Anda di halaman 1dari 29

BUPATI MINAHASA TENGGARA

PROVINSI SULAWESI UTARA


PERATURAN BUPATI MINAHASA TENGGARA
NOMOR TAHUN 2016

TENTANG
TATA CARA PEMBAGIAN DAN PENETAPAN
RINCIAN DANA DESA SETIAP DESA
DI KABUPATEN MINAHASA TENGGARA TAHUN ANGGARAN 2016

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


BUPATI MINAHASA TENGGARA,

Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 12 ayat (1) Peraturan


Pemerintah Nomor 22 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2015 tentang Dana
Desa Yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara, Bupati/Walikota menetapkan rincian Dana
Desa untuk setiap Desa;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a, perlu ditetapkan Peraturan Bupati tentang
Tata Cara Pembagian dan Penetapan Rincian Dana Desa
Setiap Desa di Kabupaten Minahasa Tenggara Tahun
Anggaran 2016.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan


Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003,
Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4286);
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004, Nomor 5, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Repubik
Indonesia Tahun 2004, Nomor 126, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
4. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2007 tentang
Pembentukan Kabupaten Minahasa Tenggara di Provinsi
Sulawsi Utara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007, Nomor 11 Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4685);
5. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5234);
6. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor
7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5495);
7. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
8. Undang-undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang
Administrasi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 292, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5601);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang
Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun
2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 123), sebagaimana diubah dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 157,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5717);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana
Desa Yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara sebagaimana diubah dengan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 168,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5694) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 22 Tahun 2015 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 88, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 5694) ;
12. Peraturan Presiden Nomor 137 Tahun 2015 tentang
Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun
Anggaran 2016 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun
2015 Nomor 288);
13. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan
Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 310);
14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014
tentang Pengelolaan Keuangan Desa (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 2093);
15. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93 Tahun 2015
tentang Penggunaan, Pengalokasian, Penyaluran,
Pemantauan dan Evaluasi Dana Desa (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 684);
16. Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 247/PMK.07/2015
tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran,
Penggunaan, Pemantauan dan Evaluasi Dana Desa;
17. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal,
dan Transmigrasi Nomor 21 Tahun 2015 tentang
Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2016
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor
1934);
18. Peraturan Daerah Kabupaten Minahasa Tenggara Nomor 2
Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pemerintahan Desa
(Lembaran Daerah Kabupaten Minahasa Tenggara Tahun
2015 Nomor 87);
19. Peraturan Daerah Kabupaten Minahasa Tenggara Nomor 7
Tahun 2015 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah Tahun Anggaran 2016 (Lembaran Daerah
Kabupaten Minahasa Tenggara Tahun 2015 Nomor 92);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG TATA CARA PEMBAGIAN


DAN PENETAPAN RINCIAN DANA DESA SETIAP DESA DI
KABUPATEN MINAHASA TENGGARA TAHUN ANGGARAN
2016

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan:


1. Daerah adalah Kabupaten Minahasa Tenggara;
2. Bupati adalah Bupati Minahasa Tenggara;
3. Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain,
selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki
batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa
masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan
dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

4. Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota dan digunakan
untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan
pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat;
5. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain
dibantu perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa;
6. Jumlah Desa adalah jumlah Desa yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri;
7. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, yang selanjutnya disingkat APB
Desa, adalah rencana keuangan tahunan Pemerintahan Desa.

BAB II
RINCIAN DANA DESA

Pasal 2

Peraturan Bupati ini menetapkan Rincian Dana Desa untuk setiap Desa dan
prioritas penggunaan Dana Desa di Kabupaten Minahasa Tenggara Tahun
Anggaran 2016 sebagaimana tercantum dalam Lampiran I dan Lampiran II yang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati Minahasa
Tenggara ini.

Pasal 3

Rincian Dana Desa untuk setiap Desa di Kabupaten Minahasa Tenggara Tahun
Anggaran 2016 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, dialokasikan secara
merata dan berkeadilan berdasarkan:

a. alokasi dasar; dan

b. alokasi formula yang dihitung dengan memperhatikan jumlah penduduk,


angka kemiskinan, luas wilayah, dan indeks kesulitan geografis desa.
Pasal 4

Alokasi dasar per desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a, dihitung
berdasarkan alokasi dasar per Kabupaten dibagi jumlah desa sebagaimana telah
ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Presiden Nomor 137 Tahun 2015 tentang
Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2016.

Pasal 5

Alokasi formula dihitung berdasarkan data jumlah penduduk, angka kemiskinan,


luas wilayah dan indeks kesulitan geografis, sebagaimana dimaksud pada Pasal 3
huruf b yang bersumber dari kementerian yang berwenang dan/atau lembaga
yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang statistik.

Pasal 6

Penghitungan alokasi formula setiap Desa sebagaimana dimaksud pada Pasal 5


dilakukan dengan menggunakan formula sebagai berikut:
W = [(0,25 x Z1) + (0,35 x Z2) + (0,10 x Z3) + (0,30 x Z4)] x (DDkab – ADkab)

Keterangan:
W = Dana Desa setiap Desa yang dihitung berdasarkan jumlah penduduk, angka
kemiskinan, luas wilayah, dan tingkat kesulitan geografis Desa.
Z1 = rasio jumlah penduduk setiap Desa terhadap total penduduk Desa nasional.
Z2 = rasio jumlah penduduk miskin setiap Desa terhadap total penduduk miskin
Desa nasional.
Z3 = rasio luas wilayah Desa setiap Desa terhadap total penduduk miskin Desa
nasional.
Z4 = rasio IKG kabupaten terhadap total IKG kabupaten yang memiliki Desa.
DDkab = pagu Dana Desa kabupaten.
ADkab = besaran AD untuk setiap Desa dikalikan jumlah Desa dalam
Kabupaten Minahasa Tenggara.

Pasal 7

Pembagian dan Penetapan Rincian Dana Desa setiap Desa di Kabupaten


Minahasa Tenggara Tahun Anggaran 2016, sebagaimana dimaksud dalam Pasal
6 diuraikan dalam Lampiran I Peraturan Bupati Minahasa Tenggara ini.
BAB III
PENYALURAN

Pasal 8

(1) Penyaluran Dana Desa dilakukan melalui pemindahbukuan dari dari


Rekening Kas Umum Daerah ke Rekening Kas Umum Desa.

(2) Pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Daerah ke Rekening Kas Umum
Desa dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja setelah Dana Desa diterima
di Rekening Kas Umum Daerah.
(3) Penyaluran Dana Desa dilakukan secara bertahap:
a. tahap I pada bulan April sebesar 40% (empat puluh perseratus);
b. tahap II pada bulan Agustus sebesar 40% (empat puluh perseratus); dan

c. tahap III pada bulan Oktober sebesar 20% (dua puluh perseratus).
(4) Penyaluran Dana Desa Tahap I dilakukan setelah Kepala Desa
menyampaikan:
a. peraturan Desa mengenai APB Desa kepada Bupati.
b. laporan realisasi penggunaan Dana Desa tahun anggaran sebelumnya.
c. Kepala Desa menyampaikan peraturan Desa dan laporan realisasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a dan b kepada Bupati paling
lambat minggu kedua bulan Maret.
(5) Penyaluran Dana Desa Tahap II dilakukan setelah Kepala Desa
menyampaikan:
a. laporan realisasi penggunaan Dana Desa tahap I kepada Bupati.
b. laporan realisasi penggunaan Dana Desa tahap I sebagaimana dimaksud
pada huruf a, menunjukkan paling kurang Dana Desa tahap I telah
digunakan sebesar 50% (lima puluh per seratus).
c. Kepala Desa menyampaikan laporan realisasi penggunaan Dana Desa
tahap I sebagaimana dimaksud pada huruf a kepada Bupati paling lambat
minggu kedua bulan Juli.
(6) Penyaluran Dana Desa Tahap III dilakukan setelah Kepala Desa
menyampaikan:

a. Penyaluran Dana Desa tahap III dilakukan setelah Kepala Desa


menyampaikan laporan realisasi penggunaan Dana Desa tahap I dan
tahap II kepada Bupati.
b. Laporan realisasi penggunaan Dana Desa tahap I dan tahap II
sebagaimana dimaksud pada huruf a menunjukkan paling kurang Dana
Desa tahap I dan tahap II telah digunakan sebesar 50% (lima puluh per
seratus).

c. Kepala Desa menyampaikan laporan realisasi penggunaan Dana Desa


tahap I dan tahap II sebagaimana dimaksud pada huruf a kepada Bupati
paling lambat minggu kedua bulan September tahun berjalan.
(7) Rincian Dana Desa yang diterima Desa setiap tahun dianggarkan dalam
APBDesa.

BAB IV
PRIORITAS PENGGUNAAN DANA DESA

Pasal 9

Dana Desa diprioritaskan untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan


berskala lokal Desa bidang Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat
Desa.

Pasal 10

(1) Penggunaan Dana Desa untuk prioritas bidang Pembangunan Desa dan
pemberdayaan Masyarakat Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9,
menjadi prioritas kegiatan, anggaran dan belanja Desa yang disepakati dan
diputuskan melalui Musyawarah Desa.
(2) Hasil keputusan Musyawarah Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus menjadi acuan bagi penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa dan
APBDesa.
(3) Rencana Kerja Pemerintah Desa dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dalam Peraturan Desa.
(4) Kepala Desa bertanggung jawab atas penggunaan dan pengelolaan Dana
Desa.
Bagian Kesatu
Bidang Pembangunan Desa

Pasal 11

(1) Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa dan kualitas hidup


manusia serta penanggulangan kemiskinan, prioritas penggunaan Dana Desa
diarahkan untuk pelaksanaan program dan kegiatan Pembangunan Desa,
meliputi:
a. pembangunan, pengembangan, dan pemeliharaan infrasruktur atau sarana
dan prasarana fisik untuk penghidupan, termasuk ketahanan pangan dan
pemukiman;
b. pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan sarana dan prasarana
kesehatan masyarakat;
c. pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan sarana dan prasarana
pendidikan, sosial dan kebudayaan;
d. pengembangan usaha ekonomi masyarakat, meliputi pembangunan dan
pemeliharaan sarana prasarana produksi dan distribusi.
e. pembangunan dan pengembangan sarana-prasarana energi terbarukan
serta kegiatan pelestarian lingkungan hidup.
(2) Pemerintah Desa bersama-sama dengan Badan Permusyawaratan Desa dapat
mengembangkan prioritas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai Daftar
Kewenangan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa yang
ditetapkan dalam Peraturan Desa.
(3) Pemerintah Daerah melakukan pendampingan terhadap penyusunan prioritas
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan Daftar Kewenangan Hak
Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa yang telah ditetapkan dalam
Peraturan Bupati.

Pasal 12

Desa dalam perencanaan program dan kegiatan pembangunan desa serta


pemberdayaan masyarakat desa, dapat mempertimbangkan tipologi Desa
berdasarkan tingkat perkembangan kemajuan desa, meliputi:
a. Desa tertinggal dan/atau sangat tertinggal, mengutamakan kegiatan
pembangunan melalui penyediaan sarana dan prasarana untuk pemenuhan
kebutuhan atau akses kehidupan masyarakat Desa.
b. Desa berkembang, memprioritaskan pembangunan sarana dan prasarana
pelayanan umum dan sosial dasar baik pendidikan dan kesehatan masyarakat
desa untuk mengembangkan potensi dan kapasitas masyarakat Desa.
c. Desa maju dan/atau mandiri, memprioritaskan kegiatan pembangunan sarana
dan prasarana yang berdampak pada perluasan skala ekonomi dan investasi
desa, termasuk prakarsa Desa dalam membuka lapangan kerja, padat
teknologi tepat guna dan investasi melalui pengembangan BUM Desa.

Bagian Kedua
Bidang Pemberdayaan Masyarakat

Pasal 13

Prioritas penggunaan Dana Desa untuk program dan kegiatan bidang


Pemberdayaan Masyarakat Desa, dialokasikan untuk mendanai kegiatan yang
bertujuan meningkatkan kapasitas warga atau masyarakat desa dalam
pengembangan wirausaha, peningkatan pendapatan, serta perluasan skala
ekonomi individu warga atau kelompok masyarakat dan desa, antara lain:
a. peningkatan investasi ekonomi desa melalui pengadaan, pengembangan atau
bantuan alat-alat produksi, permodalan, dan peningkatan kapasitas melalui
pelatihan dan pemagangan.
b. dukungan kegiatan ekonomi baik yang dikembangkan oleh BUM Desa atau
BUM Desa Bersama, maupun oleh kelompok dan atau lembaga ekonomi
masyarakat Desa lainnya.
c. bantuan peningkatan kapasitas untuk program dan kegiatan ketahanan
pangan Desa.
d. pengorganisasian masyarakat, fasilitasi dan pelatihan paralegal dan bantuan
hukum masyarakat Desa, termasuk pembentukan Kader Pemberdayaan
Masyarakat Desa (KPMD) dan pengembangan kapasitas Ruang Belajar
Masyarakat di Desa (Community Centre).
e. promosi dan edukasi kesehatan masyarakat serta masyarakat serta gerakan
hidup bersih dan sehat, termasuk peningkatan kapasitas pengelolaan
Posyandu, Poskesdes, Polindes dan ketersediaan atau keberfungsian tenaga
medis/swamedikasi di Desa.
f. dukungan terhadap kegiatan pengelolaan Hutan/Pantai Desa dan Hutan/
Pantai Kemasyarakatan.
g. peningkatan kapasitas kelompok masyarakat untuk energi terbarukan dan
pelestarian lingkungan hidup.
h. bidang kegiatan pemberdayaan ekonomi lainnya yang sesuai dengan analisa
kebutuhan desa dan telah ditetapkan dalam Musyawarah Desa.

Pasal 14

Perencanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 13, dilakukan dengan mempertimbangkan dan menyesuaikan dengan
tipologi desa berdasarkan tingkat perkembangan kemajuan desa, yaitu:
a. Desa tertinggal dan/atau sangat tertinggal, mengutamakan kegiatan
pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada membuka lapangan kerja
dan atau usaha baru, serta bantuan penyiapan infrastruktur bagi
terselenggaranya kerja dan usaha warga atau masyarakat baik dari proses
produksi sampai pemasaran produk, serta pemenuhan kebutuhan atau akses
kehidupan masyarakat desa.
b. Desa berkembang, memprioritaskan pemberdayaan masyarakat yang
bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas kerja dan/atau proses
produksi sampai pemasaran produk, serta pemenuhan kebutuhan atau akses
modal/fasilitas keuangan.
c. Desa maju dan/atau mandiri, mengembangkan kegiatan pemberdayaan
masyarakat yang visioner dengan menjadikan desa sebagai lumbung ekonomi
atau kapital rakyat, dimana desa dapat menghidupi dirinya sendiri atau
memiliki kedaulatan ekonomi, serta mampu mengembangkan potensi atau
sumberdaya ekonomi atau manusia dan kapital desa secara berkelanjutan.

Pasal 15

(1) Dalam hal pemetaan tipologi Desa berdasarkan tingkat kemajuan desa untuk
penyusunan prioritas penggunaan Desa, Pemerintah Desa harus
menggunakan data Indeks Desa Membangun (IDM) yang ditetapkan oleh
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.
(2) Informasi penggunaan data Indeks Desa Membangun sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus diinformasikan secara terbuka oleh Pemerintah
Kabupaten dan menjadi acuan dalam penyusunan Pedoman Teknis
Penggunaan Dana Desa, sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Pemerintah Kabupaten menyampaikan informasi tentang data rujukan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada seluruh desa, bersamaan dengan
penjelasan tentang indikatif atau pagu Dana Desa, Alokasi dana Desa dan
informasi lain terkait, sebelum pelaksanaan musyawarah desa perencanaan.
Pasal 16

(1) Ketentuan lebih lanjut tentang prioritas penggunaan Dana Desa untuk
program dan kegiatan bidang pembangunan Desa dan pemberdayaan
masyarakat Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal 12
diuraikan dalam Lampiran II dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Bupati ini.
(2) Peraturan Bupati dan Lampiran II sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
menjadi pedoman dalam penyusunan petunjuk teknis prioritas penggunaan
Dana Desa dengan mempertimbangkan kebutuhan desa, karakteristik wilayah
dan kearifan lokal desa, serta keterbatasan waktu penyelenggaraan
perencanaan pembangunan Desa.

Pasal 17

Pengelolaan keuangan desa dikelola sesuai dengan ketentuan perundang-


undangan dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai 1 Januari
sampai dengan tanggal 31 Desember.

Pasal 18

(1) Setiap Pengeluaran belanja atas beban APBDesa harus didukung dengan
bukti yang lengkap dan sah.
(2) Bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapat pengesahan
oleh Sekretaris Desa atas kebenaran material yang timbul dari penggunaan
bukti dimaksud.
(3) Pengeluaran kas desa yang mengakibatkan beban APBDesa tidak dapat
dilakukan sebelum rancangan peraturan desa tentang APBDesa ditetapkan
menjadi peraturan desa.
(4) Bendahara desa sebagai wajib pungut pajak penghasilan (PPh) dan pajak
lainnya, wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang
dipungutnya ke rekening kas negara sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 19

(1) Kepala Desa dengan dikoordinasikan oleh camat setempat menyampaikan


laporan realisasi penggunaan Dana Desa Tahap I, Tahap II, dan Laporan
Realisasi Penggunaan Dana Desa Tahunan kepada Bupati.
(2) Penyampaian laporan realisasi penggunaan Dana Desa sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan ketentuan:

a. Tahap I paling lambat minggu keempat bulan Juli tahun anggaran


berjalan;
b. Tahap II paling lambat minggu keempat bulan September tahun
anggaran berjalan.
c. Laporan Realisasi Penggunaan Dana Desa Tahunan paling lambat
minggu keempat bulan Februari tahun anggaran berikutnya.

Pasal 20

(1) Bupati menunda penyaluran Dana Desa dalam hal kepala desa tidak
menyampaikan APBDesa dan/atau laporan realisasi penggunaan semester
sebelumnya.

(2) Penundaan sebagaimana ayat (1) dilakukan sampai dengan disampaikannya


APBDesa dan/atau laporan realisasi penggunaan tahun anggaran
sebelumnya.

(3) Bupati mengurangi penyaluran dana desa dalam hal ditemukan


penyimpangan pelaksanaan yang mengakibatkan SiLPA tidak wajar.

(4) SiLPA Dana Desa yang tidak wajar sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
berupa sisa Dana Desa yang melebihi 30% (tiga puluh per seratus) dari Dana
Desa yang diterima Desa.

(5) Penggunaan Dana Desa yang tidak sesuai dengan prioritas sebagaimana
dimaksud pada ayat 4 tidak mendapatkan persetujuan dari Bupati.

(6) Pengurangan Dana Desa dilaporkan oleh Bupati kepada Menteri Keuangan
c.q Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan.

BAB V
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 21

Dengan berlakunya Peraturan Bupati ini, Peraturan Bupati Nomor 20 Tahun


2015 Tentang Tata Cara Pembagian dan Penetapan Besaran Dana Desa di
Kabupaten Minahasa Tenggara Tahun Anggaran 2015, dicabut dan dinyatakan
tidak berlaku lagi.
BAB VI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 22

Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahui, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati


ini dengan menempatkannya dalam Berita Daerah Kabupaten Minahasa
Tenggara.

NO PEJABAT PENGELOLA PARAF KET. Ditetapkan di Ratahan


KOORDINASI
1 SEKRETARIS BPM-PD
Pada tanggal 2016
2 KABAG HUKUM
BUPATI MINAHASA TENGGARA,
3 KEPALA BADAN PM-PD

4 KEPALA BPK-BMD

5 INSPEKTUR

ASISTEN BIDANG
6
PEMERINTAHAN & KESRA
JAMES SUMENDAP
SEKRETARIS DAERAH
7 KAB. MINAHASA
TENGGARA

WAKIL BUPATI MINAHASA


8
TENGGARA
Diundangkan di Ratahan
BUPATI MINAHASA Dh. Mohon Untuk
9
ENGGARA Ditandatangani
Pada tanggal 2016

SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN MINAHASA TENGGARA,

BACH ADRIANUS TINUNGKI

BERITA DAERAH KABUPATEN MINAHASA TENGGARA TAHUN 2016 NOMOR


BAB VI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 22

Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahui, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati


ini dengan menempatkannya dalam Berita Daerah Kabupaten Minahasa
Tenggara.

PAARAF
Ditetapkan di Ratahan
NO PEJABAT PENGELOLA KETERANGAN
KOORDINASI

1.
KABID PEMBERDAYAAN Pada tanggal 2016
MASYARAKAT BPM-PD
2. SEKRETARIS BPM-PD
3. KABAG HUKUM BUPATI MINAHASA TENGGARA,
4. KEPALA BPM-PD
5. KEPALA BPKBMD
6. INSPEKTUR
ASISTEN BIDANG
7.
PEMERINTAHAN & KESRA
8. SEKRETARIS DAERAH
WAKIL BUPATI MINAHASA
JAMES SUMENDAP
9.
TENGGARA
BUPATI MINAHASA Dh. Mohon Untuk
10.
TENGGARA Ditandatangani

Diundangkan di Ratahan
Pada tanggal 2016

SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN MINAHASA TENGGARA,

BACH ADRIANUS TINUNGKI

BERITA DAERAH KABUPATEN MINAHASA TENGGARA TAHUN 2016 NOMOR


LAMPIRAN II PERATURAN BUPATI MINAHASA TENGGARA
NOMOR : TAHUN 2016
TANGGAL : 2016
TENTANG : TATA CARA PEMBAGIAN DAN PENETAPAN RINCIAN DANA
DESA SETIAP DESA KABUPATEN MINAHASA TENGGARA
TAHUN ANGGARAN 2016

Tipologi : Desa Pesisir, Mina-Wisata dan Maju

Bidang Kegiatan Tujuan


A. Pelaksanaan
Pembangunan Desa
1. Pembangunan, 1. Pembangunan tembok - Memperkuat tebing/bibir
pengembangan dan laut kawasan wisata pantai lokasi wisata
pemeliharaan laut. pantai.
infrasruktur/sarana - Mengurangi ancaman
prasarana fisik untuk abrasi erosi pantai.
penghidupan dan - Mengembangkan
pemukiman keindahan kawasan
pandang pantai.
2. Rehabilitasi - Mengurangi
Pemeliharaan pendangkalan saluran
joggingpath track irigasi yang disebabkan
wisatawan. penumpukan sampah
dan endapan lumpur.
- Melancarkan aliran air
irigasi untuk
mendukung pertanian
desa.
2. Pembangunan, 1. Pembangunan - Mengembangkan fasilitas
pengembangan dan penambahan ruang layanan wisatawan.
pemeliharaan sarana dan rawat inap Poskesdes - Menyiapkan unit untuk
prasarana kesehatan (posyandu penanganan darurat.
masyarakat apung/perahu).
2. Rehabilitasi dan - Memberikan
penambahan unit kenyamanan fasilitas
fasilitas jamban publik. public
- Mengurangi perilaku
masyarakat dan
wisatawan BAB
sembarang
3. Pengadaan tambahan - Melengkapi kebutuhan
peralatan kesehatan sarana prasarana
emergency poskesdes kesehatan (medical
rescue)
3. Pembangunan, 1. Membangun - Menyediakan arena
pengembangan dan amphitheater di ruang untuk atraksi seni
pemeliharaan sarana dan publik pantai; budaya di kawasan
prasarana pendidikan, pantai.
sosial dan kebudayaan
2. Penambahan - Mencukupi kebutuhan
bahanbahan promosi informasi dan
dan buku edukasi pengetahuan wisatawan
tentang pantai dan laut. tentang terumbu karang,
penyu, ikan dan jenis
flora fauna laut lain nya
terkait paket wisata
pantai dan laut.
3. Membangun fasilitas - Menyediakan ruang
penunjang acara tradisi terbuka yang aman dan
sedekah laut nyaman bagi kegiatan
budaya lokal yang
memiliki nilai wisata.
- Mendorong interaksi
sosial dan budaya lokal
tetap terjaga.
4. Pengembangan usaha 1. Membangun pusat - Mendorong kemampuan
ekonomi masyarakat, budidaya, pembenihan nelayan budidaya untuk
meliputi pembangunan dan keramba ikan mencukupi kebutuhan
dan pemeliharaan sarana kerapu, konservasi tukik benih dan produksi ikan,
prasarana produksi dan penyu dan tempat konservasi dan
distribusi karang/seareef. fasilitas paket wisata
- Mendorong
meningkatnya
pendapatan petani/
nelayan dan sekaligus
PADes.
2. Rehabilitasi dan - Membuka akses dan
perluasan tambatan meningkatkan produksi
perahu. tangkapan;
- Meningkatkan pelayanan
wisata memancing;
- Mendorong
meningkatnya PADes.

3. Rehab pasar ikan - Meningkatkan pelayanan


transaksi hasil laut;
- Mengembangkan potensi
interaksi warga-
wisatawan untuk
membeli produksi laut
segar;
- Mendorong
meningkatnya PADes
5. Pembangunan dan 1. Konservasi tukik penyu - Melestarikan terumbu
pengembangan sarana- dan terumbu karang.
prasarana energi karang/coral-seareef. - Meningkatkan
terbarukan serta kemanfaatan ekologis
kegiatan pelestarian aset desa.
lingkungan hidup. - Paket wisata dan PADes
2. Pengembangan Cemara - Mengurangi resiko
laut dan pembibitan/ abrasi laut, bencana
penanaman bakau. intrusi air laut dan
penahan alami tsunami.
- Paket wisata dan PADes.
3. Pengadaan sarana - Menyediakan kebutuhan
prasaran pengelolaan perlengkapan
sampah terpadu bagi pengelolaan sampah
rumah tangga dan rumah tangga.
kawasan wisata. - Mengolah sampah dan
menjadikan nilai guna
limbah untuk
pengembangan energi
dan kepentingan lain.
6. Program kegiatan lainnya
yang sesuai dengan
kondisi desa dan telah
diputuskan dalam
Musyawarah
Perencanaan Desa.

B. Pemberdayaan
Masyarakat Desa

1. Peningkatan investasi 1. Pelatihan benih kerapu, - Meningkatkan


ekonomi desa melalui tukik dan budidaya pengetahuan dan
pengadaan, cemara laut dan bakau. keterampilan budidaya
pengembangan atau hasil laut dan
bantuan alat-alat konservasi.
produksi, permodalan, - Mendorong produktivitas
dan peningkatan ekonomi budidaya laut
kapasitas melalui dan konservasi.
pelatihan dan
pemagangan.
2. Kursus/pelatihan - Meningkatkan nilai
kerajinan tangan ekonomi bahan baku
(handycraft) berbahan lokal.
baku limbah laut - Meningkatkan
(kerang, kayu, bakau keterampilan membuat
dan cemara laut). kerajinan tangan
berbahan lokal.
3. Pelatihan kuliner dan - Meningkatkan
pengembangan makanan pengetahuan dan
lokal sebagai komoditas kuliner, memproduksi
strategi ekonomi-wisata. olahan hasil laut dan
sejenisnya sebagai
penunjang sektor wisata.
2. Dukungan kegiatan 1. Pelatihan kewirausahaan - Mendorong tumbuhnya
ekonomi baik yang desa untuk pemuda minat kewirausahaan
dikembangkan oleh BUM bagi kalangan pemuda
Desa-BUM Antar Desa, desa.
maupun oleh kelompok
dan lembaga ekonomi
masyarakat Desa lainnya
2. Pengembangan bisnis - Perangkat desa dan
dan pemetaan kelayakan masyarakat mengetahui
BUMDesa dan BUM posisi strategis unit
Antar Desa bisnis yang akan
dikembangkan melalui
BUMDes dan menjajaki
peluang strategis BUM
Antar Desa.
3. Bantuan peningkatan - Musyawarah/ rembug - Merevitalisasi tradisi
kapasitas untuk program warga untuk lumbung padi desa
dan kegiatan ketahanan menfungsikan kembali
pangan Desa. tradisi lumbung
padi/hasil pertanian
lainnya.
4. Pengorganisasian 1. Pelatihan paralegal desa. - Melatih keterampilan
masyarakat, fasilitasi, warga memetakan
bantuan hukum masalah dan
masyarakat dan penyelesaiannya di luar
pelatihan paralegal di peradilan
Desa.
2. Pelatihan penyelesaian - Melatih keterampilan
mediasi sengketa aset di bagi warga tentang
desa untuk warga desa. penyelesaian sengketa
aset di desa
5. Promosi dan edukasi 1. Festival makanan laut - Mengangkat keunggulan
kesehatan masyarakat higienis Pesisir Laut. ekonomi menu laut.
serta gerakan hidup - Sebagai ruang promosi
bersih dan sehat. produk olahan makanan
berbasis potensi local.
- Mendorong gaya hidup
sehat ala pesisir.
2. Lomba melukis/ menulis - Mengenalkan pola hidup
keindahan alam dan bersih sejak dini kepada
hidup bersi dan sehat anak dan orang tua.
anak pantai. - Mencari bakat anak-
anak pantai.
- Paket wisata
6. Dukungan terhadap 1. Pelatihan pengolahan - Membekali keterampilan
kegiatan pengelolaan hasil laut dan pantai pengolahan sunber daya
Pantai untuk untuk petani budidaya laut dan pantai untuk
kepentingan Desa; dan nelayan tangkap. para petani dan nelayan
2. Membentuk/ - Mendorong berfungsinya
merevitalisai kembali kelembagaan
kelembagaan lokal untuk lokal desa yang memiliki
menjaga kelestarian peran terhadap produksi
pantai dan laut dan konservasi laut
termasuk bakau, pantai.
terumbu karang dan
zonasitangkap dan
konservasi.
7. Peningkatan kapasitas
kelompok masyarakat
untuk energi terbarukan
dan pelestarian
lingkungan hidup
8. Program kegiatan lainnya
yang sesuai dengan
kondisi desa dan telah
diputuskan dalam
Musyawarah Desa.

Tipologi: Desa Daratan/Hamparan, Industri & Perkebunan dan Berkembang

Bidang Kegiatan Tujuan


A. Pelaksanaan
Pembangunan Desa
1. Pembangunan, 1. Pembangunan rabat - Memudahkan akases
pengembangan dan beton/pengerasan jalan distribusi hasil
pemeliharaan desa. perkebunan.
infrastruktur/saran a- - Meningkatkan kualitas
prasarana fisik untuk jalan desa
penghidupan dan
pemukiman
2. Pemeliharaan saluran - Menjamin kelancaran
irigasi tersier. pasokan air ke area
perkebunan.
- Menjaga kualitas
bangunan saluran
irigasi.
3. Pembangunan pusat - Mendorong
pembibitan desa. pengembangan pusat
pembibitan desa;
- Mengurangi
ketergantungan petani
kepada bibit pabrikan.
4. Pembangunan show - Menyediakan ruang
soom/wisma pamer pamer untuk para
produk desa. pelaku industri desa.
2. Pembangunan, 1. Pembangunan/ - Pengadaan gedung
pengembangan dan pemeliharaan baru/ pemeliharaan
pemeliharaan sarana dan Poskesdes/Polindes poskesdes/polindes.
prasarana kesehatan - Mendekatkan layanan
masyarakat kesehatan kepada
masyarakat.
2. Pengadaan penunjang - Memenuhi kebutuhan
alat kesehatan untuk alat peraga
Poskesdes/Polindes. pembelajaran
kesehatan.
- Mendorong kreativitas
posyandu dalam
kegiatan pendidikan/
promosi kesehatan
masyarakat desa.
3. Pembangunan, 1. Pembangunan gedung - Memenuhi kebutuhan
pengembangan dan PAUD/TK. dasar pendidikan untuk
pemeliharaan sarana dan anak balita/usia dini.
prasarana pendidikan,
sosial dan kebudayaan.
2. Pembangunan sanggar - Mencukupi kebutuhan
belajar/perpustakaan informasi dan
untuk anak dan remaja. pengetahuan anak dan
remaja desa.
3. Pembangunan - Menggerakkan kembali
gedung/taman seni tradisi rakyat desa;
seni/musium desa. - Memfasilitasi pelestarian
seni tradisi rakyat dan
peninggalan
bendabenda purbakala
dan bersejarah.
4. Rehab/renovasi - Melestarikan situs-situs
bangunan cagar budaya budaya
(misalnya punden, candi,
sarkofagus, dll);
4. Pengembangan usaha 1. Membangun rintisan - Memudahkan akses
ekonomi masyarakat, pusat layanan petani padi/jagung pada
meliputi pembangunan penggilingan pusat-pusat
dan pemeliharaan sarana padi/jagung hasil penggilingan
prasarana produksi dan pertanian desa. padi/jagung.
distribusi. - Mengurangi biaya
produksi tinggi
pengolahan hasil
pertanian.
2. Pengadaan - Mendorong kesadaran
kompos/pupuk kandang. petani memanfaatkan
pupuk kandang.
- Memperkuat kerjasama
antar desa di bidang
perkebunan.
5. Pembangunan dan 1. Membangun rintisan - Memaksimalkan
pengembangan sarana- listrik desa tenaga kemanfaatan sumber
prasarana energi baru angin/matahari. panas matahari untuk
terbarukan serta penerangan desa.
kegiatan pelestarian
lingkungan hidup.
2. Membangun sumur - Menjaga keberlanjutan
resapan/embung. air permukaan.
- Mencegah banjir dan
menjaga kualitas air
tanah.
3. Pengadaan sarana - Mendorong tanggung
prasarana daur ulang jawab publik terhadap
sampah desa. pengelolaan sampah
desa.
- Mendukung daur ulang
sampah untuk
mengurangi akumulasi
sampah rumah tangga.
6. Program kegiatan lainnya
yang sesuai dengan
kondisi desa dan telah
diputuskan dalam
Musyawarah
Perencanaan Desa.

B.Pemberdayaan
Masyarakat Desa

1. Peningkatan investasi 1. Pelatihan membuat - Meningkatkan


ekonomi desa melalui barang-barang kerajinan keterampilan penduduk
pengadaan, berbahan baku lokal di bidang kerajinana
pengembangan atau (sabut kelapa, tangan;
bantuan alat-alat tempurung kelapa, - Meningkatkan nilai
produksi, permodalan, topeng/ukiran kayu, tambah komiditas
dan peningkatan anyaman bambu/daun ekonomi lokal
kapasitas melalui dll).
pelatihan dan
pemagangan.
2. Pelatihan tentang hak- - Mendorong
hak perburuhan meningkatnya
kerjasama desa dengan pengetahuan buruh dari
perusahaan. tentang hak-hak buruh.
2. Dukungan kegiatan 1. Woskhop Business Plan. - Mendorong peningkatan
ekonomi baik yang kapasitas usaha BUM
dikembangkan oleh BUM Desa.
Desa-BUM Antar Desa,
maupun oleh kelompok
dan lembaga ekonomi
masyarakat Desa
lainnya.
2. Investasi usaha ekonomi - Meningkatkan sumber-
melalui kerjasama BUM sumber penerimaan
Desa. desa dengan
mengembangkan
kerjasama antar BUM
Desa.
- Mengembangkan luas
layanan usaha sosial
ekonomi desa.
3. Bantuan peningkatan 1. Musyawarah/rembug - Merevitalisasi tradisi
kapasitas untuk program warga untuk lumbung padi desa;
dan kegiatan ketahanan menfungsikan kembali
pangan Desa tradisi lumbung
padi/hasil pertanian
lainnya.
2. Pelatihan pengolahan - Meningkatkan
dan pemasaran hasil pengetahuan
pertanian. masyarakat aneka dan
cara pengolahan hasil
pertanian.
4. Pengorganisasian 1. Pelatihan paralegal desa. - Melatih keterampilan
masyarakat, fasilitasi, warga memetakan
bantuan hukum masalah dan
masyarakat dan penyelesaiannya di luar
pelatihan paralegal di peradilan.
Desa.
2. Pelatihan penyelesaian - Melatih keterampilan
mediasi sengketa tanah, bagi warga tentang
kayu atau kekerasan penyelesaian sengketa
dalam rumah tangga. aset di desa.
5. Promosi dan edukasi 1. Sosialisasi ancaman - Meluaskan pemahaman
kesehatan masyarakat penyakit ISPA buruh desa yang
serta gerakan hidup khususnya bagi bekerja di perusahaan
bersih dan sehat. buruh/karyawan dari rokok tentang ancaman
desa yang bekerja di penyakin saluran
pabrik rokok. pernafasan.
2. Bazar produk kerajinan - Mengenalkan produk
tangan/produk industri kerajinan dan industri
rumah tangga. rumah tangga kepada
pasar.
6. Peningkatan kapasitas 1. Pelatihan pemanfaatan - Pengembangan energi
kelompok masyarakat limbah organik rumah alternatif untuk industri
untuk energi terbarukan tangga dan perkebunan rumah tangga.
dan pelestarian untuk bio-massa energy.
lingkungan hidup dengan
kondisi desa dan telah
diputuskan dalam
Musyawarah Desa.
2. Percontohan instalasi - Percontohan dan tempat
dan pusat/ruang belajar belajar serta
teknologi tepat guna pengembangan
teknologi tepat guna
7. Program kegiatan lainnya
yang sesuai dengan
kondisi desa dan telah
diputuskan dalam
Musyawarah Desa.

Tipologi: Desa Dataran tinggi/Pegunungan, Pertanian dan Tertinggal

Bidang Kegiatan Tujuan


A. Pelaksanaan
Pembangunan Desa

1. Pembangunan, 1. Pembangunan/ - Memenuhi dan


Pengembangan dan pengadaan tandon mendekatkan akses
Pemeliharaan air/bak penampung air kubutuhan air bersih
infrastruktur/sarana hujan atau air bersih untuk penduduk desa.
prasarana fisik untuk dari sumber mata air. - Membangun/ pengadaan
penghidupan dan baru untuk bak
pemukiman penampung air hujan.
2. Pemeliharaan saluran air - Mencegah kerusakan
bersih dari sumber mata saluran air bersih dari
air ke rumah-rumah sumber mata air ke
penduduk. rumah tangga.
- Menjamin pemenuhan
kebutuhan air bersih
untuk penduduk.
2. Pembangunan, 1. Pembangunan balai - Pengadaan gedung baru
pengembangan dan posyandu. balai posyandu.
pemeliharaan sarana dan - Mendorong optimalisasi
prasarana kesehatan kegiatan posyandu.
masyarakat.
2. Pengadaan alat peraga - Memenuhi kebutuhan alat
kesehatan posyandu. peraga pembelajaran
kesehatan.
- Mendorong kreativitas
posyandu dalam kegiatan
pendidikan/promosi
kesehatan masyarakat
desa.
3. Pengadaan peralatan - Melengkapi kebutuhan
kesehatan dasar untuk sarana prasarana
posyandu (timbangan kesehatan dasar untuk
bayi, thermometer dll). penunjang kegiatan
posyandu.
3. Pembangunan, 1. Pembangunan gedung - Memenuhi kebutuhan
pengembangan dan PAUD/TK. dasar pendidikan untuk
pemeliharaan sarana dan anak balita/ usia dini.
prasarana pendidikan,
social dan kebudayaan
2. Pembangunan sanggar - Mencukupi kebutuhan
belajar untuk anak dan informasi dan
remaja. pengetahuan anak dan
remaja desa.
3. Pengadaan peralatan - Menggerakkan kembali
seni tradisi (misalnya seni tradisi rakyat desa.
jaran kepan, rebana, dll). - Memenuhi kebutuhan
minimnya peralatan seni
tradisi rakyat.
4. Rehab/renovasi - Melestarikan situssitus
bangunan cagar budaya budaya.
(misalnya punden, candi,
sarkofagus, dll)
4. Pengembangan usaha 1. Membangun rintisan - Memudahkan akses
ekonomi masyarakat, pusat layanan petani padi/jagung pada
meliputi pembangunan penggilingan pusat-pusat penggilingan
dan pemeliharaan sarana padi/jagung hasil padi/jagung.
prasarana produksi dan pertanian desa - Mengurangi biaya
distribusi produksi tinggi
pengolahan hasil
pertanian.
2. Pengembangan usaha - Memperkuat kerjasama
kompos/pupuk antara petani dengan
kandang. peternak.
- Mendorong kesadaran
petani memanfaatkan
pupuk kandang.
5. Pembangunan dan 1. Membangun rintisan - Memaksimalkan
pengembangan sarana- listrik desa tenaga mikro kemanfaatan sumber
prasarana energi baru hidro. mata air desa untuk
terbarukan serta penerangan desa
kegiatan pelestarian
lingkungan hidup
2. Membangun sarana - Mendorong pemanfaatan
pengolahan minyak sumber-sumber nabati
jarak, minyak cengkeh, desa untuk
minyak goreng kelapa. pengembangan produk
unggulan desa.
6. Program kegiatan lainya
yang sesuai dengan
kondisi desa dan telah
diputuskan dalam
Musyawarah
Perencanaan Desa

B. Pemberdayaan
Masyarakat Desa

1. Peningkatan investasi 1. Pelatihan membuat - Meningkatkan


ekonomi desa melalui barangbarang kerajinan keterampilan penduduk di
pengadaan, berbahan baku lokal bidang kerajinana tangan.
pengembangan atau (sabut kelapa, - Meningkatkan nilai
bantuan alat-alat tempurung kelapa, tambah komiditas
produksi, permodalan, topeng/ ukiran kayu, ekonomi lokal.
dan peningkatan anyaman bambu/ daun
kapasitas melalui dll)
pelatihan dan
pemagangan.
2. Bantuan alat - Membantu kesulitan
pengolahan minyak pengrajin desa dalam hal
kopra, pemintalan/ alat pengadaan alat
tenun tradisional pengolahan produk lokal.
2. Dukungan kegiatan 1. Musyawarah insiatif - Mendorong pembentukan
ekonomi baik yang pembentukan BUMDes. BUMDesa.
dikembangkan oleh BUM - Membahas perencanaan
Desa- BUM Antar Desa, pembantukan BUMDesa.
maupun oleh kelompok - Mendorong pembentukan
dan lembaga ekonomi BUMDesa.
masyarakat Desa
lainnya.
2. Pelatihan manajemen - Meningkatkan
usaha untuk BUMDesa pengetahuan pengurus
dan usaha ekonomi BUMDesa atau penduduk
rumahan (home yang memiliki usaha
industry). rumahan.
3. Bantuan peningkatan 1. Musyawarah/ rembug - Merevitalisasi tradisi
kapasitas untuk program warga untuk lumbung padi desa.
dan kegiatan ketahanan enfungsikan kembali
pangan Desa. tradisi lumbung
padi/hasil pertanian
lainnya.
2. Pelatihan pengolahan - Meningkatkan
dan pemasaran hasil pengetahuan masyarakat
pertanian. aneka dan cara
pengolahan hasil
pertanian.
4. Pengorganisasian 1. Pelatihan paralegal desa. - Melatih keterampilan
masyarakat, fasilitasi, warga memetakan
bantuan hokum masalah dan
masyarakat dan penyelesaiannya di luar
pelatihan paralegal di peradilan.
Desa.
2. Pelatihan penyelesaian - Melatih keterampilan bagi
mediasi sengketa tanah, warga tentang
kayu atau kekerasan penyelesaian sengketa
dalam rumah tangga. aset di desa.
5. Promosi dan edukasi 1. Sosialisasi ancaman - Meluaskan pemahaman
kesehatan masyarakat penyakit di musim masyarakat desa tentang
serta gerakan hidup penghujan. ancaman penyakin di
bersih dan sehat. musim penghujan.
- Mendorong perilaku hidup
sehat penduduk.
2. Bazar jamu dan obat - Mengenalkan produk
tradisional desa. jamu dan obat-obatan
tradisional berbahan
lokal.
6. Peningkatan kapasitas 1. Pelatihan pengelolaan - Perlindungan ekologi
kelompokmasyarakat tanaman sekitar hutan hutan dan pengembangan
untuk energi terbarukan untuk konservasi dan produksi/ekonomi rumah
dan pelestarian tambahan pendapatan tangga.
lingkungan hidup
2. Pembibitan tanaman - Percontohan dan tempat
produktif sekitar hutan belajar serta
dan instalasi pengembangan teknologi
percontohan tepat guna.
7. Program kegiatan lainnya
yang sesuai dengan
kondisi desa dan telah
diputuskan dalam
Musyawarah Desa.

BUPATI MINAHASA TENGGARA,

JAMES SUMENDAP
2. Pembibitan tanaman - Percontohan dan tempat
produktif sekitar hutan belajar serta
dan instalasi pengembangan teknologi
percontohan tepat guna.
7. Program kegiatan lainnya
yang sesuai dengan
kondisi desa dan telah
diputuskan dalam
Musyawarah Desa.

PAARAF
NO PEJABAT PENGELOLA KETERANGAN
KOORDINASI

1.
KABID PEMBERDAYAAN BUPATI MINAHASA TENGGARA,
MASYARAKAT BPM-PD
2. SEKRETARIS BPM-PD
3. KABAG HUKUM
4. KEPALA BPM-PD
5. KEPALA BPKBMD
6. INSPEKTUR
JAMES SUMENDAP
ASISTEN BIDANG
7.
PEMERINTAHAN & KESRA
8. SEKRETARIS DAERAH
WAKIL BUPATI MINAHASA
9.
TENGGARA
BUPATI MINAHASA Dh. Mohon Untuk
10.
TENGGARA Ditandatangani