Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

PASCAPANEN HASIL PERKEBUNAN TEBU

Disajikan pada Mata Kuliah PTP 366 Teknik Pascapanen


Dosen Pengampu Edo Saputra, S.TP., MP.

Disusun Oleh :
Kelompok 4
Alwin Perangin Angin (J1B115008) (4)
M. Ribut Wahyu Pratama (J1B115029) (10)
Siska Dewi Sitorus (J1B115035) (13)
Dabarnus (J1B115040) (17)
M. Hasbi Abdillah (J1B115045) (19)
Benardo A. Ambarita (J1B115062) (24)

TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
FEBRUARI 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul
”Pascapanen Hasil Perkebunan Tebu”.
Makalah ini berisi penjelasan tentang hal-hal yang penting dilakukan pada
komoditas tebu sejak masa pemanenan hingga sistem penyimpanannya serta
contoh analisis usaha tani komoditas tebu. Makalah ini juga dilengkapi dengan
beberapa gambar pascapanen tebu yang dapat memudahkan pembaca dalam
memahami bagaimana teknik pascapanen yang benar untuk komoditas tebu.
Dengan selesainya makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kapada
semua pihak yang telah berperan dalam penyusunan makalah dari awal hingga
akhir. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca untuk
lebih memahami dan mampu menerapkan teknik pascapanen yang benar untuk
hasil perkebunan tebu yang dapat bermanfaat dalam dunia kerja di bidang Teknik
Pertanian.
Penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun
sangat diharapkan demi penyempurnaan makalah ini.

Jambi, Februari 2018

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................... i
KATA PENGANTAR.......................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................ iii
Bab I Pendahuluan............................................................................. 1

ii
1.1 Latar Belakang....................................................................... 1
1.2 Tujuan.................................................................................... 2
1.2 Manfaat.................................................................................. 2
Bab II Isi.............................................................................................. 3
2.1 Klasifikasi.............................................................................. 3
2.2 Pemanenan Tebu.................................................................... 4
2.3 Sistem Pengangkutan Tebu.................................................... 5
2.4 Pengolahan Tebu.................................................................... 6
2.5 Analisis Usaha Tani...............................................................
Bab III Penutup................................................................................... 9
3.1 Kesimpulan............................................................................ 9
3.2 Saran...................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................... 10

iii
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor pertanian yang
memiliki peran besar dalam perkembangan pertanian di Indonesia. Potensi
hasil dari subsektor perkebunan sangat dibutuhkan oleh industri pengolahan
sebagai bahan baku produk. Salah satu komoditas subsektor perkebunan yang
memiliki
peran strategis adalah tebu. Dikatakan memiliki peran strategis karena tebu
merupakan bahan baku pembuatan gula pasir, sedangkan gula pasir sendiri
merupakan salah satu komoditi sembilan bahan pokok (sembako) bagi
masyarakat. Dengan demikian, ketersediaan gula pasir di pasar sangat
tergantungpada jumlah bahan bakunya, yaitu tebu.
Perkebunan tebu merupakan salah satu perkebunan penting dan
termasuk perkebunan yang telah lama dikembangkan di Indonesia yaitu sejak
zaman penjajahan. Pada tahun 1930-an Indonesia mengalami puncak kejayaan
dan menjadi salah satu ekportir gula di dunia. Pabrik dan perkebunan tebu
tersebut telah tersebar dibeberapa provinsi di Indonesia, terutama di Pulau
Jawa dan Sumatera.
Pada saat ini perkebunan tebu dikembangkan oleh perusahaan dan
rakyat. Menurut BPS (2014), pada tahun 2012 luas lahan perkebunan tebu
milik perusahaan mencapai 194,9 ribu hektar. Sedangkan luas perkebunan
rakyat mencapai 247,8 ribu hektar. Perkebunan tebu rakyat yang luasnya
mencapai 56% dari luas perkebunan tebu di Indonesia produktivitasnya masih
tergolong rendah. Menurut Fitriani dkk (2013), kondisi produksi potensial
tanaman tebu dapat mencapai 8 ton/ha, sedangkan dari data BPS produktivitas
perkebunan tebu rakyat pada tahun 2013 hanya dapat mencapai 5,8 ton/ha.
Pada era perdagangan bebas saat ini, produksi perkebunan tebu rakyat
nasional perlu mendapat perhatian serius guna mempersiapkan diri dalam
MEA, Saat ini Indonesia telah melakukan impor gula untuk mencukupi
permintaan dalam negeri. Menurut data pada tahun 2011, impor gula di
Indonesia telah mencapai 2,3 juta ton (Anonim, 2013). Impor gula di
Indonesia setiap tahun mengalami kenaikan, meskipun pada tahun 2010 terjadi

1
penurunan impor. Tetapi secara garis besar impor gula setiap tahun mengalami
kenaikan.
Selain itu, sebagian besar petani tebu rakyat di pedesaan masih
menghadapi kondisi keterbatasan lahan, teknologi budidaya, modal dan
infrastruktur pertanian (Arifin dalam Fitriani dkk, 2013). Intensitas kegiatan
dalam usahatani tebu juga ditentukan oleh ketersediaan modal, input produksi,
teknologi budidaya, dan kepastian harga jual tebu di tingkat pabrik. Keputusan
untuk melakukan usahatani tebu juga dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti:
upah, harga input, harga output, dan tingkat kesadaran petani akan pentingnya
komoditas yang diusahakan (Fitriani dkk, 2013).
Oleh karena itu, strategi yang berpijak kepada keunggulan sumber
daya seperti pemanfaatan lahan, tenaga kerja, modal dan lainnya merupakan
salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi usahatani guna mengurangi
impor yang pada gilirannya dapat menciptakan keunggulan daya saing. Hal ini
bisa terwujud apabila kebijakan yang sedang berlangsung dan yang akan
datang mampu memberikan dukungan demi tumbuh dan berkembangnya suatu
usahatani dan agroindustri (Ratna dkk, 2014)

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk mempelajari
teknik-teknik penanganan pascapanen komoditas tebu dan
pemeliharaan tanaman tebu serta menganalisis usaha tani
komoditas tebu sebagai hasil perkebunan.

I.3 Manfaat
Dengan selesainya penulisan makalah ini diharapkan agar mahasiswa
mampu menerapkan penanganan pascapanen yang benar untuk komoditas
tebu.

II. ISI

2.1 Klasifikasi

2
Tanaman tebu tergolong tanaman perdu dengan nama latin Saccharum
officinarum. Di daerah Jawa Barat disebut Tiwu, di daerah Jawa Tengah dan
Jawa Timur disebut Tebu atau Rosan. Sistematika tanaman tebu adalah:
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledone
Ordo : Graminales
Famili : Graminae
Genus : Saccharum
Species : Saccarum officinarum

Gambar 1. Tanaman tebu


2.2 Pemanenan Tebu
Pemanenan tebu dapat didefinisikan sebagai keseluruhan kegiatan
memungut hasil gula yang masih potensial berada pada bagian tanaman tebu
di kebun untuk diolah menjadi butiran kristal gula di pabrik (GPM Grup,
1995). Pemanenan tebu yang diterapkan dalam industri gula saat ini adalah
sistem tebang manual, sistem tebang semi mekanis dan sistem tebang
mekanis. Kegiatan pemanenan selalu menjadi fokus perhatian dari manajemen
pabrik gula. Pemanenan umumnya dapat dilakukan baik secara manual dengan
tangan ataupun dengan mesin. Pemotongan tebu secara manual dilakukan
dengan memotong tebu di bagian atas permukaan tanah, dedauan hijau di
bagian atas dihilangkan dan batang-batang tersebut diikat menjadi satu.
Potongan-potongan batang tebu yang telah diikat tersebut kemudian dibawa
dari areal perkebunan dengan menggunakan pengangkut-pengangkut kecil dan
kemudian dapat diangkut lebih lanjut dengan kendaraan yang lebih besar
ataupun lori tebu menuju ke penggilingan. Sedangkan pemotongan dengan
mesin umumnya mampu memotong tebu menjadi potongan pendek-pendek.
Pengaturan panen dimaksudkan agar tebu dapat dipungut secara
efisien dan dapat diolah dalam keadaan optimum. Melalui pengaturan panen,

3
penyediaan tebu di pabrik akan dapat berkesinambungan dan dalam jumlah
yang sesuai dengan kapasitas pabrik sehingga pengolahan menjadi efisien.
Kegiatan panen termasuk dalam tanggung jawab petani, karena petani harus
menyerahkan tebu hasil panennya ditimbangan pabrik. Akan tetapi pada
pelaksanaannya umumnya petani menyerahkan pelaksanaan panen kepada
pabrik yang akan menggiling tebunya atau kepada KUD.
Pelaksanaan panen dilakukan pada bulan Mei sampai September
dimana pada musim kering kondisi tebu dalam keadaan optimum dengan
tingkat rendemen tertinggi. Penggiliran panen tebu mempertimbangkan
tingkat kemasakan tebu dan kemudahan transportasi dari areal tebu ke pabrik.
Kegiatan pemanenan meliputi estimasi produksi tebu, analisis tingkat
kemasakan dan tebang angkut.
a. Estimasi Produksi Tebu
Estimasi produksi tebu diperlukan untuk dapat merencanakan
lamanya hari giling yang diperlukan, banyaknya tenaga kerja yang
dibutuhkan serta jumlah bahan pembantu yang harus disediakan. Estimasi
produksi tebu dilakukan dua kali yaitu pada bulan Desember dan Februari.
Estimasi dilakukan dengan mengambil sampel tebu dan menghitungnya
dengan rumus:
P = jbtpk x jkha x tbt x b-bt
P = Produksi tebu per hektar
jbtpk = Jumlah batang tebu per meter kairan
jkha = Jumlah kairan per hektar
tbt = Tinggi batang, diukur sampai titik patah ( 30 cm dari pucuk)
Bbt = Bobot batang per m (diperoleh dari data tahun sebelumnya)
b. Analisis Kemasakan Tebu
Analisis kemasakan tebu dilakukan untuk memperkirakan waktu
yang tepat penebangan tebu sehingga tebu yang akan diolah dalam
keadaan optimum. Analisis ini dilakukan secara periodik setiap 2 minggu
sejak tanaman berusia 8 bulan dengan cara menggiling sampel tebu
digilingan kecil di laboratorium. Sampel tebu diambil sebanyak 15-20
batang dari rumpun tebu yang berada minimal 15 meter dari tepi dan 30
baris dari barisan pinggir. Nira tebu yang didapat dari sampel tebu yang
digiling di laboratorium diukur persen brix, pol dan purity nya. Metode
analisis kemasakan adalah sebagai berikut:

4
(1) Setelah akar dan daun tebu sampel dipotong, rata-rata berat dan
panjang batang tebu sampel dihitung.
(2) Setiap batang dipotong menjadi 3 sama besar sehingga didapat bagian
batang bawah, tengah dan atas. Setiap bagian batang ditimbang dan
dihitung perbandingan beratnya, kemudian dibelah menjadi dua.
(3) Belahan batang tebu dari setiap bagian batang digiling untuk
mengetahui hasil nira dari bagian batang bawah, tengah dan atas. Nira
yang dihasilkan ditimbang untuk diketahui daya perah gilingan
(4) Dari nira yang dihasilkan dihitung nilai brix dengan memakai alat Brix
Weger, nilai pol dengan memakai alat Polarimeter dan rendemen setiap
bagian batang.
(5) Nilai faktor kemasakan dihitung dengan rumus:
RB – RA
FK = -------------------- x 100
RB
RB = rendemen batang bawah
RA = rendemen batang atas
FK = faktor kemasakan, dimana jika:
FK = 100 berarti tebu masih muda
FK = 50 berarti tebu setengah masak
FK = 0 berarti tebu sudah masak
Data yang diperoleh digunakan untuk memetakan tingkat
kemasakkan tebu pada peta lokasi tebu sebagai informasi lokasi tebu yang
sudah layak untuk dipanen. Namun demikian prioritas penebangan tidak
hanya mempertimbangkan tingkat kemasakan tebu tapi juga
mempertimbangkan jarak kebun dari pabrik, kemudahan transportasi,
kesehatan tanaman dan ketersediaan tenaga kerja.
c. Tebang Angkut
Penebangan tebu haruslah memenuhi standar kebersihan yaitu
kotoran seperti daun tebu kering, tanah dan lainnya tidak boleh lebih besar
dari 5%. Untuk tanaman tebu yang hendak dikepras, tebu di sisakan
didalam tanah sebatas permukaan tanah asli agar dapat tumbuh tunas.
Bagian pucuk tanaman tebu dibuang karena bagian ini kaya dengan
kandungan asam amino tetapi miskin kandungan gula. Tebu tunas juga
dibuang karena kaya kandungan asam organis, gula reduksi dan asam
amino akan tetapi miskin kandungan gula. Penebangan tebu dapat
dilakukan dengan sistem tebu hijau yaitu penebangan yang dilakukan

5
tanpa ada perlakuan sebelumnya, atau dengan sistem tebu bakar yaitu
penebangan tebu dengan dilakukan pembakaran sebelumnya untuk
mengurangi sampah yang tidak perlu dan memudahkan penebangan.

2.3 Sistem Pengangkutan Tebu

Tebu yang telah ditebang dimuat ke dalam truk atau trailer


menggunakan grab loader, selanjutnya truk atau trailer yang ditarik traktor
roda empat bermuatan tebu menuju ke pabrik. Sebelum memasuki pabrik,
tebu ditimbang terlebih dahulu. Penimbangan dilakukan menggunakan
timbangan kotor (bruto) di pintu selatan, kemudian timbangan tara dilakukan
melalui pintu utara (penimbangan truk/trailer kosongan) sehingga dapat
diketahui berat bersih tebu yang diangkut oleh sebuah truk/trailer. Selanjutnya
tebu diturunkan di cane yard.
Salah satu permasalahan yang seringkali terjadi yaitu tidak sesuainya
jumlah tebu yang masuk ke dalam pabrik dengan rencana tebang yang telah
dibuat. Hal ini dapat terjadi karena adanya beberapa faktor, diantaranya yaitu
sistem transportasi dari kebun menuju pabrik yang tidak selalu lancar. Sistem
transportasi yang tidak teratur dapat menyebabkan terjadinya kondisi
stagnant pada saat proses pengangkutan tebu dari kebun menuju pabrik.
Stagnant tersebut dapat terjadi pada truk maupun tenaga tebang di lapangan.
Kondisi stagnant yang terjadi pada tenaga tebang yaitu pada saat tidak adanya
truk untuk mengangkut tebu di kebun karena truk masih berada di stasiun
penimbangan, sehingga tenaga tebang lebih memilih untuk tidak menebang
sampai tibanya truk ke kebun tersebut. Sedangkan kondisi stagnant yang
terjadi pada truk yaitu adanya antrian yang cukup panjang, baik itu di stasiun
penimbangan maupun di stasiun pembongkaran tebu Menurut Harison (2012)
model penjadwalan dapat meningkatkan efisiensi muat angkut tebu.
a. Pemuatan tebu ke trailer (Pt)
Pemuatan tebu ikat ke trailer dilakukan menggunakan grab loader.
Elemen kerja ini dimulai ketika lengan grab loader mulai mengambil
tebu ikat dan memindahkannya ke trailer.

6
Gambar 2. Grab loader memuat tebu ke trailer

b. Perjalanan muatan tebu ke pabrik (Pp)


Perjalanan muatan tebu ke pabrik dilakukan setelah proses
pemuatan telah selesai yang diindikasikan dengan bak trailer yang terisi
penuh. Elemen kerja ini dimulai ketika trailer yang ditarik traktor roda
empat telah bergerak, melakukan perjalanan dan sampai di pabrik.

Gambar 3. Pengangkutan muatan tebu ke pabrik

c. Bongkar muatan tebu (Bm)


Bongkar muatan tebu dilakukan setelah tebu ditimbang. Elemen
kerja ini dimulai ketika muatan tebu ditrailer di bongkar dan diletakkan
pada cane yard.

Gambar 4. Proses Bongkat muatan tebu di cane yard


d. Perjalanan trailer kosong ke lokasi panen (Pk)

7
Trailer yang telah kosong sesegera mungkin kembali ke lokasi
panen tebu untuk mengangkut tebu yang telah dipanen. Elemen kerja ini
dimulai ketika trailer yang ditarik traktor melakukan perjalanan dari
pabrik sampai lokasi panen.

Gambar 5. Perjalanan ke lokasi panen

2.4 Pengolahan Tebu


1. Ekstraksi
Tahap pertama pengolahan adalah ekstraksi jus atau sari tebu. Di
kebanyakan pabrik, tebu dihancurkan dalam sebuah serial penggiling putar
yang berukuran besar. Cairan tebu manis dikeluarkan dan serat tebu
dipisahkan, untuk selanjutnya digunakan di mesin pemanas (boiler). Di
lain pabrik, sebuah diffuser digunakan seperti yang digambarkan pada
pengolahan gula bit. Jus yang dihasilkan masih berupa cairan yang kotor:
sisa-sisa tanah dari lahan, serat-serat berukuran kecil dan ekstrak dari daun
dan kulit tanaman, semuanya bercampur di dalam gula.
Jus dari hasil ekstraksi mengandung sekitar 15% gula dan serat
residu, dinamakan bagasse, yang mengandung 1 hingga 2% gula, sekitar
50% air serta pasir dan batu-batu kecil dari lahan yang terhitung sebagai
abu. Sebuah tebu bisa mengandung 12 hingga 14% serat dimana untuk
setiap 50% air mengandung sekitar 25 hingga 30 ton bagasse untuk tiap
100 ton tebu atau 10 ton gula.
2. Pengendapan Kotoran dengan Kapur (liming)
Pabrik dapat membersihkan jus dengan mudah dengan
menggunakan semacam kapur (slaked lime) yang akan mengendapkan
sebanyak mungkin kotoran untuk kemudian kotoran ini dapat dikirim
kembali ke lahan. Proses ini dinamakan liming.

8
Jus hasil ekstraksi dipanaskan sebelum dilakukan liming untuk
mengoptimalkan proses penjernihan. Kapur berupa kalsium hidroksida
atau ca(oh)2 dicampurkan ke dalam jus dengan perbandingan yang
diinginkan dan jus yang sudah diberi kapur ini kemudian dimasukkan ke
dalam tangki pengendap gravitasi, sebuah tangki penjernih (clarifier). Jus
mengalir melalui clarifier dengan kelajuan yang rendah sehingga padatan
dapat mengendap dan jus yang keluar merupakan jus yang jernih.
Kotoran berupa lumpur dari clarifier masih mengandung sejumlah
gula sehingga biasanya dilakukan penyaringan dalam penyaring vakum
putar (rotasi) dimana jus residu diekstraksi dan lumpur tersebut dapat
dibersihkan sebelum dikeluarkan, dan hasilnya berupa cairan yang manis.
Jus dan cairan manis ini kemudian dikembalikan ke proses.
3. Evaporasi
Setelah mengalami proses liming, jus dikentalkan menjadi sirup
dengan cara menguapkan air menggunakan uap panas dalam suatu proses
yang dinamakan evaporasi. Terkadang sirup dibersihkan lagi tetapi lebih
sering langsung menuju ke tahap pembuatan kristal tanpa adanya
pembersihan lagi.
Jus yang sudah jernih mungkin hanya mengandung 15% gula tetapi cairan
(liquor) gula jenuh (yaitu cairan yang diperlukan dalam proses kristalisasi)
memiliki kandungan gula hingga 80%. Evaporasi dalam ’evaporator
majemuk (multiple effect evaporator) yang dipanaskan dengan
steam merupakan cara yang terbaik untuk bisa mendapatkan kondisi
mendekati kejenuhan (saturasi).
4. Kristalisasi
Pada tahap akhir pengolahan, sirup ditempatkan ke dalam panci
yang sangat besar untuk dididihkan. Di dalam panci ini sejumlah air
diuapkan sehingga kondisi untuk pertumbuhan kristal gula tercapai.
Pembentukan kristal diawali dengan mencampurkan sejumlah kristal ke
dalam sirup. Sekali kristal terbentuk, kristal campur yang dihasilkan dan
larutan induk (mother liquor) diputar di dalam alat sentrifugasi untuk
memisahkan keduanya, bisa diumpamakan seperti pada proses mencuci

9
dengan menggunakan pengering berputar. Kristal-kristal tersebut
kemudian dikeringkan dengan udara panas sebelum disimpan.
Larutan induk hasil pemisahan dengan sentrifugasi masih mengandung
sejumlah gula sehingga biasanya kristalisasi diulang beberapa kali.
Sayangnya, materi-materi non gula yang ada di dalamnya dapat
menghambat kristalisasi. Hal ini terutama terjadi karena keberadaan gula-
gula lain seperti glukosa dan fruktosa yang merupakan hasil pecahan
sukrosa. Olah karena itu, tahapan-tahapan berikutnya menjadi semakin
sulit, sampai kemudian sampai pada suatu tahap di mana kristalisasi tidak
mungkin lagi dilanjutkan.
Dalam sebuah pabrik pengolahan gula kasar (raw sugar) umumnya
dilakukan tiga proses pendidihan. Pertama atau pendidihan (a) akan
menghasilkan gula terbaik yang siap disimpan. Pendidihan (b)
membutuhkan waktu yang lebih lama dan waktu tinggal di dalam panci
pengkristal juga lebih lama hingga ukuran kristal yang dinginkan
terbentuk. Beberapa pabrik melakukan pencairan ulang untuk gula b yang
selanjutnya digunakan sebagai umpan untuk pendidihan a, pabrik yang
lain menggunakan kristal sebagai umpan untuk pendidihan a dan pabrik
yang lainnya menggunakan cara mencampur gula a dan b untuk dijual.
Pendidihan (c) membutuhkan waktu secara proporsional lebih lama
daripada pendidihan b dan juga membutuhkan waktu yang lebih lama
untuk terbentuk kristal. Gula yang dihasilkan biasanya digunakan sebagai
umpan untuk pendidhan b dan sisanya dicairkan lagi.
Sebagai tambahan, karena gula dalam jus tidak dapat diekstrak
semuanya, maka terbuatlah produk samping (byproduct) yang
manis: molasses. Produk ini biasanya diolah lebih lanjut menjadi pakan
ternak atau ke industri penyulingan untuk dibuat alkohol. Inilah yang
menyebabkan lokasi pabrik rum di karibia selalu dekat dengan pabrik gula
tebu.
5. Penyimpanan
Gula kasar yang dihasilkan akan membentuk gunungan coklat
lengket selama penyimpanan dan terlihat lebih menyerupai gula coklat

10
lunak yang sering dijumpai di dapur-dapur rumah tangga. Gula ini
sebenarnya sudah dapat digunakan, tetapi karena kotor dalam
penyimpanan dan memiliki rasa yang berbeda maka gula ini biasanya
tidak diinginkan orang. Oleh karena itu gula kasar biasanya dimurnikan
lebih lanjut ketika sampai di negara pengguna.
6. Afinasi (Affination)
Tahap pertama pemurnian gula yang masih kasar adalah pelunakan
dan pembersihan lapisan cairan induk yang melapisi permukaan kristal
dengan proses yang dinamakan dengan (afinasi). Gula kasar dicampur
dengan sirup kental (konsentrat) hangat dengan kemurnian sedikit lebih
tinggi dibandingkan lapisan sirup sehingga tidak akan melarutkan kristal,
tetapi hanya sekeliling cairan (coklat). Campuran hasil (magma') di-
sentrifugasi untuk memisahkan kristal dari sirup sehingga pengotor dapat
dipisahkan dari gula dan dihasilkan kristal yang siap untuk dilarutkan
sebelum perlakuan berikutnya (karbonatasi).
Cairan yang dihasilkan dari pelarutan kristal yang telah dicuci
mengandung berbagai zat warna, partikel-partikel halus, gum dan resin
dan substansi bukan gula lainnya. Bahan-bahan ini semua dikeluarkan dari
proses.
7. Karbonatasi
Tahap pertama pengolahan cairan (liquor) gula berikutnya
bertujuan untuk membersihkan cairan dari berbagai padatan yang
menyebabkan cairan gula keruh. Pada tahap ini beberapa komponen warna
juga akan ikut hilang. Salah satu dari dua teknik pengolahan umum
dinamakan dengan karbonatasi. Karbonatasi dapat diperoleh dengan
menambahkan kapur/ lime [kalsium hidroksida, ca(oh)2] ke dalam cairan
dan mengalirkan gelembung gas karbondioksida ke dalam campuran
tersebut. Gas karbondioksida ini akan bereaksi dengan lime membentuk
partikel-partikel kristal halus berupa kalsium karbonat yang
menggabungkan berbagai padatan supaya mudah untuk dipisahkan.
Supaya gabungan-gabungan padatan tersebut stabil, perlu dilakukan
pengawasan yang ketat terhadap kondisi-kondisi reaksi. Gumpalan-

11
gumpalan yang terbentuk tersebut akan mengumpulkan sebanyak mungkin
materi-materi non gula, sehingga dengan menyaring kapur keluar maka
substansi-substansi non gula ini dapat juga ikut dikeluarkan. Setelah
proses ini dilakukan, cairan gula siap untuk proses selanjutnya berupa
penghilangan warna. Selain karbonatasi, teknik yang lain berupa fosfatasi.
Secara kimiawi teknik ini sama dengan karbonatasi tetapi yang terjadi
adalah pembentukan fosfat dan bukan karbonat. Fosfatasi merupakan
proses yang sedikit lebih kompleks, dan dapat dicapai dengan
menambahkan asam fosfat ke cairan setelah liming seperti yang sudah
dijelaskan di atas.
8. Penghilang Warna
Ada dua metoda umum untuk menghilangkan warna dari sirup
gula, keduanya mengandalkan pada teknik penyerapan melalui
pemompaan cairan melalui kolom-kolom medium. Salah satunya dengan
menggunakan karbon teraktivasi granular [granular activated carbon, gac]
yang mampu menghilangkan hampir seluruh zat warna. Gac merupakan
cara modern setingkat (bone char), sebuah granula karbon yang terbuat
dari tulang-tulang hewan. Karbon pada saat ini terbuat dari pengolahan
karbon mineral yang diolah secara khusus untuk menghasilkan granula
yang tidak hanya sangat aktif tetapi juga sangat kuat. Karbon dibuat dalam
sebuah oven panas dimana warna akan terbakar keluar dari karbon. Cara
yang lain adalah dengan menggunakan resin penukar ion yang
menghilangkan lebih sedikit warna daripada gac tetapi juga
menghilangkan beberapa garam yang ada. Resin dibuat secara kimiawi
yang meningkatkan jumlah cairan yang tidak diharapkan. Cairan jernih
dan hampir tak berwarna ini selanjutnya siap untuk dikristalisasi kecuali
jika jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan konsumsi energi
optimum di dalam pemurnian. Oleh karenanya cairan tersebut diuapkan
sebelum diolah di panci kristalisasi.
9. Pendidihan
Sejumlah air diuapkan di dalam panci sampai pada keadaan yang
tepat untuk tumbuhnya kristal gula. Sejumlah bubuk gula ditambahkan ke

12
dalam cairan untuk mengawali/memicu pembentukan kristal. Ketika
kristal sudah tumbuh campuran dari kristal-kristal dan cairan induk yang
dihasilkan diputar dalam sentrifugasi untuk memisahkan keduanya. Proses
ini dapat diumpamakan dengan tahap pengeringan pakaian dalam mesin
cuci yang berputar. Kristal-kristal tersebut kemudian dikeringkan dengan
udara panas sebelum dikemas dan/ atau disimpan siap untuk
didistribusikan.
10. Pengolahan Sisa (Recovery)
Cairan sisa baik dari tahap penyiapan gula putih maupun dari
pembersihan pada tahap afinasi masih mengandung sejumlah gula yang
dapat diolah ulang. Cairan-cairan ini diolah di ruang pengolahan ulang
(recovery) yang beroperasi seperti pengolahan gula kasar, bertujuan untuk
membuat gula dengan mutu yang setara dengan gula kasar hasil
pembersihan setelah afinasi. Seperti pada pengolahan gula lainnya, gula
yang ada tidak dapat seluruhnya diekstrak dari cairan sehingga diolah
menjadi produk samping: molase murni. Produk ini biasanya diolah lebih
lanjut menjadi pakan ternak atau dikirim ke pabrik fermentasi seperti
misalnya pabrik penyulingan alkohol.
Setelah tebu ditebang kandungan sukrosa yang terdapat dalam
batang tebu akan mengalami degradasi menjadi monosakarida atau gula
reduksi yang disebabkan oleh aktivitas mikroba. Hal ini merupakan
kerugian karena di pabrik gula yang akan di kristalkan adalah sukrosa
sementara monosakarida dan gula lain akan menjadi tetes (molasses).
Kerusakan tebu (cane deterioration) merupakan faktor yang
penting dalam memperoleh gula yang berkualitas. Selain menyebabkan
kehilangan gula (sukrosa) yang besar, kerusakan tebu menyebabkan
kesulitan dalam proses pengolahan tebu menjadi gula dan menambah
biaya produksi. Clarke, et al (1980) memperkirakan bahwa kehilangan
gula pada pra-panen sampai menjadi gula produk bervariasi antara 5 – 35
% dari sukrosa dalam tebu, tergantung pada kondisi lingkungan dan
teknologi yang digunakan.

13
Kerusakan pada tebu selama panen dan pasca panen diantaranya
disebabkan oleh kondisi natural varietas tebu dan tempat tumbuhnya,
kondisi pra panen, yaitu banyak tebu yang dibakar (saska et al, 2009;
solomon, 2000), penggunaan mekanisasi dengan tebu dipotong-potong
(mochtar, 1995; uppal, 2003, larrahondo, dkk, 2009) dan waktu tunda
giling atau tebu lasahan (mochtar dkk, 1995, solomon 2000). Pada
penelitian yang dilakukan di kolombia olehlarrahondo, dkk,
2009 menunjukkan adanya perbedaan kualitas antara metode tebang secara
manual dengan mekanik. Penebangan secara mekanik meningkatkan zat
asing selain gula dan penurunan pol % tebu sebesar 0,4 poin. Selain itu
penebangan secara mekanis meningkatkan kadar amilum dan dekstran
dalam nira.

2.4 Analisis Usaha Tani Tebu


Biaya total usaha tani tebu adalah penjumlahan dari biaya tetap dan
biaya variabel, mencakup seluruh biaya yang dikeluarkan untuk usahatani
tebu selama satu musim tanam dihitung dengan satuan rupiah..
TC = FC + VC (Soekartawi, 2002)
Keterangan:
TC = total cost (biaya total)
FC = fixed cost (biaya tetap)

VC = variable cost (biaya variabel)

Penerimaan usaha tani tebu merupakan seluruh pemasukan dari hasil


penjualan tebu, sehingga penerimaan diperoleh dari hasil perkalian antara
jumlah hasil produksi atau hasil panen dalam satu musim tanam dengan harga
jual, dihitung dengan satuan rupiah.
TR = Q x P (Soekartawi, 2002)
Keterangan:
TR = total revenue (penerimaan total)
Q = jumlah hasil panen (ku)

P = harga jual (Rp/ku)

14
Pendapatan usaha tani tebu merupakan selisih antara peneri diperoleh
dalam satu musim tanam dengan biaya total yang dikeluarkan untuk usaha
tani tebu.
Pendapatan = TR – TC (Soekartawi, 2002)
Keterangan:
TR = total revenue (penerimaan total)

TC = total cost (biaya total)

Kelayakan usaha tani ditinjau dari dua hal yaitu R-C ratio dan B
rumus sebagai berikut:
R-C ratio = R/C
Keterangan:
R = revenue (penerimaan) C = cost (biaya)
Adapun kriteria kelayakan usaha untuk R-C ratio meliputi:
 R-C ratio < 1, usahatani tebu tidak layak untuk diusahakan
 R-C ratio = 1, usahatani mencapai kondisi titik impas/BEP
 R-C ratio > 1, usahatani tebu layak untuk diusahakan

Keterangan:
FC = fixed cost (biaya tetap)
P = price (harga)

VC per unit = variable cost per unit (biaya variabel per unit)

Adapun kriteria kelayakan usaha untuk BEP meliputi:


 BEP unit dan rupiah < hasil produksi dan penerimaan, usahatani tebu tidak
layak untuk diusahakan
 BEP unit dan rupiah > hasil produksi dan penerimaan, usahatani tebu layak
untuk diusahakan

a. Biaya usaha tani


Biaya usaha tani mencakup keseluruhan biaya usaha tani yang
dikeluarkan oleh petani untuk satu kali proses produksi budidaya tebu.
Komponen biaya usaha tani tebu meliputi biaya tetap dan biaya variabel.
Biaya tetap adalah komponen biaya yang tidak dipengaruhi oleh besar
kecilnya jumlah produksi. Sebaliknya untuk komponen biaya variable
jumlahnya tergantung dari aktivitas dan jumlah output produksi. Berikut

15
ini tabel contoh komponen biaya usaha tani tebu mitra PG. pakis baru di
kecamatan Tayu Kabupaten Pati per musim tanam.

b. Analisis penerimaan
Penerimaan diperoleh dari hasil produksi usahatani dikalikan
dengan harga jual. Pada usahatani tebu petani mitra PG.Pakis Baru
sumber penerimaan petani diperoleh dari hasil penjualan panen tebu dan
tetes tebu. Hasil penjualan tebu ditentukan oleh tingkat rendemen dan
harga gula. Pada saat harga gula tinggi dan rendemen tebu juga tinggi
akan menguntungkan bagi petani tebu. Berikut adalah komponen
penerimaan usahatani tebu pada gambar tabel berikut.

c. Analisis pendapatan

Pendapatan usaha tani tebu diperoleh dari selisih antara


penerimaan total dengan biaya total. Berdasarkan hasil analisis diketahui
bahwa pendapatan usahatani tebu sebesar Rp14.991.051,82/musim
tanam. Diketahui bahwa penerimaan total lebih besar dibandingkan biaya
total, sehingga petani memperoleh pendapatan.

d. Analisis usaha tani


Berikut ini contoh analisis kelayakan usaha tani Tebu Petani Mitra
PG Pakis Baru di Kecamatan Tayu Kabupaten Pati Berdasarkan R-C Ratio
dan BEP.

16
Analisis kelayakan usaha tani tebu ditinjau dari dua hal yaitu
berdasarkan R-C ratio dan BEP (Rp dan unit). Diperoleh nilai R-C ratio
sebesar 1,59, nilai ini lebih besar dari 1. Hal ini berarti usaha tani tebu
petani mitra PG. Pakis Baru di Kecamatan Tayu Kabupaten Pati layak
untuk diusahakan. Berdasarkan nilai BEP dapat dilihat dari dua hal yaitu
BEP unit sebesar 44.454,55 kg senilai Rp16.983.416,44. Nilai BEP dalam
unit apabila dibandingkan dengan produksi diketahui bahwa produksi
sudah melebihi BEP, sehingga dapat dikatakan bahwa usaha tani tebu
layak untuk diusahakan. Demikian juga dengan penerimaan sebesar
Rp40.601.262,82 nilainya sudah melebihi BEP. Berdasarkan kriteria R-C
ratio dan BEP dapat disimpulkan bahwa usaha tani tebu layak untuk
diusahakan.

17
III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa tebu merupakan
salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peranan penting dalam
pertumbuhan penduduk dunia dalam hal penyediaan gula.
Pemanenan tebu dapat didefinisikan sebagai keseluruhan kegiatan
memungut hasil gula yang masih potensial berada pada bagian tanaman tebu
di kebun untuk diolah menjadi butiran kristal gula di pabrik (GPM Grup,
1995).
Penanganan pasca panen tebu, meliputi :

1) Pemanenan
2) Sistem pengangkutan tebu

3) Sistem pengolahan tebu

Adapun kriteria kelayakan usaha untuk R-C ratio meliputi:


 R-C ratio < 1, usahatani tebu tidak layak untuk diusahakan
 R-C ratio = 1, usahatani mencapai kondisi titik impas/BEP
 R-C ratio > 1, usahatani tebu layak untuk diusahakan
Analisis kelayakan usaha tani tebu ditinjau dari dua hal yaitu
berdasarkan R-C ratio dan BEP (Rp dan unit).
Setelah dianalisi diperoleh nilai R-C ratio sebesar 1,59, nilai ini lebih
besar dari 1, hal ini berarti usaha tani tebu petani mitra PG.Pakis Baru di
Kecamatan Tayu Kabupaten Pati layak untuk diusahakan.
Diketahui BEP unit sebesar 44.454,55 kg senilai Rp16.983.416,44.
Nilai produksi lebih besar dari pada nilai BEP, sehingga dapat dikatakan
bahwa usaha tani tebu layak untuk diusahakan.
Biaya penerimaan sebesar Rp40.601.262,82 nilainya sudah melebihi
BEP. Berdasarkan kriteria R-C ratio dan BEP dapat disimpulkan bahwa usaha
tani tebu layak untuk diusahakan.

18
3.1 Saran

Dengan selesainya makalah ini, penulis menyarankan kepada pembaca


untuk mengkaji lebih lanjut mengenai penanganan pascapanen pada buah
pepaya terutama mengenai senyawa-senyawa yang baik untuk ditambahkan
pada pepaya sehingga dapat menjaga kualitas pepaya hingga ke tangan
konsumen.

19
DAFTAR PUSTAKA

Destriyani, Leny, Tamrin, dan M. Zen Kadir. 2014. Pengaruh Umur Simpan Air
Tebu Terhadap Tingkat Kemanisan Tebu (Saccharum Ofiicinarum). Jurnal
Teknik Pertanian Lampung. Vol. No. (3(2)). Hal. 119-126

Dhiyaudzdzikrillah. 2011. Tanaman Tebu (Saccharum Officinarum.L) Lahan


Kering Di Pt Gula Putih Mataram, Lampung Dengan Aspek Khusus
Tebang, Muat, dan Angkut. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut
Pertanian Bogor.

Nurjayanti, Eka Dewi dan Syaifun Naim. 2014. Analisis Kelayakan Usahatani
Tebu (Studi Kasus Petani Tebu Mitra Pg.Pakis Baru Di Kecamatan Tayu
Kabupaten Pati). Mediagro. Vol. No. (10(1)). Hal. 60-68

Syakir, M dkk. 2013. Analisa Usahatani Budi Daya Tebu Intensif,


Studi Kasus di Kabupaten Purbalingga. Buletin Tanaman Tembakau,
Serat dan Minyak Industri. Vol. No. (5(2)). Hal. 51-57

Thoriq, Ahmad dkk. 2017. Studi Siklus Waktu Proses Muat Angkut Tebu secara
Mekanis di PG. Jatitujuh, Majalengka, Jawa Barat. Jurnal Teknotan. Vol.
No. (11(1)). Hal. 61-67

20