Anda di halaman 1dari 93

BAB I.

A. HAKIKAT KEWIRAUSAHAAN

Kita tentu sering mendengar tentang kata “Wirausaha”, “Kewirausahaan” maupun


“Wirausahawan” Apakah yang dimaksud dengan “Wirausaha”, “Kewirausahaan”
maupun “Wirausahawan” tersebut? Dan apakah beda ketiga kata tersebut? Wirausaha
adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan-
kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk
mengambil tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih sukses.

Kewirausahaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki
kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif.
Sedangkan yang dimaksudkan dengan seorang Wirausahawan adalah orang-orang yang
memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatankesempatan bisnis;
mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan
yang tepat, mengambil keuntungan serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk
mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih
sukses meningkatkan pendapatan.

Intinya, seorang Wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki jiwa Wirausaha dan
mengaplikasikan hakekat Kewirausahaan dalam hidupnya. Orang-orang yang memiliki
kreativitas dan inovasi yang tinggi dalam hidupnya. Secara epistimologis, sebenarnya
kewirausahaan hakikatnya adalah suatu kemampuan dalam berpikir kreatif dan
berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat

Buku Kewirausahaan 1
dan kiat dalam menghadapi tantangan hidup. Seorang wirausahawan tidak hanya dapat
berencana, berkata-kata tetapi juga berbuat, merealisasikan rencana-rencana dalam
pikirannya ke dalam suatu tindakan yang berorientasi pada sukses. Maka dibutuhkan
kreatifitas, yaitu pola pikir tentang sesuatu yang baru, serta inovasi, yaitu tindakan dalam
melakukan sesuatu yang baru.

Beberapa konsep kewirausahaan seolah identik dengan kemampuan para wirausahawan


dalam dunia usaha (business). Padahal, dalam kenyataannya, kewirausahaan tidak selalu
identik dengan watak/ciri wirausahawan semata, karena sifat-sifat wirausahawan pun
dimiliki oleh seorang yang bukan wirausahawan. Wirausaha mencakup semua aspek
pekerjaan, baik karyawan swasta maupun pemerintahan (Soeparman Soemahamidjaja,
1980).

Wirausahawan adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan
jalan mengembangkan ide, dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang
(opportunity) dan perbaikan (preparation) hidup (Prawirokusumo, 1997) Kewirausahaan
(entrepreneurship) muncul apabila seseorang individu berani mengembangkan usaha-
usaha dan ide-ide barunya. Proses kewirausahaan meliputi semua fungsi, aktivitas dan
tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptaan organisasi usaha
(Suryana, 2001).

• Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (kreatif) dan
berbeda (inovatif) yang bermanfaat dalam memberikan nilai lebih.

• Kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda
(Drucker, 1959)

Buku Kewirausahaan 2
• Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreatifitas dan keinovasian dalam
memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan usaha
(Zimmerer, 1996)

Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan


sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan.

Kewirausahaan pertama kali muncul pada abad 18 diawali dengan penemuan-penemuan


baru seperti mesin uap, mesin pemintal, dll. Tujuan utama mereka adalah pertumbuhan
dan perluasan organisasi melalui inovasi dan kreativitas. Keuntungan dan kekayaan
bukan tujuan utama.

Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani
mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani
mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi
rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. (Kasmir, 2007 : 18)

Pengertian kewirausahaan relatif berbeda-beda antar para ahli/sumber acuan dengan titik
berat perhatian atau penekanan yang berbeda-beda, diantaranya adalah penciptaan
organisasi baru (Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru
(Schumpeter, 1934), ekplorasi berbagai peluang (Kirzner, 1973), menghadapi
ketidakpastian (Knight, 1921), dan mendapatkan secara bersama faktor-faktor produksi
(Say, 1803).

Buku Kewirausahaan 3
B. CIRI DAN WATAK WIRAUSAHA

Ciri-ciri dan watak kewirausahaan dapat dilihat pada tabel di bawah sebagaiberikut ini.
Dalam konteks bisnis, seorang entrepreneur membuka usaha baru (new ventures) yang
menyebabkan munculnya produk baru arau ide tentang penyelenggaraan jasa-jasa.
Karakteristik tipikal entrepreneur (Schermerhorn Jr, 1999) yaitu:
1. Lokus pengendalian internal
2. Tingkat energi tinggi
3. Kebutuhan tinggi akan prestasi
4. Toleransi terhadap ambiguitas
5. Kepercayaan diri
6. Berorientasi pada action

Karakteristik Wirausahawan (Masykur W) dapat dituliskan seperti di bawah ini.


1. Keinginan untuk berprestasi
2. Keinginan untuk bertanggung jawab
3. Preferensi kepada resiko menengah
4. Persepsi kepada kemungkian berhasil
5. Rangsangan untuk umpan balik
6. Aktivitas Energik
7. Orientasi ke masa depan
8. Ketrampilan dalam pengorganisasian
9. Sikap terhadap uang

Wirausahawan yang berhasil mempunyai standar prestasi (n Ach) tinggi. Menurut


Winardi Masykur, potensi kewirausahaan tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

Buku Kewirausahaan 4
1. Kemampuan inovatif
2. Toleransi terhadap kemenduaan (ambiguity)
3. Keinginan untuk berprestasi
4. Kemampuan perencanaan realistis
5. Kepemimpinan berorientasi pada tujuan
6. Obyektivitas
7. Tanggung jawab pribadi
8. Kemampuan beradaptasi (Flexibility)
9. Kemampuan sebagai pengorganisator dan administrator
10. Tingkat komitmen tinggi (survival)

C. KONSEP DASAR KEWIRAUSAHAN

kewirausahaan merupakan ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan, dan


perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup

obyek studi kewirausahaan:


Kemampuan merumuskan tujuan hidup, memotivasi diri, berinisiatif, membentuk modal,
mengatur waktu dan membiasakan diri untuk belajar dari pengalaman

1. Pengertian Kewirausahaan

Kewirausahaan pada hakikatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki
kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif.

Secara etimologis, kewirausahaan adalah suatu kemampuan dalam berpikir kreatif dan
berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat,
kiat dalam menghadapi tantangan hidup.

Buku Kewirausahaan 5
Wirausaha sering disebut wiraswasta artinya: sifat-sifat keberanian, keutamaan,
keteladanan, dalam mengambil risiko yang bersumber pada kemampuan sendiri.
Wiraswasta berasal dari bahasa sansekerta: wira-swa-sta
- Wira berarti utama, gagah, luhur, berani, teladan, atau pejuang
- Swa berarti sendiri atau mandiri, Sta berarti berdiri, Swasta berarti berdiri di
atas kemampuan sendiri
Definisi Wirausaha, wira berarti berani dan usaha berarti daya upaya
Wiraswasta atau wirausaha berarti pejuang yang gagah, luhur, berani dan pantas menjadi
teladan di bidang usaha
Wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai sifat kewirauswastaan atau
kewirausahaan, bersikap berani mengambil risiko, memiliki keutamaan, kreativitas, dan
keteladanan dalam menangani usaha atau perusahaan.

Unsur-unsur kewirausahaan meliputi motivasi, visi, komunikasi, optimisme, dorongan


semangat, dan kemampuan memanfaatkan peluang.

Fungsi wirausaha adalah memperkenalkan barang baru, melaksanakan metode produksi


baru, membuka pasar baru, membuka bahan/ sumber-sumber baru, dan pelaksanaan
organisasi baru.
Sifat dasar yang harus dimiliki seorang wirausaha, menurut Gede Prama yaitu:
a. Wirausaha adalah seorang pencipta perubahan (the change creator)
b. Wirausaha selalu melihat perbedaan sebagai peluang
c. Wirausaha selalu bereksperimen dengan pembaruan
d. Wirausaha adalah seorang pakar tentang dirinya
e. Wirausaha melihat pengetahuan dan pengalaman hanyalah alat untuk memacu
kreativitas
f. Wirausaha berani memaksa diri untuk menjadi pelayan bagi orang lain

Buku Kewirausahaan 6
Entrepreneur adalah orang yang melakukan proses entrepreneurship.
Wirausahawan atau entrepreneur diartikan sebagai seorang penemu bisnis yang baru dan
mampu mengembangkan menjadi perusahaan yang sukses
Contoh: Microsoft, Wal-Mart, Aqua, Kentucky Fried Chicken, Wings Food

Definisi entrepreneur adalah individu yang mengambil segala risiko untuk mengejar dan
menjangkau peluang serta situasi yang berbeda dengan kemungkinan kegagalan dan
ancaman serta hambatan.

Motto Wirausaha:
- Modal bisa dicari
- Keahlian bisa dibeli
- Cita-cita dan semangat tidak bisa dibeli
Cita-cita dan semangat harus dimiliki untuk memulai dan mengembangkan usaha

JIKA SESEORANG MEMILIKI JIWA WIRAUSAHA MAKA DIA AKAN MEMILIKI


PERILAKU KREATIF, INOVATIF, MENYUKAI PERUBAHAN KEMAJUAN DAN
TANTANGAN

D. KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAN

Kewirausahaan (entrepreneurship) muncul apabila seorang individu berani


mengembangkan usaha-usaha dan ide-ide barunya. Esensi dari kewirausahaan adalah
menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengombinasian sumber daya dengan
cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing.

Buku Kewirausahaan 7
Menurut Bygrave, ada sepuluh (10 D) karakteristik kewirausahaan yaitu:
1. Dream, yaitu visi dan keinginan masa depan untuk
mewujudkan impian
2. Deciviness, yaitu membuat keputusan secara cepat, tidak
lambat, dan ditunda-tunda
3. Doers, yaitu langsung menindaklanjuti keputusan yang telah diambilnya
4. Determination, yaitu melaksanakan kegiatannya dengan
penuh perhatian, tanggung jawab, dan tidak mau menyerah
5. Dedication, yaitu berdedikasi tinggi terhadap bisnisnya, rela berkorban
6. Devotion, yaitu tidak mengenal lelah, semua perhatian
hanya tercurah kepada bisnisnya
7. Details, yaitu memerhatikan faktor-faktor kritis secara rinci sampai ke hal yang
terkecil
8. Destiny, yaitu bertanggung jawab terhadap nasib dan tujuan yang hendak
dicapainya
9. Dollars, yaitu tidak mengutamakan mencapai kekayaan,
motivasinya tidak hanya uang, tetapi kesuksesan
10. Distribute, yaitu mampu mendistribusikan/membagi
kepemilikan bisnisnya kepada orang lain
Jadi, karakteristik wirausaha adalah satu di antara alat yang akan menentukan berhasil
tidaknya perjuangan dalam berwirausaha.

Menurut Fadel Muhammad ada tujuh ciri yang menjadi identitas karakter seorang
wirausahawan, yaitu:

1. Kepemimpinan
2. Inovasi

Buku Kewirausahaan 8
3. Cara pengambilan keputusan
4. Sikap tanggap terhadap perubahan
5. Bekerja ekonomis dan efisien
6. Visi masa depan
7. Sikap terhadap risiko

Dan dapat disimpulkan, ada enam karakteristik utama seorang wirausaha, yaitu:

1.Sikap dan Perilaku Disiplin


Pembentukan perilaku disiplin bisa melalui upaya fokus, membangkitkan perhatian,
menunjukkan pentingnya pelajaran, memberitahukan tujuan pelajaran, dan
memperagakannya.
2.Komitmen Tinggi
Yaitu fokus pikiran diarahkan kepada tugas dan usahanya dengan selalu berupaya
memperoleh hasil yang maksimal. Dengan konsisten, tegas, adil dan suri teladan.
3.Jujur
Kejujuran penting karena akan menimbulkan kepercayaan terhadap kita.
4.Kreatif dan Inovatif
Kreatif yaitu kemampuan seseorang melahirkan sesuatu yang baru
Inovatif yaitu sikap yang memberikan pengenalan pada hal yang baru dan diterima
oleh masyarakat
5.Mandiri
Yaitu yakin dan percaya terhadap kemampuan sendiri.
6.Realistis
Berpikir secara kenyataan yang terjadi, dan sesuai dengan akal sehat.

Buku Kewirausahaan 9
E.KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN WIRAUSAHA

Unsur-unsur K-E-W-I-R-A-U-S-A-H-A-A-N
K = kreatif, keterampilan, kepemimpinan, ketidakpastian
E = energi, empati, etika
W = wawasan luas
I = ide, inovasi, imbalan, inisiatif
R = rencana usaha
A = adil
U = ulet
S = supel, sabar, senang
A = antusias
H = hasil atau laba
A = asa atau motivasi
A = akal sehat
N = norma aturan

1. Keberhasilan Wirausaha

Untuk mencapai tujuan, diperlukan sikap dan perilaku yang mendukung pada diri
seorang wirausaha. Sikap dan perilaku ini dipengaruhi sifat dan watak yang dimiliki
seseorang.
Ciri dan sifat seorang Wirausaha menurut Geofrey G. Meredith
Ciri-Ciri Sifat dan Watak
Percaya diri Keyakinan, kemandirian, individualistik, dan
optimism

Buku Kewirausahaan 10
Berorientasi tugas dan Kebutuhan akan prestasi, pada laba, tekun, dan
hasil tabah, tekad yang kuat, suka bekerja keras, enerjik,
dan inisiatif
Pengambilan risiko Kemampuan mengambil risiko dan suka tantangan

Berjiwa pemimpin Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul


dengan orang lain dan suka pada kritik yang
membangun
Keorisinilan Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel,
serba bisa, serta memiliki jaringan bisnis yang luas

Berorientasi ke masa Memiliki persepsi dan cara pandang yang


depan berorientasi ke masa depan
Jujur dan tekun Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan
kerja
Keberhasilan seseorang erat kaitannya dengan hal berikut:
1. Jujur terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap tujuan yang akan
dicapai.
2. Disiplin dan berani, berkat pengalaman dan pengetahuannya, seseorang akan berani
mengambil risiko dan berani mengambil keputusan sesuai kemungkinan yang
terprediksi.

Adyaksa Dault, memiliki falsafah “DORAEMON”, dapat dijadikan motivasi dan


keberhasilan wirausahawan, yaitu:
D ream : semua berawal dari sebuah mimpi
O pportunity: mencari peluang yang ada di sekitar kita
R eform : menyusun perencanaan dan mengimplementasikan secara sistematis
A ction : mulailah melaksanakan dengan suatu tindakan
Buku Kewirausahaan 11
E nergy: harus memiliki semangat yang besar dan tinggi
M apping : lakukan pemetaan usaha kita dengan analisis SWOT
O rganization : bergabunglah dengan suatu organisasi yang teratur
N etwork : ciptakanlah jaringan atau relasi seluas mungkin

2. Kegagalan Wirausaha

4 faktor yang menyebabkan seorang wirausaha menjadi gagal dalam berwirausaha, yaitu:

1. Takut, sebagian besar orang belum pernah sukses menanamkan pada dirinya bahwa
meraih sukses susah dan takut mengalami kesusahan.

2. Malas, ketahuilah, 1% penentu kesuksesan adalah kecerdasan, 99%sisanya berasal


dari ketekunan.

3. Tidak berpengetahuan, Bill Gates mengatakan dalam era ekonomi pengetahuan


adalah syarat utama pengembangan kesuksesan.

4. Kebiasaan buruk: salah dalam bergaul. Dan kesuksesan tidak ditentukan oleh usia,
pendidikan, dan latar belakang sosial seseorang.

Buku Kewirausahaan 12
BABII

A.BERBAGAI MACAM TIPE WIRAUSAHA.

Menurut Buchari Alam (2010), dari pengamatan perilaku wirausaha maka dapat
dikemukakan tiga tipe wirausaha, yaitu :
1. Wirausaha yang memiliki inisiatif.
2.Wirausaha yang mengorganisir mekanis sosial dan ekonomi untuk menghasilkan
seusatu.
3. Yang meneirma resiko atau kegagalan. (Buchari Alma, 2010).

B.PROFIL WIRAUSAHA

Wirausaha adalah Orang / kelompok yang mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan
memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru
atau mengolah bahan baku baru

Beberapa macam-macam profil wirausaha:

1.Woman Entrepreneur/ Wirausahawan Perempuan.


Banyak wanita yang terjun dalam bidang bisnis dengan alasan mau menekuni bidang
seperti ingin memperlihatkan kemampuan kinerjanya, membantu ekonomi rumah
tangga, frustasi terhadap pekerjaannya.

2. Minority Entrepreneur/ Wirausahawan minoritas.


Kaum minoritas terutama di negara kita Indonesia kurang memiliki kesempatan kerja
di bidang pemerintahan. Mereka berusaha menekuni kegiatan bisnis dalam kehidupan

Buku Kewirausahaan 13
sehari-hari. Para perantau dari daerah tertentu yang menjadi kelompok minoritas pada
suatu daerah, mereka juga giat mengembangkan bisnis.

3. Immigrant Entrepreneurs/ Wirausahawan imigran


Kaum pendatang yang memasuki suatu daerah biasanya sulit memperoleh pekerjaan
formal. Mereka lebih leluasa mencari pekerjaan yang bersifat non formal yang dimulai
dari berdagang kecil-kecilan sampai berkembang menjadi perdagangan tingkat
menengah.

4. Part Time Entrepreneurs/ Wirausahawan paruh waktu


Memulai bisnis dalam mengisi waktu lowong atau part time merupakan pintu
gerbang untuk berkembang menjadi usaha besar. Bekerja part time tidak
mengorbankan pekerjaan di bidang lain misalnya seseorang pegawai mencoba
mengembangkan hobinya untuk berdagang atau mengembangkan suatu hobi yang
menarik. Apabila bisnis ini lebih maju, pegawai itu berhenti dari pegawai dan beralih
profesi kebisnis yang disenangi yang merupakan hobinya.

5. Home Based Entrepreneur/ Wirausahawan di Rumah


Banyak ibu-ibu yang memulai kegiatan bisnis rumah tangga, misalnya ibu-ibu
pandai membuat kue atau aneka masakan, mengirim kue-kue ke toko di sekitar
tempat tinggalnya. Usaha tersebut makin lama makin maju. Juga usaha catering yang
dimulai dari rumah tangga yang hobi memasak, kemudian usaha tersebut
berkembang melayani pesanan untuk pesta.

6. Family Owned Business/ Bisnis Keluarga,


Suatu bisnis yang melbatkan dua atau lebih angggota keluarga yang mengendalikan
keuangan perusahaan.

Buku Kewirausahaan 14
Sebuah keluarga membuka berbagai jenis dan cabang usaha. Mungkin usaha
keluarga yang telah dirintis oleh bapaknya, setelah maju dibuka cabang baru yang
dikelola oleh ibu. Kedua perusahaan ini maju dan membuka beberapa cabang lain
yang mungkin jenis usaha berbeda atau lokasinya berbeda. Usaha ini dikembangkan
dan dikelola oleh anak-anaknya.

7. copreneurs
adalah pasangan kewirausahaan yang bekerja sama sebagai co-pemilik bisnis
mereka, pembagian pekerjaan didasarkan atas keahlian masing-masing orang
sekaligus pertanggungjawaban produk/ divisi.

Adapun profil wirausahawan sebagai berikut :


- Mengejar Prestasi
Wirausahawan bercirikan senantiasa menginginkan prestasi prima. Untuk itu mereka
lebih memili bekerja dengan pakar ketika menghadapi problema dan cendrung untuk
berfikir cermat serta berfokus pada visi jangka panjang tentang bisnis.
- Berani Mengambil Resiko
Wirausahawan tidak takut menjalani pekerjaan yang disertai resiko dengan
memperhitungkan besar kecilnya resiko. Mereka menyadari bahwa prestasi yang
lebih besar hanya mungkin dicapai jika mereka bersedia menerima resiko sebagai
konsekuensi terwujudnya tujuan.
- Mampu Memecahkan Masalah
Wirausahawan adalah orang yang memiliki kepemimpinan yang tumbuh secara alami
dan pada umumnya lebih cepat mengidentifikasikan permasalahan yang perlu
diatasi.

Buku Kewirausahaan 15
- Rendah Hati
Wirausahawan mendapatkan kepuasan dalam lambing-lambang keberhasilan yang di
luar dirinya. Mereka senang usaha yang mereka bangun dipuji orang,namun mereka
menolak apabila pujian yang ditujukan kepada mereka.
- Bersemangat
Wirausahawan secara fisik senantiasa tampak lincah dan berbadan sehat. Mereka
mampu bekerja melebihi jam kerja rata-rata yang dilakukan orang lain ketika merintis
usaha.
- Memiliki Rasa Percaya Diri
Wirausahawan adalah orang yang memilki percaya diri yang sangat tinggi dan tidak
meragukan kecakapan dan kemampuannya. Mereka berfikir bahwa tindakan mereka
akan mampu mengubah kejadian dan percaya bahwa mereka adalah pemimpin bagi
mnereka sendiri.
- Menghidari Sifat Ceneng
Wirausahawan senantiasa menghindari sifat cengeng dalam membentuk pribadi
mandiri sehingga sering kali mengalami kesulitan dalam membentuk ikatan emosional
yang kental dengan konsekuensi kurang terjalinya hubungan akrab dengan kawan atau
anggota keluarga.
- Mencari Kepuasaan Diri
Karena Wirausahawan termotivasi oleh kebutuhan untuk mewujudkan prestasi diri,
mereka sering kali kurang berminat tehadap struktur organisasi. Mereka mengabaikan
aktivitas manjemen organisasi tradisional sehingga pada umunya mereka mengalami
kesulitan dengan waktu kerja apabila bekerja untuk suatu perusahaan.

Buku Kewirausahaan 16
C. JENIS-JENIS KEWIRAUSAHAAN

Jenis Kewirausahaan (Williamson, 1961) dapat dituliskan sebagai berikut ini.

1.Innovating Entrepreneurship Bereksperimentasi secara agresif, trampil mempraktekkan


transformasi-transformasi atraktif.
2.Imitative Entrepreneurship Meniru inovasi yang berhasil dari para Innovating
Entrepreneur.
3.Fabian Entrepreneurship Sikap yang teramat berhati-hati dan sikap skeptikal tetapi
yang segera melaksanakan peniruan-peniruan menjadi jelas sekali, apabila mereka
tidak melakukan hal tersebut, mereka akan kehilangan posisi relatif pada industri yang
bersangkutan.
4.Drone Entrepreneurship Drone= malas. Penolakan untuk memanfaatkan peluang-
peluang untuk melaksanakan perubahan-perubahan dalam rumus produksi sekalipun
hal tersbut akan mengakibatkan mereka merugi diandingkan denganprodusenlain. Di
banyak negara berkembang masih terdapat jenis entrepreneurship yang lain yang
disebut sebagai Parasitic Entrepreneurship, dalam konteks ilmu ekonomi disebut
sebagai Rent-seekers (pemburu rente). (Winardi, 1977).

D. PROSES KEWIRAUSAHAAN

a.Tahap-tahapKewirausahaan

Secara umum tahap-tahap melakukanwirausaha:

(1) Tahap memulai, tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha
mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang
usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau

Buku Kewirausahaan 17
melakukan franchising. Juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di
bidang pertanian, industri / manufaktur / produksi atau jasa.

(2) Tahap melaksanakan usaha atau diringkas dengan tahap “jalan”, tahap ini seorang
wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup
aspek-aspek : pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang
meliputi bagaimana mengambil resiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan
melakukan evaluasi.

(3)Mempertahankan usaha, tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah


dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai
dengan kondisi yang dihadapi.

(4)Mengembangkan usaha, tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau
mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah
satu pilihan yang mungkin diambil.

Menurut Carol Noore yang dikutip oleh Bygrave (1996:3), proses kewirausahaan diawali
dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengeruhi oleh berbagai faktor baik yang
berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi,
kebudayaan dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut membentuk locus of control,
kreativitas, keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembangan
menjadi wirausaha yang besar. Secara internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang
bersal dari individu, seperti locus of control, toleransi, nilai-nilai, pendidikan,
pengalaman. Sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan yang mempengaruhi
diantaranya model peran, aktivitas, dan peluang. Oleh karena itu, inovasi berkembangan
menajdi kewirausahaan melalui proses yang dipengrauhi lingkungan, organisasi dan
keluarga (Suryana, 2001 : 34).

Buku Kewirausahaan 18
Secara ringkas, model proses kewirausahaan mencakup tahap-tahap berikut (Alma,
2007:10-12)

1.prosesinovasi
2.prosespemicu
3.prosespelaksanaan
4.proses pertumbuhan

Berdasarkan analisis pustaka terkait kewirausahaan, diketahui bahwa aspek-aspek yang


perlu diperhatikan dalam melakukan wirausaha adalah:
a. mencari peluang usaha baru: lama usaha dilakukan, dan jenis usaha yang pernah
dilakukan,
b. pembiayaan: pendanaan-jumlah dan sumber-sumber dana,
c. SDM: tenaga kerja yang dipergunakan,
d. kepemilikan: peran-peran dalam pelaksanaan usaha,
e. organisasi: pembagian kerja diantara tenaga kerja yang dimiliki
f. kepemimpinan: kejujuran, agama, tujuan jangka panjang, proses manajerial (POAC),
dan
g. Pemasaran: lokasi dan tempat usaha.

E. Faktor-faktor Motivasi Berwirausaha


Ciri-ciri wirausaha yang berhasil (Kasmir) yaitu sebagai berikut ini.
a. Memiliki visi dan tujuan yang jelas. Hal ini berfungsi untuk menebak ke mana langkah
dan arah yang dituju sehingga dapat diketahui langkah yang harus dilakukan oleh pengu
saha tersebut.

Buku Kewirausahaan 19
b. Inisiatif dan selalu proaktif. Ini merupakan ciri mendasar di mana pengusaha tidak
hanya menunggu sesuatu terjadi, tetapi terlebih dahulu memulai dan mencari
peluang sebagai pelopor dalam berbagai kegiatan.

c. Berorientasi pada prestasi. Pengusaha yang sukses selalu mengejar prestasi yang lebih
baik daripada prestasi sebelumnya. Mutu produk, pelayanan yang diberikan, serta
kepuasan pelanggan menjadi perhatian utama. Setiap waktu segala aktifitas usaha
yang dijalankan selalu dievaluasi dan harus lebih baik dibanding sebelumnya.

d. Berani mengambil risiko. Hal ini merupakan sifat yang harus dimiliki seorang
pengusaha kapanpun dan dimanapun, baik dalam bentuk uang maupun waktu.

e. Kerja keras.Jam kerja pengusaha tidak terbatas pada waktu, di mana ada peluang di
situ dia datang. Kadang-kadang seorang pengusaha sulit untuk mengatur waktu
kerjanya. Benaknya selalu memikirkan kemajuan usahanya. Ide-ide baru selalu
mendorongnya untuk bekerja kerjas merealisasikannya. Tidak ada kata sulit dan
tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.

f. Bertanggungjawab terhadap segala aktifitas yang dijalankannya, baik sekarang maupun


yang akan datang. Tanggungjawab seorang pengusaha tidak hanya pada segi
material, tetapi juga moral kepada berbagai pihak.

g. Komitmen pada berbagai pihak merupakan ciri yang harus dipegang teguh dan harus
ditepati. Komitmen untuk melakukan sesuatu memang merupakan kewajiban untuk
segera ditepati dana direalisasikan.

h. Mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak, baik yang
berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan maupun tidak. Hubungan baik

Buku Kewirausahaan 20
yang perlu dlijalankan, antara lain kepada : para pelanggan,pemerintah, pemasok,
serta masyarakat luas.

Dari analisis pengalaman di lapangan, ciri-ciri wirausaha yang pokok untuk dapat
berhasil dapat dirangkum dalam tiga sikap, yaitu :

1. jujur, dalam arti berani untuk mengemukakan kondisi sebenarnya dari usaha yang
dijalankan, dan mau melaksanakan kegiatan usahanya sesuai dengan
kemampuannya. Hal ini diperlukan karena dengan sikap tersebut cenderung akan
membuat pembeli mempunyai kepercayaan yang tinggi kepada pengusaha sehingga
mau dengan rela untuk menjadi pelanggan dalam jangka waktu panjang ke depan.

2. mempunyai tujuan jangka panjang, dalam arti mempunyai gambaran yang jelas
mengenai perkembangan akhir dari usaha yang dilaksanakan. Hal ini untuk dapat
memberikan motivasi yang besar kepada pelaku wirausaha untuk dapat melakukan
kerja walaupun pada saat yang bersamaan hasil yang diharapkan masih juga belum
dapat diperoleh.

3. selalu taat berdoa, yang merupakan penyerahan diri kepada Tuhan untuk meminta apa
yang diinginkan dan menerima apapun hasil yang diperoleh. Dalam bahasa lain,
dapat dikemukakan bahwa ”manusia yang berusaha, tetapi Tuhan-lah yang
menentukan !” dengan demikian berdoa merupakan salah satu terapi bagi
pemeliharaan usaha untuk mencapai cita-cita.

Kompetensi perlu dimiliki oleh wirausahawan seperti halnya profesi lain dalam
kehidupan, kompetensi ini mendukungnya ke arah kesuksesan. Dan & Bradstreet
business Credit Service (1993 : 1) mengemukakan 10 kompetensi yang harus dimiliki,
yaitu :

Buku Kewirausahaan 21
1. knowing your business, yaitu mengetahui usaha apa yang akan dilakukan. Dengan kata
lain, seorang wirausahawan harus mengetahui segala sesuatu yang ada hubungannya
dengan usaha atau bisnis yang akan dilakukan.

2. knowing the basic business management, yaitu mengetahui dasar-dasar pengelolaan


bisnis, misalnya cara merancang usaha, mengorganisasi dan mengenalikan
perusahaan, termasuk dapat memperhitungkan, memprediksi, mengadministrasikan,
dan membukukan kegiatan-kegiatan usaha. Mengetahui manajemen bisnis berarti
memahami kiat, cara, proses dan pengelolaan semua sumberdaya perusahaan secara
efektif dan efisien.

3. having the proper attitude, yaitu memiliki sikap yang sempurna terhadap usaha yang
dilakukannya. Dia harus bersikap seperti pedagang, industriawan, pengusaha,
eksekutif yang sunggung-sungguh dan tidak setengah hati.

4. having adequate capital, yaitu memiliki modal yang cukup. Modal tidak hanya bentuk
materi tetapi juga rohani. Kepercayaan dan keteguhan hati merupakan modal utama
dalam usaha. Oleh karena itu, harus cukup waktu, cukup uang, cukup tenaga, tempat
dan mental.

5. managing finances effectively, yaitu memiliki kemampuan / mengelola keuangan,


secara efektif dan efisien, mencari sumber dana dan menggunakannnya secara tepat,
dan mengendalikannya secara akurat.

6. managing time efficiently, yaitu kemampuan mengatur waktu seefisien mungkin.


Mengatur, menghitung, dan menepati waktu sesuai dengan kebutuhannya.

7. managing people, yaitu kemampuan merencanakan, mengatur, mengarahkan /


memotivasi, dan mengendalikan orang-orang dalam menjalankan perusahaan.

Buku Kewirausahaan 22
8. statisfying customer by providing high quality product, yaitu memberi kepuasan
kepada pelanggan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang bermutu,
bermanfaat dan memuaskan.

9. knowing Hozu to Compete, yaitu mengetahui strategi / cara bersaing. Wirausaha harus
dapat mengungkap kekuatan (strength), kelemahan (weaks), peluang (opportunity),
dan ancaman (threat), dirinya dan pesaing. Dia harus menggunakan analisis SWOT
sebaik terhadap dirinya dan terhadap pesaing.

10. copying with regulation and paper work, yaitu membuat aturan / pedoman yang jelas
tersurat, tidak tersirat. (Triton, 2007 :137 – 139)

Delapan anak tangga menuju puncak karir berwirausaha (Alma, 106 – 109), terdiri atas :
1. mau kerja keras (capacity for hard work)
2. bekerjasama dengan orang lain (getting things done with and through people)
3. penampilan yang baik (good appearance)
4. yakin (self confidence)
5. pandai membuat keputusan (making sound decision)
6. mau menambah ilmu pengetahuan (college education)
7. ambisi untuk maju (ambition drive)
8. pandai berkomunikasi (ability to communicate)

Buku Kewirausahaan 23
BAB III

A. PENTINGNYA PERENCANAAN USAHA (BUSINESS PLAN)


Ada beberapa alasan penting mengapa orang harus menyusun Business Plan :
1. To sell yourself on the business
2. To obtain bank financing
3. To obtain investment funds
4. To arrange strategic alliances
5. To obtain large contracts
6. To attracts key employes
7. To complete mergers and acquisitions
8. To motivate and focus your management team
(Bygrave, 1994:115)

Jadi tujuan menyusun Business Plan adalah:


- menyatakan bahwa anda sebagai pemilik dan pemegang inisiatif membuka usaha baru
- mengatur dan membentuk kerjasama dengan perusahaan-perusahaan lain yang sudah
ada dan saling menguntungkan misaalnya dari para produsen yang dapat diharapkan
memasok barang buat perusahaan anda ataupun perusahaan-perusahaan yang lebih
besar memberi pekerjaan atau kontrak yang dapat dikerjakan oleh perusahaan anda.
- Business plan juga juga dapat mengundang orang-orang tertentu yang potensial atau
mempunyai keahlian untuk bergabung bekerjasama dengan anda
- Business plan juga berguna untuk melakukan merger dan akuisi misalnya anda
menjual perusahaan besar maka perusahaan besar tersebut harus membaca business
plan anda atau mungkin juga anda ingin membeli perusahaan lain maka business
plan yang anda dapat susun dapat memberi keyakinan kepada perusahaan lain yang
mau diakuisisi.

Buku Kewirausahaan 24
- Business plan bertujuan untuk menjamin adanya fokus tujuan dari berbagai personil
yang ada dalam perusahaan.

B. PENGERTIAN BUSINESS PLAN

Agar perusahaan berjalan pada jalan yang benar maka seorang wirausaha harus
menyusun Business Plan. Business Plan adalah:

Business Plan merupakan suatu dokumen yang menyatakan keyakinan akan kemampuan
sebuah bisnis untuk menjual barang atau jasa dengan menghasilkan keuntungan yang
memuaskan dan menarik bagi penyandang dana.

Definisi yang lebih baik menyatakan bahwa Business Plan adalah sebuah selling
document yang mengungkapkan daya tarik dan harapan sebuah bisnis kepada
penyandang dana potensial.

Businesess plan yang disediakan oleh entrepreneur sesuai pula dengan penasihat yang
memuat rincian tentang masa lalu, keadaan sekarang dan kecenderungan masa depan dari
sebuah perusahaan.

Business Plan dibuat dalam bentuk jangka pendek ataupun jangka panjang yang pertama
kali diikuti untuk 3 tahun berjalan. Businness Plan merupakan perjalanan atau road map
yang akan diikuti oleh wirausaha. Business Plan seakan akan menjawab pertanyaan :
where am I now? Where am I going? How will i get there?

Buku Kewirausahaan 25
C. KERANGKA RENCANA USAHA

Pokok-pokok pikiran perencanaan usaha mencakup:


1) Nama perusahaan
Nama yang diberikan sebaiknya jangan hanya mementingkan factor yangs edang hangat
pada saat ini melainkan lebih berorientasi ke masa depan. Canon dan Wichert
menyatakan ciri-ciri merek yang baik adalah:

1. Short-pendek
2. Simple-sederhana
3. Easy to spell-mudah dieja
4. Easy to remember-mudah diingat
5. Pleasing when read-enak dibaca
6. No disagreeble sound-tak ada nada sumbang
7. Does not go out of date-tak ketinggalan zaman
8. Ada hubungan dengan barang dagangan
9. Bila diekspor gampang dibaca oleh orang luar negeri
10. Tidak menyinggung perasaan kelompok/orang lain atau tidak negative
11. Membayangkan apa produk itu atau memberi sugesti penggunaan produk tersebut.

2) Lokasi
Lokasi perusahaan
Ada dua hal penting menyangkut lokasi yang akan dipilih, yaitu:
1. Lokasi perkantoran, disebut tempat kedudukan berarti tempat (kantor) badan usaha,
biasanya mengelola perusahaan yang berada ditempat lain.
2. Lokasi perusahaan, disebut tempat kediaman berarti tempat perusahaan beroperasi.
Lokasi pertokoan

Buku Kewirausahaan 26
Umumnya lokasi pertokoan harus diingat bahwa konsumen untuk belanja ke toko atau ke
lokasi yang mempunyai banyak jenis dan persediaan barang dagangan dan memiliki
reputasi sebagai lokasi yang memilikibarang bermutu dan barang bersaing.

Lokasi pabrik/industri
Ada dua hal utama yang harus diperhatikan dalam memilih lokasi pabrik/industri yang
baik, yakni:
1) Backward linkage, berarti pertalian belakang, yaitu bagaimana sumber daya
(resources) yang akan digunakan. Ini termasuk bahan baku, tenaga kerja, suasana
dan kondisi masyarakat setempat.

2) Forward linkage, berarti pertalian ke depan, yaitu daerah pemasaran hasil produksi.
Apakah tersedia konsumen yang cukup untuk menyerap hasil produksi.

3) Komoditi yang akan diusahakan


Kesempatan memilih komoditi yang diusahakan dapat mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut:
a. Membanjirnya permintaan masyarakat terhadap jenis-jenis hasil usaha tertentu, baik
berupa barang-barang ataupun jasa.
b. Teridentifikasinya kebutuhan tersembunyi masyarakat akan barang-barang atau jasa
tertentu.
c. Kurangnya saingan dalam bidang usaha yang ingin kita kerjakan.
d. Adanya kemampuan yang meyakinkan untuk bersaing usaha dengan orang lain dalam
mengembangkan suatu bidang usaha yang sama.
(Drs. Wasty Soemanto, 1992:224)
4) Konsumen yang dituju

Buku Kewirausahaan 27
Prospek konsumen didasarkan atas bentuk usaha dan jenis usahanya. Jika jenis usaha
berbentuk industry tentu jangkauan konsumen yang akan dituju lebih jauh
dibandingkan dengan usaha bentuk pertokoan.

5) Pasar yang akan dimasuki


Sebuah perusahaan yang akan memasuki pasar akan menempatkan perusahaannya
sebagai pemimpin pasar (market leader), penantang pasar (market challenger),
pengikut pasar (market follower), atau perelung pasar (market nicher).
6) Partneryang akan diajak kerjasama
Partnership merupakan suatu asosiasi atau persekutuan dua orang atau lebih untuk
menjalankan suatu usaha mencari keuntungan. Ada dua macam partnership yakni:
a. General partnership, dimana semua anggota ikut secara aktif mengoperasikan bisnis
sama-sama bertanggungjawab, termasuk tanggung jawab yangb tidak terbatas
terhadap utang-utang bisnis.
b. Limited partnership, dimana memiliki anggota sekurang-kurangnya satu orang
yang bertanggungjawab tidak terbatas dan anggota lainnya bertanggung jawab
terbatas.
Dan masih banyak bentuk partnership lainnya seperti secret partner, silent partner,
nominal partner, general partner, senior partner, yunior partner, dan lain-lain.

7) Personil yang dipercaya untuk menjalankan perusahaan


Memilih personil yang dipercaya menyangkut masalah karakter, kejujuran, dan
kemampuan seseorang.

8) Jumlah modal yang diharapkan dan yang tersedia


Jika modal sangat kecil dapat dilakukan kerjasama dengan partner, yang masing-
masing menyetorkan modalnya. Semua sumber dan kemampuan pengumpulan

Buku Kewirausahaan 28
modal ini harus ditulis. Modal juga bisa didapat dari tabungan, menjual harta, atau
pinjaman dari orangtua dan family maupun pinjaman dari bank atau lembaga
keuangan lainnya.

D. MARKETING PLAN
1. Konsep Pemasaran
Mengapa wirausaha harus melaksanakan konsep pemasaran (Marketing Concept?) untuk
menjelaskan permasalahan ini, marilah kita menelusuri perkembangan beberapa konsep
pemasaran.
Ada lima konsep yang berkembang yaitu Konsep Produksi (Production Concept),
Konsep Produk (Product Concept), Konsep Penjualan (Selling Concept), Konsep
Pemasaran (Marketing Concept), Konsep Sosial (Societal Concept).

a. Konsep Produksi (Production Concept)


Konsep Produksi ini dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa konsumen mengingkan
produk yang harga murah dan mudah didapatkan di mana-mana. Produsen yang
menganut konsep ini, akan membuat produksi secara missal (mass production),
menekankan biaya dengan efisiensi tinggi, biaya tetap yang sangat kecil karena jumlah
produksi yang besar, sehingga harga pokok pabrik bisa ditekan dan harga jual lebih
rendah dari saingan.

Produsen tipe ini akan mendistribusikan hasil produksinya ke seluruh pelosok agar
mudah diperoleh konsumen. Konsep ini merupakan konsep awal dari produsen untuk
menguasai pasar. Konsep ini akan sangat berhasil, jika memang belum banyak saingan
dan konsumen belum memperhatikan kualitas.
Pokoknya yang penting bagi konsumen ialah terpenuhi kebutuhannya (needs). Masalah
"wants" belum diperhatikan.

Buku Kewirausahaan 29
b. Konsep Produk (Product Concept)
Pada saat konsumen sangat membutuhkan barang sehingga akan menjadi langka
dipasaran, maka produsen memusatkan perhatian pada teknis pembuatan produk saja.
Produsen belum memperhatikan selera konsumen. Produsen hanya membuat barang
dengan kemauannya sendiri, hanya menuruti bagaimana selera produsen sendiri.
Produsen hanya melihat ke cermin, tidak melihat jendela. Orang melihat cermin hanya
memperhatikan wajahnya saja, yaitu ia membuat barang yang cocok dengan
kemauannya. Lain halnya melihat jendela, berarti melihat orang yang berada di luar/di
jalan, produsen memperhatikan orang lain.

c. Konsep Penjualan (Selling Concept)


Di sini produsen membuat barang, kemudian harus menjual barang itu, dengan berbagai
teknik promosi. Hal yang penting di sini ialah adanya kegiatan promosi secara maksimal.
Paham dari konsep ini ialah, bagaimana barang atau jasa yang dihasilkan dapat terjual.

Contoh lain misalnya serbuk deterjen yang sangat digemari oleh ibu-ibu rumah tangga
yang dapat mencuci lebih cepat dan lebih bersih. Yang kadang-kadang konsumen
membeli produk tersebut tampa memperhatikan sisi kesehatan dan lingkungan, jadi
keputusan untuk membeli hanya didasari dari informasi-informasi yang gencar melalui
media.

d. Konsep Pemasaran (Marketing Concept)


Konsep ini berkembang lebih maju dibandingkan dengan konsep penjualan, produsen
yang menganut konsep ini akan melakukan strategi dan perencanaan pemasaran yang
matang. Produsen akan semakin besar dan produksi dengan sendirinya akan menjadi
naik.

Buku Kewirausahaan 30
e. Konsep Sosial (Societal Concept)
The Societal Marketing Concept holds that the organization's task is to determine the
needs, wants, and interest of target markets and to deliver the desired satisfactions more
effectively and efficiently than competitors in a way that preserves enhances the
consumer's and the society's well-being. (Philip Kotler, 1997: 27)
Artinya konsep marketing yang berwawasan sosial adalah konsep yang berusaha
memenuhi kebutuhan keinginan dan minat konsumen sehingga dapat memenuhi
kepuasan konsumen secara efisien dan efektif dan membuat kehidupan masyarakat
menjadi lebih baik.

2. Mengutamakan Pelanggan
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dunia bisnis sangat memperhatikan
pelanggannya. Pada saat ini perusahaan saling bersaing memperebutkan para pelanggan.
Dalam situasi buyers market (pembeli menjadi raja), perusahaan harus berjuang untuk
mencari dan memelihara langganannya dan ini merupakan hal yang paling penting untuk
dapat mempertahankan eksistensi dan memngembangkan usaha.
Untuk memelihara langganan maka tentu saja langganan harus memperoleh kepuasan
melalui nilai lebih yang diterimanya dibandingkan dengan uang yang dia keluarkan
untuk memperoleh sesuatu barang. Nilai yang diterima oleh pelanggan adalah selisih dari
total customer value (TCV) dikurangi dengan total customer cost (TCC). TCV berarti
sejumlah manfaat yang diperoleh oleh pelanggan dari suatu produk atau jasa yang
dibelinya yang sesuai dengan referensi yang pelanggan punya, sedangkan TCC adalah
sejumlah uang atau pengorbanan yang dikeluarkan oleh pelanggan untuk memperoleh
produk atau jasa tertentu. Misalnya seseorang berbelanja barang ke suatu toko tertentu.
Dia mengharapkan sejumlah nilai yang akan dia peroleh yaitu berupa mutu barang
tersebut, harga murah, layanan toko memuaskan, kemudahan mencari dan memilih
barang di toko tersebut kemudahan dan rasa aman parkir kendaraan, rasa nyaman

Buku Kewirausahaan 31
didalam toko, dan dia mengeluarkan sejumlah uang untuk memperoleh nilai-nilai
tersebut. Jika dibandingkan antara total nilai (revenue) yang dia peroleh dengan total
uang yang dia keluarkan lebih menguntungkan maka dia akan memperoleh kepuasan.
Kepuasan atau satisfaction yang dimaksud adalah satisfaction is a person's feelings of
pleasure or disappointment resulting from comparing a product's perceived performance
(or outcome) in relation to his or her expectations. (Philip Kotler, 1997: 40).
Artinya kepuasan adalah rasa senang, lega, atau kecewa pelanggan yang membandingkan
kesannya terhadap produk atau jasa yang dia beli dihubungkan dengan manfaat yang dia
harapkan.

Untuk menjaga kepuasan langganan tersebut maka perusahaan mencoba melakukan apa
yang disebut dengan integrated marketing (pemasaran terpadu). Philip Kotler, (1997: 23)
menyatakan bahwa: When all the company's departments work together to serve the
customer's interests, the result is integrated marketing. Jadi integrated marketing ini
berarti suatu keterpaduan diantara para karyawan secara bersama-sama memberikan
pelayanan yang memuaskan kepada konsumen. Oleh sebab itu, seorang pemimpin
perusahaan (seorang wirausaha) harus membenahi, mendidik para karyawannya agar
semua mempunyai arah, sikap, sasaran untuk memuaskan konsumen. Misalnya bagian
produksi harus membuat barang sebaik mungkin menghindari cacat yang ada pada
produk yang dihasilkan, setiap bagian melakukan usaha bagaimana meningkatkan
kualitas produk yang dihasilkan, demikian pula karyawan yang ada dibagian depan yang
berhubungan dengan pelanggan harus memberikan pelayanan sehingga menimbulkan
kesan sebaik mungkin.
Contoh pemasaran terpadu ini dapat dilihat pada pemasaran jasa. Pemasaran jasa tidak
hanya membutuhkan pemasaran eksternal tetapi juga pemasaran internal dan interaktif.
External marketing describes the normal work done by the company to prepare, price,
distribute, and promote the service to customers. Internal marketing describes the work

Buku Kewirausahaan 32
done by the company to train and motivate is employees to serve customers well.
Interactive marketing describes the employees skill in serving the client. (Philip Kotler,
1997: 473).

Artinya pemasaran eksternal berarti kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk
menyiapkan, memberi harga, mendistribusikan dan mempromosikan produknya atau
jasanya ke konsumen. Pemasaran internalberarti pekerjaan yang dilakukan oleh
perusahaan untuk melatih dan mendorong karyawannya agar dapat melayani konsumen
sebaik-baiknya. Pemasaran interaktif berarti keterampilan karyawan untuk melayani
langganan.

Contoh pemasaran interaktif ialah jasa Arsitektur professional. Secara teknik seorang
arsitek adalah hanya mendesai rumah atau bangunan yang diinginkan oleh pelanggannya,
tetapi pelanggan juga mengharapkan keramahan, keterangan yang baik dan detail,
termasuk bagaimana arsitek tersebut mengkomunikasikan rancangannya dengan
pelanggan. Jadi dalam hal ini sangat penting pelayanan dalam bentuk "high touch" yang
juga sama baiknya dengan "high tech". High tech berarti penggunaan perangkat
teknologi canggih sedangkan high touch sentuhan-sentuhan profesional yang diberikan
oleh pelayanan terhadap pelanggan. Jika digambarkan pemasaran internal dan eksternal
dapat dilihat sebagai berikut:

Buku Kewirausahaan 33
Uraian di atas mengingatkan kepada wirausaha agar tidak memperlakukan karyawan
sebagai sumber daya seperti sebuah mesin dalam proses prosuksi akan tetapi karyawan
diperlakukan sebagai individu yang memiliki pemikiran, perasaan, dan kreativitas yang
dapat diarahkan dan dikembangkan melalui manajemen yang baik. Sehingga karyawan
tersebut menjadi lebih produktif dan meningkatkan nama baik perusahaan serta dapat
memelihara kepuasan pelanggan.

3. Tiga Komponen Marketing Concept


Sasaran utama Marketing Concept ialah Kepuasan konsumen. Untuk mencapai sasaran
tersebut, ada tiga komponen penting yaitu customer needs and wants, organizationally
integrated marketing strategy and goals (Bygrave 1994: 68). Inti dari marketing concept
ini ialah bukan membuat konsumen mengikuti keinginan produsen, tapi sebaliknya
mengharuskan produsen memahami dan berusaha mengikuti selera konsumen. Konsep
ini harus dipegang oleh produsen mulai dari tahapan perancangan produk yang akan
dibuat, sehingga produk yang dihasilkan sesuai dengan keinginan konsumen.

Buku Kewirausahaan 34
Komponen pertama dari marketing konsep adalah orientasi konsumen, yaitu mulai
dengan pertanyaan apakah yang ingin dibeli oleh konsumen? Jawabannya adalah
kepuasan yang sesuai dengan referansinya (kualitas). Konsumen mencari nilai (value)
dan terpenuhi keinginannya. Perhatikan gambar 6.2.

Komponen kedua yang membentuk marketing concept ialah organisasi yang terintegrasi,
yang utuh. Organisasi adalah kunci sukses perusahaan dengan organisasi yang
terintegrasi mulai dari bagian pemasaran dan penjualan sampai dengan bagian produksi,
semua karyawan harus tetap satu arah yaitu customer.

focus. Semua orang dari segala bidang, harus mempunyai pandangan sama, langsung
atau tidak langsung harus selalu membuat konsumen mempunyai persepsi yang baik
terhadap perusahaan. Langkah-langkah yang agak filosofis ini memberikan fondasi yang
kuat untuk mengembangkan customer oriented, dalam sebuah organisasi perusahaan.
Komponen ketiga ialah goal achievement. Memang tujuan perusahaan ialah untuk
meningkatkan volume penjualan dan revenue (keuntungan), tapi jangan hanya
menekankan peningkatan volume dan meningkatkan keuntungan, juga harus membuat

Buku Kewirausahaan 35
kegiatan marketing lebih efektif dan efisien yang menujang terhadap penjualan yang
menguntungkan. Tujuan lainnya ialah meningkatkan image terhadap perusahaan, dan
memperluas market share.

4. Tiga Pertanyaan Pokok Dalam Pemasaran


Sebelum anda menyusun rencana pemasaran maka seorang wirausaha harus memahami
lebih dulu tentang seluk-beluk, konsep dan ruang lingkup pemasaran untuk mengetahui
semua ini maka perlu dijawab tiga pertanyaan dasar dalam pemasaran yaitu:
What?, apa yang dipasarkan yaitu barang atau jasa dengan disertai product knowledge
yang sangat baik.
Who?, siapa yang menjadi konsumen dan siapa yang akan memasarkan barang atau jasa
tersebut, lembaga-lembaga atau individu-individu.
How?, bagaimana cara memasarkannya.
Guna pembahasan lebih lanjut maka dalam marketing kita kenal tiga pendekatan sebagai
lanjutan dari jawaban tiga pertanyaan di atas.

1) Commodity Approach
Pendekatan komediti, kita harus mengetahui dimana barang tersebut dihasilkan,
bagaiman proses pembuatannya, siapa konsumennya dan bagaimana melakukan
penjualan, bagaimana system distribusi dan logistic yang dilakukan. Dengan mengulangi
prosedur penyelidikan ini untuk segala macam barang, maka kita akan mendapat
gambaran dari seluruh kegiatan marketingnya.

2) Institutional Approach
Pendekatan institusi dilakukan dengan mempelajari bermacam-macam lembaga
marketing yang ada yang merupakan saluran distribusi dan bagaimana peranannya.

Buku Kewirausahaan 36
Institusi itu misalnya grosir, pedagang dan sebagainya. Kita coba meneliti apa peran
mereka dalam pemasaran barang-barang.

3) Functional Approach
Di sini diadakan pendekatan dengan membuat klasifikasi dari kegiatan-kegiatan
marketing. Misalnya dalam marketing barang-barang kelontong, ada kegiatan di mana
seseorang harus membeli, dan yang lain menjualnya. Ada yang mengangkut, ada yang
menyimpan dan sebagainya. Dengan menyelidiki marketing melalui berbagai fungsinya
tersebut.

5. Strategi Pemasaran
Strategi perusahaan adalah keputasan yang diambil dalam perusahaan untuk menentukan
sasaran kedepan, menghasilkan kebijaksanaan dan merencanakan bagaimana mencapai
tujuan serta merinci jangkauan bisnis yang akan di capai.
Setelah mengetahui rumusan strategi perusahaan secara umum maka selanjutnya akan
kita lihat pengertian strategi pemasaran.
Definisi strategi pemasaran adalah memilih dan menganalisa pasar sasaran yang
merupakan suatu kelompok orang yang ingin dicapai oleh perusahaan dan menciptakan
suatu bauran pemasaran yang cocok dan yang dapat memuaskan pasar sasaran tersebut.
Dunia pemasaran diibaratkan sebagai suatu medan tempur bagi para produsen dan para
pedagang yang bergerak dalam komoditi yang sama maka perlu sekali diciptakan suatu
strategi pemasaran, agar dapat memenangkan peperangan tersebut.
Perusahaan perlu menetapkan strategi dasar atau disebut. grand strategy atau strategi inti.
Jika grand strategy ini sudah benar maka diharapkan perusahaan akan berhasil mencapai
sasaran tersebut. Diharapkan perusahaan akan dapat menguasai market share yang luas
ataupun market position yang mantap. Market share atau pangsa pasar artinya
penguasaan luas pasar. Sedangkan market position ialah kedudukan yang kokoh dari

Buku Kewirausahaan 37
suatu produk pada suatu pasar. Misalnya mobil-mobil buatan Jepang memiliki pangsa
pasar yang luas sedangkan mobil-mobil buatan Jerman memiliki market position yang
tidak tergoyahkan.
Dalam menyusun strategi pemasaran ada dua variabel utama yang perlu
dipertimbangkan, yaitu:
1) Variabel yang Dapat Dikontrol
2) Variabel yang Tidak Dapat Dikontrol oleh pengusaha adalah:

Buku Kewirausahaan 38
BAB IV

A. Pengertian Etika

Istilah etika diartikan sebagai suatu perbuatan standar (standard of conduct)yang


memimpin individu dalam membuat keputusan. Ethics is the study of right and wrong
and of the morality of choices made by individuals. An ethnical decision or action is one
that is right according to some standard of behavior.Business ethics (sometimes referred
to as management ethical is the application of moral standards to business decisions and
actions).Etik ialah suatu studi mengenai yang benar dan yang salah dan pilihan moral
yang dilakukan seseorang. Keputusan etik ialah suatu hal yang benar mengenai perilaku
standar. Etika bisnis kadang-kadang disebut pula etika manajemen, yaitu penerapan
standar moral kedalam kegiatan bisnis. W.F. Schoell .menyatakan: Business Ethics is a
system of "oughts" a collection of principles and rules of conduct based on beliefs about
what is right and wrong business behavior. Behavior that conforms to these principles is
ethical (Schoell,1993: 46). Some pholosophers say that behavior is ethical if it follows
the will of God.

Orang-orang bisnis diharapkan bertindak secara etis dalam berbagai aktivitasnya di


masyarakat. Harus ada etik dalam menggunakan sumber daya yang terbatas di
masyarakat dan apa akibat dari pemakaian sumber daya tersebut, apa akibat dari proses
produksi yang ia lakukan? Diharapkan orang bisnis memiliki standar etik yang lebih
tinggi di masyarakat, karena mereka langsung berhadapan dengan masyarakat yang
selalu mengawasi kegiatan
mereka.

Etik yang dimiliki oleh masing-masing individu sebenarnya merupakan perkembangan

Buku Kewirausahaan 39
dari etik sejak dulu, yang dianut oleh dan disampaikan kepada kita oleh orang tua, guru,
pemimpin agama, dan lingkungan kita secara keseluruhan. Jadi etik yang digunakan oleh
orang bisnis tidak terlepas dari sumber-sumber yang sama.Definisi lain menyatakan:
Business ethics is about building of trust between people and organizations, an
absolutely essential ingredient to conducting business successfully especially in the long
term (Linda Klebe
Trevino, 1995: 290).

Etika bisnis menyangkut usaha membangun kepercayaan antara anggota masyarakat


dengan perusahaan, dan ini merupakan elemen sangat penting buat suksesnya suatu
bisnis dalam jangka panjang.

Etika Bisnis ini sangat kompleks dan sensitif, tapi sebenarnya ini bukan barang baru.
Etika sudah dikenal sejak 560 tahun SM, seorang filosof Greek bernama Chilon
menyatakan a Merchant does better to take a loss than to make a dishonest profit The
only sustainable competitive advantage any business has is its reputation (Zimmerer,
1996: 21).

Jadi prinsipnya seorang wirausaha lebih baik merugi daripada melakukan perbuatan
tidak terpuji. Para pengusaha semaksimal mungkin harus menghindarkan
pertengkaran, apalagi yang akan menyebabkan putushubungan. Semua claim dari
relasi sampai tingkat tertentu harus dilayani dengan penuh toleransi. Harus dicari win-
win solution pada setiap persengketaan. Cepat ganti barang baru, jika ada claim yang
benar. Semua ini untuk menjaga reputasi, nama baik perusahaaan. Perbuatan tidak
terpuji, berlaku curang, tidak jujur, tidak menepati janji, akan meruntuhkan martabat
bisnisnya, sedangkan martabat atau reputasi adalah satu kata magis yang harus dijunjung
tinggi oleh seorang wirausaha, yang akan merupakan competitive advantage, keungulan

Buku Kewirausahaan 40
bersaing yang abadi, dan menang selama-lamanya. Menjunjung tinggi etika harus
dilakukan terhadap stakeholder perusahaan,
apakah external stakeholder seperti: konsumen, kelompok-kelompok yang berhubungan
dengan perusahaan, organisasi buruh, pihak pemasok,pemerintah, creditors,
masyarakat umum atau internal stakeholder seperti unsur pimpinan, tim manajemen,
investor dan karyawan. Menjaga etika adalah suatu hal yang sangat penting untuk
melindungi reputasi perusahaan. Masalah etika ini selalu dihadapi oleh para manajer
dalam keseharian kegiatan bisnis, namun harus selalu dijaga terus menerus, sebab
reputasi sebagai perusahaan yang etis tidak dibentuk dalam waktu pendek, tapi akan
terbentuk dalam jangka panjang. Dan ini merupakan asset yang tak ternilai sebagai
goodwill bagi sebuah perusahaan. Suatu trademark istimewa dalam competitive
advantage. Apabila dilihat perilaku fundamental yang berhubungan dengan etika di
masyarakat, dan berlaku sepanjang masa di semua etnis adalah:
1. sopan santun, selalu bicara benar, terus terang, tidak menipu, tidak mencuri,
2. integrity, memiliki prinsip, hormat, jangan dua muka,
3. jaga janji, bisa dipercaya bila berjanji, amanah, jangan mau menang sendiri,
4.fidelity, benar dan loyal pada keluarga, teman, jangan menyembunyikan Informasi
yang tidak perlu dirahasiakan,
5. fairness, berlaku fair, dan terbuka komit pada kedamaian, jika salah jangan tetap
bertahan, tapi cepat mengakui kesalahan, perlakuan sama pada setiap orang, toleran,
6. caring for others, perhatian, baik budi, ikut andil, tolong siapa yangmemerlukan,
7. respect for others, menghormati hak-hak orang lain, privacy, beripada orang lain yang
dianggap berguna, jangan berprasangka,
8. responsible citizenship,. Patuh pada undang-undang dan peraturan yang berlaku, jika
menjadi pemimpin harus bersifat ter buka dan menolong,pursuit of excellence,
berbuatlah yang terbaik disegala kegiatan, dalam pertemuan, tanggungjawab, rajin,
komit, tingkatkan kompetensi dalam segala bidang, jangan mau menang sendiri.

Buku Kewirausahaan 41
9. accountability, bertanggungjawab dalam segala perbuatan terutama dalam mengambil
keputusan. (diringkas dari Zimmerer 1996:28)

Untuk menjaga terlaksananya etika ini, maka didalam perusahaan dapat dilakukan
menyusun "credo" perusahaan. Zimmerer menyatakan: A company credo defines the
values underlying the entire company and its ethical responsibilities to its stakeholders.
It offers general guidance in ethical issues.

Kemudian dikembangkan kode etika didalam perusahaan secara tertulis, tidak terlalu
rinci tapi cukup memuat hal-hal yang minimum saja seperti menyangkut tata sopan
santun, keselamatan kerja, kesehatan, konflik,kemananan, kerahasiaan, kegiatan politik
dalam perusahaan, melestarikan lingkungan dsb. Mendorong karyawan agar taat pada
peraturan, adakan pelatihan-pelatihan, umumkan jika ada kejanggalan/ pelanggaran,
ciptakan budaya perusahaan yang nyata diikuti / dibiasakan berlaku terus menerus.

B. Budaya Perusahaan

Untuk menanamkan kebiasaan baik pada karyawan, maka perlu


dikembangkan budaya perusahaan dalam sebuah organisasi. Apa yang
dimaksudkan dengan Budaya Perusahaan:
1. Company culture is the system of shared values and beliefs employment have about the
standards and criteria used in the firm to judge achievement, individual
contribution, and expertise (W. F. Schoell, 1196: 289)
2. Organization culture refers to a system of shared meaning held by members that
distinguishes the organization from other organizations(Robbins, 1996: 206)
3. Corporate culture define as the shared experiences, stories, beliefs and norms that
characterize an organization (Kotler, 1997: 67)

Buku Kewirausahaan 42
Budaya Perusahaan ialah karakteristik suatu organisasi perusahaan yang mencakup
pengalaman, cerita, kepercayaan dan norma-norma bersama yang dianut oleh seluruh
jajaran perusahaan. Misalnya pada sebuah perusahaan dapat kita lihat, bagaimana
karyawannya berpakaian, berbicara, melayani tamu, pengaturan kantor, dsb.

Jika pada sebuah perusahaan ada kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik, ini harus cepat
diubah. Kemampuan mengubah budaya perusahaan merupakan kunci keberhasilan
menyusun dan melaksanakan strategi perusahaan untuk masa depan. Dalam hal ini
contoh suritauladan dari unsur pimpinan akan ditiru langsung oleh karyawan. Jadi faktor
pimpinan sangat berpengaruh terhadap pembentukan budaya perusahaan.

Budaya perusahaan ini dapat membuat karyawan gairah, termotivasi, disiplin, suka,
memiliki moral tinggi atau malahan sebaliknya tidak bergairah, tidak Disiplin, santai,
malas, selalu mengharap imbalan, dsb.

Perbedaan latar belakang budaya dari setiap orang dari berbagai etnis, akan membuat
perbedaan pula dalam cara mereka bertindak. Adakalanya budaya perusahaan merupakan
suatu kekuatan yang tidak tampak, tapi sangat berpengaruh terhadap pikiran, perasaan
dan tindakan seseorang dalam bekerja.

Oleh sebab itu pengembangan budaya perusahaan harus dilakukan, karena sangat
bermanfaat untuk: meningkatkan sense of identity, sense of belonging, komitmen
bersama, stabilitas internal perusahaan, pengendalian sifat-sifat yang kurang baik, dan
akhirnya akan menjadi pembeda satu perusahaan dengan perusahaan lain, dan akhirnya
akan menimbulkan citra tersendiri bagi kemajuan perusahaan.

Buku Kewirausahaan 43
C.UKM DAN PENGUSAHA PEMULA

Usaha Kecil Menengah (UKM), usaha mikro, usaha pemula, bertebaran di seluruh
Indonesia dengan perkiraan jumlahnya sekitar 40 juta unit (99% dari seluruh unit usaha
di Indonesia). Keberadaan mereka harus kita akui sebagai salah satu penopang ekonomi
Indonesia yang belum beranjak maju, terutama di pedesaan yang jauh dari sentuhan
fasilitas-fasilitas yang layak untuk berkembangnya bisnis, seperti sistem telekomunikasi
dan informasi, sarana pendidikan, listrik, transportasi, pelabuhan, bank, dan Iain-lain.
Dari 40 juta unit UKM, 43% pelakunya adalah perempuan. Jadi dalam bisnis tidak ada
isu jender, pokoknya siapa saja yang mau dan mampu, baik laki-laki maupun perempuan,
silakan berbisnis. Tenaga kerja yang diserap oleh ektor UKM lebih 20 juta oran.
UKM dan Pengusaha Pemula (PP) antara lain meliputi: Usaha dagang atau ritel, seperti
toko, warung, mini market. Industri kecil menengah.
- Pertanian, dari mulai bercocok tanam, penanganan pascapanen, dan pemasarannya.
- Kerajinan tradisional.
- Usaha hotel atau penginapan bertaraf kecil, misalnya hotel melati.
- Pariwisata.
- Peternakan atau perikanan.
- Percetakan atau penerbitan.
- Perbengkelan logam, besi, bubut.
- Mebel atau alat rumah tangga.
- Macam-macam usaha jasa.
- Kontraktor.
- Pedagang kaki lima (PKL), dan Iain-lain.

Buku Kewirausahaan 44
Kriteria Usaha Kecil secara formal didefinisikan di dalam, UU No. 9 Tahun 1995 dalam
pasal 5 sebagai berikut:
1. memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000, tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha; atau
2. memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp1.000.000.000;
3. milik Warga negara Indonesia;
4. berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atat cabang perusahaan yang
dimiliki, dikuasai, atau berafili baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha
Menengah atau Usaha Besar;
5. berbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha ya|| tidak berbadan hukum, atau
badan usaha yang berbadj hukum, termasuk koperasi.

Untuk Usaha Menengah belum ada kriteria yang pasti hanya dicantumkan dalam pasal 1
butir 2, bahwa Usaha Menengah dan Usaha Besar adalah kegiatan ekonomi ya
mempunyai kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar daripada
kekayaan bersih dan penjualan tahunan Usaha Kecil. Sedangkan Usaha Mikro tidak
tercantum dalam UU No. 9 Tahun 1995.

Data dari Kementrian Negara Koperasi dan UKM menunjukkan 99,85% usaha yang ada
di Indonesia berupa UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah). Jadi hanya 0,15% berupa
perusahaan yang berstatus korporasi. Dampaknya, 99,5% kesempatan kerja disediakan
UMKM dan sebanyak 19% nilai ekspor Indonesia merupakan sumbangan UMKM.
Pembangunan UMKM untuk mengurangi kemiskinan juga telah menjadi isu global. Pada
tanggal 18 November 2004, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan mencanangkan
Tahun Mikro Kredit Internasional 2005. Dan pada tanggal 26 Februari 2005, pemerintah
Indonesia juga mencanangkan program pemberdayaan sektor yang selama ini
terpinggirkan, yaitu usaha mikro, kecil, dan menengah. Secara bersamaan juga

Buku Kewirausahaan 45
dicanangkan Tahun Keuangan Mikro Indonesia 2005 oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono.

Dengan adanya pencanangan ini, tentu saja bukan berarti pemerintah sudah benar-benar
berpihak kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pencanangan itu baru bisa
dikatakan bukan hanya slogan jika angan-angan tadi tercapai.
Sehubungan dengan dicanangkannya Tahun Keuangan Mikro Indonesia (TKMI) 2005
hari ini oleh Presiden, Direktur BRI Krisna Wijaya meminta pemerintah benar-benar
berpihak kepada pengusaha mikro dan kecil. "Seharusnya yang diberdayakan bukan
usaha mikro dan keci tapi pengusaha mikro dan kecil. Ini perlu dipertegas karena
pengusaha besar bisa saja membuat usaha kecil sehingga dengan nama UMKM dia bisa
memperoleh keringanan kredit. Padahal semangatnya kan memberdayakan orangnya atau
pengusahanya” kata dia.
Dia menyarankan agar pemerintah mengubah definisi UMKM, dengan tidak lagi
memakai basis penjualan atau omzet tetapi kekayaan pengusahanya.
la menambahkan, TKMI seharusnya tidak hanya menonjolkan bank, tetapi juga lembaga
keuangan lainnya dan berbagai institusi yang masuk dalam komunitas mikro. Harus
ditegaskan bahwa yang ingin dientaskan adalah masyarakat miskin, bukan kemiskinan.
"Jadi obyeknya jelas," katanya. “CPPA Tidak Akan Hapus Tagih Aset Kredit UKM",
Kompas, Sabtu, 26 Februari”.
Meskipun demikian, UKM dapat menjadi suatu bibit untuk dapat dikembangkan menjadi
usaha yang dapat berjalan sesuai dengan persyaratan usaha yang modern secara umum.
Artinya, selain berbadan hukum, UKM kemudian dapat menata usahanya, sistem
akuntansi keuangannya, asetnya, pasarnya, proses produksinya, dan melakukan lalu-
lintas keuangannya melalui bank, memiliki NPWP. Diharapkan nanti usaha tersebut akan
berkembang dari mikro menjadi kecil, menengah, kemudian menjadi besar. Meskipun

Buku Kewirausahaan 46
tidak mungkin terwujud semuanya, tetapi sudah merupakan prestasi yang dahsyat kalau
dari 40 juta UKM kita bisa mengangkat 1 juta saja menjadi pengusaha menengah.

Pemerintah telah mulai membuka kawasan-kawasan industri, hendak kawasan industri


ini bukan hanya untuk industri besar tetapi juga industri kecil. Pemerintah seharusnya
membuka kawasan industri yang di peruntukkan untuk UKM, kawasan ini memberikan
fasilitas yang memadai dengan biaya yang disubsidi, fasilitas yang disediakan dapat
berupa listrik, gas, pengolahan limbah, akses jalan, dan perbankan. Dengan fasilitas yang
disediakan diharapkan UKM dapat menjadi besar dan dapat lebih bersaing dengan usaha
besar dan produk impor.
Selain fasilitas, masalah lainnya adalah banyak UKM yang masih bersifat perorangan
dan belum berstatus badan hukum yang menyulitkan ketika akan berhubungan dengan
pihak bank. Pihak Bank dalam mencairkan kreditnya menuntuk sebuah perusahaan harus
berbadan hokum dan memiliki agunan yang memadai, untuk itu pemerintah hendaknya
memberikan kemudahan bagi UKM yang akan mengurus perizinannya dan memberikan
bantuan permodalan.

1. UKM dan Pengusaha Pemula (PP)


"Selama ini UKM identik dengan usaha orang-orang kecil dan bemodal kecil.
Seharusnya UKM dilihat sebagai usaha kecil tetapi kualitasnya tidak kecil." -- Eva
Riyanti Hutapea.
Keberadaan UKM yang berdampak dengan besarnya tenaga kerja yang dapat diserap
merupakan hal yang positif bagi perekonomian Indonesia. Untuk itu harus dilakukan
upaya bagaimana keberadaan UKM dan PP lebih berkembang. Artinya bagaimana
peranan pemerintah, perguruan tinggi, pengusaha besar dan UKM itu sendiri
mengembangkan diri menjadi pengusaha besar. Perguruan tinggi dapat memberikan
pemikiran inovasi-inovasi terutama inovasi teknologi untuk UKM, sedangkan pengusaha

Buku Kewirausahaan 47
besar memberikan bantuan pelatihan dan teknologi untuk UKM terutama UKM yang
merupakan hulu (pemasok) bagi industri mereka. Bagi mereka yang berminat untuk
membantu mengembangkan UKM terlebih dahulu sebaiknya bisa menyikapi keberadaan
UKM dan PP dengan tepat. Oleh sebab itu, sebaiknya perlu diperhatikan hal-hal berikut
ini:
 Jangan samakan UKM di daerah dengan UKM di kota besar. Mungkin saja
wawasan dan tingkat pendidikan parapemilik UKM di daerah tidak sama dengan
yang di kota besar.
 Membantu para pemilik UKM untuk dapat mengatasi relasi yang eksploitatif
yang terdapat dalam mata rantai hulu-hilir usaha kecil sebagai

Berikut adalah beberapa cara dalam berhubungan dengan UKM dan PP dalam rangka
membantu mengembangkan mereka, baik secara perorangan, pelajaran di kelas, diskusi,
dan sebagainya:
 Usahakan cara berinteraksi jangan sampai merepotkan atau membuat mereka
merasa direpotkan hingga mereka pusing, bingung, karena usaha mereka
terganggu. Sebaiknya mereka mau berinteraksi secara sukarela, bukan karena
keterpaksaan.
 Pendekatan dilakukan melalui pendekatan manusia ke manusia, bukan dengan
pendekatan formal atau kelembagaan.
 Selidiki terlebih dahulu dengan cara bertanya, mencari tahu problem-problem
UKM dari situasi setempat. Misalnya dari aparat Pemda, camat, lurah, RW/RT,
DKM, dan tokoh masyarakat setempat.
 Berusahalah berbaur dengan kehidupan masyarakat setempat agar lebih
memahami sisi lain dalam kehidupan di sekitar. Meskipun dengan cara sederhana,
tetapi pendekatan "apa-mengapa-kapan-dimana-bagaimana" dapat memudahkan
dalam melakukan pembinaan sehingga maksud dan tujuannya cepat terserap.
Buku Kewirausahaan 48
 Lakukan pembinaan tapi jangan dengan cara menggurui, apalagi kalau yang
membina bukan pelaku ekonomi artinya belum pernah menjadi pedagang,
pengusaha.
 Anjurkan mereka melakukan pencatatan keuangan.
 Berikan tekanan betapa pentingnya masalah mutu dan bagaimana menentukan
standard an meningkatkannya.
 Berikan penjelasan mengenai desain produk terutama harus sesuai dengan selera
konsumen yang pilih.
 Berikan bantuan untuk mencari pasar atau mendapatkan pasar baru.
 Bantulah dalam mengakses dan berhubungan dengan sumber-sumber permodalan
seperti BPR, bank, lembaga kredit, LSM, koperasi, pegadaian, dan Iain-lain.
 Kalau ada beberapa perusahaan sejenis, bentuklah paguyuban atau koperasi agar
dapat bergabung dalam membeli bahan baku (supaya lebih murah) dan
memasarkan hasil produksi bersama-bersama, terutama untuk pasar ekspor.
 Terangkan apa itu entrepreneurship dan bagaimana menerapkannya sesuai situasi
dan kondisi setempat pada para pelaku UKM dengan bahasa yang dapat mereka
pahami. Berikan contoh-contoh yang nyata agar mudah dimengerti.

Contoh pengusahan besar yang memberikan bantuan kepada UKM adalah perusahaan
mie instan Indofood yang menjadikan para pengusaha kecil sebagai mitra usaha dengan
peran penjual perantara pada konsumen akhir,
perusahaan jamu Sidomuncul yang memosisikan para penjual jamu gendong sebagai
mitra usaha, atau Susi Pudjiastuti di Pangandaran yang bermitra dengan para nelayan
dalam bisnis ikan laut. Hasilnya, para mitra usaha maju, para pengusaha besar pun
bisnisnya lancar, maju, dan saling menguntungkan. Sedang contoh koperasi yang
dibentuk oleh UKM adalah koperasi penjual bakso yang dapat secara bersama-sama

Buku Kewirausahaan 49
membeli sapi sebagai bahan baku, koperasi sapi perah yang secara teroganisir menjual
susu hasil perahannya.

Tentunya semua itu harus didasarkan pada kemitraan yang dilakukan dengan itikad baik,
kejujuran semua pihak, atas dasar saling membutuhkan dan saling menguntungkan.
Selain itu, pembinaan perlu dilakukan dalam semua hal secara berkelanjutan agar
produk-produk yang dihasilkan mempunyai mutu yang baik dan harga yang bersaing.
Belum lama ini Universitas Indonesia menggelar lomba penulisan mengenai usaha
mikro. Banyak peserta yang ikut serta dengan mengirimkan tulisan berkaitan dengan
usaha mikro itu. Banyak tulisan baik yang dihasilkan karena itu diperoleh dari hasil
penelitian lapangan.

Namun banyak pula tulisan yang terpaksa dieliminasi. Mengapa? Karena banyak orang
salah mendefinisikan tentang usaha mikro. Banyak orang menduga sama antara usaha
mikro dan usaha kecil. Akibatnya mereka salah melakukan pendekatan dan yang
selanjutnya salah dalam melakukan judgement, penilaian.
Karena dianggap sama antara usaha mikro dan usaha kecil, dinlai samalah kebutuhan
keduanya. Salah satunya, usaha mikro dianggap butuh akses kredit perbankan.
Bahwa para pelaku usaha mikro membutuhkan adanya modal, itu memang benar.
Namun, mereka tidak membutuhkan modal dari sistem perbankan karena memang
mustahil bidang itu ditangani bank formal.

Selain kriterianya yang tidak mungkin bisa memenuhi kriteria perbankan, dari sisi nilai
modal yang dibutuhkan, terlalu mahal pula apabila itu harus ditangani oleh perbankan.
Dari studi yang secara riil terjadi di lapangan, terlihat bahwa yang lebih dibutuhkan
pengusaha mikro adalah pendampingan. Mereka yang bergerak di bidang usaha mikro
umumnya tidak memiliki jiwa entrepreneur.

Buku Kewirausahaan 50
Kehadiran pendamping pertama-tama ditujukan untuk membangkitkan jiwa
kewirausahaan itu. Paling tidak perlu dibangunkan jiwa kewirausahaan yang benar, di
mana dasar perhitungan usahanya bukan hanya keberanian tanpa perhitungan, tetapi
keberanian yang didukung sistem pengadministrasian yang benar.
Memang tampak bahwa tingkat kegagalan pada tahap-tahap awal usaha begitu tinggi.
Namun, dengan pendampingan yang benar dan secara terus-menerus disuntikkan sistem
manajemen yang benar, maka dari proses trial and error, akhirnya banyak juga yang
berhasil.

Keberhasilan dari usaha mikro inilah yang menjadi kunci bagi mereka untuk naik kelas
membangun usaha kecil dan kemudian menjadi usaha menengah. Banyak contoh
keberhasilan itu meski tidak mudah untuk dibuat semacam standar keberhasilan, yang
bisa ditularkan atau diterapkan pada bidang usaha lain ataupun daerah lain.
("Apa Makna Pencanangan Tahun Keuangan Mikro", Kompas, Senin, 28 Februari 2005,
halaman 4.)

2. Sistem Keuangan UKM


Sistem keuangan UKM merupakan salah satu sumber permasalahan yang menghambat
kemajuan dan kemandirian UKM. UKM hendaknya diajak dan dilatih bagaimana
membuat sistem keuangan yang baik, atau paling tidaknya mereka sudah mengetahui
bagaimana membuat jurnal keuangan. Kemungkinan problem keuangan itu antara lain:
1. Keuntungan. Pada umumnya, yang dinamakan untung oleh para pelaku.
2. Keuntungan pada umum bagi para UKM dalam pengertian yang sangat sederhana,
yaitu selisih yang mereka peroleh dari harga jual dengan ongkos produksi (harga
pokok). Mereka kadang-kadang melupakan biaya-biaya lain yang semestinya
dibebankan ke dalam harga pokok, seperti biaya penyimpanan, bunga bank, tenaga
kerja yang umumnya mereka sendiri yang melakukan sehingga lupa diperhitungkan.

Buku Kewirausahaan 51
3. Belum menghitung biaya depresiasi investasi kedalam biaya produksi.
4. Belum menghitung bunga sebagai komponen biaya dalam biaya produksi.
5. Belum menghitung biaya inventori (persediaan).
6. Belum melakukan pencatatan kas dengan baik.
7. Belum menghitung biaya discount maupun kredit penjualan.
8. Belum menghitung beban pajak, retribusi, dan pungut lainnya ke dalam biaya
produksi.
9.Belum mampu membuat sistem akuntansi untuk laporan keuangan.
10. Belum mampu memisahkan antara uang perusahaan dan uang pribadi.
11. Belum terlalu peduli dengan mutu (kualitas) maupun tanggal penyerahan (due date).
12. Belum memanfaatkan jasa asuransi.

Akibat dari masalah-masalah keuangan tersebut:


1. Sulit atau belum mampu membuat perencanaan usaha, antara lain:
- Analisis biaya produksi (biaya total)
- Analisis titik impas produk (break even point)
- Perkiraan pendapatan (revenue)
- Perkiraan rugi dan laba
- Perkiraan arus kas
Padahal perencanaan usaha ini penting untuk memprediksi penjualan dan harga yang
ditetapkan.
2. Sulit untuk mengembalikan pinjaman, berupa bunga dan pokok, ke bank sesuai dengan
kewajiban dalam jadwal pengembalian kredit, karena tidak ada perencanaan usaha,
anggaran keuangan, dan perencanaan arus kas.
3. Sulit memperbesar usaha dengan cara mencari mitra usaha.
4. Sulit melakukan transaksi-transaksi formal karena belum berbadan hukum.

Buku Kewirausahaan 52
Lalu-lintas uang belum memakai jasa bank, kebanyakan para pemilik UKM belum
memiliki rekening giro di bank. Transaksinya selalu memakai uang tunai, bukan denga
cek, giro, transfer, atau L/C. Akibatnya sulit mendapatkan kredit dari bank dan
berhubungan dengan pembeli di luar negeri untuk produk-produk orientasi ekspor karena
transaksi memakai L/C melalui bank.

3. Sumber Daya Manusia UKM


Selain adanya masalah keuangan, tidak kalah pentingnya yaitu kemungkinan masalah
dari manusianya sebagai pelaku bisnis. Kemungkinan masalah sumber daya manusia
tersebut antara lain adalah:
1. Kurang disiplin dan menaati aturan.
2.Kurang pengetahuan tentang teknologi informasi dan bagaimana memamfaatkannnya.
3.Belum mengerti pentingnya kualitas, sehingga sering membuat produk yang tidak
memenuhi standar yang ada.
4. Latar belakang pendidikan yang kurang mendukung.
5.Cepat merasa puas, kurang mau belajar dan memperbaiki diri.
6. Banyak pimpinan yang tidak mempunyai Leadership.
7. Boros dan konsumtif.
8. Kurang kreatif dan inovatif.
9. Kurang mampu membuat perencanaan usaha secara utuh dan jelas.
10. Belum mengerti konsep perancangan dan perencanaan produk.
11. Belum mampu membangun jaringan.
12. Kurang peduli dengan kesepakatan dalam kerjasama.
13.Tidak mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik, sehingga kurang mampu
melakukan negosiasi.
14. Kurang memahami aspek-aspek hukum, perpajakan, dan perbankan.

Buku Kewirausahaan 53
15. Tidak mengerti membuat perencanaan bisnis.
16.Tidak mampu memperhatikan ketertiban, kebersihan lingkungan, kebersihan tempat
kerja, ketertiban dan keselamatan kerja, kesehatan kerja, kelestarian alam, dan
masalah polusi.

Kinerja UKM tidak sebaik usaha besar dalam berbagai aspek. Di antaranya, daya saing
produk, produktivitas, maupun pendataan. Hal ini dipicu karena UKM secara umum
masih menghadapi kendala internal maupun eksternal.
Beberapa kendala internal kinerja UKM dari sistem teknologi antara lain adalah
rendahnya kualitas sumber daya manusia, rendahnya penguasaan tekonologi, rendahnya
kemampuan akses sumber daya ekonomi, serta manajerial skill, termasuk kurangnya jiwa
kewirausahaan.

4. Model Pengembangan UKM dan Pengusaha Pemula


Upaya mengembangkan dan memajukan para pelaku UKM bisa dilakukan oleh berbagai
unsur yang ada di masyarakat, baik secara sendiri-sendiri ataupun dengan cara bekerja
sama. Adapun unsur-unsur yang dapat berkiprah dalam memajukan para pelaku UKM
tersebut antara lain: Pemerintah baik pusat maupun daerah yang seyogianya mempunyai
kepentingan dalam memajukan pelaku UKM, insititusi pendidikan (perguruan tinggi),
lembaga bank yang mempunyai tujuanuntuk menyalurkan kreditnya sekaligus sebagai
lembaga intermediasi dalam bidang keuangan, dan Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM) yang mengkhususkan bergerak dalam pembinaan UKM atau bisa juga yang
sifatnya pribadi.

A. Pemerintah
Pemerintah mempunyai peranan yang sangat besar dalam memajukan UKM untuk
kemakmuran bangsa dan Negara. Persaingan antar Negara pada saat ini bukan hanya

Buku Kewirausahaan 54
disegi pertahanan tetapi juga ekonomi, suatu Negara yang para pelaku ekonominya kuat
maka Negara tersebut mempunyai posisi yang kuat di dunia Internasional. Karena alas an
inilah maka pemerintah harus mendorong dan memberikan fasilitas yang baik untuk
UKM agar dapat berkembang menjadi pengusaha besar. Untuk itu, sebaiknya fungsi
pemerintah terhadap pengembangan ekonomi adalah sebagai berikut:
1. Sebagai regulator dengan cara membuat UU, PP, Perda, Keppres, dan sebagainya,
supaya iklim usaha di Indonesia aman, nyaman, dan penuh kepastian, terutama untuk
para pelaku UKM.
2. Sebagai fasilitator dengan cara membangun infrastruktur sebagai wahana usaha yang
diperlukan agar memungkinkan adanya pengembangan ekonomi dalam suatu
wilayah atau daerah.
3. Pemerintah melalui menteri keuangan dan Bank Indonesia dapat membuat kebijakan
bunga rendah.
4. Sebagai motivator dengan melakukan penerangan dan penyuluhan betapa pentingnya
jadi pengusaha dan pemerintah sangat memerlukan keberadaan pengusaha. Selain
itu, pemerintah juga menyelenggarakan pendidikan-pendidikan entrepreneurship
baik secara formal maupun informal, seperti adanya Balai Latihan Kerja (BLK)
dari Departemen Tenaga Kerja, atau membentuk Balai Latihan Entrepreneur
(BLE).
5. Sebagai stimulator. Pada suatu situasi dan kondisi tertentu, pemerintah dapat menjadi
stimulator untuk menggerakkan ekonomi misalnya dengan melakukan pembangunan
yang berdampak pada lapangan pekerjaan dan ekonomi.

B. Institusi Keuangan (modal ventura, bank konvensional, bank syariah, BPR)


Institusi keuangan dengan modal dan dana yang mereka miliki dapat melakukan
kebijakan-kebijakan untuk UKM, antara lain:

Buku Kewirausahaan 55
1. Memberikan bimbingan kepada UKM dalam masalah keuangan supaya bisnis UKM
berkembang.
2. Meningkatkan penyaluran, mempermudah dan mempercepat proses penyaluran kredit
kepada UKM atau pengusaha pemula.
3. Menurunkan tingkat suku bunga kredit, serta memberikan penyuluhan bagaimana
caranya mengajukan kredit beserta persyaratan-persyaratannya.
4. Mau memberikan penyuluhan dan informasi yang menyangkut masalah pasar, bahan
baku, teknologi, dan Iain-lain, pada UKM.
5. Memberikan solusi kepada UKM yang layak mendapatkan kucuran kredit tetapi tidak
memiliki agunan yang memadai sesuai dengan besarnya kredit yang bisa diterima.
6.Memberikan pelatihan dan bimbingan manajemen perusahaan.
7. Membantu membangun jaringan dan mitra bisnis.

Memanfaatkan jasa konsultan (outsourcing) mitra bank dalam pembinaan UKM,


terutama dalam penilaian kelayakan usaha untuk mendapat kucuran kredit dari bank
tersebut, dan juga memberikan penyuluhan-penyuluhan yang diperlukan agar usahanya
maju dan berkembang.
Sebanyak 61 persen dari sekira 40 juta unit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM)
yang ada di Indonesia hingga saat ini belum mendapat akses perbankan. Selain itu,
harapan untuk bisa memajukan salah satu pilar ekonomi yang tetap eksis di tengah krisis
ekonomi Indonesia, masih dihadapkan dengan masalah perizinan dan jaminan.

C. Institusi Pendidikan
Untuk melahirkan para entrepreneur di masa depan, tentunya institusi pendidikan—
seperti perguruan tinggi, sekolah kejuruan, kursus-kursus, dan Iain-lain—diharapkan
partisipasinya dengan dapat memberikan wawasan tentang entrepreneurship. Wawasan

Buku Kewirausahaan 56
tersebut dapat diberikan dalam bentuk mata kuliah, seminar, perpustakaan, ceramah,
konseling bagi mahasiswa atau siswanya yang berminat dalam masalah entrepreneurship
Institusi pendidikan seharusnya membekali anak didiknya (lulusan) dengan kompetensi
kewirausahaan selain kompetensi utama jurusannya. Dengan bekal ilmu kewirausahaan
yang cukup diharapkan para lulusan perguruan tinggi bukan hanya mencari kerja tetapi
berani membuka usaha yang berarti membuka lapangan pekerjaan.
Selain itu, institusi pendidikan dapat pula mengembangkan lembaga semacam lembaga
inkubator bisnis, seperti yang sudah dilakukan Institut Teknologi Bandung, yang bisa
menjadi tempat untuk melakukan konsultasi, pendidikan, pelatihan, untuk para
pengusaha pemula, para pemilik UKM, dan sebagainya. Demikian pula Institut
Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) yang membentuk Surabaya Business
Incubator Centre (SBIC). Inkubator seperti ini diharapkan dapat berperan menumbuhkan
UKM yang berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan perguruan tinggi
diharapkan dapat menjadi pelopor dalam pengembangan inkubator-inkubator bisnis. Hal
seperti inilah yang masih jarang ada pada institusi pendidikan di Indonesia.

D. Peran LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)


Kalau kita mendengar LSM, kebanyakan LSM bergerak dalam bidang kemanusiaan,
politik, sosial, hukum, dan pemerhati kebijakan yang diambil pemerintah. Tetapi masih
sedikit LSM yang bergerak dalam rangka memajukan ekonomi rakyat dan UKM.
Sebaiknya dalam hal ini ada LSM yang berperan sebagai lembaga bantuan
pengembangan usaha. Aktivitas LSM seperti ini sebagai berikut:
1. Memberikan penerangan dan penyuluhan pentingnya anggota masyarakat untuk mau
menjadi entrepreneur.
2. Membuat dan mengelola perpustakaan dan warung informasi teknologi (warintek),
juga mengadakan akses internet dengan sistem computer sebagai sumber informasi
dalam pengembangan usaha.

Buku Kewirausahaan 57
3. Memberikan pelatihan dalam hal cara-cara pengembangan usaha, perencanaan usaha
dan pembuatan proposal pendirian perusahaan.
4. Memberikan pelatihan, membantu dalam bidang pemasaran produk-produk baik
ekspor maupun domestik dengan mencari pembeli atau melakukan akses ke pasar
yang sudah berjalan.
5. Memberikan informasi peluang-peluang usaha, supaya tumbuh UKM baru dan
pengusaha baru.
6. Membantu memberi saran-saran pada pengelolaan UKM yang sedang berjalan, baik
teknis maupun nonteknis, misalnya tentang administrasi, hukum, HAKI, keuangan,
akuntansi, pajak-pajak, kredit, dan sebagainya.
7. Menjadi koordinator dalam promosi, pameran, secara bersama-sama oleh beberapa
UKM, baik di dalam maupun di luar negeri dalam rangka mengembangkan pasar dan
menghubungkan mereka dengan calon pembeli.
8. Untuk usaha-usaha sejenis, para UKM dibantu untuk dapat bergabung dengan
membentuk dan mengembangkan koperasi yang sehat. Misalnya dalam pengadaan
bahan baku, alat produksi, pemasaran, simpan-pinjam, permodalan, dan Iain-lain.
9.Membantu para pemilik UKM bila ada perlakuan dari pemerintah dan aparat yang
dapat menghambat kemajuan usaha atau yang menyangkut masalah HAKI dengan
melakukan upaya hukum, lobby, protes, dan unjuk rasa.
10. Memberikan penerangan, meyakinkan dan juga mencari solusi agar para pemilik
UKM jangan terjebak atau terjerat lintah darat atau rentenir dalam mendapatkan
modal usaha, karena hal ini akibatnya sangat memberatkan, meskipun prosesnya
memang lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan bank.
11. Membantu UKM dalam pemasaran produk-produknya supaya tidak dipermainkan,
didikte oleh para tengkulak atau pembeli lainnya dalam soal harga jual dan cara
pembayaran yang kadang-kadang tidak kontan. Perlu diingat bahwa pembayaran
dengan tenggang waktu menimbulkan kerugian akibat biaya bunga.
Buku Kewirausahaan 58
12. Meyakinkan dan memberi solusi kepada pelaku UKM untuk mau berhemat sehingga
keuntungan yang didapat bisa dijadikan tambahan modal atau aset yang diperlukan
untuk mengembangkan usahanya daripada mempunyai pola hidup konsumtif.
Karena aset tersebut dapat dijadikan agunan untuk kebutuhan kredit yang lebih besar
kepada bank.

Buku Kewirausahaan 59
BAB V

A.PERUSAHAAN KELUARGA (PK)

1. Perusahaan keluaga (family business/family owned business/family company ) cirinya


adalah: lebih dari 50% jumlah saham dimiliki oleh satu atau dua keluarga.
2. Perusahaan keluarga biasanya didirikan, dipimpin, dan dikelola oleh anggota keluarga
(walau kadang dikelola para professional yang berasal dari luar keluarga).
3. Perusahaan keluarga kerapkali dipandang sebelah mata.
4. Ada yang beranggapan perusahaan keluarga adalah:
 usaha rumahan (home industry),
 tidak professional,
 keputusan di tangan satu orang (one man show),
 penuh dengan konflik,
 tata kelola kurang baik,
 ada perbedaan kelakuan antara anggota keluarga dan non anggota di dalam
operasionalnya.
5. Fakta di lapangan: peran perusahaan keluarga terhadap perekonomian dunia sangatlah
signifikan.
6. Diperkirakan 80 s.d 98 % kegiatan bisnis di dunia dilakukan oleh perusahaan
keluarga.
7. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2001, sumbangan perusahaan keluarga
bagi perekonomian Indonesia sebesar 82,44 % dari Produk Domestik Bruto (PDB)
Indonesia.
8. 96 % atau sekitar 159.000 dari sekitar 165.000 perusahaan yang ada di Indonesia
merupakan perusahaan keluarga.
9. Fenomena yang sama juga terjadi pada perekonomian Negara-negara lain di dunia:
 80 % - 98 % bisnis di dunia merupakan usaha keluarga.

Buku Kewirausahaan 60
 Perusahaan keluarga menciptakan 64 % GDP di AS dan diperkirakan perusahaan
keluarga memiliki andil dalam penciptaan GDP.
 Perusahaan keluarga diperkirakan mengerjakan sekitar 80 % pekerja di AS dan
menampung lebih dari 85% pekerja di seluruh dunia.
 Di AS sekitar 85% peluang kerja baru diciptakan oleh perusahaan keluarga.
 Dari total perusahaan-perusahaan besar yang masuk dalam Fortune 500, sekitar
37% merupakan perusahaan keluarga.
 60% dari perusahaan-perusahaan yang go public di AS adalah perusahaan keluarga.
 Lebih dari 80% bisnis di Eropa dan AS merupakan perusahaan bisnis yang
dilakukan oleh keluarga.
 42,68% perusahaan Jepang yang terdaftar tahun 2003 merupakan perusahaan
keluarga.
 Di India perusahaan keluarga memegang peranan penting dalam perekonomian
Negara.
 Di Timur Tengah, 98% dari kegiatan komersial di Negara Saudi Arabia, Kuwait,
dan hamper seluruh negara di kawasan Teluk Persia merupakan usaha keluarga.
 Sekitar 67% dari seluruh perusahaan swasta di Australia memperkerjakan lebih
dari 50% angkatan kerja.
 Di Jerman, sektor manufakturnya didominasi oleh perusahaan multinasional besar
dan sebanyak 90.431 dari 107.094 perusahaan yang ada dimiliki keluarga dan
dipimpin oleh anggota keluarga.
10. Tidak pelak lagi, perusahaan keluarga juga merupakan badan usaha yang dapat
dikelola secara professional dan berkembang menjadi usaha kelas dunia dengan
segala pencapaiaan kinerjanya yang tidak kalah dengan perusahaan-perusahaan non
keluarga. Mereka berkembang dengan menggunakan dasar manajemen modern
dalam pengelolaan organisasinya dan telah terbukti mampu bertahan dalam berbagai
terpaan krisis ekonomi di dunia.

Buku Kewirausahaan 61
B.PERUSAHAAN KELUARGA DI BELAHAN DUNIA

1. Negara-negara besar dengan perekonomian yang kokoh sebagian besar ditopang oleh
struktur perusahaan keluarga yang kokoh dan berkesinambungan dari generasi ke
generasi.
2. Jepang, Jerman, Perancis, Italia, Inggris, AS, dan Negara-negara besar lainnya
memiliki tradisi perusahaan keluarga yang sudah ada sejak ratusan bahkan ribuan
tahun.
3. Jepang memiliki ratusan perusahaan yang melampaui usia 100 tahun hingga lebih dari
300 tahun.
Kelanggengan perusahaan keluarga ini didasari oleh etika bisnis sejak abad 17 yang
menempatkan keluarga atau rumah tangga sebagai bisnis unit sosial yang kemudian
menjadi dasar prinsip-prinsip korporasi, maka tak heran banyak perusahaan keluarga
di Jepang terus berkembang, mampu melewati konflik dan memberi kontribusi besar
bagi pendapatan negara selama beratus-ratus tahun.
4. Di Jerman perusahaan keluarga mendominasi status kepemilikan perusahaan yang ada
di Negara itu. 95% perusahaan adalah perusahaan keluarga dan menciptakan 41,5%
volume penjualan dari seluruh bisnis serta membuka 57% lapangan kerja. Pada tahun
2009 ada 500 perusahaan keluarga terbesar di jerman memperkerjakan 2,21 juta
pekerja baru atau menyerap tenaga kerja sebesar 4% dari jumlah penduduk.
5. Di AS, saat Negara adijaya itu dihantam krisis ekonomi di awal 2009, beberapa
perusahaan keluarga menunjukkan kedigdayaannya. Mereka terbukti mampu bertahan
di bawah tekanan krisis, bahkan berhasil menaikkan pendapatan mereka.
6. Di Indonesia, perusahaan keluarga rata-rata relatif masih sangat muda. Hanya sedikit
sekali yang sudah berada pada generasi kedua, apalagi ketiga. Sebagian besar kandas
di generasi pertama ke generasi kedua. Hal ini tentu tidak saja berimbas pada
keluarga, tetapi juga berimbas bagi perekonomian negara.

Buku Kewirausahaan 62
C.KARAKTER PERUSAHAAN KELUARGA (PK)

1. Menganut nilai-nilai yang diwariskan


PK yang ideal terdiri atas keluarga-keluarga yang memahami nilai-nilai dan prinsip-
prinsip dasar yang diwariskan dari pendiri atau pendahulunya. Nilai-nilai itu tercermin
dalam setiap keputusan dan kegiatan bisnis. Keluarga Mogi (produsen Kikoman Soy
Sauce, kini sudah di generasi ke-17). Bisnis keluarga ini pada akhir abad ke-18 telah
memiliki 16 prinsip dasar, contoh butir ke-15 adalah soal kerendahan hati….jangan
pernah sombong. Nilai-nilai ini digunakan untuk membantu untuk mengambil
keputusan penting yang terkait dengan:
 strategi,
 truktur,
 diversifikasi,
 budaya perusahaan,
 rekrutmen karyawan,
 tata kelola,
 suksesi kepemimpinan.
2. Performa finansial yang kuat
PK tidak hanya berfikir mengenai untung semata. Ada aspek sosial yang muncul dari
sifat hubungan antar anggotanya. Sukses PK tidak semata diukur dari keuntungan,
tetapi diukur dari kiprah di tiga bidang yaitu:
 ekonomi,
 lingkungan, dan
 memberdayakan komunitas.
3. Membangun tata kelola yang khas
Tujuan PK adalah:
 membangun bisnis yang hebat

Buku Kewirausahaan 63
 sekaligus membentuk keluarga yang tetap utuh.
Dua hal ini tidak mungkin terwujud kalau tidak ada tata kelola yang baik yang dapat
mengakomodasi kepentingan bisnis dan kepentingan keluarga.
4. Partisipasi aktif keluarga
PK akan bertahan lama jika:
 diindikasikan makin banyaknya anggota keluarga yang terlibat dan berpartisifasi
aktif.
 anggota keluarga bukannya hanya menerima lembaran saham dan menunggu
deviden tiap tahunnya, tapi juga harus bekerja keras di bidangnya.
5. Manajemen keuangan yang konservatif
Banyak PK sukses dengan manajemen keuangan yang baik. Mereka berutang sedikit
sekali, mereka sangat berhati-hati dalam mengembangkan bisnisnya.Mereka cendrung
bersabar mengumpulkan kafital dan mengendalikan keuntungan bisnisnya untuk
penambahan modal usaha.
6. Manajemen paradok
Banyak PK yang paradok “kepentingan bisnis dan keluarga”. Misal: bagaimana
mengatur gaji anggota keluarga di perusahaan: berdasarkan performa kerja atau
kebutuhan hidupnya?. Hanya PK yang mampu mengelola paradoks ini akan mampu
mengunguli perusahaan lain. Tidak ada istilah “family first atau business first” artinya
yang satu tidak boleh mengalahkan yang lain.
7. Perencanaan yang selalu kontekstual dengan “kepemimpinan dan kepemilikan”
Kalau menginginkan PK sukses harus mempunyai rencana jangka panjang yang
dituangkan dalam:
 visi,
 misi,
 tujuan,
 sasaran, dan

Buku Kewirausahaan 64
 strategi.
Kenyataannya banyak PK tidak memiliki rencana jangka panjang.

Manajemen Menurut Model JB. Whittaker


Manajemen strategik adalah:
suatu proses untuk selalu menempatkan posisi organisasi pada titik yang
strategik, sehingga dalam perjalanan perkembangan selanjutnya organisasi ini
terus mendapatkan keuntungan kemakmuran (prosper).

Manajemen strategik terdiri atas 2 bagian, yaitu:


1) Perencanaan strategik (strategic planning)
2) Manajemen kinerja (performance management).

Perencanaan strategik terdiri atas 4 komponen :


 Komponen ke-1 : Visi, Misi, dan Nilai
 Komponen ke-2 : Analisis Lingkungan Internal (ALI), Analisis Lingkungan
Eksternal (ALE),
 Komponen ke-3 : Analisis Strategik dan Faktor Penentu Keberhasilan.
 Komponen ke-4 : Tujuan, Sasaran dan Strategi.

Perumusan Komponen ke-1


1) Visi
 Visi adalah gambaran masa depan organisasi (cita-cita masa depan organisasi)
yang dipilih dan hendak diwujudkan pada suatu saat tertentu.
(Jangka waktu menetapkan visi biasanya 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun).
 Visi merupakan suatu kondisi ideal tentang masa depan organisasi yang
realistik, dapat dipercaya, meyakinkan , dan mengandung daya tarik.

Buku Kewirausahaan 65
 Kata kunci yang dibuat dalam visi, misalnya: pelayanan prima, partisipasi
publik, kesejateraan berkeadilan, dll.
2) Misi
Misi adalah cara-cara yang digunakan untuk mencapai visi. Atau kegiatan spesifik
apa yang harus dilakukan untuk mencapai visi.
3) Nilai
Nilai individu dan nilai organisasi sangat menentukan keberhasilan misi maupun
visi.
Nilai sepenuhnya dijabarkan dalam sikap dan atau perilaku sehari-hari.
Beberapa nilai penting:
(1) Togetherness, bekerja dalam kebersamaan jauh lebih baik daripada bekerja
sendiri-sendiri.
(2) Empathy, memahami dan ikut merasakan masalah yang dihadapi orang lain.
(3) Assist, kesediaan untuk selalu memberikan bantuan secara iklas.
(4) Maturity, kematangan dalam mengatasi permasalahan maupun tantangan.
(5) Willingness, kesediaan bekerjasama berdasarkan persahabatan atau
kooperatif.
(6) Organizational, berprilaku secara organizational yakni interaksi satu sama
lain dalam memecahkan masalah ataupun krisis.
(7) Respect, saling menghormati/menghargai terhadap sesama.
(8) Kindness, berprilaku santun, rendah hati, dan selalu memberikan kesejukan
dalam setiap pertemuan.
(9) Integrity, menanamkan rasa hormat kepada orang lain.
(10) Inovative, menjaga dan melanjutkan tradisi inovasi.
(11) Advantage, keunggulan, keyakinan untuk selalu menjadi yang terbaik.
(12) Wisdom, kearifan dan bijaksana.
(13) Flexibility penyesuaian.

Buku Kewirausahaan 66
Perumusan Komponen ke-2
Analisis Lingkungan Internal – Eksternal
Dalam membuat suatu perencanaan yang benar, maka diperlukan keadaan lingkungan
internal dan eksternal. Menganalisis lingkungan internal dan eksternal dikenal analisis
SWOT.
Tujuan analisis tersebut, untuk memanfaatkan kekuatan dan memahami kelemahan
intern (internal), serta peluang dan ancaman yang berasal dari ekstern (ekternal),
sehingga dapat mengantisipasi perubahan-perubahan dimasa mendatang, agar tujuan
tetap dapat terwujud.

Analisis SWOT
1). Lingkungan Internal
 Strenght (Kekuatan)=S
Faktor-faktor kekuatan atau keunggulan suatu organisasi.
 Weakness (kelemahan) =W
Faktor-faktor kelemahan suatu organisasi yang mengakibatkan organisasi tidak
dapat mencapai tujuannya.
ALI meliputi: kondisi, situasi, keadaan, peristiwa, dan pengaruh-
pengaruh didalam organisasi.
2). Lingkungan Eksternal
 Opportunities (peluang) =O
Faktor-faktor yang bersifat positif yang berasal dari luar organisasi, yang dapat
menguntungkan organisasi.
 Threats (tangtangan/ancamat) = T
Faktor-faktor yang mengancam organisasi yang berasal dari luar, yang
menyebabkan organisasi gagal dalam mencapai tujuannya.
ALE meliputi:

Buku Kewirausahaan 67
(1) Ekonomi;
(2) Teknologi (kemajuan teknologi membawa perubahan gaya hidup);
(3) Sosial budaya (prilaku, nilai-nilai budaya, keterbukaan);
(4) Agama;
(5) Ekologi/lingkungan fisik ;
(6) Politik (kebijaksanaan pemerintah);
(7) Hukum dan keamanan;
(8) Pesaing (banyaknya perguruan tinggi bermunculan dan menawarkan jasa);
(9) Konsumen eksternal (pengguna lulusan).

Bila dianalisis adalah organisasi sekolah/perguruan tinggi, maka komponen yang


dianalisis adalah:
(1) Lulusan
(2) Proses Belajar Mengajar
(3) Mahasiswa
(4) Manajemen dan Organisasi
(5) Staf Akademik dan Karyawan
(6) Fasilitas fisik
(7) Laboratorium
(8) Perpustakaan
(9) Kurikulum
(10) Dana
Pertanyaan: Komponen apa yang harus dianalisis untuk PK?

Perumusan Komponen ke-3


Faktor-faktor Penentu Keberhasilan (FPK)

Buku Kewirausahaan 68
FPK adalah faktor-faktor yang berfungsi untuk memfokuskan strategi dalam mencapai
misi dan tujuan secara efektif.

Matrik Analisis
Untuk merumuskan FPK, perlu dilakukan langkah-langkah telaah strategi yang
berupa kegiatan ALI-ALE.

Matrik 1. Analisis SWOT

Strength (kekuatan) = S Weaknesses


Susun Daftar (rangking) (kelemahan)=W
Internal 1……………………………. Susun Daftar(rangking)
2…………………………… 1………………………
2………………………
…..
Opportunities (peluang) =O Threats
Eksternal 1……………………………. (tangtangan/ancaman) =
2……………………………. T
3. dst 1………………………
….
2………………………

Buku Kewirausahaan 69
Matriks 2. Telaah Strategi

Strategi SO Strategi WO
Pakai kekuatan untuk memanfaatkan Tanggulangi kelemahan dengan
peluang memanfaatkan peluang
1………………………………. 1…………………………
2………………………………. 2…………………………
Strategi ST Strategi WT
Pakai kekuatan untuk menanggulangi Perkecil kelemahan dan hindari
tantangan, atau mengubahnya menjadi tantangan
peluang 1……………………………
1…………………………….. 2……………………………
2……………………………..
Menetapkan urutan FPK

Strategi Keterkaiatan dengan


1 Visi Misi Nilai
Strategi SO
1……………….…….
2……………………..
Strategi WO
1…………………….
2……………………..
Strategi ST
1…………………….
2…………………....

Buku Kewirausahaan 70
Strategi WT
1………………..…..
2………………..…..

8. Diversifikasi dan pertumbuhan yang dinamis


Bisnis terkait dengan ide dan peluang, tidak pasif, secara terus menerus sisi mana
yang terus dikembangkan:
 produk,
 proses,
 layanan,
 business models,
 promosi,
 distribusi, dan
 tata kelola.
9. Menggabungkan antara keluarga dan non keluarga
Kompetensi yang tidak dimiliki anggota keluarga bisa diisi oleh non keluarga,
sehingga dapat menularkan kaidah-kaidah dan disiplin bisnis dalam keluarga.
10. Suksesnya ditentukan oleh berapa lama mampu bertahan
PK yang sukses bila;
 mampu bertahan selama lebih dari 3 (tiga) generasi.
 PK ini mampu mengelola paradoks,
 tidak terpengaruh krisis ekonomi dan krisis SDM,
 semangat keluarga dan nilai-nilai perusahaan mampu membuatnya survive.

Buku Kewirausahaan 71
D.KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PK

Avantages Disadvantages
Ownership identity  memiliki visi,  Cendrung sempit
 kominmen dan dalam berpandangan
 nilai-nilai yang kuat.  Cepat puas pada
pencapaian tertentu.
Intergenerational  Punya pandangan  Pengelolaan tidak
transmission jangka panjang hati-hati mudah jatuh
 Sangat peduli akan  Mengambil
keberlangsunagan keputusan yang salah
 Memikirkan pihak lain  Menjual PK ke pihak
lain
Loyalty, team work,  Lebih loyal  Rawan konflik
flexibility  Punya dasar kuat  Cendrung rawan
dalam bekerja tim dikendalikan dan bias
 Mudah menyesuaikan
diri
Diversity, renewal,  Mampu berkembang  Jatuh karena komplik
pragmatism dlm keberagaman  Tak stabil
 Pragmatis pd  Cendrung anti sosial
perkembangan jaman  Memperkerjakan
 Mewariskan hal-hal anggota yang tidak
yang bertendensi pada kompeten
hal-hal baru

Buku Kewirausahaan 72
E.KELEMAHAN PK

1. Tata kelola yang bersifat informal dan kurangnya perencanaan.


2. Kurangnya anggaran pemasaran dan riset pasar, pelatihan dan kualifikasi.
3. Keuangan.
4. SDM dan karyawan dari kalangan keluarga.

F.SUSTAINABILITAS PK

Data PK di Australia (2003): sekitar 71 % dimiliki Generasi ke-1, hanya 20% oleh
generasi ke-2, tinggal 9% yang dimiliki generasi ke-3.
Data (1997) di AS: Kekayaan generasi ke-1: 690 juta dollar AS, kekayaan generasi ke-2
menurun menjadi 293 juta dollar AS, dan kekayaan generasi ke-3 tinggal 170 juta dollar
AS.

Generasi Generasi Generasi ketiga


pertama kedua menghabiskan
mendirikan menikmati atau
menghancurkan

G.TIGA SISTEM PENGELOLAAN PERUSAHAAN KELUARGA (PK)

PK pada intinya terdiri dari tiga unsur yang tidak terpisahkan, yaitu:
1. Unsur keluarga (family)
2. Unsur perusahaan (business)
3. Kepemilikan (ownership)

Buku Kewirausahaan 73
Setiap organisasi, tidak terkecuali PK, merupakan kumpulan dari berbagai pihak. Setiap
pihak memiliki kepentingan masing-masing dan berupaya memaksimalkan kepentingan
tersebut.
PK memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan
non keluarga. Hal ini disebabkan dalam PK pihak-pihak yang terlibat lebih banyak.
Mereka memiliki kepentingan yang harus diperhatikan dan dikelola.
Tiga sistem yang berinteraksi dalam PK:
1. sistem keluarga;
2. sistem perusahaan;
3. sistem kepemilikan, akan memunculkan 7 (tujuh) kelompok manusia yang memiliki
peran dan kepentingannya masing-masing.

Pertama Anggota keluarga  Kelompok ini sangat berperan dan sangat


menjadi pemilik menentukan arah perusahaan, baik dalam
dan juga menjadi operasional sehari-hari maupun dalam
mengelola setiap mengambil kebijakan-kebijakan
strategis.
 Mereka sangat dominan.
 Keputusan-keputusan yang diambil
menjadi veto.
Kedua Anggota keluarga  Kelompok ini relatif pasif dalam urusan
berstatus sebagai perusahaan, tetapi dalam pembagian
pemilik ,tetapi keuntungan seringkali sangat agresif.
tidak ikut  Mereka sangat mendominasi dan sangat
mengelola berpengaruh dalam menentukan para
profesional yang bekerja di perusahaan itu.

Buku Kewirausahaan 74
Ketiga Anggota keluarga  Kelompok ini bisa saja ipar, keponakan,
bukan pemegang adik, dll (family employee).
saham, tetapi ikut  Bagi perusahaan menerapkan tata kelola
pengelola. yang baik (good corporate govermance),
kelompok ini bisa sangat positif.
 Bagi perusahaan yang tidak menerapkan
tata kelola yang baik, biasanya family ini
mendapatkan keistimewaan-keistimewaan
tersendiri dan perlakuan lebih, shg sering
merusak tatanan kerja.
Keempat Anggota keluarga  Kelompok ini memang tidak secara
bukan pemilik langsung berinteraksi dengan perusahaan,
saham dan tidak namun sering kali secara informal ikut
ikut mengelola. dalam menentukan kebijakan-kebijakan
perusahaan.
 Seringkali istri dari pemilik ikut dalam
mengambil keputusan.
Kelima Anggota non  Acapkali dalam PK, ada orang yang bukan
keluarga, menjadi anggota keluarga, tetapi memegang saham
pemilik saham dan minoritas. Kepemilikan saham bisa saja
ikut mengelola. terjadi karena keahliaannya, faktor
pertemanan, atau pengurus perusahan
diberi opsi saham oleh pemilik.
 Kelompok ini biasanya memiliki
kepentingan tertentu, shg berbenturan dgn
pemilik perusahaan.

Buku Kewirausahaan 75
Keenam Bukan anggota  Kelompok ini biasanya memiliki
keluarga ikut kepentingan thd keamanan dan tingkat
memiliki pengembalian dari investasi yang
sebagian saham, ditanamkan.
tetapi tidak ikut  Bantuan kepentingan biasanya apabila
mengelola. terjadi ketidak seimbangan antara otoritas
dan reward yang dinikmati oleh para
pengelola atau keluarga pemilik
perusahaan dengan kepentingannya.
Ketujuh Pengelola  Kelompok ini adalah para profesional.
perusahan bukan  Kehadiran para profesioanl sering kali
anggota keluarga membawa dampak positif, namun tidak
dan tidak menutup kemungkinan menimbulkan
memiliki saham masalah karena perbedaan kepentingan dan
harapan thd pemilik perusahaan.

Buku Kewirausahaan 76
SISTEM PENGELOLAN PK

KUADRAN I KUADRAN II

KUADRAN III KUADRAN IV

Kuadran Sistem Pengelolaan PK


I  Keluarga yang punya saham kecil, keterlibatannya juga
minim
 Semua pemegang saham pasif
 Pengelolaan diserahkan kepada orang yang profesional

Buku Kewirausahaan 77
II  Keluarga yang punya saham sedikit, tetapi mempunyai
aktivitas yang tinggi.
 Terjadi singgungan antara kepentingan dan nilai-nilai
keluarga sangat kental.
 Governance dan atmosfir yang ada pada PK sangat
tergantung pada nilai-nilai dan governance yang ada
pada keluarga selaku pemegang saham.
III  Keluarga yang pemegang sahamnya dari banyak
keluarga
 Sebagian besar aktif
 Timbul kekuatan kelompok, shg timbul fraksi-fraksi.
IV  Pemegang saham banyak keluarga
 Sebagian atau semua pemegang saham pasif (tidak
terlibat).
 Pengelolaannya diserahkan kpd profesional.
 PK ini tidak jauh beda dengan perusahan publik.
 PK yang bertahan s.d generasi ke-4 menggunakan tata
kelola seperti ini.

Buku Kewirausahaan 78
H.RAHASIA SUKSES INVESTASI

Syarat sukses dalam berinvestasi:


Pertama, mulai berinvestasi.
Kedua, memiliki uang untuk diinvestasikan.
Ketiga, imbal hasil yang baik.
Keempat, memiliki waktu yang cukup.
Rahasia Investasi
Kita tidak akan membahas cara cepat menjadi miliarder, tetapi lebih jauh tentang esensi
dari cara berinvestasi yang memberikan hasil terbaik. Investasi tidak hanya terbatas pada
keuangan semata, tetapi juga hal lainnya.
Cara berinvestasi untuk menghasilkan hasil terbaik, ada 4 (empat) hal
yang terkandung di dalamnya:
1. Aktivitas investasi itu sendiri;
2. Unsur atau hal yang diinvestasikan;
3. Imbal hasil;
4. Jangka waktu.
Investasi = Pengorbanan
Ketika mendengar kata investasi, pada umumnya yang terpikir adalah bagaimana cara
menanamkan uang untuk mendapatkan nilai yang lebih besar di masa mendatang. Ini
pemikiran yang terlalu sempit.

Makna investasi sebenarnya adalah melakukan pengorbanan saat


sekarang untuk mendapatkan hasil yang lebih besar di masa mendatang.

Buku Kewirausahaan 79
Umumnya seseorang ingin menikmati hasil secepat mungkin, tidak pernah memikirkan
hasil apa yang diperoleh di masa mendatang. Apakah kita memilih menginvestasikan
uang ketimbang belanja agar nilai yang dinikmati lebih besar dikemudian hari?.
 Anak-anak memilih belajar ketimbang bermain, berharap menjadi orang yang lebih
hebat dikemudian hari.
 Intinya, mengorbanan kesenangan hari ini untuk mendapat keuntungan yang lebih
besar dimasa mendatang.
Banyak yang menolak melakukannya, karena menurut mereka hasil
yang akan dipetik dimasa datang belumlah pasti. Argumentasi itu ada
benarnya, akan tetapi lebih pasti lagi adalah tidak akan pernah ada
hasil dimasa mendatang, tanpa pernah ada pengorbanan saat ini.
Benar biji yang ditanam hari ini belum tentu menghasilkan buah seperti
yang diharpkan. Akan tetapi, sudah pasti tidak akan pernah ada buah
dimasa mendatang, kalau tidak ada biji yang ditanam hari ini.

Investasikan yang Paling Berharga


Apa yang paling bernilai atau paling mahal yang kita investasikan?.
Jawabannya bukan uang, akan tetapi sesuai hukum ekonomi, bahwa
semakin langka suatu hal dan semakin besar minat orang atasnya, maka
semakin mahal barang tersebut, jawabnya adalah waktu.

Waktu sifatnya tetap, tidak bisa ditambah atau dikurangi. Siapa yang tidak ingin punya
waktu lebih banyak?. Namun sayang satu hari jatahnya hanya 24 jam, yang paling bikin
rumit, kita tidak pernah tahu berapa sisa waktu yang kita miliki. Oleh karena itu, setiap
waktu yang kita miliki adalah sangat besar nilainya.

Buku Kewirausahaan 80
Karena waktu nilainya sangat tinggi, maka waktu tidaklah boleh dibuang
percuma. Justru waktu sangat cocok untuk kita investasikan agar
mendapatkan hasil yang lebih tinggi lagi.

 Bagaimana caranya?
Temukan bagian dari waktu 24 jam yang Anda miliki, entah dari sebagian waktu yang
biasa dipakai nonton TV, atau waktu buat main, atau waktu yang biasa dipakai untuk
chatting, browsing internit atau dari bagian waktu waktu dari mana saja.
Temukan waktu, lalu korbankan waktu tersebut untuk investasi.
 Diinvestasikan dimana?
Waktu diinvestasikan pada kegiatan yang memberikan imbal hasil dan
multiplier terbesar, yaitu pembelajaran.

Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, tata nilai, dan Ilmu
pengetahuan. Ilmu pengetahuan inilah yang memberikan imbal hasil besar dan berlipat-
lipat.
Ilmu adalah kunci untuk memberikan imbal hasil yang terbesar

 Untuk memndapatkan ilmu ada beberapa proses pembelajaran dengan biaya yang
berbeda. Paling besar biayanya adalah belajar melalui proses trial and eror. Melalui
proses ini, pada akhirnya ilmu bisa diperoleh, akan tetapi setelah melewati berbagai
percobaan dan kesalahan yang memekan waktu dan biaya besar.
 Proses pembelajaran dengan waktu yang lebih sedikit dan biaya paling murah adalah
melalui proses pendidikan, kursus, seminar, magang, membaca buku, bertanya kepada
ahlinya, mencari info/bergaul kepada orang yang telah sukses. Semakin banyak ilmu
yang diperoleh melalui pembelajaran, maka semakin besar pula imbal hasil atau
multiplier yang dihasilkan.
Buku Kewirausahaan 81
Jangka Waktu Berinvestasi

Sekarang kita telah mengetahui untuk mendapapatkan hasil butuh


pengorbanan. Pengorbanan terbaik adalah waktu, dan untuk
mendapatkan imbal hasil terbesar adalah melalui pembelajaran.

Komponen terakhir yang menentukan jumlah hasil investasi adalah lama jangka waktu
investasi. Semakin lama jangka waktunya, maka semakin besar akumulasi jumlahnya.
Ilustrasinya:
 Jika kita ingin menanam pohon jagung, maka membutuhkan waktu 4
bulan, akan tetapi kalau kita ingin mendapatkan getah karet, maka
perlu butuh waktu 6 tahun. Intinya, untuk mendapatkan hasil investasi
yang bagus harus ada proses yang mesti dilalui dan masa yang dijalani.
 Semakin besar keinginan yang kita capai, maka semakin lama waktu
yang dibutuhkan. Tidak ada hasil baik yang didapatkan secara mudah.
 Contoh: Bila kita menabung Rp.10.000 per hari, dengan asumsi imbal
hasil rata-rata 5 % per tahun, maka investasi kita akan sukses dalam
waktu 55 tahun. Kelamaan?. Kalau begitu naikan tabungan per hari
menjadi Rp.50.000, dengan imbal hasil yang sama 5 %, maka
kesuksesan r akan kita peroleh dalam waktu lebih singkat, 27 tahun.
Masih terlalu lama?. Naikkan lagi imbal hasil rata-ratanya sehingga
menjadi 10 % per tahun, dengan tabungan Rp.50.000 , maka dalam
waktu hanya 19 tahun kita mencapai sukses dalam berinvestasi.
Kesimpulan:

Buku Kewirausahaan 82
Sukses berinvestasi ditentukan oleh:
1. Pengorbanan waktu.
2. Harus melalui proses pembelajaran.
3. Lama waktu berinvestasi.
4. Ada uang diinvestasikan.

I.TIPS MEMULAI BISNIS YANG SUKSES

Sepuluh langkah untuk membantu entrepreneur menyusun bisnis dan membuat sukses:
1. Kerjakan apa yang Anda sukai.
Anda akan mencurahkan banyak waktu dan energi untuk memulai sebuah bisnis dan
membangunnya menjadi usaha yang berhasil, jadi sangat penting bahwa Anda sangat
menikmati secara mendalam apa yang Anda kerjakan.
2. Mulai bisnis Anda, ketika Anda masih bekerja.
Maksudnya, walaupun sudah ada karyawan yang mengatur tugas sesuai job desc,
akan lebih baik Anda tetap bekerja di tempat usaha Anda sendiri. Setidak-tidaknya
Anda harus melakukan kontrol terhadap usaha Anda.
3. Jangan kerjakan hal tersebut sendirian.
Anda membutuhkan dukungan, ketika memulai bisnis (dan setelahnya) dari orang
lain. Anggota keluarga atau teman yang mempunyai pengalaman dibidang bisnis
dapat Anda jadikan sumber masukkan.
4. Dapatkan klien atau pelangan.
Jangan menanti sampai Anda telah secara resmi memulai bisnis juga belum
mempunyai pelangan. Kembangkan jaringan (nework).
5. Tulis perencanaan bisnis.

Buku Kewirausahaan 83
Membuat prencana sangat penting agar tidak banyak menghabiskan waktu dan uang,
serta dapat memberikan arah.
6. Lakukan survei atau riset.
Sebelum memulai bisnis adakan survei terlebih dahulu. Setelah itu, berhubunganlah
dengan orang-orang lain yang telah sukses berbisnis.
7. Dapatkan bantuan profesional.
Minta bantuan kepada orang lain yang profesional sesuai bidangnya. Misalnya dalam
mencari perizinan, membuat kontrak, akuntan, dll. Jika tidak, banyak waktu dan
tenaga Anda akan terbuang.
8. Dapatkan uang.
Cara mendapatkan modal: orang tua, pinjaman dari keluarga, melaui kerja sama
dengan orang lain, dari bank (setelah bisnis jalan dan ada badan usaha).
9. Berusahalah menjadi profesional seawal mungkin.
Segala sesuatu tentang Anda dan cara Anda menjalankan bisnis membuat orang lain
tahu bahwa Anda seorang yang profesional dalam menjalankan bisnis yang serius.
10. Taat hukum.
Pelajari kewajiban pajak dan hukum tentang bisnis.

J.HAL-HAL SEHARUSNYA TIDAK DILAKUKAN

1. Berfikir meninggalkan pekerjaan sebelum menyelesaikan rencana-rencana bisnis.


2. Berfikir memulai sebuah bisnis dalam lingkungan yang tidak disukai.
3. Bersaing dengan karyawan dalam bisnis sambilan yang dijalankan.
4. Tergesa-gesa dalam memulai bisnis.
5. Memilih bisnis yang sangat berisiko tinggi.
6. Memilih bisnis, dimana harus memiliki harga terendah untuk sukses.
7. Mengabaikan aspek-aspek negatif pada bisnis yang dikehendaki.
8. Sangat menyanjung konseptual atau teori, sehingga tidak dapat ndirealisasikan.

Buku Kewirausahaan 84
9. Ragu-ragu melangkah. Dari ide yang jelas, banyak yang membilang bahwa ide itu
bagus, namun Anda tetap ragu-ragu.
10. Tidak tahu kemana harus belajar. Sekarang era internet, Anda bisa bertanya melaui
email dan search di Google.
11. Menunggu patner. Besar kemungkinan hanya Anda sendiri yang yakin akan peluang
itu. Anda bersyukur bila keluarga Anda merenstui apalagi sahabat.
12. Tidak mendapat dukungan dari orang lain. Apakah Anda tetap yakin akan peluang
itu, walaupun Anda sendiri yang mengerjakannya?.
13. Investasi dulu, lalu ,menunggu hasil. Ini cara yang bisa dilakukan, lalu kemana harus
mencari konsumen. Sebaliknya mencari konsumen dulu, dapatkan kontak kerja,
dapatkan uang muka (down payment) setelah itu baru mulai hal-hal selanjutnya.
14. Sewa kantor atau ruko dulu merupakan kesalahan terbesar, karena sebenarnya
tempat mengikuti pasar.
15. Menunggu modal terkumpul. Parahnya Anda juga tidak tahu berapa modal yang
harus terkumpul, ditambah lagi pada setiap bulannya tidak ada tabungan. Lantas
bagaimana bisa memulai bisnis?.

K.PENYEBAB KEGAGALAN

1. Latar belakang keturunan yang tidak menguntungkan.


2. Kurangnya tujuan hidup yang ditetapkan dengan baik.
3. Kurangnya ambisi untuk mencapai sasaran di atas rata-rata.
4. Pendidikan yang tidak cukup.
5. Kurangnya disiplin pribadi.
6. Kesehatan yang buruk.
 Terlalu banyak memakan makanan yang merugikan kesehatan.
 Kebiasaan berfikir yang salah, memberi ekspresi kepada hal-hal negatif.
 Terlalu banyak memanjakan diri dan melakukan penyimpangan dalam seks.

Buku Kewirausahaan 85
 Kurangnya latihan olah raga yang semestinya.
 Kurangnya persediaan udara segar karena lingkungan yang buruk.
7. Pengaruh lingkungan yang tidak menguntungkan di masa kanak-kanak.
8. Suka menunda-nunda.
9. Kurang tekun.
10. Kepribadian negatif.
11. Kurangnya pengendalian seksual.
12. Keinginan tak terkendali untuk mendapatkan sesuai tanpa mau mengorbankan apa
pun.
13. Kurangnya kekuatan mengambil keputusan yang pasti.
14. Satu atau lebih dari enam ketakutan dasar.
15. Pilihan teman hidup yang keliru.
16. Terlalu berhati-hati.
17. Pilihan rekan bisnis yang keliru.
18. Percaya kepada takhayul dan berprasangka.
19. Pilihan kejuruan yang keliru.
20. Kurangnya konsentrasi terhadap usaha.
21. Kebiasaan terlalu boros.
22. Kurang antusias.
23. Tidak punya tenggang rasa.
24. Tidak mempunyai pola hidup sederhana.
25. Ketidakmampuan bekerja sama dengan orang lain.
26. Pemilikan kekuasaan yang tidak diperoleh melalui usaha sendiri.
27. Ketidakjujuran dengan sengaja.
28. Mementingkan diri sendiri dan sombong.
29. Menduga dan bukan berfikir.
30. Kurang modal.

Buku Kewirausahaan 86
31. Lainnya: sebutkan kegagalan-kegalan yang pernah Anda alami yang belum termasuk
dalam nomor di atas.

PERTANYAAN-PERTANYAN ANALISIS DIRI UNTUK INVESTASI

1. Apakah saya telah mencapai sasaran yang saya tetapkan sebagai tujuan hidup ini?
2. Apakah saya memberikan pelayanan dengan kualitas sebaik mungkin yang bisa saya
berikan, atau dapatkah saya meningkatkan bagian-bagian tertentu dari pelayanan
ini?
3. Apakah saya telah memberikan pelayanan dengan kuantitas sebanyak mungkin yang
bisa saya berikan?
4. Apakah saya mempunyai semangat kerja dan hubungan harmonis dengan oranglain
sepanjang waktu?
5. Apakah saya membiarkan kebiasaan suka menunda-nunda menurunkan efisiensi
saya, dan kalau memang demikian, sampai sejauh mana?
6. Apakah saya sudah meningkatkan kepribadian saya, kalau memang demikian, di
bidang apa?
7. Apakah saya sudah gigih mengikuti kerja sesuai rencara sampai membuahkan hasil?
8. Apakah saya mencapai keputusan dengan seketika dan secara pasti pada semua
kesempatan?
9. Apakah saya membiarkan salah satu atau lebih dari enam ketakutan dasar
menurunkan semangat saya?
10. Apakah saya terlalu berhati-hati, atau kurang hati-hati?
11. Apakah hubungan saya dengan rekan sekerja menyenangkan, atau tidak
menyenangkan?. Kalau memang tidak menyenangkan, apakah kesalahan itu
sebagian atau seluruhnya berada pada pihak saya?
12. Apakah saya membuang-buang waktu, uang, dan tenaga karena kurangnya
konsentrasi pada usaha?

Buku Kewirausahaan 87
13. Apakah saya berfikiran terbuka dan punya tenggang rasa dalam segala hal terhadap
orang lain?
14. Di bidang kemampuan apa saja saya telah meningkatkan kemampuan untuk
memberikan pelayanan?
15. Apakah saya belum menampilkan hidup sederhana dalam keseharian saya?
16. Apakah saya memperlihatkan secara terang-terangan atau diam-diam, suatu bentuk
sikap mementingkan diri sendiri?
17. Apakah sikap saya kepada rekan-rekan sekerja saya sedemikian rupa sehingga
membuat mereka menghargai saya?
18. Apakah saya bekerja berdasarkan dugaan belaka atau analisis pemikiran?
19. Apakah saya bekerja mengikuti jadwal waktu?
20. Berapa banyak waktu saya gunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat?
21. Bagaimana cara saya mengatur waktu, kebisaan hidup saya agar menjadi lebih baik?
22. Apakah saya berbuat salah, walau tidak sesuai dengan hati nurani saya?
23. DI bidang apa saja saya memberikan pelayanan lebih banyak dan lebih baik
daripada pembayaran yang saya terima?
24. Apakah saya tidak adil kepada seseorang, kalau ya, dalam hal apa?
25. Saya sudah berlangan selama satu tahun, apakah langanan saya telah memuaskan
saya?
26. Apakah saya telah memilih jurusan yang tepat, kalau tidak, mengapa demikian?
27. Apakah pelayanan saya telah memuaskan orang, kalau tidak, mengapa demikian?
28. Bagimana peringkat saya sekarang ini dalam hal prinsip dasar sukses?. Buatlah
peringkat ini dengan jujur.

Buku Kewirausahaan 88
ALUR ELEMEN DASAR PROSES SELEKSI

Teknik Seleksi
Instrumen apa yg tersedia untuk menentukan
apakah pelamar memiliki sifat, karakteristik,
dan keahlian yg dibutuhkan?

Spesifikasi Pekerjaan
Sifat, keahlian, dan kualitas apa yg
berhubungan dgn kinerja yg berhasil?

Kriteria Keberhasilan Pekerjaan


Apa yg membedakan kinerja yg berhasil dgn yg
gagal dan bagaimana keberhasilan itu diukur?

Desain Pekerjaan
Apa tugas dan tanggung jawab karyawan,
pekerjaan apa yg dilaksanakan oleh karyawan?

Tujuan Organisasi
Mengapa organisasi dibentuk, apa tujuan
dan sasarannya?

Buku Kewirausahaan 89
LANGKAH-LANGKAH PROSES SELEKSI PEGAWAI/KARYAWAN

Telaah para pelamar Simpan lamaran


untuk pertimbangan
masa

Wawancara
Diterima/ditolak
saringan
pendahuluan

Formulir lamaran Diterima/ditolak

Wawancara kerja Diterima/ditolak

Tes seleksi Diterima/ditolak

Cek latar belakang Diterima/ditolak

Pemeriksaan fisik Diterima/ditolak

Wawancara
Diterima/ditolak
penyelia

Tawaran pekerjaan Diterima/ditolak

Buku Kewirausahaan 90
Pelamar menerima Diterima/ditolak

Penempatan
Tawarkan kpd Rekrutmen
pelamar kembali

Buku Kewirausahaan 91
DAFTAR PUSTAKA

Buchari Alma. 2005. Kewirausahaan untuk Mahasiswa dan Umum. Cetakan


Kesembilan. Alfabeta :Bandung

Karl T. Ulrich, Steven D. Eppinger.2000. Product Design and Development.Edisi


Kedua:McGraw-Hill.

Moko P. Astamoen. 2005. Entrepreneurship dalam Perspektif Kondisi Bangsa


Indonesia.Alfabeta: Bandung

Umar Husien.1999. Studi Kelayakan Bisnis (Manajemen, Metode, dan Kasus). Gramedia
Pustaka Utama.

Heflin Frinces.2004. Kewirausahaan dan Inovasi Bisnis. Darussalam: Yogyakarta.

Eddy Suyanto Soegoto.2004.Entrepreneuership Menjadi Pebisnis Untung.


Gramedia:Jakarta.

K.Bertens.2000.Pengantar Etika Bisnis.Kanisus:Yogyakarta

Kotler Philip, Keller Kevin Lane.2008.Marketing Manajemen. Pearson Education inc.


New Jersey.USA

Mardiyatno.2008.Kewirausahaan.Yudhistira:Surakarta.

Retno Dewanti.2008.Kewirausahaan.Mitra Wacana Media.Jakarta.

Buku Kewirausahaan 92
Buku Kewirausahaan 93