Anda di halaman 1dari 15

L4

KARAKTERISTIK KOMPONEN LISTRIK

I. TUJUAN
Menentukan tahanan dalam (Rl) dari lampu karbon dan wolfram

II. ALAT – ALAT


1. Amperemeter AC
2. Voltmeter AC
3. Lampu Karbon
4. Lampu wolfram
5. Kabel penghubung (5 buah)
6. Kabel bersteker
7. Sumber tegangan yang dapat diatur (variac)

III. TEORI
Apabila sebuah komponen listrik (misalnya lampu) diberi beda potensial,
maka didalamnya akan dialiri arus listrik. Pada umumnya untuk suatu
hambatan yang biasa, grafik karakteristik I terhadap V adalah linier dan
memenuhi hukum Ohm :
V = I.R ..........................................................................................(1)
Dengan
V = beda potensial antara ujung – ujung hambatan/komponen [V]
I = kuat arus yang melalui hambatan/komponen [A]
R = besarnya hambatan seluruh rangkaian [Ω]
Besarnya daya (power) oleh elemen listrik :
P = V.I...........................................................................................(2)
Rumus (1) dan (2) berlaku apabila dalam rangkaian tidak timbul induksi dari
atau induksi kapasitif.
Dalam percobaan untuk mengukur V (atau E) dan I, digunakan dua metoda
rangkaian seperti gambar (1) dan (2), dimana masing – masing mempunyai
perbedaan (kelemahan).

A
RA

~ 220 v
v Rl
RV

variac

Gb. 1. Metoda 1

A
RA

~ 220 v
v Rl
RV

variac

Gb. 2. Metoda 2

Dengan rangkaian seperti gb. 1 dan 2, dapat diketahui kuat arus yang melalui
lampu beberapa beda potensial, sehingga nilai hambatan dalam lampu (Rl)
dapat dicari.

IV. TUGAS PENDAHULUAN


1. Dalam gambar (1) amperemeter menunjukan kuat arus yang melalui
lampu dan voltmeter. Bagaimanakah cara memberi koreksi pada nilai
hambatan dalam lampu (rL)bila diketahui hambatan dalam voltmeter (rv)?
Jawab:
Iv = arus yang lewat Voltmeter
Rv = tahanan dalam voltmeter
V
Iv 
Rv
V
Rp 
I
V
Rp 
R  Iv
V
Rp  V
R  Rv
V

R
Rp 
1 R
Rv
Rp
maka harga sebenarnya : R 
1  Rp Rv

2. Bagaimanakah dengan metoda pada gambar (2) ? Bila nilai hambatan


dalam ampermeter (rA) diketahui, bagimanakah cara memberikan koreksi
terhadap nilai hambatan dalam lampu (rL)?
Jawab :
Va = I . Ra = tegangan pada ampermeter
V = Va + Vr
V Va  Vr
Rp  
I I
Rp 
 I.Ra    I.R 
I
Rp  Ra  R

maka harga sebenarnya : R = Rp – Ra

3. Gambarkan rangkaian untuk metode (1) dengan lampu dipasang seri dan
parallel!
Jawab :
A
RA

~ 220 v
v Rl
RV

variac

Gb. 1. Metoda 1

A
RA

~ 220 v
v Rl
RV

variac

Gb. 1. Metoda 1

4. Gambarkan rangkaian untuk metode 2 dengan lampu dipasang seri dan


paralel!
Jawab :

A
RA

~ 220 v
v Rl
RV

variac

Gb. 2. Metoda 2
A
RA

~ 220 v
v Rl
RV

variac

Gb. 2. Metoda 2

5. Apakah yang dimaksud dengan hambatan “ohmik” dan “non ohmik”?


Jelaskan dengan grafik !
Jawab :
hambatan ohmik adalah hambatan yang memenuhi penggunan hukum
ohm dan nilai hambatan tidak dipengaruhi suhu
hambatan non ohmik adalah hambatan yang tidak memenuhi penggunaan
hukum ohm

Grafik ohmik & non ohmik


R [Ohm]

PTC

Ohmik
PTC = Positif Temperature Coeffisien
NTC = Negative Temperature Coeffisien
ohmik = nilai hambatan tidak dipengaruhi suhu
NTC
PTC = semakin tinggi suhu nilai hambatan
T[0C] bertambah
NTC = semakin tinggi suhu nilai hambatan
R [Ohm] berkurang
PTC

Ohmik

NTC
I [Ampere]
V. PROSEDUR PERCOBAAN
Catat keadaan ruang sebelum percobaan!
Pasang lampu karbon pada dudukan lampu yang terdapat pada kit praktikum, kemudian
susunlah rangkaian seperti pada gambar 1, variac tidak dihubungkan dengan
sumber tegangan! Pastikan variac berada dalam kondisi minimum dan perhatikan
kondisi suhu awal lampu!
Setelah rangkaian di periksa oleh asisten, hubungkan rangkaian dengan sumber,
kemudian nyalakan variac!
Dengan mengatur variac, catatlah kuat arus yang terukur pada amperemeter dan tegangan
pada voltmeter untuk setiap kenaikan harga beda potensial (lihat table data
pengamatan)! Catat pula nilai kuat arus dan tegangan untuk setiap penurunan harga
beda potensial (Tanya asisten)!
Atur variac hingga minimum, kemudian matikan!
Ulangi langkah V.2 sampai V.5 dengan menggunakan lampu wolfram!
Setelah suhu kedua lampu kembali seperti semula, ulangi langkah V.2 sampai V.5 dengan
menggunakan lampu karbon yang dirangkai seri dengan lampu wolfram! Beri
keterangan saat salah satu lampu menyala terlebih dahulu, saat keduanya menyala,
serta lampu yang menyala lebih terang (Tanya asisten)!
Ulangi langkah V.7 dengan menggunakan lampu karbon yang dirangkai paralel dengan
lampu wolfram! Perhatikan kuat arus yang terukur pada amperemeter ketika
kenaikan harga beda potensial (bila kuat arus sudah hampir mencapai batas ukur
maksimal amperemeter, maka harga beda potensial tersebut menjadi harga
maksimum yang diamati)!
Ulangi langkah V.2 sampai V.8 untuk rangkaian seperti pada gambar 2!
Catat keadaan ruang setelah percobaan!
VI. DATA PERCOBAAN
Data Ruang
Awal Akhir
Suhu (ºC) 27 27
Tekanan (mmHg) 712,5 (950 hPa) 712,5 (950 hPa)
Kelembapan (%) 64 59

Angka pelaporan:
Suhu : Awal = (2,70 ± 0,05) 101
Akhir = (2,70 ± 0,05) 101
Tekanan : Awal = (9,50 ± 0,05) 102
Akhir = (9,50 ± 0,05) 102
Kelembapan : Awal = (6,40 ± 0,05) 101
Akhir = (5,90 ± 0,05) 101

Gambar 1

Percobaan 1 Lampu Karbon


V I+ I- V+ V- Keterangan
(volt) (mA) (mA) (volt) (volt)
40 10 10 20 25
60 20 20 45 60
80 60 80 75 70
100 100 105 80 90 Mulai menyala
120 120 140 100 105 Sedikit terang
140 140 160 120 120 Menyala terang

Percobaan 1 Lampu Wolfram


+ -
V I I V+ V- Keterangan
(volt) (mA) (mA) (volt) (volt)
40 160 180 10 25 Mulai menyala
60 200 215 40 50 Mulai menyala
80 225 240 60 70 Menyala terang
100 260 280 80 90 Menyala terang
120 300 300 100 100 Menyala terang sekali
140 320 320 120 120 Menyala terang sekali

Percobaan 1 Lampu Karbon dan Lampu Wolfram dirangkai Seri


V I+ I- V+ V- Keterangan
(volt) (mA) (mA) (volt) (volt)
40 10 10 10 25
60 20 40 50 50
80 50 60 65 70 K: mulai menyala
100 90 100 80 90 K: menyala
120 120 120 100 110 K: menyala terang, W: redup
140 140 140 120 120 K: menyala terang, W: redup

Percobaan 1 Lampu Karbon dan Lampu Wolfram dirangkai Paralel


V I+ I- V+ V- Keterangan
(volt) (mA) (mA) (volt) (volt)
40 200 200 10 25 W: redup
60 240 260 50 50 W: redup
80 320 320 60 70 W: menyala
100 380 380 80 80 W: menyala, K: redup

Gambar 2
Percobaan 2 Lampu Karbon
V I+ I- V+ V- Keterangan
(volt) (mA) (mA) (volt) (volt)
40 10 10 10 25
60 20 40 50 65
80 60 80 75 70
100 100 100 80 90 Mulai menyala
120 120 140 100 110 Sedikit terang
140 160 160 120 120 Menyala terang

Percobaan 2 Lampu Wolfram


V I+ I- V+ V- Keterangan
(volt) (mA) (mA) (volt) (volt)
40 160 180 20 25 Mulai menyala
60 200 200 50 50 Mulai menyala terang
80 240 240 60 70 Menyala terang
100 260 260 80 90 Menyala terang
120 300 300 100 100 Menyala terang sekali
140 320 320 120 120 Menyala terang sekali

Percobaan 2 Lampu Karbon dan Lampu Wolfram dirangkai Seri


V I+ I- V+ V- Keterangan
(volt) (mA) (mA) (volt) (volt)
40 10 10 20 25
60 20 30 50 65
80 40 60 60 70 K: Mulai menyala (redup)
100 80 80 80 90 K: Mulai menyala
120 120 120 100 110 K: Menyala
140 140 140 120 120 K: Menyala terang

Percobaan 2 Lampu Karbon dan Lampu Wolfram dirangkai Paralel


V I+ I- V+ V- Keterangan
(volt) (mA) (mA) (volt) (volt)
40 200 200 10 25 W: Mulai menyala (redup)
60 240 260 50 50 W: Menyala
80 300 320 60 70 W: Menyala terang, K: Redup
100 360 380 80 80 W: Menyala terang, K: Redup
VII. TUGAS AKHIR DAN PERTANYAAN
Gambarkan rangkaian – rangkaian listrik yang anda lakukan, dan gambar pula skema
komponen (tidak dengan lambang) yang di rangkaikan. Beri tanda positip dan
negatip bila perlu.
Jawab:
Hitunglah hambatan setiap lampu pada setiap pasang kuat arus dan beda potensial, untuk
setiap metoda.
Jawab:
Percobaan 1 (ohm)
Karbon: Rd1 = 2250 Rd4 = 829,27
Rd2 = 2625 Rd5 = 788,46
Rd3 = 1035,71 Rd6 = 750
Wolfram: Rd1 = 102, 94 Rd4 = 314,814
Rd2 = 216, 87 Rd5 = 333,33
Rd3 = 279, 57 Rd6 = 375

Percobaan 2 (ohm)
Karbon: Rd1 = 1750 Rd4 = 850
Rd2 = 1916,67 Rd5 = 807,69
Rd3 = 1035,71 Rd6 = 750
Wolfram: Rd1 = 132,35 Rd4 = 326,92
Rd2 = 250 Rd5 = 333,33
Rd3 = 270,83 Rd6 = 375

8. Hitunglah pula hambatan rangkaian seri dan pararel secara percobaan .


Jawab:
Percobaan 1 (ohm)
Seri: Rd1 = 1750 Rd4 = 894,74
Rd2 = 1666,6 Rd5 = 875
Rd3 = 1227,27 Rd6 = 857,14
Paralel: Rd1 = 87,5 Rd3 = 203,13
Rd2 = 200 Rd4 = 210,53

Percobaan 2 (ohm)
Seri: Rd1 = 2250 Rd4 = 1062,5
Rd2 = 2200 Rd5 = 875
Rd3 = 1300 Rd6 = 857,14
Paralel: Rd1 = 112,5 Rd3 = 203,13
Rd2 = 200 Rd4 = 222,2

9. Hitunglah daya yang diberikan pada setiap lampu untuk setiap percobaan.
Jawab:
Percobaan 1 (watt)
Karbon: P1 = 0,225 P4 = 8,7125
P2 = 1,05 P5 = 13,325
P3 = 5,075 P6 = 19,2
Wolfram: P1 = 2,975 P4 = 22,95
P2 = 9,3375 P5 = 30
P3 = 15,1125 P6 = 38,4
Seri: P1 = 0,175 P4 = 8,075
P2 = 1,5 P5 = 12,6
P3 = 3,7125 P6 = 16,8
Paralel: P1 = 3,5 P3 = 20,8
P2 = 12,5 P4 = 30,4

Percobaan 2 (watt)
Karbon: P1 = 0,175 P4 = 8,5
P2 = 1,725 P5 = 13,65
P3 = 5,075 P6 = 19,2
Wolfram: P1 = 3,825 P4 = 22,1
P2 = 10 P5 = 30
P3 = 15,6 P6 = 38,4
Seri: P1 = 0,225 P4 = 6,8
P2 = 1,375 P5 = 12,6
P3 = 3,25 P6 = 16,8
Paralel: P1 = 4,5 P3 = 20,8
P2 = 12,5 P4 = 28,8
10. Gambarkan grafik V terhadap I untuk masing-masing lampu untuk tiap
metode, juga rangkaian seri dan pararel. Apa kesimpulan saudara tentang
karakteristik lampu tersebut.
Jawab: ada pada pengolahan data
lampu karbon berjenis NTC dan wolfram PTC

11. Buatlah grafik dan hambatan sebagai fungsi dari kuat arus untuk tiap
lampu dan tiap metoda.
Jawab: ada pada pengolahan data
12. Buatlah grafik hambatan sebagai fungsi dari daya untuk tiap lampu dan
tiap metoda.
Jawab: ada pada pengolahan data
13. Bagaimanakah bentuk grafik pada pernyataan VII.5, VII.6, VII.7 ? Apakah
nilai R konstan ? Berilah pembahasan. Faktor apa saja yang menyebabkan
hal ini ?
Jawab: nilai R tidak konstan akibat pengaruh temperatur
14. Bagaimanakah dengan pengaruh temperatur?
Jawab: temperatur berpengaruh terhadap R karena lampu berjenis NTC &
PTC
15. Dari segi kualitatif, mana yang lebih terang; pemasangan seri atau pararel.
Berilah pembahasan.
Jawab:
Paralel karena pada pemasangan paralel tegangan tiap lampu sama
sehingga I menjadi kecil dan P menjadi besar
16. Rangkaian manakah yang lebih baik untuk rangkaian ini?
Jawab: Paralel karena lampu cepat menyala

VIII. ANALISIS
Pada praktikum ini melakukan 2 kali percobaan yaitu dengan gambar 1
dan gambar 2 dengan tujuan menentukan tahanan dalam (Rl) dari lampu
karbon dan wolfram. Setelah dilakukan percobaan 1 dan 2 maka didapatkan
nilai hambatan:
Percobaan 1 (ohm)
Karbon: Rd1 = 2250 Rd4 = 829,27
Rd2 = 2625 Rd5 = 788,46
Rd3 = 1035,71 Rd6 = 750
Wolfram: Rd1 = 102, 94 Rd4 = 314,814
Rd2 = 216, 87 Rd5 = 333,33
Rd3 = 279, 57 Rd6 = 375
Seri: Rd1 = 1750 Rd4 = 894,74
Rd2 = 1666,6 Rd5 = 875
Rd3 = 1227,27 Rd6 = 857,14
Paralel: Rd1 = 87,5 Rd3 = 203,13
Rd2 = 200 Rd4 = 210,53

Percobaan 2 (ohm)
Karbon: Rd1 = 1750 Rd4 = 850
Rd2 = 1916,67 Rd5 = 807,69
Rd3 = 1035,71 Rd6 = 750
Wolfram: Rd1 = 132,35 Rd4 = 326,92
Rd2 = 250 Rd5 = 333,33
Rd3 = 270,83 Rd6 = 375
Seri: Rd1 = 2250 Rd4 = 1062,5
Rd2 = 2200 Rd5 = 875
Rd3 = 1300 Rd6 = 857,14
Paralel: Rd1 = 112,5 Rd3 = 203,13
Rd2 = 200 Rd4 = 222,2

Maka diliat dari hasil hambatan diatas, pada rangkaian karbon dan seri
pada percobaan 1, semakin tinggi tegangan maka semakin turun nilai
hambatannya sedangkan pada rangkaian wolfram dan paralel, semakin tinggi
tegangan maka semakin naik nilai hambatannya. Begitu pula pada percobaan
2.
Namun, pada percobaan 1 dan 2 pada rangkaian karbon pada tegangan 40
mengalami kenaikan nilai hambatan ini dapat diakibatkan karena pembacaan
arus dan tegangan hanya dikira-kira atau karena diperngaruhi oleh
temperature.

IX. KESIMPULAN
Setelah melakukan percobaan diatas maka dapat diambil beberapa kesimpulan
yaitu :
1. Pada rangkaian karbon dan seri, semakin naik tegangan maka semakin
menurun nilai hambatannya.
2. Pada rangkaian wolfram dan parallel, semakin naik tegangan maka
semakin naik nilai hambatannya.
3. Lampu karbon berjenis NTC dan wolfram PTC
4. Rangkaian yang baik adalah rangkaian parallel, karena pada rangkaian ini
lampu lebih cepat menyala
5. Nilai hambatan tidak konstan karena pengaruh temperature

X. PUSTAKA
Sears, Francis Weston. 1958. Electricity and Magnetism, Addison Wesley Publishing
Company, Inc.
Tyler, F., B.Sc., Ph.D., F.Inst.P. 1967. A Laboratory Manual of Physics. Edward Arnold
(Publishers) Ltd.: London.