Anda di halaman 1dari 20

Artikel I

6 Kota Paling Multikultural di Dunia


Liputan6.com, New York - Di jaman modern seperti sekarang ini, sudah menjadi hal yang biasa
untuk melihat suatu kota yang memiliki berbagai macam budaya. Ragam budaya tersebut
membuat masyarakatnya memiliki bahasa khas serta perilaku yang berbeda.

Di seluruh penjuru dunia, terdapat beberapa kota dengan kultur yang beraneka ragam. Seperti
dilaporkan theculturetrip.com, Minggu (13/11/2016) berikut enam kota paling multikultural di
dunia.

6. Paris
Ibu kota Prancis ini memiliki penduduk yang datang dari berbagai wilayah di dunia.
Diperkirakan 20 persen penduduk Paris merupakan pendatang yang berasal dari luar wilayah
Eropa. Kota Paris memang telah menjadi destinasi para pendatang sejak abad ke-18.

5. New York City


Sekitar 36 persen penduduk yang mendekam di New York City berasal dari luar Amerika
Serikat. Tak heran apabila kota ini dicap sebagai kota yang sangat multikultur. Berbagai bahasa
bisa Anda dengar di New York City.
Pemerintah Amerika Serikat pun mendirikan kantor urusan imigrasi untuk membantu para
pendatang yang tiba dari berbagai wilayah.

4. Sao Paulo

A Monument in Sao Paulo City reminding us of it secret artistic edge © Pixabay

Kota di Brasil ini merupakan salah satu kota paling multikultur di dunia. Gelombang imigrasi
besar bermula di tahun 1870. Sejak saat itu, penduduk dari berbagai macam wilayah mulai
datang ke Sao Paulo dan tinggal di sana.
3. Singapura
Sejak meraih kemerdekaannya di tahun 1965, Singapura kemudian tumbuh sebagai kota
multikultural. Penduduk Singapura didominasi oleh etnis China, namun 40 persen sisanya
berasal dari berbagai tempat di dunia termasuk Amerika Serikat dan Kanada.

2. Sydney
Terletak di Australia bagian timur, Sydney merupakan kota yang dihuni dengan penduduk
multikultur. Hal inilah yang menyebabkan Sydney dikenal sebagai salah satu kota metropolitan
di dunia. Hampir 250 bahasa dari berbagai penjuru dunia bisa terdengar di kota ini.

1. Toronto
Setengah dari populasi penduduk Toronto berasal dari Kanada. Oleh karena itulah kota ini
disebut sebagai kota paling multikultur di dunia.

Di Toronto, terdapat 200 grup etnis dengan 140 bahasa yang berbeda. Beberapa penduduknya
datang dari Inggris, Italia, Irlandia hingga China.

Rangkuman :
6 Kota Paling Multikultural di Dunia
1. Toronto
2. Sydney
3. Singapura
4. Sao Paulo
5. New York City
6. Paris

Komentar :
Artikel memberikan banyak contoh mengenai masyarakat multicultural dengan baik dan lengkap
dan memberikan alasan bagai mana kota bisa menjadi masyarakat multikultural
Artikel II
GMNI Dukung Pilgub DKI Bebas Isu SARA
Jakarta - Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI 2017 telah menyedot perhatian dan energi politik
tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di Indonesia. Apalagi, saat ini Pilgub DKI ini diikuti oleh tiga
pasangan calon yang sudah memiliki pengalaman baik di dunia pemerintahan daerah, birokrasi
maupun ekonomi.

Melihat hal itu, Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) meminta pelaksanaan
Pilgub DKI 2017 tidak dikotori dengan hal-hal berbau suku, agama, ras dan antargolongan
(SARA).

Wakil Ketua Bidang Kajian dan Politik DPD Persatuan Alumni GMNI Jakarta Raya, Paulus
Londo mengatakan, isu berkembang cepat dalam rangka menarik simpati warga Jakarta. Tidak
ketinggalan isu-isu sensitif pun berseliweran tanpa arah maupun yang disusun secara sistematis.

"Sadar atau tidak sadar telah menarik garis dikotomi diantara lapisan masyarakat itu sendiri.
Menjadi persoalan manakala tarik-tarikan nya berputaran dalam pusaran isu sensitif yang
membawa-bawa dimensi Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan," kata Paulus, Selasa (25/10.

Ia menilai sudah sepantasnya pelaksanaan Pilgub DKI menjadi ajang kontestasi dan adu gagasan
dalam hal program kerja atau pun rekam jejak sosial politik yang dimiliki oleh masing-masing
kontestan. Bukan menjatuhkan dengan isu SARA.

Termasuk, lanjutnya, bagaimana semua pihak mampu menempatkan sosok kontestan yang
dituntut dapat membawa dan membangun DKI Jakarta, yang didalamnya terdiri dari masyarakat
multikultural.

"Kami pun berharap integritas pelaksanaan Pilgub DKI Jakarta tahun 2017 dapat dijadikan jalan
demokratisasi politik yang berlandaskan asas kegotong-royongan dan berorientasi pada cita-cita
kesejahteraan rakyat yang berkeadilan," ujarnya.

Dijelaskannya, tahapan pelaksanaan yang bersih, jujur dan transparan merupakan suatu yang tak
terbantahkan dalam menegakkan amanat masyarakat. Sehingga mengukuhkan kepercayaan
masyarakat dan memastikan tampilnya sosok pemimpin yang kredibel tegas, bersih dan bebas
korupsi, serta mampu membawa masyarakat sebagai subyeknya pembangunan DKI Jakarta.

Dengan konsep persaingan yang positif sekaligus produktif, Persatuan Alumni GMNI pun
mendukung pelaksanaan Pilgub DKI Jakarta tahun 2017 dengan menjunjung nilai dasar
Pancasila 1 Juni 1945 dengan menghargai kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.

"Kami pun menyerukan untuk tidak melakukan praktik-praktik aborsi terhadap peradaban politik
bangsa Indonesia pada umumnya dan masyarakat DKI Jakarta pada khususnya. Serta mengecam
keras upaya-upaya yang sengaja atau tidak sengaja yang dapat mencabik-cabik serta mengkoyak-
koyak integrasi bangsa diantara komponen masyarakat dengan cara-cara yang tidak demokratis,"
tegasnya.

Terkait dengan adanya tiga calon dalam pilkada, GMNI mendukung secara moral tampilnya
korps alumnus GMNI dalam pergulatan Pilgub DKI Jakarta 2017. Agar dapat terus berupaya
mengabdi tehadap kepentingan bangsa dan negara melalui proses kepemimpinan di DKI Jakarta.

Calon wakil gubernur Djarot Saiful Hidayat yang mendampingi petahana Basuki Tjahaja
Purnama adalah referensi realistis yang perlu diungkap selayaknya sebagai sesama keluarga
besar Front Marhaenis.

"Pengabdian panjangnya sebagai aktivis GMNI yang berlanjut sebagai fungsionaris Alumni
GMNI diyakini dapat mempraktikkan kaidah-kaidah perjuangan marhaenisme secara substantif
dengan tetap membuka ruang kontrol dan sikap kritis terhadapnya," ungkapnya.

Ketua DPD Persatuan Alumni GMNI Jakarta Raya, Dwi Rio Sambodo mengatakan hakekatnya
kepemimpinan dan pembangunan daerah merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan bagi
kelangsungan bagi asa dan harapan masyarakat untuk terwujudnya kesejahteraan yang
berkeadilan.

"Karena itu, GMNI siap mendukung Pilgub DKI tanpa berbau SARA," paparnya.

Rangkuman
Dengan konsep persaingan yang positif sekaligus produktif, Persatuan Alumni GMNI pun
mendukung pelaksanaan Pilgub DKI Jakarta tahun 2017 dengan menjunjung nilai dasar
Pancasila 1 Juni 1945 dengan menghargai kebhinekaan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.

Komentar
Artikel sangat baik karena memberikan banyak informasi yang baik dan membuat banyak orang
yang membaca menjadi berfikir agar pilgub DKI tidak berbau SARA
Artikel III

Mengapa Jamu Indonesia Tidak Terkenal seperti Ginseng dari Korea ?

TRIBUNNEWS.COM - Korea Selatan sangat terkenal dengan sebutan “Negeri Ginseng”,


rempah tersebut memang menjadi ikon Korea Selatan.

Tak jarang wisatawan yang berkunjung kesana membawa oleh-oleh rempah tersebut.

Jika Korea Selatan punya ginseng, Indonesia harusnya tak kalah dengan jamunya yang khas.

Bahkan boleh dibilang Indonesia lebih kaya, karena rempah di jamu sangatlah banyak jenisnya.
Namun, mengapa jamu di Indonesia tak se-terkenal ginseng Korea Selatan, hingga negaranya
pun dijuluki “Negeri Ginseng”?

“Di Korea, ginseng tersebar di mana-mana dan jadi hal yang wajib dicoba wisatawan,” ujar Hari
Untoro, Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Multikultural, kepada KompasTravel dalam acara
Festival Jamu 2016, di Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (11/11/2016).

Ia menuturkan, jamu Indonesia memiliki potensi yang tinggi seperti ginseng di Korea Selatan
tersebut.

Bukan mustahil jika ke depan jamu dapat menjadi pendongkrak pariwisata Indonesia khususnya
Jawa Tengah sebagai sentra jamu terbanyak di Indonesia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Periwisata Jawa Tengah, Prasetyo Ari Wibowo menyayangkan
hal yang sama.

Menurutnya ke depan, jamu khususnya di Jawa Tengah harus lebih diperkenalkan tak hanya
menjadi minuman tradisional yang pahit, tapi merupakan sarana pengobatan dan aneka kuliner
yang beragam jenisnya.

“Kesan jamu yang pahit di masyarakat harus mulai kita ubah, di Korea sendiri ginseng terkenal
memiliki khasiat. Harusnya jamu juga, apalagi sekarang sudah banyak dikembangkan seperti
aneka kuliner, terapi, bahkan spa jamu,” ujar Prasetyo kepasa KompasTravel saat ditemui dalam
Festival Jamu 2016.

Saat ini di Jawa Tengah sendiri sudah banyak sentra-sentra wisata jamu, dari mulai museum,
desa wisata pembuatan jamu, wisata keliling kebun jamu, hingga edukasi jamu.

Beberapa kota yang memiliki banyak wisata terkait jamu ialah Semarang dan Kabupaten
Karanganyar.
Rangkuman
“Di Korea, ginseng tersebar di mana-mana dan jadi hal yang wajib dicoba wisatawan,” ujar Hari
Untoro, Staf Ahli Menteri Pariwisata Bidang Multikultural, kepada KompasTravel dalam acara
Festival Jamu 2016, di Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (11/11/2016).Ia menuturkan, jamu
Indonesia memiliki potensi yang tinggi seperti ginseng di Korea Selatan tersebut.

Komentar :
Artikel yang menarik yang memberi tahu bahwa mengapa jamu tidak seterkenal ginseng

Artikel IV

Yogyakarta Contoh Multikultural

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Sebanyak lima negara yang tergabung dalam MIKTA


(Meksiko, Indonesia, Korea Selatan ,Turki dan Australia) melakukan dialog lintas agama dan budaya di
Yogyakarta selama dua hari (18-19 Oktober). "Dialog lintas agama dan budaya negara-negara MIKTA ini
baru pertama kali digelar atas inisiatif Indonesia dalam upaya mengatasi ancaman, keamanan, terorisme,
radikalisme dan ekstrimisme, kata kata Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir dalam sambutan
pembukaan MIKTA Interfaith and Intercultural Dialog, di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta, Selasa
(18/10).

MIKTA merupakan perkumpulan informal lima negara perekonomian berkembang berdasarkan atas
berbagai persamaan seperti kekuatan perekonomian yang hampir sama, menjadi anggota G-20,
demokratik, pluralis, ada kesamaan kepentingan, baik dari sisi geostrategis maupun peran yang sama
yang dimainkan di kawasan yang diwakilkan.

Kegiatan ini diselenggarakan di Yogyakarta karena merupakan salah satu contoh yang penduduknya
multikultral yang bisa berinteraksi dan hidup berdampingan secara harmoni. "Yogyakarta unik dengan
beragamnya pemeluk agama yang sanggup hidup berdampingan dengan damai dan memiliki tradisi
budaya Jawa yang kental. Di Yogyakarta ada Prambanan tempat umat Hindu dan punya Borobudur
tempat umat Budha dan itu berada di lingkungan komunitas Muslim. Di Yogyakarta juga berdiri
organisasi Islam terbesar di Indonesia pertama yakni Muhammadiyah," ujarnya.

Di samping itu, keberadaa 129 Perguruan Tinggi di Yogyakarta juga membuat generasi muda dari seluruh
Indonesia menjadikan Yogyakarta sebagai destinas pendidikan dan budaya. "Karena itu kami
memperkenalkan Yogyakarta kepada peserta dialog ini sebagai salah satu contoh kota di Indonesia yang
menjunjung kearifan lokal," tuturnya.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, memang dibutuhkan empati antar umat
beragama agar bisa terwujud toleransi. Selain itu, pemahaman dan penghormatan pada tradisi yang
berbeda juga menjadi letak esensi dalam kehidupan beragama. "Perbedaan tidak harus dikompromikan,
tetapi perlu pengertian sehingga terwujud toleransi," kara Raja Keraton Yogyakarta ini.

Lebih lanjut Fachir mengatakan, di beberapa kawasan dunia ada beberapa tantangan yang harus dihadapi
terkait apakah akibat konflik, negara yang sepenuhnya belum punya kendali sehingga menimbulkan
berbagai macam gerakan yang mengarah pada radikalisme, terorisme dan esrimisme.

Karena itu, dalam dialog ini, pihaknya berharap anggota MIKTA menyampaikan pengalamannya dalam
mengelola keberaagaman dan menghadapi persoalan radikalisme, terorisme dan ekstrimisme. "Pada
kesempatan ini kami undang tokoh akademisi, pemerintah dan masyarakat. Kami berharap peserta dialog
mendapatkan penjelasan, keterangan dari apa yang mereka lakukan dalam menghadapi berbagai persoalan
tersebut," ujarnya.

Seperti halnya negara Indonesia yang dibentuk berdasarkan kebersamaan, berlatarbelakang keberagaman
suku, bangsa, dan warna kulit. "Kita memiliki tiga nilai yakni moderasi, toleransi, dan dialog yang tetap
kita pelihara untuk menangani hal-hal yang sifatnya kekerasan. Dalam menangani kekerasan ada dua
pendekatan yang dilakukan yakni hukum, tetapi yang lebih banyak pendekatan budaya dan agama," ujar
dia.

Fachir berharap, dalam dialog ini nantinya ada kesepahaman, kesamaan pandangan yang menolak
kekerasan ekstrimisme dan radikalisme. "Dari Indonesia untuk menghadapi hal itu, kita tampilkan tiga
nilai yakni moderasi toleransi, dan dialog. Diharapkan pengalaman dari kita tersebut bisa diterapkan oleh
MIKTA yang menghadapi persoalan besar torisme seperti Turki," tuturnya

Rangkuman
Kegiatan ini diselenggarakan di Yogyakarta karena merupakan salah satu contoh yang penduduknya
multikultral yang bisa berinteraksi dan hidup berdampingan secara harmoni. Yogyakarta unik dengan
beragamnya pemeluk agama yang sanggup hidup berdampingan dengan damai dan memiliki tradisi
budaya Jawa yang kental. Di Yogyakarta ada Prambanan tempat umat Hindu dan punya Borobudur
tempat umat Budha dan itu berada di lingkungan komunitas Muslim. Di Yogyakarta juga berdiri
organisasi Islam terbesar di Indonesia pertama yakni Muhammadiyah

Komentar :
Kegiatan yang sangat positif yang di lakukan rakyat Yogyakarta dan memberikan contoh yang bagus
kepada negeri ini.
Artikel V

Multikulturalisme Telah Gagal di Jerman

POTSDAM, KOMPAS.com — Kanselir Jerman Angela Merkel menegaskan, usaha untuk


membangun masyarakat multikultural di Jerman telah gagal total. Para imigran yang hidup di
Jerman harus memulai proses integrasi dengan belajar bahasa Jerman dan menghargai budaya
lokal.

Pernyataan Merkel tersebut disampaikan dalam sebuah pertemuan dengan kader muda Partai Uni
Demokrat Kristen (CDU), partai asal Merkel, di kota Potsdam, Jerman, Sabtu (16/10/2010).

Menurut dia, konsep multikulti (slogan)—yang memandang masyarakat dari berbagai latar
belakang budaya berbeda bisa hidup berdampingan secara damai tanpa proses integrasi—
ternyata tak berjalan baik. ”Pendekatan (multikultural) ini telah gagal, gagal total,” papar Merkel
yang memimpin pemerintahan Jerman sejak 2005.

Ia menambahkan, para imigran harus lebih berintegrasi dengan kebudayaan Jerman, yakni
dengan belajar bahasa Jerman dan menerima norma-norma kultural masyarakat Jerman.

Seperti dikabarkan, debat soal imigran di Jerman memanas akhir-akhir ini setelah sebuah buku
yang ditulis Thilo Sarrazin, seorang bankir Bank Sentral Jerman, menuduh para imigran Muslim
telah menurunkan kualitas masyarakat Jerman.

Sarrazin langsung dipecat dari Bundesbank dan pandangannya dikecam. Namun, bukunya
menjadi sangat populer dan beberapa jajak pendapat menunjukkan, mayoritas warga Jerman
setuju dengan pendapat Sarrazin.

Survei yang digelar lembaga think tank (lembaga kebijakan) Friedrich Ebert Foundation
menunjukkan, 30 persen masyarakat Jerman meyakini bahwa negeri itu kini sudah dipenuhi
orang asing. Sekitar 30 persen responden juga percaya, alasan 16 juta imigran tersebut datang ke
Jerman adalah untuk mencari keuntungan dari berbagai program sosial pemerintah.

Merkel juga mendapat tekanan dari partainya untuk bersikap lebih tegas kepada para imigran
yang tak menunjukkan niat untuk berintegrasi dan beradaptasi dengan masyarakat Jerman.

Horst Seehofer, Ketua Partai Uni Sosial Kristen (CSU), partai sehaluan dan rekan koalisi CDU,
mengatakan, para imigran, terutama dari Turki dan negara-negara Arab, jelas terlihat susah
beradaptasi dengan kultur Jerman. ”Multikulti sudah mati,” ujar Seehofer.

Bagian dari Jerman Di sisi lain, Merkel juga tidak mau dianggap menerapkan kebijakan anti-
imigran. ”Kita tak ingin memberi kesan kepada dunia bahwa orang-orang yang tidak langsung
bisa berbahasa Jerman atau orang-orang yang tak berbahasa Jerman dari kecil tidak diterima di
negara ini,” kata Merkel.

Kanselir Jerman tersebut berusaha mengambil jalan tengah dengan menekankan pentingnya
proses integrasi bagi para imigran sekaligus mengatakan, orang Jerman harus menerima budaya
para imigran, termasuk masjid, sebagai bagian dari keseharian mereka.

Sebelumnya, Presiden Jerman Christian Wulff menegaskan, Islam adalah bagian dari Jerman
sebagaimana Kristen dan Yahudi.

Beberapa universitas di Jerman juga mulai membuka jurusan untuk melatih para imam masjid
berbahasa Jerman sebagai usaha untuk membantu proses integrasi terhadap sekitar 5 juta Muslim
di negara itu.

Munculnya sentimen anti-imigran di kalangan para politisi Jerman akhir-akhir ini diduga
berkaitan dengan tingginya angka pengangguran di kalangan orang Jerman, sementara
pemerintah terus membuka pintu bagi tenaga kerja asing.

Akhir pekan lalu, Menteri Perburuhan Ursula von der Leyen mengatakan adanya kemungkinan
mempermudah syarat masuk bagi para pekerja terampil dari negara lain untuk memenuhi
kebutuhan tenaga kerja di Jerman. ”Selama beberapa tahun, lebih banyak orang yang
meninggalkan negara ini daripada yang masuk,” tutur dia kepada Frankfurter Allgemeine
Sonntagszeitung. (AFP/AP/BBC/DHF)

Rangkuman
masyarakat dari berbagai latar belakang budaya berbeda bisa hidup berdampingan secara damai
tanpa proses integrasi—ternyata tak berjalan baik. ”Pendekatan (multikultural) ini telah gagal,
gagal total,” papar Merkel yang memimpin pemerintahan Jerman sejak 2005.

Komentar
Sebaiknya di Negara Jerman budaya lebih dipentingkan dan pendekatan lebih di lakukan secara
intensif

Artikel V
Melihat Kantin Multikultur di Sekolah Pedalaman Australia
Brisbane -

Sebuah sekolah di Queensland utara yang secara statistik lebih multikultural daripada Australia
sendiri, meluncurkan menu baru berdasarkan latar belakang etnisitas para muridnya.

Dengan jumlah murid hanya 183 orang, kantin sekolah Mackay Central State selama ini selalu
gagal, hingga para volunteer menyarankan adanya menu internasional.

"Kami memulainya tahun lalu, ketika para para orangtua murid meminta warga asal Filipina
memasak untuk perayaan Natal. Saat itulah muncul ide untuk menerapkannya di kantin," kata
volunteer Armie Astridge

Kini sekolah tersebut menawarkan hidangan Filipina, China, Jepang, Malaysia, dan Italia untuk
murid-muridnya.

"Kami siapkan lumpia, pangsit, mie goreng yang kita sebut pancit, spaghetti," kata Astridge.

"Kemudian nantinya setelah berkembang kami juga membuat Lasagna, ravioli, pasta, dan kari
Malaysia," tambahnya.

Aneka makanan internasional cukup populer di kalangan murid. ABC: Harriet Tatham

Kelompok multikultur

Kepala Sekolah Len Fehlhaber mengatakan setelah disajikannya menu internasional, penjualan
di kantin mengalami peningkatan.
Dia mengatakan dengan melayani kelompok multietnis mereka, para murid merasa lebih nyaman
dengan makan makanan yang sama dengan yang mereka makan di rumah.

"Ada pernyataan bahwa orang Australia kulit putih menghuni daerah pedalaman dan hanya di
perkotaan yang benar-benar multikultural. Tapi itu omong kosong dan saya tahu hal itu dengan
datang ke sini," katanya.

"Yang Anda lihat ini sekolah yang lebih setengahnya berlatar belakang Filipina. Dan selebihnya,
sekitar 27 persen orang pribumi," tambahnya.

"Ada sedikit latar belakang budaya lainnya juga - ada Afrika, India, Pakistan, Maori, kemudian
ada segelintir anak Aussie kulit putih yang menonjol karena tidak ada banyak jumlahnya," tutur
Fehlhaber.

Mackay Central State School tawarkan makanan Filipina, Jepang, China dan Malaysia untuk murid-
muridnya. ABC: Harriet Tatham

Dari kebun sekolah

Begitu menu baru disajikan, para volunteer kantin mulai menyadari biaya makanan segar sedikit
lebih tinggi, dan coba mencari cara agar harganya tetap rendah.

"Kami membuat lahan tanaman di belakang kantin tersebut. Tujuannya untuk tahun depan yaitu
menanam sayur yang akan kami gunakan di kantin demi mengurangi biaya," kata Astridge.

"Tapi biayanya tidak mahal dibandingkan dengan nilai dari makanan segar untuk anak-anak.
Kami tidak kehilangan uang, kami justru dapat uang lebih banyak dari kantin, dari seluruh usaha
ini," tambahnya.

Astridge mengatakan menu internasional memungkinkan anak-anak belajar tentang budaya


berbeda.

"Anak saya separuh Australia karena ayahnya orang Australia. Dengan terhubung ke akar
Filipinanya lewat ibu dan teman-temannya di kantin, sungguh menyenangkan baginya," ujarnya.

"Dan membanginya dengan teman-temannya, sangat menyenangkan," katanya.


Menu kantin sekolah cukup populer di kalangan murid.ABC: Harriet Tatham

Berbagai kisah

Fehlhaber mengatakan eksperimen dengan makanan merupakan kesempatan penting bagi murid
dalam memperluas wawasan budaya mereka.

"Ada anak yang memilih makanan yang tidak biasanya mereka makan," katanya, "Tapi sekarang
mereka mengembangkan selera sendiri dan akan membawanya ke masa depan, ke dapur mereka
sendiri. Kami telah mengubah sikap (murid)," katanya.

"Terkait dengan multikulturalisme, hal itu telah mengubah sikap anak-anak terhadap makanan.
Hal itu memperluas wawasan mereka dan saya percaya hal itu menjadikan mereka lebih baik ke
depannya," ujarnya.

Astridge menyatakan kantin ini akan terus berkembang.

"Ini sekolah yang inklusif, dimana ketika ada orangtua murid, terutama yang baru, kami
berbicara dengannya dan coba meminta mereka jika ingin berbagi resep favorit," katanya.

"Hal itulah yang kami lakukan. Dan kami akan mulai lagi tahun yang baru, mudah-mudahan
akan lebih banyak lagi latar belakang kebangsaan dengan resep terbaik yang bisa mereka bagi
dengan kami," ujarnya.

Diterbitkan Pukul 14:30 AEST 7 November 2016 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa
Inggris di sini.

Rangkuman
menu baru disajikan, para volunteer kantin mulai menyadari biaya makanan segar sedikit lebih
tinggi, dan coba mencari cara agar harganya tetap rendah."Kami membuat lahan tanaman di
belakang kantin tersebut. Tujuannya untuk tahun depan yaitu menanam sayur yang akan kami
gunakan di kantin demi mengurangi biaya," kata Astridge."Tapi biayanya tidak mahal
dibandingkan dengan nilai dari makanan segar untuk anak-anak. Kami tidak kehilangan uang,
kami justru dapat uang lebih banyak dari kantin, dari seluruh usaha ini," tambahnya.
Komentar :
Usaha peningkatan yang bagus yang bisa di tiru oloeh Negara lain yang ada di dunia

Artikel VI

Besok Malam, Seniman Dan Sastrawan Kumpul Di Kampung Gabahan

RMOL. Beragam musik Suluk Walisongo Gabahan, Lamkwan Boen Hian Tong, Barongsai dan
Naga Elang Terbang dari Timur (ETdT), Rebana SD Negeri Miroto, Damar and Friend’s, dan
BeatBox Community Semarang akan turut memeriahkan Seni Multikultural: Panggung
Kampung Gabahan pada besok (Jumat, 28/10) malam di Klenteng See Hoo Kiong Gabahan,
Jalan Sebandaran 1 No. 32, Kota Semarang

Selain itu juga bakal ada pembacaan puisi oleh para sastrawan di antaranya Basa Basuki, Tri
Budiyanto, Lukni An Nairi, Goenoeng Percussion, Cnythia Suwarti, Dewi Es Cao, dan Indri
Yuswandari. Sebagai penutup akan ada orasi kebangsaan dan kebudayaan Gus Nuri Arifin dari
Pondok Soko Tunggal, Romo Roni Nurharyanto, dan Yongki Tio.

Ketua Germo, Basa Basuki menjelaskan bahwa seni multikultural yang disajikan dalam rangka
menanamkan pentingnya kebersamaan, persatuan, dan perbedaan.

Melalui spirit kesenian berusaha untuk menumbuhkan pemahaman saling menghargai, serta
berupaya melestarikan kearifan lokal dan beragam keunikan yang ada di kampung.

"Kampung Gabahan merupakan kampung bersejarah yang pernah menjadi pusat pemerintahan
pada tahun 1659. Namun seiring perkembangan dan tekanan pembangunan, banyak kampung
yang hilang yang akhirnya memunculkan permasalahan baru seperti kemiskinan dan pemukiman
kumuh di tengah kota," lanjutnya seperti rilis yang diterima redaksi.

Basa menambahkan, Germo berusaha untuk turut andil dalam menyikapi permasalahan tersebut,
salah satunya melalui seni multikultural dan memberikan semangat kepemudaan. Terlebih acara
ini bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh tiap tanggal 28 Oktober.

Hadir dalam seni multikultural ini dari elemen lintas agama, budayawan, musik, sastra maupun
kesenian lainnya.[wid]
Rangkuman
Kampung Gabahan merupakan kampung bersejarah yang pernah menjadi pusat pemerintahan
pada tahun 1659. Namun seiring perkembangan dan tekanan pembangunan, banyak kampung
yang hilang yang akhirnya memunculkan permasalahan baru seperti kemiskinan dan pemukiman
kumuh di tengah kota

Komentar
Artikel yang bagus mampu menarik dan mengajak warga mengetahui multikultural dengan cara
yang tidak biasa

Artikel VII
TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto (Setnov),
mendukung pernyataan Presiden Joko Widodo soal adanya aktor politik yang menunggangi aksi
massa pada Jumat (4/11/2016) kemarin.

"Apa yang dikatakan presiden tentu sudah melalui evaluasi dan didukung data-data yang akurat
dari aparat yang bertugas," katanya di Surabaya usai mengunjungi masyarakat pemulung di
Tempat Pembuangan Akhir, Kecamatan Benowo, Sabtu (5/11/2016).

Fakta itu, kata Setnov, seharusnya menjadi evaluasi seluruh elemen bangsa dalam konteks negara
NKRI yang demokrasi, heterogen, dan multikultural.

"Ini menjadi pembelajaran bagi bangsa Indonesia," sebutnya.

Dia mengapresiasi seluruh elemen yang menggelar aksi damai sejak siang hingga senja hari
kemarin, karena melangsungkan demonstrasi dengan damai tanpa anarkis.

"Partai Golkar berterima kasih kepada ulama, santri, dan seluruh pengunjuk rasa yang
menyampaikan aspirasi secara tertib," ucapnya.

Seperti diberitakan, Presiden Joko Widodo menuding kerusuhan yang terjadi di Jakarta pada
Jumat (4/11/2016) malam didalangi aktor-aktor politik yang memanfaatkan situasi.

"Kita menyesalkan kejadian ba'da Isya yang harusnya sudah bubar tapi menjadi rusuh. Dan ini
kita lihat sudah ditunggangi aktor-aktor politik yang memanfaatkan situasi," kata Jokowi dalam
jumpa pers usai rapat terbatas di Istana Merdeka, dini hari tadi.

Rangkuman
Fakta itu, kata Setnov, seharusnya menjadi evaluasi seluruh elemen bangsa dalam konteks negara
NKRI yang demokrasi, heterogen, dan multikultural."Ini menjadi pembelajaran bagi bangsa
Indonesia," sebutnya

Komentar
Artikel yang bagus supaya masyarakat lebih memahami tentang multiKultural yang ada di
Indoneisa

Artikel VIII

Menikmati Multikulturalisme di Festival Kampung Celaket


MALANGVOICE – Tak terasa, International Celaket Cross Cultural Festival (ICCCF) telah
memasuki perhelatan di tahun kelima. Ide dari ICCCF di awal penyelenggaraannya adalah
sebuah festival kesenian yang mempertemukan keragaman corak budaya lokal dari berbagai
daerah di Indonesia serta tampilan seni dari mancanegara.

Penggagas sekaligus tokoh di balik terselenggarakannya ICCCF, Hanan Djalil, kepada


malangvoice.com, menuturkan, pada penyelenggarannya pertamanya, ICCCF dihadiri seniman
dari 12 negara, dan semakin berkembang pada penyelenggaraan di tahun-tahun berikutnya.
Tahun ini festival kembali memeriahkan kawasan Kampung Celaket, Kelurahan Samaan, Kota
Malang, pada 25–29 Oktober.

Warga Kampung Celaket pun tahun ini kembali ramai didatangi ‘tamu-tamu penting’, baik yang
akan menjadi penampil di 3 panggung utama yang tersedia, maupun mereka dari penjuru Malang
Raya yang akan menikmati pertunjukan kesenian dan festival budaya nusantara yang akan
digelar selama 4 hari penuh, dari siang sampai malam hari.

Penyelenggaraan tahun ini terasa agak istimewa, karena warga Celaket akan kedatangan
sejumlah maestro kesenian yang telah mumpuni di bidang masing-masing, diantaranya maestro
tari seperti Didik Nini Thowok, Sobari dari Banyuwangi, Made Bandem dari Bali, Kang Tatang
dari Jawa Barat dan juga budayawan Sudjiwo Tedjo.

Sejumlah publik figur dan pejabat juga direncanakan hadir pada perhelatan ICCF tahun ini.
Tidak sekadar hadir, tetapi juga akan berkolaborasi dalam pertunjukan kesenian yang akan
digelar.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, yang lebih dikenal dengan sapaan Gus Ipul, jika
tidak ada aral melintang akan ikut berperan dalam pertunjukan Ludruk Ger-Ger-an bersama
Sudjiwo Tedjo, Bupati Malang Rendra Kresna, artis dan juga anggota DPR RI Rieke Dyah
Pitaloka, serta beberapa pejabat dan publik figur lainnya.

Mereka akan berkolaborasi dengan seniman ludruk Malang lintas generasi dalam lakon Sakerah.

Pertunjukan kali ini akan terasa istimewa, karena selain beberapa nama kondang yang akan
tampil, juga ada semacam pemberian penghargaan dan apresiasi dari warga Celaket untuk
seniman-seniman yang telah berdedikasi dan berkarya nyata di bidang kesenian. Bagaimana
tidak istimewa, karena pemberian penghargaan itu datang atas inisiatif warga kampung di Kota
Malang.

Celaket memang istimewa! Sebagai sebuah kampung, Celaket telah menunjukkan jati dirinya
untuk aktif dan peduli bagi perkembangan dan pelestarian seni budaya di Malang Raya pada
khususnya, dan di Indonesia Raya pada umumnya.

Kepedulian warga Celaket itu tidak datang dengan tiba-tiba, bisa jadi naluri warga Celaket itu
terbentuk dari kuatnya akar sejarah yang dimiliknya. Karena setelah ditelusuri, sebagai sebuah
wilayah, Celaket mempunyai catatan sejarah yang panjang.

Seperti ditulis arkeolog dan sejarawan Dwi Cahyono dalam artikel Kekayaan Sejarah Celaket,
Kampung Celaket ternyata salah satu ‘kampung tua’ di Kota Malang. Sebagai kampung tua,
Celaket telah menempuh perjalanan sejarah panjang, sejak zaman Prasejarah hingga sekarang.

Bahkan, dalam beberapa momentum historis di Malang ataupun di Jawa, kesejarahan Celaket
dapat dibilang sebagai ‘pemula sejarah’. Data arkeologis menunjukkan, daerah Celaket, yang
terletak di seberang utara aliran Brantas, telah digunakan sebagai areal permukiman Zaman
Prasejarah, setidaknya semenjak Masa Bercocok Tanam.

Pada situs Punden Mbah Tugu di Celaket Gang I-E, yang berjarak ± 500 m pada utara aliran
Brantas, dijumpai menhir, lumpang batu (stone mortar) dari monolith tanpa ditarah dan bejana
batu. Disamping itu di halaman sekolah SMU Cor Jessu pernah ditemukan sebuah periuk berisi
lembaran-lembaran tipis emas (swarnapatra) bertulis nama-nama dewata Hindu.

Sayang sekali, pada 1928 artefak dari masa Hindu-Buddha ini direlokasikan ke Museum Batavia
(kini ’Museum Nasional’ di Jakarta). Tinggalan lainnya berupa sebuah umpak besar, lumpang
batu tanpa ditarah, dan sejumlah arung (saluran air bawah tanah) di sepanjang DAS Brantas.

Tinggalan arkeologis itu menjadi pembukti bahwasa pada jaman Prasejarah daerah Celaket telah
dihuni warga masyarakat yang berbasis ekonomi agraris dan berlatar religi pemuja arwah nenek
moyang (ancestors worship). Lumpang batu itu menjadi petunjuk pencaharian agraris, dan
menhir digunakan sebagai media pemujaan kepada arwah nenek moyang.

Latar keagamaannya berubah menjadi Hindu sekte Saiwa pada Masa Hindu-Buddha,
sebagaimana terbukti dari inskripsi pendek(sort inscription) pada swarnapatra yang memuat
nama-nama dewata Hindu tersebut.
Sebagai suatu areal permukiman, desa kuno Tjelaket tentu dilengkapi dengan pasar (pekan) desa,
yang jejaknya masih tertinggal – meski kini hanya berupa ‘pasar krempyeng’. Peran pasar desa
ini surut, utamanya setelah dibangunnya Pasar Samaan yang jauh lebih besar.

Pada permualaan abad X Masehi, Celaket berada di lingkungan dalam(watek i jro) atau
setidaknya terletak pada pinggiran pusat pemerintahan(kadatwan) Mataram ketika Pu Sindok
merelokasi pusat pemerintahan (kadatwan)-nya dari Pohpitu di sekitar Blora ke Tamwlang di
bantaran utara aliran Brantas.

Toponimi arkhais ‘Tamwlang’, yang menurut linggo-prasasti Turyyan bertarikh 929 Masehi
menjadi kadatwan Pu Sindok (Sri Isana) itu, kini mengalami sedikit perubahan penyebutan
menjadi ‘Tembalangan (Tamwlang-Tamblang-Tambalang+an-Tembalangan)’, yakni nama
kampung di Kelurahan Samaan. Apabila benar demikian, berarti Celaket-Samaan ikut menjadi
saksi atas mula sejarah Isanavamsa dalam pemerintahan kerajaan Mataram yang berpusat di
wilayah Jawa Timur.

Peran strategis Celaket kembali terjadi pada mula Sejarah Kolonial di daerah Malang. Loji
perdana Kompeni Belanda didirikan di utara Bantas pada tahun 1767, dan untuk kurun waktu
lebih dari setengah abad (1767-1821) dijadikan sebagai ‘rumah benteng (castile)’ bagi para
serdadu Belanda.

Ketika Kompeni Belanda mulai mengembangkan pola permukimam ‘luar loji (luar benteng)’,
rumah tinggal orang-orang Belanda pada periode permulaan didirikan di sekitar Loji Utara,
yakni berada di sekitar Kampung Celaket serta di Klojen (Ka-loji-an) Lor.

Setelah pusat garnizoen direlokasikan dari Loji Utara ke Rampal, eks loji ini dijadikan rumah
sakit militer (militair ziekenhuis), sehingga bisa dibilang sebagai ‘embrio’ bagi Rumah Sakit
Umum Daerah (RSUD) di Kota Malang (kini dinamai ‘RSUD Saiful Anwar’).

Cikal bakal permukiman Indis itu diperluas dalam Bouwplan I (Mei 1917 sd Februari 1918),
dengan mengembangkan kawasan perumahan Indis yang dinamai ‘Oranjebuurt’, yang areal-nya
Kampung Tjelaket Wetan.

Celaket kini telah bermetamorfosis dari sebuah desa kuno yang konon merupakan desa agraris
menjadi sebuah kampung padat yang berada di tengah Kota Malang. Di Kampung Celaket telah
menjadi ajang kegiatan lintas budaya, baik budaya Prasejarah, Hindu, Kristiani maupun Islam.
Celaket dengan demikian merupakan potret ‘kampung multikultural’ di Kota Malang.

Oleh sebab itu, cukup alasan untuk menyatakan Celaket sebagai ‘kampung budaya lintas masa’.
Dalam jatidirinya sebagai ‘kampung tua, kampung bersejarah, dan sekaligus kampung budaya’,
Celaket adalah kawasan heritage yang perlu mendapatkan prioritas dalam konservasi budaya dan
ekologi yang berciri gotong royong, persaudaraan, toleran atas keragaman budaya dan keyakinan
warganya.

Rangkuman
Celaket kini telah bermetamorfosis dari sebuah desa kuno yang konon merupakan desa agraris
menjadi sebuah kampung padat yang berada di tengah Kota Malang. Di Kampung Celaket telah
menjadi ajang kegiatan lintas budaya, baik budaya Prasejarah, Hindu, Kristiani maupun Islam.
Celaket dengan demikian merupakan potret ‘kampung multikultural’ di Kota Malang

Komentar
Artikel yang bagus agar para pembaca juga dapat menikmati Multikulturalisme di Festival
Kampung Celaket dan mengetahui letak dessa celaket

Artikel IX
Multikultural Jadi Penguat Persatuan
REPUBLIKA.CO.ID, NUSA DUA -- Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia
(MUI), Din Syamsuddin mengatakan multikultural hendaknya menjadi penguat persatuan di
Indonesia. Indonesia memiliki segudang kebudayaan dari Sabang sampai Merauke yang
menjadikan negara ini kaya akan budaya.

"Multikultural ini ada sisi negatif dan positifnya. Meski demikian, ini sehendaknya menjadi
kekuatan dalam persatuan," katanya dalam Forum Kebudayaan Dunia (WCF) 2016 di Nusa Dua,
Rabu (12/10).

Karagaman budaya yang dimiliki negara ini menjadi tanggung jawab bersama. Dunia
internasional saat ini tak lagi mengenal batasan jarak satu dan lainnya. Di Indonesia,
keberagaman budaya yang berpotensi menciptakan dimensi ganda dikuatkan oleh kehadiran
Pancasila.

Din mencontohkan dirinya yang memiliki tetangga dari suku Batak dan beragama selain Islam.
Dia menilai kemajemukan di kompleks perumahan tempat tinggalnya merupakan pemberian
Tuhan untuk menguji apakah seseorang bisa berdamai dengan tetangga yang berlainan suku dan
agama.

"Orang yang ingin hidup eksklusif dengan kelompok yang sama dengannya, kemudian meminta
orang yang berbeda latar belakangnya keluar dari lingkungan itu, maka hal ini membuktikan
kegagalan seseorang menjalankan tugas dan amanat dari Tuhan Yang Maha Esa," katanya.

Din menekankan pentingnya budaya berbagi dalam kehidupan yang majemuk. Masyarakat
sepatutnya bisa saling mengerti, menghormati, menghargai, dan saling bekerja sama.
Budaya berbagi ini cakupannya luas, mulai dari berbagi ruang, ilmu, sumber daya, serta
mengembangkan toleransi. Masyarakat juga sebaiknya tak menyentuh hal-hal sensitif yang bisa
mengganggu keberagaman.

Akadimisi dari University of Susse Tunisia, Moncef Ben Abdeljelil menambahkan Indonesia
beruntung memiliki Pancasila. Menurutnya, masih banyak negara di dunia yang mempersoalkan
multikultural. Ini hanya mendorong terjadinya perpecahan.

"Pancasila penting menjadi acuan untuk mengembangkan sikap toleransi dalam kehidupan yang
multikultur," katanya.

Rangkuman
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin mengatakan
multikultural hendaknya menjadi penguat persatuan di Indonesia. Indonesia memiliki segudang
kebudayaan dari Sabang sampai Merauke yang menjadikan negara ini kaya akan budaya.

Komentar
Idonesia harus bisa menjadi Negara multicultural seperti kata MUI dan masyarakat harus tetap
menjunjung tinggi nilai kebudayaan

Artikel X

Din: Pancasila Tameng Dimensi Ganda Multikulturalisme


REPUBLIKA.CO.ID, NUSA DUA -- Presiden Komite Eksekutif Konferensi Keagamaan dan
Perdamaian se-Asia Din Syamsuddin mengatakan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika menjadi
tameng kuat. Tameng ini, kata dia, penting guna menangkal sisi negatif dimensi ganda dari
multikulturalisme.

"Multikulturalisme berdimensi ganda, bisa mendorong integrasi dan disintegrasi. Tantangan bagi
kita bagaimana itu jadi kekuatan yang membawa persatuan," kata Din dalam simposium
Keragaman Budaya untuk Pembangunan yang Tanggung Jawab bagian dari Wolrd Culture
Forum (WCF) 2016 di Nusa Dua, Bali, Rabu (12/10).

Din menjelaskan bahwa ada gejala di dunia dan juga Indonesia bahwa multikulturalisme masih
dipersoalkan, dan persoalan ini masih belum selesai. "Itu yang tampak," katanya.
Yang terjadi, menurut dia, adalah sifat keakuan, individualisme yang berubah cepat menjadi
eksklusivisme. Sifat-sifat ini cepat mendorong perpecahan, terlebih ketika kondisi tersebut
berhimpit dengan persoalan sosial, seperti kesenjangan ekonomi. Karena itu, menurut Din, perlu
ada beberapa strategi untuk menanganinya.

Pertama, kesadaran akan pentingnya multikulturalisme yang dalam agama merupakan hukum
Tuhan dan, kedua, kembangkan nilai budaya yang menjadi code of conduct dalam masyarakat
untuk saling menghargai dan tenggang rasa. Yang harus dipahami, menurut Din, adalah bahwa
memang ada titik perbedaan dalam masyarakat, tetapi juga ada titik persamaan. "Nah ini dicari,"
katanya.

Indonesia, menurut Din, sangat beruntung karena bapak pendiri bangsa sudah memberikan dua
warisan penting untuk menangkal dampak negatif dari dimensi ganda multikulturalisme, yakni
Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang memiliki filosofi menyatukan kemajemukan bangsa.

"Ini belum selesai, maka kita harus merawat. Jika ada persinggungan menyangkut perbedaan,
apa pun itu, agama misalnya yang belakangan ini sedang menghangat lagi atau budaya, maka
kembalikan lagi kepada apa yang sudah dimiliki bangsa ini, Pancasila dan Bhinneka Tunggal
Ika," ujar Din.

Rangkuman
"Multikulturalisme berdimensi ganda, bisa mendorong integrasi dan disintegrasi. Tantangan bagi
kita bagaimana itu jadi kekuatan yang membawa persatuan," kata Din dalam simposium
Keragaman Budaya untuk Pembangunan yang Tanggung Jawab bagian dari Wolrd Culture
Forum (WCF) 2016 di Nusa Dua, Bali, Rabu (12/10).

komentar
sebaiknya multikultural masalah multicultural segera di selesaikan