Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt karena atas berkat rahmat dan
hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyelasaikan tugas makalah dari mata kuliah
Pengantar Sosiologi yang berjudul Lembaga Sosial ini, walaupun masih jauh dari kata
sempurna.

Makalah ini terwujud tidak hanya dari kerja keras kami sendiri, tetapi juga
dukungan dari dosen pembimbing yang telah mengarahkan serta membimbing dalam
proses perkuliahan ini.

Tak lupa pula, saya haturkan terima kasih kepada dosen yang telah membimbing
kami. Makalah ini tidak lepas dari kekurangan, sehingga kami sangat membutuhkan
kritik dan saran yang membangun guna perbaikan terhadap makalah kami ini.

Wassalam

Makassar, 2 Marer 2011


PENDAHULUAN

Lembaga (institutations) adalah suatu system norma untuk mencapai suatu


tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting atau secara formal,
sekumpulan kebiasaan dan tata kelakuan yang berkisar pada suatu kegiatan pokok
manusia. Dengan kata lain Lembaga adalah proses yang terstruktur (tersusun} untuk
melaksanakan berbagai kegiatan tertentu.
Lembaga sosial atau dikenal juga sebagai lembaga kemasyarakatan adalah
salah satu jenis lembaga yang mengatur rangkaian tata cara dan prosedur dalam
melakukan hubungan antarmanusia saat mereka menjalani kehidupan
bermasyarakat dengan tujuan mendapatkan keteraturan hidup. Fungsi lembaga social
adalah untuk memberikan pedoman kepada anggota masyarakat tentang sikap dalam
menghadapi masalah di masyarakat, terutama yang menyangkut kebutuhan pokok,
menjaga keutuhan dari masyarakat, sebagai paduan masyarakat dalam
mengawasi tingkah laku anggotanya.

Menurut H.M. Johnson suatu norma terlembaga (institutionalized) apabila memenuhi


tiga syarat sebagai berikut:

1. Sebagian besar anggota masyarakat atau sistem sosial menerima norma


tersebut.
2. Norma tersebut menjiwai seluruh warga dalam sistem sosial tersebut.
3. Norma tersebut mempunyai sanksi yang mengikat setiap anggota masyarakat.

Dikenal empat tingkatan norma dalam proses pelembagaan, pertama cara (usage)
yang menunjuk pada suatu perbuatan. Kedua, kemudian cara bertingkah laku berlanjut
dilakukan sehingga menjadi suatu kebiasaan (folkways), yaitu perbuatan yang selalu
diulang dalam setiap usaha mencapai tujuan tertentu. Ketiga, apabila kebiasaan itu
kemudian diterima sebagai patokan atau norma pengatur kelakuan bertindak, maka di
dalamnya sudah terdapat unsur pengawasan dan jika terjadi penyimpangan, pelakunya
akan dikenakan sanksi. Keempat, tata kelakuan yang semakin kuat mencerminkan
kekuatan pola kelakuan masyarakat yang mengikat para anggotanya. Tata kelakuan
semacam ini disebut adat istiadat (custom). Bagi anggota masyarakat yang melanggar
adat istiadat, maka ia akan mendapat sanksi yang lebih keras. Contoh, di Lampung
suatu keaiban atau pantangan, apabila seorang gadis sengaja mendatangi pria
idamannya karena rindu yang tidak tertahan, akibatnya ia dapat dikucilkan dari
hubungan bujang-gadis karena dianggap tidak suci.

Keberhasilan proses institusinalisasi dalam masyarakat dilihat jika norma-norma


kemasyarakatan tidak hanya menjadi terlembaga dalam masyarakat, akan tetapi
menjadi terpatri dalam diri secara sukarela (internalized) dimana masyarakat dengan
sendirinya ingin berkelakuan sejalan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Lembaga sosial umumnya didirikan berdasarkan nilai dan norma dalam masyarakat,
untuk mewujudkan nilai sosial, masyarakat menciptakan aturan-aturan yang
disebut norma sosial yang membatasi perilaku manusia dalam kehidupan bersama.
Sekumpulan norma akan membentuk suatu sistem norma. Inilah awalnya lembaga
sosial terbentuk. Sekumpulan nilai dan norma yang telah mengalami proses penerapan
ke dalam institusi atau institutionalization menghasilkan lembaga social.
PEMBAHASAN

Pengertian Lembaga Sosial

Menurut Hoarton dan Hunt, lembaga social (institutation) bukanlah sebuah


bangunan, bukan kumpulan dari sekelompok orang, dan bukan sebuah organisasi.
Lembaga (institutations) adalah suatu system norma untuk mencapai suatu tujuan atau
kegiatan yang oleh masyarakat dipandang penting atau secara formal, sekumpulan
kebiasaan dan tata kelakuan yang berkisar pada suatu kegiatan pokok manusia.
Dengan kata lain Lembaga adalah proses yang terstruktur (tersusun} untuk
melaksanakan berbagai kegiatan tertentu.

Pendapat para tokoh tentang Difinisi Lembaga social :


1. Menurut Koentjaraningkrat : Pranata social adalah suatu system tatakelakuan
dan hubungan yang berpusat kepada akatifitas social untuk memenuhi kompleks-
kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.
2. menurut Leopold Von Weise dan Becker : Lembaga social adalah jaringan
proses hubungan antar manusia dan antar kelompok yang berfungsi memelihara
hubungan itu beserta pola-polanya yang sesuai dengan minat kepentingan
individu dan kelompoknya.
3. Menurut Robert Mac Iver dan C.H. Page : Lembaga social adalah prosedur atau
tatacara yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia yang
tergabung dalam suatu kelompok masyarakat.
4. Menurut Soerjono Soekanto, Pranata social adalah himpunana norma-norma
dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam
kehiduppan masyarakat.

Proses pertumbuhan lembaga social.


Timbulnya institusi social dapat terjadi melalui 2 cara yaitu :
1. secara tidak terencana
2. secara terencana

Secara tidak terencana maksudnya adalah institusi itu lahir secara bertahap dalam
kehidupan masyarakat, biasanya hal ini terjadi ketika masyarakat dihadapkan pada
masalah atau hal-hal yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan hidup yang
sangat penting. Contohnya adalah dalam kehidupan ekonomi , dimasa lalu , untuk
memperoleh suatu barang orang menggunakan system barter , namun karena dianggap
sudah tidak efisien dan menyulitkan , maka dibuatlah uang sebagai alat pembayaran
yang diakui masyarakat, hingga muncul lembaga ekonomi seperti bank dan sebagainya.

Untuk dapat membedakan kekuatan tingkatan mengikat norma secara sosiologis


dikenal tiga macam norma :
1. Cara (usage) . Norma ini menunjukan suatu bentuk perbuatan dan mempunyai
kekuatan sangat lemah. Cara (usage) lebih menonjol dalam hubungan antar
individu dalam masyarakat. Suatu penyimpangan terhadap norma ini tidak akan
mengakibatkan hukuman tetapi biasanya dapat celaan. Contoh cara makan
yang berisik, minim sambil bersuara dll.
2. Kebiasaan folkways) menunjukan pada perbuatan yang diulang-ulang dalam
bentuk yang sama. Contoh orang yang mempunyai kebiasaan memberikan
hormat kepada orang yang lebih tua usianya dll.
3. Adat istiadat (custom) Tata kelakuan yang telah berlangsung lama dan
terintegrasi secara kuat dengan pola perilaku masyrakat dapat meningkatkan
kekuatan normatifnya menjadi adat istiadat.

Tipe-tipe lembaga social


a. Berdasarkan sudut perkembangan
1. Cresive institution yaitu istitusi yang tidak sengaja tumbuh dari adat istiadat
masyarakat. Contoh institusi agama, pernikahan dan hak milik.
2. Enacted institution yaitu institusi yang sengaja dibentuk untuk mencapai suatu
tujuan tertentu. Contohnya institusi pendidikan
b. Berdasarkan sudut nilai yang diterima oleh masyarakat
1. Basic institutions yaitu institusi social yang dianggap penting untuk memelihara
dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat. Contohnya keluarga,
sekolah, Negara dianggap sebagai institusi dasar yang pokok.
2. Subsidiary institutions yaitu institusi social yang berkaitan dengan hal-hal yang
dianggap oleh masyarakat kurang penting dan berbeda di masing-masing
masyarakat.

c. Berdasarkan sudut penerimaan masyarakat


1. Approved atau social sanctioned institutions yaitu institusi social yang diterima
oleh masayarakat misalnya sekolah atau perusahaan dagang.
2. Unsanctioned institutions yaitu institusi yang ditolak masyarakat meskipun
masyarakat tidak mampu memberantasnya. Contoh organisasi kejahatan.

d. Berdasarkan sudut penyebarannya


1. General institutions yaitu institusi yang dikenal oleh sebagian besar masyarakat.
Contohnya institusi agama.
2. Restrikted institutions intitusi social yang hanya dikenal dan dianut oleh sebagian
kecil masyarakat tertentu, contoh islam, protestan, katolik dan budha.

e. Berdasarkan sudut fungsinya


1. Operative institutions yaitu institusi yang berfungsi menghimpun pola-pola atau
cara-cara yang diperlukan dari masyarakat yang bersangkutan. Contoh institusi
ekonomi
2. Regulative institutions yaitu institusi yang bertujuan mengawasi adat istiadat atau
tatakelakuan dalam masyarakat. Contoh institusi hukum dan politik seperti
pengadilan dan kejaksaan.

Institusi Keluarga
Keluarga adalah unit social yang terkecil dalam masyarakat. Dan juga institusi pertama
yang dimasuki seorang manusia ketika dilahirkan.

Proses terbentuknya Keluarga.


Pada umumnya keluarga terbentuk melalui perkawinan yang sah menurut agama, adat
atau pemerintah dengan proses seperti dibawah ini :
1. diawali dengan adnya interaksi antara pria dan wanita
2. Interaksi dilakukan berulang-ulang, lalu menjadi hubungan social yang lebih intim
sehingga terjadi proses perkawinan.
3. Setelah terjadi perkawinan, terbentuklah keturunan , kemudian terbentuklah
keluarga inti

Tujuan Perkawinan.
1. Untuk mendapatkan keturunan
2. Untuk meningkat derajat dan status social baik pria maupun wanita
3. mendekatkan kembali hubungan kerabat yang sudah renggang
4. Agar harta warisan tidak jatuh ke orang lain.

Fungsi keluarga
1. Fungsi Reproduksi artinya dalam keluarga anak-anak merupakan wujud dari cinta
kasih dan tanggung jawab suami istri meneruskan keturunannya.
2. Fungsi sosialisasi artinya bahwa keluarga berperan dalam membentuk
kepribadian anak agar sesuai dengan harapan orang tua dan masyarakatnya.
Keluarga sebagai wahana sosialisasi primer harus mampu menerapakan nilai
dan norma masyarakat melalui keteladanan orang tua.
3. Fungsi afeksi artinya didalam keluarga diperlukan kehangatan rasa kasih saying
dan perhatian antar anggota keluarga yang merupakan salah satu kebutuhan
manusia sebagai makluk berpikir dan bermoral (kebutuhan integratif) apabila
anak kurang atau tidak mendapatkannya , kemungkinan ia sulit untuk
dikendalikan nakal, bahkan dapat terjerumus dalam kejahatan.
4. Fungsi ekonomi artinya bahwa keluarga terutama orang tua mempunyai
kewajiban ekonomi seluaruh keluarganya . Ibu sebagai sekretaris suami didalam
keluarga harus mampu mengolah keuangan sehingga kebutuahan dalam rumah
tangganya dapat dicukupi.
5. Fungsi pengawasan social artinya bahwa setiap anggota keluarga pada dasarnya
saling melakukan control atau pengawasan karena mereka memiliki rasa
tanggung jawab dalam menjaga nama baik keluarga .
6. Fungsi proteksi (perlindungan) artinya fungsi perlindungan sangat diperlukan
keluarga terutma anak , sehigngga anak akan merasa aman hidup ditengah-
tengah keluarganya. Ia akan merasa terlindungi dari berbagai ancaman fisik
mapun mental yang dating dari dalam keluarga maupun dari luar keluarganya.
7. Fungsi pemberian status artinya bahwa melalui perkawinan seseorang akan
mendapatkan status atau kedudukan yang baru di masyarakat yaitu suami atau
istri. Secara otomatis mereka akan diperlakukan sebagai orang yang telah
dewasa dan mampu bertanggung jawab kepada diri, keluarga, anak-anak dan
masyarakatnya.
PENUTUP

Kesimpulan:

Terbentuknya lembaga social bermula dari


kebutuhan masyarakat akan keteraturan kehidupan bersama. Sebagaimana
diungkapkan oleh Soerjono Soekanto lembaga sosial tumbuh karena manusia dalam
hidupnya memerlukan keteraturan. Untuk mendapatkan keteraturan hidup bersama
dirumuskan norma-norma dalam masyarakat sebagai paduan bertingkah laku.

Dikenal empat tingkatan norma dalam proses pelembagaan, pertama cara


(usage) yang menunjuk pada suatu perbuatan. Kedua, kemudian cara bertingkah laku
berlanjut dilakukan sehingga menjadi suatu kebiasaan (folkways), yaitu perbuatan yang
selalu diulang dalam setiap usaha mencapai tujuan tertentu. Ketiga, apabila kebiasaan
itu kemudian diterima sebagai patokan atau norma pengatur kelakuan bertindak, maka
di dalamnya sudah terdapat unsur pengawasan dan jika terjadi penyimpangan,
pelakunya akan dikenakan sanksi. Keempat, tata kelakuan yang semakin kuat
mencerminkan kekuatan pola kelakuan masyarakat yang mengikat para anggotanya.
Tata kelakuan semacam ini disebut adat istiadat (custom). Bagi anggota masyarakat
yang melanggar adat istiadat, maka ia akan mendapat sanksi yang lebih keras. Contoh,
di Lampung suatu keaiban atau pantangan, apabila seorang gadis sengaja mendatangi
pria idamannya karena rindu yang tidak tertahan, akibatnya ia dapat dikucilkan dari
hubungan bujang-gadis karena dianggap tidak suci.

Lembaga sosial umumnya didirikan berdasarkan nilai dan norma dalam


masyarakat, untuk mewujudkan nilai sosial, masyarakat menciptakan aturan-aturan
yang isebut norma sosialyang membatasi perilaku manusia dalam kehidupan bersama.
Sekumpulan norma akan membentuk suatu sistem norma. Inilah awalnya lembaga
sosial terbentuk. Sekumpulan nilai dannorma yang telah mengalami proses penerapan
ke dalam institusi atau institutionalization menghasilkan lembaga social.

DAFTAR PUSTAKA

Soekanto, Soerjono, 1987, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Press.Hlm. 34