Anda di halaman 1dari 54

BAB I

PIRAMIDA MAKANAN

Pengertian Piramida Makanan (Gizi Seimbang) – Yang dimaksud dengan Gizi


menurut kamus bahasa Indonesia adalah makanan pokok yang diperlukan bagi
pertumbuhan dan kesehatan badan. Asupan Gizi atau Nutrisi yang cukup merupakan
hal yang penting dalam menjaga kesehatan tubuh agar hidup lebih produktif dan
terhindar dari berbagai penyakit. Dikatakan “Gizi yang Cukup” karena asupannya
tidak boleh kurang dari kebutuhan ataupun melebihi kebutuhan tubuh kita.
Kekurangan Gizi akan menyebabkan tubuh lebih rentan terkena penyakit akibat
turunnya daya tahan tubuh sedangkan asupan Gizi yang berlebihan akan
menimbulkan resiko terkenanya penyakit seperti darah tinggi, serangan jantung,
stroke dan diabetes. Oleh karena itu, perlu adanya keseimbangan dalam
mengkonsumsi Gizi yang biasanya disebut dengan Gizi Seimbang yang
divisualisasikan seperti bentuk Piramida.
Gizi Seimbang yang biasanya digambarkan dengan bentuk Piramida Makanan
adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan
jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip
keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan dan berat badan
ideal.

Gambar 1. Tingkatan dalam Piramida Makanan


Tingkatan dalam Piramida Makanan

1
Piramida Makanan versi Indonesia terdiri dari 5 tingkatan makanan dan
minuman sesuai kebutuhan tubuh manusia serta 1 Tingkat pondasi hidup sehat seperti
berolahraga teratur dan menjaga berat badan yang ideal. Berikut ini adalah gambar
Piramida Makanan untuk menjaga keseimbangan Gizi yang dibutuhkan oleh tubuh
kita.
1. Tingkat Pertama
Tingkat Pertama atau tingkat dasar adalah dalam piramida makanan sehat
adalah menjaga berat badan ideal dan rutin berolahraga. Kedua unsur tersebut sangat
mempengaruhi kualitas hidup sehat kita. Salah satu alasan akan pentingnya olahraga
adalah dengan menggunakan aturan sederhana seperti dibawah ini :
“Perubahan Berat Badan sama dengan Kalori yang masuk dikurangi dengan
Kalori yang keluar”
Dengan berolahraga kita dapat membakar kalori yang kita konsumsi dan menjaga
tubuh tetap berada di berat badan yang ideal. Makan lebih banyak daripada yang
dibakar akan menyebabkan pertambahan lemak dan berat badan sehingga
menimbulkan penyakit-penyakit yang berkaitan dengan kelebihan berat badan
tersebut.
2. Tingkat Kedua
Air memegangkan peranan yang sangat penting dalam tubuh manusia. Dalam
tubuh manusia, air berfungsi sebagai pembentuk sel dan cairan tubuh, pengatur suhu
tubuh, pelarut zat-zat gizi lainnya dan sebagai pembantu dalam proses pencernaan.
Dalam satu hari, tubuh kita memerlukan 8 gelas air atau setara dengan 2 liter air.
3. Tingkat Ketiga
Tingkat ketiga adalah makanan-makanan yang merupakan sumber karbohidrat
tinggi seperti Nasi, Kentang, Roti, Biskuit, Jagung dan Ubi. Makanan-makanan
tersebut biasanya disebut dengan makanan pokok yang biasanya dikonsumsi 3 hingga
8 porsi sehari.

4. Tingkat Keempat

2
Tingkat keempat dari Piramida Makanan adalah sayur-sayuran dan buah-buahan
yang merupakan sumber serat, vitamin dan mineral. Sayur-sayuran sebaiknya
dikonsumsi 3 hingga 5 porsi sedangkan buah-buah dapat dikonsumsi 2 sampai 3 porsi
sehari.
5. Tingkat Kelima
Tingkat kelima adalah makanan-makanan yang merupakan sumber protein baik
protein nabati maupun protein hewani. Protein Nabati adalah protein yang berasal
dari tumbuh-tumbuhan seperti Kacang-kacangan dan makanan olahannya (tempe,
tahu). Sedangkan Protein Hewani adalah Protein yang didapat dari hewan diantaranya
seperti daging sapi, ikan, ayam, telur dan produk-produk susu. Makanan-makanan
yang berprotein (nabati dan hewani) sebaiknya dikonsumsi 2 hingga 3 porsi setiap
hari.
6. Tingkat Tertinggi (Puncak)
Tingkat Tertinggi atau posisi Puncak merupakan makanan-makanan yang tingkat
konsumsinya harus dibatasi. Hal ini dikarenakan tingkat kebutuhan butuh akan
makanan-makanan tersebut sangat rendah. Makanan-makanan tersebut diantaranya
adalah Garam, Gula dan Minyak.

Gizi Seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat


gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Pada tahun 1992 di
Roma, Italia diadakan Kongres Gizi Internasional yang merekomendasikan agar
setiap negara menyusun Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) untuk
menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang andal. Oleh karena itu Indonesia
melalui Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Departemen Kesehatan (Depkes) membuat
pedoman umum gizi seimbang dengan logo yang berbentuk kerucut atau tumpeng
yang terdiri dari 3 tingkat, yaitu : tingkat dasar menggambarkan sumber zat tenaga,
yaitu padi-padian, umbi-umbian, dan tepung-tepungan; tingkat kedua diisi kelompok
makanan sumber zat pengatur, yaitu sayur-sayuran dan buah-buahan; serta puncak
tumpeng berisi kelompok makanan sumber zat pembangun, yaitu gabungan makanan
hewani (termasuk susu) dan nabati.

3
Pedoman Umum Gizi Seimbang memperhatikan 4 prinsip, yaitu:
1. Variasi makanan
2. Pentingnya pola hidup bersih
3. Pentingnya pola hidup aktif dan olahraga
4. Memantau berat badan ideal
Di Indonesia, pedoman umum gizi seimbang (PUGS) tersebut dijabarkan
sebagai 13 pesan dasar yang dapat dijadikan pedoman bagi setiap penduduk untuk
medapatkan pola makan yang sehat dan seimbang. 13 pesan dasar gizi seimbang
tersebut adalah :
1. Makanlah aneka ragam makanan, yaitu makanan sumber zat tenaga
(karbohidrat), zat pembangun (protein), serta zat pengatur (vitamin dan
mineral).
2. Makanlah makanan untuk memenuhi kebutuhan energi. Kebutuhan tersebut
dapat dipenuhi dari tiga sumber utama, yaitu karbohidrat, protein dan lemak.
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi.
Konsumsi gula sebaiknya dibatasi 5% dari jumlah kecukupan energi atau
sekitar 3-4 sendok per hari. Seyogyanya sekitar 50-60% kebutuhan energi
diperoleh dari karbohidrat kompleks atau setara dengan 3-4 piring nasi.
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan
energi. Mengkonsumsi lemak hewani secara berlebihan dapat menyebabkan
penyempitan pembuluh darah arteri dan penyakit jantung koroner.
5. Gunakan garam beryodium untuk mencegah timbulnya gangguan akibat
kekurangan yodium (GAKI). GAKI dapat menghambat perkembangan tingkat
kecerdasan anak, penyakit gondok, dan kretin (kerdil). Dianjurkan untuk
mengkonsumsi garam tidak lebih dari 6 gram (1 sendok teh) per hari.
6. Makanlah makanan sumber zat besi untuk mencegah anemia. Sumber yang
baik adalah sayuran berwarna hijau, kacang-kacangan, hati, telur dan daging.
7. Pemberian ASI saja kepada bayi sampai berumur 4 bulan. Pemberian ASI
secara eksklusif ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi hingga
umur 4 bulan, setelah itu perlu diberikan makanan pendamping air susu ibu
(MP-ASI).

4
8. Biasakan makan pagi (sarapan) untuk memelihara ketahanan fisik dan
meningkatkan produktivitas kerja.
9. Minumlah air bersih, aman dan cukup jumlahnya, yaitu minimal 2 liter atau
setara dengan 8 gelas setiap harinya, agar proses faali dalam tubuh dapat
berlangsung dengan lancar dan seimbang.
10. Lakukan kegiatan fisik dan olah raga secara teratur untuk mencapai berat
badan normal dan mengimbangi konsumsi energi yang berlebihan.
11. Hindari minum minuman beralkohol.
12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan, yaitu bebas dari cemaran
bahan kimia dan mikroba berbahaya, yang dapat menyebabkan sakit.
13. Bacalah label pada makanan yang dikemas, untuk mengetahui komposisi
bahan penyusun (ingridien), komposisi gizi, serta tanggal kadaluarsa.
2. Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS)
Menurut Almatsier (2004), PUGS disusun untuk mencapai dan memelihara
kesehatan dan kesejahteraan gizi (nutritional well-being) semua yang merupakan
prasyarat untuk pembangunan sumber daya manusia. Dalam PUGS, susunan
makanan yang dianjurkan adalah yang menjamin keseimbangan zat-zat gizi. Hal ini
dapat dicapai dengan mengkonsumsi beraneka ragam makanan tiap hari. Tiap
makanan dapat saling melengkapi dalam zat-zat gizi yang dikandungnya. PUGS
merupakan penjabaran lebih lanjut dari pedoman 4 Sehat 5 Sempurna yang memuat
pesan-pesan yang berkaitan dengan pencegahan baik masalah gizi kurang, maupun
masalah gizi lebih. Pengelompokan makanan didasarkan pada tiga fungsi utama zat-
zat gizi, yaitu sumber zat energi/tenaga yang dapat berupa padi-padian,
tepungtepungan, umbi-umbian, sagu, dan pisang yang dibeberapa bagian di Indonesia
juga dimakan sebagai makanan pokok. Sebagai sumber zat pembangun berupa
sayuran dan buah, serta sumber zat pengatur berupa ikan, ayam, telur, daging, susu,
kacang-kacangan dan hasil olahannya, seperti tempe, tahu dan oncom. Untuk
mencapai gizi seimbang hendaknya susunan makanan sehari terdiri dari campuran
ketiga kelompok bahan makanan tersebut. Dari tiap kelompok dipilih salah satu atau
lebih jenis bahan makanan sesuai dengan ketersediaan bahan makanan tersebut di
pasar, keadaan sosial ekonomi, nilai gizi, dan kebiasaan makanan (Almatsier, 2004).
Menurut Baliwati (2004), PUGS memuat tiga belas pesan dasar yang
diharapkan dapat digunakan masyarakat luas sebagai pedoman praktis untuk

5
mengatur makanan sehari-hari yang seimbang dan aman guna mencapai dan
mempertahankan status gizi dan kesehatan yang optimal. Ketiga belas pesan dasar
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Makanlah aneka ragam makanan.
2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi.
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi.
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kebutuhan
energi.
5. Gunakan garam beryodium.
6. Makanlah makanan sumber zat besi.
7. Berikan ASI saja kepada bayi sampai umur empat bulan.
8. Biasakan makan pagi.
9. Minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya.
10. Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur.
11. Hindari minum minuman beralkohol.
12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.
13. Bacalah label pada makanan yang dikemas.

3. Pengecekan Pola Makan


Ada cara sederhana untuk mengecek apakah pola makan Anda selama ini
sudah cukup baik atau belum, yaitu dengan menggunakan metode Body Mass Index
(BMI).
berat badan (dalam kilogram)
BMI= -------------------------------------------
kuadrat tinggi badan (dalam meter)
Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat atau
cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang
berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Berat badan kurang dapat
meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih akan
meningkatkan resiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu,
mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia
harapan hidup yang lebih panjang.
Pedoman ini bertujuan memberikan penjelasan tentang cara-cara yang
dianjurkan untuk mencapai berat badan normal berdasarkan IMT dengan penerapan
hidangan sehari-hari yang lebih seimbang dan cara lain yang sehat.
Untuk memantau indeks massa tubuh orang dewasa digunakan timbangan
berat badan dan pengukur tinggi badan.

6
4. IMT
Dengan IMT akan diketahui apakah berat badan seseorang dinyatakan normal,
kurus atau gemuk. Penggunaan IMT hanya untuk orang dewasa berumur > 18 tahun
dan tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil, dan olahragawan.
Batas ambang IMT ditentukan dengan merujuk ketentuan FAO/WHO, yang
membedakan batas ambang untuk laki-laki dan perempuan. Disebutkan bahwa batas
ambang normal untuk laki-laki adalah: 20,1 - 25,0; dan untuk perempuan adalah :
18,7 -23,8. Untuk kepentingan pemantauan dan tingkat defisiensi kalori ataupun
tingkat kegemukan, lebih lanjut FAO/WHO menyarankan menggunakan satu batas
ambang antara laki-laki dan perempuan. Ketentuan yang digunakan adalah
menggunakan ambang batas laki-laki untuk kategori kurus tingkat berat dan
menggunakan ambang batas pada perempuan untuk kategori gemuk tingkat berat.
Untuk kepentingan Indonesia, batas ambang dimodifikasi lagi berdasarkan
pengalaman klinis dan hasil penelitian di beberapa negara berkembang. Pada
akhirnya diambil kesimpulan, batas ambang IMT untuk Indonesia adalah sebagai
berikut (Direktorat Gizi Masyarakat, RI):

Kategori IMT
Kurus Kekurangan Berat < 17,0
Badan Tingkat Berat
Kekurangan Berat 17,0 - 18,4
Badan Tingkat
Rendah
Normal 18,5 – 25,0
Gemuk Kelebihan Berat 25,1 – 27,0
Badan Tingkat
Ringan
Kelebihan Berat >27,0
Badan Tingkat Berat

Kategori seseorang menurut IMT-nya :


1. IMT < 17,0: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan berat
badan tingkat berat atau Kurang Energi Kronis (KEK) berat.
2. IMT 17,0 – 18,4: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan
berat

7
badan tingkat ringan atau KEK ringan.
3. IMT 18,5 – 25,0: keadaan orang tersebut termasuk kategori normal.
4. IMT 25,1 – 27,0: keadaan orang tersebut disebut gemuk dengan kelebihan
berat
badan tingkat ringan.
5. IMT > 27,0: keadaan orang tersebut disebut gemuk dengan kelebihan berat
badan tingkat berat

Contoh cara menghitung IMT:


Wendra Kurniansyah dengan tinggi badan 175 cm dan berat badan 55 kg, maka IMT-
nya:

Status gizi Wendra adalah kekurangan berat badan tingkat ringan. Wendra
dianjurkan menaikkan sedikit berat badan sampai menjadi normal antara 56-76 kg
dengan IMT 18,5 – 25,0.
BAB II
DIABETES

Berikut ini adalah jenis-jenis diabetes atau macam diabetes:


1. Jenis Diabetes mellitus tipe 1
Diabetes mellitus tipe 1 atau yang sering disebut insulin Dependent Diabetes.
Mellitus adalah jenis diabetes yang disebabkan karena kekurangan hormon insulin
akibat dari kerusakan pancreas (organ membuat hormone tersebut). Kerusakan
pancreas ini bisa dilatarbelakangi masalah genetic (keturunan) atau kerusakan karena
kegagalan system kekebalan tubuh (autoimun). Hal ini yang paling menonjol pada
penderita penyakit ini adalah penderita biasanya berusia kurang dari 30 tahun
(meskipun sebenarnya gejala penyakit ini bisa timbul pada usia berapapun). Orang
yang terkena diabetes jenis ini biasanya menjadi lebih kurus dan tergantung pada
pemberian hormone insulin dari luar tubuh.

8
2. Jenis Diabetes Melitus Tipe 2
Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe II yang disebabkan faktor
keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang
terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata DM tipe II lebih sering
terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang
dijalaninya.
Tipe ini dapat disebabkan oleh dua hal yakni berkurangnya kemampuan sel
dalam tubuh untuk mematuhi hormon perintah hormon insulin dan kerusakan fungsi
pankreas sehingga produksi hormon insulin tidak dapat memenuhi kebutuhan tubuh
secara keseluruhan. Seperti dijelaskan sebelumnya, apabila sel tubuh terlalu sering
terpapar kadar gula arah yang tinggi secara terus menerus , gembok yang berupa
reseptor insulin akan tidak lagi cocok/ peka dengan insulin(kuncinya).
Disamping itu, pankreas sebagai pabrik penghasil insulin, dalam keadaan
asupan karbohidrat dan gula yang tinggi, berusaha menyesuaikan dengan
memproduksi insuliln yang lebih banyak. Jika hal itu terjadi terus-menerus, maka
mesin pancreas yang dipaksa bekerja terus-menerus itu akan perlahan-lahan akan
mengalami kerusakaan. Kegemukan/obesitas juga dikatakan sebagai faktor penyebab
Diabetes tipe 2 ini, dikarenakan pada orang yang obese kadar asam lemak yang tinggi
dalam darah menjadi radikal bebas yang merusak gembok/reseptor insulin dalam sel.
Diabetes jenis ini dikenal juga sebagai Non-insulin Dependent Diabete Melitus
karena terapinya tidak hanya bergantung pada insulin semata. Orang yang didiagnosis
diabetes tipe 2 umumnya berusia lebih dari 30 tahun, walaupun sekarang seringkali
muncul pula pada usia muda dan anak-anak.
Orang yang kegemukan (obesitas) lebih cenderung memiliki resistensi insulin
karena lemak mengganggu kemampuan tubuh untuk menggunakan insulin.Resistensi
insulin disebut juga dengan gula darah tidak masuk ke dalam sel-sel otot untuk
disimpan jadi energi.Bila gula tidak bisa masuk sel, maka gula di dalam peredaran darah
menjadi tinggi atau disebut juga dengan hiperglikemia. Tingginya kadar gula dalam darah

9
sering memicu pankreas untuk memproduksi insulin lebih banyak, namun pankreas tidak
mampu menyanggupinya.
Diagnosis Diabetes Melitus
Diagnosis diabetes melitus biasanya diikuti dengan adanya gejala poliuria,
polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
penyebabnya. Diagonosis diabetes melitus dapat dipastikan apabila hasil pemeriksaan
kadar glukosa darah sewaktu 2 jam setelah makan ≥ 200 mg/dl dan hasil pemeriksaan
kadar glukosa darah puasa ≥ 126 mg/dl. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.1
berikut ini.
Tabel. Kriteria penegakan diagnosis diabetes melitus
Glukosa plasma 2 jam
Glukosa plasma puasa
setelah makan
Normal < 100 mg/dl < 140 mg/dl
Diabetes Melitus ≥ 126 mg/dl ≥ 200 mg/dl
Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara:
a) Jika keluhan klasik ditemukan dan hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu
≥200 mg/dl
b) Atau Jika gejala klasik tersebut disertai hasil pemeriksaan glukosa darah puasa
≥ 126 mg/dl
c) Jika kadar glukosa darah 2 jam pada TTGO ≥200 mg/dl3.

10
Tanda dan Gejala
 Gejala Klinis
1. Gejala Khas :
- poliuria (sering buang air kecil)
- poliphagia (sering lapar)
- polidipsia (sering haus)
- lemas, dan mudah mengantuk
- berat badan menurun dengan cepat tanpa sebab yang jelas
2. Gejala Lain :
- gatal-gatal (pruritus)
- penglihatan kabur
- gatal di kemaluan (wanita)
- kesemutan
- luka susah kering

 Gambaran Laboratorium
- Kriteria diagnostik DM menurut PERKENI 2006 atau yang dianjurkan ADA
(American Diabetes Association) yaitu bila terdapat salah satu atau lebih hasil
pemeriksaan gula darah dibawah ini:
1. Kadar gula darah sewaktu (plasma vena) lebih atau sama dengan 200 mg/dl
2. Kadar gula darah puasa (plasma vena) lebih atau sama dengan 126 mg/dl
(puasa = tidak ada asupan makanan/kalori sejak 10 jam terakhir)
3. Kadar glukosa plasma lebih atau sama dengan 200 mg/dl pada 2 jam
sesudah beban glukosa 75 gram pada Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO).

11
Sedangkan nilai normal gula darah, seperti berikut:
- Gula darah sebelum makan atau puasa: 80-110 mg/dl, sedangkan gula darah 1
jam setelah makan <180 mg/dl.
- Tidak adanya bukti autoimunitas atau antibodi terhadap sel langerhans
- Tidak adanya hubungan dengan jenis HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu
3. Jenis Diabetes Kehamilan
Diabetes kehamilan dapatterjadi karena dalam proses kehamilan yang disertai
perubahan-perubahanhormone yang dialami oleh ibu hamil dapat berdampak pada
peningkatan kadar gula darah selama kehamilan., tetapi diagnosis diabetes kehamilan
ditegakkan tersendiri, dan tidak selalu didapatkan pada ibu hamil. Wanita yang telah
memiliki masalah gula darah sebelumnya, akan lebih berisiko mengalami diabetes
gestasional pada saat dia hamil, dengan kata lain kehamilan memperberat kondisi
masalah gula darah atau diabetes yang telah dialami sebelumnya.
4. Jenis Diabetes Spesifik
Banyak faktor lain yang bisa menyebabkan seseorang mengalami diabetes
mellitus. Faktor-faktor tersebut dapat berkaitan dengan:
1. Penyakit pada pancreas: tumor, infeksi, peradangan, dll.
2. Pengaruh obat-obatan atau bahan kimia
3. Infeksi secara umum
4. Sindroma khusus yang berkaitan dengan diabetes seperti Down Syndrome
Diperlukan pemantauan kadar gula darah secara teratur baik dilakukan secara
mandiri dengan alat tes kadar gula darah sendiri di rumah atau dilakukan di
laboratorium terdekat untuk menghindari keparahan dari diabetes tersebut.
Pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan, olah raga dan diet.
Seseorang yang obesitas dan menderita diabetes tipe 2 tidak akan memerlukan
pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolah raga secara teratur.
Namun, sebagian besar penderita merasa kesulitan menurunkan berat badan dan
melakukan olah raga yang teratur. Karena itu biasanya diberikan terapi sulih insulin
atau obat hipoglikemik (penurun kadar gula darah) per-oral. Diabetes tipe 1 hanya
bisa diobati dengan insulin tetapi tipe 2 dapat diobati dengan obat oral. Jika

12
pengendalian berat badan dan berolahraga tidak berhasil maka dokter kemudian
memberikan obat yang dapat diminum (oral = mulut) atau menggunakan insulin.
Pengaturan diet sangat penting. Biasanya penderita tidak boleh terlalu banyak
makan makanan manis dan harus makan dalam jadwal yang teratur. Penderita
diabetes cenderung memiliki kadar kolesterol yang tinggi, karena itu dianjurkan
untuk membatasi jumlah lemak jenuh dalam makanannya. Tetapi cara terbaik untuk
menurunkan kadar kolesterol adalah mengontrol kadar gula darah dan berat badan.

I. Pencegahan Sebelum Terkena DM Tipe II


Gizi dan olah raga diketahui sebagai faktor pencegah, tapi makanan mana
yang paling baik dan mengapa masih ada perdebatan sebab sangat sedikit kajian yang
berkualitas baik telah dilaksanakan, demikian laporan kantor berita Prancis, AFP.
Kita bisa mencegah diabetes tipe II melalui perubahan gaya hidup. Membuat
beberapa perubahan sederhana dalam gaya hidup Kita sekarang dapat membantu Kita
mencegah dan mengendalikan diabetes.
Secara umum, kita dapat mencegah penyakit diabetes tipe II ini dengan
mengikuti Pedoman Gizi Seimbang “Piramida Makanan”. Selain itu, pertimbangkan
beberapa tips pencegahan diabetes berikut:
1. Lakukan lebih banyak aktivitas fisik
Ada banyak manfaat berolahraga secara teratur. Olahraga dapat membantu
meningkatkan sensitivitas tubuh Kita terhadap insulin, yang membantu menjaga
kadar gula darah dalam kisaran normal. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan
pada pria yang diikuti selama 10 tahun, untuk setiap 500 kkal yang dibakar per
minggu melalui latihan, ada penurunan 6% risiko relatif untuk pengembangan
diabetes. Penelitian itu juga mencatat manfaat yang lebih besar pada pria yang lebih
gemuk.
Dengan meningkatkan olahraga, tubuh menggunakan insulin lebih efisien
sampai 70 jam setelah latihan. Jadi, berolahraga 3-4 kali seminggu akan bermanfaat
pada kebanyakan orang. Penelitian menunjukkan bahwa baik latihan aerobik dan
latihan ketahanan dapat membantu mengendalikan diabetes, tapi manfaat terbesar

13
berasal dari program fitness yang meliputi keduanya. Perlu dicatat bahwa banyak
manfaat olahraga independen terhadap penurunan berat badan. Namun, bila
dikombinasikan dengan penurunan berat badan, keuntungannya meningkat secara
substansial.
2. Dapatkan banyak serat dalam makanan
Makanan berserat tidak hanya mengurangi risiko diabetes dengan
meningkatkan kontrol gula darah tetapi juga menurunkan resiko penyakit jantung dan
menjaga berat badan ideal dengan membantu Kita merasa kenyang. Makanan tinggi
serat antara lain buah-buahan, sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan dan umbi-
umbian. Salah satu makanan tinggi serat yang terbukti dapat mengendalikan diabetes
adalah dedak padi atau bekatul.
3. Makanlah kacang-kacangan dan biji-bijian
Meskipun tidak jelas mengapa, biji-bijian dapat mengurangi risiko diabetes
dan membantu menjaga kadar gula darah. Dalam sebuah studi pada lebih dari 83.000
perempuan, konsumsi kacang-kacangan (dan selai kacang) tampaknya menunjukkan
beberapa efek perlindungan terhadap pengembangan diabetes. Wanita yang
mengkonsumsi lebih dari lima porsi satu-ons kacang per minggu menurunkan resiko
terkena diabetes dibandingkan wanita yang tidak mengkonsumsi kacang sama sekali.
4. Turunkan berat badan
Sekitar 80% penderita diabetes kegemukan dan kelebihan berat badan. Jika
Kita kelebihan berat badan, pencegahan diabetes dapat bergantung pada penurunan
berat badan. Setiap kg Kita kehilangan berat badan dapat meningkatkan kesehatan
Kita. Dalam sebuah penelitian, orang dewasa yang kegemukan mengurangi risiko
diabetes mereka sebesar 16 persen untuk setiap kilogram berat badan yang hilang.
Juga, mereka yang kehilangan sejumlah berat setidaknya 5 sampai 10 persen berat
badan awal dan berolahraga secara teratur mengurangi risiko diabetes hampir 60
persen dalam tiga tahun.
5. Perbanyak sayur dan buah segar
Makanlah beragam sayur dan buah setiap hari. Pilih buah dan sayur yang
segar. Buatlah jus dari 100 persen buah segar. Jangan ditambah gula karena buah

14
sudah cukup manis. Makanlah sayuran berdaun gelap seperti brokoli dan bayam,
sayuran warna oranye seperti wortel, ubi, waluh, serta kacang-kacangan.
6. Perbanyak minum produk susu rendah lemak
Data mengenai produk susu rendah lemak tampaknya berbeda-beda,
tergantung apakah Kita gemuk atau tidak. Pada penderita obesitas, semakin banyak
susu rendah lemak yang dikonsumsi, semakin rendah risiko sindrom metabolik.
Secara khusus, mereka yang mengkonsumsi lebih dari 35 porsi produk susu tersebut
seminggu memiliki risiko jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang
mengkonsumsi kurang dari 10 porsi seminggu. Menariknya, hubungan ini tidak
begitu kuat pada orang yang ramping.
7. Kurangi lemak hewani
Dalam sebuah penelitian terhadap lebih dari 42.000 orang, diet tinggi daging
merah, daging olahan, produk susu tinggi lemak, dan permen, dikaitkan dengan
peningkatan risiko diabetes hampir dua kali dari mereka yang makan diet sehat. Hal
ini independen terhadap berat badan dan faktor-faktor lain.
8. Kurangi konsumsi gula
Konsumsi gula saja tidak terkait dengan pengembangan diabetes tipe II.
Namun, setelah disesuaikan dengan berat badan dan variabel lainnya, tampaknya ada
hubungan antara minum minuman sarat gula dan pengembangan diabetes tipe II.
Wanita yang minum satu atau lebih minuman bergula sehari memiliki hampir dua kali
lipat risiko terkena diabetes daripada wanita yang minum satu per bulan atau kurang.
9. Berhenti merokok
Merokok tidak hanya berkontribusi pada penyakit jantung dan menyebabkan
kanker paru-paru tetapi juga terkait dengan perkembangan diabetes. Merokok lebih
dari 20 batang sehari dapat meningkatkan risiko diabetes lebih dari tiga kali lipat dari
orang yang tidak merokok. Alasan tepatnya untuk hal ini belum diketahui dengan
baik. Kemungkinan merokok secara langsung menurunkan kemampuan tubuh untuk
memanfaatkan insulin. Selain itu, ada juga hubungan antara merokok dan distribusi
lemak tubuh. Merokok cenderung mendorong bentuk tubuh “apel” yang merupakan
faktor risiko untuk diabetes.

15
10. Hindari lemak trans
Hindari mengkonsumsi lemak trans (minyak sayur terhidrogenasi) yang
banyak digunakan pada produk olahan dan makanan cepat saji. Mereka telah
menunjukkan berkontribusi pada penyakit jantung dan juga dapat menyebabkan
diabetes tipe II.
11. Kurangi garam
Gunakan lebih sedikit garam saat memasak. Kalau bisa jangan tambahkan
garam lagi saat di meja makan. Hindari sumber-sumber garam tersembunyi, seperti
acar, daging olahan, sayur kalengan.
12. Dapatkan dukungan
Dapatkan teman, keluarga atau sekelompok orang untuk membantu kita dalam
mencegah diabetes. Mereka dapat mendukung kita dalam memempertahankan gaya
hidup sehat baru kita.

II. Pengendalian dan Pengelolaaan Terhadap Penderita Diabetes Melitus Tipe II


Diabetes Melitus tidak dapat disembuhkan, namun hanya dapat dikendalikan
dan dikelola untuk menghindakan komplikasi yang rentan terjadi. Pengelolaan
diabetes dilakukan dengan tiga cara: obat, insulin, diet.
Mengelola diabetes melalui diet berarti menerapkan pola makan seimbang dan
membatasi diet secara terkendali. Hal ini berlaku untuk semua penderita diabetes,
tidak memandang jenis diabetesnya. Dalam beberapa kasus, pola diet yang baik saja
sudah cukup untuk mengendalikan diabetes tipe II.
Pola makan yang direkomendasikan untuk penderita diabetes berikut juga
baik untuk semua orang. Perbedaannya, pola makan ini jauh lebih penting
bagi penderita diabetes, karena tanpanya maka obat-obatan apa pun menjadi tidak
efektif.

16
Salah satu pola makan yang disarankan oleh ahli gizi dr. Andry Hartono D.A.
Nutr., dari RS Panti Rapih, Yogyakarta adalah Pola 3J yakni jumlah kalori, jadwal
makan, dan jenis makanan.
 Bagi penderita yang tidak mempunyai masalah dengan berat badan tentu lebih
mudah untuk menghitung jumlah kalori sehari-hari. Caranya, berat badan (BB)
dikalikan 30. Misalnya, orang dengan berat badan 50 kg, maka kebutuhan kalori
dalam sehari adalah 1.500 (50 x 30). Kalau yang bersangkutan menjalankan
olahraga, kebutuhan kalorinya pada hari berolahraga ditambah sekitar 300-an
kalori. Sebagai pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari untuk penderita
diabetes melitus yang bekerja biasa sebagai berikut:
 Kurus = BB x 40-60 kalori/hari
 Normal = BB x 30 kalori/hari
 Gemuk = BB x 20 kalor/hari
 Obesitas = BB x 10-15 kalori/hari
 Jadwal makan pengidap diabetes dianjurkan lebih sering dengan porsi sedang.
Maksudnya agar jumlah kalori merata sepanjang hari. Tujuan akhirnya agar
beban kerja tubuh tidak terlampau berat dan produksi kelenjar ludah perut tidak
terlalu mendadak. Di samping jadwal makan utama pagi, siang, dan malam,
dianjurkan juga porsi makanan ringan di sela-sela waktu tersebut (selang waktu
sekitar tiga jam).
 Jenis makanan yang perlu dibatasi adalah makanan berkalori tinggi seperti nasi,
daging berlemak, jeroan, kuning telur. Juga makanan berlemak tinggi seperti es
krim, ham, sosis, cake, coklat, dendeng, makanan gorengan. Sayuran berwarna
hijau gelap dan jingga seperti wortel, buncis, bayam, caisim bisa dikonsumsi
dalam jumlah lebih banyak, begitu pula dengan buah-buahan segar. Namun,
perlu diperhatikan bila penderita menderita gangguan ginjal, konsumsi sayur-
sayuran hijau dan makanan berprotein tinggi harus dibatasi agar tidak terlalu
membebani kerja ginjal.
Pilihlah makanan yang memiliki indeks glikemik yang rendah. Indeks
glikemik merupakan besarnya peningkatan glukosa darah yang terjadi setelah
konsumsi makanan. Indeks ini mengukur seberapa banyak gula darah Anda
meningkat dalam dua atau tiga jam setelah makan.

17
Ketika Anda menggunakan indeks glikemik untuk menyiapkan makanan
sehat, membantu untuk menjaga tingkat gula darah terkendali. Glycemic Index
(GI) cenderung lebih rendah untuk makanan yang tersedia dalam partikel yang
relatif besar, minimal diproses, dan tertelan bersama dengan lemak dan protein.
Di bawah ini adalah pedoman umum untuk makanan yang termasuk
Glycemic
Index (GI) tinggi atau rendah.
Makanan GI tinggi
Makanan berikut ini dianggap tidak dapat diterima:
• Makanan yang mengandung gula, madu, sirup gula, dan sirup jagung.
• Roti - semua roti putih, semua produk tepung putih, roti jagung
• Biji-bijian - beras, produk beras, jagung, produk jagung
• Sereal - semua sereal kecuali dalam Daftar GI rendah di bawah
• Pasta - tebal, bentuk pasta besar
• Buah-buahan - pisang, semangka, nanas, kismis
• Sayuran - kentang, jagung, wortel, bit, lobak
• Makanan ringan - keripik kentang, keripik jagung, popcorn, kue beras
• Alkohol - bir, semua minuman keras kecuali anggur merah
Makanan Rendah GI
Lihatlah apa yang dapat dikonsumsi:
• Roti - gandum utuh
• Biji-bijian - gandum, bulgur, kasha
• Sereal - oatmeal biasa
• Pasta - pasta gandum
• Semua daging
• Semua produk susu (bebas gula)
• Seluruh Buah - semua kecuali buah GI Tinggi di atas
• Sayuran berdaun Hijau - semua kecuali sayuran GI Tinggi yang tercantum di
atas
• Makanan ringan - kacang-kacangan, buah zaitun, keju
• Alkohol - anggur merah
• Lain-lain. - telur, selai kacang (gula)

III. Piramida Makanan untuk Diabetes


Penyebab timbulnya penyakit diabetes karena terjadi gangguan metabolisme,
dimana pemanfaatan karbohidrat terutama glukosa kurang optimal. Dengan kata lain
diabetes terjadi karena terjadi gangguan metabolisme karbohidrat. Sedangkan
karbohidrat dihasilkan dari makanan sehari-hari yang kita konsumsi.

18
Oleh sebab itu pasien diabetes sangat perlu mengetahui jenis-jenis makanan
yang akan mereka konsumsi untuk menghindari terjadi peningkatan kadar gula darah
yang tinggi. American Diabetes Association (ADA) mengeluarkan sebuah panduan
untuk membantu pasien diabetes memilih makanan sehari-hari mereka berdasarkan
yang disebut dengan Piramida Makanan Diabetes.
Di dalam Piramida Makanan Diabetes, makanan sehari-hari kita dibagi
menjadi enam kategori umum. Keenam kategori tersebut dikelompokan berdasarkan
pertimbangan kadar karbohidrat, protein dan lemak yang terdapat didalam makanan.
Tujuan dasar dibuatnya piramida makanan diabetes adalah untuk membantu
pasien diabetes membuat pilihan makanan yang tepat secara umum karena tidak
memungkinkan membuatnya untuk masing-masin penderita diabetes. Lagi pula setiap
penderita diabetes tidak memiliki pengetahuan tentang nilai gizi setiap makanan.
Secara umum makanan dari dasar dan lapisan kedua dari piramida makanan diabetes
bisa dikonsumsi secara bebas dengan pembatasan dari lapisan yang lebih tinggi dari
piramida makanan diabetes.
Semakin tinggi kelompok makanan yang terdapat di dalam piramida
makanan diabetes, semakin sedikit kelompok makanan tersebut dapat
dikonsumsi atau dihindari oleh seorang pasien diabetes.
Adapun piramida makanan diabetes yang membagi makanan sehari-hari
menjadi 6 kelompok adalah sebagai berikut:

19
Biji-bijian dan Tepung (kelompok 1):
Makanan yang terbuat dari biji-bijian dan tepung terdapat di dasar piramida
makanan diabetes. Kelompok makanan biji-bijian dan tepung yang banyak
mengandung karbohidrat seperti beras, gandum, rye, gandum, jagung, kacang polong
kentang, kacang pinto, dan makanan lainnya yang biasa menggunakan biji-bijian
masuk dalam kelompok ini.
Sayuran (kelompok 2):
Kelompok makanan sayuran ini terletak tepat di atas dasar piramida makanan
diabetes. Sayuran secara alami rendah dalam konten lemak, rendah kalori dan kaya
vitamin, mineral, serat dan zat gizi mikro.
Buah-buahan (kelompok 3):
Kelompok buah-buahan ini juga terletak tepat di atas dasar piramida makanan
diabetes bersama dengan kelompok sayuran. Buah-buahan kaya akan vitamin,
mineral, serat dan juga karbohidrat.
Susu (kelompok 4):
Kelompok ini berada di atas lapisan kedua (sayuran dan buah) dari piramida
makanan diabetes. Kelompok susu mengandung banyak protein dan kalsium serta
vitamin banyak. Dari kategori susu pasien diabetes harus memilih produk susu
dengan kadar lemak rendah.
Daging, Pengganti Daging dan Protein Lainnya (kelompok 5):
Kelompok ini bersama kelompok susu dalam piramida makanan diabetes
mengandung protein dalam jumlah yang sangat tinggi dan mengandung vitamin serta
mineral sangat banyak.
Lemak, Minyak, Manis dan Alkohol (kelompok 6):

20
Kelompok makanan ini terdapat di puncak piramida makanan diabetes, yang
menandakan bahwa kelompok makanan hanya boleh dikonmsi sedikit oleh penderita
diabetes dan sebaiknya dihindari.

Piramida Makanan untuk penderita diabetes dapat dibagi menjadi enam kelompok.

 Biji-bijian, Kacang, dan Sayuran bertepung (6 porsi atau lebih)


Makanan seperti roti, biji-bijian, kacang-kacangan, nasi, pasta, dan sayuran
mengandung zat tepung yang di bagian bawah piramida karena mereka harus
menjadi dasar dari diet Anda - bersama sebagai kelompok, mereka yang sarat
dengan vitamin, mineral, serat, dan karbohidrat yang sehat. Tapi kuncinya adalah,
pilih sumber dengan banyak serat. Pilih gandum makanan seperti roti gandum
atau biskuit, tortilla, sereal bekatul, beras merah, atau kacang. Gunakan gandum
atau tepung gandum dalam memasak dan membakar.
 Sayur-sayuran (3 - 5 porsi)
Pilih sayuran segar atau beku tanpa saus menambahkan, lemak, atau garam. Anda
harus memilih untuk sayuran kuning lebih gelap hijau dan mendalam, seperti
bayam, brokoli, romaine, wortel, dan paprika.
1 cangkir sayuran mentah

21
1/2 cangkir sayuran yang dimasak
1/2 cangkir tomat atau sayuran

 Buah-buahan (2 - 4 porsi)
Pilih buah utuh lebih sering daripada jus. Mereka memiliki lebih banyak serat.
Jeruk buah-buahan, seperti jeruk, anggur, dan jeruk keprok, adalah yang terbaik.
Pilihlah jus buah tanpa pemanis ditambahkan atau sirup.
1 buah segar kecil
1/2 cangkir buah kaleng
1/4 cangkir buah kering
1/2 cangkir jus buah
 Susu (2 - 3 porsi)
Pilih susu rendah lemak atau tanpa lemak atau yogurt. Yogurt memiliki gula alami
di dalamnya, tetapi juga dapat mengandung tambahan gula atau pemanis buatan.
Yogurt dengan pemanis buatan memiliki kalori lebih sedikit dari yoghurt dengan
tambahan gula.
1 cangkir susu
1 cangkir yoghurt
 Daging, Ikan, dan Daging Pengganti (2 - 3 porsi)
Pilih ikan dan unggas lebih sering. Lepaskan kulit dari ayam dan kalkun. Pilih
potongan ramping dari permainan daging sapi, daging sapi muda. Potong semua
lemak yang terlihat dari daging.
2 - 3 ons dimasak tanpa lemak daging, unggas, atau ikan
1/2 - 3/4 cangkir tuna
2 - 3 ons keju
1 butir telur *
2 sendok makan. selai kacang *
4 ons tahu *

22
* Setara dengan 1 ons daging
 Lemak, Gula, dan Alkohol
Secara umum, Anda harus membatasi asupan makanan berlemak, terutama yang
tinggi lemak jenuh, seperti keju dan mentega. Gula tinggi lemak, sehingga
menjaga ukuran porsi kecil.
1/2 cangkir es krim
1 kecil cupcake atau muffin
2 kecil cookie
Satu hal yang perlu diingat: Tahu bagaimana menafsirkan label makanan dan
berkonsultasi dengan mereka ketika membuat keputusan makanan.

Diet Kalori Terbatas


Penderita bisa mengikuti contoh susunan menu diet B untuk 2.100 kalori
(Simbardjo dan Indrawati, B.Sc. dari bagian ilmu gizi RSUD Dr. Sutomo Surabaya)
seperti pada Tabel 1. Diet B tinggi serat itu termasuk diet diabetes umum, yang tidak
menderita komplikasi, tidak sedang berpuasa atau pun sedang hamil.
Menu diet B terdiri dari:
Protein 65.49 g
Lemak 45.89 g
Karbohidrat 377.45 g
Kolesterol 112.5 mg
 Makan pagi (pk. 06.30)
Nasi 110 g
Daging 25 g
Tempe 25 g
Sayuran A 100 g
Sayuran B 25 g
Minyak 5g
 Selingan (09.30)
Pisang 200 g
 Makan siang (12.30)
Nasi 150 g
Daging 40 g
Tempe 25 g
Sayuran A 100 g
Sayuran B 50 g
Minyak 10 g

23
 Selingan (15.30)
Pisang/kentang 200 g
Pepaya 100 g
 Makan malam (18.30)
Nasi 150 g
Daging 25 g
Tempe 25 g
Sayuran A 100 g
Sayuran B 50 g
Minyak 10 g
 Selingan (21.30)
Pisang/kentang 200 g
Pepaya 100 g

Sedangkan buku panduan “Perencanaan Makan Penderita Diabetes dengan


Sistem Unit” terbitan Klinik Gizi dan Klinik Edukasi Diabetes RS Tebet, menuliskan
tentang prinsip dasar diet diabetes, dengan pemberian kalori sesuai kebutuhan dasar.
Untuk wanita, kebutuhan dasar adalah (Berat Badan Ideal x 25 kalori) ditambah 20%
untuk aktivitas. Sedangkan untuk pria, (Berat Badan Ideal x 30 kalori) ditambah 20%
untuk aktivitas. Untuk menentukan berat badan ideal (BBI) bisa diambil patokan:
BBI = Tinggi Badan (cm) – 100 cm – 10%.
Contoh : seorang pria bertinggi badan 164 cm, berat badan 70 kg, maka BBI = 64 kg
– 10% = 58 kg. Kebutuhan kalori dasar = 58 x 30 kalori = 1.740 kalori. Ditambah
kalori aktivitas 20% = 2.088 kalori. Jadi, pria ini memerlukan diet sekitar 2.000 kalori
sehari.
Namun, rumusan ini tidak mutlak. Bila pasien sedang sakit, aktivitas berubah, atau
berat badan jauh dari ideal, maka kebutuhan kalori akan berubah. Bila berat badan
berlebih, jumlah kalori dikurangi dari kebutuhan dasar. Sebaliknya, bila pasien
mempunyai berat badan kurang, jumlah kalori dilebihkan dari kebutuhan dasar.
Begitu berat badan mencapai normal, jumlah kalori disesuaikan kembali dengan
kebutuhan dasar.
Prinsip makan selanjutnya adalah menghindari konsumsi gula dan makanan
yang mengandung gula. Juga menghindari konsumsi hidrat arang olahan yakni hidrat

24
arang hasil dari pabrik berupa tepung dengan segala produknya. Ditambah lagi
mengurangi konsumsi lemak dalam makanan sehari-hari (lemak binatang, santan,
margarin, dll.), sebab tubuh penderita mengalami kelebihan lemak darah.
Yang perlu diperbanyak justru konsumsi serat dalam makanan, khususnya
serat yang larut air seperti pektin (dalam apel), jenis kacang-kacangan, dan biji-bijian
(bukan digoreng).
Bila penderita juga mengalami gangguan pada ginjal, yang perlu diperhatikan
adalah jumlah konsumsi protein. Umumnya, digunakan rumus 0,8 g protein per
kilogram berat badan. Bila kadar kolesterol/trigliserida tinggi, disarankan melakukan
diet rendah lemak. Bila tekanan darahnya tinggi, dianjurkan mengurangi konsumsi
garam.
Kegagalan berdiet bisa disebabkan karena pasien kurang berdisiplin dalam
memilih makanannya atau tidak mampu mengurangi jumlah kalori makanannya. Bisa
juga penderita tidak mempedulikan saran dokter.
Untuk memudahkan penerapan, dibuat sistem unit 80 kalori. Tabel 2
menyajikan makanan yang mengandung 80 kalori per unitnya. Misalnya, seorang
pasien yang memerlukan 1.600 kalori per harinya, akan mendapat makanan 20 unit
sehari senilai 80 kalori setiap unitnya. Jumlah 20 unit terbagi atas sarapan empat unit,
makanan kecil (pk. 10.00) dua unit, makan siang enam unit, makanan kecil (pk.
16.00) dua unit, dan makan malam enam unit.
Tabel di bawah ini yang menunjukkan contoh lima kelompok makanan:
makanan pokok, lauk pauk, sayuran, makanan ringan/siap santap, buah-buahan, dan
minuman.
Jenis makanan A B C
Makanan pokok nasi roti kentang goreng

Lauk pauk pepes ikan sate rendang

Sayuran sayur bening lodeh buntil

Siap santap ketoprak burger pizza

25
Buah-buahan apel pisang anggur

Makanan ringan lemper kroket lapis legit

Minuman teh/kopi es campur minuman ringan

Makanan dalam kelompok A bisa dibilang berkomposisi paling baik, karena


mengandung serat dan atau rendah hidrat arang olahan serta rendah lemak. Sementara
golongan C kurang baik karena kandungan gulanya tinggi, rendah atau tanpa serat,
dan terlalu banyak lemak. Jadi, dianjurkan untuk memilih A atau B, bukan C. Nasi
lebih baik daripada bubur, karena kandungan serat lebih baik sehingga lebih lama
bertahan di usus. Pemanis gula bisa diganti dengan pemanis buatan.
Di sini diberikan pula contoh menu yang dapat diikuti (20 unit atau 1.600 kalori):
Makan pagi :
Setangkap roti tawar 1,50 unit
Sebutir telur ayam 1,25 unit
1 sendok teh selai 0,25 unit
1 gls susu skim 0,75 unit
Selingan :
Arem-arem 2,75 unit
Teh tanpa gula
Makan siang:
Nasi putih 1,25 unit
Daging cah kembang kol 3,00 unit
Sayur bening bayem 0,25 unit
Pepaya 0,50 unit

Selingan sore
Serabi pandan (kue basah) 1,75 unit
1 gls jus melon 0,50 unit
Makan malam
Nasi, sayur, daging, ikan goreng, 3,75 unit
gado-gado 0,25 unit
1 gls jus tomat
Selingan malam
1 pisang ambon 1,25 unit

Dengan melakukan diet yang teratur dan disiplin pasti kadar gula dapat dikendalikan.

26
IV. DIABETES MELITUS DAN KOMPLIKASI SECARA UMUM

Diabetes yang tidak terkelola dengan baik dalam jangka panjang dapat
menimbulkan berbagai gangguan (komplikasi kronik). Kadar glukosa darah yang
tinggi secara terus-menerus selama bertahun-tahun pada akhirnya merusak organ-
organ tubuh. Hampir seluruh organ tubuh dapat terpengaruh oleh diabetes kronis:
jantung, pembuluh darah, ginjal, mata, sistem saraf, dll.
Angka kesakitan dan kematian pada DM meningkat diberbagai negara, hal ini
selain dikaitkan dengan insidensi yang sangat cepat meningkat dan progresivitas
penyakitnya juga disebabkan faktor ketidaktahuan baik penderita maupun dokter
sendiri, atau penderita pada umumnya datang sudah disertai dengan komlikasi yang
lanjut dan berat.
Kalau ditinjau lebih dalam lagi, ternyata hiperglikemia ini merupakan awal
bencana bagi penderita Diabetes, hal ini terbukti dan terjadi juga pada penderita
dengan gangguan toleransi glukosa yang sudah terjadi kelainan komplikasi vaskuler,
walaupun belum diabetes. Hiperglikemia ini dihubungkan dengan kelainan pada
disfunsi endothe, sebagai cikal bakalnya terjadi mikro maupun makroangiopati.
Dengan demikian, apablia hiperglikemia terkendali dan terkontrol dengan baik, yang
STROKE dan angka
ditandai dengan HbA1c yang normal dapat menurunkan penyumbatan
kejadian komplikasi
pembuluh darah otak lainnya.
pada DM.
Gangguan mata, pandangan kabur

Rasa haus meningkat

Penyakit Jantung, TD tinggi, rasa lelah


yg berlebihan/mudah lelah
KOMPLIKASI KRONIK
Penyakit ginjal
Seperti telah diungkapkan,
Berathiperglikemia
badan turun banyakmerupakan peran
sentral terjadi komplikasi pada DM.
Poliuria
Pada keadaan hiperglikemia, akan
terjadiperedaran
Gangguan peningkatan jalur
darah pada polyol,
tungkai bagian bawah tubuh

27
Kerusakan saraf, neuropati perifer,
mati rasa, kesemutan
peningkatan pembentukan Protein Glikasi non enzimakti serta peningkatan proses
glikosilasi itu sendiri, yang menyebabkan peningkatan stress oksidatif dan pada
akhirnya menyebabkan komplikasi baik vaskulopati, retinopati, neuropati ataupun
nefropati diabetika.
Komplikasi kronik ini berkaitan dengan gangguan vaskular, yaitu:
• Komplikasi mikrovaskular
• Komplikasi makrovaskular
• Komplikasi neurologis

1. Komplikasi Mikrovaskular
Nefropati
Retinopati
Neuropati
Timbul akibat penyumbatan pada pembuluh darah kecil khususnya kapiler.
Komplikasi ini spesifik untuk diabetes melitus.
Retinopati diabetika
Diabetes dapat menyebabkan kerusakan organ-organ mata sehingga penglihatan
menjadi kabur atau hilang (buta). Penyakit mata akibat diabetes meliputi:
 Retinopati: kerusakan pada pembuluh darah di retina. Retina adalah jaringan peka
cahaya di belakang mata. Retina yang sehat diperlukan untuk penglihatan yang
baik.
 Katarak: pengeruhan lensa mata. Katarak berkembang pada usia lebih dini pada
penderita diabetes.
 Glaukoma: peningkatan tekanan cairan di dalam mata yang menyebabkan
kerusakan saraf optik dan kehilangan penglihatan. Pada kasus akut dan berat
dapat menyebabkan sakit kepala yang hingga menyebabkan kematian.
Penderita diabetes hampir dua kali lebih mungkin terkena glaukoma dibandingkan
orang dewasa lainnya.

28
Kecurigaan akan diagnosis DM terkadang berawal dan gejala berkurangnya
ketajaman penglihatan atau gangguan lain pada mata yang dapat mengarah pada
kebutaan.
Retinopati diabetes dibagi dalam 2 kelompok, yaitu Retinopati non proliferatif
dan Proliferatif. Retinopati non proliferatif merupkan stadium awal dengan ditandai
adanya mikroaneurisma, sedangkan retinoproliferatif, ditandai dengan adanya
pertumbuhan pembuluh darah kapiler, jaringan ikat dan adanya hipoksia retina.
Pada stadium awal retinopati dapat diperbaiki dengan kontrol gula darah yang
baik, sedangkan pada kelainan sudah lanjut hampir tidak dapat diperbaiki hanya
dengan kontrol gula darah, malahan akan menjadi lebih buruk apabila dilakukan
penurunan kadar gula darah yang terlalu singkat.
Edukasi mengenai DM dan komplikasi retinopati akan meningkatkan
kesadaran dan kepatuhan penderita DM menjalani pemeriksaan mata rutin.
Nefropati diabetika
Diabetes mellitus tipe II, merupakna penyebab nefropati paling banyak, sebagai
penyebab terjadinya gagal ginjal terminal. Kerusakan ginjal yang spesifik pada DM
mengaikibatkan perubahan fungsi penyaring, sehingga molekul-molekul besar seperti
protein dapat lolos ke dalam kemih (mis. Albuminuria). Akibat nefropati diabetika
dapat timbul kegagalan ginjal yang progresif.
Nefropati diabetik ditandai dengan adanya proteinuri persisten ( > 0.5 gr/24 jam),
terdapat retino pati dan hipertensi. Dengan demikian upaya preventif pada nefropati
adalah kontrol metabolisme dan kontrol tekanan darah.
Jaringan ginjal terdiri dari banyak pembuluh darah kecil yang membentuk sebuah
filter yang berperan menghilangkan racun dan limbah dari darah. Diabetes kronis
dapat menyebabkan pembuluh-pembuluh darah kecil itu rusak. Diabetes juga
membuat ginjal bekerja lebih keras untuk menyaring kelebihan kadar glukosa darah
yang tidak terserap karena kekurangan insulin atau resistensi insulin. Pada akhirnya,
ginjal dapat mengalami kerusakan secara bertahap, mulai dari hyperfiltrasi
(pembengkakan ginjal karena bekerja terlalu keras), mikroalbuminuria (kerusakan

29
membran penyaring sehingga sebagian protein masuk ke dalam darah dan urin),
sampai akhirnya menjadi gagal ginjal.
Risiko gangguan ginjal meningkat bila penderita diabetes juga memiliki tekanan
darah tinggi/hipertensi.

2. Komplikasi Makrovaskular
Penyakit kardiovaskuler/ Stroke/ Dislipidemia
Penyakit pembuluh darah perifer
Hipertensi
Penderita diabetes lebih berisiko terkena penyakit kardiovaskelar dua sampai empat
kali lipat dibandingkan masyarakat umum. Risiko komplikasi kardiovaskuler ini
tergantung pada usia, faktor genetik, serta ada tidaknya hipertensi,
hiperkolesterolemia (kelebihan kolesterol), dan kebiasaan merokok.
Diabetes berkontribusi terhadap munculnya penyakit jantung. Seiring waktu,
tingginya tingkat glukosa dalam darah menyebabkan penggumpalan darah dan
meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah dekat jantung (serangan jantung),
otak (stroke) atau kaki (gangren).
Timbul akibat aterosklerosis dan pembuluh-pembuluh darah besar, khususnya arteri
akibat timbunan plak ateroma. Makroangioati tidak spesifik pada diabetes, namun
pada DM timbul lebih cepat, lebih seing terjadi dan lebih serius. Berbagai studi
epidemiologis menunjukkan bahwa angka kematian akibat penyakit ,kardiovaskular
dan penderita diabetes meningkat 4-5 kali dibandingkan orang normal.
Komplikasi makroangiopati umumnya tidak ada hubungannya dengan kontrol kadar
gula darah yang baik. Tetapi telah terbukti secara epidemiologi bahwa
hiperinsulinemia merupakan suatu faktor resiko mortalitas kardiovaskular, di mana
peninggian kadar insulin menyebabkan risiko kardiovaskular semakin tinggi pula.
kadar insulin puasa > 15 mU/mL akan meningkatkan risiko mortalitas koroner
sebesar 5 kali lipat. Hiperinsulinemia kini dikenal sebagai faktor aterogenik dan
diduga berperan penting dalam timbulnya komplikasi makrovaskular.
Penyakit Jantung Koroner

30
Berdasarkan studi epidemiologis, maka diabetes merupakan suatu faktor risiko
koroner. Ateroskierosis koroner ditemukan pada 50-70% penderita diabetes. Akibat
gangguan pada koroner timbul insufisiensi koroner atau angina pektoris (nyeri dada
paroksismal serti tertindih benda berat dirasakan di daerah rahang bawah, bahu,
lengan hingga pergelangan tangan) yang timbul saat beraktifiras atau emosi dan akan
mereda seetlah beristirahat atau mendapat nitrat sublingual.
Akibat yang paling serius adalah infark miokardium, di mana nyeri menetap dan lebih
hebat dan tidak mereda dengan pembenian nitrat. Namun gejala-gejala ini dapat tidak
timbul pada pendenita diabetes sehigga perlu perhatian yang lebih teliti.
Stroke
Aterosklerosis serebri merupakan penyebab mortalitas kedua tersering pada penderita
diabetes. Kira-kira sepertiga penderita stroke juga menderita diabetes. Stroke lebih
sering timbul dan dengan prognosis yang lebih serius untuk penderita diabetes.
Akibat berkurangnya aliran atrteri karotis interna dan arteri vertebralis timbul
gangguan neurologis akibat iskemia, berupa:
- Pusing, sinkop
- Hemiplegia: parsial atau total
- Afasia sensorik dan motorik
- Keadaan pseudo-dementia
Penyakit pembuluh darah
Proses awal terjadinya kelainan vaskuler adalah adanya aterosklerosis, yang dapat
terjadi pada seluruh pembuluh darah. Apabila terjadi pada pembuluh darah koronaria,
maka akan meningkatkan risiko terjadi infark miokar, dan pada akhirnuya terjadi
payah jantung. Kematian dapat terjadi 2-5 kali lebih besar pada diabetes disbanding
pada orang normal. Risiko ini akan meningkat lagi apabila terdapat keadaan keadaan
seperti dislipidemia, obes, hipertensi atau merokok.
Penyakit pembuluh darah pada diabetes lebih sering dan lebih awal terjadi pada
penderita diabetes dan biasanya mengenai arteri distal (di bawah lutut). Pada diabetes,
penyakit pembuluh darah perifer biasanya terlambat didiagnosis yaitu bila sudah
mencapai fase IV. Faktor factor neuropati, makroangiopati dan mikroangiopati yang

31
disertai infeksi merupakan factor utama terjadinya proses gangren diabetik. Pada
penderita dengan gangrene dapat mengalami amputasi, sepsis, atau sebagai factor
pencetus koma, ataupun kematian.
3. Neuropati
Umumnya berupa polineuropati diabetika, kompikasi yang sering terjadi pada
penderita DM, lebih 50 % diderita oleh penderita DM. Manifestasi klinis dapat
berupa gangguan sensoris, motorik, dan otonom. Proses kejadian neuropati biasanya
progresif di mana terjadi degenerasi serabut-serabut saraf dengan gejala-gejala nyeri,
yang terserang biasanya adalah serabut saraf tungkai atau lengan.
Neuropati disebabkan adanya kerusakan dan disfungsi pada struktur syaraf akibat
adanya peningkatan jalur polyol, penurunan pembentukan myoinositol, penurunan
Na/K ATP ase, sehingga menimbulkan kerusakan struktur syaraf, demyelinisasi
segmental, atau atrofi axonal.
Kualitas sirkulasi darah yang buruk akibat diabetes dalam jangka panjang dapat
merusak jaringan saraf. Kerusakan sistem saraf yang paling jelas dan umum adalah di
bagian kaki dan tungkai yang biasanya ditandai rasa kesemutan, kehilangan sensasi
(mati rasa) atau nyeri di jari-jari kaki, kemudian naik secara bertahap hingga tungkai.
Jika kaki sudah mati rasa, Anda harus sering memeriksa kaki Anda, karena sangat
mungkin Anda tidak merasakan apa-apa bila terjadi luka di kaki (misalnya karena
tertusuk kaca). Bila luka itu kemudian menjadi borok yang luas, mungkin satu-
satunya terapi adalah amputasi.
Neuropati juga dapat mempengaruhi saraf yang mengontrol pencernaan, tekanan
darah, denyut jantung dan organ seksual (menyebabkan impotensi).
Kerentanan terhadap infeksi
Penderita diabetes cenderung mengalami infeksi lebih sering dan lebih parah daripada
orang umum, termasuk infeksi yang sulit disembuhkan pada kulit, gusi, saluran
pernafasan, vagina dan kandung kemih. Hal ini karena ada hubungan khas antara
infeksi dengan diabetes. Gula merupakan media yang baik untuk pertumbuhan cepat
dan berlimpah bagi kuman infeksi. Selain itu, gula darah yang tinggi mengganggu
pergerakan sel-sel fagosit yang membunuh kuman.

32
V. PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN KOMPLIKASI PADA
DIABETES MELITUS

Penderita diabetes dapat mencegah atau paling tidak memperlambat


perkembangan komplikasi di atas dengan memantau dan mengendalikan tiga faktor:
gula darah, tekanan darah dan kolesterol.
 Pilih Karbohidrat Secara Hati-hati
Menghindari diabetes bukan berarti Anda harus pantang karbohidrat sepenuhnya.
Pilihlah karbohidrat yang diserap di dalam tubuh secara perlahan, memberikan
asupan energi yang stabil. Pilih gandum, kacang-kacangan, dan sayuran segar dan
buah-buahan. Ya, Anda dapat makan buah meskipun buah itu manis. Yang
terpenting adalah makan dengan jumlah karbohidrat yang tepat setiap kali makan.
 Turunkan Berat Badan Jika Diperlukan
Mulai dengan langkah kecil. Jika Anda kelebihan berat badan, menurunkan
beberapa kilogram saja dapat meningkatkan kemampuan tubuh untuk
menggunakan insulin. Hal ini akan membantu menurunkan gula darah dan
meningkatkan tekanan darah dan lemak darah. Anda juga akan memiliki lebih
banyak energi. Tujuannya adalah untuk membakar kalori lebih banyak dari yang
Anda makan. Untuk memulai, cobalah mengurangi lemak dan kalori dari pola
makan Anda, seperti keripik atau kentang goreng.
 Tidur yang Cukup
Tidur yang terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat meningkatkan nafsu makan
dan keinginan untuk makan makanan tinggi karbohidrat. Hal tersebut dapat
menyebabkan penambahan berat badan, meningkatkan risiko komplikasi seperti
penyakit jantung. Jadi tidurlah yang cukup selama tujuh atau delapan jam tidur
setiap malam. Jika Anda memiliki sleep apnea, dengan pengobatan, Anda dapat
meningkatkan kualitas tidur dan menurunkan kadar gula darah.

 Menjadi Aktif : Olahraga dan Diabetes


Pilihlah satu aktivitas yang Anda sukai, misal berjalan, menari, bersepeda, atau
hanya jalan di tempat ketika Anda sedang telepon dan lakukan selama setengah
jam setiap hari serta dapat ditingkatkan jika diperlukan. Olahraga dapat
membantu Anda menurunkan risiko kardiovaskular, kolesterol, dan tingkat

33
tekanan darah, serta menjaga berat badan tetap terjaga. Olahraga juga mengurangi
stres dan dapat membantu Anda mengurangi obat diabetes.
 Memantau Gula Darah Harian Anda
Memeriksa gula darah seharusnya dilakukan berkala dan dengan memeriksa kadar
glukosa darah akan dapat membantu mencegah terjadinya komplikasi diabetes,
seperti nyeri saraf, atau mencegah diabetes semakin buruk. Dengan memeriksa
gula darah, Anda dapat melihat bagaimana makanan dan kegiatan mempengaruhi
kadar gula darah, dan apakah rencana pengobatan Anda bekerja. Dokter Anda
dapat membantu menetapkan kisaran target kadar glukosa darah. Semakin dekat
Anda dengan sasaran target Anda, maka Anda akan semakin merasa membaik.
 Mengelola Stres
Bila Anda memiliki diabetes, maka stres dapat menyebabkan kadar glukosa darah
meningkat. Karena itu singkirkan sebisa mungkin tekanan fisik atau mental Anda.
Pelajari cara baik untuk berurusan dengan orang lain. Teknik relaksasi seperti
latihan pernapasan, yoga, dan meditasi mungkin sangat efektif jika Anda memiliki
diabetes tipe II.
 Pantang Garam
Kurangi garam dalam pola makan Anda. Hal ini dapat membantu menurunkan
tekanan darah dan melindungi ginjal. Tidak menggarami makanan Anda tidak lah
cukup. Sebagian besar garam berasal dari makanan olahan. Hindari makanan
yang sudah diolah dan gunakan bahan-bahan segar sebisa Anda. Ketika Anda
memasak, bumbui makanan dengan bumbu dan rempah-rempah sebagai
pengganti garam.
Orang dewasa berusia lebih dari 51 tahun serta individu dengan tekanan darah
tinggi, diabetes, atau penyakit ginjal kronis harus mengurangi asupan
natrium/sodium hingga 1.500 mg sehari, ini berarti kurang dari setengah sendok
teh garam.
 Risiko Penyakit Jantung dan Diabetes
Penyakit jantung dapat menjadi komplikasi diabetes yang serius. Pantau risiko
Anda dengan melakukan pemeriksaan ABC berikut:
 Gula darah mencapai tingkat 1C. Kontrol gula darah rata-rata selama 2 sampai
3 bulan terakhir. Anda mungkin perlu diperiksa dua kali atau lebih dalam
setahun.
 Tekanan darah. Tujuannya: mencapai di bawah 130/80 mm Hg.

34
 Kolesterol. Tujuannya: LDL di bawah 100 mg/dl dan HDL di atas 40 mg/dl,
dan trigliserida di bawah 150 mg/dl.
 Perawatan Benjolan dan Memar
Diabetes meningkatkan risiko infeksi dan memperlambat penyembuhan, jadi obati
walaupun hanya luka dan goresan sederhana dengan cepat. Bersihkan luka Anda
dengan benar dan gunakan krim antibiotik dan perban yang steril. Segera
kunjungi dokter jika tidak membaik dalam beberapa hari. Periksa kaki Anda
setiap hari untuk lecet, luka, irisan, kemerahan, atau bengkak. Lembabkan kaki
Anda untuk mencegah pecah-pecah.
 Hentikan Kebiasaan Merokok Anda
Penderita diabetes yang merokok memiliki peluang dua kali lebih mungkin untuk
meninggal secara prematur dibandingkan mereka yang tidak merokok. Berhenti
merokok membantu jantung dan paru-paru. Hal Ini juga menurunkan tekanan
darah dan risiko stroke, serangan jantung, kerusakan saraf, dan penyakit ginjal.
Konsultasikan dengan dokter Anda mengenai bantuan untuk berhenti merokok.
 Pilih Makanan Super dan Jangan Ukuran Besar
Tidak ada pola makan diabetes khusus. Tetapi ada beberapa dasar yang perlu
diingat: nikmati makanan super seperti buah berry, ubi jalar, ikan dengan asam
lemak omega-3, dan sayuran berdaun dan sayuran hijau tua.

BAB III
KOMPLIKASI DIABETES MELITUS TIPE II DENGAN RETINOPATHY

Retinopati diabetes adalah komplikasi diabetes dan penyebab utama kebutaan.


Hal ini terjadi ketika diabetes merusak pembuluh darah kecil di dalam retina, jaringan
peka cahaya di belakang mata. (Lihat diagram di bawah) Sebuah retina yang sehat
diperlukan untuk penglihatan yang baik .
Jika Anda memiliki retinopati diabetis, pada awalnya Anda mungkin melihat ada
perubahan dengan penglihatan Anda . Namun seiring waktu, retinopati diabetis bisa

35
memburuk dan menyebabkan kehilangan penglihatan. Retinopati diabetes biasanya
mempengaruhi kedua mata .
yang beresiko untuk retinopati diabetes
Semua orang dengan diabetes tipe 1 dan tipe 2 - beresiko . Itulah mengapa
setiap orang dengan diabetes harus mendapatkan pemeriksaan mata melebar yang
komprehensif setidaknya sekali setahun. Antara 40 sampai 45 persen orang Amerika
didiagnosis dengan diabetes memiliki beberapa tahap retinopati diabetes. Jika Anda
memiliki retinopati diabetes, dokter anda dapat merekomendasikan pengobatan untuk
membantu mencegah perkembangannya.
Selama kehamilan, retinopati diabetes mungkin menjadi masalah bagi wanita
dengan diabetes . Untuk melindungi visi , setiap wanita hamil dengan diabetes harus
memiliki pemeriksaan mata melebar yang komprehensif sesegera mungkin . Dokter
mungkin merekomendasikan ujian tambahan selama kehamilan Anda .

Gambar 1 : Mata
Tahapan retinopati diabetes
Retinopati diabetes memiliki empat tahap :
1. Mild Retinopati nonproliferative. Pada tahap awal, microaneurysms terjadi.
Mereka adalah daerah kecil seperti balon pembengkakan pada pembuluh
darah kecil di retina.
2. Moderate Retinopati nonproliferative. Sebagai penyakit berlangsung,
beberapa pembuluh darah yang memberi makan retina diblokir.
3. Severe Retinopati nonproliferative. Banyak lebih banyak pembuluh darah
yang tersumbat, merampas beberapa daerah retina dengan suplai darah

36
mereka. Daerah-daerah retina mengirimkan sinyal ke tubuh untuk
menumbuhkan pembuluh darah baru untuk makanan.
4. Retinopati proliferatif . Pada tahap lanjutan ini, sinyal yang dikirim oleh
retina untuk makanan memicu pertumbuhan pembuluh darah baru. Kondisi ini
disebut retinopati proliferatif . Pembuluh darah baru yang abnormal dan
rapuh. Mereka tumbuh di sepanjang retina dan di sepanjang permukaan yang
jelas, vitreous gel yang mengisi bagian dalam mata . ( Lihat diagram pada
halaman sebelumnya)
Dengan sendiri, pembuluh darah ini tidak menyebabkan gejala atau
kehilangan penglihatan. Namun, mereka memiliki tipis, dinding rapuh. Jika mereka
bocor darah, kehilangan penglihatan berat dan bahkan dapat mengakibatkan kebutaan
.

Resiko kebutaan pada penderita diabetes mellitus 25 kali lebih besar


dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes, penyebab utamanya
adalah karena retinopati diabetik.

37
Retinopati diabetik adalah suatu kelainan pada pembuluh-pembuluh darah halus
retina mata yang disebabkan akibat komplikasi kronis dari penyakit diabetes melitus
(DM) setelah 10 – 15 tahun. Jika hal ini berlangsung lama tanpa adanya kontrol
dengan dokter mata secara intensif, maka hal ini dapat menyebabkan kebutaan pada
penderita. Salah satunya adalah gangguan pembuluh darah kapiler pada retina mata.
Gangguan tersebut berupa melemahnya dinding pembuluh kapiler. Selanjutnya,
dinding pembuluh akan menggembung membentuk suatu struktur yang disebut
mikroaneurisma akibat iskemia retina. Lama kelamaan, pembentukan
mikroaneurisma akan diiringi dengan penyumbatan pada pembuluh kapiler.
Penyumbatan kapiler akan merangsang tubuh untuk membuat pembuluh darah baru,
tujuannya agar kebutuhan nutrisi retina tetap dapat terpenuhi. Karena pembuluh baru
ini sangat rapuh, saat pembuluh pecah, maka akan terjadi perdarahan yang dapat
menimbulkan kekaburan penglihatan, bahkan kebutaan.
Retinopati Diabetik Penyebab Kebutaan
Retinopati Diabetik dapat menyebabkan kebutaan melalui beberapa mekanisme:
 Kebocoran pada pembuluh darah retina yang rusak sehingga menyebabkan
pembengkakan dan kerusakan
 Pendarahan ke dalam rongga viterus, sehingga menutupi jalannya sinar
 Pembentukan jaringan parut di rongga vitreus sehingga dapat menyebabkan
ablasio retina
 Penurunan aliran darah ke retina (makula iskemik)

Patofisiologi Retinopati DM
Hiperglikemia kronik mengawali perubahan patologis pada retinopati DM dan
terjadi melalui beberapa jalur.
Pertama, hiperglikemia memicu terbentuknya reactive oxygen intermediates
(ROIs) dan advanced glycation endproducts (AGEs). ROIs dan AGEs menyebabkan
perubahan endotel vaskuler (penebalan membrane basalis dan merusak perisit) dan

38
endotel pembuluh darah serta merangsang pelepasan faktor vasoaktif seperti nitric
oxide (NO), prostasiklin, insulin-like growth factor-1 (IGF-1), dan endotelin yang
akan memperparah kerusakan.
Kedua, hiperglikemia kronik mengaktivasi jalur poliol yang meningkatkan
glikosilasi dan ekspresi aldose reduktase sehingga terjadi akumulasi sorbitol.
Glikosilasi dan akumulasi sorbitol kemudian mengakibatkan kerusakan endotel
pembuluh darah dan disfungsi enzim endotel.
Ketiga, hiperglikemia mengaktivasi transduksi sinyal intraseluler protein
kinase C (PKC). Vascular endothelial growth factor (VEGF) dan faktor pertumbuhan
lain diaktivasi oleh PKC. VEGF menstimulasi ekspresi intracellular adhesion
molecule-1 (ICAM-1) yang memicu terbentuknya ikatan antara leukosit dan endotel
pembuluh darah. Ikatan tersebut menyebabkan kerusakan sawar darah retina, serta
thrombosis dan oklusi kapiler retina.
Keseluruhan jalur tersebut menimbulkan gangguan sirkulasi, hipoksia, dan
inflamasi pada retina. Hipoksia menyebabkan ekspresi faktor angiogenik yang
berlebihan sehingga merangsang pembentukan pembuluh darah baru yang memiliki
kelemahan pada membran basalisnya, defisiensi taut kedap antarsel endotelnya, dan
kekurangan jumlah perisit. Akibatnya, terjadi kebocoran protein plasma dan
perdarahan di dalam retina dan vitreous.
Hiperglikemia yang cukup lama dapat menyebabkan perubahan endotel
vaskular, yang ditandai dengan dilatasi pembuluh darah, mikroaneurisma, eksudasi,
pendarahan dan terbentuknya neovaskularisasi. Kelainan vaskular ini disebabkan oleh
hilangnya perisit yang melekat pada membrana basalis yang berfungsi mengatur
kontraktilitas kapiler, mempertahankan struktur pembuluh darah dan membantu
fungsi sawar. Keadaan lain yang mungkin timbul adalah penebalan membrana basalis
yang terjadi karena gangguan sintesis matriks ekstraseluler, yang berakibat hilangnya
hubungan antara perisit dengan endotel sehingga terjadi proliferasi endotel yang
berlebihan. Hal ini mengakibatkan terjadinya peningkatan perlekatan platelet dan
agregasi trombosit, kadar serum lipid dan fibrinolisis yang abnormal, serta jumlah
hormon yang tidak normal seperti vascular endothelial growth factor (VEGF).

39
40
KLASIFIKASI

Ada dua jenis retinopati yang non-proliferatif (background retinopati) terjadi


pembengkakan dan kelemahan retina. Retinopati proliferatif yang terjadi perdarahan
retina serta terbentuk pembuluh darah merusak retina dan membuat mata kabur.
Penyakit ini memiliki 2 tingkatan yaitu retinopati diabetes nonproliferatif
(Non-Proliferative Diabetic Retinopathy/NPDR) dan retinopati diabetes proliferatif
(Proliferative Diabetic Retinopathy/PDR).
Retinopati Diabetes Nonproliferatif terbagi menjadi 3 tingkatan diantaranya:
1. Mild NPDR
Ditandai dengan adanya mikroaneurisma dan pendarahan yang disebabkan
kerusakan pembuluh darah pada retina. Pada tahap ini pasien disarankan menemui
dokter ahli mata secara rutin, setidaknya 1 tahun sekali.

2. Moderate NPDR
Tidak hanya terdiri dari mikroaneurisma saja tetapi juga hemorrages. Jumlah
mikroaneurisma lebih banyak dibandingkan dengan tingkat mild NPDR.
3. Severe NPDR
Lebih dari 20 hemorrages pada tiap kuadrannya atau veneous beading pada
minimal 2 kuadran atau Intraretinal Microvaskular Abnormalities (IRMA) pada 1
kuadran.

Retinopati diabetik non proliferatif dapat mempengaruhi fungsi penglihatan


melalui dua mekanisme yaitu:
 perubahan sedikit demi sedikit daripada pembentukan kapiler dari intra retina
yang menyebabkan iskemik macular,

41
 peningkatan permeabilitas pembuluh retina yang menyebabkan edema makular.
Pada retinopati diabetes nonproliferatif dapat terjadi perdarahan pada semua
lapisan retina. Adapun gejala subjektif dari retinopati diabetes non proliferatif adalah:
- Penglihatan kabur
- Kesulitan membaca
- Penglihatan tiba-tiba kabur pada satu mata
- Melihat lingkaran-lingkaran cahaya
- Melihat bintik gelap dan cahaya kelap-kelip

Tipe nonproliferatif ditandai dengan munculnya:

1. Mikroaneurisma (microaneurysms / MA’s) yaitu merupakan pelebaran pembuluh


darah vena, yang pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat berupa titik kecil
merah dekat pembuluh darah yang berukuran 15 – 60 mikro. MA’s ini merupakan
gejala awal dari retinopati diabetes.

2. Dilatasi pembuluh darah balik

42
Dilatasi pembuluh darah balik dengan lumen ireguler dan berkelok-kelok. Hal ini
terjasi akibat kelainan sirkulasi, dan kadang-kadang disertai kelainan endotel dan
eksudasi plasma.

3. Hemorrages (Hemorrhages)
Terlihat seperti titik kecil merah seperti MA’s yang pecah dan melebar dan
memiliki bentuk yang lebih besar daripada MA’s, garis dan bercak yang biasanya
terletak dekat MA’s. Perdarahan terjadi akibat gangguan permeabilitas dan MA’s
atau pecahnya kapiler.

4. Hard exudates
Hard exudates merupakan infiltrasi lipid ke dalam retina. Gambaran khusus yaitu
ireguler dan berwarna kekuning-kuningan. Pada permulaan eksudat berupa
pungtata, kemudian membesar dan bergabung.

5. Edema retina

43
Edema retina ditandai dengan hilangnya gambaran retina terutama di daerah makula.
Edema dapat bersifat fokal atau difus dan secara klinis tampak sebagai retina yang
menebal dan keruh disertai mikroaneurisma dan eksudat intra retina. Dapat berbentuk
zona‐zona eksudat kuning kaya lemak, berbentuk bundar di sekitar kumpulan
mikroaneurisma dan eksudat intra retina. Edema makula merupakan stadium yang
paling berat dari retinopati diabetik non proliferatif. Ciri khas dari edema makula adalah
cotton wall spot, intra retina mikrovaskuler abnormal (IRMA), dan rangkaian vena yang
seperti manik-manik. Bila satu dari keempatnya dijumpai maka ada kecenderungan
progresif.

Edema makula signifikan secara klinis (Clinically significant macular oedema


(CSME)) jika terdapat satu atau lebih dari keadaan dibawah ini:
i. edema retina 500 μm (1/3 diameter diskus) pada fovea sentralis.
ii. hard exudate jaraknya 500 μm dari fovea sentralis, yang berhubungan dengan
retina yang menebal.
iii. edema retina yang berukuran 1 disk (1500 μm) atau lebih, dengan jarak dari
fovea sentralis 1 disk.

Retinopati diabetik proliferatif


1. Retinopati proliferatif ringan (tanpa resiko tinggi): bila ditemukan minimal
adanya neovaskular pada discus (NVD) yang mencakup <¼ dari daerah discus
tanpa disertai perdarahan preretina atau vitreus ; atau neovaskular dimana saja di
retina (NVE) tanpa disertai perdarahan preretina.
2. Retinopati proliferatif resiko tinggi: apabila ditemukan 3 atau 4 dari faktor resiko
sebagai berikut: a) ditemukan pembuluh darah baru dimana saja di retina, b)

44
ditemukan pembuluh darah baru pada atau dekat discus optikus, c) pembuluh
darah baru yang tergolong sedang atau berat yang mencakup > ¼ daerah diskus,
d) pendarahan vitreus adanya pembuluh darah baru yang jelas pada diskus optikus
atau setiap adanya pembuluh darah baru yang disertai perdarahan, merupakan dua
ganbaran yang paling sering pada retinopati proliferatif dengan resiko lebih
tinggi.
Faktor risiko yang meliputi:

45
o Laman
ya
mende
rita
DM
o Usia
pender
ita DM
o Kontro
l
metabo
lik
yang
kurang
baik
o Keham
ilan
o Hipert
ensi
o Nefrop
ati
(kelain
an
ginjal)
o Merok
ok,obe
sitas,
hiperli
pidemi
a

46
Deteksi Dini Retinopati DM
Pada tahun 2010, The American Diabetes Association menetapkan beberapa
rekomendasi pemeriksaan untuk deteksi dini retinopati DM.
 Pertama, orang dewasa dan anak berusia lebih dari 10 tahun yang menderita
DM tipe I harus menjalani pemeriksaan mata lengkap oleh dokter spesialis
mata dalam waktu lima tahun setelah diagnosis DM ditegakkan.
 Kedua, penderita DM tipe II harus menjalani pemeriksaan mata lengkap oleh
dokter spesialis mata segera setelah didiagnosis DM.
 Ketiga, pemeriksaan mata penderita DM tipe I dan II harus dilakukan secara
rutin setiap tahun oleh dokter spesialis mata.
 Keempat, frekuensi pemeriksaan mata dapat dikurangi apabila satu atau lebih
hasil pemeriksaan menunjukkan hasil normal dan dapat ditingkatkan apabila
ditemukan tanda retinopati progresif.
 Kelima, perempuan hamil dengan DM harus menjalani pemeriksaan mata
rutin sejak trimester pertama sampai dengan satu tahun setelah persalinan
karena risiko terjadinya dan/atau perburukan retinopati DM meningkat, dan ia
harus menerima penjelasan menyeluruh tentang risiko tersebut.

Deteksi Dini Retinopati Diabetik


Tiga langkah yang perlu dilakukan untuk menjaga mata dan membantu mencegah
kehilangan penglihatan:
 Langkah 1 Perikasakan kadar gula darah, kadar kolesterol, dan tekanan darah
secara teratur
 Langkah 2 Periksakan mata secra teratur agar gejala kerusakan mata bias
dideteksi sedini mungkin
 Langkah 3 Jika kerusakan ditemukan, dapatkan perawatan yang tepat salah
satunya dengan sinar laser (sangat penting, bertujuan untuk menstabilkan dan
mencegah progresifitas penyakit lebih buruk)

Usaha Pencegahan Kebutaan pada Retinopati Diabetik


Peran penderita sangan penting, antara lain:
 Menjaga kadar gula darah
 Tidak merokok
 Kontrol mata secara teratur
 Deteksi dini
 Pengobatan laser dan operasi

Jenis Makanan Untuk Penderita Retinopati Diabetik


Mengkonsumsi makanan yang kaya akan karotenoid. Adapun enam jenis
karotenoid yang bermanfaat:
1. Lutein
Lutein adalah jenis karoten yang disimpan di dalam mata. Lutein terdapat pada
bayam, kol, brokoli, dan sayuran lain yang berwarna merah, kuning, oranye dan
hijau.
2. α-carotene dan β-carotene
α-carotene dan β-carotene ditemukan pada pigmen berwarna kuning dan oranye
dalam wortel dan labu. Kandungan α-carotene dalam wortel (per 100g takaran
saji) 3.60mg dan kandungan β-carotene dalam wortel (per 100g takaran saji)
7.90mg. Kandungan α-carotene dalam labu (per 100g takaran saji) 0.012mg dan
kandungan β-carotene dalam labu (per 100g takaran saji) adalah 0.82 mg
3. Lycopene
Lycopene ditemukan pada pigmen warna merah dari buah tomat. Ketika sudah
masak, tomat akan melindungi diri dari sinar matahari dengan menghasilkan
lycopene. Lycopene larut dalam lemak, oleh karena itu dengan menambahkan
sedikit minyak saat memasak dapat meningkatkan penyerapan lycopene dalam
tubuh. Kandungan Lycopene dalam tomat (per 100g takaran saji) adalah 3.10mg
4. Zeaxanthin
Zeaxanthin memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan Lutein. Zeaxanthin
dapat ditemukan pada jagung dan buah “Fuyu” atau yang lebih dikenal dengan
Japanese Persimmon, serta pada teh hijau, kuning telur, lemak hewan dan hati.
Melalui proses metabolisme, lutein berubah menjadi zeaxanthin, lalu keduanya
disimpan dalam area titik kuning pada mata. Penelitian terbaru menunjukkan
bahwa lutein dan zeaxanthin berlokasi pada wilayah yang berbeda-beda pada
retina. Pusat dari titik kuning mengandung lebih banyak zeaxanthin, sedangkan

2
kelompok wilayah sekitarnya sebagian besar adalah mengandung lutein.
Kandungan Zeaxanthin dalam buah Fuyu (per 100g takaran saji) adalah 0.24mg
5. Crocetin
Crocetin ditemukan pada buah “Cape Jasmine” atau buah Kaca Piring, benang
sari dan putik kunyit. Keduanya larut dalam lemak dan air. Ciri yang paling
menonjol dari crocetin adalah volume molekulnya kecil, sehingga mudah diserap
oleh tubuh. Crocetin dapat menembus ke dalam jaringan serat yang sulit
dijangkau oleh karotenoid lain
6. Pigmen Violet yang Antosianin,
Sejenis Polifenol. Pigmen violet yang antosianin jenis ini dapat ditemukanpada
blueberry. Pigmen Violet yang Antosianin, sejenis Polifenol. Pigmen violet yang
antosianin jenis ini dapat ditemukanpada blueberry.
7. DHA
Sangat penting untuk perkembangan otak dan jaringan syaraf DHA
(docosahexaenoic acid) adalah asam lemak tak jenuh, zat ini banyak terkandung
pada minyak ikan, yaitu sebagai nutrisi yang sangat berguna untuk pertumbuhan
anak-anak, dan memiliki peran penting dalam pembentukan sel otak. Kenapa
orang Jepang pada berumur panjang, dikarenakan pola makan tradisional mereka
yang mengkonsumsi ikan.

BAB IV
KOMPLIKASI DIABETES MELITUS TIPE II
DENGANHIPERTENSI

3
1. Hipertensi

Hipertensi adalah keadaan dimana seseorang mengalami kenaikan tekanan

darah di atas normal atau kronis (dalam waktu yamg lama). Menurut WHO, tidak

bergantung pada usia, pada keadaan istirahat batas normal teratas untuk tekanan

sistolik 140 mmHg, sedangkan tekan diastolik 90 mmHg. Daerah batas yang

harus diamati bila sistolik 140-149 mmHg dan diastolik 90-94 mmHg.

2. Jenis-jenis hipertensi
a. Hipertensi primer (essensial)
Hipertensi primer meliputi lebih kurang 90% dari seluruh pasien hipertensi

dan 10% lainnya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Oleh karena itu, upaya

penanganan hipertensi primer lebih mendapatkan prioritas. Peninggian

tekanan darah tidak jarang merupakan satu-satunya tanda pada hipertensi

primer. Bergantung pada tingginya tekanan darah gejala yang timbul dapat

berbeda-beda, kadang-kadang hipertensi primer berjalan tanpa gejala, dan

baru timbul gejala setelah terjadi komplikasi pada organ target seperti ginjal,

mata, otak, dan jantung.


b. Hipertensi sekunder
Kurang dari 10% penderita hipertensi merupakan sekunder dari penyakit

komorbid atau obat-obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah.

Pada kebanyakan kasus, disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis atau

renovaskular adalah penyebab sekunder yang paling sering. Obat-obat

tertentu, baik secara langsung atupun tidak, dapat menyebabkan hipertensi

atau memperberat hipertensi dengan menaikkan tekanan darah (Ditjen Bina

Farmasi dan Alkes, 2006).


3. Klasifikasi Tekanan Darah

4
Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention,

Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) klasifikasi

tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal,

prehipertensi, hipertensi stage 1 dan hipertensi stage 2 dapat dilihat pada Tabel

berikut :

Tabel 3. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC


Klasifikasi Tekanan
TDS (mmHg) TDD (mmHg)
Darah

Normal < 120 < 80

Prehipertensi 120 – 139 80 – 89

Hipertensi stage 1 140 – 159 90 – 99

Hipertensi stage 2 ≥ 160 ≥ 100

Keterangan : TDS = Tekanan Darah Sistolik TDD = Tekanan Darah Diastolik

4. Pengelolaan Hipertensi
a. Terapi non farmakologi

Terapi ini dapat dilakukan dengan mengubah gaya hidup seseorang. Semua

pasien dan individu dengan riwayat keluarga hipertensi perlu dinasehati

mengenai gaya hidup, seperti menurunkan kegemukan, asupan garam (total, <

5 g/hari), asupan lemak jenuh dan alkohol (pria < 21 unit dan perempuan < 14

unit per minggu), banyak makan buah dan sayuran, tidak merokok dan

berolah raga yang teratur, semua ini terbukti dapat merendahkan tekanan

darah dapat menurunkan penggunaan obat-obat.

b. Terapi farmakologi

Selain cara non farmakologi, penatalaksanaan utama hipertensi adalah

obat. Keputusan untuk memulai memberikan obat antihipertensi berdasarkan

beberapa faktor seperti derajat peninggian tekanan darah, terdapatnya

5
kerusakan organ target, dan terdapatnya manifestasi klinis penyakit

kardiovaskular atau faktor risiko lain. Adapun obat-obat yang digunakan

adalah: Diuretics, Angiostensin Converting Enzyme Inhibitor (ACE

Inhibitor), Angiostensin Reseptor Blocker (ARB), Beta Blocker (BBs),

Calcium Chanel Blocker (CCB) (Ditjen Bina Farmasi dan Alkes, 2006).

5. Komplikasi Diabetes Mellitus Tipe 2 Dengan Hipertensi

Secara umum diperkirakan hipertensi dijumpai dua kali lebih banyak pada

populasi diabetes dibanding non diabetes. Hipertensi diketahui mempercepat dan

memperberat penyulit-penyulit akibat diabetes seperti penyakit jantung koroner,

stroke, nefropati diabetik, retinopati diabetik, dan penyakit kardiovaskular akibat

diabetes, yang meningkat dua kali lipat bila disertai hipertensi. Hipertensi

merupakan faktor utama dari harapan hidup dan komplikasi pada pasien diabetes

dan menentukan evaluasi dari nefropati dan retinopati penderita diabetes

khususnya. Adapun salah satu penyebab terjadinya hipertensi adalah resistensi

insulin/hiperinsulinemia. Kaitan hipertensi primer dengan resistensi insulin telah

diketahui sejak beberapa tahun silam, terutama pada pasien gemuk. Insulin

merupakan zat penekan karena meningkatkan kadar ketekolamin dan reabsorpsi

natrium. Hubungan antara diabetes tipe 2 dan hipertensi lebih kompleks dan tidak

berkaitan dengan nefropati. Pada pasien diabetes tipe 2, hipertensi seringkali

bagian dari sindrom metabolik dari resistensi insulin. Hipertensi mungkin muncul

selama beberapa tahun pada pasien ini sebelum diabetes mellitus muncul.

Hiperinsulinemia memperbesar patogenesis hipertensi dengan menurunkan

ekskresi sodium pada ginjal, aktivitas stimulasi dan tanggapan jaringan pada

sistem saraf simpatetik, dan meningkatkan resistensi sekeliling vaskular melalui

6
hipertropi vaskular. Penatalakasanaan yang giat dari hipertensi (<130/80 mmHg)

mengurangi perkembangan komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular.

6. Penatalaksanaan terapi pada diabetes mellitus tipe 2 dengan komplikasi

hipertensi
a. Terapi non farmakologi
Tujuan pengobatan hipertensi pada diabetes adalah untuk mengurangi

morbiditas dan mortalitas akibat diabetes sendiri dan akibat hipertensinya.

Dalam penanganan diabetes dengan komplikasi hipertensi, diperlukan

perhatian khusus seperti nefropati, retinopati, gangguan serebrovaskular,

obesitas, hiperinsulinemia, hipokalemia, hiperkalemia, impotensi penyakit

vaskuler perifer, neuropati autonom, dan dislipidemia. Pengobatan non

farmakologi berupa pengurangan asupan garam, penurunan berat badan untuk

pasien gemuk, dan berolah raga


b. Terapi farmakologi
Penanggulangan farmakologi dilakukan secara individual dengan

memperhatikan berbagai aspek pasien. Oleh karena penyandang diabetes

mellitus mempunyai kelainan metabolik, hal ini harus diperhatikan dalam

pemilihan obat. Obat antihipertensi yang ideal untuk penyandang diabetes

mellitus sebaiknya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :


1) Efektif menurunkan tekanan darah.
2) Tidak mengganggu toleransi glukosa atau mengganggu respons terhadap

hipo-hiperglikemia.
3) Tidak mempengaruhi fraksi lipid.
4) Tidak menyebabkan hipotensi postural, tidak mengurangi aliran darah

tungkai, tidak meningkatkan risiko impotensi.


5) Bersifat kardio-protektif dan reno-protektif.

7
Sumber Referensi
1. Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS), Direktorat Gizi Masyarakat,
RI
2. Pedoman Praktis Memantau Status Gizi Orang Dewasa, Direktorat
Gizi Masyarakat, RI.
3. Departemen Kesehatan , Tenaga kerja dan Kesejahteraan Jepang, 2002.
(bahan pustaka dalam edisi bahasa jepang)
4. Studi bahan pangan bidang science dan technology, Jepang. 2000.
(bahan pustaka dalam bahasa Jepang)
5. Home Page Terumo Corporation, japan, 2001.
6. Nutritional Biochemistry and Metabolism. Maria C.Linder. 1992
7. Seminar Nasional Jepang mengenai Ukuran Berat Badan dan Lemak
Tubuh,1999. (Bahan Pustaka dalam bahasa Jepang)