Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

PENDAHULUAN

Dengan mengucap rasa syukur kehadirat illahi bahwa hari jadi Kabupaten
Pemalang adalah 24 Januari 1575 H, mengambil sebuah peristiwa dinobatkannya
Pangeran Benowo sebagai bupati pertama Kabupaten Pemalang oleh Sultan Hadi
Wijaya dari Pajang.
Agar masyarakat pemalang khususnya dan warga indonesia pada umumnya
mengetahui alur riwayat terjadinya Kabupaten Pemalang maka sekilas secara
singkat kami sajikan karya tulis yang berjudul “ BABAD PEMALANG “
Isi karya tulis ini kami batasi mulai dari keberadaan Kerajaan Kebon Agung
di Kabunan yang menunjukan Pemalang pernah menjadi ibukota kerajaan dan
memiliki sejarah yang tua diperkirakan abad ke VII.
Kemudian sekitar Abad XIII Bukti prasasti yang menunjukkan Pemalang
adalah daerah palungguhan Majapahit yang luas Wilayahnya.
Sekitar Abad XV Pemalang dipimpin oleh adipati-adipati yang kuat sebagai
tokoh pendekar sakti sampai akhirnya secara resmi dikukuhkan Tanggal 24
Januari 1575 H di Pemalang sebagai sebuah Kabupaten yang dikepalai oleh
seorang bupati yaitu Pangeran Benowo.
Sedangkan kejadian setelah Pangeran Benowo belum kami susun.
Tentu saja penulisan sederhana ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga
masukan, kritikan dan saran masih kami harapkan demi lebih baiknya penulisan
ini.

Terimakasih.

Penulis

DARYONO, S.Pd
BAB I
ASAL USUL NAMA PEMALANG

Nama pemalang asalnya dari sebuah nama sungai MALANG, sungai


Malang membentang dari sebelah utara desa Kebunan membujur dari timur ke
barat sampai Pelabuhan Pelawangan, semula sengai Malang digunakan sebagai
sarana Transportasi dari ibukota Pemalang tempo dulu yang bernama Kabunan
atau Kebon Agung, kemudian taman, beji dan padarungan (Gudang Logistik).
Sampai akhir kerajaan Majapahit berpindah ke penguasa islam Adipati Sambung
Yudo, atau waktu itu yang dikenal sebagai Ki Gede Sambung Yudo.
Karena terjadi pengendapan lumpur dari jaman ke jaman maka sungai
malang berpindah ke arah utara yaitu dari Comal ke Asemdoyong, sungai itu
melintang malang tidak dari selatan (Gunung) ke utara (Laut). Tapi dari arah
timur ke barat, sehingga membingungkan orang yang ingin berbuat jahat.
Konon utusan Sultan Yusuf yaitu Patih Talabudin waktu hendak mencuri
Keris Kyai Tapak dibuat bingung oleh posisi sungai malang yang berfungsi
sebagai pagar penghalang untuk melindungi kota dari orang-orang yang akan
berbuat jahat.
Sejak itulah wilayah sungai malang disebut kota PEMALANG.
BAB II
KERAJAAN KEBON AGUNG DI PEMALANG

Berdasarkan bukti-bukti sejarah, pemalang merupakan sebuah kota yang tua


dan wilayahnya sangat luas.
1. Sekitar abad ke VII, pernikahan Prabu Branta Senawa dari kerajaan Galuh
Pakuan (Kerajaan ke 2 di P. Jawa) dengan Dewi Prwati cucu Maharani Cima
di Jepara yang merupakan Raja Jawa ke 3, menurunkan anak tunggal yang
bernama SANJAYA.
2. Sanjaya sendiri sebagai pewaris tunggal kedua kerajaan tidak meneruskan
jadi raja di salah satu dari kedua kerajaan atau menggabungkan keduanya.
Tetapi memilih mendirikan kerajaan baru di magelang dengan nama kerajaan
BUMI MATARAM.
3. Kekuasaan kerajaan Galuh Pakuan diserahkan kepada saudaranya dari iran :
Teja Kencana. Juga kekuasaan di kalingga dilanjut cucu maharani cima yang
lain.
4. Untuk menjalin hubungan kedua kerajaan maka sanjaya menikahi putri dewi
sima dari kalingga mempunyai putra lelaki bernama Rakai Panam Karam.
Sanjaya menikahi Dewi Sekar Melati dari Sunda dan melahirkan seorang lelaki
diberi nama Rakai Panaraban (lahir di Panaraban, Pekalongan)
5. Diakhir pemerintahannya maka Prabu Sanjaya mewariskan kekuasaannya
kepada kedua putranya dengan batas wilayah diberi nama Tugu (Gapura
Pembatas)
a. Rakai Panamkaran melanjutkan kekuasaan ayahnya menjadi Raja
Mataram Hindu yang ke 2, pada tahun 746 M dengan wilayah sebagai
berikut :
1. Wilayah SEMBARA (Semarang sampai dengan Purwodadi)
2. Wilayah KEDU (Semarang sampai dengan Magelang)
3. Wilayah BAGELEN (Purworejo sampai dengan Prambanan)
4. Wilayah BANYUMAS (Kebumen sampai dengan Cilacap)
b. Rakai Panaraban mendirikan kerajaan sendiri dengan nama KERAJAAN
KEBON AGUNG, pusat pemerintahannya di KABUNAN, PEMALANG.
1. Wilayah Kendal (dari Tugu sampai dengan Weleri)
2. Wilayah Batang (dari Weleri sampai dengan Pekalongan)
3. Wilayah Pemalang (Pemalang, Tegal, Brebes)
Berdasar Prasasti DUNGLO (temanggung) dari lempeng tembaga Rakai
Panaraban diwisuda (ABISEKA) sebagai raja 1 April 784 M.
6. Semua saudara istri rakai panaraban yang dari sunda di boyong ke pemalang
dan diangkat sebagai pejabat pemangku wilayah atau ketua adat, dan mereka
mendirikan desa dengan ciri menggunakan kata Ci di depan misalnya :
Cikadu, Cikendung, Cilincing, Cibiyuk, Cibelok.
7. Kehadiran prabu caka dari india yang membawa agama budha menyebabkan
rakai panaraban meninggalkan istrinya berkelana ke selatan diantaranya
pernah tinggal di kebun agung, bantarbolang kenudian ke kuta bawa dan
berakhir di ujung selatan pemalang yaitu desa kuta, beliau tidak berputera dan
setelah meninggal maka kubur rakai Panaraban dan istrinya ditanam di
puncak bukit MENDELEM.
BAB III
LAHIRNYA KABUPATEN PEMALANG

Seperti disebut dalam bab I bahwa Pemalang adalah kota yang tua yang
keberadaannya sudah sejak abad ke VII dengan adanya kerajaan kebon agung di
Kabunan Pemalang, berarti Pemalang pernah menjadi ibukota kerajaan, lahirnya
Kabupaten Pemalang mempunyai sejarah yang panjang yang secara singkat akan
diungkapkan pada uraian keterangan dibawah ini :
A. ABAD KESEPULUH
Masuknya expansi agama budha oleh prabu BHANU ke pemalang
dan menyingkirnya Rakai Panaraban yang beragama Hindu Siwa untuk
menghindari pertumpahan darah membentuk kerukunan umat beragama di
pemalang.
Terlebih lagi dengan perkawinan raja hindu (Rakai Pikatan dengan
putri raja budha Pramodyawardani) yang kemudian menetapkan diangkatnya
di pemalang : SANG PAMIGAT”
Berarti pemalang menjadi daerah palungguhan pejabat tinggi yang
mengatur masyarakat hindu dan budha berkedudukan di MANGHURI
(Mengori Sekarang)

B. JAMAN MOJOPAHIT
Pada jaman tribuana tungga dewi mojopahit diadakan upacara
SRADHA di pusatkan dipuncak Mendelem (Rakai Panaraban dikuburkan dan
diyakini sebagai Titisan Bethara Ciwa)
Muncul tempat-tempat suci di sekitar bukit mendelem .
1. Bentar : pintu masuk (gapura alam) kedaerah yang disucikan (MANDALA
= Mendelem)
2. Belik : mata air untuk sesuci sebelum kepuncak mendelem
3. Penpen : tempat nyepi ( PENEPIAN )
4. Kemesu : tempat samadi ( MESURAGA )
5. Tampol : berarti candi ( TEMPLE )
Pada jaman prabu hayam wuruk nama pemalang tertulis pada Prasasti
TROWULAN, yang merupakan daerah pelungguhan dan diangkatnya pejabat
mojopahit setingkat tumenggung, dengan menguasai wilayah sebagai berikut:
1. Kedal (Kendal)
2. Rando Gowok
3. Sowaru (di Batang)
4. Brojo puro (Sepuro Pekalongan)
5. Sambo (Ngambo Comal)
6. Duri (Widuri Pantai Pemalang)
7. Pabulungan (Bantarbolang)
8. Bangkal (Randudongkal)
9. Mering (Warung Pring)
10. Balawi (Selawi - Tegal)
11. Tegalan (Tegal) dan lain-lain.
Setelah Prasasti Trowulan tidak ada keterangan yang menyinggung
tentang kedudukan Pemalang.

C. AWAL LAHIRNYA KABUPATEN PEMALANG


1. Pada abad ke XV, terjadi perubahan besar dengan munculnya kerajaan
islam yang berpusat di Demak, namun Demak belum mampu
menjangkau daerah yang luas walaupun imbas dari tata pemerintahan
baru yang bernafas islam mulai di ikuti oleh daerah-daerah yang berada
di luar Demak tidak terkecuali Pemalang.
Rata-rata wilayah di kuasai oleh pendekar sakti atau wali (ulama) yang
berwibawa sedangkan Demak sebagai pusat hanya melegimitasi
kekuasaan tersebut.
2. Konon muncul pendekar dari kerajaan sebelah barat Ampel Gading yang
mempunyai murid yang mumpuni yaitu SAMBUNG YUDO, Pangeran
Sambung Yudo di kukuhkan sebagai Adipati Pemalang karena
kesaktiannya mendapat julukan KI GEDE SAMBUNG YUDO,
Pemalang mulai diatur tata pemerintahannya dengan cermat. Ibukota
Pemerintahan berada di Pedurungan
3. Setelah Ki Gede Sambung Yudo meninggal, Pemerintahan Kabupaten
Pemalang diteruskan oleh putranya yaitu Adipati Anom
WINDUGALBO, kemudian Windugalbo mengangkat seorang pendekar
sakti untuk menjadi patih bernama PATIH CINCING MURTI.
4. Suatu ketika Patih Cincing Murti meninggal dimakamkan di makam
BRUJULAN (Kabunan), sebagai gantinya diangkat putra Cincing Murti
yang masih muda tetapi tidak kalah saktinya bernama : JIWONEGORO
sebagai Patih.
5. Ketika Adipati Anom Windugalbo meninggal tidak ada gantinya karena
Adipati Anom tidak punya putra, maka Pemalang dalam keadaan
komplang atau kosong sehingga Patih Jiwonegoro bertindak pula sebagai
pejabat adipati sementara Kabupaten Pemalang.
Dengan kosongnya pimpinan Kabupaten Pemalang maka Sultan
Hadiwijaya selaku Sultan Panjang memerintahkan putranya yaitu
Pangeran Benowo sebagai Bupati Pemalang.
Diberinya kekancing yang pertama Keris Setan Kober sebuah senjata
milik Aryo Penangsang yang berhasil dibunuh putra angkat Sultan
Hadiwijaya yaitu Sutawijaya Putra Ki Gede Pemanahan, yang kedua
adalah Keris Kyai Tapak yang waktu itu berada di Kesultanan Benten
disimpan oleh Panembahan Yusuf.
Pangeran Benowo diperintahkan untuk meminjam Keris Kyai Tapak ke
Sultan Banten Panembahan Yusuf, Maka berangkatlah Pangeran Benowo
ke Banten untuk meminjam Keris Kyai Tapak yang dipegang sultan
banten Panembahan Yusuf.
Panembahan Yusuf menyerahkan keris Kyai Tapak kepada Pangeran
Benowo karena menyadari bahwa keris Kyai Tapak itu milik Pangeran
Trenggono kakek dari Pangeran Benowo, keris itu oleh Pangeran
Trenggono diberikan kepada Faletehan sebagai tanda kebesaran senopati
perang dengan tugas membantu Banten dalam rangka mengusir Portugis.
Setelah Portugis dapat diusir maka Banten juga Cirebon diserahkan
kepada Faletehan sebagai sultan, sedangkan Panembahan Yusuf adalah
putra Hasanudin dan Hasanudin adalah putra Faletehan, sehingga
panembahan Yusuf merupakan cucu Faletehan.
6. Setelah membawa kedua pusaka maka Pangeran Benowo langsung
menuju Kabupaten Pemalang untuk di wisuda menjadi Bupati Pemalang.
a. Pangeran benowo dilantik menjadi Bupati Pemalang oleh sultan
Pajang pada hari jum’at pon tanggal 24 Januari 1575 M. atau tanggal
2 syawal tahun 1496 H.
Dengan suryo sengkolo : LUNGITING SABDA WANGSITING
GUSTI
Sedangkan condrosengkolo : WREKSO GAPURO MAKARYO
SAWIJI
b. Pada hari itu ditetapkan pula PATIH SAMPUN JIWOROGO
sebagai patih Kabupaten Pemalang, dengan semboyan : BANTENG
WARENG SINAYUDAN
BAB IV
PATIH SAMPUN JIWONEGORO

1. Pada hari pelantikan Pangeran Benowo menjadi Bupati di Pemalang sekaligus


mengadakan acara halal bihalal karena tanggal 24 Januari 1575 M, bersamaan
tanggal 2 Syawal 982 H, yaitu hari raya ke 2 sehari setelah idul fitri di
pendopo Kabupaten dihadiri pejabat Negara lengkap yaitu Bupati Pangeran
Benowo, adipati lama yang sekaligus menangkap patih yaitu Patih
Jowonegoro para tumenggung, para demang, para penerus, dan para hadirin
tamu undangan seluruhnya hadirin pada acara yang sangat berbahagia.
Sebelum acara serah terima jabatan dari adipati lama kepada adipati yang
baru maka Pangeran Benowo bertanya kepada Jiwonegoro, “sebagaimana
kebiasaan ketika saya ada di Demak maupun di pajang kapan ada acara
seperti ini pasti ada hiburan, apakah andika tidak menyediaka hiburan? Inikan
hari raya juga” maka Adipati Jiwonegoro menjawab: “sendika gusti, hiburan
sampun dipun sedia aken” dan seketika itu datanglah rombongan ledek
gembyong lengkap dengan niaga serta gamelannya muncul mendatangi
pendopo, dibawah sinden SARINTEN dari Gombong (Pemalang Selatan)
yang waktu itu sangat terkenal.
Para hadirin termasuk Pangeran Benowo terheran-heran karena Jiwonegoro
dalam sekejap mampu menyediakan hiburan yang semula tidak di perkirakan
dan Jiwonegoro sudah (SAMPUN), merencanakan dan menyediakan
permintaan Pangeran Benowo.
2. Pada hari paseban pejabat Kabupaten Pemalang hadir resmi Pangeran
Benowo selaku adipati dan Jiwonegoro selaku patih dimulai rapat kerja untuk
merencanakan pembangunan yaitu mengutamakan sarana jalan dan jembatan.
Pangeran Jiwonegoro memerintahkan kepada patih Jiwonegoro: “paman patih
dengan kemmpuan kita, buatlah jembatan di kali bangen dan buat pula
jembatan di Pelawangan” jawab patih Jiwonegoro: “SAMPUN DADOS
(sudah jadi)” apakah yang dikatan patih Jiwonegoro benar?
Ternyata sudah dibangun tidak hanya 2 jembatan tetapi diseluruh Kabupaten
Pemalang terdapat 17 jembatan baru.
1. Brug Kali Bengen (Dekat Pegadaian)
2. Brug Giyanti (Mulyoharjo)
3. Brug Kali Sungsang (Kebondalem)
4. Brug Kali Waluh (KD, Banjar)
5. Brug Comal Do Comal
6. Brug Kali Rambut (Pelawangan)
7. Brug Kali Krasak
8. Brug Pesapen (Depan Kantor Kecamatan)
9. Brug Slarang
10. Brug Kali Reja Di Igir Petir
11. Brug Gentong Reyot (Karang Moncol)
12. Brug Mejagong
13. Brug Kecepit
14. Brug Pesanggrahan Moga
15. Brug Kali Comal (Sikasur)
16. Brug Ragajati (Bulakan)
17. Brug Kali Rejasa Di Bentar (Belik)
Rasa terimakasih dan kekaguman yang luar biasa maka Pangeran
Benowo mengadakan acara wisuda sebagai ungkapan terimakasih atas jasa
Patih Jiwonegoro dalam membangun struktur diseluruh Kabupaten Pemalang.
Patih Jiwonegoro diwisuda dengan sebutan: PATIH SAMPUN
JIWONEGORO dan patih Sampun Jiwonegoro menjabat sampai dengan
adipati MANGONENG dan baru meninggal tahun 1616 M, di Depok Slatri
Wanareja.
BAB V
PATIH TALABUDIN

Konon pada saat itu kerajaan Banten yang dipimpin oleh panembahan
Yusuf sedang kacau karena diserang oleh adiknya sendiri yang diasuh oleh Ratu
Kali Nyamat dari jepara yang menuntut tahta Kerajaan Banten.
Panembahan Yusuf memerintahkan pilihannya Talabudin untuk meminta
kembali pusaka Kyai Tapak, maka berangkatlah Patih Talabudin ke Kabupaten
Pemalang.
Sedikit keterangan tentang panembahan Yusuf.
Bermula dari kemenangan Banten mengalahkan Portugis maka panglima
perang Faletehan yang disebut juga Fatahilah diangkat menjadi sultan Banten dan
Cirebon, pangeran Pasarean dari Cirebon wafat maka 1552 M Fatahilah menjadi
sultan Cirebon, kekuasaan di Banten diserahkan putranya Sultan Hasanudin,
menantunya Tubagus Angke diberi kekuasaan di Jayakarta, Sultan Hasanudin
wafat digantikan putranya yaitu Panembahan Yusuf, dan adik panembahan yusuf
diadopsi Ratu Kali Nyamat.
Konon kabarnya patih Talabudin sampai di Pemalang bertemu patih
Sampun Jiwonegoro setelah menyampaikan maksudnya maka dijelaskan oleh
Patih Sampun Jiwonegoro bahwa tidak usah membawa Keris Kyai Tapak karena
selain Kyai Tapak itu, milik sah pangeran Benowo sebagai cucu Sultan
Trenggono, juga keadaan di Banten akan aman dan kerusakan akan dapat di
padamkan maka di ijinkan patih Talabudin untuk kembali ke Banten, patih
Talabudin menuruti nasehat patih Sampun Jiwonegoro karena memang patih
sampun itu termasuk sangat mumpuni dan sakti, patih Talabudin permisi hendak
kembali, beberapa saat setelah keluar dari Kabupaten patih Talabudin tertegun,
dia merasa belum memenuhi perintah sultan Yusuf, dan sebagai duta merasa
melakukan kesalahan yang besar sementara mau kembali ke Kabupaten merasa
malu maka diputuskannya untuk mencapai tujuan dengan cara bertapa di
Waringin Tunggul yang terletak di Desa Banjaran Padarungan Barat, dan setelah
menjalankan prihatin maka kyai Tapak loncat dari ruang pusaka pendopo melesat
ke angkasa dan menancap di sebuah pohon di perbatasan Kota Pemalang sebelah
selatan yaitu Padurakso, diambillah kyai Tapak, tempat goresan pusaka dipohon
memanjang dan tempat itu disebut PENGGARIT.
Tetapi karena kemampuan pangeran Benowo dan Patih Sampun
Jiwonegoro menyebabkan patih Talabudin tak tahu arah, dan patih Talabudin
mengintari Kota Pemalang sampai beberapa hari yang ia menyangka sedang
dalam perjalanan pulang ke Banten.
Pada suatu hari di pendopo pangeran benowo dan Patih Sampun
Jiwonegoro sedang rapat menyampaikan tentang hilangnya pusaka Keris Kyai
Tapak.
Pada saat itu datanglah patih Talabudin menghadap yang menyangka ia
telah sampai di kesultanan Banten, setelah menyerahkan pusaka kyai Tapak baru
sadar bahwa ia berada di pendopo Kabupaten Pemalang.
Oleh pangeran Benowo, patih Talabudin dianggap berjasa menyerahkan
pusaka kyai Tapak maka diangkatlah sebagai patih kedua sekaligus sebagai
mubaligh menyebarkan Agama Islam, akhirnya patih Talabudin menerima jabatan
tersebut setelah utusan dari banten Alimudin menyampaikan berita bahwa
pemberontakan dapat dipadamkan dan menyusul untuk membatalkan meminjam
Pusaka Kyai Tapak.
Pulanglah Alimudin dari Pemalang membawa berita bahwa Patih
Talabudin sudah diangkat menjadi patih sekaligus juru dakwah Agama Islam.
Apakah kemudian setelah panembahan Yusuf mendengar berita tersebut,
kemudian mengangkat Alimudin sebagai patih di kesultanan Banten tidak ada
yang mengetahui.
Tetapi dikemudian hari nama Tallabudin lebih dikenal sebagai seorang
Ulama penyebar Agama Islam, sehingga terkenal dengan sebutan Syaikh
Tallabudin. Makan Syaikh Tallabudin berada di Desa Pedurungan Kecamatan
Taman.
Konon Syaikh Tallabudin disebut demikian karena memiliki kemampuan
kesaktian dapat mencabut pohon “TAL”.
Syaikh Tallabudin mempunyai Pusat Penyebaran Agama Islam di
Warung Asem Pekalongan, sedangkan perguruannya di Pemalang berada di Desa
Pedurungan Kecamatan Taman.
DATA PENDUKUNG
1. Pemalang awalnya bukan sekedar Kabupaten tetapi sebuah kerajaan yang
bernama kerajaan Kebon Agung.
2. Desa Kabunan dulunya ibukota kerajaan di kelilingi
Taman : Tempat Para Putri
Besalen : Tempat Pembuatan Senjata
Pedurungan : Gudang Persediaan Makanan
Depok : Tempat Penduduk Agama Hindu
Beji : Belumbang Ikan
3. Bukit Mendelem : Tempat Yang Disucikan
: Makam Rakai Panaraban
: Tempat Nyepi Dan Semedi
4. Tempat Pusaka : 1. Gunung Jimat
: 2. Jurang Mangu
: 3. Kubang Wrangan (Cikendung)
: 4. Laci – Bentar
PENUTUP

Babad Pemalang berisi legenda, dongeng serta bukti sejarah yang berhasil
kami himpun dari jaman kerajaan Kebon Agung di Kabunan Pemalang sekitar
abad ke VII, sampai dengan peristiwa Pangeran Benowo diwisuda sebagai Bupati
Pemalang yang pertama.
Sebagian besar penulis menunjukkan bahwa sebenarnya keberadaan
Pemalang lebih tua dari wilayah sekitar seperti Tegal, Brebes dan Purbolinggo.
Masih banyak hal-hal lain yang menghiasi sejarah Pemalang seperti ki
Buyut Majalangu dan juga Pangeran Hadiana Atas Angin dari Pakuncen
Watukumpul yang telah mendidik muridnya menjadi orang-orang besar seperti :
Pangeran Onje (bupati Pertama Purbolinggo) pangeran Sebayu (bupati pertama
Kabupaten Tegal) dan Pangeran Darul Ambyah (bupati kedua Kabupaten
Pemalang).
Kami hanya menyajikan hal-hal yang memiliki alur riwayat dan segala
sesuatu yang memiliki referensi terjadinya Kota Pemalang dan Kabupaten
Pemalang sehingga tulisan ini kami beri judul “BABAD PEMALANG”
Mudah-mudahan ada manfaat khususnya untuk memperkaya dunia
pendidikan.

Penulis

DARYONO, S.Pd
DAFTAR PUSTAKA

1. 17 ES de Clark History Of Netherland East Indies _ De Bouys.


2. Babad Parahyangan
3. Babad Negri Tegal – Ahmad Hamam Rohani
4. Sejarah Nasional Indonesia II – Marwati Juned Pusponegoro
5. Sejarah dan Kebudayaan Islam – Ahmad Syalabi Prof Dr
6. Babad Tanah Jawi – Sudibyo Z. Hadisutjipto drs
7. Ensiklopedia Kerajaan Nusantara
DOKUMENTASI

Makam Eyang Patih Sampun


Dok. Disbupdar Pemalang 2011
DOKUMENTASI

Makam Pangeran Benowo


Dok. Disbupdar Pemalang 2011
DOKUMENTASI

Makam Pengawal Pangeran Benowo


Mbah Sampar Angin dan Mbah Sapu Jagat
Dok. Disbupdar Pemalang 2011
DOKUMENTASI

Pohon Kesambi
Dok. Disbupdar Pemalang 2011
DOKUMENTASI

Makam Syeh Tallabudin


Dok. Disbupdar Pemalang 2011
DOKUMENTASI

Taman Patih Sampun


Pemalang
DOKUMENTASI

Pendopo Kabupaten Pemalang