Anda di halaman 1dari 37

STUDI EKSPERIMENTAL PELELEHAN PARAFFIN WAX PADA

KAPSUL SILINDER

Usulan Penelitian untuk Tesis S2

Program Studi Teknik Mesin


Bidang Konversi Energi

Diajukan oleh:
Pathur Razi Ansyah
15/389412/PTK/10532

Kepada
PROGRAM STUDI S2 TEKNIK MESIN
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DAN INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GAJAH MADA
YOGYAKARTA
2017

1
HALAMAN PERSETUJUAN

Usulan Penelitian

STUDI EKSPERIMENTAL PELELEHAN PARAFFIN WAX PADA


KAPSUL SILINDER

yang dipersiapkan dan disusun oleh


Pathur Razi Ansyah
15/389412/PTK/10532

telah disetujui oleh :

Pembimbing Utama

Ir. Joko Waluyo, M.T., Ph.D tanggal ………………………….

Pembimbing Pendamping

Dr. Ir. Suhanan, DEA tanggal ………………………….

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Energi adalah kebutuhan pokok untuk bertahan hidup di tengah era globalisasi
kebutuhan energi semakin meningkat akibat terjadi lonjakan yang signifikan seiring
dengan pertumbuhan penduduk dunia. Green energy adalah gaung nyata dari
negara-negara di dunia untuk bisa mengganti atau mengefisienkan pemakaian
energi dari sumber habis pakai. Salah satu teknologi Green Energy adalah pemanas
air tenaga surya. Akan tetapi pada daerah yang tropis, intensitas panas matahari
yang fluktuatif menjadi kendala pada penggunaan teknologi ini. Upaya
meminimalkan fluktuasi yang terjadi dengan menambahkan teknlogi Thermal
Enegy Storge (TES) pada sistem pemanas adalah salah satu jawaban dari kendala
tersebut.
Thermal Energy Storage (TES) adalah suatu upaya teknologi dalam
memaksimalkan energi panas baik yang diambil dari sumber panas secara langsung
atau pemanfaatan panas yang terbuang dari suatu sistem, kemudian menyimpannya
sementara untuk bisa digunakan di waktu yang lain. Thermal Energy Storage (TES)
dapat menyimpan panas dalam bentuk kalor sensibel (sensible heat), kalor laten
(latent heat), gabungan sensible dan latent heat, atau thermochemical (Longeon
dkk., 2013; Jesumathy dkk., 2014)
Kalor sensibel adalah energi yang tersimpan karena perubahan suhu seperti
pemanfaatan media air, batu pasir atau tanah (Dincer dan Rosen, 2002), sedangkan
kalor laten (latent heat) adalah energi yang tersimpan karena proses perubahan fase
dari sebuah material seperti perubahan fase air menjadi uap, perubahan fase padat
lilin (paraffin wax) menjadi fase cair. Penggunaan phase change material (PCM)
sangat menguntungkan, karena densitas tinggi, small temperature range
memudahkan proses perubahan fase, stabil, dan kapasitas penyimpanan panas
tinggi (Dincer dan Rosen, 2002).

1
2

Adapun dalam hal teknologi, penyimpan kalor laten dinamakan Latent Heat
Thermal Energy Storage (LHTES). Teknologi ini sangat erat kaitannya dengan
pemilihan media penyimpan atau disebut phase change material (PCM), dan
bentuk geometri heat exchanger yang mendukung proses perubahan fase PCM.
Rangkuman pemaparan tentang phase change material (PCM) yang pernah diteliti
telah disajikan dengan baik oleh (Francis dkk., 2010).
Phase change material (PCM) yang banyak digunakan di masyarakat adalah
lilin (paraffin wax). Menurut Jesumathy dkk. (2014) paraffin wax dipilih karena
mempunyai kelebihan, yaitu:
1. mampu bertahan tanpa ada penurunan kualitas propertis dalam suatu
siklus, mencapai 1000-2000 siklus (charging/ discharging process);
2. kalor laten yang tinggi;
3. little or no supercooling;
4. low vapor pressure in melt;
5. small volume change;
6. low cost;
7. self nucleating behavior;
8. dapat meleleh secara merata;
9. dapat dipakai pada suhu menengah.
Pengamatan terhadap prilaku pelelehan dan pembekuan paraffin wax sebagai
LHTES sangat penting guna meningkatkan performa penyimpanan dan desain heat
exchanger. Nadjib dan Suhanan (2013) telah mengembangkan pemanas air tenaga
surya (PATS) dengan menggabungkan paraffin wax sebagai media penyimpan
panas dengan multiple tube, untuk memberikan solusi mismatch antara kebutuhan
waktu siang hari dan malam hari, namun masih kesulitan menentukan awal waktu
pelelehan yang terjadi pada paraffin wax dan fenomena pelelehan di dalam kapsul
silinder. Informasi tersebut penting untuk pengembangan lanjut teknologi PATS
tersebut.
Berdasarkan permasalahan diatas, maka perlu dilakukan pengamatan
fenomena pelelehan (charging process) paraffin wax pada single tube. Pengamatan
ini menggunakan heat exchanger dari 2 buah silinder konsentris horizontal
3

(horizontal cylindrical system) dengan variasi inlet flow, suhu heat transfer fluid
(HTF) dan variasi debit heat transfer fluid (HTF) terhadap fenomena pelelahan baik
arah aksial maupun radial.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka diperlukan investivigasi lanjut terkait


fenomena pelelehan (charging process) pada single tube paraffin wax dengan
variasi inlet flow heat exchanger, suhu heat transfer fluid (HTF) dan variasi debit
heat transfer fluid (HTF) dan menampilkan secara visual proses yang terjadi baik
arah radial maupun aksial.

1.3. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas maka dapat diambil


batasan masalah sebagai berikut:
1. Paraffin wax tidak terjadi perubahan sifat-sifat dan tidak terjadi
subcooling.
2. Paraffin wax bersifat homogen.
3. Sifat termofisik PCM pada fase padat dan cair adalah berbeda tetapi sifat
tiap fasenya tidak tergantung temperatur.
4. Laju aliran massa air di sepanjang permukaan silinder dalam adalah sama.
5. Kerugian kalor pipa luar tidak diperhatikan.

1.4. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan sebagai berikut:


1. Melakukan karakterisasi perilaku kalor paraffin wax pada proses pelelehan
(charging).
2. Melakukan visualisasi proses pelelehan (charging), dan perubahan fase
paraffin wax di dalam kapsul pipa.
4

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini sebagai berikut:


1. Data pustaka dalam pemilihan model Latent Heat Thermal Energy Storage
(LHTES) untuk digunakan pada skala besar.
2. Data tambahan untuk pengembangan teknologi kombinasi pemanas air
tenaga surya (PATS) dan Latent Heat Thermal Energy Storage (LHTES).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Abhat (1982) telah mengklasifikasikan penelitian tentang karakteristik


pelelehan dan pembekuan phase change material (PCM) menjadi 2 kelompok
berdasarkan kuantitas sampel yang digunakan, yaitu:
1. Differential scanning calorimetry (DSC) Analysis, mengetahui sifat kalor dari
suatu bahan berdasarkan diagram energi-waktu (thermograms) dengan
kuantitas sampel uji yang sedikit.
2. Thermal Analysis, mengetahui sifat kalor dari suatu bahan dengan menentukan
diagram suhu-waktu (T-t), diagram heating-cooling, dan merekam fenomena
pelelehan dan pembekuan berdasarkan waktu.

Jones dkk. (2006) dan Longeon dkk. (2013) menambahkan metode numerical
analisis untuk memprediksi detail proses yang terjadi ketika pelelehan dan
pembekuan. Penelitian lainnya juga menambahkan metode visualisasi
(photograph) untuk menampilkan kondisi nyata ketika pelelehan seperti Regin dkk.
(2006), Jones dkk. (2006), dan Longeon dkk. (2013).

2.1. Visualisasi Proses Pelelehan

Jone dkk. (2006) melakukan eksperimen, dan visualisasi image processing


techniques untuk validasi simulasi numeris terhadap paraffin wax (n-eicosane)
dengan suhu leleh 36.4°C. Geometri PCM storage berupa silinder polikarbon
vertikal dengan dinding adiabatis yang terletak di permukaan atas dan bawah
silinder dan ditempatkan pada bak air panas yang dijaga konstan 70°C dan 50°C
dengan menggunakan PID temperature controller. Sebanyak 36 buah Termokopel
tipe T (±1.4°C) digunakan untuk pengambilan data. Pengambilan data dilakukan
setiap 15 detik sedangkan foto proses pelelehan dilakukan 1-4 menit tergantung
total waktu yang dibutuhkan untuk eksperimen. Hasil analisis dari foto yang
diperoleh ditunjukkan pada Gambar 2.1 menggambarkan bahwa ketika proses

5
6

charging mula-mula simetris pada arah Z, ini menandakan perpindahan kalor


konduksi terjadi, namun setelah beberapa lama terjadi variasi sepanjang arah Z
dimana lapisan pelelehan paling tebal pada bagian atas dikarenakan adanya proses
perpindahan kalor konveksi natural akibat efek buoyancy.

Gambar 2.1. Foto proses pelelehan paraffin wax pada silinder vertikal dengan
sumber panas dari luar silinder (Jones dkk., 2006),

Regin dkk. (2006) telah melakukan analisis numeris pada proses pelelehan pada
silinder horizontal yang ditempatkan pada lingkungan yang memberikan panas
secara konvektif (menggunakan heat transfer fluid), Regin dkk. (2006) juga
menampilkan hasil analisis termal menggunakan differential scanning calorimeter
(DSC) 2910 Module untuk mengetahui sifat thermal dari paraffin wax dengan titik
leleh 59.9°C. Mereka juga mengambil gambar sisi samping dari silinder horizontal
seperti yang ditunjukan pada Gambar 2.2 menggambarkan pelelehan arah radial.
Pada permulaan pelelehan terjadi secara konsentris dengan waktu yang pendek (ini
menandakan proses perpindahan kalor konduksi), selanjutnya pelelehan didominasi
oleh proses konveksi alami yang menyebabkan pelelehan terjadi tidak simteris.
7

Gambar 2.2. Foto proses pelelehan Paraffin wax pada silinder horizontal
dengan sumber panas dari luar silinder (Regin dkk., 2006)

Avci dan Yazici (2013) menggunakan paraffin wax P56-58 yang diproduksi
oleh MERCK sebagai phase change material (PCM), dengan metode thermal
analysis berdasarkan pembacaan termokopel terhadap suhu dibandingkan dengan
waktu, silinder horizontal dengan HTF melalui bagian tengah dari silinder dengan
variasi suhu HTF 75, 80, dan 85°C dengan debit 280 Kg/l. Mereka menyimpulkan
bahwa karakteristik pelelehan yang terjadi simetris secara radial ke atas sehingga
suhu bagian atas lebih cepat mencapai suhu leleh, dibandingkan dengan bagian
bawah dikarenakan terjadinya konveksi alami seperti yang ditunjukan oleh Gambar
2.3. Sedangkan proses pembekuan awalnya konveksi alami namun selang beberapa
lama kemudian konduksi yang mendominasi.
8

Gambar 2.3. Distribusi lapisan paraffin wax yang telah mencapai suhu leleh
terhadap waktu (Avci dan Yazici 2013)

Longeon dkk. (2013) menggunakan paraffin RT35, mencoba mengambil


bagian dalam penelitian proses melting dan solidification, dengan tipe silinder
anulus vertikal dan berfokus kepada pengaruh penginjeksian terhadap melting zone
yang terjadi, kemudian dibandingkan dengan hasil simulasi numeris. Tes kondisi
alat ekperimen menunjukan Top Injection dengan suhu 52°C dan Bottom Injection
dengan suhu 53°C. Percobaan ini merekomendasikan top injection HTF untuk
proses charging karena kedua metode pelelehan terjadi mulai dari bagian atas
silinder akibat dari buoyancy dan menyebabkan konveksi natural seperti ditunjukan
oleh Gambar 2.4.

Gambar 2.4. Foto visual pelelehan dibandingkan hasil simulasi numeris


menggunakan sofware FLUENT (Longeon dkk., 2013)
9

2.2. Thermal Analisis Paraffin wax

Jesumathy dkk. (2012) Menggunakan paraffin wax dengan titik leleh 58°C
sebagai media penyimpan panas, dan menggunakan 2 buah silinder konsentris
dengan silinder dalam yang digunakan sebagain lintasan HTF berbahan kuningan.
Silinder luar dari mild steel dimanfaatkan sebagai PCM storage Seperti ditunjukan
Gambar 2.5. Dengan memanfaatkan termokopel sebagai alat untuk membaca
kontur panas, mereka telah menyimpulkan bahwa proses pelelehan tidak terjadi
secara silinderis, yang paling cepat meleleh adalah bagian atas ditunjukan pada
Gambar 2.6. Selain itu mereka menyebutkan bahwa waktu yang dibutuhkan selama
proses charging semakin kecil seiring dengan naiknya debit HTF, dan
menyimpulkan bahwa variasi HTF berpengaruh besar pada saat proses charging
daripada discharging dengan melihat Gambar 2.7.

Gambar 2.5. Letak termokopel pada alat uji (Jesumathy dkk., 2012)
10

Gambar 2.6. Diagram pelelehan paraffin wax (Jesumathy dkk., 2012)

Gambar 2.7. Grafik pengaruh mass debit terhadap melting time (Jesumathy
dkk., 2012)

Yazici dkk. (2014) melakukan penelitian terhadap fenomena pelelehan paraffin


wax P56-58 produk dari MERCK menggunakan silinder horizontal, menjelaskan
efek dari letak titik sumbu pipa sumber panas (dalam hal ini pipa saluran heat
transfer fluid) ditunjukan pada Gambar 2.8.a terhadap fenomena pelelehan paraffin
wax pada Gambar 2.8.b, dan menyimpulkan bahwa letak pipa saluran 30 mm
dibawah titik tengah dari PCM storage adalah yang paling cepat melelehkan semua
paraffin wax karena memanfaatkan efek konveksi alami ketika pelelehan.
11

(a) (b)
Gambar 2.8. (a) Peletakan titik sumbu saluran HTF, (b) Grafik pengaruh
eksentrisiti terhadap waktu pelelehan (Yazici dkk., 2014)

Jesumathy dkk. (2014) melakukan penelitian menggunakan paraffin wax


dengan melting temperature 58°C, heat exchanger yang digunakan adalah 2 buah
silinder konsentris, silinder bagian dalam adalah saluran heat transfer fluid, dan
silinder luar sebagai PCM storage. Menganalisa sifat kalor paraffin wax dengan
menggunakan variasi suhu, 70, 72, dan 74°C serta debit 2, 4, 6, dan 8 L/min.
Jesumathy dkk. (2014) memberikan gambaran pelelehan secara aksial sepanjang
silinder bertahap dari arah kiri ke arah kanan silinder, dan berdasarkan nilai kalor
yang terbaca oleh termokopel seperti ditunjukan oleh Gambar 2.9 (T3 dan T9)
menyimpulkan bahwa pelelehan bagian atas lebih cepat dibanding bagian bawah,
selain itu efek yang terjadi ketika menaikan suhu HTF dan menaikan debit maka
semakin sedikit waktu yang dibutuhkan pelelehan.

Gambar 2.10. Letak termokopel pada alat uji (Jesumathy dkk., 2014)
12

Tabel 2.1. Benchmark Penelitian

Metode
Parameter
Author Fokus penelitian PCM Geometri Pengamatan Variasi
diamati
Fisik
Pengukuran secara Silinder
eksperimen pada vertikal Suhu HTF,
Paraffin Visualisasi,
perubahan fase solid Transparan Reylight
Jone dkk. wax Thermal Waktu
dan liquid dari PCM, polycarbonate number,
(2006) (n-ecosane) Analysis, dan pelelehan,
dibandingkan dengan dan acrylic Stefan
36.4°C numeris
model analitis, dan sebagai number
numeris insulator
Perbandingan prediksi Thermal Stefan Waktu
Regin Paraffin Silinder kapsul
model matematis untuk Analysis, number, pelelehan,
dkk. wax 58- alumunium
pelelehan dengan hasil Numeris dan Temeperatur Visulaisasi
(2006) 60°C dengan ujung
eksperimen. Visulisasi HTF, pelelehan
transparan,
2 silinder
Longeon Pengaruh tipe inlet flow Paraffin horizontal, Waktu
Visualisasi dan Tipe Inlet
dkk. pelelehan, dan wax RT 35 inner untuk pelelehan
numeris flow
(2013) pembekuan 35°C HTF, outer dan
untuk PCM pembekuan
2 silinder
Avci dan Mengetahui fenomena Paraffin horizontal,
Thermal Waktu
Yazici pelehan dan pembekuan wax P56-58 inner untuk Suhu HTF
Analysis pelelehan,
(2013) berdasarkan waktu 58.06°C HTF, outer
pembekuan
untuk PCM
13

Tabel 2.1. Benchmark Penelitian (lanjutan)

Molten
Investivigasi 2 silinder fraction,
Jesumathy
kakrakteristik pelelehan Paraffin horizontal, inner Thermal Debit HTF, Heat debit,
dkk.
dan pembekuan dari wax 58°C untuk HTF, outer Analysis Suhu HTF, heat
(2014)
PCM untuk PCM transfer
koefisien
2 silinder Visualisasi
Penelitian Mengetahui fenomena Paraffin horizontal, inner (Gambar), Suhu HTF, Waktu
ini pelelehan wax RT52 untuk PCM, Thermal Inlet Flow Pelelehan
outer untuk HTF Analysis
BAB III
LANDASAN TEORI

3.1. Thermal Energy Storage

Termal Energy Storage atau penyimpan energi panas adalah suatu teknologi
yang digunakan untuk menyimpan sementara energi panas sehingga bisa digunakan
pada waktu kemudian. Teknologi ini sebenarnya sudah lama dilakukan oleh
manusia, dengan memanfaatkan batu es seperti yang telah dilakukan oleh sebagian
masyarakat di Jepang (Kyoto, Kanazawa dan Kusatsu), namun dalam
pemanfaatannya mereka mentransfer panas ke dalam batu es dan mengambil suhu
dingin yang terkandung dalam batu es.

Metode thermal energy storage

Secara Fisik Secara kimia

Sensible Laten

Gambar 3.1 Bagan metode thermal energy storage (Mehling dan Cabeza, 2008)

Menurut Mehling dan Cabeza (2008) seperti ditunjukan oleh Gambar 3.1
metode teknologi penyimpanan kalor ada 2, yaitu secara kimia dan secara fisik.
Secara fisika terbagi menjadi kalor sensibel (sensible heat) dan kalor laten (latent
heat).
Sensible heat mengacu kepada penyimpanan kalor akibat dari meningkat atau
menurunnya suhu seperti ditunjukan Gambar 3.2, bergantung pada panas spesifik
yang dimiliki oleh media penyimpan, seperti batu, air (sebelum mendidih), tanah,
yang dipanaskan maka mereka memiliki energi panas yang disimpan, dalam waktu
singkat akan melepaskan panas ke udara apabila suhu disekitar lebih rendah.
Jumlah energi yang dapat disimpan oleh sensible heat adalah perbedaan suhu awal

14
15

dan akhir, massa, dan kapaistas panas dari media penyimpan. (Mehling dan Cabeza,
2008)

ΔT

ΔQ
Gambar 3.2. Grafik penyimpanan sensible heat (Mehling dan Cabeza, 2008)

Sedangkan latent heat memanfaatkan proses perubahan fase pada suatu


material, dimana proses penyimpanan panas terjadi akibat kenaikan suhu (sensible)
kemudian panas terus diserap hingga sepenuhnya menjadi fase lainnya, perubahan
fase yang terjadi ditunjukan Gambar 3.3.

ΔT
Temperatur
perubahan fase
el
ib
ns
Se

Latent
el
ib
ns
Se

ΔQ
Gambar 3.3. Grafik penyimpanan Latent heat (Mehling dan Cabeza, 2008)

Latent heat menjadi opsi banyak peneliti dikarenakan mampu menyimpan lebih
banyak kalor, dapat menyimpan panas pada suhu yang lebih rendah, perubahan fase
tidak terjadi perubahan suhu, dan volume yang dibutuhkan lebih kecil daripada
sensible. Dalam aplikasinya, Latent heat tidak terlepas dengan 3 komponen dasar
16

yaitu: Phase change material, contrainment for storage PCM, dan heat exchanger
(Abhat, 1982).
Dinser dan Rosen (2002) menyatakan dasar prinsip kerja thermal energy
storage terdiri dari proses pelelehan (charging), proses penyimpanan (storing) dan
proses pembekuan (discharging) seperti pada Gambar 3.4. Beberapa peneliti
menggabungkan proses charging dan storage.

Charging Storing discharging


a c

b d

Qi
Time

Gambar 3.4. Prinsip Proses thermal energy storage (Dinser dan Rosen, 2002)

3.2. Phase Change Material (PCM)

Phase Change Material (PCM) adalah Material yang dapat berubah fase ke fase
lainnya, misalkan solid-liquid, liquid-gas, atau solid-gas, menyimpan energi kalor
(heat of fussion/latent heat) yang lebih tinggi dibandingkan dengan kalor sensibel.
Kriteria penggunaan PCM untuk LHTES (Abhat, 1982).
Kriteria Termodinamika:
 Suhu leleh material sesuai yang diinginkan
 Mempunyai kapasitas kalor laten yang tinggi per unit massa, sehingga
meminimalkan jumlah material yang digunakan
 Rapat massa yang tinggi, sehingga volume kecil
17

 Mempunyai kapisatas panas sensible yang tinggi untuk menambah


kuantitas penyimpanan
 Konduktivitas termal tinggi, untuk meminimalkan gradient suhu pada
saat charging dan discharging
 Congruent melting, dapat meleleh dengan sempurna
 Perubahan volume yang kecil ketika berubah fase
Kriteria kinetik
 Hampir atau tidak terjadi supercooling ketika pembekuan.
Kriteria kimia
 Stabilitas kimia
 Tidak terjadi dekomposisi
 Tidak korosif
 Tidak beracun dan berbahaya
Kriteria ekonomi
 Tersedia di pasaran jumlan besar
 Murah
Menurut Abhat (1982) material penyimpan panas dapat dibagi menjadi organik
dan anorganik, masing-masing memiliki compound dan eutetics, paraffin termasuk
dalam katagori organic compound, seperti pada Gambar 3.5.

Gambar 3.5. Klasifikasi material penyimpan panas (Abhat, 1982)


18

Paraffin wax adalah suatu ikatan hidrokarbon yang memiliki percabangan yang
sedikit, komponen utamanya adalah alkane (Cn H2n+2) besarnya bisa sampai 75-
100%, dan titik leleh meningkat seiring bertambahnya atom karbon (Abhat, 1982).
Paraffin wax banyak menjadi pilihan dalam pemilihan material untuk menjadi
heat storage material karena mempunyai stabilitas propertis 1000-2000 siklus
(charging and discharging process), performa transfer kalor dan kapasitas kalor
tidak berkurang ketika charging dan discharging, mempunyai kapasitas
penyimpanan kalor yang besar, hampir atau tidak terjadi supercooling, pilihan suhu
leleh yang bervariasi, tekanan penguapan rendah ketika pelelehan, dan self
nucleating behavior (Abhat, 1982).

3.3. Heat Exchanger

Pada sistem LHTES komponen penting selanjutnya adalah heat exchanger yang
digunakan dalam sistem. Heat exchanger yang cocok akan menunjang performa
charging dan discharging dari LHTES (Jesumathy dkk., 2011).
Agyenim (2009) telah merangkum penelitian dari beberapa eksperimen terkait
heat exchanger, menyimpulkan bahwa diantara model pipe model, cylinder model,
rectangular container dan shell and tube model, pipe model lebih baik daripada
cylinder model, shell and tube lebih cepat daripada pipe model dilihat dari waktu
chargingnya. Bentuk model heat exchanger dapat dilihat pada Gambar 3.6.

Gambar 3.6. Geometri heat exchanger (Agyenim, 2009)


19

Proses pada heat exchanger LHTES, terdiri dari charging dan discharging.
Proses charging seperti pada Gambar 3.7(a) adalah HTF dengan suhu Th1 masuk ke
Inlet dari heat exchanger debit konstan, panas ditransfer secara konduksi melalui
dinding pipa dan diteruskan ke PCM yang semula mempunyai suhu (Tp1) menyerap
kalor sensibel sampai suhu (Tp2), proses transfer kalor terus terjadi secara konstan
sehingga PCM mencapai suhu lelehnya dan berubah fase pada suhu konstan (Tp3),
dan berubah menjadi liquid akan menyerap kalor sensibel (Tp4) apabila panas terus
ditambahkan, sedangkan suhu HTF turun secara linier menjadi (Th2).
Untuk proses discharging pada Gambar 3.7(b), HTF dengan suhu rendah
(Tc1) masuk melalui inlet heat exchanger, secara alami panas yang disimpan PCM
akan bergerak menuju HTF secara konstan dan suhu PCM terus menurun (Tp2),
perubahan fase liquid ke solid pada suhu konstan (Tp2), ketika solid PCM masih
menyimpan kalor sensibel yang terus di transfer ke HTF sampai suhu PCM (Tp1)
sama dengan suhu HTF (Tc2).

(a) (b)

Gambar 3.7. a) Charging process b) Discharging process

3.4. Koefisien perpindahan panas proses pelelehan

Koefisien perpindahan panas selama proses charging dapat diketahui dengan


persamaan dibawah ini. (Jasumethy dkk., 2014)
20

Qc = min . Cp (Th1 - Th2) ∆c (1)

(Th1 - Tp1) - (Th2 - Tp3)


(∆TL)c= (2)
ln (Th1 - Tp1/Th2- Tp3)

Qc = hc A (∆TL)c ∆c (3)

Keterangan:
Qc : total energy yang terkandung dalam PCM (J)
min : debit (mass flow rate) HTF (kg/s)
Cp : kalor spesifik dari HTF (J/kg °C)
Δc : waktu proses pelelehan (charging) (s)
(ΔTL)c : lograithmic mean temperature difference
(LMTD) proses pelelehan (charging) (°C)
A : luas permukaan PCM storage (m2)
Th1 : suhu Inlet heat exchanger (°C)
Th2 : suhu outlet heat exchanger (°C)
Tp1 : suhu awal PCM (°C)
Tp3 : suhu akhir PCM (°C)
hc : koefisien perpindahan panas konveksi (°C)

3.5. Karakteristik dan Visualisasi

Menurut (Abhat 1982), ada 2 teknik pengukuran untuk menggambarkan


karakteristik PCM yaitu: Differensial Scanning Calorimetry (DSC) dan Thermal
Analysis.
Differensial Scanning Calorimetry (DSC) mengetahui karakteristik PCM
dalam bentuk hubungan energi dan waktu, baik itu penyerapan kalor (charging)
atau pelepasan kalor (discharging) seperti pada Gambar 3.8, sedangkan Thermal
analysis mengetahui karakteristik PCM berdasarkan hubungan suhu-waktu yang
direkam selama proses pelelehan dan pembekuan (Abhat 1982).
21

Gambar 3.8. Hasil DSC analysis dari paraffin wax (Mete Avci dan M. Yusuf
Yazici, 2013)

Thermal Analysis digunakan untuk menggambarkan siklus perilaku kalor


yang terjadi pada suatu material agar mengetahui kinerja saat digunakan dalam
jangka waktu yang pendek maupun panjang dari PCM sebagai penyimpan panas,
bentuk hasil dari analisis ini berupa grafik pelelehan dan pembekuan (Abhat, 1982),
grafik pelelehan ditunjukan pada Gambar 3.9.

Gambar 3.9. Thermal analysis charging dari paraffin wax (Avci dan Yazici,
2013)
22

Seiring berkembangnya teknologi, perkembangan karakteristik dari suatu PCM


merambat ke visualisasi (gambar maupun video), untuk melihat fenomena yang
terjadi saat pelelehan dan pembekuan terhadap waktu menjadi validasi tambahan
atas thermal analysis seperti ditunjukkan pada Gambar 3.10.

Gambar 3.10. Hasil foto berdasarkan waktu paraffin wax (Jones dkk., 2006)
BAB IV
METODE PENELITIAN

Diagram alir

Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap, sehingga kesimpulan dapat


dirumuskan dari proses studi yang telah dilaksanakan. Tahapan-tahapan penelitian
dijelaskan pada Gambar 4.1

Gambar 4.1. Diagram Alir Penelitian

23
24

Skema Eksperimen

Gambar 4.2. Skema Ekperimen

Keterangan:
1. HWT adalah tangki penampung HTF (hot water tank).
2. H1 adalah pemanas listrik (electric heater).
3. T adalah alat pengatur suhu HTF (thermostat).
4. Pu adalah pompa sentrifugal (pump).
5. V-1, V-2, V-3, V-4, dan V-5 adalah kran penutup dan pembuka aliran.
6. FI adalah alat pengukur debit aliran (flow meter).
7. HE adalah heat exchanger seksi uji.
8. ADC adalah analog to digital converter.
9. Komputer.
25

4.2.1. Main Loop (Top Charging)


Heat transfer fluid (HTF) yang terdapat dalam tangki (HWT) dipanaskan
menggunakan pemanas listrik (H1) mencapai suhu yang dinginkan dan dikontrol
menggunakan thermostat (T). HTF diteruskan oleh pompa menuju inlet Heat
exchanger melalui katup pengatur (V-1), flow meter (FI), dan katup pengatur (V-
2). Katup pengatur (V-1) mengatur debit HTF dan flow meter (FI) membaca debit
yang mengalir. Katup pengatur (V-4, dan V-5) tertutup, sedangkan katup pengatur
(V-2) tetap terbuka. HTF keluar melalui outlet heat exchanger kembali menuju
tangki (HWT) melalui katup pengatur (V-3), kemudian dipanaskan kembali.

4.2.2. Main Loop (Bottom Charging)


Heat transfer fluid (HTF) yang terdapat dalam tangki (HWT) dipanaskan
menggunakan pemanas listrik (H1) mencapai suhu yang dinginkan dan dikontrol
menggunakan thermostat (T). HTF diteruskan oleh pompa menuju inlet Heat
exchanger melalui katup pengatur (V-1), flow meter (FI), dan katup pengatur (V-
5). Katup pengatur (V-1) mengatur debit HTF dan flow meter (FI) membaca debit
yang mengalir. Katup pengatur (V-2 dan V-3) tertutup. HTF keluar melalui outlet
heat exchanger kembali menuju tangki (HWT) melalui katup pengatur (V-4),
kemudian dipanaskan kembali.

Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:


1. Paraffin wax
Paraffin wax yang digunakan dalam penelitian ini adalah paraffin wax
RT52 yang diproduksi oleh perusahaan jerman “RUBITHERM
TECHNOLOGIES”, adapun sifat-sifat termodinamika dari produsen seperti
yang ditunjukkan pada Tabel 4.1.
26

Tabel 4. 1 Data termodinamika paraffin wax RT52 (Rubitherm, 2013)

Kriteria Satuan Nilai


Melting range °C 49 – 53
Congealing area °C 52 - 48
Heat Storgae Capacity kJ/kg 173
*Temp range 44°C-59°C

Density Solid kg/l 0.88


*Temp 15°C

Density Liquid kg/l 0.76


*Temp 80°C

Volume expansion % 16
*in the phase change range

Heat Conductivity W/(m°K) 0.2


Kinematic viscosity mm2/s 31.28
*Temp 80°C

Flash point °C >100


Corrosion Chemically inert with respect
to most matrials
Water Hazard Water hazard class (WGK)1

2. Heat transfer fluid


3. Alumunium foil
4. Red silicon
5. Glasswool (isolator penghambat panas)
27

Alat Penelitian

Alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:


1. Heat exchanger shell-tube akrilik.
a. Tube : diameter dalam 44 mm, luar 50 mm dan panjang 500 mm
difungsikan sebagai PCM storage
b. Shell : diameter dalam 90 mm, luar 100 mm dan panjang 700 mm
2. Termokopel tipe K
3. Pemanas listrik
4. Termostat terbuat dari arduino
5. MIDI data logger GL800 12 channel
6. Kamera DSLR high resulution
7. Pipa PVC ¾ in
8. Selang air panas
9. Neddle valve
10. Rangka besi berlubang
11. Clamp
12. Bak penampungan
13. Kabel listrik dan terminal
14. Pompa

Eksperimental Prosedur

Dalam melakukan penelitian ini kerangka penelitian yang akan dilakukan


adalah sebagai berikut:
28

4.5.1. Pembuatan alat

a. Heat Exchanger

Gambar 4.3. Seksi uji heat exchanger

Gambar 4.4. Seksi uji outer silinder tampak atas

Gambar 4.5. Seksi uji inner silinder tampak depan


29

Heat exchanger pada Gambar 4.3 yang digunakan adalah tipe shell and tube,
menggunakan 2 buah silinder yang diletakkan segaris horizontal berbahan dasar
akrilik. Silinder luar (shell) ditunjukan Gambar 4.4 dengan ukuran panjang 700 mm
dengan diameter 100 mm difungsikan sebagai ruang heat transfer fluid bersirkulasi.
Sedangkan silinder dalam (tube) ditunjukan Gambar 4.5 di desain dengan diameter
50 mm dengan panjang 500 mm yang akan diisi dengan paraffin wax.
Desain silinder luar dibagi menjadi 3 bagian terlihat pada Gambar 4.4, untuk
mempermudah memasukan silinder bagian dalam dan pemasangan termokopel.
Diantara sambungan silinder luar dibuat plat tipis sebagai penyangga silinder dalam
agar tetap berada pada satu garis sumbu horizontal, dan ditambah lubang masuk
dan keluar HTF pada bagian atas dan bagian bawah di ujung silinder.

b. Pemasangan Termokopel
Termokopel yang digunakan adalah termokopel tipe K dengan diameter 0.5 mm
(0 ̴ +1000°C) sebanyak 16 buah, Penempatan pada silinder dalam (tube) sebanyak
8 buah sebagai gambaran kountur suhu di dalam paraffin wax, sedangkan sisanya
diletakkan pada silinder luar (shell) untuk mengetahui suhu HTF.

Gambar 4.6. Letak termokopel pada seksi uji


30

Gambar 4.7. Letak termokopel pada seksi uji (spesifik)

c. Bak Penampungan
Bak penampung (Tank) berbahan plastik dengan tebal 3 mm digunakan untuk
menampung air yang dijadikan media untuk transfer panas, kapasitas
penampungannya adalah 20 liter.

d. Termostat pengatur suhu HTF


Termostat dibuat menggunakan arduino dengan relay magnet untuk pemutus
power pada heater, input yang dipakai adalah hasil pembacaan suhu pada
temokopel, diatur suhu maksimum dan minimum yang diperbolehkan agar suhu
HTF tetap konstan. Setiap kali ingin mengganti varisi suhu HTF, program arduino
diubah dan disesuaikan dengan suhu yang diperlukan.

e. Pengisian silinder dalam dengan Paraffin wax


Paraffin terlebih dahulu dilelehkan lalu dimasukan ke dalam silinder dalam
dan disisakan tempat untuk mengembang ketika pembekuan sebesar 10% dari total
volume, ditunggu hingga menjadi solid dan pastikan termokopel terpasang pada
silinder, kemudian dirangkai dengan dengan selinder luar. Untuk antisipasi
31

kebocoran akibat panas maka digunakan lem perekat “red silicon” setiap komponen
yang bersambung.

4.5.2. Set-Up Eksperimental

Pada langkah ini dilakukan pembuatan rangkaian sistem perpipaan dari skema
penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya. Kemudian rangkaian tersebut di
ujicoba kebocoran, running main loop (top charging), dan running main loop
(bottom charging).

4.5.3. Kalibrasi alat ukur

a. Kalibrasi Termokopel dan thermostat


Proses pengkalibrasian termokopel yaitu, ukur suhu air dengan bagian
persambungan (kopel) dari termokopel dengan termometer, setelah termometer
menunjukkan suhu puncak air maka langkah selanjutnya adalah mengamati
besarnya tegangan yang ditimbulkan termokopel pada voltmeter. Langkah
berikutnya yaitu membandingkan suhu yang ditunjukkan oleh termometer dengan
tegangan yang ditimbulkan termokopel, nilai tegangan itulah konversi suhu yang
diukur. Bisa juga langsung diamati melalui analog to digital conventer (ADC).

b. Kalibrasi flow meter


Kalibrasi flow meter atau rotameter adalah dengan membanding bar angka yang
tertera dengan hasil jumlah air yang ditransfer selama satu menit.

4.5.4. Pengambilan Data


Proses pengambilan data dilakukan di Laboratorium Perpindahan Panas dan
Massa DTMI. Variasi yang dilakukan pada penelitian ini seperti yang ditunjukan
pada Tabel 4.2.
32

Tabel 4.2. Pengambilan data variasi suhu


Variasi Suhu 55°C 60°C 65°C
Variasi Debit 2 L/min 4 L/min 8 L/min
Varisi Inlet Flow Top Charging Bottom Charging

Data yang diamati adalah nilai suhu yang terbaca oleh 16 buah termokopel
pada masing-masing titik dengan bantuan data akusisi atau analog to digital (ADC)
terhadap waktu.

4.5.5. Analisis data


Dari pengambilan data didapat data hasil ekperimen, dan foto visual proses
terjadinya charging, grafik pelelehan terhadap waktu, dan grafik koefisien
perpindahan kalor.
a. Data variasi suhu terhadap waktu charging
b. Data variasi debit terhadap waktu charging
c. Data variasi inlet flow terhadap waktu charging
d. Data visulisasi pada Top charging
e. Data visualisasi pada bottom charging
33

Jadwal Pelaksanaan Penelitian

Bulan Bulan Bulan


Bulan I Bulan V
No Kegiatan II III IV
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan
1
penelitian
2 Studi literatur
Pembuatan heat
3
exchanger
Pembuatan
4 rangka dan sistem
perpipaan
Kalibrasi alat dan
5
percobaan sistem
6 Pengambilan data
Analisis Hasil
7
dan pembahasan
Kesimpulan dan
8
Saran
DAFTAR PUSTAKA

Abhat, A., 1983, Low Temperature Latent Heat Thermal Energy Storage: Heat
Storage Materials, Solar Energy, 30 (4) 313-331.
Agyenim, F., Hewitt, N., Eames, P. dan Smyth, M., 2010, A Review of Materials,
Heat Transfer and Phase Change problem Formulation for Latent Heat
Thermal Energy Storage Systems (LHTESS), Renewable and Sustainable
Energy Reviews, 14, 615–628.
Akgun, M., Aydin, O. dan Kaygusuz, K., 2007, Eksperimental Study on
Melting/Solidification Characteristics of A Paraffin as PCM,
EnergyCOnversion and Management, 48 (2007) 669-678.
Anonim. Data Sheet RT52, RubithermTechnologies GmbH, Version 22 April
(2013)
Dincer, I. dan Rosen, M.A., 2002, Thermal Energy Storage: Systems and
Applications, Second Edition, John Wiley & Sons, Ltd., West Sussex.
Jegadheeswaran, S., Pohekar S. D., 2009, Performance Enhancement in Latent Heat
Thermal Storage System: A Review, Renewable and Sustainable Energy
Reviews, 13 (2009) 2225-2244.
Jesumathy, S.P., Udayakumar, M., Suresh, S., 2012, Heat Transfer Characteristics
in Latent Heat Storage System Using Paraffin Wax, Journal of Mechanical
Science and Technology, 26 (2012) 959-965.
Jesumathy, S.P., Udayakumar, M., Suresh, S., Jegadheeswaran, S., 2014, An
Eksperimental Study on Heat Transfer Characteristics of Paraffin Wax in
Horizontal Double Pipe Heat Latent Heat Storage Unit, Journal of the
Taiwan institute of chemical engineers, 45 (2014) 1298-1306.
Jones B. J., Sun D., Karishnan S., Garimella S. V., 2006, Eksperimental And
Numerical Study of Melting A Cylinder, International Journal of Heat and
Mass Transfer, 49 (2006) 2724-2738.

34
35

Longeon, M., Soupart, A., Fourmiguẻ, J-F., Bruch, A., Marty, P., 2013,
Experimental and Numerical Study of Annular PCM Storage In The
Presence of Natural Convection, Applied Energy, 112 (2013) 175-184
Mehling, H., Cabeza, L.F., 2008, Advances in Thermal Energy Storage Systems,
Woodhead Publishing, UK.
Nadjib M., Suhanan., 2013, Studi Eksperimental Penyimpanan Energi Termal
Proses Charging pada Pemanas Air Tenaga Surya
Thermosyphon Menggunakan Air dan Paraffin Wax sebagai Material
Penyimpan Kalor, Proceeding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin XII
(SNTTM XII), ISBN 978 979 8510 61 8, 355-435.
Nadjib, M. dan Suhanan, 2014, Kajian Perpindahan Kalor pada Pemanas Air
Tenaga Surya Menggunakan Kapsul PCM Pipa-banyak Susunan Segaris,
Prosiding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin (SNTTM XII), ISBN
978 602 98412 31 7, 430 – 435
Regin A. F., Solanki S. C., Saini J. S., 2006, Latent Heat Thermal Energy Storage
Using Cylindrical Capsule: Numerical And Eksperimental Investigations,
Renewable Energy, 31 (2006) 2025-2041.
Yazici M.Y., Avci M., Aydin O., Akgun M., 2014, Effect Of Eccentricity On
Melting Behavior Of Paraffin In A Horizontal Tube-In-Shell Storage Unit:
An Experimental Study, Solar Energy, 101 (2014) 291-298.