Anda di halaman 1dari 32

PROGRAM PENGENDALIAN ANTRAKS PADA SAPI POTONG

DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT,


PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Oleh :
Novrianto Albertino, SKH B94154328
Sefi Maulida, SKH B94154339

Kelompok G
PPDH Angkatan III Tahun 2015/2016

Dibawah bimbingan:
Drh Abdul Zahid Ilyas, MSi

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Antraks adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri gram-positif Bacillus


anthracis, yang bersifat akut dan dapat menyerang semua hewan berdarah panas.
Hampir semua mamalia peka terhadap antraks. Di Indonesia antraks sering dijumpai
pada sapi, kerbau, kambing, domba, kuda dan kadang pada babi. Penyakit antraks
sering dikenal juga sebagai penyakit radang limpa atau splenic fever. Penyakit ini
bersifat zoonosis yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia, namun tidak
dapat ditularkan antara sesama manusia (OIE 2000). Setiap tahun diperkirakan terjadi
sekitar 2.000–20.000 kasus antraks pada manusia di seluruh dunia dan sebagian besar
bertipe kulit (Brachmant 2002).
Kejadian antraks pada manusia di Indonesia hampir selalu berhubungan dengan
wabah penyakit antraks pada hewan. Departemen Kesehatan Republik Indonesia
(2007) menyebutkan bahwa selama tahun 2002 sampai 2007, kasus yang disebabkan
oleh penyakit antraks pada manusia di Indonesia mencapai 348 jiwa dengan kematian
mencapai 25 jiwa dengan Case Fatality Rate (CFR) mencapai 7.2%. Keseluruhan
kasus tersebut terjadi di 5 provinsi endemis antraks yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah,
Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Sampai saat ini
sudah tercatat 11 provinsi di Indonesia yang tertular antraks dan merupakan daerah
endemis yaitu diantaranya: DKI Jakarta (Jakarta Selatan), Jawa Barat (Kota Bogor,
Kab. Bogor, Kota Depok), Jawa Tengah (Kota Semarang, Kab. Boyolali), NTB
(Sumbawa, Bima), NTT (Sikka, Ende), Sumatra Barat, Jambi, Sulawesi Tenggara,
Sulawesi Selatan (Makassar, Wajo, Gowa, Maros), Sulawesi Utara dan Papua. Nusa
Tenggara Barat (NTB) merupakan propinsi di Indonesia yang paling sering terjadi
kasus antraks. Kasus antraks yang paling banyak terjadi di NTB adalah di Pulau
Sumbawa kasus antraks di NTB terjadi hampir setiap tahun meskipun kejadiannya
cenderung menurun. Prevalensi penyakit antraks pernah dilaporkan di kabupaten
Sumbawa 5.4% - 83.6% dari total ternak (Sumantri 2010).
Penyakit antraks dapat menyebabkan dampak berupa kerugian ekonomi bagi
masyarakat khususnya peternak dan lingkungan. Kerugian tersebut berupa kematian
pada ternak, pengeluaran biaya untuk pengobatan pada ternak yang terinfeksi serta
biaya vaksinasi dan pengendalian antraks lainnya, berkurangnya persediaan daging
maupun produk ternak lainnya untuk masyarakat, produktivitas yang hilang atau
menurun sehingga menyebabkan kehilangan pendapatan. Kerugian akibat penyakit
antraks diperkirakan mencapai 2 milyar rupiah setiap tahunnya akibat kematian
ternak, berkurangnya tenaga kerja, dan berkurangnya persediaan daging serta kulit
(Shadomy & Smith 2008). Dampak penyakit terhadap lingkungan dapat terjadi akibat
spora antraks yang mengkontaminasi lahan pertanian sehingga menimbulkan
kerugian bagi petani karena petani tidak bisa lagi menggunakan lahan pertanian
tersebut bahkan sampai puluhan tahun karena spora antraks dapat bertahan sampai 60
tahun. Selain itu penyakit antraks dapat berpengaruh terhadap sosio-politik dan
keamanan suatu negara karena endospora bakteri ini berpotensi untuk dipergunakan
sebagai senjata biologis (Rahayu 2011).
Pengendalian terhadap penyakit antraks menurut WHO (2003), dapat dilakukan
dengan pemusnahan karkas yang terinfeksi, melakukan kontrol terhadap infeksi pada
manusia, disinfeksi, dekontaminasi, dan pembuangan dari bahan atau material yang
mengandung antraks. Program pengendalian penyakit antraks di Indonesia yang
dilakukan berupa pengobatan terhadap hewan yang terjangkit, vaksinasi ternak yang
sehat, pengawasan, dan penyuluhan kepada masyarakat (Warsito 2004). Vaksin antraks
yang masih digunakan di Indonesia adalah suspensi spora B. anthracis galur Sterne
34F2, tidak berkapsul dan toksigenik. Penggunaan vaksin ini terkadang menimbulkan
rasa sakit dan nekrosis di tempat suntikan, oedema subkutan dan kematian hewan
pascavaksinasi (Adji & Natalia 2006).

Tujuan

Perencanaan program pengendalian penyakit antraks pada sapi untuk menekan


tingkat prevalensi kejadian penyakit antraks di Kabupaten Sumbawa Barat, sehingga
dapat mengurangi dampak terhadap kerugian ekonomi yang ditimbulkan, dan
mengetahui manfaat yang dapat diperoleh dari program pengendalian tersebut.
SIFAT ALAMIAH ANTRAKS

Riwayat Alamiah Penyakit

Tingkat Kerentanan

Kerentanan setiap hewan berbeda-beda terhadap penyakit antraks, beberapa


hewan seperti ruminansia serta kuda merupakan hewan yang sangat rentan terhadap
penyakit antraks, sedangkan babi, dan manusia dikategorikan rentan terhadap
penyakit ini (Hardjoutomo 1986). Namun hewan yang tidak rentan, dapat pula
terkena apabila terpapar dengan spora dari bakteri penyakit antraks seperti anjing,
kucing, dan burung. Penyebab penyakit antraks adalah bakteri Bacillus anthracis
yang dapat menghasilkan spora apabila terpapar dengan udara atau oksigen, sehingga
dapat melindungi dirinya dari keadaan yang tidak menguntungkan baginya.

Tingkat Penyakit Subklinis

Sapi yang terkena antraks tidak mengalami fase subklinis dikarenakan antraks
merupakan penyakit yang bersifat perakut.

Tingkat Penyakit Klinis

Kekebalan tubuh hewan atau kondisi hewan saat terkena atau terinfeksi spora
tersebut mempengaruhi bentuk penyakit antraks. Pada ternak terdapat tiga bentuk
penyakit antraks, yaitu perakut, akut dan kronis. Kondisi perakut ditandai dengan
onset yang cepat dan mendadak. Hewan menujukkan kematian mendadak. Pada
kondisi akut, gejala yang muncul dapat berupa demam, ruminasi berhenti, depresi,
kesulitan napas, gerakan inkoordinasi, konvulsi, dan kematian serta adanya darah
yang keluar dari lubang kumlah. Selama penyakit berlangsung, demam dapat
mencapai 41.5 °C. Gejala klinis lain dapat berupa penurunan produksi susu.
Sedangkan antraks bentuk kronis umumnya terdapat pada babi, tetapi juga terdapat
pada ternak lainnya. Gejala klinis yang muncul dapat berupa oedema faring dan
lingual serta sering terlihat cairan berbusa pada mulut. Hewan mati karena tidak dapat
bernafas.

Tingkat Pemulihan, Cacat atau Mati

Manajemen pemeliharaan dan vaksinasi yang benar dapat mengurangi tingkat


kejadian penyakit anthraks. Pengawasan bahan asal hewan yang terinfeksi penyakit
anthraks mengurangi penyebaran penaykit ke manusia, karena penyakit ini bersifat
zoonosis. Pada tahap akhir, hewan biasanya berakhir kematian pada antraks yang
menyerang gastrointestinal dan pernapasan (Shadomy dan Smith 2008).

Mata Rantai Infeksi

1. Agen
Antraks disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis yang merupakan bakteri
Gram positif berbentuk batang dengan ukuran panjang 3 – 5 µm dan lebar 1 – 2
µm, non motil, dan non hemolitik (OIE 2000). Bakteri ini memiliki dua bentuk,
yaitu bentuk vegetatif dan bentuk spora. Bentuk vegetatif dari B. anthracis relativ
lemah dan dapat dibunuh menggunakan desinfektan. Namun dalam bentuk spora,
B. anthracis dapat bertahan terhadap suhu ekstrim lingkungan, pengeringan dan
disinfektan, serta dapat hidup bertahun-tahun di tanah yang terkontaminasi. B.
anthracis akan membentuk spora jika terjadi kontak dengan oksigen, sehingga
hewan yang diduga antraks tidak diperbolehkan untuk dinekropsi (Wahyuni
2008).

2. Sumber
Sumber pencemaran penyakit antraks berasal dari lingkungan yang
terkontaminasi spora antraks. Penularan antraks dapat terjadi ketika hewan
terpapar spora antraks yang mencemari pakan, tanah atau karkas yang
mengandung bakteri antraks. Spora Antraks terbentuk bila terekspos dengan
oksigen, dan relatif tahan terhadap panas, dingin, pH, radiasi, dan desinfektan
sehingga sulit dihilangkan apabila terjadi kontaminasi (Adji & Natalie 2006).
Pada kondisi yang menguntungkan spora akan melakukan germinasi, multiplikasi,
dan resporulasi di luar tubuh inang rentan, yaitu pada suhu 8 - 45 °C, pH antara
5 - 9, kelembapan di atas 95%, dan adanya sumber zat pakan yang cukup bagi
spora tersebut.

3. Cara Keluar
Hewan yang terinfeksi antraks akan mengeluarkan eksudat hemoragik dari
lubang-lubang kumlah seperti mulut, hidung, dan anus. Eksudat tersebut
mengandung bakteri antraks yang akan membentuk endospora ketika terekspos
dengan oksigen. Sporulasi tidak akan terjadi jika bangkai dalam keadaan tertutup.
Spora antraks dapat bertahan hidup selama puluhan tahun di tanah atau produk
hewan kering seperti kulit dan wol. Spora juga bisa bertahan selama dua tahun di
dalam air, 10 tahun dalam susu dan sampai 71 tahun pada benang sutra.
Organisme vegetatif diperkirakan akan hancur dalam beberapa hari selama
dekomposisi bangkai belum dibuka (CFSPH 2007).

4. Cara Transmisi
Penularan antraks biasanya tidak menular secara langsung dari hewan ke
hewan lainnya, tetapi penularan dapat terjadi ketika hewan terpapar spora antraks
yang mencemari pakan, tanah atau karkas yang mengandung bakteri antraks.
Kemudian spora tersebut tertelan atau terhirup oleh hewan, atau masuk melalui
luka di kulit. Spora yang sudah berada di dalam tubuh akan menyebar ke seluruh
tubuh melalui sistem sirkulasi darah. Darah hewan yang terinfeksi kadang-kadang
gagal menggumpal dan dapat keluar dari lubang kumlah, sehingga serangga dapat
menyebarkan bakteri ke hewan lain. Serangga seperti lalat Tabanus sp dan
Stomoxys sp dapat bertindak sebagai vektor mekanik, namun peranan serangga
tersebut tidak begitu besar dalam kejadian wabah (DEPTAN 2011).
Penularan antraks pada manusia terjadi secara langsung melalui kontak
dengan spora yang berada di tanah, tanaman, bahan asal hewan yang menderita
antraks seperti kulit, daging, tulang, atau darah hewan tersebut. Penularan yang
sering terjadi dengan mengonsumsi produk pangan asal hewan yang menderita
antraks, atau dapat melalui udara yang mengandung spora antraks seperti pada
pekerja di rumah potong hewan, pabrik wool atau kulit hewan (Weyant et al.
2001)

5. Cara Masuk
Spora dapat masuk ke dalam tubuh melalui oral dan pada kondisi yang
menguntungkan spora akan mengalami germinasi, multiplikasi pada sistem limfe
dan limpa, menghasilkan toksin sehingga menyebabkan kematian (dalam satu
milliliter darah setidaknya mengandung satu miliar endospora) (OIE 2000).
Infeksi pada kulit hewan dapat terjadi oleh spora yang menempel akibat kandang
atau tanah yang terkontaminasi. Spora akan menyebar di dalam jaringan tubuh
melalui sistem sirkulasi darah.
Manusia terinfeksi penyakit antraks dapat terjadi melalui tiga kemungkinan
yaitu kulit, inhalasi, dan digesti. Antraks kulit atau cutaneous anthrax dapat
terjadi apabila terjadi kontak langsung dengan hewan terinfeksi, atau pekerja yang
menangani produk hewan misalnya pada penyortir bulu domba, sehingga sering
disebut sebagai wool-sorter’s disease melalui lesi pada kulit (Weyant et al. 2001).
Penularan melalui inhalasi dapat terjadi apabila spora terhirup sehingga
menyebabkan antraks bentuk pernafasan yang dapat menyebabkan sesak nafas
yang berujung kematian. Antraks dalam bentuk pencernaan terjadi akibat
mengonsumsi pangan asal hewan yang terinfeksi dan ditandai dengan gejala sakit
perut, nausea, vomit dan diare, bahkan dapat terjadi haematemesis dan diare
berdarah akibat ulcerasi pada mucosa gastrointestinal. Walaupun dapat
mengakibatkan kehilangan banyak cairan darah sehingga terjadi schock dan
kematian tetapi pada manusia bentuk ini merupakan yang paling jarang terjadi
(Chin 2006).

6. Inang Rentan
Penyakit ini menyerang hewan dan manusia. Kerentanan berbagai jenis
hewan terhadap penyakit antraks berbeda-beda. Hewan yang termasuk sangat
rentan adalah ruminansia besar (sapi dan kerbau), ruminansia kecil (domba dan
kambing) serta kuda, sedangkan babi, dan manusia dikategorikan rentan terhadap
penyakit ini (Hardjoutomo 1986). Hewan yang tidak rentan dapat terinfeksi pula
seperti pada anjing, kucing, tikus, dan burung.

Determinan Penyakit

Determinan penyakit merupakan faktor-faktor risiko penyebab penyakit.


Penyakit antraks dipengaruhi oleh faktor-faktor di dalam tubuh hewan (intrinsik) dan
faktor-faktor di luar hewan (ekstrinsik) dapat dilihat di Tabel 1.

Tabel 1 Faktor intrinsik dan ekstrinsik penyakit antraks

Determinan Primer Determinan Sekunder

Determinan Ekstrinsik
Determinan Determinan Determinan
Intrinsik Unsur Tidak Intrinsik Ekstrinsik
Unsur Hidup
Hidup
Inang Rentan Bakteri B. Lingkungan yang Kekebalan tubuh Menejemen
Anthracis tercemar spora (imunitas) pemeliharaan
(pakan, tanah, air, (pakan dan
udara, feses, urin, minum)
kandang) Pengawasan
penjualan hasil
produk hewan
RANCANGAN SURVEI

Tujuan
Tujuan dilakukannya survei untuk menentukan status penyakit dengan tingkat
prevalensi dan faktor resiko penyebab penyakit antraks pada kecamatan-kecamatan di
Kabupaten Sumbawa Barat.

Jenis Data
Jenis data yang dikumpulkan pada saat survei adalah data prevalensi dan data
faktor resiko kejadian antraks di Kabupaten Sumbawa Barat. Data faktor resiko
diperoleh dari koesioner yang diisi oleh para peternak meliputi manajemen
pemeliharaan dan perkandangan, biosekuriti, kesehatan ternak, serta pengetahuan
peternak mengenai penyakit antraks.

Populasi Target
Populasi target yang digunakan adalah populasi peternakan sapi potong yang
berada di Kabupaten Sumbawa Barat. Jumlah populasi sapi potong di seluruh
kecamatan yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat menjadi acuan dan perhatian yang
terperinci pada Tabel 1.

Tabel 1 Jumlah Populasi Ternak Sapi Potong di Kabupaten Sumbawa Barat Tahun
2014.
No Kecamatan Populasi Ternak Sapi potong
1 Taliwang 11 105
2 Sekongkang 4 231
3 Jereweh 3 454
4 Maluk 10 040
5 Brang Ene 3 961
6 Brang Rea 4 366
7 Seteluk 11 979
8 Poto Tano 11 992
TOTAL 61 128
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumbawa Barat 2014
Metode

Teknik Sampling dan Besaran Sampel


Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode penarikan
contoh acak bergerombol (cluster random sampling). Kecamatan yang akan dijadikan
sampel dipilih dengan metode Probability Proportional to Size (PPS) karena setiap
kecamatan memiliki populasi sapi dengan jumlah yang tidak sama besar. Kecamatan
yang akan dijadikan sampel sebanyak 4 kecamatan dari 8 kecamatan.
Teknik penarikan contoh pada Kabupaten Sumbawa Barat menggunakan
metode PPS membutuhkan daftar setiap gerombol dan besarannya, serta populasi
kumulatif dari masing-masing kecamatan. Setelah itu dihitung interval sampel, dan
dipilih angka acak pada interval sampel untuk menentukan kecamatan yang akan
dipilih dalam pengambilan sampel. Berikut adalah perhitungan interval sampel (K):

𝑢𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑝𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖
𝐾=
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑐𝑎𝑚𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑝𝑖𝑙𝑖ℎ

61 128
𝐾= = 15 282
4

Contoh pertama dipilih secara acak dari selang 1 – 15282 menggunakan Ms.
Excel. Nilai yang diperoleh adalah 12927. Nilai ini selanjutnya dijumlahkan dengan
nilai sampling interval untuk menentukan contoh kedua dan seterusnya hingga
diperoleh 4 sampel, yaitu dimulai dengan gerombol 1 sebesar 12927, dilanjutkan
28209, 43391, dan 58673. Sehingga kecamatan yang dibuat sampel berdasarkan
rentang nilai gerombol yang telah didapatkan, yaitu Sekongkang, Maluk, Seteluk, dan
Poto Tano. Data kecamatan terpilih berdasarkan metode tersebut disajikan pada Tabel
2.

Tabel 2 Data kecamatan terpilih di Kabupaten Sumbawa Barat.


No Kecamatan Populasi Sapi (Ekor) Total Populasi Kumulatif (Ekor)
1 Taliwang 11105 11105
2 Sekongkang 4231 15336
3 Jereweh 3454 18790
4 Maluk 10040 28830
5 Brang Ene 3961 32791
6 Brang Rea 4366 37157
7 Seteluk 11979 49136
8 Poto Tano 11992 61128
Dari empat kecamatan yang telah terpilih, ukuran contoh dihitung dari setiap
kecamatan yang diambil. Ukuran contoh dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

4𝑝𝑞
𝑛=
𝐿²
Keterangan:
n : jumlah sampel yang diperlukan
p : prevalensi dugaan
q :1–p
L : tingkat kesalahan

Dengan asumsi:
Nilai dugaan prevalensi ternak : 50 %
Asumsi tingkat kesalahan maksimum :5%
Asumsi tingkat kepercayaan : 95 %

4 (0.05).(0.05)
𝑛= = 400
(0.05)²

Sampling yang dilakukan sebanyak 3 tahap maka jumlah sampel total = 3 x 400 =
1200
1200 ekor. Jumlah sampel yang diambil pada setiap kecamatan adalah = 300.
4

Tabel 3 Jumlah sampel yang diambil di kecamtan terpilih


No. Kecamatan Populasi Sapi (ekor) Sampel yang diambil (ekor)
1 Sekongkang 4231 300
2 Maluk 10040 300
3 Seteluk 11979 300
4 Poto Tano 11992 300

Dari empat kecamatan dilakukan penentuan desa yang akan dilakukan survei
dengan menggunakan metode Probability Proportion to Size (PPS) dan didapatkan
12 desa yang terpilih. Jumlah contoh yang diambil di tiap desa dihitung berdasarkan
proporsional. Di setiap desa, pemilihan ternak dilakukan dengan menggunakan
metode penarikan contoh acak sederhana (Simple random sampling). Desa yang
digunakan sebagai wilayah pengambilan sampel dijabarkan pada Tabel 4.
Tabel 4 Desa yang diambil sampel di setiap kecamatan
Kecamatan Desa Jumlah Ternak (ekor) Sampel yang di ambil (ekor)
Sekongkang Ai Kangkung 750 24
Talonang 1000 159
Tongo 731 117
Maluk Benete 2000 80
Maluk 2740 109
Mantun 2800 111
Seteluk Air Suning 1300 81
Lamusung 1500 94
Seran 2000 125
Poto Tano Kokarlian 2100 158
Senayan 900 68
Tebo 1000 75

Uji Diagnostik
Sampel yang digunakan untuk mendiagnosa penyakit antraks adalah darah yang
diambil dari ujung telinga sapi yang diduga terinfeksi. Pemeriksaan atau pengujian
sampel dilakukan di laboratorium untuk menetapkan diagnosa. Pengujian dilakukan
untuk mendeteksi adanya agen penyakit dan deteksi antibodi. Pemeriksaannya dapat
dilakukan dengan melakukan preparat ulas darah dan uji diagnostik Enzyme Linked
Immunosorbent Assay (ELISA). Preparat ulas darah tersebut difiksasi dengan
menggunakan metil alkhohol dan diwarna dengan polychrome methylene blue.
Apabila pengujian preparat ulas darah ini diperoleh hasil yang negatif maka
dilanjutkan dengan uji diagnostik berupa ELISA, namun bila hasil preparat ulas darah
menunjukan hasil yang positif maka tidak perlu dilakukan pengujian diagnostik. Hal
ini dilakukan dengan mempertimbangkan faktor biaya.

Kuesioner
Kuesioner dibuat dan diisi oleh petugas survei (enumerator) serta digunakan
untuk memperoleh faktor-faktor risiko yang mempengaruhi kejadian penyakit antraks
di peternakan sapi potong pada Kabupaten Sumbawa Barat (Lampiran 1). Data
kuesioner diperoleh melalui wawancara terhadap respoden pada masing-masing
peternakan yang dijadikan sampel. Responden yang diwawancarai adalah para
peternak sapi potong atau anak kandang yang berada di lingkungan peternakan yang
dipilih.
Pretest
Pretest dilakukan dengan memilih beberapa daerah di luar daerah sampel. Di
daerah ini dilakukan wawancara kepada peternak atau anak kandang untuk menguji
kuesioner yang akan digunakan untuk kuesioner di daerah sampel.

Manajemen Data
Data yang diperoleh dari hasil kuesioner dan hasil uji diagnostik di
laboratorium di input ke perangkat lunak untuk diolah dan diinterpretasikan secara
statistik untuk mengetahui faktor resiko berkaitan dengan prevalensi kejadian antraks
di Kabupaten Sumbawa Barat. Data hasil uji diagnostik akan menentukkan besaran
prevalensi dari kejadian antraks di Kabupaten Sumbawa Barat.

Analisis Statistika
Analisis statistik yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang
berasosiasi dengan keberadaan penyakit antraks di peternakan adalah dengan Logistic
Regression, kemudian dilakukan juga uji odds ratio untuk mengetahui derajat
asosiasi berbagai kovariat dengan kejadian penyakit.

Aspek Keorganisasian

Personil yang dibutuhkan terdiri atas:


1. Supervisor : 4 orang
2. Dokter hewan : 8 orang
3. Paramedis : 8 orang
4. Enumerator : 8 orang
5. Pengolah data : 2 orang
6. Bendahara : 1 orang
7. Logstran : 8 orang
9. Administrasi : 1 orang
Total : 40 orang

Aspek Logistik

Daftar kebutuhan logistik yang dibutuhkan di antaranta adalah:


1. Sarana pengambilan sampel di lapangan
Sarung tangan/gloves, syringe 10 ml, jarum suntik 18G, tabung antikoagulan,
kapas, alkohol 70%, masker, cooling box, ice pack, bolpoint, lembar kuesioner,
kertas label, dan plastik.
2. Sarana pengolahan data kuesioner
Komputer dengan perangkat lunak yang akan digunakan mengolah hasil data
kuesioner dan hasil uji laboratorium, alat tulis, kertas HVS, printer dan tinta
printer.

Pengumpulan dan Penanganan Sampel


Data kuesioner dikumpulkan dan diolah dengan menggunakan software pengolah
data pada perangkat lunak. Sampel darah yang diperoleh dari lapangan dibawa menuju
laboratorium dengan menggunakan coolbox selama transportasi untuk selanjutnya
dilakukan pengujian diagnostik.

Waktu Pelaksanaan
Kegiatan survei akan dilakukan selama 12 hari yang akan dimulai pada tanggal 9-
20 Januari 2017. Kegiatan persiapan dan pelatihan dilakukan selama 2 hari, kemudian
survei yang terdiri dari pengambilan sampel dan pengisian kuesioner dilanjutkan dengan
pemasukan hasil data kuesioner dan pengujian laboratorium, dikuti dengan kegiatan
analisis hasil data. Jadwal kegiatan survei penyakit antraks di Kabupaten Sumbawa Barat
dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Jadwal kegiatan survei


Januari 2017 (Tanggal)
Waktu Pelaksanaan
9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Persiapan
Persiapan kuesioner
dan pelatihan petugas
Persiapan transportrasi
dan akomodasi
Survei
Pengisian kuesioner
dan pengambilan sampel
Pemasukan & Pengujian
Pengujian laboratorium
Pemasukan data hasil kuesioner
Analisis Data

Anggaran Dana
Total anggaran dana yang diperlukan untuk melakukan survei kasus antraks di
Kabupaten Sumbawa Barat sebesar Rp. 1.061.790.000, dengan rincian anggaran
disajikan pada Tabel 6, sedangkan rincian proyeksi biaya program pengendalian
penyakit antraks di Kabupaten Sumbawa Barat periode tahun 2017-2020 disajikan
pada Lampiran 2.
Tabel 6 Rincian biaya kegiatan survei kasus antraks pada sapi potong
Kabupaten Sumbawa Barat
Pengeluaran Harga Jumlah Satuan Hari Total (Rp)
Komisi
Supervisor 200000 4 tim 12 9600000
Dokter hewan 300000 4 orang 12 14400000
Enumerator 100000 8 orang 12 9600000
Paramedis 150000 8 orang 12 14400000
Administrasi 100000 1 orang 12 1200000
Pengolah data 150000 2 orang 12 3600000
Bendahara 170000 1 orang 12 2040000
Logistik 150000 8 orang 12 14400000
Total Komisi 69240000
Operasional
Bensin motor pegawai dinas 95000 5 liter 12 5700000
Bensin mobil pegawai dinas 12500 15 liter 12 2250000
Komunikasi 30000 40 orang 12 14400000
Total Biaya Operasional 22350000
Logistik
Pengujian ELISA 150000 1200 sampel 1 180000000
Pulpen 2000 1200 kotak 1 2400000
Kertas HVS 30000 1200 Rim 1 36000000
Tinta printer 50000 1200 botol 1 60000000
Kertas label 10000 1200 pak 1 12000000
Kapas 20000 1200 kotak 1 24000000
Alkohol 70% 35000 1200 botol 1 42000000
Glove 60000 1200 kotak 1 72000000
Vacumtainer tube 3000 1200 sampel 1 3600000
Masker 55000 1200 kotak 1 66000000
Selotip 6000 1200 1 7200000
Syringe 10 ml 2000 1200 syring 1 2400000
Jarum 18 G 3000 1200 jarum 1 3600000
Tissue 25000 1200 kotak 1 30000000
Plastik 10000 1200 pak 1 12000000
Ice pack 30000 1200 1 36000000
Cooling box 300000 1200 1 360000000
Total Biaya Logistik 949200000
Biaya Lainnya
Biaya pelatihan 400000 40 2 1600000
Konsumsi selama survei 30000 40 12 14400000
Biaya tak terduga 5000000 5000000
Total Biaya Lainnya 21000000
Total 1061790000
PENYUSUNAN PROGRAM PENGENDALIAN ANTRAKS

Startegi yang dapat dilakukan dalam upaya pengendalian penyakit antraks di


Kabupaten Sumbawa Barat meliputi pencegahan penyakit berupa program-program
yang diajukan terutama untuk:

1. Vaksinasi
Vaksinasi pada ternak yang umum digunakan di Indonesia yaitu vaksin spora hidup
atau live spora vaccine, yang mengandung Bacillus anthracis galur 34F2 yang bersifat
toksigenik dan tidak berkapsul. Pemberian vaksin antraks (Anthravet®) dilakukan 2 kali
dalam setahun (Arsani 2010). Beberapa hal yang harus diperhatikan selama pemberian
vaksinasi pada ternak pertama adalah pemberian antibiotik, hewan yang telah divaksin
kemudian memproleh pengobatan antibiotik, maka hewan tersebut harus dilakukan
vaksinasi ulang 10 hari setelah pemberian antibiotik. Kemudian waktu pemberian vaksin,
ternak yang telah divaksinasi tidak boleh disembelih untuk keperluan konsumsi sebelum
42 hari setelah vaksinasi (Evers 2009), dan selanjutnya penyimpanan vaksin, karena hal
tersebut mampu mempengaruhi efektifitas vaksin yang akan digunakan (WHO 2003).

2. Pengobatan Penyakit
Hewan yang terinfeksi antraks pada stadium awal dapat diobati dengan
pemberian Procain Penicillin G yang dilarutkan dalam aquades steril dengan dosis
untuk hewan besar sekita 6.000 – 20.000 IU/kg bobot berat badan secara IM setiap
hari. Jenis antibiotik lain yang dapat digunakan adalah Streptomycin sebanyak
10gram/400-600kg bobot badan setiap hari yang diberikan dalam dua dosis secara
IM. Pemberian kombinasi Streptomycin dan Penicillin merupakan kombinasi yang
baik. Antibiotik lain yang dapat digunakan adalah Oxytetracyclin.

3. Kontrol Lingkungan
Perbaikan manajemen pemeliharaan meliputi kandang, maupun peralatan
kandang perlu dilakukan sanitasi dan desinfeksi terkait dengan melakukan
pencegahan terhadap penularan penyakit melalui lingkungan yang terkontaminasi
hewan atau darah hewan yang terinfeksi. Kandang hewan penderita dan peralatannya
harus dicuci dan didesinfektan dengan seksama. Ternak baru yang datang tidak boleh
ditempatkan di kandang yang sama. Disinfektan yang digunakan harus memiliki
kandungan NaOH 10% yang dikombinasikan dengan formaldehyde 5%. Selain itu
pemberian pakan (rumput) harus memperhatikan cara pengambilannya. Pengambilan
rumput untuk pakan sapi dilakukan dengan mengambil rumput bagian atas, tidak
sampai membawa tanah atau mengkontaminasi rumput dengan tanah.
4. Strategi kimiawi melalui kontrol vektor
Vektor yang perlu dikendalikan adalah vektor penghisap darah seperti
Tabanus sp. Pencegahan terhadap vektor penghisap darah penting dilakukan untuk
menekan nilai penyebaran penyakit antraks akibat vektor tersebut (Kementan 2012).
Senyawa insektisida yang dapat digunakan adalah Lindane 0.03 - 0.05%.

5. Pemberian penyuluhan kepada masyarakat


Penyuluhan kepada masyarakat perlu dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan
terhadap penyakit antraks. Memberikan brosur dan leaflet tentang antraks kepada
masyarakat sebagai media edukasi untuk masyarakat. Memberikan contoh kepada
masyarakat terkait penanganan hewan yang diduga antraks, serta memberikan contoh
manajemen pemeliharaan yang baik. Menjelaskan kepada masyarakat tentang antraks
sebagai penyakit zoonosis. Mengajak masyarakat untuk selalu melaporkan jika terjadi
kasus, sehingga meningkatnya kesadaran masyarakat khususnya peternak mengenai
bahaya penyakit antraks serta usaha dan langkah yang perlu dilakukan untuk mencegah
wabah penyakit antraks tersebut.

6. Pengendalian Penyakit
Pengendalian khusus perlu diterapkan untuk mencegah perluasan penyakit
antraks, tindakan-tindakan pengendalian tersebut adalah:

1. Pemisahan hewan yang terinfeksi


Hewan yang menderita antraks perlu diisolasi sehingga mengurangi dan tidak
dapat melakukan kontak dengan hewan-hewan lain. Pengisolasian dilakukan di
mana hewan tersebut ditemukan sakit seperti kandang. Hewan yang sakit
dilarang untuk dipotong atau disembelih.
2. Pengawasan lalu lintas ternak
Hewan yang berasal dari daerah yang dinyatakan endemik antraks sebaiknya
dilarang untuk dipindahkan dari daerah asal menuju daerah lain dan begitu juga
sebaliknya.
3. Penanganan Bangkai
Bangkai hewan yang mati karena penyakit antraks harus dikubur sekitar 2 meter
dari permukaan tanah atau sekiranya jarak aman yang jauh dari jangkauan hewan
lain yang dapat menggali tanah atau hewan pemakan bangkai, selain itu bangkai
hewan disiram dengan formalin 5%, atau dengan dibakar pada lubang dengan
kedalaman 2 meter dan ditaburi kapur.
4. Desinfeksi
Tempat atau lingkungan berupa kandang dan perlengkapannya yang telah
tercemar harus segera didesinfeksi. Kandang dari bambu dan alang-alang dan
alat-alat yang tidak dapat didesinfeksi harus segera dibakar atau dikubur.

ANALISIS EKONOMI

Analisis ekonomi pengendalian penyakit hewan merupakan tindakan yang


dilakukan dengan menghitung manfaat (benefit) dan biaya (cost) suatu program.
Analisa manfaat dan biaya biasanya dilakukan dengan jalan men”discount” manfaat
maupun biaya berdasarkan lamanya program, kemudian membandingkan nilai
manfaat sekarang (present value benefit) dengan nilai biaya sekarang (present value
cost).
Analisis ekonomi pengendalian penyakit antraks pada sapi potong di Kabupaten
Sumbawa Barat dilakukan untuk mengetahui kelayakan program yang akan
dilaksanakan secara ekonomi. Program pengendalian penyakit antraks dilakukan
selama 4 tahun (2017-2020). Tujuan dari program ini adalah untuk menurunkan
prevalensi antraks di Kabupaten Sumbawa Barat. Pada analisis ekonomi discount rate
yang digunakan adalah 12%. Hasil perhitungan Present Value Cost (PCV), Present
Value Benefit (PVB), Net Present Value (NPV), dan Benefit-Cost Ratio (BCR) di
Kabupaten Sumbawa selama 4 tahun disajikan pada pada Lampiran 4.
Suatu proyek dapat diterima apabila PVB > PVC atau dengan kata lain NPV
bernilai positif. NPV memberikan gambaran tentang jumlah keuntungan yang
diperoleh dari proyek dalam ukuran nilai sekarang. Proyek pengendalian antraks pada
sapi potong di Kabupaten Sumbawa Barat dapat diterima karena NVP telah
memenuhi syarat yaitu, Rp 10.848.711.454.-

B/C = PVB/PVC
= 56.654.628.939/45.805.917.485
= 1.24

Suatu proyek diterima apabila B/C > 1. Rasio B/C merupakan kriteria yang
sangat berguna dalam menentukan urutan prioritas proyek. Proyek dapat diterima
karena B/C telah memenuhi syarat. Pada proyek ini setiap 1 rupiah yang dikeluarkan
untuk program pengendalian akan menghasilkan keuntungan sebesar 1.24 rupiah. Hal
ini menandakan bahwa proyek pengendalian antraks pada sapi potong memberikan
manfaat.
(𝐷𝑅 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖−𝐷𝑅 𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ)𝑥 𝑁𝑃𝑉 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝐷𝑅 𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ
IRR= 𝐷𝑅 𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ +
[𝑁𝑃𝑉 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝐷𝑅 𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ−𝑁𝑃𝑉 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝐷𝑅 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖]

IRR= 30.76%

Internal Rate of Return (IRR) merupakan kriteria yang lebih disukai dari pada
kriteria lain, karena menggambarkan persentase tingkat pengembalian yang diperoleh
(rate of return). Nilai IRR dari proyek ini adalah 30.76%. Nilai IRR lebih tinggi dari
discont rate sehingga proyek ini layak untuk dijalankan.

SIMPULAN

Penyakit antraks merupakan penyakit yang bersifat zoonosis sehingga


merupakan penyakit menular yang penting dan strategis di Indonesia. Survei terhadap
penyakit antraks perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat prevalensi penyakit dan
faktor risiko penyebab penyakit. Hasil survei tersebut akan disusun yang selanjutnya
akan dibentuk program pengendalian serta analisis ekonomi mengenai program
penyakit antraks. Hasil analisis ekonomi didapatkan NVP bernilai positif (PVB >
PVC), B/C ratio ≥ 1, dan IRR diatas discount rate (12%), sehingga program
pengendalian antraks yang diusulkan dapat diterima secara ekonomi dan diharapkan
dapat menurunkan tingkat kejadian penyakit antraks di Kabupaten Sumbawa Barat.
DAFTAR PUSTAKA

Adji RS dan Natalia L. 2006. Pengendalian Penyakit Antraks: Diagnosis, Vaksinasi


dan Investigasi. Wartazoa. 16 (4): 198-204.
[CFSPH] The centers for security and public health. 2007. Antraks, Woolsorters’
Disease, Cumberland Disease, Maladi Charbon, Malignant Pustule, Malignant
Carbuncle, Milzbrand, Splenic Fever. IOWA(US) : IOWA State University.
Chin J. 2006. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Ed 17. hal 23-30.
Departemen Kesehatan RI. 2007. Antraks: Pedoman dan Protap Penatalaksanaan
Kasus. Sub. Dit Zoonosis, Direktorat P2B2, Ditjen PPM dan PLP, Jakarta.
[DEPTAN] Departemen Pertanian. 2011. Antraks di Nusa Tenggara. Jakarta (ID):
Direktorat Jendral Peternakan Departemen Pertanian.
Hardjoutomo S. 1986. Pengendalian Penyakit Antraks. Jakarta (ID): Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.
[OIE] Office International Des Epizooties. 2000. Anthrax. In: Manual of Standards
Diagnostic and Vaccines, World Health Organization. pp. 235-239.
Rahayu. 2011. Anthrax di Indonesia. Jurnal Ilmiah Kesehatan dan Lingkungan
Univesitas Wijaya Kusuma. Vol.1 No 3.
Shadomy SV dan Smith TL. 2008. Zoonosis update: anthrax. Journal of American
Veterinary Medicine Association. 233(1).
Sumantri A. (2010). Kajian kasus kontrol kejadian di Kabupaten Sumbawa. [Tesis].
Master. Fakultas Kedokteran Hewan. Yogyakarta (ID): Universitas Gadjah
Mada.
Wahyuni AE. 2008. Tinjauan Hasil Vaksinasi Anthrax Pada Sapi Dan Kambing –
Domba Di Indonesia. Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis.
Warsito. 2004. Pengendalian Penyakit Anthraks: Fungsi Sosialisasi Dan Pendidikan
Keluarga Serta Inovator Dan Early Adopter. Lokakarya Nasional Ketersediaan
IPTEK dalam Pengendalian Penyakit Stategis pada Ternak Ruminansia Besar
149-156.
Weyant RS et al. 2001. Basic Laboratory Protocols for the Presumptive Identification
of Bacillus anthracis. CDC (GB).
[WHO] World Health Organisation. 2003. Guidelines for the Surveillance and
Control of Anthrax in Human and Animals. 3rd Edition. pp. 1-20.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Lembar kuesioner untuk peternak sapi potong yang diduga
terinfeksi antraks di Kabupaten Sumbawa Barat

Tanggal Wawancara:
Nama Enumerator :

1. Nama peternak :
2. Umur :
3. Alamat :
4. Pendidikan Formal
o SD
o SMP
o SMA
o Perguruan Tinggi
o Lain-lain,sebutkan .....
5. Pekerjaan :

I. Aspek Manajemen Pemeliharaan dan Perkandangan

1. Berapa jumlah sapi potong yang anda miliki ?


a. 1-10 c. 50-100
b. 10-50 d. Lebih dari 100, sebutkan...

2. Asal sapi :
a. Pembibitan sendiri
b. Beli dari peternak lain di sekitar kabupaten
c. Beli dari peternak lain di luar kabupaten, sebutkan....
d. Lain-lain, sebutkan.....

3. Jika anda membeli ternak baru, biasanya apa yang anda lakukan ?
a. Langsung menempatkannya dengan kandang yang sama dengan hewan ternak
yang lama
b. Menempatkannya terpisah dengan ternak lama hingga kurang lebih dua minggu
kemudian ditempatkan di kandang yang sama
c. Menempatkan sapi baru di tempat terpisah selama 1 hari
d. Lain-lain, sebutkan.....
4. Apakah ternak sapi potong yang anda beli memiliki surat keterangan kesehatan
hewan (SKKH) ?
a. Ya b. Tidak

5. Bagaimana pemeliharaan ternak sapi yang anda lakukan....


a. Selalu berada dalam kandang
b. Sapi dipelihara di padang rumput
c. Sapi dipelihara dalam kandang dan sesekali digembalakan di padang rumput
d. Lain-lain, sebutkan.....

6. Dari manakah sumber pakan sapi anda ?


a. Rumput di sekitar peternakan
b. Rumput dari pedagang di luar daerah peternakan
c. Jerami padi
d. Lain-lain, sebutkan.....

7. Jika jawaban no. 6 adalah (a), Bagaimana cara pengambilan rumput yang
dilakukan?
a. Diambil dari bagian pangkal rumput yang mendekati tanah hingga pucuk
rumput
b. Diambil hanya pada bagian pucuk
c. Diambil dari bagian akar sampai pucuk rumput
d. Lain-lain, sebutkan.............

8. Bagaimanakah penanganan pakan hijauan yang diberikan kepada hewan ternak


Anda?
a. Langsung diberikan kepada hewan ternak
b. Dijemur terlebih dahulu sebelum diberikan kepada hewan ternak
c. Dipotong-potong dan dijemur sebelum diberikan kepada hewan ternak
d. Lain-lain, sebutkan ………

9. Berasal dari manakah sumber air yang diberikan kepada hewan ternak Anda?
a. Air PAM
b. Air pegunungan
c. Air sumur
d. Lain-lain, sebutkan ………
II. Aspek Biosekuriti

10. Bagaimana kebersihan kandang ?


a. Kandang selalu dibersihkan setiap hari pada pagi dan sore hari
b. Kandang dibersihkan jika terlihat kotor
c. Kandang jarang dibersihkan
d. Lain-lain, sebutkan.....

9. Apakah dilakukan pembersihan sisa pakan dan minum maupun tempat makan dan
minum setiap hari?
a. Ya b. Tidak

10. Jika jawaban no.10 adalah (Ya), Bagimana cara anda membersihkannya?
a. Kotoran dan sisa pakan dibuang saja tanpa disikat
b. Tempat pakan dan minum dibilas dengan air bersih
c. Tempat pakan dan minum disikat terlebih dahulu lalu dibilas dengan air bersih
d. Lain-lain, sebutkan.....

11. Bagaimanakah sistem pembuangan limbah yang diterapkan di peternakan Anda?


a. Dibiarkan begitu saja
b. Langsung dibuang ke tempat pembuangan limbah
c. Diolah terlebih dahulu, lalu dibuang ke tempat pembuangan limbah
d. Lain-lain, sebutkan ………

12. Dibuang ke manakah limbah kotoran hewan yang berasal dari peternakan Anda?
a. Sungai yang ada di sekitar peternakan
b. Kebun yang ada di sekitar peternakan
c. Hutan yang ada di sekitar peternakan
d. Lain-lain, sebutkan ………

13. Bagaimana penyimpanan peralatan kandang sapi ?


a. Berada di dalam area kandang, memiliki tempat khusus, dan dilakukan sanitasi
secara rutin
b. Peralatan disimpan di luar kandang
c. Berada di dalam kandang dan dilakukan sanitasi secara rutin
d. Lain-lain, sebutkan.....
14. Bagaimana lalu lintas yang terjadi di kandang sapi ?
a. Hanya pengurus kandang yang boleh keluar masuk kandang
b. Keluarga dan pengurus kandang bebas keluar masuk kandang
c. Kandang bebas dikunjungi siapapun
d. Kandang bebas dikunjungi siapapun, bahkan kendaraan sering keluar masuk

15. Apakah setiap orang yang ke kandang harus mencuci tangan, kaki, ataupun alas
kaki sebelum dan setelah memasuki kandang sapi?
a. Ya b. Tidak

16. Apakah dilakukan disinfeksi secara teratur pada tiap kandang?


a. Ya b.Tidak

17. Jika Ya, kapan Anda melakukan program disinfeksi tersebut ?


a. Setiap ada ternak baru yang akan masuk ke dalam kandang
b. Baru dilaksanakan ketika terjadi penyakit dan menyababkan kematian ternak
c. Dilakukan secara teratur setiap dua minggu sekali
d. Lain-lain, sebutkan.....

III. Aspek Kesehatan Ternak

18. Apakah dalam kandang anda pernah ada kematian ternak mendadak?
a. Ya b. Tidak

19. Jika Ya, berapa ekor yang mati?..............ekor

20. Adakah tanda berupa keluarnya darah dari lubang kumlah tubuh ?
a. Ya b. Tidak

21. Apakah anda akan melapor jika terdapat sapi yang mati mendadak dan terdapat
pengeluaran darah dari beberapa lubang kumlah tubuh?
a. Ya b. Tidak

22. Tindakan apa yang Anda lakukan jika ada hewan ternak yang mati secara
mendadak?
a. Dijual c. Dibuang
b. Dikubur d. Dikonsumsi
23. Jika terlihat ada ternak yang sakit, apa yang anda lakukan ?
a. Dilakukan pemisahan dengan kelompoknya dan menghubungi dokter hewan
atau mantri
b. Sapi segera dipotong untuk dikonsumsi
c. Sapi tidak diberi perlakuan apapun
d. Lain-lain, sebutkan.....

24. Apakah sapi anda pernah diberi vaksinasi antraks dalam satu tahun terakhir?
a. Pernah pada bulan...... b. Tidak pernah

25. Berapa kali ternak anda divaksin dalam setahun?


a. Sekali c. Dua tahun sekali
b. Dua kali d. Lain-lain, sebutkan.....

IV. Aspek Pengetahuan Peternak Tentang Penyakit Antraks

Nyatakan dengan tanda (X) pernyataan berikut benar atau salah


26. Hewan yang mati karena antraks, biasanya ditandai dengan adanya darah yang
keluar dari lubang kumlah:
Benar ; Salah ; Tidak tahu

27. Vaksinasi bakteri antraks pada ternak sehat secata teratur di daerah endemik dapat
melindungi ternak dari penyakit tersebut:
Benar ; Salah ; Tidak tahu

28. Kandang dan peralatan bekas hewan penderita antraks tidak perlu dimusnahkan
atau didesinfeksi:
Benar ; Salah ; Tidak tahu

29. Hewan yang menderita penyakit antraks perlu dipisahkan dari hewan sehat
lainnya:
Benar ; Salah ; Tidak tahu

30. Pemberian pakan rumput atau kulit singkong yang mengadung tanah tidak
memiliki risiko menulari antraks terhadap ternak :
Benar ; Salah ; Tidak tahu
31. Pemotongan hewan penderita antraks sangat berbahaya bagi manusia dan dapat
memperluas wilayah penularan antraks :
Benar ; Salah ; Tidak tahu

32. Hewan yang mati karena antraks harus segera dimusnahkan dengan cara dikubur
dalam-dalam :
Benar ; Salah ; Tidak tahu

33. Tidak boleh mengkonsumsi daging yang berasal dari sapi yang sakit antraks
Benar ; Salah ; Tidak tahu
Lampiran 2. Proyeksi biaya program pengendalian penyakit antraks di
Kabupaten Sumbawa Barat periode tahun 2017-2020

Biaya Pengendalian Anthraks Tahun ke-1

Waktu
Jenis Biaya Jumlah Harga Total
(Bulan)
Fixed Cost
Supervisor 4 12 2,000,000 96,000,000
Dokter hewan 4 12 2,500,000 120,000,000
Enumerator 8 12 1,000,000 96,000,000
Paramedis 8 12 1,500,000 144,000,000
Administrasi 1 12 1,000,000 12,000,000
Pengolah data 2 12 1,000,000 24,000,000
Bendahara 1 12 1,000,000 12,000,000
Logistik 8 12 1,000,000 96,000,000
Pembelian laptop 4 1 2,500,000 10,000,000
Pembelian Printer 4 1 600,000 2,400,000
Biaya Listrik 1 12 300,000 3,600,000
Biaya Air PAM 1 12 300,000 3,600,000
Biaya Sewa Bangunan 1 12 3,000,000 36,000,000
Pembelian Peralatan Kantor 1 1 1,000,000 1,000,000
Subtotal Biaya 656,600,000

Variabel Cost
Biaya Vaksinasi 61,128 2 80,000 9,780,480,000
Biaya survei dan pengambilan sampel 1 1 18,700,000 18,700,000
Pengobatan 61,128 1 50,000 3,056,400,000
Biaya pemusnahan dan penguburan bangkai 22,923 1 100,000 2,292,300,000
Pembelian kapur 500 12 50,000 300,000,000
Disinfektan 200 12 10,000 24,000,000
Leaflet dan brosur 1,200 1 200,000 240,000,000
Penyuluhan (Kecamatan) 8 1 10,000,000 80,000,000
Subtotal Biaya 15,791,880,000
Total Biaya 16,448,480,000
Biaya Pengendalian Anthraks Tahun ke-2

Waktu
Jenis Biaya Jumlah Harga Total
(Bulan)
Fixed Cost
Supervisor 4 12 2,000,000 96,000,000
Dokter hewan 4 12 3,000,000 144,000,000
Enumerator 8 12 1,000,000 96,000,000
Paramedis 8 12 1,500,000 144,000,000
Administrasi 1 12 1,000,000 12,000,000
Pengolah data 2 12 1,000,000 24,000,000
Bendahara 1 12 1,000,000 12,000,000
Logistik 8 12 1,000,000 96,000,000
Pembelian laptop 0 1 2,500,000 0
Pembelian Printer 0 1 600,000 0
Biaya Listrik 1 12 300,000 3,600,000
Biaya Air PAM 1 12 300,000 3,600,000
Biaya Sewa Bangunan 1 12 3,000,000 36,000,000
Pembelian Peralatan Kantor 1 1 1,000,000 1,000,000
Subtotal Biaya 668,200,000

Variabel Cost
Biaya Vaksinasi 61,434 2 80,000 9,829,440,000
Biaya survei dan pengambilan sampel 1 1 19,200,000 19,200,000
Pengobatan 61,434 1 50,000 3,071,700,000
Biaya pemusnahan dan penguburan bangkai 7,372 1 100,000 737,200,000
Pembelian kapur 300 12 50,000 180,000,000
Disinfektan 150 12 10,000 18,000,000
Leaflet dan brosur 1,200 1 200,000 240,000,000
Penyuluhan (Kecamatan) 8 1 10,000,000 80,000,000
Subtotal Biaya 14,175,540,000
Total Biaya 14,843,740,000
Biaya Pengendalian Anthraks Tahun ke-3

Waktu
Jenis Biaya Jumlah Harga Total
(Bulan)
Fixed Cost
Supervisor 4 12 2,000,000 96,000,000
Dokter hewan 4 12 3,000,000 144,000,000
Enumerator 8 12 1,000,000 96,000,000
Paramedis 8 12 1,500,000 144,000,000
Administrasi 1 12 1,000,000 12,000,000
Pengolah data 2 12 1,000,000 24,000,000
Bendahara 1 12 1,000,000 12,000,000
Logistik 8 12 1,000,000 96,000,000
Pembelian laptop 0 1 2,500,000 0
Pembelian Printer 0 1 600,000 0
Biaya Listrik 1 12 300,000 3,600,000
Biaya Air PAM 1 12 300,000 3,600,000
Biaya Sewa Bangunan 1 12 3,000,000 36,000,000
Pembelian Peralatan Kantor 1 1 1,000,000 1,000,000
Subtotal Biaya 668,200,000

Variabel Cost
Biaya Vaksinasi 61,802 2 80,000 9,888,320,000
Biaya survei dan pengambilan sampel 1 1 19,200,000 19,200,000
Pengobatan 61,802 1 50,000 3,090,100,000
Biaya pemusnahan dan penguburan bangkai 2,781 1 100,000 278,100,000
Pembelian kapur 250 12 50,000 150,000,000
Disinfektan 100 12 10,000 12,000,000
Leaflet dan brosur 1,200 1 200,000 240,000,000
Penyuluhan (Kecamatan) 8 1 10,000,000 80,000,000
Subtotal Biaya 13,757,720,000
Total Biaya 14,425,920,000
Biaya Pengendalian Anthraks Tahun ke-4

Waktu
Jenis Biaya Jumlah Harga Total
Bulan)
Fixed Cost
Supervisor 4 12 2,000,000 96,000,000
Dokter hewan 4 12 3,000,000 144,000,000
Enumerator 8 12 1,000,000 96,000,000
Paramedis 8 12 1,500,000 144,000,000
Administrasi 1 12 1,000,000 12,000,000
Pengolah data 2 12 1,000,000 24,000,000
Bendahara 1 12 1,000,000 12,000,000
Logistik 8 12 1,000,000 96,000,000
Pembelian laptop 0 1 2,500,000 0
Pembelian Printer 0 1 600,000 0
Biaya Listrik 1 12 300,000 3,600,000
Biaya Air PAM 1 12 300,000 3,600,000
Biaya Sewa Bangunan 1 12 3,000,000 36,000,000
Pembelian Peralatan Kantor 1 1 1,000,000 1,000,000
Subtotal Biaya 668,200,000

Variabel Cost
Biaya Vaksinasi 62,235 2 80,000 9,957,600,000
Biaya survei dan pengambilan sampel 1 1 19,200,000 19,200,000
Pengobatan 62,235 1 50,000 3,111,750,000
Biaya pemusnahan dan penguburan bangkai 778 1 100,000 77,800,000
Pembelian kapur 50 12 50,000 30,000,000
Disinfektan 50 12 10,000 6,000,000
Leaflet dan brosur 1,200 1 200,000 240,000,000
Penyuluhan (Kecamatan) 8 1 10,000,000 80,000,000
Subtotal Biaya 13,522,350,000
Total Biaya 14,190,550,000
Lampiran 3 Total Pendapatan dari program pengendalian penyakit antraks di
Kabupaten Sumbawa Barat periode tahun 2017-2020

TAHUN 1
Indikator Prevalensi Presentase Total Harga Jumlah
Jumlah total ternak 61128
Kenaikan populasi 0 0 800000 0
Populasi yang
0.5 0 800000 0
terselamatkan
Mortalitas 75 22923 800000 18338400000
Total Benefit Cost -18338400000

TAHUN 2
Indikator Prevalensi Pertumbuhan populasi Total Harga Jumlah
Jumlah total ternak 61434
Kenaikan populasi 0.5 30717 800000 24573600000
Populasi yang
0.2 18430 800000 14744160000
terselamatkan
Mortalitas 60 7372 800000 5897600000
Total Benefit Cost 33420160000

TAHUN 3
Indikator Prevalensi Pertumbuhan populasi Total Harga Jumlah
Jumlah total ternak 61802
Kenaikan populasi 0.6 37081 800000 29664960000
Populasi yang
0.1 6180 800000 4944160000
terselamatkan
Mortalitas 45 2781 800000 2224800000
Total Benefit Cost 32384320000

TAHUN 4
Indikator Prevalensi Pertumbuhan populasi Total Harga Jumlah
Jumlah total ternak 62235
Kenaikan populasi 0.7 43564.5 800000 34851600000
Populasi yang
0.05 3111.75 800000 2489400000
terselamatkan
Mortalitas 25 778 800000 622400000
Total Benefit Cost 36718600000
Lampiran 4 Analisis Biaya Program Pengendalian (Penghitungan NPV, B/C,
dan IRR) 12%.

12%
Tahun Total Biaya df PVC Total Pendapatan PVB NPV B/C
1 16448480000 0.892857143 14686142857 -18338400000 -16373571429 -31059714286 -1.11
2 14843740000 0.797193878 11833338648 33420160000 26642346939 14809008291 2.25
3 14425920000 0.711780248 10268084913 32384320000 23050519315 12782434402 2.24
4 14190550000 0.635518078 9018351068 36718600000 23335334114 14316983046 2.59
TOTAL 59908690000 3.037349347 45805917485 84184680000 56654628939 10848711454 1.24

31%
Tahun Total Biaya df PVC Total Pendapatan PVB NPV B/C
1 16448480000 0.763358779 12556091603 -18338400000 -13998778626 -26554870229 -1.11
2 14843740000 0.582716625 8649694074 33420160000 19474482839 10824788765 2.25
3 14425920000 0.444821851 6416964438 32384320000 14405253168 7988288730 2.24
4 14190550000 0.339558665 4818524213 36718600000 12468118795 7649594582 2.59
TOTAL 59908690000 2.13045592 32441274327 84184680000 32349076176 -92198151.75 1.00

30%
Tahun Total Biaya df PVC Total Pendapatan PVB NPV B/C
1 16448480000 0.769230769 12652676923 -18338400000 -14106461538 -26759138462 -1.11
2 14843740000 0.591715976 8783278107 33420160000 19775242604 10991964497 2.25
3 14425920000 0.455166136 6566190259 32384320000 14740245790 8174055530 2.24
4 14190550000 0.350127797 4968506005 36718600000 12856202514 7887696509 2.59
TOTAL 59908690000 2.166240678 32970651294 84184680000 33265229369 294578075 1.01