Anda di halaman 1dari 9

1. Apa etiologi dan klasifikasi maloklusi?

1. Kelas I Angle = Neutro Oklusi


Jika mandibula dengan lengkung giginya dalam hubungan mesiodistal yang normal terhadap maksila.
Tanda-tanda :
a. Tonjol mesiobukal gigi Ml atas terletak pada celah bagian bukal (buccal groove) gigi M1 bawah.
b. Gigi C atas terletak pada ruang antara tepi distal gigi C bawah dan tepi mesial P1 bawah.
c. Tonjol mesiolingual Ml atas beroklusi pada Fossa central M1 bawah.
2. Kelas II Angle = Disto oklusi
Jika lengkung gigi di mandibula dan mandibulanya sendiri dalam hubungan mesiodistal yang lebih ke
distal terhadap maksila.
Tanda-tanda :
a. Tonjol mesiobukal M1 atas terletak pada ruangan diantara tonjol mesiobukal Ml bawah dan tepi
distal tonjol bukal gigi P2 bawah.
b. Tonjol mesiolingual gigi M1 atas beroklusi pada embrasur dari tonjol mesiobukal gigi M1 bawah
dan tepi distal tonjol bukal P2 bawah.
c. Lengkung gigi di mandibula dan mandibulanya sendiri terletak dalam hubungan yang lebih ke
distal terhadap lengkung gigi di maksila sebanyak 1'2 lebar mesiodistal Ml atau selebar mesiodistal
gigi P.
Kelas II anggle dibagi menjadi 2 yaitu Divisi 1 dan divisi 2 :
a. Kelas II Angle Divisi 1 :
Jika gigi-gigi anterior di rahang atas inklinasinya ke labial atau protrusi
b. Kelas II Angle Divisi 2 :
Jika gigi-gigi anterior di rahang atas inklinasinya tidak ke labial atau retrusi. Disebut sub divisi bila
kelas II hanya dijumpai satu sisi atau unilateral.
3. Kelas III Angle
Jika lengkung gigi di mandibula dan mandibulanya sendiri terletak dalam hubungan yang lebih ke
mesial terhadap lengkung gigi di maksila.
Tanda-tanda
a. Tonjol mesiobukal gigi Ml atas beroklusi dengan bagian distal tonjol distal gigi Ml bawah dan tepi
mesial tonjol mesial tonjol mesial gigi M2 bawah.
b. Terdapat gigitan silang atau gigitan terbalik atau cross bite anterior pada relasi gigi anterior.
Universitas Gadjah Mada 6
c. Lengkung gigi mandibula dan mandibulanya sendiri terletak dalam hubungan yang lebih mesial
terhadap lengkung gigi maksila.
d. Tonjol mesiobukal gigi Ml atas beroklusi pada ruangan interdental antara bagian distal gigi Ml
bawah dengan tepi mesial tonjol mesial gigi M2 bawah.

1. Faktor Ekstrinsik d. Predisposisi ganguan metabolisme dan


a. Keturunan (hereditair) penyakit
b. Kelainan bawaan (kongenital) misal : • Gangguan keseimbangan endokrin
sumbing, tortikollis, kleidokranial diostosis, • Gangguan metabolisme
cerebral plasi, sifilis dan sebagainya. • Penyakit infeksi
c. Pengaruh lingkungan e. Kekurangan nutrisi atau gisi
• Prenatal, misalnya : trauma, diet maternal, f. Kebiasaan jelek (bad habit) dan kelainan
metabolisme maternal dan sebagainya. atau penyimpangan fungsi.
• Postnatal, misalnya : luka kelahiran, • Cara menetek yang salah
cerebal palsi, luka TMJ dan sebagainya. • Mengigit jari atau ibu jari
• Menekan atau mengigit lidah a. Kelainan jumlah gigi
• Mengigit bibir atau kuku b. Kelainan ukuran gigi
• Cara penelanan yang salah c. Kelainan bentuk
• Kelainan bicara d. Kelainan frenulum labii
• Gangguan pernapasan (bernafas melalui e. Prematur los
mulut dan sebagainya) f. Prolong retensi
• Pembesaran tonsil dan adenoid g. Kelambatan tumbuh gigi tetap
• Psikkogeniktik dan bruksisem h. Kelainan jalannya erupsi gigi
g. Posture tubuh i. Ankilosis
h. Trauma dan kecelakaan j. Karies gigi
2. Faktor Intrinsik : k. Restorasi gigi yang tidak baik

2. Bagaimana interpretasi dari sefalometri?


Analisis Steiner dengan mengukur besar :
• Sudut SNA (normal 82°) , >82° maksila protrusif , < 82° maksila retrusif
• Sudut SNB (normal 80°) , > 80° mandibula protrusif, < 80° mandibula retrusif
• Sudut ANB, bila titik A di depan titik B (normal rata-rata 2°): klas I skeletal atau ortognatik, bila
titk A jauh didepan titik B (>>2° atau positif) : klas II skeletal atau retrognatik, bila titik A jauh di
belakang titik B (<<2° atau negatif ) : klas III skeletal atau prognatik

3. Apa diagnosa dan diagnosa banding dari skenario?


Klas II angle

4. Apa saja faktor faktor yang mempengaruhi pertumbuhan rahang?


A. Herediter (keturunan)
B. Lingkungan
1. Trauma
a. Trauma prenatal:
Hipoplasia mandibula dapat disebabkan oleh tekanan intrauterin atau trauma selama kelahiran.
"Vogelgesicht" pertumbuhan mandibula terhambat berhubungan dengan ankilosis persendian
temporomandibularis, mungkin disebabkan karena carat perkembangan oleh trauma.
Asimetri. Lutut atau kaki dapat menekan muka sehingga menyebabkan asimetri pertumbuhan muka
dan menghambat pertumbuhan mandibula.
b. Trauma postnatal
Fraktur rahang atau gigi
Trauma pada persendian temporomandibularis menyebabkan fungsi dan pertumbuhan yang tidak
seimbang sehingga terjadi asimetri dan disfungsi persendian.
2. Agen fisis
a. Prematur ekstraksi gigi susu
b. Makanan
3. Kebiasaan buruk
a. Mengisap jempol dan mengisap jari
Bila kebiasaan ini sudah tampak pada minggu pertama kehidupan biasanya disebabkan oleh problem
makan. Bila kebiasaan ini dilakukan pada anak usia yang lebih lanjut biasanya disebabkan oleh
problem psikologis.
Arah dan kekuatan pada gigi-gigi selama mengisap jempol menyebabkan incisivus atas tertekan ke
labial, incisivus bawah tertekan ke lingual, otot-otot pipi menekan lengkung gigi didaerah lateral ke
arah lingual.
b. Menjulurkan lidah
1. Simple tongue thrust swallow
Biasanya berhubungan dengan kebiasaan mengisap jari.
2. Complex tongue thrust swallow
Biasanya disebabkan oleh karena gangguan nasorespiratori kronis, bernapas lewat mulut, tosilitis atau
pharingitis.
Pada penelanan normal, gigi dalam kontak, bibir menutup, punggung lidah terangkat menyentuh
langit-langit. Pada penelanan abnormal yang disebabkan pembengkaan tonsil atau adenoid, lidah
tertarik dan menyentuh tonsil yang bengkak, akan menutup jalan udara, mandibula turun, lidah
menjulur ke depan menjauhi pharynk, dengan mandibula turun bibir harus berusaha menutup untuk
menjaga lidah dalam rongga mulut dan menjaga efek penelanan dapat rapat sempurna.
Diastemata dan open bite anterior merupakan akibat dari kebiasaan menjulurkan lidah.
c. Mengisap dan menggigit bibir
Mengisap bibir dapat sendiri atau bersamaan dengan mengisap ibujari. Dapat dilakukan pada bibir
atas atau pada bibir bawah. Bila dilakukan dengan bibir bawah maka maloklusi yang ditimbulkan
adalah labioversi gigi depan atas, open bite, lunguoversi gigi depan rahang bawah.
d. Posture
Sikap tubuh mempengaruhi posisi mandibula. Seseorang dengan sikap kepala mendongak, dagu akan
menempati posisi ke depan, pada sikap kepala menunduk maka pertumbuhan mandibula bisa
terhambat.
e. Menggigit kuku
Menyebabkan malposisi gigi.
f. Kebiasaan buruk lain
4. Penyakit
a. Penyakit sistemik
b. Penyakit endokrin
c. Penyakit-penyakit lokal
Penyakit nasopharingeal dan gangguan pernapasan
Penyakit periodontal
Tumor
Karies
Universitas Gadjah Mada 7
Premature loss gigi susu
Gangguan urutan erupsi gigi permanen
Hilangnya gigi permanen
5. Malnutrisi
C. Gangguan perkembangan oleh sebab yang tidak diketahui

5. Bagaimana mekanisme kebiasaan buruk?


- Sebagian anak mempunyai kebiasaan mengisap sesuatu (misalnya jari) yang tidak memberi nilai
nutrisi (non-nutritive), sebagai suatu kebiasaan yang dapat dianggap wajar. Akan tetapi,
kebiasaan mengisap yang berkepanjangan akan menghasilkan maloklusi. Keadaan ini dapat
terjadi karena adanya kombinasi tekanan langsung dari ibu jari dan perubahan pola tekanan bibir
dan pipi pada saat istirahat. Tekanan pipi pada sudut mulut merupakan tekanan yang tertinggi.
Tekanan otot pipi terhadap gigi-gigi posterior rahang atas ini meningkat akibat kontraksi otot
buccinator selama mengisap pada saat yang sama, sehingga memberikan risiko lengkung maksila
menjadi berbentuk V, ukurannya sempit dan dalam.
- Gigi berada dalam keadaan keseimbangan dinamis yang konstan. Keseimbangan kekuatan antar
otot yang dipercaya dapat mempengaruhi posisi dan kestabilan dent alveolar complex. Graber
mendeskripsikan mekanisme otot-otot buccinator. Dalam mekanisme ini, kekuatan yang
mendorong gigi dihasilkan oleh otot orbicularis oris, otot buccinators, otot penarik superior
pharyngeal yang diseimbangkan oleh kekuatan yang berlawanan dari lidah. Kerja yang berlebihan
otot-otot orbicularis mempengaruhi pertumbuhan kraniofasial, memicu terjadinya penyempitan
lengkung gigi, mengurangi ruang untuk gigi dan lidah serta terhalangnya pertumbuhan
mandibula.
- Kebiasaan tongue thrusting, yaitu suatu kebiasaan menjulurkan lidah ke depan dan menekan gigi-
gigi seri pada waktu istirahat, selama berbicara atau menelan. Adanya kebiasaan menjulurkan
lidah ke depan ini memungkinkan terjadinya ketidakseimbangan otot-otot di sekitar lengkung gigi
dan otot-otot mulut, sehingga dapat mempengaruhi posisi gigi. Gigi depan atas akan merongos ke
depan dan terjadi gigitan terbuka. Dan apabila menekan lidah ke pipi sambil menggigitnya maka
dapat menyebabkan gigi belakang menjadi miring ke arah dalam. Terjadi penyimpangan pola
menelan dan berbicara yang tidak normal.
- Anak yang bernapas melalui mulut biasanya berwajah sempit, gigi depan atas maju ke arah labial,
serta bibir terbuka dengan bibir bawah yang terletak di belakang insisivus atas. Karena kurangnya
stimulasi muskular normal dari lidah dan karena adanya tekanan berlebih pada kaninus dan
daerah molar oleh otot orbicularis oris dan buccinator, maka segmen bukal dari rahang atas
berkontraksi mengakibatkan maksila berbentuk V dan palatal tinggi. Sehingga anak dengan
kebiasaan ini biasanya berwajah panjang dan sempit.

6. Apa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengetahui adanya kebiasaan buruk dapat?
Untuk dapat melakukan perawatan c. Metoda Pont
ortodontik dengan baik dan benar, ada d. Metoda Korkhaus (c, d dan e untuk gigi-
beberapa langkah perdahuluan yang harus geligi tetap/permanent dentition)
diambil , antara lain : e. Metoda Howes
1. Memberi penjelasan mengenai beberapa 10. Determinasi lengkung
persyaratan yang harus dipenuhi oleh pasien. 11. Penentuan diagnosis
2. Identifikasi pasien 12. Analisis etiologi maloklusi
3. Anamnesis 13. Perencanaan perawatan
4. Pemeriksaan klinis, baik umum (general)
maupun khusus (local) 14. Pelaksanaan perawatan
5. Pembuatan studi model. 15. Penentuan jenis dan desain alat
6. Analisis foto Rontgen. ortodontik
7. Analisis foto profil dan foto muka 16. Prognosis
(wajah).
8. Dilakukan tes-tes tertentu untuk kasus-
kasus tertentu.
9. Dilakukan perhitungan-perhitungan
berdasarkan metoda :
a. Metode Nance
b. Metoda Moyers (a, dan b untuk gigi-
geligi bercampur/mixed dentition)
7. Bagaimana cara mencegah terjadinya kelainan dentofacial?
Perawatan ekstra oral yang dapat dilakukan pada anak yang memiliki kebiasaan mengisap ibu jari
atau jari tangan lainnya, antara lain :
a) Ibu jari atau jari diolesi bahan yang tidak enak (pahit) dan tidak berbahaya, misalnya betadine. Ini
diberikan pada waktu-waktu anak sering memulai kebiasaannya mengisap ibu jari.
b) Ibu jari diberi satu atau dua plester anti air.
c) Penggunaan thumb guard atau finger guard.
d) Sarung tangan.
e) Penggunaan thumb crib (fixed palatal crib) pada bagian palatum.
Penanganan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan mengisap bibir atau menggigit
bibir pada anak-anak antara lain17,20 :
a) Myotherapi (latihan bibir)
• Memanjangkan bibir atas menutupi incisivus rahang atas dan menumpangkan bibir bawah dengan
tekanan di atas bibir atas
• Memainkan alat tiup
b) Orang tua harus berperan aktif mencari tahu tentang sebab-sebab yang membuat anak stress.
Konsultasi dengan seorang psikiater merupakan salah satu hal yang dapat membantu dalam
menghilangkan kebiasaan buruk ini.
Penanganan yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan menyodorkan lidah pada anak-anak
adalah :
a) Terapi bicara
b) Latihan myofunctional

8. Bagaimana penatalaksanaan dari dentofacial?


9. Apa alat dan cara kerja yang digunakan pada kelainan dentofacial pada saat tumbuh
kembang? Indikasi dan kontraindikasi alat yang digunakan pada kelainan dentofacial?
Piranti Lepasan (Removable Appliance)
Piranti lepasan adalah piranti yang dapat dipasang dan dilepas oleh pasien. Beberapa contohnya
seperti yang terlihat pada gambar (Gambar 2.4). Komponen utama piranti lepasan adalah: 1)
komponen aktif, 2) komponen pasif, 3) lempeng akrilik, 4) penjangkaran. Komponen aktif terdiri atas
pegas, busur dan sekrup ekspansi. Komponen pasif yang utama adalah cengkeram Adams dengan
beberapa modifikasinya, cengkeram Southend dan busur pendek.

Gambar 2.4 Beberapa Jenis Piranti Lepasan

Piranti lepasan dapat juga dihubungkan dengan headgear untuk menambah penjangkaran.
Lempeng akrilik dapat dimodifikasi dengan menambah peninggian gigitan anterior untuk koreksi
gigitan dalam peninggian gigitan posterior untuk membebaskan halangan gigi anterior atas pada
kasus gigitan silang anterior. Salah satu faktor keberhasilan perawatan dengan piranti lepasan adalah
kooperatif pasien untuk memakai piranti.
Piranti Fungsional (Functional Appliance)
Piranti fungsional digunakan untuk mengoreksi maloklusi dengan memanfaatkan, menghalangi
atau memodifikasi kekuatan yang dihasilkan oleh otot orofasial, erupsi gigi dan
pertumbuhkembangan dentomaksilofasial. Ada juga yang mengatakan bahwa piranti fungsional dapat
berupa piranti lepasan atau cekat yang menggunakan kekuatan yang berasal dari regangan otot, fasia
dan atau jaringan yang lain untuk mengubah relasi skelet dan gigi. Dengan menggunakan piranti
fungsional, diharapkan terjadi perubahan lingkungan fungsional dalam suatu upaya untuk
mempengaruhi dan mengubah relasi rahang secara permanen. Biasanya piranti fungsional tidak
menggunakan pegas sehingga tidak dapat menggerakkan gigi secara individual.
Piranti ini hanya efektif pada anak yang sedang bertumbuh kembang terutama yang belum
melewati pubertal growth spurt. Kekuatan otot yang digunakan tergantung pada desain piranti
fungsional, tetapi utamanya kekuatan otot yang digunakan menempatkan mandibula ke bawah dan ke
depan pada maloklusi Klas II atau ke bawah dan belakang pada maloklusi Klas III. Penempatan
mandibula ke bawah dan belakang lebih sukar daripada ke bawah dan depan sehingga piranti ini lebih
efektif bila digunakan pada maloklusi Klas II.

Indikasi
Piranti fungsional secara terbatas dapat digunakan pada maloklusi :
- Mandibula yang retrusi pada kelainan skeletal Klas II ringan disertai insisivus bawah yang
retroklinasi atau tegak.
- Tinggi muka yang normal atau sedikit berkurang.
- Mandibula yang protrusi pada kelainan skeletal Klas III ringan
- Tidak ada gigi yang crowded

Maloklusi Klas II dengan insisivus bawah yang proklinasi merupakan kontraindikasi pemakaian
piranti fungsional. Pada maloklusi Klas II skeletal yang parah, piranti fungsional digunakan sebagai
perawatan pendahuluan untuk mengubah relasi rahang pada saat masih ada pertumbuhan (phase one)
kemudian digunakan piranti cekat untuk mengoreksi letak gigi dan kadang-kadang diperlukan
ekstraksi gigi permanen (phase two).

Tipe Piranti Fungsional


1. Removable Tooth-Borne Appliance atau Passive Tooth-Borne
Piranti ini bekerjanya hanya tergantung pada jaringan lunak yang menegang serta aktivitas otot
sehingga menghasilkan efek untuk mengoreksi maloklusi. Termasuk dalam tipe ini adalah :
a. Aktivator
Disebut juga piranti Andresen, desain aktivator yang asli terdiri atas blok akrilik yang menutupi
lengkung geligi atas dan bawah serta palatal, blok ini longgar karena tidak mempunyai cengkeram.
Aktivator dapat memajukan mandibula beberapa milimeter untuk mengoreksi maloklusi Klas II dan
membuka gigitan kira-kira 3-4 mm.
Piranti ini berpengaruh pada pertumbuhan rahang dan piranti yang pasif ini dapat menggerakkan
gigi anterior secara tipping serta mengontrol erupsi gigi-gigi untuk mengubah dimensi vertikal.
Piranti ini memberi kesempatan gigi posterior bawah tumbuh vertikal sedangkan gigi posterior atas
ditahan oleh lempeng akrilik untuk mengurangi tumpang gigit. Piranti ini dipakai selama 14-16 jam
sehari. Berbagai contoh aktivator seperti terlihat pada gambar (Gambar 2.5)
Gambar 2.5 Berbagai Contoh Aktivator
b. Bionator
Kadang-kadang disebut piranti Balters sesuai dengan penemunya. Prinsipnya hampir seperti
aktivator tetapi kurang bulky sehingga lebih disukai. Lempeng bagian palatal dibuang dan masih
terdapat sayap lingual untuk menstimulasi mandibula agar diposisikan ke anterior serta adanya
lempeng akrilik di antara gigi-gigi atas dan bawah untuk mengontrol dimensi vertikalnya. Pemakaian
selama 24 jam sehari sangat dianjurkan. Seperti yang terlihat pada gambar. (Gambar 2.6)

Gambar 2.6 Bionator

2. Twin Blok Appliance


Piranti ini terdiri atas piranti atas dan bawah yang pada saat pasien beroklusi membentuk satu
kesatuan di bukal, seperti yang terlihat pada gambar (Gambar 2.7). Serta mempunyai lempengan yang
berfungsi menempatkan mandibula ke depan pada saat menutup. Twin blok appliance cocok untuk
pasien yang mempunyai tumpang gigit normal atau sedikit berkurang dan dimungkinkan dipakai
selama 24 jam setiap hari bahkan waktu malam tetap bisa dipakai. Pengurangan jarak gigit dapat
terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Gambar 2.7 Twin Blok Appliance

3. Removable Tissue-Borne
Satu-satunya piranti fungsional tipe removable tissue-borne adalah functional corrector atau
functional regulator ciptaan Rolf Frankel sehingga piranti ini dikenal sebagai piranti Frankel. Seperti
yang terlihat pada gambar (Gambar 2.8). Piranti ini terdiri atas akrilik dengan kerangka dari kawat,
didesain untuk mengurangi gerakan gigi yang tidak diinginkan dan mengatur otot yang terletak dekat
dengan gigi dan menempatkan rahang dalam letak yang dikehendaki. Sayap akrilik lingual
menempatkan mandibula ke depan sedangkan bantalan akrilik di labial dan sayap akrilik yang lebar
di bukal (buccal shield) menahan tekanan dari bibir dan pipi. Pemakaian piranti Frankel dimulai
bertahap 2-3 jam tiap hari pada minggu-minggu pertama, kemudian dipakai semalaman tiap hari
sampai akhirnya selama 24 jam tiap hari kecuali pada saat makan.
Ada empat tipe piranti Frankel :
- FR I untuk mengoreksi maloklusi Klas I dan Klas II Divisi 1
- FR II untuk mengoreksi maloklusi Klas II Divisi 2
- FR III untuk mengoreksi maloklusi Klas III
- FR IV untuk mengoreksi gigitan terbuka anterior

Gambar 2.8 Piranti Frankel

4. Fixed Tooth-Borne Appliance


Tipe ketiga adalah fixed tooth-borne appliance yang mempunyai pengertian bahwa piranti ini
melekat pada gigi. Sebagai contoh adalah Herbst Appliance dan Jasper jumper. Herbst appliance pada
awalnya merupakan piranti lepasan kemudian pada perkembangannya menjadi piranti cekat yang
terdiri atas splint yang disemen ke lengkung gigi atas dan bawah, biasanya molar pertama atas dan
premolar pertama bawah, dihubungkan oleh lengan telescopic pin and tube yang menentukan
seberapa banyak mandibula dimajukan. Beberapa contoh herbst appliance seperti yang terlihat pada
gambar (Gambar 2.9). Oleh karena merupakan piranti cekat, maka herbst appliance dipakai terus-
menerus sehingga keberhasilan untuk mengoreksi maloklusi lebih tinggi. Kekurangan piranti ini ialah
dapat menyebabkan insisivus bawah terdorong ke labial. Herbst appliance yang baru tidak
mengganggu pergerakan rahang bawah ke lateral dan dibuat dari bahan yang lebih kuat sehingga
tidak mudah patah.

Gambar 2.9 Herbst Appliance

Jasper jumper adalah juga fixed tooth-borne appliance, menggunakan prinsip yang hampir sama
dengan piranti herbst appliance, tetapi lengan metal diganti dengan pegas yang kuat yang terbungkus
plastik yang lentur kemudian dilekatkan secara langsung dengan busur pada piranti cekat. Seperti
yang terlihat pada gambar (Gambar 2.10).

Gambar 2.10 Jasper Jumper

10. Apa hubungan dari wajah adenoid dengan kebiasaan buruk tersebut?
Ada beberapa variasi maloklusi tertentu tergantung jari yang diisap dan juga penempatan jari
yang diisap. Sejauh mana gigi berpindah tempat berkorelasi dengan lamanya pengisapan per hari
daripada oleh besarnya kekuatan pengisapan. Seorang anak yang mengisap kuat-kuat tetapi hanya
sebentar tidak terlalu banyak berpengaruh pada letak giginya, sebaliknya seorang anak yang mengisap
jari meskipun dilakukan tidak terlalu kuat tetapi dalam waktu yang lama (misalnya selama tidur
malam masih menempatkan jari di dalam mulut) dapat menyebabkan maloklusi yang nyata.
Bila jari ditempatkan di antara gigi atas dan bawah, lidah terpaksa diturunkan yang menyebabkan
turunnya tekanan lidah pada sisi palatal geligi posterior atas. Pada saat yang sama tekanan dari pipi
meningkat dan muskulus buccinator berkontraksi pada saat mengisap. Tekanan pipi paling besar pada
sudut mulut dan mungkin keadaan ini dapat menjelaskan mengapa lengkung maksila cenderung
berbentuk huruf V dengan kontraksi pada regio kaninus daripada molar. Kebiasaan mengisap yang
melebihi batas ambang keseimbangan tekanan dapat menimbulkan perubahan bentuk lengkung geligi,
akan tetapi sedikit pengaruhnya terhadap bentuk rahang.
Aktivitas mengisap jari sangat berhubungan dengan otot-otot rongga mulut. Aktivitas ini sangat
sering ditemukan pada anak-anak usia muda dan bisa dianggap normal pada masa bayi, meskipun hal
ini menjadi tidak normal jika berlanjut sampai masa akhir anak-anak. Sebagian besar anak akan
menghentikan kebiasaan ini dengan sendirinya pada usia antara 2 hingga 4 tahun, walaupun demikian
lebih mudah untuk menghentikan setiap kebiasaan ketika masih awal.

11. Bagaimana pandangan dalam islam tentang merapikan gigi yang berjejal?
Diharamkan bagi wanita muslim untuk mengikir gigi-giginya dengan tujuan memperindah diri,
dengan cara mendinginkan gigi-giginya dengan pendingin sehingga tampak merenggang jarak antara
gigi-giginya supaya kelihatan cantik. Namun apabila terdapat kotoran pada gigi-giginya yang
mengharuskannya mengubahnya, dengan tujuan untuk menghilangkan kotoran tersebut, atau karena
terdapat ketidaknyamanan yang mengharuskannya untuk memperbaikinya dengan tujuan untuk
menghilangkan ketidaknyamanan tersebut, maka perbuatan tersebut tidak mengapa, karena hal itu
termasuk dalam berobat dan membuang kotoran, yang hanya bisa dilakukan oleh daokter spesialis.
[Tanbihat “ala Ahkamin Takhushshu bil Mu’minat, Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal 11]