Anda di halaman 1dari 123

BAHAN AJAR

INSTALASI DAN KONTROL MOTOR LISTRIK

Tim Penyusun:

Isdawimah,ST.,MT.,Dr
I Wayan Ratnata,ST.,MPd.,Dr
Nasir Malik,Ir.,MT.,Dr

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG)


UNTUK PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK ELEKTRO/KETENAGALISTRIKAN

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI,


DAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
JAKARTA, 2017

i
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR GAMBAR iii
DAFTAR TABEL iv

PENDAHULUAN
A. Deskripsi Mata Kegiatan 1
B. Perencanaan Pembelajaran 1
C. Petunjuk Penggunaan Bahan Ajar 1
D. CapaianPembelajaran Lulusan 2

BAB I. INSTALASI LISTRIK DASAR 7


1.1. Pendahuluan 7
1.1.1. Deskripsi Singkat 7
1.1.2. Relevansi 7
1.1.3.Capaian Pembelajaran 7
1.2. Materi Instalasi Listrik Dasar 8
1.2.1. Instalasi Listrik Domestik 8
1.2.1.1. Standardisasi dan Persyaratan Dasar Sistem Instalasi Listrik 8
1.2.1.2. Peralatan dan Perlengkapan Hubung Bagi Listrik 1 Phasa 14
1.2.1.3. Penghantar Listrik 20
1.2.2. Perbaikan Faktor Daya 33
1.2.3. Pengaman Pentanahan (Grounding) 38
1.2.4. Perancangan Instalasi Listrik 42
1.2.4.1. Perhitungan Intensitas Cahaya 42
1.2.4.2. Pemasangan Pengaman Instalasi Listrik 51
1.2.5. Inspeksi Instalasi Listrik 53
1.2.6. Pemeliharaan Instalasi Listrik 54
1.3. Praktek Instalasi Listrik Domestik 55

BAB II. INSTALASI TENAGA LISTRIK 58


2.1. Pendahuluan 58
2.1.1. Deskripsi Singkat 58
2.1.2. Relevansi 58
2.1.3. Capaian Pembelajaran 58
2.2. Materi Instalasi Tenaga Listrik 59
2.2.1.Motor-Motor Listrik 59
2.2.1.1. Jenis-Jenis Motor Listrik 59
2.2.1.2. Macam-macam Hubungan Motor Listrik 61
2.2.2. Instalasi Motor-Motor Listrik 62
2.2.2.1. Peralatan dan PHB Instalasi Tenaga Listrik 62
2.2.2.2. Penghantar Listrik Instalasi Tenaga Listrik 69
2.2.2.3. Perencanaan Instalasi Tenaga Listrik 71
2.2.2.4. Pemasangan Instalasi Motor-motor Listrik 71
2.2.2.5.Inspeksi Instalasi Motor-motor Listrik 74
2.2.2.6. Pemeliharaan Instalasi Motor-motor Listrik 74

ii
2.3. Praktek Instalasi Tenaga Listrik 75

BAB III. KONTROL MOTOR LISTRIK 79


3.1. Pendahuluan 79
3.1.1. Deskripsi Singkat 79
3.1.2. Relevansi 79
3.1.3. Capaian Pembelajaran 79
3.2. Materi Kontrol Motor Listrik 80
3.2.1. Kontrol Konvensional Berbasis Kontaktor 80
3.2.1.1.Kontrol Motor Listrik DOL 81
3.2.1.2.Kontrol Motor Listrik Forward-Reverse 83
3.2.1.3.Kontrol Motor Listrik Star-Delta 85
3.2.2. Kontrol Motor Berbasis Programmable Logic Controler 87
3.2.2.1. Simbol-simbol dan Ladder Program 88
3.2.2.2. Instruksi Ladder PLC 90
3.2.2.3. Kontrol Otomasi Berbasis PLC 92
3.2.2.4. Instalasi dan Pengasutan Motor Berbasis PLC 94
3.2.2.5. Inspeksi Instalasi dan Pengasutan Motor Berbasis PLC 95
3.2.2.6. Pemeliharaan Instalasi dan Pengasutan Motor Berbasis PLC 96
3.3. Praktek Kontrol Motor Listrik 97
3.3.1. Praktek Kontrol Motor Konvensional 97
3.3.2. Praktek Kontrol Motor berbasis PLC 105

REFERENSI 112

LAMPIRAN 113

iii
DAFTAR GAMBAR

Nomor Uraian Halaman


Pendistribusian Energi Listrik dari Pembangkit ke
1.1 9
Beban
1.2 Satu Garis PHB Satu Phasa 15
1.3 Bentuk fisik dari sekeringdiazed 15
1.4 Bentuk fisik dari NH-fuse/HRC-fuse 15
1.5 Diagram Satu Garis PHB Satu Phasa Tiga Group 15
Rangkaian PHB Sistem 3 Phasa Lengkap Saklar dan
1.6 16
Sekering
1.7 Bentuk fisik dari MCB 16
1.8 Bentuk fisik dari MCCB 16
1.9 Box Panel PHB 17
1.10 Rangkaian Sistim Tiga Phasa 19
1.11 Hubungan Resistansi dan Perubahan Suhu 26
1.12 One Line Sirkit Suplai ke Motor Listrik 27
1.13 One Line Diagram Penghantar Beban Bercabang 28
1.14 One Line Jaringan Instalasi Menggunakan Sistem Loop 29
One Line Jaringan Instalasi Sistem Loop Disuplai dari
1.15 29
Dua Sisi
1.16 Pembagian Arus 30
1.17 Pemasangan Kapasitor Sistim Tiga Fasa 34
1.18 Rangkaian Lampu TL dengan Kapasitor 34
1.19 Vektor Perbaikan Faktor Daya 35
1.20 Vektor diagram perbaikan faktor daya beban 37
1.21 Elektrode Pita 39
1.22 Elektrode batang 39
1.23 Elektrode Pelat 39
1.24 Rangkaian pengukuran tahanan pentahanan 41
1.25 Rangkaian / instalasi percobaan 41
1.26 Teknik Penempatan Titik Cahaya Lampu Pijar 45
1.27 Teknik penempatan titik cahaya lampu TL 46
2.1 Bagian-bagian Motor Listrik Tiga Fase 63
2.2 Hubungan Bintang 65
2.3 Hubungan Delta 65
2.4 MCB, MCCB 66
2.5 Push Button Tipe NO 66
2.6 Push Button Tipe NC 67
2.7 Push Button ON-OFF 67
2.8 Kontaktor dan Simbol 68
2.9 Thermal Over Load Relay (TOR dan Simbol 69
2.10 Timer dan Kaki Timer 70
2.11 PHB Tiga Fasa 71
2.12 Kabel NYA 72
2.13 Kabel NYM 73
2.14 Kabel NYY 73
2.15 Kabel NYFGbY 74
2.16 Rangkaian KontrolMotor system ON-OFF 74
2.17 Rangkaian PengawatanMotor Hubungan DOL 75

iv
2.18 Rangkaian PengawatanMotor Hubungan Star-Delta 76
2.19 Rangkaian Kontrol Motor System Reverse-Foward 77
3.1 Kontaktor Magnet dan Themal Overload Relay 83
3.2 Kontruksi Kontaktor Magnet dan TOL 83
3.3 Rangkaian Kontrol Direct On Line 84
3.4 Instalasi Tenaga Direct On Line 84
Tugas Merangkai Kontrol DOL Dengan Kontrol
3.5 85
Konvensional
3.6 Rangkaian Instalasi Tenaga Forward-Reverse 86
3.7 Rangkaian Kontrol Forward-Reverse 86
3.8 Rangkain Kontrol Star-Delta 88
3.9 Rangkaian Instalasi Tenaga Star-Delta 88
Rangkaian Lengkap Kontrol Motor Star-Delta
3.10 88
Konvensional
3.11 Diagram Blok Sistem PLC Input/Output 89
3.12 Diagram Blok Konfiguasi Sistem PLC Input/ Output 90
3.13 Kontrol DOL Motor Listrik Berbasis PLC 95
3.14 Kontrol Forward-Reverse Motor Listrik Berbasis PLC 96
3.15 Kontrol Star-Delta Motor Listrik Berbasis PLC 97
3.16 Rangkaian Pengawatan DOL Berbasis PLC 98

v
DAFTAR TABEL

Nomor Uraian Halaman


1.1 HRC/NH Fuses 20
1.2 Pembagian Kelas Bahan Isolasi 23
1.3 KHA terus menerus yang diperbolehkan dan proteksi untuk 31
kabel instalasi berinti tunggal berisolasi PVC pada suhu
keliling 30oC dan suhu penghantar maksimum 70oC
1.4 KHA terus menerus untuk kabel tanah berinti tunggal, 32
berpenghantar tembaga, berisolasi dan berselubung PVC,
dipasang pada system a.s. dengan tegangan kerja maksimum
1,8 kV; serta untuk kabel tanah berinti dua, tiga dan empat
berpenghantar tembaga, berisolasi dan berselubung PVC
yang dipasang pada system a.b. fase tiga dengan tegangan
pengenal 0,6/1 kV (1,2 kV) pada suhu keliling 30oC.
1.5 KHA terus menerus untuk kabel tanah berinti tunggal, 33
berpenghantar aluminium, berisolasi dan berselubung PVC,
dipasang pada system arus searah dengan tegangan kerja
maksimum 1,8 kV; serta untuk kabel tanah berinti dua, tiga
dan empat berpenghantar aluminium, berisolasi dan
berselubung PVC yang dipasang pada system a.b. fase tiga
dengan tegangan pengenal 0,6/1 kV (1,2 kV) pada suhu
keliling 30oC
1.6 Tahanan Jenis Tanah () 40
1.7 Tahanan Pembumian Pada Tahanan Jenis 1 = 100 40
Ohm-meter
2.1 Notasi dan Penomoran Kontak-Kontak Kontaktor 68
3.1 Struktur Memori PLC Omron tipe CQM1H/CP1L 94

vi
PENDAHULUAN

A. Deskripsi Mata Kegiatan


Mata kegiatan ini membahas konsep ketenagalistrikan dengan cakupan
instalasi listrik, instalasi tenaga listrik, dan kontrol motor listrik.Berbagai teori aturan,
standar, dan teori yang terkait dengan instalasi tenaga listrik, dan kontrol motor
listrik.Materi dalam kegiatan ini cukup luas, karena itu peserta dituntut dapat belajar
mandiri berdasarkan prinsip pembelajaran mandiri (self regulated learning).Diakhir
mata kegiatan ini, peserta diharapkan melaksanakan pembelajaran di SMK Program
KealhianKetenagalistrikan dengan baik, khususnya pada materi instalasi listrik,
instalasi tenaga listrik, dan kontrol motor listrik.

B. Perencanaan Pembelajaran
Materi dalam bahan ajar ini cukup banyak dan perlu diselesaikan dalam
beberapa kali tatap muka.Agar dosen dapat membagi materi sesuai alokasi waktu
yang ada, dosen perlu membuat perencanaan pembelajaran. Komponen perencanaan
pembelajaran tersebut paling tidak mempunyai lima aspek, yaitu: 1) perumusan tujuan
pembelajaran; 2) pemilihan dan pengorganisasi materi ajar; 3) pemilihan sumber
belajar/media pembelajaran; 4) skenario/kegiatan pembelajaran; dan 5) penilaian hasil
belajar.

C. Petunjuk Penggunaan Bahan Ajar


1. Petunjuk Bagi Mahasiswa
Bahan ajar ini berisi empat bagian.Bagian pertama berisi deskripsi mata
kegiatan, perencanaan pembelajaran, petunjuk penggunaan bahan ajar, dan
capaianpembelajaran lulusan. Bagian kedua, yaitu Bab I,berisiInstalasi Listrik
Domestik dan Instalasi Listrik Bangunan Gedung. Bagian ketiga, Bab II, berisi
Motor-motor Listrik dan Instalasi Motor-motor Listrik, sedangkan bagian keempat
atau Bab III berisi Kontrol Motor Listrik Konvensional BerbasisKontaktor dan
Programmable Logic Controler.
Pada setiap Bab berisi informasi teori, asesmenformatif atau penugasan, dan
kunci jawaban.agar bisa menyelesaikan asesmenformatif, mahasiswa diharapkan
mempelajari teori yang ada dengan sungguh-sungguh agar dapat menguasai
memahami Bab selanjutnya, mahasiswa harus sudah menguasai Bab sebelumnya,

1
yang dibuktikan dengan kebenaran dalam menyelesaikan asesmen.Jika dalam
mempelajari materi yang ada atau saat mengerjakan asesmenformatifmahasiswa
mengalami kesulitan, sebaiknya berkonsultasipada dosen.

2. Petunjuk Bagi Dosen


Dosen diharapkan memfasilitasi segala sesuatu yang diperlukan mahasiswa
dalam mendalami dan mempraktikkan materi yang ada dalam bahan ajar
ini.Pengelolaan kelas dan bengkel perlu dilakukan dengan baik.

D. Capaian Pembelajaran Lulusan


1. Memiliki sikap:
a. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap
religius;
b. menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas berdasarkan
agama, moral, dan etika;
c. berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
bernegara, dan kemajuan peradaban berdasarkan Pancasila;
d. berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air, memiliki
nasionalisme serta rasa tanggungjawab pada negara dan bangsa;
e. menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan kepercayaan,
serta pendapat atau temuanorisinal orang lain;
f. bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap
masyarakat dan lingkungan;
g. taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara;
h. menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
i. menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang keahliannya
secara mandiri;
j. menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan kewirausahaan; dan
k. mempunyai ketulusan, komitmen, kesungguhan hati untuk mengembangkan
sikap, nilai, dan kemampuan peserta didik dengan dilandasi oleh nilai-nilai
kearifan lokal dan akhlak mulia serta memiliki motivasi untuk berbuat bagi
kemaslahatan peserta didik dan masyarakat pada umumnya.
2. Memiliki pengetahuan:
a. Dalam substansi bidang keilmuan:

2
1) konsep teoretis teknik tenaga listrik secara umum;
2) konsep umum, prinsip, dan aplikasi pembangkit tenaga listrik, jaringan
tenaga listrik, instalasi tenaga listrik, otomasi industri, pendinginan dan
tata udara, serta tenaga listrik;
3) pengetahuan operasional lengkap tentang fungsi, cara menggunakan, dan
mengembangkan pembangkit tenaga listrik, jaringan tenaga listrik,
instalasi tenaga listrik, otomasi industri, pendinginan dan tata udara, serta
tenaga listrik yang umum dan yang khusus untuk proses pembelajaran;
4) prinsip, karakteristik, fungsi, dan aplikasi pirantipembangkit tenaga listrik,
jaringan tenaga listrik, instalasi tenaga listrik, otomasi industri,
pendinginan dan tata udara, serta tenaga listrik.
b. Substansikependidikan:
1) metodologi penelitian pendidikan teknik ketenagalistrikan;
2) pengelolaan laboratorium untuk pembelajaran teknik tenaga listrik.
3) konsep teoretis pendidikan, perkembangan peserta didik (aspek fisik,
intelektual, sosial-emosional, moral, spiritual, dan latar belakang sosial
budaya) secara umum;
4) konsep teoretispembelajaran teknik tenaga listrik (electrical power
teaching pedagogy) secara mendalam, khususnya strategi proses
pembelajaran teknik tenaga listrik;
5) konsep umum, prinsip, metode, dan teknik:
a) perencanaan pembelajaran;
b) penilaian dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran;
c) analisis, adaptasi dan pengembangan materi dan media pembelajaran;
d) pendampingan peserta didik;
e) pengembangan media pembelajaran teknik tenaga listrik;
f) pengembangan alat laboratorium teknik tenaga listrik untuk sekolah;
g) penelitian kependidikan;
6) konsep umum dan prinsip manajemen (perencanaan, operasional,
pengawasan, evaluasi, dan perbaikan) laboratorium teknik tenaga listrik
untuk sekolah;
3. Memiliki keterampilan khusus:
a. Dalam substansi bidang keilmuan:

3
1) mampu membuat perangkat pembelajaran teknik tenaga listrik secara
mandiri sesuai dengan kebutuhan pengguna baik sekolah maupun
masyarakat umum dengan menggunakan kaidahkeilmuan dan prinsip
desain instruktusional;
2) mampu membuat perangkat pembelajaran teknik tenaga listrik untuk
sekolah menengah kejuruan melalui analisis materi subyek (pedagogical
content knowledge) secara mandiri sesuai dengan kurikulum yang berlaku,
prinsip-prinsip desain instruksional, pendekatan saintifik, memanfaatkan
IPTEKS, dan lingkungan alam sekitar;
3) mampumenganalisis masalah, menemukan sumber masalah, dan
menyelesaikan masalah pembelajaran teknik tenaga listrik dan masalah
manajemen laboratorium teknik tenaga listrik sesuai dengan
kaidahkeilmuan teknik tenaga listrik.
4) mampu menganalisis dan mengusulkan berbagai solusi alternatif yang ada
terhadap permasalahan media belajar teknik tenaga listrik dan masalah
manajemen laboratorium teknik tenaga listrik, serta menyimpulkannya
untuk pengambilan keputusan yang tepat;
5) mampu meningkatkan kualitas, efektivitas, dan efisiensi perangkat
pembelajaran teknik tenaga listrik secara mandiri dengan menggunakan
kaidahkeilmuan dan prinsip-prinsip inovasi; dan
6) mampu mempromosikan pentingnya pembelajaran teknik tenaga listrik
bagi siswa, orang tua siswa, maupun masyarakat umum dengan
menggunakan media komunikasi konvensional atau mutakhir yang efektif
dan relevan bagi sasaran.
b. Dalam substansikependidikan:
1) mampu melaksanakan pembelajaran teknik tenaga listrik di sekolah
menengah kejuruan dengan pendekatan saintifik sesuai dengan
karakteristik materi dan karakteristik siswa agar mampu mengembangkan
kemampuan berfikir dan sikap ilmiah;
2) mampu merencanakan dan mengelola sumberdaya dalam
penyelenggaraan kelas dan penggunaan laboratorium untuk pembelajaran
teknik tenaga listrik;

4
3) mampu melaksanakan kegiatan penilaian dan evaluasi proses dan hasil
belajar yang sahih, andal, obyektif, dan praktis (sesuai dengan
karakteristik pembelajaran teknik tenaga listrik), yang meliputi:
a) penentuan aspek-aspek proses dan hasil belajar yang penting untuk
dinilai dan dievaluasi;
b) penentuan prosedur sesuai dengan tujuan penilaian dan evaluasi;
c) pengembangan teknik dan instrumen penilaian dan evaluasi;
d) pelaksanaan evaluasi sesuai prosedur, teknik, dan instrumen yang
ditentukan;
e) pelaksanaan proses moderasi penilaian;
f) analisis hasil penilaian proses dan hasil belajar untuk berbagai tujuan;
dan
g) pengadministrasian penilaian proses dan hasil belajar secara
berkesinambungan;
4) mampu melakukan analisis reflektif terhadap pembelajaran (melalui
pengamatan dan umpan balik dari peserta didik, orangtua peserta didik,
serta rekan sejawat) untuk peningkatan kualitas pembelajaran;
5) mampu melakukan penelitian tindakan kelas (action research) dengan
pendekatan kuantitatif dan atau kualitatif untuk menyelesaikan masalah
pembelajaran teknik tenaga listrik dan membuat laporan hasil penelitian
dalam bentuk artikel ilmiah; dan
6) mampu melakukan pendampingan peserta didik dengan
mempertimbangkan aspek sosio-kultural, serta bekerjasama dengan pihak-
pihak yang berkaitan (orang tua dan teman-teman peserta didik,
masyarakat sekitar, serta guru sejawat).
4. Memiliki keterampilan khusus:
a. mampu menerapkan pemikiran logis, kritis, sistematis, dan inovatif dalam
konteks pengembangan atau implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi
yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora yang sesuai dengan
bidang keahliannya;
b. mampu menunjukkan kinerja mandiri, bermutu, dan terukur;
c. mampu mengkaji implikasi pengembangan atau implementasi ilmu
pengetahuan dan teknologi yang memperhatikan dan menerapkan nilai

5
humaniora sesuai dengan keahliannya berdasarkan kaidah, tata cara dan etika
ilmiah dalam rangka menghasilkan solusi, gagasan, desain atau kritik seni;
d. mampu menyusun deskripsisaintifik hasil kajian tersebut di atas dalam bentuk
laporan tugas akhir, dan mengunggahnya dalam laman perguruan tinggi;
e. mampu mengambil keputusan secara tepat dalam konteks penyelesaian
masalah di bidang keahliannya, berdasarkan hasil analisis informasi dan data;
f. mampu memelihara dan mengembangkan jaringan kerja dengan pembimbing,
kolega, sejawat baik di dalam maupun di luar lembaganya;
g. mampu bertanggungjawab atas pencapaian hasil kerja kelompok dan
melakukan supervisi serta evaluasi terhadap penyelesaian pekerjaan yang
ditugaskan kepada pekerja yang berada di bawah tanggungjawabnya;
h. mampu melakukan proses evaluasi diri terhadap kelompok kerja yang berada
dibawah tanggung jawabnya, dan mampu mengelola pembelajaran secara
mandiri; dan
i. Mampumendokumentasikan, menyimpan, mengamankan, dan menemukan
kembali data untuk menjamin kesahihan dan mencegah plagiasi.

6
BAB I. INSTALASI LISTRIK DASAR

1.1. Pendahuluan
1.1.1. Deskripsi Singkat
Bab ini membahas Instalasi Listrik Domestik dan Instalasi Listrik Bangunan
Gedung. Pembahasan Instalasi Listrik Domestik mencakup: Standardisasi dan
Persyaratan Dasar Sistem Instalasi Listrik, Peralatan dan Perlengkapan Hubung Bagi
(PHB) Listrik 1 Phasa, Penghantar Listrik, PengamanPentanahan (Grounding),
Perencanaan Instalasi Listrik Domestik, Pemasangan Instalasi Listrik Domestik,
Pengujian Instalasi Listrik, dan Pemeliharaan Instalasi Listrik Domestik. Pembahasan
Instalasi Listrik Bangunan Gedung mencakup Peralatan dan Perlengkapan Hubung
Bagi (PHB) Listrik 3 Phasa dan Perencanaan Instalasi Listrik Bangunan Gedung.
Pada bagian akhir bab disediakan soal atau tugas dan kunci jawaban. Dengan
mengerjakan soal atau tugas dan mencocokan hasil pekerjaan yang telah dibuat
dengan kunci jawaban yang ada, peserta diklat dapat mengukur pencapaian hasil
belajarnya.

1.1.2. Relevansi
Materi yang dibahas dalam bab ini merupakan materi pokok yang harus
dikuasai peserta diklat untuk mengajar di SMK Program Keahlian Teknik
Ketenagalistrikan, khususnya pada Instalasi Listrik Domestik dan Instalasi Listrik
Bangunan Gedung. Dengan menguasai materi ini maka peserta diklat dapat
mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, serta dapat menanamkan sikap yang
dituntut dunia kerja kepada siswa SMK.

1.1.3. Capaian Pembelajaran


Capaianpembelajaran materi ini adalah:
a. Mampu merancang, merakit, memelihara, menginspeksi, dan menganalisis hasil
inspeksi dan memelihara insalasi listrik pada bangunan sederhana, dengan sub
capaian:
- menerapkan prinsip dasar instalasi dalam merancang instalasi listrik
- mempraktekkan perakitan instalasi listrik tegangan rendah
- mempraktekkanpenginspeksian instalasi
- menganalisis hasil inspeksi
- mempraktekkanpemeliharaaninstalasi listrik pada bangunan sederhana

7
b. Mampu merancang, merakit, memelihara, menginspeksi, dan menganalisis hasil
inspeksi dan memelihara PHB insalasi penerangan pada bangunan sederhana,
dengan sub capaian:
- menerapkan prinsip dasar instalasi dalam merancang PHB
- mempraktekkan perakitan PHB tegangan rendah
- mempraktekkanpenginspeksian PHB
- menganalisis hasil inspeksi
- mempraktekkanpemeliharaan PHB pada bangunan sederhana
c. Mampu menginspeksi, menganalisis hasil inspeksi dan memelihara instalasi
sistem pembumian dan penangkal/penangkap petir, dengan sub capaian:
- Mempraktekkanpenginspeksian instalasi sistem pembumian dan penangkal/
penangkap petir
- menganalisis hasil inspeksi
- memelihara instalasi sistem pembumian dan danpenangkal/penangkap petir

1.2. Materi Instalasi Listrik Dasar

1.2.1. Instalasi Listrik Domestik


Pengertian instalasi listrik domestik adalah instalasi listrik untuk bangunan
rumah tinggal. Instalasi listrik rumah tinggal harus dipasang mengacu pada PUIL2000
dengan tujuan untuk sistem keamanan, keandalan, efektif danefisien dalam pemanfaat
energi listrik. Sistem listrik yang aman adalah instalasi listrik tidak mengakibatkan
short curcuit (hubungan pendek) atau korsleting. Instalasi yang andal adalah instalasi
yang tahan terhadap gangguan/instruksi karena gangguan mekanik dan sejenisnya.
Instalasi listrik yang efektif dan efisien adalah instalasi tepat pemakaian dan tidak
mengakibatkan borosnya pemakaian energi listrik.

1.2.1.1. Standardisasi dan Persyaratan Dasar Sistem Instalasi Listrik

1) Standarisasi
Tujuannya adalah untuk keseragaman: a) ukuran, bentuk & mutu barang, dan
b) cara menggambar dan cara kerja. Organisasi internasional dalam standarisasi dalam
bidang teknik listrik yaitu International ElectrotechnicalCommision (IEC), bidang
teknik listrik, dan ada juga dalam bidang lainnya seperti International Organization
for Standardization (ISO)dalam bidang lain. Kedua organisasi ini berkedudukan di

8
Geneva.DiIndonesia untuk bidang teknik listrik arus kuat dalam hal standarisasi
diprakarsai oleh LIPI dan PLN.Selain itu persyaratan listrik yang digunakan di Jerman
yaitu: VerbandDeutsherElectrotechniker (VDE), dan Deutsher Industrial Nationalle
(DIN).Sedangkan di Jepang dikenal Japanese Industrial Standard (JIS).

2) Persyaratan
Pemasangan instalasi listrik harus sesuai persyaratan untuk tujuan: a)
pengamanan manusia dan barang, dan b) penyediaan tenaga listrik yang aman dan
efisien. Persyaratan Instalasi Listrik di Indonesia saat ini sudah menggunakan
bukuPersyaratan Umum Instalasi Listrik disingkat PUIL, pertama terbit pada tahun
1977 diberi nama buku PUIL 1977.Saat ini sudah terbit PUIL 2000 merupakan
kelanjutan dan penambahan dari PUIL sebelumnya.Bila dilihat sejarahnya,PUIL 1977
merupakan pembaharuan dari PUIL NI6 adalah persyaratan listrik yang ada di
Belanda.

Gambar 1.1.Pendistribusian Energi Listrik dari Pembangkit ke Beban

Dalam PUIL 2000 ditegaskan, tegangan listrik dibagi dalam:


- Tegangan sangat rendah yaitu tegangan listrik lebih kecil dari 50 V
- Tegangan rendah (TR): 50 V - 1000 V
- Tegangan menengah (TM): di atas 1000 V - 35 kV.
- Tegangan tinggi (TT): 35 kV - 245 kV
- Tegangan ekstra tinggi (TET):  245 s/d 700 kV
- Tegangan ultra tinggi  700 kV; 1000 kV
Untuk jaringan tegangan rendah sistem 4 kawat (R, S, T, N) dengan tegangan :
- phasa - netral/nol: 220 V
- phasa-phasa: 380 V
Untuk jaringan tegangan menengah sistem 3 kawat :
- phasa- phasa: 20 kV

9
- phasa-tanah: 20 kV / 3
Untuk jaringan tegangan tinggi sistem 3 kawat, double circuit:
- phasa-phasa : 70 kV atau 150 kV
Untuk jaringan tegangan ekstra tinggi sistem 3 kawat, double circuit :
- phasa -phasa 500 kV (saluran transmisi udara tegangan ekstra tinggi atau
SUTET Jawa-Bali)

3) Pengujian Peralatan Listrik


Peralatan listrik sebelum dipergunakan harus melalui pengujian khusus dari
PLN yang membidangi dalam bidang Penyelidikan Masalah Kelistrikan (LMK) saat
ini adalah bernama Konsuil. Dalam merencanakan sistem instalasi listrik harus
mengacu pada persyaratan umum instalasi listrik (PUIL). Maksud dan tujuan
persyaratan umum instalasi listrik adalah agar terselenggara dengan baik pengusahaan
instalasi listrik terutama yang menyangkut keselamatan manusia (terhadap bahaya
sentuhan serta kejutan arus listrik), keamanan instalasi listrik beserta
perlengkapannya, dan keamanan gedung serta isinya terhadap kebakaran akibat listrik
(PUIL 2000).
Persyaratan Umum Instalasi Listrik pada prinsipnya berlaku untuk semua
instalasi arus kuat, baik mengenai perencanaan, pemasangan, pemeriksaan dan
pengujian, pelayanan, pemeliharaan maupun pengawasannya. Sebetulnya Peryaratan
Umum Instalasi Listrik yang digunakan saat ini adalah hasil penyempurnaan dari
persyaratan yang telah ada sebelumnya, diantaranya memperhatikan standard-
standard dari International ElectrotechnicalCommision (IEC), yaitu yang berkaitan
dengan standard dan norma dalam sistem kelistrikan. Dan juga memperhatikan dari
International Commision on Rules for the Approval of Electrical Equipment (CEE),
yaitu masalah yang berkaitan dengan standard-standard peralatanlistrik.Persyaratan
dalam instalasi listrik juga mempertimbangkan persyaratan yang diterbitkan oleh
Electrical Instalations of Buildings.
Memperhatikan persyaratan instalasi listrik di atas tampak bahwa dalam
perancangan maupun pemasangan instalasi listrik harus memenuhi ketentuan yang
berlaku agar keandalan, keamanan dan kontinuitas sistem instalasi listrik terjamin
dengan sebaik-baiknya sehingga memuaskan konsumen.Mengacu pada persyaratan
dasar instalasi listrik dari PUIL bahwa dalam perancangan instalasi listrik harus
diperhatikan ketentuan umum yaitu rencana instalasi listrik harus memenuhi

10
ketentuan dalam PUIL2000.Ketentuan yang dimaksud adalah dimana Rencana
Instalasi Listrik ialah seberkas gambar rencana dan uraian teknik, yang digunakan
sebagai pegangan untuk melaksanakan pemasangan instalasi listrik. Untuk itu
Rencana Instalasi Listrik harus dibuat dengan jelas, serta mudah dibaca dan dipahami
oleh para teknisi listrik.Menurut Joseph F. McPartland, William J. Novak dan juga
PUIL 2000, hal yang harus diperhatikan dalam merencanakan instalasi listrik yaitu:
1. Gambar situasi, yang menunjukkan dengan jelas letak gedung atau bangunan
tempat instalasi tersebut akan dipasang dan rencana penyambungannya dengan
sumber tenaga listrik.
2. Gambar instalasi listrik
3. Diagram garis tunggal
a). Diagram PHB lengkap dengan keterangan mengenai ukuran dan besaran
nominal komponennya.
b). Keterangan mengenai jenis dan besar beban yang akan terpasang dan
pembagiannya.
c). Sistem pembumian
d). Ukuran dan jenis penghantar yang dipakai.
4. Gambar rinci yang meliputi:
a). Perkiraan ukuran fisik PHB.
b). Cara pemasangan perlengkapan listrik
c). Cara pemasangan kabel
d). Cara kerja instalasi kendali
5. Perhitungan teknis bila dianggap perlu, yang meliputi antara lain:
a). Susut tegangan
b). Perbaikan faktor kerja
c). Beban terpasang dan kebutuhan maksimum
d). Arus hubung pendek dan daya hubung pendek
e). Tingkat penerangan
6. Tabel bahan instalasi, yang meliputi:
a). Jumlah dan jenis kabel, penghantar dan perlengkapan
b). Jumlah dan jenis perlengkapan bantu
c). Jumlah dan jenis PHB
d). Jumlah dan jenis armature lampu
7. Uraian teknis, yang meliputi :
11
a). Ketentuan teknis perlengkapan listrik yang dipasang dan cara pemasangannya.
b). Cara pengujiannya
c). Jadwal waktu pelaksanaan
8. Perkiraan biaya.

Dalam merancang sistem instalasi listrik memperhitungkan kebutuhan beban


perlu dilakukan. Kebutuhan maksimum dapat ditentukan melalui: perhitungan,
penafsiran, pengukuran atau pembatasan. Akan tetapi kebutuhan maksimum daya
listrik yang diperoleh dari pengukuran melampaui nilai hasil yang diperoleh dari
perhitungan atau penafsiran, maka nilai hasil pengukuran yang diambil sebagai
kebutuhan maksimum.
Penentuan kebutuhan maksimum suatu instalasi dengan perhitungan, pada
prinsipnya dilakukan dengan memperhatikan cara kerja beban dalam instalasi
tersebut. Akan tetapi bila cara kerja beban dalam suatu instalasi tidak diketahui
dengan pasti maka kebutuhan maksimum dihitung.

4) Keselamatan Kerja
Pada pemasangan instalasi listrik, biasanya rawan terhadap terjadinya
kecelakaan. Kecelakaan bisa timbul akibat adanya sentuh langsung dengan
penghantar beraliran arus atau kesalahan dalam prosedur pemasangan instalasi. Oleh
karena itu perlu diperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan bahaya listrik serta
tindakan keselamatan kerja. Bebrapa penyebab terjadinya kecelakaan listrik
diantaranya :
a. Kabel atau hantaran pada instalasi listrik terbuka dan apabila tersentuh akan
menimbulkan bahaya kejut.
b. Jaringan dengan hantaran telanjang
c. Peralatan listrik yang rusak
d. Kebocoran arus listrik pada peralatan listrik dengan rangka dari logam, apabila
terjadi kebocoran arus dapat menimbulkan tegangan pada rangka atau body
e. Peralatan atau hubungan listrik yang dibiarkan terbuka
f. Penggantian kawat sekering yang tidak sesuai dengan kapasitasnya sehingga dapat
menimbulkan bahaya kebakaran
g. Penyambungan peralatan listrik pada kotak kontak (stop kontak) dengan kontak
tusuk lebih dari satu (bertumpuk).

12
Contoh langkah-langkah keselamatan kerja berhubungan dengan peralatan
listrik, tempat kerja, dan cara-cara melakukan pekerjaan pemasangan instalasi lisrik
dapat diikuti pentunjuk berikut:
a. Menurut PUIL 2000 ayat 920 B6, beberapa ketentuan peralatan listrik diantaranya:
1) Peralatan yang rusak harus segera diganti dan diperbaiki. Untuk peralatan
rumah tangga seperti sakelar, fiting, kotak -kontak, setrika listrik, pompa listrik
yang dapat mengakibatkan kecelakaan listrik
2) Tidak diperbolehkan:
(a) Mengganti pengaman arus lebih dengan kapasitas yang lebih besar
(b) Memasang kawat tambahan pada pengaman lebur untuk menambah daya
3) Bagian yang berteganagan harus ditutup dan tidak boleh disentuh seperti
terminal-terminal sambungan kabel, dan lain-lain
4) Peralatan listrik yang rangkaiannya terbuat dari logam harus ditanahkan
b. Menurut PUIL 2000 ayat 920 A1, tentang keselamatan kerja berkaitan dengan
tempat kerja, diantaranya:
1) Ruangan yang didalamnya terdapat peralatan lsitrik terbuka, harus diberi tanda
peringatan “ AWAS BERBAHAYA”
2) Berhati-hatilah bekerja dibawah jaringan listrik
3) Perlu digunakan perelatan pelindung bila bekerja di daerah yang rawan bahaya
listrik
c. Pelaksanaan pekerjaaan instalasi listrik yang mendukung pada keselamatan kerja,
antara lain:
1) Pekerja instalasi listrik harus memiliki pengetahuan yang telah ditetapkan oleh
PLN dan AKLI
2) Pekerja harus dilengkapi dengan peralatan pelindung seperti: Baju pengaman
(lengan panjang, tidak mengandung logam, kuat dan tahan terahadap gesekan),
Sepatu, Helm, Sarung tangan.
3) Peralatan (komponen) listrik dan cara pemasangan instalasinya harsus sesuai
dengan PUIL.
4) Bekerja dengan menggunakan peralatan yang baik
5) Tidak memasang tusuk kontak secara bertumpuk
6) Tidak boleh melepas tusuk kontak dengan cara menarik kabelnya, tetapi dengan
cara memegang dan menarik tusuk kontak tersebut.

13
1.2.1.2. Peralatan dan Perlengkapan Hubung Bagi Listrik

1) Perlengkapan Hubung Bagi (PHB)


Dalam pemasangan sistem instalasi listrik tidak dapat dipasang sembarangan
tanpa memperhatikan ketentuan yang diisyarakan oleh PUIL. Selain itu energi listrik
yang dipasok ke konsumen harus aman (tidak membayakan bagi manusia dan mahluk
hidup lainnya), handal (dapat mensuplai energi listrik untuk konsumen tanpa banyak
gangguan sehingga listrik yang dialirkan dapat terus-menerus).
Memperhatikan kondisi di atas agar sistem instalasi listrik dapat bekerja
dengan aman dan andal dalam sistem instalasi listrik sebelum didistribusikan ke
beban harus dilengkapi dengan Perangkat Hubung Bagi (PHB).Penempatan PBH
dalam pemasangan sistem instalasi listrik harus dipasang sedemikian rupa agar
terlihat rapih, aman, tidak berada pada tempat yang lembab dan dapat dioperasikan
dengan mudah/leluasa.Sebaiknya dalam susunan PHB dilengkapiinstrumen alat ukur
yang informatif yang dapat menginformasikan:
a) besarnya tegangan jala-jala
b) besarnya arus listrik yang mengalir
c) sistem phasa (satu atau tiga phasa)
Sistem penyambungan dalam PHB dilakukan sedemikian rupa dengan
menggunakan terminal-terminal yang kuat (lengkap dengan mur-baut yang tidak
mudah berkarat, serta berfungsi untuk menghantarkan arus listri) untuk menghindari
terjadinya loss-kontak (kehilangan kontak) yang dapat menimbulkan panas pada PHB.
Rel tembaga dalam PHB diperlukan pelapisan anti karat, terutama pemakaian arus di
atas 1000 A. Demikian pula untuk rel yang menggunakan dua jenis logan harus
menggunakan konektor bi-metal (dua logam) dengan tujuan menghindari los-kontak.
Ruang tempat PHB dipasang harus kering, leluasa, dan tidak mengganggu
aktivitas pekerjaan lain, apalagi di tempat yang mudah terbakar.
Secara umum PHB dapat dirinci terdiri dari beberapat komponen penting:
a) Box panel
b) Komponen pengaman beban lebih
c) Komponen hubung singkat
d) Komponen pemutus (saklar)
e) Komponen indikator / instrumen
f) Komponen kendali / kontrol automatis

14
g) Komponen pengawatan (wiring material)
Dalam sistem pemasangan instalasi listrik perlengkapan PHB sangat penting
fungsinya dalam mengamankan instalasi dari bahaya akibat short circuit (hubung-
pendek listrik) dan juga berfungsi memutuskan rangkaian seluruh listrik yang menuju
ke beban.
Dalam PHB paling tidak ada sekering dan biasanya dipasang untuk rumah-
rumah yang dayanya 250 VA s/d 450 VA.

2) Komponen Perlengkapan Hubungan Bagi


PHB paling sederhana dilengkapi dengan satu sekering dan satu saklar
menurut PUIL dengan gambarrangkainsebagai berikut:

Gambar1.2.Satu Garis PHB Satu Phasa


Keterangan:
1 = sekering; 2 = saklar; 3 = kotak PHB; 4 = arde (ground)

Gambar 1.3. Gambar1.4.


Bentuk fisik dari sekeringdiazed Bentuk fisik dari NH-fuse/HRC-fuse

Dewasa ini PHB sudah banyak yang menggunakan peralatan listrik MCB dengan
pertimbangan lebih praktis dibanding menggunakan sekering. Gambar rangkaiannya
adalah sebagai berikut:

Gambar1.5. DiagramSatu Garis PHB Satu Phasa Tiga Group

15
= MCB satu phasa

Menurut PUIL 2000, rangkaian PHB sistem tiga phasa paling tidak harus
memenuhi ketentuan sebagai berikut:

Gambar1.6. Rangkaian PHB Sistem 3 Phasa Lengkap Saklar dan Sekering

1 = Sekering / fuse; 2 = sakelar ; 3 = rel penghubung / wiring montage ; 4 = ground /


pentanahan, 5 = box panel

Gambar1.7. Bentuk fisik dari MCB Gambar1.8. Bentuk fisik dari MCCB
(Miniature Circuit Breaker) (Moulded Case Circuit Breaker); ACB

Susunan PHB tidak mutlak seperti yang tertera dalam PUIL, akan tetapi pada
prinsipnya sama. Sejak ditemukan peralatan pengaman beban lebih seperti MCB
(Miniatur Cisrcuit Breaker), MCCB (Moulded Case Circuit Breaker), NFB (No Fuse
Breaker)kecendrungan dimanfaatkan peralatan ini sebagai pengganti sekering dan
saklar semakin banyak. Harus diingat bahwa peralatan pengaman beban lebih pada
prinsipnya untuk mengamankan rangkaian bila terjadi kelebihan beban, akan tetapi
bila terjadi hubung pendek (konsleting) alat ini tidak menjamin dapat bekerja dengan
baik.

16
Menurut PUIL, apabila beban total yang terpasang pada sub-sub panel lebih
besar atau sama dengan 100 A, maka di dalam panel utama (MDP) di sisi rangkaian
keluaran (out-put) harus dipasang pengaman hubung singkat (sekering).

PHB terdiri dari:


a. Box Panel:
Peralatan listrik PHB harus ditempatkan/dilindungi dengan baik dengan menggunakan
Panel Box.Bahan dari panel box digunakan pelat besi/baja dengan ketebalan pelat
lebih kurang 2 mm. Hal ini bertujuan agar peralatan listrik dapat terpasang dengan
baik dan aman.

Gambar.1.9. Box Panel PHB

Ukuran panel box PHB disesuaikan dengan peralatan listrik yang akan
dirangkai. Ukuran panel box tidak baku, akan tetapi umumnya tinggi panel dari lantai
lebih kurang 2m, dengan tujuan agar dapat dioperasikan dengan mudah. Penempatan
panel box bebas dari bahan yang mudah terbakar, dan tidak di daerah yang lembab
agar peralatan tidak mudah berkarat sehingga mengakibatkan terjadi lost contact
(kehilangan kontak) rangkaian dalam panel.
Box panel yang baik dilengkapi dengan lampu indikator, alat ukur volt meter,
ampere meter. Pada bagian luar panel diberi tanda/simbul rangkaian dalam panel agar

17
mudah dioperasikan. Selain model panel box seperti pada gambar di atas yang terbuat
dari pelat ada juga panel box yang dibuat dari besi cor (tuang) dan sering disebut
panel kastenbaterai. Model panel ini sekarang jarang digunakan lagi, selain
memerlukan tempat yang besar juga kurang praktis, tidak dilengkapi tempat
pemasangan peralatan pengaman beban lebih.

b. Jenis Pengaman Rangkaian


Dalam pemasangan instalasi listrik dikenal ada dua jenis pengaman rangkaian
yaitu: a. Pengaman hubung singkat (sekering), dan b Pengaman beban lebih (MCCB/
MCB/NFB). Pengaman ini pada prinsipnya mengamankan rangkaian dan beban bila
terjadi kelebihan beban. Akan tetapi bila terjadi hubung singkat dengan anggapan
bahwa saat terjadi hubung singkat resistansi dari penghantar yang terhubung singkat
sangat kecil, maka sesuai dengan hukum Ohm yaitu I = V/R, maka arus akan
mengalir sangat besar, dengan demikian bila pengaman beban lebih yang dipasang
maka tidak yakin peralatan ini putus, akan tetapi besar kemungkinan kontak pada
peralatan pengaman beban lebih akan tersambung sehingga rangkaian menjadi tidak
teramankan. Kondisi seperti ini mengakibatkan sangat berbahaya pada instalasi
bahkan dapat mengakibatkan kebakaran. Untuk itu bila saat terjadi hubung pendek
bila sistem instalasi diamankan dengan sekering sudah pasti kawat lebur sekeringakan
putus, sehingga rangkaian instalasi menjadi aman. Untuk itu pengamansekering lebih
tepat disebut pengaman hubung singkat/pendek sedangkan MCB/MCCB lebih tepat
disebut pengaman beban lebih.
Maka dari itu dalam sistem instalasi listrik sebaiknya arus listrik sebelum
masuk ke dalam sistem terlebih dahulu harus diamankan dengan sekering.Untuk
pengamanan ke masing-masing cabang dapat digunakan MCB/MCCB.
Pemakaian pengaman MCB/MCCB/NFB lebih praktis karena dapat diriset
kembali bila terjadi kelebihan beban atau gangguan lainnya, berbeda dengan sekering
yaitu harus diganti dengan yang baru.

c. Menghitung KapasitasPengaman
Pemasangan pengaman dalam PHB kapasitas amperenya harus sesuai dengan
kebutuhan/keperluan peralatan yang akan diamankan. Peralatan berupa mesin-mesin
listrik akan memerlukan arus yang besar karena selain memiliki sifat arus induktif
juga memerlukan torsi mula yang besar sewaktu mesin mulai berputar. Dengan
18
demikian arus start untuk mesin listrik biasanya memerlukan tiga kali dari arus
nominal mesin (3x In).
Untuk beban berupa lampu-lampu pijar, dan pemanas yang mana alat ini
merupakan beban bersifat resistif ,sehingga arus yang mengalir dalam beban menjadi
sephasa dengan tegangan.Dengan demikian daya yang tersedia menjadi
optimal.Untuk menghitung kapasitas pengaman dapat dilakukan dengan persamaan
sebagai berikut:
a). Untuk sumber listrik arus searah:
Daya listrik: P = I x V [W]
b). Untuk sumber listrik arus bolak-balik (AC):
Daya listrik : P = I x Vf x cos[W] (sistem satu phasa)
Daya listrik : P = I x VL x cos x 3 [W] (sistem tiga phasa)
Vf= TeganganPhasa - Netral (Nol), VL = Tegangan Phasa-phasa
Bila tegangan phasa-netral, Vf adalah 220 V maka
tegangan phasa-phasa, VL adalah 380 V.
Secara diagram rangkaian listrik dapat dilukiskan sebagai berikut:

Gambar 1.10. Rangkaian Sistim Tiga Phasa.

Dari persamaan daya di atas dapat dihitung arus nominal (In) beban.
Untuk menghitung besarnya kapasitas arus pengaman IP = In x k
k = 1,1 s/d 2,5 (untuk pengaman beban lebih); k = 1,1 s/d 4 (untuk pengaman
hubung singkat).Dalam perhitungan konstanta, kdapat digunakan harga maksimum
apabila dalam menghitung arus listrik beban (beban yang bersifat induktif) tidak
diketahui secara pasti faktor dayanya. Apabila sudah diketahui faktor daya beban
secara pasti harga k digunakan yang lebih kecil.Berikut ini diberikan daftar kapasitas
“NH Fuse”- SIBA Germany:

19
Tabel 1.1. HRC/NH Fuses
NH Fuse Bases
Grosse (Size) 00 0 1 2 3 4
(125 A) (250 A) (400 A) (630 A) (1000 A) (1600 A)
6A 36 A 50 A 250 A 425 A 630 A
10 A 50 A 63 A 300 A 500 A 800 A
16 A 63 A 80 A 355 A 630 A 1000 A
20 A 80 A 100 A 400 A 1250 A
Fuse Cartridges 25 A 100 A 125 A 1500 A
36 A 125 A 160 A 1600 A
50 A 160 A 200 A
63 A 100A 224 A
80 A 125A 250 A

Keterangan:
Grosse (Size) = Kode Ukuran DudukanSekering (Fuse)
Fuse Cartridges = Patron Lebur
NH (NiedeHochlestup) atau HRC (High Rupturing Capacity)

Untuk sekering biasa patron lebur (Diazed fuse) dengan bases (dudukan)
mempunyai dratulir menurut ketentuan kapasitas arus yang diamankan memiliki
warna kode pada ujung patron adalah sbb:
2A :merah muda 20 A : biru
4A : coklat 25 A : kuning
6A : hujau 35 A : hitam
10 A : merah 50 A : putih
16 A : kelabu 65 : warna tembaga

1.2.1.3. Penghantar Listrik

Dalam pemasangan instalasi listrik umumnya digunakan penghantar dari


bahan tembaga (Cu) atau Aluminium. Kemurnian bahan baik dari tembaga maupun
aluminium sekurang-kurangnya 99,9%. Tahanan jenis tembaga lunak untuk
penghantar listrik telah dibakukan secara Internasional tidak boleh melebihi 1/58 atau
0,017241 ohm mm2/m pada temperture 20o C. Dalam kata lain daya hantar jenis dari
bahan tembaga sama dengan 58 siemens =100% IACS (International Annealed
copper standard).
Daya hantar jenis tembaga sangat dipengaruhi oleh kemurnian dari tembaga.
Tembaga lunak yang bercampur besi 0,02% saja akan memperbesar tahanan jenis
lebih kurang 10%. Tembaga yang terlalu lunak akan berpengaruh terhadap daya tarik
dari konduktor, bahkan strukturnya akan berubah sehingga penghantar lekas putus.
Tembaga lunak dengan daya hantar jenis 100% IACS, memiliki kuat tarik 195 - 245

20
N/mm2. Sedangkan daya hantar tembaga keras dengan kuat tarik 390 - 440 N/mm2
daya hantar jenisnya kurang lebih 97% IACS (P. Van. Harten, 1981:111)
Koefisiensuhu tembaga pada temperatur 200C, kurang lebih 0,004 per derajat
celcius. Jadi apabila kenaikan suhu 100C akan menyebabkan kenaikan tahanan
jenisnya kira-kira 10 x 0,004 = 0,04 atau 4%.
Selain penghantar dari tembaga, juga digunakan penghantar dari aluminium.
Kemurnian dari aluminium untuk bahan penghantar sekurang-kurangnya 99,5%.
Aluminium dengan kemurnian 99,5% atau dapat dikatakan aluminium lunak tahanan
jenisnya secara baku tidak boleh melebihi 0,028264 ohm mm2/m pada suhu 20oC.
atau sama dengan kemampuan hantar jenis aluminium sekurang-kurangnya 61%
IACS.Penghantar aluminium lunak memiliki kuat tarik 60 - 70 N/mm2. Sedang
aluminium keras dengan kekuatan tarik 150 - 195 N/mm2 hanya kira-kira 1% lebih
rendah daripada daya hantar aluminium lunak.Koefisiensuhu aluminium pada 200C
kira-kira 0,004 per derajat celcius, yaitu sama dengan tembaga.
Memperhatikan penghantar tembaga dan aluminium di atas, yaitu daya hantar
aluminium hanya 61% IACS, maka untuk bahan dengan tahanan yang sama
diperlukan luas penampang aluminium: (100/61) x luas penampang tembaga atau
1,64 x luas penampang tembaga.Namun demikian berat penghantar aluminium dan
tembaga pada suhu200C dengan perbandingan masing-masing 2,7 dan 8,9. Untuk itu
berat penghantar aluminium dengan tahanan terhadap tembaga adalah: 1,64 x
(27/89) x 100 % = 50% dari berat tembaga.Untuk itu konstruksi jaringan dengan
menggunakan penghantar tembaga tentu harus lebih kokoh dan pada gilirannya
akanmenaikan nilai biaya. Namun bila diperhatikan diameter aluminium lebih besar
28% dari tembaga akan diperlukan isolasi yang lebih besar dibanding isolasi untuk
penghantar tembaga. Selain itu dalam sistem penyambungan dengan konduktor
aluminium lebih sukar dibanding dengan tembaga.
Dari pertimbangan di atas, bahwa untuk hantaran saluran udara lebih
menguntungkan menggunakan konduktor aluminium dibanding tembaga karena
pertimbangan berat dan tidak diperlukan isolasi kabel sehingga pada gilirannya biaya
konstruksi jaringan akan lebih murah.

1) Bahan Isolasi Kabel


Bahan isolasi yang digunakan dalam konduktor/penghantar adalah bahan
Polivinilclorida (PVC). Bahan ini hasil dari polimerisasi dari vinilklorida H2C =

21
CHCL atau disebut PVC. Agar bahan PVC ini fleksibel maka dicampur dengan bahan
pelunak (plasticiser).Isolasi konduktor dengan PVC tahan terhadap suhu sampai 700C
secara terus menerus.Ada bahan PVC yang khusus untuk isolasi kabel dengan
ketahanansuhu sampai 1050C.

2) Kabel Instalasi Listrik


Dalam pemasangan instalasi listrik ada beberapa kebel yang sering digunakan
yaitu: Kabel NGA, NYA, NYM, NAYA, NYY, NYFGbY, dan NYRGbY. Untuk
kabel instalasi yang dipasang ditempat yang aman dan dalam dinding atau inbow
adalah kabel NGA, NYA, NAYA, sedangkan kabel yang ditanam dalam tanah adalah
jenis kabel NYY, NYFGbY, dan NYRGbY. Adapun arti dari masing notasi hurup di
atas adalah sebagai berikut:
N : Kabel jenis stardard dengan NA
: Kabel jenis standard dengan
penghantar Cu (tembaga) penghantar aluminium
Y : Isolasi PVC F : Perisai kawat baja pipih
R : Perisai baja bulat Gb : Spiral pita baja
re : Penghantar padat bulat rm. : Penghantar bulat kawat banyak
se : Penghantar padat bentuk sektor sm : Penghantar banyak bentuk sektor
J : Kabel dengan sistem pengenal 0 : Kabel dengan sistem pengenal
warna urat hijau – kuning warna tanpa hijau-kuning
0,6kV : Tegangan Nominal thd. Tanah 1 kV : Tegangan Nominal antar
penghantar
A : Selubung perlindungan luar SE : Pelindung listrik dari pita tembaga
(jute) yang menyelubungi masing-masing
inti, Contoh: N2XSEY
S : Perisai dari tembaga, pelindung 2X : Selubung isolasi dari XLPE
listrik dari pita tembaga yang (crossed linked polyethylene)
dibalutkan pada semua inti kabel
bersama-sama, contoh: N2XSY
(inti tembaga); NA2XSY (inti
aluminium)
2Y : Selubung isolasi dari G : Isolasi bahan karet
polyethylene

Untuk listrik sistem tiga fasa kode warna masing-masing fasa R, S, T, N yaitu
merah, kuning, hitam, dan biru. Ada juga dengan simbolR: warna hitam, S: warna
kuning, T: warna hitam dan N: warna biru. Namun dalam sistem satu fasa, yaitu
kawat fasa adalah hitam, N atau netral: warna merah, dan groundadalah warna
kuning-hijau.Kabel dengan isolasi PVC warna putih tegangan nominalnya 500 kV,
PVC warna hitam 0,6 kV s/d 1 kV, sedangkan kemampuan di atas 1 kV menggunakan
warna merah.

22
Contoh:
Suatu kabel dengan kode: NAYFGbY 4 x 185 sm 0,6 / 1KV.
Artinya kabel tersebut menggunakan penghantar jenis aluminium kawat banyak
bentuk sektor, berisolasi PVC, dengan perisai kawat baja pipih dan spiral pita baja,
jumlah uratnya empat, luas penampang setiap urat masing-masing 185 mm2, tegangan
kerja nominal 0,6 terhadap tanah, dan tegangan kerja 1 kV antar penghantar.
Isolasi pada kabel memiliki kemampuan menahan panas akibat adanya arus
yang mengalir.Semakin besar arus yang mengalir pada konduktor kabel semakin
panas konduktor. Isolasi pada kabel harus tahun terhadap panas yang ditimbulkan dari
kawan penghantar, untuk itu bahan kabel dapat dibagi atas beberapa kelas
berdasarkan suhu kerja maksimum. Klasifikasi bahan isolasi menurut IEC adalah
seperti ditunjukkan pada tabel dibawah ini.
Tabel1.2. Pembagian Kelas Bahan Isolasi

Suhu Kerja Suhu Kerja


No Kelas No Kelas
Maksimum (°C) Maksimum (°C)

1 Y 90 5 F 155

2 A 105 6 H 180

3 E 120 7 C >180
4 B 130

Penjelasan:
1. Kelas Y
Yang dapat digolongkan dalam kelas Y adalah: katun, sutera alam wol sintetis, rayon,
serat poliamid, kertas, prespan, kayu, poliakrit, polietilin, polivinil, karet
2. Kelas A
Yang dapat digolongkan dalam kelas A adalah: bahan berserat dari kelas Y yang telah
dicelup dalam vernis, aspal, minyak trafo, email yang dicampur vernis dan poliamid.
3. Kelas E
Yang dapat digolongkan dalam kelas E adalah: penyekat kawat email yang memakai
bahan pengikat polivinil formal, poli urethan dan damar epoksi dan bahan pengikat
lain semacam itu dengan bahan pengisi selulose, pertinaks dan tekstolit, film triasetat,
filem serat polietilin tereftalat.

23
4. Kelas B
Yang dapat digolongkan dalam kelas B adalah: bahan nonorganik (mika, gelas, fiber,
asbes) dicelup atau direkat menjadi satu dengan pernis atau konpon, bitumen, sirlak,
bakelit dan sebagainya.
5. Kelas F
Yang dapat digolongkan dalam kelas F adalah: bahan bukan organik dicelup dan
direkat menjadi satu dengan epoksi, poliurethan, atau vernis yang tahan panas tinggi.
6. Kelas H
Yang dapat digolongkan dalam kelas H adalah: semua bahan komposisi dengan bahan
dasar mika, asbes dan gelas fiber yang dicelup dalam silikon tanpa campuran bahan
berserat (kertas, katun, dan sebagainya). Dalam kelas ini termasuk juga karet silikon
dan email kawat poliamid murni.
7. Kelas C
Yang dapat digolongkan dalam kelas C adalah: bahan non-organik yang tidak dicelup
dan tidak diikat dengan subtansi organik, misalnya mika, mikanit yang tahan panas
(menggunakan bahan pengikat an-organik), mikaleks, gelas, dan bahan keramik.
Hanya satu bahan organik saja yang termasuk kelas C yaitu polietra flouroetilin
(teflon).

3) Rugi Daya pada Penghantar


Besarnya rugi daya listrik Ppada penghantar ditentukan dari besarnya
resistansi (hambatan) Ryang ada pada konduktor (penghantar listrik), dan arus listrik
I yang mengalir pada penghantar tersebut. Persamaan rugi daya ditulis berikut ini:
𝑃 = 𝐼 2 . 𝑅 𝑤𝑎𝑡𝑡
Besarnya Iditentukan dari besarnya beban listrik yang dipasang pada instalasi
tersebut. Menghitung besarnya I dihitung dengan persamaan:
𝑃
I=
√3𝑉𝐿 cos 𝜑

Keterangan:
𝑃 = 𝑑𝑎𝑦𝑎 𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛 (𝑤𝑎𝑡𝑡)
𝑉𝐿 = 𝑡𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑗𝑎𝑙𝑎 − 𝑗𝑎𝑙𝑎 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑝ℎ𝑎𝑠𝑎 (𝑣𝑜𝑙𝑡)
𝐶𝑜𝑠 𝜑 = 𝑓𝑎𝑐𝑡𝑜𝑟 𝑑𝑎𝑦𝑎 𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛

24
4) Resistansi (R)
Dalam menyalurkan/mendistribusikan daya listrik dari pusat-pusat pembangkit
atau PHB (panel hubung bagi) sudah tentu menggunakan penghantar berupa
konduktor tembaga, aluminium dan lain sebagainya. Seperti kita ketahui arus listrik
yang mengalir dalam konduktor mengalami hambatan (R) yang
menyebakanterhambatnya arus listrik adalah karena adanya konduktor mempunyai
konstanta hambatan jenis (), yang sering disebut rho. Besarnya hambatan/resistansi
(R) pada konduktor tergantung pada faktor:
a) panjang konduktor
b) berbanding terbalik dengan luas penampang (A) konduktor
c) bergantung dari pada kemurnian bahan dan tahanan jenis () bahan
d) bergantung pada temperatur konduktor (t)
Bila untuk sementara diabaikan pada butir d) di atas, maka R dapat dibuat persamaan
R  / A Ohm atau R =  / A Ohm.
Dengan demikian dapat ditulis persamaan
 = A. R/

Bila : A = 1m2
= 1 m
R = 1 Ohm
Maka:  = A . R /  Ohm-meter
kebalikan dari  adalah  (konduktifitas),
jadi  = 1/ 
 untuk tembaga pada suhu 20oC adalah 1,75 x 10-8 Ohm-meter
 untuk aluminium pada suhu 20oC adalah 2,8 x10-8 Ohm-meter

Kenaikan nilai tempertur/suhu mengakibatkan:


a) bertambahnya nilai dari resistansi dari pada logam (konduktor)
b) menurunya nilai resistansi dari elektrolit, isolator (mika, kertas, karet, glass dlsb)

Suatu konduktor mempunyai nilai resistansi R0 pada temperatur 00C dan dipanasi
sampai t0C, maka nilai resistansi konduktor menjadi Rt. Jadi kenaikan
resistansisebesar R = Rt - R0., dapat pula ditulis seperti persamaan di bawah.

Rt - R0R0 .t atauRt - R0 =  R0 . t
R = Rt - R0 = R0 .t

25
= sebanding

= koefisien suhu dari suatu resistansi


dari persamaan di atas :
𝑅𝑡 − 𝑅0 ∆𝑅
∝= =
𝑅0 . 𝑡 𝑅𝑜.𝑡
Jika : R0 = 1 ; t = 10C
maka :R = Rt - R0
Rt= R + R0
atau
R = R0 t
Jadi:

Rt= R 0 +  R0 t
Rt= R0(1+  t)
Rt / R0= (1+  t)

Dari persamaan di atas dapat diketahui harga resistansi sesuai dengan perubahan
temperatur. Gambar di bawah untuk mencari harga koefisien-temperaturlogam
tembaga

Gambar 1.11. Hubungan Resistansi dan Perubahan Suhu.

Memperhatikan gambar di atas harga resistansi mengalami perubahan harga


pada titik A. Dari titik itu bila ditarik garis lurus dan memotong sumbu datar pada
temperature -234,50C.Jadi berdasarkan gambar di atas dapat dibuat persamaan :
𝑡 + 234,5 𝑡
𝑅𝑡 ⁄𝑅𝑜 = = (1 + )
234,5 234,5
Melalui persamaan ini:
Rt / R0= (1+ t)
maka :

26
Koefisien temperatur tembaga () = 1/ 234,5

5). Perhitungan Luas Penampang Konduktor (A)

Gambar 1.12. One Line Sirkit Suplai ke Motor Listrik

Dimana:
VS : tegangan pengiriman
VR : tegangan penerima
ΔV : rugi tegangan sepanjang penghantar
I : arus yang mengalir dalam konduktor
A : luas penampang konduktor
: hambatan (tahanan) jenis konduktor

Bila beban motor listrik dihubungkan pada ujung penerima saluran seperti
gambar di atas, maka arus listrik I mengalir dalam penghantar (konduktor). Seperti
diketahui penghantar memiliki hamabatan (R) maka akan terjadi :
rugi tegangan: ΔV = I R. .............................................1)
R =  / A ……….. ..............................2)
Bila pers (2) disubstitusikan pada pers (1) maka :
ΔV = I . / A
A = 2 I  / ΔV mm2 .........................................3)
Angka 2 adalah karena saluran terdiri dari dua saluran positip dan negatip atau phasa
dan neutral (nol). Menghitung luas penampang dapat pula dihitung melalui rugi daya
pada penghantar:
I = Pbeban/ ( 3 x Vl x cos φ )
R = ./A
ΔV3phasa = 3 ΔVphasa = 3 xIxR
ΔV3phasa = 3 x (./A)
ΔV3phasa = 3 x (./A) x I
A = 3 x I (./ ΔV3phasa)

27
A = 3 .I/ ΔV3phasa mm2

Suatu distribusi beban seperti pada gambar di bawah.

Gambar 1.13. One Line Diagram Penghantar Beban Bercabang


Keterangan:
MDP: Main Distribution Panel (Panel Distribusi Utama)
SDP : Sub Distribution Panel (Panel Distribusi Sub/Bagian)

Memperhatikan gambar di atas dapat diturunkan persamaan untuk menentukan


luas penampang konduktor:
√3. 𝜌. 𝑙. 𝐼
𝐴= 𝑚𝑚2
∆𝑉

Untuk sistem jaringan tiga fasa seperti gambar di atas:


√3. 𝜌. ∑ 𝑙 . 𝐼
𝐴= 𝑚𝑚2
∆𝑉
√3. 𝜌 (𝑙1 . 𝐼1 + 𝑙2 . 𝐼2 + 𝑙3 . 𝐼3 )
𝐴= 𝑚𝑚2
∆𝑉
Dari persamaan ini dapat dihitung keperluan penampang konduktor yang diperlukan.
Sistem jaringan model loop seperti gambar di bawah biasanya digunakan
dalam sistem jaringan galangan kapal. Hal itu untuk meningkatkan keandalan suatu
sistem dari gangguan.Bila dari salah satu sisi saluran terganggu maka dapat disuplai
dari sisi lainnya.Model ini digunakan untuk mensuplai PHB-PHB yang ada dalam
suatu galangan, atau gedung yang tidak boleh terjadi pemutusan daya dalam waktu
lama.
Contoh dalam menentukan luas penampang konduktor untuk jaringan instalasi
menggunakan sistem loop dapat dilihat di bawah.
faktor daya beban 0,6 A 220/380 V

28
Gambar 1.14. One Line Jaringan Instalasi Menggunakan Sistem Loop

Untuk menghitung keperluan penampang konduktor yang harus dipasang


dapat digunakan langkah sbb:
Mula-mula saluran loop di atas dibuka di titik A.

Gambar 1.15. One Line Jaringan Instalasi Sistem Loop Disuplai dari Dua Sisi

𝑃 15840
𝐼1 = = = 40 𝐴
√3. 𝑉. 𝑐𝑜𝑠𝜑 1,732𝑥380𝑥0,6

Dengan cara yang sama kita dapat menghitung I2, I3, yaitu:
I2 = 80 A
I3 = 120 A
Arus di A’ (Ia’) dan arus di A’’ (Ia’’) sedapat mungkin harus sama. Jumlah arus ini
harus sama dengan I1 + I2 + I3 = 240 A. Jumlah momen arus terhadap A’ dan terhadap
A’’ harus juga sama.Momen-momen arus terhadap A’ menghasilkan:
120 x 40 + 160 x 80 + 190 x 120 = 340 Ia’’

29
Jadi:

Ia” = 40400/340 = 119 A


Ia’ = 240 - Ia” = 240 - 119 = 121 A.

Gambar 1.16. Pembagian Arus

Jadi besarnya arus yang mengalir dari A” adalah sebesar 119 A, dan jika
memilih penampang konduktor melalui tabel yang ada pada PUIL, maka dapat
menggunakan kabel jenis NYFGbY 4 x 35 mm2.
Apabila kita menggunakan perhitungan dengan menggunakan besarnya rugi
tengangan pada saluran V (Vdrop), yang mana menurut PUIL besarnya kerugian
tegangan harus lebih kecil dari 5% dari tegangan saluran, maka luas penampang
berdasarkan rugi tegangan:
1,732. 𝜌. 𝑙. 𝐼. 𝑐𝑜𝑠𝜑
𝐴=
𝑉𝑑𝑟𝑜𝑝
Cos: dalam konteks ini cos = 1

1,732𝑥0,0173𝑥150𝑥119𝑥1
𝐴= = 28,11 𝑚𝑚2
5%𝑥380

Kemampuan hantar arus (KHA) penghantar dapat ditentukan dengan ketentuan


luaspenampang dari hasil perhitungan dikali dengan faktor koreksi 1,1 ( A x 1,1).
Dengan demikian KHA menjadi 28,11 mm2x1,1 = 30,9 mm2. Jadi konduktor yang
digunakan harus lebih besar dari 30,9 mm2, maka dapat menggunakan penampang 35
mm2 (NYFGbY 4 x 35 mm2).
Tabel di bawah ini menjelaskan kemampuan hantar arus konduktor tembaga
dan aluminium adalah sbb:

30
Tabel 1.3. KHA terus menerus yang diperbolehkan dan proteksi untuk kabel instalasi berinti
tunggal berisolasi PVC pada suhu keliling 30oC dan suhu penghantar maksimum
70oC

31
Tabel1.4. KHA terus menerus untuk kabel tanah berinti tunggal, berpenghantar tembaga,
berisolasi dan berselubung PVC, dipasang pada system a.s. dengan tegangan kerja
maksimum 1,8 kV; serta untuk kabel tanah berinti dua, tiga dan empat
berpenghantar tembaga, berisolasi dan berselubung PVC yang dipasang pada
system a.b. fase tiga dengan tegangan pengenal 0,6/1 kV (1,2 kV) pada suhu
keliling 30oC.

Sumber PUIL 2000:301, 304

32
Tabel1.5. KHA terus menerus untuk kabel tanah berinti tunggal, berpenghantar aluminium,
berisolasi dan berselubung PVC, dipasang pada system arus searah dengan
tegangan kerja maksimum 1,8 kV; serta untuk kabel tanah berinti dua, tiga dan
empat berpenghantar aluminium, berisolasi dan berselubung PVC yang dipasang
pada system a.b. fase tiga dengan tegangan pengenal 0,6/1 kV (1,2 kV) pada suhu
keliling 30oC.

Sumber PUIL 2000:305

1.2.2. Perbaikan Faktor Daya

Pengertian faktor dayadalamsistim tenaga listrik adalah adanya perbedaan


sudut fasa antara tegangan dan arus listrik dalam jala-jala yang diakibatkan oleh sifat
dari beban. Seperti dijelaskan terdahulu, ada beban yang bersifatresistif, induktif, dan
kapasitif. Beban-beban yang bersifat resistif seperti alat-alat pemanas, lampu pijar,
strika listrik dan sejenisnya.Beban-beban yang bersifatinduktif, contohnya mesin-
mesin listrik induksi, transformator, dan lain-lain. Sedangkan beban yang
bersifatkapasitif contohnya kondensator.

33
Faktor daya (cos) rendah pada prinsipnya dapat mengakibatkan arus beban
akan bertambah besar, sehingga dampaknya adalah efisiensi daya yang termanfaatkan
menjadi rendah, selain itu pula harus digunakan penampang konduktor yang lebih
besar, tentu akan berdampak pada biaya yang lebih mahal. Meningkatkan faktor daya
(cos) beban listrik yang bersifat induktif yaitu dengan memasang kondensator pada
beban secara paralel, atau dapat pula dipasang pada panel hubung bagi (PHB) secara
terpusat.
Penyambungankapasitor dengan jala-jala dapat digunakan kontaktor atau
sakelarpemutus daya. Tujuannya untuk menghindari percikan bunga api suatu
dilakukan pengoperasian. Kemampuan dari saklar tersebut disesuaikan dengan arus
yang mengalir dalam kapasitor. Resistor dipasang pada terminal kapasitor seperti
pada gambar adalah untuk melepaskan (membuang) muatan listrik sewaktu kapasitor
dilepas dari sistim jaringan atau beban.

Gambar 1.17. Pemasangan Kapasitor Sistim Tiga Fasa.

Pemasangan kapasitor dalam hubungan delta ataupun bintang disesuaikan


dengan sistim tegangan jala-jala dan rating tegangan kapasitor yang akan dipasang.
Misalkan tegangan jala-jala adalah 380 V, sedangkan rating masing-masing tegangan
kapasitor adalah adalah 380 V juga, maka sistim pemasangan dapat dilakukan
hubungan delta. Akan tetapi bila rating masing-masing tegangan kapasitor adalah 220
V, maka dilakukan sistim hubungan bintang sepeti pada gambar sebelah
kanan.Pemasangan kapasitor untuk perbaikan faktor daya lampu TL (tube luminessen)
dipasang secara paralel dengan lampu TL, seperti pada gambar di bawah.

34
Gambar 1.18. Rangkaian Lampu TL dengan Kapasitor

Satuan kapasitor untuk lampu TL yang ada dipasaran adalah: 3,25 F; 4,5 F.
Sedangkan kapasitor sistem 3 fasa untuk pemasangan di industri umumnya, 1 kVAR;
5 kVAR; 10 kVAR; 20 kVAR; 40kVAR.Menentukan kapasitaskapasitor dan daya
kapasitor yang dipasang untuk perbaikan faktor daya beban dapat dilakukan sbb:
Beban yang bersifatinduktif mengakibatkan arus terbelakang terhadap tegangan.
Akibat dari arus yang terbelakang maka daya semu (S) akan semakin besar, sehingga
bila digambarkan dalam bentuk segitiga daya adalah:

Gambar 1.19. Vektor Perbaikan Faktor Daya


Untuk memperkecil daya semu S menjadi S1seperti pada gambar di atas diperlukan
daya buta Q2 yang dihasilkan kapasitor. Persamaan matematisnyaadalah:

Q2 = Q - Q1
Q = S sin.  …….......................... (1)
Q1 = S1 sin. 1 ..................................(2)
Sedangkan S = P / cos ...................................(3)
S1 = P / cos1 ...................................(4)
Substitusi (3) ke (1), dan (4) ke (2), sehingga didapat

35
Q2= P (sin  / cos) - P (sin 1 / cos1)
Dimana: sin  / cos = tan 
Q2 = P tan  - P tan 1
Q2 = P (tan - tan1) VAR .................................. (5)
Jadi dengan diperolehnya harga Q2 sebagai kapasitas daya kapasitor yang
diperlukan untuk perbaikan faktor daya, selanjutnya dapat dihitung kapasitas
kapasitor dalam F (mikro farad atau 10-6 Farad) adalah:
Harga Xc dapat dicari dengan persamaan:
Xc = V2/ Q2.
Sedangkan Xc= 1/C
= 2  f
f = 50 Hz
1
Xc =
2 F C

1 x 106
C = F atau
2 F Xc

Q2 x 106
C = F
2 f . V2

Jadi dengan mengetahui kapasitas C dalam F, selanjutnya disesuaikan dengan nilai
kapasitor yang ada di pasaran.Untuk menghitung besarnya daya buta Q tiga fasa dapat
dilakukan dengan menghitung langsung yaitu :

Qtigaphasa= 3 VL I sin  (dalam VAR)


VAR : volt amprereaktip
Apabila dihitung melalui daya buta perphasa, maka daya tiga phasa menjadi
Qtigaphasa = 3 Qsatuphasa (Pada prinsip hasilnya sama)
Sejauh ini masih ditemui kesulitan dalam pemahaman arti dari akibat faktor
daya rendah itu secara faktual. Pemakai daya listrik masih belum mengerti apa
manfaat langsung yang dapat dirasakan. Bahkan tidak jarang dikatakan bahwa dengan
memasang kapasitor dalam beban, seperti lampu TL dan lain sebagainya putaran kWh
tidak berkurang.

36
Secara cepat dapat dijawab, bahwa pemasangan kapasitor untuk perbaikan
faktor daya beban (lampu TL, motor listrik induksi, transformator, dll) bukan untuk
mengurangi putaran KWh, melainkan Si Pengguna daya listrik dapat memanfaatkan
daya listrik secara optimal. Apabila PLN menerapkansistim denda yaitu melalui alat
ukur KVARh, maka konsumen akan membayar rekening listrik jauh lebih besar. Hal
itu disebabkan konsumen (pelanggan listrik) selain membayar kWh meter, juga harus
membayar kVARh meter yang nota bene putarannya akan lebih besar dibanding kWh
meter apabila faktor daya beban rendah. Sejauh ini di Indonesia pemasangan kVARh
dan kWh meter baru diperuntukan pelanggan industri-industri, sedangkan pelanggan
listrik rumah tangga belum.
Misalkan pelanggan listrik rumah tangga dengan daya 900 W, tegangan jala-
jala adalah 220 V. Frekuensi 50 Hz.Kebetulan dirumah tangga tersebut hampir
seluruhnya menggunakan lampu TL. Pada ballast lampu TL tertulis cos nya adalah
0,35. Jadi dengan demikian daya nyata (P) yang termanfaatkan oleh pelanggan hanya:

P = 900 x 0,35 = 315 W.


Jadi daya yang hilang sebesar, P = 900 - 315 = 585 W, saja.
Apabila cos adalah 0,9 maka daya nyata termanfaatkan adalah 900 x 0,9 = 810 W.
Perhatikan gambar vektor di bawah.

Gambar 1.20. Vektor diagram perbaikan faktor daya beban

Memperhatikan gambar di atas, tampak dengan jelas bahwa makin kecil faktor
daya beban makin besar daya yang hilang. Untuk itu sebaiknya faktor daya beban
diusahakan adalah 1 (cos = 1) agar daya listrik seoptimal mungkin.

37
Dalam gambar dapat pula dilihat bahwa dengan memperbesar cos, maka Q akan
bertambah kecil dengan P bertambah besar dan S tetap. Apabilacos = 1 maka Q=0;
P=S.
Sisi lain dari rendahnya faktor daya beban adalah arus beban akan bertambah
besar. Melalui gambar di atas dapat dijelaskan perhitungannya :Untuk daya nyata P =
315 W, cos = 0,35; maka
S = 315 / 0,35 = 900 VA
maka I = S/V = 900/220 = 4,09 A
Sedangkan daya nyata P = 315, maka I menjadi
I = P/V coscos = 1
jadi, I = 315/220 = 1,43 A.
Jelas terlihat bahwa arus berkurang dari 4,09 menjadi hanya 1,43 A.

1.2.3 Pengaman Pentanahan (Grounding)


Pentanahanpengaman adalah suatu tindakan pengamanan dalam instalasi
listrik yang rangkaiannya ditanahkan dengan caramentanahkan badan peralatan yang
diamankan.Tujuan dari pentanahanpengaman yaitu untuk menghindari tegangan
sentuh pada peralatan akibat tegangan induksi dari tegangan bolak-balik atau AC. dan
akibat dari putusnya alat pengaman.
Pentanahanpengaman digunakan elektrodapentanahan yang ditanam dalam
tanah, atau dapat pula memanfaatkan pipa saluran air dari logam yang masih aktif
(berfungsi).Setiap instalasi listrik yang menggunakan tegangan lebih besar dari,  50
V instalasi tersebut harus ditanahkan, kecuali peralatan milik PLN seperti kWH
meter.Harga tanahanpetanahan (RP) tidak boleh melebihi :
RP 50 / IA Ohm
IA = k x IN
Rp. : Tahanan pentanahan instalasi listrik
IA : Arus pemutus alat pengaman arus lebih
IN : Arus nominal alat pengaman lebur atau pengaman arus lebih.
k : Faktor pengali, besarnya tergantung karakteristik alat pengaman.
Harga k diantara 2,5 s/d 5 (untuk pengaman lebur)
Harga k diantara 1,25 s/d 3,5 untuk jenis pengaman lain.

38
Jika menggunakan pengaman pipa saluran air minum harga R LK tidak boleh
lebih dari :
RLK= Ve / IA Ohm dan IA = k x IN.
RLK = Tahanan lingkar dalam Ohm.
Ve = Tegangan phasa terhadap tanah.
In = Besarnya arus pemutus alat pengaman.

Jenis-jenis ElektrodaPentanahan : pita, batang, dan pelat


1). Elektroda Pita
Alat ini dibuat dari hantaran berbentuk pita, berpenampang bulat atau
hantaranpilin, umumnya ditanam dangkal dalam tanah

Gambar 1.21.Elektrode Pita.

2). Elektroda Batang


Elektroda jenis ini dibuat dari pipa atau besi baja profil yang dipancang dalam
tanah dengan kedalaman antara 1,5 s/d 6 m

Gambar 1.22.Elektrode batang

39
3). Elektroda Pelat
Elektroda ini dibuat dari bahan pelat logam (pelat eiser ) dan ditanam tegak
lurus dalam tanah pada kedalaman 0,5 s/d 1 m. Ukuran dari elektroda ini lebih
kurang 1 m x 0,5 m.

Gambar 1.23. Elektrode Pelat.

Nilai tahanan jenis tanah sangat berbeda-beda bergantung pada jenis tanah seperti
pada tabel di bawah.
Tabel 1.6 Tahanan Jenis Tanah ()
1 2 3 4 5 6 7
JENIS TANAH TANAH TANAH LIAT & PASIR KERIKIL PASIR DAN TANAH
RAWA TANAH BASAH BASAH KERIKIL BERBATU
LADANG KERING
TANAHAN JENIS
30 100 200 500 1000 3000
(Ohm-m)
Sumber : PUIL (1987:68)

Tabel 1.7. Tahanan Pembumian Pada Tahanan Jenis 1 = 100 Ohm-meter.


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
JENIS PITA ATAU PENGHANTAR BATANG ATAU PIPA PELAT PERTIKAL
ELEK- PILIN DENGAN SISI
TROD ATAS
E
PANJANG (m) PANJANG (m) UKURAN (m2)
10 25 50 100 1 2 3 5 0,5 x 1 1x1
TAHA
NAN
PEMB 20 10 5 3 70 40 30 20 35 25
UMIA
N
(Ohm)
Sumber : PUIL (2000:67)
Keterangan:
Untuk tahanan jenis yang lain (Q), maka besar tahanan pembumian adalah
perkalian nilai di atas dengan :

40
 /1 = /100
Contoh:
Melalui tabel di atas, untuk jenis tanah yang mengandung pasir basah yang
mana tahanan jenisnya 200 Ohm-m dan memerlukan panjang elektode dari pita atau
penghantar pilin 100 m agar diperoleh tahanan pentanahan 6 Ohm.
perhitungannya adalah melalui tabel di atas:
 / 1 = 200/100 = 2
Jadi 2 x 3 = 6 Ohm.
Pengukuran resistans (tahanan) pentanahan (pembumian) dapat dilakukan
dengan cara seperti di bawah ini.

Gambar 1.24. Rangkaian pengukuran tahanan pentahanan


Sumber : PUIL (1987:78)

Harga Rp dapat dihitung : Rp = V/I


I dapat diamati melalui ampere meter
V dapat diamati melalui volt meter
Tahanan asut besarnya diantara 20 Ohm s/d 1000 Ohm
Pertama, atur tahanan asut pada posisi paling tinggi (1000 Ohm).Selanjutnya masukan
saklar S. Amati penyimpangan jarum penunjuk ampere meter dan volt meter. Harga
tahanan pentanahan (Rp) dapat dicari melalui persamaan di atas, yaitu tegangan dibagi
dengan arus yang mengalir ampere meter.Apabila sistimpembumian menggunakan
jenis elektroda pita (dalam bentuk cincin, radial atau kombinasi) jarakelektrode bantu
untuk pengukuran ditempatkan paling sedikit (minimum) 3 kali diameternya.
Cara pengukuran elektrodapentanahan dapat juga dilakukan secara langsung
dengan alat “earth meter”, adapun cara pengukurannya sebagai berikut:

41
Gambar1.25. Rangkaian / instalasi percobaan

Ketentuan penghantar pengaman (proteksi) yang diizinkan menurut PUIL 2000


S : luas penghantar Phasa
Sp : luas penampang proteksi
Sp = S bila lebih kecil dari 16 sqmm
Sp = 16 sqmm bila S = 26 sqmm dan S adalah lebih kecil dari sama dengan 35 sqmm
Sp = 0,5 S bila S lebih besar dari 35 sqmm

1.2.4. Perancangan Instalasi Listrik


Dalam perancangan instalasi listrik bangunan dan/atau bangunan gedung tentu
diawali dari intensitas penerangan yang dibutuhkan dari suatu ruangan untuk
mendapatkan penerangan yang sehat, nyaman dan menyenangkan. Intesitas
penerangan yang dibutuhkan tsb disesuaikan dengan fungsi dari masing-masing ruang
yang akan diberi penerangan. Dengan diketahui intensitas penerangan dalam satuan
lux kemudian dapat dihitung jumlah titik lampu yang akan dipasang.
Instalasi listrik domestik dan/atau bangunan gedung selain dipasang intalasi
penerangan juga dirancang untuk instalasi tenaga seperti KKB, KKK untuk AC, PHB
untuk Eskalator, Lift dll.

1.2.4.1. Perhitungan Intensitas Penerangan (Illuminous Intensity)


Dalam sistem penerangan, yang diharapkan adalah besarnya intensitas
penerangan yang sampai pada bidang kerja, karena pada bidang kerja orang
melakukan aktivitas kerja secara rutin (terus menerus).Umumnya bidang kerja
(berupa meja kerja) tingginya dari lantai lebih kurang 80 cm. Bidang kerja ini
mendapatkan intensitas penerangan E, dalam lux.Besarnya, E = Φ/A (lm/m2 atau
lux)

42
Seperti diketahui, fluks cahaya yang dipancarkan sumber cahaya/lampu tidak
semuanya mencapai bidang kerja.Sebagian dari fluks cahaya itu dipancarkan ke
dinding dan langit-langit, dan juga diserap oleh bidang kerja. Untuk itu, menentukan
fluks cahaya yang diperlukan harus juga diperhitungkan efisiensi atau rendemen, 
dari fluks cahaya yang sampau pada bidang kerja.
 = Φg / Φo
Φo = Fluks cahaya yang dipancarkan oleh semua sumber cahaya yang ada
dalam ruangan
Φg :Fluks cahaya berguna yang mencapai bidang kerja
Faktor-faktor lain yang juga diperhitunngkan dalam menentukan sistem
penerangan antara lain: efisiensi penerangan, efisensi armature, indek ruangan atau
indeks bentuk (k ) Lebih jelas akan diuraikan sebagai berikut:
1) Efisiensi Penerangan
 = Φg / Φo dan
Φg = E x A lumen
Persamaan fluks cahaya :
ExA
Φo = lumen

dengan mempertimbangkan faktor defresi (pengotoran) lampu d, maka jumlah
armature n, dapat dihitung dengan persamaan :
Ex A
n =
Φlampu xx d
dimana:
A : luas bidang kerja dalam m2
E: intensitas penerangan yang diperlukan dalam bidang kerja
: efisiensi atau rendemen penerangan dapat ditentukan dari tabel.
Perlu diketahui, efisiensi penerangan ditentukan pula oleh :
- efisiensi atau rendemen armature
- faktorrefleksi dinding (rw), plafon (rc), bidang kerja (rm).
- indeks ruangan.
Jumlah lampu atau armature n yang diperlukan dapat pula ditentukan
langsung dari:

43
2) Efisiensi Armatur
Efisiensi atau rendemen armature v :
fluks cahaya yang dipancarkan armature
v=
fluks cahaya yang dipancarkan oleh sumber cahaya

Efisiensi armature dibagi atas bagian fluks cahaya di atas dan di bawah bidang
horisontal, hal itu sangat ditentukan oleh jenis/model armeture yang digunakan.
Umumnya persentase perbandingan cahaya yang dipancarkan armature adalah di atas
bidang horisontal 22 %, dan di bawah bidang horisontal adalah 65 %, sisanya karena
faktor dari konstruksi armature itu sendiri. Dalam perhitungan penerangan, efisiensi
penerangan salalu sudah diperhitungkan efisiensi armaturenya.

3). Indek Ruangan Atau IndeksBentuk (k )


Indek ruangan atau indeks bentuk k menyatakan perbandingan antara ukuran-
ukuran utama suatu ruangan berbentuk persegi panjang.
p .l
k=
h ( p + l)

makna dari :
p : panjang ruangan
l : lebar ruangan
h : tinggi sumber cahaya di atas bidang kerja, dalam meter (m)
Umumnya tinggi bidang kerja 0,8 m atau 0,9 m di atas lantai
Bila nilai k yang diperoleh tidak ada dalam tabel efisiensi penerangan, hal itu
dapat dilakukan melalui interpolasi. Untuk k yang melebihi 5, diambil nilai efisiensi
k sama dengan 5 (k = 5), sebab untuk k di atas 5, efisiensinya hampir tidak berubah
lagi.

4) Faktor Penyusutan dan Faktor Depresiasi


Persamaan faktor penyusutan (depresiasi, d) adalah sebagai berikut:

E dalam keadaan terpakai


d=
E dalam keadaan baru

44
Lampu listrik (berupa lamput pijar, Tube luminesent dan lain sebagainya)
setelah dipakai beberapa waktu akan terjadi pengotoran. Akibat dari terjadinya
pengotoran, intensitas penerangan yang sampai pada bidang kerja menjadi berkurang.
Pengotoran pada lampu listrik sifatnya berbeda-beda, yaitu mulai dari :
1. pengotroran ringan ringan,
2. pengotoran sedang,
3. pengotoran berat
Pengotoran ringan terhadap sumber cahaya (lampu), biasanya terjadi pada
ruang kelas, laboratorium, dan sejenisnya.Pengotoran sedang biasanya terjadi pada
ruangan yang berada dipinggir-pinggir jalan seperti toko, supermarket, dan
sejenisnya.Sedangkan pengotoran berat terjadi di pabrik-pabrik yang banyak
menghasilkan debu, sperti pabrik kapur, keramik, dan dapat pula terjadi pada pabrik
tekstil (pemintalan benang).Faktor pengotoran dapat dilihat pada tabel efisiensi.
Faktor pengotoran besarnya untuk berkisar antara 0,85 sampai 0,65 (untuk
pengotoran ringan s/d sedang). Untuk pengotoran berat dapat digunakan < 0,65.
Faktor depresi juga ditentukan dari usia lampu. Untuk lampu TL umumnya
usia efektifnya lebih kurang 1500 jam, sedangkan lampu pijar 500 jam, A.M. Marsden
& S.T. Henderson, (1981). Melalui langkah perhitungan di atas akan diperoleh
efisiensi ruang,  berkisar 0,25 s.d 0,8. Untuk memudahkan perhitungan dan dengan
berbagai pertimbangan sebetulnya dapat dihitung secara pendekatan kasar digunakan
 sebesar 0,65. ( = 0,65).

5). Penempatan Sumber Cahaya (Lampu Listrik)


Penempatan sumber cahaya atau titik cahaya listrik agar didapatkan sistem
penerangan yang merata dalam suatu ruangan harus diperhitungkan sedemikian rupa
sesuai dengan model dan jenis lampu yang digunakan. Jarak penempatan sumber
cahaya a, sedapat mungkin sama dengan tinggi efektif lampu h, di atas bidang kerja.
Jarak penempatan lampu yang berada paling pinggir atau dekat dinding dapat dibuat
0,5 a.
Namun tidak mutlak seperti itu, sesuaikan dengan jenis lampu yang digunakan dan
karakteristik dari lampu yang dipakai/dipasang.

45
Gambar1.26. Teknik Penempatan Titik Cahaya Lampu Pijar

Sistem penempatan lampu TL, perlu ada penyesuaian, karena karakteristik


intensitas cahaya lampu TL berbeda dengan lampu pijar.Lebih jelas dapat gambar di
bawah.

Gambar1.27. Teknik penempatan titik cahaya lampu TL

Dalam merancang instalasi listrik, faktor-faktor yang perlu diperhatikan


adalah :a) keselamatan manusia dan mahluk hidup lainnya serta keamanan harta
benda sesuai dengan proteksi keselamatan kerja, b) berfungsinya instalasi listrik
dengan baik sesuai dengan maksud penggunaannya.
Ketentuan dasar perencangan atas persyaratan yang harus dipenuhi seperti teganan
suplai, arus bolak-balik (a.b) dan/ atau arus searah (a.s). luas penampang konduktor
dalam sqmm, ukuran penghantar dinyatakan dalam satuan metrik. Jika bahan
penghantar tidak dijelaskan dalam PUIL 2000, yang dimaksudkanadalah penghantar
tembaga.

46
Pada instalasi arus a.b. ketentuan penghantarnya ada penghantar Phasa,
penghantar Neutral, dan penghantar proteksi (ground).
1). Penggunaan penghantar dalam instalasi listrik yang bukan tembagaharus
disesuaikan dengankemampuan hantar arusnya.
Demikian juga luas penampang penghantar harus ditentukan sesuai dengan:
a) suhu maksimum yang diijinkan;
b) susut tegangan yang diijinkan;
c) stres elektromagnetis yang mungkin terjadi karena hubung pendek;
d) stres mekanis lainnya yang mungkin dialami penghantar;
e) impedans maksimum berkenaan dengan berfungsinya proteksi hubung
pendek.

2). Jenis pengawatan dan cara pemasangan


Dalam pemilihan jenis pengawatan dan cara pemasangan bergantung pada:
a) sifat lokasi;
b) sifat dinding atau bagian lain dari bangunan yang menyangga pengawatan;
c) dapat terjangkaunya pengawatan oleh manusia atau ternak;
d) tegangan;
e) stres elektromekanis yang mungkin terjadi karena hubung-pendek;
f) stres lain yang mungkin dialami oleh pengawatan itu selama pemasangan
instalasi listrikatau waktu pengoperasian.

3). Gawai proteksi


Karakteristik gawai proteksi harus ditentukan berdasarkan fungsinya, yaitu
proteksidari efek:
a) arus lebih (beban lebih, hubung pendek);
b) arus gangguan bumi;
c) tegangan lebih;
d) tegangan kurang atau tak bertegangan.
Gawai proteksi harus beroperasi pada nilai arus, tegangan dan waktu yang
sesuai berkaitandengan karakteristik sirkit dan kemungkinan terjadinya bahaya.

47
4). Kendali darurat
Bila dalam keadaan bahaya, diperlukan pemutusan suplai dengan segera,
gawaipemutus harus dipasang sehingga dengan mudah dapat dikenali dan
dioperasikan denganefektif dan cepat.

5). Gawai pemisah


Gawai pemisah perlu disediakan untuk memungkinkan pemisahan instalasi
listrik,sirkit atau setiap bagian radas, yang diperlukan untuk pemeliharaan,
pengujian,pendeteksian gangguan atau perbaikan.

6). Pencegahan pengaruh timbal-balik


Instalasi listrik harus ditata sehingga tidak akan terjadi saling mempengaruhi
yangmerugikan antara instalasi listrik dan bukan instalasi listrik dalam bangunan.

7). Keterjangkauan perlengkapan listrik


Perlengkapan listrik harus ditata sehingga terpenuhi keperluan:
a) ruangan yang memadai untuk pemasangan awal dan penggantian setiap
bagianperlengkapan listrik di hari kemudian;
b) keterjangkauan dalam pengoperasian, pengujian, penginspeksian,
pemeliharaan, danperbaikan.

8). Ruang kerja di sekitar perlengkapan listrik


Ruang kerja di sekitar perlengkapan listrik dan jalan masuk ke ruang tersebut
harus cukup luas dan terpelihara agar pelayanan kepada dan pemeliharaan
perlengkapanlistrik dapat dilakukan dengan mudah dan aman. Dalam hubungan ini,
bagian yang perludiperhatikan adalah:
a) ruang pelayanan depan;
b) jalan dan pintu masuk ke ruang pelayanan;
c) ruang kerja ;
d) ruang bebas;
e) penerangan;
f) ruang di atas kepala.
Pada bagian yang berpotensi akan timbulnya bahaya atau
kemungkinankesalahan kerja harus dipasang panduan pengoperasian atau petunjuk
pelaksanaan ataupapan peringatan baik berupa lambang, gambar, huruf, angka atau
sarana lain yang dapatmencegah timbulnya bahaya atau terjadinya kesalahan kerja.

48
9). Pemilihan perlengkapan listrik
Setiap bagian perlengkapan listrik yang digunakan dalam instalasi listrik
harusmemenuhi PUIL 2000 dan/atau standar yang berlaku.

10). Karakteristik
Setiap bagian perlengkapan listrik yang dipilih harus mempunyai karakteristik
yangsesuai dengan nilai dan kondisi yang mendasari perancangan instalasi listrik, dan
dankhususnya harus memenuhi persyaratan tegangan kerja dalam instalasi
listrik.Perlengkapan listrik harus mampu terhadap tegangan kontinu maksimum (nilai
efektif a.b.)yang mungkin diterapkan, dan tegangan lebih yang mungkin terjadi.Untuk
perlengkapan tertentu, perlu diperhatikan tegangan terendah yang mungkinterjadi.

11). Arus Listrik


Semua perlengkapan listrik harus dipilih dengan memperhatikan arus kontinu
maksimum(nilai efektif a.b.) yang terjadi pada pelayanan normal, dan dengan
mengingat pula arus yangmungkin terjadi pada kondisi tidak normal dan lamanya arus
tersebut diperkirakan mengalir(misalnya waktu operasi dari gawai pengaman bila
ada).

12). Frekuensi
Apabila frekuensi berpengaruh pada karakteristik perlengkapan listrik,
frekuensi pengenal dari perlengkapan itu harus sesuai dengan frekuensi yang mungkin
terjadi dalam sirkit itu.

13). Daya
Semua perlengkapan listrik yang dipilih berdasarkan karakteristik dayanya,
harus sesuai dengan tugas yang dibebankan kepada perlengkapan tersebut, dengan
memperhitungkanfaktor beban dan kondisi pelayanan normal.

14). Kondisi instalasi dan pencegahan pengaruh yang merusak


Dalam memilih perlengkapan instalasi listrik, termasuk juga menentukan
jenis,ukuran, tegangan dan kemampuannya, harus diperhatikan hal berikut :
a) kesesuaian dengan maksud pemasangan dan penggunaannya;
b) kekuatan dan keawetannya, termasuk bagian yang dimaksudkan untuk
melindungiperlengkapan lain;
c) keadaan dan resistans isolasinya;
d) pengaruh suhu, baik pada keadaan normal maupun tidak normal;

49
e) pengaruh api;
f) pengaruh kelembaban.

15). Kondisi instalasi


Semua perlengkapan listrik harus dipilih sehingga mampu dengan aman
menahan stres dan kondisi lingkungan yang mungkin dialaminya.Namun, apabila
suatu bagian perlengkapan yang menurut rancangannya tidak memiliki sifatyang
sesuai dengan lokasinya, perlengkapan itu mungkin masih bisa digunakan
dengansyarat dilengkapi proteksi tambahan yang memadai sebagai bagian dari
instalasi listrik yanglengkap.

16). Pencegahan dari efek yang merusak


Semua perlengkapan listrik harus dipilih sehingga tidak mempengaruhi dan
tidakmenyebabkan efek merusak pada perlengkapan lain atau mengganggu suplai
selama pelayanan normal, termasuk operasi penyakelaran.Dalam konteks ini, faktor-
faktor yang mungkin berpengaruh, termasuk antara lain :
a) faktor daya;
b) arus kejut awal (inrush current);
c) beban tak seimbang;
d) harmonik.

17). Gawai proteksi


Pemutus sirkit harus mempunyai kapasitas pemutusan sekurang-kurangnya
samadengan hasil perkalian tegangan nominal dan arus putus.Gawai proteksi arus-
lebih dan karakteristik sirkit yang diamankan, harus dipilih dandikoordinasikan
sehingga kerusakan komponen listrik sirkit dapat dicegah atau dikurangi.

18). Pemasangan dan verifikasi awal instalasi listrik


Instalasi listrik harus dipasang sehingga menghasilkan kerja yang baik,
dikerjakanoleh personel yang berkualitas sesuai dengan bidangnya, dan menggunakan
bahan yang tepat.Pengawatan harus dilakukan sehingga bebas dari hubung pendek
dan hubungbumi.Perlengkapan listrik yang dipasang harus bermutu laik pasang
dan/atau memenuhipersyaratan standar.
Karakteristik tertentu dari perlengkapan listrik tidakboleh memburuk dalam
proses pemasangannya.Perlengkapan listrik harus dirawat dengan baik untuk

50
mencegah kemungkinanmenurunnya mutu perlengkapan listrik akibat proses tertentu
dalam masa penyimpanan, persiapan, pelaksanaan pekerjaan dan masa penggunaan.

19). Penandaan dan polaritas


Setiap sirkit suplai, rel atau sirkit cabang pada titik sumbernya harus ditandai
dengan jelas maksud penggunaannya dengan tanda yang cukup awet terhadap
pengaruh cuaca sekitarnya. Penandaan yang demikian itu diperlukan pula bagi setiap
sarana pemutusuntuk motor dan peranti listrik. Penandaan tidak diperlukan apabila
maksud penggunaannyasudah jelas dari penempatannya.
Penghantar proteksi dan penghantar netral harus bisa diidentifikasi, paling
tidakpada terminalnya, dengan warna atau cara lain. Penghantar-penghantar berbentuk
kawat atau kabel yang fleksibel, harus bisa diidentifikasi dengan warna atau cara lain
sepanjangpenghantarnya.

20). Sakelar harus dipasang sehingga :


a) bagian yang dapat bergerak, tidak bertegangan pada waktu sakelar dalam
keadaan terbuka atau tidak menghubung;
b) kedudukan kontak semua tuas sakelar dan tombol sakelar dalam satu instalasi
harusseragam; misalnya akan menghubung jika tuasnya didorong ke atas atau
tombolnyaditekan.

21). Fiting Lampu Jenis Edison


Fiting lampu jenis Edison harus dipasang dengan cara menghubungkan
kontakdasarnya pada penghantar fase, dan kontak luarnya pada penghantar netral.

22). Pengaman lebur jenis D (Diazed) harus dipasang dengan kontak


luarnyamenghubung pada penghantar yang menuju ke beban.

23). Kotak-kontak fase tunggal, baik yang berkutub dua maupun tiga harus dipasang
sehingga kutub netralnya ada di sebelah kanan atau di sebelah bawah kutub tegangan.

1.2.4.2. Pemasangan dan Penempatan Perlengkapan Listrik


Jika tidak ada ketentuan lain, perlengkapan listrik tidak boleh ditempatkan di :
a) daerah lembab atau basah;
b) ruang yang mengandung gas, uap, debu, cairan, atau zat lain yang dapat
merusakkan perlengkapan listrik;
c) ruang yang suhunya melampaui batas normal (lihat BAB 8).

51
Selama masa pembangunan, perlengkapan listrik yang hanya boleh dipasang
diruang kering harus dilindungi terhadap cuaca untuk mencegah perlengkapan
tersebut mengalami kerusakan yang permanen.
Perlengkapan listrik harus dipasang dengan rapi dan dengan cara yang baik
dantepat.Perlengkapan listrik harus dipasang kokoh pada tempatnya sehingga
letaknyatidak berubah oleh gangguan mekanis.Semua peranti listrik yang
dihubungkan pada instalasi harus dipasang danditempatkan secara aman dan, jika
perlu, dilindungi agar tidak menimbulkan bahaya.
Semua sambungan listrik harus baik dan bebas dari gaya tarik.Sambungan
antarpenghantar dan antara penghantar dan perlengkapan listrik yanglain harus dibuat
sedemikian sehingga terjamin kontak yang aman dan andal.Gawai penyambung
seperti terminal tekan, penyambung puntir tekan, ataupenyambung dengan solder
harus sesuai dengan bahan penghantar yang disambungnya dan harus dipasang
dengan baik
Dua penghantar logam yang tidak sejenis (seperti tembaga dan aluminium
atautembaga berlapis aluminium) tidak boleh disatukan dalam terminal atau
penyambung puntir kecuali jika alat penyambung itu cocok untuk maksud dan
keadaan penggunaannya.Sambungan penghantar pada terminal harus terjamin
kebaikannya dan tidakmerusakkan penghantar. Menyambung kabel fleksibel harus
menggunakan sambung tekan (termasuk jenis sekrup), sambung solder atau sambung
puntir. Sepatu kabel harusdisambungkan dengan mur baut secara baik.
Sambung puntir harus dilaksanakan dengan:
a) menggunakan penyambung puntir; atau
b) cara dilas atau disolder.
Sebelum dilas atau disolder, sambungan itu harus dipuntir dahuluagar diperoleh
sambungan yang baik secara mekanis dan listrik.Bahan yang digunakan seperti solder,
fluks, dan pasta harus terbuat dari jenisyang tidak berakibat buruk terhadap instalasi
dan perlengkapan listrik.
Jika tidak ditentukan lain, bagian aktif perlengkapan listrik yang bekerja
padategangan di atas 50 V harus dilindungi dari sentuhan dengan selungkup yang
sesuai, atau dengan salah satu cara di bawah ini :
a) menempatkannya dalam ruang atau selungkup yang hanya boleh dimasuki oleh
orang yang berwenang;

52
b) menempatkannya di belakang pagar atau kisi yang hanya boleh dimasuki oleh
orang yangberwenang;
c) menempatkannya di balkon, serambi atau panggung yang hanya boleh dimasuki
oleh orang yang berwenang;
d) menempatkannya pada ketinggian sekurang-kurangnya 2,5 m di atas lantai.
Perlengkapan listrik yang terdapat di tempat yang rawan kerusakan fisik
harusdilengkapi dengan selungkup atau pelindung yang kuat, dan ditempatkan
sehinggaperlengkapan listrik tercegah dari kerusakan.Pintu masuk ke ruang dan ke
tempat terlindung dan bertegangan di atas 50 Vyang di dalamnya terdapat bagian aktif
terbuka, harus diberi tandaperingatan yang jelas.
Bagian perlengkapan listrik yang pada waktu kerja normal mengeluarkan
ataumenimbulkan percikan api, busur api, atau logam leleh, harus diberi selungkup
kecuali jika terpisah atau terisolasi dari bahan yang mudah menyala atau
terbakar.Semua perlengkapan listrik yang dapat menimbulkan suhu tinggi, percikan
apiatau busur api listrik harus ditempatkan atau dilindungi sedemikian sehingga
terhindar dari risiko kebakaran dari bahan yang mudah terbakar. Bila bagian
perlengkapan listrik bersuhutinggi itu terbuka, sehingga mungkin mencederai
manusia, maka bagian tersebut harusditempatkan atau dilindungi sehingga sentuhan
yang tak disengaja dengan bagian tersebutdapat dicegah.
Dalam keadaan normal, instalasi harus mempunyai resistansi isolasi
yangmemadai.Nilai resistans isolasi semua perlengkapan dalam keadaan tidak
dibumikan, baikresistans isolasi antara penghantar yang satu dan penghantar yang
lain, maupun antara penghantar dan bumi, harus sekurang-kurangnya seperti
dijelaskan dalam pada PUIL 2000:85.

1.2.5. Inspeksi Instalasi Listrik


Instalasi listrik harus diuji dan diperiksa sebelum dioperasikan dan/atau
setelah mengalami perubahan penting untuk membuktikan bahwa pekerjaan
pemasangan telahdilaksanakan sebagaimana semestinya sesuai dengan PUIL 2000
dan/atau standar lainyang berlaku.
Instalasi dalam pabrik atau bengkel, instalasi dengan 100 titik beban atau
lebih,dan instalasi dengan daya lebih dari 5 kW, sebaiknya keadaan resistans
isolasinya diperiksa secara berkala, dan jika resistans isolasinya tidak memenuhi
ketentuan atau terlihat adanyagejala penurunan instalasi itu harus

53
diperbaiki.Pengukuran resistans isolasi harus dilakukan dengan gawai khusus yang
baik dantelah ditera.Resistans isolasi harus diuji menurut PUIL2000 dengan cara
seperti dijelaskan dalam pasal 3.20.Pada sistem IT harus ada sekurang-kurangnya satu
gawai yang dipasangpermanen untuk memantau keadaan isolasi instalasi

1.2.6. Pemeliharaan Instalasi Listrik


1). Ruang lingkup
Pemeliharaan instalasi listrik meliputi program pemeriksaan, perawatan,
perbaikan,dan pengujian ulang berdasarkan petunjuk pemeliharaan yang telah
ditentukan.Pemeliharaan tersebut dimaksudkan agar instalasi selalu baik dan bersih
serta penggunaan dan perbaikannya dengan mudah dan aman sehingga
instalasiberfungsi dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.

2). Ketentuan dasar


Memperhatikan penggunaan proteksi akibat dari tegangan lebih sehingga tidak
merusak peralatan listrik yang digunakan. Manusi atau ternak harus dicegah dari
cedera dan harta benda harus dicegah dari setiap efek yang berbahaya akibat adanya
gangguan antara bagian aktif sikit yang disuplay dengan tegangan yang berbeda.
Manusia dan ternak harus dicegah dari cedera dan harta benda harus dicegah dari
kerusakan akibat adanya tegangan yang berlebihan yang mungkin timbul akibat sebab
lain (misalnya: fenomena atmosfir atau tegangan lebih penyaklaran).

54
1.3. Praktek Instalasi Listrik Dasar

Manajemen waktu Instalasi Listrik Dasar

Total waktu= 2 SKS x 170 menit x 14 tatap muka = 4.760 menit=79.3 Jam

No Judul Praktikum Waktu


1 Perancangan Instalasi Listrik 2x170 menit x3 TM
2 Konstruksi Instalasi Listrik 2 x 170 menit x 5 TM
3 Inspeksi Instalasi Listrik 2 x 170 menit x 3 TM
4 Pemeliharaan Instalasi Listrik 2 x 170 menit x 3 TM

1) Praktek Perancangan Instalasi Listrik


Kegiatan Perancangan Instalasi Listrik Waktu
Penjelasan dasar teori instalasi listrik 30 menit
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum 2x170 menit x 2 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

Materi PraktikumPerancangan Instalasi Listrik


Soal nomor 1:
Rancanglah Instalasi listrik domestik untuk ruang pertemuan dengan sistem 3 phasa.
Ruangan memiliki ukuran 30 m x 40 m, lampu dipasang menempel pada plafon.
Intensitas penerangan ruangan adalah 300 lux;efisiensi ruang, η = 0,6; factor
depresiasi 0,8; menggunakan lampu TL 40W, masing-masing armature terdapat 2
buah lampu TL 40W. cos φ (faktor daya) adalah 0,35 lag; fluks cahaya фyang
dihasilkan lampu 40W adalah 3000 lumen. Ruang tersebut juga dipasang KKB
sebanyak20buah, masing-masing KKB 150 VA dan dipasang 2 buah AC split masing
3 HP, 220 V, cos φ = 0,6
Pertanyaan:
a. Hitung jumlah titik cahaya lampu dalam ruang pertemuan
b. Tentukan besar daya listrik yang diperlukan beban maksimal dan besarnya
luas penampang konduktor minimal (kabel NYY) bila sumber tegangan
listrik PLN berjarak 50 meter dengan PHB utama (MDP) dan drop tegangan
yang diijinkan 2% dari tegangan nominal
c. Tentukan besarnya kapasitor daya (KVA) yang dipasang (dalam bentuk bank
capastor) agar cos φ menjadi 0,95 lag
55
d. Tentukan besarnya tahanan maksimal pentanahan (grounding) untuk
disambung pada terminal pentanahan di PHB
e. Gambarlahdenah ruang pertemuan dan pasang titik cahaya lampu, KKBdan
AC split pada ruang tsb
f. Gambarlah instalasi PHB-MDP sistem 3 phasa lengkap dengan
MCCB/MCB/Fuse yang diperlukan dengan sesuai kapasitas arus
g. Gambarlah PHB capasitor lengkap dengan peralatan pengaman yang
digunakan
h. Jelaskan arti nomenklatur dan manfaat dari peralatan listrik MCB, MCCB,
NFB, TIC, BC, BCC., MDP, SDP.

2) Praktek Konstruksi Instalasi Listrik


KegiatanKonstruksi Instalasi Listrik Waktu
Penjelasan dasar teori instalasi listrik 30 menit
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 2x170 menit x 4 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

Daftar Peralatan:
MCB, PHB, Sakelar tunggal,sakelar seri, sakelar tukar, saklar impuls, stop kontak,
lampu, penghantar, sumber tegangan satu fasa, multimeter, tang, obeng, tespen
Pelaksanaan PraktikumKonstruksi Instalasi Listrik:
 Menyiapkan dan mengecek kondisi bahan praktek
 Mengkonstruksi instalasi listrik sesuai dengan deskripsi perancangan yag dibuat

3) Praktek Inspeksi Instalasi Listrik


Kegiatan Inspeksi Instalasi Listrik Waktu
Penjelasan dasar teori instalasi listrik 30 menit
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 2x170 menit x 2 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

Daftar Peralatan:
Multimeter, megger,earth Tester meter, tespen
Pelaksanaan PraktikumInspeksi Instalasi Listrik:
 Memeriksa dan menguji instalasi listrik dan PHB yang telah dikonstruksi peserta
 Mengukur tahanan isolasi instalasi listrik dan PHB yang telah dikonstruksi peserta

56
 Memeriksa dan menguji instalasi listrik dan PHB tegangan rendah
 Memeriksa titik pentanahan bangunan sederhana
 Mengukur tahanan pentanahan bangunan sederhana

4) Praktik Pemeliharaan Instalasi Listri


Kegiatan Pemeliharaan Instalasi Listrik Waktu
Penjelasan dasar teori instalasi listrik 30 menit
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 2x170 menit x 2 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

Daftar Peralatan:
Multimeter, Megger, EarthTester meter, Tang, Obeng, Tespen

Pelaksanaan PraktikumPemeliharaan Instalasi Listrik:


- Memperbaiki dan menguji instalasi listrik yang telah dikonstruksi peserta
- Memperbaiki dan menguji instalasi listrik dan PHB tegangan rendah
- Memelihara titik pentanahan bangunan sederhana

Lembar Nilai
Perancangan Instalasi Listrik Domestik
Kelompok Nama Peserta Kehadira K3 Keaktifan Kerjasama Laporan
n (10%) (10%) (50%) (10%) (20%)
1

57
BAB 2. INSTALASI TENAGA LISTRIK
2.1. Pendahuluan
2.1.1. Deskripsi Singkat
Bab ini membahas motor-motor listrik dan instalasinya. Pembahasan motor-motor
listrik mencakup:jenis dan fungsi motor listrik, jenis kabel, jenis pengaman dan
perlengkapan PHB,pemilihan jenis motor, jenis kabel dan jenis pengaman sesuai
dengan fungsinya, penginstalasian PHB dan kontrol motor listrik, penginspeksian
PHB liftdanmotor pompa,pemeliharaan PHB lift danmotor pompa.
Pada bagian akhir bab berisi materi praktek dan lembar penilaian. Dengan
mengerjakan soal atau tugas dan mencocokan hasil pekerjaan yang telah dibuat
dengan kunci jawaban yang ada, peserta diklat dapat mengukur pencapaian hasil
belajarnya.

2.1.2. Relevansi
Materi yang dibahas dalam bab ini merupakan materi pokok yang harus
dikuasai peserta diklat untuk mengajar di SMK Program Keahlian Teknik
Ketenagalistrikan, khususnya tentang instalasi motor listrik. Dengan menguasai
materi ini maka peserta diklat dapat mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, serta
dapat menanamkan sikap yang dituntut dunia kerja kepada siswa SMK.

2.1.3. Capaian Pembelajaran


Capaianpembelajaran materi ini adalah:
a. Mampu memilih jenis motor sesuai dengan fungsinya dan menginstalasi kontrol
motor listrik dan PHB, dengan sub capaian:
- Memahamijenis dan fungsi motor listrik, jenis kabel, jenis pengaman dan
perlengkapan PHB
- Mempraktekkan pemilihan jenis motor, jenis kabel dan jenis pengaman sesuai
dengan fungsinya
- Mempraktekkan penginstalasian kontrol motor listrik
- Mempraktekkan penginstalasianPHB kontrol motor listrik
b. Mampu memasang, menginspeksi, menganalisis hasil inspeksi dan memelihara
PHB lift danmotorpompa, dengan sub capaian:
- Mempraktekkan pemasangan PHB liftdanmotor
- Mempraktekkan penginspeksian PHB liftdanmotor pompa

58
- Menganalisis hasil inspeksi PHB lift danmotor pompa
- Mempraktekkanpemeliharaan PHB lift danmotor pompa

2.2. Materi Instalasi Tenaga Listrik


2.2.1. Motor-Motor Listrik
2.2.1.1. Jenis-Jenis MotorListrik
Motor listrik arus bolak-balik disebut juga motor induksi adalah suatu
peralatan listrik yang dapat merubah energi listrik menjadi energi mekanik (gerak)
dengan menggunakan gandengan medan listrik dan mempunyai slip antara medan
stator dan medan rotor.Motor induksi merupakan motor yang paling banyak
digunakan pada mesin penggerak di industri hal ini dikarenakan mudahnya perawatan
yang diperlukan maupun mudahnya pengendalian kecepatan sedang perubahan
kecepatan akibat pembebanan yang terjadi cukup kecil, pada motor induksi ini
pembentukan medan penguat pada stator motor induksi ini hanya digunakan input
tegangan pada stator sedang medan penguat pada rotor dihasilkan berdasar induksi
tegangan dari stator. Sebagai akibatnya motor induksi ini mempunyai faktor kerja (cos
∅) kurang dari 1. Motor induksi pada dasarnya mempunyai tiga bagian penting
sebagai berikut.
a. Stator: Merupakan bagian yang diam dan mempunyai kumparan yang
dapatmenginduksikan medan elektromagnetik kepada kumparan rotornya
b. Celah: Merupakan celah udara: Tempat berpindahnya energi dari startor ke
rotor
c. Rotor: Merupakan bagian yang bergerak akibat adanya induksi magnet dari
kumparanstator yang diinduksikan kepada kumparan rotor.
Konstruksi stator motor induksi pada dasarnya terdiri dari bahagian-bahagian
sebagaiberikut:
a. Rumah stator (rangka stator) dari besi tuang
b. Inti stator dari besi lunak atau baja silicon
c. Alur, bahannya sama dengan inti, dimana alur ini merupakan tempat
meletakkan belitan (kumparan stator)
d. Belitan (kumparan) stator dari tembaga.
Rangka stator motor induksi didisain dengan baik dengan empat tujuan yaitu:
a. Menutupi inti dan kumparannya

59
b. Melindungi bagian-bagian mesin yang bergerak dari kontak langsung dengan
manusiadan dari goresan yang disebabkan oleh gangguan objek atau gangguan
udara terbuka(cuaca luar).
c. Menyalurkan torsi ke bagian peralatan pendukung mesin dan oleh karena itu
statordidisain untuk tahan terhadap gaya putar dan goncangan
d. Berguna sebagai sarana rumahan ventilasi udara sehingga pendinginan lebih
efektif

Gambar 2.1. Bagian-bagian Motor Listrik Tiga Fase

Prinsip Kerja Motor Listrik Tiga Fasa


Apabila sumber tegangan tiga fase dipasang pada kumparan stator, akan
timbul medan putar dengan kecepatan seperti rumus berikut:
Ns = 120 f/P
Dimana:
Ns = Kecepatan Putar
f = Frekuensi Sumber
P = Kutub motor

60
Medan putar stator tersebut akan memotong batang konduktor pada rotor.
Akibatnya pada batang konduktor dari rotor akan timbul gaya gerak listrik (GGL)
induksi. Karena batang konduktor merupakan rangkaian yang tertutup maka GGL
akan menghasilkan arus (I). Adanya arus (I) di dalam medan magnet akan
menimbulkan gaya (F) pada rotor. Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya (F) pada
rotor cukup besar untuk memikul kopel beban, rotor akan berputar searah dengan
medan putar stator. GGL induksi timbul karena terpotongnya batang konduktor
(rotor) oleh medan putar stator. Artinya agar GGL induksi tersebut timbul, diperlukan
adanya perbedaan relatif antara kecepatan medan putar stator (ns) dengan kecepatan
berputar rotor (nr).
Perbedaan kecepatan antara nr dan ns disebut slip (s), dinyatakan dengan
S= (ns- nr)/ ns
Bila nr = ns, GGL induksi tidak akan timbul dan arus tidak mengalir pada batang
konduktor (rotor), dengan demikian tidak dihasilkan kopel. Dilihat dari cara kerjanya,
motor induksi disebut juga sebagai motor tak serempak atau asinkron.
Keuntungan motor listrik 3 fasa:
a) Konstruksi sangat kuat dan sederhana terutama bila motor menggunakan rotor
sangkar
b) Harga relative murah dan kehandalannya tinggi
c) Effisiensi relative tinggi pada keadaan normal, tidak ada sikat sehingga rugi
gesekan kesil
d) Biaya pemeliharaan rendah karena pemeliharaan motor hampi tidak
diperlukan
Kerugian penggunaan maotor listrik 3 fasa:
a) Kecepatan sulit dikontrol
b) Power faktor rendah pada beban ingan
c) Arus start biasanya 5 sampai 7 kali arus nominal

2.2.1.2. Macam-macam Hubungan Motor Listrik


Pengasutan merupakan metode penyambungan kumpran-kumparan dalam
motor listrik 3 fase. Ada dua macan model penyambungan kumparan pada motor
listrik 3 fase, yaitu: a) Sambungan Bintang/Star/Y, dan b) Sambungan Segitiga/Delta

61
a. Sambungan Bintang/Star/Y

Gambar 2.2. Hubungan Bintang


Sambungan bintang dibentuk dengan menghubungkan salah satu ujung dari ketiga
kumparan menjadi satu. Ujung kumparan yang digabung tersebut menjadi titik netral,
karena sifat arus 3 fase yang jika dijumlahkan ketiganya hasilnya sama dengan nol
(netral).Nilai tegangan fase pada sambungan bintang = 3 x tegangan antar fase

b. Sambungan Segitiga/Delta

Gambar 2.3. Hubungan Delta


Sambungan segitiga (delta) diperoleh dengan menghubungkan kumparan-kumpran
motor sehingga membentuk segitiga. Pada sambungan segitiga ini tegangan kumparan

2.2.2. Instalasi Motor-Motor Listrik


2.2.2.1. Peralatan dan PHB Instalasi Tenaga Listrik
Peralatan utama yang digunakan dalam merangkai dan menjalankan motor
listrik 3 fase adalah sebagai berikut:
a) Autobreaker (F):Autobreakermerupakan alat proteksi yang berfungsi untuk
mengamankan/memutuskan motor listrik 3 fase dari gangguan hubung singkat.
Autobreaker ini dapat berupa sekering, MCB, MCCB atau NFB. Bentuk fisik
MCB dan MCCB seperti gambar berikut:

62
Gambar 2.4. MCB, MCCB
b) Push Buton (PB)
Push Button (tombol tekan) adalah saklar tekan yang berfungsi untuk
menghubungkan atau memisahkan bagian-bagian dari suatu instalasi listrik satu sama
lain. Suatu sistem saklar tekan push button terdiri dari saklar tekan start, stop reset
dan saklar tekan untuk emergency. Push button memiliki kontak NC (normally close)
dan NO (normally open).
Prinsip kerja Push Button adalah apabila dalam keadaan normal tidak ditekan
maka kontak tidak berubah (NO terbuka dan NC tertutup), apabila ditekan maka
terjadi perubahan kontak yaitu NO tertutupdan NC terbuka.Push Button dapat
dibedakan atas

1) Push Button Tipe NO


Push button ini disebut juga dengan tombol start karena kontak akan menutup
bila ditekan dan kembali terbuka bila dilepaskan. Bila tombol ditekan maka kontak
bergerak akan menyentuh kontak tetap sehingga arus listrik akan mengalir, seperti
gambar berikut.

Gambar 2.5. Push Button Tipe NO


2) Push Button Tipe NC
Tipe push button NC ini memiliki 4 buah terminal baut, sehingga bila tombol
tidak ditekan maka sepasang kontak akan NC dan kontak lain akan NO, bila tombol

63
ditekan maka kontak tertutup akan membuka dan kontak yang membuka akan
tertutup.

Gambar 2.6. Push Button Tipe NC


Sedangkan bentuk fisik dari push button ON-OFF dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2.7. Push Button ON-OFF

c) Kontaktor (K):
Kontaktor adalah saklar yang digerakkan dengan gaya kemagnetan. Pada
kontaktor ini ada yang disebut coil yang berisi lilitan tembaga sebagai penghasil
medan magnet. Cara kerja kontaktor ini adalah apabila coil tersebut dihubungkan
dengan sumber tegangan maka akan terjadilah induksi magnet yang akan menarik
setiap kontak (platina) yang terdapat pada kontaktor itu sendiri baik itu NO (Normaliy
Open)maupun NC (Normaly Closed). Artinya kontak NO pada posisicoil tidak diberi
tegangan tidak terhubung/tertutup akan tertarik menjadi terhubung (jadi NC) begitu
pula kontak NC adalah kebalikannya (jadi NO terbuka/terputus). Ukuran dari
kontaktorditentukan oleh batas kemampuan arusnya. Pada kontaktor terdapatbeberapa
kontak, yaitu kontak utama (NO) dan kontak bantu (NO dan NC). Untuk mengetahui
notasi dan penomoran kontak-kontak pada kontaktor, lihat tabel berikut:

64
Tabel 2.1 Notasi dan Penomoran Kontak-Kontak Kontaktor

Gambar 2.8. Kontaktordan Simbol

d) Thermal Over Load Relay (TOR))


Thermal overloadadalah suatu alat pengaman rangkaian dari arus lebih yang
diakibatkan beban yang terlalu besar dengan jalan memutuskan rangkaian ketika arus
melebihi settingnya.Thermal overload berfungsi untuk memproteksi rangkaian listrik
dan komponen listrik dari kerusakan karena terjadinya beban lebih.
Thermal overload ini bisa dipasang langsung dengan kontaktornya maupun
terpisah sehingga sangat fleksibel untuk pemasangannya di dalam panel. Pemilihan
jenis thermal overload ditentukan oleh rating/setting arus sesuai dengan arus nominal

65
rangkaian pada beban penuh dan kelas trip-nya. Untuk pemakaian standar digunakan
kelas trip 10 yaitu thermal overload akan trip pada 7,2 Ir dalam waktu 4 detik.

Gambar 2.9. Thermal Over Load Relay (TOR dan Simbol

e) Time Delay Relay (Timer)


Time Delay Relay (TDR) sering disebut juga relay timer atau relay penunda batas
waktu, banyak digunakan khususnya dalam instalasi tenaga listrik, terutama instalasi yang
membutuhkan pengaturan waktu secara otomatis. Fungsi timer ini adalah sebagai
pengatur waktu bagi peralatan yang dikendalikannya. Timer ini dimaksudkan untuk
mengatur waktu hidup atau mati dari kontaktor atau untuk merubah sistem bintang ke
segitiga dalam delay waktu tertentu. Kumparan pada timer akan bekerja selama mendapat
sumber arus. Apabila telah mencapai batas waktu yang diinginkan maka secara otomatis
timer akan mengunci dan membuat kontak NO menjadi NC dan NC menjadi NO. Timer
dapat dibedakan dari cara kerjanya yaitu timer yang bekerja menggunakan induksi motor
dan menggunakan rangkaian elektronik.Timer dapat dibedakan menurut cara kerjanya
yaitu: a) timer yang bekerja menggunakan induksi motor, dan b) menggunakan rangkaian
elektronik.
Bagian input timer biasanya dinyatakan sebagai kumparan dan bagian outputnya
sebagai kontak NO atau NC. Kontak NO dan NC pada Timer akan bekerja ketika diberi
ketetapan waktunya, ketetapan waktu ini dapat kita tentukan pada potensiometer yang
terdapat pada timer itu sendiri. Misalnya kita telah menetapkan 10 detik, maka kontak NO
dan NC akan bekerja 10 detik setelah kita menghubungkan timer dengan sumber arus
listrik.Pada umumnya timer memiliki 8 buah kaki, yaitu kaki 2 dan 7 merupakan kaki
coil, kaki 1-3 dan 8-6 adalah NO, dan kaki 1-4 dan 8-5 adalah NC. Kaki-kaki tersebut
akan berbeda tergantung dari jenis relay timernya.Berikut ini diberikan gambar timer
beserta kaki-kakinya

66
Gambar 2.10. Timer dan Kaki Timer

f) Panel Hubung Bagi Instalasi Tenaga Listrik


Penel hubung bagi (PHB) merupakan sarana vital dalam menjaga kelancaran
penyaluran daya listrik dari jaringan PLN ke konsumen atau beban, untuk itu dalam
merancang sebuah panel harus mengikuti aturan-aturan yang telah dibakukan dalam
PUIL 2000.
PHB adalah peralatan yang berfungsi menerima energy listrik dari PLN dan
selanjutnya didstribusikan dan sekaligus mengontrol penyaluran energy listrik
tersebut melalui sirkit panel utama dan cabang ke PHB cabang atau langsung melalui
sirkit akhir ke beban yang berupa titik lampu, dan peralatan pemanfaatan listrik
melalui kotak kontak yang berada dalam bangunan tersebut.
Sesuai dengan kegunaan PHB, maka dalam perencanaannya harus sesuai
dengan syarat dan ketentuan serta standar PHB yang ada.Untuk penempatan PHB
hendaknya disesuaikan dengan situasi bangunan dan tata letaknya mudah dijangkau
dalam memudahkan pelayanan.Panel harus mendapatkan ruang yang cukup luas
sehingga pemeliharaan, perbaikan, pelayanan dan lalu lintas dapat dilakukan dengan
mudah dan aman.
Peranan PHB dalam suatu bangunan, adalah sebagai:
1) Penghubung; PHB berfungsi untuk menghubungkan antara satu rangkaian listrik
dengan rangkaian listrik lainnya. PHB menghubungkan suplay tenaga listrik dari
PHB utama ke beban baik instalasi penerangan maupun instalasi tenaga
2) Pengaman; PHB bekerja secara otomatis melepas sumber/suplay tenaga listrik
apabila terjadi gangguan pada rangkaian. Komponen yang berfungsi sebagai
pengaman pada PHB adalah MCCB dan/atau MCB
3) Pembagi; PHB membagi kelompok beban pada instalasi penerangan maupun
instalasi tenaga. PHB dapat memisahkan atau membagi suplay tenaga listrik
berdasarkan jumlah beban dan banyaknya ruangan yang merupakan pusat beban,
juga membagi fasa R, S, dan T agar mempunyai beban yang seimbang antar fasa
67
4) Penyuplai; PHB menyuplai tenaga listrik dari sumber ke beban.selain itu juga
mendistribusikan tenaga listrik dari PHB utama, PHB cabang sampai ke pusat
beban baik untuk instalasi penerangan maupun instalasi tenaga
5) Pengontrol; PHB berfungsi sebagai pengontrol utama, karena dari panel tersebut
masing-masing rangkaian beban dikontrol, baik instalasi penerangan maupun
instalasi tenaga.
Berdasarkan PUIL 2000, PHB dapat dibedakan atas:
1) PHB Tertutup Pasang Dalam; semua komponen-komponen PHB ditempatkan
dalam kotak panel yang tertutup dan terpasang dalam ruangan
2) PHB Tertutup Pasang Luar; semua komponen-komponen PHB ditempatkan dalam
kotak panelyang tertutup dan terpasang diluar ruangan
3) PHB Terbuka Pasang Dalam; PHB ini tidak boleh dipasang dekat saluran air,
saluran uap, saluran air atau saluran lain yang tidak ada kaitannya dengan PHB
tersebut
4) PHB Terbuka Pasang Luar; tempat pemasangan PHB ini harus merupakan
perlengkapan yang tahan cuaca.
Persyaratan penempatan PHB sebagai berikut:
1) Tinggi maksimal dari lantai adalah 1,2 – 2 m
2) Di depan panel harus memiliki ruang bebas yang cukup luas
3) Saat membuka panel tidak terganggu oleh benda apapun
4) Pintu harus dapat terbuka punuh
5) Panel dipasang pada tempat yang sesuai, kering dan berventilasi cukup.
Komponen-komponen PHB sebagai berikut: a) MCB/MCCB, b) rangkaian
kontrol, c) trafo arus, d) lampu indikator, dan e) penghantar.

Gambar 2.11.PHB Tiga Fasa

68
2.2.2.2. Penghantar Listrik Instalasi Tenaga Listrik
Penghantar atau Kabel listrik adalah media untuk mengantarkan arus listrik
ataupun informasi.Bahan dari kabel ini beraneka ragam, khusus sebagai pengantar arus
listrik, umumnya terbuat dari tembaga, dan aluminium, umumnya dilapisi dengan
pelindung.Selain tembaga, ada juga kabel yang terbuat dari serat optik, yang disebut
dengan fiber optic cable.
Beberapa jenis kabel yang biasa dipakai dalam instalasi tenaga listrik adalah
sebagai berikut:
a) Kabel NYA
Kabel NYA berinti tunggal, berlapis bahan isolasi PVC, untuk instalasi luar atau
kabel udara.Kode warna isolasi ada warna merah, kuning, biru dan hitam sesuai dengan
peraturan PUIL. Lapisan isolasinya hanya 1 lapis sehingga mudah cacat, tidak tahan air
(NYA adalah tipe kabel udara) dan mudah digigit tikus. Agar aman memakai kabel tipe
ini, kabel harus dipasang dalam pipa/conduit jenis PVC atau saluran tertutup.Sehingga
tidak mudah menjadi sasaran gigitan tikus, dan apabila ada isolasi yang terkelupas tidak
tersentuh langsung oleh orang. Gambar kabel NYA berikut ini:

Gambar 2.12. Kabel NYA


b) Kabel NYM
Kabel NYM memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna putih atau abu-abu),
ada yang berinti 2, 3 atau 4.Kabel NYM memiliki lapisan isolasi dua lapis, sehingga
tingkat keamanannya lebih baik dari kabel NYA (kualitanya lebih baik dari NYA). Kabel
ini dapat dipergunakan dilingkungan yang kering dan basah, namun tidak boleh ditanam

69
Gambar 2.12. Kabel NYM
c) Kabel NYY
Kabel NYY memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya berwarna hitam), ada yang
berinti 2, 3 atau 4.Kabel NYY dipergunakan untuk instalasi tertanam (kabel tanah), dan
memiliki lapisan isolasi yang lebih kuat dari kabel NYM (kualitasnya lebih baik dari
NYM dan NYA).Kabel NYY memiliki isolasi yang terbuat dari bahan yang tidak disukai
tikus.

Gambar 2.13. Kabel NYY


d) Kabel NYFGbY
Kabel NYFGbY ini digunakan untuk instalasi bawah tanah, di dalam ruangan di
dalam saluran-saluran dan pada tempat-tempat yang terbuka dimana perlindungan
terhadap gangguan mekanis dibutuhkan, atau untuk tekanan rentangan yang tinggi selama
dipasang dan dioperasikan.

Gambar 2.14. KabelNYFGbY

70
2.2.2.3. Perencanaan Instalasi Tenaga Listrik
Merencanakan suatu instalasi tenaga listrik (motor-motor listrik) memerlukan
pengetahuan dasar instalasi listrik. Ada tiga macam rangkaian instalasi kontrol motor
listrik, yaitu:
a) Rangkaian Daya adalah rangkaian beban, kontak-kontak utama kontaktor, kontak
breakerdankomponen pengaman yang dihubungkan ke arus beban
b) Rangkaian Kontrol adalah rangkaian untuk mengatur operaasi kontaktor dan
relay untuk menjalankan dan menghentikan operasi motor listrik
c) Rangkaian Pengawatan adalah gabungan dari rangkaian utama dan rangkaian
kontrol, dengan kata lain rangkaian lengkap dari suatu rangkaian kontrol motor
Gambar berikut memperlihatkan rangkaian daya, rangkaian kontrol, dan
rangkaian pengawatan

(a) (b) (c)


Gambar 2.15. Rangkaian KontrolMotor system ON-OFF
(a) Rangkaian Daya, (b) Rangkaian Kontrol, (c) Rangkaian Pengawatan

2.2.2.4. Pemasangan Instalasi Motor-Motor Listrik


a) Direct On-Line Starting (DOL)
Mengoperasikan motor listrik 3 fasa secara langsung (DOL) umumnya
digunakan pada motor listrik berkapasitas kecil (<5kW) rotor sangkar, bertujuan
untuk mengurangi arus start yang besar (5 s.d 7 kali arus nominal). Menjalankan

71
motor secara DOL menggunakan peralatan: kontaktor 1 buah, thermal over load
(TOR)1 buah, dan saklar tekan ON/OFF1 buah. Rangkaian pengawatannya seperti
gambar berikut.

Gambar 2.16. Rangkaian PengawatanMotor Hubungan DOL

b) Star-Delta Starting
Mengoperasikan motor listrik 3 fasa secara star-delta (bintang-segitiga)
umumnya digunakan pada motor listrik berkapasitas kecil (10 s.d 50 kW) rotor
sangkar, bertujuan untuk mengurangi arus start yang besar (5 s.d 7 kali arus nominal).
Menjalankan motor secara star-delta menggunakan peralatan: kontaktor 3 buah,
thermal over load (TOR)1 buah, saklar tekan ON/OFF1 buah, dan time delay relay
(Timer) 1 buah. Peralihan dari hubungan bintang ke hubungan segitiga dilakukan
secara otomatis dengan menggunakan timer yang disetting sekian detik (misalnya 5
detik).Rangkaian pengawatannya seperti gambar berikut.

72
Gambar 2.17. Rangkaian PengawatanMotor Hubungan Star-Delta

c) Reverse-Foward Starting
Mengoperasikan motor putaran maju mundur (Reverse-Foward) dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu secara manual dan secara otomatis. Sistem manual
biasanya tidak menggunakan time delay relay (Timer) sebagai pengatur waktu putaran
berikutnya, sedangkan sistem otomatis menggunakan time delay relay (Timer).
Dalam pengaturan putaran motor maju dan mundur sama halnya dengan
membalik putaran motor. Putaran motor dapat terbalik, jika arah putaran medan
magnet stator juga terbalik. Untuk membalik putaran medan magnet stator dapat
dilakukan dengan menukar dua dari tiga penghantar fasa sumber listrik motor
tersebut. Untuk jelasnya dapat dilihat contoh pada gambar berikut ini.

73
(a) (b) (c)
Gambar 2.18. Rangkaian KontrolMotor SystemReverse-Foward
(a) dan (b) Rangkaian Daya, (c) Rangkaian Kontrol

2.2.2.5. Inspeksi Instalasi Motor-Motor Listrik


Setelah merangkai instalasi motor listrik yang dioperasikan dengan kontrol
elektromekanik, selanjutnya instalasi tersebut dilakukan pengujian menggunakan alat-
alat ukur AVO/multi tester dan meger. Menurut ketentuan PUIL2000 bahwa tahanan
tembus isolasi konduktor sebaiknya lebih besar atau sama dengan 1000/volt. Jadi
karena motor listrik ini dioperasikan dengan kerja 380 V maka tahanan isolasi kabel
dan peralatan lainnya lebih besar dari 500 kOhm. Proses pengujian dapat dilakukan
dengan mengukur kabel antar phasa, kabel phasa dengan kabel nol.

2.2.2.6. Pemeliharaan Instalasi Motor-Motor Listrik


Untuk memelihara instalasi motor listrik berbasis elektromekanik, yang paling
penting diperhatikan adalah dalam memasang pengaman yang akan digunakan dalam
pengamanan motor listrik. Untuk menghitung ketentuan pengaman (MCB/MCCB/
Fuse) dapat dilihat pada penjelasan pada Bab I. Selain itu, kabel yang telah dipasang
harus di cek secara berkala untuk menghindari terjadinya lost kontak pada terminal-
terminal.

74
2.3. Praktek Instalasi Tenaga Listrik
Manajemen Waktu Instalasi Tenaga Listrik
Total waktu = 2 x 170 menit x 14 tatap muka = 4.760 menit =79.3 Jam
No. Judul Praktikum Waktu
1 Pemilihan Motor listrik dan kelengkapannya 2x170’x3 TM
2 Penginstalasian kontrol motor listrik dan PHB 2x170’x5 TM
3 Inspeksi PHB lift dan motor pompa 2x170’x3 TM
4 Pemeliharaan PHB lift danmotor pompa 2x170’x3 TM

2.3.1. Praktek Pemilihan Motor listrik dan Kelengkapannnya

KegiatanPemilihan Motor listrik dan kelengkapannya Waktu


Penjelasan dasar teorimotor listrik 30 menit
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 2x170 menit x 2 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

Pelaksanaan praktikum:
- Melakukan pemilihan jenis motor, jenis kabel dan jenis pengaman sesuai dengan
fungsinya
- Membuat diagram satu garis
- Membuat daftar peralatan yang diperlukan
- Membuat gambar pengawatan kontrol motor ke PHB

1) Soal Perancangan Instalasi Tenaga Listrik


Rancanglah instalasi tenaga listrik untuk mengoperasikan pompa hydrant.
Hydranttersebut menggunakan jenis motor listrik induksi 3 fasa 50 HP, tegangan
660/380V, cos 𝜑 = 0,6 lag. Rancangan tersebut dilengkapi dengan struktur
kelengkapan dan pemasangan PHB, pemilihan dan pemasangan kabel, pemilihan dan
pemasangan kapasitor daya agar instalasi tenaga listrik tersebut dapat bekerja dengan
optimal. Supply daya listrik dari SDP ke control motor pompa hydrant sepanjang 40
meter menggunakan kabel jenis NYY.

75
2) Praktek Penginstalasian Kontrol Motor Listrik dan PHB
Instalasilah kontrol motor listrik tersebut pada Tugas Soal Latihan nomor 1di
atas.

KegiatanPenginstalasian kontrol motor listrik dan PHB Waktu


Penjelasan dasar teori penginstalasian kontrol motor listrik dan PHB 30’
Penjelasan peralatan praktikum 20’
Pelaksanaan praktikum 2 x170’x4TM
Pembuatan laporan praktikum 120’

Peralatan Praktikum:
Motor listrik, MCB, TOR, Kontaktor, PHB, penghantar, tombol start-stop, sumber
tegangan tiga fasa, obeng, tang, tespen, multimeter

Pelaksanaan praktikum:
- Menyiapkan dan mengecek peralatan praktek
- Penginstalasian kontrol motor listrik
- PenginstalasianPHB kontrol motor listrik

3) Praktek Inspeksi PHB Lift dan Motor Pompa


Inspeksilah PHBmotor listrik Lift dan/atau Motor Pompa hydran tersebut pada
Tugas Soal Latihan nomor 1di atas.

Kegiatan Inspeksi PHB lift dan Motor Pompa Waktu


Penjelasan dasar teori Inspeksi PHB lift dan Motor Pompa 30’
Penjelasan peralatan praktikum 20’
Pelaksanaan praktikum 2 x170’x2TM
Pembuatan laporan praktikum 120’

Peralatan Praktikum:
Motor listrik, MCB, TOR, kontaktor, PHB, penghantar, tombol start-stop, sumber
tegangan tiga fasa, obeng, tang, tespen, multimeter, megger

Pelaksanaan praktikum:
- Melakukan pemeriksaan instalasi dan PHB kontrol motor listrik
- Mengukur tahanan isolasi PHB dan motor listrik
- Melakukan pemeriksaan instalasi PHBlift dan motor pompa
- Mengukur tahanan isolasiinstalasi PHBlift dan motor pompa

4) Praktek Pemeliharaan PHB Lift dan Motor Pompa

76
Periksalah pemasanganPHBmotor listrik Lift dan/atau Motor Pompa hydran
tersebut secara berkala pada Tugas Soal Latihan nomor 1di atas.

Kegiatan Pemeliharaan PHB lift dan motor pompa Waktu


Penjelasan dasar teori PHB Lift danMotor Pompa 30’
Penjelasan peralatan praktikum 20’
Pelaksanaan praktikum 2 x170’x2TM
Pembuatan laporan praktikum 120’

1.4.2. Praktek Konstruksi Instalasi Listrik


KegiatanKonstruksi Instalasi Listrik Waktu
Penjelasan dasar teori instalasi listrik 30 menit
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 2x170 menit x 4 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

Daftar Peralatan:
MCB, PHB, Sakelar tunggal,sakelar seri, sakelar tukar, saklar impuls, stop kontak,
lampu, penghantar, sumber tegangan satu fasa, multimeter, tang, obeng, tespen
Pelaksanaan PraktikumKonstruksi Instalasi Listrik:
 Menyiapkan dan mengecek kondisi bahan praktek
 Mengkonstruksi instalasi listrik sesuai dengan deskripsi perancangan yag
dibuat

1.4.2. Praktek Inspeksi Instalasi Listrik


Kegiatan Inspeksi Instalasi Listrik Waktu
Penjelasan dasar teori instalasi listrik 30 menit
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 2x170 menit x 2 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

Daftar Peralatan:
Multimeter, megger,earth Tester meter, tespen
Pelaksanaan PraktikumInspeksi Instalasi Listrik:

77
 Memeriksa dan menguji instalasi listrik dan PHB yang telah dikonstruksi
peserta
 Mengukur tahanan isolasi instalasi listrik dan PHB yang telah dikonstruksi
peserta
 Memeriksa dan menguji instalasi listrik dan PHB tegangan rendah
 Memeriksa titik pentanahan bangunan sederhana
 Mengukur tahanan pentanahan bangunan sederhana

Kegiatan Pemeliharaan Instalasi Listrik Waktu


Penjelasan dasar teori instalasi listrik 30 menit
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 2x170 menit x 2 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

Daftar Peralatan:
Multimeter, megger,earth Tester meter, tang, obeng, tespen
Pelaksanaan PraktikumPemeliharaan Instalasi Listrik:
Memperbaiki dan menguji instalasi listrik yang telah dikonstruksi peserta
Memperbaiki dan menguji instalasi listrik danPHB tegangan rendah
Memelihara titik pentanahan bangunan sederhana

Lembar Nilai
Perancangan Instalasi Listrik Domestik
NAMA
KELOMPOK Kehadiran K3 Keaktifan Kerjasama Laporan
PESERTA
(10%) (10%) (50%) (10%) (20%)
1

78
BAB III
KONTROL MOTOR LISTRIK

3.1. Pendahuluan

3.1.1. Deskripsi Singkat

Bab ini membahas kontrol motor-motor listrik sistem konvensional (semi-


otomatis) dan berbasis programmable logic controller (PLC).Pembahasan kontrol
konvensional meliputi kontrol direct online (DOL), forward-reverse, dan star-delta.
Rangkaian kontrol tersebut yang dipasang dalam panel kontrol mencakup
merangkaikan kontaktor magnet, TOL, push-buthon, MCB/MCB, lampu indikator,
fuse tube, Timer, dimana wiringnya menggunakan kabel NYAHY dan terminal/
sepatu kabel
Kontrol motor berbasis PLC pada memiliki keuntungan yang jauh labih
sederhana dalam dalam rangkaian kontrolnya karena rangkaian kontrol tersebut tidak
lagi menggunakan kabel yang banyak hanya dengan memprogram kontrol yang akan
dibuat menggunakan komputer/laptop sistem akan dapat bekerja dengan baik. Selain
itu dengan menggunakan PLC berbagai kontrol dapat dilakukan dalam waktu yang
singkat dan dapat dicek kebenaran rankaian melalui uji/ test program pada program
simulator di PLC. Rangkaian yang terkait dengan power ke motor listrik masih
memerlukan kontaktor dan MCCB atau MCB. Dalam bahasan ini akan menitik
beratkan pada kontrol motor listrik sistem DOL, forward-reverse dan star-delta.
Pada bagian akhir bab berisi materi praktek dan lembar penilaian. Dengan
mengerjakan soal atau tugas dan mencocokan hasil pekerjaan yang telah dibuat
dengan kunci jawaban yang ada, peserta diklat dapat mengukur pencapaian hasil
belajarnya.

3.1.2. Relevansi

Materi yang dibahas dalam bab ini merupakan materi pokok yang harus
dikuasai peserta diklat untuk mengajar di SMK Program Keahlian Teknik
Ketenagalistrikan, khususnya tentang instalasi motor listrik dan kontrol motor listrik
berbasis konvensional dan PLC. Dengan menguasai materi ini maka peserta diklat
dapat mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, serta dapat menanamkan sikap
yang dituntut dunia kerja kepada siswa SMK.

79
3.1.3. Capaian Pembelajaran

Capaianpembelajaran materi ini adalah:


a. Mampu merangkai kontrol motor listrik sistem konvensional dan berbasis PLC
sesuai dengan fungsinya sehingga dapat bekerja dengan baik, dengan sub capaian:
- Memahamijenis dan fungsikontrol motor listrik, jenis peralatan seperti
kontaktor, TOL, Timer, indikator lamp, push-buthon, fuse tube, PLC secara
keseluruhan
- Mempraktekkan pemilihan jenis rangkaian kontrol motor listrik, peralatan
kontrol motor listrik, jenis kabel dan jenis pengaman sesuai dengan fungsinya
- Mempraktekkan penginstalasian kontrol motor listrik
- Mempraktekkanpengetesan/ pengujian kontrol motor listrik
b. Mampu memasang, menginspeksi, menganalisis hasil inspeksi dan memelihara
kontrol motor listrik sistem konvensional dan berbasis PLC, dengan sub capaian:
- Mempraktekkan rangkaian/pemasangankontrol motor listriksistem
konvensional dan berbasis PLC.
- Mempraktekkan penginspeksian rangkaian/pemasangankontrol motor
listriksistem konvensional dan berbasis PLC.
- Menganalisis hasil inspeksi rangkaian/pemasangankontrol motor listriksistem
konvensional dan berbasis PLC.
- Mempraktekkanpemeliharaanrangkaian/pemasangankontrol motor
listriksistem konvensional dan berbasis PLC.

3.2. Materi Kontrol Motor Listrik

3.2.1 Kontrol Konvensional Berbasis Kontaktor

Secara umum kontrol adalah suatu sistem yang dapat mengendalikan sesuatu
proses sehingga dapat bekerja dengan baik dan terkendali. Untuk mengontrol suatu
proses diperlukan suatu perangkat, peralatan yang disusun sesuai tujuan yang akan
digunakan dan dapat bekerja dengan baik. Kontrol konvensional berbasis kontaktor
dalam bahasan ini yang mana peralatan utamanya adalah: kontaktor magnet, thermal
overload relay, push-button dan accesoris yang digunakan dalam sistem kontrol
tersebut.

80
Gambar 3.1 Kontaktor magnet dan Themal Overload
Relay

NC= Normally
close
NO= Normally
Open
Coil = kumparan
magnet
L = terminal load
beban
A = Terminal coil
TOL= thermal over
load

Gambar 3.2 Kontruksi kontaktor magnet dan TOL

3.2.1.1. Kontrol Motor Listrik DOL

Kontrol motor listrik DOL (direct on line) adalah sistem kontrol yang umum
digunakan untuk menjalankan motor listrik. Namun demikian sistem DOL dapat juga
digunakan untuk sistem pengoperasian penerangan listrik. Dalam bahasan ini
dijelaskan sistem DOL untuk menjalankan motor listrik sistem 3 phasa.
Mengoperasikan motor listrik yang dayanya di bawah 5 HP biasanya menggunakan
sistem DOL dengan pertimbangan motor tersebut masih memerlukan arus yang relatif
kecil, sehingga arus mula yang dibutuhkannya juga kecil.

81
Berikut sistem kontrol DOL untuk menjalankan motor listrik 3 phasa.

Gambar 3.3.Rangkaian kontrol direct on line

Gambar3.4 Instalasi tenaga direct on line

Tugas Kontrol Motor DOL:

Hubungkan rangkaian kontrol DOL dan rangkaian instalasi tenaga DOL di


atas menjadi rangkaian pengawatan dengan menggunakan perlengkapan listrik seperti
di bawah ini. Dalam rangkaian pengawatan tersebut dilengkapi dengan lampu
indikator yang memberikan tanda bila suplai jala-jala stand-by salah lampu warna
hijau menyala dan bila motor bekerja maka lampu hijau menyala.
Simbu-simbul peralatan listrik seperti gambar di bawah ini, anda diminta
menghubungi-hubungkan saja sesuai dengan Rangkaian kontrol yang anda buat.

82
Gambar 3.5. Tugas merangkai kontrol DOL dengan kontrol konvensional

Keterangan:
a) Lampu indikator berfungsi untuk memberi tanda, apakah sistem bekerja atau mati
b) Push button berfungsi sebagai tombol untuk menjalankan dan mematikan motor
listrik
c) Kontaktor magnet berfungsi sebagai saklar untuk menjalankan motor listrik
Perhatikan bahwa, terminal beban L1,2,3,4,5,6 hanya untuk hubungan ke terminal
motor listrik, sedangkan terminal auxiliary hanya untuk rangkaian kontrol
d) TOR(thermal overload ) atau T .O. R. (thermal overload relay) berfungsi untuk
mengamankan/ memutuskan motor listrik atau rangkaian bila terjadi gangguan
atau over-load pada motor listrik.
e) Motor induksi 3 phasa adalah suatu mesin yang menghasilkan tenaga mekanik
untuk menggerakkan peralatan tertentu.

3.2.1.2. Kontrol motor listrik forward-reverse

Kontrol motor listrik forward-reverse diperlukan untuk keperluan di industri.


Seperti halnya untuk menjalankan konveyor, eskalator, dll. Untuk mengubah putaran
motor 3 phasa dapat dilakukan dengan menukar salah satu phasa jala-jala ke motor
listrik induksi 3 phasa. Contohnya apabila sistem tegangan yang masuk ke jala-jala

83
motor adalah tegangan phasa VR,VS, VT dengan arah putaran ke kanan, apabila
putaran motor dibalik arahnya menjadi ke kiri, maka tegangan phasa diubah menjadi
tegangan phasa VR,VT, VS
Rangkaian kontrol forward-reverse adalah sebagai berikut:

Gambar 3.6 Rangkaian instalasi Gambar 3.7 Rangkaian kontrol


tenaga forward-reverse forward-reverse

Untuk membuat rangkaian kontrol forward-reverse diperlukan 2 bh kontaktor,


thermal overload relay, tombol push-button, MCB, fuse kaca tabung, lampu
indikator dan kabel NYA/NYAHY, serta accessories lainnya yang dapat dipandang
perlu sehingga sistem kontrol tersebut bekerja dengan baik. Menentukan kapasitas
pengaman, kontaktor, TOL dan konduktor yang akan digunakan dalam rangkaian
ditentukan dari besar daya motor listrik yang akan diasut (dijalankan) agar kontrol
dapat bekerja dengan aman dan handal.
Untuk menentukan besarnya pengaman yang digunakan dalam sistem kontrol
tersebut terlebih dahulu besar daya, P motor listrik yang akan dijalankan. Langkah
perhitungannya seperti di bawah ini:

84
IMCB= I x (110 – 250 %)

Jadi kapasitas pengaman dilihat dalam tabel standar besaran pengaman MCB
besaran hasil dari perhitungan antara 110% - 250%.Hal yang sama juga digunakan
dalam menentukan nilai besaran thermal overload (TOR) dan kekuatan daya hantar
kontak-kotak pada kontaktor magnet.

3.2.1.3. Kontrol Motor Listrik Star-Delta

Untuk menjalankan/ mengasut motor yang kapasitas daya besar di atas 5 HP


(1 HP = 746 watt). Harus menggunakan sistem kontrol direct online star-
delta.Menggunakan sistem ini dapat memperkecil arus mula (starting current) agar
tidak mengganggu daya listrik secara keseluruhan dalam sistem daya listrik konsumen
(industri, dll).Adapun uraian analisisnya sebagai berikut.perhitungannya seperti di
bawah ini:
Bila motor listrik mempuyai daya P, tegangan listrik jala-jala, VL, tegangan phasa-
neutral, Vf

Saat di hubungkan delta dan bintang maka persamaan:

Dalam hubungan delta arus listrik yang mengalir pada jaringan adalah

Dalam hubungan bintang arus listrik yang mengalir pada jaringan adalah

85
Gambar rangkaian hubungan star-delta seperti dijelaskan di bawah ini.

Gambar 3.8 Rangkaian kontrol star delta

Gambar 3.9 Instalasi tenaga rangkaian star-delta

Gambar 3.10 Rangkaian lengkap kontrol motor star-delta konvensional

86
3.2.2. Kontrol Motor Berbasis Programmable Logic Controler

Programmable Logic Controller (PLC) adalah sistem kontrol yang digunakan


untuk mengendalikan suatu sistem instalasi tenaga listrik, khususnya sistem kontrol
motor-motor listrik. Kelebihan pengontrolan motor listrik menggunakan PLC
dibanding sistem konvensional adalah lebih simple dalam sistem pengawatan kontrol,
efisien dalam pemakaian bahan-bahan dan peralatan listrik, efektif dalam pemakaian
dan mudah dalam mengoperasikan, serta trouble shooting. PLC terdiri dari central
Processing Unit (CPU) yang berisi aplikasi program, input, dan out-put.

Gambar 3.11: Diagram blok sistem PLC input/Output

Perlu diketahui bahwa sistem blok diagram PLC dari gambar di atas sebagai berikut:

Gambar 3.12: Diagram blok konfiguasi sistem PLC input/ output

87
3.2.2.1 Simbol-simbol dalam Program Ladder PLC Omron

B
B: Bit
LOAD IR, SR, AR, TIM/CNT,LR,TR
(LD)

B
LOAD NOT B: Bit
(LD NOT) IR, SR, AR, TIM/CNT,LR,TR

B B: Bit
AND (AND) IR, SR, AR, TIM/CNT,LR,TR

B B: Bit
AND NOT IR, SR, AR, TIM/CNT,LR,TR
(AND NOT)

B: Bit
AND NOT B IR, SR, AR, TIM/CNT,LR,TR
(AND NOT)

B: Bit
OR NOT
B IR, SR, AR, TIM/CNT,LR,TR
(OR NOT)

OUTPUT B: Bit
(OUT) IR, SR, AR,LR,TR, HR

OUTPUT NOT B: Bit


(OUT NOT) IR, SR, AR,LR, HR

Rangkaian Ladder Program

Penyusunan ladder program dapat dilakukan instruksi sbb:

a). Menyusun rangkaian DOL dilakukan melalui perintah/ simbul kontak NO, NC dan
coil :

88
B B B

COIL

b). Menyusun kontak DOL menggunakan perintah SET-RSET

S (SET)
KEEP (11) B: Bit
IR, SR, AR,LR, HR
R (RESET)
B

c). Perintah/ instruksi untuk timer/counter

 timer
N: TIM/CNT NUMBER
TIM N #

SV
SV: Set Value (word BCD)
IR, SR, AR,LR, HR, #

 counter

CP N: TIM/CNT NUMBER
CNT N #

R SV
SV: Set Value (word BCD)
IR, SR, AR, DM, LR, HR, #

 counter reverse
INCREMENT INPUT
N: TIM/CNT NUMBER
CNTR(12) #
DICREMENT INPUT
N
RESET
SV
SV: Set Value (word BCD)
IR, SR, AR, DM, LR, HR, #

d). Perintah/instruksi Compare

89
Untuk menjalankan perintah compare, sebaiknya diikuti dengan perintah DIFU/DIFD;
MOVE; INC :

 Compare:

CMP(20)
Cp1: First compare word
Cp1 IR, SR, AR,DM, HR, LR, TIM/CNT, #

Cp2 Cp2: Second compare word


IR, SR, AR,DM, HR, LR, TIM/CNT, #

 DIFU/DIFD

B: Bit
DIFU (13) B IR, SR, AR,LR, HR

B: Bit
DIFD (14) B IR, SR, AR,LR, HR

 Perintah/ Instruksi MOV:

MOV(21) S: Source word


IR, SR, AR,DM, HR, LR, TIM/CNT
S

 Increament (INC)

INC (++B) S: Source word


IR, SR, AR,DM, HR, LR,

3.2.2.2 Intruksi pada PLC Omron

Di dalam PLC ada memory yang berfungsi dalam penyusunan program ladder :

• IR – Internal relay
Internal relay mempunyai pembagian fungsi seperti IR input, IR output, dan juga IR
work area (untuk pengolahan data pada program). IR input dan IR output adalah IR
yang berhubungan dengan terminal input dan terminal output pada PLC. Sedangkan
IR work area tidak dihubungkan ke terminal PLC, akan tetapi berada dalam Internal
memory PLC dan fungsinya untuk pengolahan logika program (manupilasi program).

90
• SR – Spesial Relay
Spesial relay adalah relay yang mempunyai fungsi-fungsi khusus seperti flags (status),
kontrol bits, informasi kondisi PLC, dan sistem clock (pulsa 1 detik, 0,2 detik dll).
• AR Auxiliary Relay
Terdiri dari flags dan bits untuk tujuan tujuan khusus. Dapat menunjukkan kondisi
PLC yang disebabkan oleh kegagalan sumber tegangan, kondisi Spesial I/O, kondisi
input/output unit. Kondisi CPU PLC, kondisi memori PLC dll.
• HR - Holding Relay
Dapat difungsikan untuk menyimpan data (bit-bit penting) karena tidak akan hilang
walaupun sumber tegangan PLC mati.
 LR – Link Relay
Digunakan untuk link pada PLC link system. Artinya untuk tukar menukar informasi
anatar dua PLC atau lebih dalam suatu sistem kontrol yang saling berhubungan satu
dengan yang lain dan menggunakan banyak PLC.
 TR – Temporary Relay
Berfungsi untuk penyimpanan sementara kondisi logika program pada ladder diagram
yang mempunyai titik percabangan khusus.
 TC – Timer Counter
Untuk mendifinisikan suatu sistem waktu tunda / time delay (TIMER) ataupun untuk
penghitung (COUNTER). Untuk timer mempunyai orde 100 ms, ada yang
mempunyai orde 10 ms yaitu TIMH(15). Untuk TIM 000 s/d TIM 015 dapat
dioperasikan secara interupt untuk mendapatkan waktu yang lebih presisi.
 DM – Data Memory
Data memory berfungsi untuk menyimpan data-data karena isi DM tidak akan hilang
(reset) walupun sumber tegangan PLC mati dapat difungsikan untuk menyimpan data
(bit-bit penting) karena tidak akan hilang walaupun sumber tegangan PLC mati.

Tabel 3.1. Struktur Memori PLC Omron tipe CQM1H/CP1L

Data Size Words Bits


Area

IR INPUT 256 bits IR 000 to IR 015 IR 00000 to IR 01515


area

91
OUT PUT 256 bits IR 100 to IR 115 IR 10000 to IR 11515
AREA

WORK 2.528 IR 016 to IR 089 IR 01600 to IR 08915


area

DM area 3.072 DM 0000 to DM


3071

SR area 184 bits SR 244 to SR 255 SR 24400 to SR 25507

HR area 1.600 bits HR 00 to HR 99 HR 0000 to HR 9915

AR area 448 bits AR 00 to AR 27 AR 0000 to AR 2715

Timer/ 512 Bits TIM/CNT 000 to


Counter TIM/CNT 511
area

3.2.2.3. Kontrol Otomasi berbasis PLC

a. Kontrol Otomasi DOL berbasis PLC

Bila menggunakan PLC Omron tipe CP1L, menyusun program ladder dapat
dilakukan sbb:

Gambar 3.13. Kontrol DOL motor listrik berbasis PLC

92
b. Kontrol Forward-Reverse Motor Listrik Berbasis PLC
Bila menggunakan PLC Omron tipe CP1L, menyusun program ladder dapat
dilakukan sbb:

Gambar 3.14. kontrol forward-reverse motor listrik berbasis PLC


(Memakai PLC Omron tipe CP1L / CQM1H)

c. Kontrol Star-Delta Motor Listrik Berbasis PLC

93
Gambar 3.15. kontrol star-delta motor listrik berbasis PLC
(Memakai PLC Omron tipe CP1L / CQM1H)

3.2.2.4. Instalasi dan Pengasutan Motor Berbasis PLC

Program ladder setelah di download ke PLC, selanjutnya di test apakah


program ladder sudah pasti benar. Bila tidak ada PLC untuk mengecek kebenaran
program dapat dilakukan dengan menggunakan perintah simulator pada lembar kerja
saat menyusun program ladder di komputer anda.
Selanjutnya apabila program sudah dipastikan bekerja dengan baik,
selanjutnya dirangkai ke motor listrik yang akan digunakan. Pada contoh ini
diperlihatkan bagaimana merangkai kontrol DOL untuk menjalankan motor listrik 3
phasa.

94
Gamnbar 3.16 Rangkaian pengawatan DOL berbasis PLC

3.2.2.5. Inspeksi Instalasi dan Pengasutan Motor Berbasis PLC

Setelah merangkai instalasi motor listrik yang dioperasikan dengan kontrol


PLC selanjutnya instalasi tersebut dilakukan pengujian menggunakan alat-alat ukur
AVO/ multi tester dan meger. Menurut ketentuan PUIL2000 bahwa tahanan tembus
isolasi konduktor sebaiknya lebih besar atau sama dengan 1000/volt. Jadi karena otor
listrik ini dioperasikan dengan kerja 380 V maka tahanan isolasi kabel dan peralatan
lainnya lebih besar dari 500 KOhm. Proses pengujian dapat dilakukan kabel antar
phasa, kabel nol dengan kabel phasa.

95
3.2.2.6. Pemeliharaan Instalasi dan Pengasutan Motor Berbasis PLC

Untuk memelihara instalasi motor listrik berbasis PLC, yang paling penting
diperhatikan adalah dalam memasang pengaman yang akan digunakan dalam
pengamanan motor listrik dan kontrol PLC. Untuk menghitung ketentuan pengaman
(MCB/MCCB/ Fuse) dapat dilihat pada penjelasan pada Bab I. Selain itu, kabel yang
telah dipasang harus di cek secara berkala untuk menghindari terjadinya lost kontak
pada terminal-terminal.

96
3.3. Praktek Kontrol Motor Listrik

Manajemen Waktu Kontrol Motor Listrik

Total waktu = 2 x 170 menit x 14 tatap muka = 4.760 menit =79.3 Jam
Judul Praktikum Waktu
a Merancang kontrol motor listrik sesuai dengan kebutuhan 2x170’x1 TM
b Memasang berbagai jenis kontrol motor listrik 2x170’x4 TM
c Menginspeksi kinerja kontrol motor listrik 2x170’x1 TM
d Memelihara kontrol motor listrik 2x170’x1 TM
e Merancang kontrol motor listrik berbasis PLC 2x170’x1 TM
f Memasang berbagai jenis kontrol motor listrik berbasis 2x170’x4 TM
PLC
g Menginspeksi kinerja kontrol motor listrik berbasis PLC 2x170’x1 TM
h Memelihara kontrol motor listrik berbasis PLC 2x170’x1 TM

3.3.1. Praktek Kontrol Motor Konvensional


a. Praktek merancang kontrol motor listrik sesuai dengan kebutuhan
Kegiatan merancang kontrol motor listrik Waktu
Penjelasan dasar teori merancang kontrol motor listrik 30 menit
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 170 menit x 1 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

b. Praktek memasang berbagai jenis kontrol motor listrik


Kegiatan merancang kontrol motor listrik Waktu
Penjelasan dasar teori instalasi berbagai jenis kontrol motor 30 menit
listrik
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 170 menit x 3 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

c. Praktek menginspeksi kinerja kontrol motor listrik


Kegiatan menginspeksi kinerja kontrol motor listrik Waktu
Penjelasan dasar teori inspeksi kinerja kontrol motor listrik 30 menit
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 170 menit x 1 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

97
d. Praktek memelihara kontrol motor listrik
Kegiatan memelihara kontrol motor listrik Waktu
Penjelasan dasar teori merancang kontrol motor listrik 30 menit
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 170 menit x 1 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

98
JOBSHEET 1
KONTROL MOTOR LISTRIK KONVENSIONAL
PRAKTEK TEKNIK PENGASUTAN MOTOR LISTRIK
DIRECT ONLINE (DOL)

Topik
Praktek pengasutan mesin induksi 3 phasa direct online dengan kontrol self
holding
Pendahuluan
Untuk menjalankan atau melakukan pengasutan mesin-mesin listrik harus
dilakukan secara tepat dana benar. Hal itu bertujuan untuk menjaga agar motor
tidak cepat rusak dan konsumsi daya yang diserap oleh mesin menjadi efisien.
Atas dasar itu dilakukan metode pengasutan mesin-mesin listrik. Untuk mesin-
mesin yang kapasitas dayanya kecil, tidak lebih dari 5 HP. teknik
penghasutannya dapat menggunakan sistem push-button switch yang
dilengkapi dengan kontaktor magnet dan thermal over-load.
Teori Dasar
Berikut konstruksi dasar dari kontaktor magnet, Push-button, thermal over-
load.

99
Keterangan:
f) Lampu indikator berfungsi untuk memberi tanda, apakah sistem bekerja atau mati
g) Push button berfungsi sebagai tombol untuk menjalankan dan mematikan mesin
h) Kontaktor magnet berfungsi sebagai relay untuk menjalankan mesin kapasitas
daya besar
Perhatikan bahwa, terminal beban L1,2,3,4,5,6 hanya untuk hubungan ke terminal
mesin-mesin atau motor, sedangkan terminal auxiliary hanya untuk rangkaian
kontrol
i) TOR (Thermal Overload Relay) berfungsi untuk mengamankan/ memutuskan
mesin atau rangkaian bila terjadi gangguan atau over-load pada mesin.
j) Motor induksi 3 phasa adalah suatu mesin yang menghasilkan tenaga mekanik
untuk menggerakkan peralatan tertentu.

Tugas Jobsheet 1:
1. Buat gambar rangkaian kontrol pengasutan motor model push-button sistim over-
load
2. Buat gambar rangkaian pengawatan sistem kontrol ini mulai dari sumber, kontrol
sampai ke motor listrik
3. Lakukan percobaan rangkaian sistem kontrol ini dengan menggunakan media
percobaan yang telah disediakan
4. Apabila rangkaian kontrol sudah selesai, lakukan percobaan / pengujian dengan
persetujuan instruktur.
5. Hubungkan rangkaian kontrol dengan motor indusksi yang telah disediakan.
6. Buat laporan praktek rangkaian ini mulai dari rangkaian kontrol, rangkaian
pengawatan

100
JOBSHEET 2
KONTROL MOTOR LISTRIK KONVENSIONAL
PRAKTEK TEKNIK PENGASUTAN MOTOR LISTRIK
FORWARD-REVERSE

Topik
Praktek pengasutan mesin induksi 3 phasa dengan teknik kontrol otomatis
Forward-revers menggunakan 3 bh tombol push-button switch, 2 bh kontaktor
magnet, 1 bh TOR. Dalam kegiatan praktek, mahasiswa ditugasi mulai dari
merancang kontrol, membuat rangkaian dan sampai dengan menjalankan
mesin listrik.
Pendahuluan
Putaran motor induksi 3 phasa dapat diubah arahnya (putaran maju atau
mundur) dengan cara menukar salah satu tegangan phasa jala-jala. Untuk
mengubah salah satu phasa maka diperlukan dua buah kontaktor magnet yang
dapat bekerja secara bergantian. Untuk membuat rangkaian kontrol ini
diperlukan 3 bh tombol push-button, 2 bh kontaktor magnet, 1 bh TOR, dan 3
bh lampu indikator.
Teori Dasar
Berikut konstruksi dasar dari kontaktor magnet, push-button, TOR.
Penjelasan
a) Lampu indikator berfungsi untuk memberi tanda, apakah sistem bekerja atau mati
b) Push button berfungsi sebagai tombol untuk menjalankan dan mematikan mesin
c) Kontaktor magnet berfungsi sebagai relay untuk menjalankan mesin kapasitas
daya besar
Perhatikan bahwa, terminal beban L1,2,3,4,5,6 hanya untuk hubungan ke terminal
mesin-mesin atau motor, sedangkan terminal auxiliary hanya untuk rangkaian
kontrol
d) TOR (Thermal Overload Relay) berfungsi untuk mengamankan/ memutuskan
mesin atau rangkaian bila terjadi gangguan atau over-load pada mesin.
e) Motor induksi 3 phasa adalah suatu mesin yang menghasilkan tenaga mekanik
untuk menggerakkan peralatan tertentu.

101
Tugas Jobsheet 2:
1. Buat gambar rangkaian kontrol pengasutan motor model forward-rivers
2. Buat gambar rangkaian pengawatan sistem kontrol ini mulai dari sumber, kontrol
sampai ke motor listrik
3. Lakukan percobaan rangkaian sistem kontrol ini dengan menggunakan media
percobaan yang telah disediakan
4. Apabila rangkaian kontrol sudah selesai, lakukan percobaan / pengujian dengan
persetujuan instruktur.
5. Hubungkan rangkaian kontrol dengan motor indusksi yang telah disediakan.
6. Buat laporan praktek rangkaian ini mulai dari rangkaian kontrol, rangkaian
pengawatan

102
JOBSHEET 3
KONTROL MOTOR LISTRIK KONVENSIONAL
PRAKTEK TEKNIK PENGASUTAN MOTOR LISTRIK
STAR-DELTA

Topik
Praktek pengasutan mesin induksi 3 phasa dengan teknik kontrol otomatis
Star-delta.
Pendahuluan
Untuk menjalankan motor induksi yang kapasitas dayanya besar, dapat
dilakukan dengan cara pengasutan star-delta (bintang-segitiga).
Peralatan listrik yang digunakan antara lain: 2 bh tombol push-button switch, 3
bh kontaktor magnet, 1 bh TOR dan 1 bh timer.
Tujuan
Tujuan dari teknik pengasutan star-delta adalah untuk memperkecil arus mula
motor / mesin sehingga tidak mengganggu keberadaan daya yang tersedia.
Dengan sistem ini dimungkinkan arus starting (mula) mesin menjadi 1/3 arus
mula start dari sistem ON-OFF konvensional.
Teori Dasar
Berikut konstruksi dasar dari kontaktor magnet, Push-button, TOR
Penjelasan:
a) Lampu indikator berfungsi untuk memberi tanda, apakah sistem bekerja atau mati
b) Push button berfungsi sebagai tombol untuk menjalankan dan mematikan mesin
c) Kontaktor magnet berfungsi sebagai relay untuk menjalankan mesin kapasitas
daya besar
Perhatikan bahwa, terminal beban L1,2,3,4,5,6 hanya untuk hubungan ke terminal
mesin-mesin atau motor, sedangkan terminal auxiliary hanya untuk rangkaian
kontrol
d) TOR (Thermal Overload Relay) berfungsi untuk mengamankan/ memutuskan
mesin atau rangkaian bila terjadi gangguan atau over-load pada mesin.
e) Motor induksi 3 phasa adalah suatu mesin yang menghasilkan tenaga mekanik
untuk menggerakkan peralatan tertentu.

103
Tugas Jobsheet 3:
1. Buat gambar rangkaian kontrol pengasutan motor model Star-delta
2. Buat gambar rangkaian pengawatan sistem kontrol ini mulai dari sumber, kontrol
sampai ke motor listrik
3. Lakukan percobaan rangkaian sistem kontrol ini dengan menggunakan media
percobaan yang telah disediakan
4. Apabila rangkaian kontrol sudah selesai, lakukan percobaan / pengujian dengan
persetujuan instruktur.
5. Hubungkan rangkaian kontrol dengan motor indusksi yang telah disediakan.
6. Buat laporan praktek rangkaian ini mulai dari rangkaian kontrol, rangkaian
pengawatan

104
3.3.2. Praktek Kontrol Motor Berbasis PLC

e. Merancang kontrol motor listrik berbasis PLC


Kegiatan merancang kontrol motor listrik berbasis PLC Waktu
Penjelasan dasar teori merancang kontrol motor listrik 30 menit
berbasis PLC
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 170 menit x 1 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

f. Praktek memasang berbagai jenis kontrol motor listrik berbasis PLC


Kegiatan merancang kontrol motor listrik Waktu
Penjelasan dasar teori instalasi berbagai jenis kontrol motor 30 menit
listrik berbasis PLC
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 170 menit x 3 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

g. Praktek menginspeksi kinerja kontrol motor listrik berbasis PLC


Kegiatan Menginspeksi kinerja kontrol motor listrik Waktu
berbasis PLC
Penjelasan dasar teori inspeksi kinerja kontrol motor listrik 30 menit
berbasis PLC
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 170 menit x 1 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

h. Praktek memelihara kontrol motor listrik berbasis PLC


Kegiatan memelihara kontrol motor listrik berbasis PLC Waktu
Penjelasan dasar teori memelihara kontrol motor listrik 30 menit
berbasis PLC
Penjelasan peralatan praktikum 20 menit
Pelaksanaan praktikum dan penilaian praktek 170 menit x 1 TM
Pembuatan laporan praktikum 120 menit

105
JOBSHEET 4
KONTROL MOTOR LISTRIK BERBASIS PLC
PRAKTEK TEKNIK PENGASUTAN MOTOR LISTRIK
DIRECT ONLINE (DOL)

Topik
Praktek pengasutan mesin induksi 3 phasa direct on line dengan kontrol self
holding
Pendahuluan
Untuk menjalankan atau pengasutan mesin-mesin listrik harus dilakukan
secara tepat dana benar. Hal itu bertujuan untuk menjaga agar motor tidak
cepat rusak dan konsumsi daya yang diserap oleh mesin menjadi efisien. Atas
dasar itu dilakukan metode pengasutan mesin-mesin listrik. Untuk mesin-
mesin yang kapasitas dayanya kecil, tidak lebih dari 5 HP. teknik
penghasutannya dapat menggunakan sistem push-button switch yang
dilengkapi dengan kontaktor magnet dan thermal over-load.

Teori Dasar
Berikut konstruksi dasar dari kontaktor magnet, Push-button, TOR.

Keterangan:
a) Lampu indikator berfungsi untuk memberi tanda, apakah sistem bekerja atau mati
b) Push button berfungsi sebagai tombol untuk menjalankan dan mematikan mesin
c) Kontaktor magnet berfungsi sebagai relay untuk menjalankan mesin kapasitas
daya besar
Perhatikan bahwa, terminal beban L1,2,3,4,5,6 hanya untuk hubungan ke terminal
mesin-mesin atau motor, sedangkan terminal auxiliary hanya untuk rangkaian
kontrol
d) TOR (Thermal Overload Relay) atau T .O. R. (thermal over load relay) berfungsi
untuk mengamankan/ memutuskan mesin atau rangkaian bila terjadi gangguan
atau over-load pada mesin.
e) PLC Omron tipe CPMA, CPM1A, CP1l
f) Motor induksi 3 phasa adalah suatu mesin yang menghasilkan tenaga mekanik
untuk menggerakkan peralatan tertentu.

106
Tugas Jobsheet 4:
1. Buat gambar rangkaian kontrol pengasutan motor model push-button sistim over-
load
2. Buat gambar rangkaian pengawatan sistem kontrol ini mulai dari sumber, kontrol
sampai ke motor listrik
3. Lakukan percobaan rangkaian sistem kontrol ini dengan menggunakan media
percobaan yang telah disediakan
4. Apabila rangkaian kontrol sudah selesai, lakukan percobaan / pengujian dengan
persetujuan instruktur.
5. Hubungkan rangkaian kontrol dengan motor indusksi yang telah disediakan.
6. Buat laporan praktek rangkaian ini mulai dari rangkaian kontrol, rangkaian
pengawatan

107
JOBSHEET 5
KONTROL MOTOR LISTRIK BERBASIS PLC
PRAKTEK TEKNIK PENGASUTAN MOTOR LISTRIK
FORWARD-REVERSE

Topik
Praktek pengasutan mesin induksi 3 phasa dengan teknik kontrol otomatis
Forward-revers menggunakan 3 bh tombol push-button switch, 2 bh kontaktor
magnet, 1 bh thermal over-load switch. Dalam kegiatan praktek, mahasiswa
ditugasi mulai dari merancang kontrol, membuat rangkaian dan sampai dengan
menjalankan mesin listrik.
Pendahuluan
Putaran motor induksi 3 phasa dapat diubah arahnya (putaran maju atau
mundur) dengan cara menukar salah satu tegangan phasa jala-jala. Untuk
mengubah salah satu phasa maka diperlukan dua buah kontaktor magnet yang
dapat bekerja secara bergantian. Untuk membuat rangkaian kontrol ini
diperlukan 3 bh tombol push-button, 2 bh kontaktor magnet, 1 bh thermal
over-load, dan 3 bh lampu indikator.
Teori Dasar
Berikut dibarikan gambar konstruksi dasar dari kontaktor magnet, push-
button, TOR.
Penjelasan
a) Lampu indikator berfungsi untuk memberi tanda, apakah sistem bekerja atau mati
b) Push button berfungsi sebagai tombol untuk menjalankan dan mematikan mesin
c) Kontaktor magnet berfungsi sebagai relay untuk menjalankan mesin kapasitas
daya besar. Perhatikan bahwa, terminal beban L1,2,3,4,5,6 hanya untuk hubungan ke
terminal mesin-mesin atau motor, sedangkan terminal auxiliary hanya untuk
rangkaian kontrol
d) PLC Omron tipe CPMA, CPM1A, CP1l
e) TOR (Thermal Overload Relay) berfungsi untuk mengamankan/ memutuskan
mesin atau rangkaian bila terjadi gangguan atau over-load pada mesin.
f) Motor induksi 3 phasa adalah suatu mesin yang menghasilkan tenaga mekanik
untuk menggerakkan peralatan tertentu.

108
Tugas Jobsheet 5:
1. Buat gambar rangkaian kontrol pengasutan motor model forward-rivers
2. Buat gambar rangkaian pengawatan sistem kontrol ini mulai dari sumber, kontrol
sampai ke motor listrik
3. Lakukan percobaan rangkaian sistem kontrol ini dengan menggunakan media
percobaan yang telah disediakan
4. Apabila rangkaian kontrol sudah selesai, lakukan percobaan / pengujian dengan
persetujuan instruktur.
5. Hubungkan rangkaian kontrol dengan motor indusksi yang telah disediakan.
6. Buat laporan praktek rangkaian ini mulai dari rangkaian kontrol, rangkaian
pengawatan

109
JOBSHEET 6
KONTROL MOTOR LISTRIK BERBASIS PLC
PRAKTEK TEKNIK PENGASUTAN MOTOR LISTRIK
STAR-DELTA

Topik
Praktek pengasutan mesin induksi 3 phasa dengan teknik kontrol otomatis
Star-delta.
Pendahuluan
Untuk menjalankan motor induksi yang kapasitas dayanya besar, dapat
dilakukan dengan cara pengasutan star-delta (bintang-segitiga).
Peralatan listrik yang digunakan antara lain: 2 bh tombol push-button switch, 3
bh kontaktor magnet, 1 bh thermal over-load switch dan 1 bh timer.
Tujuan
Tujuan dari teknik pengasutan star-delta adalah untuk memperkecil arus mula
motor / mesin sehingga tidak mengganggu keberadaan daya yang tersedia.
Dengan sistem ini dimungkinkan arus starting (mula) mesin menjadi 1/3 arus
mula start dari sistem ON-OFF konvensional.
Teori Dasar
Berikut konstruksi dasar dari kontaktor magnet, push-button, TOR.
Penjelasan:
a) Lampu indikator berfungsi untuk memberi tanda, apakah sistem bekerja atau mati
b) Push button berfungsi sebagai tombol untuk menjalankan dan mematikan mesin
c) Kontaktor magnet berfungsi sebagai relay untuk menjalankan mesin kapasitas
daya besar. Perhatikan bahwa, terminal beban L1,2,3,4,5,6 hanya untuk hubungan ke
terminal mesin-mesin atau motor, sedangkan terminal auxiliary hanya untuk
rangkaian kontrol
d) PLC Omron tipe CPMA, CPM1A, CP1l
e) TOR (Thermal Overload Relay) berfungsi untuk mengamankan/ memutuskan
mesin atau rangkaian bila terjadi gangguan atau over-load pada mesin.
f) Motor induksi 3 phasa adalah suatu mesin yang menghasilkan tenaga mekanik
untuk menggerakkan peralatan tertentu.

110
Tugas Jobsheet 6.1:
1. Buat gambar rangkaian kontrol pengasutan motor model Star-delta
2. Buat gambar rangkaian pengawatan sistem kontrol ini mulai dari sumber, kontrol
sampai ke motor listrik
3. Lakukan percobaan rangkaian sistem kontrol ini dengan menggunakan media
percobaan yang telah disediakan
4. Apabila rangkaian kontrol sudah selesai, lakukan percobaan / pengujian dengan
persetujuan instruktur
5. Hubungkan rangkaian kontrol dengan motor indusksi yang telah disediakan.
6. Buat laporan praktek rangkaian ini mulai dari rangkaian kontrol, rangkaian
pengawatan

111
Tugas Jobsheet 6.2:

Buat Program ladder untuk menjalankan motor unduksi 3 phasa. Untuk menjalankan
motor tersebut memakai instruksi counter (CNT). Bila tombol PB ON ditekan 5 kali
maka motor bekerja dengan arah putaran forward (maju) 2 second, stop 0,4 second
dan reverse 2 second dan stop 0,4 second dan kembali ke arah putaran forward dst.
Motor akan berhenti bila tombol push-button OFF di tekan. Motor berhenti bila
tombol OFF ditekan.

Referensi

 A.M. Marsden & S.T. Henderson, 1981, Lamps and Lighting, Tanner Ltd. Frome
and London
 Gunter G. Seip, 1980, Electrical Instalation Handbook. Siemens Heyden & Son
LTD. London
 James G. Stallcup, 1990, Designing Electrical System, American Technical
Publishers, Inc. Homewood, Illinois.
 K3 kelistrikan
 Kusudiarso Hadinoto, 1985, Standard Penerangan Buatan di Dalam Gedung-
Gedung, Departemen Pekerjaan Umum, Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah
Bangunan, Jakarta.
 LIPI, Persyaratan Umum Instalasi Listrik Indonesia (PUIL) 2000.
 Mc. Grow-Hill, 1980, Electrical Drawing, England
 Philips Lighting, 1990, Catalogue (Daftar sumber cahaya lampu), Philips
 PUIL2000
 Soetopo Sabar, 1985 Standard Konstruksi Jaringan Distribusi Listrik Jawa Barat.
PLN Distribusi Jawab Barat
 Standar SNI
 Standar SPLN
 Standar LMK
 Suryatmo. F. 1990, Teknik Listrik Instalasi, Tarsito, Bandung
 Van. Harten, E. Setiawan, 1981, Instalasi Listrik Arus Kuat Jilid 1, 2, 3, Bina
Cipta Bandung.
 Von Albert F. Spitta, 1979, Electrical Installation Handbook, Siemens
Aktiengesellschaft Heyden & Son Ltd.

112
LAMPIRAN
CAPAIAN PEMBELAJARAN DAN RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER
MATA KEGIATAN PROGRAM KEAHLIAN

3.1 Instalasi Listrik Domestik

3.1.1 Capaian Pembelajaran (CP) dan Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan


(CPMK)

1 Program Studi : Teknik Ketenagalistrikan


2 Nama Kegiatan : Instalasi Listrik Domestik
3 Beban Belajar : 2 SKS (79.3 Jam) = 340 menit x 14 tatap muka
= 4.760 menit
4 CPMK dan Indikator :

Rumusan CPMK Sub CPMK


1. Mampu merancang, 1.1 menerapkan prinsip dasar instalasi dalam
merakit, memelihara, merancang instalasi listrik
menginspeksi, dan
menganalisis hasil 1.2 Mempraktekkan perakitan instalasi listrik
inspeksi dan memelihara tegangan rendah
Instalasi listrik pada 1.3 Mempraktekkan penginspeksian instalasi
bangunan sederhana
1.4 menganalisis hasil inspeksi
1.5 Mempraktekkan pemeliharaan Instalasi listrik
pada bangunan sederhana
2. Mampu merancang, 2.1 menerapkan prinsip dasar instalasi dalam
merakit, memelihara, merancang PHB
menginspeksi, dan
menganalisis hasil 2.2 Mempraktekkan perakitan PHB tegangan
inspeksi dan memelihara rendah
PHB Instalasi 2.3 Mempraktekkan penginspeksian PHB
penerangan pada 2.4 Menganalisis hasil inspeksi
bangunan sederhana 2.5 Mempraktekkan pemeliharaan PHB pada
bangunan sederhana
3. Mampu menginspeksi, 3.1 Mempraktekkan penginspeksian instalasi
menganalisis hasil sistem pembumian dan penangkal / penangkap
inspeksi dan memelihara petir
instalasi sistem
pembumian dan 3.2 menganalisis hasil inspeksi
penangkal / penangkap memelihara instalasi sistem pembumian dan
petir dan penangkal / penangkap petir

113
1 Program Studi : Teknik Ketenagalistrikan
2 Nama Kegiatan : Instalasi Tenaga Listrik
3 Beban Belajar : 2 SKS (79.3 Jam) = 340 menit x 14 tatap muka
= 4.760 menit
4 CPMK dan Indikator

RUMUSAN CPMK SUB CPMK


1. Mampu memilih jenis 1.1 Memahami jenis dan fungsi motor listrik, jenis
motor sesuai dengan kabel, jenis pengaman dan perlengkapan PHB
fungsinya dan 1.2 Mempraktekkan pemilihan jenis motor, jenis
menginstalasi kontrol kabel dan jenis pengaman sesuai dengan
motor listrik dan PHB fungsinya
1.3 Mempraktekkan penginstalasian kontrol motor
listrik
1.4 Mempraktekkan penginstalasian PHB kontrol
motor listrik
2. Mampu memasang, 2.1 Mempraktekkan pemasangan PHB lift dan
menginspeksi, pompa untuk hydrant, springkler, air bersih, air
menganalisis hasil kotor/limbah
inspeksi dan memelihara 2.2. Mempraktekkan penginspeksian PHB lift dan
PHB lift dan pompa pompa
untuk hydrant, springkler,
air bersih, air 2.3 Menganalisi hasil inspeksi PHB lift dan pompa
kotor/limbah)
2.4 Mempraktekkan pemeliharaan PHB lift dan
pompa

114
1 Program Studi : Teknik Ketenagalistrikan
2 Nama Kegiatan : Kontrol Motor Listrik (PM3)
3 Beban Belajar : 2 SKS (79.3 Jam) = 340 menit x 14 tatap muka
= 4.760 menit
4 CPMK dan Indikator

Rumusan CPMK Sub CPMK


1 Merancang kontrol motor listrik 1.1 Merancang Kontrol motor operasi DOL
sesuai dengan kebutuhan (Direct on Line)
1.2 Merancang Kontrol motor operasi
berurutan
1.3 Merancang Kontrol motor operasi
bergantian
1.4 Merancang Kontrol motor operasi
interlock
1.5 Merancang Kontrol motor operasi balik
putar (forward-reverse)
1.6 Merancang Kontrol motor operasi Y-D
2 Memasang berbagai jenis 2.1 Mempraktekkan pemasangan kontrol
kontrol motor listrik motor operasi DOL (Direct on Line)
2.2 Mempraktekkan pemasangankontrol
motor operasi berurutan
2.3 Mempraktekkan pemasangan kontrol
motor operasi bergantian
2.4 Mempraktekkan pemasangan Kontrol
motor operasi interlock
2.5 Mempraktekkan pemasangan kontrol
motor operasi balik putar (forward-
reverse)
2.6 Mempraktekkan pemasangan kontrol
motor operasi Y-D
3 Menginspeksi kinerja kontrol 3.1 Mempraktekkan penginspeksian kontrol
motor listrik motor operasi DOL (Direct on Line)
3.2 Mempraktekkan penginspeksian kontrol
motor operasi berurutan
3.3 Mempraktekkan penginspeksian kontrol
motor operasi bergantian
3.4 Mempraktekkan penginspeksian Kontrol
motor operasi interlock
3.5 Mempraktekkan penginspeksian kontrol
motor operasi balik putar (forward-
reverse)
3.6 Mempraktekkan penginspeksian kontrol
motor operasi Y-D
4 Memelihara kontrol motor 4.1 Mempraktekkan pemeliharaan kontrol
listrik motor operasi DOL (Direct on Line)

115
4.2 Mempraktekkan pemeliharaan kontrol
motor operasi berurutan
4.3 Mempraktekkan pemeliharaan kontrol
motor operasi bergantian
4.4 Mempraktekkan pemeliharaan Kontrol
motor operasi interlock
4.5 Mempraktekkan pemeliharaan kontrol
motor operasi balik putar (forward-
reverse)
4.6 Mempraktekkan pemeliharaan kontrol
motor operasi Y-D
5 Merancang kontrol motor listrik 5.1 Merancang Kontrol motor operasi DOL
berbasis PLC (Direct on Line)
5.2 Merancang Kontrol motor operasi
berurutan
5.3 Merancang Kontrol motor operasi
bergantian
5.4 Merancang Kontrol motor operasi
interlock
5.5 Merancang Kontrol motor operasi balik
putar (forward-reverse)
5.6 Merancang Kontrol motor operasi Y-D

6 Memasang berbagai jenis 6.1 Mempraktekkan pemasangan kontrol


kontrol motor listrik berbasis motor operasi DOL (Direct on Line)
PLC
6.2 Mempraktekkan pemasangankontrol
motor operasi berurutan
6.3 Mempraktekkan pemasangan kontrol
motor operasi bergantian
6.4 Mempraktekkan pemasangan Kontrol
motor operasi interlock
6.5 Mempraktekkan pemasangan kontrol
motor operasi balik putar (forward-
reverse)
6.6 Mempraktekkan pemasangan kontrol
motor operasi Y-D
7 Menginspeksi kinerja kontrol 7.1 Mempraktekkan penginspeksian kontrol
motor listrik berbasis PLC motor operasi DOL (Direct on Line)

116
7.2 Mempraktekkan penginspeksian kontrol
motor operasi berurutan
7.3 Mempraktekkan penginspeksian kontrol
motor operasi bergantian
7.4 Mempraktekkan penginspeksian Kontrol
motor operasi interlock
7.5 Mempraktekkan penginspeksian kontrol
motor operasi balik putar (forward-
reverse)
7.6 Mempraktekkan penginspeksian kontrol
motor operasi Y-D
8 Memelihara kontrol motor 8.1 Mempraktekkan pemeliharaan kontrol
listrik berbasis PLC motor operasi DOL (Direct on Line)
8.2 Mempraktekkan pemeliharaan kontrol
motor operasi berurutan
8.3 Mempraktekkan pemeliharaan kontrol
motor operasi bergantian
8.4 Mempraktekkan pemeliharaan Kontrol
motor operasi interlock
8.5 Mempraktekkan pemeliharaan kontrol
motor operasi balik putar (forward-
reverse)
8.6 Mempraktekkan pemeliharaan kontrol
motor operasi Y-D

117