).
1. Random Samping
Pengambilan sampel secara random atau acak disebut random sampling, dan sampel yang
diperloleh disebut sampel random. Teknik random sampling ini hanya boleh digunakan
apabila setiap unit atau anggota populasi itu bersifat homogen atau diasumsikan homogen.
Hal ini berarti setiap anggota populasi itu mempunyai kesempatan yang sama untuk
diambil sebagai sampel. Teknik random sampel ini dapat dibedakan menjadi:
a) Pengambilan Sampel secara Acak Sederhana ( Simple Random Sampling)
Hakikiat dari pengambilan sampel secara acak sederhana adalah bahwa setiap anggota
atau unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai
sampel. Apabila besarnya sampel yang diinginkan itu berbeda-beda, maka besarnya
kesempatan bagi setiap satuan elementer untuk terpipih pun berbeda-beda pula. Teknik
pengambilan sampel secara sederhana ini dibedakan menjadi dua cara, yaitu dengan
mengundi anggota populasi (lottery technique) atau teknik undian, dan dengan
menggunakan tebel bilangan atau angka acak (random number).
b) Pengambilan Sampel Secara Acak Sistematis (Systematic Random Sampling)
Teknik ini merupakan modifikasi dari sampel random sampling. Caranya adalah
membagi jumlah atau anggota populasi dengan perkiraan jumlah sampel yang
diinginkan,hasilnya adalah interval sampel. Sampel diambil dengan membuat daftar
elemen atau anggota populai secara acak anatara 1 sampai dengan banyaknya anggota
populasi. Kemudian membagi dengan jumlah sampel yang diinginkan, hasilnya sebagai
interval adalah X, maka yang terkena sampel adalah setiap kelipatan dari X tersebut.
Contoh:
N (jumlah populasi) : 500 orang (No.1,2,3................200)
N (sampel) : yang diinginkan 50
I (intervalnya) : 500: 50 = 10
Maka anggota populasinya yang terkena sampel adalah setiap elemen (nama orang )
yang mempunyai nomor kelipatan 10, misalnya no. 2,12,32,42 dan seterusnya sampai
mencapai jumlah 50 anggota sampel.
c) Pengambilan Sampel secara Acak Stratifikasi (Stratified Random Sampling)
Apabila suatu populasi terdiri dari unit yang mempunyai karakteristik yang berbeda-
beda atau heterogen,maka teknik pengambilan sampel yang tepat digunakan adalah
stratified sampling. Hal ini dilakukan dengan cara mengindentifikasi karakteristik
umum dari anggota populasi, kemudian menentukan strata atau lapisan dari
karakteristik unit-unit tersebut. Penentuan strata ini dapat didasarkan bercam-macam,
misalnya tingkatan sosial ekonomi pasien, tingkat keparahan penyakit, unsur penderita,
dan lain sebgainya. Setelah ditentukan stratanya barulah masing-masing strata diambil
sampling yang mewakili strata tersebut secara random atau acak.
Agar penimbangan sampel dari masing-masing strata itu memadai, maka dalam teknik
ini sering pula dilakukan penimbangan antara jumlah anggota populasi berdasarkan
masing-masing strata. Oleh sebab itu maka disebut pengambilan sampe secara
proprosional stratified sampling. Pelaksanaan pengambilan sampel dnegan stratified,
mula-mula kita menetapkan unit-unit anggota populasi dalam bentuk strata yang
didasarkan pada karakteristik umum dari anggota-anggota populasinya yang berbeda-
beda. Setiap unit yang mempunyai karakteristik umum yang sama, dikelompokan pada
satu strata, kemudian dari maasing-masing strata diambil sample yang mewakilinya.
Langkah –langkah yang ditempuh pengambilan sampel secara stratified adalah:
 Menentukan populasi penelitian.
 Mengindentifikasi segala karakteristik dari unit-unit yang menjadi anggota populasi,
misalnya tingkat pendidikan, ekonomi, senioritas dan sebagainya.
 Mengelompokan unit anggota populasi yang mempunyai karakteristik umum yang
sama dalam suatu kelompok atau strata, misalnya berdasarkan tingkat pendidikan
(rendah,menengah,dan tinggi).
 Mengambil dari setiap strata (tingkat pendidikan) sebgaian dari unit yang menjadi
anggotanya untuk mewakili strata yang bersangkutan.
 Teknik pengambilan sampel dari masing-masing strata dapat dilakukan dengan
random atau nonrandom.
 Pengambilan sampel dari masing-masing strata sebaiknya dilakukan berdasarkan
penimbangan (proporsinya).
Misalnya:
 Populasi suatu penelitian adalah ibu-ibu hamil di Kelurahan Beji.
 Berdasarkan pendataan dari Puskesmas, sebanyak:250 orang ibu (N=250).
 Berdasarkan perhitungan statistik,sampel yang dianggap representatif adalah 60
(n=60) orang ibu hamil.
 Cara pengambilan sampel adalah “stratified random” berdasarkan strata pendidikan,
yakni: pendidikan rendah, menengah, tinggi.
 Maka sampel akan diambil dari masing-masing strata tersebut 20 orang (pendidikan
rendah 20 orang, menengah 20 orang, dan tinggi 20 orang)

d) Pengambilan Sampel secara Kelompok atau Gugus (Cluster Sampling)


Pada teknik ini sampel bukan terdiri dari unit individu, tetapi dari kelompok atau
gugusan(cluster). Gugusan atau kelompok yang diambil sebagai sampel ini terdiri dari
unit geografis (desa, kecamatan, kabupaten dan sebagainya ), unit organisasi, misalnya
klini, PKK, LKMD, dan sebagainya. Pengambilan sampel secara gugus, peneliti tidak
semua mendaftar semua anggota atau unit yang ada di dalam populasi, tetapi cukup
mendaftar banyaknya kelompok atau gugus yang ada didalam populsi itu. Kemudia
mengambil beberapa sampel berdasarkan gugus-gugus tersebut.
Misalnya:
 Penenitian tentang kesinambungan imunisasi anak balita di kecamatan X, dan
menurut laporan Puskesmas jumlah anak balitanya 1.500 orang (N=1500).
 Sampel yang akan diambil sebesar 20% (n=300), dengan teknik gugus adalah
mengambil 3 kelurahann dari 15 kelurahan yang ada di Kecamatan X tersebut secara
random. Kemudian anak balita yang berdomisili di tiga kelurahan yang terkena
sampel itu lah yang diteliti.

e) Pengambilan Sampel secara Gugus Bertahap (Multistage Sampling)


Pengambilan sampel dnegan teknik ini dilakukan berdasarkan tingkat wilayah secara
bertahap. Hal ini memungkinkan untuk dilaksanakan bila populsi terdiri dari
bermacam-macam tingkat wilayah. Pelaksanaanya dengan membagi wilayah populasi
kedalam sub-sub wilayah, dan tiap subwilayah dibagi kedalam bagian-bagian yang
lebih kecil,dan seterusnya. Kemudian menetapkan sebagian dari wilayah populasi
(subwilayah) sebagai sampel. Dari seubwilayah yang menjadi sampel ditetapkan pula
bagian-bagian dari subwilayah sebagai sampel, dan dari bagian-bagian yang lebih kecil
tersebut ditetapkan unit-unit yang terkecil diambil sebagai sampel. Misalnya
pelaksanaan suatu penelitian si suatu wilayah kabupaten. Mula-mula diambil beberapa
kecamatan sebagai sampel, dari kecamatan-kecamatan yang terkena sampel ini diambil
bebarpa kelurahan sebagai sampel, selanjutnya dari kelurahan-kelurahan sampel ini
diambil beberapa RW sebagai sampel,dari beberapa RW sampel diambil lagi beberapa
RT sebagai sampel, dan akhirnya dari RT yang terkena sampel tersebut diambil
beberapa atau seluruh unit sebagai sampel. Oleh sebab itu, pengambilan sampel
semacam ini sering disebut area sampling atau pengambilan sampel menurut wilayah.
Proses pengambilan sampel secara gugus bertahap (multistage random sampling):
 Tentukan area populasi berdasarkan administrasi pemerintahan provinsi, kabupaten,
kecamatan atau kelurahan, atau karakter lain (perdesaan-perkotaan, pantai-
penggunungan, dan sebagainya).
 Dari area populasi tersebut diambil sampel gugus dibawahnya (misalnya apabila
area populasinya provinsi maka area gugus dibawahnya kabupaten).
 Dari area gugus tersebut diambil area gugus yang dibawahnya lagi (misalnya kalau
area gugus diatasnya kabupaten,maka area gugus yang dibawahnya adalah
kecamatan) dan seterusnya.
 Akhirnya semua anggota populasi dari gugus yang paling kecil (bawah) misalnya
RT, diambil sebagai sampel.

2. Non Random ( Non Probability ) Sampling


Pengambilan sampel bukan secara acak atau nonrandom adalah pengambilan sampel yang
tidak didasarkan atas kemungkinan yang dapat diperhitungkan, tetapi semata-mata hanya
berdasarkan kepada segi-segi kepastian belaka. Metode ini mencakup beberapa teknik
antara lain:
a. Purposive Sampling
Pengambilan sampel secara purposive didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu
yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah
diketahui sebelumnya. Pelaksanaan pengambilan sampel secara purposive antara lain:
Mula-mula peneliti mengidentifikasi semua karakteristik populasi, misalnya dengan
mengadakan studi pendahuluan atau dengan mempelajari berbagai hal yang
berhubungan dengan populasi. Kemudian peneliti menetapkan berdasarkan
pertimbangannya, sebagian dari anggota populasi menjadi sampel penelitian sehingga
teknik pengambilan sampel secara purposive ini didasarkan pada pertimbangan pribadi
peneliti sendiri. Teknik ini sangat cocok untuk mengadakan studi kasus (case study),
dimana banyak aspek dari kasus tungga yang resperentatif untuk diamati dan dianalisis.
Misalnya: suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh prilaku seks ibu-
ibu pascapersalinan melalui caesarean operation. Populasi penelitian ini jelas
mempunyai karakteristik yang spesifik. Oleh sebab itu, pengambilan sampelnya pun
harus diarahkan kepada ibu-ibu yang melahirkan melalui cara ini, sehingga
pengambilan sampel secara purposive adalah pilihanya.
b. Quota Sampling
Pengambilan sampel secara quota dilakukan dengan cara menetapkan sejumlah anggota
sampel secara qoutum atau jatah. Teknik sampling ini dilakukan dengan cara: Pertama-
tama menetapkan beberapa besarjumlah sampel yang diperlukan atau menetapkan
qoutum (jatah). Kemudian jumlah quotum itulah yang didasrkan untuk mengambil unit
smpel yang diperlakukan. Anggota populasi mana pun yang akan diambil tidak menjadi
soal, yang penting jumlah quotum yang sudah ditetapkan dapat dipenuhi.
c. Accidental Sampling
Pengambilan sampel secara aksidental (accidental) ini dilakukan dengan mengambil
kasus atau responden yang kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan
konteks penelitian. Bedanya dengan purposive sampling adalah, kalau sampel yang
diambil secara purposive berarti dengan sengaja mengambil atau memilih kasus atau
responden. Sedangkan sampel yang diambil secara aksidental berarti sampel diambil dari
responden atau kasus yang kebetulan berada disuatu tempat atau keadaan tertentu.
Misalnya penelitian tentang pemberian ASI oleh ibu-ibu di wilayah kerja Puskesmas
Pasar Minggu. Maka sampel penelitian ini dapat dari ruang KIA tempat pemeriksaan
kesehatan ibu dan anak di Puskesmas Pasar Minggu selama periode tertentu, misalnya
minggu pertama pada bulan juni 2006 hari senin sampai sabtu, atau setiap hari selasa
selama bulan juni 2006. Seberapa banyak pun ibu-ibu yang ditemui pada hari yang
ditentukan tersebut menjadi sampel penelitian ini.