Anda di halaman 1dari 5

Moodle adalah sebuah nama untuk sebuah program aplikasi yang dapat merubah sebuah media

pembelajaran kedalam bentuk web. Aplikasi ini memungkinkan siswa untuk masuk kedalam “ruang
kelas digital” untuk mengakses materi-materi pembelajaran. Dengan menggunakan Moodle, kita
dapat membuat materi pembelajaran, kuis, jurnal elektronik dan lain-lain. Moodle itu sendiri adalah
singkatan dari Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment.
Moodle merupakan sebuah aplikasi Course Management System (CMS) yang gratis dapat di-
download, digunakan ataupun dimodifikasi oleh siapa saja dengan lisensi secara GNU (General
Public License). Anda dapat men-download aplikasi Moodle di alamat http://www.moodle.org atau
Anda dapat install gratis di Server www.e-Padi.com dengan berlangganan paket Hosting apa saja.
Saat ini Moodle sudah digunakan pada lebih dari 150.000 institusi di lebih dari 160 negara didunia.
Aplikasi Moodle dikembangkan pertama kali oleh Martin Dougiamas pada Agustus 2002 dengan
Moodle Versi 1.0. Saat ini Moodle bisa dipakai oleh siapa saja secara Open Source.

Apa saja yang dibutuhkan agar aplikasi Moodle dapat berjalan dengan baik?
- Apache Web Server
- PHP
- Database MySQL atau PostgreSQL

Dengan menggunakan Moodle kita dapat membangun sistim dengan konsep E-Learning
(pembelajaran secara elektronik) ataupun Distance Learning (Pembelajaran Jarak Jauh). Dengan
konsep ini sistim belajar mengajar akan tidak terbatas ruang dan waktu. Seorang
dosen/guru/pengajar dapat memberikan materi kuliah dari mana saja. Begitu juga seorang
mahasiswa/siswa dapat mengikuti kuliah dari mana saja.

Bahkan proses kegiatan test ataupun kuis dapat dilakukan dengan jarak jauh. Seorang
dosen/guru/pengajar dapat membuat materi soal ujian secara online dengan sangat mudah.
Sekaligus juga proses ujian atau kuis tersebut dapat dilakukan secara online sehingga tidak
membutuhkan kehadiran peserta ujian dalam suatu tempat. Peserta ujian dapat mengikuti ujian di
rumah, kantor, warnet bahkan di saat perjalanan dengan membawa laptop dan mendukung koneksi
internet.
Berbagai bentuk materi pembelajaran dapat dimasukkan dalam aplikasi Moodle ini. Berbagai
sumber (resource) dapat ditempelkan sebagai materi pembelajaran. Naskah tulisan yang ditulis dari
aplikasi pengolah kata Microsoft Word, materi presentasi yang berasal dari Microsoft Power Point,
Animasi Flash dan bahkan materi dalam format audio dan video dapat ditempelkan sebagai materi
pembelajaran.

Berikut ini beberapa aktivitas pembelajaran yang didukung oleh Moodle adalah sebagai berikut:

Assignment
Fasilitas ini digunakan untuk memberikan penugasan kepada peserta pembelajaran secara online.
Peserta pembelajaran dapat mengakses materi tugas dan mengumpulkan hasil tugas mereka dengan
mengirimkan file hasil pekerjaan mereka.

Chat
Fasilitas ini digunakan untuk melakukan proses chatting (percakapan online). Antara pengajar dan
peserta pembelajaran dapat melakukan dialog teks secara online.

Forum
Sebuah forum diskusi secara online dapat diciptakan dalam membahas suatu materi pembelajaran.
Antara pengajar dan peserta pembelajaran dapat membahas topik-topik belajar dalam suatu forum
diskusi.
Kuis
Dengan fasilitas ini memungkinkan untuk dilakukan ujian ataupun test secara online.

Survey
Fasilitas ini digunakan untuk melakukan jajak pendapat secara online.

Moodle juga menyediakan kemudahan untuk mengganti model tampilan (themes) website e-
learning dengan menggunakan teknik template. Beberapa model themes yang menarik telah
disediakan oleh Moodle. Selain itu tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk merancang dan
membuat bentuk tampilan (themes) sendiri.
Beberapa pilihan bahasa juga telah disediakan oleh aplikasi Moodle. Dukungan terhadap bahasa
tertentu ini terus berkembang dan dapat di dapatkan dengan cara men-download-nya dari website
www.Moodle.org. Saat ini penggunaan bahasa Indonesia juga telah didukung oleh Moodle. Sehingga
website pembelajaran yang kita buat tersebut tampil dalam bahasa Indonesia.

Moodle mendukung pendistribusian paket pembelajaran dalam format SCORM (Shareble Content
Object Reference Model). SCORM adalah standard pendistribusian paket pembelajaran elektronik
yang dapat digunakan untuk menampung berbagai macam format materi pembelajaran, baik dalam
bentuk teks, animasi, audio dan video. Dengan menggunakan format SCORM maka materi
pembelajaran dapat digunakan dimana saja pada apalikasi e-learning lain yang mendukung SCORM.
Saat ini telah banyak aplikasi e-learning yang mendukung format SCORM ini. Dengan demikian maka
antar lembaga pendidikan, sekolah ataupun kampus dapat saling bertukar materi e-learning untuk
saling mendukung materi pembelajaran elektronik ini. Dosen atau pengajar cukup membuat sebuah
materi e-learning dan menyimpannya dalam file dengan format SCORM dan memberikan materi
pembelajaran tersebut dimanapun dosen atau pengajar itu bertugas.
Demikianlah ulasan dan pembahasan singkat tentang penggunaan Moodle dalam mendukung
kegiatan pembelajaran elektronik (e-learning) atau pembelajaran jarak jauh (distance learning).

Semoga bermanfaat bagi Anda semua dan tentunya dapat membuka wawasan kita tentang konsep
e-learning dan berbagai macam kemudahannya.
2.4.3 Pemanfaatan E-learning Untuk Pembelajaran

Menurut Jaya Kumar C. Koran (2002), e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan rangkaian
elektronik (LAN, WAN, atau Internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau
bimbingan. Adapula yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang
dilakukan melalui media Internet.

Perbedaan Pembelajaran Tradisional dengan e-learning yaitu guru dianggap sebagai orang yang
serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajarnya. Sedangkan di
dalam pembelajaran ‘e-learning’ fokus utamanya adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu
tertentu dan bertanggungjawab untuk pembelajarannya. Suasana pembelajaran ‘e-learning’ akan
‘memaksa’ pelajar memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajarannya. Pelajar membuat
perancangan dan mencari materi dengan usaha, dan inisiatif sendiri. Khoe Yao Tung (2000)
mengatakan bahwa setelah kehadiran guru/dosen dalam arti sebenarnya, Internet akan menjadi
suplemen dan komplemen dalam menjadikan wakil dosen/guru yang mewakili sumber belajar yang
penting di dunia.

Cisco (2001) menjelaskan karakteristik e-learning, antara lain:


Pertama, Memanfaatkan jasa teknologi elektronik; di mana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa
atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh
hal-hal yang protokoler;
Kedua, Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks).
Ketiga, Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer
sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan
memerlukannya.
Keempat, Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang
berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.

Untuk dapat menghasilkan e-learning yang menarik dan diminati, Onno W. Purbo (2002)
mensyaratkan tiga hal yang wajib dipenuhi dalam merancang e-learning, yaitu: sederhana, personal,
dan cepat. Sistem yang sederhana akan memudahkan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi
dan menu yang ada, dengan kemudahan pada panel yang disediakan, akan mengurangi pengenalan
sistem e-learning itu sendiri, sehingga waktu belajar peserta dapat diefisienkan untuk proses belajar
itu sendiri dan bukan pada belajar menggunakan sistem e-learning-nya. Syarat personal berarti
pengajar dapat berinteraksi dengan baik seperti layaknya seorang guru yang berkomunikasi dengan
murid di depan kelas. Dengan pendekatan dan interaksi yang lebih personal, peserta didik
diperhatikan kemajuannya, serta dibantu segala persoalan yang dihadapinya. Hal ini akan membuat
peserta didik betah berlama-lama di depan layar komputernya. Kemudian layanan ini ditunjang
dengan kecepatan, respon yang cepat terhadap keluhan dan kebutuhan peserta didik lainnya.
Dengan demikian perbaikan pembelajaran dapat dilakukan secepat mungkin oleh pengajar atau
pengelola.

2.4.4 Teknologi Pendukung E-learning

Dalam prakteknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Karena itu dikenal istilah: Computer
Based Learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan komputer; dan Computer
Assisted Learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer.
Teknologi pembelajaran terus berkembang.

Namun pada prinsipnya teknologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1. Technology-based learning
Pada prinsipnya terdiri dari Audio Information Technologies (radio, audio tape, voice mail telephone)
dan Video Information Technologies (video tape, video text, video messaging).
2. Technology-based web-learning
Pada dasarnya adalah Data Information Technologies (bulletin board, Internet, e-mail, tele-
collaboration).

Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, yang sering dijumpai adalah kombinasi dari teknologi
yang dituliskan di atas. Teknologi ini juga sering dipakai pada pendidikan jarak jauh (distance
education), dimaksudkan agar komunikasi antara murid dan guru bisa terjadi dengan keunggulan
teknologi e-learning ini.

Rosenberg (2001) mengkategorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning.
Pertama, e-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat,
menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan
informasi. Kedua, e-learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan
standar teknologi Internet.
Ketiga, e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran
yang menggungguli paradigma tradisional dalam pelatihan.

Penggunaan e-learning tidak bisa dilepaskan dengan peran Internet. Menurut Williams (1999).
Internet adalah ‘a large collection of computers in networks that are tied together so that many
users can share their vast resources’.

2.4.5 Kelebihan dan Kekurangan E-Learning

Petunjuk tentang manfaat penggunaan Internet, khususnya dalam pendidikan terbuka dan jarak
jauh (Elangoan, 1999; Soekartawi, 2002; Mulvihil, 1997; Utarini, 1997), antara lain:

Pertama, Tersedianya fasilitas e-moderating di mana dosen dan mahasiswa dapat berkomunikasi
secara mudah melalui fasilitas Internet secara regular atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu
dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu.
Kedua, Dosen dan mahasiswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur
dan terjadwal melalui Internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar
dipelajari.
Ketiga, Mahasiswa dapat belajar atau mereview bahan perkuliahan setiap saat dan di mana saja
kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer.
Keempat, Bila mahasiswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang
dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet secara lebih mudah.
Kelima, Baik dosen maupun mahasiswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti
dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang
lebih luas.
Keenam, Berubahnya peran mahasiswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif dan lebih mandiri.
Ketujuh, Relatif lebih efisien. Misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari perguruan tinggi atau
sekolah konvensional.

Walaupun demikian pemanfaatan internet untuk pembelajaran atau e-learning juga tidak terlepas
dari berbagai kekurangan. Berbagai kritik (Bullen, 2001, Beam, 1997), antara lain.

Pertama, Semakin berkurangnya interaksi antara dosen dan mahasiswa atau bahkan antar siswa itu
sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses
pembelajaran.
Kedua, Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong
tumbuhnya aspek bisnis/komersial.
Ketiga, Proses pembelajarannya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.
Keempat, Berubahnya peran dosen dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional,
kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT.
Kelima, Mahasiswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
Keenam, Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet.
Ketujuh, Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilan mengoperasikan internet.
Kedelapan, Kurangnya orang ahli dalam hal penguasaan bahasa pemrograman komputer.