Anda di halaman 1dari 11

1. Bagaimanakah interpretasi dari pemeriksaan diskenario ?

Pemeriksaan io : klasifikasi angle kelas 2 divisi 1 : insisiv proklinasi


Divisi 2 : insisiv retrognasi
Overjet >8mm : gigi maksila ra protusi. Dihitung dr horizontal ra dan rb
Sna (normal 82, std deviasi 2derajat) : normal
SNA dan SNB digunakan untuk mengetahui relasi RA dab RB terhadap kranium.
Melihat kelainan skeletal.SNA yang normal menunjukkan 82 derajat dengan Standar
Deviasi 2, apabila lebih dari angka normal dinyatakan maksila protuded, dinyatakan
retruded apabila kurang dari angka normal. SNB normal 80 dengan SD 2.
Maksila
 Posisi antero-posterior maksila terhadap kranium diukur dengan sudut SNA.
 Sudut ini untuk menentukan prognatisme maksila.
 Sudut SNA untuk menentukan apakah maksila protrusif atau retrusif
terhadap basis kranial.
 Rerata sudut SNA 82°; > 82°berarti maksila protrusif; < 82° maksila retrusif.

Wayan Ardhana. 2014. Dasar dasar sefalometri. Bagian Ortodonsia FKG UGM.
Yogyakarta.
2. Apa saja pemeriksaan dan pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk mengetahui
diagnosis diskenario ?
Identifikasi pasien
Anamnesis : ada/tidak riwayat obstruksi jalan nafas
Pemeriksaan umum
Pemeriksaan lokal : IO dan EO
Pemeriksaan klinis : dijempol ada/tidak kalus
Pemeriksaan mirror test : memasukkan kaca mulut kedalam RM jika ada uap diduga
pasien bernafas dr mulut
Pembuatan model study
Pemeriksaan radiograf : sefalometri utk melakukan perhitungan apakah ada kelainan
didental/skletal.
Perhitungan
Fotoprofil wajah
Determinasi lengkung
diagnosis
perencanaan perawatan
perawatan
 Anamnesis:
- keluhan utama
- Riwayat Kasus (Case History)
Disini dimaksudkan agar operator dapat menelusuri riwayat
pertumbuhan dan perkembangan pasien yang melibatkan komponen
dentofasial sampai terjadinya kasus maloklusi seperti yang
dideritapasien saat ini. Rawayat kasus dapat ditelusuri dari beberapa
aspek : Riwayat Gigi-geligi (Dental History), Riwayat Penyakit (Desease
History), Riwayat keluarga (Family History), Kebiasaan buruk (Bad
habit).
 PEMERIKSAAN KLINIS / PEMERIKSAAN OBYEKTIF:
- Umum / General : Maksud pemeriksaan klinis menyangkut tinggi
badan, berat badan, keadaan jasmani serta keadaan gizi pasien adalah
untuk memperkirakan pertumbuhan dan perkembangan pasien secara
umum, sedangkan data keadaan mental pasien diperlukan untuk
menentukan apakah pasien nanti dapat bekerja sama (kooperatif)
dengan baik bersama operator dalam proses perawatan untuk
mendapatkan hasil perawatan yang optimal.
- Khusus / Lokal :
 Luar mulut / Ekstra Oral : bentuk muka, tipe muka, profil muka,
pemeriksaan otot mastikasi dan otot bibir
 Intraoral : Kebersihan mulut (oral hygiene / OH), Keadaan lidah,
Palatum, Gingiva, Mucosa, pemeriksaan frenulum.
 Analisis model studi:
- Pembuatan model studi
- Analisis model studi
Skema model rahang atas dan rahang bawah :
Pada kartu status dan laporan praktikumdibuat skema gigi-geligi
pasien dari proyeksi oklusal. Dibuat pula gambarboxing model studi
dan masing-masing elemen gigi diberi nomer (nomenclature) dengan
cara yang lazim dilakukan.

Wayan Ardhana . Prosedur Pemeriksaan Ortodontik , Bagian


Orthodonti, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. 2009.
3. Apa penatalaksanaan dari kasus diskenario ?
Bionator, alat fungsional removable. Untuk memajukan mandibula, dan untuk
mengkoreksi palatal bite
Myofungsional appliance : removable dan fix
Removable : bionator, twinblok dan aktivator
Fix : herbst

Evaluasi penyebab : menghisap jempol


Menghilangkan penyebab : jempolnya diberi guard, diberi plester
Penatalaksanaan : aktivator disertai headgear. Aktivator utk maloklusi kelas 2 divisi 1
Headgear : alat ekstraoral , merangsang pertumbuhan mandibula kearah anterior
Edukasi orangtua, peran orangtua agar anak tdk melakukan badhabit lagi.

Apabila usia anak lebih dari 7 tahun sebaiknya orangtua bekerjasama dengan drg
dengan menggunakan alat lepasan orthodonti, misalnya bionator.

Fungsi dari bionator:


- Merawat retrusi mandibula
- Menghasilkan posisi ke depan pada RB, mendorong terjadinya postur baru
pada mandibula
- Menghasilkan perubahan skeletal, dentoalveolar dan otot pada regio
kraniofasial

4. Apa saja macam2 alat orthodonsi dan indikasi kontraindikasi nya? Mekanisme cara
kerja dan gambar
 HERBS (FIXED)
- Merupakan jenis tipe cepat
- komponen utama: terdiri dari tube dan
- Dirancang untuk MO klas II
- Indikasi (untuk stimulasi pertumbuhan kondilus mandinbula dengan
mandubula yg retro, pasien obstruksi jalan napas hidung, yang tidak
memungkinkan memakai pesawat lepas, pasien tidak kooperatif)
LEPASAN

 BIONATOR

- Indikasi penggunaan bionator adalah pada penderita maloklusi kelas II


dengan tinggi muka bagian bawah sangat pendek. Pada kasus dengan
tinggi muka yang besar, bionator ini dapat juga digunakan untuk
mencegah bertambahnya erupsi gigi posterior dengan menggunakan
akrilik interoklusal. (Graber dan Neuman, 1984)
Menurut Rakosi dkk (1993), maloklusi kelas II divisi 1 pada periode gigi
bercampur merupakan indikasi yang tepat untuk menggunakan
bionator dengan beberapa kondisi, yaitu lengkung gigi baik, tidak ada
crowding, mandibula retruded, kelainan skeletal tidak terlalu parah
dan gigi-gigi insisif atas tiping ke labial.
- Kontraindikasi penggunaan bionator
Hubungan kelas II yang disebabkan maksila protruded, ada pola
pertumbuhan vertikal dan insisif bawah tiping ke labial. Perawatan
akan berhasil baik apabila ada deepbite yang disebabkan oleh
infraoklusi gigi-gigi molar dan premolar, terutama karena posisi lidah
ke lateral, sebaliknya tidak akan berhasil apabila deepbite disebabkan
supraklusi gigi-gigi insisif. (Graber dan Neuman, 1984). Selain itu
menurut Graber dan Neuman kontraindikasi penggunaan bionator
ialah pada kasus gigi berjejal. Maloklusi dengan gigi berjejal dan
pergeseran midline maka posisi gigi yang demikian merupakan
kontraindikasi penggunaan bionator karena memerlukan pencabutan
dan pergeseran gigi geligi.
- Prinsip kerja: Untuk maloklusi klass II
Gigi incisivus maksila akan diretraksi, maka labial bow harus
dalamkeadaan aktif. Pada beberapa kasus dengan modifikasi labial
bow bawah dimana gigi insisivus mandibula akan diprotraksi, maka
labial bow harus dalam keadaan pasif.
Gigi posterior maksila akan digeser ke distal dan dicegah agar tidak
bergerak ke mesial yaitu dengan mengasah lempeng akrilik pesawat
secara benar, sehingga jalur erupsi gigi posterior ke arah distal.
Pengasahandilakukan pada daerah distal gigi, sedangkan pada bagian
mesial tetapmenyentuh gigi. Sebaiknya gigi geligi mandibula jalur
erupsinya ke arahmesial maka lempeng akrilik menyentuh bagian
distal dan bebas di daerah mesial.

Zan Marsiano, Yuniar. 2005. Perawatan Ortodontik dengan Alat


Myofungsional Menggunakan Bionator. Jakarta : Temu Ilmiah
Tahunan Dentistry 2005 PDGI.
 AKTIVATOR
S uatu alat fungsional yang dapat menghasilkan daya orthodonti dan
orthopedik. Daya orthodonti pengaruhnya pada gigi geligi yaitu daya untuk
menggerakkan gigi geligi dalam arah sagital, vertikal dan transfersal.
Daya orthopedic adalah daya untuk mempengaruhi struktur
kraniofacial dan pengaruhnya pada rahang yaitu merangsang pertumbuhan
mandibula dan menghambat pertumbuhan maksila.
Aktivator prinsip kerjanya adalah dengan merangsang aktivitas otot-otot
pengunyahan dan kemudian menyalurkan, mengubah atau mengarahkan
daya-daya alami ke daerah sekitarnya, seperti gigi geligi, jaringan periodontal,
tulang alveolar dan sendi temporo mandibula.
Secara umum pengaruh aktivator yaitu pengaruh pemakaian aktivator
terhadap kranium, maksila,mandibula, otot pengunyahan dan gigi.
- Keuntungan aktivator :
Efektifitas untuk perawatan maloklusi kelas II divisi 1 dengan
retrognati mandibula dan pada masa geligi sulung atau geligi
campuranPemakaiannya tidak terlalu merusak jaringan lunak
Karrena hanya digunakan malam hari, maka baik untuk estetik dan
kebersihan mulut
Menolong memperbaiki kebiasaan buruk seperti cara penelanan yang
salah, bernafas melalui mulut dan lain-lain
- Kerugian Aktivator :
Dibutuhkan kooperatif pasien
Pada kasus crowding, pemakaian aktivator kurang efektif
Penggunaannya tidak efektif pada pasien dewasa
Pengontrolan daya pada masing-masing gigi tidak seteliti alat
orthodontik cekat

Amalia Oeripto dan F.Susanto Adiwinata (1994), Aktivator Sebagai Alat


Fungsional Orthopedi Dalam Perawatan Orthodonti
5. Apa saja macam badhabit dan etiologinya ?
Cheek bitting, pemeriksaan dapat dilihat dari pemeriksaan IO : daerah mukosa tdpt
lesi spt linea alba(varian normal), fricktional keratosis etiologi karena ada gesekan
Frictional (Traumatic) Keratosis
Merupakan lesi putih yang disebabkan karena adanya tekanan atau gesekan dalam
mulut sehingga menyebabkan pembentukan keratin yang berlebihan.
Penyebab:
- Kebiasaan menggigit pipi
- Protesa gigi lepasan yang tidak cekat, kasar, atau patah, dan peralatan
ortodontik
- Permukaan gigi yang fraktur atau tidak rata yang mempengaruhi
jaringan lunakdisekitarnya
- Gesekan konstan benda eksternal, seperti : pipa tembakau, instrumen
musik yangberada di dalam mulut dalam waktu yang lama.
- Kebiasaan menggigit pipi, juga dikenal sebagai morsicatio buccarum
sehingga lesiputih menyebar.
6. Apa saja jenis kelainan dentoskeletal ?
Kelainan dentoskeletal dapat dibagi menjadi 3 kategori, yaitu :
1) Kelainan fasial yang cukup dirawat dengan perawatan orthodonti saja
2) Kelainan dentofasial dengan diskrepansi skeletal ringan atau sedang yang
masih dapat dirawat dengan kompensasi dental dan memandu pertumbuhan
3) Kelainan dengan maloklusi dan diskrepansi skeletal sedang sampai berat yang
harus dirawat dengan kombinasi perawatan orthodonti dan bedah orthognati.

Kelainan dentoskeletal atau sering disebut juga kelainan dentofasial bisa ditinjau

dalam dua aspek, maksila dan mandibular.

1) Deformitas maksila dapat diklasifikasikan antara lain :

(1) Maksila protrusif – pertumbuhan yang berlebih dalam arah horisontal dalam

molar, kadang-kadang dengan protrusi mandibula (protrusi bimax)

(2) Defisiensi anteroposterior (AP) Maksila. Pertumbuhan maksila yang tidak

adekuat dalam arah anterior – kelas III

(3) Kelebihan Maksila Vertikal. Pertumbuhan berlebih alveolus maksila dalam arah

inferior – penampakan gigi dan gingival yang berlebihan, ketidakmampuan

bibir menutup tanpa ketegangan pada otot mentalis

(4) Defisiensi Maksila Vertikal. Penampakan edentulous yang menunjukkan tidak

ada gigi, gigitan dalam pada mandibula dengan ujung dagu yang menonjol,

wajah bagian bawah yang pendek

(5) Defisiensi Maksila Transversal. Etiologi : Kongenital, pertumbuhan, traumatik,

dan iatrogenik, misalnya etiologi pertumbuhan – kebiasaan menghisap ibu jari,

dan iatrogenik – pertumbuhan yang terbatas yang disebabkan oleh pembentukan

jaringan parut palatal;

(6) Celah Alveolar, konstriksi maksila dalam dimensi transversal AP


Adapun ciri klinis prognatism maksila adalah hubungan molar bisa berupa

hubungan Kelas II, pasien memiliki profil yang cembung, overbite yang meningkat

serta kurva Spee yang berlebihan, pasien mungkin memiliki bibir atas hipotonis yang

pendek yang mengakibatkan penutupan bibir yang buruk, kebanyakan pasien memiliki

aktivitas otot yang abnormal. Misalnya aktivitas otot buccinator yang abnormal yang

mengakibatkan lengkungan rahang atas yang konstriksi dan sempit yang menimbulkan

gigitan terbalik posterior dan otot mentalis hiperaktif.

Gigitan terbuka anterior skeletal memiliki tinggi wajah bagian bawah meningkat.

Bibir atas yang pendek dengan penampakan dari gigi insisivus RA yang berlebihan dan

sudut mandibular plane yang curam. Pasien sering memiliki wajah yang panjang dan

sempit. Pemeriksaan sefalometrik menunjukkan: mandibula yang berotasi ke bawah

dan ke depan; pada beberapa pasien, dapat terlihat tipping ke depan dari basis skeletal

rahang atas. Ciri-ciri umum yang lain adalah peningkatan vertikal maksila.

Defesiensi maksila transversal. Gigitan saling posterior unilateral atau bilateral.

Gigi-gigi yang berjejal, rotasi, dan bergeser ke bukal atau palatal. Bentuk lengkungan

maksila yang sempit dan lonjong-lengkung berbentuk jam pasir yang tinggi, berlapis

datar. Deformitas ini merupakan deformitas skeletal yang paling sering berkaitan

dengan hipoplasia vertikal dan anteroposterior maksila.

2) Deformitas mandibula meliputi:

(1) Kelebihan AP mandibula (hyperplasia)

(2) Defisiensi AP mandibula (hypoplasia)

(3) Asimetri AP mandibula (pergeseran garis tengah mandibula secara klinis).

Prognatism Mandibula sendiri memiliki ciri klinis yaitu hubungan molar mungkin

hubungan kelas III, pasien biasanya memiliki profil yang konkaf, gigitan terbalik
posterior akibat lengkungan rahang atas yang sempit dan pendek tapi dengan

lengkungan rahang bawah yang lebar, dan pasien dengan peningkatan tinggi

intermaksilla dapat mengalami gigitan terbuka anterior. Tapi beberapa pasien juga

dapat menunjukkan terjadinya gigitan dalam (deep bite).

Gigitan dalam skeletal biasanya berasal dari genetik. Rotasi mandibula ke depan

dan ke atas dengan atau tampa inklinasi maksilla ke bawah dan ke depan

mengakibatkan terjadinya gigitan dalam skeletal ini. Gigitan dalam skeletal juga

mengalami penurunan tinggi wajah interior, pola pertumbuhan wajah horizontal dan

celah interoklusal yang kurang (free way space). Pemeriksaan sefalometrik

menunjukkan bahwa sebagian besar dari permukaan-permukaan sefalometrik

horizontal misalnya mandibular plane, FH plane, SN plane, dan seterusnya saling

paralel satu sama lain.

3) Gabungan deformitas maksila – mandibula, meliputi :

(1) Sindrom Wajah Pendek. Brachyfacial – defisiensi pertumbuhan wajah bagian

bawah dalam hal dimensi vertikal, kelas II oklusal plane mandibula yang rendah

dengan defisiensi AP mandibula, kadang-kadang dengan defisiensi maksila

vertical

(2) Sindrom Wajah Panjang. Dolicofacial – tinggi wajah bagian bawah berlebih,

sudut oklusal dan mandibular plane meningkat, sering kombinasi dengan

kelebihan maksila vertikal dengan hipoplasia mandibular

(3) Apertognatia. Sering dengan sindrom wajah Panjang – Asimetri wajah bagian

bawah. Sedangkan deformitas dagu, terdiri dari Makrogenia dan Mikrogenia.