Anda di halaman 1dari 42

ASKEP

ANC (ANTRENATAL CARE)


DAN
INC (INTRA NATAL CARE)

Di Susun Oleh :

ISMAIL : P201501057
RAHMAT SULHAJI : P201501058

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


MANDALA WALUYA
KENDARI
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka kami dapat
menyelesaikan penyusunan Asuhan Keperawatan yang berjudul ANC(ANTRENATAL CARE) dan INC
(INTANATAL CARE) Makalah ini merupakan tugas mata kulia Sistem Reproduksi. Dalam penulisan
askep ini penulis merasa masih memiliki banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi,
mengingatkan kemampuan yang di miliki penulis.Untuk itu kritikan dan saran yang membangun dari
dosen dan teman-teman yang penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makala ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan terimah kasih kepadaYth :

1. Rosniawati,.S.Tbid,.SKM,.M.Kes yang memberikan bimbingan untuk pembuatan makalah


ini.
2. Kepada orang tua yang tercinta turut membantu membimbing dan mengatasi berbagai
kesulitan sehingga tugas ini selesai.
3. Kepada semua pihak yang membentu dalam menyelesaikan masalah ini.

Akhir kata penulis berharap semoga makalah yang di buat ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu di
masa mendatang amin.

Kendari, 20 November 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................................. 1


DAFTAR ISI................................................................................................................................................. 3
BAB I ............................................................................................................................................................ 4
PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 4
1. Latar Belakang .................................................................................................................................. 4
2. Rumusan Masalah ............................................................................................................................. 5
3. Tujuan ............................................................................................................................................... 5
BAB II........................................................................................................................................................... 6
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................................................... 6
1. ANC (ANTENATAL CARE) ........................................................................................................... 6
A. Konsep Medis ............................................................................................................................... 6
B. Konsep Dasar Keperawatan ANC............................................................................................... 20
2. INC (INTRANATAL CARE) ......................................................................................................... 27
A. Konsep Medis ............................................................................................................................. 27
B. Konsep Dasar Keperawatan ........................................................................................................ 35
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu di banyak Negara berkembang terutama
disebabkan oleh perdarahan persalinan, eklamsia, sepsis, dan komplikasi keguguran. Sebagian
besar penyebab utama kesakitan dan kematian ibu tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui
upaya pencegahan yang efektif. Asuhan kesehatan ibu selama dua dasawarsa terakhir terfokus
kepada : keluarga berencana untuk lebih mensejahterakan anggota masyarakat. Asuhan neonatal
trfokus untuk memantau perkembangan kehamilan mengenai gejala dan tanda bahaya,
menyediakan persalinan dan kesediaan menghadapi komplikasi. Asuhan pasca keguguran untuk
penatalaksaan gawat darurat keguguran dan komplikasinya serta tanggap terhadap kebutuhan
pelayanan kesehatan reproduksi lainnya.
Persalinan yang bersih dan aman serta pencegahan kajian dan bukti ilmiah menunjukan
bahwa asuhan persalinan bersih, aman dan tepat waktu merupakan salah satu upaya efektif untuk
mencegah kesakitan dan kematian. Penatalaksanaan komplikasi yang terjadi sebelum, selama dan
setelah persalinan. Dalam upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu perlu diantisipasi
adanya keterbatasan kemampuan untuk menatalaksanakan komplikasi pada jenjang pelayanan
tertentu. Kompetensi petugas, pengenalan jenis komplikasi dan ketersediaan sarana pertolongan
menjadi penentu bagi keberhasilan penatalaksanaan komplikasi yang umumnya akan selalu
berada menurut derajat keadaan dan tempat terjadinya.
Persalinan saat ini menjadi momok yang ditakutkan dikalangan ibu, khususnya ibu hamil.
Tidak sedikit ibu dan bayinya mengalami kegawatdaruratan dan sampai pada akhirnya tak dapat
terselamatkan yang pada akhirnya menyebabkan meningkatnya angak kematian ibu dan anak.
Akan tetapi hal tersebut dapat diminimalisir dengan asuhan persalinan.
Asuhan persalinan kala I, II, III, dan IV memegang kendali penting pada ibu selama
persalinan karena dapat membantu ibu dalam mempermudah proses persalinan, membuat ibu
lebih yakin untuk menjalani proses persalinan serta untuk mendeteksi komplikasi yang mungkin
terjadi selama persalinan dan ketidaknormalan dalam proses persalinan.
Dalam makalah ini membahas teoritis Asuhan Persalinan Normal dan asuhan
keperawatan pada pasien dengan Asuhan Persalinan Normal.
Menjelang persalinan sebagian besar merasa takut menghadapi persalinannya. Kala I
perlu dijelaskan dengan baik bahwa persalinan akan berjalan aman. Asuhan kala I pada ibu
bersalin ini sangat mempengaruhi proses persalinan nantinya.
Tujuan kebidanan masa kini dan waktu mendatang adalah menekan angka kematian dan
kesakitan ibu dan anak sampai kepada batas yang tidak dapat diturunkan lagi. Tujuan ini hanya
dapat dicapai bila kita mampu mengenali dan menangani factor-faktor medis dan non medis
penyebab morbiditas dan mortalitas.
2. Rumusan Masalah
a) Bagaimana landasan teoritis Asuhan ANC dan INC ?
b) Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien ANC dan INC?

3. Tujuan
a) Tujuan Umum
Membantu mahasiswa dalam memahami secara umum konsep dari Asuhan
Persalinan Normal.
b) Tujuan Khusus
1) Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan ANC dan INC.
2) Mampu menemukan masalah keperawatan pada pasien denganANC dan INC.
3) Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan ANC dan INC.
4) Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan ANC dan INC.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. ANC (ANTENATAL CARE)
A. Konsep Medis

1) Definisi ANC
Pelayanan antenatal adalah pelayanan terhadap individu yang bersifat preventif
care untuk mencegah masalah yang kurang baik bagi ibu maupun janin agar melalui
persalinan dengan sejat dan aman, diperlukan kesiapan fisik dan mental ibu sehingga ibu
dalam keadaan status kesehatan oftimal, karena kesehatan ibu berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan perkembangan janinnya ( Departemen Kesehatan, 2007)
Asuhan antenatal adalah suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi
dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan
persalianan yang aman dan memuaskan (Handaya, 2008).
Antenatal care adalah pengawasan sebelum persalinan terutama di tujukan pada
pertumbyhan dan perkembangan jan in dalam rahim. Sedangkan pengawasan sebelum
persalinan terutama di tujukan pada ibunya disebut ante natal care.

2) Tujuan Pelayanan ANC (Antenatal Care)


Secara umum antenatal care bertujuan untuk menjaga agar ibu hamil dapat
melalui masa kehamilan, persalinan, dan nifas dengan baik dan selamat serta
menghasilkan bayi yang sehat (Depkes RI, 1994). Secara rinci tujuan antenatal care
adalah:
a) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh
kembang janin
b) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu.
c) Mengenali dan mengurangi sedini mungkin adanya penyulit/komplikasi yang dapat
muncul selama kehamilan, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan
pembedahan.
d) Mempersiapkan persalinan cukup builan dan persalinan yang aman dengan trauma
seminimal mungkin.
e) Mempersiapkan ibu agar nifas berjalan dengan normal dan mempersipkan ibu agar
dapat memberi asi secara eksklusif.
f) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran janin agar tumbuh
kembang secara normal
g) Mengurangi angka kematian bayi prematur, kelahirran mati dan kematian neonatal.

3) Standar Pelayanan ANC (Antenatal Care)


Pelayanan antenatal mengacu pada konsep 7T yaitu:
a) Timbang badan dan ukur badan, tujuannya adlah untuk mengetahui sesuai tidaknya
berat badan ibu. Pemeriksaan berat badan dilakukan setiap berkunjung ke tempat
pelayanan kesehatan. Selama triwulan I berat badan ibu harus naik 0,5 sampai
dengan 0,75 kg setiap bulan, pada triwulan ketiga harus naik 0,25 kg setiap
minggunya. Dan pada trisemester III berat badan ibu harus naik sekitar 0,5 kg setiap
minggunya, atau secara umum berat badan meningkat sekitar 8 kg selama kehamilan.
b) Ukur tekanan darah. Tujuannya untuk mendeteksi apakah tekanan darah normal
atau tidak. Pemeriksaan ini juga dilakukan pada setiap kunjungan. Tekanan darah
yang tinggi dapat membuat ibu keracunan kehamilan, baik ringan maupun berat
bahkan sampai kejang-kejang. Sementara tekanan darah yang rendah menyebabkn
pusing dan lemah.
c) Skrinin status imunisasi Tetanus Toxoid (TT). Tujuannya untuk melindungi ibu dan
bayi yang dilahirkan nanti dari tenanus neonatorum. Imunisasi TT diberikan pada
kunjungan antenatal I, TT2 deberikan empat minggu setelah TT1, TT3 diberikan
setelah enam bulan TT2, TT4 diberikan 1 Tahun setelah TT3, dan TT5 diberikan
setelah setahun TT4
d) Ukur tinggi fundus uteri. Tujuannya untuk melihat pembesaran rahim, dilakukan
dengan cera meraba perut dari luar, selain itu untuk mengetahui presentasi janin,
serta mengetahui posisi janin dalam rahim. Pada pemeriksaan ini juga dilakukan
pngukuran tinggi puncak rahim untuk kemudian disesuaikan dengan umur
kehamilan. Jika diperoleh besarnya rahim tidak sesuai dengan umur kehamilan maka
direncanakan pemeriksaan lanjutan.
e) Pemberian tablet besi (90 Tablet) selama kehamilan. Pemberian tablet besi
diberikan sesuai dengan kebijakan nasional yang berlaku diseluruh puskesmas di
Indonesia. Pemberian satu tablet besi sehari sesegera mungkin setelah rasa mual
hilang pada awal kehamilan
f) Temu wicara/ pemberian komunikasi interpersonal atau konseling. Untuk
menghindari kesalahan penanganan kehamilan, komunikasi dengan suami dan
keluarga diperlukan gunan mempersiapkan rujukan nantinya. Dengan manajemen
rujukan yang benar, cepat, dan tepat maka ibu dan janin akan memperoleh pelayanan
persalinan dan kelahiran yang benar sehingga membantu menurunkan angka
kematian ibu dan bayi. Program ini lebih diutamakan pada tempat pelayanan
kesehatan terpencil dan jauh dari akses transfortasi yang memadai
g) Test laboratorium sederhana (Hb,Protein, dan Urine) berdasarkan indikasi
(HbsAg, sifilis, HIV, malaria, tuberkulosis paru (TBC) , PMS). Wanita yang
sedang hamil merupakan kelompok dengan risiko tinggi terhadap penyakit menular
seksual yang dapat menimbulkan kematian pada ibu dan janin yang dikandungnya.

5) Tanda Dan Gejala Kehamilan


a) Tanda presumsi
i. Subyektif:
 Amenorrhea.
Dapat disebabkan oleh: gangguan endokrin, abnormalitas sistem
saraf, penyakit infeksi, anemia, obstruksi servikal, atau ketegangan emosi
 Kelemahan/dan keletihan, dapat diakibatkan karena anemia atau infeksi.
 Mual dan muntah (morning sickness)
Merupakan respon awal tubuh terhadap tingginya kadar
progesteron, dapat disebabkan karena gangguan pada saluran cerna atau
alergi. Terjadi antara minggu ke-2-6 dan menghilang pada minggu ke-12.
 Perubahan payudara
Terasa penuh dan nyeri, hiperpigmentasi areola mammae,
perubahan nipple, sekresi kolostrum, pelebaran vena.
 Peningkatan sekresi berkemih.
Kongesti darah pada organ-organ pelvik meningkatkan
sensitivitas jaringan, tekanan karena pembesaran uterus menstimulasi
saraf dan mentrigger keinginan untuk berkemih selama hamil. Dapat pula
disebabkan oleh penyakit infeksi saluran kencing, trauma dan
pertumbuhan tumor vesika urinaria.
 Perubahan mood: letih, pusing, sakit kepala.
 Leukorea Quickening
Sensasi adanya gerakan dapat dirasakan pada minggu ke- 22
pada primipara dan minggu ke-20 pada multipara.
ii. Obyektif (probabilitas)
 Perubahan fisiologi dan anatomi
 Peningkatan temperatur basal tubuh (basal body temperature)
 Perubahan kulit: Striae gravidarum dan pigmentasi (kloasma, linea nigra)
 Perubahan payudara
 Pembesaran abdomen
 Perubahan rahim dan vagina
b) Tanda kemungkinan hamil
Merupakan tanda-tanda yang dapat diobservasi oleh pemeriksa. Bila
digabung dengan tanda dan gejala presumsi, maka tanda kemungkinan memberi
dugaan kuat adanya kehamilan. Tandanya meliputi:
 Pembesaran rahim
 Uterin shouffle adalah goyangan, desiran nadi yang terdengar di atas uterus ibu
hamil.
 Kontraksi Braxton Hicks
 Ballotement → pantulan yang terjadi ketika bayi pemeriksa mengetuk janin yang
mengapung dalam uterus, menyebabkan janin berenang menjauh dan kemudian
kemudian kembali ke posisinya semula.
 Hegar sign : melunaknya segmen bawah rahim
 Goodell sign : melunaknya serviks.
 Test kehamilan positif.
c) Tanda positif kehamilan (absolut)
 Terlihat bentuk tubuh janin melalui USG dan rangka janin pada X-Ray
 Terdengar detak jantung janin
 Teraba bagian-bagian janin
 Teraba gerakan janin.
6) Perubahan Fisiologi Kehamilan
Perubahan-perubahan dan adaptasi fisiologis organ-organ tubuh pada masa
kehamilan adalah sebagai berikut:
a) Trimester I (0-12 minggu)
Seseorang yang mengalami kehamilan akan menunjukkkan gejala-gejala
yang berasal dari janin dan plasenta.
i. Adanya human chorionic gonadotropic (HCG) dalam urine
ii. Masalah gastrointestinal
- Mual dan muntah (4-6 minggu)
- Morning Sickness
- Anoreksia
- Saliva berlebihan
- Tidak tahan terhadap bau–bau tertentu
iii. Pengaruh hormon estrogen
Tonus otot menurun, mengakibatkan mual dan kontipasi
iv. Perubahan janin
- Pada kahamilan 7 minggu rahim kurang lebih sebesar telur itik
- pada kehamilan 10 minggu rahim kurang lebih sebesar jeruk keprok
- Pada kehamilan 12 minggu rahim kurang lebih sebesar kepalan tangan
v. Tanda-tanda piscaseck
Pembesaran dan perlunakan pada tempat implantasi
vi. Traktus urinarius
Kehamnilan mengakibatkan uterus membesar dan menekan kandung
kemih sehingga didapatkan ibu sering buang air kecil
vii. Kardiovaskuler
- Diafragma terdorong kearah atas oleh karena pembesaran uterus, posisi
jantung pada bagian kiri atas
- Kardiak output
o Denyut jantung meningkat
o Nadi meningkat ± 10-15 x /menit
o Filtrasi ginjal meningkat
o transportasi oksigen meningkat
viii. Uterus
- Pada saat tidak hamil beratnya 35-50 gram, volume 10 cc
- Pada hamil aterm 1000-1100 gram, volume 5-10 liter
- Ismus hipertropi, panjang, lunak
ix. Payudara
Membesar, tegang dan sedikit nyeri disebabkan pengaruh estrogen dan
progesteron yang merangsang duktus alveoli payudara
x. Vagina
- Peningkatan vaskularisasi
- Peningkatan sekresi, berwarna putih dan asam
xi. Respirasi
- Estrogen meningkat menyebabkan peningkatan jaringan ikat
- Progesteron meningkat menyebabkan penurunan resistensi dengan
relaksasi, penurunan otot polos yang memudahkan mengalirnya carbon
dioksida dari janin ke ibu
- Diafragma tertekan sehingga kurang leluasa bergerak
xii. Muskuluskeletal
- Relaksasi persendian
- Uterus memanjang mengakibatkan nyeri pada ligamen rotundum
- Perubahan postural
o Saat pinggang untuk mengibangi lordosis dan tarikan tulang
belakang
o Sakit anggota bagian atas oleh karena bahu dan dada terdsorong
kedepan
xiii. Kulit
Oleh karena pengaruh estrogen, kulit mengalami hiperpigmentasi,
kloasma, linianigra dan strie gravidalum
b) Trimester II (12-28 minggu)
Perubahan fisiologis yang terjadi adalah sebagai berikut:
i. Uterus
- uterus membesar, hipertropi sel-sel otot
- dinding uterus tipis dan lunak
- fetus dapat di palpasi pada abdomen
- uterus jadi bentuk ovale
- Adanya kontraksi “braxton his”
ii. Serviks
- terus memanjang
- Adanya mucous plag
- Sel otot hipertropi
- Kelenjar serviks aktif
iii. Vagina
- Sel otot hipertropi
- Mukosa tebal
- Adanya lorchea
- PH asam : 3,5-6,0
iv. Payudara
- Duktus dan alveoli hipertropi
- areola dan putting membesar
- Mulai ada sekresi kolostrum
v. Sistem kardiovaskuler
- volume darah meluas
- Hb menurun akibat eskpirasi plasma lebih besar dari pada sel darah
merah
- Output meningkat 30-50 %
- stroke volume meningkat
- tekanan darah sama dan cenderung sedikit menurun
- Terjadi hipertropi, supine khusus pada trimerter kedua akhir
vi. Sistem respiratory
- Oksigen dalam darah meningkat
- Pernafasan lebih dalam
- volume darah stabil
- Kebutuhan oksigen meningkat
- Uterus membesar dan menekan diagfragma menyebabkan sulit/sesak
nafas
vii. Sistem Urinary
- Perubahan ukuran pada kandung kemih meningkat
- udema fisiologis pada kandung kemih
- frekuensi berkemih menurun
- Dilatasi ginjal dan ureter
- Ibu rentang terhadap infeksi traktus urinarius
- Filtrasi glomerolus meningkat 50 %
- Aliran plasma renal meningkat
- Ekskresi glokosa, polipeptida, elektrolit dan vitamin yang larut
dalam air meningkat
viii. Sistem muskuloskeletal
- Pusat graviti berubah sebagai akibat membesarnya uterus, lordosis
fisiologis
- Kram pada kaki
ix. Sistem integumen
- Hiperpigmentasi terutama pada putting dan perinium
- adanya linianigra
- vaskuler adanya palmar eritema
- rambut menjadi lebih halus
- Kuku lebih lunak dan tingkat pertumbuhan meningkat
x. Sistem gastrointestinal
- Mulut dan gigi: Hiperimia, sensitif terhadap zat iritan
- Esofagus dan gaster: Kapasitas lambung menurun, sekresi asam
hidroverolik dan pepsin dalam lambung menurun.
- Liver: Meningkatnya serum phospotase, menurunnya albumin dan
globulin.
- Pankreas: Hipertropi, hiperplasia dan hiperaktif yang sering terjadi pada
sel-sel beta, Kebutuhan fisiologis kehamilan, pencetus diabetus
gestasional.
- Intestinal: Pengosongan lambung meningkat, Absorbsi nutrien dan air
meningkat
xi. Sistem endokrin
- Pituitary: Sekresi hormon luteinising dan folikel stimulating hormon,
Prolaktin meningkat.
- Tiroid: Vaskularisasi meningkat, Meningkatnya T3 dan T4, BMR
meningkat.
- Paratiroid: Hiperplasia, sekresi hormon meningkat.
- Adrenal: Sekresi adenocorticotropik hormon (ACTH) meningkat, Level
kortisol meningkat, Level aldesteron meningkat
xii. Plasenta: Fungsi utuh dan komplek.

c) Trimester ketiga (28 minggu – kehamilan berakhir / 38-42 minggu)


i. Sistem reproduksi
- Uterus : Ukuran bertambah besar, distensi miometrium, dinding
menipis, kontraksi “broxon hicks” semakin jelas.
- Servik : Effousment, pengeluaran mukosa.
- Vagina : Hiperemia, pertumbuhan laktobual, leukhorea
- Payudara : Membesar, tegang, colusterum keluar.
ii. Sistem kardiovaskuler
- COP meningkat 40 %
- volume darah ibu meningkat 30 – 50 %
- HR meningkat 15 kali/menit
- Stroke volume meningkat
- Kerja kardiovaskuler meningkat sangat beresiko pada ibu dengan masalah
jantung
iii. Sistem pernafasan
- Diafragma tertekan karena pembesaran uterus keatas
- Iga-iga ekspansi
- Kebutuhan oksigen meningkat
iv. Sistem perkemihan
- Dilatasi kaliks renal, filtrasi glomerolus meningkat
- Frekwensi miksi meningkat
- Kosentrasi albumin plasma menurun
v. Sistem musculoskeletal
Lordosis, sulit berjalan, rebas – rebas ekstremitas
vi. Sistem integumen
- Strie semakin terlihat, pigmentasi meningkat
- Rambut tipis dan rontok
- Kuku cepat tumbuh dan mudah patah
vii. Sistem gastrointestinal
- Mulut dan gusi hiperemia, gusi sangat sensitif
- Gastrik refluks, kapasitas gaster menurun
- Mobilitas intestinal menurun, rentan terhadap konstipasi
viii. Sistem endokrin
- Pituitary: Prolaktin meningkat, oksitosin meningkat
- Tiroid: BMR meningkat
ix. Plasenta: Fungsi maksimal
7) Faktor Resiko Dalam Kehamilan
Yang dimaksud faktor risiko tinggi adalah keadaan pada ibu, baik berupa faktor
biologis maupun nonbiologis, yang biasanya sudah dimiliki ibu sejak sebelum hamil dan
dalam kehamilan yang akan/mungkin memudahkan timbulnya gangguan lain. Faktor itu
bisa digolongkan menjadi dua faktor, yaitu faktor medis dan faktor non medis. Faktor
medis meliputi, usia, paritas, graviditas, jarak kehamilan, riwayat kehamilan dan
persalinan, dan faktor non medis adalah pengawasan antenatal (Manuaba, 1998)

Menurut Muhtar,(1998) faktor nonmedis dan faktor medis yang dapat


mempengaruhi kehamilan adalah :
a) Faktor non medis antara lain :
Status gizi buruk, sosial ekonomi yang rendah, kemiskinan, ketidaktahuan,
adat, tradisi, kepercayaan, kebersihan lingkungan, kesadaran untuk memeriksakan
kehamilan secara teratur, fasilitator dan sarana kesehatan yang serba kekurangan
merupakan faktor non medis yang banyak terjadi terutama dinegara-negara
berkembang yang berdasarkan penelitian ternyata sangat mempengaruhi morbiditas
dan mortalitas.
b) Faktor medis antara lain :
Penyakit-penyakit ibu dan janin, kelainan obstetrik, gangguan plasenta,
gangguan tali pusat, komplikasi persalinan.

8) Cara menentukan Kehamilan Resiko Tinggi


Cara menentukan pengelompokan kehamilan risiko tinggi, yaitu dengan
menggunakan cara kriteria. Kriteria ini diperoleh dari anamnesa tentang umur, paritas,
riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu, dan pemeriksaan lengkap kehamilan
sekarang serta pemeriksaan laboratorium penunjang bila diperlukan.
Puji Rochjati (2005) mengemukakan batasan faktor risiko pada ibu hamil ada 3
kelompok yaitu :
a) Kelompok Faktor risiko I (ada potensi gawat obstetri), seperti primipara muda terlalu
muda umur kurang dari 16 tahun, primi tua, terlalu tua, hamil pertama umur 35 tahun
atau lebih, primi tua sekunder,terlalu lama punya anak lagi, terkecil 10 tahun lebih,
anak terkecil < 2 tahun, grande multi, hamil umur 35 tahun atau lebih, tinggi badan
kurang dari 145 cm, riwayat persalinan yang buruk, pernah keguguran, pernah
persalinaan premature, riwayat persalinan dengan tindakan ( ekstraksi vakum,
ekstraksi forcep, operasi(seksio sesarea) ). Deteksi ibu hamil berisiko kelompok I ini
dapat ditemukan dengan mudah oleh petugas kesehatan melalui pemeriksaan
sederhana yaitu wawancara dan periksa pandang pada kehamilan muda atau pada saat
kontak.
b) Kelompok Faktor Risiko II ( ada gawat obstetri), ibu hamil dengan penyakit,
preeklamsia/eklamsia, hamil kembar atau gamelli, kembar air atau hidramnion, bayi
mati dalam kandungan, kehamilan dengan kelainan letak, serta hamil lewat bulan.
Pada kelompok faktor resiko II ada kemungkinan masih membutuhkan pemeriksaan
dengan alat yang lebih canggih (USG) oleh dokter Spesialis di Rumah Sakit.
c) Kelompok Faktor Risiko III (ada gawat obstetri), perdarahan sebelum bayi lahir, pre
eklamsia berat atau eklampsia. Pada kelompok faktor risiko III, ini harus segera di
rujuk ke rumah sakit sebelum kondisi ibu dan janin bertambah buruk/jelek yang
membutuhkan penanganan dan tindakan pada waktu itu juga dalam upaya
menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya yang terancam.

Adapun faktor-faktor risiko yang dapat memengaruhi kesehatan


kehamilan :
I. Usia
 Usia < 20 tahun (terlalu muda untuk hamil)
Yang dimaksud dengan terlalu muda untuk hamil adalah hamil
pada usia< 20 tahun. Pada usia< 20 tahun secara fisik kondisi rahim dan
panggul belum berkembang optimal, sehingga dapat mengakibatkan
risiko kesakitan dan kematian pada kehamilan dan dapat menyebabkan
pertumbuhan serta perkembangan fisik ibu terhambat.
 Usia 20 - 35 tahun (usia reproduksi)
Usia ibu sangat berpengaruh terhadap proses reproduksi. Dalam
kurun waktu reproduksi sehat diketahui bahwa usia yang aman untuk
kehamilan dan persalinan adalah usia 20 - 35 tahun, dimana organ
reproduksi sudah sempurna dalam menjalani fungsinya (BKKBN, 1999).
 Usia > 35 tahun (terlalu tua untuk hamil)
Yang dimaksud dengan terlalu tua adalah hamil diatas usia 35
tahun, kondisi kesehatan ibu dan fungsi berbagai organ dan sistem tubuh
diantaranya otot, syaraf, endokrin dan reproduksi mulai menurun. Pada
usia lebih dari 35 tahun terjadi penurunan curah jantung yang disebabkan
kontraksi miokardium. Ditambah lagi dengan tekanan darah dan penyakit
lain yang melemahkan kondisi ibu, sehingga dapat mengganggu sirkulasi
darah ke janin yang berisiko meningkatkan komplikasi medis pada
kehamilan, antara lain : keguguran, eklamsia dan perdarahan.
II. Paritas
Sulaiman, S (1983) mengklasifikasikan paritas adalah sebagai
berikut :
 Primipara : Seorang yang telah melahirkan seorang anak matur atau
prematur
 Multipara : Seorang wanita yang telah melahirkan lebih dari satu anak
 Grandemulti adalah Seorang wanita yang telah melahirkan 5 orang anak
atau lebih.
Paritas merupakan salah satu faktor resiko pada
kehamilan.Kehamilan risiko tinggi lebih banyak terjadi pada multipara dan
grandemultipara, dimana pada multipara dan grandemultipara keadaan
endometrium pada daerah korpus uteri sudah mengalami kemunduran dan
berkurangnya vaskularisasi.Hal ini terjadi karena degenerasi dan nekrosis
pada bekas luka implantasi plasenta pada kehamilan sebelumnya didinding
endometrium.Adanya kemunduran fungsi dan berkurangnya vaskularisasi
pada daerah endometrium menyebabkan daerah tersebut menjadi tidak subur
dan tidak siap menerima hasil konsepsi, sehingga pemberian nutrisi dan
oksigenisasi kepada hasil konsepsi kurang maksimal dan mengganggu
sirkulasi darah ke janin. Hal ini akan berisiko pada kehamilan dan persalinan.
III. Jarak Kehamilan
Menurut Ramli (1997), jarak adalah selang waktu antara dua
peristiwa, ruang antara dua objek bagian. Jarak adalah masa antara dua
kejadian yang berkaitan.
 Kehamilan dengan jarak < 3 tahun
Pada kehamilan dengan jarak < 3 tahun keadaan endometrium
mengalami perubahan.Perubahan ini berkaitan dengan persalinan
sebelumnya yaitu timbulnya thrombosis, degenerasi dan nekrosis di
tempat implantasi plasenta (Mansjoer, 1999).
Adanya kemunduran fungsi dan berkurangnya vaskularisasi pada
daerah endometrium pada bagian korpus uteri mengakibatkan daerah
tersebut kurang subur sehingga kehamilan dengan jarak < 3 tahun dapat
menimbulkan kelainan yang berhubungan dengan letak dan keadaan
plasenta.
 Kehamilan dengan jarak > 3 tahun
Pada kehamilan dengan jarak >3 tahun keadaan endometrium
yang semula mengalami thrombosis dan nekrosis karena pelepasan
plasenta dari dinding endometrium (korpus uteri) telah mengalami
pertumbuhan dan kemajuan endometrium.Dinding-dinding endometrium
mulai regenerasi dan sel epitel kelenjar-kelenjar endometrium mulai
berkembang.Bila pada saat ini terjadi kehamilan endometrium telah siap
menerima sel-sel dan memberikan nutrisi bagi pertumbuhan sel telur.
 Kehamilan dengan jarak > 4 tahun
Pada kehamilan dengan jarak > 4 tahun sel telur yang dihasilkan
sudah tidak baik, sehingga bisa menimbulkan kelainan-kelainan bawaan
seperti sindrom down dan pada saat persalinan pun berisiko terjadi
perdarahan post partum.Hal ini disebabkan otot-otot rahim tidak selentur
dulu, hingga saat harus mengkerutkembali bisa terjadi gangguan yang
berisiko seperti haemoragic post partum(HPP), dan risiko terjadi pre
eklamsia dan eklamsia juga sangat besar karena terjadi kerusakan sel-sel
endotel.

9) Pencegahan Kehamilan Risiko Tinggi


Kehamilan risiko tinggi dapat dicegah dengan pemeriksaan dan pengawasan
kehamilan yaitu deteksi dini ibu hamil risiko tinggi atau komplikasi kebidanan yang lebih
difokuskan pada keadaan yang menyebabkan kematian ibu.Pemeriksaan antenatal perlu
dilakukan secara dini, sehingga dapat ditemukan sedini mungkin apabila ada tanda
bahaya/komplikasi serta dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah dalam
persiapan persalinan. Diketahui bahwa janin dalam rahim dan ibunya merupakan satu
kesatuan yang saling memengaruhi. Oleh sebab itu ibu hamil dianjurkan melakukan
pemeriksaan antenatal secara teratur dan sesuai standar minimal 4 kali selama kehamilan.

10) Penatalaksanaa Kehamilan


Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen
sebagai berikut:
a) Informasi yang dapat diberikan
 Kegiatan fisik dapat dilakukan dalam batas normal.
 Kebersihan pribadi khususnya daerah genitalia harus lebih dijaga karena selama
kehamilan terjadi peningkatan sekret vagina.
 Pemilihan makanan sebaiknya yang bergizi dan tinggi serat.
 Pemakian obat harus dikonsultasikan dahulu dengan dokter atau tenaga medis
lainnya.
 Wanita perokok atau peminum alkohol harus menghentikan kebiasaannya. Suami
perlu diberi pengertian tentang keadaan istrinya yang sedang hamil.

b) Anamnesis
 Pada wanita dengan haid terlambat dan diduga hamil. Ditanyakan hari pertama
haid terakhir (HPHT). Taksiran partus dapat ditentukan bila HPHT diketahui dan
siklus haidnya teratur + 28 hari dengan menggunakan rumus Naegele.
 Bila ibu lupa HPHT, tanyakan tentang hal lain seperti gerakan janin. Untuk
primigravida gerakan janin terasa pada kehamilan 18 minggu, sedangkan
multigravida 16 minggu. Nausea biasanya hilang pada kehamilannya 12-14
mingggu.
 Tanyakan riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya serta berat bayi
yang pernah dilahirkan. Demikian pula riwayat penyakit yang pernah diderita
seperti penyakit jantung, paru, ginjal, diabetes melitus. Selain itu ditanyakan
riwayat menstruasi, kesehatan, keluarga, sosial, obstetri, kontrasepsi, dan faktor
risiko yang mungkin ada pada ibu.
c) Pemeriksaan umum
Pada ibu hamil yang datang pertama kali lakukan penilaian keadaan umum,
status gizi dan tanda vital. Pada mata dinilai ada tidaknya konjungtiva pucat, sklera
ikterik, edema kelopak mata, dan kloasma gravidarum. Periksa gigi untuk melihat
adanya infeksi lokal. Periksa pula jantung, paru, mammae, abdomen, anggota gerak
secara lengkap.
d) Pemeriksaan Obstetri
Terdiri dari pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam. Sebelum pemeriksaan
kosongkan kandung kemih. Kemudian ibu diminta berbaring terlentang dan
pemeriksaan dilakukan di sisi kanan ibu.
e) Pemeriksaan luar
 Lihat apakah uterus berkontraksi atau tidak. Bila berkontraksi, harus ditunggu
sampai dinding perut lemas agar dapat diperiksa dengan teliti. Agar tidak terjadi
kontraksi dinding perut akibat perbedaan suhu dengan tangan pemeriksa,
sebelum palpasi kedua tangan pemeriksa digosokkan dahulu.
 Cara pemeriksaan yang umum digunakan cara Leopold yang dibagi dalam 4
tahap. Pada pemeriksaan Leopold I, II, dan III pemeriksa menghadap ke arah
muka ibu, sedangkan pada Leopold IV ke arah kaki. Pemeriksaan Leopold I
untuk menentukan tinggi fundus uteri, sehingga usia kehamilan dapat diketahui.
Selain secara anatomi, tinggi fundus uteri dapat ditentukan dengan pita pengukur.
Bandingkan usia kehamilan yang didapat dengan hari pertama haid terakhir.
Selain itu, tentukan pula bagian janin pada fundus uteri: Kepala teraba sebagai
benda keras dan bulat, sedangkan bokong lunak dan tidak bulat.
Dengan pemeriksaan Leopold II ditentukan batas samping uterus dan
posisi punggung pada bayi letak memanjang. Pada letak lintang ditentukan
kepala. Pemeriksaan Leopold III menentukan bagian janin yang berada di bawah.
Leopold IV selain menentukan bagian janin yang berada di bawah, juga
bagian kepala yang telah masuk pintu atas panggul (PAP). Bila kepala belum
masuk PAP teraba balotemen kepala.
 Dengarkan DJJ pada daerah punggung janin dengan stetoskop monoaural atau
doppler. Dengan stetoskop monoaural BJJ terdengar pada kehamilan 18-20
minggu, sedangkan dengan Doppler terdengar pada kehamilan 12 minggu.
 Dari pemeriksaan luar diperoleh data berupa usia kehamilan, letak janin,
persentase janin, kondisi janin, serta taksiran berat janin. Taksiran berat janin
ditentukan berdasarkan rumus Johnson Toshack. Perhitungan penting sebagai
pertimbangan memutuskan rencana persalinan pervaginam secara spontan.
Rumus tersebut: Taksiran Berat Janin (TBJ) = (Tinggi fundus uteri (dalam cm) –
N) X 155.
o N = 13 bila kepala belum melewati PAP
o N = 12 bila kepala masih berada di atas spina iskiadika
o N = 11 bila kepala masih berada di bawah spina iskiadika.
f) Pemeriksaan dalam
 Siapkan ibu dalam posisi-litotomi lalu bersihkan daerah vulva dan perineum
dengan larutan antiseptik. Inspeksi vulva dan vagina apakah terdapat luka,
varises, radang, atau tumor. Selanjutnya lakukan pemeriksaan inspekulo. Lihat
ukuran dan warna porsio, dinding, dan sekret vagina. Lakukan pemeriksaan
colok vagina dengan memasukan telunjuk dan jari tengah. Raba adanya tumor
atau pembesaran kelenjar di liang vagina. Periksa adanya massa di adneksa dan
parametrium. Perhatikan letak, bentuk, dan ukuran uterus serta periksa
konsistensi, arah, panjang, porsio, dan pembukaan servik. Pemeriksaan dalam ini
harus dilakukan dengan cara palpasi bimanual.
 Ukuran uterus wanita yang tidak hamil kira-kira sebesar telur ayam. Pada
kehamilan 8 minggu sebesar telur bebek, 12 minggu sebesar telur angsa, dan 16
minggu sebesar kepala bayi atau tinju orang dewasa.
g) Pemeriksaan panggul
Lakukan penilaian akomodasi panggul bila usia kehamilan 36 minggu karena
jaringan dalam rongga panggul lebih lunak, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit.
Masukkan telunjuk dan jari tengah ke dalam liang vagina. Arahkan ujung kedua jari
ke promontorium, coba untuk merabanya. Bila teraba, tentukan panjang konjugata
diagonalis. Dengan ujung jari menelusuri linea inominata kiri dan kanan sejauh
mungkin, tentukan bagian yang teraba. Raba lengkung sakrum dan tentukan apakah
spina iskiadika kiri dan kanan menonjol ke dalam. Raba dinding pelvik, apakah luruh
atau konvergen ke bawah dan tentukan panjang distansia interspinarum. Arahkan
bagian palmar jari-jari tangan ke dalam simfisis dan tentukan besar sudut yang
dibentuk antara os pubis kiri dan kanan.
h) Pemeriksaan laboratorium
Pada kunjungan pertama diperiksa kadar hemoglobin darah, hematokrit, dan
hitung leukosit. Dari urin diperiksa beta-hCG, protein, dan glukosa.

11) Pemeriksaan ANC (Antenatal Care)


Asuhan antenatal harus dimulai sedini mungkin. Pada awal pemeriksaan yaitu
untuk menentukan apakah seorang ibu sedang mengalami kehamilan. Diagnosa
kehamilan ditentukan dengan pemeriksaan laboratorium. Umumnya pemeriksaan yang
dipakai yaitu tes untuk mendeteksi keberadaan hCG. Human Chorionic Gonadotropin
(HCG) dapat diukur dengan radioimunoesai dan deteksi dalam darah enam hari setelah
konsepsi atau sekitar 20 hari sejak periode menstruasi terakhir. Keberadaan hormone ini
dalam urin pada kehamilan merupakan dasar dari berbagai tes kehamilan di berbagai
laboratorium dan kadang-kadang dapat dideteksu dalam urine 14 hari setelah konsepsi
(Ganong 1989 dalam Bobak, 2005).

TPP = tgl HPHT+7 – 3 bulan HPHT+ 1 tahun HPHT


atau
TPP = tgl HPHT +7 + 9 bulan dari HPHT

Dengan TPP adalah taksiran perkiraan partus.


 Menurut Abdul Bahri Saifuddin dalam Salmah dkk (2006)
kunjungan antenatal untuk pemantauan pengawasan kesejahteraan ibu dan anak
minimal empat kali pemeriksaan selama kehamilan dalam waktu sebagai berikut:
a) Trimester pertama (< 4 minggu) satu kali kunjungan
b) Trimester kedua (14-28 minggu ) satu kali kunjungan
c) Trimester ketiga (28-36 minggu) dan sesudah minggu ke 36 dua kali
kunjungan kecuali jika ditemukan kelainan/faktor risiko yang memerlukan
penatalaksanaan medik lain, harus lebih sering dan intensif.
 Menurut Manuaba (2000), berdasarkan standar pemeriksaan kehamilan ditentukan
berulang dengan ketentuan sebagai berikut:
a) Pemeriksaan pertama dilakukan segera setelah diketahui terlambat haid
b) Satu kali dalam sebulan sampai umur kehamilan 7 bulan
c) Dua kali sebulan sampai umur kehamilan 8 bulan
d) Setiap minggu sejak umur krhamilan 8 bulan sampai dengan bersalin.

 Kunjungan/pemeriksaan kehamilan bertujuan:


a) Kunjungan pertama, mementukan diagnosis ada tidaknya kehamilan.
b) Kunjungan kedua, menentukan usia kehamilan dan perkiraan persalianan.
Menentukan usia kehamilan dilakukan manuver Leopold:
- Leopold I:
Untuk menemukan presentasi dengan cara mengidentifikasi bagian
tubuh fetus apa yang berada di fundus dan daerah pelvik.
Caranya: Menghadap ke kepala pasien, gunakan jari-jari kedua tangan
mempalpasi fundus uteri. Jika kepala yang berada di fundus maka akan
terassa keras, bulat dan melenting. Jika bokong teraba di fundus, maka
akan terasa lembut, tidak bulat dan gerakan kurang.
- Leopold II
Untuk menemukan posisi janin (punggung janin).
Caranya: Menghadap pada kepala pasien, letakkan kedua tangan pada
kedua sisi abdomen. Letakkan tangan pada satu sisi dan tangan lain
mempalpasi sisi yang berbeda untuk menemukan bagian punggung janin.
Jika punggung akan teraba cembung dan resisten.
- Leopold III:
Untuk mengidentifikasi bagian apa dari janin yang dekat dengan daerah
pelvik.
Caranya: Letakkan 3 jari pertama tangan yang dominan pada sisi abdomen
di atas simpisis pubis dan minta pasien menarik napas panjang dan
menghembuskannya. Pada saat mengeluarkan napas, gerakkan tangan
turun perlahan dan menekan sekitar daerah tersebut. Jika kepala akan
teraba keras, bulat, dan bergerak jika disentuh. Jika bokong akan teraba
lembut dan tidak beraturan.
- Leopold IV
Untuk mengidentifikasi bagian yang menonjol dari bagian terendah janin
masuk ke pintu atas panggul.
Caranya: Menghadap ke kaki pasien dengan lembut gerakan tangan turun
ke sisi abdomen mendekati pelvis sampai salah satu tangan merasakan
bagian tulang yang timbul. Ada 3 keadaan yaitu: Konvergen yaitu jika
bagian yang masuk baru sebagian kecil, sejajar yaitu jika bagian yang
masuk baru setengah, divergen yaitu jika hampir sebagian besar dari tubuh
janin masuk ke dalam rongga panggul.
c) Kunjungan ketiga, menentukan status kesehatan ibu dan janin.
d) Kunjungan keempat, menentukan kehamilan normal atau abnormal, serta
ada/tidaknya faktor risiko kehamilan.
e) Kunjungan kelima, menentukan rencana pemeriksaan/penatalaksanaan
selanjutnya.
12) Frekuensi Kunjungan
a) Kunjungan I (12-24 minggu)
Anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik & obstetri, pemeriksaan laboratorium,
antopometri, penilaian resiko kehamilan, KIE
b) Kunjungan II (28-32 minggu)
Anamnesis, USG, penilaian resiko kehamilan, nasehat perawatan payudara
dan senam hamil), vaksin TT I

c) Kunjungan III (34 mgg)


Anamnesis, pemeriksaan ulang laboratorium, vaksin TT II
d) Kunjungan IV, V, VII & VIII ( 36-42 mgg)
Anamnesis , perawatan payudara dan persiapan persalinan

13) Pemeriksaan Penunjang


a) Laboratorium
 Darah (Hb, Golongan darah, Glukosa, VDRL)
 Urine (Tes kehamilan, protein, glukosa, analisis)
 Pemeriksaan Swab (Lendir vagina dan servik)
b) USG
 Jenis kelamin
 Taksiran kelahiran, taksiran berat janin, jumlah cairan amnion

B. Konsep Dasar Keperawatan ANC

1) Pengkajian
a) Anamnesa
 Anamnesa identitas istri dan suami
 Anamnesa umum : keluhan kehamilan (mual,muntah, sakit kepala, nyeri ulu
hati), nafsu makan, tidur, miksi, defekasi, perkawinan
 Tentang kehamilan, persalinan, keguguran dan kehamilan ektopik atau kehamilan
mola sebelumnya
b) Pemeriksaan Fisik Diagnostik
I. Keadaan umum
Dengan inspeksi, dapat diperoleh gambaran mengenai keadaan panggul.
Adanya kesempitan atau kelainan panggul, dapat diduga bila terlihat jalannya ibu
tidak normal, misalnya pincang, ibu sangat pendek, adanya kelainan panggul
(kifosis, skoliosis), kelainan belah ketupat dari michealis (tidak simetris).

II. Tinggi badan


Tinggi badan kurang dari rata-rata merupakan faktor risiko untuk ibu
hamil atau ibu bersalin. Jika tinggi badan kurang dari 145 cm dimungkinkan sang
ibu memiliki panggul sempit.
III. Berat badan
Pertambahan berat badan selama kehamilan rata-rata 0,3-0,5 kg/minggu.
Bila dikaitkan dengan usia kehamilan, kenaikan berat badan selama hamil muda
5 kg, selanjutnya tiap trimester (II dan III) masing-masing bertambah 5 kg. Pada
akhir kehamilan, pertambahan berat badan total adalah 9-12 kg. Bila terdapat BB
yang berlebihan, perlu dipikirkan adanya risiko bengkak, kehamilan kembar,
hidroamnion, dan anak besar.
IV. Lingkar lengan atas (LILA)
LILA kurang dari 23,5 cm merupakan indikator kuat untuk status gizi
yang kurang/buruk. Ibu beresiko untuk melahirkan anak dengan BBLR.
V. Tanda-tanda vital
 Tekanan darah
TD yang tinggi (lebih dari 140/90 mmHg) merupakan resiko dalam
kehamilan. Penanganan yang kurang tepat, TD sistolik 30 mmHg atau lebih,
dan/atau diastolik 15 mmHg atau lebih dapat berlanjut menjadi preeklamsi
dan eklamsi.
 Denyut nadi
Jumlah denyut nadi normal adalah sekitar 80 kali/menit.
 Suhu
Suhu tubuh ibu hamil lebih dari 37,5oC dikatakan demam, hal ini
kemungkinan ada infeksi dalam kehamilan.
 Pernapasan
Frekuensi napas normal orang dewasa adalah 16-20 kali/menit. Bila
ibu mengalami peningkatan frekuensi napas, ibu akan mudah lelah atau
kemungkinan dicurigai mempunyai penyakit jantung.
VI. Kepala dan Leher
 Memeriksa apakah terdapat edema pada wajah
 Memeriksa apakah kelopak mata bagian bawah tampak pucat, berwarna
kuning/jaundice pada sclera
 Memeriksa apakah rahang pucat dan periksa juga keadaan gigi
 Memeriksa dan meraba leher untuk mengetahui pembesaran kelenjar tiroid,
pembesaran pembuluh limfe dan pembesaran vena jugularis
VII. Payudara
 Amati bentuk, ukuran dan kesimetrisannya; payudara normal melingkar,
agak simetris, dan dapat dideskripsikan kecil, sedang, dan besar
 Puting payudara menonjol atau masuk ke dalam
 Adanya kolostrum atau cairan lain, misalnya ulkus
 Retraksi akibat adanya lesi
 Masa atau pembesaran pembuluh limfe
VIII. Abdomen
 Memeriksa apakah ada bekas luka operasi
 Mengukur tinggi fundus uteri menggunakan tangan bila usia kehamilan > 12
minggu, atau pita ukuran bila usia kehamilan > 22 minggu
 Melakukan palpasi untuk mengetahui letak presentasi, posisi, dan penurunan
kepala janin kalau lebih dari 36 minggu
Pemeriksaan Leopold :
- Leopold I :
a) Pemeriksaan menghadap kemuka ibu hamil
b) Menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin dalam fundus
c) Konsistensi uterus
- Leopold II :
a) Menentukan batas samping rahim kanan-kiri
b) Menentukan letak punggung janin
c) Pada letak lintang, tentukan dimana kepala janin
- Leopold III :
a) Menentukan bagian terbawah janin
b) Apakah bagian terbawah tersebut sudah masuk/ masih goyang
- Leopold IV :
a) Pemeriksa menghadap kea rah kaki ibu hamil
b) Bisa juga menentukan bagian terbawah janin apa dan berapa
jauh sudah masuk PAP
IX. Tangan dan kaki
 Memeriksa apakah tangan dan kaki edema atau pucat pada kuku jari
 Memeriksa dan meraba kaki untuk mengetahui adanya varises
 Memeriksa refleks patela untuk melihat apakah terjadi gerakan hipo atau
hiper
X. Pemeriksaan panggul
 Panggul : genital luar
- Memeriksa labia mayora dan minora, klitoris, lubang uretra, introitus
vagina untuk melihat adanya tukak atau luka, varises, cairan yang ada
(warna, konsistensi, jumlah, bau)
- Melakukan palpasi pada kelenjar bartolini untuk mengetahui adanya
pembengkakan masa atau cairan kista
 Panggul : menggunakan speculum
- Memeriksa serviks untuk melihat adanya cairan/darah, luka/lesi, apakah
serviks sudah membuka atau belum
- Memeriksa dinding vagina untuk melihat adanya cairan/darah dan luka

 Panggul : pemeriksaan bimanual


- Mencari letak serviks dan merasakan untuk mengetahui pembukaan
(dilatasi) dan rasa nyeri karena gerakan (nyeri tekan atau nyeri goyang)
- Menggunakan dua tangan, satu tangan di atas abdomen, dua jari di dalam
vagina untuk palpasi uterus. Ukuran, bentuk dan posisi, mobilitas, rasa
nyeri, serta adanya masa.

c) Auskultasi untuk mendengar denyut jantung janin (DJJ) :


I. Dari Janin :
 Djj pada bulan ke 4-5
 Bising tali pusat
 Gerakan dan tendangan janin
II. Dari ibu :
 Bising rahim
 Bising aorta
 Peristaltik usus
d) Pemeriksaan Dalam
i. Vaginal Toucher (VT)
ii. Rectal Toucher (RT)
Dapat dinilai :
 Pembukaan serviks : berapa cm/ jari
 Bagian anak paling bawah : kepala, bokong serta posisinya
 Turunnya bagian terbawah menurut bidang Hodge

2) Diagnosa Keperawatan
a) Trimester I
- Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan perubahan nafsu makan, mual, muntah
- Ketidaknyamanan berhubungan dengan perubahan fisik dan hormonal
- Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan
hilangnya cairan yang berlebihan ( muntah )
b) Trimester II
- Risiko tinggi terhadap perubahan citra tubuh berhubungan dengan
biofisik, respon orang lain
- Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan pergeseran diafragma
karena pembesaran uterus
- Risiko tinggi terhadap infeksi saluran kemih berhubungan dengan statis
urinarius dan higienis buruk
c) Trimester III
- Perubahan pola seksual berhubungan dengan perubahan hasrat seksual,
ketidaknyamanan
- Kurangnya pengetahuan ( kebutuhan belajar ) mengenai persiapan untuk
persalinan / kelahiran perawatan bayi berhubungan dengan kurangnya
pengalaman, kesalahan interprestasi informasi

3) Rencana Keperawatan
a) Trimester I

NO. DIAGNOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)


1. Risiko tinggi Kriteria Hasil : 1) Tentukan keadekuatan kebiasaan
terhadapperubahan nutrisi 1) BB Menjelaskan komponen asupan nutrisi dulu atau sekarang
kurang dari kebutuhan tubuh diet seimbang prenatal dengan mengunakan batasan 24
berhubungan dengan 2) Mengikuti diet yang jam.
perubahan nafsu makan, dianjurkan 2) Berikan informasi tertulis atau
mual, muntah 3) Mengkonsumsi suplemen zat verbal yang tepat tentang diet
besi atau vitamin prenatal an suplemen vitamin atau
sesuai resep zat besi setiap hari
4) Menunjukkan penambahan 3) Tanyakan keyakinan berkenaan
yang sesuai dengan diet sesuai budaya dan
hal-hal yang tabu selama
kehamilan
4) Timbang BB klien pastikan BB
pregravida biasanya
5) Tinjau ulang frekuensi dan
beratnya mual dan muntah
6) Pantau kadar HB atau HL
7) Tes urin aleton, albumin dan
glukosa
8) Ukur pembesaran uterus
2. Ketidaknyamanan Kriteria Hasil : 1) Catat adanya rasa tidak nyaman
berhubungan dengan 1) Menerima tanggung jawab a) Evaluasi derajat
perubahan fisik dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan selama
hormonal ketidak nyamanan pemeriksaan internal
2) Melaporkan hasil b) Tekankan pentingnya
penatalaksanaan ketidak menghindari manipulasi
nyamanan putting berlebihan
c) Intruksikan penggunaan
kompres es, panas atau
anestesi lokal ajari cara untuk
memasukkan kembali
hemoroid dengan penggunaan
jari yang di beri pelumas.
Anjurkan diet tinggi serat
buah dan sayuran. Anjurkan
mandi Anjurkan secara
perodik meningikan bokong
dengan bantal
2) Kram kaki :intruksikan untuk
posisi dorso fleksi telapak kaki
diekstensikan serta menggurangi
makan keju dan susu.
 Lokhea : anjurkan mandi
teratur dan perawatan perneal,
menggunakan celana dari
katun, dari tepung kanji untuk
mengabsorbsi
3) Hindari penggunaan bedak talk
a) Mual atau muntah :anjurkan
untuk meningkatkan asupan
karbohidrat saat banggun
tidur ,makan sedikit tapi
sering dan hindarkan bau-
bauan yang menyengat
b) Hidung yang tersumbat
anjurkan penggunaan udara
yang di lembabkan dan
hindari semprotan nasal dan
obat yang menghilangkan
mampet
c) Kaji tingkat kelelahan dan
sifat dasar komitmen
keluarga/pekerjaan.

3. Risiko tinggi terhadap Kriteria Hasil : 1) Auskultasi DJJ


kekurangan volume cairan 1) Menurunkan keparahan mual 2) Tentukan frekuensi atau beratnya
berhubungan dengan dan muntah. mual/muntah
kehilangan cairan yang 2) Mengkosumsi caiarn dalam 3) Tinjau ulang riwayat medis lain
berlebihan (muntah) jumlah cukup per hari (ulkus peptikum, gastritis,
3) Mengobservasi tanda-tanda kolesistisis)
dehidrasi yang memerlukan 4) Anjurkan klien mempertahankan
tindakan masukan/ haluaran cairan, tes urin
dan penurunan BB per hari
5) Kaji suhu dan turgor kulit
membrane mukosa dan tekanan
darah, masukan dan haluaran urin,
timbang BB klien dan bandingkan
dengan standar
6) Anjurkan meningkatkan masukan
cairan (minuman) berkarbonat,
makan 6x/hr dengan jumlah yang
sedikit dan makan tinggi serat
(popcorn,roti sebelum tidur)

b) Trimester II
NO. DIAGNOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC
1. Risiko tinggi terhadap Kriteria hasil : 1) Kaji sikap terhadap kehamilan,
gangguan citra tubuh 1) Menggunakan adptasi secara perubahan bentuk tubuh
berhubungan dengan bertahap untuk mengubah 2) Mendiskusikan perubahan aspek
persepsi perubahan biofisik, citra tubuh fisiologis dan respon klien
respon orang lain 2) Mendemonstrasikan citra terhadap perubahan.
tubuh positif dengan 3) Anjurkan gaya dan sumber-
mempertahankan kepuasan sumber yang tersedia dari pakaian
penampilan keseluruhan saat hamil.
berpakaian dengan pakaian 4) Diskusikan metode
yang tepat dan berhak tinggi. perawatan kulit dan berias,
menggunakan kaos kaki
penyokong pemeliharaan postur
dan program latihan sedang.
5) Rujuk pada sumber lain seperti
konseling dan kelas-kelas menjadi
orang tua.

2. Ketidakefektifan pola Kriteria Hasil : 1) Kaji status pernafasan (sesak


pernafasan berhubungan 1) Melaporkan penurunan nafas, kelelahan)
dengan pergeseran frekuensi/beratnya keluhan. 2) Pantau masalah medis
diafragma dank arena 2) Mendemonstrasikan perilaku sebelumnya (alergi, asma, TBC).
pembesaran uterus. yang mengobtimalkan fungsi 3) Kaji kadar Hb/Ht, tekankan
pernafaskan. pentingnya suplemen vitamin.
4) Berikan nformasi tentang rasional
kesulitan bernafas dan program
aktivitas/latihan yang realistis.
Anjurkan untuk meningkatkan
istirahat, tambah waktu untuk
melakukan aktivitas tertentu dan
latihan ringan seperti berjalan.
5) Tinjau ulang tindakan yang dapat
dilakukan klien untuk mengurangi
masalah, missal postur yang baik,
hindari merokok, makan sedikit
tapi sering, posisi semi fowler.

3. Risiko tinggi terhadap Kriteria Hasil : 1) Berikan informasi tentang tanda


infeksi saluran kemih 1) Mengidentifikasi perilaku infeksi saluran kemih. Tekankan
berhubungan dengan statis yang dapat menurunkan perlunya melaporkan tanda-tanda
urinarius praktik hygiene statis urin. infeksi pada pemberi pelayanan
yang buruk. 2) Menyebutkan tanda dan kesehatan serta tidak minum obat
gejala yang memerlukan sampai pemberitahuan
selanjutnya.
evaluasi intervensi. 2) Tekankan perlunya mencuci
3) Bebas dari tanda dan gejala tangan secara teratur/menyeluruh
infeksi. sebelum dan saat memegang
makanan serta setelah toileting.
3) Anjurkan klien minum gelas 6-
8gelas ciran per hari.
4) Anjurkan klien mempraktikan
latihan kegel sepanjang hari.
5) Anjurkan penggunaan celana
dalam dari katun dan hindari
mandi dengan menggunakan bath
bila klien mempunyai riwayat
ISK.

c) Trimester III
NO. DIAGNOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
1. Perubahan pola seksual Kriteria Hasil : 1) Kaji persepsi pasangan terhadap
berhubungan dengan 1) Mendiskusikan masalah yang hubungan seksual.
perubahan hasrat seksual, dengan hubungan isu-isu 2) Anjurkan pasangan untuk
ketidaknyamanan salah seksualitas pada trimester III. berdiskusi secara terpisah dan
pengertian/merasa takut. 2) Mengekspresikan kepuasan terhadap satu sama lain tentang
bersama dengan hubungan perasaan dan masalah yang
seksual. berhubungan dengan perubahan
pada hubungan seksual, berikan
informasi tentang kenormalan
perubahan.
3) Berikan informasi tentang
metode-metode alternative untuk
mencapai kepuasan seksual dalam
pemenuhan kebutuhan keintiman.
4) Anjurkan pilihan posisi untuk
koitus selain dari posisi diatas.
5) Anjurkan klien untuk
mengungkapkan rasa takut yang
dapat menurunkan hasrat untuk
koitus.

2. Kurangnya pengetahuan Kriteria Hasil : 1) Berikan informasi tentang


(kebutuhan belajar) 1) Mendiskusikan perubahan perubahan fisik/fisiologis normal
mengenai persiapan fisik/psikologis berkenaan berkenaan persalinan.
untuk dengan persalinan. 2) Berikan informasi tertulis/verbal
persalinan/kelahiran 2) Mengidentifikasikan sumber- tentang tanda-tanda awitan
sumber yang dapat untuk persalinan, bedakan antara
perawatan bayi
mendapatkan informasi persalinan palsu dan benar,
berhubungan dengan tentang perawatan bayi. diskusikan tahap-tahap persalinan.
kurangnya 3) Mengungkapkan kesiapan 3) Berikan informasi verbal/tertulis
pemajanan/pengalaman untuk persalinan/kelahiran tentang perawatan bayi,
kesalahan interprestasi bayi. perkembangan dan pemberian
informasi makanan, kaji keyakinan budaya.
4) Lakukan orientasi terhadap rumah
sakit dan rumah bersalin.

2. INC (INTRANATAL CARE)


A. Konsep Medis

1) Definisi
Persalinan adalah proses pergerakan keluar janin, plasenta, dan membran dari
dalam rahim melalui jalan lahir. Berbagai perubahan terjadi pada sistem reproduksi
wanita dalam hitungan hari dan minggu sebelum persalinan dimulai.
Proses persalinan adalah saat yang menegangkan dan mencemaskan bagi wanita
dan keluarganya. Pada kebanyakan wanita, persalinan dimulai saat terjadinya kontraksi
uterus pertama dan dilanjutkan dengan kerja keras selama jam-jam dilatasi dan
melahirkan,perawatan ditujukan untuk mendukung wanita dan keluarganya dalam
melalui proses persalinan
Persalinan adalah proses untuk mendorong keluar (ekspulsi) hasil pembuahan
yaitu janin, plasenta dan selaput ketuban keluar dari dalam uterus melalui vagina ke dunia
luar (Farrer,1999). Persalinan normal adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan
aterm (bukan premature atau postmatur), mempunyai onset yang spontan (tidak
diinduksi), selesai setelah 4 jam dan sebelum 24 jam sejak saat awitannya, mempunyai
janin tunggal dengan presentase puncak kepala, terlaksana tanpa bantuan artificial, tidak
mencakup komplikasi, plasenta lahir normal. Menurut Mochtar (1998), Persalinan adalah
suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin + uri), yang dapat hidup ke dunia luar, dari
rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain. Persalinan normal disebut juga partus
spontan, adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala dengan tenaga ibu
sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya
berlangsung kurang dari 24 jam. Persalinan dimulai (inpartu) pada saat uterus
berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan
berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap.

2) Sebab-Sebab yang menimbulkan persalinan


Apa yang menyebabkan terjadinya persalinan belum diketahui benar, yang ada
hanya merupakan teori – teori kompleks antara lain :
a. Teori penurunan hormone
Terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron pada 1-2 minggu
sebelum partus dimulai. Progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim
dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar
progesteron turun.
b. Teori plasenta menjadi tua
Hal tersebut akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron
yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah hal ini akan menimbulkan kontraksi
rahim.
c. Teori distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot
rahim, sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenter.
d. Teori iritasi mekanik
Di belakang serviks terletak ganglion servikale (fleksus Frankerhauser). Bila
ganglion ini digeser dan ditekan, misalnya oleh kepala janin, akan timbul kontraksi
uterus.
e. Induksi partus (Induction of labour)
Partus dapat pula ditimbulkan dengan jalan :
 Gagang laminaria : beberapa laminaria dimasukkan dalam kanalis srvikalis
dengan tujuan merangsang fleksus Frankerhauser
 Amniotomi : pemecahan ketuban
 Oksitosin drip : pemberian oksitosin menurut tetesan per infus

3) Etiologi
Penyebab dilakukaannya Intranatal Care Vacum yaitu:
a) Kelelahan pada ibu : terkurasnya tenaga ibu pada saat melahirkan karena kelelahan
fisik pada ibu (Prawirohardjo, 2005).
b) Partus tak maju : His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan
bahwa rintangan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persaiinan, tidak
dapat diatasi sehingga persalinan mengalami hambatan atau kematian
(Prawirohardjo, 2005).
c) Gawat janin : Denyut Jantung Janin Abnormal ditandai dengan:
- Denyut Jantung Janin irreguler dalam persalinan sangat bereaksi dan dapat
kembali beberapa waktu. Bila Denyut Jantung Janin tidak kembali normal setelah
kontraksi, hal ini mengakibatkan adanya hipoksia.
- Bradikardia yang terjadi di luar saat kontraksi atau tidak menghilang setelah
kontraksi.
- Takhikardi dapat merupakan reaksi terhadap adanya demam pada ibu
(Prawirohardjo, 2005).

4) Bentuk-Bentuk Persalinan
a) Persalinan Spontan
Persalinan yang berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri, dan melalui jalan
lahir.
b) Persalinan Bantuan
Persalinan dengan rangsangan yang dibantu dengan tenaga dari luar,
ekstraksi dengan forcep atau dengan dilakukan sectio sesario.
c) Persalinan Anjuran
Persalinan yang tidak dimulai dengan sendirinya, baru berlangsung setelah
pemecahan ketuban.
5) Tanda-Tanda Persalinan
Sebelum persalinan mulai, saat mendekati akhir kehamilanklien mungkin lihat
perubahan tertentu atau ada tanda-tanda bahwa persalinan terjadi tidak lama lagi sekitar
2-4 minggu sebelum persalinan. Kepal janin mulai menetap lebih jauh kedalam pelviks.
Tekanan pada diafragma berkurang seperti memperingan berat badan bayi dan
memungkinkan ibu untuk bernapas lebih mudah, akan lebih sering berkemih, dan akan
lebih bertekan pada pelviks karena bayi lebih rendah dalam pelviknya.

a) Persalinan Palsu
i. Terjadi lightening

Menjelang minggu ke – 36 pada primigravida terjadi penurunan


fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk pintu atas panggul yang
disebabkan:

- Kontraksi Braxton hicks


- Ketegangan dinding perut
- Ketegangan ligamentum rotandum
- Gaya berat janin dimana kepala kearah bawah
ii. Masuknya kepala bayi kepintu atas panggul dirasakan ibu hamil :
- Terasa ringan dibagian atas, rasa sesaknya berkurang
- Dibagian bawah terasa sesak
- Terjadi kesulitan saat berjalan
- Sering miksi ( beser kencing )
- Terjadinya His permulaan
Pada saat hamil muda sering terjadi kontraksi Braxton hicks
dikemukan sebagai keluhan karena dirasakan sakit dan mengganggu terjadi
karena perubahan keseimbangan estrogen,progesterone, dan memberikan
kesempatan rangsangan oksitosin.
Dengan makin tua hamil, pengeluaran estrogen dan progesterone
makin berkurang sehingga oksitosin dapat menimbulkan kontraksi yang lebih
seringb sebagai his palsu.

Sifat his permulaan ( palsu )

- Rasa nyeri ringan di bagian bawah


- Datangnya tidak teratur
- Tidak ada perubahan pada serviks atau pembawa tanda
- Durasinya pendek
- Tidak bertambah bila beraktifitas
b) Persalinan Sejati
a. Terjadinya His persalinan , His persalinan mempunyai sifat :
- Pinggang terasa sakit yang menjalar ke bagian depan
- Sifatnya teratur,interval makin pendek, dan kekuatannya makin besar
- Mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks
- Makin beraktifitas ( jalan ) kekuatan makin bertambah

c) Pengeluaran Lendir dan darah ( pembawa tanda ), Dengan his persalinan terjadi
perubahan pada serviks yang menimbulkan:
- Pendataran dan pembukaan
- Pembukaan menyebabkan lender yang terdapat pada kanalis servikalis lepas
- Terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah
-
d) Pengeluaran Cairan
Pada beberapa kasus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan pengeluaran
cairan. Sebagian ketuban baru pecah menjelang pembukaan lengkap. Dengan
pecahnya ketuban diharapkan persalinan berlangsung dalam waktu 24 jam.

6) Proses Persalinan
Proses persalinan terdiri dari 4 kala, yaitu :
a) Kala I (Persalinan)
Dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks hingga
mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Persalinan kala satu dibagi menjadi 2 fase
yaitu :
i. Fase laten
Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan
pembukaan serviks secara bertahap. Pembukaan serviks kurang dari 4 cm
dan biasanya berlangsung dibawah 8 jam.
ii. Fase aktif
Frekuensi dan lama kontraksi uterus umumnya meningkat (kontraksi
dianggap adekuat/ memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10
menit dan berlangsung selama 40 detik atau lebih. Serviks membuka dari 3
ke 10 cm, biasanya dengan kecepatan 1 cm atau lebih perjam dan terjadi
penurunan bagian terbawah janin. Dapat dibedakan menjadi tiga fase :
- Akselerasi : pembukaan dari 3 cm menjadi 4 cm yang membutuhkan
waktu 2 jam
- Dilatasi maksimal : pembukaan dari 4 cm menjadi 9 cm dalam waktu 2
jam
- Deselarasi : pembukaan menjadi lambat, dari 9 menjadi 10 cm dalam
waktu 2 jam
Fase – fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravida
pun terjadi demikian, akan tetapi pada fase laten, fase aktif deselerasi akan
terjadi lebih pendek. Mekanisme membukanya serviks berbeda antara pada
primigravida dan multigravida. Pada premi osteum uteri internum akan
membuka lebih dahulu, sehingga serviks akan mendatar dan menipis baru
kemudian osteum uteri eksternum membuka. Pada multigravida osteum uteri
internum sudah sedikit terbuka. Osteum uteri internu dan eksternum serta
penipisan dan pendataran terjadi dalam saat yang sama.
b) Kala II (pengeluaran)
Kala dua persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10
cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala dua dikenal juga sebagai kala
pengeluaran. Ada beberapa tanda dan gejala kala dua persalinan :
- Ibu merasakan keinginan meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
- Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rectum dan atau
vaginanya.
- Perineum terlihat menonjol
- Vulva-vagina dan sfingter ani terlihat membuka
- Peningkatan pengeluaran lender dan darah
Diagnosis kala dua persalinan dapat ditegakkan atas dasar hasil
pemeriksaan dalam yang menunjukkan :
- Pembukaan serviks telah lengkap
- Terlihatnya bagian kepala bayi pada introitus vagina.
c) Kala III (Pelepasan Uri)
Kala tiga persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan
lahirnya plasenta.
a. Fisiologi kala tiga
Otot uterus berkontraksi mengikuti berkurangnya ukuran rongga uterus
secara tiba – tiba setelah lahinya bayi. Penyusutan ukuran rongga uterus ini
menyebabkan berkurangnya ukuran tempat implantasi plasenta. Karena tempat
implantasi menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah
maka plasenta akan menekuk, menebal kemudian dilepaskan dari dinding uterus.
Setelah lepas plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau bagian atas
vagina.
b. Tanda – tanda lepasnya plasenta
- Perubahan ukuran dan bentuk uterus
- Tali pusat memanjang
- Semburan darah tiba – tiba
Kala III terdiri dari 2 fase :
i. Fase pelepasan uri
Cara lepasnya uri ada beberapa cara :
 Schultze : lepasnya seperti kita menutup payung, cara ini paling sering
terjadi. Yang lepas duluan adalah bagian tengah lalu terjadi retroplasental
hematoma yang menolak uri mula-mula pada bagian tengah kemudian
seluruhnya. Menurut cara ini perdarahan ini biasanya tidak ada sebelum
uri lahir.
 Duncan : lepasnya uri mulai dari pinggir, jadi pinggir uri lahir duluan.
Darah akan mengalir keluar antara selaput ketuban. Atau serempak dari
tengah dan pinggir plasenta.
ii. Fase pengeluaran uri
 Kustner: dengan meletakkan tangan disertai tekanan pada/di atas
simfisis. Tali pusat diteganggangkan maka bila tali pusat masuk artinya
belum lepas, bila diam atau maju artinya sudah lepas.
 Klein: sewaktu ada his, rahim kita dorong, bila tali pusat kembali artinya
belum lepas. Diam atau turun artinya lepas.
 Strassman : tegangkan tali pusat dan ketok pada fundus, bila tali pusat
bergetar artinya belum lepas. Tak bergetar artinya sudah lepas.
d) Kala IV (observasi)
Kala empat persalinan dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir
selama 2 jam. Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena perdarahan
postpartum paling sering terjadi pada 2 jam pertama. Observasi yang dilakukan,
antara lain :
 Tingkat kesadaran ibu
 Pemeriksaan TTV : tekanan darah, nadi, pernafasan
 Kontraksi uterus
 Terjadinya perdarahan
Perdarahan dianggap masih normal bila jumlahnya tidak melebihi 400 – 500 cc.

7) Faktor-Faktor yang mempengaruhi persalinan


1) Power / Tenaga
Power utama pada persalinan adalah tenaga/kekuatan yang dihasilkan oleh
kontraksi dan retraksi otot-otot rahim. Gerakan memendek dan menebalotot-otot
rahim yang terjadi sementara waktu disebut kontraksi. Kontraksi ini terjadi diluar
sadar sedangkan retraksi mengejan adalah tenaga kedua (otot-otot perut dan
diafragma) digunakan dalam kala II persalinan. Tenaga dipakai untuk mendorong
bayi keluar dan merupakan kekuatan ekspulsi yang dihasilkan oleh otot-otot volunter
ibu.
2) Passages/Lintasan
Janin harus berjalan lewat rongga panggul atau serviks dan vagina sebelum
dilahirkan untuk dapat dilahirkan, janin harus mengatasi pula tahanan atau resisten
yang ditimbulkan oleh struktur dasar panggul dan sekitarnya.
3) Passanger
Passenger utama lewat jalan lahir adalah janin dan bagian janin yang paling
penting (karena ukurannya paling besar) adalah kepala janin selain itu disertai dengan
plasenta selaput dan cairan ketuban atau amnion.
4) Psikologis
Dalam persalinan terdapat kebutuhan emosional jika kebutuhan tidak
tepenuhi paling tidak sama seperti kebutuhan jasmaninya. Prognosis keseluruhan
wanita tersebut yang berkenan dengan kehadiran anaknya terkena akibat yang
merugikan.

8) Komplikasi dalam persalinan


1) Persalinan lama
2) Perdarahan pasca persalinan
3) Malpresentasi dan malposisi
4) Distosia bahu
5) Distensi uterus
6) Persalinan dengan parut uterus
7) Gawat janin
8) Prolapsus tali pusat
9) Demam dalam persalinan
10) Demam pasca persalinan

9) Pemeriksaan Diagnostik
1) Ultrasonografi
ultrasonografi dapat mengidentifikasikan kehamilan ganda, anomaly janin,
atau melokalisai kantong amnion pada amniosintesis.
2) Amniosintesis
cairan amnion dapat dikirim ke laboratorium untuk evaluasi kematangan paru
janin.
3) Pemantauan janin
membantu dalam mengevaluasi janin.
4) Protein C-reaktif
peningkatan protein C-reaktif serum menunjukkan peningkatan korioamnionitis.
5) Histopatologi
cairan ditampung dalam tabung reaksi kemudian dibakar sampai tertinggal
endapan tersebut dilihat dibawah mikroskop dan bila air ketuban mengalami kelainan
maka akan terlihat seperti daun pakis.
6) Kertas lakmus
bila merah menunjukkan cairan mengandung urine yang bersifat asam, bila
biru menunjukkan cairan mengandung air ketuban yang bersifat basa.

10) Penatalaksanaan
1) Penanganan umum :
- Konfirmasi usia kehamilan,kalau ada dengan USG
- Lakikan pemeriksaan inspekulo untuk menilai cairan yang keluar (jumlah, warna,
bau) dan membedakannya dengan urin. Dengan pemeriksaan tes lakmus,bila
kertas lakmus biru menunjukkan air ketuban (basa), dan bila kertas lakmus merah
menunjukkan cairan urine (asam)
- Jika ibu mengeluh perdarahan pada akhir kehamilan (setelah 32 minggu), jangan
melakukan menit pemeriksaan dalam secara digital
- Tentukan ada tidaknya infeksi
- Tentukan tanda-tanda inpartus
2) Penanganan khusus :
Konfirmasi diagnosis :
- Bau cairan ketuban yang khas
- Jika keluarnya cairan ketuban sedikit-sedikit, tampung cairan yang keluar dan
nilai 1 jam kemudian
- Dengan speculum DTT, lakukan pemeriksaan inspekulo, nilai apakah cairan
keluar melalui ostium uteri atau terkumpul di forniks posterior
3) Penanganan konservatif:
- Rawat di rumah sakit
- Berikan antibiotic (ampisilin 4 x 500 mg atau erittromisin bila tidak tahan
ampisilin) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari
- Jika umur kehamilan < 32 – 34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar
atau sampai air ketuban tidak keluar lagi
- Jika usia kehamilan 32 -37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi,tes busa
negative; beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi dan kkesejahteraan
janin, terminasi pada kehamilan 37 minggu
- Jika usia kehamilan 32 – 37 minggu, sudah inpartu,tidak ada infeksi, berikan
tokolitik (salbutamol), deksametason dan induksi sesudah 24 jam
- Jika usia kehamilan 32 -37minggu, ada infeksi, beri antibiotic dan lakukan
induksi
- Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, lekosit, tanda-tanda infeksi intra uterin). Klien
dianjurkan pada posisi trendelenburg untuk menghindari prolap tali pusat.
4) Penanganan aktif :
a) Kehamilan >37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesarea.
Dapat pula diberikan misoprotal 50 μg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali
b) Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotic dosis tinggi dan persalinan
diakhiri:
- Bila skor pelvic < 5, lakukan pematangan serviks kemudian induksi, jika
tidak berhasil, akhiri persalinan dengan seksio sesarea
- Bila skor pelvic > 5, induksi persalinan, partus pervaginam
B. Konsep Dasar Keperawatan
1) Kala I
a. Pengkajian
i. Anamnesa
- Nama, umur, dan alamat
- Gravida dan para
- Hari pertama haid terakhir (HPHT)
- Riwayat alergi obat
- Riwayat kehamilan sekarang: ANC, masalah yang dialami
selama kehamilan seperti perdarahan, kapan mulai kontraksi,
apakah gerakan bayi masih terasa, apakah selaput ketuban sudah
pecah? Jika ya, cairan warnanya apa? Kental/ encer? Kapan
pecahnya? Apakah keluar darah pervagina? Bercak atau darah
segar? Kapan ibu terakhir makan dan minum? Apakah ibu
kesulitan berkemih?
- Riwayat kehamilan sebelumnya
- Riwayat medis lainnya seperti hipertensi, pernafasan
- Riwayat medis saat ini (sakit kepala, pusing, mual, muntah atau
nyeri epigastrium)
- Pemeriksaan fisik
o Tunjukkan sikap ramah
o Minta mengosongkan kandung kemih
o Nilai keadaan umum, suasana hati, tingkat kegelisahan,
warna konjungtiva, kebersihan, status gizi, dan kebutuhan
cairan tubuh
o Nilai tanda – tanda vital (TD, Nadi, suhu, dan pernafasan),
untuk akurasi lakukan pemeriksaan TD dan nadi diantara
dua kontraksi.
o Pemeriksaan abdomen
o Menentukan tinggi fundus
o Kontraksi uterus
ii. Palpasi jumlah kontraksi dalam 10 menit, durasi dan lamanya
kontraksi
- Memantau denyut jantung janin (normal 120-160x/menit)
- Menentukan presentasi (bokong atau kepala)
- Menentukan penurunan bagian terbawah janin
- Pemeriksaan dalam
 Nilai pembukaan dan penipisan serviks
 Nilai penurunan bagian terbawah dan apakah sudah
masuk rongga panggul
 Jika bagian terbawah kepala, pastikan petunjuknya.

b. Diagnosa Keperawatan
i. Nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus selama persalinan
ii. Kelelahan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan energy
akibat peningkatan metabolisme sekunder akibat nyeri selama
persalinan
c. Rencana Asuhan keperawatan
NO. DIAGNOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI(NIC)
1. Nyeri berhubungan Tujuan : diharapkan ibu 1) Kaji kontraksi uterus dan
dengan kontraksi mampu mengendalikan ketidaknyamanan (awitan, frekuensi,
uterus selama nyerinya durasi, intensitas, dan gambaran
persalinan Kriteria evaluasi : ibu ketidaknyamanan)
menyatakan menerima 2) Kaji tentang metode pereda nyeri yang
rasa nyerinya sebagai diketahui dan dialam
proses fisiologis 3) Kaji faktor yang dapat menurunkan
persalinan toleransi terhadap nyeri
4) Kurangi dan hilangkan faktor yang
meningkatkan nyeri
5) Jelaskan metode pereda nyeri yang ada
seperti relaksasi, massage, pola
pernafasan, pemberian posisi, obat –
obatan
6) Lakukan perubahan posisi sesuai dengan
keinginan ibu, tetapi ingin di tempat
tidur anjurkan untuk miring ke kiri
7) Beberapa teknik pengendalian nyeri
Relaksasi Massage
2. Kelelahan Tujuan : Diharapkan ibu 1) Kaji tanda – tanda vital yaitu nadi dan
berhubungan dengan tidak mengalami tekanan darah
peningkatan keletihan 2) Anjurkan untuk relaksasi dan istirahat di
kebutuhan energy Kriteria evaluasi : antara kontraksi
akibat peningkatan nadi:60-80x/menit(saat 3) Sarankan suami atau keluarga untuk
metabolisme sekunder tidak ada his), ibu mendampingi ibu
akibat nyeri selama menyatakan masih 4) Sarankan keluarga untuk menawarkan
persalinan memiliki cukup tenaga dan memberikan minuman atau makanan
kepada ibu

2) Kala II
a. Pengkajian
i. Aktivitas /istirahat
- adanya kelelahan, ketidak mampuan melakukan
dorongan sendiri/ relaksasi.
- Letargi.
- Lingkaran hitam di bawah mata.
ii. Sirkulasi: tekanan darah dapat meningkat 5-10mmHg diantara
kontraksi.
iii. Integritas Ego
- Respon emosional dapat meningkat.
- Dapat merasa kehilangan control atau kebalikannya seperti saat
ini klien terlibat mengejan secara aktif.
iv. Eleminasi.
- Keinginan untuk defikasi, disertai tekanan intra abdominal dan
tekanan uterus.
- Dapat mengalami rabas fekal saat mengejan.
- Distensi kandung kemih mungkin ada , dengan urine dikeluarkan
selama upaya mendorong.
v. Nyeri/ Ketidak nyamanan
- Dapat merintih/ meringis selama kontraksi.
- Amnesia diantara kontraksi mungkin terlihat.
- Melaporkan rasa terbakar/ meregang dari perineum.
- Kaki dapat gemetar selama upaya mendorong.
- Kontraksi uterus kuat terjadi 1,5 – 2 mnt masing-masing dan
berakhir 60-90 dtk.
- Dapat melawan kontraksi , khususnya bila tidak berpartisipasi
dalam kelas kelahiran anak.
vi. Pernafasan: peningkatan frekuensi pernafasan.
vii. Keamanan
- Diaforesis sering terjadi.
- Bradikardi janin dapat terjadi selama kontraksi
viii. Sexualitas
i. Servik dilatasi penuh( 10 cm) dan penonjolan 100%.
ii. Peningkatan penampakan perdarahan vagina.
iii. Penonjolan rectal/ perineal dengan turunnya janin.
iv. Membrane mungkin rupture pada saat ini bila masih utuh.
v. Peningkatan pengeluaran cairan amnion selama kontraksi.
vi. Crowning terjadi, kaput tampak tepat sebelum kelahiran pada
presentasi vertex

b. Diagnosa Keperawatan
i. Nyeri akut berhubungan dengan tekanan mekanik pada bagian
presentasi , dilatasi/ peregangan jaringan , kompresi saraf, pola
kontraksi semakin intense lama, hiperventilasi maternal.
ii. Resiko infeksi maternal b/d prosedur invasive berulang, trauma
jaringan, pemajanan terhadap pathogen, persalinan lama atau pecah
ketuban
c. Rencana Asuhan Keperawatan
NO DIAGNOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI(NIC)
1. Nyeri akut Tujuan : diharapkan 1) Identifikasi derajat ketidak nyamanan
berhubungan dengan klien dapat mengontrol dan sumbernya
tekanan mekanik rasa nyeri dengan 2) Pantau dan catat aktivitas uterus pada
pada bagian kriteria evaluasi : setiap kontraksi.
presentasi , dilatasi/ 1) Mengungkapkan 3) Berikan dukungan dan informasi yang
peregangan jaringan penurunan nyeri berhubungan dengan persalinan
, kompresi saraf, pola 2) Menggunakan tehnik 4) Anjurkan klien untuk mengatur upaya
kontraksi semakin yang tepat untuk untuk mengejan.
intense lama, mempertahan kan 5) Bantu ibu untuk memilih posisi optimal
hiperventilasi control.nyeri. untuk mengejan
maternal 3) Istirahat diantara 6) Kaji pemenuhan kandung kemih,
kontraksi kateterisasi bila terlihat distensi.
7) Dukung dan posisikan blok sadel /
anastesi spinal, local sesuai indikasi.

2. Resiko infeksi Tujuan : diharapkan 1) Lakukan perawatan parienal setiap 4 jam.


maternal b/d prosedur tidak terjadi infeksi 2) Catat tanggal dan waktu pecah ketuban
invasive berulang, dengan 3) Lakukan pemeriksaan vagina hanya bila
trauma jaringan, kriteria evaluasi : Tidak sangat perlu, dengan menggunakan
pemajanan terhadap ditemukan tanda-tanda tehnik aseptik
pathogen, persalinan adanya infeksi. 4) Pantau suhu, nadi dan sel darah putih
lama atau pecah 5) Gunakan tehnik asepsis bedah pada
ketuban persiapan peralatan

3) Kala III
a) Pengkajian
i. Aktivitas/istirahat
Perilaku dapat direntang dari senang sampai keletihan.
ii. Sirkulasi
- Tekanan darah meningkat saat curah jantung meningkat
kemudian kembali ke tingkat normal dengan cepat.
- Hipotensi dapat terjadi sebagai respon terhadap
analgesik dan anastesi.
- Frekuensi nadi lambat pada respon terhadap perubahan
jantung.
iii. Makanan/cairan: kehilangan darah normal 200-300ml.
iv. Nyeri/ketidaknyamanan: inspeksi manual pada uterus dan jalan lahir
menetukan adanya robekan atau laserasi. Perluasan episiotomi atau
laserasi jalan lahir mungkin ada.
v. Seksualitas: darah yang berwarna hitam dari vagina terjadi saat
plasenta lepas dari endometrium, biasanya dalam 1-5 menit setelah
melahirkan bayi. Tali pusat memanjang pada muara vagina. Uterus
berubah dari discoid menjadi bentuk globular.
vi. Pemeriksaan fisik
- Kondisi umum ibu: tanda vital (tekanan darah, nadi,
respirasi, suhu tubuh), status mental klien.
- Inspeksi: perdarahan aktif dan terus menerus sebelum
atau sesudah melahirkan plasenta.
- Palpasi: tinggi fundus uteri dan konsistensinya baik
sebelum maupun sesudah pengeluaran plasenta.

b) Diagnosa Keperawatan
i. Risiko cedera (meternal) b/d posisi selama melahirkan/pemindahan,
kesulitan dengan plasenta.
ii. Nyeri b/d trauma jaringan, respon fisiologis setelah melahirkan.
c) Rencana Asuhan Keperawatan
NO. DIAGNOSA TUJUAN(NOC) INTERVENSI (NIC)
1. Risiko cedera Tujuan : diharapkan Mandiri
(meternal) b/d posisi tidak terjadi cedera 1) Palpasi fundus uteri dan masase
selama maternal dengan perlahan.
melahirkan/pemindah kriteria evaluasi: 2) Masase fundus secara perlahan setelah
an, kesulitan dengan 1) Tidak terjadi tanda- pengeluaran plasenta
plasenta. tanda perdarahan. 3) Kaji irama pernapasan dan
2) Kesadaran pasien pengembangan.
bagus. 4) Bersihkan vulva dan perineum dengan air
larutan antiseptik, berikan pembalut
perineal steril.
5) Rendahkan kaki klien secara simultan
dari pijakan kaki.
6) Kaji perilaku klien, perhatikan perubahan
SSP.
7) Dapatkan sampel darah tali pusat untuk
menetukan golongan darah.
Kolaborasi
1) Gunakan bantuan ventilator bila
diperlukan
2) Berikan oksitosin IV, posisikan kembali
uterus di bawah pengaruh anastesi dan
berikan ergonovin maleat (ergotrat)
setelah penemapatan uterus kembali.
Bantu dengan tampon sesuai dengan
indikasi.
3) Berikan antibiotik profilatik
2. Nyeri b/d trauma Tujuan : diharapkan Mandiri
jaringan, respon nyeri hilang atau 1) Bantu dengan teknik pernapasan selama
fisiologis setelah berkurang dengan perbaikan pembedahan bila tepat.
melahirkan. kriteria evaluasi: 2) Berikan kompres es pada perineum
1) Menyatakan nyeri setelah melahirkan
berkurang dengan 3) Ganti pakaian dan linen basah
skala (0-3). 4) Berikan selimut hangat.
2) Wajah tampak Kolaborasi
tenang. Bantu dalam perbaikan episiotomi bila perlu.
3) Wajah tampak tidak
meringis.
4) Kala IV
a. Pengkajian
i. Aktivitas / Istirahat
Pasien tampak “berenergi” atau keletihan / kelelahan, mengantuk
ii. Sirkulasi
 Nadi biasanya lambat (50 – 70x / menit) karena hipersensitivitas
vagal
 TD bervariasi : mungkin lebih rendah pada respon terhadap analgesia
/ anastesia, atau meningkat pada respon terhadap pemeriksaan
oksitosin atau hipertensi karena kehamilan
 Edema : bila ada mungkin dependen (misal : pada ekstremitas
bawah), atau dapat juga pada ekstremitas atas dan wajah atau
mungkin umum (tanda hipertensi pada kehamilan)
 Kehilangan darah selama persalinan dan kelahiran sampai 400 – 500
ml untuk kelahiran per vagina atau 600-800 ml untuk kelahiran
sesaria
iii. Integritas Ego
 Reaksi emosional bervariasi dan dapat berubah-ubah misal : eksitasi
atau perilaku menunjukkan kurang kedekatan, tidak berminat
(kelelahan), atau kecewa
 Dapat mengekspresikan masalah atau meminta maaf untuk perilaku
intrapartum atau kehilangan kontrol, dapat mengekspresikan rasa
takut mengenai kondisi bayi baru lahir dan perawatan segera pada
neonatal.

iv. Eleminasi
 Hemoroid sering ada dan menonjol
 Kandung kemih mungkin teraba di atas simpisis pubis atau kateter
urinarius mungkin dipasang
 Diuresis dapat terjadi bila tekanan bagian presentasi menghambat
aliran urinarius dan atau cairan IV diberikan selama persalinan dan
kelahiran.
v. Makanan / Cairan Dapat mengeluh haus, lapar, mual
vi. Neurosensori: Hiperrefleksia mungkin ada (menunjukkan terjadinya dan
menetapnya hipertensi, khususnya pada pasien dengan diabetes mellitus,
remaja, atau pasien primipara)
vii. Nyeri / Ketidaknyamanan. Pasien melaporkan ketidaknyamanan dari
berbagai sumber misalnya setelah nyeri, trauma jaringan / perbaikan
episiotomi, kandung kemih penuh, atau perasaan dingin / otot tremor
dengan “menggigil”
viii. Keamanan
 Pada awalnya suhu tubuh meningkat sedikit (dehidrasi)
 Perbaikan episiotomi utuh dengan tepi jaringan merapat
ix. Seksualitas
 Fundus keras berkontraksi, pada garis tengah dan terletak setinggi
umbilikus
 Drainase vagina atau lokhia jumlahnya sedang, merah gelap dengan
hanya beberapa bekuan kecil
 Perineum bebas dari kemerahan, edema, ekimosis, atau rabas
 Striae mungkin ada pada abdomen, paha, dan payudara
 Payudara lunak dengan puting tegang
x. Penyuluhan / Pembelajaran. Catat obat-obatan yang diberikan, termasuk
waktu dan jumlah
xi. Pemeriksaan Diagnostik. Hemoglobin / Hematokrit (Hb/Ht), jumlah
darah lengkap, urinalisis. Pemeriksaan lain mungkin dilakukan sesuai
indikasi dari temuan fisik.
b. Diagnosa Keperawatan
i. Nyeri akut b/d trauma mekanis / edema jaringan, kelelahan fisik dan
psikologis, ansietas
ii. Perubahan proses keluarga b/d transisi / peningkatan perkembangan
anggota keluarga

c. Rencana Asuhan Keperawatan


NO. DIAGNOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NOC)
1. Nyeri akut b/d trauma Tujuan : Setelah 1) Kaji sifat dan derajat ketidaknyamanan,
mekanis / edema diberikan asuhan jenis melahirkan, sifat kejadian
jaringan, kelelahan keperawatan selama … intrapartal, lama persalinan, dan
fisik dan psikologis, diharapkan pasien dapat pemberian anastesia atau analgesia
ansietas mengontrol nyeri, nyeri 2) Berikan informasi yang tepat tentang
berkurang perawatan rutin selama periode
Kriteria Evaluasi : pascapartum
1) Pasien melaporkan 3) Inspeksi perbaikan episiotomi atau
nyeri berkurang laserasi. Evaluasi penyatuan perbaikan
2) Menunjukkan postur luka, perhatikan adanya edema,
dan ekspresi wajah hemoroid
rileks 4) Berikan kompres es
3) Pasien merasakan 5) Lakukan tindakan kenyamanan (misalnya
nyeri berkurang pada : perawatan mulut, mandi sebagian, linen
skala nyeri (0-2) bersih dan kering, perawatan perineal
periodik)
6) Masase uterus dengan perlahan sesuai
indikasi. Catat adanya faktor-faktor yang
memperberat hebatnya dan frekuensi
afterpain
7) Anjurkan penggunaan teknik pernafasan
/ relaksasi
8) Berikan lingkungan yang tenang,
anjurkan pasien istirahat

3. Perubahan proses Tujuan: diharapkan 1) Anjurkan pasien untuk menggendong,


keluarga b/d transisi / keluarga dapat menerima menyentuh, dan memeriksa bayi
peningkatan kehadiran anggota 2) Anjurkan ayah untuk menyentuh dan
perkembangan keluarga yang baru menggendong bayi dan membantu dalam
anggota keluarga Kriteria Evaluasi : perawatan bayi, sesuai kondisi
1) Menggendong bayi 3) Observasi dan catat interaksi bayi –
saat kondisi ibu dan keluarga, perhatikan perilaku untuk
neonatus menunjukkan ikatan dan kedekatan
memungkinkan dalam budaya khusus
2) Mendemonstrasikan 4) Catat pengungkapan / perilaku yang
perilaku kedekatan menunjukkan kekecewaan atau kurang
dengan anak minat / kedekatan
5) Terima keluarga dan sibling dengan
senang hati selama periode pemulihan
bila diinginkan oleh pasien dan
dimungkinkan oleh kondisi ibu /
neonatus dan lingkungan
6) Anjurkan dan bantu pemberian ASI,
tergantung pada pilihan pasien dan
keyakinan / praktik budaya
7) Berikan informasi mengenai perawatan
segera pasca kelahiran