Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Asma merupakan penyakit kronik yang disebabkan oleh adanya reaksi


hipersensitifitas dengan manifestasi klinik sesak nafas, adanya suara mengi/wheezing
dan biasanya muncul pada malam hari (WHO, 2017). Data World Health Organization
tahun 2017 memperkirakan bahwa 235 juta orang yang saat ini menderita asma, dan
tingkat mortilitas penyakit ini semakin meningkat di negara-negara yang
berpenghasilan rendah. Tingginya prevalensi Asma juga terjadi di Indonesia, Hasil
Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 penderita asma mencapai 4,5% dari jumlah total
penduduk, dan merupakan penyakit sistem pernapasan tertinggi dibandingkan
penyakit sistem pernapasan lainnya.

Banyak Pederita asma yang mengeluhkan gejala pada malam hari, serangan di
malam hari tersebut biasa disebut asma nokturnal. (Purwaningsih,2014). Gejala asma
nokturnal berupa batuk, mengi, sesak di dada dan napas pendek disertai bunyi
mengi/wheezing (Wang, 2010). Hampir 75 % penderita asma terbangun dari tidurnya
akibat timbulnya gejala malam dan sekitar 40 % merasakan gejala malam tiap hari
(Anggraini, 2013). Cochrane dan Clark dalam Wong (2010) melaporkan bahwa 68%
dari kematian disebabkan oleh asma di rumah sakit London terjadi antara tengah
malam sampai jam 08.00.

Gejala penyakit asma yang sering muncul pada malam hari dapat berpengaruh
negatif terhadap kesehatan fisik dan mental. Salah satu dampak negatif yang sering
muncul akibat gejala asma adalah cemas (Purwaningsih, 2014). Cemas dapat
didefinisikan sebagai situasi yang dirasa tidak menyenangkan dan ditakuti oleh fisik
yang memperingatkan seseorang akan bahaya yang mengancam (Tumigolong,2016).

Kecemasan yang muncul terhadap munculnya gejala asma pada malam hari
akan sangat berpengaruh terhadap kualitas tidur pasien (Anggraini, 2013). Kualitas
tidur meliputi aspek kuantitatif dan kualitatif tidur, seperti lamanya tidur, waktu yang
diperlukan untuk dapat tertidur, frekuensi terbangun dan aspek subjektif seperti
kedalaman dan kepulasan tidur (Bussye, 2013). Kualitas tidur seseorang dikatakan
baik apabila tidak mengalami masalah dalam tidur. Penderita asma banyak
mengeluhkan gejala pada malam hari yang menyebabkan kualitas tidur menurun.
Kualitas tidur yang menurun dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan
fisiologi dan psikologi. Dampak fisiologi meliputi penurunan aktivitas sehari-hari,
perasaan lelah, lemah, penurunan daya tahan tubuh dan gangguan tanda-tanda vital.
Dampak psikologi meliputi depresi, cemas dan kurang konsentrasi (Potter & Perry,
2010).
Berdasarkan hasil studi literatur peneliti menemukan bahwa sebagian besar
penderita asma cenderung memiliki masalah gangguan kecemasan. Penderita asma
merasa cemas dengan keadaan yang mereka alami. Penderita asma mengeluhkan
cemas dan takut pada saat terjadi serangan asma, sehingga dengan kondisi itu kualitas
tidur penderita asma tidak terpenuhi secara optimal. Oleh karena itu, dalam penelitian
ini peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara tingkat
kecemasan dengan kualitas tidur pada penderita asma untuk mendukung penelitian
sebelumnya.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah penelitian
ini adalah “ Hubungan Antara Tingkat Kecemasan dan Kualitas Tidur Pasien Asma”

1.3 Pertanyaan Penelitian


Apakah ada hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pasien asma ?

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum:

Menganalisis hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur


penderita asma

1.4.2 Tujuan Khusus:

1. Mengidentifikasi karakteristik responden

2. Mengetahui gambaran tingkat kecemasan penderita asma

3. Mengetahui gambaran kualitas tidur penderita asma


4. Menganalisis hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur
penderita asma

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini peneliti harapkan dapat memberikan manfaat kepada


semua pihak, meliputi :

1.5.1 Bagi Rumah Sakit

Sebagai informasi bagi institusi pelayanan kesehatan tentang


kecemasan pada pasien asma yang mempengaruhi pola tidur. Melalui
penelitian ini peneliti berharap dapat memperoleh informasi tentang klien dan
selanjutnya berdasarkan informasi tersebut dapat pula dikembangkan bentuk
pelayanan kesehatan dan meningkatkan mutu serta standar asuhan
keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur pada pasien
asma.

1.5.2 Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai bahan referensi untuk meningkatkan pembelajaran khususnya


yang terkait dengan pengembangan konsep asuhan keperawatan untuk
memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur klien.

1.5.3 Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar pengembangan


penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara tingkat kecemasan dengan
kualitas tidur penderita asma

1.5.4 Bagi Peneliti

Manfaat bagi peneliti adalah memperoleh pengetahuan dan wawasan


mengenai hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur penderita
asma.
Bibliography
Anggraini, R. F. (2013). Tingkat Kecemasan Mempengaruhi Kualitas Tidur pada Penderita
Asma.

Bussye DJ, Reynold CF, Monk TH, Berman SR, Kuffer DJ. (2013). The Pittsburgh sleep
quality index: a new instrument for psychiatric and research. Tersedia dari: URL:
HYPERLINK http://sakai.ohsu.ed/acces/content/brodym/N547A
%20spring08/apendix/PSQI.doc
Gisella Tesalonika Tumigolung., L. K. (2016). HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN
DENGAN SERANGAN ASMA PADA PENDERITA ASMA DI
KELURAHANMAHAKERET BARAT DAN MAHAKERET TIMUR KOTA
MANADO. e-journal Keperawatan (e-Kp) Volume 4 Nomor 2,, 1-6.

Potter dan Perry. (2010). Fundamental keperawatan buku 3. Edisi 7. Jakarta : Salemba
Medika

Purwaningsih,Winda.2014. “Hubungan Antara Penyakit Asma Dengan Kualitas Tidur


Malam Pada Penderita Asma Umur 18-59 Tahun Di Bbkpm Surakarta”.Naskah
Publikasi .Universitas Muhammadiyah Surakarta

Riskesdas. (2013). RISET KESEHATAN DASAR 2013. Retrieved 9 22, 2017, from
http://www.depkes.go.id: http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil
%20Riskesdas%202013.pdf

WHO. (2017) Retrieved 9 22, 2017, from asthma:


http://www.who.int/features/factfiles/asthma/en/