Anda di halaman 1dari 14

TUGAS JOURNAL READING

“External foam and the post-mortem period in freshwater drowning; results


from a retrospective study in Amsterdam, the Netherlands”

OLEH :

Nita Khusnulzan
H1A013049

PEMBIMBING :

dr. Irawanto Rochadi Bima Sakti, Sp. F, M. MHKes

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN/SMF FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROVINSI NTB
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat,
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan journal reading ini. Selain itu saya
mengucapkan terima kasih kepada pembimbing saya dr. Irawanto Rochadi Bima Sakti, Sp. F, M.
MHKes, karena telah membatu dan memberikan masukan dalam penyusunan journal reading
ini.
Journal reading yang berjudul “External foam and the post-mortem period in
freshwater drowning; results from a retrospective study in Amsterdam, the Netherlands”
ini disusun dalam rangka mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya di Bagian/ SMF Forensik dan
Medikolegal Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat, Fakultas Kedokteran
Universitas Mataram.
Saya menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, saya sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan laporan ini. Semoga laporan
ini dapat memberikan manfaat dan tambahan pengetahuan khussunya kepada penulis dan kepada
pembaca dalam menjalankan praktik sehari-hari. Semoga Tuhan selalu memberikan petunjukNya
kepada kita semua di dalam melaksanakan tugas dan menerima segala amal ibadah kita.

Mataram, Maret 2018

Penulis

2
External foam and the post-mortem period in freshwater drowning; results from
a retrospective study in Amsterdam, the Netherlands

ABSTRACT
Introduction: Determining the time of death of bodies recovered from water can be difficult. A
feature of drowning is the presence of external foam. This study describes the presence of
external foam in relation to the post-mortem period.
Method: The study utilizes a database of death reports dated between January 2011 and July
2016. For bodies recovered from fresh water, the presence or absence of external foam was
noted.
Results: In this study, 112 death reports are included. Of these reports, 18 mentioned external
foam, which account for 16.1% of the entire study population. In the population with a post-
mortem period of less than 24 hours, external foam was detected in 27.7% of cases. All 18
incidents with external foam had an estimated post-mortem period of less than 24 hours.
Conclusion: In our study, external foam was only present in freshwater drowning cases with a
post-mortem period of less than 24 hours. Based on this finding, the presence of external foam
may be useful as an additional indicator when estimating the time of death in freshwater
drowning.
Keywords:
External foam; froth; bodies recovered from water; time of death; drowning.

3
External foam and the post-mortem period in freshwater drowning; results from
a retrospective study in Amsterdam, the Netherlands

ABSTRAK
Pendahuluan: Menentukan waktu kematian pada tubuh yang didapat dari air bisa menjadi sulit.
Ciri khas dari tenggelam ialah adanya busa eksternal. Penelitian ini menjelaskan adanya busa
eksternal yang berhubungan dengan periode post-mortem.
Metode: Penelitian ini menggunakan database laporan kematian antara Januari 2011 sampai Juli
2016. Badan yang ditemukan di air tawar dengan ada atau tidak busa eksternal dicatat.
Hasil: Dalam penelitian ini, terdapat 112 kasus laporan kematian yang memenushi kriteria
inklusi. Dari data tersebut, 18 kasus dari populasi menunjukan adanya busa eksternal atau 16,1%
dari populasi penelitian. Pada populasi dengan periode post-mortem kurang dari 24 jam, busa
eksternal terdapat pada 27,7% kasus. Pada 18 kasus yang menunjukan adanya busa eksternal
diperkirakan memiliki periode post-mortem kurang dari 24 jam.
Kesimpulan: Pada penelitian ini, busa eksternal hanya terdapat pada kasus tenggelam pada air
tawar dengan periode post-mortem kurang dari 24 jam. Berdasarkan penemuan ini, adanya busa
eksternal bisa bermanfaat sebagai indikator tambahan dalam menentukan waktu kematian pada
kasus tenggelam pada air tawar.
Kata kunci
External foam; froth; bodies recovered from water; time of death; drowning.

4
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................................1

KATA PENGANTAR ...............................................................................................................2

ABSTRAK .................................................................................................................................3

DAFTAR ISI..............................................................................................................................5

IDENTITAS JURNAL ..............................................................................................................6

PENDAHULUAN .....................................................................................................................6

METODE PENELITIAN...........................................................................................................6

HASIL ........................................................................................................................................9

DISKUSI ..................................................................................................................................10

KETERBATASAN PENELITIAN .........................................................................................12

KESIMPULAN ........................................................................................................................12

ANALISA JURNAL................................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................................14

5
A. IDENTITAS JURNAL
1) Judul : External foam and the post-mortem period in freshwater drowning;
results from a retrospective study in Amsterdam, the Netherlands
2) Penulis : G. Reijnen, M. Buster, P.J.E Vos dan U.J.L Reijnders
3) Penerbit : Journal of Forensic and Legal Medicine
4) Tahun terbit : 2017
5) Volume : 52
6) Halaman : 1 – 15
7) Jenis jurnal : Research Article

B. PENDAHULUAN
Tenggelam merupakan proses pernapasan yang mengalami gangguan akibat dari
terendam dalam cairan. Di dunia, tenggelam merupakan masalah utama, WHO memperkirakan
terjadi sekitar 388.00 orang tenggelam setiap tahunnya. Keadaan ini berkaitan dengan tubuh
yang ditemukan di dalam air bervariasi dan harus dilakukan otopsi untuk menentukan penyebab
pasti dari terjadinya kematian. Penelitian di Amerika dengan 123 subjek menunjukan bahwa
meskipun telah dilakukan otopsi dalam kasus tenggelam sebanyak 41% kasus belum diketahui
secara pasti penyebab tenggelam (bunuh diri, kecelakaan ataupun pembunuhan).
Busa eksternal merupakan tanda khas yang timbul dalam kasus tenggelam. Busa
eksternal merupakan busa dengan warna putih seperti salju dengan lokasi pada mulut dan atau
hidung. Beberapa literature menyebutkan bahwa semakin lama jarak antara waktu kematian
dengan otopsi maka prevalensi busa eksternal akan semakin rendah. Jadi busa eksternal akan
menghilang seiring dengan berjalannya waktu. Untuk menentukan waktu kematian hal tersebut
akan membantu untuk mengetahui berapa lama waktu yang dilalui setelah meninggal dengan
terjadinya busa eksternal tidak dapat diketahui. Penelitian ini menggambarkan periode post-
mortem dimana busa eksternal terlihat dalam pemeriksaan eksternal post-mortem kasus
tenggelam pada air tawar.

6
C. METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan menggunakan data post-
mortem eksternal tubuh yang didapatkan setelah tenggelam dari air tawar dan meninggal 6
jam sebelum ditemukan. Penelitian ini melibatkan badan yang ditemukan di daerah
Amsterdam yaitu danau, selokan di wilayah Amsterdam antara bulan januari 2011 sampai
juli 2016.

Pengumpulan data
Register data digital “Formatus” digunakan untuk pengumpulan data pada periode
Januari 2011 sampai Juli 2016. Semua kematian tidak wajar vang terjadi di Amsterdam,
termasuk wilayah Amstelland dan Zaanstreek secara sistematis dimasukan oleh dokter
forensic kedalam “Formatus” sebagai database. Database laporan kematian (N=4905) yang
dicari dengan menggunakan istilah: “tenggelam”, “water body”, “busa eksternal”,
“mengambang” dan “di dalam air”.

Kriteria inklusi:
 Ditemukan meninggal di perairan public atau non-publik (N=93), atau
 Ditemukan meninggal di perairan public atau non-publik dengan waktu kematian sekitar
6 jam (N=27)

Total subjek yang memenuhi kriterian inklusi ialah 120 subjek.

Kriteria eksklusi:
 Usia kurang dari 18 tahun (N=1)
 Transplantasi organ jantung dan atau paru (N=1)
 Kepala subjek hilang (N=2)
 Perkiraan interval post-mortem tidak ada (N=4)

7
Pemeriksaan Eksternal
Semua pemeriksaan eksternal dilakukan oleh dokter forensic, yaitu sebanyak 22
dokter forensic. Semua dokter telah menyelesaikan pelatihan pasca-akademis untuk
dokter forensic dan bekerja sesuai dengan protocol yang telah ditetapkan. Pemeriksaan
eksternal melibatkan pemeriksaan menyeluruh pada tubuh, analisis racun pada urin dan
darah, menggali riwayat kesehatan dan melakukan investigasi bersama detektif di tempat
kejadian.
Foto diambil oleh dokter forensic dan atau detektif. Pemeriksaan eksternal
dilakukan ditempat dimana mayat sudah dibebaskan dari air atau dilakukan di kamar
mayat. Semua pemeriksaan eksternal berlangsung satu jam setelah tubuh mayat
ditemukan.
Perkiraan waktu kematian berdasarkan pada keteranganh saksi, keadaan mayat
dan perubahan post-mortem. Perubahan post-mortem dievaluasi oleh dokter forensic
berdasarkan Dutch guideline “postmortem external examination” from the Forensic
Medical Society (FMG). Busa dinilai sebagai tanda awal yang terlihat.

8
Semua temuan dibuat dalam “Formatus” sesuai dengan standar format. Foto yang
tersedia dalam “Formatus” hanya foto yang diambil oleh dokter forensic, sementara foto
yang diambil oleh detektif diserahkan ke Polisi.

Definisi Operasional
Dalam penelitian ini, pemeriksaan post-mortem eksternal didefinisikan sebagai
pemeriksaan eksterior menyeluruh pada badan mayat dan pada pemeriksaan ini tidak
melibatkan pembukaan badan mayat.
Di belanda dokter forensic didefinisikan sebagai dokter yang melakukan
pemeriksaan eksternal post-mortem, dimana dokter tersebut melakukan pengenalan dan
interpretasi hasil temuan eksternal.
Air tawar didefinisikan sebagai air yang mengandung natrium klorida kurang dari
9 gram per liter.

Analisis Statistik
Data disajikan dengan standar deviasi atau presentase. Selama analisis, kelompok
yang berbeda diuji dengan menggunakan uji Chi-square. Untuk semua analisis statistic
digunakan SPSS versi 23.

D. HASIL
Prevalensi Busa External dan Hubungannya dengan Waktu Kematian
Dari total 4905 pemeriksaan eksternal post-mortem periode Januari 2011 sampai Juli
2016 pada wilayah Amsterdam. Total 112 memenuhi kriteria inklusi. Terdapat 82% adalah
laki-laki. Umur rata-rata yaitu 48,8 tahun. Tabel 1 menunjukan 112 pemeriksan, busa
eksternal terdapat pada 18 kasus (16,1%). Seluruh 18 kasus ditemukan pada grup dengan
estimasi waktu kematian 0-24 jam (interval 3-20 jam). Tidak ditemukan busa eksternal pada
subjek dengan estimasi waktu kematian lebih dari 24 jam (p=0.000).
Pada subgroup yang dilakukan pemeriksaan kurang dari 6 jam setelah waktu
kematian, 17,9% kasus timbul busa eksternal. Busa eksternal terdapat pasa sepertiga subjek
dengan interval post-mortem antara 6 dan 24 jam.

9
Table 1: Presentase kasus yang menunjukan adanya busa eksternal

E. DISKUSI
Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang menemukan bahwa busa eksternal
dapat muncul pada tubuh yang tenggelam dalam air tawar terkait dengan interval post-
mortem. Mekanisme tenggelam pada air tawar dan air asin secara teori berbeda. Air tawar
bersifat hipotonik dan di absorbs paru melalui proses osmosis. Proses ini membuat surfaktan
menjadi kurang efektif, sehingga terjadi peningkatan tekanan dan kolapsnya alveli
menyebabkan intrapulmonary shunt dan V/Q mismatch. Air asin bersifat hipertonik yaitu
bersifat osmosis menarik cairan dari peredaran darah ke paru sehingga alveoli terisi oleh
cairan. Hal ini meyebabkan intrapulmonary shunt dan V/Q mismatch.
Dalam penelitian ini, busa eksternal hanya terdeteksi pada kasus dengan periode post-
mortem yang tidak lebih dari 24 jam. Jadi, bila pada pemeriksaan post-mortem busa eksternal
terdeteksi dapat diperkirakan waktu kematian antara 0-24 jam.

10
Gambar 1: busa eksternal

Hilangnya Busa Eksternal 24 jam setelah waktu kematian


Pada penelitian ini tidak memeriksa busa eksternal pada kasus yang memiliki
periode post-mortem lebih dari 24 jam (N=47). Penjelasan mengenai tidak terdapatnya
busa eksterna setelah periode post-mortem lebih dari 24 jam yaitu busa eksternal tercuci
bersama air, atau karena tidak cukupnya surfaktan yang menghasilkan busa eksternal
tersebut. Hipotesis lain menyebutkan bahwa setelah 24 jam post-mortem surfaktan tidak
dapat berfungsi lagi. Selain itu terdapat hipotesis yang mengatakan bahwa hilangnya busa
eksternal setelah 24 jam post mortem diakibatkan oleh proses pembuskan yang terjadi,
dimana proses ini dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dan mikroorganisme yang ada
pada air.

Berkurangnya jumlah busa eksternal pada periode post-mortem kurang dari 6 jam
Pada penelitian ini terdapat (N=17) subjek yang menunjukan jumlah busa
eksternal yang lebih sedikit dengan periode post-mortem kurang dari 3 jam.
Berkurangnya jumlah busa eksternal pada periode post-mortem 0-6 jam disebabkan oleh
tidak adanya busa eksternal yang muncul pada 3 jam pertama periode post-mortem. Hal
ini bsa disebabkan oleh karena air langsung masung ke dalam alveoli dan bercampur
dengan surfaktan sehingga surfaktan tidak bisa membentuk busa. Setelah busa terbentuk,

11
busa akan naik melaui salurang pernapasan, hal ini menunjukan bahwa pada tahap awal
busa dapat dideteksi pada organ-organ internal saluran pernapasan.

Temuan saat ini dibandingkan dengan penelitian sebelumnya


Penelitian ini berkaitan dengan prevalensi terjadinya busa eksternal pada kasus
tenggelam pada air tawar dengan interval post-mortem. Terdapat dua penelitian
sebelumnya menelititi tentang hubungan busa dengan interval post-mortem. Penelitian
pertama menggunakan subjek yang tenggelam pada air asin, ditemukan busa pada saluran
pernapasan, namun busa hanya ditemukan pada mayat yang belum mengalami proses
pembusukan. Persamaan penelitian ini yaitu tidak ditemukannya busa pada tubuh mayat
yang telah mengalami proses dekomposisi.
Penelitian kedua meneliti tentang deteksi busa eksternal pada 1.590 mayat yang
ditemukan di air asin dan air tawar. Dalam penelitian ini busa eksternal ditemukan pada
275 subjek (17,3%). Dalam 74% kasus tersebut interval post-mortem kurang dari 24 jam
dimana hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan saat ini.

F. KETERBATASAN PENELITIAN
Penelitian retrospektif ini memiliki keterbatasan yaitu waktu kematian ditentukan
berdasarkan data yang dikumpulkan selama praktik forensic. Pengumpulan data ini dibuat
seakurat mungkin berdasarkan pemeriksaan pada tubuh subjek, keternagan saksi, namun
karena penelitian ini melibatkan 22 orang dokter forensic dan setiap dokter memilki
kemampuan yang berbeda, jadi factor yang mempengaruhi diputuskannya interval post-
mortem dapat berbeda. Foto yang diambil untuk penelitian ini hanya pada 72% kasus (N=80)
dan tercatat pada “Formatus”, foto pada 32 kasus sisanya disimpan dalam database polisi dan
tidak tersedia untuk analisis penelitian ini. Berdasarkan foto yang tersedia (72%, N=80),
hanya ada 1 foto yang memperlihatkan adanya busa eksternal.

G. KESIMPULAN
Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang menggambarkan tentang hubungan
antara adanya busa eksternal dengan periode post-mortem setelah tenggelam di air tawar.
Terdapat 16,1% kasus dengan busa eksternal yang terdeteksi pada populasi penelitian ini.
Dalam kasus dengan perkiraan interval post-mortem lebih dari 24 jam tidak terdeteksi adanya
busa eksternal. Dalam sub kelompok dengan perkiraan periode post-mortem antara 0 sampai

12
24 jam busa eksternal terdeteksi pada 27,7% kasus (p=0.000). Alasan mengapa pada kasus
lainnya tidak timbul busa eksternal tidak diketahui secara pasti. Adanya busa eksternal dalam
pemeriksaan eksternal dapat digunakan sebagai indicator tambahan saat memperkirakan
periode post-mortem. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan alasan tidak
adanya busa eksternal yang diamati pada mayoritas kasus (72,3%) dengan periode post-
mortem kurang dari 24 jam dan mengapa tidak ditemukan busa eksternal pada periode post-
mortem lebih dari 24 jam.

H. ANALISA JURNAL
 Kelebihan :
a) Judul dan abstrak jelas sehingga pembaca dapat mengetahui hal yang akan
dibahas dalam jurnal
b) Latar belakang dijabarkan dengan cukup jelas
c) Jumlah sampel yang didapatkan banyak
d) Metode penelitian dijelaskan dengan cukup rinci dalam jurnal
e) Kriteria inklusi dan eksklusi dijabarkan dengan baik
f) Metode pengumpulan data dipaparkan secara jelas
g) Definisi operasional tercantum
h) Data penelitian merupakan data primer jadi hasil penelitian lebih akurat
i) Hasil penelitian dipaparkan melalui tabel sehigga lebih mudah dipahami
j) Kelebihan dan kekurangan jurnal dijelaskan dengan baik
k) Orisinalitas: penelitian ini merupakan penelitian pertama yang meneliti tentang
hubungan adanya nbusa eksternal dengan periode post-mortem pada kasus
tenggelam di air tawar dan pada jurnal ini juga menyebutkan jurnal sebelumnya
yang berhubungan dengan jurnal ini.
 Kekurangan :
a) Pada penelitian ini pemeriksaan post-mortem dilakukan oleh banyak dokter
yaitu 22 dokter forensic sehingga dapat menimbulkan bias.
b) Pada penelitian ini tidak menjelaskan mengapa pada subjek dengan waktu
kematian kurang dari 24 jam tidak terdapat busa eksternal.

13
 Manfaat
a) Busa eksternal bisa bermanfaat sebagai indikator tambahan dalam menentukan
waktu kematian pada kasus tenggelam pada air tawar.
b) Dapat dijadikan sumber pustaka penelitian selanjutnya dalam memperkirakan
waktu kematian dengan pemeriksaan busa eksternal pada kasus tenggelam di air
tawar.

I. DAFTAR PUSTAKA
Reijnen G, Buster M, Vos PJE, Reijnders UJL, External foam and the post-mortem
period in freshwater drowning; results from a retrospective study in Amsterdam, the
Netherlands, Journal of Forensic and Legal Medicine (2017), doi:
10.1016/j.jflm.2017.07.013.

14