Anda di halaman 1dari 19

COAL BED METHANE (CBM)

OLEH :

1. T.Nur.Rachmad (03031181419037)
2. Marzhya Azale (03031381621065)
3. Nurafni Oktafia (03031381621080)
4. Tamam Ibrahim (03031381621089)

Kelompok 3

JURUSAN TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena atas
karunia dan penyertaan-Nya, makalah yang berjudul “ Coal Bed Methane (CBM)”
ini dapat terselesaikan.

Makalah ini masih belum sempurna ,oleh karena itu pemakalah


mengharapkan kritik dan saran untuk dapat menyempurnakan makalah
ini.Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan pengetahuan bagi kita
semua.Akhir kata kami mengucapkan terima kasih.

Pemakalah

Kelompok 3

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................i


DAFTAR ISI ..................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………….iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.............................................................................1

1.2 Rumusan Masalah........................................................................1

1.3 Tujuan .....................................................................................2


BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian CBM..........................................................................3

2.2 Gas Metana dalam Batubara.......................................................3

2.3 Kelebihan CBM dibandingkan Minyak Bumi.............................4

2.4 Perkembangan Nilai Ekonomis CBM.........................................4

2.5 Produksi CBM.............................................................................5


2.6 Potensi CBM.................................................................................6
2.7 Produksi CBM & Teknologi Pengeboran................................7
2. 8 Tabel Perbandingan dari Jurnal.................................................10
BAB III. PENUTUP
Kesimpulan................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................15

2
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Gambar Model Sumur CBM......................................................4


Gambar 2.2 Gambar Diagram Pengembangan CBM...................................5
Gambar 2.3 Prinsip produksi CBM...............................................................6
Gambar 2.4 Pembentukan CBM....................................................................7
Gambar 2.5 Teknik produksi..........................................................................8
Gambar 2.6 Produksi CBM dengan sumur kombinasi..................................8
Gambar 2.7 Pengontrolan arah bor...............................................................9

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Batubara memiliki kemampuan menyimpan gas dalam jumlah yang banyak,


karena permukaannya mempunyai kemampuan mengadsorpsi gas. Meskipun
batubara berupa benda padat dan terlihat seperti batu yang keras, tapi di dalamnya
banyak sekali terdapat pori-pori yang berukuran lebih kecil dari skala mikron,
sehingga batubara ibarat sebuah spon. Kondisi inilah yang menyebabkan
permukaan batubara menjadi sedemikian luas sehingga mampu menyerap gas
dalam jumlah yang besar. Jika tekanan gas semakin tinggi, maka kemampuan
batubara untuk mengadsorpsi gas juga semakin besar.

Gas yang terperangkap pada batubara sebagian besar terdiri dari gas metana,
sehingga secara umum gas ini disebut dengan Coal Bed Methane atau disingkat
CBM. Dalam klasifikasi energi, CBM termasuk unconventional energy (peringkat
3), bersama-sama dengan tight sand gas, devonian shale gas, dan
gas hydrate. High quality gas (peringkat 1) dan low quality gas(peringkat 2)
dianggap sebagai conventional gas.

CBM adalah suatu bentuk gas alam yang berasal dari batubara.Istilah Cbm ini
merujuk kepada gas teradsorbsi ke dalam matriks padat batubara. Gas ini
digolongkan “sweet gas” lantaran tidak mengandung hidrogen sulfida (H2S).
Tidak seperti gas alam di reservoar konvensional,CBM sangat sedikit
mengandung hidrokarbon berat seperti propana atau butana dan tidak memiliki
kondensat gas alam.CBM diproduksi dengan cara terlebih dahulu merekayasa
batubara (reservoir) agar didapatkan cukup ruang sebagai jalan keluar gasnya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu CBM ?
2. Apa Saja Gas Methane dalam Batubara?
3. Apa Kelebihan dari CBM ?
4. Bagaimana Perkembangan Nilai Ekonomis CBM ?
5. Bagaimana Produksi CBM ?

1
6. Bagaimana Potensi CBM ?
7. Bagaimana Produksi & Teknologi Pengeboran CBM?

1.3 Tujuan

1. Agar dapat mengetahui apa itu CBM


2. Mengetahui apa saja gas Methane dalam batubara
3. Untuk mengetahui apa kelebihan dari CBM
4. Untuk mengetahui perkembangan nilai ekonomis CBM
5. Mengetahui produksi CBM
6. Untuk mengetahui potensi CBM
7. Untuk mengetahui produksi & teknologi pengeboran CBM

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian CBM

CBM (Coalbed Methane) adalah gas metana yang terkandung dalam


lapisan batubara. Pada awal perkembangannya CBM merupakan gas yang cukup
mengganggu dan dianggap sebagai gas yang membahayakan bagi keselamatan
para pekerja tambang batubara, dimana sering mengakibatkan terjadinya ledakan
dan kebakaran tambang batubara. Akan tetapi saat ini dengan kemajuan teknologi,
CBM bukan lagi gas yang menakutkan, melainkan telah dinyatakan sebagai
sumber energi baru yang banyak menarik perhatian dunia.
CBM sebagai salah satu sumber energi telah dikembangkan diberbagai
negara yang memiliki sumberdaya batubara cukup signifikan sebagai salah satu
usaha dalam mengembangkan energi alternatif. Pengembangan CBM di beberapa
negara bahkan telah mencapai tahapan produksi. Pertumbuhan ekonomi dunia
yang terus meningkatkan kebutuhan energi, sehingga banyak negara mulai
melihat CBM sebagai sumber energi yang diharapkan mampu mensuplai gas alam
dalam jangka waktu yang lama.

2.2 Gas Metana dalam Batubara

CBM terbentuk secara alamiah melalui proses pembatubaraan


(coalification). Pada lingkungan geologi yang mendukung, gas metan dalam
batubara dapat terakumulasi dalam jumlah yang signifikan sehingga bernilai
ekonomis untuk ditambang. Gas yang terbentuk dalam proses pembatubaraan
bukan hanya metana, tetapi juga ada CO2, nitrogen, dan beberapa jenis
hidrokarbon lainnya seperti etan, propan, ataupun butan. Secara umum gas-gas
tersebut dikenal sebagai coal seam gas (CSG). Hanya saja karena gas metan
merupakan komponen terbesar (>97%) dari semua gas yang terdapat dalam
batubara maka penggunaan istilah coalbed methane (CBM) menjadi umum
digunakan.
Ketika dieksploitasi, gas metan dari batubara bisa berasal dari lapisan
batubara sebelum dan sesudah ditambang, ketika aktif ditambang, dari tambang-
tambang yang sudah ditinggalkan, atau juga dari batubara virgin di bawah
permukaan yang belum ditambang. Untuk membedakannya, dunia industri dan
akademis menggunakan berbagai istilah penamaan khusus. Pemakaian istilah
CBM misalnya, ditujukan lebih kepada gas metan yang terdapat pada lapisan
batubara "virgin" (batubara bawah permukaan yang belum dieksploitasi).
Sedangkan gas metan yang keluar dari lapisan batubara yang ditambang dikenal
dengan nama CMM (Coal Mine Methane).

3
Gambar 2.1 Model Sumur CBM (sumber: Ecos Consulting).

2.3 Kelebihan CBM dibandingkan Minyak Bumi

Salah satu keunggulan CBM dibandingkan dengan batubara adalah


sifatnya yang lebih ramah lingkungan. Produksi CBM tidak memerlukan
pembukaan area yang luas seperti tambang batubara. Pembakaran CBM juga tidak
menghasilkan toksin, serta tidak mengeluarkan abu dan hanya melepaskan sedikit
CO2 per unit energi dibandingkan dengan batubara, minyak, ataupun kayu.
Disamping itu, batubara dapat menyimpan gas 6-7 kali lebih banyak dari reservoir
gas konvensional, sehingga sumberdaya CBM sangat besar dan menjanjikan
untuk dikembangkan.
CBM umumnya ditemukan pada lapisan batubara yang tidak begitu dalam
sehingga biaya eksplorasi menjadi lebih murah. Keuntungan lainnya, batubara
yang telah diekstrasi gas metannya, masih tetap bisa ditambang dan digunakan
sebagai sumber energi konvensional. Sumberdaya dunia batubara saat ini
diperkirakan sekitar 9-27 trillion metric ton dan berpotensi mengandung CBM
sebesar 67-252 trillion M3 (Tcm) (Flores, 2014). Dalam kurun waktu 20 tahun ke
belakang hingga saat ini, CBM telah menjadi sumber energi yang penting di
banyak negara.

2.4 Perkembangan Nilai Ekonomis CBM

Saat ini tercatat sekitar 70 negara di dunia memiliki sumberdaya batubara,


40 diantaranya telah mulai melakukan aktivitas pengembangan CBM. Sekitar 20
negara telah dan masih aktif melakukan pengeboran. Seiring dengan semakin
meningkatnya pemahaman terhadap CBM, berbagai aplikasi inovatif untuk
meningkatkan keekonomian CBM dilakukan oleh banyak negara, diantaranya
terkait teknologi pengeboran, logging, ekstraksi, dan stimulasi.

4
Penelitian terbaru terhadap biogenic CBM membuka peluang menjadikan
batubara sebagai bioreaktor metan (Susilawati drr, 2013, 2015). Menjawab isu
global terhadap peningkatan emisi CO2 maka pengembangan CBM juga mulai
mencakup carbon stroge, dimana proyek peningkatan produksi CBM (enhance
CBM/ECBM) digabungkan dengan proyek CO2 suquestration. Gambar dibawah
ini menyajikan ilustrasi diagram pengembangan CBM yang saat ini diaplikasikan
di berbagai negara di dunia.

Gambar 2.2 Diagram Pengembangan CBM (sumber: JMCEngineer).

Dengan menurunnya sumberdaya dan cadangan energi fosil konvensional


(minyak bumi dan batubara) serta tuntutan untuk menggunakan sumber energi
yang ramah lingkungan, penggunaan gas alam yang lebih ramah lingkungan
diperkirakan akan terus meningkat. International Energy Agency (IEA)
memprediksi bahwa sumbangan gas alam terhadap total energi akan meningkat
25% pada tahun 2035. Hal tersebut tentu saja akan mendukung pengembangan
CBM di banyak negara, termasuk juga di indonesia. Dengan kekayaan
sumberdaya batubara yang melimpah, CBM indonesia bisa menjadi energi
alternatif menggantikan posisi minyak dan gas bumi konvensional.

2.5 Produksi CBM


Di dalam lapisan batubara banyak terdapat rekahan (cleat), yang terbentuk
ketika berlangsung proses pembatubaraan. Melalui rekahan itulah air dan gas
mengalir di dalam lapisan batubara. Adapun bagian pada batubara yang dikelilingi
oleh rekahan itu disebut dengan matriks (coal matrix), tempat dimana kebanyakan
CBM menempel pada pori-pori yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian,
lapisan batubara pada target eksplorasi CBM selain berperan sebagai reservoir,
juga berperan sebagai source rock.

5
Gambar 2.3 Prinsip produksi CBM(Sumber: sekitan no hon, hal. 109)

CBM bisa keluar (desorption) dari matriks melalui rekahan, dengan


merendahkan tekanan air pada target lapisan. Hubungan antara kuantitas CBM
yang tersimpan dalam matriks terhadap tekanan dinamakan kurva Langmuir
Isotherm (proses tersebut berada pada suhu yang konstan terhadap perubahan
tekanan). Untuk memperoleh CBM, sumur produksi dibuat melalui pengeboran
dari permukaan tanah sampai ke lapisan batubara target. Karena di dalam tanah
sendiri lapisan batubara mengalami tekanan yang tinggi, maka efek penurunan
tekanan akan timbul bila air tanah di sekitar lapisan batubara dipompa
(dewatering) ke atas. Hal ini akan menyebabkan gas metana terlepas dari lapisan
batubara yang memerangkapnya, dan selanjutnya akan mengalir ke permukaan
tanah melalui sumur produksi tadi. Selain gas, air dalam jumlah yang banyak juga
akan keluar pada proses produksi ini.

2.6 Potensi CBM

Mengenai pembentukan CBM, maka berdasarkan riset geosains organik


dengan menggunakan isotop stabil karbon bernomor masa 13, dapat diketahui
bahwa terdapat 2 jenis pola pembentukan.
Sebagian besar CBM adalah gas yang terbentuk ketika terjadi perubahan
kimia pada batubara akibat pengaruh panas, yang berlangsung di kedalaman
tanah. Ini disebut dengan proses thermogenesis. Sedangkan untuk CBM pada
lapisan brown coal (lignit) yang terdapat di kedalaman kurang dari 200m, gas
metana terbentuk oleh aktivitas mikroorganisme yang berada di lingkungan
anaerob. Ini disebut dengan proses biogenesis. Baik yang terbentuk secara
thermogenesis maupun biogenesis, gas yang terperangkap dalam lapisan batubara
disebut dengan CBM.

6
Gambar 2. 4 Pembentukan CBM(Sumber: sekitan no hon, hal. 109)

Kuantitas CBM berkaitan erat dengan peringkat batubara, yang makin


bertambah kuantitasnya dari gambut hingga medium volatile bituminous, lalu
berkurang hingga antrasit. Tentu saja kuantitas gas akan semakin banyak jika
lapisan batubaranya semakin tebal.
Dari penelitian Steven dan Hadiyanto, 2005, (IAGI special publication) ada 11
cekungan batubara (coal basin) di Indonesia yang memiliki CBM, dengan 4 besar
urutan cadangan sebagai berikut: 1. Sumsel (183 Tcf), 2. Barito (101.6 Tcf), 3.
Kutai (80.4 Tcf), 4. Sum-Tengah (52.5 Tcf). Dengan kata lain sumber daya CBM
di Sumsel sama dengan total (conventional) gas reserves di seluruh Indonesia.

Terkait potensi CBM ini, ada 2 hal yang menarik untuk diperhatikan:
Pertama, jika ada reservoir conventional gas (sandstone) dan reservoir
CBM (coal) pada kedalaman, tekanan, dan volume batuan yang sama, maka
volume CBM bisa mencapai 3 – 6 kali lebih banyak dari conventional gas.
Dengan kata lain, CBM menarik secara kuantitas.

Kedua, prinsip terkandungnya CBM adalah adsorption pada coal matrix,


sehingga dari segi eksplorasi faktor keberhasilannya tinggi, karena CBM bisa
terdapat pada antiklin maupun sinklin. Secara mudahnya dapat dikatakan bahwa
ada batubara ada CBM.

2.7 Produksi CBM & Teknologi Pengeboran

Pada metode produksi CBM secara konvensional, produksi yang ekonomis


hanya dapat dilakukan pada lapisan batubara dengan permeabilitas yang baik.
Tapi dengan kemajuan teknik pengontrolan arah pada pengeboran, arah lubang
bor dari permukaan dapat ditentukan dengan bebas, sehingga pengeboran
memanjang dalam suatu lapisan batubara dapat dilakukan. Seperti ditunjukkan
oleh gambar di bawah, produksi gas dapat ditingkatkan volumenya melalui satu
lubang bor dengan menggunakan teknik ini.

7
Gambar 2.5 Teknik produksi CBM (Sumber: sekitan no hon, hal. 113)

Teknik ini juga memungkinkan produksi gas secara ekonomis pada suatu
lokasi yang selama ini tidak dapat diusahakan, terkait permeabilitas lapisan
batubaranya yang jelek. Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan di Australia
dan beberapa negara lain, dimana produksi gas yang efisien dilakukan dengan
sistem produksi yang mengkombinasikan sumur vertikal dan horizontal, seperti
terlihat pada gambar di bawah.

Gambar 2.6. Produksi CBM dengan sumur kombinasi(Sumber: sekitan no hon,


hal. 113)

Lebih jauh lagi, telah muncul pula ide berupa sistem produksi multilateral,
yakni sistem produksi yang mengoptimalkan teknik pengontrolan arah bor.
Lateral yang dimaksud disini adalah sumur (lubang bor) yang digali arah
horizontal, sedangkan multilateral adalah sumur horizontal yang terbagi-bagi
menjadi banyak cabang.

8
Pada produksi yang lokasi permukaannya terkendala oleh keterbatasan
instalasi fasilitas akibat berada di pegunungan misalnya, maka biaya produksi
memungkinkan untuk ditekan bila menggunakan metode ini. Secara praktikal,
misalnya dengan melakukan integrasi fasilitas permukaan.

Catatan: Teknik pengontrolan arah bor


mekanisme ini, hanya bit yang terpasang di ujung down hole motor saja yang
berputar, melalui kerja fluida bertekanan yang dikirim dari permukaan) dan bukan
mesin bor rotary (pada mekanisme ini, perputaran bit disebabkan oleh perputaran
batang bor atau rod) yang selama ini lazim digunakan, untuk melakukan
pengeboran sumur horizontal dll dari permukaan. Pada teknik ini, alat yang
disebut MWD (Measurement While Drilling) terpasang di bagian belakang down
hole motor, berfungsi untuk memonitor arah lubang bor dan melakukan koreksi
arah sambil terus mengebor.

Gambar 2.7 Pengontrolan arah bor (Sumber: sekitan no hon, hal. 113)

9
2.8 Tabel Perbandingan Dari Jurnal

N JUDUL PENELI BAHAN KATALIS KONDI ALAT TAHAP HASIL


O TI BAKU SI AN PEMBAH
OPER PROSE ASAN
ASI S
1 Enhanced O.Angus Batubar Diluent Suhu Brayto Memas Subjek
coal-bed Sites a N2 dan antara n cycle ukan penelitian
methane dengan CO2 350- power fuel gas ini adalah
production K. Bohra kandung 600 plant , batubara
(Marzhya an N2 Oxidant derajat oxidant dengan
Azalea V ; dan CO2 fahren Rankin dan kadar
030313816 heit. e cycle diluent N2 dan
21065) power ke CO2 yang
Denga plant power tinggi
n plant
tekana Booster brayton Tujuan
n compre dari
400- ssor Memuli proses ini
600 hkan adalah
psig energi meningka
panas tkan
dari Kualitas
pembak methane
aran yang akan
diproduks
Memas i
ukan
diluen Efficiency
hasil dari satu
brayton power
ke plant
reservoi hanya
r menghasil
batubar kan 44%
a methane
saja
Menung sedangka
gu n bila
proses digabungk
dan an
menga dengan 2
mbil gas power
methan plant
e di menjadi
reservoi 66%
r

2 Coal Bed Dennis Batubar Proses Tekana Diesel Pertam Proses ini
Recovery R,Wilso a tidak n dari engine a dilakukan
(T.Nur n subterra menggu 400 coal batubar dengan
Rachmad ; nean nakan sampai bed a cara
030311814 Jamal katalis 600 diinjeksi menginjek
19037) A,Sanda namun psig Recove kan sikan gas

10
rusi memakai ry well dengan yang
suhu Suhu karbon mengand
Pete yang dari dioksida ung
Bowser tinggi 350 di banyak
sampai dalam Karbon
Pat 600 coal dioksida
lively derajat bed ke
Matt fahren secara batubara
Stanley heit kontinu secara
kontinu
Lalu
setelah
diinjeksi Lalu
kan , methane
methan yang
e akan keluar
keluar akan
dan diambil di
didesor recovery
psi , well
lalu
methan Untuk
e yang menurunk
keluar an
ini akan kandunga
direcov n
er lagi moisturen
di ya
recover (airnya) ,
y well penginjek
sian gas
dilakukan
dengan
tekanan
2000 psig
secara
konstan

3. SYSTEM Robert Batubar Tekana Compr Konvers Untuk


AND D. a n essor i bahan memperol
METHODS Kaminsk maksi baku eh CBM
FOR y mum Pump menjadi pada
PRODUCIN 20,000 campur lapisann
G COAL psi Bor an gas batubara
BED dibuat
METHANE Coalbe Injeksi terlebih
(Nurafni d campur dahulu
Oktafia ; an gas sumur
030313816 ke pengeboa
21080) dalam n dari
coalbed permukaa
yang n tanah
terpisah sampai ke

11
dari batubara.
bahan Gas
baku metana
akan
Produks terlepas
i CH4 dari
batubara
karena di
dalam
tanah
batubara
mengala
mi
tekanan
yang
tinggi,
yang
menyeba
nkan
munculny
a efek
penuruna
n tekanan
bila air
tanah di
sekitar
lapisan
batubara
di pompa
ke atas
yang
selanjutan
ya gas
metana
tersebut
akan
mengalir
ke atas
melalui
sumur
produksi.
4 METHODS Petr Batubar Pump Penggali Pengeluar
FOR Georgiy a an an gas
EXTRACTIN evich Drilling sumur metana
G Ageev vertical dari
METHANE Rig di matriks
FROM Nikita tempat batubara
COAL BEDS Petrovic Turbin coal dilakukan
AND FORM h Ageev bed dengan
PENETRATI cara
NG ROCK Menent ,menurun
ENCLOSING ukan kan
A COAL ketebal tekanan
BED an coal reservoir

12
(Tamam bed dengan
Ibrahim ; cara
030313816 Menent mengalirk
21089) ukan an
satu seluruh
atau fluida
lebih yang ada.
parame
ter coal
bed

Menent
ukan
kejenuh
an gas
metana
dari
coal
bed.

13
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

CBM (Coalbed Methane) adalah gas metana yang terkandung dalam


lapisan batubara. Gas ini digolongkan “sweet gas” lantaran tidak mengandung
hidrogen sulfida (H2S). CBM diproduksi dengan cara terlebih dahulu merekayasa
batubara (reservoir) agar didapatkan cukup ruang sebagai jalan keluar gasnya.
Salah satu keunggulan CBM dibandingkan dengan batubara adalah sifatnya yang
lebih ramah lingkungan. Produksi CBM tidak memerlukan pembukaan area yang
luas seperti tambang batubara. Pembakaran CBM juga tidak menghasilkan toksin,
serta tidak mengeluarkan abu dan hanya melepaskan sedikit CO2 per unit energi
dibandingkan dengan batubara, minyak, ataupun kayu.
Dengan kekayaan sumberdaya batubara yang melimpah, CBM indonesia bisa
menjadi energi alternatif menggantikan posisi minyak dan gas bumi konvensional.

14
DAFTAR PUSTAKA

https://imambudiraharjo.wordpress.com/2010/01/19/mengenal-cbm-coal-bed-
methane/

http://www.geologinesia.com/2016/12/cbm-coalbed-methane-sumber-enegi-dari-gas-
metana-batubara.html

https://www.scribd.com/document/345212287/Pembentukan-Cbm-Pada-Lapisan-
Batubara

15