Anda di halaman 1dari 5

Nama : Novrianto Albertino

Nrp : B94154328

1. Prinsip Ultrasonografi
Gelombang listrik akan melewati transduser dan diubah menjadi gelombang suara
(ultrasaound) dalam kristal piezoelectric. Gelombang ini diteruskan ke jaringan, dan
direfleksikan menjadi gelombang echo, melewati transduser. Gelombang ini didalam kristal
piezoelectric diubah lagi menjadi sinyal listrik.

2. Tipe Transducers
- Linear Array Transducers
Transduser ini mempunyai kristal sejajar menyususn suatu garis. Bidang pandang besar,
sehingga struktur organ maupun batas antara organ target sekitarnya lebih jelas. Kerugian
dari tipe transduser ini, memerlukan kontak area yang luas, sehingga untuk dunia
kedokteran hewan dirancang linear array yang kecil. Aplikasi transduser jenis ini adalah
pemindaian organ-organ atau struktur yang lebih profundal.
- Curved Transducers
Transduser ini berukuran kecil sehingga lebih mudah digunakan. Bentuk bidang pandang
menyerupai kerucut, area scaning lebih luas memungkinkan lebih banyak struktur organ
yang terlihat, namun resolusi gambal lebih rendah. Aplikasi transduser jenis ini adalah
pemindaian organ-organ atau struktur yang lebih superficial.

3. Prinsip interpretasi
Berdasarkan kepada kekuatan atau intensitas gelombang yang dipantulkan kembali oleh
jaringan ke transduser. Berdasarkan kekuatan intensitas tersebut makan penggambaran
ultrasonigrafi dibedakan menjadi hyperechoic, hypoechoic dan anechoic.
- Hyperechoic
Echo yang dihasilkan terang, terlihat warna putih pada hasil scan. Hyperechoic
menunjukan highly-reflective interfaces, seperti collagen, lemak, udara, benda keras dan
tulang.
- Hypoechoic
Echo yang dihasilkan sedikit, terlihat warna abu-abu hitam pada hasil scan. Hypoechoic
menunjukan intermediate reflection, seperti pada kebanyakan jaringan lunak.
- Anechoic
Tidak ada echo yang dihasilkan, terlihat warna hitam pada hasil scan. Hal ini menunjukan
complete transmission dari suara, contoh cairan.

4. Radiologi
Radiologi adalah ilmu untuk melihat bagian dalam tubuh manusia menggunakan pancaran
atau radiasi gelombang, baik gelombang elektromagnetik maupun gelombang mekanik. Sinar
x merupakan gelombang elektromagnetik yang keluar dari anoda tabung sinar x setelah
penembakan target dengan elektron berkecepatan tinggi. Proses terjadinya sinar x yaitu terjadi
dari tabung gelas hampa udara, dimana ada pertemuan elektroda positif/ anoda dan elektoda
negatif/ katoda.
5. Gambaran perubahan-perubahan yang diamati
- Ukuran
- Bentuk
- Number
- Lokasi
- Marginasi
- Radiopacity or radiolucency

6. Xylazine
Xylazine merupakan salah satu golongan α2-adrenoceptor stimulant atau α2 adrenergic
receptor agonist. Alpha-2 agonist seperti xylazine dan medetomidin adalah preanestetikum yang
sering digunakan pada anjing dan kucing untuk menghasilkan sedasi, analgesi, dan pelemas otot.
Xylazine bekerja melalui mekanisme yang menghambat tonus simpatik karena xylazine
mengaktivasi reseptor postsinap α2-adrenoseptor sehingga menyebabkan medriasis, relaksasi otot,
penurunan denyut jantung, penurunan peristaltik, relaksasi saluran cerna, dan sedasi. Aktivitas
xylazine pada susunan syaraf pusat adalah melalui aktivasi atau stimulasi reseptor α2-adrenoseptor,
menyebabkan penurunan pelepasan simpatis, mengurangi pengeluaran norepineprin dan dopamin.
Reseptor α2, Xylazine menghasilkan sedasi dan hipnotis yang dalam dan lama, dengan dosis yang
ditingkatkan mengakibatkan sedasi yang lebih dalam dan lama serta durasi panjang. α2-
adrenoseptor adalah reseptor yang mengatur penyimpanan dan atau pelepasan dopamin dan
norepineprin. Xylazine menyebabkan relaksasi otot melalui penghambatan transmisi impuls
intraneural pada susunan syaraf pusat dan dapat menyebabkan muntah. Xylazine juga dapat
menekan termoregulator. Xylazine menyebabkan tertekannya sistem syaraf pusat, bermula dari
sedasi, kemudian dengan dosis yang lebih tinggi menyebabkan hypnosis, tidak sadar dan akhirnya
keadaan teranestesi. Pada sistem pernafasan, xylazine menekan pusat pernafasan. Xylazine juga
menyebabkan relaksasi otot yang bagus melalui imbibisi transmisi intraneural impuls pada SSP.
Penggunaan xylazine pada anjing menghasilkan efek samping merangsang muntah tetapi dapat
mengosongkan lambung pada anjing diberi makan sebelum dianestesi.
Sebagai efek samping dari xylazine adalah mengalami penurunan setelah kenaikan awal
pada tekanan darah dalam perjalanan efeknya vasodilatasi tekanan darah dan juga dapat
menyebabkan bradikardi.

7. Ketamin
Ketamin adalah suatu rapid acting nonbarbiturat general anaesthetic. Indikasi pemakaian
ketamin adalah prosedur dengan pengendalian jalan napas yang sulit, prosedur diagnosis, tindakan
ortopedi, pasien risiko tinggi, tindakan operasi sibuk, dan asma. Ketamin adalah satu-satunya obat
anestesi intravena yang memiliki kemampuan hipnosis, analgesik dan amnesia sekaligus dan
relatif murah. Mempunyai onset kerja yang cepat dan mencapai efek kerja maksimal dalam waktu
yang singkat pula. Neurotransmitter ketamine adalah Gamma Amino Butirat Acid (GABA),
serotonin, dopamin, dan norepinefrin. Reseptor ketamine adalah N-methyl-D-aspartate (NMDA).
Ketamine menduduki reseptor NMDA menggantikan glutamat sehingga akan menghambat
penyampaian impuls dan mengurangi fase awal persepsi nyeri. Ketamine juga mendepres
thalamoneocortical dengan cara menghambat GABA dan memblokade serotonin, norepinefrin,
dan dopamin di sistem saraf pusat (SSP). Thalamoneocortical merupakan sistem terhadap persepsi
nyeri. Ketika GABA dihambat maka GABA tidak berikatan dengan reseptornya sehingga terjadi
hiperpolarisasi. Efek dari hiperpolarisasi adalah menurunnya kecemasan, bersifat sedatif dan
hipnotik, dan antikonvulsan. Ketamine menginduksi terjadinya amnesia dengan mengganggu
fungsi SSP melalui over stimulasi SSP. Ketamine menduduki reseptor α di postsinaps sehingga
terjadi peningkatan neurotransmitter yang disekresikan dalam tubuh. Peningkatan
neurotransmitter tersebut berdampak pada terjadinya kelebihan serotonin, dopamin, dan
norepinefrin. Serotonin merupakan neurotransmitter yang mengatur tidur dan emosional.
Kelebihan serotonin mengakibatkan kekakuan otot, demam, kejang, menggigil, diam, dan tidur.
Dopamin merupakan neurotransmitter yang mengontrol gerakan tubuh. Norepinefrin merupakan
neurotransmitter yang mengatur kardiovaskular. Kelebihan norepinefrin akan mengakibatkan
kontraksi otot jantung, vasokonstriksi, dan peningkatan tekanan sistol dan diastol.

8. Atropin
Atropin adalah senyawa alam terdiri dari amine antimuscarinic tersier; Atropin adalah
antagonis reseptor kolinergik yang diisolasi dari Atropa belladona L, Datura stramonium L dan
tanaman lain keluarga Solanaceae. Interaksi obat yaitu meningkatkan efek/toksisitas :
Antihistamin, fenotiazin, TCAs dan obat lain dengan aktivitas antikolinergik dapat meningkatkan
efek antikolinergik dari atropin jika digunakan secara bersamaan. Amine sympathomimetic dapat
menyebabkan tachyrrhytmias, hindari penggunaan secara bersamaan. Menurunkan efek : Efek
antagonis terjadi dengan obat phenothiazine. Efek levodopa dapat diturunkan. Obat-obat dengan
mekanisme cholinergic (metochlopramide, cisapride, bethanecol) menurunkan efek antikolinergik
atropin. Parameter monitoring : Heart rate, tekanan darah, pulsa, status mental; monitor jantung.
Mekanisme aksi yaitu menghambat aksi asetilkolin pada bagian parasimpatik otot halus, kelenjar
sekresi dan SSP, meningkatkan output jantung, mengeringkan sekresi, mengantagonis histamin
dan serotonin.

9. Lidokain
Lidokain adalah derivat asetanilida yang merupakan obat pilihan utama untuk anestesi
permukaan maupun infiltrasi. Lidokain adalah anestetik lokal kuat yang digunakan secara luas
dengan pemberian topikal dan suntikan. Obat ini mempunyai kemampuan untuk menghambat
konduksi di sepanjang serabut saraf secara reversibel, baik serabut saraf sensorik, motorik, maupun
otonom. Anestesi lokal mengganggu fungsi saluran ion di dalam membran sel neuron mencegah
transmisi potensial aksi saraf. Hal ini diduga terjadi melalui pengikatan spesifik dari molekul
anestesi lokal untuk saluran natrium, menahan mereka dalam keadaan tidak aktif sehingga
depolarisasi lebih lanjut dapat terjadi. Efek ini dimediasi dari dalam sel, sehingga anestesi lokal
harus melintasi membran sel sebelum dapat mengerahkan efeknya. Mekanisme kedua juga
memulai untuk beroperasi, melibatkan gangguan fungsi saluran ion oleh penggabungan molekul
anestesi lokal ke dalam membran sel (teori ekspansi membran). Serabut saraf kecil lebih sensitif
dari serabut saraf besar sementara serat myelinated diblokir sebelum serat nonmyelinated dari
diameter yang sama. Dengan demikian hilangnya fungsi saraf sebagai hasil hilangnya rasa sakit,
temperatur, sentuhan, proprioception, dan kemudian otot rangka. Inilah sebabnya mengapa masih
dapat merasakan sentuhan tetapi tidak sakit saat menggunakan anestesi lokal.
10. American Society of Anasthesiologists
ASA
Deskripsi fisik hewan Contoh
scale
Normal tanpa penyakit Penyakit sehat untuk operasi OH
1
atau kastrasi
Pasien dengan penyakit sistemik sedang Diabetes melitus terkontrol,
2
namun tidak menggangu fungsi normal insufisiensi katup jantung sedang
Pasien dengan penyakit sistemik berat yang Diabetes melitus tidak terkontrol,
3 sampai menggangu fungsi normal penyakit jantung dengan gejala
klinis jelas4
Pasien dengan penyakit sistemik berat yang Sepsis, kegagalan organ, gagal
4
sampai mengancam nyawa jantung
Pasien hamper mati dan tidak akan tertolong Shock, kegagalan banyak organ,
5 apabila tidak dilakukan tindakan penanganan trauma parah
operasi dalam 24 jam
Pasien dalam kondisi gawat darurat Gastric dilatation-volvuluv, distress
E
pernafasan