Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

“MASTIKASI DAN REFLEKS MUNTAH”

Disusun Oleh:

Nailah Rahmadani

161610101085

LABORATORIUM FISIOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS JEMBER

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat
dan Hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Fisiologi yang
berjudul “Laporan Praktikum Fisiologi Blok Fungsi Stomatognati” tanpa suatu
kendala yang berarti.

Laporan Praktikum ini saya buat sebagai salah satu sarana untuk lebih
mendalami materi tentang Mastikasi dan Refleks Muntah. Kesempurnaan hanya
milik Tuhan Yang Maha Esa, untuk itu penulis mohon maaf apabila dalam laporan
ini masih terdapat kesalahan baik dalam isi ataupun sistematika. penulis juga
berharap laporan praktikum ini dapat bermanfaat untuk pendalaman materi pada
Blok Fungsi Stomatognati ini.

Jember, April 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................ 2

DAFTAR ISI ........................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Dasar Teori .............................................................................. 1

1.2 Alat dan Bahan Percobaan……….. ......................................... 11

BAB II HASIL PENGAMATAN

Data Hasil Pengamatan .................................................................. 12

BAB III PEMBAHASAN

Pembahasan ................................................................................... 18

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan .............................................................................. 23

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 24


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Dasar Teori


1.1.1 Pengunyahan/Mastikasi
Pengunyah adalah hasil kerja sama antara peredaran darah, otot
pengunyahan, saraf, tulang rahang, sendi temporo-mandibula, jaringan lunak
rongga mulut dan gigi-gigi. Organ tubuh yang terlibat dalam proses pengunyahan
ini antara lain: bibir, lidah, palatum, gigi-gigi, kelenjar saliva, faring dan laring.
Otot-otot pengunyahan ini dipersyarafi oleh nervus trigeminus.

Mastikasi adalah proses pemecahan makanan secara mekanik yang sistemik


dimulut. Fungsi mastikasi yaitu memudahkan pengabsorbsian di gastrointestinal
selanjutnya dan memecah makanan menjadi bahan yang sederhana agar dapat
dipergunakan oleh tubuh. emakaian kata fungsi mastikasi yang tepat dalam
literatur-literatur sangat kurang bahkan ‘fungsi mastikasi’ sering digantikan dengan
kata ‘kemampuan mengunyah’, ‘efisiensi mengunyah’, atau ‘performans
mengunyah’. Carlson mendefinisikan kemampuan mengunyah sebagai suatu
kemampuan individu itu sendiri dalam menilai fungsi mastikasi mereka. Bates et al
mendefinisikan performans mastikasi sebagai suatu ukuran partikel distribusi
makanan pada saat dikunyah

Beberapa fungsi penting tubuh yang terlibat dalam proses makan antara lain
pengunyahan, gerakan lidah, perasa, penelanan, dan salivasi. Selain bagian tubuh
yang berperan langsung pada proses makan, secara fisiologis beberapa organ juga
ikut berperan dalam menimbulkan keinginan dan selera makan yaitu: penglihatan,
pendengaran, penciuman, dan keterlibatan susunan saraf pusat. Fungsi-fungsi
diatur mengikuti kerja N. Kranialis, yaitu:
 N. Trigeminus : mengatur proses menguyah dan menggigit;
mengatur pergerakan rahang ke lateral.
 N. Fasialis : mengukur reseptor rasa pada 2/3 anterior lidah;
menginervasi kelenjar saliva.
 N. Glossopharingeal : mengatur sekersi saliva; mengatur proses
penelanan; mengatur sensasi pada faring, tonsil, palatum mole, badian 1/3
posterior lidah; mengatur reseptor rasa pada 1/3 posterior lidah;
mengendalikan refleks muntah.
 N. Vagus : mengatur proses penelanan.
 N. Hypoglossal : mengatur pergerakan lidah.

Proses mengunyah disebabkan oleh refleks mengunyah yang berlangsung terus


menerus sebagaimana dijelaskan sebagai berikut.

(1) Pada saat makanan akan masuk ke dalam mulut akan merangsang refleks
inhibisi otot-otot pengunyahan, yang menstimulasi membukanya rongga mulut
karena rahang bawah turun.
(2) Penurunan ini segera menginisiasi refleks regang otot-otot rahang yang
menyebabkan kontraksi otot di sekitar rongga mulut. Hal ini secara otomatis
mengangkat rahang bawah sehingga terjadi penutupan rongga mulut dan oklusi
gigi-gigi.
(3) Oklusi gigi mengakibatkan terdorongnya bolus yang berada di atas permukaan
oklusal gigi bergerak ke arah pipi.
(4) Dorongan makanan ini akan menimbulkan penghambatan kontraksi otot-otot
rahang sehingga mulut kembali terbuka.
(5) Pada saat mulut terbuka, lidah dan pipi akan berfungsi mengangkat kembali
makanan ke atas permukaan gigi-gigi dan mencampur makanan dengan enzim
pencernaan di rongga mulut. Kondisi ini akan terus menerus terjadi sehingga
terjadi pemecahan ukuran partikel makanan menjadi lebih kecil dan siap untuk
ditelan. Kecepatan pencernaan makanan sangat tergantung pada luas
permukaan total yang dapat menghasilkan getah lambung. Penghancuran
makanan menjadi parikel-partikel halus berfungsi mncegah ekskorias/lukanya
saluran pencernaan. Dalam hal ini, pergerakan lidah diatur oleh saraf kranialis
ke-12, Hypoglossus.
1.1.2 Penelanan
Perkembangan Proses Penelanan
Proses menelan merupakan proses yang kompleks, dimana organ-organ
yang bekerja harus bekerja secara berkesinambungan. Dalam proses menelan
ini diperlukan kerjasama yang baik dari saraf kranial saraf servikal dan lebih
dari 30 pasang otot menelan. Pada proses menelan terjadi pemindahan bolus
dari mulut ke dalam lambung. Proses penelanan terdiri dari tiga fase, yaitu:
(1) Fase Volunter
Makanan ditelan secara sadar. Makanan ditekan atau didorong ke bagian
belakang mulut oleh tekanan lidah yang bergerak ke atas dan kebelakang
terhadap palatum sehingga lidah memaksa bolus makanan masuk ke dalam
orofaring. Proses menelan pada fase ini seluruhnya atau hamper seluruhnya
terjadi secara otomatis dan biasanya tidak dapat dihentikan.

(2) Fase Faringeal


Setelah makanan didorong ke belakang mulut, ia merangsang daerah
reseptor menelan yang semuanya terletak di sekitar orofaring, khususnya tonsil.
Selanjutnya, impuls berjalan ke batang otak untuk memulai serangkaian
kontraksi otot faring dengan jalan sebagai berikut.
a. Palatum molle didorong ke atas menutup nares posterior, untuk mencegah
refluks makanan ke rongga hidung.
b. Arkus palato-faringeus pada tiap sisi faring tertarik ke tengah untuk saling
mendekati hingga membentuk celah sagittal sebagai jalan masuk makanan
ke posterior-faring.
c. Pita suara larings menjadi berdekatan dan epiglottis terdorong ke belakang
ke atas pintu superior larings. Kedua efek ini mencegah masuknya makanan
ke dalam trakea.
d. Seluruh laring ditarik ke bawah dan ke depan oleh otot-otot yang melekat
pada os hyoideus. Pergerakan ini meregangkan pintu esophagus.
e. Selanjutnya, bagian atas esophagus (sfingter esophagus atas) berelaksasi
sehingga memungkinkan makanan berjalan dari posterior faring ke dalam
esophagus bagian atas. Pada saat menelan sfingter tetap berkontraksi secara
tonik dengan kuat untuk mencegah udara masuk ke dalam esophagus saat
bernapas.
f. Pada saat laring terangkat dan sfingter esophagus atas relaksasi, m.
konstriktor faringis superior berkontraksi sehingga menimbulkan
gelombang peristaltik cepat yang berjalan ke bawah melewati otot-otot
faring dan masuk ke esophagus serta mendorong makanan masuk ke
esophagus bagian bawah. Mekanisme menelan pada stadium faringeal ini
berlangsung selama 1-2 detik.

Gambar 1.1 Proses Penelanan

Impuls saraf pada fase faringeal dihantarkan dari daerah-daerah tersebut


melalui bagian sensoris N. Trigeminus dan N. Glosofaringeus menuju ke formasio
retikularis medulla oblongata dan bagian bawah pons sebagai pusat penelanan, yang
erat hubungannya dengan traktus solitaries sebagai penerima impuls sensoris dari
mulut. Selanjutnya, impuls motoris dari pusat menelan ke faring dan bagian atas
esophagus dihantarkan melalui saraf kranial ke V, IX, X dan XII serta beberapa
nervous servicalis superior.

(3) Fase Esofagus


Fungsi utama esophagus yaitu menghantarkan makanan dari faring ke
lambung. Sfingter bagian bawah esophagus berelaksasi setelah melakukan
gelombang peristaltic dan memungkinkan makanan terdorong ke dalam lambung.
Sfingter kemudian berkontraksi untuk mencegah regurgitasi (refluks) isi lambung
ke dalam esophagus. Gelombang peristaltic esophagus hamper seluruhnya
dikontrol oleh refleks vagus yang merupakan sebagian dari keseluruhan mekanisme
menelan. Gelombang ini berjalan dari faring ke lambung kira-kira dalam waktu 5-
10 detik. Refleks ini dihantarkan melalui serat aferen vagus dari esophagus ke
medulla oblongata dan kembali lagi ke esophagus melalui serat eferen vagus.

1.1.3 Refleks Muntah (Gagging Refleks)


Refleks muntah (gagging refleks) dianggap suatu mekanisme fisiologis
tubuh untuk melindungi tubuh terhadap benda asing atau bahan-bahan yang
berbahaya bagi tubuh, masuk ke dalam tubuh melalui faring, laring atau trakea.
Sumber refleks muntah secara fisiologis dapat diklasifikasikan dalam dua
kelompok yaitu (1) somatic (stimulasi saraf sensoris berasal dari kontak langsung
pada area sensitive yang disebut trigger zone, mis : sikat gigi, makanan, meletakkan
benda di dalam rongga mulut), dan (2) psikogenik (distimulasi di pusat otak yang
lebih tinggi tanpa stimulasi secara langsung, mis : penglihatan, suara, bau,
perawatan kedokteran gigi).
Letak trigger area pada setiap individu dilaporkan tidak sama/sangat
spesifik. Pada beberapa orang Trigger zone dapat ditemukan di bagian lateral lidah,
posterior palatum, dinding posterior faring, dan lain-lain. Impuls rangsangan saraf
ini akan diteruskan ke otak melalui N. Glosso-faringeus, dan motoriknya akan
dibawa kembali oleh N. Vagus. Selain tempat tersebut, (gagging refleks) dapat juga
disebabkan karena hidung tersumbat, gangguan saluran pencernaan, perokok berat,
gigi tiruan, variasi anatomi dari palatum molle, perubahan posisi tubuh yang sangat
cepat atau pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan.
Mekanisme refleks muntah dapat diuraikan sebagai berikut :
(1) Pada tahap awal dari iritasi gastro-intestinal atau distensi yang berlebihan, akan
terjadi gerakan anti peristaltis (beberapa menit sebelum muntah).
(2) Anti peristaltis dapat dimulai dari ileum dan bergerak naik menuju duodenum
dan lambung dengan kecepatan 2-3 cm/detik dalam waktu 3-5 menit.
(3) Kemudian pada bagian saat traktus gastro intestinal, terutama duodenum,
menjadi sangat meregang, peregangan ini yang menjadi faktor pencetus yang
menimbulkan tindakan muntah.
(4) Pada saat muntah, kontraksi instrinsik kuat terjadi pada duodenum maupun pada
lambung, bersama dengan relaksasi sebagian dari sfingter esophagus bagian
bawah, sehingga mambuat muntahan bergerak ke esophagus. Selanjutanya
kontraksi otot-otot abdomen akan mendorong muntahan keluar.
(5) Distensi berlebihan atau adanya iritasi duodenum menyebabkan suatu
rangsangan khususnya kuat untuk muntah, baik oleh saraf aferen vagal maupun
oleh saraf simpatis ke pusat muntah bilateral di medulla (terletak dekat traktus
solitaries). Reaksi motoris ini otomatis akan menimbulkan efek muntah.
Impuls-impuls motorik yang menyebabkan muntah ditransmisikan dari pusat
muntah melalui saraf kranialis V, VII, IX, X, dan XII ke traktus gastro intestinal
bagian atas dan melalui saraf spinal ke diafragma dan otot abdomen.
(6) Kemudian datang kontraksi yang kuat di bawah diafragma dengan rangsangan
kontraksi semua dinding otot abdomen. Keadaan ini memeras perut diantara
diafragma dan otot-otot abdomen, membentuk suatu tekana intragrastik sampai
ke batas yang lebih tinggi. Akhirnya, sfingter esophagus bagian bawah
berelaksasi secara lengkap, membuat isi lambung ke atas melalui esophagus.
(7) Ketika reaksi muntah terjadi, timbul beberapa reflesk yang terjadi di ronggal
mulut yaitu (1) bernafas dalam, (2) naiknya tulang lidah dan faring untuk
mengangkat sfingter esophagus bagian atas hingga terbuka, (3) penutupan
glottis, (4) pengangkatan palatum molle untuk menutup nares posterior (daerah
yang paling sensitive di dalam rongga mulut berbagai rangsangan).

Cara mencegah refleks gagging yaitu dengan diberikannya es balok (berkumur


dengan air es berulang kali), karena es balok (air es) memiliki suhu rendah sehingga
dapat menghambat kerja saraf untuk menyampaikan rangsang menuju pusat
muntah. Sehingga sensitivitas pasien dapat berkurang. Selain itu, beberapa cara
dapat digunalkan unutk menekan efek gagging refleks antara lain relaksasi,
mengalihkan perhatian, metode desensitisasi, terapi psikologis dan perilaku, anetsei
lokal, sedasi, general anestesi, terapi obat-obatan, hipnotik, dan akupuntur.
1.2 Persiapan Alat dan Bahan
(1) Kaca mulut
(2) Pinset
(3) Spatel kayu
(4) Stop watch
(5) Timbangan
(6) Penggaris
(7) Saringan
(8) Permen karet
(9) Es balok
(10) Aqua gelas
(11) Nasi putih berbagai kadar air (1:1, 1:2, 1:3)
(12) Balok malam merah, ukuran 1×1

11
BAB II

DATA HASIL PENGAMATAN

2.1 Pengunyahan
a. Kekuatan Gigi Maksimal

Jenis kelamin Kedalaman gigit b.


Gigi
orang coba Kanan Kiri
Insisiv pertama 6 mm 6 mm
Perempuan Kaninus 5 mm 4 mm
Molar pertama 8 mm 8 mm
Insisiv pertama 1 cm 1 cm
Laki-laki Kaninus 8,5 mm 9 mm
Molar pertama 1 cm 1 cm
Efisiensi Kunyah

Perhitungan efisiensi kunyah

- Pengunyahan 20 kali
 Berat saringan (s) : 12 gr
 Berat nasi awal : 20 gr
 Jumlah sisa makanan (N) : 17 gr
 Berat setelah pengunyahan (Na)
Na = (N + S) - S
= (17+ 12) – 12
= 17 gr

 Efisiensi Kunyah (µ)


µ = Berat nasi awal – N 100 %
Berat nasi awal
= 20 - 17 100 %
20
= 15 %

12
- Pengunyahan 15 kali
 Berat saringan (s) : 12 gr
 Berat nasi awal : 20 gr
 Jumlah sisa makanan (N) : 18 gr
 Berat setelah pengunyahan (Na)
Na = (N + S) - S
= (18 + 12) – 12
= 18 gr

 Efisiensi Kunyah (µ)


µ = Berat nasi awal – N 100 %
Berat nasi awal
= 20 - 18 100 %
20
= 10 %

- Pengunyahan 10 kali
 Berat saringan (s) : 12 gr
 Berat nasi awal : 20 gr
 Jumlah sisa makanan (N) : 19 gr
 Berat setelah pengunyahan (Na)
Na = (N + S) - S
= (19 + 12) – 12
= 19 gr

 Efisiensi Kunyah (µ)


µ = Berat nasi awal – N 100 %
Berat nasi awal
= 20 - 19 100 %
20
=1%

Jenis kelamin Efisiensi kunyah

13
orang coba 20 kali 15 kali 10 kali
Perempuan 15% 10% 5%

2.2 Pemeriksaan Proses Menelan

a. Pemeriksaan Palpasi pada Saat Menelan

Jenis kelamin Pola gerakan


orang coba (deskripsikan apakah gerakannya normal atau ada hambatan)
Normal, tidak ada hambatan. Terdapat gerakan naik turun pada
Perempuan
pangkal leher.

b. Pengaruh Jenis Makanan Terhadap Penelanan

Jenis kelamin Kemudahan menelan dan respon orang coba


orang coba 1:1 1:2 1:3
Nasi sangat kasar, Nasi kasar, agak Nasi lembut, tidak
mengganjal saat mengganjal, agak mengganjal saat
Perempuan
ditelan, sulit sulit ditelan ditelan, mudak
ditelan ditelan

2.3 Prosedur Percobaan Refleks Muntah (Gagging Refleks)

a. Pengaruh Sentuhan Terhadap Refleks Muntah

Jenis kelamin Respon orang coba (refleks


Lokasi
orang coba muntah)
Ujung lidah -
Perempuan Dorsal lidah -
Lateral kiri -

14
Lateral kanan -
Anterior -
Posterior +
Posterior palatum +
Uvula ++
Tonsil +
Faring atas (jika bisa) Tidak memungkinkan
Yang paling sensitif
Uvula
adalah:

b. Pengaruh Suhu dan Sentuhan terhadap Refleks Muntah

Jenis kelamin Respon orang coba (refleks muntah)


Lokasi
orang coba Air es
Ujung lidah -
Dorsal lidah +
Lateral kiri -
Lateral kanan -
Anterior -
Posterior -
Perempuan
Posterior palatum +
Uvula +
Tonsil ++
Faring atas (jika bisa) +++
Yang paling sensitif
Faring Atas
adalah:

c. Pengaruh Rasa Pahit terhadap Refleks Muntah

15
Jenis kelamin Daerah yang ditetes
Respon orang coba (refleks muntah)
orang coba
Terasa sangat pahit, orang coba merasa
Perempuan
Posterior Lidah mual
Laki - laki Terasa pahit, orang coba tidak merasa
Posterior Lidah mual

PERTANYAAN :

1. Apa ada perbedaan lebar permukaan rongga mulut antara laki-laki dan
perempuan? Jelaskan mengapa?
Jawab : terdapat perbedaan lebar permukaan rongga mulut antara laki-
laki dan perempuan. Ukuran gigi pada laki-laki biasanya lebih besar
dibandingkan perempuan. Hal ini mengakibatkan lengkung rahang laki-
laki lebih lebar daripada perempuan, sehingga lebar mulut lki-laki lebih
besar daripada wanita.
2. Apa perbedaan kekuatan gigit maksimal laki-laki dan perempuan?
Jelakan mengapa?
Jawab : laki-laki rata-rata memiliki kekuatan gigit yang lebih kuat
dibandingkan perempuan. Ukuran gigi dan rahang yang lebar dan kuat
juga mempengaruhi kekuatan gigit pada laki-laki. Faktor lain yang
menyebabkan kekuatan gigit pada laki-laki lebih kuat yaitu kebiasaan
makan, jenis makanan, dan intensitas makan pada laki-laki.
3. Mengapa makanan ada yang mudah di telan dan ada yang sukar? Jelaskan
mengapa?
Jawab : karena setiap makanan memliki jenis, bahan dan komposisi yang
berebda. Pada makanan yang keras,kasar dan mengandung sedikit air
akan lebih sulit ditelan, sedangkan makanan yang halus dan lembut
membutuhkan lebih sedikit pengunyahan daripada yang kasar.

16
Beberapa faktor dapat menyebabkan makanan mudah atau suakr ditelan
adalah:
a. Tingkat kekerasan
Semakin keras makanan, maka akan sulit ditelan dan semakin lunak
makanan maka akan lebih mudah ditelan.
b. Durasi pengunyahan
Semakin lama makanan dikunyah maka makanan akan semakin kecil
dan lembut sehingga lebih mudah untuk ditelan.
4. Mengapa rasa pahit dapat merangsang refleks muntah?
Jawab : karena rasa pahit identik dengan rasa bahan-bahan yan bersifat
toksik atau beracun. Maka saat ada rasa pahit masuk kedalam rongga
mulut akan dipersepsikan sebagai adanya zat beracun pada roongga mulut
dan akan merangsang pusat muntah di medulla untuk muntah

17
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Pengunyahan

a. Kekuatan Gigit Maksimal

Kekuatan gigit maksimal adalah kekuatan gigi untuk menggigit


secara maksimal. Kekuatan gigit maksimal pada laki-laki lebih kuat dari
perempuan karena laki-laki dapat menahan beban sedikit lebih besar
daripada perempuan, kecuali pada gigi anterior kekuatan untuk menahan
beban sama pada laki-laki dan perempuan. Serta ukuran gigi laki-laki
lebih besar daripada perempuan sehingga lebih kuat daya gigitnya. Daya
kunyah maksimum (45-50 kg) diukur antara gigi molar pertama dan
sedikit demi sedikit berkurang untuk gigi disebelahnya, semakin ke
proksimal, daya kunyah mendekati 10 kg pada gigi incisivus.

Selain jenis kelamin, daya gigit juga dipengaruhi oleh pemakaian


kawat gigi. Untuk pengguna protesa gigi tiruan lengkap hanya mampu
menahan beban kunyah sekitar seperempat sampai sepertiga dari
kemampuan menahan beban kunyah orang dengan gigi geligi asli yang
normal. Penguna protesa gigi tiruan sebagian juga tidak mampu
menggigit sekuat orang dengan gigi geligi yang masih lengkap.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan gigit lainnya


diantaranya gigi, otot-otot pengunyahan dan TMJ. Pada percobaan inik
Untuk menghasilkan kekuatan gigit, otot-otot pengunyahan bekerja
menggerakkan rahang dengan sendi sebagai pusatnya. Kontraksi dan
relaksasi pada otot-otot ini akan menimbulkan tekanan vertikal, lateral
maupun oblik yang kemudian didistribusikan pada gigi geligi. Usia dan
jenis kelamin mempengaruhi kekuatan gigit. Wanita mempunyai volume

18
otot lebih kecil dibanding laki-laki sehingga kekuatan gigitnya lebih
kecil.
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan pada orang coba
berjenis kelamin laki-laki dan perempuan memiliki hasil yang berbeda.
Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa kekuatan gigit maksimal antara
laki-laki dengan perempuan lebih besar laki-laki. Karena hasil dari orang
coba perempuan kekuatan gigit maksimalnya lebih besar daripada orang
coba laki – laki.

b. Efisiensi Kunyah

Percobaan untuk mengetahui efisiensi kunyah dilakukan oleh


orang coba berjenis kelamin perempuan dengan hasil yang didapatkan
yaitu 65% pada pengunyahan 20 kali, 60% pada pengunyahan 15, dan
45% pada pengunyahan 10 kali.
Berdasarkan teori bahwa kekuatan gigit maksimal laki-laki lebih
tinggi daripada perempuan, tetapi antara keduanya terbukti mempunyai
efisiensi kunyah yang sama. Efesiensi kunyah merupakan jumlah gerak
kunyah atau waktu yang dibutuhkan untuk mengurangi makanan menjadi
ukuran partikel tertentu kemampuan untuk melumatkan makanan. Pada
percobaan yang sudah dilakukan efisiensi kunyah pada orang coba
menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah pengunyahan efisiensinya
semakin banyak pula. Hal ini sesuai dengan teori yaitu semakin lama
mengunyah efisiensinya semakin naik. Sebab semakin lama kita
mengunyah kemampuan untuk melumatkan makanan semakin bertambah
karena makanan yang mengalami pengunyahan lebih banyak akan
semakin halus.

3.2 Pemeriksaan Proses Menelan

a. Pemeriksaan Palpasi pada Saat Menelan

19
Pada percobaan ini orang coba diminnta untuk minum lalu
dilakukan palpasi pada leher bagian atasnya. Setelah dilakukan percobaan
dapat diketahui bahwa orang coba yang berjenis kelamin perempuan
memiliki pola gerakan saat melakukanpenelanan yaitu terjadi gerakan
keatas, kebawah lalu keatas lagi seperti itu yang terjadi selama penelanan.
Hal ni disebabkan bolus masuk lalu terjadi tekanan pada laring hingga
terdorong ke depan disertai dengan prominensia thyroid yang terangkat
sehingga bolus dapat lewat dan akhirnya prominensia thyroid kembali ke
posisi semula. Pada pergerakan penelanan berjalan normal yaitu tanpa
adanya hambatan. Sehingga dapat dikatakan bahwa orang coba memiliki
gerakan pola penelanan yang normal.
b. Pengaruh Jenis Makanan Terhadap Penelanan

Pada percobaan ini orang coba yang berjenis kelamin perempuan


diminta untuk mengunyah beberapa jenis nasi putih ( 1:1 , 1:2, 1:3)
dengan jumlah makanan yang sama dan diminta utuk membedakan
kemudahan dalam penelanan beberapa jenis nasi putih tersebut.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa pada
percobaan nasi dengan perbandingan air yang digunakan yaitu 1:1 nasi
mudah ditelan namun tidak semudah pada percobaan berikutnya karena
ukuran nasi yang terlalu besar Lalu pada percobaan nasi dengan
perbandingan air yang digunakan yaitu 1:2 memiliki penelanan yang
lebih mudah dibandingkan dengan percobaan pertama . Dan pada
percobaan nasi dengan perbandingan air yang digunakan yaitu 1:3 paling
mudah pnelanannya dibanding perbandingan lainnya
Hal ini disebabkan karena tekstur dari makanan sangat
mempengaruhi dari tingkat kemudahan maupun tingkat kesuliatan dari
pengunyahan makanan itu sendiri. Dimana makin lembut tekstur suatu
makanan akan makin mudah suatu makanan untuk dikunyah, sebaliknya

20
makin kasar tekstur suatu makanan maka akan makin sulit suatu makanan
untuk diikunyah.

3.3 Prosedur Percobaan Refleks Muntah (Gagging Refleks)

a. Pengaruh Sentuhan Terhadap Refleks Muntah

Pada percobaan ini dilakukan percobaan gagging reflex dengan


cara menyentuhkan seperti stik es krim dari kayu pada beberapa tempat
dalam rongga mulut untuk mengetahui bagian yang paling sensitive
terhadap gagging reflex. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan
dapat diketahui bahwa orang coba yang berjenis kelamin perempuan saat
dilakukan test gagging refleks pada daerah ujung lidah, dorsal lidah,
lateral kiri lidah, lateral kanan lidah dan anterior lidah orang coba tidak
merasakan gagging refleks. Sedangkan pada bagian posterior lidah,
posterior palatum uvula dan tonsil orang coba merasakan adanya gagging
refleks. Pada bagian uvula dan tonsil reflek muntah yang diberikan lebih
parah daripada bagian rongga mulut yang lain, namun pada percobaan
yang sudah diakkan orang coba paling sensitif pada bagian tonsil.
Hal ini dikarenakan pada bagian posterior lidah merupakan
daerah rangsang muntah atau Trigger Zone (CTZ). Bila pada CTZ ini
terdapat adanya rangsang maka akan dapat menyebabkan gagging
refleks, khususnya pada bagian posterior rongga mulut.
b. Pengaruh Suhu dan Sentuhan terhadap Refleks Muntah

Pada percobaan pengaruh suhu dan sentuhan terhadap gagging


refleks digunakan dua jenis air, yaitu air es dan air apanas. Hasil dari
kedua air tersebut adalah hampir sama dengan percobaan sebelumnya.
Pada bagian lidah posterior dengan air es orang coba tidak merasakan
adanya refleks muntah sedangkan dengan air panas orang coba
merasakan merasakan adanya refleks muntah yang kuat. Pada palatum
bagian posterior dengan air es orang coba merasakan merasakan adanya

21
refleks muntah yang kuat sedangkan dengan air panas orang coba
merasakan merasakan adanya refleks muntah yang sangat kuat. Bahkan
dari keseluruhan refleks muntah yang ditimbulkan di beberapa bagian,
pada bagian posterior palatum dengan menggunakan air panaslah yang
paling kuat refleks muntahnya pada orang coba.
Hali ini dikarenakan pada bagian posterior palatum merupakan
daerah rangsang muntah atau Trigger Zone (CTZ). Bila pada CTZ ini
terdapat adanya rangsang maka akan dapat menyebabkan gagging
refleks, khususnya pada bagian posterior rongga mulut. Juga disebabkan
oleh adanya pengaruh suhu, yaitu suhu panas yang juga dapat memicu
terjadinga gagging refleks.

c. Pengaruh Rasa Pahit terhadap Refleks Muntah

Berdasarkan percobaan yang sudah dilakukan terhadap dua orang


coba yang berjenis kelamin berbeda dengan perlakuan lidah bagian
posterior ditetesi obat yang rasanya pahit lalu diamati respon seperti apa
yang terjadi pada orang coba. Setelah ditetesi obat tersebut respon yang
dialami orang coba laki-laki adalah mata berair, bulu kudu erdiri gagging
reflexx, sedangkan pada perempuan yang terjadi adalah mual dan mata
berair.

Hal ini dikarenakan rasa pahit adalah rasa yang kuat dan dapat
merangsang refleks muntah karena pahit dapat dirasakan pada bagian
posterior lidah dimana daerah tersebut merupakan daerah rangsang
muntah atau Trigger Zone (CTZ). Bila pada CTZ ini terdapat adanya
rangsang maka akan dapat menyebabkan gagging reflex.

22
BAB IV
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Proses mastikasi merupakan suatu proses gabungan gerak antar dua
rahang, penggunaan bibir, gigi, pipi, lidah, langit-langit mulut, serta
seluruh struktur pembentuk oral, untuk mengunyah makanan dengan
tujuan menyiapkan makan agar dapat ditelan. Menelan merupakan salah
satu bagian dari proses makan.enelan terdiri dari 4 fase yaitu fase
volunteer, fase faringeal dan fase esophagus. Jenis kelamin
mempengaruhi terhadap besar lengkung gigi dan kekuatan gigit. Efisiensi
kunyah dipengaruhi oleh berapa kali rongga mulut mengunyah makanan,
semakin banyak ia mengunyah makanan maka semakin efisien. Refleks
muntah merupakan suatu mekanisme fisiologis tubuh untuk melindungi
tubuh terhadap benda asing atau bahan-bahan yang berbahaya bagi tubuh,
masuk ke dalam tubuh melalui rongga mulut, dimana bagian yang sensitif
terhadap adanya sesuatu yang masuk pada rongga mulut adalah bagian
posterior lidah, uvula,tonsil.

DAFTAR PUSTAKA

23
A.P Nirmal Raj, Sanajay Kumar, Nirmesh Vora and M Vijaya Raju. 2015. Gag
reflex: A dentist’s perspective. A Department of Prosthodontics, College
of Dental Sciences & Hospital, Amargadh. Bhavnagar, Dist, Gujarat,
India.

Bernard., 1995, Dasar-dasar Aanatomi Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC

Budiman, J.A., Hayati, R., Sutrisna, B., Soemantri, E.S. 2009. Identifikasi
Bentuk Lengkung Gigi Secara Kuantitatif. Dentika Dental Journal,
14(2): 120-124.

Chandra. 2004. Testbook of Dental and Oral Anatomy Physiology and Occlusion.
New Delhi: Jaypee Brothers Publishers.

Gomes, Simone Guimaraes Farias. 2010. Correlation of Mastication and


Masticatory Movements and Effect Chewing Side Preference. Braz Dent
J vol.21 no.4

Guyton AC, Hall JE. 1997. Textbook of Medical Physiology. 9th


ed.Philadelphia,Pennsylvania: W. B. Saunders.

Hamzah, Zahreni, dkk. 2017. Buku Petunjuk Praktikum Fisiologi Blok Fungsi
Stomatognasi Edisi I. Jember: Universitas Jember.

Ward J., Clarke R., Linden R., 2009. At a Glance FISIOLOGI. Jakarta : Erlangga.
Pp. 24-5, 74-83

24