Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN

BENCHMARKING KE BEST PRACTICES


DIKLAT KEPEMIMPINAN TINGKAT IV ANGKATAN XXIX

PADA BANDUNG COMMAND CENTER (BCC), BADAN PERENCANAAN,


PENELITIAN, DAN PENGEMBANGAN (BAPELITBANG) KOTA BANDUNG,
PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO), DAN BADAN PENDAPATAN
DAERAH (BAPENDA) PROVINSI JAWA BARAT

Oleh :

ASEP PARDIANSYAH, S.ST.PI


NIP. 19880304 200912 1 001

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN


BADAN RISET DAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN
BALAI DIKLAT APARATUR SUKAMANDI
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas rahmat dan
karunia-Nya sehingga Laporan Mata Diklat Benchmarking ke Best
Practices dapat disusun dengan baik. Laporan ini merupakan salah satu
tahapan serta prasyarat dalam mengikuti Pendidikan dan Pelatihan
Kepemimpinan (Diklatpim) Tingkat IV yang diselenggarakan Balai Diklat
Aparatur Sukamandi, Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Laporan ini berisi tentang hasil visitasi penulis ke Bandung Comand
Center (BCC), BAPELITBANG Kota Bandung, PT. Kereta Api Indonesia
(Persero) dan Badan Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Barat, guna
mengidentifikasikan best practices dari instansi-instansi tersebut, sehingga
penulis mendapatkan gambaran dan perbandingan tentang perubahan
(inovasi) yang dilakukan, agar dapat diadaptasikan dalam proyek
perubahan yang akan disusun.
Dalam Kesempatan ini, tidak lupa pula penulis mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu
dalam penulisan laporan ini, antara lain :

1. Bapak Dr. Ir. Yulistyo, M.Sc, selaku coach yang telah memberikan
bimbingan dan arahan;
2. Para Widyaiswara dan narasumber yang telah memberikan
pembelajaran;
3. Rekan-rekan peserta Diklatpim IV Angkatan XXIX, selaku rekan
sejawat yang telah memberikan saran dan masukan.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan,


sehingga saran dan masukan yang bersifat konstruktif untuk perbaikan dari
semua pihak akan sangat bermanfaat bagi penyusun. Semoga laporan ini
bermanfaat dan dapat digunakan dalam kelanjutan penyusunan proyek
perubahan.
Bandung, 22 Maret 2018

Penulis

LAPORAN BENCHMARKING KE BEST PRACTICES DIKLATPIM-IV ANGKATAN XXIX i


DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ...................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................... ii

I. PENDAHULUAN ......................................................................... 1

A. Latar Belakang ..................................................................... 1

B. Tujuan dan Manfaat ............................................................. 2

C. Metode Pengumpulan dan Analisa Data …........................... 2

II. LOKUS KUNJUNGAN ............................................................... 3

A. Bandung Command Center (BCC) ..................................... 3

B. Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan


(BAPELITBANG) Kota Bandung ……………………...……… 4

C. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ..................................... 4

D. Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Provinsi Jawa


Barat .................................................................................... 5

III. ANALISIS BEST PRACTICES ................................................. 6

A. Bandung Command Center (BCC) ..................................... 6

B. Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan


(BAPELITBANG) Kota Bandung ……………………...……… 7

C. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) ..................................... 7

D. Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Provinsi Jawa


Barat .................................................................................... 7

IV. ANALISIS BEST PRACTICES SESUAI PROYEK


PERUBAHAN INDIVIDU ……………………………….......……. 9

V. PENUTUP ................................................................................. 11

A. Kesimpulan .......................................................................... 11

B. Saran ….....…………..……….………………......................... 11

LAPORAN BENCHMARKING KE BEST PRACTICES DIKLATPIM-IV ANGKATAN XXIX ii


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Benchmarking ke Best Practice merupakan salah satu mata diklat
yang ada dalam kurikulum pola baru Diklat Kepemimpinan tingkat IV, sesuai
dengan Peraturan Kepala Lembanga Administrasi Negara (LAN) Nomor 20
Tahun 2015 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan dan
Pelatihan Kepemimpinan Tingkat IV. Kegiatan benchmarking ke best
practice diharapkan dapat membekali peserta dengan kemampuan
mengadopsi dan mengadaptasi keunggulan organisasi yang dijadikan
obyek benchmarking yang memiliki best pratice dalam pengelolaan
kegiatan, sehingga mempermudah peserta dalam mengaplikasikan proyek
perubahan yang akan dilakukan.
Melalui proyek perubahan, berbagai inovasi diharapkan muncul
sebagai solusi dalam mengatasi berbagai permasalahan yang akan
diperbaiki.Salah satu metode untuk memunculkan ide-ide inovatif tersebut
adalah melalui benchmarking ke lembaga/instansi yang telah memiliki dan
menerapkan best practice.
Benchmarking ke Best Practice Diklatpim IV Angkatan XXIX
Kementerian Kelautan dan Perikanan ini dilaksanakan di kota Bandung,
Jawa Barat dengan lokus kunjungan antara lain; Bandung Commad Center
(BCC), Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan
(BAPELITBANG) Kota Bandung, PT. Kereta Api Indonesia (Persero), dan
Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Provinsi Jawa Barat.
Pemilihan ketiga lokus tersebut didasarkan pada analisis terhadap
beberapa organisasi atau lembaga yang memiliki kemampuan terbaik
dalam pengelolaan SDM yang berintegritas dan profesional,
pengembangan inovasi dan teknologi yang sangat maju, serta pelayanan
publik yang efektif dan efisien.
B. Tujuan dan Manfaat
Adapun yang menjadi tujuan pelaksanaan Benchmarking ke Best
Practices adalah :
1. Peserta mampu mengidentifikasi best practices yang telah
dilaksankan pada lokus kunjungan;
2. Peserta mampu menyusun lesson learn dari best practices yang
diterapkan;
3. Peserta mampu mengadopsi dan mengadaptasikan best practices
terpilih kedalam proyek perubahan yang akan dilakukan.

Adapun Manfaat benchmarking dilokus ini adalah dapat mengukur dan


membandingkan suatu kegiatan organisasi yang terbaik dikelasnya,
sehingga dapat diadopsi atau diadaptasikan untuk mempermudah dalam
merancang proyek perubahan.

C. Metode Pengumpulan dan Analisis Data


Metode pengumpulan data yang digunakan dalam Benchmarking ke
Best Practice ini adalah dengan cara :
1. Wawancara;
2. Diskusi;
3. Observasi lapangan;
4. Browsing internet.
Sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah dengan
membandingkan serta menyandingkan kesamaan sifat best practices yang
ada dimasing-masing lokus kunjungan dengan proyek perubahan,
sehingga diharapkan dapat mempermudah dalam mengidentifikasi
permasalahan, menemukan cara pemecahan masalah, dan
mengimplementasikan proyek perubahan dengan baik.
II. LOKUS KUNJUNGAN

Kegiatan Benchmarking ke Best Practice Diklatpim IV Angkatan


XXIX Kementerian Kelautan dan Perikanan ini dilaksanakan pada tanggal
19 s/d 22 Maret 2018 di kota Bandung, Jawa Barat, dengan 3 (tiga) tempat
yang menjadi lokus kunjungan antara lain; Bandung Command Center
(BCC), Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan
(Bapelitbang) Kota Bandung, PT. Kereta Api Indonesia (PT.KAI), dan
Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Provinsi Jawa Barat.
Kota Bandung merupakan kota Metropolitan terbesar di Jawa Barat,
sekaligus menjadi ibu kota Provinsi dengan luas wilayah 167,7 Km2 dan
jumlah penduduk sebesar 2.395 juta jiwa (2010), yang tersebar di 30
Kecamatan dan 151 Kelurahan.
Pemerintahan kota Bandung sendiri bertempat di Jl. Wastukencana
No. 2, Babakan, Ciamis, Kota Bandung, Jawa Barat. dalam
pelaksanaannya dimotori oleh 5 Badan Daerah, 22 Dinas Daerah, 30
Kecamatan dan 151 Kelurahan yang tersebar di seluruh penjuru kota
Bandung. Kota Bandung saat ini dipimpin oleh pasangan M. Ridwan Kamil,
ST., MUD selaku Walikota dan Oded Muhamad Danial selaku Wakil
Walikota yang telah memimpin selama 1 periode (2013-2018).
Adapun yang menjadi Visi kota Bandung “Terwujudnya Kota
Bandung Yang Unggul, Nyaman Dan Sejahtera”, dengan Misi yaitu :
Mewujudkan Bandung nyaman melalui perencanaan tata ruang,
pembangunan infrastruktur serta pengendalian pemanfaatan ruang yang
berkualitas dan berwawasan lingkungan; Menghadirkan tata kelola
pemerintahan yang akuntabel, bersih dan melayani; Membangun
masyarakat yang mandiri, berkualitas dan berdaya saing; dan Membangun
perekonomian yang kokoh, maju, dan berkeadilan.

A. Bandung Command Center (BCC)


Bandung Command Center merupakan salah satu
ikon smart city di Kota Bandung. Dilengkapi
dengan teknologi yang canggih, operasional
Bandung Command Center ditujukan untuk
menyempurnakan pelayanan publik dari Pemerintah Kota Bandung kepada
masyarakat. Dibangun sejak tahun 2014 dan resmi beroperasi pada tanggal
19 Januari 2015, Bandung Command Center menjadi salah satu inovasi
Pemerintah Kota Bandung dalam hal pelayanan public. Selain itu, Bandung
Command Center juga merupakan salah satu kunci penting dalam upaya
Pemerintah Kota Bandung untuk mewujudkan Bandung Smart City.

B. Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan


(BAPELITBANG) Kota Bandung
Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian
Pengembangan (BAPPELITBANG). membawahi 3 (tiga)
subid yaitu Sub Bidang I Sosial dan Pemerintahan, Sub
Bidang II Ekonomi dan Pembangunan dan Sub Bidang
III Inovasi dan Teknologi. Tugas dan fungsi Bapelitbang, meliputi:
1. pemantauan, evaluasi dan pelaporan lingkup penelitian dan
pengembangan;
2. fasilitasi dan pengembangan inovasi daerah;
3. koordinasi, sinkronisasi dan kemitraan kelitbangan;
4. pengelolaan data dan peraturan kelitbangan;
5. kerjasama dan kemitraan lingkup penelitian dan pengembangan.

C. PT. Kereta Api Indonesia (Persero)


PT Kereta Api Indonesia (Persero), selanjutnya
disebut sebagai KAI atau ‘Perusahaan’ adalah
Badan Usaha Milik Negara yang menyediakan,
mengatur, dan mengurus jasa angkutan kereta api
di Indonesia.
PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bertempat di Jalan Perintis
Kemerdekaan No. 1 Bandung 40117. Saat ini, PT Kereta Api Indonesia
(Persero) yang dipimpin oleh Edi Sukmoro selaku Direktur Utama, sudah
memiliki tujuh anak perusahaan yakni PT Reska Multi Usaha (2003), PT
Railink (2006), PT Kereta Api Indonesia Commuter Jabodetabek (2008), PT
Kereta Api Pariwisata (2009), PT Kereta Api Logistik (2009), PT Kereta Api
Properti Manajemen (2009), PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (2015)
dengan total pegawai sebanyak 28.163 orang.
Adapun yang menjadi visi dan misi dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
sendiri adalah VISI:“Menjadi penyedia jasa perkeretaapian terbaik yang
fokus pada pelayanan pelanggan dan memenuhi harapan Stakeholders”,
dengan MISI: Menyelenggarakan bisnis perkeretaapian dan bisnis usaha
penunjangnya melalui praktik bisnis dan model organisasi terbaik untuk
memberikan nilai tambah yang tinggi bagi Stakeholders dan kelestarian
lingkungan berdasarkan empat pilar utama: Keselamatan, Ketepatan
Waktu, Pelayanan, dan Kenyamanan.

D. Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Provinsi Jawa Barat


Sejarah Perkembangan Badan Pendapatan
Daerah Provinsi Jawa Barat, embrionya
diawali dengan dibentuknya suatu Biro
Pendaptan dan Perpajakan sebagai Sub Ordinat dari Administratur Bidang
Keuangan (Kepgub No. 60/PO/V/OM/SK/71). Dalam rangka peningkatan
status kelembagaanya maka dibentuklah Jawatan Perpajakan dan
Pendapatan dalam lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Kepgub
No. 219/PO/V/O.M/SK/1971) tanggal 25 September 1971, sebagai unit
kerja yang berdiri sendiri dan menjadi tonggak sejarah berdirinya Badan
Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Barat. Sebagai konsekuensi berlakunya
Undang-undang No. 5 tahun 1974, maka sebutan atau nomenklatur
kelembagaan, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah
Tingkat I Jawa Barat Nomor 107/A.V/18/SK/1975 terhitung tanggal 12 April
1975 sebutan Jawatan diubah dengan istilah :
Adapun yang menjadi visi dan misi dari Badan Pendapatan Daerah Provinsi
Jawa Barat sendiri adalah Visi : “Menjadi Pengelola Pendapatan Daerah
yang Amanah dan Akuntabel.”, dengan Misi ; (a) Meningkatkan Kapasitas
Pendapatan Daerah Yang Makin Optimal, (b) Meningkatkan Kualitas
Pelayanan kepada masyarakat yang berdaya saing.
III. ANALISIS BEST PRACTICES

Kota Bandung merupakan salah satu kota paling kreatif, bersahabat,


dan nyaman untuk dikunjungi. Pemerintah kota bandung dalam hal ini
sebagai penyedia pelayanan publik, selalu mengutamakan dan
mendengarkan masukan serta aspirasi masyarakat dalam membuat suatu
kebijakan serta terobosan (inovasi), sehingga dalam menjalankan
kebijakan atau inovasi tersebut dapat dilaksanakan dengan baik.
Dari hasil benchmarking di kota Bandung berdasarkan hasil diskusi
dan observasi, diperolehlah beberapa best practices yang diterapkan oleh
instansi-instansi yang menjadi lokus kegiatan, adalah sebagai berikut :

A. Bandung Command Center (BCC)


Best Practise yang diperoleh dari Bandung Commad Center (BCC)
adalah :
Untuk pelayanan publik, ada tiga fasilitas unggulan yang dimiliki oleh
Bandung Command Center, yaitu LAPOR! (Layanan Aplikasi dan
Pengaduan Online Rakyat), NTPD 112 dan aplikasi berbasis android Panic
Button. Adapun sebagai Decision Support System, Bandung Command
Center menyediakan berbagai macam informasi yang dihimpun dari
beragam aplikasi yang dimiliki oleh Kota Bandung. Untuk mendukung
pengambilan keputusan terkait pendapatan kota misalnya, tersedia
informasi dalam bentuk dashboard Badan Pengelolaan Pendapatan
Daerah (BPPD) Kota Bandung. Untuk pengambilan keputusan terkait
infrastruktur, aplikasi Manpro (Manajemen Proyek) yang dikembangkan
oleh Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung menyediakan informasi yang
dibutuhkan. Untuk pengambilan keputusan terkait pelayanan publik,
infografis LAPOR!, hasil pemantauan melalui CCTV dan analisis keluhan
masyarakat melalui sosial media dapat menjadi sumber data yang akurat.
B. Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan
(Bapelitbang) Kota Bandung
Best practices yang diperoleh dari Bapelitbang Kota Bandung
adalah:
1. mendokumentasikan hasil kinerja dan mensosialisasikannya secara
eletronik, sehingga semua dapat diakses secara mudah;
2. membangun jejaring stakeholder dengan memanfaatkan teknologi
informasi, sehingga dalam perencanaan pembangunan dapat
mendengarkan masukan dari masyarakat selaku pengguna layanan
agar kebijakan yang diambil dapat berjalan dan terealisasi dengan
baik.

C. PT. Kereta Api Indonesia (PT.KAI)


Best practices yang diperoleh dari PT. KAI (Persero) adalah :
1. Merubah orientasi pelayanan dari yang semula berfokus pada
produk yang disediakan menjadi, pelayanan terhadap costumer
2. Merubah pola pikir yang semula berorientasi pada bagaimana
meningkatkan operasional, menjadi bagaimana meningkatkan
pelanggan/costumer
3. Mentransformasi pelayanan yang semula memberikan pelayanan
pada satu tempat, menjadi mendekatkan diri kepada pelanggan
sehingga pelanggan mudah untuk mengakses pelayanan yang
diberikan
4. Mentransformasi cara pelayanan pemesanan tiket kereta api yang
semula hanya dapat diakses melalui loket di stasiun, dengan
menggunakan teknologi aplikasi sehingga pelanggan dapat
mengakses pemesanan tiket kereta api disemua tempat.

D. Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Provinsi Jawa Barat

Best practices yang diperoleh dari Badan Pendapatan Daerah


(BAPENDA) Provinsi Jawa Barat adalah :
1. Pentingnya mendekatkan pelayanan dengan kostumer sehingga
dapat meminimalisir hilangnya potensi pendapatan daerah, sehingga
berimbas kepada peningkatan terhadap pendapatan daerah, dimana
dilakukan inovasi melalui program/kegiatan berupa pelayanan di
outlet-outlet, samsat keliling (samling), samsat gendong (samdong),
dan samsat masuk desa (samdes);
2. Menggunakan teknologi informasi yang terintegrasi, sehingga
memudahkan kostumer untuk mengakses dan melakukan
pembayaran pajak dimanapun berada, seperti aplikasi e-samsat,
Simpolin, dan T-samsat;
3. Bekerjasama dengan instansi terkait terutama perbankan untuk
mempermudah melakukan pembayaran secara elektronik dengan
menggunakan mesin EDC dan ATM yang lebih mudah dan cepat,
sehingga meminimalisir lamanya waktu pelayanan dan penggunaan
uang tunai.
4. Melakukan monitoring secara real time terhadap pelayanan
pelanggan di unit pelayanan, serta melakukan evaluasi terhadap
pendapatan yang dihasilkan dengan belanja yang dikeluarkan,
sehingga memudahkan dalam menentukan target dan serta
kebijakan-kebijakan yang akan diambil di masa yang akan datang,
yang diwujudkan kedalam bentuk aplikasi berbasis teknologi
informasi yaitu, system pemantauan pendapatan terpadu
(SIPANDU).
IV. ANALISIS BEST PRACTICES SESUAI PROYEK PERUBAHAN
INDIVIDU

Berdasarkan hasil analisis terhadap best practices yang terdapat


pada 4 (empat) lokus kunjungan, dan kesesuaian dengan rancangan
proyek perubahan yang akan dilaksanakan, salah satu yang sesuai dan
dapat diadopsi adalah best practices yang terdapat pada Badan
Pendapatan Daerah (BAPENDA) Provinsi Jawa Barat, karena cukup
sejalan dengan proyek perubahan yaitu “Optimalisasi Pelayanan terpadu
Terkait Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)” yang dilihat dari
kesesuaian konsep pelayanan yang mendekatkan diri dengan pengguna
jasa dan menggunakan kemajuan teknologi informasi untuk memudahkan
pelayanan dan pembayaran, sehingga dapat meningkatkan pendapatan.
Inovasi yang dibuat yaitu terkait inovasi cara pelayanan dan produk
pelayanan yang menggunakan teknoligi informasi.

1. Inovasi cara Pelayanan yang mudah dijangkau/diakses


mendekatkan pelayanan dengan pengguna jasa dengan
menyediakan tempat-tempat pelayanan yang lokasinya dekat dan
mudah diakses oleh kostumer sehingga dapat meminimalisir
hilangnya potensi pendapatan daerah, sehingga berimbas kepada
peningkatan terhadap pendapatan daerah
2. Inovasi Sistem pelayanan.
Pelayanan pembayaran PNBP dilakukan secara online dan
teritegrasi dengan menggunakan pembayaran secara elektronik
dengan menggunakan mesin EDC dan ATM, akan memudahkan
pengguna jasa tanpa harus membawa uang tunai yang rawan untuk
terjadinya kehilangan atau kejahatan.
3. Inovasi Sistem monitoring dan evaluasi pendapatan
Monitoring dan evauasi PNBP dapat dilakukan secara real time
dengan dilakukannya pembayaran/transaksi PNBP secara elektronik
setiap harinya akan tercatat secara cepat dan mudah untuk dipantau
Melalui inovasi yang diterapkan oleh BAPENDA Provinsi Jawa Barat, dapat
menjadi bahan acuan dalam pengembangan proyek perubahan yang akan
dilaksanakan.
V. PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun Kesimpulan yang dapat diambil dari kegiatan dan
penyusunan laporan Benchmarking ke Best Practices ini adalah :
1. Best Practices yang terdapat pada lokus kunjungan berbeda-beda,
namun ada kesamaan antara keseluruhan best practices yang ada
pada tiap-tiap lokus yaitu, semangat, prinsip, pola pikir SDM yang ada
selalu berfikir kreativ dan inovatif untuk menciptakan sesuatu yang baru
guna meningkatkan pelayanan public menjadi lebih mudah, cepat,
aman dan efesien, dengan memanfaatkan teknologi informasi sebagai
saran pendukung.
2. Lesson learned yang dapat dimunculkan dalam kegiatan benchmarking
ini berupa inovasi terkait pelayanan dan penggunaan teknologi, antara
lain :
1) Inovasi cara Pelayanan yang mudah dijangkau/diakses;
2) Inovasi Sistem pelayanan secara online dan terintegrasi;
3) Inovasi Sistem monitoring dan evaluasi terhadap pendapatan.
3. Best Practices yang ditemukan dilokus kunjungan Badan Pendapatan
Daerah (BAPENDA) Provinsi Jawa Barat, dapat diadopsi kedalam
proyek perubahan berupa pendekatan lokus pelayanan agar mudah
dijangkau oleh pengguna jasa dan dapat diakses dimana saja dengan
menggunakan aplikasi secara online. sedangkan pengadaptasian best
practices terhadap proyek perubahan dapat dilakukan dengan
membangun sistem baru dan komitmen baru untuk bertransformasi dari
product oriented menuju ke costumer oriented dengan penggunaan
teknologi informasi agar pelayanan menjadi mudah, cepat dan aman.

B. Saran
Dalam kegiatan Benchmarking ke Best Practices ini diperlukan
pemahaman mendalam terkait proses perubahan/transformasi suatu
sistem sehingga menjadikannya sebagai sebuah inovasi. Untuk itu,
diperlukan waktu yang lebih lama dan kesempatan yang luas bagi peserta
untuk mendalami lokus kegiatan agar hasil yang didapatkan lebih optimal.
LAMPIRAN
LAPORAN BENCHMARKING KE BEST PRACTICES
DOKUMENTASI KEGIATAN
BENCHMARKING KE BEST PRACTICES
DIKLAT KEPEMIMPINAN TINGKAT IV ANGKATAN XXIX

Kunjungan Ke PT. Kereta Api Indonesia (Persero)

Kunjungan Ke Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Provinsi Jawa Barat


Kunjungan Ke Pemerintah Kota Bandung (Balitbang dan BCC)