Anda di halaman 1dari 13

DAFTAR ISI

Daftar Isi 1

BAB I Pendahuluan 2

BAB II Tinjauan Pustaka 3

BAB III Laporan Kasus 8

BAB IV Pembahasan 11

BAB V Penutup 12

Daftar Pustaka 13

1
BAB I

PENDAHULUAN

Ovarium mempunyai fungsi yang sangat krusial pada reproduksi dan


menstruasi. Gangguan pada ovarium dapat menyebabkan terhambatnya
pertumbuhan, perkembangan dan kematangan sel telur. Gangguan yang paling
sering terjadi adalah kista ovarium, sindrom ovarium polikistik, dan kanker
ovarium. Kista ovarium merupakan salah satu bentuk penyakit reproduksi yang
banyak menyerang wanita.1

Kista adalah pertumbuhan berupa kantung (pocket, pouch) yang tumbuh


dibagian tubuh tertentu. Kista ovarium adalah suatu kantung yang berisi cairan
atau materi semisolid yang tumbuh dalam ovarium.1

Sebagian besar kista tidak menimbulkan gejala yang nyata, namun


sebagian lagi menimbulkan masalah seperti rasa sakit dan perdarahan. Bahkan
kista ovarium yang malignan tidak menimbulkan gejala pada stadium awal,
sehingga sering ditemukan dalam stadium yang lanjut. Komplikasi yang paling
sering dan paling serius pada kista ovarium yang terjadi dalam kehamilan adalah
peristiwa torsio atau terpeluntir. Ada beberapa kista yang dapat menjadi ganas,
dengan risiko terjadinya karsinoma terutama pada wanita wanita yang mulai
menopause1.

Keganasan ovarium merupakan 6 kasus kanker terbanyak dan merupakan


penyebab kematian oleh karena keganasan ginekologi. Penatalaksanaan kista
ovarium didasarkan pada jenis kista tersebut. Jadi tidak semua kista ovarium
ditatalaksanai melalui pembedahan, apalagi ternyata kista tersebut dapat resolusi
spontan. Namun, sebagian besar memerlukan pembedahan untuk mengangkat
kista tersebut. Penanganannya melibatkan keputusan yang sukar dan dapat
mempengaruhi status hormonal dan fertilitas seorang wanita.1

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Tumor ovarium adalah sebuah proses penumbuhan jaringan baru
yang berasal dari ovarium baik yang bersifat jinak maupun ganas.
Beberapa literatur menggolongkan kista sebagai tumor namun beberapa
literatur lain memisahkan antara tumor dengan kista. Perlu diketahui
bahwa definisi kista adalah suatu jenis tumor berupa kantong abnormal
yang berisi cairan.Karena secara definisi tumor adalah jaringan, oleh
karena itu beberapa literatur membedakan antara kista dengan tumor
ovarium.1,4

2.2. Klasifikasi

Berdasarkan tingkat keganasannya, kista dibedakan menjadi dua


macam, yaitu kista non-neoplastik dan kista neoplastik. 1

Kista ovarium non neoplastik

a. Kista folikel
Kista ini berasal dari folikel de graaf yang tidak sampai berovulasi,
namun tumbuh terus menjadi kista folikel. Bisa didapatkan satu kista atau
beberapa dan besarnya biasanya berdiameter 1-1 ½cm.1,3
Dalam menangani tumor ovarium, timbul persoalan apakah tumor
yang dihadapi itu neoplasma atau kista folikel. Umumnya jika diameter
tumor tidak lebih dari 5 cm, dapat di tunggu dahulu karena kista folikel
dalam 2 bulan akan hilang sendiri.1,3
b. Kista korpus lutein

Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan


menjadi korpus albikans. Kadang-kadang korpus luteum akan
mempertahankan diri (korpus luteum persisten); perdarahan yang terjadi di
dalamnya akan menyebabkan kista, berisi cairan berwarna merah coklat
karena darah tua. Pada pembelahan ovarium kista korpus luteum memberi
gambaran yang khas. Dinding kista terdiri atas lapisan berwarna kuning,
terdiri atas sel-sel luteum yang berasal dari sel-sel teka. Penanganan kista
luteum ini menunggu sampai kista hilang sendiri. Dalam hal ini dilakukan
operasi atas dugaan kehamilan ektopik terganggu, kista korpus luteum
diangkat tanpa mengorbankan ovarium.1,3

3
c. Kista teka lutein

Kista biasanya bilateral dan sebesar tinju. Pada pemeriksaan


mikroskopik terlihat luteinisasi sel-sel teka. Tumbuhnya kista ini ialah akibat
pengaruh hormone koriogonadrotropin yang berlebihan. Kista granulosa
lutein yang terjadi di dalam korpus luteum indung telur yang fungsional dan
membesar bukan karena tumor, disebabkan oleh penimbunan darah yang
berlebihan saat fase pendarahan dari siklus menstruasi. Kista teka-lutein
biasanya berisi cairan bening, berwarna seperti jerami; biasanya berhubungan
dengan tipe lain dari pertumbuhan indung telur, serta terapi hormone.1,3

d. Kista inklusi germinal

Terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian - bagian terkecil dari


epitel germinativum pada permukaan ovarium. Biasanya terjadi pada wanita
usia lanjut dan besarnya jarang melebihi 1 cm. Kista terletak di bawah
permukaan ovarium dan isinya cairan jernih dan serous.1,3

e. Kista endometrium

Kista ini merupakan endometriosis yang berlokasi di ovarium.1

Neoplastik jinak

1. Kistik:
a. Kistoma ovari simpleks
Kista ini mempunyai permukaan yang rata dan halus, biasanya
bertangkai, seringkali bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding kista
tipis dan cairan di dalam kista jernih, serous dan berwarna kuning.1,3

b. Kistadenoma ovarii serosum

Berasal dari epitel permukaan ovarium, umumnya jenis ini tak


mencapai ukuran yang sangat besar, di bandingkan dengan
kistadenoma muscinosum. Pertumbuhan menjadi ganas apabila di
temukan pertumbuhan papilifer, proliferasi dan stratifikasi epitel, serta
anaplasia dan mitosis pada sel-sel. Secara mikroskopik di golongkan
dalam kelompok tumor ganas.1,3

c. Kistadenoma ovarii musinosum

4
Asal tumor belum diketahui dengan pasti. Menurut meyer, berasal
dari teratoma dimana di dalam pertumbuhannya satu elemen
mengalahkan elemen-elemen lain.1,3

d. Kista endometroid

Terjadi karena lapisan didalam rahim (yang biasanya terlepas sewaktu


haid dan terlihat keluar dari kemaluan seperti darah); tidak terletak
dalam rahim tetapi melekat pada dinding luar ovarium. Akibat
peristiwa ini setiap kali haid, lapisan tersebut menghasilkan darah
haid yang akan terus menerus tertimbun dan menjadi kista. Kista ini
bisa 1 pada dua indung telur. Timbul gejala utama yaitu rasa sakit
terutama sewaktu haid/ sexual intercourse.1,3

e. Kista dermoid

Terjadi karena jaringan dalam telur yang tidak dibuahi kemudian


tumbuh menjadi beberapa jaringan seperti rambut, tulang, lemak. Kista
dapat terjadi pada kedua indung telur dan biasanya tanpa gejala.
Timbul gejala rasa sakit bila kista terpuntir/ pecah. 1,3

2. Solid:
- Fibroma
- Leiomioma
- FibroadenomaPapiloma
- Angioma
- Tumor brenner

2.3. Etiologi
Penyebab terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan
pembentukan hormon pada hipotalamus, hipofise, atau ovarium itu sendiri.
Kista ovarium timbul dari folikel yang tidak berfungsi selama siklus
menstruasi.1
Faktor resiko terjadinya kista ovarium.4

a. Riwayat kista ovarium sebelumnya


b. Siklus menstruasi yang tidak teratur
c. Meningkatnya distribusi lemak tubuh bagian atas
d. Menstruasi dini
e. Tingkat kesuburan
f. Hipotiroid atau hormon yang tidak seimbang

5
2.4. Patofisiologi
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil
yang disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan
dengan diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel
yang ruptur akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki
struktur 1,5-2 cm dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi
fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan
pengerutan secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum
mula-mula akan membesar kemudian secara gradual akan mengecil
selama kehamilan.1,6
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista
fungsional dan selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang
kadang-kadang disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi
oleh gonadotropin, termasuk FSH dan HCG.1,2
Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi
gonadotropin atau sensitivitas terhadap gonadotropin yang berlebih. Pada
neoplasia tropoblastik gestasional (hydatidiform mole dan
choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada kehamilan multiple dengan
diabetes, hcg menyebabkan kondisi yang disebut hiperreaktif lutein.
Pasien dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi dengan menggunakan
gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate, dapat
menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai dengan
pemberian HCG.1,2

2.5. Tanda dan Gejala

Pada stadium awal gejalanya dapat berupa:

a. Gangguan haid
b. Jika sudah menekan rectum mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih.
c. Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan
nyeri spontan dan sakit diperut.
d. Nyeri saat bersenggama.

Pada stadium lanjut:

a. Asites
b. Penyebaran ke omentum (lemak perut) serta organ di dalam rongga perut
c. Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan
d. Gangguan buang air besar dan kecil.
e. Sesak nafas akibat penumpukan cairan di rongga dada.4

6
2.6. Diagnosis
Diagnosis kista ovarium dapat ditegakkan melalui pemeriksaan
fisik. Namun biasanya sangat sulit untuk menemukan kista melalui
pemeriksaan fisik.Maka kemudian dilakukan pemeriksaan penunjang
untuk mendiagnosis kista ovarium. Pemeriksaan yang umum digunakan
adalah :
1. Ultrasonografi (USG)
2. Pemeriksaan Lab

 Pemeriksaan Beta-HCG
 Pemeriksaan Darah Lengkap
 Urinalisis
 Pemeriksaan Tumor Marker

3. Pemeriksaan Patologi Anatomi

2.7. Penatalaksanaan

Observasi dan Manajemen Gejala


Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau)
selama 1-2 bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan
sendirinya setelah satu atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil jika
tidak curiga ganas. Apabila terdapat nyeri, maka dapat diberikan obat-
obatan simptomatik seperti penghilang nyeri NSAID1,2,4
Operasi
Indikasi umum operasi pada tumor ovarium melalui screening USG
umumnya dilakukan apabila besar tumor melebihi 5cm baik dengan gejala
maupun tanpa gejala. Hal tersebut diikuti dengan pemeriksaan patologi
anatomi untuk memastikan keganasan sel dari tumor tersebut.1,2,4,6

2.8. Prognosis
Prognosis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut dapat tumbuh di
jaringan sisa ovarium atau di ovarium kontralateral. Apabila sudah dilakukan
operasi, angka kejadian kista berulang cukup kecil yaitu 13%.

7
BAB III

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS
Nama : Ny. M
Usia : 40 tahun
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Alamat : Ujung Padang
Status Pernikahan : Menikah
MRS : 7 Desember 2017
No Rekam Medik : 153029

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Benjolan di perut
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien mengeluh ada benjolan di perut bagian bawah sejak 8 bulan yang lalu.
Benjolan awalnya kecil, tetapi lama kelamaan makin membesar. Kadang-
kadang pasien merasakan nyeri pada perutnya, tetapi hal tersebut tidak
mengganggu aktivitas pasien sehari-hari. Keluar darah dari kemaluan
disangkal pasien namun pasien mengaku menstruasinya lebih banyak dari
biasanya sejak timbul benjolan di perut. Keluhan sesak disangkal. Mual dan
muntah tidak dirasakan. Gangguan makan juga di sangkal pasien. Pasien juga
menyangkal riwayat demam maupun penurunan berat badan. Gangguan BAK
dan BAB tidak dirasakan.

Riwayat Penyakit Dahulu :


- Keluhan serupa disangkal.
.
Riwayat Penyakit Keluarga :
- Riwayat anggota memiliki keluhan serupa disangkal.

Riwayat pengobatan
Pasien pernah memeriksakan dirinya ke spOG 2 tahun yang lalu karena tidak
memiliki anak kemudian dilakukan USG dengan hasil normal dan diberikan
obat-obatan namun pasien lupa jenis dan nama obat tersebut. Saat benjolan
muncul dan disertai nyeri, pasien pernah 2 kali berobat ke dokter spesialis
penyakit dalam dan dirujuk ke spOG.

8
Riwayat menstruasi :
- Menarche : 13 tahun
- Siklus menstruasi : teratur, 1 bulan sekali.
- Banyaknya : 5 kali ganti pembalut sehari, sebelum muncul keluhan pasien
mengaku 2 kali ganti pembalut.
- Lamanya : 7 hari
- Nyeri saat menstruasi : (-)
- Pernah Keluar darah diluar siklus haid : (-).
Riwayat Kontrasepsi :
- Pasien mengatakan tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi
Riwayat Perkawinan
- Pasien telah menikah selama ± 16 tahun, dan ini merupakan pernikahan
pertamanya.
Riwayat Obstetri :
- Pasien mengaku tidak pernah hamil.
STATUS GENERALIS
a. Keadaan umum : Baik
b. Kesadaran/GCS : Compos Mentis/E4V5M6
c. Tanda vital
- Tekanan darah : 120/90 mmHg
- Frekuensi nadi : 90 x/menit
- Frekuensi napas : 20 x/menit
- Suhu : 36,7oC
d. Kepala/leher : konjungtiva anemis -/-; ikterik -/-
e. Thorax
- Inspeksi: retraksi (-)
- Palpasi: pergerakan dinding dada simetris
- Perkusi: sonor +/+, batas jantung dbn
- Auskultasi: C S1S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop (-); P
vesikuler +/+ wheezing -/-, rhonki -/-.
f. Abdomen: soefl, massa (+) regio hipogastric, konsistensi kenyal, batas
tegas, mobile, nyeri tekan massa (+), Bising usus (+), nyeri tekan (-),
H/L/R tidak teraba
g. Ekstremitas: hangat (+/+)/(+/+) ; edema (-/-)/(-/-)
III. STATUS GINEKOLOGI
1. Abdomen :
- Inspeksi : tidak ada tanda-tanda peradangan, bekas operasi (-)
terlihat massa menonjol di regio kiri bawah.
- Auskultasi : bising usus (+) normal

9
- Perkusi: timpani diseluruh lapang abdomen, diatas tumor pekak
- Palpasi : defans muskular (-), undulasi tes (-), shifting dullnes (-).
Teraba massa 12x8 cm di regio hipogastric hingga iliaka sinistra,
permukaan licin, dapat digerakkan, nyeri tekan (+), konsistensi kenyal.
2. Genital Eksterna :
Inspeksi : perdarahan pervaginam (-), tanda peradangan (-)
Pemeriksaan Dalam (VT) :
Dinding vagina normal, massa (-). Portio licin, Ø (-), nyeri goyang (-).
Adneksa Parametrium kiri teraba massa, padat, tidak dapat digerakkan,
nyeri (-). Adneksa Parametrium kiri Cavum Douglas dbn. Corpus Uteri
antefleksi.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium
2. Hb :11,3 g/dL
3. HCT : 33,5 %
4. RBC : 3,84
5. WBC : 8,74 /mm3
6. PLT : 378 /mm3
7. HBsAg : -

DIAGNOSIS KERJA
Kista Ovarium

PENATALAKSANAAN
 Observasi KU, Vital Sign dan Perdarahan
 Cek laboratorium : DL, HbSAg, SGOT, SGPT dan gula darah.
 Konsultasi ke bagian Obgyn.
 USG Abdomen

10
BAB IV

PEMBAHASAN.

Pada pasien ini, dari anamnesis hanya diperoleh benjolan pada perut sejak
8 bulan yg lalu. Terdapat gejala nyeri perut tetapi tidak mengganggu aktivitas
pasien. Pendekatan diagnosis untuk massa intraabdomen harus melibatkan lebih
dari satu sistem tubuh yaitu sistema urogenitalia dan sistema digestivus. Secara
umum, gejala subjektif tidak begitu menonjol dan tidak khas, sehingga massa
intraabdomen tersebut harus mempertimbangkan sistem-sistem yang mungkin
menjadi asal tumor tersebut.

Pada kasus ini gejala dan tanda yang dialami pasien adalah adanya
benjolan di daerah perut bagian bawah yang semakin lama semakin membesar.
Pasien merasakan perut semakin berat dan keras karena semakin membesarnya
kista. Pasien juga mengeluh nyeri perut bagian bawah dan menstruasi yang lebih
banyak dari sebelumnya. Pada kista yang sudah membesar dan sampai menekan
diafragma, biasanya pasien juga mengeluh sesak terutama saat sedang duduk,
namun hal ini tidak terjadi pada pasien di kasus ini.

Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien untuk menentukan


diagnosis kista dalam hal ini adalah pemeriksaan abdomen dan vaginal toucher.
Dari pemeriksaan abdomen teraba massa dengan konsistensi padat kenyal pada
perut region hipogastric hingga iliaka sinistra dengan ukuran ± 12 x 8 cm,
permukaan licin, berbatas tegas, dapat digerakkan, terdapat nyeri tekan (-). Pada
pemeriksaan vaginal toucher (VT) pada adneksa dan parametrium kiri teraba
massa, padat, tidak dapat digerakkan dan nyeri. Dari pemeriksaan fisik ini
kecurigaan terhadap kista ovarium semakin besar. Tidak didapatkan tanda-tanda
peradangan pada pasien seperti suhu badan tinggi.

Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan dapat dibuat beberapa
diferensial diagnosis yaitu tumor-tumor abdomen yang termasuk system
digestivus maupun system urinarius. Tumor yang biasanya terletak di bagian
bawah rongga perut seperti mioma subserosum dan mioma intraligamenter, serta
tumor-tumor bukan dari ovarium yang tertelak di daerah pelvis antara lain ginjal
ektopik, limpa bertangkai dan tumor dari kolon sigmoideum. Namun pemeriksaan
ini belum dapat menegakkan diagnosis pasti tumor ovarium, karena harus
menyingirkan diferensial diagnosis dari kista ovarium sehingga perlu dilakukan
pemeriksaan penunjang.

11
BAB V

PENUTUP

Kesimpulan

Kista ovarium merupakan suatu bentuk tumor pada ovarium yang memiliki
berbagai jenis, baik dari jenis neoplastik maupun non neoplastik.Kista tersebut
dapat tumbuh pada masa apapun dalam kehidupan wanita, termasuk pada masa
post menopause.

Temuan klinis berupa massa intraabdomen perlu dipertimabangkan


system-sistem yang mungkin enjadi asal tumor tersebut sehingga dibutukan
pendekatan diagnosis yang baik, baik dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan
penunjang.

Penatalaksanaan pasien dengan kista ovarii pada masa post menopause ini
sudah tepat, yakni dengan tindakan operatif dikarenakan massa tumor yang besar
dan keberadaaan tumor yang sudah menimbulkan gejala pada pasien.

Temuan kista pada pasien ini dimana pasien dalam masa post menopause,
harus dipikirkan kemungkinan adanya keganasan sehingga jaringan kista pada
temuan intraoperatif sebaiknya di periksa jaringannya melalui pemeriksaan
histopatologi.

12
DAFTAR PUSTAKA

1. Wiknjosastro H. Buku Ilmu Kandungan Edisi 2., editor: Saifuddin


A.B,dkk. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.1999:
13-14
2. Sjamsuhidayat, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, l 1027; Jakarta,
1998
3. Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2. Jakarta:
Media Aesculapius. 2000.
4. Medscape Reference, Ovarium Anatomy, Available at
http://emedicine.medscape.com/article/1949171-overview#aw2aab6b3,
Last Update October 3, 2013. Accessed on April 23, 2014.
5. Medscape Reference, Ovarian
Cysthttp://emedicine.medscape.com/article/255865-overview#a0101, Last
Update August 19, 2013. Accessed on April 23, 2014.
6. Schorge et al. William’s Gynecology [Digital E-Book] Gynecologic
Oncology Section. Ovarian Tumors and Cancer. McGraw-Hills..2008
7. Jim Baum. Ovarian Pathology. Illustrated Review of obgyn sonography.
Tersedia dalam http://prosono.ieasysite.com/2.2_gyn_pathology_ovary.pdf
8. Giede. Ovarian cyst in Post-menopausal Women: when to worry. Tersedia
dalam http://www.stacommunications.com/journals/cme/2007/12-
December%202007/021-Case%20In-Ovarian%20Cysts.pdf

13