Anda di halaman 1dari 15

TUGAS

SOSIOLOGI HUKUM

(Penerapan Teori Fungsional Struktural dan Teori Konflik dalam Hukum)

Nama Kelompok 5:

1. AGUS TRIYANTO (H1A116911)


2. KASMIN (H1A116123)
3. VERDIN (H1A116
4. ALAM NOER (H1A116
5. ZAHRA AZAHRA LAPAE (H1A116
6. ERWIN (H1A116

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebelum beralih ke fungsionalisme structural dan teori konflik yang
spesifik, Kita perlu mengikuti Thomas Bernard untuk menempatkan kedua teori ini
dalam konteks pembahasan yang lebih luas antara teori consensus (salah satu
diantaranya adalah fungsionalisme struktural) dan teori konflik.

Teori consensus memandang norma dan nilai sebagai landasan masyarakat,


memusatkan perhatian kepada keteraturan social berdasarkan atas kesepakatan
diam-diam dan memandang perubahan social terjadi secara lambat dan teratur,
sebaliknya, teori konflik menekankan pada dominasi kelompok social tertentu oleh
kelompok lain, melihat keteraturan social didasarkan atas manipulasi dan control
oleh kelompok dominan dan memandang perubahan social terjadi secara cepat dan
menurut cara yang tak teratur ketika kelompok-kelompok subordinat
menggulingkan kelompok yang semula dominan.

Meski criteria tersebut mendefinisikan perbedaan esensial antara teori


sosiologi fungsionalisme structural dan teori konflik, tidak boleh lupa bahwa
mereka mempunyai kesamaan yang penting. Dan seorang tokoh sosiolog Bernard
menyatakan bahwa “area kesamaan di antara keduanya jauh lebih ekstensif
ketimbang perbedaannya”. Misalnya, kedua-duanya sama-sama berada di tingkat
makro yang memusatkan perhatian pada “Struktur Social” dan “Institusi Sosial”
berskala luas. Akibatnya keuda teori itu ada dalam paradigm “fakta social” atau
sosiologi yang sama.
1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan fungsionalisme struktural?

2. Apakah yang dimaksud dengan teori konflik?

1.3 Tujuan

1.Untuk mengetahui penjelasan tentang fungsionalisme struktural

2.Untuk mengetahui penjelasan tentang dengan teori konflik


BAB II

PEMBAHASAN

George Ritzer memperkenalakan paradigma ini sebagai paradikma yang


pertama dalam kajian sosiologi. Paradikma ini diambil dari Durkheim, melalui
karyanya The Rules of Sociological Method dan Suicide. Durkheim melihat
sosiologi yang baru lahir itu, dalam upaya untuk memperoleh kedudukan sebagai
cabang ilmu yang berdiri kokoh, yakni filsafat psikologi. Menurut Durkheim fakta
sosial inilah yang menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi. Fakta sosial
dinyatakan sebagai sesuatu (think), yang berbeda dengan ide. Sesuatu tersebut
menjadi objek penyelidikan dari seluruh ilmu pengetahuan. Ia tidak dapat dipahami
melalui penyelidikan atau kegiatan mental murni (spekulatif). Untuk
memahaminya diperlukan data riil di luar pemikiran manusia. Fakta sosial tidak
dapat dipelajari melalui introspeksi, fakta sosial harus diteliti didalam dunia nyata.

Durkheim merumuskan dua bentuk fakta sosial yaitu :

1.Bentuk materil, yaitu sesuatu yang dapat disimak, ditangkap dan


diobservasi. Fakta ini adalah bagian dari dunia nyata (external world).
Contohnya: arsitek dan norma hukum.

2.Bentuk non-materil, yaitu sesuatu yang dianggap tidak nyata (external).


Fakta ini merupakan fenomena yang sifatnya intersubjektif, yang hanya
dapat muncul dari dalam kesadaran manusia. Contohnya: egoisme,
altruisme, serta opini.

Sementara itu, fakta psikologi menurut Durkheim adalah fenomena yang


dibawa oleh manusia sejak lahir, bukan merupakan hasil pergaulan hidup
masyarakat. Durkheim menyatakan bahwa fakta sosial tidak dapat diterangkan
dengan fakta psikologis, ia hanya dapat diterangkan oleh faktor sosial pula. Secara
lebih terperinci, fakta sosial itu sendiri terdiri atas kelompok, kesatuan masyarakat
(societies), sistem sosial, peranan, nilai-nilai keluarga dan pemerintahan. Dalam
menentukan teori fakta sosial, Ritzer mengemukakan ada tiga macam teori, yaitu :

1. Fungsionalisme Struktural

Robert Nisbet menyatakan “Jelas bahwa fungsionalisme structural adalah


satu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu social di abad
sekarang”, sedangkan Kingsley Davis berpendapat, fungsionalisme structural
adalah sinonim dengan sosiologi

Teori stratifikasi fungsional seperti diungkapkan Kingsley Davis dan


Wilbert Moore mungkin merupakan sebuah karya paling terkenal dalam
fungsionalisme structural, mereka menjelaskan bahwa mereka menganggap
stratifikasi social sebagai fenomena universal dan penting. Mereka menyatakan
bahwa tak ada masyarakat yang tidak terstratifikasi atau sama sekali tanpa
kelas.menurut pandangan mereka.

Stratifikasi adalah keharusan fungsional. Semua masyarakat memerlukan system


seperrti ini dan keperluan ini menyebabkan adanya system stratifikasi. Mereka juga
memandang sistem stratifikasi sebagai sebuah struktur, dan menunjukan bahwa
stratifiksi tidak mengacu kepada individu di dalam system stratifikasi, tetapi lebih
kepada system posisi (kedudukan). Mereka memusatkan perhatian pada persoalan
bagaimana cara posisi tertentu memengaruhi tingkat prestise yang berebeda dan
tidak memusatkan perhatian pada masalah bagaimana cara individu dapat
menduduki posisi tertentu.
Teori Fungsionalisme Struktural menurut Talcott Parsons

Teori Fungsionalisme Parsons ini dimulai dengan empat fungsi penting


untuk semua system “tindakan”, yang terkenal dengan skema AGIL.

AGIL. Suatu fungsi (function) adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan


kearah pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan system. Dengan
menggunakan definisi ini, Parsons yakin bahwa ada empat fungsi penting
diperlukan semua system – adaptation (A), goal attainment (G), integration (I), dan
latensi (L) atau pemeliharaan pola.

Secara bersama-sama, keempat imperative fungsional ini dikenal sebagai


skema AGIL. Agar tetap bertahan (survibe), suatu system harus memiliki empat
fungsi ini:

1) Adaptation (adaptasi): sebuah system harus menanggulangi situasi


eksternal yang gawat. System harus menyesuaikan diri dengan lingkungan
dan menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya

2) Goal attainment (Pencapaian tujuan): sebuah system harus mendefinisikan


dan mencapai tujuan utamanya.

3) Integration (Integrasi): sebuah system harus mengatur antarhubungan


bagian-bagian yang menjadi komponennya.

4) Latency (latensi atau pemeliharaan Pola): sebuah system harus


memperlengkapi memelihara dan memperbaiki, baik motivasi individual
maupun pola-pola kulturalo yang menciptakan dan menopang motivasi.

Fungsional Struktural menurut Robert Merton

Robert Merton adalah salah satu muridnya Parsons, yang menulis beberapa
pernyataan terpenting tentang fungsionalisme structural dalam sosiologi. Merton
mengecam beberapa aspek fungsionalisme structural yang lebih ekstrem dan yang
tak dapat dipertahankan lagi. Tetapi, wawasan konseptual barunya membantu
memberikan kemanfaatan bagi kelangsungan hidup fungsionalisme structural.

Merton ini lebih menyukai teori yang terbatas atau teori tingkat menengah,
hal ini berbeda dengan gurunya Parsons yang menganjurkan penciptaan teori-teori
besar dan luas cakupannya.

a) Teori ini menekankan keteraturan (order), mengabaikan konflik dan


perubahan- perubahan dalam masyarakat. Yang menjadi konsep
utamanya adalah fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifest, dan
keseimbangan.

b) Masyarakat merupakan suatu sistem sosial, yang terdiri atas bagian atau
elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan.
Dengan demikian perubahan yang terjadi pada suatu bagian akan membawa
perubahan pula terhadap bagian lainnya.

c) Asumsinya, bahwa setiap struktur dalam sistem sosial berfungsi terhadap


sistem yang lainnya (fungsional). Sebaliknya kalau struktur itu tidak
fungsional maka akan hilang atau tidak ada dengan sendirinya.

d) Penganut teori ini cenderung untuk melihat hanya pada sumbangan satu
sistem atau peristiwa terhadap sistem yang lainnya, yang dapat beroperasi
menentang fungsi-fungsi lain dalam suatu sistem sosial.

Terkait dengan permasalahan hukum di Indonesia, yaitu korupsi yang saat


ini sangat menimbulkan pertanyaan tentang integritas moral para pihak atau elemen
dalam penegakan hukum dan telah mengakar di berbagai lapisan masyarakat
sehingga memperburuk pembangunan ekonomi dan menyebabkan kemiskinan
serta berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat, maka teori fungsionalisme
struktural atau struktur fungsional ini merupakan salah satu teori sosiogi yang dapat
menganalisis atau mengkaji persoalan penegakan hukum di Indonesia yaitu
korupsi.
Penegakan hukum adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-
keinginan hukum menjadi kenyataan. Keinginan-keinginan huku adalah pikiran-
pikiran badan pembuat undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan-
peraturan hukum. Proses penegakan menjangkau pula sampai kepada pembuatan
hukum. Perumusan pikiran akan turut menentukan bagaimana penegakan hukum
itu dilaksanakan. Dalam kenyataan, proses penegakan hukum memuncak pada
pelaksanaannya oleh para pejabat penegak hukum. Tingakah laku orang dalam
masyarakat tidak bersifat sukarela, melainkan didisiplinkan oleh suatu jaringan
kaidah-kaidah yang terdapat dalam masyarakat. Kaidah-kaidah tersebut semacam
rambu-rambu yang mengikat dan membatasi tingkah laku orang-orang dalam
masyarakat, termasuk di dalamnya para pejabat penegak hukum. Keberhasilan atau
kegagalan para penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya sebetulnya sudah
dimulai sejak peraturan hukum yang harus dijalankan tersebut dibuat.Maka
penegakan hukum tersebut meliputi elemen-elemen, yaitu pengada hukumnya
(legislatif), pelaksananya (pemerintah), dan penegak hukumnya (yudikatif). Di
sebutkan bahwa penegakan hukum telah dimulai dari pembuatan hukumnya dan
dalam penegakan hukum ada kaidah atau aturan yang membatasi tingkah laku orang
termasuk para pejabat penegak hukum, yang berarti dalam kasus korupsi yang
terjadi di Indonesia, sering ada pelanggaran terhadap norma atau aturan dari elemen
atau pihak-pihak dalam penegakan hukum seperti pejabat penegak hukum, yang
mana akan membuat penegakan hukum itu sendiri sulit untuk terlaksana, karena
mulai dari pengada hukumnya (legislatif), pelaksananya (pemerintah), dan penegak
hukumnya (yudikatif) tidak melaksanakan tugas sesuai aturan dan menyalahi
wewenang seperti melakukan korupsi.

Menurut fungsionalisme struktural, setiap elemen atau institusi dalam


struktur masyarakat memberikan dukungan terhadap stabilitas. Anggota
masyarakat terikat oleh norma-norma, nilai-nilai dan moralitas umum. Apabila ada
satu elemen dalam struktur tersebut tidak berfungsi, maka struktur tersebut menjadi
tidak stabil. Dalam struktur hukum, jika ada elemen “sakit” maka tentunya hukum
tidak dapat berjalan.
Pola telaahan sosiologi yang membagi kepada beberapa sistem dalam masyarakat
tersebut, yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia, membawa makna dan
pesan yang amat jelas kepada pengkonsepsian hukum, berikut penciptaanya,
penegakan, dan perubahan di sektor hukum. Dalam hal ini, ketika dilakukan
pengkonsepsian, penciptaan, penegakan, dan perubahan di sektor hukum, maka
kesemua sistem terebut harus dapat disentuh dan diinfiltrasi. Bahkan mungkin juga
ada sistem lain selain sistem-sistem tersebut (misalnya sistem agama dan
kepercayaan), adalah terlalu sempit dan karena itu tidak akan efektif, ketika
misalnya penegak hukum hanya berorientasi kepada hukuman atau sanksi semata-
mata yang dalam hal ini hanya berpengaruh kepada sebagian saja dari sistem
personalitas dari pelaku kejahatan, tetapi tidak dapat menyentuh sistem
kemasyarakatan, sistem kultural, dan sistem lingkungan fisik, atau sistem lain-
lainnya. Maka dalam mengakaji tentang korupsi yang dilakukan elemen penegak
hukum ini, sistem tersebut satu sama lain harus terhubung. Dari keterkaitan sistem-
sistem tersebut, seperti yang dikemukakan Parson dan ditambahkan sistem lain,
seperti sistem kemasyarakatan, kultural, agama atau kepercayaan, dan lingkungan
fisik merupakan hal yang penting dalam penegakan hukum dimana semua sistem
harus dapat disentuh dan diinfiltrasi. Di dalam berbagai sistem, seperti sistem
perilaku, sistem personalitas, sistem kultural, sistem lingkungan fisik (physical
environment) tersebut juga berkaitan erat dengan agama atau kepercayaan, dimana
dalam menjalankan penegakan hukum tersebut maka para elemen penegak hukum
yang melakukan korupsi ini maka akan sangat bertentangan dengan nilai-nilai
agama dan moral serta fitrah sebagai manusia. Maka semestinya adanya penanaman
nilai-nilai religi yang kuat dalam diri penegak hukum ini sangat penting, sedangkan
sistem sosial sangat penting dalam hal beruhubungan antara satu elemen dengan
elemen lain dalam menegakan hukum. Sistem personalitas selain sangat
berhubungan erat dengan agama, juga menyangkut profesionalitas penegak hukum
itu sendiri dalam mejalankan kewenangannya, hendaklah dalam menjalankan
penegakan hukum yang saling berhubungan antara elemen satu dengan yang lain,
maka elemen-elemen penegakan hukum tersebut mempunyai integritas dan
profesionalitas dalam menjalankan tugasnya.. Di Indonesia, mulai dari elemen
pengada, pelaksana dan penegak hukumnya kini tersangkut masalah korupsi, yang
apabila dikaitkan dengan penjelasan di atas, sistem-sistem tersebut tidak diterapkan
dengan baik dan tidak terkait antara satu elemen dan elemen lainnya,
penyalahgunaan wewenang, rendahnya integritas dan profesionalitas serta nilai-
nilai agama masih terlihat pada setiap elemen penegak hukum. Jika sistem hukum
tidak berperan dengan baik dalam sistem masyarakat yang terus menerus berubah
tersebut, maka sistem-sistem yang lainpun juga ikut bergoyang dan melenggang
kearah yang tidak produktif dan tidak efisien, karena kehilangan norma yang baik
dan tidak ada proses mediasi/ integrasi

Peran teori fungsionalisme struktural sebagai ilmu sosial untuk studi ilmu
hukum, dimana hukum selalu berkaitan erat dengan masyarakat adalah untuk
melihat elemen-elemen dalam penegakan hukum yang menjalankan tugasnya
dalam menegakkan hukum sudah bekerjasama dan saling terhubung dengan baik
atau tidak. Apabila satu elemen dalam struktur tersebut tidak berfungsi, maka
struktur tersebut menjadi tidak stabil dan hukum tidak dapat berjalan, dan
sebaliknya apabila dapat terhubung dan berkerjasama dengan baik maka penegakan
hukum itu akan tercipta. Dalam hal ini terutama ditekankan dari sistem-sistem yang
mempengaruhi kehidupan manusia yang ada dalam teori struktural fungsional ini
(Talcott Parson), dapat dijalankan dengan baik atau tidak dari setiap individu dalam
elemen penegak hukum

2. Konflik

Teori konflik sebagian berkembang sebagai reaksi terhadap fungsionalisme


structural dan akibat kritik. Pendirian teori konflik dan teori fungsionalis
disejajarkan. Menurut fungsionalis, masyarakat adalah statis atau masyarakat
masyarakat berada dalam keadaan berubah secara seimbang. Tetapi menurut
darendorf, dan teori konflik lainnya, setiap masyarakat setiap saat tunduk pada
proses perubahan.fungsionalis menekankan keteraturan masyarakat, sedangkan
teoritisi konflik melihat pertikaian dan konflik dalam system social. Fungsionalis
menyatakan bahwa setiap elemen masyarakat berperan dalam menjaga stabilitas.
Teoritisi konflik melihat berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap
disintegrasi dan perubahan.

Fungsionals cenderung melihat masyarakat secara informal diikat oleh norma, nilai
dan moral. Teoritisi konflik melihat apapun keteraturan yang terdapat dalam
masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang berada
di atas. Fungsionalis memusatkian perhatian pada kohesi yang diciptakan oleh nilai
bersama masyarakat. Teoritisi konflik menekankan pada peran kekuasaan dalam
mempertahankan ketertiban dalam masyarakat. Dahrendorf ia juga termasuk orang
yang dipengaruhi oleh fungsionalisme structural. Ia menyatakan bahwa, menurut
fungsionalis, system social dipersatukan oleh kerja sama sukarela atau oleh
consensus bersama atau oleh kedua-duanya. Tetapi menurut teoritisi konflik
masyarakat disatukan oleh ketidakbebasan yang dipaksakan.

a) Teori ini dibangun untuk menentang secara langsung teori fungsionalisme


struktural. Tidaklah mengherankan apabila proposisi yang dikemukakan
oleh penganutnya bertentangan dengan teori fungsionalisme structural.
Tokoh utama teori ini adalah Ralf Dahrendrof.

b) Masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai dengan


pertentangan yang terus menerus diantara unsure-unsurnya.

c) Setiap elemen dalam masyarakat akan memberi dukungan bagi disintegrasi


sosial. Bertentangan dengan teori fungsionalisme structural, yang
menganggap bahwa setiap elemen atau institusi dapat memberikan
dukungan terhadap stabilitas.

d) Keteraturan dalam masyarakat itu hanya disebabkan oleh adanya tekanan


atau pemaksaan dari golongan yang berkuasa. Sedangkan dalam teori
fungsionalisme struktural, semua yang teratur dalam masyarakat adalah
karena adanya nilai-nilai moralitas umum.

e) Tesis sentral teori ini adalah wewenang dan posisi. Keduaya merupakan
fakta sosial. Intinya adalah “distribusi kekuasaan dan wewenang secara
tidak merata, tanpa kecuali menjadi faktor yang menentukan konflik secara
sistematis”.

f) Berghe mengemukakan empat fungsi dari adanya konflik (masalah), yaitu :

o Sebagai alat untuk memelihara solidaritas.


o Membantu menciptakan ikatan aliansi dengan kelompok lainnya.
o Mengaktifkan peran individu yang semula terisolasi.
o Konflik berfungsi sebagai komunikasi.

Sementara itu, teori konflik ini juga telah dikritik dengan berbagai alasan.
Misalnya, teori ini diserang karena mengabaikan ketertiban dan stabilitas,
sedangkan fungsionalisme structural diserang karena mengabaikan konflik dan
perubahan. Teori konflik juga dikritik karena berideologi radikal, sedangkan
fungsionalisme dikritik karena ideology konservatifnya. Bila dibandingkan dengan
fungsionalisme structural, teori konflik tergolong tertinggal perkembangannya.

Kritik yang dilancarkan terhadap teori konflik dan fungsionalisme struktural


maupun kekurangan yang melekat di dalam masing-masing teori itu, menimbulkan
beberapa upaya untuk mengatasi masalahnya dengan merekonsiliasi atau
mengintegrasikan kedua teori itu. Asumsinya adalah bahwa dengan kombinasi
maka kedua teori itu akan menjadi lebih kuat ketimbang masing-masing berdiri
sendiri.

Pemikiran awal tentang fungsi konflik social berasal dari George Simmel,
tetapi diperluas oleh Coser, yang menyatakan bahwa konflik dapat membantu
mengeratkan ikaatan kelompok yang terstruktur secara longgar. Masyarakat yang
mengalami disintegrasi atau berkonflik dengan masyarakat lain, dapat memperbaiki
kepaduan integrasi.

Konflik juga membantu fungsi komunikasi. Sebelum konflik, kelompok-


kelompok mungkin tak percaya terhadap posisi musuh mereka. Tetapi akibat
konflik posisi dan batas antarkelompok ini sering menjadi diperjelas. Karena itu
individu bertambah mampu memutuskan untuk mengambil tindakan yang tepat
dalam hubungannya dengan musuh mereka. Konflik juga memungkinkan pihak
yang bertikai menemukan ide yang lebih baikmengenai kekuatan relative mereka
dan menigkatkan kemungkinan untuk saling mendekati atau saling berdamai.

Mengenai konflik, kekuasaan dan kejahatan dalam hukum. Dari beberapa


premis dasar teori konflik, bahwa kejahatan merupakan produk kekuasaan politik
dalam masyarakat yang heterogen. Menurut Austin T. Vold, persaingan kelompok-
kelompok berkepentingan mempengaruhi pembuat peraturan untuk kepentingan
kelompoknya. Hal ini bisa disebut sebagai refleksi konflik kelas terhadap proses
politik tentang law making, law breaking and law enforcement. Perilaku kejahatan
menjelaskan dalam hubungan ideologi konflik dimana konflik timbul, berakibat,
sebagai akses dari kelompok minoritas dengan sedikit atau tanpa kekuasaan yang
mempengaruhi perubahan dalam hukum.

Ketertiban masyarakat merupakan hasil dari kekuasaan kelompok tertentu


untuk mengontrol masyarakat itu sendiri. Kontrol ini adalah pemaksaan dari
penempatan nilai-nilai ke dalam hukum dan kemudian adanya kekuasaan untuk
menegakkan hukum.
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Fungsionalis menyatakan bahwa setiap elemen masyarakat berperan dalam


menjaga stabilitas. Teoritisi konflik melihat berbagai elemen kemasyarakatan
menyumbang terhadap disintegrasi dan perubahan.

Fungsionals cenderung melihat masyarakat secara informal diikat oleh


norma, nilai dan moral. Teoritisi konflik melihat apapun keteraturan yang terdapat
dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang
berada di atas.

Fungsionalis memusatkan perhatian pada kohesi yang diciptakan oleh nilai


bersama masyarakat. Teoritisi konflik menekankan pada peran kekuasaan dalam
mempertahankan ketertiban dalam masyarakat. Dahrendorf ia juga termasuk orang
yang dipengaruhi oleh fungsionalisme structural. Ia menyatakan bahwa, menurut
fungsionalis, system social dipersatukan oleh kerja sama sukarela atau oleh
consensus bersama atau oleh kedua-duanya. Tetapi menurut teoritisi konflik
masyarakat disatukan oleh ketidakbebasan yang dipaksakan
DAFTAR PUSTAKA

George Riter, Douglas J. Goodman, Edit. Tri Wibowo Budi Santoso, Teori Sosiologi
Modern, Kencana Prenada Media Group. Jakarta. 2007.

Hassan Shadily, Sosiologi untuk masyarakat Indonesia Cet. IX; Jakarta: Bina Aksara,
1983.

Latif, Abdul. Pendidikan Bebasis Nilai Kemasyarakatan. Bandung: Refika Aditama, 2009

Yesmil Anwar & Adang, Pengantar Sosiologi Hukum, PT Gramedia Widiasara Indonesia,
Jakarta : 2008