Anda di halaman 1dari 3

nfeksi HIV/ AIDS merupakan masalah kesehatan besar di Indonesia.

Seperti fenomena
gunung es, angka kejadian HIV/ AIDS yang dilaporkan hanyalah sebagian kecil dari
banyak kasus yang sebenarnya ada dan angka kejadiannya terus meningkat tiap tahun.
Penyakit ini sering dianggap masyarakat sebagai penyakit akibat kutukan. Mitos ini
merupakan hal yang tidak benar. Tulisan singkat berikut ini berusaha menggambarkan
apa itu penyakit HIV/ AIDS, bagaimana penularan dan pengobatannya.

HIV/ AIDS – apakah itu?

AIDS, kependekan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Sindroma


Imunodefisiensi Akuisita adalah kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh
menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV. HIV (Human
Immunodeficiency virus) adalah virus golongan RNA yang spesifik menyerang sistem
kekebalan tubuh/ imunitas manusia dan menyebabkan AIDS.

HIV positif adalah orang yang telah terinfeksi HIV dan tubuh telah membentuk antibodi
(zat anti) terhadap virus tersebut. Masa jendela/window period adalah masa dimana
seseorang telah terinfeksi HIV, namun tubuh masih belum membentuk antibodi
terhadap HIV, sehingga pada pemeriksaan serologis – hasilnya negatif. Lamanya masa
jendela ini adalah sekitar 2 minggu sampai 3 bulan.

Pada saat virus HIV menginfeksi tubuh manusia, maka virus akan menyerang sel limfosit
CD4+. Sel limfosit CD4+ ini merupakan bagian dari sel darah putih yang berperan penting
dalam pertahanan tubuh manusia. Limfosit CD4+ ini merupakan target utama dari virus
HIV. Infeksi virus HIV perlahan akan menyebabkan berkurangnya jumlah sel limfosit
CD4+ dalam tubuh dan kemudian menyebabkan terjadinya gangguan pertahanan tubuh
atau respons imun. Jumlah limfosit CD4+ yang rendah dalam darah merupakan petunjuk
progresivitas penyakit pada infeksi HIV.

Gambar Bagan Perjalanan Penyakit HIV/AIDS

Gejala klinis pasien HIV/ AIDS adalah: demam lama, batuk, penurunan berat badan,
sariawan, nyeri menelan, diare, sesak napas, pembesaran kelenjar, dan penurunan
kesadaran. Apabila infeksi HIV ini sudah progresif, maka akan ditemukan tanda-tanda
infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik adalah infeksi yang timbul akibat penurunan
kekebalan tubuh. Infeksi oportunistik ini dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan
parasit – yang dapat berasal dari luar tubuh atau memang sudah ada dalam tubuh-
namun pada kondisi kekebalan tubuh normal, infeksi ini dapat terkendali oleh sistem
pertahanan tubuh. Infeksi oportunistik yang ada pada pasien HIV/ AIDS harus diobati
juga dengan baik, bersamaan dengan pemberian terapi untuk HIV. Berikut adalah
contoh penyebab infeksi oportunistik dan tandanya yang ditunjukkan melalui
pemeriksaan radiologis.

HIV/ AIDS – apa dampaknya?

Dampak infeksi HIV/ AIDS pada masyarakat adalah berkurangnya angka harapan hidup
dan berkurangnya produktifitas kerja. Infeksi HIV/AIDS pada pasien sendiri dapat
menyebabkan sakit dan penderitaan, mempersingkat umur hidup, kehilangan pekerjaan
dan penghasilan, kemurungan, kemiskinan dan keputusasaan, serta kemungkinan
merusak persatuan dan dukungan unit keluarga.

HIV/ AIDS – bagaimana mengobatinya?

Pengobatan pasien yang terinfeksi HIV/AIDS adalah dengan terapi medis dan non medis.
Terapi secara medis diberikan dengan obat antiretroviral – untuk menghambat
perkembangan virus HIV (di antaranya: zidovudin, lamivudin, stavudin, efavirenz,
tenofovir, dan lainnya); obat-obat anti jamur, antibiotic, anti virus dan anti parasit –
untuk mengatasi infeksi oportunistik; dan dengan memperbaiki keadaan umum (contoh:
asupan nutrisi optimal). Terapi secara non medis diberikan melalui dukungan keluarga,
saudara dan teman, serta dengan doa.

HIV/ AIDS – bagaimana peran kita?

Perilaku yang berisiko tertular HIV harus kita hindari agar tidak terinfeksi virus ini. Di lain
pihak, pasien-pasien yang sudah terinfeksi HIV tidak boleh putus asa. Penyakit HIV/ AIDS
memang mendatangkan penderitaan bagi pasien dan keluarga, namun Tuhan tidak
tinggal diam dan tidak pernah membiarkan ciptaanNya menjalani kehidupannya sendiri.
Tuhan akan terus menolong dan membimbing setiap orang yang terus berharap kepada
Dia melalui doa dan berpegang pada janji-Nya, yaitu bahwa Ia akan terus menyertai
umatNya. Pengobatan medis dan non medis berjalan bersamaan dengan tidak putus-
putusnya berharap dan berdoa pada Tuhan yang memberikan kesembuhan. Keluarga,
saudara, dan teman-teman pasien diharapkan tidak menjauhi atau 'menghukum' pasien
, namun dapat juga mendukung dan teru mengasihi pasien agar tetap semangat
menghadapi penyakit ini.

‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan
dengan segenap akal budimu. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah:
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih
utama dari pada kedua hukum ini.’ (Markus 12: 30-31).