Anda di halaman 1dari 35

Mengenal Sifat Material

Dari Model Atom Klasik ke Kuantum


Perkembangan Konsep Atom

Perkembangan pengetahuan tentang material


dilandasi oleh konsep atom yang tumbuh
semakin rumit dibandingkan dengan konsep
awalnya yang sangat sederhana.
Dalam tayangan ini kita hanya akan melihat
selintas mengenai perkembangan ini. Uraian
agak rinci dapat dilihat dalam buku yang dapat
diunduh dari situs ini juga.
Perkembangan Konsep Atom
 460 SM Democritus

1803 Dalton : berat atom
1897 Thomson : atom bukan partikel terkecil  elektron
Akhir abad 19 : Persoalan radiasi benda hitam
1880 Kirchhoff
1901 Max Planck Eosc = h  f h = 6,626  1034 joule-sec
1905 Albert Einstein
efek photolistrik
Emaks
metal 1
metal 2
Dijelaskan: metal 3
gelombang
cahaya seperti 0 f
partikel; disebut 1
2
photon 3

1906-1908 Rutherford : Inti atom (+) dikelilingi oleh elektron (-)


Perkembangan Konsep Atom
1913 Niels Bohr
5
4

tingkat energi
3 PASCHEN

2 BALMER

1
LYMAN

1923 Compton : photon dari sinar-X mengalami perubahan momentum saat


berbenturan dengan elektron valensi.
1924 Louis de Broglie : partikel sub-atom dapat dipandang sebagai gelombang

1926 Erwin Schrödinger : mekanika kuantum

1927 Davisson dan Germer : berkas elektron didefraksi oleh sebuah kristal

1927 Heisenberg : uncertainty Principle p x x  h Et  h

1930 Born : intensitas gelombang I  * 


Model Atom Bohr
Perkembangan Konsep Atom, Model Atom Bohr

Model atom Bohr dikemukakan dengan menggunakan pendekatan


mekanika klasik.

Model atom Bohr berbasis pada model yang diberikan oleh Rutherford:
Partikel bermuatan positif terkonsentrasi di inti atom, dan elektron
berada di sekeliling inti atom.

Perbedaan penting antara kedua model atom:


Model atom Rutherford: elektron berada di sekeliling inti atom dengan
cara yang tidak menentu
Model atom Bohr: elektron-elektron berada pada lingkaran-lingkaran orbit
yang diskrit; energi elektron adalah diskrit.
Perkembangan Konsep Atom, Model Atom Bohr

e  1,60  10 19 C
r
Ze 2
Fc Fc 
Ze r2 Ze 2 mv 2 Ze 2
mv 
2
Ek  
mv 2 r 2 2r
Fc 
r Ze 2
Ep    2E k
r
Ze 2
Etotal  E p  Ek     Ek
2r

Gagasan Bohr :
orbit elektron adalah diskrit; ada hubungan linier
antara energi dan frekuensi seperti halnya apa
yang dikemukakan oleh Planck dan Einstein

E  nhf h
f  n
m(2 r ) 2
Perkembangan Konsep Atom, Model Atom Bohr

Dalam model atom Bohr :

energi dan momentum sudut elektron dalam orbit terkuantisasi

Setiap orbit ditandai dengan dua macam bilangan kuantum:


bilangan kuantum prinsipal, n
bilangan kuantum sekunder, l
Perkembangan Konsep Atom, Model Atom Bohr

Jari-Jari Atom Bohr

n2h2
r
4 2 mZe 2

n2 k1  0,528 108 cm
r  k1
Z

Untuk atom hidrogen pada ground state, di mana n = 1 dan Z = 1,


maka r = 0,528 Å
Perkembangan Konsep Atom, Model Atom Bohr

Tingkat-Tingkat Energi Atom Hidrogen

2 2 mZ 2 e 4 13,6
En   2 2
 2
eV
n h n

bilangan kuantum prinsipal


n: 1 2 3 4 5
0
1,51 0
energi total [ eV ]

1 2 3 41,89 eV 5 6
3,4
13,6
En  
n2
 10,2 eV

13,6
ground state
-16
Perkembangan Konsep Atom, Model Atom Bohr

Spektrum Atom Hidrogen

Deret n1 n2 Radiasi 5

4
Lyman 1 2,3,4,… UV

Tingkat Energi
Balmer 2 3,4,5,… tampak 3
deret Paschen
Paschen 3 4,5,6,… IR
Brackett 4 5,6,7,… IR
2
Pfund 5 6,7,8,… IR deret Balmer

1
deret Lyman
Elektron Sebagai Gelombang

Gelombang Tunggal

u  A cos(t  ) u  Ae j (t )

u  Ae j (t kx )
k  2 / 
bilangan gelombang
Kecepatan rambat gelombang dicari dengan melihat perubahan
posisi amplitudo

t  kx  0
t dx  Kecepatan ini disebut
x vf    f kecepatan fasa
k dt k
Elektron Sebagai Gelombang

Paket Gelombang
Paket gelombang adalah gelombang komposit
yang merupakan jumlah dari n gelombang sinus

u 
n
An e j (nt kn x )

 An j[( n 0 )t ( kn k0 ) x ] 


u A e
n
n
j ( n t  k n x )



n
A0
e

j ( t k x )
 A0 e 0 0

 An j[( n )t ( kn ) x ] 




 n
A0
e

j ( t k x )
 A0 e 0 0

dengan k0 , 0, A0, berturut-turut adalah nilai tengah


dari bilangan gelombang, frekuensi dan amplitudo
Elektron Sebagai Gelombang
Bilangan gelombang: k

 k   k 
 k0    k   k0   variasi k sempit
 2   2 

Perbedaan nilai k antara gelombang-gelombang yang membentuk paket gelombang


tersebut sangat kecil  dianggap kontinyu demikian juga selang k sempit sehingga
An / A0 ≈ 1. Dengan demikian maka

 
u


n
e j[( n )t ( kn ) x ]  A0 e j (0t k0 x )  S ( x, t ) A0 e j (0t k0 x )


Pada suatu t tertentu, misalnya pada t = 0 persamaan bentuk amplitudo gelombang menjadi
 
A( x,0)  S ( x,0) A0  

 n
e  j ( kn ) x  A0


Karena perubahan nilai k dianggap kontinyu maka


 k / 2
2 sin( xk/2)
S ( x,0)   e  j ( k n ) x
  e j ( k ) x
dk 
x
n  k / 2
Elektron Sebagai Gelombang
Persamaan gelombang
Persamaan gelombang komposit untuk t = 0 menjadi
2 sin(xk/2)
u t 0  A0 e  jk0 x
x

Persamaan ini menunjukkan bahwa amplitudo gelombang komposit ini


terselubung oleh fungsi
2 sin(xk/2)
S ( x) 
x
lebar paket gelombang

x
selubung
2 sin( xk/2)
x

2 sin(xk/2)
A0 cos(k 0 x)
x


x  2  xk  2
k
Elektron Sebagai Gelombang

Kecepatan Gelombang
 
u


n
e j[( n )t ( kn ) x ]  A0 e j (0t k0 x )  S ( x, t ) A0 e j (0t k0 x )


kecepatan fasa: v f  0 / k0

kecepatan group: Amplitudo gelombang akan mempunyai bentuk yang


sama bila S(x,t) = konstan. Hal ini terjadi jika ()t = (k)x untuk setiap n

x  
vg   
t k k

Kecepatan group ini merupakan


kecepatan rambat paket gelombang
Elektron Sebagai Gelombang
Panjang gelombang de Broglie, Momentum, Kecepatan

Einstein : energi photon E ph  hf  h  
2

mv g2 2 h
de Broglie: energi elektron Ek   ω mv g  k   
2  


h

h konstanta Planck
Panjang gelombang mv g p momentum elektron

Momentum p  mvg  k

k  2 h
Kecepatan ve  v g   
m m  m
Elektron Sebagai Gelombang

Elektron Sebagai Partikel dan Elektron Sebagai Gelombang


Elektron dapat dipandang sebagai gelombang tidaklah berarti bahwa elektron adalah
gelombang; akan tetapi kita dapat mempelajari gerakan elektron dengan menggunakan
persamaan diferensial yang sama bentuknya dengan persamaan diferensial untuk
gelombang.

Elektron sebagai partikel: Elektron sebagai gelombang


massa tertentu, m. massa nol, tetapi  = h/mve.

Elektron sebagai partikel: Elektron sebagai gelombang:


Etotal = Ep+ Ek= Ep+ mve2/2. Etotal = hf = ħ.

Elektron sebagai partikel: Elektron sebagai gelombang:


p = mve2 p = ħk = h/.

Dalam memandang elektron sebagai gelombang, kita tidak dapat menentukan


momentum dan posisi elektron secara simultan dengan masing-masing
mempunyai tingkat ketelitian yang kita inginkan secara bebas. Kita dibatasi oleh
prinsip ketidakpastian Heisenberg: px  h. Demikian pula halnya dengan
energi dan waktu: Et  h .
Persamaan Schrödinger

Sebagai partikel elektron memiliki energi


energi kinetik + energi potensial

E merupakan mv 2 p2
E  V ( x)   V ( x)
fungsi p dan x 2 2m

p2 H ( p, x) p dx
E  H ( p, x)   V ( x)   ve 
2m p m dt

H = Hamiltonian H ( p, x) V ( x) dv dp
   F ( x)  m 
x x dt dt

Turunan H(p,x) terhadap p memberikan turunan x terhadap t.


Turunan H(p,x) terhadap x memberikan turunan p terhadap t.
Persamaan Schrödinger

 
Gelombang : u

 n
e j[( n )t ( kn ) x ]  A0 e j (0t  k0 x )

u merupakan
fungsi t dan x

Turunan u terhadap t: Turunan u terhadap x:


u ω  u k 
t
 jω0  n
 ω0
n
e j[(ωn )t ( k n ) x ]  A0 e j ( ω0t  k0 x )
 x
  jk 0  n
 k 0
 n
e j[(n )t ( k n ) x ]  A0 e j ( 0t  k0 x )


Dalam selang sempit k , n / 0  1 Dalam selang sempit k , k n / k0  1

 
 u  j (0 )u  jEu  u   j (k 0 )u   jpu
t x

 
Eu   j u pu  j u
t x

 
E   j p  j
t x

Operator energi Operator momentum


Persamaan Schrödinger

p2
Hamiltonian: E  H ( p, x) 
2m
 V ( x)

 
Operator: E   j p  j xx
t x

Jika H(p,x) dan E dioperasikan pada fungsi gelombang  maka diperoleh

2 2 
H ( p, x)  E 
2m x 2
 V ( x )    j
t

Inilah persamaan Schrödinger

2  2 
satu dimensi  V ( x )   j
2m x 2 t

2 2 
tiga dimensi    V ( x, y, z)  j
2m t
Persamaan Schrödinger
Persamaan Schrödinger Bebas Waktu

Aplikasi persamaan Schrödinger dalam banyak hal hanya berkaitan dengan


energi potensial, yaitu besaran yang
hanya merupakan fungsi posisi
Oleh karena itu jika persamaan tersebut diupayakan tidak merupakan fungsi
yang bebas waktu agar penanganannya menjadi lebih sederhana

Jika kita nyatakan: ( x, t )  ( x) T (t ) maka dapat diperoleh

1   2  2( x)  1  T (t )
  V ( x )  ( x )   j   tetapan sembarang E

( x)  2m x 2  T (t ) t

 2  2  2  2 ( x)
sehingga  V ( x)   E  E  V ( x) ( x)  0 Satu dimensi
2m x 2 2m x 2

2 2
   E  V ( x, y, z )  0 Tiga dimensi
2m
Persamaan Schrödinger

Fungsi Gelombang

Persamaan Schrödinger adalah persamaan diferensial parsial dengan  adalah


fungsi gelombang dengan pengertian bahwa
* dx dy dz

adalah probabilitas keberadaan elektron pada waktu tertentu dalam volume dx


dy dz di sekitar titik (x, y, z)
Jadi persamaan Schrödinger tidak menentukan posisi elektron melainkan
memberikan probabilitas bahwa ia akan ditemukan di sekitar posisi tertentu. Kita
juga tidak dapat mengatakan secara pasti bagaimana elektron bergerak sebagai
fungsi waktu karena posisi dan momentum elektron dibatasi oleh prinsip
ketidakpastian Heisenberg
2
Contoh kasus satu dimensi  
*
A02
 sin( xk / 2) 
 
pada suatu t = 0  x 
Persamaan Schrödinger
Persyaratan Fungsi Gelombang

Elektron sebagai suatu yang nyata harus ada di suatu tempat. 


Oleh karena itu fungsi gelombang (untuk satu dimensi) harus 

 * dx  1
memenuhi:

Fungsi gelombang , harus kontinyu sebab jika terjadi ketidak-kontinyuan hal itu dapat
ditafsirkan sebagai rusaknya elektron, suatu hal yang tidak dapat diterima.

Turunan fungsi gelombang terhadap posisi,juga harus kontinyu, karena turunan


fungsi gelombang terhadap posisi terkait dengan momentum elektron Oleh karena
itu persyaratan ini dapat diartikan sebagai persayaratan kekontinyuan momentum.

Fungsi gelombang harus bernilai tunggal dan terbatas sebab jika tidak akan berarti ada
lebih dari satu kemungkinan keberadaan elektron.

Fungsi gelombang tidak boleh sama dengan nol di semua posisi sebab kemungkinan
keberadaan elektron haruslah nyata, betapapun kecilnya.
Aplikasi Persamaan Schrödinger

Elektron Bebas
Elektron bebas adalah elektron yang tidak mendapat pengaruh
medan listrik sehingga energi potensialnya nol, V(x) = 0

V (x)  0  2  2  ( x)
 E( x)  0
2m x 2

solusi ( x)  Aesx 2  2 2 
As e  EAe  
2 sx sx
s  E ( x)  0
2m  2m 
harus berlaku untuk semua x
2 2
s E0
2m
2mE 2mE p  mvg  k
sj   j  , dengan  
2 2 h

mv g
( x)  Ae j  x  Ae j  x
2mE
Im j x k 
Ae 2
Persamaan gelombang
Re elektron bebas 2k 2 p2
E E
2m 2m
Ae  j  x Energi elektron bebas
Aplikasi Persamaan Schrödinger

Elektron di Sumur Potensial yang Dalam

Daerah I dan daerah III adalah daerah-


I II III daerah dengan V = ,
V= V=0 V=
1 2 3
daerah II, 0 < x < L, V = 0
Elektron yang berada di daerah II
0 L x terjebak dalam “sumur potensial”

Sumur potensial ini dalam karena


Fungsi gelombang di daerah I dan II V = 

 2 ( x)  B2e j  x  B2e  j  x

  e  jk2 x  e jk2 x 
 2 ( x)  2 jB 2    2 jB 2 sin n x  2 jB 2 sin kx k  n    2mE
 2j  L
  L 2

Probabilitas ditemukannya elektron Energi elektron


n n n 22  2  2  n 
2
*2 ( x) 2 ( x)  4B22 sin 2 x  K sin 2 E   
L L 2 2m 2m  L 
L
Aplikasi Persamaan Schrödinger

Fungsi gelombang, probabilitas ditemukannya elektron, dan


energi elektron, tergantung dari lebar sumur, L

Fungsi gelombang
* * *
4 4 4

n
  2 jB 2 sin x
L
  
Probabilitas
ditemukan elektron 0 0 0
0 3.16
0
0
x L
3.16
0
0
L
3.16
0 L
n
*   4 B22 sin 2 x a). n = 1 b).n = 2 c). n = 3
L

Energi elektron
n 2 2  2  2  n 
2
h2 4h 2 9h 2
E    E 2
E 2
E
2mL 2 2m  L  8mL 8mL 8mL2
Aplikasi Persamaan Schrödinger

Pengaruh lebar sumur pada tingkat-tingkat energi

2
n 2 2  2  2  n 
E   
2mL2 2m  L 

n =3

V
n =2
V’
n =1

0 L 0 L’

Makin lebar sumur potensial,


makin kecil perbedaan antara
tingkat-tingkat energi
Aplikasi Persamaan Schrödinger

Elektron di Sumur Potensial yang Dangkal


Probabilitas keberadaan elektron tergantung dari kedalaman sumur

V
a
* * *
*

E E E
0 L 0 L 0 L 0 L
a) b) c) d)

Makin dangkal sumur, kemungkinan keberadaan Jika diding sumur


elektron di luar sumur makin besar tipis, elektron bisa
“menembus”
dinding potensial
Aplikasi Persamaan Schrödinger

Sumur tiga dimensi


 2   2   2   2  
   E  0
z 2m  x 2 y 2 z 2 

Lz ( x, y, z)  X ( x)Y ( y)Z ( z)
y
Lx Ly  2  1  2 X ( x)

1  2Y ( y)

1  2 Z ( z ) 
E0
2m  X ( x) x 2 Y ( y) y 2 Z ( z ) z 2 
x
1  2 X ( x) 1  2Y ( y) 1  2 Z ( z) 2m
   2 E
X ( x) x 2 Y ( y) y 2 Z ( z ) z 2

1  2 X ( x) 2m 1  2Y ( y) 2m 1  2 Z ( z) 2m
  Ex   Ey   Ez
Arah sumbu-x X ( x) x 2  2 Y ( y) y 2 2 Z ( z ) z 2 2

2
 2 X ( x) 2m Persamaan ini adalah persamaan satu dimensi  2  n 
 2 E x X ( x)  0 yang memberikan energi elektron: E  
x 2  2 m  L 

n x2 h 2 n 2y h 2 n z2 h 2
Untuk tiga dimensi diperoleh: E x  Ey  Ez 
8mL2x 8mL2y 8mL2z

Tiga nilai energi sesuai arah sumbu


Course Ware

Mengenal Sifat Material

Model Atom Klasik dan


Persamaan Schrödinger

Sudaryatno Sudirham