Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Diagnosa keperawatan adalah suatu bagian integral dari proses keperawatan. Hal ini
merupakan suatu komponen dari langkah-langkah analisa, dimana perawat mengidentifikasi
respon-respon individu terhadap masalah-masalah kesehatan yang aktual dan potensial.
Dibeberapa negara mendiagnosa diidentifikasikan dalam tindakan praktik keperawatan
sebagai suatu tanggung jawab legal dari seorang perawat profesional. Diagnosa keperawatan
memberikan dasar petunjuk untuk memberikan terapi yang pasti dimana perawat bertanggung
jawab di dalamnya.

Berdasarkan pengertian, diagnosa keperawatan berperan penting dalam memberikan


arahan intervensi apa yang akan di berikan perawat kepada pasien secara profesional, dengan
tujuan utama untuk meningkatkan mutu kesehatan pasien. Diagnosa keperawatan di pilih
berdasarkan urgenitas keadaan yang pasien alami, keadaan urgen tersebutlah yang akan
diangkat menjadi diagnosa utama dan menjadi acuan intervensi yang akan dilaksanakan.

Didalam masalah keperawatan gangguan persepsi sensori terdapat 10 diagnosa utama


yang sering digunakan perawat. Hal ini penting diketahui perawat, agar perawat mampu
menangani berbagai pasien yang memiliki masalah gangguan persepsi sensori, sehingga
intervensi terhadap pasien bisa lebih terstruktur, terarah dan lebih baik.

b. Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui diagnosa – diagnosa keperawatan utama yana akan diberikan kepada
pasien dengan gangguan persepsi sensori.

1
BAB II

ISI

2.1 Diagnosa : Gangguan persepsi – sensori perseptual pendengaran

Definisi : Suatu keadaan dimana seserang mengalami suatu perubahan dalam jumlah atau
pola rangsangan yang diterima yang disertai dengan penyusutan, pelebihan, penyimpangan,
atau berkurangnya respon terhadap rangsangan tersebut.

Batasan karakteristik :

 Perubahan pola prilaku


 Berubahnya ketajaman panca indera
 Berubahnya respon terhadaprangsangan
 Ansietas
 Komunaki yang lemah
 Gangguan pendengaran
 Distorsi panca indera

Nursining Outcome Classification (NOC)

 Kompensasi tingkah laku pendengaran

Definisi : kegiatan untuk mengontrol dan mengganti rusaknya pendengaran

Indikator :

- Pantau gejala kerusakan pendengaran


- Posisi tubuh untuk memudahkan pendengaran
- Menghilangkan ganguan
- Membaca gerakan bibir
- Mengingatkan yang lain untuk menggunakan teknik yang menguntungkan
pendengaran
- Menggunakan bahasa isyarat

2
 Kontrol kecemasan

Definisi : tindakan seseorang untuk menghilangkan dan mengurangi perasaan ketakutan


dan tertekan yang sumbernya tidak bisa diidentifikasi

Indikator :

- Memantau intensitas kecemasan


- Menghilangkan poncetus kecemasan
- Mencari informasi untuk mengurangi kecemasan
- Menggunakan strategi koping yang efektif

 Kontrol resiko : melemahnya indera pendengaran

Definisi : tindakan untuk mencegah menghilangkan atau mengurangi ancaman terhadap


fungsi pendengaran

Indikator :

- Pantau terjadinya tanda kerusakan pendengaran


- Menjaga integritas gendang telinga
- Menghindari trauma pada telinga
- Menjauhi paparan kebisingan

Nursing Interventions Classification (NIC)

1. Peningkatan komunikasi : defisit pendengaran

Definisi : memberi bantuan dalam menerima dan mempelajari metode


alternatif/pengganti untuk hidup dengan pendengaran yang rusak

Aktivitas :

 Janjikan untuk mempermudah pemeriksaan pendengaran sebagaimana mestinya


 Memfasilitasi penggunaan alat bantu sewajarnya
 Beritahu pasien bahwa suara akan terdengar berbeda dengan memakai alat bantu
 Jaga kebersihan alat bantu
 Periksa secara rutin baterai alat bantu
3
 Berikan pengarahan yang sederhana pada suatu waktu
 Mendengar dengan penuh perhatian
 Menahan diri dari berteriak pada pasien yang mengalami gangguan komunikasi
 Gunakan kata yang sederhana dan kalimat yang pendek sewajarnya
 Meningkatkan volume suara sewajarnya
 Dapatkan perhatian pasien melalui sentuhan
 Gunakan kertas, pensil, komputer, bila perlu
 Memfasilitasi lokasi penggunaan alat bantu

2. TERAPI AKTIVITAS

Defenisi: Pengaturan kegiatan fisik, kognitif, sosial dan spiritual untuk meningkatkan
frekuensi durasi aktivitas seseorang/kelompok

Aktivitas:

 Kolaborasi dengan terapis dalam merncanakan dan memonitor program aktivitas


 Meningkatkan komitmen pasien dalam beraktivitas
 Membantu mengekplorasi aktivitas yang bemanfaat bagi pasien
 Membantu mengidentifikasi sumberdaya yang dimiliki dalam beraktivitas
 Membantu mengidentifikasi aktivitas yang disukai
 Membantu pasien/keluarga dalam beradaptasi dengan lingkungan
 Membantu menyusun aktivitas fisik
 Pastikan lingkungan aman untuk pergerakan otot
 Berikan reinforcemen positif selama beraktivitas
 Monitor respon emosional, fisik, sosial dan spiritual

3. Perawatan telinga

Definisi : mencegah atau meminimalkan ancaman bagi telinga atau pendengaran.

Aktivitas :

 Mengatur posisi sehingga telinga tetap sejajar dengan kepala


 memantau drainase dari telinga yang sesuai
4
 melakukan irigasi telinga yang sesuai
 menghindari menempatkan benda-benda tajam di dekat telinga
 mengelola obat tetes telinga yang sesuai
 menjelaskan hubungan antara keseimbangan dan telinga bagian dalam yang sesuai
 menentukan apakah cerumen di liang telinga menyebabkan nyeri atau gangguan
pendengaran
 memantau frekuensi infeksi telinga
 menginstruksikan bagaimana memantau dan mengatur volume tinggi paparan
kebisingan

2.2 Diagnosa : Gangguan Persepsi Sensori-Perseptual Penglihatan

Definisi : Defenisi: Suatu keadaan dimana seserang mengalami suatu perubahan dalam
jumlah atau pola rangsangan yang diterima yang disertai dengan penyusutan, pelebihan,
penyimpangan, atau berkurangnya respon terhadap rangsangan tersebut.

Batasan karakteristik:

1. Perubahan pola perilaku


2. Perubahan kemampuan menyelesaikan masalah
3. Perubahan ketajaman sensori
4. Perubahan respon terhadap rangsangan
5. Disorientasi
6. Halusinasi
7. Gangguan komunikasi
8. Iritabilitas
9. Kurang konsentrasi
10. Kegelisahan
11. Distorsi sensori

Faktor yang berhubungan:

1. Integrasi sensori diubah


2. Penerimaan sensori diubah
3. Transmisi sensori diubah

5
4. Ketidakseimbangan biokimia
5. Ketidakseimbangan elektrolit
6. Rangsangan lingkungan yang berlebihan
7. Rangsangan lingkungan yang tidak cukup
8. Gangguan psikis

NOC:

1. Fungsi sensori : penglihatan

Indikator :

1. Ketajaman penglihatan pusat (kiri)


2. Ketajaman penglihatan pusat (kanan)
3. Ketajaman penglihatan sekitar (kiri)
4. Ketajaman penglihatan sekitar (kanan)
5. Lapang pandang pusat (kiri)
6. Lapang pandang pusat (kanan)
7. Lapang pandang sekitar (kiri)
8. Lapang pandang sekitar (kanan)
9. Respon untuk rangsangan penglihatan

2. Kompensasi tingkah laku penglihatan


Indikator:
1. Monitor gejala dari kemunduran penglihatan
2. Posisikan sendiri untuk kebaikan penglihatn
3. Mengingatkan untuk menggunakan teknik penglihatan
4. Menggunakan cahaya yang adekuat dalam melakukan aktifitas
5. Menggunakan kacamata dengan benar
6. merawat kacamata dengan benar
7. Menggunakan kontak lensa dengan benar
8. Menggunakan tulisan

Nursing Intervention Classification (NIC)


6
1. Peningkatan komunikasi : defisit penglihatan

Definisi : membantu dalam menerima dan mempelajari metode alternatif untuk hidup
dengan gangguan penglihatan

Aktivitas :

1. Catat reaksi pasien terhadap rusaknya penglihatan (misal, depresi, menarik diri, dan
menolak kenyataan)
2. Menerima reaksi pasien terhadap rusaknya penglihatan
3. Andalkan penglihatan pasien yang tersisa sebagaimana mestinya
4. Sediakan kaca pembesar atau kacamata prisma sewajarnya untuk membaca
5. Sediakan bahan bacaan Braille, sebagaimana perlunya
6. Bacakan surat, koran, dan informasi lainnya pada pasien

2. Terapi kegiatan

Definisi : Pengaturan kegiatan fisik, kognitif, sosial dan spiritual untuk meningkatkan
frekuensi durasi aktivitas seseorang/kelompok

Aktivitas :
1. Bekerjasama dengan tenaga kesehatan, dokter, dan/atau ahli terapis dalam
merencanakan dan memantau kegiatan program sebaimana mestinya
2. Tentukan komitmen pasien untuk meningkatkan frekuensi dan/atau jangkauan
kegiatan
3. Bantu untuk menemukan makna diri melalui aktivitas yang biasa (misalnya bekerja)
dan/atau aktivitas liburan yang disukai
4. Bantu memilih kegiatan yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi, dan social
5. Bantu untuk memfokuskan pada apa yang dapat dilakukan pasien bukan pada
kelemahan pasien
6. Bantu mengidentifikasi dan memperoleh sumber daya yang diperlukan untuk kegiatan
yang dikehendaki

7
3. Pencegahan Jatuh

Definisi : memulai tindakan pencegahan khusus pada pasien dengan resiko cedera karena
jatuh

Aktivitas :

 Identifikasi kelemahan kognisi dan fisik pada pasien yang barangkali meningkatkan
potensi untuk jatuh pada lingkungan tertentu
 Identifikasi karakteristik lingkungan yang mungkin meningkatkan potensi untuk jatuh
(misal ,lantai licin dan jenjang yang terbuka)
 Pantau kecepatan, keseimbangan, dan tingkat kelelahan pada berjalan
 Bantu individu yang tak kuat berdiri dengan berjalan
 Sediakan alat bantu (misal, tongkat dan alat bantu berjalan) untuk gaya berjalan yang
kokoh
 Pelihara alat bantu supaya berfungsi dengan baik
 Kunci roda pada kursi roda, tempat tidur, atau gurney selama memindahkan pasien
 Letakkan artikel pada tempat yang mudah dijangkau oleh pasien
 Instruksikan pasien agar memanggil bantuan dalam bergerak jika diperlukan
 Ajarkan pasien bagaimana cara jatuh untuk meminimalkan cedera
 Tempatkan tanda-tanda untuk mengingatkan pasien untuk memanggil bantuan ketika
keluar dari tempat tidur jika diperlukan

2.3 Diagnosa : Nyeri akut

Defenisi: Pengalaman emosional dan sensori yang tidak menyenangkan yang muncul dari
kerusakan jaringan secara aktual dan potensial atau menunjukkan adanya kerusakan
(Assosiation for Study of Pain) : serangan mendadak atau perlahan dari intensitas ringan
sampai berat yang diantisipasi atau diprediksi durasi nyeri kurang dari 6 bulan.

Batasan Karakteristik:

 Melaporkan nyeri secara verbal dan nonverbal


 Menunjukkan kerusakan
 Posisi untuk mengurangi nyeri
8
 Gerakan untuk melindungi
 Tingkah laku berhati-hati
 Muka topeng
 Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai)
 Fokus pada diri sendiri
 Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses berfikir, penurunan
interaksi dengan orang dan lingkungan )
 Tingkah laku distraksi (jalan-jalan, menemui orang lain, aktifitas berulang)
 Respon otonom (diaporesis, perubaha tekanan darah, perubahan nafas, nadi dilatasi
pupil)
 Perubahan otonom dalam tonus otot (dalam rentang lemah ke kaku)
 Tingkah laku ekspresif (gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas panjang,
mengeluh)
 Perubahan dalam nafsu makan

Faktor yang berhubungan :

 Agen cedera (biologi, psikologi, kimia, fisika)

Nursing Outcome Classification (NOC)


1. Kontrol nyeri
Definisi : Perilaku seseorang untuk mengontrol nyeri
Indikator :
 Menilai faktor penyebab
 Menghitung lamanya nyeri
 Gunakan ukuran pencegahan
 Pengurangan nyeri dengan non analgesik
 Gunakan ttv memantau perawatan
 Penggunaan analgesik
 Laporkan tanda dan gejala nyeri pada petugas kesehatan

9
2. Tingkatan nyeri
Definisi : Seberapa besar seseorang melaporan dan mendemontrasian nyeri
Indikator :
 Melaporkan nyeri
 Respon tubuh
 Panjangnya episode nyeri
 Eksperesi wajah saat nyeri
 Melindungi bagian yang nyeri
 Gelisah

Nursing Intervention Classification (NIC)


1. MANAJEMEN NYERI

Defenisi : Pengurangan rasa nyeri serta peningkatan kenyamanan yang bisa diterima oleh
pasien

Aktivitas :

 Lakukan penilaian nyeri secara komprehensif dimulai dari lokasi, karakteristik,


durasi, frekuensi, kualitas, intensitas dan penyebab.
 Kaji ketidaknyamanan secara nonverbal, terutama untuk pasien yang tidak bisa
mengkomunikasikannya secara efektif
 Pastikan pasien mendapatkan perawatan dengan analgesic
 Gunakan komunikasi yang terapeutik agar pasien dapat menyatakan pengalamannya
terhadap nyeri serta dukungan dalam merespon nyeri
 Pertimbangkan pengaruh budaya terhadap respon nyeri
 Tentukan dampak nyeri terhadap kehidupan sehari-hari (tidur, nafsu makan, aktivitas,
kesadaran, mood, hubungan sosial, performance kerja dan melakukan tanggung jawab
sehari-hari)
 Evaluasi pengalaman pasien atau keluarga terhadap nyeri kronik atau yang
mengakibatkan cacat
 Evaluasi bersama pasien dan tenaga kesehatan lainnya dalam menilai efektifitas
pengontrolan nyeri yang pernah dilakukan
 Bantu pasien dan keluarga mencari dan menyediakan dukungan.

10
 Gunakan metoda penilaian yang berkembang untuk memonitor perubahan nyeri serta
mengidentifikasi faktor aktual dan potensial dalam mempercepat penyembuhan
 Tentukan tingkat kebutuhan pasien yang dapat memberikan kenyamanan pada pasien
dan rencana keperawatan
 Menyediakan informasi tentang nyeri, contohnya penyebab nyeri, bagaimana
kejadiannya, mengantisipasi ketidaknyamanan terhadap prosedur
 Kontrol faktor lingkungan yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien
(suhu ruangan, pencahayaan, keributan)
 Mengurangi atau menghapuskan faktor-faktor yang mempercepat atau meningkatkan
nyeri (spt:ketakutan, fatique, sifat membosankan, ketiadaan pengetahuan)
 Mempertimbangkan kesediaan pasien dalam berpartisipasi, kemampuannya dalam
berpartisipasi, pilihan yang digunakan, dukungan lain dalam metoda, dan
kontraindikasi dalam pemilihan strategi mengurangi nyeri
 Pilihlah variasi dari ukuran pengobatan (farmakologis, nonfarmakologis, dan
hubungan atar pribadi) untuk mengurangi nyeri
 Pertimbangkan tipe dan sumber nyeri ketika memilih metoda mengurangi nyeri
 Mendorong pasien dalam memonitor nyerinya sendiri

2. PEMBERIAN ANALGESIK

Defenisi : Menggunakan agen farmakologi untuk mengurangi nyeri

Aktifitas:

 Menentukan lokasi , karakteristik, mutu, dan intensitas nyeri sebelum mengobati


pasien
 Periksa order/pesanan medis untuk obat, dosis, dan frekuensi yang ditentukan
analgesik
 Cek riwayat alergi obat
 Mengevaluasi kemampuan pasien dalam pemilihan obat penghilang sakit, rute, dan
dosis, serta melibatkan pasien dalam pemilihan tersebut

11
 Tentukan jenis analgesik yang digunakan (narkotik, non narkotik atau NSAID)
berdasarkan tipe dan tingkat nyeri.
 Tentukan analgesik yang cocok, rute pemberian dan dosis optimal.
 Utamakan pemberian secara IV dibanding IM sebagai lokasi penyuntikan, jika
mungkin
 Hindari pemberian narkotik dan obat terlarang lainnya, menurut agen protokol
 Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian obat narkotik dengan dosis pertama
atau jika ada catatan luar biasa.
 Memberikan perawatan yang dibutuhkan dan aktifitas lain yang memberikan efek
relaksasi sebagai respon dari analgesi
 Cek pemberian analgesik selama 24 jam untuk mencegah terjadinya puncak nyeri
tanpa rasa sakit, terutama dengan nyeri yang menjengkelkan
 Set harapan positif mengenai efektivitas obat analgesic untuk mengoptimalkan
respons pasien
 Mengurus adjuvant analgesik dan/atau pengobatan ketika memerlukan tindakan tanpa
rasa sakit

3. PEMBERIAN OBAT PENENANG

Defenisi : Administrasi obat penenang, monitoring tanggapan pasien, dan ketetapan yang
diperlukan sebagai dukungan fisiologis selama proses diagnostik atau prosedur
terapeutik

Aktivitas :

 Kaji riwayat kesehatan pasien dan riwayat pemakaian obat penenang


 Tanyakan kepada pasien atau keluarga tentang pengalaman pemberian obat penenang
sebelumnya
 Melihat kemungkinan alergi obat
 Meninjau apakah pasien telah mentaati pembatasan berkenaan dg aturan makan,
seperti yang ditentukan
 Meninjau ulang tentang contraindikasi pemberian obat penenang
 Beritahu keluarga dan/atau pasien tentang efek pemberian obat penenang

12
 Mengevaluasi tingkatan kesadaran pasien dan refleks normal sebelum pemberian obat
penenang
 Memperoleh TTV dalam batas normal
 Memperoleh kadar oksigen dan irama EKG dalam batas normal
 Mengetahui perjalanan obat melalui IV
 Memberikan pengobatan sesuai order dokter, sesuaikan dengan respon pasien
 Memonitor tingkatan kesadaran pasien

2.4 Diagnosa : Resiko Cedera

Definisi : Suatu kondisi individu yang berisiko untuk mengalami cedera sebagai akibat
dari kondisi lingkungan yang berhubungan dengan sumber-sumber adaptif dan pertahanan.

Faktor Risiko :

1. Eksternal :
 Biologis ( tingkat imunisasi komunitas, mikroorganisme)
 Kimia (misalnya, racun,polutan, obat-obatan, agen farmasi, alkohol, nikotin,
pengawet, kosmetik, pewarna)
 Orang (agen nosokomial, pola pemupukan, pola-pola kognitif, afektif dan
psikomotor)
 Jenis transportasi
 Nutrisi (vitamin, jenis makanan)
 Fisik (desain, struktur, dan penataan komunitas, bangunan, dan /perlengkapan)

2. Internal :
 Profil darah yang abnormal (leukositosis atau leukopenia, perubahan faktor
penggumpalan darah, trombosiopenia, menurunnya kadar hemoglobin)
 Disfungsi biokimia
 Usia perkembangan (psikologis,psikososial)
 Disfungsi efektor
 Penyakit imun/ autoimun
 Disfungsi integratif

13
 Malnutrisi
 Fisik (kulit terkelupas, perubahan mobilitas)
 Psikologis (orientasi afektif)
 Disfungsi sensori
 Hipoksia jaringan

Nursing Outcom Classification (NOC)

1. Risk Control/Kontrol Risiko

Definisi :Tindakan untuk mengurangi atau menurunkan resiko ancaman kesehatan yang
aktual, personal dan dapat dimodifikasi
Indikator :

 Kontrol faktor resiko bahaya lingkungan


 Monitor faktor resiko tingkah laku orang dan pribadi
 Mengembangkan strategi kontrol resiko
 Mengatur strategi kontrol bahaya yang diperlukan
 Menyatakan resiko
 Mengikuti strategi kontrol risiko yg dipilih
 Modifikasi gaya hidup untuk menurunkan resiko
 Menghindari paparan ancaman kesehatan
 Berpartisipasi dlm skrining utk mengidentifikasi risiko
 Mengenal perubahan status kesehatan
 Pantau perubahan status kesehatan

2. Kontrol Gejala

Definisi : Tindakan personal untuk meminimalkan perubahan perasaan dirugikan dalam


fungsi fisik dan emosional

Indikator :

 Mengenal permulaan gejala


 Mengenal gejala menetap

14
 Mengenal kepelikan gejala
 Mengenal frekuensi gejala
 Mengenal variasi gejala
 Gunakan tindakan pencegahan
 Gunakan tindakan mengurangi gejala
 Gunakan tanda peringatan utk mencari pelayanan kesehatan
 Gunakan sumber yg tersedia
 Laporkan pengontrolan gejala

3. Perilaku Keamanan : Pencegahan Jatuh

Definisi : Tindakan individu atau penolong untuk mengurangi faktor resiko yang
mungkin muncul

Indikator :

 Penggunaan alat bantu yang benar


 Tersedianya sistem pribadi
 Tempatkan pelindung mencegah jatuh
 Gunakan penahan bila perlu
 Tempatkan susuran tangga bila perlu
 Hilangkan benda kusut, kesilauan dari lantai
 Penggunaan tangga/sandaran yg tepat
 Sesuaikan tinggi toilet bila perlu
 Sesuaikan ketinggian tempat tidur bila perlu
 Gunakan pemegang batangan
 Kontrol agitasi dan kurang istirahat
 Kompensasi pembatasan fisik

NIC

Health Education/pendidikan kesehatan

 Ajarkan pasien teknik untuk mencegah luka dirumah


 Berikan materi pendidikan yang berhubungan dengan strategi dan tindakan untuk
mencegah cedera.
15
 Orientasikan kembali pasien terhadap realitas dan lingkungan saat ini bila diperlukan.
 Bantu pasien dengan ambulasi
 Mengidentifikasi sumber daya yang dibutuhkan untuk melkaksanakan program

Mengidentifikasi Resiko

 lembaga penilaian risiko rutin, menggunakan instrumen yang dapat diandalkan dan valid
 meninjau riwayat medis masa lalu dan dokumen untuk bukti
 diagnosa medis dan keperawatan yang ada atau sebelumnya
 memelihara catatan yang akurat dan statistik
 mengidentifikasi pasien dengan kebutuhan perawatan berkelanjutan
 menentukan sistem dukungan masyarakat
 menentukan keberadaan dan kualitas dukungan keluarga
 menentukan status pendidikan
 menentukan lewat tingkat fungsi masa lalu
 memprioritaskan daerah untuk pengurangan risiko, bekerja sama dengan individu /
kelompok

Pencegahan Jatuh

 Identifikasi defisit kognitif atau fisik pasien yang berpotensi untuk jatuh

 Identifikasi karakteristik lingkungan yang menungkatkan potensi jatuh ( seperti lantai


yang licin )

 Monitor gaya, keseimbangan berjalan dan kelemahan daya ambulasi

 Berikan peralatan yang menunjang ( seperti alat bantu jalan ) untuk mengokohkan jalan

 Pertahankan penggunaan alat bantu jalan

 Tempatkan benda- benda di sekitar pasien untuk mudah dijangkau

 Instruksikan pasien untuk meminta bantuan dengan menggunakan gerakan

 Ajarkan pasien bagaimana berpindah untuk meminimalisir trauma

 Berikan bangku toilet yang bisa dielevasikan untuk memudahkan pemindahan


16
 Gunakan pinggiran tempat tidur yang panjang dan tinggi untuk mencegah jatuh dari
tempat tidur

 Berikan pasien untuk dependen alat bantu ( seperti: bel) ketika pemberi layanan kesehatan
tidak ada

 Kaji frekuensi toileting

 Pindahkan furniture seperti meja yang mampu membahayakan pasien

 Hindari barang- barang berserakan di lantai

 Tempatkan area penyimpanan pada daerah yang terjangkau

 Ajar keluarga tentang factor resiko yang berkontribusi pada jatuh dan bagaimana
mengurangi resiko jatuh

 Kaji keluarga dalam mengidentifikasi bahaya dirumah dan bagaimana


memodifikasikannya

2.5 Diagnosa : Resiko Infeksi

Definisi : Kenaikan resiko karena diserang oleh organisme penyakit.

Faktor Resiko :
 Penyakit kronik
 Mendapatkan kekebalan yang tidak adekuat
 Pertahanan utama yang tidak adekuat (e.g., kerusakan kulit, jaringan yang luka,
pengurangan dalam tindakan, perubahan pada sekresi PH, mengubah gerak
peristaltic)
 Pertahanan kedua yang tidak adekuat (pengurangan hemoglobin, leucopenia,
respon yang menekan sesuatu yang menyebabkan radang)
 Pertambahan pembukaan lingkungan pada pathogen
 Penekanan imun
 Prosedur yang bersifat menyerang
 Tidak cukupnya pengetahuan untuk menghindari pembukaan pada pathogen
17
 Malnutrisi
 Agen farmasi (ex: zat yang menghambat reaksi imun)
 Membran amniotic pecah sebelum waktunya
 Memperpanjang perpecahan pada membrane amniotic
 Trauma/luka berat
 Destruksi jaringan

Nursing Outcome Classification (NOC)

1. Kontrol Resiko
Definisi : Tindakan untuk mengurangi atau menurunkan resiko ancaman kesehatan yang
aktual, personal dan dapat dimodifikasi
Indikator :
 Menyatakan faktor resiko
 Monitor faktor resiko lingkungan
 Mengembangkan strategi kontrol resiko efektif
 Melakukan strategi kontrol resiko
 Ikut dalam memilih strategi kontrol resiko
 Memodifikasi gaya hidup
 Memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi resiko
 Menghindari pembukaan untuk ancaman kesehatan
 Partisipasi dalam penyaringan resiko
 Gunakan perawatan kesehatan sesuai kebutuhan
 Gunakan sistem dukungan personal untuk mengurangi resiko
 Monitor perubahan status kesehatan

2. Pengetahuan: Pengendalian Infeksi


Indikator:
 Mendeskripsikan jalan tansmisi infeksi
 Mndeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi transmisi infeksi
 Mendeskripsikan tanda dan gejala infeksi
 Mendeskripsikan aktivitas-aktivitas untuk meningkatkan kekebalan terhadap infeksi

18
Nursing Intervention Classification (NIC)
1. Pengontrolan infeksi
Definisi : Meminimalisir / mengurangi perpindahan agen-agen penyebab infeksi (bakteri,
mikroba dan lain-lain)

Aktivitas :

 Ciptakan linhkungan ( alat-alat, berbeden dan lainnya) yang nyaman dan bersih
terutama setelah digunakan oleh pasien
 Gunakan alat-alat yang baru dan berbeda setiap akan melakukan tindakan
keperawatan ke pasien
 Isolasikan pasien yang terkena penyakit menular
 Tempatkan pasien yang harus diisolasi yang sesuai dengan kondisi pasien
 Batasi jumlah pengunjung sesuai kondisi pasien
 Ajari klien untuk mencuci tangan sebagai gaya hidup sehat pribadi
 Instruksikan klien untuk mencuci tangan yang benar sesuai dengan yang telah
diajarkan
 Instruksikan kepada pengunjung untuk selalu mencuci tanagn sebelum dan sesudah
memasuki ruangan pasien
 Gunakan sabun antimikroba untuk proses cuci tangan
 Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan kepada pasien
 Terapkan kewaspadaan universal
 Gunakan selalu handscoon sebagai salah satu ketentuan kewaspadaan universal
 Gunakan baju yang bersih atau gown ketika menangani pasien infeksi
 Gunakan sarung tangan yang steril, jika memungkinkan
 Bersihkan kulit pasien dengan pembersih antibakteri
 Jaga dan lindungai area atau ruangan yang diindikasikan dan digunakan untuk
tindakan invasive, operasi dan gawat darurat

19
2. Perlindungan infeksi
Aktivitas :

 Monitor tanda-tanda dan gejala sistemik dan local dari infeksi.


 Monitor daerah yang mudah terinfeksi.
 Monitor jumlah granulosit, WBC, dan perbedaan nilai.
 Ikuti kewaspadaan neutropenic.
 Batasi pengunjung.
 Lindungi semua pengunjung dari penyakit menular.
 Pertahankan teknik asepsis untuk pasien yang berisiko.
 Pertahankan teknik isolasi.
 Lakukan perawatan kulit untuk area yang oedem.
 Inspeksi kulit dan membran mukosa yang memerah, panas, atau kering.
 Inspeksi kondisi dari luka operasi
 Tingkatkan intake nutrisi yang cukup.
 Anjurkan intake cairan.
 Anjurkan istirahat.
 Monitor perubahan tingkat energi / malaise.
 Anjurkan peningkatan mobilitas dan latihan.
 Anjurkan nafas dalam dan batuk efektif.
 Beri agen imun.
 Instruksi pasien untuk mendapatkan antibiotik sesuai resep.
 Ajari pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala dari infeksi dan kapan mereka
dapat melaporkan untuk mendapatkan perawatan kesehatan.
 Ajari pasien dan anggota keluarga bagaimana menghindari infeksi.
 Hindari buah, sayuran, dan lada / merica dari diet pasien dengan neutropenia.
 Hindari bunga dan tumbuhan segar dari area tempat pasien berada.
 Berikan ruangan privasi jika dibutuhkan.
 Laporkan kemungkinan adanya infeksi dalam upaya pengendalian infeksi.
 Laporkan kebiasaan positif dalam mengendalikan infeksi.

20
3. Manajemen lingkungan
Definisi : Memantau dan memanipulasi dari lingkungan fisik untuk menurunkan potesial
sikap kekerasan terhadap pribadi , orang lain dan lingkungan
Aktivitas:
 Menciptakan lingkungan yang aman
 Identifikasi kaamanan yang dibutuhkan
 Hindari lingkungan yang dapat membahayakan
 Menyediakan kebersihan dan lingkungan
 Hindari pencahayaan yang tidak penting
 Berikan pendidikan kepada pasien

2.6 Diagnosa : Defisit Perawatan Diri (mandi, makan, berpakaian-berhias, toileting-


eliminasi

Definisi : gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari (mandi, berpakaian,


makan, toileting) pada diri sendiri.

Batasan karakteristik :
1. ketidakmampuan untuk mandi,
2. ketidamampauan untuk berpakaian,
3. ketidamampauan untuk makan,
4. ketidamampauan untuk toileting.

Faktor yang berhubungan:


1. Kerusakan kognitif
2. Menurunnya motivasi
3. Gangguan muskuloskeletal
4. Kerusakan neuromuskular
5. Nyeri
6. Kecemasan
7. Kelemahan
8. Ketidaknyamanan

21
NOC:

1. Self-care: Bathing

Indikator:

1. Klien menyebutkan manfaat kebersihan diri atau mandi


2. Klien memutuskan untuk mandi atau melakukan kenersihan diri.
3. Klien bersedia mandi (dengan atau tanpa bantuan)
4. Tubuh klien tidak bau, kebersihan kulit terjaga

2. Self-care: Eating

Indikator:

1. Klien menyebutkan fungsi makanan bagi kesehatan tubuh.


2. Klien meyebutkan akibat yang dapat terjadi bila tidak ada intake yang adekuat.
3. Klien memutuskan untuk makan, menghabiskan porsi makan secara bertahap.
4. Klien makan (dengan atau tanpa bantuan)
3. Self-care: Dressing

Indikator:

1. Klien mampu menggunakan pakaian dan atau berhias dengan tepat, misalnya mampu
memasang kancing sendiri, menyisir rambut, dsb.
2. Klien mengungkapkan kepuasannya dalam berpakaian dan atau berhias.
3. Berpenampilan rapi.

4. Self-care: Toileting

Indikator:

1. Klien menyebutkan keuntungan BAB atau BAK di kamar mandi.


2. Klien menyebutkan akibat yang ditimbulkan bila BAB atau BAK disembarang
tempat.
3. Klien memutuskan untuk BAB atau BAK di kamar mandi.

22
4. Klien BAB atau BAK di kamar mandi.
5. Klien mengungkapkan perasaannya.

NIC:

Bantu Perawatan Diri: Mandi (Self Care Assistance: Bathing)

1. Monitor kemampuan klien melakukan perawatan diri secara mandiri.


2. Identifikasi bersama klien hambatan yang dialami klien dalam perawatan diri.
a) Fisik: adanya keterbatasan gerak/aktifitas, penyalit fisik, kelelahan dll.
b) Intelektuan : penolakan
c) Emosi : kondisi labil, akut atau kronis
d) Sosial: ketidak mampuan klien mengendalikan perilaku
3. Diskusikan bersama klien keuntungan atau manfaat kebersihan diri.
4. Bantu kien menentukan tindakan untuk mandi atau kebersihan diri.
5. Sediakan peralatan mandi : sabun, shampoo, handuk, sikat gigi, pasta gigi, air yang
cukup.
6. Berikan bantuan sampai klien dapat mandiri dalam perawatan dirinya.
7. Evaluasi perasaan klien setelah mandi.
8. Berikan reinforcement terhadap kemajuan klien dalam melakukan kebersihan diri.

Bantu Perawatan Diri : Makan (Self Care Assistence : Feeding)

1. Monitor kemampuan klien makan.


2. Identifikasi bersama klien faktor-faktor penyebab klien tidak mau makan
3. Identifikasi adanya hambatan makan
a) Fisik: kelemahan, isolasi, keterbatasan extremitas, fiksasi.
b) Emosi: depresi, manik, penurunan nafsu makan.
c) Sosial : curiga
d) Spiritual : adanya waham.
4. Diskusikan dengan klien fungsi makanan kesehatan.
5. Diskusikan dengan klien akibat kurang atau tidak mau makan.
6. Bantu klien memutuskan untuk makan.
7. Ajak klien makan bersama di ruang makan.

23
8. Berikan bantuan makan sesuai kondisi klien.
9. Evaluasi perasaan klien setelah makan.
10. Berikan feinforcement terhadap kemajuan klien (missal: peningkatan porsi makan).

Bantu Perawatan Diri: Berpakaian dan Berhias (Self Cre Asistance : Grooming)

1. Monitor kemampuan klien dalam berpakaian dan berhias.


2. Monitor atau identifikasi adanya kemunduran sensori, kognitif, dan psikomotor yang
menyebabkan klien mempunyai kesulitan dalam berpakaian dan berhias.
3. Diskusikan dengan klien kemungkinan adanya hambatan dalam berpakaian da
berhias.
4. Gunakan komunikasi/instruksi yang mudah dimengerti klien untuk mengakomodasi
keterbatasan kognitif klien.
5. Sediakan baju bersih dan sisir, jika mungkin bedak, parfum, dsb.
6. dorong klien untuk mengenakan baju sendiri dan memasang kancing dengan benar.
7. Berikan bantuan kepada klien jika perlu.
8. Evaluasi perasaan klien setelah mampu berpakaian dan berhias.
9. Berikan reinforcement atas keberhasilan klien berpakaian dan berhias.

Bantu perawatan diri: Toileting-Eliminasi (Self care assistance : Toileting)

1. Monitor kemampuan klien dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi.


2. Kaji adanya kemunduran kemampuan klien ke kamar mandi atau toilet.
3. Kaji keterbatasan klien dalam pemenuhan eliminasi.
4. Diskusikan dengan klien keuntungan BAB atau BAK di kamar mandi
5. Diskusikan masalah yang ditimbulkan bila BAB atau BAK di sembarang tempat.
6. Berikan instruksi yang singkat, jelas, dan mudah dimengerti oleh klien.
7. Bantu klien untuk memutuskan atau mengambil alat Bantu yang diperlukan dalam
pemenuhan kebutuhan eliminasinya.
8. Evaluasi perasaan klien.
9. Berikan reinforcement terhadap keberhasilan klien menentukan pilihan yang tepat
dalam pemenuhan eliminasinya.

24
Diagnosa : Ansietas

Definisi : tindakan seseorang untuk menghilangkan dan mengurangi perasaan ketakutan


dan tertekan yang sumbernya tidak bisa diidentifikasi.

Batasan Karekteristik :

1. perilaku : 2. Afektif :
 produktivitas berkurang - menderita
 keprihatinan karena perubahan peristiwa hidup - tertekan
 gelisah - takut
 sedih - mudah marah
 cemas - bingung

Nursing Outcome Classification (NOC)

 Ansietas kontrol, dengan ketentuan (1-5; tidak pernah, jarang, kadang-kadang,


sering, konsisten), dengan indikator :

a. Monitor intensitas kecemasan

b. Menyikirkan tanda kecemasan

c. Mencari informasi untuk menurunkan kecemasan

d. Merencanakan strategi koping

e. Menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan kecemasan

f. Melaporkan penurunan durasi dan episode cemas

g. Melaporkan tidak adanya manifestasi fisik dan kecemasan

h. Tidak adaa manifestasi perilaku kecemasan

 Koping, dengan ketentuan (1-5; tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering,


konsisten), dengan indikator :

a. Menunjukkan fleksibilitas peran

b. Keluarga menunjukkan fleksibilitas peran para anggotanya

25
c. Melibatkan angoota keluarga dalam membuat keputusan

d. Mengekspresikan perasaan dan kebebasan emosional

e. Menunjukkan strategi penurunan stress

Nursing Interventions Classification (NIC)

1. Penurunan kecemasan

a. Tenangkan klien

b. Berusaha memahami keadaan klien

c. Berikan informasi tentang diagnosa prognosis dan tindaka

d. Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik pada tingkat kecemasan

e. Gunakan pendekatan dan sentuhan

f. Temani pasien untuk mendukung keamanan dan penurunan rasa takut

g. Sediakan aktifitas untuk menurunkan ketegangan

h. Bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi yang menciptakan cemas

i. Dukung penggunaan mekanisme defensive dengan cara yang teapt

j. Tentukan kemampuan klien untuk mengambil keputusan

k. Intruksikan kemampuan klien untuk menggunakan teknik relaksasi

l. Berikan pengobatan untuk menurunkan cemas dengan cara yang tepat

2. Peningkatan koping

a. Hargai pemahaman pasien tentang proses penyakit

b. Hargai dan diskusikan alternative respon terhadap situasi

c. Gunakan pendekatan yang tenang dan memberikan jaminan


26
d. Sediakan informasi actual tentang diagnosa, penanganan dan prognosis

e. Sediakan pilihan yang realistis tentang aspek perawatan saat ini

f. Dukung penggunaan mekanisme defensive yang tepat

g. Dukung keterlibatan keluarga dengan cara yang tepat

h. Bantu pasien untuk mengidentifikasi startegi postif untuk mengatasi keterbatasan dan
mengelola gaya hidup atau perubahan peran.

2.8 GANGGUAN INTERAKSI SOSIAL

Diagnosa keperawatan.

1) Resiko gangguan persepsi sensori b.d menarik diri

2) Menarik diri b.d Konsep diri : harga diri rendah

NOC dan NIC

1. Klien dapat berinteraksi dengan orang lain


Intervensi :

a. Sapa klien dengan nama baik verbal maupun non verbal.

b. Perkenalkan diri dengan sopan.

c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.

d. Jelaskan tujuan pertemuan

e. Jujur dan menepati janji

f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.

g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar

27
2. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri

Intervensi :

a. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.


b. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau
tidak mau bergaul.
c. Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab yang
muncul.
d. Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.
3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain
Intervensi :
a. Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain.
b. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan
berhubungan dengan orang lain.
c. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.
d. Beri reinforcemant positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang
keuntungan berhubungan dengan orang lain
e. Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.
f. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian bila tidak
berhubungan dengan orang lain.
g. Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
h. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang
kerugian tidak berhubungan dengan orang lain

4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap


Intervensi :
a. Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
b. Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain secara bertahap.
c. Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
d. Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan.
e. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu.
f. Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan.
28
g. Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan.

5. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain


Intervensi :
a. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain.
b. Diskusikan dengan klien tentang perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain.
c. Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat
berhubungan dengan orang lain.
6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
Intervensi :
a. Bina hubungan saling percaya dengan keluarga.
b. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang : perilaku menarik diri, penyebab menarik
diri, akibat yang akan terjadi, cara keluarga menghadapi klien menarik diri.
c. Dorong anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada klien untuk berkomunikasi
dengan orang lain.
d. Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal satu kali
seminggu.

2.9 Diagnosa : gangguan citra tubuh

Definisi : kebingungan mental terhadap gambadarn fisik diri seseorang.

Batasan karakteristik :

 perilaku pengakuan dari tubuh seseorang


 menghindari perilaku tubuh seseorang
 respon nonverbal terhadap perubahan aktual di dalam tubuh
 fokus pada keadaan yang dulu
 trauma pada bagian tubuh yang tidak berfungsi

Nursing Outcome Classification (NOC)

1. Citra tubuh

Definisi : persepsi positif akan penampilan pribadi dan fungsi tubuh

29
Indikator :

 Gambaran diri meningkat


 Seimbang antara bentuk tubuh, harapan dan penampilan
 Gambaran diri sesuai
 Bersedia menyentuh bagian tubuhnya
 Puas dengan penampilan tubuhnya
 Puas dengan fungsi tubuh
 Bisa menyesuaikan diri dengan bentuk tubuh
 Bisa menyesuaikan diri denganbentuk status kesehatan

Nursing Intervention Classification (NIC)

1. Peningkatan citra tubuh

Definisi : meningkatkan persepsi pasien secara sadar atau tidak sadar terhadap tubuhnya

 Pasien dapat mengidentifikasi citra tubuhnya


 Pasien dapat mengidentifikasi potensi (aspek positif) dirinya.
 Pasien dapat mengetahui cara-cara untuk meningkatkan citra tubuh.
 Pasien dapat melakukan cara-cara untuk meningkatkan citra tubuh.
 Pasien dapat berinteraksi dengan orang lain tanpa terganggu.
 Diskusikan persepsi pasien tentang citra tubuhnya .
 Diskusikan potensi bagian tubuh yang lain.
 Bantu pasien untuk meningkatkan fungsi bagian tubuh yang terganggu.
 Motivasi pasien untuk melihat bagian yang hilang secara lengkap.
 Bantu pasien menyentuh bagian tersebut.
 Motivasi pasien untuk melakukan aktivitas yang mengarah pada pembentukan tubuh
yang ideal.

2. Peningkatan koping

Definisi : membantu pasien untuk beradaptasi dengan stres yang dirasakan, perubahan,
atau ancaman yang mengganggu memenuhi tuntutan hidup dan peran

30
Aktivitas :

 Menilai penyesuaian pasien terhadap perubahan citra tubuh, seperti yang ditunjukkan.
 Menilai dampak dari situasi kehidupan pasien pada peran dan hubungan.
 Dorong pasien untuk mengidentifikasi gambaran realistis perubahan dalam peran.
 Menilai pemahaman pasien dari proses penyakit.
 Menilai dan mendiskusikan respon alternatif untuk situasi
 Memberikan suasana penerimaan
 Membantu pasien dalam mengembangkan penilaian yang obyektif
 Membantu pasien untuk mengidentifikasi informasi yang ia paling tertarik
 Memberikan informasi faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis
 Menyediakan pasien dengan pilihan realistis tentang aspek tertentu dari perawatan
 Mengevaluasi keputusan pasien kemampuan
 Berusaha untuk memahami perspektif pasien dari situasi stressfull
 Mencegah pengambilan keputusan saat pasien berada di bawah stres berat
 Mendorong kegiatan sosial dan masyarakat
 Mendorong penerimaan keterbatasan lainnya
 Jelajahi alasan pasien untuk mengkritik diri sendiri
 Membantu pasien dalam mengidentifikasi respons positif dari lain
 Mendorong identifikasi nilai-nilai hidup tertentu
 Perkenalkan pasien untuk orang-orang yang telah berhasil menjalani pengalaman
yang sama
 Mendorong verbalisasi perasaan, persepsi, dan ketakutan
 Membantu pasien dalam mengidentifikasi tujuan jangka pendek dan panjang yang
tepat
 Membantu pasien dalam memeriksa sumber daya yang tersedia untuk memenuhi
tujuan

2.10 Diagnosa : Kurangnya Pengetahuan: Proses penyakit dan prosedur pengobatan

NOC:

Pengetahuan: Proses Penyakit

31
Indikator:

1. Mengetahui proses penyakit spesifik


2. Mengetahui penyebab dan faktor konstribusi
3. Mengetahui faktor resiko
4. Mengetahui efek dari penyakit
5. Mengetahui tanda dan gejala dari penyakit
6. Mengetahui lazimnya proses penyakit
7. Mengetahui strategi untuk meminimalkan efek dari penyakit
8. Mengetahui komplikasi berpotensi dari penyakit
9. Mengetahui tanda dan gejala dari komplikasi penyakit
10. Mengetahui perlindungan untuk pencegahan komplikasi dari penyakit
11. Mengetahui efek psikososial penyakit terhadap diri
12. Mengetahui efek psikososial penyakit terhadap keluarga
13. Mengetahui kegunaan dari management penyakit
14. Ketersediaan dukungan kelompok
15. Reputasi sumber dari informasi spesifik penyakit

Pengetahuan: Pengobatan

Indikator:

1. Pengakuan kebutuhan untuk menginformasikan penyediaan pengobatan.


2. Mengetahui nama pengobatan yang tepat
3. Mengetahui bentuk pengobatan
4. Mengetahui efek terapeutik dari pengobatan
5. Mengetahui efek samping dari pengobatan
6. Mengetahui efek yang merugikan dari pengobatan
7. Deskripsi penggunaan memori
8. Mengetahui interaksi pengobatan potensial
9. Mengetahui interaksi potensial dari pengobatan dengan obat lain
10. Mengetahui pengunaan koreksi dari penentuan pengobatan
11. Mengetahui administrasi pengobatan yang tepat
12. Mengetahui i teknik monitoring perorang
32
13. Mengetahui penyimpanan obat secara tepat
14. Mengetahui pelayanan tepat alat administrasi
15. Mengetahui pembuangan pengobatan yang tidak diperlukan
16. Mengetahui strategi untuk mendapatkan pengobatan yang diperlukan
17. Mengetahui strategi untuk mendapatkan biaya yang diperlukan
18. Ketersediaan dukungan keuangan
19. Identifikasi kebutuhan tes laboratorium
20. Deskripsi kegunaan identifikasi pengobatan.

Pengetahuan: Prosedur perawatan

Indikator:

1. Mengetahui prosedur perawatan


2. Mengetahui tujuan dari prosedur
3. Mengetahui langkah prosedur
4. Mengetahui tindakan pencegahan yang berhubungan dengan prosedur
5. Mengetahui batasan yang berhubungan dengan prosedur
6. Mengetahui pengunaan koreksi peralatan
7. Mengetahui kesesuaian peralatan
8. Mengetahui kesesuaian aksi untuk pengobatan
9. Mengetahui efek samping yang mungkin
10. Mengetahui kontraindikasi untuk prosedur pengobatan

NIC

Mengajarkan: Proses Penyakit

Aktivitas:

1. Nilai tingkat pengetahuan pasien berhubungan dengan proses pesifik penyakit


2. Jelaskan patofisiologi penyakit dan bagaimana hubungannya dengan anatomi dan
fisiologi, jika diperlukan
3. Review pengetahuan pasien tentang kondisinya
33
4. Jelaskan tanda dan gejala umum dari penyakit, jika diperlukan
5. Selidiki apakah pasien sudah siap untuk mengatur gejala
6. Jelaskan proses penyakit, jika diperlukan
7. Indentifikasi penyebab yang mungkin, jika diperlukan
8. Sediakan informasi kepada pasien tentang kondisinya, jika diperlukan
9. Identifikasi perubahan kondisi fisik pada pasien
10. Hindari kekosongan penentraman hati lagi
11. Sediakan penentraman hati tentang kondisi pasien, jika diperlukan
12. Sediakan keluarga dengan informasi tentang kemajuan pasien, jika diperlukan
13. Sediakan informasi tentang pengukuran diagnostik yang mungkin, jika diperlukan
14. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin untuk mencegah komplikasi yang
akan datang dan mengontrol proses penyakit
15. Diskusikan pilihan terapi atau perawatan
16. Deskripsikan rekomendasi managemen/terapi/perawatan yang rasional
17. Dorong pasien untuk mengeksplorasi pilihan atau memperoleh opini ke dua, jika
diperlukan
18. Jelaskan komplikasi kronik yang mungkin, jika diperlukan
19. Instruksikan pasien untuk mengontrol atau meminimalkan gejala, jika diperlukan
20. Selidiki sumber atau dukungan yang mungkin, jika diperlukan
21. Rujuk pasien ke agen komunikasi lokal atau kelompok dukungan, jika diperlukan
22. Instruksikan pasien dalam tanda dan gejala untuk dilaporkan kepada health care
provider, jika diperlukan
23. Sediakan nomor telepon untuk memanggil jika komplikasi terjadi
24. Menguatkan kesediaan informasi oleh anggota lain team health care, jika diperlukan

Mengajarkan: Prosedur atau Perawatan

1. Beritahukan pasien atau keluarga kapan dan dimana prosedur atau perawatan akan
dilaksanakan
2. Beritahukan pasien atau keluarga berapa lama prosedur atau perawatan sampai selesai
3. Beritahukan pasien atau keluarga siapa yang akan melakukan prosedur atau perawatan
4. Berikan pujian terhadap konfiden pasien di depan staf yang terlibat, jika diperlukan

34
5. Tanyakan pengalaman pasien sebelumnya dan tingkat pengetahuan yang berhubungan
dengan prosedur atau perawatan
6. Jelaskan tujuan dari prosedur atau perawatan
7. Gambarkan aktivitas prosedur atau tindakan
8. Ajarkan pasien bagaimana agar bisa bekerja sama atau berpartisipasi saat prosedur
atau perawatan, ika diperlukan
9. Perkenalan pasien pada staf medis yang akan terlibat dalam prosedur atau perawatan
10. Jelaskan peralatan yang dibutuhkan (misal: alat-alat monitoring) dan fungsinya
11. Diskusikan alat-alat pengukuran khusus yang diperlukan saat prosedur atau
perawatan, jika diperlukan
12. Informasikan apa yang akan didengarkan, dibau, dilihat, dirasaan, atau perasaan saat
tindakan
13. Gambarkan postprosedur atau pengkajian perawatan atau aktivitas dan rasionalnya
14. Beritahukan pasien bagaiman cara penyembuhan
15. Beritahukan informasi yang ada kepada anggota kesehatan yang lain, jika diperlukan
16. Sediakan waktu untuk pasien mengetahui apa yang akan dialami pasien, jika
diperlukan
17. Intruksikan pasien untuk menggunakan teknik koping langsung sesuai aspek spesifik
yang dibutuhkan berdasarkan pengalaman (misal: relaksasi dan imajinasi), jika
diperlukan
18. Sediakan informasi kapan dan dimana hasil prosedur atau perawatan dapat diambil
dan siapa yang akan menjelaskan
19. Tentukan harapan pasien terhadap prosedur atau perawatan
20. Koreksi harapan yang keliru dari prosedur atau perawatan, jika diperlukan
21. Diskusikan perawatan alternatif, jika diperlukan
22. Sediakan waktu untuk pasien bertanya pertanyaan dan berdiskusi yang berhubungan
23. Libatkan keluarga atau orang yang berarti, jika diperlukan

35
BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan

Diagnosa keperawatan adalah suatu bagian integral dari proses keperawatan. Hal ini
merupakan suatu komponen dari langkah-langkah analisa, dimana perawat mengidentifikasi
respon-respon individu terhadap masalah-masalah kesehatan yang aktual dan potensial.

Diagnosa keperawatan digunakan sebagai pemandu dalam memberikan intervensi


keperawatan kepada pasien. Di dalam keperawatan persepsi – sensori memiliki 10 diagnosa
utama yang sering digunakan seperti telah di paparkan pada halaman sebelumnya

b. Saran

Sebagai komponen penting di dalam proses keperawatan, sebaiknya penggunaan


diagnosa berbasis NANDA, NOC, NIC harus mulai di budayakan dalam dunia keperawatan,
khususnya bagi mahasiswa keperawatan sebagai penerus dari profesi ini. Agar profesi ini
memiliki standar baku dalam memberikan asuhan keperawatan dan semakin menjadi baik di
kemudian hari.

36
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, G.M., Butcher, H.W. & Dochterman, J.M. (2008). Nursing Intervention
Classification (NIC). (5th edition). St Louis : Mosby Elsevier.

Herdman, T.H. (2009). NANDA International Nursing Diagnosis : Definitions &


Classification. United Kingdom : Wiley – Blackwell.

Morrhead, S., Johnson, M., Maas, M.L. & Swanson, E. (2008). Nursing Outcomes
Classification (NOC). (4th edition). St. Louis : Mosby Elsevier.

37