Anda di halaman 1dari 13

A.

Pengertian Agama dan Macam-macamnya

1. Definisi Agama.
 Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “a” berarti tidak, dan “gama”berati pergi jadi
agama berarti tidak pergi ,tetap ditempat.
 Agama bisa berarti tuntunan,hukum, undang-undang, teks, kitab suci atau sejarah.
 Al-din dlm bahasa semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab berarti adat
istiadat, tingkah laku, hukum , undang-undang,peraturan menguasai, patuh, menundukkan,
utang, balasan dan kebiasaan.
2. Unsur-Unsur Agama.
Menurut Prof.Dr.Harun Nasution, ada empat unsur yg harus dimiliki oleh suatu agama, yaitu:
a. Unsur keyakinan atau credial/credo. Adanya keyakinan manusia thd sesuatu yg ghoib yg
memiliki kekuatan menciptakan dan mengatur alam semesta ini,yaitu keyakinan tentang adanya
Tuhan.
b. Unsur peribadatan atau ritual. Manusia merasa dirinya lemah dan berhajat pada Tuhan sbg
tempat minta tolong. Oleh krn itu manusia hrs mengadakan hubungan baik kpd Tuhan yg telah
mereka yakini tersebut dg jalan mematuhi segala perintah dan menjauhi larangannya.
c. Unsur ritus atau aturan dlm peribadatan. Adanya aturan hukum yg berupa kitab suci yg
mengandung ajaran-ajaran agama tersebut dan sekaligus mengatur tata cara penyembahan kpd
Tuhan yang mereka yakini tersebut.
d. Unsur respon yg bersifat emosionil dari manusia. Respon itu bisa berupa perasaan takut atau
perasaan cinta yg sangat mendalam thd agama yg telah dipeluknya (fanatis beragama) yg kadang
kala sampai ekstrim membela agamanya dg berlebihan manakala agamanya dihina oleh agama
atau golongan lain.
3. Macam-Macam Agama.
Pada dasarnya ada dua agama di dunia ini, yaitu : agama Samawi dan agama Ardhi.
a. Agama Samawi / Agama wahyu, ialah: agama yang berorientasi pada kebenaran wahyu yg
datangnya dari Allah SWT. Contohnya; Islam, Yahudi dan Nasrani.
b. Agama Ardhi / Agama budaya, ialah; agama yang tumbuh dan berkembang melalui proses
pemikiran, adat istiadat dan budaya manusia. Contohnya; Hindu dan Budha.
Ciri-ciri agama wahyu :
1. Disampaikan oleh seorang Rosul.
2. Memiliki kitab suci.
3. Konsep ketuhanannya monotheisme mutlak.
4. Kebenaranya universal.
5. Ajarannya konstan/tetap.
6. Diturunkan kpd masyarakat
Ciri-ciri agama budaya.
1. Tidak disampaikan oleh seorang Rosul.
2. Umumnya tidak memiliki kitab suci.
3. Konsep ketuhanannya animisme, dinamisme, polyteisme, monotheisme nisbi.
4. Kebenarannya tidak universal.
5. Ajarannya berubah-ubah.
Tumbuh dlm masyarakat penganutnya.
B. AGAMA ISLAM
1. Definisi islam.
Ditinjau dari segi ethimologi/bahasa istilah islam di ambil dari bahasa arab :
# Aslama artinya : berserah diri, taat, patuh. (QS. Ali Imron : 83, QS. An-Nisa’ : 125).
# Assalm artinya : damai, tentram, rukun. (QS.Al-Anfal : 61, QS. Muhammad : 35).
# Salaam artinya : Selamat, sejahtera. (QS. Az-Zumar : 73, QS. Yasin : 58).
# Saliim artinya : Suci dan bersih. (QS. Asy Syu’aro : 89, QS. Ash Shoffat : 84).

1
• perkataan islam intinya adl: berserah diri, tunduk, patuh dan taat dg sepenuh hati kpd kehendak
Ilahi.
Pada dasarnya agama islam terdiri dari tiga unsur pokok yaitu iman, islam, ihsan.
• Iman artinya membenarkan dg hati, mengucapkan dlm perkataan dan merealisasikan dlm
perbuatan akan adanya Allah SWT, dg segalaKemaha sempurnaan-Nya, para Malaikat, Kitab-
kitab Allah, para Nabi dan Rasul,hari akhir serta Qadha dan Qadhar.
• Islam artinya taat, tunduk,patuh dan menyerahkan diri dari segala ketentuan yg telah ditetapkan
Allah SWT. Yang terdiri atas Syahadatain (dua kalimat Syahadat) Sholat,Puasa, Zakat,dan Haji
bagi yg mampu.
• Ihsan artinya berakhlak serta berbuat shalih sehingga dlm melaksanakan ibadah kpd Allah dan
bermuamalah (interaksi) dg sesama makhluk dilaksanakan dg penuh ke ikhlasan seakan akan
Allah menyaksikan gerak-geriknya sepanjang waktu meskipun ia sendiri tidk melihatnya.
4. Karakteristik islam.
Menurut Yusuf Qordawi dalam bukunya Karakteristik Islam, agama islam mempunyai ciri-
ciri:
1. Rabbaniyah, yaitu agama yg langsung berhubungan dg Tuhan dan tujuan akhirnya (limit goal)
adalah berhubungan baik dg Tuhan (Allah). Manusianya disebut manusia Rabbani (QS. Ali Imron
: 79)
2. Insaniyah, yaitu agama yang sesuai dg Jiwa Manusia. Semua perintah dan laranganya,
manfaatnya untuk manusia itu sendiri. Jadi islam sangat menekankan kemanusiaan. (QS.29 : 45).
3. Syumuliyah ,yaitu agama yang berlaku secara universal (seluruh umat manusia) artinya dapat
diterima oleh semua manusia di dunia sampai akhir masa. Islam agama Rahmatan Lil Alamin
(QS. Al-Ambiya’ : 107
4. Wasatiyah, yaitu agama yang bersifat moderat (pertengahan) artinya agama yang
menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akherat, spiritual maupun material. ( QS. Al -
Baqarah : 201)
5. Ruang Lingkup Ajaran Islam
• Menurut Endang Saifuddin Anshory dalam bukunya “Kuliah AL Islam” Agama Islam yang
Universal ajarannya terdiri dari 3 bagian :
– Aqidah : Keimanan / Keyakinan
– Syariah : Aturan Hukum
– Akhlak : Etika / moral
• Apabila Seorang Muslim dapat mengaktualisasikan ketiga ajaran Islam tersebut dalam kehidupan
sehari-hari maka Islamnya disebut : Islam Kaffah / Islam sempurna (QS. Al Baqarah: 208).

KONSEP KETUHANAN DALAM ISLAM

Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa,
sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya.
Proses perkembangan pemikiran tentang Tuhan menurut teori evolusionisme adalah sebagai
berikut:
• Dinamisme
Menurut paham ini, manusia sejak zaman primitif telah mengakui adanya kekuatan yang
berpengaruh dalam kehidupan. Mula-mula sesuatu yang berpengaruh tersebut ditujukan pada benda.
Setiap benda mempunyai pengaruh pada manusia, ada yang berpengaruh positif dan ada pula yang
berpengaruh negatif. Kekuatan yang ada pada benda disebut dengan nama yang berbeda-beda, seperti
mana (Melanesia), tuah (Melayu), dan syakti (India). Mana adalah kekuatan gaib yang tidak dapat

2
dilihat atau diindera dengan pancaindera. Oleh karena itu dianggap sebagai sesuatu yang misterius.
Meskipun nama tidak dapat diindera, tetapi ia dapat dirasakan pengaruhnya.
• Animisme
Masyarakat primitif pun mempercayai adanya peran roh dalam hidupnya. Setiap benda yang
dianggap benda baik, mempunyai roh. Oleh masyarakat primitif, roh dipercayai sebagai sesuatu yang
aktif sekalipun bendanya telah mati. Oleh karena itu, roh dianggap sebagai sesuatu yang selalu hidup,
mempunyai rasa senang, rasa tidak senang apabila kebutuhannya tidak dipenuhi. Menurut
kepercayaan ini, agar manusia tidak terkena efek negatif dari roh-roh tersebut, manusia harus
menyediakan kebutuhan roh. Saji-sajian yang sesuai dengan saran dukun pemimpin adat, adalah salah
satu usaha untuk memenuhi kebutuhan roh.
• Politeisme
Kepercayaan dinamisme dan animisme lama-lama tidak memberikan kepuasan, karena terlalu
banyak yang menjadi sanjungan dan pujaan. Roh yang lebih dari yang lain kemudian disebut dewa.
Dewa mempunyai tugas dan kekuasaan tertentu sesuai dengan bidangnya. Ada dewa yang
bertanggung jawab terhadap cahaya, ada yang membidangi masalah air, angin, dsb.
• Henoteisme
Politeisme tidak memberikan kepuasan terutama terhadap kaum cendekiawan. Oleh karena itu
dari dewa-dewa yang diakui diadakan seleksi, karena tidak mungkin mempunyai kekuatan yang
sama. Lama-kelamaan kepercayaan manusia meningkat menjadi lebih definitif (tertentu). Satu bangsa
hanya mengakui satu dewa yang disebut dengan Tuhan, namun manusia masih mengakui Tuhan
(Ilah) bangsa lain. Kepercayaan satu Tuhan untuk satu bangsa disebut dengan henoteisme (Tuhan
Tingkat Nasional).
• Monoteisme
Kepercayaan dalam bentuk henoteisme melangkah menjadi monoteisme. Dalam monoteisme
hanya mengakui satu Tuhan untuk seluruh bangsa dan bersifat internasional. Bentuk monoteisme
ditinjau dari filsafat Ketuhanan terbagi dalam tiga paham, yaitu: deisme, panteisme, dan teisme.
Keberadaan Alam bukti Adanya Tuhan
• Adanya alam serta organisasinya yang menakjubkan dan rahasia-rahasianya yang unik, tidak
boleh tidak semuanya memberikan penjelasan bahwa ada sesuatu kekuatan yang telah
menciptakannya, setiap manusia normal akan percaya bahwa dirinya ada dan percaya pula bahwa
alam ini juga ada.
• Jika percaya tentang eksistensi alam, maka secara logika harus percaya tentang adanya Pencipta
Alam. Pernyataan yang mengatakan: <<Percaya adanya makhluk, tetapi menolak adanya
Khaliq>> adalah suatu pernyataan yang tidak benar. Belum pernah diketahui adanya sesuatu yang
berasal dari tidak ada tanpa diciptakan. Segala sesuatu bagaimanapun ukurannya, pasti ada
penyebabnya. Oleh karena itu bagaimana akan percaya bahwa alam semesta yang demikian
luasnya, ada dengan sendirinya tanpa pencipta?
KEIMANAN DAN KETAQWAAN
1. Definisi Iman dan Taqwa
• Kata iman berasal dari bahasa Arab : amina – yukminu – imanam, yang secara bahasa atau
ethimilogi berarti yakin atau percaya. Dalam surat Al Baqarah 165, yang berbunyi “Alladziina
aamanuu Asyaddu hubban lillaah” yang artinya orang yang beriman sangat luar biasa cintanya
kepada Allah SWT.
• Iman kepada Allah berarti percaya dan cinta kepada ajaran Allah, yaitu Al Qur’an dan Sunnah
Rosul. Apa yang dikehendaki Allah, menjadi kehendak orang yang beriman, sehingga dapat
menimbulkan tekat untuk mengorbankan apa saja untuk mewujudkan harapan dan kemauan yang
dituntut Allah kepadanya.
• Kata “Taqwa” berasal dari : waqa – yaqi – wiqoyah, secara ethimologi artinya takut, menjaga,
memelihara dan melindungi. Dengan makna tersebut maka taqwa dapat diartikan memelihara
keimanan yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran agama Islam secara utuh dan konsisten
(istiqomah).

3
• Pengertian taqwa secara therminologi dijelaskan dalam Al hadits, yang artinya : Menjalankan
semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya (imtitsalu bi’awamirillahi wajtinabu
annawahih). Dalam surat Al Baqarah , 177.
Tanda-tanda Orang Beriman
a. Bergetar hatinya ketika disebut nama Allah.
b. Bertambahnya keyakinan atau kepercayaannya ketika dibacakan ayat-ayat Allah.
c. Mereka bertawakal hanya kepada Allah. Mereka tidak mengharap kepada selain Allah.
d. Mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rizkinya.
e. Memelihara amanah dan menepati janji.
f. Berjihad di jalan Allah dan gemar menolong.
g. Tidak meninggalkan pertemuan sebelum minta izin.
Korelasi antara Keimanan dan Ketaqwaan
Seseorang baru dinyatakan beriman dan bertaqwa, apabila telah punya keyakinan yang mantab
dalam hati kemudian mengucapkan kalimat tauhid (ashadu allaa ilaaha illa Allah) dan kemudian
diikuti dengan mengamalkan semua perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Dalam Al Qur’an ada ratusan ayat yang menggandengkan antara “orang yang beriman” dengan
“orang yang beramal shaleh”. Iman dan amal shaleh atau iman dan taqwa bergandengan sangat
dekat. Seolah hampa dan kosong iman seseorang kalau tanpa amal shaleh yang menyertainya

HAKEKAT MANUSIA MENURUT ISLAM


1. Berdasarkan studi al-Qur’an dan al-Hadits,
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki potensi untuk beriman (kepada Allah),dengan
mempergunakan akalnya mampu memahami dan mengamalkan wahyu serta mengamati gejala-gejala
alam, bertanggung jawab atas segala perbuatannya dan berakhlak.(N.A Rasyid,1983:19).
2. Martabat Manusia
Dibanding makhluk lain manusia mempunyai kelebihan, kemampuan untuk bergerak dalam
segala ruang, baik darat, laut maupun udara. Sedangkan binatang mampu bergerak di ruang terbatas. Ini
semua karunia Allah, berupa akal dan hati nurani, sehingga manusia dapat memahami ilmu yang
diturunkan Allah. Dan dengan ilmunya itu manusia mampu berbudaya.
Allah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya ciptaan. Karena keunggulan-
keunggulan yang dimilikinya. Manusia akan tetap bermartabat mulia, kalau mereka tetap hidup dengan
ilmu dan ajaran Allah, tapi jika manusia meninggalkan ajaran Allah, yaitu iman dan amal sholeh (taqwa)
maka manusiapun tidak bermartabat lagi, karena dalam keadaan demikian manusia bermartabat sangat
rendah.
Manusia dibandingkan dg makhluk lain, mempunyai berbagai ciri,antara lain :
1. Makhluk yg paling unik,di jadikan dalam bentuk yg baik, ciptaan Tuhan yg paling sempurna.
(Q.s. at-Tin;4)
2. Manusia memiliki potensi (daya atau kemampuan yg mungkin dikembangkan) beriman kepada
Allah. (QS Al-A’raaf:172)
3. Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya.(Q.s. az-Zariat:56)
4. Manusia diciptakan Tuhan utk menjadi khalifah-Nya di bumi.(Q.s. al-Baqoroh:30)
5. Disamping akal, manusia dilengkapi Allah dg perasaan dan kemauan atau kehendak.(Q.s.al-
Insan;3)
6. Secara individual manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya. (Q.S.at-Thur;21).
7. Berakhlak. Adl ciri utama manusia di bandingkan dg makhluk lain.
EKSISTENSI MANUSIA
Tujuan Penciptaan Manusia.

4
Tujuan penciptaan manusia adalah untuk penyembahan (ibadah) kepada penciptanya, yaitu
Allah. Pengertian penyembahan kepada Allah tidak boleh diartikan secara sempit, dengan hanya
membayangkan aspek ritual yang tercermin dalam sholat saja. Penyembahan berarti ketundukan manusia
kepada ajaran Allah dalam menjalankan kehidupan di muka bumi, baik yang menyangkut hubungan
vertikal (manusia dengan Allah) maupun horizontal (manusia dengan manusia dan alam semesta). (QS.
Al Bayyinah : 5). “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”
Dalam hadis Nabi Muhammad menjelas kan proses kejadian manusia sebagai
berikut,”Sesungguhnya, setiap manusia dikumpulkan kejadiannya dlm perut ibunya selama empat puluh
hari sbg nuthfah (air mani), empat puluh hari sbg ‘alaqoh (segumpal darah) selama itu pula sbg mudhgah
(segumpal daging). Kemudian Allah mengutus malaikat utk meniupkan ruh (ciptaan) Allah ke dlm tubuh
(janin) manusia yg berada dlm rahim itu. (H.R. Bukhori dan Muslim).
Fungsi dan Peranan Manusia.
Untuk menjadi pelaku ajaran Allah dan sekaligus pelopor pembudayaannya, seseorang dituntut
memulai dari diri sendiri dan keluarganya, setelah itu baru menyampaikan kepada orang lain. Dan yang
harus dilakukan manusia dalam hal ini adalah :
• Mempelajari dan memahami ilmu Allah
• Mengamalkan dan membudayakan ilmu Allah
• Mengajarkan ilmu Allah

ETIKA, MORAL DAN AKHLAK


• Etika adalah sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu sistem tata nilai suatu masyarakat
tertentu, Etika lebih banyak dikaitkan dengan ilmu atau filsafat, karena itu yang menjadi standar
baik dan buruk itu adalah akal manusia. Jika dibandingkan dengan moral, maka etika lebih
bersifat teoritis sedangkan moral bersifat praktis. Moral bersifat lokal atau khusus dan etika
bersifat umum.
• Moral berasal dari bahasa Latin mores yang berarti adat kebiasaan. Moral selalu dikaitkan dengan
ajaran baik buruk yang diterima umum atau masyarakat. Karena itu adat istiadat masyarakat
menjadi standar dalam menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan.(moral merupakan suatu
nilai dari perbuatan manusia).
• Akhlaq berasal dari bahasa arab khuluq.kata khuluq sering diartikan dengan moral, budi pekerti,
perangai, tingkah laku atau tabiat.
• Lima ciri perbuatan akhlaq, yaitu :
Pertama, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam dalam jiwa seseorang,
sehingga telah menjadi kepribadiannya.

Kedua, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang
mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak adalah perbutan
yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan.
Ketiga, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan
main-main atau karena bersandiwara.

Keempat, sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik)

5
adalah perbuatan yang dilakukan karena keikhlasan semata-mata karena Allah, bukan karena
dipuji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian.

Kelima, akhlaq memiliki sandaran yang jelas yaitu al-Qur’an dan sunnah. Sehingga ukuran baik
tidaknya sebuah akhlaq berdasarkan ketersesuaiannya dengan al-quran dan sunnah.

Akhlaq terpuji ialah segala macam sikap dan tingkah laku baik yang dilahirkan oleh sifat-sifat
mahmudah yang terpendam dalam jiwa manusia. Di antara sifat-sifat mahmudah adalah; amanat (setia,
dan dapat dipercaya), jujur, adil, pemaaf dll.
Ada beberapa bentuk akhlaq mahmudah (terpuji) yaitu:
1. Bersifat sabar. Mengendalikan diri dari musibah.
Kesabaran ada dua macam ; Pertama, kesabaran yang berkaitan dengan fisik, seperti
ketabahan dan ketegaran memikul dengan beban. Kedua, kesabaran yang berkaitan dengan
jiwa dalam menahan diri dari berbagai keinginan tabi’at dan tuntutan hawa nafsu.
2. Jujur. Adalah kesamaan dan keseimbangan antara yang rahasia dg yang nyata, antara yang
dzahir dan yang batin, dimana keadaan seorang hamba tidak mendustakan perbuatannya dan
perbuatannya tidak mendustakan keadaannya.
3. Amanah. Amanat dalam arti sempit , memelihara titipan dan mengembalikan kepada
pemiliknya dalam bentuk semula. Sedangkan dalam arti luas ialah menyembunyikan rahasia,
ikhlas dalam mberi nasehat kepada orang yang memintanya, dan menunaikan tugas yang
dibebankan kepadanya.
4. Bersifat hemat. Hemat artinya menggunakan segala sesuatu yang tersedia dari harta bendanya,
waktunya, maupun tenaganya menurut ukuran keperluanya.
5. Memelihara kesucian diri (afifah). Artinya menjaga diri dari segala keburukan dan
memelihara kehormatan di setiap waktunya.
Akhlak mazmumah (tercela) antara lain :
a. Ananiah berarti ’keakuan’. Sifat ananiah biasa disebut egois, yaitu sikap hidup yang terlalu
mementingkan diri sendiri bahkan jika perlu dengan mengorbankan kepentingan orang
lain.egois merupakan sifat tercela yang dibenci oleh Allah swt. dan manusia karena
cenderung berbuat sesuatu yang dapat merusak tatanan pergaulan kehidupan bermasyarakat.
Orang yang egois biasanya membangga-banggakan diri sendiri, mengganggap orang lain hina
dan rendah. Padahal Allah swt. dengan tegas tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membanggakan diri.
b. Ghadab (marah) secara bahasa artinya keras, kasar, dan padat. Orang yang marah (pemarah)
di sebut gadib. Gadab merupakan antonim(lawan kata)dari rida dan hilm(murah hati). Secara
istilah, gadab berarti sikap seseorang yang mudah marah karena tidak senang terhadap
perlakuan atau perbuatan orang lain. Amarah selalu mendorong manusia bertingkah laku
buruk atau jahat. Seorang pemarah tergolong lemah imannya karena berpandangan picik dan
tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya.
c. Namimah berarti mengadu domba. Secara istilah, namimah berarti mengadu domba atau
menyabar fitnah antara seseorang dengan orang lain dengan tujuan agar saling bermusuhan.
d. Hasad (dengki) secara bahasa berarti menaruh perasaan benci, tidak suka karena iri yang amat
sangat kepada keberuntungan orang lain. Secara istilah ialah usaha seseorang untuk
mempengaruhi orang lain supaya tidak senang terhadap orang yang memperoleh
keberuntungan atau karunia dari Allah swt. Hasad biasanya timbul karena adanya
permusuhan dan atau persaingan untuk saling menjatuhkan.
e. Ghibah(menggunjing) ialah membicarakan keburukan (keaiban)orang lain. Dengan maksud
mencari kesalahan-kesalahannya, baik jasmani, agama, kekayaan, akhlaq ataupun bentuk
lahiriyahnya. Ghibah tidak terbatas melalui lisan saja, namun bias terjadi dengan tulisan atau
gerakan tubuh. Apabila hal ini berhubungan dengan agama seseorang ia akan mengatakan
bahwa ia pembohong, fasik ,munafik dan lain-lain.

6
HUBUNGAN TASAWUF DENGAN AKHLAK
• Tasawuf adalah proses pendekatan diri kepada Allah dengan cara mensucikan hati (tashfiyat al-
qalbi). Hati yang suci bukan hanya bisa dekat dengan Allah tapi malah dapat mengenal Allah (al-
ma’rifah). Menurut Dzun Nun Al-Misri, ada tiga macam pengetahuan tentang Allah, yaitu :
– Pengetahuan Awam: Allah Esa dengan perantaraan kalimat syahadat
– Pengetahuan Ulama : Allah Esa menurut logika akal.
– Pengetahuan Kaum Sufi : Allah Esa dengan perantaraan hati sanubari.
• Menurut Taftazani, pengamat dan peneliti tasawuf, dalam bukunya pengantar ke Tasawuf Islam,
ada lima ciri tasawuf Islam:
1. memiliki nilai – nilai moral.
2. pemenuhan fana (sirna, lenyap)dalam realitas mutlak
3. pengetahuan intuitif (berdasarkan bisikan hati) langsung.
4. timbulnya rasa kebahagiaan sebagai karunia Allah dalam diri sufi karena tercapainya maqamat
(beberapa tingkatan perhentian) dalam perjalanan sufi mendekati Allah.
5.penggunaan lambang2 pengungkapan (perasaan) yang biasanya mengandung pengertian harfiah
dan tersirat.
• Station (maqamat) yang biasanya dilalui oleh para sufi antara lain :
1.Tobat, adalah meminta ampunan kpd Allah atas dosa2 yg telah diperbuat dan tidak mengulangi
perbuatan dosa lagi. Tobat dalam dunia tasawuf adl lupa kpd segala hal kecuali kepada Allah
SWT.
2. Zuhud adalah sikap tidak tertarik atau tidak peduli dg kesenangan duniawi. Zuhud merupakan
langkah awal dlm perjalanan untuk menuju kehidupan seorang sufi.
3.Wara’ yaitu meninggalkan segala sesuatu yg di dalamnya terdapat subhat (keragu-raguan)
tentang halalnya sesuatu.
4.Kefakiran adalah tidak meminta lebih dari apa yg telah ada pada diri kita, yg penting halal
betapapun sedikitnya rizki yg telah didapat.
5. Sabar yaitu sabar dalam menjalankan perintah2 Allah,menjauhi larangan2-Nya.rasa rindunya
pada Allah dalam segala keadaan.
6. Tawakkal yaitu menyerah diri kepada qada’ dan putusan Allah. Menerima pemberian dg rasa
syukur, bersikap sabar dan menyerahkan pada qada’ dan qadar Allah.
7. Kerelaan yaitu tidak menentang terhadap qada’ dan qadar Allah SWT, melainkan menerima dg
senang hati. Baik ketika mendapat nikmat maupun menerima malapetaka.
8. Mahabbah adalah cinta kepada Allah yang di tampilkan dalam bentuk kepatuhan, penyerahan
diri secara total, dan pengosongan hati dari segala sesuatu kecuali yg dikasihi yaitu Allah.
9. Makrifat : mengetahui atau mengenal Allah swt. dimaknai dengan pengenalan terhadap jalan
yang mengantarkan manusia dekat dengan Allah, mengenalkan rintangan dan gangguan yang
ada dalam perjalanan mendekatkan diri kepada Allah.
10. Al-Fana wal Baqa’,di station ini ma’rifat seorang sufi telah dekat sekali dengan Tuhan,tetapi
ia belum puas sehingga ingin lebih dekat lagi dan bersatu dgn Tuhan.
11.Al-Ittihad adalah satu tingkatan tasawuf dimana seorang sufi merasa dirinya telah menyatu
dgn Tuhan.

HUKUM, HAK ASASI MANUSIA, DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM


Pengertian Hukum Islam.
 Hukum adalah kumpulan-kumpulan peraturan-peraturan yang terdiri dari norma dan sanksi.
Sedangkan Hukum Islam adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah melalui wahyu-Nya yang
kini terdapat dalam Al Qur’an dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya
melalui Sunnah beliau yang kini terhimpun dengan baik dalam kitab-kitab hadits.

7
• Syariat adalah wahyu Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah yang terdapat dalam
kitab-kitab hadits. Syariat bersifat fundamental, mempunyai ruang lingkup yang lebih luas dari
fikih, berlaku abadi, dan menunjukkan kesatuan dalam Islam.
• fikih adalah pemahaman manusia yang memenuhi syarat tentang syariat sebagaimana yang
terdapat dalam kitab-kitab fikih, karena itu sifatnya instrumental, ruang lingkupnya terbatas, tidak
berlaku abadi dapat berubah dari masa ke masa, dan dapat berbeda dari satu tempat dengan
tempat yang lain. Hal ini terlihat pada aliran-aliran hukum yang disebut madzhab, sehingga fikih
menunjukkan adanya keragaman dalam hukum Islam. (Daud Ali, 1999; 45-46).
• Fikih merupakan elaborasi atau rincian terhadap syariah melalui kegiatan ijtihad.
• Ijtihad adalah usaha yang sungguh-sungguh dengan menggunakan segenap kemampuan yang
ada dilakukan oleh orang (ahli hukum) yang memenuhi syarat untuk mendapat suatu kepastian
hukum yang belum jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al-Qur’an ataupun hadits.
• Dalam fikih seorang akan menemukan pemikiran-pemikiran para fuqaha’, antara lain para
pendiri empat madzhab yang ada dalam ilmu fikih dan sampai sekarang masih berpengaruh di
kalangan umat Islam sedunia; yaitu Abu Hanifah (madzab Hanafi), Malik bin Anas (Madzhab
Maliki), Muhammad Idris As-Syafi’i (Madzhab Syafi’i ) dan Ahmad bin Hambal (Madzhab
Hambali).
Ruang Lingkup Hukum Islam
• muamalat adalah ketetapan-ketetapan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan lainnya
yang terbatas pada aturan-aturan pokok, dan tidak seluruhnya diatur secara rinci sebagai ibadah.
Menurut Abdul Wahab Khalaf sistematika hukum Islam adalah :
a. Al-ahkam al-syahshiyah (hukum perorangan/keluarga) yang mencakup masalah perkawinan,
waris dsb.
b. Al-ahkam al-amadaniyah (hukum perdata), hukum ini berkaitan dengan transaksi jual beli
perburuhan, utang piutang, jaminan, gadai dan sebagainya.
c. Al-ahkam al-jinaiyah (hukum pidana), hukum ini berkaitan dengan pelanggaran dan kejahatan.
d. Al-ahkam al-murafa’at (hukum acara), hukum ini berkenaan dengan peradilan, kesaksian,
pembuktian, sumpah dan sebagainya.
e. Al-ahkam al-dusturiyah (hukum tata negara), hukum ini berkaitan dengan sistem pemerintahan
dan prinsip-prinsip pengaturannya.
f. Al-ahkam al-dauliyab (hukum internasional), hukum ini berkaitan dengan hubungan antar
negara, kerjasama, perdamaian.
g. Al-ahkam al-iqrishadiyah wal maliyah (hukum perekonomian dan keuangan), hukum berkaitan
dengan pendapatan negara, baitul maal, dan pendistribusiannya pada masyarakat.
Susunan muamalah dalam arti luas adalah :
1. Munakahat yaitu hukum yang mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan,
perceraian, serta akibat-akibatnya.
2. Waratsah, mengatur segala masalah yang berhubungan pewaris, ahli waris, harta peninggalan,
serta pembagian warisan. Hukum kewarisan ini juga disebut Faroid.
3. Muamalat dalam arti khusus, yakni hukum yang mengatur masalah kebendaan dan hak-hak atas
benda, jual beli, sewa-menyewa, pinjam meminjam, perseroan, dan sebagainya.
Adapun yang termasuk dalam hukum publik Islam adalah :
1. Jinayat yang memuat aturan-aturan mengenai perbuatan-perbuatan yang diancam dengan
hukuman baik dalam jarimah hudud, qishos, ataupun ta’zir.
2. Al-ahkam as-sulthaniyah yaitu hukum-hukum yang mengatur hal-hal yang berhubungan dengan
kepala negara, pemerintahan, baik pemerintah pusat maupun daerah, tentara, pajak, dan
sebagainya.
3. siyar yakni hukum yang mengatur urusan perang dan damai, tata hubungan dengan pemeluk
agama dan negara lain.
4. muhashanat, mengatur tentang peradilan, kehakiman, dan hukum acara.

8
Tujuan Hukum Islam.
a. Tujuan secara umum
1. Untuk mengatur segala aspek kehidupan umat Islam agar sesuai dengan ketentuan yang telah
disyari’atkan Allah beserta sunnah-sunnah Rasul-Nya
2. Untuk menjadi panutan bagi umat manusia dalam mengatur hubungan dengan Tuhan, dengan
saudara seagama, dengan saudaranya sesama manusia dan alam semesta, dengan tetap
mengakomodir tuntutan perkembangan dan perubahan yang ada.
Tujuan secara khusus
1. Menjaga dan melindungi enam asasi manusia: agama, jiwa, akal, harta benda, keturunan,
kehormatan.
2. Membangun ketatatertiban manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dan
alam lingkungannya
3. Menegakkan kemaslahatan menghilangkan kemudhorotan.
4. Menghilangkan kesulitan dan kesempitan
5. Menyeimbangkan kepentingan individu dan masyarakat
6. Menegakkan nilai kemasyarakatan.
Al-Qur’an.
• Pengertian Al-Qur’an : Al-Quran merupakan firman-firman (wahyu) Allah, yang disampai-
kan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah sedikit demi sediki selama
22 tahun 2 bulan 22 hari, mula-mula di Makah kemudian di Madinah.

• Ayat-ayat al-Quran yang diturunkan selama lebih kurang 23 tahun itu dapat dibedakan antara
ayat-ayat yang diturunkan ketika Nabi Muhammad masih tinggal di Mekah (sebelum hijrah)
dengan ayat yang turun setelah Nabi Muhammad hijrah (pindah) ke Madinah. Ayat-ayat yang
turun ketika Nabi Muhammad masih berdiam di Makkah di sebut ayat-ayat Makkiyah, sedangkan
ayat-ayat yang turun sesudah Nabi Muhammad pindah ke Madinah dinamakan ayat-ayat
Madaniyah.
Ciri-cirinya adalah :
1. Ayat-ayat Makiyah pada umumnya pendek-pendek, merupakan 19/30 dari seluruh isi al-Quran,
terdiri dari 86 surat, 4.780 ayat. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah pada umumnya panjang-panjang,
merupakan 11/30 dari seluruh isi al-Quran, terdiri dari 28 surat, 1456 ayat.
2. Ayat-ayat Makkiyah dimulai dengan kata-kata yaa ayyuhannaas (hai manusia) sedang ayat –ayat
Madaniyah dimulai dengan kata-kata yaa ayyuhallaziina aamanu (hai orang-orang yang
beriman).
3. Pada umumnya ayat-ayat Makkiyah berisi tentang tauhid yakni keyakinan pada Kemaha Esaan
Allah, hari Kiamat, akhlak dan kisah-kisah umat manusia di masa lalu, sedang ayat-ayat Madaniya
memuat soal-soal hukum, keadilan, masyarakat dan sebagainya.
Kandungan Al-Quran.
1. Petunjuk mengenai akidah yang harus diyakini oleh manusia. Petunjuk akidah ini berintikan
keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan kepastian adanya hari kebangkitan, perhitungan
serta pembalasan kelak.
2. Petunjuk mengenai syari’ah yaitu jalan yang harus diikuti manusia dalam berhubungan dengan
Allah dan dengan sesama insan demi kebahagiaan hidup manusia di dunia ini dan di akhirat
kelak.

9
3. Petunjuk tentang akhlak, mengenai yang baik dan buruk yang harus diindahkan leh manusia
dalam kehidupan, baik kehidupan individual maupun kehidupan sosial.
4. Kisah-kisah umat manusia di zaman lampau. Sebagai contoh kisah kaum Saba yang tidak
mensyukuri karunia yang diberikan Allah, sehingga Allah menghukum mereka dengan
mendatangkan banjir besar.
5. Berita tentang zaman yang akan datang. Yakni zaman kehidupan akhir manusia yang disebut
kehidupan akhirat. Kehidupan akhirat dimulai dengan peniupan sangkakala (terompet) oleh
malaikat Israil. “ Apabila sangkakala pertamaditiupkan, diangkatlah bumi dan gunung-gunung, la-
lu keduanya dibenturkan sekali bentur. Pada hari itulah terjadilah kiamat dan terbelahlah langit...”.
(Qs al-Haqqah (69) : 13-16.
6. Benih dan Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.
7. Hukum yang berlaku bagi alam semesta
B. AL-HADITS MENURUT BAHASA
Al-Hadits, menurut bahasa adalah al-Jadid )‫ (الجديد‬yang baru; al-Jadid min al-asyya’i )‫(الجديد من االشياَء‬
(Baca: Ajjaj al-Khatib, 1963:20); al-Khabar qaliluhu wa kasiruhu, warta baik sedikit atau banyak (Ar-
Razi, t.th.:125), yaitu “ma yutahaddasu bihi wa yunqalu”, sesuatu yang dibicarakan dan dipindahkan dari
seseorang (Al-Fayumi, t.th. I:124); qarib, yang dekat – yang belum lagi terjadi (Ash-Shiddieqy, 1980:20).
Sedangkan arti etimologis as-Sunnah adalah : as-Sirah, jalan atau perikehidupan (Ar-Razi, t.th. :137);
As-Sirah hamidah kanat au damimah, perikehidupan yang dijalani, baik terpuji atau tercela (Al-Fayumi,
t.th., I:292); as-Sirah, at-Tariqah, at-Tabi’ah, dan asy-Syari’ah )‫الشريعة‬, ‫الطبيعة‬, ‫الطريقة‬, ‫(السيرة‬, tuntunan,
jalan, tabiat, dan syari’at (Louis Ma’luf, 1975:353; At-Tarmisi, 1974:8), jalan yang dijalani, terpuji atau
tidak. Sesuatu tradisi yang sudah dibiasakan, dinamakan sunnah walaupun tidak baik (Ash-Shiddieqy,
1980:24).
Penjelasan Cakupan Yang Terkandung Dalam Hadits.
1. Perkataan, ialah segala ucapan Nabi SAW. dalam berbagai segi. Misalnya, masalah hukum,
akhlaq, aqidah, pendidikan dan sebagainya. Masalah hukum, contoh dalam hadits :
)‫انمااالعمال بالنيات وانمالكل امرئ مانوى (متفق عليم‬
“Sesungguhnya sahnya amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya”.
2. Perbuatan. Perbuatan Rasulullah SAW. merupakan penjelasan praktis terhadap peraturan-
peraturan syara’ yang belum jelas cara mengerjakannya, seperti cara mengerjakan salat, puasa,
haji, dan sebagainya.
3. Penetapan (Taqrir). Yang dimaksud adalah keadaan Rasulullah SAW. mendiamkan, tak
mengadakan sanggahan atau persetujuan atas perbuatan sahabat yang dilakukan di muka beliau.
Contoh, dalam suatu undangan, Khalid bin Walid menyajikan daging binatang biawak Arab (zab)
dan Khalid mempersilahkan beliau Nabi SAW. dan para undangan untuk menikmatinya.
4. Sifat-sifat, keadaan dan hasrat Rasulullah SAW.
Sifat-sifat Rasulullah yang termasuk unsur al-Hadits
a. Sifat-sifat Rasulullah SAW. yang dijelaskan oleh para sahabat atau sejarahwan;
b. Silsilah, nama-nama dan tahun kelahiran;
c. Himmah (hasrat), yaitu angan-angan Nabi yang belum terealisir, seperti puasa pada tanggal 4
Asy-Syura, yang Nabi sendiri belum pernah.
FUNGSI AL-HADITS

10
1. Memperkuat hukum-hukum yang ada dalam al-Qur’an atau menjelaskan cara pelaksanaan
hukum-hukum itu. Seperti hadits tentang : tatacara salat, zakat, haji, larangan syirik,
larangan mendurhakai orang tua, dan sebagainya.
2. Al-Hadits sebagai penafsir ayat-ayat al-Qur’an. Nas-nas al-Qur’an tidak semuanya memberi
keterangan secara rinci, tetapi masih : mujmal, umum atau mutlak. Kenyataan itu
membutuhkan keterangan yang lebih rinci bagi penerimanya (kaum muslimin). Oleh karena
itu, hadits dalam keadaan ini merupakan tafsir amali terhadap ayat-ayat al-Qur’an itu.
Adapun fungsi al-hadits yang menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an mempunyai kedudukan yang
berbeda-beda, antara lain:

a. Menafsirkan ayat mujmal menjadi rinci.


b. Membatasi atau men-taqqyid ayat-ayat yang masih mutlak.
c. Mengkhususkan (men-takhsis) ayat-ayat al- Qur’an yang ‘am )‫(تخصيص العام‬.
d. Menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an yang musykil. )‫ (توصيح المشكيل‬.
3. Al-Hadits sebagai pentakhsis ayat al-Qur’an. (suatu lafadh/ kalimat yang membatasi pengertian
umum dari satu kalimat).
4. Al-hadits sebagai “bayan tasyri”.
Musyawarah dalam Islam
Secara bahasa musyawarah diambil dari kata syura (Arab) yang memiliki empat makna:
1. Memeras madu dari sarang lilinnya
2. Meneliti fisik hewan ternak ketika jual beli
3. Mengajukan diri untuk turut tampil dalam medan perang
4. Meminta pendapat dan pembahasan tentang yang benar
• Secara epistimologi musyawarah bermakna meminta pendapat dari para pakar tentang suatu
perkara untuk menghasilkan suatu keputusan yang lebih mendekatkan kepada kebenaran.
Adakalanya ia bermakna meminta pendapat umat atau yang mewakilinya dalam perkara-perkara
public, atau yang berkenaan dengan mereka.

Perbedaan demokrasi modern dengan demokrasi islam adalah sbb :


Demokrasi modern yaitu meliputi :
1. Kedaulatan yang berada di tangan rakyat.
2. Pembuatan peraturan adalah badan legislatif.
3. Keputusan ditentukan melalui musyawarah, suarah terbanyak.
4. Terdapat badan legislatif sebagai penampung aspirasi rakyat.
5. Masih terdapat revilige (hak khusus).
Demokrasi Islam terdiri atas :
1. Kedaulatan tertinggi di tangan allah SWT.
2. Pembuat peraturan hanya allah SWT.
3. Keputusan di ambil dari ijtihad, dan pada akhirnya keputusan khalifah sbg ulul amri.
4. Terdapat majelis syura sebagai badan musyawarah dalam memecahkan persoalan.
5. Tidak mengakui ada pandangan hak istimewa bagi golongan tertentu.

ILMU PENGETAHUAN , TEKNOLOGI DAN SENI DALAM ISLAM


A. KONSEP IPTEKS DALAM ISLAM

11
• Ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi dan diinterpretasi,
menghasilkan kebenaran obyektif, sudah diuji kebenarannya, dan dapat diuji ulang secara ilmiah.
• Ashley Montagu menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam
suatu system yang berasal dari pengamatan, pembelajaran, dan pengalaman untuk menentukan
hakikat prinsip-prinsip yang sedang dipelajari.
• Ilmu terbagi dua macam yakni :
a. Ilmu laduni, yaitu ilmu yang diperoleh tanpa usaha manusia.
b. Ilmu khasbi, yaitu ilmu yang diperoleh melalui usaha manusia.
Sumber-sumber Ilmu
1. Instink (gharizah). Misalnya kebutuhan akan makan ketika lapar, minum ketika haus.
2. Indera (hawas).
3. Intuisi, yang didapat dari firasat, ilham, irhasy, atau kata hati.
4. Akal.
5. Wahyu, khusus untuk para Nabi dan Rasul.
Karakteristik Ilmu
1. Bersifat akumulatif dan milik bersama.
2. Kebenarannya tdk mutlak dan dpt saja terjadi kesalahan.
3. Bersifat objektif, prosedur metode ilmu harus menggunakan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan.
4. Ciri-ciri ilmu: rasional; bersifat empiris; umum; kumulatif; dan relative (nisbi)
Dalam pemikiran Islam ada dua sumber ilmu yaitu akal dan wahyu. Keduanya tidak boleh
dipertentangkan. Ilmu yang bersumber dari wahyu Allah bersifat abadi (perennial knowledge) dan tingkat
kebenaran mutlak (absolute). Sedangkan ilmu yang bersumber dari akal pikiran manusia bersifat
perolehan (aquired knowledge), tingkat kebenaran nisbi (relative), oleh karenanya tidak ada istilah final
dalam suatu produk ilmu pengetahuan.
• Teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan dan
kenyamanan manusia. Dengan demikian mesin atau alat canggih yang dipergunakan bukanlah
teknologi, tetapi merupakan hasil dari teknologi.
• Seni, dalam teori ekspresi disebutkan bahwa “Art is an expression of human feeling” artinya seni
adalah suatu pengungkapan perasaan manusia. Seni merupakan ekspresi jiwa seseorang dan hasil
dari ekspresi jiwa tersebut berkembang menjadi bagian dari budaya manusia. Seni identik dengan
keindahan, keindahan yang hakiki identik dengan kebenaran, dan keduanya memiliki nilai yang
sama yaitu keabadian. Dan seni yang lepas dari nilai-nilai ketuhanan tidak akan abadi karena
ukurannya adalah hawa nafsu buka akal dan budi.
KEUTAMAAN ORANG YANG BERILMU
• Didalam Al Qur’an Surat Al Mujadalah : 11, Allah menjanjikan akan mengangkat derajat orang-
orang yang beriman dan berilmu. Derajat yang diberikan Allah bisa berupa kemuliaan pangkat,
kedudukan, jabatan, harta dan kelapangan hidup. Jika manusia ingin mendapatkan derajat yang
tinggi dari Allah maka manusia harus berupaya semaksimal mungkin meningkatkan kualitas
keimanannya dan keilmuannya dengan penuh keikhlasan dan hanya untuk mencari ridlo Allah
semata.
• Imam Al Ghozali juga mengatakan “Barang siapa yang berilmu, akan dapat membimbing dirinya
memanfaatkan ilmunya bagi orang lain, bagaikan matahari , selain menerangi dirinya, juga
menerangi orang lain. Dia bagaikan minyak kasturi yang harum dan menyebarkan pesona
keharumannya kepada orang yang berpapasan dengannya.

12
TANGGUNG JAWAB ILMUWAN TERHADAP ALAM LINGKUNGANNYA
• Ada dua fungsi utama manusia di dunia yaitu sebagai Abdun (hamba Allah) dan sebagai Khalifah
Allah di bumi. Esensi dari Abdun adalah ketaatan, ketundukan dan kepatuhan kepada kebenaran
dan keadilan Allah, sedangkan esensi dari Kholifah adalah tanggung jawab terhadap dirinya dan
alam lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam.
• Dalam kontek Abdun, manusia menempati posisi sebagai ciptaan Allah yang memiliki
konsekuensi adanya keharusan manusia untuk taat dan patuh kepada penciptanya. Keengganan
manusia menghambakan diri kepada Allah sebagai pencipta dirinya akan menghilangkan rasa
syukur atas anugerah yang diberikan sang pencipta kepadanya.
• Fungsi yang kedua adalah sebagai khalifah (wakil Allah) di muka bumi. Dalam posisi ini manusia
mempunyai tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan alam dan lingkungannya tempat
mereka tinggal. Manusia diberikan kebebasan untuk mengeksploitasi, menggali sumber-sumber
alam, serta memanfaatkannya dengan sebesar-besarnya untuk kemanfaatan umat manusia,
asalkan tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas. Karena pada dasarnya alam beserta isinya
ini diciptakan oleh Allah adalah untuk kehidupan dan kemaslahatan manusia.
• Untuk menggali potensi alam dan pemanfaatannya diperlukan ilmu pengetahuan yang memadai.
Hanya orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukup (para ilmuwan atau para
cendikiawan) yang sanggup menggali dan memberdayakan sumber-sumber alam ini.

13