Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN PLASENTA PREVIA

DISUSUN OLEH :

AMANAH TRI AMALIA


ARTHA WIJAYA RATNASARI
DESY AMILIA
INDAH WAHYUNI
META EKA SARI
NOVI TRI LESTARI
PUTRI HANDAYANI
RUDI HERDIYAN S.

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)


MUHAMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan
rahmat, serta penyertaan-Nya, sehingga makalah “ASUHAN KEPERAWATAN
PLASENTA PREVIA” ini dapat kami selesaikan.

Dalam penulisan makalah ini kami berusaha menyajikan bahan dan bahasa yang
sederhana,singkat serta mudah dicerna isinya oleh para pembaca.

Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna serta masih terdapat
kekurangan dan kekeliruan dalam penulisan makalah ini.Maka kami berharap adanya
masukan dari berbagai pihak untuk perbaikan dimasa yang akan mendatang.

Akhir kata,semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dipergunakan
dengan layak sebagaimana mestinya.

Pringsewu, 19 Februari 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................................................. i
KATA PENGANTAR.............................................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...............................................................................................1
B. Rumusan Masalah...........................................................................................2
C. Tujuan Makalah..............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian.......................................................................................................3
B. Etiologi...........................................................................................................4
C. Patofisiologi....................................................................................................5
D. Manifestasi Klinis...........................................................................................7
E. Pemeriksaan Penunjang..................................................................................8
F. Komplikasi......................................................................................................9
G. Penatalaksanaan............................................................................................10

BAB III KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian.....................................................................................................12
B. Diagnosa Keperawatan.................................................................................15
C. Intervensi......................................................................................................15

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan...................................................................................................18
B. Saran.............................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Plasenta previa adalah plasenta yang menutupi ostium uteri internum baik
sepenuhnya atau sebagian atau yang meluas cukup dekat dengan leher rahim yang
menyebabkan pendarahan saat serviks berdilatasi (Hull et al., 2014).

Plasenta previa merupakan salah satu penyebab perdarahan antepartum. Perdarahan


antepartum adalah perdarahan pervaginam yang terdai pada kehamilan diatas 28
minggu (Manuaba, 2014).

Perdarahan antepartum merupakan salah satu dari kasus gawat darurat


yangkejadiannyaberkisar 3-5% dari seluruh persalinan. Penyebab perdarahan
antepartum yang paling umum adalah plasenta previa (31%), solusio plasenta
(22%), dan penyebab lainnya (perdarahan sinus marginal, vasa previa, servisitis,
trauma genital dan infeksi) (Athanasias et al., 2011).

Komplikasi yang diakibatkan oleh perdarahan antepartum adalah maternal shock,


fetal hypoxia, peningkatan risiko kelahiran prematur, dan kematian janin
mendadak. Hal ini menyebabkan perdarahan antepartum memiliki risiko yang
tinggi, bahkan juga untuk janin (Calleja et al, 2006). Selain itu, plasenta previa juga
berhubungan dengan kematian neonatal yang meningkat tiga kali lipat akibat
prematuritas (Sekiguchi et al.,2013)

Prevalensi kejadian plasenta previa di dunia diperkirakan sekitar 0.52%. Prevalensi


plasenta previa tertinggi terdapat diwilayah Asia yaitu sekitar 1,22% sedangkan
untuk wilayah Eropa lebih rendah yaitu 0,36%.

Hasil penelitian Yang et al. tahun 2008 menunjukkan sekitar 0,33% ibu hamil ras
kulit putih mengalami plasenta previa, sedangkan pada ibu hamil ras kulit hitam
sekitar 0,30 % yang mengalami plesenta previa.

Prevalensi plasenta previa di Indonesia pada tahun 2005 adalah 2,77% dan 0,85%
diantaranya meninggal (Kemenkes RI, 2007).

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari plasenta previa?
2. Apa etiologi dari plasenta previa?
3. Bagaimana patofisiologi dari plasenta previa?
4. Apa saja manifestasi klinis dari plasenta previa?
5. Apa pemeriksaan penunjang dari plasenta previa?
6. Apa saja komplikasi dari plasenta previa?
7. Bagaimana penatalaksanaan plasenta previa?
8. Bagaimana asuhan keperawatan dari plasenta previa?

C. Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui pengertian dari plasenta previa
2. Untuk mengetahui etiologi dari plasenta previa
3. Untuk mengetahui patofisiologi dari plasenta previa
4. Untuk mengetahui apa saja manifestasi klinis dari plasenta previa
5. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari plasenta previa
6. Untuk mengetahui komplikasi dari plasenta previa
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan plasenta previa
8. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari plasenta previa

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian

2
Plasenta previa adalah plasenta yang letak abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus
sehingga dapat menutupi sebagian atau pembukaan jalan lahir (Nugroho, 2010).
Menurut Ari (2009), plasenta atau yang biasa disebut dengan ari-ari adalah jaringan
yang terbentuk di dalam rahim selama kehamilan. Pada awal kehamilan, plasenta mulai
terbentuk dan akan berbentuk lengkap pada usia kehamilan 16 minggu. Plasenta berbentuk
bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal 2-2,5 cm dengan berat
rata-rata 500 gram. Plasenta melekat pada dinding uterus dan pada tali pusat bayi, yang
membentuk hubungan antara ibu dan bayi. Pada keadaan fisiologis letak implantasi
plasenta berada di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas ke arah fundus uteri.

Plasenta berasal dari lapisan trofoblas pada ovum yang mengalami fertilisasi,
plasenta berhubungan erat dengan sirkulasi ibu untuk melakukan fungsi-fungsi yang belum
dapat dilakukan janin untuk dirinya sendiri selama kehidupan intrauterin. Kelangsungan
hidup janin bergantung pada keutuhan dan efisiensi plasenta (Fraser & Cooper, 2009).

Menurut Ari (2009), plasenta atau yang biasa disebut dengan ari-ari adalah jaringan
yang terbentuk di dalam rahim selama kehamilan. Pada awal kehamilan, plasenta mulai
terbentuk dan akan berbentuk lengkap pada usia kehamilan 16 minggu. Plasenta berbentuk
bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal 2-2,5 cm dengan berat
rata-rata 500 gram. Plasenta melekat pada dinding uterus dan pada tali pusat bayi, yang
membentuk hubungan antara ibu dan bayi. Pada keadaan fisiologis letak implantasi
plasenta berada di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas ke arah fundus uteri.

Plasenta berasal dari lapisan trofoblas pada ovum yang mengalami fertilisasi,
plasenta berhubungan erat dengan sirkulasi ibu untuk melakukan fungsi-fungsi yang belum
dapat dilakukan janin untuk dirinya sendiri selama kehidupan intrauterin. Kelangsungan
hidup janin bergantung pada keutuhan dan efisiensi plasenta (Fraser & Cooper, 2009).

B. Etiologi
Menurut Leveno (2009) penyebab perdarahan spontan berkaitan dengan perkembangan
segmen bawah uterus. Frekuensi plasenta previa meningkat pada :
1. Usia ibu lanjut

3
2. Multiparitas (kelahiran bayi hidup dua kali atau lebih dari seorang wanita)
3. Riwayat sesar
4. Merokok
Ciri yang menonjol pada plasenta previa adalah perdarahan uterus keluar melalui
vagina tanpa rasa nyeri. Perdarahan biasanya baru terjadi pada akhir trimester kedua ke
atas. Perdarahan pertama berlangsung tidak banyak dan berhenti sendiri. Perdarahan
kembali terjadi tanpa sesuatu sebab yang jelas setelah beberapa waktu kemudian, jadi
berulang. Pada setiap pengulangan terjadi perdarahan yang lebih banyak bahkan seperti
mengalir. Pada plasenta letak rendah perdarahan baru terjadi pada waktu mulai persalinan;
perdarahan bisa sedikit sampai banyak mirip pada solusio plasenta. Perdarahan bisa
berlangsung sampai pascapersalinan. Perdarahan bisa juga bertambah disebabkan serviks
dan segmen bawah rahim pada plasenta previa lebih rapuh dan mudah mengalami robekan.
Robekan lebih mudah terjadi pada upaya pengeluaran plasenta dengan tangan misalnya
pada retensio plasenta sebagai komplikasi plasenta akreta. Berhubung plasenta terletak
pada bagian bawah, maka pada palpasi abdomen sering ditemui bagian terbawah janin
masih tinggi di atas simfisis dengan letak janin tidak dalam letak memanjang. Palpasi
abdomen tidak membuat ibu hamil merasa nyeri dan perut tidak tegang (Chalik, 2010).
Menurut Manuaba (2001), gejala umum pada ibu dengan plasenta previa adalah
perdarahan tanpa rasa sakit, terjadi pada saat pembentukan segmen bawah rahim (SBR)
sehingga terdapat pergeseran atau dinding rahim dengan plasenta yang menimbulkan
perdarahan, dan bentuk perdarahan yang terjadi adalah sedikit tanpa menimbulkan gejala
klinik atau banyak disertai gejala klinik ibu dan janin.
Menurut Manuaba (2001), gejala klinik yang terjadi pada ibu tergantung pada
keadaan umum serta jumlah darah yang hilang (darah yang keluar sedikit demi sedikit atau
dalam jumlah besar dalam waktu singkat). Kemudian pada ibu terjadi gejala
kardiovaskuler seperti nadi meningkat dan tekanan darah turun, anemia disertai bagian
ujung dingin serta perdarahan banyak dapat menimbulkan syok sampai kematian.
Selain gejala yang timbul pada ibu, Manuaba (2001) menjelaskan bahwa pada janin
juga terdapat gejala klinik, yaitu: bagian terendah belum masuk pintu atas panggul (PAP)
atau terdapat kelainan letak, adanya asfiksia intrauterin sampai kematian janin karena
perdarahan mengganggu sirkulasi retroplasenter.

C. Patofisiologis Plasenta Previa

4
Plasenta previa dapat mengganggu proses persalinan dengan terjadinya perdarahan.
Implantasi plasenta di segmen bawah rahim dapat disebabkan oleh endometrium di fundus
uteri belum siap menerima implantasi, endometrium yang tipis sehingga diperlukan
perluasan plasenta untuk mampu memberikan nutrisi janin, vili korealis pada korion leave
yang persisten (Manuaba, 2010).

Bagian bawah uterus berkembang dan meregang secara cepat setelah kehamilan 12
minggu. Pada minggu berikutnya, hal ini dapat menyebabkan terpisahnya plasenta dan
terjadi perdarahan. Perdarahan terjadi akibat pemutusan antara trofoblas plasenta dan sinus
darah vena ibu. Pada beberapa kasus, perdarahan dapat dipicu oleh koitus (Fraser &
Cooper, 2009).

Menurut Panjaitan (2011), perdarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi


sejak kehamilan 20 minggu saat segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai melebar
serta menipis. Umumnya terjadi pada trimester ketiga karena segmen bawah uterus lebih
banyak mengalami perubahan. Pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks
menyebabkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena
robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan tidak dapat dihindarkan karena
ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti pada
plasenta letak normal.
Pada usia kehamilan yang lanjut umumnya pada trimester ketiga dan mungkin juga
lebih awal, oleh karena telah mulai terbentuknya segmen bawah rahim, tapak plasenta akan
mengalami pelepasan. Sebagaimana diketahui tapak plasenta terbentuk dari jaringan
maternal yaitu bagian desidua basalis yang bertumbuh menjadi bagian dari plasenta.
Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim, maka plasenta yang
berimplantasi di situ sedikit banyak akan mengalami laserasi akibat pelepasan pada
desidua sebagai tapak plasenta. Demikian pula pada waktu serviks mendatar (effacement)
dan membuka (dilatation) ada bagian tapak plasenta yang terlepas. Pada tempat laserasi itu
akan terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal yaitu dari ruangan intervillus
dari plasenta (Panjaitan, 2011).
Oleh karena fenomena pembentukan segmen bawah rahim itu perdarahan pada
plasenta previa pasti akan terjadi (unavoidable bleeding). Perdarahan di tempat itu relatif
dipermudah dan diperbanyak oleh karena segmen bawah rahim dan serviks tidak mampu
berkontraksi dengan kuat karena elemen otot yang dimilikinya sangat minimal, dengan
akibat pembuluh darah pada tempat itu tidak akan tertutup dengan sempurna. Perdarahan

5
akan berhenti karena terjadi pembekuan kecuali jika ada laserasi yang melibatkan sinus
yang besar dari plasenta di mana perdarahan akan berlangsung lebih banyak dan lebih lama
(Panjaitan, 2011).
Oleh karena pembentukan segmen bawah rahim itu akan berlangsung progresif dan
bertahap, maka laserasi baru akan mengulang kejadian perdarahan. Demikian perdarahan
akan berulang tanpa sesuatu sebab lain (causless). Darah yang keluar berwarna merah
segar tanpa rasa nyeri (painless). Pada plasenta yang menutupi ostium uteri internum
perdarahan terjadi lebih awal dalam kehamilan oleh karena segmen bawah rahim terbentuk
lebih dahulu pada bagian terbawah yaitu pada ostium uteri internum. Sebaliknya, pada
plasenta previa parsialis atau letak rendah, perdarahan baru terjadi pada waktu mendekati
atau mulai persalinan (Panjaitan, 2011).
Perdarahan pertama biasanya sedikit dan cenderung lebih banyak pada perdarahan
berikutnya. Perdarahan pertama sudah bisa terjadi pada kehamilan di bawah 30 minggu
tetapi lebih separuh kejadiannya pada usia kehamilan 34 minggu ke atas. Berhubung
tempat perdarahan terletak dekat dengan ostium uteri internum, maka perdarahan lebih
mudah mengalir ke luar rahim dan tidak membentuk hematoma retroplasenta yang mampu
merusak jaringan lebih luas dan melepaskan tromboplastin ke dalam sirkulasi maternal.
Dengan demikian, sangat jarang terjadi koagulopati pada plasenta previa (Panjaitan, 2011).
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dinding segmen bawah rahim yang tipis
mudah diinvasi oleh pertumbuhan vili dari trofoblas, akibatnya plasenta melekat lebih kuat
pada dinding uterus. Lebih sering terjadi plasenta akreta dan plasenta inkreta, bahkan
plasenta perkreta yang pertumbuhan vilinya bisa sampai menembus ke buli-buli dan ke
rektum bersama plasenta previa. Plasenta akreta dan inkreta lebih sering terjadi pada uterus
yang sebelumnya pernah bedah sesar. Segmen bawah rahim dan serviks yang rapuh mudah
robek karena kurangnya elemen otot yang terdapat di sana. Kedua kondisi ini berpotensi
meningkatkan kejadian perdarahan pascapersalinan pada plasenta previa, misalnya dalam
kala tiga karena plasenta sukar melepas dengan sempurna (retention placentae), atau
setelah uri lepas (Panjaitan, 2011).
Pathway

6
D. Manifestasi Klinis
Menurut Nugroho (2010) tanda dan gejala plasenta previa adalah:
1. Anamnesa
a. Perdarahan tanpa nyeri,
b. Terutama pada multigravida pada kehamilan setelah 20 minggu.

2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan luar bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul, Ciri
yang menonjol pada plasenta previa adalah perdarahan uterus keluar melalui vagina tanpa
rasa nyeri. Perdarahan biasanya baru terjadi pada akhir trimester kedua ke atas. Perdarahan
pertama berlangsung tidak banyak dan berhenti sendiri. Perdarahan kembali terjadi tanpa
sesuatu sebab yang jelas setelah beberapa waktu kemudian, jadi berulang. Pada setiap

7
pengulangan terjadi perdarahan yang lebih banyak bahkan seperti mengalir. Pada plasenta
letak rendah perdarahan baru terjadi pada waktu mulai persalinan; perdarahan bisa sedikit
sampai banyak mirip pada solusio plasenta. Perdarahan bisa berlangsung sampai
pascapersalinan. Perdarahan bisa juga bertambah disebabkan serviks dan segmen bawah
rahim pada plasenta previa lebih rapuh dan mudah mengalami robekan. Robekan lebih
mudah terjadi pada upaya pengeluaran plasenta dengan tangan misalnya pada retensio
plasenta sebagai komplikasi plasenta akreta. Berhubung plasenta terletak pada bagian
bawah, maka pada palpasi abdomen sering ditemui bagian terbawah janin masih tinggi di
atas simfisis dengan letak janin tidak dalam letak memanjang. Palpasi abdomen tidak
membuat ibu hamil merasa nyeri dan perut tidak tegang (Chalik, 2010).
Menurut Manuaba (2001), gejala umum pada ibu dengan plasenta previa adalah
perdarahan tanpa rasa sakit, terjadi pada saat pembentukan segmen bawah rahim (SBR)
sehingga terdapat pergeseran atau dinding rahim dengan plasenta yang menimbulkan
perdarahan, dan bentuk perdarahan yang terjadi adalah sedikit tanpa menimbulkan gejala
klinik atau banyak disertai gejala klinik ibu dan janin.
Menurut Manuaba (2001), gejala klinik yang terjadi pada ibu tergantung pada
keadaan umum serta jumlah darah yang hilang (darah yang keluar sedikit demi sedikit atau
dalam jumlah besar dalam waktu singkat). Kemudian pada ibu terjadi gejala
kardiovaskuler seperti nadi meningkat dan tekanan darah turun, anemia disertai bagian
ujung dingin serta perdarahan banyak dapat menimbulkan syok sampai kematian.
Selain gejala yang timbul pada ibu, Manuaba (2001) menjelaskan bahwa pada janin
juga terdapat gejala klinik, yaitu: bagian terendah belum masuk pintu atas panggul (PAP)
atau terdapat kelainan letak, adanya asfiksia intrauterin sampai kematian janin karena
perdarahan mengganggu sirkulasi retroplasenter.

E. Pemeriksaan Penunjang
1. USG (Ultrasonographi)
Dapat mengungkapkan posisi rendah berbaring placnta tapi apakah placenta
melapisi cervik tidak biasa diungkapkan
2. Sinar X
Menampakkan kepadatan jaringan lembut untuk menampakkan bagian-bagian
tubuh janin.
3. Pemeriksaan laboratorium
Hemoglobin dan hematokrit menurun. Faktor pembekuan pada umumnya di
dalam batas normal.

8
4. Pengkajian vaginal
Pengkajian ini akan mendiagnosa placenta previa tapi seharusnya ditunda jika
memungkinkan hingga kelangsungan hidup tercapai (lebih baik sesuadah 34
minggu). Pemeriksaan ini disebut pula prosedur susunan ganda (double setup
procedure). Double setup adalah pemeriksaan steril pada vagina yang dilakukan
di ruang operasi dengan kesiapan staf dan alat untuk efek kelahiran secara
cesar.
5. Isotop Scanning
Atau lokasi penempatan placenta.
6. Amniocentesis
Jika 35 – 36 minggu kehamilan tercapai, panduan ultrasound pada
amniocentesis untuk menaksir kematangan paru-paru (rasio lecithin atau
spingomyelin [LS] atau kehadiran phosphatidygliserol) yang dijamin. Kelahiran
segera dengan operasi direkomendasikan jika paru-paru fetal sudah mature.

F. Komplikasi
Menurut Chalik (2010), pembentukan segmen rahim tejadi secara ritmik, maka
pelepasan plasenta dari tempat melekatnya di uterus dapat berulang dan semakin banyak,
dan perdarahan yang terjadi itu tidak dapat dicegah sehingga penderita menjadi anemia
bahkan syok.
Menurut Chalik (2010), serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh dan kaya
pembuluh darah sangat potensial untuk robek disertai oleh perdarahan yang banyak. Maka
pada semua tindakan manual di tempat ini harus sangat berhati-hati, misalnya pada waktu
mengeluarkan anak melalui insisi pada segmen bawah rahim ataupun waktu mengeluarkan
plasenta dengan tangan pada retensio plasenta. Apabila oleh salah satu sebab terjadi
perdarahan banyak yang tidak terkendali dengan cara-cara yang lebih sederhana seperti
penjahitan segmen bawah rahim, ligasi arteria uterine, ligasi arteria ovarika, pemasangan
tampon, atau ligasi arteria hipogastrika, maka pada keadaan yang sangat gawat seperti ini
jalan keluarnya adalah melakukan histerektomi total. Morbiditas dari semua tindakan ini
tentu merupakan komplikasi tidak langsung dari plasenta previa.
Cunningham, [et al] (2006) pun menjelaskan hal yang serupa, pengiriman sebelum
minggu ke-37 kehamilan biasanya menimbulkan risiko terbesar pada janin yaitu
prematuritas.
Selain dari komplikasi yang telah di uraikan di atas Chalik (2010) menambahkan
komplikasi yang dapat terjadi pada ibu dengan plasenta previa adalah kejadian plasenta
inkreta bahkan plasenta perkreta. Adanya plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah

9
rahim dan sifat segmen ini yang tipis mudahlah jaringan trofoblas dengan kemampuan
invasinya menerobos ke dalam miometrium bahkan sampai ke perimetrium. Paling ringan
adalah plasenta akreta yang perlekatannya lebih kuat tetapi vilinya masih belum masuk ke
dalam miometrium. Komplikasi ini akan lebih sering terjadi pada uterus yang pernah
seksio sesarea. Dilaporkan plasenta akreta terjadi 10% sampai 35% pada pasien yang
pernah seksio sesarea 1 kali, naik menjadi 60% sampai 65% bila telah seksio sesarea 3
kali.
Beberapa pendapat juga menambahkan komplikasi yang dapat terjadi dari kejadian
plasenta previa, antara lain plasenta previa dapat menyebabkan cacat lahir. Cacat lahir
terjadi 2,5 kali lebih sering pada kehamilan yang dipengaruhi oleh plasenta previa daripada
kehamilan tidak terpengaruh. Penyebab saat ini tidak diketahui (Cunningham, [et al],
2006).

G. Penatalaksanaan
Menurut Nugroho (2010), penatalaksanaan plasenta previa adalah:
1. Bila usia kehamilan kurang 37 minggu atau berat badan janin kurang 2500 gram.
a. Perdarahan sedikit, Keadaan ibu dan janin baik maka biasanya penanganan
konservatif sampai usia kehamilan aterm.
b. Tirah baring,
c. Bila selama 3 hari tidak ada perdarahan pasien mobilissasi secara bertahap,
d. Bila setelah pasien berjalan tetap tidak ada perdarahan pasien boleh pulang,
e. Pasien dianjurkan agar tidak coitus, tidak bekerja keras dan segera kerumah sakit
jika terjadi perdarahan.
2. Bila usia kehamilan 37 minggu atau lebih dan berat badan janin 2500 gram.
a. Pada kondisi ini maka dilakukan penanganan secara aktif yaitu segera mengakhiri
kehamilan, baik secara pervaginam atau perabdominal.

b. Persalinan dengan sectio caesaria diindikasikan untuk plasenta previa totalis baik
janin mati atau hidup, plasenta previa lateralis dimana perbukaan.

10
BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengumpulan data
1. Anamnesa

11
a. Identitas klien: Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan,
pendidikan, alamat, medicalrecord dll.
b. Keluhan utama: Gejala pertama; perdarahan pada kehamilan setelah
28 minggu/trimester III.
1) Sifat perdarahan; tanpa sebab, tanpa nyeri, berulang
2) Sebab perdarahan; placenta dan pembuluh darah yang robek;
terbentuknya SBR, terbukanya osteum/ manspulasi
intravaginal/rectal.
3) Sedikit banyaknya perdarahan; tergantung besar atau
kecilnya robekan pembuluh darah dan placenta.
c. Inspeksi
1) Dapat dilihat perdarahan pervaginam banyak atau sedikit.
2) Jika perdarahan lebih banyak; ibu tampak anemia.
d. Palpasi abdomen
1) Janin sering belum cukup bulan; TFU masih rendah.
2) Sering dijumpai kesalahan letak
3) Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala
biasanya kepala masih goyang/floating

2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Obstetri
Memberikan imformasi yang penting mengenai kehamilan
sebelumnya agar perawat dapat menentukan kemungkinan masalah
pada kehamilansekarang. Riwayat obstetri meliputi:
1) Gravida, para abortus, dan anak hidup (GPAH)
2) Berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi
3) Pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat persalinan,
dan penolong persalinan
4) Jenis anetesi dan kesulitan persalinan
5) Komplikasi maternal seperti diabetes, hipertensi, infeksi, dan
perdarahan.
6) Komplikasi pada bayi
7) Rencana menyusui bayi
b. Riwayat mensturasi
Riwayat yang lengkap di perlukan untuk menetukan taksiran
persalinan(TP). TP ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir
(HPHT). Untuk menentukan TP berdasarkan HPHt dapat digunakan
rumus naegle, yaitu hari ditambah tujuh, bulan dikurangi tiga, tahun
disesuaikan.
c. Riwayat Kontrasepsi

12
Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibat buruk pada janin, ibu,
atau keduanya. Riwayat kontrasepsi yang lengkap harus didapatkan
pada saat kunjungan pertama. Penggunaan kontrasepsi oral sebelum
kelahiran dan berlanjut pada kehamilan yang tidak diketahui dapat
berakibat buruk pada pembentukan organ seksual pada janin.
d. Riwayat penyakit dan operasi:
Kondisi kronis seperti dibetes melitus, hipertensi, dan penyakit ginjal
bisa berefek buruk pada kehamilan. Oleh karena itu, adanya riwayat
infeksi, prosedur operasi, dan trauma pada persalinan sebelumnya
harus di dokumentasikan
e. Riwayat Psikososial
Pasien akan merasa cemas oleh karena kawatir akan kehamilan ibu
dan bayinya takut akan dioprasi takut apabila gambaran dirinya
berubah serta biaya oprasi dan perawatannya
f. Pola aktivitas sehari-hari
Pola aktivitas sehari-hari akan terganggu karena pendarahan pasien
harus bedrest dan setelah operasi masih terdapat efek anastesi serta
adanya perlukaan operasi yang menimbulkan nyeri

3. Pemeriksaan fisik
a. Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil:
1) Rambut dan kulit
a) Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting
susu dan linea nigra.
b) Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen
dan paha.
Laju pertumbuhan rambut berkurang.Wajah, mata :
pucat, anemis, hidung, gigi dan mulut, leher, buah
dada/ payudara: Peningkatan pigmentasi areola putting
susu, bertambahnya ukuran dan noduler
2) Jantung dan paru
a) Volume darah meningkat
b) Peningkatan frekuensi nadi

13
c) Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan
pembulu darah pulmonal.
d) Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
e) Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan
nafas.
f) Diafragma meningga.
g) Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan
dada.
3) Abdomen
a) Menentukan letak janin
b) Menentukan tinggi fundus uteri
4) Vagina
a) Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna
kebiruan ( tanda Chandwick)
b) Hipertropi epithelium
5) System musculoskeletal
a) Persendian tulang pinggul yang mengendur
b) Gaya berjalan yang canggung
c) Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan
dengan diastasis rectal

b. Khusus
1) Tinggi fundus uteri
2) Posisi dan persentasi janin
3) Panggul dan janin lahir
4) Denyut jantung janin

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d hilangnya cairan yang
berlebih
2. Gangguan perfusi jaringan pada janin b/d adanya perdarahan
3. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d kontraksi uterus
4. Gangguan Psikologis (cemas) b/d kurangnya pengetahuan tentang
perdarahan

C. Intervensi
1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d hilangnya cairan yang
berlebih
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan volume cairan
terpenuhi.

14
Kriteria hasil : Terpeliharanya kardiak output maksimal tanda – tanda vital
dalam batas normal, mukosa bibir tidak kering, keadaan tidak menurun.
Intervensi :
1) Anjurkan bedrest jika pasien dirawat dirumah
Rasional : pedarahan
2) Kaji adanya syok, cek vital sign, warna membran mukosa dan kulit
Rasional : membantu menentukan banyaknya darah yang hilang
cyanosis dan perubahan denyut nadi dan tekanan darah.
3) Monitoring intake dan out put kaji berat jenis urine tiap jam
Rasional : menentukan besarnya kehilangan darah dan
menggambarkan terjadinya perfusi ginjal.
4) Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena plasma darah atas dan
pocked sel.
Rasional : meningkatkan sirkulasi volume darah dan mengatasi
gejala – gejala syok.
5) Hindarkan pemeriksaan rectal atau vagina.
Rasional : pemeriksaan rektal atau vagina dapat meningkatan
perdarahan.

2. Gangguan perfusi jaringan pada janin b/d adanya perdarahan


Tujuan : Perdarahan maternal dapat diatasi sehingga tidak terjadi hipoxia
janin.
Kriteria hasil : Tidak terjadi hipoxia pada janin, detak jantung janin dalam
batas normal.
Intervensi :
1) Kaji dan catat DJJ catat bradikardi atau takikardi
Rasional : dicatat perubahan aktifitas janin
2) Catat perdarahan ibu dan kontraksi uterus, umur kehamilan dan
tinggi fundus
Rasional : jika kontraksi uterus disertai dilatasi serviks bedrest dan
pengobatan tidak efektif.
3) Anjurkan bedrest dengan posisi lateral kiri
Rasional : posisi lateral kiri meringankan tekanan inferior dan
meningkatkan sirkulasi gas janin dengan placenta.
4) Kolaborasi pemberian suplemen oksigen pada ibu
Rasional : peningkatan oksigen dapat mensuplai pada janin.
5) Kolaborasi dalam penggantian cairan yang hilang
Rasional : memelihara volume sirkulasi yang adekuat untuk transfor
oksigen.

3. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d kontraksi uterus


Tujuan : Mengurangi rasa nyeri
Kriteria hasil : Nyeri berkurang
Intervensi

15
1) Kaji skala nyeri pada pasien
Rasional : Mengetahui derajat nyeri dan tindakan terapi
2) Catat petunjuk nonverbal fisiologi dan psikologi
Rasional : Mengidentifikasi luas beratnya masalah
3) Kaji ulang faktor yang meningkatkan dan menurunkan nyeri
Rasional : Membantu membuat diagnosa
4) Mempertahankan tirah baring selama fase akut
Rasional : Meminimalkan stimulasi atau meningkatkan relaksasi
5) Berikan lingkungan istirahat dan batasi aktivitas
Rasional : Mengurangi kontraksi uteri

4. Gangguan Psikologis (cemas) b/d kurangnya pengetahuan tentang


perdarahan
Tujuan : Secara verbal pasien ( sederhana ) menyebabkan patofisiologi dan
tindakan dari situasi klinik.
Kriteria hasil : Pasien tampak tenang, pasien mampu melakukan tindakan
situasi klinik
Intervensi
1) Jelaskan perawatan dan kondisi perdarahan secara rasional
Rasional : pemberian informasi menjernihkan kesalah pahaman.
2) Beri kesempatan pasien untuk bertanya
Rasional : Pemberian klarifikasi dari kesalahpahaman, identifikasi
masalah dan kesempatan untuk memulai membangun

16
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Plasenta previa adalah plasenta yang letak abnormal, yaitu pada segmen bawah
uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau pembukaan jalan lahir
Dan masalah yang muncul pada konsep dasar plasenta previa adalah:
1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d hilangnya cairan yang
berlebih
2. Gangguan perfusi jaringan pada janin b/d adanya perdarahan
3. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d kontraksi uterus
4. Gangguan Psikologis (cemas) b/d kurangnya pengetahuan tentang perdarahan

B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini agar mahasiswa mampu memahami dan mengerti
konsep dasar dari plasenta previa , dan dapat memberikan kritik dan saran agar
pembuatan maklaah selanjutnya dapat lebih baik.

17
DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, dkk. 2006. Obstetri Williams Edisi ke 21. Jakarta: EGC.


Martin, Reeder dkk. 2011. Keperawatan Maternitas Kesehatan Wanita, Bayi, & Keluarga
Volume 1 Edisi 18. Jakarta: EGC.
Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC.
Purwaningsih, dkk. 2010. Asuhan Keperawatan Maternitas. Yogyakarta: Nuha Medika.
Nugroho, Taufan. 2011. Buku Ajar Obstretri. Yogyakarta: Nuha Medika.
Manuaba, C., Manuaba, F.,& Manuaba. 2008. Gawat Darurat Obstretri Ginekologi &
Obstretri Ginekologi Sosial. Jakarta: EGC.
Manuaba, C., Manuaba, F.,& Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstretri. Jakarta: EGC
.

Http://Asuhan_Keperawatan_pada_Ibu_Hamil.html
Http://Laporan_Pendahuluan_Asuhan_Keperawatan.html