Anda di halaman 1dari 17

BAB IV.

KADAR AIR (MOISTURE CONTENT)

4.1. Maksud dan Tujuan


4.1.1. Maksud
Adapun maksud dari praktikum ini adalah mengetahui bagaimana metode-metode
yang dilakukan dilaboratorium untuk menentukan kadar air dari suatu bahan atau
sampel.

4.1.2. Tujuan
Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah sebagai berikut :
 Mengetahui apa itu kadar air.
 Mengetahui bagaimana cara menentukan kadar air pada suatu bahan atau
sampel yang diuji.

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-1


4.2. Dasar Teori
Air adalah senyawa gabungan antara dua atom hidrogen dan satu atom oksigen
menjadi H2O. Air merupakan zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua
bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet
lain.
Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui
sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71%
permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik air (330 juta mil³) tersedia
di Bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es
(di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan,
hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air dan lautan es.
Air dalam objek-objek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu melalui
penguapan, hujan dan aliran air di atas permukaan tanah (run off, meliputi mata
air, sungai, muara) menuju laut. Air bersih penting bagi kehidupan manusia.
Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah
mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus
sebagai penopang akar.

Gambar 4.1. Siklus air

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-2


Air merupakan kebutuhan hidup yang sangat vital bagi kehidupan manusia dan
makhluk hidup lainnya. Dapat dikatakan air merupakan sumber daya yang
terbatas. Selama ini kebutuhan manusia akan air sangatlah besar. Jika kita melihat
dari segi penggunaan, maka air tidak pernah lepas dari segala aspek
kehidupan manusia. Mulai dari hal kecil, seperti air minum untuk melepas dahaga
hingga kincir air yang dimanfaatkan sebagai penghasil energy listrik. Dari segi
keberadaannya pun ada bermacam-macam jenis air. Adapun pengertian air
menurut beberapa ahli, yaitu :
 Air adalah senyawa gabungan antara dua atom hydrogen dan satu atom
oksigen menjadi H2, (Sitanala Arsyad).
 Air adalah salah satu sumber energy, (Effendi).
 Air merupakan material yang membuat kehidupan terjadi di bumi, (Robert J.
Kodoatie).
 Air merupakan zat yang paling esensial dibutuhkan oleh makhluk hidup,
(Roestam Sjarief).
 Air adalah dasar dari suatu kehidupan dan merupakan satu unsur yang
dibutuhkan dalam kehidupan hingga manusia pun sangat menantikan
kedatangannya, (Sayyid Quthb).
 Air merupakan suatu senyawa kimia sederhana yang terdiri atas 2 atom
hidrogen (H) dan 1 atom Oksigen (O). Air mempunyai ikatan Hidrogen yang
cenderung bersatu padu untuk menentang kekuatan dari luar yang akan
memecahkan ikatan-ikatan ini, (Eko Budi Kuncoro).
 Air merupakan substansi yang mempunya ikeistimewaan sebagai penghantar
panas yang sangat baik, sehingga air di dalam tubuh lebih penting dari
makanan, (Bambang Agus Murtidjo).

 Sifat-Sifat Air
Air merupakan zat esensial bagi kehidupan. Adapun sifat-sifat yang dimiliki oleh
air yaitu:
 Air dengan rumus kimia H2O adalah benda tak berbau, tak berwarna dan tak
berasa.
 Air mengalir dari tempat yang tinggi menuju permukaan rendah.

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-3


 Air memberi tekanan
Air memberi tekanan maksudnya air akan memberikan tekanan kesegala arah
apabila ada suatu lubang disetiap wadah airnya, Contohnya alat penyiram
tanaman, air akan menekan kesegala arah melalui lubang air, Sedangkan
tekanan yang diberikan oleh air bisa beragam tergantung dari letak
lubangnya.
 Kapilaritas
Kapilaritas adalah kemampuan zat cair untuk meresap melalui celah-celah
kecil. Contohnya kain yang dicelupkan sebagian pada bak yang diisi air, kain
akan menyerap air karena kain memiliki celah-celah kecil, kertas tisu yang
digunakan untuk menyerap keringat dan air. Sedangkan contoh untuk bahan
yang tidak dapat diserap air adalah plastik dan alumunium foil kedua benda
itu sangat kedap terhadap air sehingga proses kapilaritas tidak bisa berlaku.
 Bentuk permukaan air selalu tenang dan datar
Bentuk permukaan air selalu tenang dan datar contohnya jika kita
menuangkan air kedalam ember maka kedudukan air akan datar, begitu pula
jika ember di miringkan maka kedudukan air tetap datar. Water pas adalah
contoh dari prinsip bahwa bentuk permukaan air selalu tenang dan datar.
 Melarutkan benda tertentu
Zat cair melarutkan benda tertentu contohnya garam, gula, dapat dilarutkan
oleh air, sedangkan contoh zat yang tidak bisa larut adalah tanah, pasir dan
minyak. Fakor yang mempengaruhi suatu pelarutan benda adalah suhu air
yang tinggi akan lebih cepat melarutkan dari pada suhu air yang rendah,
Kecepatan mengaduk, mengaduk dengan cepat akan lebih cepat pula benda
larut, Anomali air dimana pada suhu 40C volume air menyusut sampai
terkecil namun bila suhu diturunkan kebawah 40C maka volumenya
bertambah.
 Berubah bentuk sesuai pada tempatnya
Air akan berubah-ubah bentuk sesuai dengan wadah yang ditempatinya.
Contoh, apabila air ditempatkan pada botol makabentuknya akan seperti
botol.

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-4


 Air mempunyai berat
Air memiliki berat. Contohnya apabila sebuah ember yang kosong diisi air
hingga penuh maka ember tersebut ketika diangkat akan terasa berat.
 Air dapat berubah wujud
Air memiliki sifat dapat berubah wujud. Contohnya dalam pembuatan es
batu, air yang dibungkus kantong plastik lalu di masukan kedalam kullkas
atau pendingin maka air tersebut lama kelamaan akan berubah wujud dari cair
menjadi padat.
 Dapat mengalami elektrolisis
Molekul air dapat diuraikan menjadi unsur dasar dengan denagn mengalirkan
arus listrik. Proses ini dikenal dengan elektrolisis, yaitu penguraian dua atom
hidrogen penerima elektron dan membentuk gas H2 pada katoda, sementara
empat ion OH‫ ־‬bergabung dan membentuk gas O2 (oksigen) pada anoda. Gas-
gas ini membentuk buih dan bisa dikumpulkan.

 Kadar Air Tanah


Kadar air adalah sejumlah air yang terkandung di dalam suatu benda,
seperti tanah (yang disebut juga kelembaban tanah), bebatuan, bahan pertanian,
dan sebagainya. Kadar air digunakan secara luas dalam bidang ilmiah dan teknik
dan diekspresikan dalam rasio, dari 0 (kering total) hingga nilai jenuh air di mana
semua pori terisi air. Nilainya bisa secara volumetrik ataupun gravimetrik
(massa), basis basah maupun basis kering.
Keadaan air yang terkandung dalam tanah perlu diketahui terutama pada
kedalaman dari permukaan air tanah baik secara musim ataupun bulanan. Tentang
kedalaman permukaan air tanah bias ditentukan melalui sumber-sumber air
setempat, juga melalui lubang-lubang pengeboran air (Kartasapoetra, 1987).
Banyaknya kandungan air dalam tanah berhubungan erat dengan besarnya
tegangan air dalam tanah tersebut. Besarnya tegangan air menunjukkan besarnya
tenaga yang diperlukan untuk menahan air tersebut dalam tanah. Air dapat
menyerap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi dan
gravitasi, karena air higroskopik dan air kapiler (Hardjowigeno, 2003).

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-5


Air terdapat dalam tanah karena ditahan (diserap) oleh massa tanah, tertahan oleh
lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase yang kurang baik. Air dapat
meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-gaya adhesi, kohesi, dan
gravitasi. Karena adanya gaya-gaya tersebut maka air dalam tanah dapat
dibedakan menjadi:
1. Air higroskopis
Air higraskopis adalah air yang diserap tanah sangat kuat sehingga tidak dapat
digunakan tanaman, kondisi ini terjadi karena adanya gaya adhesi antara tanah
dengan air. Air hidroskopik merupakan selimut air pada permukaan butir-butir
tanah (Hardjowigeno, 2010). Jumlahnya sangat sedikit dan merupakan selaput
tipis yang menyelimuti agregat tanah. Air ini terikat kuat pada matriks tanah
ditahan pada tegangan antara 31-10.000 atm (pF 4,0 – 4,7).
2. Air kapiler
Air kapiler adalah air dalam tanah dimana daya kohesi (gaya tarik menarik antara
sesama butir-butir air) dan daya adhesi (antara air dan tanah) lebih kuat dari
gravitasi. Air ini dapat bergerak secara horisontal (ke samping) atau vertikal (ke
atas) karena gaya-gaya kapiler. Sebagian besar dari air kapiler merupakan air yang
tersedia (dapat diserap) bagi tanaman (Hardjowigeno, 2010). Air kapiler ini
menempati pori mikro dan dinding pori makro, ditahan pada tegangan antara 1/3 –
15 atm (pF 2,52 – 4,20). Air kapiler dibedakan menjadi:
 Kapasitas lapangan yaitu kandungan air maksimum yang tersedia untuk
pertumbuhan tanaman. Pengukuran dapat dilakukan dengan membasahi tanah
sampai lewat jenuh kemudian air dibiarkan mengatus bebas karena gaya
gravitasi selama 48 jam. Pada kondisi ini tanah mengandung air maksimum
yang tersedia untuk tanaman. Pori makro terisi udara sedangkan pori mikro
sebagian terisi air yang tersedia ( Sutanto, 2005).
 Titik layu permanen, yaitu kandungan air tanah paling sedikit dan
menyebabkan tanaman tidak mampu menyerap air sehingga tanaman mulai
layu dan jika hal ini dibiarkan mak tanaman akan mati. Pada titik layu
permanen, air ditahan pada tegangan 15 atm atau pada pF 4,2. Titi layu
dipengaruhi oleh tekstur tanah yaitu kandungan lempung. Sedangkan air
tersedia merupakan selisih dari kapasitas lapangan (KL) dan titik layu (WP) .

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-6


Titik layu permanen disebut juga sebagai koefisien layu tanaman. ( Sutanto,
2005 )
3. Air Gravitasi
Air gravitasi merupakan air yang tidak dapat ditahan oleh tanah karena mudah
meresap ke bawah akibat adanya gaya gravitasi. Air gravitasi mudah hilang dari
tanah dengan membawa unsur hara seperti N, K, Ca sehingga tanah menjadi
masam dan miskin unsur hara (Hardjowigeno,1987).
Kandungan air tanah dapat ditentukan dengan beberapa cara. Sering dipakai
istilah-istilah nisbih, seperti basah dan kering. Kedua-duanya adalah kisaran yang
tidak pasti tentang kadar air sehingga istilah jenuh dan tidak jenuh dapat diartikan
yang penuh terisi dan yang menunjukkan setiap kandungan air dimana pori-pori
belum terisi penuh. Jadi, yang dimaksud dengan kadar air tanah adalah jumlah air
yang bila dipanaskan dengan oven yang bersuhu 105°C hingga diperoleh berat
tanah kering yang tetap (Pahlevi, 2003).
Jumlah air yang bergerak melalui tanah berkaitan dengan ukuran pori-pori pada
tanah. Air tambahan berikutnya akan bergerak ke bawah melalui proses
penggerakan air jenuh. Penggerakan air tidak hanya terjadi secara vertikal tetapi
juga horizontal. Gaya gravitasi tidak berpengaruh terhadap penggerakan
horizontal (Ruslan W. 2008).
Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Tanah-
tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada tanah
bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada tanah pasir
umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau
liat. Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman. Ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi: banyaknya
curah hujan atau air irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya
evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan melalui vegetasi),
tingginya muka air tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa kimiawi atau
kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atau lapisan tanah (Basma.
A, 2008).
Air tersedia biasanya dinyatakan sebagai air yang terikat antara kapasitas
lapangan dan koefisien layu. Kadar air yang diperlukan untuk tanaman juga

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-7


bergantung pada pertumbuhan tanaman dan beberapa bagian profil tanah yang
dapat digunakan oleh akar tanaman. Tetapi untuk kebanyakan mendekati titik
layunya, absorpsi air oleh tanaman kurang begitu cepat, dapat mempertahankan
pertumbuhan tanaman. Penyesuaian untuk menjaga kehilangan air di atas titik
layunya telah ditunjukkan dengan baik (Buckman, 1982).
Kadar air tanah dinyatakan dalam persen volume yaitu persentase volume air
terhadap volume tanah. Cara ini mempunyai keuntungan karena dapat
memberikan gambaran tentang ketersediaan air bagi tanaman pada volume tanah
tertentu. Cara penetapan kadar air dapat dilakukan dengan sejumlah tanah basah
dikering ovenkan dalam oven pada suhu 1000 C – 1100 C untuk waktu tertentu.
Air yang hilang karena pengeringan merupakan sejumlah air yang terkandung
dalam tanah tersebut. Air irigasi yang memasuki tanah mula-mula menggantikan
udara yang terdapat dalam pori makro dan kemudian pori mikro. Jumlah air yang
bergerak melalui tanah berkaitan dengan ukuran pori-pori pada tanah. Air
tambahan berikutnya akan bergerak ke bawah melalui proses penggerakan air
jenuh. Penggerakan air tidak hanya terjadi secara vertikal tetapi juga horizontal.
Gaya gravitasi tidak berpengaruh terhadap penggerakan horizontal (Hakim, dkk,
1986).
Menurut Hanafiah (2007) bahwa koefisien air tanah yang merupakan koefisien
yang menunjukkan potensi ketersediaan air tanah, terdiri dari :
a. Jenuh atau retensi maksimum, yaitu kondisi di mana seluruh ruang pori tanah
terisi oleh air.
b. Kapasitas lapang adalah kondisi dimana tebal lapisan air dalam pori-pori
tanah mulai menipis, sehingga tegangan antarair-udara meningkat hingga
lebih besar dari gaya gravitasi.
c. Koefisien layu (titik layu permanen) adalah kondisi air tanah yang
ketersediaannya sudah lebih rendah ketimbang kebutuhan tanaman untuk
aktivitas, dan mempertahankan turgornya.
d. Koefisien Higroskopis adalah kondisi di mana air tanah terikat sangat kuat
oleh gaya matrik tanah
Air tersedia biasanya dinyatakan sebagai air yang terikat antara kapasitas
lapangan dan koefisien layu. Kadar air yang diperlukan untuk tanaman juga

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-8


bergantung pada pertumbuhan tanaman dan beberapa bagian profil tanah yang
dapat digunakan oleh akar tanaman. Tetapi untuk kebanyakan mendekati titik
layunya, absorpsi air oleh tanaman kurang begitu cepat, dapat mempertahankan
pertumbuhan tanaman. Penyesuaian untuk menjaga kehilangan air di atas titik
layunya telah ditunjukkan dengan baik (Buckman and Brady, 1982).
Kadar air dalam tanah dapat dinyatakan dalam persen volume yaitu persen volume
air terhadap volume tanah. Cara ini mempunyai keuntungan karena dapat
memberikan gambaran tentang ketersediaan air pada pertumbuhan pada volume
tanah tertentu. Cara penetapan kadar air tanah dapat digolongkan dengan beberapa
cara penetapan kadar air tanah dengan gravimetrik, tegangan atau hisapan,
hambatan listrik dan pembauran neutron. Daya pengikat butir-butir
tanah inseptisol terhadap air adalah besar dan dapat menandingi kekuatan tanaman
yang tingkat tinggi dengan baik begitupun pada tanah alfisol dan vertisol, karena
itu tidak semua air tanah dapat diamati dan ditanami oleh tumbuhan
(Hardjowigeno, S, 1993).
Kandungan di dalam tanah dapat ditentukan dengan beberapa cara. Sering dipakai
istilah–istilah nisbi, seperti basah dan kering. Kedua – duanya adalah kisaran yang
tidak pasti tentang kandungan air dan karena itu dapat ditafsirkan barmacam –
macam. Begitu pula dengan adanya istilah jenuh dan tidak jenuh. Jenuh
menunjukkan pori–pori penuh berisi air dan tidak jenuh menunjukkan setiap
kandungan air kurang dari jenuh (Hardjowigeno, 1993).
Segera setelah pembasahan, tanah yang dalam dan dreinase baik akan memiliki
lebuh banyak air pada lapisan permukaan daripada di lapisan bawah permukaan.
Dengan demikian gradian potensial tetap ada dan menyebabkan aliran ke bawah
terus berlangsung meskipun setelah infiltrasi permukaan berhenti. Aliran ini
memindahkan air dari horison atas yang lebih basah ke lapisan–lapisan di bawah
yang lebih kering. Hal ini tidak hanya menyebabkan distribusi air yang lebih
seragam dalam profil, tetapi juga memperkecil kandungan air rata–rata yang
menyebabkan hantaran hidrolik dan drainase bertambah kecil. Sesudah dua
sampai tiga hari, laju drainase menjadi sangat lambat dan kandungan air hampir
konstan. Kandungan air pada saat ini dinamakan kapasitas lapang, dan dapat
didefenisikan sebagai jumlah air yang dapat ditahan tanah setelah pembasahan

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-9


dan drainase penuh. Kapasitas lapang diperlakukan sebagai konstanta air tanah,
artinya setiap kali tanah dibasahi dan didrainase, tanah akan menahan kembali
jumlah air (Hardjowigeno, 1993).

 Faktor - faktor yang mempengaruhi kadar air


Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar air tanah adalah tekstur tanah, iklim,
topografi, adanya gaya kohesi, adhesi, dan gravitasi. Tanah-tanah yang bertekstur
pasir, karena butiran butirannya berukuran lebih besar, maka setiap satuan berat
(gram) mempunyai luas permukaan yang lebih kecil sehingga sulit menyerap air
dan unsur hara. Tanah-tanah yang bertekstur liat, karena lebih halus maka setiap
satuan berat mempunyai luas permukaan yang lebih besar sehingga kemampuan
menahan air dan menyediakan unsur hara lebih tinggi. Tanah bertekstur halus
lebih aktif dalam reaksi kimiadibanding tanah bertekstur kasar (Soetedjo dan
Kartasapoetra, 2002).
Faktor tumbuhan dan iklim mempunyai pengaruh yang berarti pada jumlah air
yang dapat diabsorpsi dengan efisien tumbuhan dalam tanah. Kelakukan akan
ketahanan pada kekeringan, keadaan dan tingkat pertumbuhan adalah faktor
tumbuhan yang berarti. Temperatur dan perubahan udara merupakan perubahan
iklim dan berpengaruh pada efisiensi penggunaan air tanah dan penentuan air
yang dapat hilang melalui saluran evaporasi permukaan tanah. Diantara sifat khas
tanah yang berpengaruh pada air tanah yang tersedia adalah hubungan tegangan
dan kelembaban, kadar garam, kedalaman tanah, strata dan lapisan tanah. Daya
pengikat butir-butir tanah Inceptisol terhadap air adalah besar dan dapat
menandingi kekuatan tanaman yang tingkat tinggi dengan baik begitupun pada
tanah Inceptisol karena itu tidak semua air tanah dapat diamati dan ditanami oleh
tumbuh-tumbuhan (Buckman and Brady, 1982).
Banyaknya kandungan air tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air
(moisture tension) dalam tanah tersebut. Kemampuan tanah dapat menahan air
antara lain dipengaruhi oleh tekstur tanah. Tanah-tanah yang bertekstur kasar
mempunyai daya menahan air yang lebih kecil dari pada tanah yang bertekstur
halus. Pasir umumnya lebih mudah kering dari pada tanah-tanah bertekstur
berlempung atau liat. (Hardjowigeno, 1993).

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-10


4.3. Alat dan bahan
4.3.1. Alat
 Cawan berfungsi sebagai wadah dari tanah.
 Neraca analitik berfungsi untuk menimbang bahan yang akan digunakan.
 Oven berfungsi untuk mengeringkan tanah yang basah.

4.3.2. Bahan dan fungsinya


 Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sampel tanah basah
pada mesh 20.

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-11


4.4. Gambar peralatan

Neraca analitik Oven

Cawan Sampel tanah no. 20 mesh

Gambar 3.1. Rangkain alat dan bahan percobaan

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-12


4.5. Prosedur Percobaan
Adapun prosedur percobaan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan alat yang akan digunakan dalam uji kadar air seperti, cawan,
neraca analitik, oven, dan tanah bahan yang akan diuji.
2. Menimbang cawan yang belum terisi material, lalu menuliskan data yang
didapatkan.
3. Mengambil 3 cawan dan di isi dengan tanah mess 20 sebanyak 100 gram.
4. Menimbang kembali cawan yang telah diisi tanah.
5. Memasukkan cawan yang telah diisi tanah ke dalam oven selama 6 jam.
6. Setelah itu timbang kembali tanah yang telah dikeringkan didalam oven dan
masukkan nilai yang telah didapat.

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-13


4.6. Pembahasan
Dari hasil percobaan praktikum ini diperoleh nilai kadar air dan average.
Tabel 4.1. Kadar air
No Keterangan I II II

1 Berat cawan (W1) 78,1 78,7 77,3


2 Berat cawan + tanah basah (W2) 178,1 178,7 177,3
3 Berat cawan + tanah kering (W3) 158,5 158,9 157,5
4 Berat tanah kering (W4) 80,4 80,2 80,2
5 Berat tanah basah (W5) 100 100 100
6 Berat air (Ww) 19,6 19,8 19,8
7 % Kadar air (W6) 19,6 19,8 19,8
8 Average 19,733

Rumus menentukan W4 :

W4 = W3-W1

W4 = Berat tanah kering


W3 = Berat cawan + tanah basah
W1 = Berat cawan

I . W4 = 158,5 – 78,1
= 80,4
II. W4 = 158,9 – 78,7
= 80,2
III. W4 = 157,5 – 77,3
= 80,2

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-14


Rumus menentukan W5 :

W5 = W2-W1

W5 = Berat tanah basah


W2 = Berat cawan + tanah basah
W1 = Berat cawan

I . W5 = 178,1 – 78,1
= 99,9
II. W5 = 178,7 – 78,7
= 100
III. W5 = 177,3 – 77,3
= 100

Rumus menentukan Ww :

Ww = W2-W3

Ww = Berat air
W2 = Berat cawan + tanah basah
W3 = Berat cawan + tanah kering

I . Ww = 178,1 – 158,5
= 19,6
II. Ww = 178,7 – 158,9
= 19,8
III. Ww = 177,3 – 157,5
= 19,8

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-15


Rumus menentukan % kadar air yaitu :

Ww
𝑊6 = × 100 %
𝑊5

W6 = % Kadar air
Ww = Berat air
W5 = Berat tanah basah

19,6
I. W6 = × 100
100

= 19,6

19,8
II. W6 = × 100
100

= 19,8

19,8
III. W6 = × 100
100

= 19,8

𝑊6 𝐼+𝑊6 𝐼𝐼+𝑊6 𝐼𝐼𝐼


Average = 3

19,6+19,8+19,8
= 3

= 19,733

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-16


4.6. Kesimpulan
 Kadar air adalah sejumlah air yang terkandung di dalam suatu benda,
seperti tanah (yang disebut juga kelembaban tanah), bebatuan, bahan
pertanian, dan sebagainya.
 Berdasarkan hasil percobaan praktikum kadar air maka diperoleh data dari %
kadar air yaitu :
W6 I = 19,6 %
W6 II = 19,8 %
W6 III = 19,8 %
Maka average yang diperoleh yaitu 19,733 %

 Apabila di dalam tanah memilki pori – pori yang besar maka tanah akan lebih
mudah menyerap air dan apabila suatu tanah memiliki kadar air yang rendah
atau tanah kering maka akan lebih mudah menyerap air.
 Tanah yang memiliki tekstur liat memiliki pori yang lebih kecil bila
dibandingkan tanah yang memilki tekstur pasir sehingga tanah yang memiliki
tekstur pasir umumnya lebih banyak menyerap air.

ZAHARY SITETONA/15307045 IV-17