Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN

Osteogenesis imperfecta merupakan kelainan genetik yang bersifat


heterogen yang mengenai jaringan ikat, dengan manifestasi klinis yang sering
terjadi berupa fraktur berulang, kerapuhan tulang, dan adanya deformitas.
Osteogenesis imperfecta merupakan salah satu displasia rangka tubuh yang paling
sering terjadi. kelainan ini seringkali dihubungkan secara langsung maupun tidak
langsung dengan kelainan pada kolagen tipe 1, yang merupakan protein paling
penting pada susunan ekstraseluler tulang.
Penegakan diagnosis pada osteogenesis imperfecta berdasarkan
anamnesa termasuk sejarah keluarga dan pemeriksan klinis, pemeriksaan
penunjang yang meliputi analisa genetik, pencitraan dan pemeriksaan
laboratorium.
Kelainan osteogenesis imperfecta memiliki banyak variasi
manifestasi klinis, dimana beberapa diantaranya hanya muncul pada tipe tertentu,
dan beberapa lainnya tergantung dari usia penderita.
Sampai saat ini belum ada solusi pasti dalam menangani kelainan ini.
Tujuan terapi hanya meningkatkan kekuatan tulang untuk mencegah terjadinya
fraktur, pembedahan pada kasus dengan deformitas , mengurangi keluhan nyeri
dan memaksimalkan mobilisasi penderita dan memaksimalkan fungsi tubuh.
PEMBAHASAN

DEFINISI
Osteogenesis imperfecta merupakan kelainan jaringan ikat yang
bersifat diwariskan secara genetik dan memiliki banyak manifestasi klinis.
Penyakit ini seringkali disebut sebagai “ brittle bone disease” atau penyakit tulang
rapuh. Pada kondisi yang berat mengakibatkan penderita mengalami kejadian
fraktur berulang pada kondisi tanpa trauma atau trauma yang minimal
sebelumnya, dan pada janin dapat mengakibatkan kematian pada fase perinatal.
Pada kondisi kelainan sedang (mild), kadangkala hanya berupa osteoporesis dini
atau mengalami kehilangan mineral tulang yang berat pada fase postmenopause.1,2

EPIDEMIOLOGI
Angka kejadian kasus osteogenesis imperfecta diperkirakan 1 dari
20.000 kelahiran. Di amerika serikat saat ini diperkirakan penderita penyakit ini
mencapai 200.000. 1,2

Gambar 1. Penderita osteogenesis imperfecta tipe III


Sumber : pediatricconsultant360.com
ETIOLOGI
Osteogenesis imperfecta memiliki hubungan baik secara langsung
maupun tidak langsung dengan kolagen tipe 1, yang merupakan komponen utama
jaringan ekstraseluler tulang. Hampir 90 kasus bertipe klasik, disebabkan oleh
terjadinya mutasi yang bersifat autosomal dominan pada gen COLIA1 di
kromosom 17 atau gen COLIA2 di kromosom 7, yang tersandi pada kolagen tipe
1. Pada 10% kasus lain yang sifatnya tidak klasik, penyebabnya adalah mutasi
resesif pada gen lain yang tersandi dari struktur kolagen. Seperti prolyl 3-
hydroxylase (P3HI, disandikan oleh gen LEPRE1), cartilago-associated protein
(gen CRATP) dan peptidyl-isomerase cyclophilin B(CypB, disandikan oleh gen
Ppib).
Terkadang kelainan ini tidak diwariskan, tapi disebabkan oleh
terjadinya mutasi gen secara spontan pada waktu anak -anak atau remaja (de novo
mutation). Pada kondisi ini orang tua pasien tidak ada yang menderita kelainan.
Perubahan pada kolagen dapat bersifat kualitiatif ( kerusakan struktur kolagen)
atau secara kuantitatif (kekurangan jaringan kolagen).3,4,5

Gambar 2. Perbandingan struktur tulang normal dan tulang dengan osteogenesis


imperfecta (sumber : https://ghr.nlm.nih.gov/condition/osteogenesis-imperfecta)

KLASIFIKASI
Secara klasik osteogenesis imperfecta sesuai klinis dibagi menjadi
tipe Lobstein’s dan tipe Vrolik’s. Tipe pertama memiliki gejala yang bervariasi,
mulai dari adanya deformitas ringan hingga berat dan seringnya pasien mengalami
fraktur dalam fase tumbuh kembangnya. Sedangkan tipe kedua gejala muncul
mulai dari janin, dimana kadang muncul kejadian fraktur dalam kandungan
dengan tingkat mortalitas yang tinggi
David Sillence, seorang dokter di Australia membuat klasifikasi
osteogenesis imperfecta pada tahun 1979 yang dikenal dengan klasifikasi
sillence, yang tetap digunakan hingga saat ini. Klasifikasi ini dibagi menjadi 4 tipe
berdasarkan gejala klinis dan radiologi. Dalam perkembangannya seiring
kemajuan dunia kedokteran, klasifikasi ini terus bertambah hingga 12 tipe. Namun
secara garis besar pembagian secara 4 tipe tetap menjadi acuan utama. 5,6,7

Tabel 1. Klasifikasi Sillence


(Sumber : Classification of osteogenesis Imperfecta revisited, European Journal of
Medical Genetics 2010)

Klasifikasi sillence secara garis besar membagi Osteogenesis


imperfecta menjadi 4 tipe:
1. Mild ( tipe 1), tidak didapatkan adanya deformitas yang berarti pada tipe ini.
Tinggi badan normal, angka kejadian fraktur bervariasi. Kadang didapatkan
adanya fraktur selama janin, namun biasanya fraktur terjadi saat pertama kali
berdiri atau berjalan. Kejadian fraktur biasanya berkurang setelah masa
puber. Pada orang dewasa kadang muncul osteoporosis dini hingga
kehilangan pendengaran.
2. Lethal perinatal (tipe II), biasanya penderita meninggal sewaktu janin atau
pada saat persalinan. Multipel fraktur yang berat dan kegagalan
pengembangan paru menjadi penyebab kematian utama.
3. severe (tipe III), muncul dengan kelainan deformitas yang jelas dan berat,
dan terjadi fraktur berulang hingga gangguan pertumbuhan, dan biasanya
pasien memiliki wajah yang khas berbentuk segitiga.
5
4. Tipe IV, memiliki gejala yang berada diantara tipe I dan tipe IIII.
DIAGNOSIS
Penegakan diagnostik dari Osteogenesis imperfecta berdasarkan
anamnesa dan pemeriksaan klinis yang dibantu dengan analisa genetik, radiologi
dan pemeriksaan laboratorium. Hal yang paling penting dilakukan paa saat
anamnesa dan pemeriksaan fisik meliputi adanya riwayat keluarga dengan
penyakit atau kelainan tulang dan adanya riwatat fraktur saat lahir atau bayi.
Penegakan diagnosis biasanya akan lebih mudah apabila ada riwayat pasien
dengan fraktur berulang dan adanya riwayat keluarga dengan keluhan serupa
termasuk gejala ekstraskeletal, misalnya kehilangan pendengaran. 8

Gambar 3. Penderita osteogenesis imperfecta dengan wajah triangular, sklera biru dan
deformitas tulang (sumber : /www.dovepress.com/cr_data/article_fulltext)

GEJALA KLINIS
Osteogenesis imperfecta merupakan kelainan yang memiliki beragam
gejala klinis, beberapa diantaranya muncul pada tipe tertentu dan sebagian lagi
ditentukan dari usia penderita. Selain fraktur yang terjadi tanpa riwayat trauma
atau dengan trauma ringan sebelumnya, gejala klinis lain yang sering ditemukan
sebagai berikut :
 Blue sclerae ( sklera mata berwarna kebiruan, pada sekitar 50% kasus).
 Dentigenosis imperfecta yng ditandai gigi yang terlihat transparan dan
mudah patah.
 Kelainan bentuk tulang, misalnya pectus carinatum, pectus excavatum,
kelainan tulang costa, tulang panjang yang melengkung, kompresi tulang
vertebra, skoliosis dan kiposis.
 Osteoporosis atau osteopenia
 Ukuran tulang kepala yang lebih besar dibandingkan anak seumuran
 Bentuk tulang wajah menyerupai segitiga
 Ubun ubun yang terlambat menutup pada bayi
 Kehilangan fungsi pendengaran pada usia dewasa muda
 Bentuk tubuh yang tidak proporsional
 Kelemahan persendian
 Kelemahan otot rangka dan keterlambatan perkembangan motorik.9,10

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Osteogenesis imperfecta biasanya bisa ditegakkan dengan
pemeriksaan klinis, namun pada kasus yang belum begitu jelas akan sangat
membutuhkan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang ini juga bisa
dilakukan saat janin masih dalam kandungan. Pemeriksaan yang dilakukan
dalam rangka membantu penegakan diagnosis antara lain :
 Pemeriksaan prenatal, biasanya dilakukan pada kasus yang berisiko tinggi
tejadinya kasus ini. Dilakukan pemeriksaan analisa kolagen pada janin
dengan melakukan tindakan amniosistesis. Biasanya dilakukan pada saat
janin berusia 12 minggu. Pemeriksaan ultrasonogafi pada trisemester kedua
didapatkan adanya fraktur tulang panjang, ukuran ekstrimitas yang pendek
dan penurunan gambaran eko pada tulang kepala.
 Pemeriksaan radiologi pada tulang, biasanya didapatkan adanya gambaran
osteopenia ( densitas tulang rendah) atau osteoprosis, fraktur termasuk fraktur
lama, tulang panjang yang melengkung, dn kompresi tulang vertebra.
 DEXA ( Dual Energy X-ray Absorptiometry), membantu memberikan
informasi tentang kuantitas tulang. Rendahnya densitas mineral tulang
membantu mengarahkan kepada penyebab terjadinya fraktur. Pada kelainan
ini biasanya ditemukan densitas mineral tulang yang rendah dibandingkan
orang normal.
 Biopsi tulang, bisanya dilakukan pada tulang iliaka dan bisa mengidentifikasi
semua tipe dari kelainan ini. Termasuk tindakan invasif dan memerlukan
tindakan pembiusan. Dilakukan pada anak dengan berat badan minimal 10
kilogram dan membutuhkan ahli patologi yang berpengalaman dalam
membaca sedian. Tndakan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan tindakan
operasi ortopedi.
 Pemeriksaan laboratorium, didapatkan adanya peningkatan serum alkali
fospatase yang menggambarkan adanya kelainan absopsi mineral tulang.
Hiperkalsiuria juga didapatkan pada anak dengan kelainan ini, dengan fungsi
ginjal yang normal. Pada pemeriksaan marker formasi tulang (CC-terminal
propeptide of type I collagen) hasilnya lebih rendah dan didapatkan
peningkatan nilai resorpsi tulang (C-telopeptide of type I collagen).11,12,13

Gambar 4: gambaran radiologi penderita osteogenesis imperfecta (sumber:


www.dovepress.com/osteogenesisimperfecta

DIAGOSIS BANDING
 Kekerasan pada anak (child abuse), menjadi perhatian dewasa ini. Pada anak
dengan cedera fraktur multipel, dengan fase penyembuhan yang berbeda
kerapkali mirip dengan gejala osteogenesis imperfecta. Fraktur pada
beberapa tempat termasuk tulang dada, tangan dan kepala dengan gambaran
trauma yang cukup jelas dapat mengarahkan kita akan kasus ini, diperlukan
perhatian lebih dari seorang dokter termasuk menilai kondisi lingkungan
psikososial pasien.
 Ricketsia, dimana terjadi gangguan pertumbuhan, deformitas tulang,
peningkatan serum alkali fospatase, kekurangan mineral, dan terkadang
disertai pebentukan gigi yang tidak normal. Pada ricketsia tidak didapatkan
adanya kelainan pada sklera dan bentuk wajah. Pada gambaran radiologi
ricketsia didapatkan adanya pertumbuhan cepat pada gowth plate. Metafisis
di atas dan dibawah lutut terlihat pada ekstremitas bawah. Pelebaran lempeng
epifisis dan hilangnya zona kalsifikasi pada permukaan epifise atau metafise
adalah tanda awal dari ricketsia
 Osteomalasia, yang menyebabkan keluhan nyeri pada tulang, jarang terjadi
fraktur, dengan peningkatan serum alkali fospatase namun tidak didapatkan
adanya kehilangan pendengaran ataupun sklera kebiruan. Gambaran khas dari
radiologi berupa turunnya densitas tulang, terdapat gambaran pseudofraktur
berupa garis tipis pada margin kortek tulang.
 Beberapa kelainan lain dapat merupakan diagnosis banding pada kasus
osteogenesis iperfecta, diataranya malnutrisi, gangguan absorpsi vitamin D,
serta kekurangan asupan kalsium.8,10

Sampai saat ini belum ada solusi pasti dalam menangani kelainan ini.
Tujuan terapi hanya meningkatkan kekuatan tulang untuk mencegah terjadinya
fraktur, pembedahan pada kasus dengan deformitas, mengurangi keluhan nyeri
dan memaksimalkan mobilisasi penderita dan memaksimalkan fungsi tubuh. 1,2
Tata laksana osteogenesis imperfecta melibatkan multidisiplin,
meliputi bidang endorin, ortopedi, pediatri, psikiatri, dokter gigi serta disiplin
lainnya. Beberapa metode diputuskan berdasarkan temuan klinis secara umum
meliputi :
 Perubahan gaya hidup dan kebiasaan untuk menghindari resiko terjadinya
fraktur
 Tindakan operasi ortopedi
 Manajemen skoliosis
 Rehabilitasi medik dan fisioterapi dalam rangka menguatkan otot tubuh
 Penggunaan alat bantu dalam mobilisasi
 Manajemen berat badan
 Manajemen nyeri
 Pemberian hormon pertumbuhan.12

Seiring perkembangan ilmu kedokteran, terapi osteogenesis


imperfecta telah mengalami kemajuan dan beberapa diantaranya menjadi standar
dalam penatalaksanaan kasus ini. Terapi khusus yang dilakukan meliputi :
 Terapi farmakologi.
Pemberian biophosponat secara intravena pertama kali dilakukan
tahun 1987, dan menjadi standar dalam rangka menguatkan tulang
penderita. Biophosponat merupakan analog yang stabil dari pyrophosponat
dan merupakan penghambat resopsi tulang. Obat ii telah digunakan secara
luas pada kasus osteoporosis pada orang dewasa, dan mengurangi resiko
terjadinya fraktur pada perempuan dengan osteoporosis postmenopaus. 4
Pemberian pamidronat secara intravena menjadi terapi utama di
beberapa negara pada kasus osteogenesis imperfecta anak. Sampai saat ini
belum ada dosis standar yang disepakati, termasuk waktu pemberian dan
kapan pemberian dihentikan. Pada standar terapi di Rumania,
direkomendasikan dosis awal pemberian pada anak usia diatas 2 tahun 1
mg/kg/hari selama 3 hari berturut-turut, dengan tetesan cairan infus lambat.
Terapi ini diulang setiap 3 bulan selama 2 sampai 4 tahun. Dari literatur
didapatkan adanya peningkatan densitas tulang setelah 2 sampai 4 tahun
terapi diberikan. Beberapa penelitian menyimpulkan tidak ada keuntungan
yang didaptkan dengan penghentian obat ini.12,13,14
Pemberian hormon pertumbuhan juga dianggap memiliki dampak
positif dalam terapi penyakit ini. Hormon pertumbuhan merangsang
metabolisme kolagen. Namun belum ada hasil yang dianggap memuaskan.12
Terapi gen saat ini sedang dikembangkan, dimana terapi ini
bertujuan untuk memblok mutasi gen COL1 tanpa menggangu gen yang
normal. Namun hasil dari terapi ini masih dalam tahap penelitian.8
 Terapi di bidang bedah ortopedi.
Tujuan utama terapi dibidang ortopedi meliputi tatalaksana pada
fraktur, pencegahan dan koreksi terhadap adanya deformitas. Penggunaan
alat bantu sangat dianjurkan terutama dalam menjaga postur tubuh
penderita. Penggunaan alat penguat intramedular pada tulang panjang
dianjurkan sebagai terapi dan pencegahan terjadinya fraktur berulang. Pada
beberapa kasus dilakukan pembedahan pada tulang belakang dalam rangka
terapi dan mencegah terjadinya skoliosis, dengan tetap mempertimbangkan
derajat beratnya penyakit dan usia penderita.4

 Terapi rehabilitasi medik, fisioterapi dan nutrisi.


Beberapa penderita yang diberikan fisioterapi dalam penguatan
otot tubuh mendapatkan hasil yang cukup baik. Pengaturan posisi tubuh
sangat penting untuk mencegah terjadinya kontraktur dan terjadinya
deformitas. Pada pasien post operasi dengan fraktur, fisioterapi sangat
dianjurkan untuk mencegah dampak dari imobilisasi lama dan merangsang
pertumbuhan dan kekuatan tulang. Dimana tujuan utama fidioterapi ini
adalah untuk menigkatkan fungsi, kekuatan dan mobilisasi. Selain itu, faktor
nutrisi tetap harus diperhatikan dalam rangka mencukupi kebutuhan kalori
dan tetap menjaga berat badan yang ideal. 2,3
KESIMPULAN

Osteogenesis imperfecta merupakan suatu kelainan pada jaringan ikat


struktur tubuh dengan berbagai macam variasi klinis. Kelainan ini diturunkan
secara genetik dan memberikan keluhan seumur hidup pasien. Fraktur berulang,
dan mengenai hampir semua tulang dengan atau tanpa riwayat trauma sebelumnya
menjadi tanda khas, bahkan hingga menyebabkan kematian sesaat setelah
dilahirkan.
Osteogenesis imperfecta memiliki hubungan baik secara langsung
maupun tidak langsung dengan kolagen tipe 1, yang merupakan komponen utama
jaringan ekstraseluler tulang. Hampir 90 kasus yang bertipe klasik, disebabkan
oleh terjadinya mutasi yang bersifat autosomal dominan pada gen COLIA1 di
kromosom 17 atau gen COLIA2 di kromosom 7.
Tujuan utama terapi pasien dengan osteogenesis imperfecta antara lain
mencegah terjadinya fraktur, mencegah terjadinya deformitas tulang panjang dan
skoliosis, mengurangi keluhan nyeri serta mengoptimalkan gerak tubuh pasien
termasuk dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA

1. Tim Cundy, Recent Advances in Osteogenesis Imperfecta, Calcif. Tissue.


Int. 2012 Jun; 90(6):439-49

2. Warman ML, Cormier-Daire V, Hall C, Krakow D,Lachman R, LeMerrer


M, Mortier G, Mundlos S, Nishimura G, Rimoin DL, Robertson S,
Savarirayan R., Sillence D, Spranger J, Unger S, Zabel B, Superti-Furga
A, Nosology and classification of genetic skeletal disorders: 2010 revision.
Am. J. Med. Genet. 155A:943–968.

3. Joan C. Marini, Angela R. Blissett, New Genes in Bone Development:


What’s New in Osteogenesis Imperfecta, J. Clin. Endocrinol. Metab,
August 2013, 98(8):3095– 3103.

4. R.J. Escribano Reya, J. Duart-Clementeb, O. Martínez de la Llanac, J.L.


Beguiristáin Gúrpided, Osteogenesis imperfecta: Treatment and results of
a case series, Rev. Esp. Cir. Ortop. Traumatol. 2014;58(2):114-119.

5. F.S. Van Dijk a, G. Pals a, R.R. Van Rijn b, P.G.J. Nikkels c, J.M. Cobben
d, Classification of osteogenesis Imperfecta revisited, European Journal of
Medical Genetics 53 (2010) 1-5

6. D. Sillence, K. Barlow, A. Garber, J. Hall, D. Rimoin, Osteogenesis


imperfecta type II delineation of the phenotype with reference to genetic
heterogeneity. Am. J. Med. Genet. 17 (1984) 407-423.

7. Eugenia R. Valadaresa, Túlio B. Carneiroa, Paula M. Santosb, Ana


Cristina Oliveirab, Bernhard Zabelc. What is new in genetics and
osteogenesis imperfecta classification?, J. Pediatr. (Rio J). 2014;90(6):
536-541

8. Paul Arundel, Osteogenesis imperfecta: Paediatrics anchild health, 2015


Elsevier: 1-6.

9. Gordon CM, Leonard MB, Zemel BS, DensitometrISfC. Pediatric Position


Development Conferenceexecutive summary and reflections. J. Clin.
Densitom2014; 17: 219-24.

10. Sabina Macoveia, Radu-Stefan MandacheaOsteogenesis Imperfecta and its


Consequences on thDisabled Children’s Capacity for Effort and
Movement,Procedia - Social and Behavioral Sciences 117 (2014 67 – 73.
11. Devogelaer JP, Malghem J, Maldague B, Nagant dDeuxchaines C (1987),
Radiological manifestations obisphosphonate treatment with APD in a
child sufferingfrom osteogenesis imperfecta. Skel. Radiol. 16:360363.

12. Franco Antoniazzi, Elena Monti, Giacomo Venturi,Roberto Franceschi,


Francesco Doro, Davide Gatti,Giorgio Zamboni, Luciano Tato, GH in
combinationwith bisphosphonate treatment in osteogenesiimperfecta,
European Journal of Endocrinology (2010163 479–487.

13. Rauch F, Glorieux FH (2004) Osteogenesis imperfecta.Lancet 363:1377–


1385

14. Salehpour S, Tavakkoli S. Cyclic pamidronate therapin children with


osteogenesis imperfecta. JPediatr.Endocrinol. Metab. 2010 JanFeb.
23(12):73-80.

15.