Anda di halaman 1dari 14

HUBUNGAN KEKUATAN OTOT LENGAN DAN OTOT TUNGKAI DENGAN

KETERAMPILAN SMASH DALAM BADMINTON

(Jurnal Skripsi)

Oleh
WILLY BAHTIAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014
ABSTRACT

THE RELATIONSHIP BETWEEN ARM MUSCLE STRENGTH AND


LEG MUSCLE SMASH ON STUDENT IN BADMINTON

By

WILLY BAHTIAR

Mentor
Drs. Surisman,Spd. M.Pd
Drs. Akor Setepu, M. Pd

The aim of this study whether there was a significant correlation between the
strength of arm muscles and leg muscles with skill smash in badminton at the
students that followed extracurricular badminton in SMPN Metro City. The
method of this research used descriptive correlational. The population of this
research was the students of SMPN in Metro city that followed extracurricular
badminton. The instrument of this research using push dynamometer arm, leg
muscle strength was measured by using a dynamometer Leg, test accuracy smash
with kesasaran attack with fixed and accuracy. The result of this research showed
that there was significant relationship between the three variables of the study.

Keywords: badminton, leg arm, leg muscles, smash,


ABSTRAK

HUBUNGAN KEKUATAN OTOT LENGAN DAN OTOT TUNGKAI


DENGAN KETERAMPILAN SMASH DALAM BADMINTON

OLEH

WILLY BAHTIAR

Pembimbing
Drs. Surisman,Spd. M.Pd
Drs. Akor Setepu, M. Pd

Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan yang signifikan antara kekuatan


otot lengan dan otot tungkai dengan keterampilan smash dalam badminton pada
siswa yang mengikuti ekstrakurikuler badminton di SMP Negeri Kota Metro.
Penelitian ini menggunakan Metode deskriptif korelasional. Populasi penelitian
yaitu siswa SMPN di Kota Metro yang mengikuti ekstrakurikuler badminton.
Instrumen yang dipakai adalah alat push dynamometer dan Leg Dynamometer, tes
ketepatan smash dengan serangan kesasaran dengan tetap dan akurasi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa, ada hubungan yang signifikan antara kekuatan
otot lengan dan otot tungkai dengan keterampilan smash dalam badminton.

Kata kunci : badminton, otot lengan, otot tungkai, smash.


I. PENDAHULUAN pada unsur kondisi fisik
dominan smash dalam
Latar Belakang badminton yaitu kekuatan yang
melibatkan otot lengan maupun
Badminton merupakan salah sat otot tungkai. Kekuatan
u olahraga yang terkenal di duni merupakan komponen fisik
a. Permainan ini menarik minat seseorang tentang
berbagai kelompok umur, berba kemampuannya dalam
gai tingkat keterampilan dan mempergunakan otot untuk
pria maupun wanita memainkan menerima beban sewaktu
olahraga ini di dalam atau di lua bekerja. Kekuatan otot sangat
r ruangan untuk rekreasi juga berhubungan dengan sistem
sebagai ajang persaingan. Per- neuromuskuler yaitu seberapa
mainan badminton merupakan besar kemampuan sistem saraf
permainan yang bersifat individ mengaktifasi otot untuk
ual yang dapat dilakukan dengan melakukan kontraksi. Sehingga
cara melakukan satu orang semakin banyak serabut otot
melawan satu orang atau dua yang teraktifasi, maka semakin
orang melawan dua orang. besar pula kekuatan yang
dihasilkan otot tersebut untuk
Beberapa teknik dasar memperoleh hasil pukulan atau
badminton yang dipelajari siswa smash yang akurat dalam
SMP seperti memegang raket, permainan badminton.
pukulan servis, pukulan
forehand, pukulan backhand, Menurut hasil observasi peneliti
pukulan dropshot, smash dan di SMP Negeri Kota Metro pada
juga pola gerakan dominan yang siswa ekstrakurikuler badminton
dibutuhkan saat bermain diketahui bahwa sebagian besar
badminton, seperti melangkah, siswa masih belum mampu
menjangkau, melompat dan melakukan gerakan smash
merubah ke segala arah dan dengan baik dan benar. Penulis
tempat shuttle cock akan jatuh. melihat bahwa belum
mampunya siswa melakukan
Faktor-faktor kondisi fisik yang gerakan smash yang baik karena
dibutuhkan dalam bermain kurangnya kemampuan otot
badminton ialah kekuatan, daya lengan maupun otot tungkainya
tahan, daya otot, kecepatan, daya untuk berkontraksi dengan
lentur, kelincahan, koordinasi, maksimal, sehingga
keseimbangan, ketepatan, dan menyebabkan kurang kuat, cepat
reaksi. Namun Herman dan terarahnya shuttle cock yang
Subardjah (2000: 46) dipukul.
menjelaskan bahwa pada
pukulan smash lebih Berdasarkan uraian di atas,
mengandalkan unsur kekuatan maka penulis memandang perlu
dan kecepatan. untuk mengadakan penelitian
yang berjudul ” Hubungan
Dalam penelitian ini, penulis kekuatan otot lengan dan otot
akan memfokuskan penelitian tungkai dengan keterampilan
smash dalam badminton pada ekstrakurikuler SMP Negeri
siswa ekstrakurikuler SMP Kota Metro tahun pelajaran
Negeri Kota Metro tahun 2013/2014.
pelajaran 2013/2014”. 3. Apakah terdapat hubungan
yang signifikan antara
Identifikasi Masalah kekuatan otot lengan dan
otot tungkai dengan
Berdasarkan latar belakang yang keterampilan smash dalam
telah dikemukakan, maka dapat badminton pada siswa
diidentifikasikan berbagai ekstrakurikuler SMP Negeri
masalah sebagai berikut: Kota Metro tahun pelajaran
1. Sebagian besar siswa yang 2013/2014.
mengikuti ekstrakurikuler di
SMP Negeri Kota Metro Tujuan Penelitian
masih belum baik pada fase
sikap awal gerakan smash. Berdasarkan permasalahan yang
2. Sebagian besar siswa yang telah dikemukakan di atas,
mengikuti ekstrakurikuler di penelitian ini mempunyai tujuan:
SMP Negeri Kota Metro
masih belum baik pada fase a. Untuk mengetahui besarnya
gerakan pelaksanaan smash. hubungan antara kekuatan
3. Sebagian besar siswa yang otot lengan dengan
mengikuti ekstrakurikuler di keterampilan smash dalam
SMP Negeri Kota Metro badminton pada siswa
masih belum baik pada fase ekstrakurikuler SMP Negeri
gerakan follow Kota Metro tahun pelajaran
throughsmash. 2013/2014.
b. Untuk mengetahui besarnya
Rumusan Masalah hubungan antara kekuatan
otot tungkai dengan
Berdasarkan latar belakang, keterampilan smash dalam
identifikasi danbatasan masalah badminton pada siswa
yang telah dikemukakan di atas, ekstrakurikuler SMP Negeri
dapat dirumuskan sebagai Kota Metro tahun pelajaran
berikut : 2013/2014.
1. Apakah terdapat hubungan c. Untuk mengetahui besarnya
yang signifikan antara hubungan antara kekuatan
kekuatan otot lengan dengan otot lengan dan otot tungkai
keterampilan smash dalam dengan keterampilan smash
badminton pada siswa dalam badminton pada
ekstrakurikuler SMP Negeri siswa ekstrakurikuler SMP
Kota Metro tahun pelajaran Negeri Kota Metro tahun
2013/2014. pelajaran 2013/2014.
2. Apakah terdapat hubungan
yang signifikan antara Manfaat Penelitian
kekuatan otot tungkai
dengan keterampilan smash Melalui penelitian ini, peneliti
dalam badminton pada siswa mengharapkan manfaat baik
secara teoritis maupun secara Otot Lengan
praktis yang akan diperoleh
diantaranya : Lengan adalah anggota badan
1. Manfaat teoritis. dari pergelangan sampai ke bahu
2. Manfaat praktis (Poerwadarminto, 1996:
a. Bagi peneliti 85).Lengan adalah anggota
b. Bagi masyarakat tubuh penggerak bagian atas
c. Bagi guru/ pendidik. yang terdiri dari tulang-tulang,
d. Bagi siswa. sendi penggerak dan otot-otot
e. Bagi peneliti lainnya yang melindunginya. Pate
Rotella (1993: 164) adapun otot-
otot lengan terdiri dari: deltoid
II. TINJAUAN PUSTAKA (otot segi tiga), musculus
subskapularis (otot depan tulang
Keterampilan Motorik belikat), musculus
Suprasuspinatus (otot atas
Pengertian belajar gerak tidak tulang belikat), musculus
terlepas dari pengertian belajar Infraspinatus (otot bawah tulang
pada umumnya. Belajar gerak belikat), musculus Teresmayor
merupakan bagian belajar. (otot lengan bulat besar),
Belajar yang menekankan pada musculus Teres minor (otot
aktivitas gerak tubu disebut lengan belikat kecil). . Dalam hal
belajar gerak. Dalam proses ini menurut Winkel (1997: 11)
belajar keterampilan motorik pembelajaran keterampilan gerak
tidak hanya perubahan melalui tiga tahapan, yaitu :
psikomotorik yang dicapai,
tetapi juga bersifar kognitif dan 1. Tahap Kognitif
afektif. Siswa belajar keterampilan
baru mengetahui lebih dahulu
keterampilan apa yang akan
Kekuatan Otot dipelajari, urutan gerakan
yang tepat dan
Menurut Harsono (1988: 36) mengkoordinasikan
menyatakan bahwa kekuatan keterampilan gerak terhadap
atau strength adalah kemampuan anggota badan (penyesuaian).
otot untuk membangkitkan
tegangan terhadap suatu tahanan. 2. Tahap Fiksasi
Menurut Boosey dalam Masa latihan untuk
Suharjana (2004: 29) bahwa memperkenalkan kegiatan
kekuatan adalah kapasitas menurut urutan gerakan yang
sebuah otot yang tepat dan mengkoordinasikan
mempergunakan tenaga (force) keterampilan gerak tersebut
untuk melawan tahanan. kepada anggota badan.
Kekuatan otot dipengaruhi oleh
3. Tahap Otomatis
beberapa faktor, seperti : ukuran
otot, jenis kelamin, dan umur Setelah peserta didik
menurut Suharjana (2004: 30). melakukan latihan dalam
jangka waktu yang relatif
lama, maka akan memasuki
tahap otomatis. Secara Permainan Bulutangkis
fisiologis hal ini dapat
diartikan bahwa pada diri Lapangan bulutangkis memiliki
anak telah terjadi suatu ukuran 13,40 meter dan 6,10
kondisi reflek bersyarat, yaitu meter dengan garis-garis yang
terjadinya pengerahan tenaga ada mempunyai ketebalan 40
mendekati pola gerak reflek mm dan harus berwarna kontras
yang sangat efisien dan hanya terhadap warna lapangan. Warna
akan melibatkan unsur motor yang disarankan untuk garis
unit yang benar-benar adalah putih atau kuning.
diperlukan untuk gerakan Permukaan lapangan disarankan
yang diinginkan. terbuat dari kayu atau bahan
sintetis yg lunak agar tidak dapat
Otot Tungkai mengakibatkan cedera pada
pemain. Net setinggi 1,55 m
Tungkai adalah seluruh tungkai, berada tepat di tengah lapangan.
dari pangkal paha ke bawah Net berwarna gelap kecuali bibir
(Poerwadarminto, 1996: 107). net yang mempunyai ketebalan
Pate Rotella (1993: 166) bahwa 75 mm harus berwarna putih.
tungkai merupakan anggota
badan bawah yang dibentuk oleh
tulang tungkai atas paha (os Keterampilan Smash
femoris/femur), tulang tungkai
bawah yang terdiri dari tulang Lebih lanjut Herman Subardjah
kering (os tibia) dan tulang betis (2000: 47) menjelaskan pukulan
(os fibula) dan tulang tungkai smash merupakan pukulan yang
(os pedis/foot bones). keras dan tajam, bertujuan untuk
mematikan lawan secepat-
Latihan kekuatan otot tungkai cepatnya. Untuk mendapatkan
adalah latihan yang ditujukan hasil pukulan yang sangat tajam,
untuk meningkatkan maka usahakan shuttle cock
kemampuan otot tungkai, dipukul di depan badan dalam
menyangkut memberikan posisi raket condong ke depan
kekuatan pada loncatan, dan merupakan hasil maksimal
kecepatan melayang, kelentukan dari koordinasi antara gerakan
anggota gerak bawah melakukan badan, lengan dan pergelangan
smash yang lurus dan koordinasi tangan.
antara mata, tangan dan tungkai Syahri Alhusin (2007: 43)
untuk melakukan smash yang menjelaskan bahwa smash yakni
mematikan bagi lawan. Latihan pukulan overhead (atas) yang
yang rutin dan sesuai dengan diarahkan ke bawah dan
prinsip-prinsip kepelatihan akan dilakukan dengan tenaga penuh.
sangat diharapkan dapat Pukulan ini identik sebagai
meningkatkan kemampuan siswa pukulan menyerang, dengan.
tujuan utamanya adalah
mematikan lawan. Karakter
pukulan ini adalah keras dan laju
shuttle cock cepat menuju lantai
lapangan Hipotesis

Penelitian Relevan Berdasarkan pendapat di atas


dapat disimpulkan bahwa
Faktor-faktor kondisi fisik yang hipotesis adalah suatu konsep
dibutuhkan dalam bermain yang berfungsi sebagai jawaban
badminton ialah kekuatan, daya sementara terhadap masalah
tahan, daya otot, kecepatan, daya penelitian, maka hipotesis yang
lentur, kelincahan, koordinasi, diajukan dalam penelitian
keseimbangan, ketepatan, dan adalah:
reaksi. Dengan itu dalam kajian H0 : Tidak ada hubungan yang
ini faktor kondisi fisik yang akan signifikan antara kekuatan
dikaji adalah kekuatan otot otot lengan dengan
lengan dan kekuatan otot keterampilan smash dalam
tungkai, karena untuk badminton pada siswa
meningkatkan kemampuan ekstrakurikuler SMP
bermain badminton perlu Negeri Kota Metro tahun
diketahui seberapa besar pelajaran 2013/2014.
hubungan faktor-faktor tersebut H1 : Ada hubungan yang
ikut berpengaruh terhadap hasil signifikan antara kekuatan
permainan badminton khususnya otot lengan dengan
dalam pelaksanaan pukulan keterampilan smash dalam
smash. badminton pada siswa
ekstrakurikuler SMP
Kerangka Berfikir Negeri Kota Metro tahun
pelajaran 2013/2014.
H0 : Tidak ada hubungan yang
1. Kekuatan otot lengan dan signifikan antara kekuatan
otot tungkai mempunyai otot tungkai dengan
hubungan yang positif keterampilan smash dalam
terhadap keterampilan badminton pada siswa
smash dalam badminton. ekstrakurikuler SMP
Negeri Kota Metrotahun
2. Kekuatan otot lengan dan pelajaran 2013/2014.
otot tungkai mempunyai H2 : Ada hubungan yang
hubungan yang positif signifikan
terhadap keterampilan antara kekuatan otot
smash dalam badminton. tungkai dengan
keterampilan smash dalam
3. Penulis ingin badminton pada siswa
membuktikan data secara ekstrakurikuler SMP
empiris bagaimana Negeri Kota Metro tahun
hubungan kekuatan otot pelajaran 2013/2014.
lengan dan otot tungkai H0 : Tidak ada hubungan yang
dengan smash dalam signifikan antara kekuatan
badminton. otot lengan dan otot
tungkai dengan
keterampilan smash dalam atau penelitian korelasional yaitu
badminton pada siswa untuk mengetahui seberapa erat
ekstrakurikuler SMP hubungan antara kedua variabel
Negeri Kota Metro tahun atau lebih. Tujuan penelitian
pelajaran 2013/2014. korelasional untuk menemukan
H3 : Ada hubungan yang ada tidaknya hubungan dan
signifikan apabila ada, seberapa eratnya
antara kekuatan otot hubungan serta berarti atau
lengan dan otot tungkai tidaknya hubungan itu.
dengan keterampilan Sedangkan menurut Riduwan
smash dalam badminton (2005: 49) penelitian
pada siswa ekstrakurikuler korelasional adalah penelitian
SMP Negeri Kota Metro yang bertujuan untuk
tahun pelajaran 2013/2014. menentukan ada atau tidaknya
hubungan dan seberapa jauh
hubungan antara dua variabel
atau lebih.
III. METODOLOGI PENELITIAN
Metode Penelitian Untuk mengetahui hubungan
kekuatan otot lengan dan otot
Menurut Arikunto (2002) tungkai dengan keterampilan
Penelitian deskriptif korelasional smash dalam badminton pada
atau penelitian korelasional yaitu siswa ekstrakurikuler SMP Negeri
untuk mengetahui seberapa erat Kota Metro tahun pelajaran
hubungan antara kedua variabel 2013/2014, maka metode yang
atau lebih. Tujuan penelitian digunakan dalam penelitian ini
korelasional untuk menemukan adalah deskriptif korelasional.
ada tidaknya hubungan dan
apabila ada, seberapa eratnya Menurut Margono (2005: 133)
hubungan serta berarti atau bahwa variabel adalah
tidaknya hubungan itu. pengelompokkan yang logis dari
dua atribut atau lebih. dalam hal
Untuk mengetahui hubungan ini terdapat dua macam variabel,
kekuatan otot lengan dan otot yaitu :
tungkai dengan keterampilan a. Variabel Bebas
smash dalam badminton pada Variabel bebas adalah variabel
siswa ekstrakurikuler SMP yang nilai-nilainya tidak
Negeri Kota Metro tahun tergantung pada
pelajaran 2013/2014, maka variable lainnya yang berguna
metode yang digunakan dalam untuk meramalkan dan menera
penelitian ini adalah deskriptif ngkan nilai variabel yang
korelasional. simbolkan dengan (X). Adapun
variabel bebas dalam penelitian
Variabel Dan Data Penelitian ini adalah kekuatan otot lengan
Variabel dan kekuatan otot tungkai.
b. Variabel Terikat
Menurut Arikunto (2002) Variabel terikat adalah variabel
Penelitian deskriptif korelasional yang nilai-nilainnya
bergantung pada variabel Instrumen Penelitian dan
lainnya dan merupakan Pengumpulan Data
variabel yang diterangkan nilai
dan dilambangkan dengan (Y). Menurut Arikunto (2002: 112)
Variabel ini dilambangkang instrumen penelitian adalah alat
dengan (Y). Variabel pada waktu penelitian
terikatnya adalah keterampilan menggunakan suatu metode.
smash dalam badminton (Y). Keberhasilan suatu penelitian
banyak ditentukan oleh instrumen
Data Penelitian yang digunakan, sebab data yang
diperoleh untuk menjawab
Data merupakan keterangan- pertanyaan penelitian dan menguji
keterangan atau fakta-fakta yang melalui instrumen tersebut.
dikumpulkandari suatu populasi Instrumen yang digunakan dalam
atau bagian populasi yang akan penelitian ini adalah :
digunakan untuk
menerangkanciri-ciri populasi Tes Kekuatan Otot Lengan
yang bersangkutan. populasi
dalam penelitian ini adalah Kemenpora (2005 : 25) bahwa tes
seluruh siswa ekstrakurikuler untuk mengukur kekuatan otot
badminton SMP Negeri di Kota lengan menggunakan push
Metro (SMP Negeri 1 dan SMP dynamometer.
Negeri 3 sebanyak 30 siswa). Satuan dalam instrumen pushdyna
mometer ini adalah kilogram.
Sampel Memiliki indeks validitas sebesar
0,63 dan reliabilitas 0,63.
Sudjana (2006:6) sampel adalah Tujuan : Untuk mengukur
sebagian dari populasi yang kekuatan
dimiliki staf dan karakter yang otot lengan dalam mend
sama sehingga betul-betul dapat orong
mewakili populasi. Adapun Alat : Push dynamometer
besarnya sampel yang akan
Petugas : Pemandu tes dan
diteliti, Suharsimi Arikunto
pencatat skor
menjelaskan, untuk sekedar ancer-
ancer maka apabila subjeknya Pelaksanaan: Peserta tes berdiri
kurang dari 100 maka lebih baik tegak dengan kaki terbuka
di ambil semua, sehingga selebar bahu dan pandangan
penilitian ini disebut penelitian lurus ke depan. Tangan
populasi, selanjutnya jika jumlah memegang push dynamometer
subjeknya besar dapat di ambil dengan kedua tangan di depan
antara 10 – 15% atau 20 – 25%. dada. Posisi lengan dan tangan
Bertitik tolak dari pendapat di lurus dengan bahu. Dorong alat
atas, maka dalam penelitian ini tersebut sekuat tenaga. Pada saat
sample yang digunakan adalah mendorong, alat tidak boleh
total sampling atau populasi menempel pada dada, sedangkan
sampel yaitu seluruh siswa yang tangan dan siku tetap sejajar
mengikuti ekstrakulikuler bahu. Tes dilakukan sebanyak
badminton berjumlah 30 siswa. tiga kali.
Tes Keterampilan Smash
Penilaian : Skor kekuatan dalam Badminton
dorong terbaik dari tiga kali
percobaan dicatat sebagai skor Tujuan tes ketepatan smash
dalam satuan kg, dengan tingkat adalah untuk mengukur
ketelitian 0,5 kg. ketepatan smash serangan
kesasaran dengan tetap dan
Tes Kekuatan Otot Tungkai akurasi. Alat yang digunakan,
lapangan bulutangkis, net dan
Kemenpora (2005 : 22) bahwa tes tiang net, shuttlecock, 4 tabung,
untuk mengukur kekuatan otot raket 2 buah, alat tulis, petugas
tungkai adalah dengan pelambung shuttlecock, petugas
menggunakan alat Leg pencatat dan pengawas
Dynamometer. Validitas tes pelaksanaan tes.
adalah face validity, alat ini valid Pelaksanaan tes :
karena sudah ditera oleh BMG  Kedua tanda X menunjukkan
dan terdapat di laboratorium tempat dimana smasher berdi
Penjaskes FKIP Universitas ri untuk melakukan pukulan
Lampung. Dan tingkat smash,
reliabilitas dengan tes retest  Tastee melakukan smash den
adalah 0,872. gan kekuatan penuh.
 Tastee melakukan smash den
Tujuan: Untuk pengukurankekua gan kekuatan penuh.
tan otot tungkai.  Shuttlecock dilambungkan at
Fasilitas: Blangko hasil pe- au diumpan ke atas ke arah
ngukuran peserta tes. Dengan atau tanp
Pelaksanaan: Berdiri di atas papa a menggunakan awalan, subje
n dinamometer kaki. Tapak kaki k melompat dan memukul
selebar ±15 cm. Kedua tapak tang shuttlecock dengan smash ke
an berpegangan pada pegangan lapangan lawan dimana terda
dinamometer kaki/tapak tangan pat sasaran dengan angka-
hadap ke belakang. Kedua lutut angka.
bengkok, sedangkan punggung
 Bola yang menyentuh batas
tegak. Testee dengan kepala tegak
sasaran dihitung telah masuk
dan punggung tetap lurus dengan angka tersebut, Skor 0
berusaha meluruskan kedua lutut
jika shuttlecock tidak
semaksimal mungkin sebagai melewati net atau jatuh keluar
pertanda/upaya mendapatkan
sasaran yang telah ditentukan.
kekuatan otot-otot kaki maksimal,
 Kesempatan melakukan
seperti terlihat pada jarum
smash sebanyak sepuluh kali
penempatan terakhir.
kesempatan.
Penilaian : Angka yang
ditunjukkan pada dynamometer
Untuk sasaran smash dapat dilih
saat melakukan pelurusan kedua
at pada gambar lapangan (daerah
lutut.
yang tidak berwarna hijau adalah
daerah sasaran smash) di bawah
ini :
Teknik Analisis Data korelasi positif terbesar = 1 dan
koefisien korelasi negatif
Setelah data terkumpul, maka terbesar = -1, sedangkan yang
langkah selanjutnya adalah terkecil adalah 0. Bila
menganalisis dan mengolah data hubungan antara dua variabel
dari hasil tes kekuatan otot atau lebih itu mempunyai
lengan (X1), kekuatan otot koefisien korelasi = 1 atau -1,
tungkai (X2), dan hasil maka hubungan tersebut
keterampilan smash dalam sempurna. Jika didapat r = -1
badminton (Y). Analisis data maka terdapat korelasi negatif
dimaksudkan untuk mengetahui sempurna, artinya setiap
jawaban akan pertanyaan- peningkatan pada variabel
pertanyaan dalam penelitian. tertentu maka terjadi
Teknik analisis data yang penurunan pada variabel
digunakan pada penelitian ini lainnya. Sebaliknya jika
adalah teknik korelasi product didapat r = 1, maka diperoleh
moment korelasi positif sempurna.
dan korelasi ganda (multiple Artinya ada hubungan yang
corelation). positif antara variabel, dan kuat
atau tidaknya hubungan
ditunjukkan oleh besarnya nilai
Uji Korelasi Product Moment
koefisien korelasi. Dan
koefisien korelasi adalah 0
a. Mencari Koefisien Korelasi
maka tidak terdapat hubungan.
Menurut Riduwan (2005 : 98)
untuk menguji hipotesis a. Mencari Kontribusi
Untuk mengetahui
antara Xi dengan Y
kontribusi variabel X
digunakan korelasi product
terhadap Y dicari dengan
moment dengan rumus :
menggunakan rumus
n Σ X.Y - Σ X ΣY  koefisien determinasi
rX.Y 
n Σ X 2
- Σ X 
2
 n ΣY 2
- ΣY 
2
 (Riduwan, 2005: 139):
2
KP = r x 100 %
Keterangan :
Keterangan :
KP = Nilai koefisien
r xy : Koefesien korelasi
determinasi
n : Jumlah sampel
r2 = Koefisien korelasi
X : Skor variabel X
dikuadratkan
Y : Skor variabel Y
∑X : Jumlah skor variabel X
∑Y : Jumlah skor variabel Y b. Uji Signifikansi
∑X2 : Jumlah kuadrat skor variabel Pengujian lanjutan yaitu
X uji signifikansi,
Y2 : Jumlah kuadrat skor variabel
menggunakan rumus uji-t:
Y
r n2
Dalam Sugiyono (2008: 226) t
Kuatnya hubungan antar 1 r2
Keterangan :
variabel dinyatakan dalam
t : Nilai t hitung
koefisien korelasi. Koefisien
r : Koefisien korelasi hasil r
hitung c. Uji Signifikansi
n : Jumlah sampel
Selanjutnya dilakukan
Distribusi tabel t untuk α = pengujian signifikan
0,05 dan derajat kebebasan dengan rumus :
2
(dk) = n-2 dengan uji satu R
k
F
1  R 
pihak. Kaidah pengujian jika t
2
hitung > dari t tabel berarti maka
tolak Ho, artinya ada n  k 1
hubungan yang signifikan.
Keterangan :
F : Uji keberartian korelasi
2. Uji Korelasi Ganda ganda
a. Mencari Koefsien R : Koefisien korelasi ganda
Korelasi Ganda k : Jumlah variabel bebas
n : Jumlah sampel
Untuk mengetahui Jika Fhitung >Ftabel tolak Ho, artinya
hubungan kekuatan otot signifikan. Jika Fhitung < Ftabel maka
lengan dan otot tungkai terima Ho, artinya tidak signifikan.
dengan keterampilan Dimana distribusi dk pembilang
smash dalam badminton, (k=2) dan dk penyebut (n-k-1)
maka digunakan rumus: dengan mengambil taraf uji α = 0,05

R X1X 2Y 
  
rX1Y  rX 2Y  2 rX1Y rX 2Y rX1X 2
2 2
 DAFTAR PUSTAKA
1  rX1X 2
2

Alhusin, Syahri. 2007. Gemar


Bermain Bulutangkis. Surakarta:
Keterangan :
CV Seti-Aji.
R X1X 2 Y
: Koefisien korelasi ganda
rX1Υ Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur
: Koefisien korelasi X1 terhadap Penelitian Suatu Pendekatan
Y
Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
rX 2 Υ
: Koefisien korelasi X2 terhadap
Y Harsono 1988. Coaching dan Aspek
rx1x 2 Psikologi dalam Coaching.
: Koefisien korelasi X1 terhadap
X2 Jakarta: Tambak Kusuma.

b. Mencari Kontribusi Kemenpora RI. 2005. Panduan


Selanjutnya untuk Penetapan Parameter Tes Pusat
mengetahui kontribusi Pendidikan dan Pelatihan
variabel X1 dan X2 secara Pelajar dan Sekolah Khusus
bersama-sama terhadap Olahragawan. Jakarta:
Y dicari dengan
menggunakan rumus : Lutan, Rusli. 1988. Belajar
2
KP = R x 100 % Keterampilan Motorik,
Keterangan : Pengantar Teori dan Metode.
KP = Nilai koefisien Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti
determinasi PPLPTK.
R2 = Koefisien korelasi
ganda dikuadratkan
Poerwadarminto. 1996. Kamus
Umum Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.

Margono, S. 2005. Metodologi


Penelitian Pendidikan. Jakarta:
Rineka Cipta.

Riduwan. 2005. Belajar Mudah


Penelitian Untuk Guru
Karyawan dan Peneliti
Pemula. Bandung: Alfabeta.

Rotella, Pate. 1993. Anatomi


Tubuh Manusia. Jakarta: Balai
Pustaka.

Subardjah, Herman. 2000.


Bulutangkis. Jakarta:
Depdiknas. Dirjen Pend. Dasar
dan Menengah.

Sudjana. 2006. Metoda Statistika.


Bandung: Tarsito.

Sugiyono. 2008. Statistika untuk


Penelitian. Bandung: CV
Alfabeta.

Suharjana. 2004. Kebugaran


Jasmani. Yogyakarta: FIK
UNY.

Winkel, W. S. 1997. Teacher


Affectifeness Training. New
Jersey: Houghton Mifflin
Company.