Anda di halaman 1dari 4

roblematika Bahasa Indonesia

Problematika bahasa Indonesia banyak yang muncul dari dalam negara Indonesia sendiri.Pertama,
masalah internal yang menghambat bahasa Indonesia go internasional yakni, masih banyaknya rakyat
yang belum dapat memahami bahasa Indonesia.

Syarat suatu bahasa dapat go internasional yakni seluruh rakyat dapat menggunakan bahasa negaranya.
Hal ini dipahami karena tingkat penguasaan bahasa terhadap keefektifan komunikasi penduduk akan
berkorelasi positif apabila menggunakan bahasa yang sama. (Al-Wasilah,18:2000)

Walaupun tidak tersurat berupa data stastistik, fenomena elakan pemakaian bahasa Indonesia sebagai
bahasa utama masih sering terlihat. Kasus ini terlihat jelas ketika komunikasi sesama penduduk lebih
efektif jika menggunakan bahasa daerah terutama di desa maupun daerah pelosok dibandingkan dengan
bahasa Indonesia.

Kedua , budaya “simak ucap” yang masih melekat pada masyarakat Indonesia. Rendahnya minat
“baca tulis” yang menjadi antonim dari budaya simak ucap terlihat jelas dari data yang disampaikan oleh
UNESCO, salah satu badan di bawah naungan perserikatan bangsa-bangsa (PBB) melaporkan, Indonesia
pada tahun 1973 mengalami book starvation (paceklik buku). Saat itu, Indonesia tidak menerbitkan satu
judul buku pun. Sementara di luar tahun itu, produksi buku di Indonesia berkisar 10.000 judul.
(www.pikiranrakyat.com).

Hal ini merupakan suatu kendala yang berarti, karena dengan rendahnya budaya literasimasyarakat
Indonesia maka kesalahan dalam berbahasa khususnya tata bahasa sulit terlihat dan menjadikan
kesalahan sebagai hal yang biasa karena masyarakat sudah sering mangacuhkannya.

Ketiga, nasionalisme rakyat terhadap negara Indonesia. Nasionalisme tentu sangat jelas mempengaruhi
bertahannya suatu bangsa karena sifat fanatik positif yang dimiliki rakyatnya.

Masalah ekternal yang menjadi hambatan dalam mewujudkan bahasa Indonesia go internasional yakni,
serangan efek negatif dari era globalisasi.

Hal ini dipahami karena era globalisasi merupakan era dimana semua celah kebudayaan terbuka
ditambah dengan arus informasi tanpa batas yang menjadikan dunia terasa semakin sempit. Sebagai
salah satu bentuk konsekwensi logisnya adalah negara yang tidak mampu menerima arus global ini,
perlahan tapi pasti kebudayaan lokal dan etnis negara tersebut akan tertelan oleh kekuatan budaya besar
atau kekuatan budaya global, tidak terkecuali bahasa Indonesia.

Gejala negatif dari proses globalisasi dilihat dari segi kebahasaan yakni semakin membabi butanya
serangan bahasa asing khususnya bahasa Inggris yang dianggap sebagai bahasa kosmopolitan terhadap
bahasa Indonesia yang dianggap semakin proletar.

Di saat ada keprihatinan dengan bahasa Inggris yang sudah mulai menggeser posisi bahasa Indonesia,
ada saja yang ikut memperparah keadaan. Yakni, bahasa gau. Bahasa yang entah datang dari mana ini
menjadi suatu image baru bagi mereka yang ingin dicap gaul. Sedangkan gaul sendiri entah apa artinya.
Kata secara digunakan tidak pada tempatnya dengan sengaja, ’saya’ dirubah menjadi akika atau eike,
belum lagi mene ketehe’, bo’, sumpe lo, dan istilah-istilah lain yang entah diciptakan siapa. Tapi memang
harus diakui bahwa istilah-istilah gaul ini cukup ampuh sebagai tagline iklan-iklan komersil.
(http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=2922)

Sekarang coba bayangkan bila dalam beberapa tahun ke depan semua orang berbicara dalam bahasa
Inggris yang dicampur bahasa gaul dan bahasa Indonesia menjadi suatu hal yang langka di kalangan anak
muda. Lantas di mana identitas sebagai bangsa Indonesia? Ingin seperti negara Commonwealth, tidak
bisa karena tidak semua orang Indonesia bisa berbahasa Inggris. Mengaku sebagai bangsa Indonesia
yang bermartabat dan mempunyai rasa nasionalisme tinggi juga bukan, karena semakin sedikit orang
yang bangga berbahasa Indonesia. Lalu apakah kita harus menjadi Negara Gaul?

Dalam segi kosakata, kadangkala sebuah istilah asing langsung saja diserap ke dalam bahasa Indonesia
dengan pemakaian imbuhan dan penggunaan fonem(lambang bunyi). Salah satu contohnya yakni kata
“rektifikasi” (dari rectification). Dalam khazanah rekayasa kelistrikan, istilah ini bermakna pengubahan
arus bolak-balik menjadi arus searah. Dalam matematika istilah ini berarti mencari panjang sebuah
kurva, sedangkan dalam pengolahan citra penginderaan jauh, rektifikasi berarti proses koreksi terhadap
kesalahan geometrik sensor. (http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=2922)

Menurut hemat penulis , hal ini didukung oleh kenyataan bahwa masyarakat yang menggunakan bahasa
asing khususnya bahasa Inggris lebih dianggap berwawasan luas dan “bergengsi” dibandingkan dengan
orang yang menggunakan bahasa Indonesia.

Sugesti ini tentu sangat merugikan posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, dapat saja penulis
meramalkan bahwa pada tahun 2100 bahasa Inggris menjadi bahasa nasional Indonesia. Analisis logis
dari realita diatas yakni dampak negatif dari globalisasi hanya akan timbul pada negara yang “lemah”,
dalam arti bahwa negara yang tidak mampu menerima pergeseran budaya tanpa batas dan hanya
berperan sebagai obyek yang bersedia melarutkan kebudayaan aslinya di antara budaya asing pasti akan
kalah.

Solusi

Berbagai macam problematika tersebut mampu diatasi ketika Indonesia menjadi negara yang tangguh
yakni, negara yang mampu bersikap defensif (bertahan) sekaligus menjadi subjek dalam kancah
globalisasi . Hal ini didasarkan pada pemikiran Jhon Naisbitt dalam bukunyaGlobal
Paradox, yakni “Semakin kita menjadi universal, tindakan kita semakin kesukuan, berfikir lokal, bersifat
global:. Ketika bahasa Inggris menjadi bahasa kedua bagi semua orang, bahasa Indonesia menjadi lebih
penting dan dipertahankan dengan lebih giat”. (www.duniaesai.com)

Dari pernyataan Naisbitt, dapat kita yakini bahwa proses globalisasi tetap menempatkan masalah lokal
maupun masalah etnis sebagai masalah yang harus dipertimbangkan.
Dalam buku Megatrend, Naisbitt menempatkan era yang akan datang merupakan era keseniaan dan
pariwisata. Hal ini berarti bahwa masyarakat akan lebih tertarik pada hal yang bersifat khas dan lokal,
begitu pula dengan bahasa.

Solusi yang diterapkan untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang go internasional dapat
juga dijadikan sebagai suatu strategi pengembangan bahasa Indonesia. Strategi tersebut hendaknya
membedakan antara konsep “pembinaan” dan “pengembangan”. Karena target yang ingin kita capai
yakni target untuk go internasional.

Penulis berpendapat bahwa untuk melancarkan proses ini diperlukan suatu koordinasi dan kerjasama
yang positif antara pemerintah, selaku pemegang kuasa, rakyat, media massa dan lembaga pendidikan.

Pemerintah sebagai lembaga yang berkuasa hendaknya lebih proaktif untuk mengembangkan bahasa
Indonesia. Sebagai bentuk logis dari sikap proaktif ini, pemerintah dapat menyelenggarakan kampanye ”
Cinta Bahasa Indonesia”, dan bekerjasama dengan negara berbhasa Melayu lain untuk mengembangkan
bahasa regional ini.

Pemerintah juga dapat berperan dalam menumbuh kembangkan budaya baca tulis dan melatih
masyarakat untuk menjadi masyarakat literasi. Dengan mendirikan perpustakaan daerah yang dilengkapi
oleh buku-buku yang bermutu.

Pusat bahasa sebagai serdadu pemerintah dalam pengembangan bahasa hendaknya dapat berperan
aktif untuk meneliti, mengembangkan dan memfiltrasi bahasa asing yang masuk kemudian dengan cepat
disesuaikan dengan kaidah tata bahasa Indonesia dan disosialisasikan kepada masyarakat

Rakyat sebagai pengguna bahasa hendaknya sadar dan berusaha menumbuhkan rasa nasionalisme yang
tinggi dan tidak terpengaruh oleh budaya asing yang masuk serta dapat meningkatkan
kebiasaan literasi di negara Indonesia.

Media massa dalam hal ini sebagai sumber informasi publik juga perlu mendapat perhatian khusus
karena perannya sebagai penyampai informasi yang secara tidak langsung berperan sebagai alat
penyosialisasi kosa kata bahasa Indonesia pada masyarakat. Inti dari semua ini bahwa media massa
hendaknya menyampaikan informasi dalam konteks yang logis dan tidak menyimpang dari tata bahasa,
dan membiasakan rakyat Indonesia untuk berbahasa Indonesia secara baik dan benar.

Lembaga pendidikan khususnya sekolah merupakan suatu sistem yang menangani ”proses pencerahan
ilmu”. Di dalam lembaga ini, pelajar sebagai rakyat Indonesia diajarkan tentang bahasa Indonesia yang
baik dan benar dengan maksud dapat memahami dan mengaplikasikannya secara baik.

Sikap menyepelekan bahasa Indonesia juga terjadi pada sebagian pelajar yang tidak mau mendalami
bahasa nasional ini karena mereka menganggap bahasa Indonesia merupakan bahasa sehari-hari. Tak
heran bila ada pelajar SMP atau SMA mendapat nilai 10 untuk pelajaran bahasa Inggrisnya di rapor,
sementara nilai bahasa Indonesianya 7.
Disinyalir, sekolah-sekolah tertentu pun cenderung tidak mengutamakan bahasa Indonesia. Kini banyak
sekolah nasional berstandar internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar
sehari-hari. Padahal sebaiknya (atau seharusnya), yang “internasional” itu hanya kurikulumnya,
sedangkan bahasa pengantarnya tetap bahasa Indonesia. Ini tentu berbeda dengan sekolah internasional
yang pasti menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, sebagai bahasa pengantar sehari-hari.

Kondisi-kondisi tersebut mengundang keprihatinan pakar linguistik Prof. Dr. Amrin Saragih yang juga
Guru Besar Universitas Negeri Medan. Tokoh yang juga Kepala Balai Bahasa Medan ini menganggap
sebagian orang Indonesia sedang mengalami krisis bahasa yang juga berarti mengalami krisis identitas.
Mereka mengalami “demam” bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, yang dianggap memiliki nilai jual
tinggi. Semua istilah, merek dagang, spanduk, nama perusahaan, nama hotel, dan nama tempat
pelayanan umum menggunakan bahasa Inggris, atau bercampur bahasa Inggris, sehingga tidak
proporsional. Dalam konteks senada, penyair mbeling Remy Sylado yang juga seorang munsyi (ahli
bahasa), mengecam keras bertebarannya kata-kata dan istilah asing di berbagai segi kehidupan bangsa
Indonesia, seolah-olah kita tidak punya bahasa Indonesia. Media massa cetak dan elektronik pun
dikritiknya karena sering menggunakan kata atau istilah bahasa asing secara berlebihan, padahal kata
atau istilah yang memiliki arti sama atau sepadan sudah ada dalam bahasa Indonesia.
( http://www.bahasa-sastra.web.id/)

Guru sebagai pendamping, hendaknya membekali pelajar dengan bahasa yang baik dan benar dan
memberikan teladan demi pengembangan bahasa Indonesia.

Oleh karena itu diperlukan kolaborasi ”epik” antara rakyat, pemerintah, media massa dan lembaga
pendidikan dalam mewujudkan harapan bahasa Indonesia ”Go Internasional”, terlepas dari semua
keniscayaan yang ada terkandung suatu harapan bahwa Indonesia akan ”bertahan” dan ”menyerang”,
menjadi sebuah negara yang diperhitungkan jika kita sebagai rakyat Indonesia bangga akan
predikat bhinneka budaya dan secara tangguh berani bersaing di kancah internasional sebagai negara
yang ika. Semua pihak dituntut untuk peduli terhadap perkembangan bahasa Indonesia, baik itu pelajar,
pengajar, pejabat, maupun pers. Apalagi pers memiliki peran yang sangat besar karena produknya setiap
hari dibaca atau dinikmati masyarakat luas. Kini saatnya kita menunjukkan kecintaan yang tinggi
terhadap bahasa Indonesia karena