Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak adalah individu yang unik dan bukanlah miniature orang dewasa. Anak

memerlukan perhatian khusus untuk optimalisasi tumbuh kembang. Perkembangan anak

dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor genetik, keluarga, lingkungan dan

psikososial yang salah satunya berupa stimulasi Anak yang mendapat banyak stimulasi

akan lebih cepat berkembang daripada anak yang kurang mendapatkan stimulasi (Yudhana,

2009).

Pertumbuhan dan perkembangan adalah suatu proses yang berlangsung terus-

menerus pada berbagai segi dan saling keterkaitan. Pertumbuhan adalah suatu peningkatan

ukuran fisik keseluruhan atau sebagian yang dapat diukur. Sedangkan perkembangan

adalah suatu rangkaian peningkatan keterampilan dan kapasitas. (Suriadi & Yuliani. R,

2006). Pertumbuhan dan perkembangan mengalami peningkatan yang pesat pada usia dini,

yaitu 0-5 tahun. Masa ini sering disebut juga sebagai fase “Golden Age”. Golden Age

merupakan masa yang paling penting untuk memperhatikan tumbuh kembang anak secara

cermat agar sedini mungkin terdeteksi apabila terjadi kelainan pertumbuhan dan

perkembangan anak sehingga kelainan yang bersifat permanen dapat di cegah

(Narendra,2003)

Pemantauan tumbuh kembang anak meliputi pemantauan dari aspek fisik,

psikologi dan sosial. Pemantauan tersebut harus dilakukan secara teratur dan

berkesinambungan. Sedini mungkin pemantauan dilakukan oleh orang tua. Selain itu

pemantauan juga dapat dilakukan oleh masyarakat melalui kegiatan posyandu dan oleh

guru di sekolah. Perkembangan kognitif merupakan salah satu perkembangan yang penting

untuk dipantau maupun diberikan stimulus. Perkembangan kognitif meliputi semua proses
dan pikiran untuk mencapai pengetahuan yang berupa aktivitas mental seperti mengingat,

mensimbolkan, mengkategorikan, memecahkan masalah, dan menciptakan sesuatu yang

akan dilakukan.

Pada usia pra sekolah perkembangan kognitif juga berkembang dengan pesat dan

hasil studi dibidang neurologi antara lain bahwa perkembangan kognitif anak telah

mencapai 50% ketika anak usia 4 tahun,80% ketika anak berusia 8 tahun, dan genap 100%

ketika anak berusia 18 tahun (Osborn, White, dan Bloom). Hal itu yang memicu makin

mantapnya anggapan bahwa sesungguhnya pendidikan yang dimulai dari usia Sekolah

Dasar (SD) tidaklah benar. Pendidikan harus sudah mulai sejak usia pra-sekolah supaya

tidak terlambat. Sehingga penting bagi anak untuk mendapatkan pendidikan (Martini,

2006). Anak-anak mudah memberi respon fisik terhadap musik, bahkan responnya relative

spontan dan anak-anak cenderung bebas menggerakkan tubuh dan anggota tubuhnya.

Aktivitas motorik ini merangsang pertumbuhan anak, khususnya pada awal masa

perkembangan. Irama musik yang didengar pada awal kehidupan akan menjadi irama

musik yang sangat bermakna dalam kehidupan selanjutnya. Irama musik tertentu akan

mempengaruhi detak nadi mereka, sehingga menjadi selaras dengan musik tersebut

(Rusmawati, 2010). Musik, sebagai bagian dari lingkungan dan stimulasi, dapat

mempengaruhi kecerdasan anak. Prosesnya, nada yang disusun berdasarkan irama tertentu

dapat menjadikan gelombang otak lebih tenang dibanding suara gaduh atau suara kontinu

(Raharja, 2010).

Selain alat permainan edukatif, musik dapat juga digunakan sebagai salah satu

terapi untuk menstimulasi perkembangan anak yaitu perkembangan otak anak,

meningkatkan koordinasi fisik, menambah keterampilan bahasa, membantu meningkatkan

kemampuan matematika dan sosial, melatih daya ingat, dan kreatifitas anak, khususnya

usia prasekolah. Anak yang diberikan terapi musik oleh orang tuanya 92% akan mengalami
peningkatan dalam hal konsentrasi, keterampilan serta menambah kepercayaan diri

(Holmes, 2008). Selain itu, musik juga akan membantu melatih konsentrasi serta mengasah

daya ingat. Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa alunan lagu akan menghilangkan

rasa tegang, membuat suasana menjadi menyenangkan sehingga tidak menghambat dalam

menerima pelajaran (Tyas, 2008).

Studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti menemukan bahwa telah terdapat

alat permainan edukatif sebagai stimulasi perkembangan anak namun belum dilaksanakan

secara optimal. Selain itu di TK KARTIKA belum menerapkan terapi musik sebagai

stimulasi perkembangan. Terapi musik dilakukan dengan memperdengarkan anak musik

bertema ceria dan semangat serta mengajak anak untuk ikut bernyanyi. Musik bertema ceria

dan semangat akan menghasilkan emosi positif bagi anak yang dapat menyebabkan sistem

pernafasan, endokrin, imun, kardiovaskuler, metabolik, motorik, nyeri, sistem temperatur,

akan bereaksi positif (Musbikin,2009). Bernyanyi secara tidak langsung, akan mengasah

kemampuan anak menyerap, mengingat, dan mengucapkan kata-kata pada lirik lagu. Ini

merupakan cara efektif untuk memperluas perbendaharaan kata serta kemampuan

berbahasa pada anak (Rasyid, 2010).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dirumuskan masalah penelitian

adalah:

“ Apakah ada pengaruh terapi musik terhadap perkembangan kognitif pada anak usia pra-

sekolah di TK Kartika?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Diketahuinya pengaruh terapi musik terhadap perkembangan kognitif pada anak usia

pra-sekolah di TK Kartika.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya tingkat perkembangan kognitif pada anak usia pra-sekolah di TK

Kartika sebelum dilakukan terapi musik.

b. Diketahuinya tingkat perkembangan kognitif pada anak usia pra-sekolah di TK

Kartika setelah dilakukan terapi musik.

D. Manfaat Penelitian

Dengan melakukan penelitian tentang pengaruh terapi musik terhadap perkembangan

anak usia pra-sekolah di TK Kartika tahun 2017, maka hasil penelitian akan bermanfaat

bagi:

1. Manfaat Teoritis

a. Sebagai bahan masukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan dapat

dijadikan sebagai dokumen bahan bacaan.

b. Sebagai bahan masukan bagi instansi terkait untuk menentukan langkah yang tepat

dalam rangka pelaksanaan program terapi musik sebagai upaya meningkatkan

kemampuan adaptasi anak.

c. Sebagai masukan bagi profesi keperawatan pada lahan penelitian terkait

menentukan kebijakan dalam rangka peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

d. Sebagai bahan masukan bagi masyarakat khususnya bagi orang tua yang memiliki

anak usia pra-sekolah agar dapat meningkatkan kemampuan adaptasi dengan

adanya terapi musik.

e. Sebagai pengalaman yang berharga dalam memperluas wawasan dan pengetahuan

melalui penelitian lapangan.

2. Manfaat Praktisi
Sebagai bahan masukan bagi masyarakat agar mengetahui bahwa terapi musik

dapat meningkatkan perkembangan kognitif pada anak usia pra-sekolah di TK Kartika.

3. Manfaat Ilmiah

Sebagai bahan masukan untuk penelitian selanjutnya untuk menentukan

langkah yang tepat dalam rangka pelaksanaan program terapi musik sebagai upaya

untuk menurunkan respon kecemasan anak selama dirawat di rumah sakit.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Perkembangan Kognitif Anak Usia Pra-Sekolah

1. Pengertian Kognitif

Kognitif atau sering disebut kognisi mempunyai pengertian yang luas

mengenai berfikir dan mengamati. Ada yang mengartikan bahwa kognitif

adalah tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengetahuan atau

yang dibutuhkan Perkembangan kognitif anak untuk menggunakan

pengetahuan. Selain itu kognitif juga dipandang sebagai suatu konsep yang luas

dan inklusif yang mengacu kepada kegiatan mental yang terlibat di dalam

perolehan, pengolahan, organisasi dan penggunaan pengetahuan. Proses utama

yang digolongkan di bawah istilah kognisi mencakup : mendeteksi,

menafsirkan, mengelompokkan dan mengingat informasi; mengevaluasi

gagasan, menyimpulkan prinsip dan kaidah, mengkhayal kemungkinan,

menghasilkan strategi dan berfantasi.

Bila disimpulkan maka kognisi dapat dipandang sebagai kemampuan

yang mencakup segala bentuk pengenalan, kesadaran, pengertian yang bersifat

mental pada diri individu yang digunakan dalam interaksinya antara

kemampuan potensial dengan lingkungan seperti : dalam aktivitas mengamati,

menafsirkan memperkirakan, mengingat, menilai dan lain-lain.

Proses kognitif penting dalam membentuk pengertian karena

berhubungan dengan proses mental dari fungsi intelektual. Hubungan kognisi

dengan proses mental disebut sebagai aspek kognitif.

Faktor kognitif memiliki pemahaman bahwa ciri khasnya terletak dalam

belajar memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk representasi yang


mewakili obyek-obyek yang dihadapi dan dihadirkan dalam diri seseorang

melalui tanggapan, gagasan atau lambang yang semuanya merupakan sesuatu

yang bersifat mental. Dari pernyataan ini dapat dikatakan bahwa makin banyak

pikiran dan gagasan yang dimiliki seseorang, makin kaya dan luaslah alam

pikiran kognitif orang tersebut. Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa kognitif

merupakan proses mental yang berhubungan dengan kemampuan dalam bentuk

pengenalan secara umum yang bersifat mental dan ditandai dengan representasi

suatu obyek ke dalam gambaran mental seseorang apakah dalam bentuk simbol,

tanggapan, ide atau gagasan dan nilai atau pertimbangan.

Faktor kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak

dalam belajar, karena sebahagian besar aktivitasnya dalam belajar selalu

berhubungan dengan masalah mengingat dan berfikir dimana kedua hal ini

merupakan aktivitas kognitif yang perlu dikembangkan. Perkembangan

kognitif anak Hal-hal yang termasuk dalam aktivitas kognitif adalah mengingat

dan berfikir. Mengingat merupakan aktivitas kognitif dimana orang menyadari

bahwa pengetahuan berasal dari kesan-kesan yang diperoleh dari masa lampau.

Bentuk mengingat yang penting adalah reproduksi pengetahuan, misalnya

ketika seorang anak diminta untuk menjelaskan kembali suatu pengetahuan atau

peritiwa yang telah diperolehnya selama belajar. Sedangkan pada saat berfikir

anak dihadapkan pada obyek-obyek yang diwakili dengan kesadaran. Jadi tidak

dengan langsung berhadapan dengan obyek secara fisik seperti sedang

mengamati sesuatu ketika ia melihat, meraba atau mendengar. Dalam berfikir

obyek hadir dalam bentuk representasi, bentuk-bentuk representasi yang paling

pokok adalah tanggapan, pengertian, atau konsep dan lambang verbal. Makin

berkembang seseorang, makin kayalah anak akan tanggapan-tanggapan.


Hubungan atas tanggapan-tanggapan mulai dipahami manakala hubungan yang

satu dengan yang lain mulai dipahami secara logis. Perkembangan berikutnya

anak akan mampu menentukan hubungan sebab akibat. Perkembangan Struktur

Kognitif Kognisi sebagai kapasitas kemampuan berfikir dan segala bentuk

pengenalan, digunakan individu untuk melakukan interaksi dengan

lingkungannya. Dengan berfungsinya kognisi mengakibatkan individu

memperoleh pengetahuan dan menggunakannya. Pada prosesnya kognisi

mengalami perkembangan ke arah kolektivitas kemajuan secara

berkesinambungan. Perkembangan struktur kognisi berlangsung menurut

urutan yang sama bagi semua individu. Artinya setiap individu akan mengalami

dan melewati setiap tahapan itu, sekalipun kecepatan perkembangan dari

tahapan-tahapan tersebut dilewati secara relatif dan ditentukan oleh banyak

faktor seperti : kematangan psikis, struktur syaraf, dan lamanya pengalaman

yang dilewati pada setiap tahapan perkembangan. Mekanisme utama yang

memungkinkan anak maju dari satu tahap pemungsian kognitif ke tahap

berikutnya oleh Piaget disebut asimilasi, akomodasi dan

ekuilibrium.Perkembangan kognitif anak Asimilasi merupakan proses dimana

stimulus baru dari lingkungan diintegrasikan pada skema yang telah ada.

Dengan kata lain, asimilasi merujuk pada usaha individu untuk menghadapi

lingkungan dengan membuatnya cocok ke dalam struktur organisme itu sendiri

yang sudah ada dengan jalan menggabungkannya. Proses ini dapat diartikan

sebagai suatu obyek atau ide baru ditafsirkan sehubungan dengan gagasan atau

tindakan yang telah diperoleh anak. Asimilasi tidak menghasilkan

perkembangan atau skemata, melainkan hanya menunjang pertumbuhan

skemata. Sebagai suatu ilustrasi, kepada seorang anak diperlihatkan suatu benda
yang berbentuk persegi empat sama sisi. Setelah itu diperlihatkan persegi

panjang. Asimilasi terjadi apabila anak menjawab persegi panjang adalah

persegi empat sama sisi. Jadi persegi panjang diasimilasikan dengan persegi

empat sama sisi. Hal ini karena bentuk itu dikenal anak lebih awal sementara

persegi panjang diperoleh kemudian. Jika menyangkut masalah ukuran dari

bentuk tersebut asimilasi tidak akan terjadi karena tidak cocok dengan gagasan

yang telah ada. Tetapi jika persegi empat itu dilihat sebagaimana adanya persegi

empat maka hal ini merupakan proses akomodasi. Akomodasi merupakan

proses yang terjadi apabila berhadapan dengan stimulus baru, anak mencoba

mengasimilasikan stimulus baru itu tetapi tidak dapat dilakukan karena tidak

ada skema yang cocok. Dalam keadaan seperti ini anak akan menciptakan

skema baru atau mengubah skema yang sudah ada sehingga cocok dengan

stimulus tersebut. Akomodasi dapat dikatakan sebagai proses pembentukan

skema baru atau perubahan skema yang telah ada, seperti contoh di atas dimana

persegi empat dilihat sebagaimana adanya persegi empat. Akomodasi

menghasilkan perubahan atau perkembangan skemata atau struktur kognitif.

Asimilasi dan akomodasi berlangsung terus sepanjang hidup. Jika seseorang

selalu mengasimilasi stimulus tanpa pernah mengakomodasikan, ada

kecenderungan ia memiliki skema yang sangat besar, sehingga ia tidak mampu

mendeteksi perbedaan Perkembangan kognitif anak perbedaan diantara

stimulus yang mirip. Sebaliknya jika seseorang selalu mengakomodasi stimulus

dan tidak pernah mengasimilasikannya, ada kecenderungan ia tidak pernah

dapat mendeteksi perasaan persamaan dari stimulus untuk membuat

generalisasi. Oleh karenanya harus terjadi keseimbangan antara proses asimilasi

dan akomodasi yang dikaitkan sebagai equlibrium. Berkenaan dengan


perkembangan kognitif ini, Abin Syamsuddin (1990) mengungkapkan bahwa

proses perkembangan fungsi-fungsi dan perilaku kognitif menurut Piaget

berlangsung mengikuti suatu sistem atau prinsip atau teknik keseimbangan

(seeking equlibrium), dengan menggunakan dua cara ialah assimilation dan

accomodation. Teknik asimilasi digunakan apabila individu memandang

bahwa obyek-obyek atau masalah-masalah baru dapat disesuaikan dengan

kerangka berfikir. Sedangkan teknik akomodasi digunakan apabila individu

memandang bahwa obyek-obyek kerangka berfikirnya yang ada sehingga harus

mengubah strukturnya. Ekuilibrium menunjuk pada relasi antara individu dan

sekelilingnya, terutama sekali pada relasi antara struktur kognitif individu dan

struktur sekelilingnya. Di sini ada keadaan seimbang bila individu tidak lagi

perlu mengubah hal-hal dalam kelilingnya untuk mengadakan asimilasi dan

juga tidak harus mengubah dirinya untuk mengadakan akomodasi dengan hal-

hal yang baru. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa perkembangan

intelektual atau perkembangan kognitif dapat dipandang sebagai suatu

perubahan dari suatu keadaan seimbang ke dalam keseimbangan baru. Setiap

tahap perkembangan kognitif mempunyai bentuk keseimbangan tertentu

sebagai fungsi dari kemampuan memecahkan masalah pada tahap itu. Ini berarti

penyeimbangan memungkinkan terjadinya transformasi dari bentuk penalaran

sederhana ke bentuk penalaran yang lebih komplek, sampai mencapai keadaan

terakhir yang diwujudkan dengan kematangan berfikir orang dewasa. Menurut

Piaget pertumbuhan mental mengandung dua macam proses yaitu

perkembangan dan belajar. Perkembangan adalah perubahan struktur

sedangkan belajar Perkembangan kognitif anak adalah perubahan isi. Proses

perkembangan dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu heriditas, pengalaman, transmisi


sosial dan ekuilibrasi. Heriditas diyakini Piaget tidak hanya menyediakan

fasilitas kepada anak yang baru lahir untuk menyesuaikan diri dengan dunianya,

lebih dari itu heriditas akan mengatur waktu jalannya perkembangan pada

tahun-tahun mendatang. Inilah yang dikenal dengan faktor kematangan internal.

Kematangan mempunyai peranan penting dalam perkembangan intelektual,

akan tetapi faktor ini saja tidak mampu menjelaskan segala sesuatu tentang

perkembangan intelektual. Pengalaman dengan heriditas fisik merupakan dasar

perkembangan struktur kognitif. Dalam hal ini sering kali disebut sebagai

pengalaman fisis dan logika matematis. Kedua pengalaman ini secara psikologi

berbeda. Pengalaman fisis melibatkan obyek yang kemudian membuat abstraksi

dari obyek tersebut. Sedangkan pengalaman logika matematis merupakan

pengalaman dimana diabstraksikan bukan dari obyek melainkan dari akibat

tindakan terhadap obyek (abstraksi reflektif). Transmisi sosial digunakan untuk

mempresentasikan pengaruh budaya terhadap pola berfikir anak. Penjelasan

dari guru, penjelasan orang tua, informasi dari buku, meniru, merupakan

bentuk-bentuk transmisi sosial. Kebudayaan memberikan alat-alat yang penting

bagi perkembangan kognitif, seperti dalam berhitung atau membaca, dapat

menerima transmisi sosial apabila anak ada dalam keadaan mampu menerima

informasi. Untuk menerima informasi itu terlebih dahulu anak harus memiliki

struktur kognitif yang memungkinkan anak dapat mengasimilasikan dan

mengakomodasikan informasi tersebut. Ekuilibrasi seperti yang telah

dikemukakan di atas merupakan suatu keadaan dimana pada diri setiap individu

akan terdapat proses ekuilibrasi yang mengintegrasikan ketiga faktor tadi, yaitu

heriditas, pengalaman dan transmisi sosial. Alasan yang memperkuat adanya

ekuilibrasi yaitu dimana anak secara aktif berinteraksi dengan lingkungan.


Sebagai akibat dari interaksi itu anak berhadapan dengan gangguan atau

kontradiksi, yaitu apabila situasi pada pola penalaran yang lama tidak dapat

menanggapi Perkembangan kognitif anak stimulus. Kontradiksi ini

menimbulkan keadaan menjadi tidak seimbang. Dalam keadaan ini individu

secara aktif mengubah pola penalarannya agar dapat mengasimilasikan dan

mengakomodasikan stimulus baru yang disebut ekuilibrasi. Tahapan

Perkembangan Kognitif Para ahli psikologi perkembangan mengakui bahwa

pertumbuhan itu berlangsung secara terus menerus dengan tidak ada lompatan.

Kemajuan kompetensi kognitif diasumsikan bertahap dan berurutan selama

masa kanak-kanak Piaget melukiskan urutan tersebut ke dalam empat tahap

perkembangan yang berbeda secara kualitatif yaitu : (1) tahap sensori motor, (2)

tahap praoperasional, (3) tahap operasional konkrit dan (4) tahap operasional

formal. Dari setiap tahapan itu urutannya tidak berubah-ubah. Semua anak akan

melalui ke empat tahapan tersebut dengan urutan yang sama. Hal ini terjadi

karena masing-masing tahapan dibangun di atas, dan berasal dari pencapaian

tahap sebelumnya. Tetapi sekalipun urutan kemunculan itu tidak berubah-ubah,

tidak mustahil adanya percepatan seseorang untuk melewati tahap-tahap itu

secara lebih dini di satu sisi dan terhambat di sisi lainnya. Berkaitan dengan itu

maka dalam pembahasan perkembangan kognitif sebagaimana yang

dikemukakan Piaget sekaligus diungkap pula beberapa sanggahan atas urutan

dari aspek-aspek kemampuan pada tahapan-tahapan tersebut khususnya yang

berkaitan dengan tahapan praoperasional dan tahapan operasional konkrit.

a. Tahap Sensorimotor (0 - 2 tahun)

Tahap sensorimotor ini ada pada usia antara 0 - 2 tahun, mulai pada masa

bayi ketika ia menggunakan pengindraan dan aktivitas motorik dalam


mengenal lingkungannya. Pada masa ini biasanya bayi keberadaannya

masih terikat kepada orang lain bahkan tidak berdaya, akan tetapi alat-alat

inderanya sudah dapat berfungsi. Tindakannya berawal dari respon refleks,

kemudian berkembang membentuk representasi mental. Anak dapat

menirukan tindakan masa lalu orang lain, dan Perkembangan kognitif anak

merancang kesadaran baru untuk memecahkan masalah dengan

menggabungkan secara mental skema dan pengetahuan yang diperoleh

sebelumnya. Dalam periode singkat antara 18 bulan atau 2 tahun, anak telah

mengubah dirinya dari suatu organisme yang bergantung hampir

sepenuhnya kepada refleks dan perlengkapan heriditer lainnya menjadi

pribadi yang cakap dalam berfikir simbolik. Menurut Piaget, perkembangan

kognitif selama stadium sensorimotor, intelegensi anak baru nampak dalam

bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulus sensorik. Dalam stadium

ini yang penting adalah tindakan-tindakan konkrit dan bukan tindakan-

tindakan yang imaginer atau hanya dibayangkan saja, tetapi secara perlahan

lahan melalui pengulangan dan pengalaman konsep obyek permanen lama-

lama terbentuk. Anak mampu menemukan kembali obyek yang

disembunyikan.

b. Tahap Praoperasional (2 - 7 tahun)

Dikatakan praoperasional karena pada tahap ini anak belum memahami

pengertian operasional yaitu proses interaksi suatu aktivitas mental, dimana

prosesnya bisa kembali pada titik awal berfikir secara logis. Manipulasi

simbol merupakan karakteristik esensial dari tahapan ini. Hal ini sering

dimanefestasikan dalam peniruan tertunda, tetapi perkembangan bahasanya

sudah sangat pesat, kemampuan anak menggunakan gambar simbolik dalam


berfikir, memecahkan masalah, dan aktivitas bermain kreatif akan

meningkat lebih jauh dalam beberapa tahun berikutnya. Sekalipun

demikian, pemikiran pada tahap praoperasional terbatas dalam beberapa hal

penting. Menurut Piaget, pemikiran itu khas bersifat egosentris, anak pada

tahap ini sulit membayangkan bagaimana segala sesuatunya tampak dari

perspektif orang lain. Berkaitan dengan masalah ini Piaget dikenal dengan

eksperimennya melalui Tiga Gunung yang sering digunakan untuk

mempelajari masalah egosentrisme. Karakteristik lain dari cara berfikir

praoperasional yaitu sangat memusat (centralized). Bila anak dikonfrontasi

dengan situasi yang multi dimentional, maka ia Perkembangan kognitif anak

akan memusatkan perhatiannya hanya pada satu dimensi dan mengabaikan

dimensi lainnya. Pada akhirnya juga mengabaikan hubungannya antara

dimensi-dimensi ini. Cara berfikir seperti ini dicontohkan sebagaimana

berikut : sebuah gelas tinggi ramping dan sebuah gelas pendek dan lebar

diisi dengan air yang sama banyaknya. Anak ditanya apakah air dalam dua

buah gelas tadi sama banyaknya ?. Anak pada tahap ini kebanyakan

menjawab bahwa ada lebih banyak air dalam gelas yang tinggi ramping tadi

karena gelas ini lebih tinggi dari yang satunya. Jadi anak belum melihat dua

dimensi secara serempak. Berfikir praoperasional juga tidak dapat dibalik

(irreversable). Anak belum mampu untuk meniadakan suatu tindakan

dengan melakukan tindakan tersebut sekali lagi secara mental dalam arah

yang sebaliknya. Dengan demikian bila situasi A beralih pada situasi B,

maka anak hanya memperhatikan situasi A, kemudian B. Ia tidak

memperhatikan perpindahan dari A ke B.

c. Tahap Operasional Konkrit (7 - 11 Tahun)


Tahap operasional konkrit dapat digambarkan pada terjadinya perubahan

positif ciri-ciri negatif tahap preoprasional, seperti dalam cara berfikir

egosentris pada tahap operasional konkrit menjadi berkurang, ditandainya

oleh desentrasi yang benar, artinya anak mampu memperlihatkan lebih dari

satu dimensi secara serempak dan juga untuk menghubungkan dimensi-

dimensi itu satu sama lain. Oleh karenanya masalah konservasi sudah

dikuasai dengan baik. Desentrasi dan konservasi ditunjukkan dalam

eksperimen Piaget yang terkenal mengenai konservasi, yaitu konservasi

cairan. Anak diperlihatkan kepada dua gelas identik, kedua gelas tadi

berisikan jumlah air yang sama banyaknya. Setelah anak mengetahui bahwa

kedua gelas berisi air berada dalam jumlah yang sama, si peneliti

menuangkan air dari satu gelas ke dalam gelas yang lebih tinggi dan kurus.

Anak kemudian ditanya, apakah gelas yang lebih tinggi itu berisikan air

dalam jumlah yang sama, lebih banyak atau lebih sedikit dibandingkan

dengan gelas yang satunya ? Perkembangan kognitif anak anak pada tahap

operasional konkrit mengetahui bahwa jumlah cairan tetap sama, bahwa

suatu perubahan dalam satu dimensi yaitu tinggi cairan di dalam gelas dapat

diimbangi dengan perubahan yang sebanding dalam dimensi lain yaitu lebar

gelas. Sama halnya ia dapat mengerti bahwa jumlah tanah liat pada sebuah

balok tidak berubah bila bentuknya diubah. Dalam eksperimen konservasi

jumlah yang tipikal, satu barisan yang terdiri dari 5 kancing dideretkan di

atas satu barisan yang juga terdiri dari 5 kancing sehingga kedua barisan

sama panjangnya. Si anak setuju bahwa kedua barisan memiliki jumlah

kancing yang sama. Namun, apabila satu barisan dipendekkan dengan jalan

merapatkan jarak kancing-kancingnya, anak praoperasional mungkin


mengatakan bahwa barisan yang panjang mempunyai kancing lebih banyak.

Anak pada tahap operasional konkrit tahu bahwa penyusunan ulang

kancing-kancing tersebut tidak mengubah jumlahnya. Menurut Piaget, anak

pada tahap ini mengerti masalah konservasi karena mereka dapat melakukan

operasi mental yang dapat dibalikan (reversable). Reversable

transformation (transformasi bolak-balik) terjadi dalam dua bentuk yaitu ;

(1) inversion (kebalikan) + A kebalikan dari - B (penjumlahan kebalikan

pengurangan, perkalian kebalikan pembagian), (2) recipocity (timbal balik),

A < B timbal balik dengan B > A (luas permukaan air pada sebuah gelas

kompensasi dari tinggi permukaan air dan tinggi permukaan air kompensasi

dari luas permukaan air). Ketika sebuah obyek mengalami perubahan

kuantitasnya tidak berubah. Hal ini oleh Piaget disebut konservasi. Seriasi

adalah satu lagi karakteristik tahap operasional konkrit yang merupakan

kemampuan menyusun obyek menurut beberapa dimensi seperti berat atau

ukuran. Seriasi mengilustrasikan penangkapan anak akan satu hal dari

prinsip logis yang penting dan disebut transivitas, yang mengatakan bahwa

ada hubungan tetap tertentu diantara kualitas-kualitas obyek. Misalnya, bila

A lebih panjang dari B, dan B lebih panjang dari C, maka A pasti lebih

panjang dari C. Anak-anak pada tahap ini tahu keabsahan kaidah itu

sekalipun mereka tidak pernah melihat obyek A, B, dan C. Kompetensi yang

oleh Perkembangan kognitif anak Piaget dinamakan seriasi sangat penting

untuk pemahaman hubungan bilangan khususnya dalam matematik.

Pemahaman lain pada tahap operasional konkrit, dapat menalar serentak

mengenai bagian dan keseluruhan yang dikenal dengan istilah inklusi kelas.

Pemahaman mengenai inklusi kelas ini mengilustrasikan prinsip logis


bahwa ada hubungan hirarkis diantara kategori-kategori. Apabila anak pada

tahap ini dihadapkan kepada delapan permen kuning dan empat permen

coklat, kemudian ditanya, “mana permen yang lebih banyak, permen kuning

atau lebih banyak permen coklat ?”. Anak yang berumur 5 tahun akan

mengatakan “lebih banyak permen kuning”. Jawaban ini menurut Piaget,

mencerminkan ketidakmampuan anak untuk bernalar mengenai bagian atau

keseluruhan secara serentak. Walaupun pada anak-anak ini lebih pesat

melampaui anak-anak praoperasional dalam penalaran, pemecahan masalah

dan logika. Pemikiran mereka masih terbatas pada operasi konkrit. Pada

tahap ini anak dapat mengkonservasi kualitas serta dapat mengurutkan dan

mengklasifikasikan obyek secara nyata. Tetapi mereka belum dapat bernalar

mengenai abstraksi, proposisi hipotesis. Jadi mereka mengalami kesulitan

untuk memecahkan masalah secara verbal yang sifatnya abstrak.

Pemahaman terakhir ini baru dicapai pada tahap oprasional formal.

d. Operasional Formal ( 11 - 16 tahun)

Pada tahap operasional formal anak tidak lagi terbatas pada apa yang dilihat

atau didengar ataupun pada masalah yang dekat, tetapi sudah dapat

membayangkan masalah dalam fikiran dan pengembangan hipotesis secara

logis. Sebagai contoh, jika A < B dan B < C, maka A < C. Logika seperti ini

tidak dapat dilakukan oleh anak pada tahap sebelumnya. Perkembangan lain

pada tahap ini ialah kemampuannya untuk berfikir secara sistematis, dapat

memikirkan kemungkinan-kemungkinan secara teratur atau sistematis

untuk memecahkan masalah. Pada tahap ini anak dapat memprediksi

berbagai Perkembangan kognitif anak kemungkinan yang terjadi atas suatu

peristiwa. Misalnya ketika mengendarai sebuah mobil dan tiba-tiba mobil


mogok, maka anak akan menduga mungkin bensinnya habis, businya atau

platinanya rusak dan sebab lain yang memungkinkan memberikan dasar atas

pemikiran terjadinya mobil mogok. Perkembangan kognitif pada tahapan ini

mencapai tingkat perkembangan tertinggi dari tahapan yang dijelaskan

Piaget. Tinjauan Perpindahan Berfikir Praoperasional ke Operasional

Konkrit Dari uraian mengenai tahap-tahap perkembangan kognitif di atas,

ada sejumlah tugas-tugas yang dapat menggambarkan perpindahan dari

berfikir praoperasional ke operasional konkrit. Tugas-tugas itu dapat

dipandang sebagai tugas-tugas kriterium, artinya bila anak dapat

menyelesaikan tugasnya maka ia ada dalam stadium operasional konkrit”.

Lebih lanjut digambarkan tugas-tugas yang dimaksudkan adalah sebagai

berikut :

1) mengatur secara serial : Pada tahapan ini bila anak diberi tugas untuk

mengatur beberapa tongkat yang berlainan panjangnya, maka pada anak

tahap praoperasional tidak mampu untuk mengatur menurut panjang dan

pendeknya tongkat tersebut. Lain halnya dengan anak yang sudah

berada pada tahap operasional konkrit, ia dapat melakukan hal seperti

itu. Kondisi ini menunjukkan bahwa anak telah memahami adanya

hubungan tetap tertentu diantara kualitas-kualitas obyek. Berfikir

relasional antara lebih tinggi, lebih pendek pada tahap operasional

konkrit telah disadari.Berfikir relasional adalah ilustrasi lain dari

kemampuan untuk memikirkan lebih dari satu peristiwa secara serentak,

karena cara berfikir ini mengisyaratkan perbandingan dua obyek atau

lebih.
2) Klasifikasi : pada tahap praoperasional umur 5 - 7 tahun, anak telah

memiliki kemampuan untuk mengklasifikasi beberapa hal sebagai

berikut :

− Semua balok dipisahkan menurut dimensi bentuk atau menurut

warnanya secara tepat. Jadi anak melihat dalam satu dimensi

Perkembangan kognitif anak.

− Belum mempunyai pengertian akan operasi logis dalam inklusi kelas,

artinya pengertian yang benar mengenai hubungan antara bagian-

bagian daripada keseluruhan, antara keseluruhan dan bagian-bagian,

dan di antara bagian dan bagian. Ketidakmampuan pada umur 5 - 7

tahun untuk mengerti hal ini diterangkan Piaget dengan hipotesa

bahwa anak belum dapat menilai dua macam dimensi yang berbeda

(di sini keseluruhan dan bagian) dalam satu situasi pengamatan yang

sama.

− Perolehan tentang inklusi kelas pada tahap operasional konkrit dicapai

dengan baik antara usia 8 tahun.

3) Konservasi : Kemampuan dalam konservasi jumlah, panjang,

substansi/isi, berat,banyak air dan volume air dan luas belum dicapai

pada tahap preoprasional, dan baru dipahami pada tahap operasional

konkrit.

4) berfikir egosentris : Pada tahap preoprasional dikatakan cenderung

bersifat egosentris, dimana anak belum mampu melihat sesuatu dari

sudut perspektif orang lain. Pembuktian ini dilakukan Piaget melalui tes

tiga gunung. Pada tahap operasional konkrit anak sudah mulai

melepaskan dan dapat melihat sebagaimana adanya yang dilihat orang


lain. Pernyataan ini telah banyak dibantah orang, seperti yang

dibuktikan Margaret Donalson (1978) dengan menggunakan alat papan

menyilang dan tiga geometri (tiga dimensi) sebagai modifikasi dari tiga

tes tiga gunung.

B. Tinjauan Umum Tentang Terapi Musik

1) Terapi Musik

1.Definisi Musik

Ada beberapa definisi dan pendapat mengenai musik menurut

beberapa filsuf, penulis, musikolog maupun penyair, diantaranya adalah

sebagai berikut :11

a. Schopenhauer, seorang filsuf dari jerman pada abad ke-19, yang

mengatakan bahwa musik adalah melodi yang syairnya adalah alam

semesta.

b. David Ewen, mendefinisikan musik sebagai ilmu pengetahuan dan seni

tentang kombinasi titik dari nada-nada, baik vocal maupun instrumental.

Musik meliputi melodi dan harmoni sebagai ekspresi dari segala sesuatu

yang ingin diungkapkan terutama aspek emosional. c. Suhastjarja,

seorang dosen senior Fakultas Kesenian Institut Seni Indonesia

Yogyakarta, mengemukakan pendapatnya mengenai musik adalah

ungkapan rasa indah manusia dalam bentuk konsep pemikiran yang

bulat, dalam wujud nada-nada atau bunyi lainnya yang mengandung

ritme dan harmoni serta mempunyai suatu bentuk dalam ruang waktu

yang dikenal oleh diri sendiri dan manusia lain dalam lingkungan

hidupnya sehingga dapat dimengerti dan dinimkatinya.


d. Dello Joio, seorang komponis Amerika, memberikan pendapatnya

tentang musik yaitu bahwa mengenal musik dapat memperluas

pengetahuan dan pandangan selain juga mengenal banyak hal lain diluar

musik. Pengenalan terhadap musik akan menumbuhkan rasa

penghargaan akan nilai seni, selain menyadari akan dimensi lain dari

suatu kenyataan yang selama ini tersembunyi.

e. Adjie Esa Poetra, seorang musisi dari Indonesia, mendefinisikan musik

adalah kesenian yang bersumber dari bunyi. Menurutnya ada empat

unsur dalam musik, yaitu dinamik (kuat lemahnya bunyi), nada (bunyi

yang teratur), unsur waktu (panjang pendek suatu bunyi yang ditentukan

dari hitungan atau ketukan nada), dan timbre (warna suara).

2. Definisi Terapi Musik

Terapi musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental

dengan rangsangan suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk

dan gaya yang diorganisir sedemikian rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat

untuk kesehatan fisik dan mental.Musik memiliki kekuatan untuk mengobati

penyakit dan meningkatkan kemampuan pikiran seseorang. Ketika musik

diterapkan menjadi sebuah terapi, musik dapat meningkatkan, memulihkan, dan

memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual. Hal ini

disebabkan musik memiliki beberapa kelebihan, yaitu karena musik bersifat

nyaman, menenangkan, membuat rileks, berstruktur, dan universal. Perlu diingat

bahwa banyak dari proses dalam hidup kita selalu ber-irama. Sebagai contoh, nafas

kita, detak jantung, dan pulsasi semuanya berulang dan berirama.Terapi musik

adalah terapi yang universal dan bisa diterima oleh semua orang karena kita tidak

membutuhkan kerja otak yang berat untuk menginterpretasi alunan musik. Terapi
musik sangat mudah diterima organ pendengaran kita dan kemudian melalui saraf

pendengaran disalurkan ke bagian otak yang memproses emosi (sistem

limbik).Pengaruh musik sangat besar bagi pikiran dan tubuh manusia. Contohnya,

ketika seseorang mendengarkan suatu alunan musik (meskipun tanpa lagu), maka

seketika orang tersebut bisa merasakan efek dari musik tersebut. Ada musik yang

membuat seseorang gembira, sedih,terharu, terasa sunyi, semangat, mengingatkan

masa lalu dan lain-lain.Salah satu figur yang paling berperan dalam terapi musik di

awal abad ke-20 adalah Eva Vescelius yang banyak mempublikasikan terapi musik

lewat tulisan-tulisannya. Ia percaya bahwa objek dari terapi musik adalah

melakukan penyelarasan atau harmonisasi terhadap seseorang melalui vibrasi.

Demikian pula dengan Margaret Anderton, seorang guru piano berkebangsaan

Inggris, yang mengemukakan tentang efek alat musik (khusus untuk pasien dengan

kendala psikologis) karena hasil penelitiannya menunjukkan bahwa timbre (warna

suara) musik dapat menimbulkan efek terapeutik.

C. Tinjauan Umum Tentang Anak Usia Pra-Sekolah

1). Pengertian

UNESCO dengan persetujuan negara-negara anggotanya membuat

International Standard Classification of Education (ISCED) dengan klasifikasi

penjenjangan mulai dari prasekolah sampai dengan pendidikan tinggi. Jenjang

Prasekolah (Level 0) disebut juga sebagai pendidikan usia dini. Pendidikan

prasekolah adalah pendidikan bagi anak usia 3-5 tahun. Beberapa negara

memulai lebih awal (2 tahun) dan beberapa negara lain mengakhiri lebih

lambat (6 tahun). Dinyatakan pula bahwa untuk beberapa negara pendidikan

usia dini termasuk baik pendidikan prasekolah maupun pendidikan dasar


(Harianti, 2003).

Anak usia prasekolah adalah anak usia 3-5 tahun saat dimana sebagian

besar sistem tubuh telah matur dan stabil serta dapat menyesuaikan diri

dengan stres dan perubahan yang moderat. Selama periode ini sebagian besar

anak sudah menjalani toilet training (Wong, 2008).Anak usia prasekolah

adalah anak berusia 3-6 tahun yang merupakan sosok individu, makhluk sosial

kultural yang sedang mengalami suatu proses perkembangan yang sangat

fundamental bagi kehidupan selanjutnya dengan memiliki sejumlah potensi

dan karakteristik tertentu (Snowman, 2003).

Menurut Hurlock (2001), mengatakan bahwa usia prasekolah adalah usia 3-5

tahun dan merupakan kurun yang disebut sebagai masa keemasan (the golden

age). Di usia ini anak mengalami banyak perubahan baik fisik dan mental,

dengan karakteristik sebagai berikut, berkembangnya konsep diri, munculnya

egosentris, rasa ingin tahu, imajinasi, belajar menimbang rasa, munculnya

kontrol internal (tubuh), belajar dari lingkungannya, berkembangnya caraa

berfikir,berkembangnya kemampuan berbahasa, dan munculnya perilaku

(Wong, 2008).

Dengan demikian anak usia prasekolah adalah usia 3-5 tahunanak mengalami

perubahan baik fisik dan mental, dengan karakteristik sebagai berikut,yang

berada pada tahap perkembangan awal masa kanak-kanak, yang memiliki

karakteristik berpikir daya imajinasi yang kaya dan munculnya perilaku.

a) Karakteristik ciri-ciri Anak Prasekolah Menurut Hurlock (2001) ciri-ciri

anak prasekolah meliputi fisik, motorik, intelektual dan sosial. Ciri fisik

anak prasekolah yaitu :

a. Otot-otot lebih kuat dan pertumbuhan tulang menjadi besar dan keras.
b. Anak prasekolah mempergunakan gerak kasar seperti berlari, berjalan,

memanjat, dan melompat sebagai bagian dari permainan mereka.

c. Kemudian secara motorik anak mampu memanipulasi obyek kecil,

menggunakan balok-balok dengan berbagai ukuran dan bentuk.

d. Selain itu juga anak mempunyai rasa ingin tahu, rasa emosi, iri, dan

cemburu. Hal ini timbul karena anak tidak memiliki hal-hal yang dimiliki

oleh teman sebayanya.

e. Sedangkan secara sosial anak mampu menjalani kontak sosial dengan

orang-orang yang ada diluar rumah, sehingga anak mempunyai minat

yang lebih untuk bermain pada temannya, orang-orang dewasa, dan

saudara kandung di dalam keluarganya.

2). Aspek-Aspek Perkembangan Pada Usia Anak Pra Sekolah

Perkembangan adalah perubahanpsikologis sebagai hasil dari proses

pematangan fungsi psikis dan fisik pada diri anak, yang ditunjang oleh

factorlingkungan dan proses belajar dalam peredaran waktu tertentu menuju

kedewasaan. Perawatan dan pendidikan merupakan rangsangan dari lingkungan

yang banyak berpengaruh dalam kehidupan anak menuju kedewasaan.Sumber

rangsangan tersebut terhadap wawasan.Sumber rangsanan tersebut terdapat di

lingkungan hidup dimana orangtua merupakan faktor pertama-tama yang

bertanggung jawab dalam mengatur,mengkoordinasi rangsangan-rangsangan

tersebut (Yanti, 2011).

Menurut Santrock (Rahman, 2009) adapun karakteristik perkembangan

anak usia dini dapat dilihat sebagai berikut:

1. Perkembangan Fisik-Motorik Pertumbuhan fisik pada setiap anak tidak selalu


sama. Ada yang mengalami pertumbuhan secara cepat, ada pula yang

lambat.Pada masa kanak kanak pertambahan tinggi dan pertambahan berat

badan relatif seimbang.Perkembangan motorik anak terdiri dari dua, ada yang

kasar dan ada yang halus.

a. Perkembangan motorik kasar

Perkembangan motorik kasar seorang anak pada usia 3 tahun adalah :

1. melakukan gerakan sederhana seperti berjingkrak,

2. melompat, berlari ke sana ke mari dan ini menunjukkan kebanggaan

dan prestasi.

3. Sedangkan usia 4 tahun, si anak tetap melakukan gerakan yang sama,

tetapi sudah berani mengambil resiko seperti jika si anak dapat naik

tangga dengan satu kaki lalu dapat turun dengan cara yang sama dan

memperhatikan waktu pada setiap langkah.

4. Lalu, pada usia 5 tahun si anak lebih percaya diri dengan mencoba untuk

berlomba dengan teman sebayanya atau orang tuanya.

5. Sebagian ahli menilai bahwa usia 3 tahun adalah usia bagi anak dengan

tingkat aktivitas tertinggi dari seluruh masa hidup manusia. Sebab

tingkat aktivitas yang tinggi dan perkembangan otot besar mereka

(lengan dan kaki) maka anak-anak pra sekolah perlu olah raga seharí-

hari.

Anak-anak pra sekolah mengalami kemajuan yang luar biasa dalam

kemampuan motorik kasar, seperti berlari dan melompat yang melibatkan

penggunaan otot besar (Papalia,2009).

b. Perkembangan motorik halus.

Adapun perkembangan keterampilan motorik halus dapat dilihat pada usia


3 tahun yakni :

1. kemampuan anak-anak masih terkait dengan kemampuan untuk

menempatkan dan memegang benda-benda.

2. Pada usia 4 tahun, koordinasi motorik halus anak-anak telah semakin

meningkat dan menjadi lebih tepat seperti bermain balok, kadang sulit

menyusun balok sampai tinggi sebab khawatir tidak akan sempurna

susunannya.

3. Sedangkan pada usia 5 tahun, mereka sudah memiliki koordinasi mata

yang bagus dengan memadukan tangan, lengan, dan anggota tubuh lain

nya untuk bergerak.

4. Hal ini tidak terlepas dari ciri anak yang selalu bergerak dan selalu ingin

bermain sebab dunia mereka adalah dunia bermain dan merupakan proses

belajar.

5. Mulai sejak si anak membuka mata di waktu pagi sampai menutup mata

kembali di waktu malam, semua kegiatannya dilalui dengan bergerak, baik

bolak-balik, berjingkrak, berlari maupun melompat. Dalam kaitan ini, anak

bukanlah miniatur orang dewasa karena mereka melakukan aktivitas

berdasarkan kematangan dan kemampuan yang sesuai usianya. kemampuan

motorik halus seperti mengancingkan baju, menggambar (Papalia,2009).

2. Perkembangan Sosio Emosional Para psikolog mengemukakan bahwa terdapat

tiga tipe temperamen anak, yaitu:

a. Pertama, anak yang mudah diatur, mudah beradaptasi dengan pengalaman

baru, senang bermain dengan mainan baru, tidur dan makan secara teratur dan

dapat meyesuaikan diri dengan perubahan di sekitarnya.


b. Anak yang sulit diatur seperti sering menolak rutinitas sehari-hari, sering

menangis, butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan dan gelisah saat

tidur.

c. Anak yang membutuhkan waktu pemanasan yang lama, umumnya terlihat

agak malas dan pasif,jarang berpartisipasi secara aktif dan seringkali

menunggu semua hal diserahkan kepadanya.

Secara umum, aspek-aspek perkembangan pada usia anak pra sekolah ini

dapat diuraikan sebagai berikut (Fitria, 2013) :

a. Perkembangan fisik

Perkembangan fisik merupakan dasar bagi kemajuan perkembangan

berikutnya.Seiring meningkatnya pertumbuhan tubuh, baik menyangkut berat

badan dan tinggi, maupun tenaganya, memungkinkan anak untuk lebih

mengembangkan keterampilan fisiknya dan eksplorasi terhadap lingkunga tanpa

bantuan orang tua. Pada usia ini banyak perubahan fisiologis seperti :

1) Pernapasan yang menjadi lebih lambat dan dalam serta denyut jantung

lebih lama dan menetap.

2) Proporsi tubuh juga berubah secara dramatis seperti pada usia 3 tahun,

rata-rata tingginya sekitar 80-90 cm dan beratnya sekitar 10-13 kg,

sedangkan pada usia 5 tahun tingginya dapat mencapai 100-110 cm.

3) Tulang kakinya tumbuh dengan cepat dan tulang-tulang semakin besar dan

kuat.

4) Pertumbuhan gigi semakin komplit. Untuk perkembangan fisik anak sangat

diperlukan gizi yang cukup seperti protein, vitamin, dan mineral dsb.
b. Perkembangan Intelektual

Menurut Piaget, perkembangan kognitif pada usia ini berada pada

periode preoperasional, yaitu tahapan dimana anak belum mampu menguasai

operasi mental secara logis. Periode ini juga ditandai dengan berkembangnya

representasional atau symbolic function yaitu kemampuan menggunakan sesuatu

untuk mempresentasikan sesuatu yang lain :

1). Menggunakan simbol-simbol seperti bahasa, gambar, isyarat, benda, untuk

melambangkan sesuatu atau peristiwa.

2). Melalui kemampuan diatas, anak mampu berimajinasi atau berfantasi

tentang berbagai hal.

3). Dapat menggunakan kata-kata, benda untuk mengungkapkan lainnya atau

suatu peristiwa.

c. Perkembangan Emosional

Pada usia 4 tahun, anak sudah mulai menyadari akunya, bahwa akunya

(dirinya) berbeda dengan Aku (orang lain atau benda). Kesadaran ini diperoleh

dari pengalaman bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi orang

lain.Bersamaan dengan itu berkembang pula perasaan harga diri. Jika

lingkungannya tidak mengakui harga dirinya seperti memperlakukan anak

dengan keras, atau kurang menyayanginya maka dalam diri anak akan

berkembang sikap-sikap keras kepala, menentang, atau menyerah dengan

terpaksa.Beberapa emosi umum yang berkembang pada masa anak yaitu :

1) Takut (perasaan terancam),

2) Cemas (takut karena khayalan), marah (perasaan kecewa),

3) Cemburu (merasa tersisihkan),

4) Kegembiraan (kebutuhan terpenuhi),


5) Kasih sayang (menyenangi lingkungan),

6) Phobi (takut yang abnormal), ingin tahu (ingin mengenal).

d. Perkembangan Bahasa

Perkembangan bahasa anak prasekolah, dapat diklasifikasikan kedalam

dua tahap (sebagai kelanjutan dari dua tahap sebelumnya). Masa Ketiga (2,02,6

tahun) bercirikan:

a. Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat tunggal yang sempurna.

b. Anak sudah mampu memahami memahami tetang perbandingan.

c. Anak banyak menanyakan tempat dan nama; apa, dimana, darimana, dsb.

d. Anak sudah mulai menggunakan kata-kata berawalan dan berakhiran.


BAB III

METODOLGI PENELITIAN

A. Jenis dan desain penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian quasy

eksperimen. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah “one group pre-test

dan post test”. Penelitian ini tidak melibatkan klompok pembanding (control) tetapi

paling tidak sudah dilakukan observasi pertama (pre test) yang memungkinkan penguji

perubahan perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen (notoatmojo,2012).

B. Lokasi dan waktu penelitian

1. Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di TK Kartika pekanbaru.

2. Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan januari 2018.

C. Populasi dan subjek penelitian

Populasi merupakan seluruh subjek untuk objek dengan karakteristik tertentu yang akan

di teliti (notoatmojo2012). Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa siswi yang

berada di TK Kartika pekanbaru.

D. Besar sample

Sample adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti yang

dianggap mewakili seluruh populasi (notoadmojo20120. Pengambilan sample

berdasarkan distribusi normal dengan central limit deorem. Teori ini menunjukan

bahwa sample penelitian tersebut dengan sample besar jika subjek yang diteliti besar

dari 30 orang yang akan menghasilkan atau mendekati distribusi normal

(sarwono2008). Pada penelitian ini yang mnjadi sample adalah sebanyak 20 orang.
Dalam penelitian ini,pengambilan sample menunjukan beberapa kriteria inklusi

diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Anak anak bersedia menjadi responden.

2. Anak anak mampu berkomunikasi dengan baik.

3. Anak anak memilikikognitif yang baik dibuktikan dengan short portable mental

status questioner(SPMSQ).

E. Teknik sampling

Teknik sampling merupakan cara yang ditempuh dalam pengambilan sample agar

memperoleh sample yang benar benar sesuai dengan keseluruhan subjek penelitian

(Nursallam,2013). Pada penelitian ini teknik sample yang digunakan adalah purposive

sampling yaitu didasarkan pada suatu pertimbangan tertntu yang dibuat oleh peneliti

sendiri, berdasarkan ciri atau sifat sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya

(notoadmojo,2012).

F. Variable penelitian dan Definisi operasional

1. Variabel

Variabel adalah suatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang

memiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu konsep

pengertian tertentu (notoatmojo,2012). Variable yang digunakan pada

penelitian ini adalah terapi music pada perkembangan kognitif anak di usia pra

sekolah.

2. Definisi operasional

Untuk membatasi ruang lingkup atau pngertian variable variable yang diteliti,

perlu sekali variable variable tersebut diberi batasan atau definisi operasional.

Definisi operasional ini juga bermanfaat untuk mengarhkan pada pengukuran


atau pengamatan terhadap variable variable yang bersangkutan serta

perkembangan instrument atau alat ukur (notoatmojo,2012).

G. Etika Penelitian

Peneliti dalam menjalankan tugas meneliti atau melakukan penelitian hendaknya

memegang teguh sikap ilmiah (scientific attitude) serta berpegang tguh pada etika

penelitian, meskipun mungkin penelitian yang dilakuka tidak akan merugukan atau

membahayakan bagi subjek peneliti ( notoadmojo, 2012). Masalah etika yang harus di

perhatikan antara lain adalah sebagai berikut :

1. Menghormati harkat dan martabat manusia ( respect for human dignity)

Peneliti perlu mempertimbangkan hak hak subjek penelitian untuk mendapatkan

informasi tentang tujuan peneliti melakukan penelitian tersebut. Disamping itu

peneliti juga memberikan kebebasan kepada subjek untuk berpatisipasi atau tidak

berpatisipasi. Sebagai ungkapan, peneliti menghormati harkat dan martabat subjek

penelitian. Peneliti harus mempersiapkan lembar persetujuan subjek (inform

consent).

2. Menghormati privasi dan kerahasian ( respect for privacy and confidentiality)

Setiap orang mempunyai hak hak dasar individu termasuk privasi dan kebebasan

individu dalam memberikan informasi. Setiap orang berhak untuk tidak

memberikan apa yang diketahuinya kepada orang lain. Oleh sebab itu, peneliti tidak

boleh menampilkan informasi menganai identitas dan kerahasian identitas subjk.

Peneliti cukup menggunakan coding sebagai pengganti identitas responden.

3. Keadilan dan inklusivitas atau keterbukaan ( respect for justice an inclusivinness)

Prinsip ketrbukaan dan adil dijaga oleh peneliti dengan kejujuran, keterbukaan dan

kehati hatian. Untuk itu, lingkungan penelitian perlu dikondisikan sehingga

memenuhi prinsip keterbukaan, yakni dengan menjelaskan prosedur penelitian.


Prinsip keadilan ini menjamin bahwa semua objek penelitian memperoleh

perlakuan dan keuntungan yang sama,tanpa membedakan gender,agama, etnis dsb.

4. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing harms and

benefis)

Sebuah penelitian hendaknya memperoleh manfaat semaksimal mungkin bagi

masyarakat pada umunya dan subjek penelitian pada khususnya. Peneliti hendaknya

berusaha meminimalisasi dampak yang merugikan bagi subjek. Oleh sebab itu,

pelaksanaan penelitian harusdapat mencegah atau paling tidak mengurangi rasa

sakit, cidera ,stress maupun kematian subjek penelitian.

H. Jenis dan Pengumpulan Data

1. Jenis Data

a. Data Primer

Data primer adalah pengambilan data yang dihimpun langsung oleh peneliti.

Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara pemberian pertanyaan tentang

variable-variabel yang diteliti kepada responden.

b. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui pihak kedua. Pada penelitian

ini yang menjadi data sekunder adalah dokumen atau laporan yang diperoleh

dari TK Kartika pekanbaru.

2. Pengumpulan data

a. Tahap persiapan

Pada tahap persiapan, peneliti terlebih dahulu menentukan masalah penelitian,

kemudian dilanjutkan dengan mencari studi pendahuluan. Selanjutnya peneliti

menyusun proposal untuk mendapatkan persetujuan dari pembimbing dan izin

penelitian dari pihak program studi Ilmu Keperawatan STIKes PMC. Kemudian
peneliti mengurus surat permohonan izin untuk melakukan penelitian di TK

KARTIKA Pekanbaru.

b. Tahap Pelaksanaan

Penatalaksanaan ini dilakukan selama 12 hari. Peneliti dibantu oleh 5 orang

asisten yang merupakan mahasiswa keperawatan. Sebelum melakukan

penelitian, asisten terlebih dahulu di ajarkan oleh peneliti bagaimana cara

memberikan terapi music klasik melalui mp3 kepada anak.

Pada hari pertama sampai hari ketiga peneliti berkomunikasi secara langsung

dengan anak untuk mendapatkan informasi mengenai tingkat perkembangan

kognitif anak (pre-test). Anak yang mengalami gangguan perkembangan

kognitif akan di uji daya ingatnya dengan menggunakan short portable mental

status questionare (SPMSQ). Selanjutnya peneliti meminta kesediaan anak

untuk menjadi responden. Jika anak bersedia menjadi responden, peneliti

meminta anak untuk mendaftarkan di informed consent.

Anak yang bersedia menjadi responden akan diberi penjelasan mengenai tujuan

dan manfaat penelitian. Peneliti membuat kontrak waktu kepada responden

untuk melaksanakan terapi music klasik pada saat proses belajar berlangsung

selama kurang lebih 10 menit dan dilakukan selama tiga hari.

Hari keempat sampai hari keenam, peneliti datang ke TK KARTIKA Pekanbaru

dibantu oleh lima orang asisten. 1 orang asisten dan peneliti memegang 4 orang

responden. Selama tiga hari peneliti dan asisten melakukan terapi music klasik

kepada 20 responden. Selanjutnya, anak yang telah bersedia menjadi responden

diminta untuk duduk ditempat duduk dengan posisi nyaman dan rileks. Peneliti

menghidupkan music klasik Mozart melalui mp3 selama kurang lebih 10 menit.
Setelah dilakukan terapi music klasik selama tiga hari, peneliti meminta anak

untuk mengulang