Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam bidang farmasi, sering dikombinasikan berbagai konsep ilmu
pengetahuan baik kesehatan, kimia, fisika, maupun mikrobiologi hingga
menghasilkan sediaan farmasi. Untuk mengahasilkan suatu sediaan farmasi,
diperlukan berbagai penerapan teknik, metode, dan prosedur kimia analisis
kuantitatif untuk menganalisis secara kuantitatif terhadap bahan-bahan atau
sediaan yang digunakan dalam farmasi.
Teknik analisis hanya merujuk pada pengukuran dan evaluasi hasil
pengukuran. Metode analisis merujuk pada enetapan kadar senyawa tertentu dan
evaluasi hasil pengukuran, sedangkan prosedur analisis, merupakan serangkaian
proses mulai dari penyiapan sampel sampai evaluasi hasil pengukuran (Gandjar,
2007).
Pada saat ini terdapat berbagai analisis yang dapat digunakan diantaranya
analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif merupakan analisis
untuk melakukan identifikasi senyawa-senyawa yang ada dalam sampel
sedangkan analisis kuantitatif merupakan analisis untuk menentukan jumlah
(kadar) suatu senyawa dalam sampel (Gandjar, 2007).
Titrasi adalah penetapan konsentrasi kadar suatu larutan menggunakan
larutan baku. Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan
menggunakan larutakan baku asam,sedangkan alkalimetri adalah pengukuran
konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa. Oleh sebab itu,
keduanya disebut juga sebagai titrasi asam-basa. Proses ini digunakan dalam
perhitungan untuk menentukan kadar suatu zat berdasarkan perhitungan volume
dengan larutan standar yang telah diketahui kadarnya dengan tepat.
Dalam percobaan ini, yang dilakukan adalah titrasi asam yaitu
menentukan kadar asam cuka (CH3COOH) terhadap larutan baku NaOH dan
titrasi basa yaitu menentukan kadar Metil Paraben (C8H8O3) terhadap larutan baku
HCl dengan menggunakan indikator Metilen red.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaiamana cara menentukan kadar senyawa basa dengan menggunakan
larutan baku asam?
2. Bagaimana cara menentukan kadar senyawa asam dengan menggunakan
larutan baku basa?
1.3 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.3.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah untuk megetahui titrasi serta penetapan
kadar basa Metil Paraben (C8H8O3) dengan menggunakan larutan baku HCl, dan
penetapan kadar asam asetat (CH3COOH) dengan menggunakan baku NaOH.
1.3.2 Tujuan Percobaan
1. Mahasiswa dapat menentukan kadar senyawa Metil Parabenmenggunakan
larutan baku HCl dengan metilen red sebagai indikatornya.
2. Mahasiswa dapat menentukan kadar senyawa Asam Asetat menggunakan
larutan baku NaOH dengan metilen red sebagai indikatornya.
1.4 Prinsip percobaan
1. Prinsip Asidimetri adalah titrasi dengan menggunakan larutan baku asam
yang menyebabkan adanya perubahan warna suatu reaksi dari kuning ke
merah.
2. Prinsip Alkalimetri adalah titrasi dengan menggunakan larutan baku basa
yang menyebabkan adanya aperubahan warna suatu reaksi dari merah ke
kuning.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Titrasi
Titrasi merupakan suatu proses analisis dimana suatu volum larutan standar
ditambahkan ke dalam larutan dengan tujuan mengetahui komponen yang tidak
dikenal. Larutan standar adalah larutan yang konsentrasinya sudah diketahui
secara pasti. Berdasarkan kemurniannya larutan standar dibedakan menjadi
larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Larutan standar primer adalah
larutan standar yang dipersiapkan dengan menimbang dan melarutkan suatu zat
tertentu dengan kemurnian tinggi (konsentrasi diketahui dari massa - volum
larutan). Larutan standar sekunder adalah larutan standar yang dipersiapkan
dengan menimbang dan melarutkan suatu zat tertentu dengan kemurnian relatif
rendah sehingga konsentrasi diketahui dari hasil standardisasi (Day Underwood,
1999).
Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi
yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah
contoh tertentu yang akan di analisis. Contoh yang akan dianalisis dirujuk sebagai
(tak diketahui). Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan
yang konsentrasinya diketahui disebut analisis volumetri. Dalam analisis larutan
asam dan basa, titrasi melibatkan pengukuran yang seksama, volume-volume
suatu asam dan suatu basa yang tepat saling menetralkan (Keenan, 1998).
Pada proses titrasi ini digunakan suatu indikator yaitu suatu zat yang
ditambahkan sampai seluruh reaksi selesai yang dinyatakan dengan perubahan
warna. Perubahan warna menandakan telah tercapainya titik akhir titrasi (Brady,
1999). Larutan basa yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret
(pipa panjang berskala) dan jumlah yang terpakai dapat diketahui dari tinggi
sebelum dan sesudah titrasi. Larutan asam yang dititrasi dimasukkan kedalam
gelas kimia (erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih dahulu denga
memekai pipet gondok. Untuk mengamati titik ekivalen, dipakai indikator yang

3
warnanya disekitar titik ekivalen. Dalam titrasi yang diamati adalah titik akhir
bukan titik ekivalen (Syukri, 1999).
2.1.3 Alkalimetri
Alkalimetri merupakan suatu teknik analisis untuk mengetahui kadar
keasaman suatu zat dengan menggunakan larutan standar basa. Basa yang
digunakan biasanya larutan natrium hidroksida (NaOH). Sebelum digunakan,
larutan NaOH harus distandarisasi dahulu dengan asam Oksalat (h2c204).
Hidroksida-hidroksida dari natrium, kalium, barium, umumna digunakan sebagai
larutan standar alkalis (basa) . Ketiganya merupakan basa kuat dan sangat mudah
larut dalam air. Pembuatan larutan standar alkalis dan amonium hidroksida tidak
dibenarkan, kecuali bersifat sebagai basa lemah, pada proses pelarutan dilepaskan
gas amonia (Daintith, 1997).
Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret
yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volumenya sampai terjadi
reaksi sempurna. Atau dengan perkataan lain untuk mengukur volume titran yang
diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Titik ekivalen adalah saat yang
menunjukkan bahwa ekivalen perekasi-pereaksi sama. Di dalam prakteknya titik
ekivalen sukar diamati, karena hanya meruapakan titik akhir teoritis atau titik
akhir stoikometri. Hal ini diatasi dengan pemberian indikator asam-basa yang
membantu sehingga titik akhir titrasi dapat diketahui. Titik akhir titrasi
merupakan keadaan di mana penambahan satu tetes zat penitrasi (titran) akan
menyebabkan perubahan warna indikator. Kedua cara di atas termasuk analisis
titrimetri atau volumetrik. Selama bertahun-tahun istilah analisis volumetrik lebih
sering digunakan dari pada titrimetrik. Akan tetati, dilihat dari segi kata,
“titrimetrik” lebih baik, karena pengukuran volume tidak perlu dibatasi oleh
titrasi.
Rekasi-reaksi kimia yang dapat diterima sebagai dasar penentuan titrimetrik
asam-basa adalah sebagai berikut :
Jika HA merupakan asam yang akan ditentukan dan BOH sebabagi basa,
maka reksinya adalah : HA + OH- →A+ H2O

4
Jika BOH merupakan basa yang akan ditentukan dan HA sebagi asam, maka
reaksinya adalah : BOH + H+ → B+ + H2O
Dari kedua reaksi di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip reaksi titrasi
asam basa adalah reaksi penetralan, yakni ; H+ + OH- → H2O dan terdiri dari
beberapa kemungkinan yaitu reaksi-rekasi antara asam kuat dengan basa kuat,
asam kuat dan basa lemah, asam lemah dan basa kuat, serta asam lemah dan basa
lemah. Khusus reaksi antara asam lemah dan basa lemah tidak dapat digunakan
dalam analisis kuantitatif, karena pada titik ekivalen yang terbentuk akan
terhidrolisis kembali sehingga titik akhir titrasi tidak dapat diamati. Hal ini yang
menyebabkan bahwa titran biasanya merupakan larutan baku elektrolit kuat
seperti NaOH dan HCl (Underwood, 1986).
Perhitungan titrasi asam basa didasarkan pada reaksi penetralan,
menggunakan dua macam cara, yaitu :
1. Berdasarkan logika bahwa pada reaksi penetralan, jumlah ekivalen (grek)
asam yang bereaksi sama dengan jumlah ekivalen (grek) basa. Diketahui :
grek (garam ekivalensi) = Volume (V) x Normalitas (N), Maka pada titik
ekivalen : V asam x N asam = V basa x N basa; atau V1 x N1 = V2 x N2
Untuk asam berbasa satu dan basa berasam satu, normalitas sama dengan
molaritas, berarti larutan 1 M = 1 N. Akan tetapi untuk asam berbasa dua
dan basa berasam dua 1 M = 1 N.
2. Berdasarkan koefisein reaksi atau penyetaraan jumlah mol Misalnya untuk
reaksi :
2 NaOH + (COOH)2→(COONa) + H2O(COOH)2 = 2 NaOH Jika M1
adalah molaritas NaOH dan V1 adalah volume NaOH, sedangkan M2 adalah
molaritas (COOH)2 dan V2 adalah volume (COOH)2, maka :
V1 M1 x 1 = V2 M2 x 2V2 M2 Oleh sebab itu : V NaOH x M NaOH x 1 = V
(COOH)2 x M (COOH)2.
2.1.4 Adisimetri
Pada prinsipnya asidimetri adalah analisa titrimetri yang menggunakan asam
kuat sebagai titrannya dan sebagai analitnya adalah basa atau senyawa yang

5
bersifat basa, ataupun pengukuran dengan asam (yang diukur jumlah basa atau
garamnya).
Dalam analisis larutan asam dan basa, titrasi akan melibatkan pengukuran
yang seksama volume-volumenya suatu asam dan suatu basa yang tepat akan
saling menetra1kan. Reaksi penetralan atau asidimetri dan alkalimetri adalah salah
satu dari empat golongan utama dalam penggolongan reaksi dalam analisis
titrimetri. Asidi alkalimetri ini melibatkan titrasi basa bebas atau basa yang
terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah, dengan suatu
standar (asidimetri). Reaksi-reaksi ini melibatkan senyawa ion hidrogen dan ion
hidroksida untuk membentuk air (Bassett, 1994).
Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri, di mana zat dibiarkan
bereaksi dengan zat yang lain yang konsentrasinya diketahui dan dialirkan dari
buret dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan yang tidak diketahui (analit)
kemudian dihitung. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat, reaksi
berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping (Khopkar, 1990).
Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting :
asam, basa dan garam. Asam didefinisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam
air, mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya
ion positif. Asam kuat berdisosiasi hampir sempurna dengan pengenceran yang
sedang, karena itu ia merupakan elektrolit kuat. Asam lemah berdisosiasi hanya
sedikit pada konsentrasi sedang bahkan pada konsentrasi rendah (Svehla, 1990).
Kuat relatif asam dan basa dalam larutan bergantung pada afinitas mereka
terhadap proton yang berlainan. Makin kuat asam, makin lemah basa konjugatnya.
Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan
sebagai dasar untuk titrasi, suatu reaksi memenuhi persyaratan berikut sebelum
digunakan:
1. Reaksi harus berjalan sesuai dengan suatu persamaan reaksi tertentu. Tidak
boleh ada reaksi samping.
2. Reaksi harus berjalan sampai boleh dikatakan lengkap pada titik ekivalensi.
Dengan kata lain, tetapan keseimbangan reaksi harus sangat besar.

6
3. Beberapa metode harus tersedia untuk menetapkan kapan titik ekivalensi
tercapai. Suatu inidikator haruslah tersedia atau beberapa metode secara
instrumen dapat digunakan untuk memberitahu analisis kapan penambahan
titran dihentikan.
4. Reaksi berjalan cepat (dalam beberapa menit saja) (Day dan Underwood,
1999).
Larutan standard adalah larutan yang mengandung reagensia dengan bobot
di ketahui dalam suatu volume tertentu dalam suatu larutan. Terdapat dua macam
larutan standar yaitu larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Larutan
standar dalam titrasi memegang peranan yang amat penting, hal ini disebabkan
larutan ini telah diketahui konsentrasi secara pasti (artinya konsentrasi larutan
standar adalah tepat dan akurat). Larutan standar merupakan istilah kimia yang
menunjukkan bahwa suatu larutan telah diketahui konsentrasinya. Terdapat dua
macam larutan standar yaitu larutan standar primer dan larutan standar sekunder.
Larutan standar primer adalah larutan standar yang konsentrasinya diperoleh
dengan cara menimbang.
Syarat senyawa yang dapat dijadikan standar primer:
1. Memiliki kemurnian 100%.
2. Bersifat stabil pada suhu kamar dan stabil pada suhu pemanasan
(pengeringan) disebabkan standar primer biasanya dipanaskan dahulu
sebelum ditimbang.
3. Mudah didapatkan (tersedia diaman-mana).
4. Memiliki berat molekul yang tinggi (MR), hal ini untuk menghindari
kesalahan relative pada saat menimbang. Menimbang dengan berat yang
besar akan lebih mudah dan memiliki kesalahan yang kecil dibandingkan
dengan menimbang sejumlah kecil zat tertentu.
Larutan standar sekunder adalah larutan yang konsentrasinya diperoleh
dengan cara mentitrasi dengan larutan standar primer. NaOH tidak dapat dipakai
untuk standar primer disebabkan NaOH bersifat higroskopis oleh sebab itu maka
NaOH harus dititrasi dahulu dengan KHP agar dapat dipakai sebagai standar
primer. Begitu juga H2SO4 dan HCl tidak bisa dipakai sebagai standar primer,

7
supaya menjadi standar sekunder maka larutan ini dapat dititrasi dengan larutan
standar primer NaCO3.
2.2 Uraian Bahan
2.2.1 Air Suling (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : AQUADESTILLATA
Nama IUPAC : Air suling
Rumus Struktur :
H H

Rumus Molekul : H2O


Berat Molekul : 18,02
Pemberian : Cairan tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutp baik
Kegunaan : Sebagai pelarut.
2.2.2 Alkohol (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : AETHANOLUM
Nama IUPAC : Alkohol, Alkanol
Rumus Struktur :
H H
H C C O H
H H

Berat Molekul : 46,068 gr/mol


Rumus Molekul : C2H5OH
Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap, dan
mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak
berasap.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P,
dan dalam eter P

8
Penyimpanan : Dalam botol yang tertutup baik
Kegunaan : Sebagai desinfektan.
2.2.3 Asam Asetat (Dirjen POM, 1995)
Nama Resmi : ACIDUM ACETICUM
Nama Lain : Asam Asetat

Rumus Struktur :
H O

H C C

H O H

Rumus Molekul : CH3COOH


Berat Molekul : 18,02
Pemberian : Cairan jernih, tidak berwarna; bau khas, menusuk;
rasa asam yang tajam.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai analit.
2.2.4 HCl (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi : ACIDUM HYDROCHLORIDUM
Nama IUPAC : Asam klorida
Rumus struktur :
H - Cl

Rumus molekul : HCl


Berat molekul : 36,46 gr/mol
Pemberian : Cairan, tidak berwarna, berasap, bau merangsang
Kelarutan : Larut dalam air
Penyimpana : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai larutan baku.
2.2.5 Natrium Hidroksida (Dirjen POM. 1995)
Nama Resmi : NATRII HYDROXYDUM
Nama IUPAC : Natrium hidroksida

Na O H
9
Rumus Struktur :

Rumus Molekul : NaOH


Berat Molekul : 40,00
Pemberian : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keeping
kering, keras, rapuh dan menunjukan susunan
hablur; putih, mudah meleleh, basah. Sangat alkalis
dan korosif. Segera menyerap karbondioksida.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai larutan baku.
2.2.6 Metil Paraben (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : METHYLIS PARABENUM
Nama IUPAC : Metil paraben
Rumus Struktur :
COOCH3

OH

Rumus Molekul : C8H8O3


Berat Molekul : 152,15
Pemberian : Serbuk hablur; putih; hamper tidak berbau, tidak
mempunyai rasa, kemudian agak membakar diikuti
rasa tebal
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai analit.
2.2.7 Metilen Red (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : METIL MERAH
Nama IUPAC : Merah metil
Rumus Struktur :

N
10
H3C N
N
COOH

Rumus Molekul : C15H15N3O2


Berat Molekul : 305,76
Pemberian : Serbuk, merah tua atau hablur lembayung
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai indikator.

11
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Kimia Analasisi dilaksanakan pada hari Kamis, 15 Maret 2018
pukul 07.00 WITA sampai dengan selesai. Bertempat di Laboratorium Kimia
Farmasi, Jurusan Farmasi, Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Universitas Negeri
Gorontalo.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1. Alat
Aluminium Foil, Buret, Botol Cokelat, Batang Pengaduk, Corong Gelas,
Erlenmeyer, Gelas ukur, Gelas Kimia, Klem dan Statif, Lap Kasar, Lap Halus, Neraca
Analitik, Pipet tetes, Rak tabung reaksi, Spatula, Tabung reaksi

3.2.2. Bahan
Alkohol, Aquades, Asam asetat, methylen red, Metil Paraben, NaOH, HCl, Kertas
saring, Tissue.

3.3 Cara Kerja


3.3.1. Alkalimetri
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3. Diencerkan CH3COOH 15 ml dengan menggunakan Aquades 30 ml
4. Ditimbang NaOH sebanyak 4 gr ke dalam aquades 1000 ml
5. Dimasukkan NaOH sebanyak 50 ml kedalam buret
6. Dimasukkan CH3COOH sebanyak 5 ml ke dalam erlenmeyer
7. Ditambahkan indicator metilen red ke dalam erlenmeyer yang berisi
CH3COOH sebanyak 7 tetes, sampai menghasilkan warna merah muda
pada CH3COOH
8. Dititrasi CH3COOH menggunakan Larutan Baku Basa (NaOH)
9. Dititrasi sampel CH3COOH sampai terjadi perubahan warna dari merah
muda menjadi kuning.

12
3.3.2. Asidimetri
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan alat dan bahan dengan alkohol 70%
3. Ditimbang metil paraben sebanyak 0,25 gram
4. Dilarutkan metil paraben dengan air panas
5. Diencerkan HCl 0,1 N dengan aquades 1000 ml
6. Dituangkan HCl ke dalam botol gelap
7. Dimasukkan HCl sebanyak 50 ml ke dalam buret
8. Dimasukkan metil paraben sebanyak 5 ml ke dalam erlenmeyer
9. Ditambahkan indikator mhetilen red ke dalam erlenmeyer yang berisi
metil paraben sebanyak 7 tetes
10. Dititrasi metil paraben dengan larutan baku asam (HCl)
11. Dititrasi sampel C8H8O3 sampai terjadi perubahan warna dari kuning
menjadi merah muda.

13
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Nama Nama Volume Volume Gambar Kadar
No.
Sampel Titran Titran Sampel Sebelum Sesudah
1. CH3COOH NaOH 50 ml 5 ml 2,676%

2. C8H8O3 HCl 1,5 ml 5 ml 0,456%

4.2 Pembahasan
Pada praktikum alkalimetri, sampel yang akan ditentukan konsentrasinya
atau kadarnya adalah senyawa asam lemah yaitu asam asetat (CH3COOH).
Sebelum menentukan konsentrasinya, ada beberapa hal yang harus dilakukan
terlebih dahulu, yaitu pembuatan larutan baku NaOH 4 gr di larutkan dalam 1000
ml aquades. Menurut Michael (1997) Digunakan larutan basa (NaOH) adalah
untuk menentukan kadar larutan asam sampai mencapai titik ekuivalen.

14
Selanjutnya pembuatan analit (Titrat) CH3COOH sebanyak 15 ml dilarutkan
dalam 30 ml aquades.
Larutan NaOH yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret
(pipa panjang berskala) sebanyak 50 ml memalui corong terlebih dahulu, hal ini
bertujuan agar pertumpahan larutan baku dapat lebih diminimalisir dan jumlah
titran yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah titrasi.
Larutan asam asetat (CH3COOH) yang dititrasi dimasukkan kedalam gelas kimia
(Erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih dahulu dengan memakai pipet
tetes. Untuk dapat mengamati titik akhir dari titrasi, digunakan indikator. Pada
praktikum ini digunakan indikator metil merah sebanyak 7 tetes sampai analit
(titrat) berubah menjadi warna merah. Menurut Khophar, S. M. (1990) titrasi
asam basa dapat memberikan titik akhir yang cukup tajam dan untuk itu
digunakan pengamatan dengan indikator.
Titrat ditambahkan titran tetes demi tetes sampai mencapai keadaan
ekuivalen yang ditandai dengan berubahnya warna indikator menjadi kuning.
Setelah itu titrasi dihentikan sampai pada titik akhir titrasi. Menurut esdi (2011)
titik ekuivalen biasanya ditandai dengan berubahnya warna indikator, Yaitu titik
dimana konsentrasi asam sama dengan konsentrasi basa atau titik dimana jumlah
basa yang ditambahkan sama dengan jumlah asam yang dinetralkan. Sedangkan
keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator
disebut sebagai titik akhir titrasi yaitu titik yang mendekati titik ekuivalen, tapi
biasanya titik akhir titrasi melewati titik ekuivalen.
Pada praktikum asidimetri, sampel yang akan ditentukan konsentrasinya
atau kadarnya adalah metil paraben (C8H8O3). Sebelum menentukan
konsentrasinya, ada beberapa hal yang harus dilakukan terlebih dahulu, yaitu
pembuatan larutan baku HCL 4 gr dilarutkan dalam 1000 ml aquades. Menurut
Michael (1997) Digunakan larutan asam (HCL) adalah untuk menentukan kadar
larutan basa sampai mencapai titik ekuivalen. Selanjutnya pembuatan analit
(Titrat) C8H8O3 sebanyak 0,25 ml dilarutkan dalam air panas.
Larutan metal paraben (C8H8O3) yang dititrasi dimasukkan kedalam gelas
kimia (Erlenmeyer) dengan mengukur volumenya terlebih dahulu dengan

15
memakai pipet tetes. Untuk dapat mengamati titik akhir dari titrasi, digunakan
indikator. Pada praktikum ini digunakan indikator metil merah sebanyak 7 tetes
sampai analit (titrat) berubah menjadi warna kuning. Menurut Khophar, S. M.
(1990) titrasi asam basa dapat memberikan titik akhir yang cukup tajam dan untuk
itu digunakan pengamatan dengan indikator.
Titrat ditambahkan titran tetes demi tetes sampai mencapai keadaan
ekuivalen yang ditandai dengan berubahnya warna indikator menjadi merah.
Setelah itu titrasi dihentikan sampai pada titik akhir titrasi. Menurut esdi (2011)
titik ekuivalen biasanya ditandai dengan berubahnya warna indikator, Yaitu titik
dimana konsentrasi asam sama dengan konsentrasi basa atau titik dimana jumlah
basa yang ditambahkan sama dengan jumlah asam yang dinetralkan. Sedangkan
keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indicator
disebut sebagai titik akhir titrasi yaitu titik yang mendekati titik ekuivalen, tapi
biasanya titik akhir titrasi melewati titik ekuivalen.
4.2.1 Reaksi Kimia
CH3COOH + NaOH CH3COONA + H2O
C8H8O3 + HCL C8H8O2Cl +H2O
4.2.2 Perhitungan
Dik:V1 = 22,3 ml
V2 = 5 ml
N1 = 0,1
Dit: % Kadar ?
Penye : V1 x N1 = V2 x N2
22,3 x 0,1 = 5 x N2
22,3 𝑥 0,1
N2 = 5

= 0,446

𝑔𝑟 1000
N2 = x
𝑀𝑟 𝑣
𝑔𝑟 1000
0,446 = 60
x 5

16
𝑔𝑟 0,446
=
60 200
𝑔𝑟
= 0,00223
60

𝑔𝑟= 60 x 0,00223
= 0,1338
𝑔𝑟
% Kadar = 𝑀𝑟 x 100
0,1338
= x 100
5

= 2,676

17
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap


senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan mengunakan larutan baku asam.
Dimana penetapan kadar dilakukan dengan menambahkan larutan HCL dalam
buret sebanyak 50 ml dan Metil paraben pada gelas kimia sebanyak 7 tetes
menghasilkan perubahan warna dari kuning ke merah.

2. Alkalimetri adalah penetapan kadar terhadap senyawa-senyawa yang


bersifat asam dengan menggunakan baku basa. Penetapan kadar dilakukan dengan
menambahkan 50 ml larutan NaOH kedalam buret dan Asam asetat sebanyak 5 ml
di dalam gelas kimia dengan menambahkan indikator sebanyak 7 tetes
menghasilkan perubahan warna dari merah menjadi kuning.

5.2 Saran

5.2.1 Jurusan

Diharapkan adanya penambahan sarana dan prasarana laboratorium agar


lebih lengkap sehingga jalannya praktikum dapat terlaksana dengan baik dan
sesuai dngan yang diinginkan.

5.2.2 Laboratorium

Diharapkan untuk dapat menambah jumlah alat-alat lab agar waktu


praktikum lebih efektif.

5.2.3 Asisten

Diharapkan agar kerja sama antara asisten dan praktikan lebih


ditingkatkan dengan banyak memberimateri atau pengetahuan mengenai yang
akan dipraktekan dilaboratorium kimia analisis farmasi.

18