Anda di halaman 1dari 7

BAB 4

PROBLEM SOLVING

Masalah adalah perbedaan antara harapan dan kenyataan atau kesenjangan antara

cakupan (realitas/pencapaian program) dengan target yang telah ditetapkan. Perencanaan

merupakan penyusunan rencana kerja untuk mengatasi masalah dalam rangka mencapai

tujuan yang telah ditentukan atau disepakati. Proses menyusun rencana kegiatan tahunan

dibuat secara sistematis untuk mengatasi masalah atau sebagian masalah kesehatan

masyarakat di wilayah kerja Puskesmas dikenal dengan Perencanaan Tingkat Puskesmas

(PTP). PTP meliputi upaya kesehatan wajib, upaya kesehatan pengembangan dan upaya

kesehatan penunjang.

Tujuan penyusunan PTP adalah :

a. Untuk menyusun Rencana Usulan Kegiatan (RUK) Puskesmas yang akan

dilaksanakan pada tahun berikutnya.

b. Untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK), setelah diterima alokasi

sumber daya dari berbagai sumber.

Tahap dari penyusunan PTP terdiri dari :

a. Tahap persiapan

b. Tahap analisis situasi

c. Tahap penyusunan Rencana Usulan Kegiatan (RUK)

d. Tahap penyusunan Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK)


4.1 Tahap – tahap Pelaksanaan Problem Solving :

1. Melakukan orientasi di Puskesmas

2. Mengumpulkan data-data yang diperlukan sesuai dengan format yang telah ditentukan

termasuk data hasil survey

3. Melakukan identifikasi atau rumusan masalah kesehatan gigi yang ada di Puskesmas

berdasarkan data yang ada

4.2 Masalah :

1. Rendahnya pencapaian target deteksi dini tumbuh kembang anak balita di kelurahan
Ampang yaitu 80,9 dengan target 90% .
2. Tingginya jumlah komplikasi abortus sebanyak 34 kasus yaitu 20% dari jumlah
komplikasi ibu.
3. Tingginya kasus penyakit pulpa pada balai pengobatan umum 10 penyakit terbanyak
yaitu peringkat ketiga sebesar 10%
4. Tingginya kasus penyakit ISPA pada balai pengobatan umum 10 penyakit terbanyak
yaitu peringkat pertama sebesar 40%
5. Rendahnya kunjungan lansia yaitu 46,36% dengan target 70%
4.3 Melakukan MCUA untuk menentukan prioritas untuk masalah kesehatan yang ada

di Puskesmas.

Masalah Tingkat Tingkat Biaya Kemampuan Jumlah


Urgensi Keparahan Anggota
untuk
Mengubah
Rendahnya 4 3 4 2 13
pencapaian target
penanganan neonatus
komplikasi
Tingginya jumlah 5 4 3 1 13
komplikasi abortus
Tingginya kasus 4 3 4 2 13
penyakit pulpa
Tingginya kasus 3 3 4 1 11
penyakit ISPA
Rendahnya 3 3 4 1 11
kunjungan lansia

Keterangan :
a. Tingkat Urgensi : 1= tidak penting, 2= kurang penting, 3= cukup penting, 4=penting,
5= sangat penting
b. Tingkat Keparahan : 1= tidak parah, 2= kurang parah, 3= cukup parah, 4= parah, 5=
sangat parah
c. Biaya : 1= sangat mahal, 2= mahal, 3= cukup mahal, 4= kurang mahal, 5= tidak
mahal
d. Kemampuan Anggota Mengubah : 1= tidak mudah, 2= kurang mudah, 3= cukup
mudah, 4=mudah, 5=sangat mudah
Masalah :
1. Rendahnya target pencapaian target deteksi dini tumbuh kembang anak balita
di kelurahan ampang yaitu 81,9 % dengan target 90%
a. Tingkat urgensi: 4 (penting)
Rendahnya pencapaian DDTK dianggap penting karena dapat menemukan secara
dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah yang
mempengaruhi kualitas hidupnya di masa mendatang.
b. Tingkat keparahan: 3 (cukup parah)
Rendahnya pencapaian DDTK dianggap cukup parah karena belum semua balita dan
anak pra sekolah di kelurahan ampang yang mendapatkan DDTK.
c. Biaya : 4 (murah)
Pendanaan untuk DDTK ini murah. Komponen pembiayaan hanya menyediakan
pamflet dan leaflet tentang pentingnya DDTK.
d. Kemampuan anggota untuk mengubah: 2 (kurang mudah)
Kemampuan anggota kurang mudah karena dibutuhkan jangka waktu lama untuk
menimbulkan kesadaran orang tua bahwa untuk DDTK anak merupakan hal yang
penting.

2. Tingginya jumlah komplikasi abortus sebanyak 34 kasus sebanyak 20% dari


jumlah komplikasi ibu
a. Urgensi : 5.sangat penting
Karna aborsi merupakan salah satu penyebab kematian
b. Tingkat keparahan : 5. Sangat parah
Dapat mengancam nyawa ibu dan bayi karena aborsi memiliki komplikasi yang
cukup banyak seperti kekurangan darah,mandul dsb
c. Biaya : 3. Cukup mahal
Karna apabila aborsi dilakukan dengan cara pengkuretan membutuhkan biaya
yang cukup mahal
d. Kemampuan anggota untuk merubah : 1.tidak mudah
Fasilitas tidak tersedia di puskesmas seperti tindakan kuretasi (tidak termasuk
kompetensi)

3. Tingginya kasus penyakit pulpa yaitu urutan ketiga


a. Urgensi : penting (4)
Kasus penyakit pulpa dianggap penting karena bisa menyebabkan terjadinya fokus
infeksi ke organ lainnya seperti jantung dan ginjal.
b. Tingkat keparahan : cukup parah (3)
Tingginya kasus penderita penyakit pulpa dianggap cukup parah karena mencapai
30% dari jumlah penyakit di bp gigi
c. Biaya : murah (4)
Pendanaan untuk intervensi masalah penyakit pulpa murah. Komponen pembiayaan
hanya untuk memperbanyak pamflet,leaflet dan penyuluhan. Fasilitas presentasi
sudah tersedia di puskesmas jadi tidak memerlukan biaya
d. Kemampuan anggota untuk mengubah : cukup mudah (2)
Fasilitas untuk perawatan gigi sudah tersedia di puskesmas dan penyuluhan tentang
kesehatan gigi juga mudah untuk dilaksanakan seperti program UKGS dan UKGMD

4. Tingginya kasus penyakit ISPA pada balai pengobatan umum 10 penyakit


terbanyak yaitu 40%.
a. Tingkat Urgensi :3 (cukup penting)
Penyakit ISPA dianggap cukup penting karena dapat menyebabkan terganggunya
aktifitas seseorang.
b. Tingkat Keparahan: 3 (cukup parah)
Tingginya penyakit ISPA dianggap cukup parah karena dapat menular dan bila
terjadi komplikasi ISPA bisa menyebabkan kematian.
c. Biaya : 4 (murah )
Penyakit ISPA dapat sembuh sendiri dengan istirahat dan mengkonsumsi buah-
buahan
d. Kemampuan anggota untuk mengubah: 1(tidak mudah)
Kemampuan anggota tidak mudah karena ISPA berhubungan dengan imunitas
seseorang dan dapat dipengaruhi oleh cuaca.

5. Rendahnya kunjungan posyandu lansia


a. Urgensi : penting (4)
Program ini diharapkan dapat memperpanjang harapan hidup lansia dan bisa mandiri
untuk datang ke posyandu serta bersosialisasi dengan masyarakat dan kader sehingga
menambah ilmu dan informasi
b. Tingkat keparahan: cukup parah (3)
Dengan rendahnya kunjungan lansia berarti kurang peduli terhadap kesehatan
penyakit yang dideritanya
c. Biaya : murah (4)
Fasilitas untuk posyandu lansia sudah tersedia dan mudah dilakukan penyuluhan]
d. Kemampuan anggota untuk mengubah : mudah (4)
Melaksanakan posyandu lansia diperlukan kordinasi dengan kepala RT dan kader
akan dapat menghimbau masyarakat untuk datang dan jika diperlukan lebih lanjut
akan dirujuk

4.Mencari alternatif pemecahan masalah

Tingginya kasus penyakit pulpa

alternative pemecahan masalah :

1. Memeberikan penyuluhan kepada masyarakat khususnya tentang pencegahan

penyakit penyakit pulpa

2. Memberikan penyuluhan tentang pentingnya penanganan terhadap penyakit pulpa

3. Memberian leaflet yang berisi informasi mengenai pentingnya pencegahan dan

penanggulangan penyakit pulpa

4. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan

gigi dan mulut

a. Menentukan prioritas pemecahan masalah

1. Pemberian penyuluhan pada masyarakat tentang pentingnya pencegahan dan

penanganan terhadapp penyakit pula

2. Pemberian leaflet yang berisi informasi tentang pentingnya pencegahan dan

penanggulangan penyakit pulpa


b. Membuat RUK yang relevan untuk peningkatan program BP Gigi

No Kegiatan Sasaran SDM yang Tingkat Intensitas


dibutuhkan keberhasilan
1 Penyuluhan Masyarakat Dokter gigi, Minimal dua kali
perawat gigi dan dalam satu
mahasiswa bulan
kedokteran gigi
2 Pemberian leaflet Masyarakat Mahasiswa Minimal dua kali
kedokteran dan dalam satu
perawat bulan

c. Rencana Pelaksaan Kerja

No Kegiatan Rencana Penanggung Pelaksana sasaran Target Biaya Jadwal

Pokok Kegiatan Jawab

1 Penyuluhan

2 Pemberian

leaflet