Anda di halaman 1dari 257

BUKU I

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

HASIL PEMERIKSAAN
SEMESTER I TAHUN ANGGARAN 2008

LAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
UNTUK TAHUN ANGGARAN 2007

AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA V


PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA

Nomor : 112/R/XVIII.SBY/05/2008
Tanggal : 25 Mei 2008
DAFTAR ISI

Hal
OPINI BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 1
LAPORAN KEUANGAN POKOK
A. NERACA.................................................................................................... 6
B. LAPORAN REALISASI ANGGARAN........................................................ 8
C. LAPORAN ARUS KAS…………………………………………..................... 10
D. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
1. Pendahuluan………………………………………………........................ 13
2. Ekonomi Makro, Kebijakan Keuangan, dan Pencapaian Target
Kinerja APBD........................................................................................ 18
3. Ikhtisar Pencapaian Kinerja Keuangan................................................ 29
4. Kebijakan Akuntansi………………………………………………............ 45
5. Penjelasan Atas Rekening-rekening Neraca, Laporan Realisasi
Anggaran dan Laporan Arus Kas…………………………….................. 54
6. Penjelasan Atas Informasi Non Keuangan........................................... 84
GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN
1. Dasar Hukum Pemeriksaan..................................................................... 91
2. Tujuan Pemeriksaan................................................................................ 91
3. Sasaran Pemeriksaan.............................................................................. 91
4. Standar Pemeriksaan............................................................................... 91
5. Metode Pemeriksaan............................................................................... 92
6. Waktu Pemeriksaan................................................................................. 92
7. Objek Pemeriksaan.................................................................................. 93
8. Kendala Pemeriksaan.............................................................................. 93

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA i


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

OPINI BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Kepada para pengguna laporan keuangan,

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan


dan Tanggung jawab Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006
tentang Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
(BPK RI) telah memeriksa Neraca Pemerintah Propinsi Jawa Timur per 31 Desember
2007, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan
Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah
tanggung jawab Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Tanggung jawab BPK RI adalah pada
pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan.
BPK RI melaksanakan pemeriksaan berdasarkan Standar Pemeriksaan Keuangan
Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Standar tersebut
mengharuskan BPK RI merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan agar BPK RI
memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji
material. Suatu pemeriksaan meliputi penilaian, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang
mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan
juga meliputi penilaian atas Standar Akuntansi Pemerintahan yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur, serta penilaian
terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. BPK RI yakin bahwa
pemeriksaan BPK RI memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
Berdasarkan pemeriksaan, diketahui bahwa:
1. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 1,
pembentukan Dana Cadangan Murni tidak sesuai peraturan-peraturan yang berkaitan
dengan pembentukan Dana Cadangan. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan dana
cadangan sebesar Rp41.500.000.000,00 pada tahun 2002 untuk jaminan pinjaman
kepada Bank Jatim dan penggunaan dana cadangan murni untuk membentuk dana
cadangan pilkada pada tahun 2006 dan 2007 masing-masing sebesar
Rp65.000.000.000,00 dan Rp67.713.876.948,00. Hal tersebut mengakibatkan saldo
Dana Cadangan Murni sebesar Rp50.562.937.305,00 tidak dapat diyakini
kewajarannya.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 1


2. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 2,
pembebanan realisasi bantuan rehabilitasi sekolah negeri melalui pos bantuan sosial
sebesar Rp67.350.000.000,00 tidak tepat. Hal tersebut mengakibatkan saldo akun
Bantuan Sosial disajikan lebih tinggi (over stated) dan saldo akun Bantuan Keuangan
disajikan lebih rendah (under stated) masing-masing sebesar Rp67.350.000.000,00;
3. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 3, penyajian
informasi keuangan dana bergulir sebesar Rp379.995.700.850,00 kurang memadai.
Hal tersebut mengakibatkan Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Tahun 2007 tidak menggambarkan secara lengkap seluruh transaksi keuangan yang
terjadi dalam periode tersebut;
4. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 4,
pengeluaran anggaran belanja tidak terduga sebesar Rp15.520.406.207,00 lebih
tepat direalisasikan dalam belanja bantuan keuangan dan belanja barang dan jasa.
Pengeluaran sebesar Rp9.316.418.437,00 untuk membiayai pelayanan pasien Askes
Masyarakat Miskin yang tidak ditanggung oleh PT. Askes lebih tepat jika
direalisasikan melalui Belanja Subsidi. Pengeluaran sebesar Rp714.388.250,00 untuk
perbaikan ruas jalan dan bahu jalan lebih tepat jika direalisasikan melalui Belanja
Barang dan Jasa Dinas Bina Marga. Pengeluaran sebesar Rp3.427.355.000,00 untuk
Peningkatan Jalan Alternatif Lintas Timur lebih tepat jika direalisasikan melalui
Belanja Bantuan Keuangan karena bencana alam terjadi pada tahun 2006 dan Ruas
Jalan merupakan aset Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Pengeluaran sebesar
Rp979.372.320,00 untuk pengadaan dan pemasangan perlengkapan jalan pada jalur
alternatif lebih tepat jika direalisasikan pada belanja barang dan jasa Dinas Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan. Pengeluaran sebesar Rp1.082.872.000,00 untuk musibah
kebakaran Pasar Turi lebih tepat jika direalisasikan melalui Belanja Bantuan
Keuangan. Hal tersebut mengakibatkan laporan keuangan terutama penyajian
belanja tidak terduga tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya atau riil;
5. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 5, realisasi
Belanja Bantuan Sosial sebesar Rp24.646.471.050,00 digunakan untuk membiayai
kegiatan 14 SKPD dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Hal tersebut
mengakibatkan saldo akun belanja bantuan sosial disajikan lebih tinggi sebesar
Rp24.646.471.050,00 dan saldo akun belanja pada masing-masing SKPD disajikan
lebih rendah;
6. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 6, Belanja
Bantuan Sosial Kepada Instansi/Lembaga Daerah/Masyarakat belum
dipertanggungjawabkan sebesar Rp248.827.033.246,00. Hal tersebut mengakibatkan
pengeluaran belanja bantuan sosial sebesar Rp248.827.033.246,00 tidak dapat
diyakini kewajarannya;

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 2


7. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 8, realisasi
belanja untuk pengadaan Aset Tak Berwujud Berupa Software/Sistem Aplikasi
Komputer minimal sebesar Rp9.294.608.500,00 Tidak dicatat dan Tidak Disajikan
Dalam Neraca. Hal tersebut mengakibatkan saldo akun Aset Tak Berwujud tidak
menyajikan kondisi sebenarnya dan aset tak berwujud senilai Rp9.294.608.500,00
belum disajikan dalam neraca;
8. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 9, Aset Tetap
yang dimiliki pihak lain sebesar Rp225.421.673.283,00 tercatat dalam Neraca per 31
Desember 2007. Hal tersebut mengakibatkan saldo akun Aset Tetap senilai
Rp225.421.673.283,00 tidak dapat diyakini kewajarannya;
9. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 10, Aset tetap
hasil pengadaan APBN sebesar Rp2.910.023.050,00 diakui di Neraca dan Aset Tetap
senilai Rp2.503.589.040,00 tidak dapat ditelusuri. Hal tersebut mengakibatkan Aset
Tetap di neraca sebesar Rp2.503.589.040,00 tidak dapat diyakini kewajarannya;
10. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 11, Aset
Tetap senilai Rp5.908.341.465,00 tidak dapat ditelusuri. Adanya selisih antara
Rekapitulasi Pengelolaan Barang dari SKPD lain pada Laporan Penjelasan
Penambahan Aset dalam Mutasi Barang dengan Jumlah Aset Tetap yang
dipergunakan SKPD lain pada Laporan Penjelasan Realisasi Belanja Modal Biro
Perlengkapan dan Administrasi Aset sebesar Rp2.203.988.650,00. Adanya aset
pengelolaan dari SKPD lain sebesar Rp3.067.940.170,00 yang tidak diketahui SKPD
yang menyalurkan aset tersebut. Adanya selisih antara jumlah Aset Tetap hasil
pengadaan Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset dengan Berita Acara Serah
Terima Pengelolaan sebesar Rp636.412.645,00. Hal tersebut mengakibatkan saldo
akun aset tetap sebesar Rp5.908.341.465,00 tidak dapat diyakini kewajarannya;
11. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 12,
Pencatatan Aset Tetap hasil pengadaan Dinas Permukiman tidak dilaksanakan
secara tertib serta Belanja Modal digunakan untuk Belanja Non Modal sebesar
Rp45.600.614.000,00. Hal tersebut mengakibatkan saldo akun belanja modal
disajikan lebih tinggi sebesar Rp45.600.614.000,00, saldo akun belanja hibah
disajikan lebih rendah sebesar Rp45.257.914.000,00, dan saldo akun belanja barang
disajikan lebih rendah sebesar Rp342.700.000,00;
12. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 13, Tanah
seluas 10.524.378 m2 dan senilai Rp1.317.148.931.282,00 belum bersertifikat atas
nama Pemerintah Daerah dan tidak ada kejelasan mengenai bukti kepemilikannya.
Hal tersebut mengakibatkan aset tetap berupa tanah senilai Rp1.317.148.931.282,00
tidak dapat diyakini kewajarannya serta melemahkan posisi Pemerintah Daerah jika
sewaktu-waktu terjadi sengketa tanah dengan pihak lain;
13. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 15, Laporan
Keuangan belum menyajikan pengelolaan keuangan Unit Paviliun dan Depo Farmasi
pada RSU Dr Saiful Anwar. Hal tersebut mengakibatkan Laporan Keuangan tidak
menggambarkan kondisi riil posisi keuangan yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa
Timur minimal pendapatan sebesar Rp17.842.307.437,00 dan belanja sebesar

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 3


Rp12.457.180.208,00 serta tidak terpenuhinya prinsip transparansi dan akuntabilitas
dalam pengelolaan keuangan daerah yang membuka peluang terjadinya
penyalahgunaan keuangan daerah;
14. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 16,
Pendapatan bunga deposito dana cadangan sebesar Rp28.492.471.087,75 belum
disajikan dalam pendapatan daerah maupun pembiayaan pengeluaran. Hal tersebut
mengakibatkan saldo akun Lain-lain PAD yang Sah disajikan lebih rendah dan saldo
akun Pembiayaan pengeluaran-pembentukan dana cadangan disajikan lebih tinggi
masing-masing sebesar Rp28.492.471.087,00;
15. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 17,
Pengelolaan Dana Pinjaman tidak tepat dan pembayaran bunga beserta pokok
pinjaman sebesar Rp8.670.875.000,00 tidak sesuai Standar Akuntansi Pemerintah.
Hal tersebut mengakibatkan kinerja daerah dari pengelolaan pinjaman tidak dapat
diukur secara akurat. Selain itu, penyajian akun belanja bunga disajikan lebih rendah
sebesar Rp1.741.626.463,00, saldo akun pembiayaan pengeluaran disajikan lebih
rendah sebesar Rp6.929.248.537,00, saldo akun bagian lancar utang jangka panjang
disajikan lebih rendah sebesar Rp4.730.000.000,00, dan saldo akun utang jangka
panjang disajikan lebih rendah sebesar Rp10.320.000.000,00;
16. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 18,
Penyertaan Modal dengan kepemilikan di atas 20% tidak dicatat menggunakan
metode ekuitas. Hal tersebut mengakibatkan nilai investasi yang disajikan di neraca
tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 yang mengatur
tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
17. Sebagaimana dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan Kepatuhan Nomor 19, Dua puluh
lima bidang tanah seluas 47.039 m2 yang dimiliki Pemda disajikan dengan nilai di
bawah Rp5.000,00. Hal tersebut mengakibatkan aset tetap berupa 25 bidang tanah di
neraca tidak disajikan secara wajar.

Menurut pendapat BPK RI, karena hal yang disebut pada paragraf sebelumnya, laporan
keuangan yang disebut di atas tidak menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang
yang material, posisi keuangan Pemerintah Propinsi Jawa Timur per 31 Desember 2007,
Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan
untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 4


Laporan hasil pemeriksaan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan
sistem pengendalian intern kami sajikan dalam bagian tersendiri yang merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari laporan ini.

Surabaya, 25 Mei 2008

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA
PENANGGUNG JAWAB PEMERIKSAAN,

Sarjono, SE. Ak.


Akuntan, Register Negara No. D-25873

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 5


LAPORAN KEUANGAN POKOK
A. NERACA

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR


NERACA
PER 31 DESEMBER 2007 dan 2006

2007 2006
Uraian
(Rp) (Rp)

ASET
ASET LANCAR 1.487.069.415.128,24 995.997.055.946,24
Kas 1.281.755.295.429,82 847.309.400.090,89
Kas di Kas Daerah 1.237.638.636.382,43 810.854.071.190,99
Kas di Rekening Fungsional Rumah Sakit 35.256.020.830,79 34.237.168.219,90
Kas di Bendahara Penerimaan 271.663.646,60 -
Kas di Bendahara Pengeluaran 8.588.974.570,00 2.218.160.680,00
Investasi Jangka Pendek
Piutang 153.269.178.288,00 102.980.974.975,35
Piutang Pajak 96.996.693.111,00 100.967.765.949,00
Piutang Retribusi 55.149.662.819,00 131.675.292,35
Piutang Dana Bagi Hasil - -
Piutang Dana Alokasi Umum - -
Piutang Dana Alokasi Khusus - -
Bagian Lancar Pinjaman kepada BUMD - -
Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran 990.653.996,00 1.169.375.028,00
Bagian Lancar Tuntutan Ganti Kerugian Daerah 84.278.650,00 212.671.300,00
Piutang Lain – lain 47.889.712,00 499.487.406,00
Persediaan 52.044.941.410,42 45.706.680.880,00

INVESTASI JANGKA PANJANG 1.290.066.359.350,00 1.035.046.059.350,00


Investasi NonPermanen 379.995.700.850,00 320.232.700.850,00
Pinjaman kepada Perusahaan Negara - -
Pinjaman kepada Perusahaan Daerah - -
Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya - -
Investasi dalam Surat Utang Negara - -
Investasi Dana Bergulir 379.995.700.850,00 320.232.700.850,00
Investasi Non Permanen Lainnya - -
Investasi Permanen 910.070.658.500,00 714.813.358.500,00
Penyertaan Modal Pemerintah Daerah 910.070.658.500,00 714.813.358.500,00
Penyertaan Modal dalam Proyek Pembangunan - -
Penyertaan Modal Perusahaan Patungan - -
Investasi Permanen Lainnya - -

ASET TETAP 23.699.914.950.542,00 23.250.187.871.653,00


Tanah 12.382.351.961.109,00 12.288.001.613.170,00
Peralatan dan Mesin 1.453.395.570.350,00 1.316.300.027.564,00
Gedung dan Bangunan 1.080.020.130.941,00 1.042.091.300.776,00
Jalan, Irigasi, dan Jaringan 8.601.027.328.985,00 8.512.764.273.156,00
Aset Tetap Lainnya 11.236.833.713,00 10.939.523.032,00
Konstruksi Dalam Pengerjaan 171.883.125.444,00 80.091.133.955,00
Akumulasi Penyusutan Aset Tetap - -

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 6


2007 2006
Uraian
(Rp) (Rp)
DANA CADANGAN 479.055.408.392,75 328.276.814.248,00
Dana Cadangan 479.055.408.392,75 328.276.814.248,00

ASET LAINNYA 11.393.331.210,00 10.000.000.000,00


BOT - -
Tagihan Penjualan Angsuran - -
Tagihan Tuntutan Ganti Kerugian Daerah 1.393.331.210,00 -
Kemitraan dengan Pihak Ketiga - -
Aset Tak Berwujud - -
Aset Lain - lain 10.000.000.000,00 10.000.000.000,00

JUMLAH ASET 26.967.499.464.622,99 25.619.507.801.197,20

KEWAJIBAN 176.210.197.999,28 153.181.915.618,69


KEWAJIBAN JANGKA PENDEK 169.651.146.773,28 153.181.915.618,69
Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) 1.530.992.927,00 -
Utang Bunga 524.831.946,00 -
Bagian Lancar Utang Jangka Panjang 3.475.168.052,00 3.349.395.216,93
Utang Belanja 357.489.502,00 16.067.194.266,00
Utang Bagi Hasil Pajak 157.176.933.046,81 130.456.718.574,51
Utang Bagi Hasil Bukan Pajak 3.959.254.211,08 3.302.331.022,86
Utang Lain-lain 2.626.477.088,39 6.276.538,39
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG 6.559.051.226,00 -
Utang Kepada Pemerintah Pusat - -
Utang Jangka Panjang Lainnya 6.559.051.226,00 -

EKUITAS DANA 26.791.289.266.623,70 25.466.325.885.578,60


Ekuita Dana Lancar 1.317.418.268.354,96 842.815.140.327,55
Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) 1.281.483.631.783,22 847.309.400.090,89
Pendapatan yang Ditangguhkan 271.663.646,60 -
Cadangan Piutang 153.269.178.288,00 102.980.974.975,35
Cadangan Persediaan 52.044.941.410,42 45.706.680.880,00
Dana yang harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka
(169.651.146.773,28) (153.181.915.618,69)
Pendek

Ekuitas Dana Investasi 24.994.815.589.876,00 24.295.233.931.003,00


Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang 1.290.066.359.350,00 1.035.046.059.350,00
Diinvestasikan dalam Aset Tetap 23.699.914.950.542,00 23.250.187.871.653,00
Diinvestasikan dalam Aset Lainnya 11.393.331.210,00 10.000.000.000,00
Dana yang harus disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka
(6.559.051.226,00) -
Panjang

Ekuitas Dana Cadangan 479.055.408.392,75 328.276.814.248,00


Diinvestasikan dalam Dana Cadangan 479.055.408.392,75 328.276.814.248,00

JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA 26.967.499.464.622,99 25.619.507.801.197,20

Catatan Atas Laporan Keuangan Merupakan Bagian Yang Tidak terpisahkan dari
Laporan Keuangan Utama ini

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 7


B. LAPORAN REALISASI ANGGARAN
PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 DESEMBER 2007

Nomor Anggaran Realisasi Prosentase


Uraian
Rekening (Rp) (Rp) (%)

4 PENDAPATAN 5.133.847.177.458,00 5.940.048.022.273,61 115,70

4.1 PENDAPATAN ASLI DAERAH 3.555.497.177.458,00 4.164.250.659.986,61 117,12


4.1.1 Pendapatan Pajak Daerah 3.143.250.000.000,00 3.574.886.241.760,00 113,73
4.1.2 Pendapatan Retribusi Daerah 229.913.773.500,00 261.100.680.457,77 113,56
4.1.3 Pendapatan Hasil Pengelolaan 97.544.906.958,00 99.510.836.622,96 102,02
Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
4.1.4 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah 84.788.497.000,00 228.752.901.125,88 269,79
yang Sah

4.2 PENDAPATAN TRANSFER 1.564.115.000.000,00 1.755.896.026.169,00 112,26


4.2.1 Transfer Pemerintah Pusat - Dana 1.564.115.000.000,00 1.755.896.026.169,00 112,26
Perimbangan
4.2.1.1 Dana Bagi Hasil Pajak 452.000.000.000,00 641.893.164.721,00 142,01
4.2.1.2 Dana Bagi Hasil Bukan Pajak 21.000.000.000,00 22.847.861.448,00 108,80
(Sumber Daya Alam)
4.2.1.3 Dana Alokasi Umum 1.091.155.000.000,00 1.091.155.000.000,00 100,00
4.2.1.4 Dana Alokasi Khusus

4.3 LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG 14.195.000.000,00 19.901.336.118,00 140,20


SAH
4.3.1 Pendapatan Hibah 14.195.000.000,00 19.901.336.118,00 140,20

Jumlah 5.133.847.177.458,00 5.940.048.022.273,61 115,70

5 BELANJA 5.739.064.728.064,00 5.267.845.347.892,28 91,79

5.1 BELANJA OPERASI 3.519.937.236.357,00 3.263.437.620.434,71 92,71


5.1.1 Belanja Pegawai 1.291.809.389.682,00 1.210.568.135.064,00 93,71
5.1.2 Belanja Barang 1.357.553.787.621,00 1.194.585.857.398,00 88,00
5.1.3 Belanja Bunga - - -
5.1.4 Belanja Subsidi - - -
5.1.5 Belanja Hibah 2.000.000.000,00 2.000.000.000,00 100,00
5.1.6 Belanja Bantuan Sosial 868.574.059.064,00 856.283.627.972,71 98,58

5.2 BELANJA MODAL 703.050.629.137,00 640.504.302.197,57 91,10


5.2.1 Belanja Tanah 70.625.598.263,00 62.055.742.229,00 87,87
5.2.2 Belanja Peralatan dan Mesin 144.409.743.598,00 129.212.705.629,00 89,48
5.2.3 Belanja Gedung dan Bangunan 284.270.514.329,00 250.394.635.516,00 88,08
5.2.4 Belanja Jalan, irigasi dan Jaringan 198.862.079.387,00 194.154.071.715,57 97,63
5.2.5 Belanja Aset Tetap Lainnya 2.523.484.000,00 2.417.708.183,00 95,81
5.2.6 Belanja Aset Lainnya 2.359.209.560,00 2.269.438.925,00 96,19

5.3 BELANJA TIDAK TERDUGA 56.063.183.400,00 25.002.442.773,00 44,60


5.3.1 Belanja Tidak Terduga 56.063.183.400,00 25.002.442.773,00 44,60

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 8


Nomor Anggaran Realisasi Prosentase
Uraian
Rekening (Rp) (Rp) (%)

5.4 TRANSFER 1.460.013.679.160,00 1.338.900.982.487,00 91,70


5.4.1 Transfer/ bagi hasil pendapatan ke 1.452.656.631.160,00 1.334.276.267.687,00 91,85
Kabupaten/Kota
5.4.2 Transfer Bantuan Keuangan ke 7.357.048.000,00 4.624.714.800,00 62,86
Pemda Lainnya

Jumlah 5.739.064.728.064,00 5.267.845.347.892,28 91,79


Surplus/(Defisit) (605.217.550.606,00) 672.202.674.381,33 (111,07)

6 PEMBIAYAAN 606.610.881.816,00 606.757.468.184,89 100,02

6.1 PENERIMAAN DAERAH 915.023.277.033,00 915.169.863.401,89 100,02


Penggunaan Sisa Lebih 847.309.400.090,00 847.306.591.208,89 99,99
6.1.1
Perhitungan Anggaran (SILPA)
6.1.2 Pencairan Dana Cadangan 67.713.876.943,00 67.713.876.943,00 100,00
6.1.3 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah - - -
yang Dipisahkan
6.1.4 Penerimaan Piutang Daerah - 149.395.250,00 -

Jumlah 915.023.277.033,00 915.169.863.401,89 100,02

6.2 PENGELUARAN DAERAH 308.412.395.217,00 308.412.395.217,00 100,00


6.2.1 Pembentukan Dana Cadangan 190.000.000.000,00 190.000.000.000,00 100,00
6.2.2 Penyertaan Modal (Investasi) 118.263.000.000,00 118.263.000.000,00 100,00
Pemerintah Daerah
6.2.3 Pembayaran Pokok Utang 149.395.217,00 149.395.217,00 100,00

Jumlah 308.412.395.217,00 308.412.395.217,00 100,00

Pembiayaan Netto 606.610.881.816,00 606.757.468.184,89 100,02

Sisa Lebih Pembiayaan 1.393.331.210,00 1.278.960.142.566,22


Anggaran (SILPA)

Catatan Atas Laporan Keuangan Merupakan Bagian Yang Tidak terpisahkan dari
Laporan Keuangan Utama ini

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 9


C. LAPORAN ARUS KAS

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR


LAPORAN ARUS KAS
Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 DESEMBER 2007 dan 2006

2007 2006
Uraian
(Rp) (Rp)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI


Arus Masuk Kas
Pajak Daerah 3.574.886.241.780,00 3.256.903.357.578,00
Retribusi Daerah 56.792.023.080,88 66.925.782.316,57
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang
99.510.836.622,96 61.252.024.389,16
Dipisahkan
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 220.082.420.065,88 119.767.732.832,12
Dana Bagi Hasil Pajak 641.893.164.721,00 526.226.576.624,00
Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber Daya
22.847.861.448,00 29.748.527.969,55
Alam)
Dana Alokasi Umum 1.091.155.000.000,00 820.773.000.000,00
Dana Alokasi Khusus 0,00 0,00
Dana Otonomi Khusus 0,00 0,00
Dana Penyesuaian 0,00 124.633.385,00
Pendapatan Hibah 19.901.336.118,00 23.111.351.335,00
Dana Darurat 0,00 0,00
Pendapatan Lainnya 0,00 0,00
Jumlah 5.727.068.883.836,72 4.904.832.986.429,40
Arus Keluar Kas
Belanja Pegawai 1.136.408.311.825,00 960.388.247.788,00
Belanja Barang dan Jasa 1.080.067.901.520,00 1.607.514.775.466,00
Belanja Bunga 0,00 0,00
Belanja Subsidi 0,00 0,00
Belanja Hibah 2.000.000.000,00 0,00
Belanja Bantuan Sosial 854.686.634.603,71 0,00
Belanja Bagi Hasil ke Kabupaten/Kota 1.334.276.267.687,00 1.389.540.714.193,00
Belanja Bantuan Keuangan 4.624.714.800,00 357.865.832.930,00
Belanja Tidak Terduga 25.002.442.773,00 24.802.918.086,00
Jumlah 4.437.066.273.208,71 4.340.112.488.463,00
Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi 1.290.002.610.628,01 564.720.497.966,40

ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI


ASET NON KEUANGAN
Arus Masuk Kas
Pendapatan Penjualan Atas Tanah 3.437.652.807,00 206.561.349,00
Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan 34.253.000,00 113.720.870,00
Mesin

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 10


2007 2006
Uraian
(Rp) (Rp)
Pendapatan Penjualan atas Gedung dan
56.760.000,00 49.570.000,00
Bangunan
Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap
0,00 0,00
Lainnya
Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya 0,00 0,00
Jumlah 3.528.665.807,00 369.852.219,00
Arus Keluar Kas
Belanja Tanah 62.055.742.229,00 90.112.411.012,00
Belanja Peralatan dan Mesin 111.154.689.684,00 211.351.557.059,00
Belanja Gedung dan Bangunan 249.684.271.166,00 65.886.584.251,00
Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan 195.717.562.384,57 145.872.901.964,00
Belanja Aset Tetap Lainnya 2.217.114.183,00 3.685.942.063,00
Belanja Aset Lainnya 1.520.883.900,00 84.712.325.754,00
Jumlah 622.350.263.546,57 601.621.722.103,00
Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi
(618.821.597.739,57) (601.251.869.884,00)
Aset Nonkeuangan

ARUS KAS DARI AKTIVITAS


PEMBIAYAAN
Arus Masuk Kas
Pencairan Dana Cadangan 67.713.876.943,00 0,00
Hasil Penjualan Aset/Kekayaan Daerah yang
0,00 0,00
Dipisahkan
Penerimaan Pinjaman dan Obligasi 0,00 154.279.027,54
Penerimaan Kembali Pinjaman 149.395.250,00 0,00
Penerimaan Piutang 0,00 0,00
Jumlah 67.863.272.193,00 154.279.027,54
Arus Keluar Kas
Pembentukan Dana Cadangan 190.000.000.000,00 145.000.000.000,00
Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah
118.263.000.000,00 213.775.000.000,00
Daerah
Pembayaran Pokok Utang Pinjaman dan
149.395.217,00 154.279.029,00
Obligasi
Pemberian Pinjaman 0,00 0,00
Jumlah 308.412.395.217,00 358.929.279.029,00
Arus Kas Bersih dari Aktivitas
(240.549.123.024,00) (358.775.000.01,46)
Pembiayaan

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 11


2007 2006
Uraian
(Rp) (Rp)

ARUS KAS DARI AKTIVITAS


NONANGGARAN
Arus Masuk Kas
Penerimaan sisa Kas PK tahun lalu - 18.929.532.809,00
Penerimaan sisa UP/GU/TU tahun berjalan - 47.560.445.121,00
Pertanggungjawaban Bendahara
- -
Pengeluaran
Penerimaan Perhitungan Pihak Ketiga 164.316.039.187,00 139.092.574.542,00
Jumlah 164.316.039.187,00 205.582.552.472,00
Arus Keluar Kas
Pengeluaran SP2D UP/GU/TU - 49.778.605.801,00
Pengeluaran Perhitungan Pihak Ketiga 164.316.039.187,00 139.092.574.52,00
Jumlah 164.316.039.187,00 188.871.180.343,00
Arus Kas Bersih dari Aktivitas
- 16.711.372.129,00
Nonanggaran
Kenaikan (Penurunan) Bersih Kas Selama 430.631.889.864,44 (378.594.999.790,06)
Periode
Saldo Awal Kas di BUD 811.678.900.660,99 1.189.449.070.981,05
Kas di Kas Daerah 810.854.071.190,99
Kas di Bendahara Pengeluaran 824.829.470,00
Saldo Akhir Kas di BUD 1.242.310.790.525,43 813.072.231.870,99
Kas di Kas Daerah 1.237.638.636.382,43 810.854.071.190,99
Kas di Bendahara Pengeluaran 4.672.154.143,00 2.218.160.680,00
Saldo Akhir Kas di Rekening Fungsional 34.237.168.219,90
35.256.020.830,79
Rumah Sakit
Kas di Bendahara Pengeluaran (Belum
3.916.820.427,00
Setor)
Sisa Askeskin di RSUD Saiful Anwar 2.385.827.500,00
PFK di Bendahara Pengeluaran 1.530.992.927,00
Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan 271.663.646,60 -
Saldo Akhir Kas 1.281.755.295.429,82 847.309.400.090,89

Catatan Atas Laporan Keuangan Merupakan Bagian Yang Tidak Terpisahkan dari
Laporan Keuangan Utama ini.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 12


D. Catatan Atas laporan Keuangan
1. Pendahuluan
a. Latar Belakang
Wujud nyata dari perubahan paradigma yang menjadikan pembangunan
sebagai acuan kerja pemerintahan ke paradigma pelayanan dan pemberdayaan
sebagai landasan kerja pemerintah adalah ditetapkannya Undang-Undang Nomor
22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25
tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat Daerah yang dirubah menjadi
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Daerah. Salah satu perubahan mendasar dari paradigma
tersebut adalah adanya reformasi dalam pelaksanaan otonomi daerah, yang
memberikan kewenangan lebih besar dalam bidang politik, pengelolaan keuangan
daerah dan pemanfaatan sumber-sumber daya daerah untuk kepentingan
masyarakat lokal, yang bermuara pada terciptanya dinamika serta corak
pembangunan baru di daerah.
Implementasi reformasi di bidang pengelolaan keuangan adalah Undang-
Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Dalam Undang-
Undang tentang Keuangan Negara ini dijabarkan aturan-aturan pokok yang
merupakan pencerminan best practices (penerapan kaidah-kaidah yang baik)
dalam pengelolaan keuangan negara, antara lain:
1) akuntabilitas berorientasi pada hasil
2) profesionalitas
3) proporsionalitas
4) keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara
5) pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri
Salah satu upaya konkrit untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas
pengelolaan keuangan negara adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban
keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip-prinsip tepat waktu dan disusun
dengan mengikuti standar akuntansi pemerintahan yang telah diterima secara
umum. Pada Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara
khususnya pasal 30, 31 dan pasal 32 disebutkan bahwa
Presiden/Gubernur/Bupati/Walikota menyampaikan pertanggungjawaban
pelaksanaan APBN/APBD kepada DPR/DPRD berupa laporan keuangan.
Laporan keuangan dimaksud meliputi Laporan Realisasi Anggaran, Neraca,

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 13


Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). Laporan
keuangan tersebut disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP).
Tidak berhenti hanya sampai di situ, selanjutnya ditetapkan Undang-
Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, yang
mengamanatkan pula agar segera disusun standar akuntansi pemerintahan.
Menindaklanjuti semua peraturan tersebut serta perlunya pedoman yang
mengatur kesamaan dalam penerapan prinsip-prinsip akuntansi maka ditetapkan
Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan yang berlanjut dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun
2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah serta ketentuan teknisnya Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah.
Dalam pelaporan keuangan dibedakan menjadi 2 (dua) entitas yaitu
entitas pelaporan dan entitas akuntansi. Entitas pelaporan adalah unit
pemerintahan daerah yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang
menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan
pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. Entitas pelaporan adalah
pemerintah daerah atau satuan organisasi di lingkungan pemerintah daerah atau
organisasi lainnya jika menurut peraturan perundang-undangan satuan organisasi
dimaksud wajib menyajikan laporan keuangan. Entitas pelaporan dalam hal ini
adalah Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Entitas akuntansi adalah unit
pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh karenanya wajib
menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk
digabungkan pada entitas pelaporan. Entitas akuntansi dalam hal ini adalah
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang berada di lingkup Pemerintah
Provinsi Jawa Timur.
Laporan keuangan yang disusun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur
menginformasikan posisi keuangan dan seluruh transaksi selama periode
pelaporan, selain itu juga berfungsi membandingkan realisasi pendapatan dan
belanja dengan anggaran yang telah ditetapkan. Membantu dalam menilai kondisi
keuangan, efektif dan efisiensi dalam penyelenggaraan pelaksanaan realisasi
anggaran serta menentukan ketaatan terhadap kewajiban untuk melaporkan
upaya-upaya yang telah dilakukan dalam pengelolaan keuangan daerah.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 14


b. Maksud dan tujuan penyusunan laporan keuangan
Sesuai dengan asas umum pengelolaan keuangan daerah yang
ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah pasal 4, yaitu:
1) Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-
undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggungjawab
dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan dan manfaat untuk
masyarakat.
2) Pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan dalam suatu sistem yang
terintegrasi yang diwujudkan dalam APBD yang setiap tahun ditetapkan
dengan peraturan daerah.
Sebagai upaya perwujudan Good Governance serta taat asas, maka
pelaporan keuangan pemerintah seharusnya menyajikan informasi yang
bermanfaat bagi para pengguna laporan dalam menilai akuntabilitas dan
membuat keputusan baik keputusan ekonomi, sosial, maupun politik dengan
menyediakan informasi yang berkaitan dengan keuangan dalam hal pendapatan,
belanja, pembiayaan, aset, kewajiban, ekuitas dana dan arus kas.
Maksud penyusunan Laporan Keuangan ini adalah wujud
pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD dalam menjelaskan kinerja
penyelenggaraan pemerintahan kepada masyarakat. Pertanggungjawaban ini
bukanlah semata-mata dimaksudkan sebagai upaya untuk menemukan
kelemahan pelaksanaan pemerintahan daerah melainkan untuk melaksanakan
asas efisiensi, efektifitas, serta fungsi pengawasan DPRD terhadap jalannya
pemerintahan.
Tujuan penyusunan laporan keuangan adalah menyajikan informasi
mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas dan kinerja keuangan
suatu entitas pelaporan yang secara spesifik tidak hanya bermanfaat bagi para
pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi
sumber daya tapi juga berguna dalam pengambilan keputusan serta menunjukkan
akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan dengan:
1) Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan
untuk membiayai seluruh pengeluaran;
2) Menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber daya
ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan peraturan
perundang-undangan;

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 15


3) Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang
digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah
dicapai;
4) Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai
seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya;
5) Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas
pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya, baik jangka
pendek maupun jangka panjang, termasuk yang berasal dari pungutan pajak
dan pinjaman;
6) Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas
pelaporan, apakah mengalami kenaikan atau penurunan, sebagai akibat
kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan;
Maka berdasarkan ketentuan yang ada dalam peraturan-peraturan yang
telah disampaikan sebelumnya, Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Jawa
Timur ini disusun sebagai Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2007 yang tertuang
dalam Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2007 tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah Tahun Anggaran 2007 Provinsi Jawa Timur dan Perubahan
APBD (P-APBD) Tahun Anggaran 2007 sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor
11 tahun 2007 tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Tahun Anggaran 2007 Provinsi Jawa Timur;

c. Landasan hukum penyusunan laporan keuangan :


1) UUD 1945;
2) UU Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
3) UU Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
4) UU Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggungjawab Keuangan Negara;
5) UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
6) UU Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintahan Daerah;
7) Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan;
8) Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah;

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 16


9) Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan
Kinerja Instansi Pemerintah;
10) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah;
11) Surat Edaran Menteri Dalam Negeri tanggal 5 April 2007 Nomor:
900/316/BAKD/2007 tentang Pedoman Sistem dan Prosedur Penatausahaan
dan Akuntansi, Pelaporan, dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah;
12) Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah Provinsi Jawa Timur;
13) Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2007 tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah Tahun Anggaran 2007 Provinsi Jawa Timur;
14) Peraturan Gubernur Nomor 4 tahun 2007 tentang Penjabaran Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2007 Provinsi Jawa Timur;
15) Keputusan Gubernur Nomor 188/65/KPTS/013/2007 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi Jawa Timur;
16) Peraturan Daerah Nomor 11 tahun 2007 tentang Perubahan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2007 Provinsi Jawa Timur;
17) Peraturan Gubernur Nomor 59 tahun 2007 tentang Perubahan Penjabaran
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2007 Provinsi
Jawa Timur.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 17


2. Ekonomi Makro, Kebijakan Keuangan Dan Pencapaian Target Kinerja APBD.
a. Ekonomi Makro

Besaran-besaran makro ekonomi sangat fundamental dalam rangka


penyusunan APBD. Besaran seperti pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah,
inflasi yang tidak dapat dikendalikan dengan kebijakan harus diformulasikan
menjadi asumsi – asumsi penting. Dalam penyusunan APBD 2007, asumsi –
asumsi penting yang ditetapkan antara lain pertumbuhan ekonomi sebesar 6,1%
dengan inflasi dibawah 2 digit dan nilai tukar rupiah dibawah ambang batas
psikologis Rp10.000,00. Dari penatapan asumsi ekonomi makro tersebut, pada
akhir tahun 2007, pertumbuhan ekonomi berdasarkan angka sangat sementara
BPS dan belum divalidasi mencapai 6,02%. Sedangkan inflasi sampai dengan
akhir tahun 2007 (kumulatif) tercatat sebesar 6,48 % dengan nilai tukar rupiah
terhadap dollar Amerika Serikat mencapai Rp9.200,00.

Capaian makro ekonomi dari asumsi yang ditetapkan pada penyusunan


APBD 2007, sebenarnya tidak terdapat kondisi ekstrim sebagaimana pernah
terjadi pada tahun 2006 yang diakibatkan oleh kenaikan harga BBM pada Oktober
2005. Sedikit pelambatan dari target 2007 sebesar 6,1% akan dilakukan justifikasi
kembali dengan kegiatan validasi standar BPS. Oleh karena itu substansi laporan
ini akan mengalami perkembangan kedepan khususnya terkait besaran
pertumbuhan ekonomi 2007. Sedangkan untuk inflasi dan nilai tukar rupiah yang
sepenuhnya dikendalikan oleh otoritas moneter, nampaknya tidak terlalu ekstrem
fluktuatif dan cenderung stabil, hanya pada momen hari-hari tertentu seperti bulan
Juni dan Juli awal anak sekolah memasuki tahun ajaran baru, hari raya Idul Fitri,
Natal dan Tahun baru beberapa kelompok barang seperti pangan dan sandang
mengalami inflasi yang agak tinggi.

b. Kebijakan Keuangan
Kebijakan di bidang keuangan daerah meliputi 2 (dua) aspek penting
yaitu kebijakan di bidang penerimaan/pendapatan daerah (revenue policy) dan
kebijakan di bidang pembelanjaan keuangan daerah (expenditure policy).
Kebijakan di bidang keuangan daerah tersebut mempunyai nilai yang sama
penting dan masing-masing harus dapat bersinergi. Idealnya expenditure policy
adalah merupakan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
disamping dapat meningkatkan penerimaan daerah. Sebaliknya revenue policy
dapat mendukung berbagai kebijakan anggaran, terutama pada sisi pengeluaran.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 18


Dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut maka APBD
merupakan instrumen yang akan menjamin terciptanya disiplin dalam proses
pengambilan keputusan terkait dengan kebijakan di bidang pendapatan, belanja
daerah, dan pembiayaan. Kebijakan tersebut dibahas dan disetujui bersama oleh
Pemerintah Daerah dan DPRD serta ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Agar APBD Provinsi Jawa Timur tahun anggaran 2007 dapat
mengimplementasikan Visi – Misi Jawa Timur serta mencerminkan kondisi aktual
saat ini dan sebagai prediksi ke depan, maka tema APBD Tahun Anggaran 2007
adalah :
“Revitalisasi pembangunan Jawa Timur dalam rangka peningkatan
pelayanan dasar dan kemandirian ekonomi di bidang pangan dan energi
menuju kemandirian industri”
Pendapatan daerah (langsung) pada hakikatnya diperoleh melalui
mekanisme pajak dan retribusi atau pungutan lainnya, yang dibebankan pada
seluruh masyarakat. Upaya yang dilakukan dalam melakukan pungutan terhadap
pos-pos pajak dan retribusi daerah melalui intensifikasi maupun ekstensifikasi
dengan berprinsip pada pelayanan yang optimal serta tidak memberatkan
masyarakat.
Pada tahun 2007 ini dari sektor pajak langsung yaitu Pajak Kendaraan
Bermotor (PKB) diproyeksikan terdapat kenaikan sebesar 8% - 12% dari realisasi
tahun 2006, sedangkan dari sektor pajak tidak langsung yaitu Bea Balik Nama
Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan bagian Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak
pertumbuhannya menyesuaikan kondisi perekonomian dan kebijakan Pemerintah
Pusat.
Diprediksikan pada tahun 2007, kekuatan pendapatan daerah akan naik
8,90% atau Rp5,096 trilyun, yang merupakan akumulasi dari asumsi-asumsi
sebagai berikut:
1) Pajak daerah akan naik terkait dengan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)
sebesar 8-12%.
2) Dana APBN yang ditransfer ke daerah (Dana Bagi Hasil, DAU, DAK) sebesar
27% dari penerimaan negara. Sedangkan kondisi belanja publik dari APBN
untuk tahun 2007 secara nasional naik 12,8% atau Rp26,1 Trilyun dari pagu
definitif tahun 2006 yang sebesar Rp204,2 Trilyun menjadi Rp230,3 Trilyun
(pagu indikatif 2007).

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 19


3) Dengan asumsi dana perimbangan akan mengalami kenaikan yang sama
dengan kenaikan dana APBN 2007 sebesar 12,8%, dana perimbangan
diproyeksikan naik 14,56% yang berasal dari proyeksi kenaikan dana Bagi
Hasil/non pajak sebesar 25,57% dan DAU sebesar 10%, sedangkan dari
kenaikan Lain-lain Pendapatan Yang Sah naik sebesar 9,84%.
4) Proyeksi pendapatan daerah tahun 2007 diasumsikan naik dari target
pendapatan tahun 2006.
Prediksi kekuatan pendapatan daerah untuk tahun 2007 ini lebih tinggi
dari proyeksi sebagaimana substansi RPJMD 2006-2008 yang berdasarkan total
pendapatan Provinsi Jawa Timur 2006-2008 adalah Rp3,4 Trilyun (Perda Nomor
8 Tahun 2005 tentang RPJMD Provinsi Jawa Timur 2006-2008 pada Bab IV Sub
Bab Proyeksi Keuangan Jawa Timur). Perbedaan ini tentu saja harus dijustifikasi
dengan kekuatan APBD 2006 yang mencapai Rp4,6 Trilyun.
Selain itu dalam konteks belanja, Pemerintah Daerah harus
mengalokasikan belanja daerah secara adil dan merata agar relatif dapat
dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi, khususnya dalam
pemberian pelayanan umum. Dalam aspek pembiayaan diarahkan agar tercipta
akurasi, efisien, efektifitas dan profitabilitas.
Pada komponen belanja Provinsi Jawa Timur terdapat dana-dana dari
APBN (diluar DAU dan DAK), yang jumlah alokasinya pada tahun 2006 (sesuai
dengan data dari Departemen Keuangan) sebesar Rp11.841.127.139,72 yang
tersebar pada instansi vertikal maupun otonom termasuk belanja ex rutin. Dengan
asumsi bahwa plafon per provinsi akan mengalami kenaikan yang sama dengan
kenaikan pagu indikatif nasional sebesar 12,8% maka alokasi dana APBN 2007
ke Jawa Timur diperkirakan sebesar Rp13.356.791.697,86.
Sebagai sebuah kebijakan publik, maka kebijakan umum APBD yang
ada pengelolaan keuangan daerah sebagaimana yang tersusun dalam APBD
2007 adalah:
1) Pendapatan
a) Peningkatan target pendapatan daerah baik pajak langsung maupun tidak
langsung secara terencana sesuai kondisi perekonomian dengan
memperhatikan kendala, potensi, dan coverage ratio yang ada.
b) Mengembangkan kebijakan pendapatan daerah yang dapat diterima
masyarakat, partisipatif, bertanggungjawab dan berkelanjutan.
c) Perluasan sumber-sumber penerimaan daerah.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 20


2) Belanja
a) Pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar masyarakat, khususnya bidang
pendidikan, kesehatan dan pangan.
b) Stimulasi pertumbuhan ekonomi di sektor riil melalui fasilitasi UKM di
semua sektor terutama dalam rangka menuju kemandirian pangan dan
energi.
c) Melanjutkan proyek-proyek strategis sesuai tahapan.
d) Penanganan bencana alam dan pasca bencana alam. Belanja
penanganan bencana alam dan pasca bencana alam dialokasikan dengan
pola “plotting mengambang” yang sewaktu-waktu dapat dibelanjakan.
Belanja dari pola plotting mengambang jika tidak dapat diserap karena
tidak terjadi bencana, sisa lebih bukan tidak dihitung sebagai kerangka
prestasi kerja.
e) Mengakomodasikan dinamika masyarakat yang berkembang.
f) Memenuhi prinsip keadilan tidak hanya terkonsentrasi pada lokus tertentu
serta memperhatikan aspirasi masyarakat.
g) Mengacu pada sinkronisasi kebijakan antara Pemerintah Pusat, Provinsi
dan Kabupaten/Kota.
h) Peningkatan kinerja hasil (out come) yang nyata dan pada tahap awal
diperlukan “pilot project” untuk mendukung keberhasilan implementasi
perencanaan.

3) Pembiayaan
Meningkatkan manajemen pembiayaan daerah yang mengarah pada
akurasi, efisiensi, efektifitas, dan profitabilitas. Adanya kebijakan di bidang
pengelolaan keuangan merupakan pijakan awal dalam melaksanakan seluruh
kegiatan baik berupa pencapaian target di bidang pendapatan maupun
aktivitas operasional belanja yang merupakan wujud nyata kinerja dari setiap
unit kerja yang ada di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Realisasi
dari kebijakan dimaksud pada akhirnya akan bermuara pada
pertanggungjawaban realisasi APBD tahun anggaran 2007. Pengaruh yang
signifikan akan nampak pada laporan arus kas dan neraca daerah Pemerintah
Provinsi Jawa Timur. Pada akun aset lancar akan mengalami peningkatan,
begitu juga pada posisi belanja yang mengalami peningkatan dibanding tahun
anggaran 2006, dan pada akhirnya akan mempengaruhi aktivitas arus kas
masuk yang juga akan mengalami peningkatan.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 21


c. Kebijakan Fiskal
Kebijakan Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka
mengarahkan kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan
mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan ini mirip dengan
kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar, namun kebijakan fiskal
lebih menekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja pemerintah.
Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan pengeluaran
pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak. Dari sisi pajak jelas jika
mengubah tarif pajak yang berlaku akan berpengaruh pada ekonomi. Jika pajak
diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan meningkat dan industri
akan dapat meningkatkan jumlah output. Dan sebaliknya kenaikan pajak akan
menurunkan daya beli masyarakat serta menurunkan output industri secara
umum.
Dengan dasar tersebut dapat disampaikan bahwa kewenangan untuk
mengatur kebijakan fiskal merupakan wilayah kewenangan Pemerintah Pusat,
sedangkan pemerintah Provinsi tidak dapat mengkondisikan daerah dengan
kebijakan tersebut dikarenakan bukan merupakan kewenangannya.
Sebagai penjelasan terhadap fiskal dari kebijakan pemerintah pusat
tersebut dapat disampaikan beberapa asumsi dasar ekonomi makro yang dipakai
dalam penyusunan RAPBN tahun 2007 yang akan menjadi patokan bagi seluruh
kebijakan ekonomi pemerintah daerah sebagai berikut :
1) Pertumbuhan Ekonomi (%) = 6,2-6,4;
2) Inflasi (%) = 5,0-7,0;
3) Nilai Tukar Rupiah (Rp/US$1) = 9.000-9.200;
4) Tingkat Suku Bunga SBI-3 Bulan (%) = 8,0-9,0;
5) Harga Minyak Indonesia (US$/barel) = 55-58;
6) Lifting (MBCD) = 1,000;
7) Produksi Minyak (MBCD) = 1,045
Pokok-pokok Kebijakan Fiskal sebagai landasan untuk penyusunan
RAPBN tahun anggaran 2007. Strategi kebijakan fiskal dalam tahun 2007 akan
tetap diarahkan pada dua langkah mendasar. Pertama, melanjutkan langkah-
langkah konsolidasi fiskal guna memantapkan kesinambungan fiskal (fiscal
sustainability). Hal ini akan diupayakan melalui pengendalian defisit anggaran
pada kisaran 0,5-0,7 persen terhadap PDB untuk menjaga tingkat resiko dan
eksposure utang pemerintah pada tingkat yang aman, tanpa menutup kebutuhan

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 22


untuk mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi. Upaya pengelolaan
anggaran tersebut akan dilakukan melalui langkah-langkah peningkatan
penerimaan negara, dan peningkatan efektivitas dan efisiensi belanja negara,
seraya tetap mengupayakan stimulus perekonomian dengan Pro Growth,
Employment Creation, dan Proverty Alleviation secara bertahap dalam mengatasi
kemiskinan dan pengangguran. Kedua, merumuskan strategi pembiayaan
anggaran yang tepat dan terkendali (manageable) agar terjadi penurunan stok
utang pemerintah dan rasionya terhadap PDB. Dalam rangka mencapai sasaran-
sasaran pokok kebijakan fiskal RAPBN 2007 tersebut, dalam tahun 2007 akan
dilakukan langkah-langkah kebijakan pokok di bidang pendapatan negara, belanja
negara, dan pembiayaan anggaran.

d. Kebijakan Moneter
Kebijakan Moneter dilaksanakan untuk mengendalikan keadaan ekonomi
makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan melalui pengaturan
jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Usaha tersebut dilakukan agar
terjadi kestabilan harga dan inflasi serta terjadinya peningkatan output
keseimbangan.
Kebijakan moneter merupakan kewenangan dari pemerintah Pusat dalam
hal Bank Indonesia yang mempunyai tugas untuk menjaga tingkat stabilitas
moneter dalam negeri.

e. Ikhtisar Pencapaian Target Kinerja Program Entitas Pemerintah Provinsi


Jawa Timur.

Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Provinsi


Jawa Timur Tahun 2006-2008 merupakan acuan didalam penetapan target
kinerja menengah dalam kurun waktu 3 (tiga) Tahun dengan memobilisasi
potensi-potensi yang ada. Selanjutnya target-target tersebut dijabarkan kedalam
target-target tahunan dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)
tahunan daerah. Untuk tahun 2007, berdasarkan dokumen RKPD tahun 2007,
Pemerintah Provinsi menetapkan target kinerja sebagai berikut:

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 23


MATRIK PENGUKURAN KINERJA PEMBANGUNAN
TAHUN

NO INDIKATOR KINERJA
2007
I. AGENDA PENINGKATAN KESALEHAN SOSIAL DALAM
BERAGAMA
1. Rasio Angka Perceraian Terhadap Jumlah Rumah 0,0020
Tangga
2. Pemakai Narkoba (% Penurunan) (2)
3. Indeks Komposit kriminalitas yang dominan 97
(2005=100)
II. AGENDA PENINGKATAN AKSESIBILITAS TERHADAP
KUALITAS PENDIDIKAN DAN KESEHATAN
1. Angka Buta Huruf penduduk umur 10 – 44 tahun (%) 7,94
2. Angka Partisipasi Sekolah menurut tingkat pendidikan
(%):
a. SD-MI 99,63
b. SLTP-MTs 85,71
c. SLTA-MA 62,02
3. Rasio murid SMK terhadap murid SMU 0,70
4. Angka Kematian Bayi per 1.000 kelahiran hidup 37,00
5. Angka Harapan Hidup (tahun) 67,55
6. Angka Kematian Ibu melahirkan per 100.000 304
kelahiran hidup
7. Prevalensi kurang Gizi pada anak (%) 20,00
8. Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (%) 84,00

III. AGENDA PENANGGULANGAN KEMISKINAN,


PENGANGGURAN, PERBAIKAN IKLIM KETENAGA
KERJAAN DAN MEMACU KEWIRAUSAHAAN

1. Tingkat Pengangguran Terbuka/TPT (%) 5,4


2. Pemenuhan kebutuhan Pangan (Skor Pola Pangan 78,2
Harapan)
3. ILOR 0,054

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 24


4. Persentase penduduk miskin terhadap jumlah 17,00
penduduk (%)
5. Peranan APBD terhadap PDRB (%) 1,50
6. Indeks Jumlah Kecelakaan Kerja (2005=100) 97,00

IV. AGENDA PERCEPATAN PERTUMBUHAN EKONOMI


YANG BERKUALITAS DAN BERKELANJUTAN DAN
PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

1. Pertumbuhan Ekonomi ADHK Tahun 2000 (%) 6,10


2. PDRB Per Kapita (ribu Rupiah) 8.650
3. Indeks Daya Beli (Tahun 2000=100) 127
4. Indeks Disparitas Wilayah 101,5
5. Nilai Tukar Petani (NTP) 2002 =100 106,33
6. Nilai Tukar Nelayan (NTN) 107
7. Peningkatan Nilai Tambah UKM dalam PDRB (%) 62,00
8. Indeks Pembangunan Manusia 65,57
9. ICOR 4,80
10. Pertumbuhan Penduduk (%) 1,100

V. AGENDA OPTIMALISASI PENGENDALIAN SDA,


PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PENATAAN
RUANG

1. Kualitas air sungai (% terhadap parameter kunci 15,00


dalam baku mutu)
2. Kualitas udara ambien di perkotaan (% terhadap baku 20,00
mutu udara ambien)
3. Pengendalian limbah B3 (% terhadap total potensi 20,00
limbah B3 yang dihasilkan)
4. Lahan kritis Tahura R.Suryo (Ha) 12.000
5. Lahan Kritis Non Tahura R.Suryo di Jawa Timur (Ha) 400.000

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 25


VI. AGENDA PENINGKATAN KETENTRAMAN DAN
KETERTIBAN, SUPREMASI HUKUM DAN HAM

1. Indeks Korban Kejahatan (2005=100) 100


2. Penurunan Kecelakaan Lalu Lintas (%) (2)
3. Indeks Korban Kekerasan (2005=100) 98
4. Indeks Perkelahian antar pelajar (2005=100) 98
5. Indeks Kerusuhan berlatarbelakang SARA 98
(2005=100)
6. Indeks Pertikaian antar aparat keamanan (2005=100) 90
7. Indeks Kerusuhan berlatar belakang politik 90
(2005=100)
8. Indeks Konflik antar nelayan (2005=100) 90

VII. AGENDA REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI


DAN OTONOMI DAERAH MELALUI REFORMASI
BIROKRASI DAN PENINGKATAN PELAYANAN PUBLIK

1. Efektivitas Perda yang dihasilkan meningkat

2. Penanganan pengaduan di DPRD Jawa Timur meningkat

3. Rasio jumlah dan besar kerugian negara terhadap 0,330


APBD (%)
4. Penanganan terhadap Pengaduan Pelayanan Publik meningkat

Sebagai akibat kenaikan harga minyak dunia relatif tinggi, maka


pemerintah mengurangi subsidi BBM yang berakibat pada kenaikan harga BBM
pada akhir tahun 2005. Kebijakan ini tentu berpengaruh pada situasi
perekonomian Jawa Timur, yang pada saat berikutnya diikuti pula dengan
terjadinya bencana alam dibeberapa daerah sepanjang tahun 2006 dan 2007.
Namun rentetan kejadian tersebut tidak menyurutkan optimisme pemerintah
Provinsi Jawa Timur dalam mencapai target kinerja yang telah ditetapkan untuk

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 26


tahun 2007, dengan berkaca pada kondisi perekonomian Jawa Timur yang cukup
mendukung di tahun 2006.

Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tahun 2006 sebesar 5,80%, yang


terjadi diseluruh sektor ekonomi, dengan bentuk pertumbuhan positif.
Perekonomian Jawa Timur masih didominasi oleh tiga sektor utama, yaitu sektor
pertanian, sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel dan
restoran. Dalam pembentukan PDRB ADHB tahun 2006 Jawa Timur sektor
industri pengolahan memberikan peranan yang paling besar, diikuti sektor
perdagangan, hotel dan restoran serta sektor pertanian.

Selanjutnya apabila dilihat dari aspek penggunaannya, pertumbuhan


ekonomi Jawa Timur pada tahun 2006 secara tahunan masih didominasi oleh
pertumbuhan konsumsi terutama konsumsi rumah tangga, namun hal ini belum
mencerminkan basis pertumbuhan perekonomian yang kuat, karena pertumbuhan
penciptaan lapangan kerja tidak sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja.

Nilai inflasi Jawa Timur (kumulatif Januari-Desember 2006) menurun


signifikan dibandingkan tahun 2005 yaitu dari 14,59% menjadi 6,67% yang berada
di bawah kisaran sasaran 8,1% yang ditetapkan oleh Pemerintah dan Bank
Indonesia secara bersama-sama. Penurunan tersebut dikarenakan sudah
berkurangnya dampak kebijakan Pemerintah dalam menaikkan harga BBM dan
selama setelah itu tidak ada lagi kebijakan Pemerintah untuk menaikkan harga.

Kinerja investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) 2006 yaitu


telah diterbitkan Surat Persetujuan Investasi oleh BPKM dengan nilai investasi
sebesar Rp167.449.029 juta. Apabila dibandingkan dengan persetujuan yang
telah disetujui dalam kurun waktu yang sama yaitu periode Januari–Desember
2005 dengan nilai investasi sebesar Rp5.516.850 juta, naik cukup besar yaitu
2.981,16%. Sedangkan kinerja investasi PMA periode Januari–Desember 2006
telah diterbitkan Surat Persetujuan investasi oleh BKM dengan nilai investasi
sebesar US$1.467.546 ribu. Apabila dibandingkan dengan persetujuan yang
telah disetujui dalam kurun waktu yaitu periode Januari–Desember 2005 terjadi
peningkatan sebesar 210,56%.

Selanjutnya kinerja ekspor non migas Jawa Timur tahun 2006 tercatat
sebesar US$9,019 milyar atau mengalami peningkatan sebesar 23,47%
dibandingkan tahun 2005 yaitu sebesar US$ 7,114 milyar. Sedangkan volume
ekspor pada tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar 6,07% dari 6,54 juta ton

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 27


menjadi 6,16 juta ton tahun 2005. Struktur ekspor non migas Jawa Timur tahun
2006 didominasi oleh komoditi manufaktur sebesar 91,69%, diikuti sektor
pertanian sebesar 8% dan sektor pertambangan sebesar 0,31%. Adapun 10
(sepuluh) negara tujuan utama ekspor non migas, yaitu Jepang; Amerika serikat;
Malaysia; Republik Rakyat Cina; Thailand; Singapura; Korea Selatan; Taiwan;
Australia dan Belgia.

Kinerja impor non migas Jawa Timur pada tahun 2005 adalah US$6,31
milyar, sedangkan tahun 2006 mencapai US$6,86 milyar. Negara asal yang
paling besar nilai impornya masih didominasi Singapura, diikuti Rep. Rakyat Cina,
Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Australia.

Neraca perdagangan Jawa Timur menunjukkan perkembangan yang


cukup fluktuatif, dimana tahun 2005 mengalami surplus sebesar US$800,9 juta.
Sedangkan neraca perdagangan tahun 2006 mencapai surplus sebesar US$2,1
milyar. Selanjutnya kontribusi nilai ekspor non migas Jawa Timur terhadap
realisasi nilai ekspor non migas nasional cukup tinggi, pada tahun tahun 2005
sebesar 10,72%, sedangkan tahun 2006 (data sementara) tercatat sebesar
11,33%.

Kinerja perbankan Jawa Timur pada akhir triwulan IV-2006 menunjukkan


arah perkembangan yang semakin positif terutama dari sisi penyaluran kredit dan
mendekati akhir tahun mengalami percepatan dengan kualitas kredit yang
semakin membaik sehingga dapat menunjukan bahwa fungsi intermediasi
perbankan pada tahun 2007 akan semakin meningkat yang tercermin dari angka
Loan-to-Deposit Ratio (LDR) untuk bank umum yang berkantor pusat di Surabaya
tercatat sebesar 44,75%, masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya
(52,40%).

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 28


3. Ikhtisar Pencapaian Kinerja Keuangan
a. Ikhtisar Realisasi Pencapaian Target Kinerja Keuangan

Pada tahun 2007 capaian terhadap target Pemerintah Provinsi Jawa


Timur sebagaimana pada bab 2 adalah berikut:

Agenda I. : AGENDA PENINGKATAN KESALEHAN SOSIAL DALAM


BERAGAMA

TARGET CAPAIAN
INDIKATOR KINERJA RPJMD 2006 -2008
2007 2007
Rasio Angka Perceraian Terhadap Jumlah Rumah 0,0020 0,1652
Tangga
Pemakai Narkoba (% Penurunan) (2) (2,109)
Indeks Komposit kriminalitas yang dominan (2005=100) 97 114,46

Representasi kinerja agenda Peningkatan Kesalehan Sosial Dalam


Beragama diukur dengan indikator Rasio Angka Perceraian Terhadap Jumlah
Rumah Tangga; pemakai narkoba dan indeks komposit kriminalitas yang
dominan.

Pada tahun 2007, rasio perceraian terhadap jumlah rumahtangga


tercatat sebesar 0,156% atau lebih rendah dibandingkan tahun lalu yaitu sebesar
0,188%. Penurunan nilai tersebut memberikan gambaran bahwa upaya-upaya
yang dilakukan oleh berbagai pihak dalam mewujudkan keluarga yang harmonis
mengalami peningkatan yang cukup baik.

Selanjutnya, indikator pemakai narkoba pada tahun 2007 tercatat


sebesar minus 2,11% atau menurun secara signifikan dari tahun sebelumnya
sebesar 22,93%. Sedangkan indeks komposit kriminal pada tahun 2007 sebesar
114,46 menurun dari tahun sebelumnya sebesar 115,59. Kecenderungan
penurunan tindak kejahatan ini hendaknya disikapi oleh semua pihak untuk tetap
waspada, baik aparat keamanan dan partisipasi aktif warga masyarakat yang
dapat dilakukan melalui peningkatan peran kontrol warga masyarakat sampai
pada tingkat Rukun Tetangga.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 29


Agenda II. : AGENDA PENINGKATAN AKSESIBILITAS TERHADAP
KUALITAS PENDIDIKAN DAN KESEHATAN

TARGET CAPAIAN
INDIKATOR KINERJA RPJMD 2006 -2008
2007 2007
Angka Buta Huruf penduduk umur 10 – 44 tahun (%) 7,94 3,06
Angka Partisipasi Sekolah menurut tingkat pendidikan
(%):
a. SD-MI 99,63 98,42
b. SLTP-MTs 85,71 86,08
c. SLTA-MA 62,02 58,19
Rasio murid SMK terhadap murid SMU 0,70 0,69
Angka Kematian Bayi per 1.000 kelahiran hidup 37,00 35,90
Angka Harapan Hidup (tahun) 67,55 68,69
Angka Kematian Ibu melahirkan per 100.000 kelahiran 304 349
hidup
Prevalensi kurang Gizi pada anak (%) 20,00 15,86
Persalinan oleh Tenaga Kesehatan (%) 84,00 81,79

Untuk mengukur kinerja Agenda Peningkatan Aksesibilitas Terhadap


Kualitas Pendidikan dan Kesehatan maka indikator yang digunakan adalah Angka
Buta Huruf; Angka Partisipasi Sekolah; Rasio murid SMK terhadap murid SMU;
Angka Kematian Bayi; dan Angka Harapan Hidup; Angka Kematian Ibu
melahirkan; Prevalensi kurang Gizi pada anak; dan Persalinan oleh Tenaga
Kesehatan.

Angka Buta Huruf penduduk Jawa Timur usia 10 sampai 44 tahun pada
tahun 2007 adalah sebesar 3,06%, mengalami penurunan dibandingkan tahun
lalu sebesar 3,47%. Hal ini menunjukkan bahwa program pemberantasan buta
aksara cukup berhasil.

Untuk Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia SD penduduk Jawa Timur


tahun 2007 sebesar 98,42% naik dibandingkan tahun 2006 sebesar 98,22%. APS
usia SLTP juga mengalami peningkatan dari 85,24% pada tahun 2006 menjadi
86,08% pada tahun 2007. Demikian juga, APS usia SLTA mengalami peningkatan
dari 53,98% pada tahun 2006 menjadi 58,16% pada tahun 2007. Secara umum,
hal ini menunjukan bahwa partsisipasi anak sekolah baik usia SD, SLTP maupun
SLTA mengalami peningkatan.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 30


Untuk rasio murid SMK terhadap SMU termasuk Madrasah Aliyah pada
tahun 2007 adalah sebesar 0,69, sama dibandingkan tahun lalu, artinya
perbandingannya ada 6 sampai 7 murid yang memilih bersekolah di SMK ketika
10 orang yang lain memilih untuk bersekolah di SMU. Kinerja akan terus
ditingkatkan, dan sinergis dengan kebijakan Pemerintah dibidang Sekolah
Menengah Kejuruan.

Dalam mengukur kinerja aksesibilitas terhadap kualitas kesehatan,


maka indikator pertama yang digunakan adalah angka kematian bayi yang pada
tahun 2007 tercatat 35 bayi meninggal untuk setiap 1.000 kelahiran hidup, atau
relatif sama dibanding tahun sebelumnya, penyebabnya karena adanya
peningkatan penolong persalinan oleh tenaga medis, keberhasilan program KB,
peningkatan pelayanan dan penyediaan fasilitas kesehatan yang telah dilakukan
oleh pemerintah, serta semakin baiknya pengetahuan masyarakat akan
kesehatan; kedua, Angka Harapan Hidup (AHH) penduduk Jawa Timur dari tahun
ke tahun terus mengalami peningkatan dari sekitar 68,25 tahun pada tahun 2006
meningkat menjadi 68,69 tahun pada tahun 2007. Meningkatnya umur harapan
hidup ini secara tidak langsung memberikan gambaran adanya peningkatan
kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat Jawa Timur; ketiga, angka
kematian ibu melahirkan mengalami penurunan dari 364 kasus pada tahun 2006
menjadi 349 kasus pada tahun 2007. Penurunan disebabkan adanya berbagai
kebijakan perbaikan akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru
lahir, pengembangan klinik Kesehatan Ibu dan Anak; pembangunan rumah sakit;
pengembangan puskesmas, dan posyandu.

Disamping ketiga indikator tersebut, maka indikator prevalensi kurang


gizi pada anak selama dua tahun terakhir menunjukkan penurunan, yaitu dari
sekitar 17,56% pada tahun 2006 turun menjadi sekitar 15,86% pada tahun 2007.
Penurunan tersebut terjadi baik pada balita dengan status gizi kurang maupun
balita status gizi buruk. Dalam rentang dua tahun terakhir Jawa Timur ini
termasuk kategori daerah yang low risk, karena Prosentase jumlah balita dengan
gizi kurang dan buruk kurang dari 20%, merupakan wujud dari peningkatan
fasilitas dan pelayanan kesehatan yang telah dilakukan pemerintah, serta
didukung dengan semakin meningkatnya pengetahuan orangtua mengenai pola
pemberian asupan gizi pada anak.

Pada indikator Persalinan oleh Tenaga Kesehatan yang


direpresentasikan dengan persentase persalinan oleh tenaga medis pada tahun

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 31


2007 tercatat sebesar 81,79%, meningkat dibandingkan tahun 2006 sebesar
81,20%. Keadaan ini menggambarkan kesadaran masyarakat akan resiko
kematian ibu dan bayi semakin meningkat. Kondisi ini dapat dipertahankan
bahkan ditingkatkan bila angka kematian ibu dan bayi akibat proses persalinan
dapat semakin ditekan.

Agenda III. : AGENDA PENANGGULANGAN KEMISKINAN,


PENGANGGURAN, PERBAIKAN IKLIM KETENAGAKERJAAN DAN
MEMACU KEWIRAUSAHAAN

TARGET CAPAIAN
INDIKATOR KINERJA RPJMD 2006 -2008
2007 2007
Tingkat Pengangguran Terbuka/TPT (%) 5,40 6,79
Pemenuhan kebutuhan Pangan (Skor Pola Pangan 78,20 75,53
Harapan)
ILOR 0,05 0,03
Persentase penduduk miskin terhadap jumlah 17,00 18,84
penduduk (%)
Peranan APBD terhadap PDRB (%) 1,50 0,94
Indeks Jumlah Kecelakaan Kerja (2005=100) 97,00 71,71

Representasi kinerja Agenda ini diukur dengan indikator Tingkat


Pengangguran Terbuka; Pemenuhan kebutuhan Pangan; Incremental Labor
Output Ratio (ILOR); persentase penduduk miskin terhadap jumlah penduduk;
Peranan APBD terhadap PDRB; dan Indeks Jumlah Kecelakaan Kerja.

Pada tahun 2007 jumlah pengangguran di Jawa Timur tercatat sebesar


1.366.503 jiwa atau tingkat pengangguran terbuka sebesar 6,79%, menurun
dibandingkan tahun lalu yaitu sebesar 1.051.295 jiwa atau 5,74%. Penyebab dari
masih tingginya jumlah pengangguran di Jawa Timur masih didominasi oleh
tingginya PHK dari perusahaan yang sudah tidak mampu lagi menjalankan
usahanya baik karena faktor internal dari perusahaan itu sendiri maupun faktor
eksternal yang kurang mendukung aktivitas usahanya. Kondisi ini diikuti pula
dengan tingkat penyerapan tenaga kerja yang direpresentasikan dengan indikator
ILOR tahun 2007 yang menunjukan angka positif meskipun masih sangat rendah
yaitu 0,07. Artinya, penambahan 100 juta rupiah PDRB pada tahun 2007 hanya
mampu meyerap tujuh orang tenaga kerja.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 32


Selanjutnya untuk Indikator pemenuhan kebutuhan pangan yang diukur
berdasarkan hasil skor Pola Pangan Harapan, pada tahun 2007 tercatat sebesar
75,53 atau menurun dibandingkan tahun 2006 sebesar 76,20. Kondisi demikian
berarti, pola konsumsi/kebiasaan makan penduduk mengalami penurunan baik
dari sisi kualitas maupun kuantitas, sebagai akibat dari kenaikan harga BBM
sehingga harga barang sembako naik dan daya beli masyarakat berkurang.

Selanjutnya, kenaikan harga BBM masih berdampak sampai dengan


akhir tahun 2007, khususnya bagi masyarakat yang berada di ambang miskin.
Persentase penduduk miskin di Jawa Timur mengalami peningkatan dari 19,1%
tahun 2004 menjadi 22,51% pada tahun 2005. Namun demikian, baik pemerintah
pusat maupun daerah telah mengantisipasi hal ini dengan melakukan berbagai
program pengentasan kemiskinan diantaranya penyaluran BLT pada rumah
tangga miskin, Gerdutaskin, program Jaring Pengaman Ekonomi Sosial (JPES),
Program Anti Kemiskinan (APP) dan program-program sektor lainnya, sehingga
berdasarkan hasil Pendataan Sosial Ekonomi dan Susenas oleh BPS persentase
penduduk miskin tahun 2006 dan 2007 turun masing-masing menjadi 19,89% dan
18,84%.

Untuk indikator peranan APBD terhadap PDRB dapat dijelaskan bahwa


peranan APBD Provinsi terhadap PDRB terlihat cenderung mengalami penurunan
yaitu dari 1,09% tahun 2006 menjadi 0,94% tahun 2007. Artinya, besaran APBD
hanya merupakan bagian kecil dari PDRB. Peran APBD dalam perekonomian
tidak hanya dilihat dari besar kecilnya nilai nominal, tetapi lebih pada nilai
kebijakan yang dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi daerah.

Terhadap jumlah kejadian kecelakaan kerja yang direpresentasikan oleh


indeks kecelakaan kerja cenderung mengalami penurunan yaitu dari 94,09 pada
tahun 2006 turun menjadi 71,71 pada tahun 2007. Berbagai upaya agar terus
dilakukan untuk meningkatkan kesadaran para pengusaha dan tenaga kerja
tentang pentingnya keselamatan mereka di tempat kerja.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 33


Agenda IV. : AGENDA PERCEPATAN PERTUMBUHAN
EKONOMI YANG BERKUALITAS DAN BERKELANJUTAN DAN
PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR.

TARGET CAPAIAN
INDIKATOR KINERJA RPJMD 2006 -2008
2007 2007
Pertumbuhan Ekonomi ADHK Tahun 2000 (%) 6,10 6,02
PDRB Per Kapita (ribu Rupiah) 8.650 14.067
Indeks Daya Beli (Tahun 2000=100) 127 137,87
Indeks Disparitas Wilayah 101,5 109,39
Nilai Tukar Petani (NTP) 2002 =100 106,33 113,12
Nilai Tukar Nelayan (NTN) 107 115,11
Peningkatan Nilai Tambah UKM dalam PDRB 62,00 3,45
(%)
Indeks Pembangunan Manusia 65,57 67,92
ICOR 4,80 3,12
Pertumbuhan Penduduk (%) 1,100 0,83

Representasi dari agenda ini diukur dari indikator Pertumbuhan


Ekonomi; PDRB Per Kapita; Indeks Daya Beli; Indeks Disparitas Wilayah; Nilai
Tukar Petani (NTP); Nilai Tukar Nelayan (NTN); Peningkatan Nilai Tambah UKM
dalam PDRB; Indeks Pembangunan Manusia; Incremental Capital Output Ratio
(ICOR) dan Pertumbuhan Penduduk.

Perekonomian Jawa Timur pada tahun 2007 tumbuh sebesar 6,02%


lebih rendah dibandingkan dengan target RPJMD 2006–2008 dan realisasi
pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 6,30% namun demikian lebih
tinggi dibandingkan tahun 2006 yaitu sebesar 5,80%. Dampak lumpur Lapindo
masih tetap menjadi kendala utama bagi aktivitas ekonomi khususnya di sentra-
sentra industri besar dan sedang di kawasan Pasuruan dan Malang, sehingga
mempengaruhi kondisi perekonomian Jawa Timur tahun 2007.

Indikator PDRB perkapita pada 2007 mencapai 14,06 juta rupiah


mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu yaitu sebesar 12,56 juta rupiah.
Kenaikan ini diikuti dengan kenaikan Indeks Daya Beli masyarakat Jawa Timur
tahun 2007 secara signifikan mencapai 137,87 poin atau naik 6,52%
dibandingkan tahun lalu yaitu 129,44.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 34


Selanjutnya, perkembangan capaian Indeks Disparitas wilayah (Tahun
Dasar 2000) tahun 2005 sebesar 113,87, tahun 2006 sebesar 109,50 sedangkan
tahun 2007 mencapai 109,39. Dari data tersebut, tingkat kesenjangan ekonomi
menunjukkan nilai yang stabil.

Nilai Tukar Petani Jawa Timur tahun 2006 sebesar 113,12 mengalami
kenaikan sebesar 1,29%, dibanding tahun sebelumnya yaitu sebesar 111,68.
Kenaikan tersebut disebabkan oleh kenaikan indeks harga yang diterima petani
yaitu 9,96%, lebih besar dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani yaitu
8,57%. Hal demikian menunjukkan, bahwa kesejahteraan petani tahun 2007
secara umum lebih baik dibanding kondisi tahun 2006. Untuk Nilai Tukar Nelayan
tahun 2007 tercatat sebesar 115,11, menunjukkan bahwa selama tahun 2007
nelayan relatif mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari karena
perkembangan harga produksi ikan masih lebih tinggi dari pada perkembangan
harga komoditas konsumsi sehari-hari.

Selanjutnya untuk indikator Nilai Tambah UKM dalam PDRB Atas Dasar
Harga Berlaku meningkat dari 53,26% pada tahun 2006 menjadi 53,45% pada
tahun 2007. Hal demikian, menunjukkan bahwa UKM masih merupakan pelaku
usaha yang sangat strategis dalam memberikan kontribusinya terhadap
perekonomian Jawa Timur, sehingga sektor ini perlu didorong untuk lebih
ditingkatkan lagi dengan berbagai fasilitasi dari pemerintah melalui kebijakan baik
kerangka program maupun anggaran.

Untuk indikator pembangunan manusia yang diukur dengan Indeks


Pembangunan Manusia (IPM) di Jawa Timur tahun 2007 mencapai 67,92
mengalami kenaikan 1,05 poin dibandingkan tahun 2006 yaitu 66,87. Tentunya.
kenaikan angka IPM ini lebih disebabkan karena adanya perbaikan pelayanan
pada kesehatan dan pendidikan yang merupakan dampak dari peningkatan
program pada kedua bidang tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa status
pembangunan manusia di Jawa Timur termasuk dalam kategori menengah atas.

Pada tahun 2006 urutan tertinggi angka IPM se Jawa Timur dicapai oleh
Kota Malang 75,65; diikuti dua kota lainnya yaitu Kota Blitar 74,51; dan Kota
Surabaya 73,73. Namun demikian, tidak semua komponen IPM yang telah dicapai
oleh ketiga kota tersebut menempati urutan tertinggi. Oleh karena itu masih perlu
upaya untuk meningkatkan ketiga komponen IPM baik kesehatan, pendidikan
maupun kemampuan daya beli penduduk. Sedangkan, angka IPM terendah di
Jawa Timur diduduki Kabupaten Sampang 54,50; Kabupaten Bondowoso 58,87;

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 35


dan Kabupaten Probolinggo 58,37. Oleh karena itu, untuk meningkatkan IPM di
daerah tersebut, ke depan program-program pembangunan dibidang kesehatan
dan pendidikan agar lebih difokuskan pada daerah tersebut.

Terhadap indikator ICOR atau efisiensi pembangunan pada tahun 2007


sebesar 3,12 yang artinya bahwa untuk menambahkan output sebesar 1 unit
diperlukan investasi sekitar 3,12 unit. Sedangkan besaran ICOR pada tahun
sebelumnya 3,18 menunjukkan bahwa setiap penambahan 1 unit output
memerlukan investasi sebesar kurang lebih 3,18 unit.

Terkait dengan indikator pertumbuhan penduduk, maka Jawa Timur


merupakan Provinsi dengan penduduk terbesar kedua yaitu 37,5 juta jiwa,
dengan laju pertumbuhan penduduk untuk tahun 2002 sampai dengan 2006
sebesar 1,06. Artinya bahwa selama kurun waktu tersebut setiap tahunnya
penduduk Jawa Timur bertambah sebesar 1,06%. Sedangkan pada tahun 2007
laju pertumbuhan penduduk sebesar 0,83% atau lebih rendah dibandingkan rata-
rata laju pertumbuhan penduduk selama periode 2002–2006. Dengan jumlah
penduduk yang besar maka pengangguran dan kemiskinan merupakan dua
masalah yang sering dihadapi oleh suatu wilayah, sehingga program
pembangunan baik Program Keluarga Berencana (KB), transmigrasi swakarsa
akan menjadi bagian penting pula dalam perbaikan kinerja kedepan dalam rangka
menunjang pengendalian laju pertumbuhan penduduk.

Agenda V.: AGENDA OPTIMALISASI PENGENDALIAN SDA,


PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PENATAAN RUANG

TARGET CAPAIAN
INDIKATOR KINERJA RPJMD 2006 -2008
2007 2007
Kualitas air sungai (% terhadap parameter kunci 15,00 11,39
dalam baku mutu)
Kualitas udara ambien di perkotaan (% terhadap baku 20,00 24,78
mutu udara ambien)
Lahan kritis Tahura R.Suryo (Ha) 12.000 8.286
Lahan Kritis Non Tahura R.Suryo di Jawa Timur (Ha) 400.000 100.334

Representasi kinerja agenda ini dapat diukur dengan indikator kualitas


air sungai; kualitas udara ambien di perkotaan; pengendalian limbah B3; lahan
kritis Tahura R.Suryo dan lahan kritis Non Tahura R.Suryo.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 36


Kualitas air sungai apabila dilihat dari nilai kinerja kualitas air pada tahun
2007 mencapai 11,39% atau dibawah target RPJMD yaitu sebesar 15%.
Sedangkan, kualitas udara ambien di perkotaan tercatat sebesar 24,78%,
melebihi dari target RPJMD Jawa Timur yaitu sebesar 20%. Artinya secara
umum, kualitas udara di Jawa Timur masih baik. Oleh karena itu, kondisi ini agar
tetap dipertahankan sehingga tercipta kualitas lingkungan yang sehat.

Pada kondisi lahan kritis Tahura R.Suryo, sampai tahun 2007 sisa lahan
yang masih tergolong kritis tercatat seluas 8.286 Ha, yang diakibatkan kondisi
fisik cenderung kering serta banyak terdapat jenis tanaman alang-alang dan
semak belukar, membuat kawasan hutan itu pada saat musim kemarau rawan
bencana kebakaran. Sedangkan lahan kritis Non Tahura R.Suryo yang masih
tergolong kritis tahun 2007 tercatat 100.334 Ha.

Agenda VI. : AGENDA PENINGKATAN KETENTRAMAN DAN


KETERTIBAN, SUPREMASI HUKUM DAN HAM

TARGET CAPAIAN
INDIKATOR KINERJA RPJMD 2006 -2008
2007 2007
Indeks Korban Kejahatan (2005=100) 100 149,24
Penurunan Kecelakaan Lalu Lintas (%) (2) 320,09
Indeks Korban Kekerasan (2005=100) 98 106,20
Indeks Perkelahian antar pelajar (2005=100) 98 31,58
Indeks Kerusuhan berlatarbelakang SARA 98 30,77
(2005=100)
Indeks Pertikaian antar aparat keamanan 90 100,00
(2005=100)
Indeks Kerusuhan berlatar belakang politik 90 0,00
(2005=100)
Indeks Konflik antar nelayan (2005=100) 90 33,33

Implementasi agenda Peningkatan Ketentraman dan Ketertiban,


Supremasi Hukum dan HAM diukur dengan indikator Indeks Korban Kejahatan;
Penurunan Kecelakaan Lalu Lintas; Indeks Korban Kekerasan; Indeks
Perkelahian Antar Pelajar; Indeks Kerusuhan berlatar belakang SARA; Indeks
Pertikaian antar aparat keamanan (2005=100); Indeks Kerusuhan berlatar
belakang politik (2005=100);

Atas dasar indeks korban kejahatan, jumlah kasus kejahatan tahun 2007
sebanyak 45.354 kasus, dengan jumlah korban rata-rata 1 jiwa setiap tahunnya
atau meningkat dibandingkan tahun lalu yaitu sebesar 14.923 kasus. Berdasarkan
indeks penurunan kecelakaan lalu lintas, selama periode 2006 – 2007 jumlah

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 37


kecelakaan lalu lintas menurun dari 6.914 kali pada tahun 2006 menjadi 5.975 kali
kecelakaan tahun 2007. Dengan menurunnya angka kecelakaan lalu lintas dalam
periode ini, adanya upaya-upaya untuk menekan jumlah kecelakaan terus
dilakukan secara konsisten dan terpadu baik oleh aparat kepolisian maupun dari
kesadaran masyarakatnya, seperti yang telah dirintis oleh aparat kepolisian yaitu
upaya ketaatan pada masyarakat terhadap peraturan lalu lintas serta himbauan
menyalakan lampu bagi sepeda motor di siang hari.

Indeks korban kekerasan pada tahun 2006 tercatat sebesar 59,21 atau
mengalami penurunan dari 114,37 pada tahun 2006 menjadi 106,20 pada tahun
2007. Korban kekerasan ini meliputi pembunuhan, pencurian dengan kekerasan,
pemerkosaan, penganiayaan berat dan kekerasan dalam rumahtangga. Terkait
dengan Indeks Perkelahian Antar Pelajar, pada tahun 2007 tercatat sebesar
31,58 artinya pertikaian antar pelajar memang masih terjadi, namun jumlahnya
menurun, hanya bersifat personal dan kasuistis. Oleh karena itu, untuk
menghindari hal-hal demikian perlu adanya wahana atau media bagi mereka,
sehingga aktivitasnya dapat tersalurkan dan keberadaannya diakui dalam entitas
lainnya.

Untuk Indeks Kerusuhan berlatar belakang SARA, pada tahun 2007


tercatat 30,77 sama dengan tahun lalu artinya kerusuhan berlatar belakang SARA
hanya terjadi sebanyak 4 kasus. Konflik ini terjadi sebagai akibat adanya
perbedaan pandangan, sosial dan ekonomi pada tingkat stratifikasi di wilayah
tertentu.

Dalam hal Indeks Pertikaian antar aparat keamanan; Jawa Timur


merupakan daerah yang relatif aman tetapi juga tidak luput dari terjadinya
pertikaian antar aparat keamanan. Selama tahun 2007 terjadi 2 kasus pertikaian
antar aparat keamanan menurun dibandingkan tahun 2006 yaitu sebayak 4
kasus.

Pada tahun 2007 untuk Indeks Kerusuhan berlatar belakang politik maka
dapat dilihat bahwa stabilitas politik cenderung kondusif dan lebih baik
dibandingkan tahun 2006, sehingga kerusuhan yang diakibatkan politik cenderung
tidak ada. Hendaknya kondisi ini dapat dipertahankan di tahun-tahun akan datang
khususnya menjelang pemilihan kepala daerah tahun 2008.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 38


Agenda VII. : AGENDA REVITALISASI PROSES
DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH MELALUI REFORMASI
BIROKRASI DAN PENINGKATAN PELAYANAN PUBLIK

INDIKATOR KINERJA RPJMD 2006


TARGET 2007 CAPAIAN 2007
-2008
Efektivitas Perda yang dihasilkan Meningkat Cukup baik
Penanganan pengaduan di DPRD Meningkat 60,00
Jawa Timur
Rasio jumlah dan besar kerugian 0,330 0,41
negara terhadap APBD (%)
Penanganan terhadap Pengaduan Meningkat Baik dengan
Pelayanan Publik catatan

Representasi kinerja agenda ini diukur dengan indikator Efektivitas


Perda yang dihasilkan; Penanganan pengaduan di DPRD Jawa Timur; Rasio
jumlah dan besar kerugian negara terhadap APBD; Penanganan terhadap
Pengaduan Pelayanan Publik.

Pada tahun 2007 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur
telah menetapkan beberapa Peraturan Daerah (Perda), antara lain perda dalam
upaya menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan perekonomian
daerah terutama penekanan standart pelayanan publik, juga perda RT/RW Jawa
Timur yang diharapkan mampu memberikan gambaran pada para pebisnis dalam
mengembangkan bisnisnya di Jawa Timur. Kegiatan sosialisasi Perda telah
dilakukan dalam berbagai forum pertemuan dan dengan tujuan mampu
meningkatkan pelayanan publik, memperbaiki kualitas atau derajat kesejahteraan
atau kelayakan hidup rakyat secara berkelanjutan dan berkeadilan.

Terhadap indikator penanganan pengaduan di DPRD Jawa Timur,


selama tahun 2007 DPRD telah menindaklanjuti sekitar 348 pengaduan yang
masuk. Pengaduan yang masuk tetap direspon dengan memperhatikan tata tertib,
kepatutan, keadilan dan persamaan hukum, sehingga DPRD mampu
menjalankan fungsi mediasi dalam menangani pengaduan masyarakat.

Pada rasio jumlah dan besar kerugian negara terhadap APBD pada
tahun 2007 tercatat 0,41%, turun dibandingkan tahun 2006 yaitu sebesar 0,43%,
yang menunjukkan komitmen pemerintah yang tinggi terhadap trasparansi

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 39


pengelolaan keuangan serta tidak lepas dari dukungan dan sikap kritis
masyarakat kepada pemerintah.

Untuk indikator penanganan terhadap pengaduan pelayanan publik,


selama tahun 2007 memang masih dijumpai adanya kelemahan, sehingga belum
dapat memenuhi kualitas sebagaimana yang diharapkan masyarakat. Oleh
karena itu, upaya-upaya perbaikan pelayanan publik telah dilakukan oleh aparatur
pemerintah secara terus menerus dari waktu ke waktu, baik di tingkat Provinsi
maupun di tingkat Kabupaten. Dari berbagai kasus pengaduan yang terjadi,
terlihat adanya perbaikan dari pemerintah dan adanya inovasi dalam menjawab
kebutuhan masyarakat. Peningkatan peran dan fungsi Komisi Pelayanan Publik
merupakan salah satu bagian penting dalam meningkatkan pelayanan prima.
Hendaknya peran dan fungsi Komisi Pelayan Publik kedepan terus dapat
ditingkatkan dalam melayani pengaduan masyarakat terhadap pelayanan publik.

b. Kinerja Dan Hambatan Pelaksanaan Agenda Pembangunan Pemerintah


Provinsi Jatim

Dilihat dari kinerja Agregat agenda pembangunan Provinsi Jawa Timur


sebagaimana target dalam RKPD Tahun 2007, dapat disampaikan sebagai
berikut:

Dari 44 target indikator kinerja RPJMD pada Tahun 2007, terdapat 42


indikator yang capaiannya telah terukur dengan kriteria : tercapai sebesar
57,14%, belum tercapai 42,86%, hal ini berarti secara keseluruhan (57%)
program dan kegiatan yang mendukung kinerja agregat ke tujuh agenda
pembangunan Provinsi Jawa Timur Tahun 2007 dapat dikatakan ”EFEKTIF”;

Sedangkan ditinjau dari sisi dana yang dialokasikan untuk mencapai


target indikator kinerja agregat yang ditetapkan pada tahun Anggaran 2007 untuk
Belanja Langsung sebesar Rp2.448.065.944.114,00 dan terealisasikan sebesar
Rp2.194.958.733.901,57 atau sebesar 89,66%, hal ini secara umum dapat
dikatakan “EFISIEN”

Hambatan dan kendala yang ada dalam pencapaian target yang


ditetapkan ditinjau dari aspek pelaksanaan program maupun pendanaan:

ASPEK PELAKSANAAN PROGRAM

1) Masalah Pengamalan Nilai-Nilai Agama

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 40


Jawa Timur merupakan daerah yang sangat majemuk dengan jumlah
penduduk lebih dari 37,47 juta jiwa yang terdiri dari bermacam-macam
budaya, suku, agama dan adat istiadat memungkinkan terjadinya gesekan-
gesekan yang dapat menimbulkan konflik-konflik horizontal serta nilai-nilai
keagamaan telah banyak terabaikan dan tidak lagi dijadikan sendi-sendi
kehidupan sehingga banyak dekadensi moral dan krisis akhlak yang
merupakan fenomena kehidupan sehari-hari, karena kurangnya pemahaman
agama secara menyeluruh.
Nilai-nilai agama belum menjiwai dalam kehidupan masyarakat
sehingga masih tingginya penyimpangan-penyimpangan dari norma–norma
agama, tingginya angka kriminalitas, penyalahgunaan narkoba dan kejahatan
lainnya.

2) Masalah Aksesibilitas dan Kualitas Pendidikan dan Kesehatan


a) Pendidikan
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa
Timur Tingkat pendidikan penduduk Provinsi Jawa Timur relatif masih
rendah. Sampai dengan tahun 2006 rata-rata lama sekolah penduduk
berusia 15 tahun ke atas baru mencapai 6,90% dan proporsi penduduk
berusia 15 tahun ke atas yang berpendidikan SMP ke atas masih sekitar
18,78%. Sementara itu angka buta aksara penduduk usia 10 tahun ke atas
masih sebesar 11,64%. Kondisi tersebut belum memadai dalam
menghadapi persaingan global dan belum mencukupi pula sebagai
landasan pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge
based economy), selain itu masih terdapat sekitar 0,74% anak usia 13-15
tahun dan sekitar 0,71% anak usia 16-18 tahun yang tidak bersekolah baik
karena belum/tidak pernah sekolah maupun karena putus sekolah atau
tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Pada tahun 2004/2005 sekitar 68.114 gedung SD/MI dan sekitar
50% gedung SMP/MTs mengalami rusak ringan dan rusak berat. Hal
tersebut selain berpengaruh pada ketidaklayakan dan ketidaknyamanan
proses belajar mengajar juga berdampak pada peserta didik yang tidak
memiliki buku pelajaran.
Meskipun SPP secara resmi telah dihapuskan oleh Pemerintah
Provinsi Jawa Timur, tetapi pada kenyataan masyarakat tetap harus
membayar iuran sekolah. Pengeluaran lain di luar iuran sekolah seperti
pembelian buku, alat tulis, seragam, uang transport, dan uang saku
menjadi faktor penghambat pula bagi masyarakat miskin untuk

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 41


menyekolahkan anaknya. Beban masyarakat miskin untuk menyekolahkan
anaknya menjadi lebih berat apabila anak mereka turut bekerja membantu
orangtua.
Kecenderungan sekolah untuk mengganti buku setiap tahun ajaran
baru selain semakin memberatkan orangtua juga menyebabkan inefisiensi
karena buku-buku yang dimiliki sekolah tidak dapat lagi dimanfaatkan oleh
siswa.

b) Kesehatan
Belum merata dan terjangkaunya pelayanan kesehatan, hal ini
dapat dilihat dari rasio jumlah sarana yang ada. Pada tahun 2006 di Jawa
Timur terdapat 932 Puskesmas dan 2.261 Puskesmas Pembantu, dengan
rasio setiap Puskesmas melayani 40.213 orang, yang idealnya hanya
melayani 30.000 orang.
Perilaku masyarakat kurang mendukung pola hidup bersih dan
sehat, hal ini terlihat dari pengguna jamban sebesar 59,5% dan pemberian
ASI ekslusif baru mencapai 38,15% serta jumlah penduduk yang merokok
masih tinggi sehingga perilaku PHBS belum sepenuhnya dilakukan
masyarakat.
Kendala yang muncul di bidang Kesehatan ini disebabkan:
(1) Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan sering terjadi pada
masyarakat miskin karena kendala biaya.
(2) Masih kurangnya sarana dan prasarana untuk menunjang pelayanan
kesehatan yang prima serta memenuhi standart peralatan sebagai
rumah sakit rujukan dan pendidikan.
(3) Banyaknya penyakit menular dan tidak menular, yang juga dipicu oleh
bencana alam yang dialami masyarakat Jawa Timur terutama yang
berada pada daerah rawan bencana.
(4) Kualitas lingkungan yang kurang mendukung, rendahnya kualitas air
bersih serta masalah limbah industri dan hasil produksi.

3) Masalah Kemiskinan, Kesenjangan, dan Pengangguran


a) Kurang terfokusnya berbagai program kemiskinan pada akar masalah;
b) Belum menyentuh pengembangan potensi desa, sehingga belum mampu
menggerakkan sektor riil dipedesaan;
c) Berbagai kebijakan sektor keuangan belum mampu diakses oleh rumah
tangga miskin;

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 42


d) Program kemiskinan yang dilaksanakan Pemerintah, baik Pemerintah
Pusat, Provinsi maupun Kabupaten/Kota belum terintegrasi sehingga
belum mampu menekan jumlah penduduk miskin di Jawa Timur;
e) Lambatnya pertumbuhan ekonomi yang diperparah dengan adanya luapan
lumpur di Porong Kabupaten Sidoarjo, menambah Jumlah Penduduk
Miskin dan pengangguran.

4) Masalah Percepatan Pembangunan Ekonomi dan Pembangunan


Infrastruktur.
Perekonomian Jawa Timur pada tahun 2006 menunjukkan
peningkatan namun demikian pertumbuhan tersebut masih didominasi oleh
sektor kosumsi, yang menunjukkan bahwa investasi di Jawa Timur masih
belum tumbuh sesuai harapan. Terpuruknya pabrik-pabrik yang memproduksi
barang ekspor, semakin meluasnya kebijakan untuk memutuskan hubungan
kerja karena kondisi unit usaha terus merugi, semakin meningkatnya angka
pengangguran, semakin sempitnya lapangan kerja di daerah, semakin
menurunnya produksi industri yang diekspor, semakin tidak mempunyai unit
usaha dan lembaga ekonomi dalam mengembangkan produksinya, semakin
melemahnya daya saing pengusaha dalam pasar bebas yang disebabkan
oleh lemahnya daya saing daerah, merupakan masalah yang memperberat
kondisi perekonomian di Jawa Timur. Disisi lain terdapat ketimpangan wilayah
di Jawa Timur yaitu kawasan selatan Jawa Timur, Madura dan Kepulauan.
Pengembangan wilayah ini menjadi prioritas, dan secara politis akan
mendukung rasa persatuan dan kesatuan bangsa, karena pemerataan hasil
pembangunan akan terjadi sampai ke pelosok wilayah.

5) Masalah Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup


Isu strategis yang saat ini memerlukan perhatian serius adalah
pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup, terutama konservasi dan
rehabilitasi sumber daya lahan dan hutan, serta pengendalian dan
pengawasan terhadap pencemaran air, udara dan tanah.

6) Masalah Penyelenggaraan Otonomi Daerah, Penegakan Supremasi


Hukum dan HAM, Ketentraman dan Ketertiban
Penerapan otonomi daerah masih menyisakan banyak masalah yang
terkait dengan kewenangan dan sinkronisasi kebijakan, selain itu tuntutan
otonomi desa semakin menguat. Desa sebagai satuan pemerintahan wilayah
terkecil lebih banyak menjadi obyek pembangunan.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 43


Berkaitan dengan penegakan supremasi hukum dan HAM bahwa
Sistem peradilan yang tidak transparan dan terbuka, mengakibatkan hukum
belum sepenuhnya memihak pada kebenaran dan keadilan karena tiadanya
akses masyarakat untuk melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan
peradilan. Kondisi tersebut juga diperlemah dengan profesionalisme dan
kualitas sistem peradilan yang masih belum memadai sehingga membuka
kesempatan terjadinya penyimpangan kolektif di dalam proses peradilan
sebagaimana dikenal dengan istilah mafia peradilan.
Selanjutnya berkaitan dengan masalah ketentraman dan ketertiban
dengan beragamnya kondisi sosial, ekonomi, budaya, etnis dan agama yang
ada menjadikan Jawa Timur memiliki potensi ancaman yang dapat
mengganggu kemanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat. Potensi
ancaman ini harus dapat diminimalkan sehingga tidak menjadi bibit munculnya
konflik horizontal dan vertikal serta adanya terorisme.

7) Masalah Terbatasnya Sumber Pembiayaan


Alokasi dana pembangunan Jawa Timur saat ini masih sangat
terbatas, walaupun didukung dengan bagian dana dekonsentrasi dari
Pemerintah Pusat. Jumlah dana riil yang ada masih belum memadai untuk
dapat menuntaskan permasalahan pokok yang dihadapi Jawa Timur, lebih-
lebih dalam menangani masalah kemiskinan dan pengangguran. Kecilnya
dana pemerintah tersebut disebabkan antara lain:
1. Terbatasnya pembiayaan pembangunan APBN/APBD
2. Kecilnya pengembalian dana perimbangan ke Provinsi
3. Belum optimalnya pengelolaan keuangan daerah.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 44


4. Kebijakan Akuntansi
a. Entitas Akuntansi/Entitas Pelaporan Keuangan Pemerintah Propinsi Jawa
Timur
Entitas Akuntansi adalah unit pemerintahan Pengguna
Anggaran/Pengguna Barang, dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan
akuntansi dan menyusun Laporan Keuangan yang terdiri dari Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, dan Catatan Atas Laporan Keuangan untuk digabungkan pada
Entitas Pelaporan. Pada Pemerintah Propinsi Jawa Timur, Entitas Akuntansi
adalah setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah
Propinsi Jawa Timur sebagai Pengguna Anggaran dalam APBD Propinsi Jawa
Timur yang terdiri dari 56 SKPD.
Entitas Pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri atas satu atau
lebih Entitas Akuntansi yang menurut ketentuan perundang-undangan wajib
menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa Laporan Keuangan yang
terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan
Atas Laporan Keuangan. Pada Pemerintah Propinsi Jawa Timur Tahun Anggaran
2007, Entitas Pelaporan berada pada Biro Keuangan Sekretariat Daerah Propinsi
Jawa Timur dengan alamat Jalan Pahlawan Nomor 110, Surabaya, Jawa Timur.

b. Basis Akuntansi yang mendasari penyusunan Laporan Keuangan


Pemerintah Propinsi Jawa Timur
Basis Akuntansi yang mendasari penyusunan Laporan Keuangan
Pemerintah Propinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2007, diungkapkan dalam
Catatan Atas Laporan Keuangan. Basis akuntansi yang digunakan pada transaksi
dan kejadian dalam Laporan Keuangan Pemerintah Propinsi Jawa Timur adalah
dasar kas modifikasian. Dasar kas modifikasian adalah kombinasi basis kas
dengan basis akrual.
1) Basis Kas
Basis Kas (cash basic) adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh
transaksi dan peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima atau
dibayarkan. Basis Kas digunakan dalam Laporan Realisasi Anggaran untuk
pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan.
2) Basis Akrual
Basis Akrual (accrual basic) adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh
transaksi dan peristiwa lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi,

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 45


tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayarkan.
Basis akrual digunakan dalam Laporan Neraca untuk pengakuan aset,
kewajiban dan ekuitas.
3) Sistem Pembukuan
Sistem pembukuan yang digunakan adalah sistem pembukuan berpasangan
yang berpedoman atas persamaan dasar akuntansi, yaitu :
Aset = Kewajiban + Ekuitas Dana.
Setiap transaksi dibukukan dengan mendebet sebuah perkiraan dan
mengkredit perkiraan yang terkait.

d. Basis pengukuran yang mendasari penyusunan Laporan Keuangan


Pemerintah Propinsi Jawa Timur
Basis pengukuran yang digunakan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan ini
memberikan informasi yang diharapkan dapat menyajikan dengan memadai dan
dapat mengindikasikan setiap pos dalam Laporan Keuangan Pemerintah Propinsi
Jawa Timur, terdiri dari :
1) Pendapatan
Definisi
Pendapatan Pemerintah Daerah adalah semua penerimaan Rekening Kas
Daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran
yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar
kembali oleh pemerintah daerah.
a) Pengakuan
(1) Pendapatan diakui pada saat diterima pada Rekening Kas Umum
Daerah untuk seluruh transaksi PPKD;
(2) Pendapatan diakui pada saat disetorkannya pendapatan oleh
Bendahara Penerimaan ke Rekening Kas Umum Daerah untuk seluruh
transaksi SKPD;
(3) Dalam kriteria pengakuan pendapatan, konsep keterukuran dan
ketersediaan digunakan dalam pengertian derajat kepastian, bahwa
manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan pos pendapatan
tersebut, akan mengalir ke Pemerintah Daerah dalam periode tahun
anggaran yang bersangkutan, atau segera dapat digunakan untuk
membayar kewajiban pada periode anggaran yang bersangkutan.
Konsep ini diperlukan dalam menghadapi ketidakpastian lingkungan
operasional pemerintah daerah. Pengkajian atas keterukuran dan

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 46


ketersediaan yang melekat dalam arus manfaat ekonomi masa depan
dilakukan atas dasar bukti yang dapat diperoleh pada saat
penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah;
(4) Pencatatan dari setiap jenis pendapatan dan masing-masing nilai
pendapatannya dicatat sampai dengan rincian obyek;
(5) Pengembalian yang sifatnya normal dan berulang (recurring) atas
penerimaan pendapatan pada periode penerimaan maupun periode
sebelumnya, dibukukan sebagai pengurang pendapatan;
(6) Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non recuriing)
atas penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode penerimaan
pendapatan, dibukukan sebagai pengurang pendapatan pada periode
yang sama;
(7) Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non recurring)
atas penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode sebelumnya,
dibukukan sebagai pengurang ekuitas dana lancar pada akun SILPA
pada periode ditemukannya koreksi dan pengembalian tersebut;
(8) Akuntansi pendapatan disusun untuk memenuhi kebutuhan
pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan dan untuk keperluan
pengendalian bagi manajemen pemerintah daerah, baik yang dicatat
oleh SKPD maupun PPKD;
(9) Pendapatan Daerah dirinci menurut Kelompok Pendapatan yang
meliputi Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan dan Lain-lain
Pendapatan Yang Sah.
b) Pengukuran
(1) Pendapatan diukur dan dicatat berdasarkan azas bruto, yaitu dengan
membukukan penerimaan bruto dan tidak mencatat jumlah netonya
(setelah dikompensasikan dengan pengeluaran);
(2) Pendapatan Hibah dalam mata uang asing diukur dan dicatat pada
tanggal transaksi menggunakan kurs tengah Bank Indonesia;

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 47


2) Belanja
Definisi
Belanja adalah semua pengeluaran dari rekening Kas Daerah yang
mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan
yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh Pemerintah Daerah.
a) Pengakuan
(1) Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas
Daerah untuk seluruh transaksi Belanja Langsung (LS) oleh
Bendahara Umum Daerah dan diakui pada saat disahkannya Surat
Pertanggungjawaban pelaksanaan belanja tidak langsung oleh
Pengguna Anggaran SKPD di masing-masing SKPD untuk transaksi
Belanja Tidak Langsung;
(2) Realisasi anggaran belanja dilaporkan sesuai dengan klasifikasi yang
ditetapkan dalam dokumen anggaran;
(3) Koreksi atas pengeluaran belanja (penerimaan kembali belanja) yang
terjadi pada periode pengeluaran belanja dibukukan sebagai
pengurang belanja pada periode yang sama. Apabila diterima pada
periode berikutnya, koreksi atas pengeluaran belanja dibukukan dalam
pendapatan lain-lain;
b) Pengukuran
Belanja dibukukan sebesar pengeluaran bruto dan tidak mencatat jumlah
netonya (setelah kompensasi potongan).

3) Pembiayaan
Definisi
Pembiayaan (financing) adalah sebuah transaksi keuangan Pemerintah
Propinsi Jawa Timur baik penerimaan maupun pengeluaran yang perlu
dibayar atau akan diterima kembali, yang dalam penganggaran pemerintah
terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus
anggaran. Pembiayaan ini terdiri dari :
a) Penerimaan Pembiayaan
(1) Penerimaan Pembiayaan diakui pada saat diterima pada Rekening
Kas Umum Daerah kecuali untuk SiLPA;
(2) Penerimaan Pembiayaan berasal dari:
(a) Penggunaan SiLPA tahun anggaran sebelumnya;
(b) Pencairan Dana Cadangan;

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 48


(c) Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan;
(d) Penerimaan pinjaman daerah;
(e) Penerimaan kembali pemberian pinjaman;
(f) Penerimaan piutang daerah.
(3) Penerimaan pembiayaan dilaksanakan dengan membukukan
penerimaan bruto dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran).
b) Pengeluaran Pembiayaan
(1) Pengeluaran Pembiayaan adalah semua pengeluaran Rekening Kas
Daerah antara lain pemberian pinjaman kepada pihak ketiga,
penyertaan modal pemerintah, pembayaran kembali pokok pinjaman
dalam periode tahun anggaran tertentu dan pembentukan Dana
Cadangan;
(2) Pengeluaran Pembiayaan diakui pada saat dikeluarkan dari Rekening
Kas Umum Daerah;
(3) Pengeluaran Pembiayaan antara lain digunakan untuk:
(a) Pembentukan Dana Cadangan;
(b) Penyertaan Modal Pemerintah Daerah;
(c) Pembayaran Pokok Pinjaman (utang);
(d) Pemberian Pinjaman daerah.

d. Neraca
1) Kas
Definisi
Alat pembayaran yang sah dan setiap saat dapat digunakan.
Kas diakui pada saat diterima atau dikeluarkan berdasarkan nilai nominal uang.
2) Piutang
Definisi
Jumlah uang yang wajib dibayarkan kepada pemerintah dan/atau hak pemerintah
yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya
berdasarkan peraturan perundang-undangan atau akibat lainnya yang sah, yang
terdiri dari :
- Piutang Pajak;
- Piutang Retribusi;
- Bagian Lancar;
- Piutang Lain-lain.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 49


a) Pengakuan
Piutang diakui pada saat piutang terjadi/timbul atau diakui pada akhir periode
akuntansi berdasarkan jumlah kas yang akan diterima dalam periode berjalan.
b) Pengukuran
Piutang dicatat sebesar nilai nominal yaitu sebesar nilai rupiah piutang yang
belum dilunasi.
3) Persediaan
a) Pengakuan
(1) Persediaan diakui pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan/atau
kepenguasaannya berpindah;
(2) Persediaan diakui pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan/atau
kepenguasaannya berpindah.
b) Pengukuran
(1) Persediaan dinilai sebesar biaya perolehan apabila diperoleh dengan
pembelian;
(2) Persediaan dinilai sebesar nilai wajar apabila diperoleh dengan cara
donasi atau perkembangbiakan.
2) Investasi
a) Pengakuan
(1) Pengeluaran untuk memperoleh investasi jangka pendek diakui sebagai
pengeluaran kas pemerintah dan tidak dilaporkan sebagai belanja dalam
laporan realisasi anggaran, sedangkan pengeluaran untuk memperoleh
investasi jangka panjang diakui sebagai pengeluaran pembiayaan;
(2) Hasil investasi berupa bunga deposito, yang diperoleh dari investasi
jangka pendek dalam bentuk deposito jangka pendek dicatat sebagai
pendapatan.
b) Pengukuran
(1) Investasi jangka pendek dalam bentuk deposito jangka pendek dicatat
sebesar nilai nominal deposito;
(2) Investasi jangka panjang yang bersifat permanen dalam bentuk
penyertaan modal Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Timur, dicatat
sebesar biaya perolehannya.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 50


3) Aset Tetap
a) Pengakuan
(1) Aset tetap diakui pada saat telah diterima atau diserahkan hak
kepemilikannya atau pada saat penguasaannya berpindah;
(2) Pengembangan aktiva tetap diakui apabila ada peningkatan penilaian
aktiva tetap karena diperluas atau diperbesar;
(3) Suatu aset tetap dieliminasi dari Neraca ketika dilepaskan atau bila aset
secara permanen dihentikan penggunaannya dan tidak ada manfaat
ekonomi masa yang akan datang. Pengurangan tersebut didasarkan atas
persetujuan pejabat yang berwenang dalam Tim Penghapusan Aset
Pemerintah Propinsi Jawa Timur.
b) Pengukuran
(1) Aset tetap dicatat sebesar biaya perolehan yaitu nilai aset tersebut
dijumlahkan dengan biaya untuk memperolehnya yaitu dengan biaya
administrasi, pengiriman, pemasangan sampai dengan aset tersebut dapat
dipergunakan sesuai peruntukannya, tetapi bila tidak memungkinkan maka
dapat dinilai berdasarkan nilai wajar pada saat perolehan;
(2) Biaya pengembangan akan dikapitalisasi dan ditambahkan pada harga
perolehan aktiva tetap yang bersangkutan;
(3) Aktiva tetap yang dihentikan secara permanen dari penggunaan aktif
dicatat sebesar nilai tercatatnya;
(4) Dalam pengukuran Aset Tetap Pemerintah Propinsi Jawa Timur tidak
melaksanakan depresiasi atau penyusutan terhadap nilai aset yang ada.
Aset yang sudah rusak atau tidak berguna dan membebani belanja
pemeliharaan Propinsi Jawa Timur yang melebihi manfaatnya
dilaksanakan penghapusan.

4) Konstruksi Dalam Pengerjaan


a) Pengakuan
(1) Suatu benda berwujud diakui sebagai konstruksi dalam pengerjaan antara
lain jika besar kemungkinan bahwa akan diperoleh manfaat ekonomi di
masa yang akan datang, biaya perolehan tersebut dapat diukur secara
handal, dan aset tersebut masih dalam proses pengerjaan;
(2) Konstruksi dalam pengerjaan dipindahkan menjadi aset tetap jika
konstruksi secara substansi telah selesai dikerjakan dan dapat
memberikan manfaat atau jasa sesuai dengan tujuan perolehannya.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 51


b) Pengukuran
Konstruksi dalam pengerjaan dicatat sebesar biaya perolehannya.

5) Kemitraan Dengan Pihak Ketiga


a) Pengakuan
Kemitraan dengan pihak ketiga diakui pada saat timbul/terjadinya kemitraan.
b) Pengukuran
Kemitraan dengan pihak ketiga dicatat sebesar nilai nominal yang dikeluarkan
untuk kemitraan.

6) Kewajiban
a) Pengakuan
Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima atau pada saat kewajiban
itu timbul.
b) Pengukuran
Kewajiban dicatat sejumlah nilai nominal atau sejumlah kas dan setara kas
dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah yang diharapkan akan dibayarkan
untuk memenuhi kewajiban di masa yang akan datang.

7) Ekuitas Dana
Ekuitas Dana merupakan kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih
antara aktiva dan kewajiban. Ekuitas Dana dikelompokkan atas :
a) Ekuitas Dana Lancar;
b) Ekuitas Dana Investasi;
c) Ekuitas Dana Cadangan.

8) Dana Cadangan
Dalam penyusunan Laporan Keuangan ini, Pemerintah Propinsi Jawa Timur telah
memasukkan pos Dana Cadangan.

9) Transaksi Dalam Mata Uang Asing


Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dalam mata uang Rupiah dengan
menjabarkan jumlah mata uang asing tersebut menurut kurs tengah bank sentral
pada tanggal transaksi.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 52


d. Penerapan Kebijakan Akuntansi Berkaitan dengan ketentuan yang ada dalam
SAP pada Pemerintah Propinsi Jawa Timur
Dalam penerapan Kebijakan Akuntansi pada penyusunan Laporan keuangan
Pemerintah Propinsi Jawa Timur yang berkaitan dengan aturan dalam Peraturan
Pemerintah Propinsi Jawa Timur yang berkaitan dengan aturan dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan,
Pemerintah Propinsi Jawa Timur berusaha untuk secara konsisten melaksanakannya
disertai dengan penyesuaian dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, dan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah. Dengan berlakunya ketiga kebijakan tersebut sebagai dasar, maka
dilaksanakan beberapa konversi dalam penyusunan Laporan Keuangan agar dapat
memenuhi asas-asas dalam penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
yang memenuhi asas Akuntabilitas dan Transparansi.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 53


5. Penjelasan Atas Rekening-rekening Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, dan
Laporan Arus Kas
a. Neraca
1) Aset lancar
31 Desember 2007 31 Desember 2006
a) Kas di Kas Daerah Rp 1.237.638.636.382,43 Rp 810.854.071.190,99
Jumlah tersebut merupakan saldo Kas di Kas Daerah per 31 Desember 2007 dan
31 Desember 2006. Rincian kas dan bank berikut ini.

31 Desember 2007 31 Desember 2006


Jenis Kas di Kas Daerah
Saldo di rekening Bank
(Bank Jatim Cabang Rp 1.237.638.636.382,43 Rp 810.854.071.190,99
Utama)
Rincian :
Rekening Kas Daerah
Rp 1.237.638.636.382,43 Rp 810.854.071.190,99
(0011000477)
Dana Alokasi Umum
Rp - Rp -
(0011142000)
Jumlah saldo Kas di Kas
Rp 1.237.638.636.382,43 Rp 810.854.071.190,99
Daerah

31 Desember 2007 31 Desember 2006


b) Kas di Rekening
Rp 35.256.020.830,79 Rp 34.237.168.219,90
Rumah Sakit
Jumlah tersebut adalah saldo Kas di Rekening Fungsional Rumah Sakit per 31
Desember 2006 dan per 31 Desember 2007 dengan rincian sebagai berikut:
31 Desember 2007 31 Desember 2006
Kas di Rekening Fungsional
Rumah Sakit
- RSUD Dr Soetomo Rp 11.388.387.904,42 Rp 16.532.326.595,42
- RSUD Dr Saiful Anwar Rp 11.145.865.787,00 Rp 11.046.096.016,00
- RSUD Dr Soedono Rp 5.016.003.670,48 Rp 3.084.178.142,48
- RSU Haji Rp 6.340.039.716,89 Rp 1.819.584.501,00
- RS Jiwa Menur Rp 1.030.296.284,00 Rp 1.396.815.853,00
- RSK Paru Batu Rp 84.792.081,00 Rp 52.029.839,00
- RSK Paru Dungus Rp 158.494.723,00 Rp 202.897.790,00
- RSK Paru Jember Rp 42.364.901,00 Rp 71.554.551,00
- RSK Kusta Kediri Rp 13.700.625,00 Rp 0,00
- RSK Kusta Sumberglagah Rp 36.075.138,00 Rp 28.877.050,00
Jumlah saldo Kas di
35.256.020.830,79 34.237.168.219,90
Rekening Fungsional RS

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 54


31 Desember 2007 31 Desember 2006
c) Kas di Bendahara
Rp 271.663.646,60 Rp -
Penerimaan
Jumlah tersebut merupakan saldo Kas di Bendahara Penerimaan per 31
Desember 2007 dengan rincian berikut:

31 Desember 2007 31 Desember 2006


Kas di Bendahara
Penerimaan SKPD
- Biro Perekonomian Rp 220.872.916,60
- Dinas Koperasi dan UKM Rp 4.219.125,00
- Dinas Perhubungan Rp 25.885.857,00
- RSUD Dr Saiful Anwar Rp 20.685.748,00
Jumlah saldo Kas di
Bendahara Penerimaan Rp 271.663.646,60 -
SKPD

31 Desember 2007 31 Desember 2006


c) Kas di Bendahara
Rp 8.588.974.570,00 Rp 2.218.160.680,00
Pengeluaran
Jumlah tersebut merupakan saldo Kas di Bendahara Pengeluaran per 31
Desember 2007 dan per 31 Desember 2006. Rincian Kas di Bendahara
Pengeluaran berikut ini:
31 Desember 2007 31 Desember 2006
Kas di Bendahara
Pengeluaran
- Dinas Kesehatan Rp 167.369.062,00
- RSUD Dr Soetomo Rp 109.236.723,00
- RSK Kusta Sumberglagah Rp 296.955.338,00
- Dinas PU Bina Marga Rp 807.702.051,00 -
- Bapeprov Rp 201.000,00
- DLLAJ Rp 254.399.625,00
- Bapedal Rp 624.855.050,00
- Dinas Sosial Rp 1.000,00
- Dinas Tenaga Kerja Rp 1.716.960.884,00
- Dinas Koperasi dan UKM Rp 210.291.247,00
- Dispora Rp 257.478.921,00
- Biro Perekonomian Rp 40.593.790,00
- Biro Mental dan Spiritual Rp 87.205.920,00
- Badan Ketahanan Pangan Rp 96.727.712,00
- Dinas Energi dan SDM Rp 2.175.820,00
- PFK Dinas Perkebunan Rp 810.115.994,00
- PFK Balitbang Rp 26.250,00
- PFK Biro Umum Rp 720.850.683,00

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 55


- RSUD Dr Saiful Anwar
Rp 2.385.827.500,00
(Askeskin)
Jumlah saldo Kas di
Bendahara Pengeluaran
Rp 8.588.974.570,00 Rp 2.218.160.680,00

Perbandingan Saldo Kas di Neraca dengan SiLPA di LRA


Kas di Neraca SiLPA
No Uraian
(Rp) (Rp)
1 Kas di Kas Daerah 1.237.638.636.382,43 1.237.638.636.382,43
2 Kas di Bendahara Pengeluaran
a. Sisa UP disetor 2008 4.672.154.143,00 4.672.154.143,00
b. Dinas Kesehatan (2006) 1.393.331.210,00
c. PFK Bendahara Pengeluaran 1.530.992.927,00
d. Sisa Dana Askeskin (Tak terduga) 2.385.827.500,00
3 Kas di Rekening Rumah Sakit 35.256.020.830,79 35.256.020.830,79
4 Kas di Bendahara Penerimaan
a. Bunga Dana Bergulir yang ditangguhkan
220.872.916,60
di Dinas Perekonomian
b. Bunga Dana Bergulir yang ditangguhkan
4.219.125,00
di Dinas Koperasi dan PKM
c. SP III yang ditangguhkan di Dinas
25.885.857,00
Perhubungan
d. Bunga rekening penampungan Askeskin
20.685.748,00
yang ditangguhkan di RSUD Dr Saiful Anwar
Jumlah 1.281.755.295.429,82 1.278.960.142.566,22

Penjelasan Saldo Kas di Neraca dengan SILPA di LRA:


Saldo Kas di Neraca : Rp1.281.755.295.429,82
Saldo SiLPA di LRA : Rp1.278.960.142.566,22
Selisih : Rp 2.795.152.863,60

Terdiri dari:
Kas di Bendahara Pengeluaran (PFK) : Rp1.530.992.927,00
Kas di Bendahara Pengeluaran (Dinas Kesehatan 2006) :(Rp1.393.331.210,00)
Kas di Bendahara Pengeluaran (Sisa Askeskin) : Rp2.385.827.500,00
Kas di Bendahara Penerimaan : Rp 271.663.646,60
Jumlah : Rp2.795.152.863,60

Keterangan
(1) Kas di Bendahara Pengeluaran Dinas Kesehatan tahun 2006 sebesar
Rp1.393.331.210,00 tidak termasuk Kas di Neraca karena telah
direklasifikasikan menjadi Aset Lainnya-Tuntutan Ganti Rugi;

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 56


(2) Kas sisa dana Askeskin di RSUD Dr Saiful Anwar termasuk Kas di Neraca
karena jumlah Kas tersebut belum dimanfaatkan dan belum dikembalikan ke
Kas Daerah;
(3) Utang PFK/Pajak yang belum disetor ke Kas Negara sebesar
Rp1.530.992.927,00 termasuk Kas di Neraca tetapi bukan termasuk SILPA
di LRA karena jumlah tersebut merupakan hak negara yang belum disetor
sampai 31 Desember 2007 dan masih berada di Bendahara Pengeluaran;
(4) Kas di Bendahara Penerimaan sebesar Rp271.663.646,60 termasuk Kas di
Neraca tetapi tidak termasuk SILPA di LRA. Jumlah tersebut merupakan
penerimaan yang belum disetorkan ke Kas Daerah sampai dengan 31
Desember 2007 sehingga dicatat sebagai pendapatan yang ditangguhkan.

Perbandingan Saldo Kas di Neraca dengan SiLPA di Neraca


Kas di Neraca SiLPA
No Uraian
(Rp) (Rp)
1 Kas di Kas Daerah 1.237.638.636.382,43 1.237.638.636.382,43
2 Kas di Bendahara Pengeluaran
a. Sisa UP disetor 2008 4.672.154.143,00 4.672.154.143,00
b. PFK Bendahara Pengeluaran 1.530.992.927,00 1.530.992.927,00
c. Sisa Dana Askeskin (Tak terduga) 2.385.827.500,00 2.385.827.500,00
3 Kas di Rekening Rumah Sakit 35.256.020.830,79 35.256.020.830,79
4 Kas di Bendahara Penerimaan
a. Bunga Dana Bergulir yang ditangguhkan
220.872.916,60
di Dinas Perekonomian
b. Bunga Dana Bergulir yang ditangguhkan
4.219.125,00
di Dinas Koperasi dan PKM
c. SP III yang ditangguhkan di Dinas
25.885.857,00
Perhubungan
d. Bunga rekening penampungan Askeskin
20.685.748,00
yang ditangguhkan di RSUD Dr Saiful Anwar
Jumlah 1.281.755.295.429,82 1.281.483.631.783,22

Penjelasan perbedaan Kas di Neraca dengan SILPA di Neraca


Kas di Neraca : Rp1.281.755.295.429,82
SILPA di Neraca : Rp1.281.483.631.783,22
Selisih : Rp 271.663.646,60
Terdiri dari:
Bunga Dana Bergulir yang ditangguhkan di Dinas
: 220.872.916,60
Perekonomian
Bunga Dana Bergulir yang ditangguhkan di Dinas Koperasi
: 4.219.125,00
dan PKM
SP III yang ditangguhkan di Dinas Perhubungan : 25.885.857,00
Bunga rekening penampungan Askeskin yang ditangguhkan
: 20.685.748,00
di RSUD Dr Saiful Anwar

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 57


Keterangan
(1) Bunga Dana Bergulir pada Dinas Perekonomian sebesar Rp220.872.916,60
merupakan penerimaan yang diterima Bendahara Penerimaan namun
belum disetor ke Kas Daerah sampai dengan 31 Desember 2007. Jumlah
tersebut termasuk Kas di Neraca namun tidak termasuk SILPA di Neraca.
Jumlah tersebut dicatat sebagai Pendapatan yang ditangguhkan.
(2) Bunga Dana Bergulir pada Dinas Koperasi dan PKM sebesar
Rp4.219.125,00 merupakan penerimaan yang diterima Bendahara
Penerimaan namun belum disetor ke Kas Daerah sampai dengan 31
Desember 2007. Jumlah tersebut termasuk Kas di Neraca namun tidak
termasuk SILPA di Neraca. Jumlah tersebut dicatat sebagai Pendapatan
yang ditangguhkan.
(3) Sumbangan Pihak III pada Dinas Perhubungan sebesar Rp25.885.857,00
merupakan penerimaan yang diterima Bendahara Penerimaan namun
belum disetor ke Kas Daerah sampai dengan 31 Desember 2007. Jumlah
tersebut termasuk Kas di Neraca namun tidak termasuk SILPA di Neraca.
Jumlah tersebut dicatat sebagai Pendapatan yang ditangguhkan.
(4) Bunga rekening penampungan Askeskin di RSUD Dr Saiful Anwar sebesar
Rp20.685.748,00 merupakan penerimaan yang diterima Bendahara
Penerimaan namun belum disetor ke Kas Daerah sampai dengan 31
Desember 2007. Jumlah tersebut termasuk Kas di Neraca namun tidak
termasuk SILPA di Neraca. Jumlah tersebut dicatat sebagai Pendapatan
yang ditangguhkan.

31 Desember 2007 31 Desember 2006


d) Piutang Pajak Rp 96.996.693.111,00 Rp 100.967.765.949,00
Jumlah tersebut merupakan jumlah tagihan pajak daerah Tahun 2007 dan 2006
Rincian piutang pajak sebagai berikut :
31 Desember 2007 31 Desember 2006
PKB Non Penetapan Jabatan Rp 879.250.515,00 Rp 1.433.563.921,00
PKB Penetapan Jabatan Rp 93.892.858.700,00 Rp 96.597.809.740,00
BBNKB Rp 239.111.850,00 Rp 1.413.106.850,00
P3ABT Rp 1.219.188.636,00 Rp 926.725.001,00
P3AP Rp 766.283.410,00 Rp 596.560.437,00
Total Rp 96.996.693.111,00 Rp 100.967.765.949,00

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 58


31 Desember 2007 31 Desember 2006
e) Piutang Retribusi Rp 55.149.662.819,00 Rp 131.675.292,35
Jumlah tersebut merupakan tagihan retribusi Tahun 2007 dan 2006 yang belum
tertagih dan belum disetor ke Kas Daerah sampai dengan 31 Desember 2007
dan 31 Desember 2006.
Rincian piutang retribusi di bawah ini.
No Jenis retribusi 31 Desember 2007 31 Desember 2006
(Rp) (Rp)
1. Retribusi Pemeriksaan, Pengukuran, dan 26.499.510,00 131.675.292,35
Pengujian Hasil Hutan
2. Retribusi Pelayanan Kesehatan 55.123.163.309,00 0,00
Total 55.149.662.819,00 131.675.292,35

31 Desember 2007 31 Desember 2006


f) Bagian Lancar Tagihan
Penjualan Angsuran Rp 990.653.996,00 Rp 1.169.375.028,00
Jumlah tersebut merupakan Tagihan Penjualan Angsuran atas penjualan rumah
secara angsuran kepada pegawai yang belum dibayar sampai dengan 31
Desember 2007 dan 31 Desember 2006. Tagihan Penjualan Angsuran terdiri
atas angsuran penjualan perumahan pada:
31 Desember 2007 31 Desember 2006
No. Uraian
(Rp) (Rp)
1. Penjaringan I 47.083.181,00 59.797.701,00
2. Penjaringan II 174.117.479,00 203.212.939,00
3. Jenggolo I 340.782.100,00 408.827.600,00
4. Jenggolo II 335.985.718,00 377.093.000,00
5. Jenggolo III 92.685.518,00 120.443.788,00
Jumlah 990.653.996,00 1.169.375.028,00
Pemerintah Provinsi Jawa Timur belum memisahkan Tagihan Penjualan
Angsuran yang jatuh tempo kurang dari 12 bulan (Bagian Lancar) dengan
Tagihan Penjualan Angsuran yang jatuh tempo lebih dari 12 bulan (Aset
Lainnya)

31 Desember 2007 31 Desember 2006


g) Bagian Lancar
Tuntutan Ganti
Kerugian Daerah Rp 84.278.650,00 Rp 212.671.300,00
Jumlah tersebut merupakan saldo piutang TP/TGR yang belum dibayar sampai
dengan 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2006.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 59


31 Desember 2007 31 Desember 2006
h) Piutang Lain-lain Rp 47.889.712,00 Rp 499.487.406,00
Jumlah tersebut merupakan saldo piutang lain-lain yang belum dibayar sampai
dengan 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2006.
Rincian piutang lain-lain adalah sebagai berikut:
31 Desember 2007 31 Desember 2006
No. Uraian
(Rp) (Rp)
1. Piutang SP3-ASDP (Dinas Perhubungan) 46.689.712,00 46.689.712,00
2. Piutang Pendapatan Bunga (Biro Perekonomian) 0,00 100.000.000,00
3. Piutang Pendapatan Bagian Laba (Biro 0,00 352.797.694,00
Perekonomian)
4. Piutang Lain-lain (RS Jiwa Menur) 1.200.000,00 0,00
Jumlah 47.889.712,00 499.487.406,00

31 Desember 2007 31 Desember 2006


i) Persediaan Rp 52.044.941.410,42 Rp 45.706.680.880,00
Jumlah tersebut merupakan saldo persediaan barang pakai habis per 31
Desember 2007 dan 31 Desember 2006 pada beberapa SKPD. Rincian sebagai
berikut.
31 Desember 2007 31 Desember 2006
No. Uraian
(Rp) (Rp)
1. Dinas P dan K 1.239.858.320,64 2.041.469.957.00
2. RSUD Dr. Soetomo 10.542.065.221,16 7.995.892.444,00
3. RSUD Dr Saiful Anwar 11.814.900.183,23 11.568.598.187,00
4. RSUD Dr Soedono 2.329.696.005,27 2.282.228.304,00
5. RS Haji Surabaya 1.070.864.800,00 1.010.843.486,00
6. RS Jiwa Menur 808.583.833,65 958.329.763,00
7. RS Paru Batu 490.532.352,35 380.976.436,00
8. RS Paru Jember 341.272.243,00 487.655.611,00
9. RS Paru Dungus 64.132.023,00 58.150.881,00
10. RS Kusta Kediri 477.047.188,78 646.113.565,00
11. RS Kusta Sumber Glagah 385.519.975,00 239.055.520,00
12. Dinas PU Bina Marga 230.624.079,50 223.264.595,00
13. Dinas PU Pengairan 626.569.904,00 474.942.404,00
14. Dinas Permukiman - 944.942.404,00
15. Bapeprov 6.569.915,00 21.889.946,00
16. Dinas Perhubungan 202.400,00 -
17. Dinas LLAJ 456.943.015,00 540.056.725,00
18. Bapedal 81.565.290,00 65.976.280,00
19. Dinas Kependudukan 36.529.642,68 57.466.930,00
20. Dinas Sosial 296.298.603,00 216.809.165,00
21. Dinas Tenaga Kerja 12.863.000,00 16.179.788,00
22. Dinas Koperasi dan PKM 8.054.670,00 1.176.048,00
23. Badan Penanaman Modal 3.354.560,00 -
24. Dinas Pemuda dan Olah Raga 13.503.361,73 3.544.484,00
25. Bakesbang 186.725,00 1.414.075,00
26. Sekretariat Daerah 1.961.965.261,76 3.140.642.360,00
27. Sekretariat DPRD 233.753.250,00 209.757.257,00
28. Balitbang 6.945.625,00 10.880.350,00
29. Badan Pengawasan 6.718.801,00 4.387.607,00

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 60


31 Desember 2007 31 Desember 2006
No. Uraian
(Rp) (Rp)
30. Dinas Pendapatan 17.583.190.810,00 9.184.547.996,00
31. Kantor Perwakilan 18.586.100,00 -
32. Bakorwil I Madiun 32.000,00 -
33. Bakorwil II Bojonegoro 6.083.020,00 -
34. Bakorwil III Malang - 1.847.525,00
35. Bakorwil IV Pamekasan 1.013.100,00 2.313.285,00
36. Kantor Kas Daerah 10.594.255,00 24.210.385,00
37. Badan Arsip 1.139.600,00 8.403.205,00
38. Dinas Infokom 3.817.350,00 929.200,00
39. BPDE 5.442.228,00 4.128.222,00
40. Dinas Perkebunan 4.117.958,00 -
41. Dinas Peternakan 450.989.915,00 3.323.068.650,00
42. Badan Ketahanan Pangan - 2.007.579,00
43. Dinas Kehutanan 157.918.760,00 14.896.186,00
44. Dinas Energi dan SDM 16.601.991,67 8.953.340,00
45. Dinas Pariwisata 221.529.273,00 298.647.465,00
46. Dinas Perikanan dan Kelautan - 136.231.504,00
47. Dinas Perindag 16.591.280,00 29.912.390,00
Jumlah 52.044.941.410,42 45.706.680.880,00

31 Desember 2007 31 Desember 2006


2) Investasi jangka Panjang
a) Investasi Dana Bergulir Rp 379.995.70.850,00 Rp 320.232.700.850,00
Jumlah tersebut merupakan saldo investasi Dana Bergulir Pemerintah Provinsi
Jawa Timur sampai dengan 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2006.
Rincian Dana Bergulir sebagai berikut.
No. Uraian 31 Desember 2007 31 Desember 2006
(Rp) (Rp)
1. PT Bank Jatim (UKMK) 100.000.000.000,00 110.000.000.000,00
2. PT BPR Jatim (UKMK) 65.000.000.000,00 93.000.000.000,00
3. Badan Ketahanan Pangan 51.855.000.000,00 54.955.000.000,00
4. Dinas Peternakan 27.513.700.850,00 27.513.700.850,00
5. Dinas Koperasi dan UKM 39.264.000.000,00 47.727.000.000,00
6. Dinas Perindustrian dan 11.200.000.000,00 11.200.000.000,00
Perdagangan
7. Dinas Perkebunan 800.000.000,00 1.200.000.000,00
8. Dinas Perikanan dan Kelautan 1.400.000.000,00 1.400.000.000,00
9. Dinas Pertanian 3.200.000.000,00 4.000.000.000,00
10. PT Bank Jatim (PJTKI) 20.000.000.000,00 29.000.000.000,00
Jumlah 379.995.700.850,00 320.232.700.850,00

31 Desember 2007 31 Desember 2006


b) Penyertaan Modal
Rp 910.070.658.500,00 Rp 714.813.358.500,00
Pemerintah Daerah
Jumlah tersebut merupakan saldo Penyertaan Modal Pemerintah Provinsi Jawa
Timur pada 11 Perusahaan sampai dengan 31 Desember 2007 dan 31

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 61


Desember 2006. Penilaian investasi penyertaan modal menggunakan metode
biaya untuk seluruh tingkat kepemilikan.
Rincian Penyertaan Modal sebagai berikut.
% 31 Desember 2007 31 Desember 2006
No. Uraian Pendirian
Kepemilikan (Rp) (Rp)
1. PT. Surabaya Industrial Akta Pendirian 25,00 7.500.000.000,00 7.500.000.000,00
Estate Rungkut No. 166/1974
2. PD Air Bersih Perda No. 100,00 5.000.000.000,00 5.000.000.000,00
2/1987 jo
12/1996
3. PT Askrida Akta Pendirian 0,46 560.000.000,00 560.000.000,00
No. 131/1997
4. PT Bank Jatim Perda No. 78,35 510.949.000.000,00 416.966.000.000,00
1/1999
5. PT Panca Wira Usaha Perda No. 99,99 94.930.058.500,00 64.930.058.500,00
5/1999
6. PT Bank Perkreditan Perda No. 86,16 41.380.300.000,00 30.380.000.000,00
Rakyat 10/2000
7. PT Jatim Marga Utama Perda No. 70,00 30.002.000.000,00 30.002.000.000,00
25/2002
8. PT Jatim Krida Utama Akta Pendirian 60,00 1.800.000.000,00 1.800.000.000,00
No. 30/2004
9. PT Jatim Investment Perda No. 99,51 40.300.000.000,00 40.300.000.000,00
Manajemen 12/2003 jo
4/2004
10. PT Jatim Graha Utama Perda No. 99,82 82.774.300.000,00 35.000.000.000,00
14/2005
11. PT Petrogas Jatim Utama Perda No. 99,00 94.875.000.000,00 82.375.000.000,00
1/2006
Jumlah 910.070.658.500,00 714.813.358.500,00

31 Desember 2007 31 Desember 2006


3) Aset Tetap Rp 23.699.914.950.542,00 Rp 23.250.187.871.653,00
Jumlah tersebut merupakan saldo Aset Tetap yang dimiliki Pemerintah Provinsi
Jawa Timur per 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2006. Di antara aset
tetap tersebut, sebesar Rp225.421.673.283,00 tidak jelas status kepemilikannya
karena dicatat dengan kode kepemilikan pihak selain Pemerintah Provinsi

31 Desember 2007 31 Desember 2006


a) Tanah Rp 12.382.351.961.109,00 Rp 12.288.001.613.170,00
Jumlah tersebut merupakan saldo Aktiva Tetap Tanah yang dimiliki Pemerintah
Provinsi Jawa Timur per 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2006.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 62


Tanah tersebut di dalamnya terdapat:
(1) 25 bidang tanah seluas 47.039 m2 memiliki nilai buku di bawah Rp5.000,00;
(2) 1.031 bidang tanah seluas 10.524.378 m2 senilai Rp1.317.148.931.282,00
belum bersertifikat atas nama Propinsi dan bukti kepemilikannya tidak dapat
ditelusuri;

31 Desember 2007 31 Desember 2006


b) Peralatan dan Mesin Rp 1.453.395.570.350,00 Rp 1.316.300.027.564,00
Jumlah tersebut merupakan saldo Aktiva Tetap Peralatan dan Mesin yang
dimiliki Pemerintah Provinsi Jawa Timur per 31 Desember 2007 dan 31
Desember 2006.
Rincian Peralatan dan Mesin berikut.
No. Uraian 31 Desember 2007 31 Desember 2006
(Rp) (Rp)
1. Alat-alat Berat 216.480.662.379,00 202.194.040.657,00
2. Alat-alat Angkutan 188.237.391.007,00 175.779.455.176,00
3. Alat-alat Bengkel dan ukur 53.539.381.575,00 47.673.481.901,00
4. Alat-alat Pertanian 65.700.442.888,00 64.158.534.293,00
5. Alat-alat Kantor dan Rumah
Tangga 497.844.402.964,00 449.879.986.007,00
6. Alat-alat Studio dan Komunikasi 129.393.075.203,00 118.894.134.169,00
7. Alat-alat Kedokteran 237.053.906.683,00 203.755.333.230,00
8. Alat Laboratorium 62.879.126.601,00 53.965.062.131,00
9. Alat Keamanan 2.267.181.050,00 -
Jumlah 1.453.395.570.350,00 1.316.300.027.564,00

31 Desember 2007 31 Desember 2006


c) Gedung dan bangunan Rp 1.080.020.130.941,00 Rp 1.042.091.300.776,00
Jumlah tersebut merupakan saldo Aktiva Tetap gedung dan bangunan yang
dimiliki Pemerintah Provinsi Jawa Timur per 31 Desember 2007 dan 31
Desember 2006.
Rincian Gedung dan Bangunan berikut.
No. Uraian 31 Desember 2007 31 Desember 2006
(Rp) (Rp)
1. Bangunan Gedung 1.063.729.181.698,00 1.031.760.308.833,00
2. Bangunan Monumen 16.290.949.243,00 10.330.991.943,00
Jumlah 1.080.020.130.941,00 1.042.091.300.776,00

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 63


31 Desember 2007 31 Desember 2006
d) Jalan, irigasi dan
Rp 8.601.027.328.985,00 Rp 8.512.764.273.156,00
Jaringan

Jumlah tersebut merupakan saldo Aktiva Tetap Jalan, Irigasi dan Jaringan yang
dimiliki Pemerintah Provinsi Jawa Timur per 31 Desember 2007 dan 31
Desember 2006.
Rincian Jalan, Irigasi, dan Jaringan berikut.
No. Uraian 31 Desember 2007 31 Desember 2006
(Rp) (Rp)
1. Jalan dan Jembatan 641.641.966.991,00 440.354.685.379,00
2. Bangunan Air (Irigasi) 7.945.547.288.504,00 8.062.596.235.258,00
3. Instalasi 6.965.573.407,00 5.955.981.307,00
4. Jaringan 6.872.500.083,00 3.857.371.212,00
Jumlah 8.601.027.328.985,00 8.512.764.273.156,00

31 Desember 2007 31 Desember 2006


e) Aset Tetap lainnya Rp 11.236.833.713,00 Rp 10.939.523.032,00
Jumlah tersebut merupakan saldo aktiva tetap lainnya yang dimiliki Pemerintah
Provinsi Jawa Timur per 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2006.
Rincian Aset Tetap Lainnya berikut.
No. Uraian 31 Desember 2007 31 Desember 2006
(Rp) (Rp)
1. Buku dan Perpustakaan 5.629.952.900,00 4.462.736.519,00
2. Barang bercorak
Kesenian/Kebudayaan 4.584.058.346,00 3.644.345.496,00
3. Hewan/Ternak dan Tumbuhan 1.022.822.467,00 656.174.967,00
4. Alat Keamanan - 2.176.266.050,00
Jumlah 11.236.833.713,00 10.939.523.032,00

31 Desember 2007 31 Desember 2006


f) Konstruksi Dalam
Rp 171.883.125.444,00 Rp 80.091.133.955,00
Pengerjaan
Jumlah tersebut merupakan biaya yang diakumulasikan sampai pada tanggal
laporan posisi keuangan dari semua jenis aset tetap bangunan dalam
pengerjaan yang belum selesai dibangun yang dimiliki Pemerintah Provinsi
Jawa Timur per 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2006.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 64


31 Desember 2007 31 Desember 2006
4) Dana Cadangan Rp 479.055.408.392,75 Rp 328.276.814.248,00
Jumlah tersebut merupakan saldo Dana Cadangan yang dimiliki Pemerintah
Provinsi Jawa Timur per 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2006.
Rincian Dana Cadangan berikut.
No. Uraian 31 Desember 2007 31 Desember 2006
(Rp) (Rp)
1. Dana Cadangan Murni 50.562.937.305,00 118.276.814.248,00
2. Dana Pilkada Gubernur 428.492.471.087,75 210.000.000.000,00
Jumlah 479.055.408.392,75 328.276.814.248,00
Dana Cadangan Murni sebesar Rp41.500.000.000,00 digunakan sebagai
jaminan pinjaman RSUD Dr Soetomo dan RSUD Dr Saiful Anwar kepada Bank
Jatim.

31 Desember 2007 31 Desember 2006


5) Aset lainnya Rp 11.393.331.210,00 Rp 10.000.000.000,00
Jumlah tersebut merupakan aset lainnya yang dimiliki Pemerintah Provinsi Jawa
Timur per 31 Desember 2007 dan 31 Desember 2006.
Rincian Aset Lainnya berikut.
No. Uraian 31 Desember 2007 31 Desember 2006
(Rp) (Rp)
1. BOT - -
2. Tagihan Penjualan Angsuran - -
3. Tagihan Tuntutan Ganti Kerugian 1.393.331.210,00 -
Daerah
4. Kemitraan Pihak Ketiga - -
5. Aset Tak Berwujud - -
6. Aset Lain-lain 10.000.000.000,00 10.000.000.000,00
Jumlah 11.393.331.210,00 10.000.000.000,00
Aset Lain-lain sebesar Rp10.000.000.000,00 adalah utang PT. Panca Wira
Usaha kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang akan dikonversikan
menjadi penyertaan modal saham. Tagihan Tuntutan Ganti Kerugian Daerah
sebesar Rp1.393.331.210,00 adalah reklasifikasi dari Ganti Rugi atas Kas di
Bendahara Pengeluaran Dinas Kesehatan tahun 2006 yang telah dikenakan
SKTJM. Aset lainnya belum termasuk aset tak berwujud berupa software
aplikasi dan sistem informasi yang belum dikapitalisasi oleh Pemerintah Provinsi
Jawa Timur.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 65


31 Desember 2007 31 Desember 2006
6) Kewajiban
a) Kewajiban Jangka
Rp 169.651.146.773,28 Rp 153.181.915.618,69
Pendek
(1) Utang PFK Rp 1.530.992.927,00 Rp -
Jumlah tersebut merupakan saldo Utang PFK yang dimiliki Pemerintah Provinsi
Jawa Timur per 31 Desember 2007. Utang PFK tersebut merupakan
pemotongan yang dilakukan Bendahara Pengeluaran yang belum disetor ke
Kas Negara sampai dengan 31 Desember 2007 pada:
No. Uraian 31 Desember 2007 31 Desember 2006
(Rp) (Rp)
1. Dinas Perkebunan 810.115.994,00 -
2. Balitbang 26.250,00 -
3. Biro Umum 720.850.683,00 -
Jumlah 1.530.992.927,00 -

31 Desember 2007 31 Desember 2006


(2) Utang Bunga Rp 524.831.946,00 Rp -
Jumlah tersebut merupakan saldo utang bunga per 31 Desember 2007. Utang
bunga berasal dari pinjaman RSU Dr Soetomo kepada Bank Jatim.

31 Desember 2007 31 Desember 2006


(3) Bagian Lancar Utang
Rp 3.475.168.052,00 Rp 3.349.395.216,93
Jangka Panjang
Jumlah tersebut merupakan saldo bagian lancar utang jangka panjang per 31
Desember 2007. Bagian Lancar Utang Jangka Panjang berasal dari pinjaman
RSU Dr Soetomo kepada Bank Jatim yang jatuh tempo dalam waktu kurang
dari 12 bulan. Bagian Lancar Utang Jangka Panjang belum termasuk utang
RSUD Dr. Saiful Anwar sebesar Rp4.730.000.000,00 yang menjadi tanggung
jawab unit paviliun.

31 Desember 2007 31 Desember 2006


(4) Utang Belanja Rp 357.489.502,00 Rp 16.067.194.266,00
Jumlah tersebut merupakan saldo utang belanja per 31 Desember 2007 dan 31
Desember 2006. Utang Belanja berasal dari utang pembayaran tagihan air,
listrik, dan telepon. Rincian utang belanja pada SKPD:

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 66


No. Uraian 31 Desember 2007 31 Desember 2006
(Rp) (Rp)
1. Dipenda (Utang biaya
-
pemungutan) 16.067.194.266,00
2. RSU Dr Saiful Anwar 125.941.687,00 -
3. RSU Dr Soedono 8.108.720,00 -
4. RS Kusta Sumberglagah 11.035.431,00 -
5. Dinas Kependudukan 36.617.800,00 -
6. Bakorwil IV 15.073.497,00 -
7. Dinas Kesehatan 160.712.367,00 -
Jumlah 357.489.502,00 16.067.194.266,00

31 Desember 2007 31 Desember 2006


(4) Utang Bagi Hasil Pajak Rp 157.176.933.046,81 Rp 130.456.718.574,51
Jumlah tersebut merupakan saldo utang bagi hasil pajak per 31 Desember 2007
dan 31 Desember 2006.
Rincian utang bagi hasil pajak sebagai berikut:
No. Uraian 31 Desember 2007 31 Desember 2006
(Rp) (Rp)
1. Bagian Kab/Kota dari PKB dan
122.108.628.342,92 52.633.365.555,70
BBNKB
2. Bagian Kab/Kota dari PBBKB 33.623.564.480,17 76.215.401.285,08
3. Bagian Kab/Kota dari P3AP
1.444.740.223,72 1.607.951.733,73
dan P3ABT
Jumlah 157.176.933.046,81 130.456.718.574,51

31 Desember 2007 31 Desember 2006


(5) Utang Bagi Hasil Bukan
Rp 3.959.254.211,08 Rp 3.302.331.022,86
Pajak
Jumlah tersebut merupakan saldo utang bagi hasil bukan pajak per 31
Desember 2007 dan 31 Desember 2006. Rincian utang bagi hasil bukan pajak
sebagai berikut:
31 Desember 2007 31 Desember 2006
No. Uraian
(Rp) (Rp)
1. Bagian Kab/Kota dari SP3 982.100.474,16 70.210.136,94
2. Bagian Kab/Kota dari Tahura 95.028.973,00 81.562.368,75
3. Bagian Kab/Kota dari RP3HH 1.003.981.557,68 1.521.036.666,22
4. Bagian Kab/Kota dari IMTA 973.893.120,20 1.423.337.644,00
5. Bagian Kab/Kota dari TERA 370.482.783,80 157.184.206,00
6. Bagian Kab/Kota dari ASDP 464.110.207,46 49.000.000,00
7. Bagian Kab/Kota dari Iuran
69.657.094,78 -
Ternak
Jumlah 3.959.254.211,08 3.302.331.021,91

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 67


31 Desember 2007 31 Desember 2006
(6) Utang Lain-lain Rp 2.626.477.088,39 Rp 6.276.538,39
Jumlah tersebut merupakan saldo utang lain-lain per 31 Desember 2007 dan 31
Desember 2006. Rincian utang lain-lain sebagai berikut:
31 Desember 2007 31 Desember 2006
No. Uraian
(Rp) (Rp)
1. Setoran IWLTKP(Disnaker) 776.536,60 776.536,60
2. Hasil Penjualan sapi (Disnak) 5.500.000,00 5.500.000,00
3. Hasil Penjualan gabah
0,53 0,53
(Baketbang)
4. Rekondisi (PU Bina Marga) 1,26 1,26
5. Utang Jasa Pelayanan
2.620.200.550,00 -
(RSU Dr Saiful Anwar)
Jumlah 2.626.477.088,39 6.276.538,39

31 Desember 2007 31 Desember 2006


b) Kewajiban Jangka
Rp 6.559.051.226,00 Rp -
Panjang
(1) Utang Jangka Panjang
Rp 6.559.051.226,00 Rp -
Lainnya
Jumlah tersebut merupakan saldo Utang Jangka Panjang Lainnya per 31
Desember 2007. Utang Jangka Panjang Lainnya berasal dari pinjaman RSUD
Dr Soetomo kepada Bank Jatim. Utang Jangka Panjang tersebut belum
termasuk utang RSUD Dr Saiful Anwar kepada Bank Jatim sebesar
Rp10.320.000.000,00 yang menjadi tanggung jawab unit paviliun.
31 Desember 2007 31 Desember 2006
7) Ekuitas Dana
a) Ekuitas Dana Lancar Rp 1.317.418.268.354,96 Rp 842.815.140.327,49
Jumlah tersebut merupakan saldo Ekuitas Dana Lancar per 31 Desember 2007
dan 31 Desember 2006.
Ekuitas Dana Lancar terdiri dari:
No Uraian 31 Desember 2007 31 Desember 2006
(Rp) (Rp)
1. Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 1.281.483.631.783,22 847.309.400.090,89
(SILPA)
2. Pendapatan yang ditangguhkan 271.663.646,60 -
3. Cadangan Piutang 153.269.178.288,00 102.980.974.975,35
4. Cadangan Persediaan 52.044.941.410,42 45.706.680.880,00
5. Dana yang harus disediakan untuk
hutang jangka pendek (169.651.146.773,28) (153.181.915.618,75)
Total Ekuitas Dana Lancar 1.317.418.268.354,96 842.815.140.327,49

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 68


Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) sebesar Rp1.281.483.631.783,22
terdiri dari:
(1) Kas di Kas Daerah Rp 1.237.638.636.382,43
(2) Kas di Bendahara Pengeluaran Rp 8.588.974.570,00
(3) Kas di Rekening Fungsional Rumah Sakit Rp 35.256.020.830,79
Rp 1.281.483.631.783,22

Perbandingan SILPA di Neraca dengan Saldo Kas di Neraca


SiLPA di Neraca Kas di Neraca
No Uraian
(Rp) (Rp)
1 Kas di Kas Daerah 1.237.638.636.382,43 1.237.638.636.382,43
2 Kas di Bendahara Pengeluaran
a. Sisa UP disetor 2008 4.672.154.143,00 4.672.154.143,00
b. PFK Bendahara Pengeluaran 1.530.992.927,00 1.530.992.927,00
c. Sisa Dana Askeskin (Tak terduga) 2.385.827.500,00 2.385.827.500,00
3 Kas di Rekening Rumah Sakit 35.256.020.830,79 35.256.020.830,79
4 Kas di Bendahara Penerimaan
a. Bunga Dana Bergulir yang ditangguhkan di
220.872.916,60
Dinas Perekonomian
b. Bunga Dana Bergulir yang ditangguhkan di
4.219.125,00
Dinas Koperasi dan PKM
c. SP III yang ditangguhkan di Dinas Perhubungan 25.885.857,00
d. Bunga rekening penampungan Askeskin yang
20.685.748,00
ditangguhkan di RSUD Dr Saiful Anwar
Jumlah 1.281.483.631.783,22 1.281.755.295.429,82

Penjelasan perbedaan SILPA di Neraca dengan Kas di Neraca


SILPA di Neraca : Rp1.281.483.631.783,22
Kas di Neraca : Rp1.281.755.295.429,82
Selisih :(Rp 271.663.646,60)

Terdiri dari:
Bunga Dana Bergulir yang ditangguhkan di Dinas
: 220.872.916,60
Perekonomian
Bunga Dana Bergulir yang ditangguhkan di Dinas Koperasi
: 4.219.125,00
dan PKM
SP III yang ditangguhkan di Dinas Perhubungan : 25.885.857,00
Bunga rekening penampungan Askeskin yang ditangguhkan
: 20.685.748,00
di RSUD Dr Saiful Anwar
Jumlah : 271.663.646,60

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 69


Keterangan
(1) Bunga Dana Bergulir pada Dinas Perekonomian sebesar Rp220.872.916,60
merupakan penerimaan yang diterima Bendahara Penerimaan namun
belum disetor ke Kas Daerah sampai dengan 31 Desember 2007. Jumlah
tersebut termasuk Kas di Neraca namun tidak termasuk SILPA di Neraca.
Jumlah tersebut dicatat sebagai Pendapatan yang ditangguhkan.
(2) Bunga Dana Bergulir pada Dinas Koperasi dan PKM sebesar
Rp4.219.125,00 merupakan penerimaan yang diterima Bendahara
Penerimaan namun belum disetor ke Kas Daerah sampai dengan 31
Desember 2007. Jumlah tersebut termasuk Kas di Neraca namun tidak
termasuk SILPA di Neraca. Jumlah tersebut dicatat sebagai Pendapatan
yang ditangguhkan.
(3) Sumbangan Pihak III pada Dinas Perhubungan sebesar Rp25.885.857,00
merupakan penerimaan yang diterima Bendahara Penerimaan namun
belum disetor ke Kas Daerah sampai dengan 31 Desember 2007. Jumlah
tersebut termasuk Kas di Neraca namun tidak termasuk SILPA di Neraca.
Jumlah tersebut dicatat sebagai Pendapatan yang ditangguhkan.
(4) Bunga rekening penampungan Askeskin di RSUD Dr Saiful Anwar sebesar
Rp20.685.748,00 merupakan penerimaan yang diterima Bendahara
Penerimaan namun belum disetor ke Kas Daerah sampai dengan 31
Desember 2007. Jumlah tersebut termasuk Kas di Neraca namun tidak
termasuk SILPA di Neraca. Jumlah tersebut dicatat sebagai Pendapatan
yang ditangguhkan.

Perbandingan SILPA di Neraca dengan SILPA di LRA


SiLPA di Neraca SILPA di LRA
No Uraian
(Rp) (Rp)
1 Kas di Kas Daerah 1.237.638.636.382,43 1.237.638.636.382,43
2 Kas di Bendahara Pengeluaran
a. Sisa UP disetor 2008 4.672.154.143,00 4.672.154.143,00
b. PFK Bendahara Pengeluaran 1.530.992.927,00
c. Sisa Dana Askeskin (Tak terduga) 2.385.827.500,00
d. Kas di Dinas Kesehatan (2006) 1.393.331.210,00
3 Kas di Rekening Rumah Sakit 35.256.020.830,79 35.256.020.830,79
Jumlah 1.281.483.631.783,22 1.278.960.142.566,22

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 70


Penjelasan perbedaan SILPA di Neraca dengan SILPA di LRA
SILPA di Neraca : Rp1.281.483.631.783,22
SILPA di LRA : Rp1.278.960.142.566,22
Selisih : Rp 2.523.489.217,00

Terdiri dari:
(1) PFK Bendahara Pengeluaran sebesar Rp1.530.992.927,00 merupakan
potongan pajak negara yang belum disetorkan ke Kas Negara sampai
dengan 31 Desember 2007. Jumlah tersebut masih berada di Bendahara
Pengeluaran sehingga termasuk SILPA di Neraca dan tidak termasuk SILPA
di LRA karena merupakan Penerimaan Non Anggaran;
(2) Sisa Dana Askeskin sebesar Rp2.385.827.500,00 merupakan sisa dana
askeskin di RSU Dr Saiful Anwar yang belum dikembalikan ke Kas Daerah.
Jumlah tersebut termasuk SILPA di Neraca dan tidak termasuk SILPA di
LRA;
(3) Kas di Dinas Kesehatan sebesar Rp1.393.331.210,00 merupakan kas di
bendahara pengeluaran Dinas Kesehatan yang telah direklasifikasikan
menjadi Tuntutan Ganti Rugi. Jumlah tersebut tidak termasuk SILPA di
Neraca.

31 Desember 2007 31 Desember 2006


b) Ekuitas Dana Investasi Rp 24.994.815.589.876,00 Rp 24.295.233.931.003,00
Jumlah tersebut merupakan saldo Ekuitas Dana Lancar per 31 Desember 2007
dan 31 Desember 2006.
Ekuitas Dana Investasi terdiri dari:
No Uraian 31 Desember 2007 31 Desember 2006
(Rp) (Rp)
1. Diinvestasikan dalam Investasi
Jangka Panjang 1.290.066.359.350,00 1.035.046.059.350,00
2. Diinvestasikan dalam Aset Tetap 23.699.914.950.542,00 23.250.187.871.653,00
3. Diinvestasikan dalam Aset Lainnya 11.393.331.210,00 10.000.000.000,00
4. Dana Yang Harus Disediakan Untuk
Pembayaran Utang Jangka Panjang (6.559.051.226,00) -
Total Ekuitas Dana Investasi 24.994.815589.786,00 24.295.233.931.03,00

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 71


c) Ekuitas Dana Cadangan
31 Desember 2007 31 Desember 2006
Diinvestasikan dalam
dana cadangan Rp 479.055.408.392,75 Rp 328.276.814.248,00

Jumlah tersebut merupakan saldo Ekuitas Dana Cadangan per 31 Desember


2007 dan 31 Desember 2006.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 72


b. Laporan Realisasi Anggaran
Anggaran Realisasi
Pendapatan Rp 5.133.847.177.458,00 Rp 5.940.048.022.273,61
Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2007 terealisasi sebesar
Rp5.940.048.022.273,61, terdiri dari:
Anggaran Realisasi
1) Pendapatan Asli Daerah Rp 3.555.497.177.458,00 Rp 4.164.250.659.986,61
a) Pajak Daerah Rp 3.143.250.000.000,00 Rp 3.574.886.241.780,00
Jumlah tersebut adalah realisasi penerimaan Pajak Daerah Tahun Anggaran
2007, terdiri dari:
No Uraian Jumlah (Rp)
1. Pajak Kendaraan Bermotor 1.483.707.055.565,00
2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 1.256.328.897.050,00
3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 800.561.751.098,00
4. Pajak Air Permukaan 17.009.784.842,00
5. Pajak Air Bawah Tanah 17.278.753.225,00
Total Pajak 3.574.886.241.780,00

Anggaran Realisasi
b) Retribusi Daerah Rp 229.913.773.500,00 Rp 261.100.680.457,77
Jumlah tersebut adalah realisasi penerimaan retribusi Daerah Tahun Anggaran
2007, yang terdiri dari:
No. Uraian Jumlah (Rp)
1. Retribusi Pelayanan Kesehatan 205.364.680.813,89
2. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor 855.113.500,00
3. Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang 3.235.900.300,00
4. Retribusi Pelayanan Pendidikan 13.859.600,00
5. Retribusi Pengujian Kapal Perikanan 6.492.000,00
6. Retribusi Pemeriksaan, Pengukuran, dan Pengujian Hasil Hutan 5.458.712.609,88
7. Retribusi Pengendalian Pemanfaatan Flora dan Fauna yang 24.555.000,00
Tidak Dilindungi Lintas Kabupaten/Kota
8. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah 23.600.726.722,00
9. Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah 6.631.217.372,00
10. Retribusi Pengelolaan Taman Hutan Rakyat R. Soerjo 474.316.250,00
11. Retribusi Ijin Trayek 1.137.766.500,00
12. Retribusi Ijin Perpanjangan Kerja 14.297.339.790,00
TOTAL RETRIBUSI DAERAH 261.100.680.457,77

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 73


Anggaran Realisasi
c) Hasil Pengelolaan
Kekayaan Daerah yang
Dipisahkan Rp 97.544.906.958,00 Rp 99.510.836.622,96
Jumlah tersebut adalah realisasi penerimaan Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang Dipisahkan Tahun Anggaran 2007, yang terdiri dari:
No. Uraian Jumlah (Rp)
1 Bagian Laba atas Penyertaan Modal pada Perusahaan
Milik Daerah/BUMN
Perusahaan Daerah Air Bersih 530.996.000,00
PT Bank Jatim 89.982.776.943,54
PT BPR Jatim 2.721.396.000,00
2 Bagian Laba atas Penyertaan Modal pada Perusahaan
Patungan/Milik Swasta
PT SIER (Surabaya Industri Estate Rungkut) 1.640.837.515,92
PT PWU (Panca Wira Usaha) 3.288.745.605,50
PT ASKRIDA 154.633.558,00
PT JIM (Jatim Investment Management) 1.000.000.000,00
PT JKU (Jatim Krida Utama) 191.451.000,00
Total Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 99.510.836.622,96

Anggaran Realisasi
d) Lain-lain PAD yang Sah Rp 84.788.497.000,00 Rp 228.752.901.125,88
Jumlah tersebut adalah realisasi penerimaan Lain-lain PAD yang Sah Tahun
Anggaran 2007.

Anggaran Realisasi
2) Pendapatan Transfer Rp 1.564.115.000.000,00 Rp 1.755.896.026.169,00
Jumlah tersebut adalah realisasi penerimaan Pendapatan Transfer Tahun
Anggaran 2007.
Anggaran Realisasi
a) Bagi Hasil Pajak Rp 452.000.000.000,00 Rp 641.893.164.721,00
Jumlah tersebut adalah realisasi penerimaan Bagi Hasil Pajak Tahun Anggaran
2007 yang terdiri dari:

Uraian Jumlah (Rp)


No.
1 Bagi Hasil dari Pajak Bumi dan Bangunan ( PBB) 367.785.087.767,00
2 Bagi Hasil dari Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan
(BPHTB) 78.556.999.044,00
3 Bagi Hasil dari Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29
wajib pajak orang pribadi dalam negeri dan PPh Pasal 21 195.551.077.910,00
Jumlah 641.893.164.721,00

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 74


Anggaran Realisasi
b) Bagi Hasil Bukan Pajak
(SDA) Rp 21.000.000.000,00 Rp 22.847.861.448,00
Jumlah tersebut adalah realisasi penerimaan Bagi Hasil Bukan Pajak (SDA)
Tahun Anggaran 2007 yang terdiri dari:

No. Uraian Jumlah (Rp)


1 Bagi Hasil dari Provisi Sumber Daya Hutan ( PSDH ) 3.588.650.075,00
2 Bagi Hasil dari Iuran Tetap (Land-rent) 75.634.792,00
3 Bagi Hasil Iuran Eksplorasi dan Iuran Eksploitasi (Royalti) 4.537.943,00
4 Bagi Hasil dari Pertambangan Minyak Bumi 17.882.070.739,00
5 Bagi Hasil dari Pertambangan Gas Bumi 1.296.967.899,00
Jumlah 22.847.861.448,00

Anggaran Realisasi
c) Dana Alokasi Umum Rp 1.091.155.000.000,00 Rp 1.091.155.000.000,00
Jumlah tersebut adalah realisasi penerimaan Dana Alokasi Umum Tahun
Anggaran 2007.
Anggaran Realisasi
3) Lain-lain Pendapatan Rp 14.195.000.000,00 Rp 19.901.336.118,00
yang Sah
Jumlah tersebut adalah realisasi Lain-lain Pendapatan yang Sah Tahun Anggaran 2007.
Lain-lain Pendapatan yang Sah berupa pendapatan hibah yang terdiri dari:
No. Uraian Jumlah (Rp)
1 Sumbangan Pihak Ketiga dari ASDP 4.150.191.359,00
2 Sumbangan Pihak Ketiga dari Perum Perhutani 7.445.966.559,00
3 Sumbangan Pihak Ketiga dari Jasa Raharja 8.305.178.200,00

Anggaran Realisasi
Belanja Rp 5.739.064.728.064,00 Rp 5.267.845.347.892,28
1) Belanja Operasi Rp 3.519.937.236.357,00 Rp 3.263.437.620.434,71
Belanja Operasi Tahun Anggaran 2007 dianggarkan sebesar
Rp3.519.937.236.357,00 dan direalisasikan Rp3.263.437.620.434,71 atau
92,71%.
a) Belanja Pegawai terealisasi sebesar Rp1.210.568.135.064,00 dari anggaran
sebesar Rp1.291.809.389.682,00 atau 93,71%;
b) Belanja Barang terealisasi sebesar Rp1.194.585.857.398,00 dari anggaran
sebesar Rp1.357.553.787.621,00 atau 88,00%;
Realisasi tersebut di antaranya terdiri dari pembayaran bunga pinjaman
sebesar Rp725.751.463,00 dan pembayaran pokok pinjaman sebesar
Rp3.274.248.537,00 pada RSUD Dr Soetomo.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 75


c) Belanja Bunga terealisasi sebesar Rp0,00 dari anggaran sebesar Rp0,00;
d) Belanja Subsidi terealisasi sebesar Rp0,00 dari anggaran sebesar Rp0,00;
e) Belanja Hibah terealisasi sebesar Rp2.000.000.000,00 dari anggaran sebesar
Rp2.000.000.000,00 atau 100%; Belanja hibah sebesar Rp2.000.000.000,00
merupakan belanja hibah kepada Badan/Lembaga/Organisasi Swasta.
f) Belanja Bantuan Sosial terealisasi sebesar Rp856.283.627.972,71 dari
anggaran sebesar Rp868.574.059.064,00 atau 98,58%. Belanja Bantuan
Sosial terdiri dari:
(1) Belanja Bantuan Sosial untuk Organisasi Kemasyarakatan sebesar
Rp118.146.921.458,71;
(2) Belanja Bantuan Sosial untuk Peningkatan Pendidikan sebesar
Rp128.885.701.000,00;
(3) Belanja Bantuan Sosial kepada Organisasi Keagamaan sebesar
Rp16.345.000.000,00;
(4) Belanja Bantuan Sosial kepada Organisasi Kepemudaan dan Olahraga
sebesar Rp76.775.507.451,00;
(5) Belanja Bantuan Sosial kepada Instansi/Lembaga Daerah/Masyarakat
sebesar Rp512.433.504.694,00;
(6) Belanja Bantuan Partai Politik sebesar Rp2.100.000.000,00;
(7) Belanja Bantuan Jaringan dan Instalasi Listrik, Telepon, dan Infrastruktur
Lainnya Rp1.596.993.369,00.
Realisasi tersebut di antaranya:
(1) Realisasi bantuan rehabilitasi sekolah negeri sebesar
Rp67.350.000.000,00 yang lebih tepat direalisasikan melalui Belanja
Bantuan Keuangan;
(2) Realisasi bantuan sosial kepada instansi/lembaga daerah/masyarakat
sebesar Rp24.646.471.050,00 yang lebih tepat dianggarkan pada belanja
program kegiatan SKPD;

Anggaran Realisasi
2) Belanja Modal Rp 703.050.629.137,00 Rp 640.504.302.197,57
Belanja Modal dianggarkan sebesar Rp703.050.629.137,00 dan direalisasikan
sebesar Rp640.504.302.197,57 atau sebesar 91,10% terdiri dari.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 76


a) Belanja Tanah terealisasi sebesar Rp62.055.742.229,00 dari anggaran
sebesar Rp70.625.598.263,00 atau sebesar 87,87%;
b) Belanja Peralatan dan Mesin terealisasi sebesar Rp129.212.705.629,00 dari
anggaran sebesar Rp144.409.743.598,00 atau sebesar 89,48%;
c) Belanja Gedung dan Bangunan terealisasi sebesar Rp250.394.635.516,00
dari anggaran sebesar Rp284.270.514.329,00 atau 88,08%;
Realisasi tersebut di antaranya:
(1) Pembangunan bangunan sarana MCK pada lingkungan Pondok
Pesantren dan masyarakat sebesar Rp5.636.377.300,00 yang lebih tepat
dianggarkan dalam belanja hibah;
(2) Master Plan dan animasi Anjungan Jatim TMII sebesar Rp342.700.000,00
yang lebih tepat dianggarkan dalam belanja barang.
d) Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan terealisasi sebesar Rp194.154.071.715,57
dari anggaran sebesar Rp198.862.079.387,00 atau sebesar 97,63%;
Realisasi tersebut termasuk pembangunan jalan lingkungan dan jaringan air
bersih di lingkungan pondok pesantren dan masyarakat sebesar
Rp15.798.637.500,00 yang lebih tepat dianggarkan dalam belanja hibah.
e) Belanja Aset Tetap Lainnya terealisasi sebesar Rp2.417.708.183,00 dari
anggaran sebesar Rp2.523.484.000,00 atau 95,81%;
f) Belanja Aset Lainnya terealisasi sebesar Rp2.269.438.925,00 dari anggaran
sebesar Rp2.359.209.560,00 atau 96,19%.

Anggaran Realisasi
3) Belanja Tidak Terduga Rp 56.063.183.400,00 Rp 25.002.442.773,00
Belanja Tidak Terduga terealisasi sebesar Rp25.002.442.773,00 dari anggaran
sebesar Rp56.063.183.400,00 atau 44,60%. Rincian realisasi Belanja Tak
Terduga terdiri dari:
a) Pengembalian kelebihan pendapatan pajak daerah tahun 2006 sebesar
Rp4.505.000,00;
b) Pengembalian kelebihan setor TP/TGR sebesar Rp2.621.916,00;
c) Pengembalian kelebihan setor sisa kas tahun anggaran 2006 sebesar
Rp16.608.150,00;
d) Pembayaran Biaya Pelayanan Pasien Askeskin yang tidak ditanggung oleh
PT. ASKES sebesar Rp12.000.000.000,00;
e) Pembayaran bantuan penanganan darurat Prasarana Jalan/Jembatan Akibat
Bencana Alam sebesar Rp3.869.634.250,00;

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 77


f) Pembayaran Peningkatan Jalan dan Jembatan Alternatif Lintas Timur
Pengalihan Arus Lalu Lintas Ruas Jalan Raya Porong sebesar
Rp3.516.000.000,00;
g) Pembayaran Bantuan untuk Penanganan Mendesak Pasca Musibah
Kebakaran Pasar Turi sebesar Rp5.000.000.000,00;
h) Pembayaran Tambahan Kebutuhan Rambu dan RPPJ pada Ruas Jalan
Alternatif Tanggulangin – Porong sebagai akibat bencana lumpur lapindo
sebesar Rp1.000.000.000,00.

Anggaran Realisasi
4) Belanja Transfer Rp 1.460.013.679.160,00 Rp 1.338.900.982.487,00
Transfer dianggarkan sebesar Rp1.460.013.679.160,00 dan direalisasikan
sebesar Rp1.338.900.982.487,00 atau 91,70% terdiri dari:
a) Transfer/bagi hasil pendapatan ke kabupaten/Kota terealisasi sebesar
Rp1.334.276.267.687,00 dari anggaran sebesar Rp1.452.656.631.160,00
atau 91,85%
b) Transfer Bantuan Keuangan ke Pemda Lainnya terealisasi sebesar
Rp4.624.714.800,00 dari anggaran sebesar Rp7.357.048.000,00 atau 62,86%

Anggaran Realisasi
Pembiayaan Rp 606.610.881.816,00 Rp 606.757.468.184,89
1) Pembiayaan Penerimaan Rp 915.023.277.033,00 Rp 915.169.863.401,89
a) Penggunaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu (Tahun 2006)
sebesar Rp847.306.591.208,89;
b) Pencairan Dana Cadangan sebesar Rp67.713.876.943,00 berupa pencairan
Dana Cadangan murni untuk ditransfer ke Dana Cadangan Pilkada;
c) Penerimaan Piutang Daerah sebesar Rp149.395.250,00.

Anggaran Realisasi
2) Pembiayaan Pengeluaran Rp 308.412.395.217,00 Rp 308.412.395.217,00
a) Pembentukan Dana Cadangan sebesar Rp190.000.000.000,00 yang
diperuntukkan bagi pembiayaan pelaksanaan Pilkada Provinsi Jawa Timur
Tahun 2008;
b) Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah sebesar
Rp118.263.000.000,00;

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 78


c) Pembayaran Pokok Utang sebesar Rp149.395.217,00.
Pembayaran pokok utang tersebut didalamnya terdapat realisasi pembayaran
bunga dan jasa bank sebesar Rp7.721.420,14.

Anggaran Realisasi
3) Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran (SILPA) Rp 1.393.331.210,00 Rp 1.278.960.142.566,22

Perbandingan SILPA di LRA dengan Kas di Neraca


SiLPA di LRA Kas di Neraca
No Uraian
(Rp) (Rp)
1 Kas di Kas Daerah 1.237.638.636.382,43 1.237.638.636.382,43
2 Kas di Bendahara Pengeluaran
a. Sisa UP disetor 2008 4.672.154.143,00 4.672.154.143,00
b. Dinas Kesehatan (2006) 1.393.331.210,00
c. PFK Bendahara Pengeluaran 1.530.992.927,00
d. Sisa Dana Askeskin (Tak terduga) 2.385.827.500,00
3 Kas di Rekening Rumah Sakit 35.256.020.830,79 35.256.020.830,79
4 Kas di Bendahara Penerimaan
a. Bunga Dana Bergulir yang ditangguhkan
220.872.916,60
di Dinas Perekonomian
b. Bunga Dana Bergulir yang ditangguhkan
4.219.125,00
di Dinas Koperasi dan PKM
c. SP III yang ditangguhkan di Dinas
25.885.857,00
Perhubungan
d. Bunga rekening penampungan Askeskin
20.685.748,00
yang ditangguhkan di RSUD Dr Saiful Anwar
Jumlah 1.278.960.142.566,22 1.281.755.295.429,82

Penjelasan Saldo Kas di Neraca dengan SILPA di LRA:


Saldo SILPA di LRA : Rp1.278.960.142.566,22
Saldo Kas di Neraca : Rp1.281.755.295.429,82
Selisih :(Rp 2.795.152.863,60)

Terdiri dari:
Kas di Bendahara Pengeluaran (PFK) :(Rp1.530.992.927,00)
Kas di Bendahara Pengeluaran (Dinas Kesehatan 2006) : Rp1.393.331.210,00
Kas di Bendahara Pengeluaran (Sisa Askeskin) :(Rp2.385.827.500,00)
Kas di Bendahara Penerimaan :(Rp 271.663.646,60)
Jumlah :(Rp2.795.152.863,60)

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 79


Keterangan
(1) Kas di Bendahara Pengeluaran Dinas Kesehatan tahun 2006 sebesar
Rp1.393.331.210,00 tidak termasuk Kas di Neraca karena telah
direklasifikasikan menjadi Aset Lainnya-Tuntutan Ganti Rugi;
(2) Kas sisa dana Askeskin di RSUD Dr Saiful Anwar termasuk Kas di Neraca
karena jumlah Kas tersebut belum dimanfaatkan dan belum dikembalikan ke
Kas Daerah;
(3) Utang PFK/ Pajak yang belum disetor ke Kas Negara sebesar
Rp1.530.992.927,00 termasuk Kas di Neraca tetapi bukan termasuk SILPA
di LRA karena jumlah tersebut merupakan hak negara yang belum disetor
sampai 31 Desember 2007 dan masih berada di Bendahara Pengeluaran;
(4) Kas di Bendahara Penerimaan sebesar Rp271.663.646,60 termasuk Kas di
Neraca tetapi tidak termasuk SILPA di LRA. Jumlah tersebut merupakan
penerimaan yang belum disetorkan ke Kas Daerah sampai dengan 31
Desember 2007 sehingga dicatat sebagai pendapatan yang ditangguhkan.

Perbandingan SILPA di LRA dengan SILPA di Neraca


SILPA di LRA SiLPA di Neraca
No Uraian
(Rp) (Rp)
1 Kas di Kas Daerah 1.237.638.636.382,43 1.237.638.636.382,43
2 Kas di Bendahara Pengeluaran
a. Sisa UP disetor 2008 4.672.154.143,00 4.672.154.143,00
b. PFK Bendahara Pengeluaran 1.530.992.927,00
c. Sisa Dana Askeskin (Tak terduga) 2.385.827.500,00
d. Kas di Dinas Kesehatan (2006) 1.393.331.210,00
3 Kas di Rekening Rumah Sakit 35.256.020.830,79 35.256.020.830,79
Jumlah 1.278.960.142.566,22 1.281.483.631.783,22

Penjelasan perbedaan SILPA di LRA dengan SILPA di Neraca


SILPA di LRA : Rp1.278.960.142.566,22
SILPA di Neraca : Rp1.281.483.631.783,22
Selisih :(Rp 2.523.489.217,00)

Terdiri dari:
(1) PFK Bendahara Pengeluaran sebesar Rp1.530.992.927,00 merupakan
potongan pajak negara yang belum disetorkan ke Kas Negara sampai
dengan 31 Desember 2007. Jumlah tersebut masih berada di Bendahara
Pengeluaran sehingga termasuk SILPA di Neraca dan tidak termasuk SILPA
di LRA karena merupakan Penerimaan Non Anggaran;

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 80


(2) Sisa Dana Askeskin sebesar Rp2.385.827.500,00 merupakan sisa dana
askeskin di RSU Dr Saiful Anwar yang belum dikembalikan ke Kas Daerah.
Jumlah tersebut termasuk SILPA di Neraca dan tidak termasuk SILPA di
LRA;
(3) Kas di Dinas Kesehatan sebesar Rp1.393.331.210,00 merupakan kas di
bendahara pengeluaran Dinas Kesehatan yang telah direklasifikasikan
menjadi Tuntutan Ganti Rugi. Jumlah tersebut tidak termasuk SILPA di
Neraca.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 81


c. Laporan Arus Kas
Aktivitas yang tersajikan dalam Laporan Arus Kas adalah aktivitas arus kas masuk
dan keluar melalui Kas Daerah. Aktivitas yang dilakukan melalui rekening
fungsional Rumah Sakit dikeluarkan dari Laporan Arus Kas dan disajikan dalam
Kas di Rekening Fungsional Rumah Sakit.
1) Arus Kas dari Aktivitas Operasi Rp 1.290.002.610.628,01
Arus Kas Masuk Rp 5.727.068.883.836,72
Arus Kas Keluar Rp 4.437.066.273.208,71
Arus Kas Bersih Rp 1.290.002.610.628,01

Arus kas masuk terdiri dari:


a) Pendapatan Asli Daerah Rp 3.951.271.521.549,72
b) Pendapatan Transfer Rp 1.755.896.026.169,00
c) Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Rp 19.901.336.118,00
Jumlah Rp 5.727.068.883.836,72

Arus kas keluar terdiri dari:


a) Belanja Pegawai Rp 1.136.408.311.825,00
b) Belanja Barang dan Jasa Rp 1.080.067.901.520,00
c) Belanja Bunga Rp 0,00
d) Belanja Subsidi Rp 0,00
e) Belanja Hibah Rp 2.000.000.000,00
f) Belanja Bantuan Sosial Rp 854.686.634.603,71
g) Belanja Bagi Hasil ke Kabupaten/Kota Rp 1.334.276.267.687,00
h) Belanja Bantuan Keuangan Rp 4.624.714.800,00
i) Belanja Tidak Terduga Rp 25.002.442.773,00

Jumlah Rp 4.437.066.273.208,71

2) Arus Kas dari Aktivitas Investasi ( Rp 618.821.597.739,57)


Arus Kas Masuk Rp 3.528.665.807,00
Alliran Kas Keluar Rp 622.350.263.546,57
Arus Kas Bersih ( Rp 618.821.597.739,57)

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 82


Arus Kas Masuk dari Aktivitas Investasi adalah Penjualan atas Tanah, Peralatan
dan Mesin, serta Gedung dan Bangunan sebesar Rp3.528.665.807,00.
Arus Kas Keluar dari Aktivitas Investasi adalah Realisasi Belanja Modal sebesar
Rp622.350.263.546,57.

3) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan ( Rp 240.549.123.024,00)


Arus Kas Masuk Rp 67.863.272.193,00
Arus Kas Keluar Rp 308.412.395.217,00
Arus Kas Bersih ( Rp 240.549.123.024,00)
Arus Kas Masuk dari Aktivitas Pembiayaan terdiri
dari:
a) Pencairan Dana Cadangan Rp 67.713.876.943,00
b) Penerimaan Kembali Pinjaman Rp 149.395.250,00
Jumlah Rp 67.862.272.193,00
Arus Kas Keluar dari Aktivitas Pembiayaan terdiri
dari:
a) Pembentukan Dana Cadangan Rp 190.000.000.000,00
b) Penyertaan Modal Rp 118.263.000.000,00
c) Pembayaran Pokok Hutang Rp 149.395.217,00
Jumlah Rp 308.412.395.217,00

4) Arus Kas dari Aktivitas Non Anggaran Rp -


Arus Kas Masuk Rp 164.316.039.187,00
Arus Kas Keluar Rp 164.316.039.187,00
Arus Kas Bersih Rp -
Arus Kas Masuk dari Aktivitas Pembiayaan terdiri
dari:
Penerimaan Perhitungan Pihak Ketiga Rp 164.316.039.187,00
Jumlah Rp 164.316.039.187,00
Arus Kas Keluar dari Aktivitas Pembiayaan terdiri
dari:
Pengeluaran Perhitungan Pihak Ketiga Rp 164.316.039.187,00
Jumlah Rp 164.316.039.187,00

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 83


5) Kenaikan (Penurunan) Bersih Kas Rp 430.631.889.864,44
Saldo Awal Kas Rp 811.854.071.190,99
Saldo Akhir Kas di BUD Rp 1.242.310.790.525,43
Kas di Bendahara Pengeluaran (Belum setor) Rp 3.916.820.427,00
Kas di Rekening Fungsional Rumah Sakit Rp 35.256.020.830,79
Kas di Bendahara Penerimaan Rp 271.663.646,60
Saldo Akhir Kas Rp 1.281.755.295.429,82
a) Saldo Awal Kas terdiri dari:
(1) Kas di Kas Daerah : Rp 810.854.071.190,99
(2) Kas di Bendahara Pengeluaran : Rp 824.829.470,00
Saldo Awal Kas : Rp 811.678.900.660,99

b) Saldo Akhir Kas di BUD terdiri dari


(1) Kas di Kas Daerah : Rp1.237.638.636.382,43
(2) Kas di Bendahara Pengeluaran
(telah disetor ke Kas Daerah) : Rp 4.672.154.143,00
Saldo Akhir Kas di BUD : Rp1.242.310.790.525,43

c) Saldo Akhir Kas di Rekening


Fungsional Rumah Sakit : Rp 35.256.020.830,79

d) Kas di Bendahara Pengeluaran yang belum disetor terdiri dari:


(1) Sisa Askeskin di RSUD Saiful Anwar : Rp 2.385.827.500,00
(2) PFK di Bendahara Pengeluaran : Rp 1.530.992.927,00
Jumlah : Rp 3.916.820.427,00

e) SILPA ( a) + b) + c) + d) ) : Rp1.281.483.631.783,22

f) Kas di Bendahara Penerimaan terdiri dari:


(1) Biro Perekonomian : Rp 220.872.916,60
(2) Dinas Koperasi dan PKM : Rp 4.219.125,00
(3) Dinas Perhubungan : Rp 25.885.857,00
(4) Bunga dana askeskin di RSU Saiful Anwar : Rp 20.685.748,00
Jumlah : Rp 271.663.646,60

g) Saldo Akhir Kas ( e) + f) ) : Rp1.281.755.295.429,82

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 84


6. Penjelasan Atas Informasi Non-Keuangan
a. Dasar Hukum :
Provinsi Jawa Timur dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 2
Tahun 1950 tentang Pembentukan Provinsi Jawa Timur Juncto Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 1950 tentang Mengadakan Perubahan dalam Undang-Undang
Tahun 1950 Nomor 2 dari hal Pembentukan Provinsi Jawa Timur (Lembaran
Negara Tahun 1950 Nomor 32)

b. Domisili
Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkedudukan di Jalan Pahlawan
Nomor 110 Surabaya Kelurahan Alon-Alon Contong, Kecamatan Bubutan Kota
Surabaya.

c. Geografi
Jawa Timur terletak antara 111,0' BT hingga 114,4' BT dan Garis Lintang
7,12” LS dan 8,48 ‘LS dengan luas wilayah 47.157,72 Km2. Secara umum Jawa
Timur dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu Jawa Timur daratan dengan
proporsi lebih luas hampir mencakup 90% dari seluruh luas wilayah Propinsi Jawa
Timur dan wilayah Kepulauan Madura yang hanya sekitar 10 % saja. Jawa Timur
mempunyai 229 pulau terdiri dari 162 pulau bernama dan 67 pulau tak bernama,
dengan panjang pantai sekitar 2.833,85 Km. Batas-batas wilayah propinsi Jawa
Timur sebagai berikut :
1) Sebelah Utara dengan Laut Jawa dan Pulau Kalimantan, Propinsi Kalimantan
Selatan
2) Sebelah Selatan dengan Samudra Indonesia
3) Sebelah Barat dengan Propinsi Jawa Tengah
4) Sebelah Timur dengan Selat Bali / Propinsi Bali
LUAS WILAYAH JATIM
MENURUT PENGGUNAAN THN.2006 (Km2)

PEMUKIMAN / TERBANGUN : 5.858,83


PERSAWAHAN : 12.034,46
PERTANIAN TANAH KERING : 10.332,31
KEBUN CAMPUR : 913,26
PERKEBUNAN : 1.842,26

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 85


HUTAN : 12.529,59
RAWA/DANAU WADUK : 112,35
TAMBAK/KOLAM : 732,40
PADANG RUMPUT / TANAH KOSONG : 256,38
TANAH TANDUS / RUSAK / TAMBANG : 1.350,03
LAIN - LAIN : 1.192,81

d. Topografi
Tingkat Kemiringan Dilihat dari segi Topografis, sebagian besar wilayah
daratan di Jawa Timur (39,89%) tergolong berpermukaan datar dengan tingkat
kemiringan 0 – 2%. Sedangkan ketinggian tanah sebagian besar wilayah pada
posisi 0 – 100 M diatas permukaan laut dengan jumlah mencapai 41,39% dari
total wilayah Jawa Timur. Dengan kondisi tersebut dapat dinyatakan bahwa
sebagian besar wilayah berupa dataran rendah.

Tabel 1 Topografi Luas Kemiringan Lahan

Luas kemiringan
Uraian
lahan (Ha)
Datar ( 0 – 2 ) 1.797,789,19
Bergelombang ( 3 – 15% ) 1.292.207,05
Curam ( 16 – 40% ) 447.043,03
Sangat curam ( > 40% ) 969.155,20

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi tingkat kesuburan tanah


adalah banyaknya gunung berapi yang masih aktif serta aliran sungai yang cukup
besar. Gunung berapi dan sungai yang lebar berfungsi sebagai sarana
penyebaran zat – zat hara yang terkandung dalam material hasil letusan gunung
berapi. Propinsi Jawa Timur mempunyai 48 gunung dan beberapa diantaranya
yang masih aktif antara lain Gunung Kelud, Gunung Semeru yang mencapai
ketinggian 3.676 meter, Gunung Lamongan yang merupakan gunung terendah
dengan tinggi 1.668 meter dan gunung Bromo yang mulai kelihatan aktifitasnya.
Sementara beberapa sungai besar yang aktif ikut mentransfer tanah yang subur
diantaranya adalah sungai Brantas, sungai Bengawan Solo, Sungai Madiun,
Sungai Konto dan lainnya.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 86


Tabel 2

Topografi Ketinggian Di Atas Permukaan Laut

Ketinggian di atas
Uraian
permukaan laut (Ha)

0 – 100 M 1.950.567,16

100 – 500 M 1.723.862,64

500 – 1.000 M 447.043,03

Lebih besar dari 1.000 M 591.541,84

Desa/Kelurahan
Pembagian wilayah administrasi Pemerintah Propinsi Jawa Timur pada
tahun 2003 s/d tahun 2007 terbagi dalam 4 (empat) Badan Koordinasi Wilayah/
Pembantu Gubernur, 29 Kabupaten dan 9 Kota serta jumlah kecamatan berjumlah
642 kecamatan. Perwakilan kecamatan sejak tahun 2003 telah ditiadakan,
sebelumnya berjumlah 114, dan Kota Administratif Batu sejak tahun 2003 telah
menjadi Kota, sedang Kota Administratif Jember berdasarkan peraturan
perundangan telah dicabut dengan demikian Jember hanya sebagai Kabupaten.
Jml. kelurahan sebanyak 785 Kelurahan dan Desa sebanyak 7.680 desa.

Tabel 6 Pembagian Wilayah Administrasi

Uraian 2001 2002 2003 2004 2005 2006

Badan Koordinasi 4 4 4 4 4 4
Wilayah

Jumlah Kabupaten 29 29 29 29 29 29

Jumlah Kota 9 9 9 9 9 9

Jumlah Kecamatan 642 642 642 642 657 657

Jumlah Kelurahan 784 784 784 784 784 784

Jumlah Desa 7.715 7.715 7.715 7.715 8.484 8.484

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 87


PEMERINTAHAN
Dalam penyelenggaraan pemerintahan, Negara Republik Indonesia
sebagai negara kesatuan menganut asas desentralisasi dengan memberikan
kesempatan dan kekuasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi
daerah. Karena itu, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam
Daerah Propinsi, Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang bersifat otonom,
termasuk di dalamnya adalah Propinsi Jawa Timur. Sesuai ketentuan UU nomor
22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang kemudian diperbarui dengan UU
nomor 32 tahun 2004, lembaga eksekutif di Pemerintah Propinsi Jawa Timur
dipimpin oleh seorang Gubernur yang dibantu oleh seorang Wakil Gubernur
Untuk menyelenggarakan pemerintahan, Gubernur membentuk
perangkat daerah yang terdiri dari Sekretariat Daerah Propinsi, Dinas, Badan dan
Kantor. Sekretariat Daerah Propinsi dipimpin oleh seorang Sekretaris Daerah
Propinsi dan 4 orang Asisten.

Susunan instansi perangkat daerah Propinsi Jawa Timur adalah sebagai


berikut :

Biro di lingkungan Sekretariat Daerah Propinsi


1. Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah
2. Biro Kerjasama
3. Biro Hukum
4. Biro Kesejahteraan Rakyat
5. Biro Mental Spiritual
6. Biro Perekonomian
7. Biro Administrasi Pembangunan
8. Biro Organisasi
9. Biro Kepegawaian
10. Biro Keuangan
11. Biro Perlengkapan
12. Biro Umum
13. Sekretariat DPRD

Dinas
1. Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral
2. Dinas Kesehatan
3. Dinas Sosial
4. Dinas Pertanian
5. Dinas Perkebunan
6. Dinas Perhubungan
7. Dinas Kehutanan
8. Dinas Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah
9. Dinas Peternakan
10. Dinas Tenaga Kerja

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 88


11. Dinas Pariwisata
12. Dinas Pendapatan
13. Dinas Kependudukan
14. Dinas Perindustrian dan Perdagangan
15. Dinas Kepemudaan dan keolahragaan
16. Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
17. Dinas Perikanan dan Kelautan
18. Dinas Informasi dan Komunikasi
19. Dinas Pemukiman
20. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
21. Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga
22. Dinas Pekerjaan Umum Pengairan

Badan
1. Badan Arsip
2. Badan Pendidikan dan Pelatihan
3. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
4. Badan Perencanaan Pembangunan Propinsi
5. Badan Perpustakaan
6. Badan Kesatuan Bangsa
7. Badan Ketahanan Pangan
8. Badan Pengawasan
9. Badan Pengelolaan Data Elektronik
10. Badan Pemberdayaan Masyarakat
11. Badan Penelitian dan Pengembangan
12. Badan Penanaman Modal
13. Badan Koordinasi Wilayah I Madiun
14. Badan Koordinasi Wilayah II Bojonegoro
15. Badan Koordinasi Wilayah III Malan
16. Badan Koordinasi Wilayah IV Pamekasan

Kantor
1. Kantror Kas Daerah
2. Kantor Perwakilan Propinsi Jawa Timur
3. Kantor Polisi Pamong Praja

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 89


DPRD

Dalam penyelenggaraan pemerintahan, susunan pemerintah daerah otonom


meliputi DPRD sebagai lembaga legislatif dan pemerintah daerah sebagai
lembaga eksekutif. Sesuai ketentuan UU Nomor 32 tahun 12004 tentang
Pemerintah Daerah, Untuk melaksanakan tugas dan wewenang DPRD
sebagai lembaga legislatif dibentuk unsur pimpinan, komisi-komisi, panitia
dan fraksi.

Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah. Sistem


Ketatanegaraan Indonesia menganut prinsip pembagian kewenangan
berdasarkan asas dekonsentrasi dan desentralisasi dalam kerangka Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Daerah yang dibentuk berdasarkan asas
desentralisasi dan dekonsentrasi adalah Daerah Propinsi. Sedangkan daerah
yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi adalah Daerah Kabupaten dan
Daerah Kota.

Di Daerah Propinsi Jawa Timur terdapat 38 Daerah, yang terdiri dari 29


Kabupaten dan 9 Kota. Nama Daerah Kabupaten/Kota itu adalah :

1 Kota Madiun

2 Kabupaten Madiun

3 Kabupaten Ponorogo

4 Kabupaten Magetan

5 Kabupaten Pacitan

6 Kabupaten Ngawi

7 Kota Kediri

8 Kabupaten Kediri

9 Kota Blitar

10 Kabupaten Blitar

11 Kabupaten Trenggalek

12 Kabupaten Tulungagung

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 90


13 Kabupaten Nganjuk

14 Kota Malang

15 Kabupaten Malang

16 Kota Batu

17 Kota Pasuruan

18 Kabupaten Pasuruan

19 Kota Probolinggo

20 Kabupaten Probolinggo

21 Kabupaten Lumajang

22 Kabupaten Bojonegoro

23 Kabupaten Tuban

24 Kabupaten Lamongan

25 Kota Surabaya

26 Kota Mojokerto

27 Kabupaten Mojokerto

28 Kabupaten Gresik

29 Kabupaten Jombang

30 Kabupaten Sidoarjo

31 Kabupaten Pamekasan

32 Kabupaten Bangkalan

33 Kabupaten Sampang

34 Kabupaten Sumenep

35 Kabupaten Jember

36 Kabupaten Situbondo

37 Kabupaten Bondowoso

38 Kabupaten Banyuwangi

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 91


GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN

1. Dasar Hukum Pemeriksaan


a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
c. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara;
d. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.

2. Tujuan Pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Propinsi Jawa Timur adalah
untuk memberikan opini atas tingkat kewajaran informasi keuangan yang disajikan
dalam laporan keuangan didasarkan pada kriteria:
a. Kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP);
b. Kecukupan pengungkapan (adequate disclosures);
c. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan;
d. Efektivitas sistem pengendalian intern.

3. Sasaran Pemeriksaan
Pemeriksaan LKPD TA 2007 meliputi pengujian atas:
a. Efektivitas desain dan implementasi sistem pengendalian intern, termasuk
pertimbangan hasil pemeriksaan sebelumnya;
b. Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. Penyajian saldo akun-akun dan transaksi-transaksi dalam Neraca per 31
Desember 2007, Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Arus Kas untuk tahun
yang berakhir sampai dengan 31 Desember 2007 sesuai dengan Standar
Akuntansi Pemerintahan;
d. Pengungkapan informasi keuangan pada Catatan atas Laporan Keuangan sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintahan;
e. Tindak lanjut yang dilakukan Pemerintah Daerah atas Hasil Pemeriksaan BPK
sebelumnya.

4. Standar Pemeriksaan
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang ditetapkan BPK Tahun 2007.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 92


5. Metode Pemeriksaan
Metodologi pemeriksaan yang digunakan adalah pemeriksaan dengan pendekatan
berdasarkan risiko, yang dirancang untuk menemukan kesalahan dan penyimpangan
informasi atas laporan keuangan dengan menelaah kegiatan pemerintahan. Kegiatan
pemeriksaan dimulai dengan melakukan penelaahan kegiatan yang akan
menentukan area risiko penting yang seharusnya menjadi fokus pemeriksaan untuk
meyakinkan pencatatan yang memadai di laporan keuangan.
Dalam menganalisis dan menguji proses akuntansi dan pelaporan keuangan
Pemerintah, BPK telah melakukan prosedur-prosedur di bawah ini.
a. Memahami dan menguji sistem akuntansi dan pelaporan yang dipakai dan
diterapkan oleh Pemerintah saat ini apakah telah mengikuti sistem akuntansi
yang telah ditetapkan Pemerintah;
b. Menganalisis proses akuntansi dan pelaporan instansi, termasuk pengendalian
yang diterapkan untuk mengurangi risiko salah saji dan kesalahan yang
disengaja;
c. Menelaah kecukupan pengendalian intern yang berhubungan dengan sistem
akuntansi dan pelaporan;
d. Menelaah keakuratan, kelengkapan, keberadaan, penilaian, pisah batas,
kepemilikan, penyajian dan pengungkapan laporan keuangan yang dihasilkan
oleh sistem akuntansi dan pelaporan.
Pemeriksaan BPK juga mencakup pengujian pengendalian, prosedur analitis, dan
pengujian substantif untuk menilai efektivitas pengendalian, kepatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan, dan kewajaran laporan keuangan pemerintah
daerah.
Selain itu, kami juga melakukan pemantauan atas tindak lanjut dari setiap
permasalahan yang ditemui dalam pemeriksaan sebelumnya.

6. Waktu Pemeriksaan
Pemeriksaan dilaksanakan mulai tanggal 7 April dan berakhir pada tanggal 25 Mei
2008.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 93


7. Objek Pemeriksaan
Objek pemeriksaan BPK adalah Laporan Keuangan Pemerintah Propinsi Jawa Timur
Tahun 2007, yang terdiri dari:
a. Neraca per 31 Desember 2007
b. Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk Periode
Tahun 2007;
c. Laporan Arus Kas untuk Periode Tahun 2007;
d. Catatan atas Laporan Keuangan.

8. Kendala Pemeriksaan
Dalam pelaksanaan tugas pemeriksaan, pemeriksa mengalami kendala yaitu
lambatnya respon dari auditee dalam penyerahan data dan dokumen yang
diperlukan.

PERWAKILAN BPK-RI DI SURABAYA 94


BUKU II

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

HASIL PEMERIKSAAN
SEMESTER I TAHUN ANGGARAN 2008

LAPORAN ATAS KEPATUHAN


DALAM KERANGKA PEMERIKSAAN
LAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
UNTUK TAHUN ANGGARAN 2007

AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA V


PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA

Nomor : 112/R/XVIII.SBY/05/2008
Tanggal : 25 Mei 2008
DAFTAR ISI

RESUME HASIL PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN.............................................................. 1

HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEPATUHAN .......................................

1. Pembentukan Dana Cadangan Murni Tidak Sesuai Ketentuan mengenai


Pembentukan Dana Cadangan .......................................................................... 7
2. Pembebanan Realisasi Bantuan Rehabilitasi Sekolah Negeri Melalui
Rekening Bantuan Sosial Sebesar Rp67.350.000.000,00 Tidak Tepat ............. 11
3. Penyajian Informasi Keuangan Dana Bergulir sebesar Rp379.995.700.850,00
Kurang Memadai ................................................................................................ 14
4. Pengeluaran anggaran belanja tidak terduga sebesar Rp15.520.406.207,00
tidak tepat ........................................................................................................... 17
5. Realisasi Belanja Bantuan Sosial Kepada Instansi/Lembaga
Daerah/Masyarakat sebesar Rp24.646.471.050,00 digunakan untuk
membiayai kegiatan SKPD ................................................................................. 22
6. Realisasi Belanja Bantuan Sosial Kepada Instansi/Lembaga
Daerah/Masyarakat belum dipertanggungjawabkan sebesar
Rp248.827.033.246,00 ....................................................................................... 27
7. Penggunaan Belanja Operasional Pimpinan DPRD Provinsi Jawa Timur tidak
didukung dangan bukti yang lengkap sebesar Rp233.300.000,00..................... 31
8. Aset Tak Berwujud Berupa Sofware/Sistem Aplikasi Komputer Tidak dicatat
dan Tidak Disajikan Dalam Neraca minimal sebesar Rp9.294.608.500,00........ 36
9. Aset Tetap yang dimiliki pihak lain sebesar Rp225.421.673.283,00 tercatat
dalam Neraca 31 Desember 2007...................................................................... 39
10. Aset tetap hasil pengadaan APBN sebesar Rp2.910.023.050,00 diakui di
Neraca dan Aset Tetap senilai Rp2.503.589.040,00 tidak dapat diyakini
kewajarannya...................................................................................................... 43
11. Aset Tetap senilai Rp5.908.341.465,00 tidak dapat diyakini kewajarannya....... 48
12. Pencatatan Aset Tetap hasil pengadaan Dinas Permukiman tidak
dilaksanakan secara tertib serta Belanja Modal digunakan untuk Belanja Non
Modal sebesar Rp45.600.614.000,00................................................................. 55

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA i


13. Tanah seluas 10.524.378 m2 dan senilai Rp1.317.148.931.282,00 belum
bersertifikat atas nama Pemerintah Daerah dan tidak ada bukti pendukung
kepemilikannya ................................................................................................... 63
14. Saldo Akun Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran senilai
Rp990.653.996,00 tidak dapat diyakini kewajarannya serta belum dipilah
antara bagian lancar dan tidak lancar................................................................. 65
15. Laporan Keuangan belum menyajikan pengelolaan keuangan Unit Paviliun
dan Depo Farmasi pada RSU Dr Saiful Anwar................................................... 68
16. Pendapatan bunga deposito dana cadangan sebesar Rp28.492.471.087,75
belum disajikan dalam pendapatan daerah maupun pembiayaan pengeluaran 76
17. Pengelolaan Dana Pinjaman tidak sesuai ketentuan dan pembayaran bunga
beserta pokok pinjaman sebesar Rp8.670.875.000,00 tidak sesuai Standar
Akuntansi Pemerintahan..................................................................................... 79
18. Penyertaan Modal dengan kepemilikan di atas 20 % tidak dicatat
menggunakan metode ekuitas............................................................................ 85
19. Dua puluh lima bidang tanah seluas 47.039 m2 yang dimiliki Pemda disajikan
dengan nilai di bawah Rp5.000,00 ..................................................................... 88
20. Deposito Senilai Rp41.500.000.000,00 Digunakan Sebagai Jaminan Pinjaman
Daerah ................................................................................................................ 90
21. Dana Kas Daerah Yang Menganggur (Idle Cash) Tidak Dimanfaatkan
Pemerintah Provinsi Jawa Timur Kehilangan Kesempatan Memperoleh
Tambahan Pendapatan Sebesar Rp63.830.271.196,14 .................................... 93
22. Penatausahaan pendapatan belum tertib dan saldo sebesar
Rp246.758.773,60 terlambat disetor ke Kas Daerah.......................................... 97
23. Penyelesaian Piutang Pasien Umum, Piutang Pasien Askes dan Piutang Lain-
lain pada Rumah Sakit Umum Daerah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur
sebesar Rp54.223.863.309,00 berlarut-larut ...................................................... 100
24. Sisa Dana Askeskin sebesar Rp1.479.314.252,00 dan Bunga Bank sebesar
Rp20.685.748,00 tidak disetorkan ke Kas Daerah ............................................. 104
25. Pembiayaan Pengeluaran-Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri-
Pemerintah Pusat sebesar Rp149.395.217,00 di dalamnya termasuk
Pembayaran Bunga dan Jasa Bank ................................................................... 108

LAMPIRAN

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA ii


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

RESUME HASIL PEMERIKSAAN ATAS


KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan


dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006
tentang Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
(BPK-RI) telah memeriksa Neraca Pemerintah Provinsi Jawa Timur per 31 Desember
2007, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan
Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.

Untuk memperoleh keyakinan memadai, apakah laporan keuangan bebas dari salah saji
material, Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh BPK RI
mengharuskan BPK RI melaksanakan pengujian atas kepatuhan Pemerintah Provinsi
Jawa Timur terhadap peraturan perundang-undangan. Kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan merupakan tanggung jawab Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Namun, tujuan pemeriksaan BPK RI atas laporan keuangan tidak untuk menyatakan
pendapat atas keseluruhan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan tersebut.
Oleh karena itu, BPK RI tidak menyatakan suatu pendapat seperti itu.

Selain itu, peraturan perundang-undangan dan SPKN yang ditetapkan oleh BPK RI
mengharuskan BPK RI untuk melaporkan kepada pihak berwenang, apabila dalam
melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan ditemukan kecurangan dan
penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang berindikasi unsur
tindak pidana.

1
Pokok-pokok temuan ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dalam
pelaporan keuangan yang ditemukan BPK RI adalah sebagai berikut.

1. Pembentukan Dana Cadangan Murni Tidak Sesuai Ketentuan mengenai


Pembentukan Dana Cadangan;
2. Pembebanan Realisasi Bantuan Rehabilitasi Sekolah Negeri Melalui Rekening
Bantuan Sosial Sebesar Rp67.350.000.000,00 Tidak Tepat;
3. Penyajian Informasi Keuangan Dana Bergulir sebesar Rp379.995.700.850,00 Kurang
Memadai;
4. Pengeluaran anggaran belanja tidak terduga sebesar Rp15.520.406.207,00 tidak
tepat;
5. Realisasi Belanja Bantuan Sosial Kepada Instansi/Lembaga Daerah/Masyarakat
sebesar Rp24.646.471.050,00 digunakan untuk membiayai kegiatan SKPD;
6. Realisasi Belanja Bantuan Sosial Kepada Instansi/Lembaga Daerah/Masyarakat
belum dipertanggungjawabkan sebesar Rp248.827.033.246,00;
7. Penggunaan Belanja Operasional Pimpinan DPRD Provinsi Jawa Timur tidak
didukung dangan bukti yang lengkap sebesar Rp233.300.000,00;
8. Aset Tak Berwujud Berupa Sofware/Sistem Aplikasi Komputer Tidak dicatat dan
Tidak Disajikan Dalam Neraca minimal sebesar Rp9.294.608.500,00;
9. Aset Tetap yang dimiliki pihak lain sebesar Rp225.421.673.283,00 tercatat dalam
Neraca 31 Desember 2007;
10. Aset tetap hasil pengadaan APBN sebesar Rp2.910.023.050,00 diakui di Neraca dan
Aset Tetap senilai Rp2.503.589.040,00 tidak dapat diyakini kewajarannya;
11. Aset Tetap senilai Rp5.908.341.465,00 tidak dapat diyakini kewajarannya;
12. Pencatatan Aset Tetap hasil pengadaan Dinas Permukiman tidak dilaksanakan
secara tertib serta Belanja Modal digunakan untuk Belanja Non Modal sebesar
Rp45.600.614.000,00;
13. Tanah seluas 10.524.376m2 dan senilai Rp1.317.148.931.282,00 belum bersertifikat
atas nama Pemerintah Daerah dan tidak ada bukti pendukung kepemilikannya;
14. Saldo Akun Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran senilai Rp990.653.996,00
tidak dapat diyakini kewajarannya serta belum dipilah antara bagian lancar dan tidak
lancar;
15. Laporan Keuangan belum menyajikan pengelolaan keuangan Unit Paviliun dan Depo
Farmasi pada RSU Dr Saiful Anwar;

2
16. Pendapatan bunga deposito dana cadangan sebesar Rp28.492.471.087,75 belum
disajikan dalam pendapatan daerah maupun pembiayaan pengeluaran;
17. Pengelolaan Dana Pinjaman tidak sesuai ketentuan dan pembayaran bunga beserta
pokok pinjaman sebesar Rp8.670.875.000,00 tidak sesuai Standar Akuntansi
Pemerintahan;
18. Penyertaan Modal dengan kepemilikan di atas 20 % tidak dicatat menggunakan
metode ekuitas;
19. Dua puluh lima bidang tanah seluas 47.039 m2 yang dimiliki Pemda disajikan dengan
nilai di bawah Rp5.000,00;

Berdasarkan temuan tersebut, BPK RI merekomendasikan kepada Gubernur Jawa Timur


agar:
1. Melakukan revisi Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2000 tentang Dana Cadangan
Daerah yang disesuaikan dengan PP Nomor 58 Tahun 2008 dan Permendagri
Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
sebagaimana telah diubah dengan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007;
2. Menegur Kepala Biro Keuangan untuk menganggarkan bantuan kepada sekolah
negeri pada pos Bantuan Keuangan;
3. Menegur Kepala Dinas/Biro/Badan pengelola Dana bergulir untuk menyajikan nilai
dana bergulir berdasarkan nilai bersih yang dapat direalisasikan (net realizable
value), melaporkan realisasi penerimaan pengembalian dana bergulir dan penyaluran
kembali dana bergulir kepada Biro Keuangan agar dapat disajikan dalam laporan
keuangan daerah dan melaporkan penerimaan bunga pinjaman dana bergulir secara
bruto;
4. Memperhatikan ketentuan yang berlaku dalam menyetujui/memberikan persetujuan
pengeluaran belanja tidak terduga dan memerintahkan Pengguna Anggaran lebih
selektif dalam mengajukan usulan belanja tak terduga dari masing-masing SKPD;
5. Dalam menyetujui pelaksanaan pekerjaan atau memberikan bantuan kepada masing-
masing SKPD agar mengacu pada ketentuan yang berlaku dan menegur Kepala Biro
Administrasi Pembangunan untuk lebih selektif dalam memberikan bantuan sosial
dan memperhatikan ketentuan yang berlaku;
6. Menegur masing-masing Kepala Biro selaku pengelola untuk lebih aktif dalam upaya
memperoleh pertanggungjawaban dari penerima bantuan;

3
7. Meminta Pimpinan DPRD Provinsi Jawa Timur dan Sekretaris DPRD untuk
mempertanggungjawabkan penggunaan belanja penunjang operasional pimpinan
(BPOP) sesuai ketentuan yang berlaku;
8. Menyusun Pedoman Akuntansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang memberikan
petunjuk pencatatan transaksi pengadaan software/aplikasi komputer dan
memerintahkan Kepala SKPD menginventarisasi aset tak berwujud yang ada di unit
kerjanya untuk selanjutnya disajikan dalam neraca;
9. Menegur Kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset supaya dalam melakukan
rekapitulasi daftar aset tetap didahului dengan verifikasi terhadap status kepemilikan
aset, menegur Kepala SKPD selaku pengguna barang untuk tidak mencantumkan
aset kepemilikan pihak lain dalam laporan aset tetap, dan memerintahkan kepala
SKPD selaku pengguna barang melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk
menetapkan status kepemilikan aset;
10. Menegur kepala SKPD selaku pengguna barang supaya dalam menyusun laporan
mutasi barang tidak menyertakan aset yang diperoleh melalui beban APBN, menegur
kepala SKPD selaku pengguna barang untuk mencatat pendapatan hibah dalam
bentuk barang, dan memerintahkan kepala SKPD selaku pengguna barang untuk
berkoordinasi dengan pihak yang memberikan barang guna mengklarifikasi status
kepemilikan aset tetap;
11. Menegur kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset untuk melakukan
konfirmasi dengan SKPD pengguna barang dalam penyusunan Laporan Mutasi
Barang Daerah, menegur kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset supaya
dalam penyerahan barang kepada SKPD lain disertai Berita Acara Serah Terima;
12. Memperbaiki sistem dan prosedur penganggaran belanja daerah dan pengelolaan
barang daerah terutama aset daerah yang tidak dimanfaatkan sendiri dengan
mengacu kepada PP 24/2005, PP 58/2005, PP 6/2006, Permendagri 13/2006, dan
Permendagri 17/2007, menegur Tim Penyusun Anggaran Daerah supaya dalam
menganggarkan belanja modal, belanja hibah, dan belanja barang memperhatikan
ketentuan yang berlaku, menegur Kepala Dinas Permukiman supaya mencatat aset
tetap yang akan dipergunakan SKPD lain dalam laporan asetnya sampai Berita Acara
Serah Terima Barang diterbitkan, dan memerintahkan PPTK, Bendahara
Pengeluaran, Pengurus Barang, dan Pemegang Barang untuk meningkatkan
koordinasi dalam melakukan penatausahaan pengelolaan pengadaan barang;

4
13. Memerintahkan Kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset beserta kepala
SKPD selaku pengguna barang untuk bersama-sama melaksanakan inventarisasi
dokumen kepemilikan tanah, memerintahkan Kepala Biro Perlengkapan dan
Administrasi Aset untuk melengkapi bukti kepemilikan aset Pemerintah Daerah dan
berkoordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional dalam proses sertifikasi tanah;
14. Menegur Kepala Biro Keuangan selaku Pejabat Pengelola Keuangan Daerah untuk
menyajikan Tagihan Penjualan Angsuran sesuai ketentuan dalam Standar Akuntansi
Pemerintahan;
15. Meninjau kembali Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 81 Tahun 2002 tentang
Pengelolaan Penyelenggaraan Kelas Utama (Paviliun) di Rumah Sakit Propinsi dan
Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengelolaan
Pelayanan Obat dan Alat Kesehatan di Rumah Sakit Propinsi untuk disesuaikan
dengan ketentuan pengelolaan keuangan daerah dalam PP 58/2005, Permendagri
13/2006, dan Permendagri 59/2007;
16. Menegur PPKD untuk menyajikan pendapatan bunga deposito dana cadangan dalam
Laporan Realisasi Anggaran dan menegur Tim Anggaran Pemerintah Daerah supaya
menganggarkan pendapatan bunga deposito dana cadangan dalam APBD;
17. Meninjau Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 81 Tahun 2002 tentang
Pengelolaan Penyelenggaraan Kelas Utama (Paviliun) di Rumah Sakit Propinsi dan
Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengelolaan
Pelayanan Obat dan Alat Kesehatan di Rumah Sakit Propinsi untuk disesuaikan
dengan ketentuan pengelolaan keuangan daerah dalam PP 58/2005, Permendagri
13/2006, dan Permendagri 59/2007, menegur Tim Anggaran Pemerintah Daerah
supaya dalam menganggarkan belanja dan pembiayaan sesuai ketentuan yang
berlaku, dan memerintahkan Direktur RSU Saiful Anwar Malang untuk menyajikan
saldo utang sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005;
18. Menegur PPKD untuk memperhatikan metode penilaian berdasarkan tingkat
kepemilikan sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan;
19. Memerintahkan Kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset untuk melakukan
penilaian atas 25 bidang tanah agar diperoleh nilai wajar.

5
Secara lebih rinci dijelaskan pada bagian Hasil Pemeriksaan atas Kepatuhan.

Surabaya, 25 Mei 2008


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA
PENANGGUNG JAWAB PEMERIKSAAN,

Sarjono, SE., Ak.


No. Register Akuntan D-25873

6
TEMUAN PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEPATUHAN

1. Pembentukan Dana Cadangan Murni Tidak Sesuai Ketentuan mengenai


Pembentukan Dana Cadangan

Dalam Neraca Pemerintah Provinsi Jawa Timur Per 31 Desember 2007


(sebelum audit) terdapat saldo pos Dana Cadangan sebesar Rp479.055.408.392,75.
Catatan atas Laporan Keuangan menguraikan dana cadangan terdiri dari Cadangan
Murni sebesar Rp9.062.937.305,00, Deposito Beku sebesar Rp41.500.000.000,00
dan Dana Cadangan PILKADA sebesar Rp428.492.471.087,75.
Dana Cadangan Murni dibentuk sejak tahun 2000 berdasarkan Peraturan
Daerah Nomor 14 Tahun 2000 tentang Dana Cadangan Daerah. Dana Cadangan
PILKADA dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2006. Sedangkan
Deposito Beku sebetulnya bukan merupakan dana cadangan yang dibentuk dengan
peraturan daerah tersendiri. Deposito Beku adalah Dana Cadangan Murni yang
digunakan sebagai jaminan utang RSUD Dr. Soetomo sebesar Rp20.000.000.000,00
dan RSUD Syaiful Anwar sebesar Rp21.500.000.000,00. Penggunaan Dana
Cadangan Murni sebagai jaminan utang berdasarkan Surat Keputusan Gubernur
Jawa Timur Nomor 58 Tahun 2002 dan Nomor 39 Tahun 2001.
Hasil telaah terhadap Peraturan Daerah yang menjadi landasan hukum
pembentukan dana cadangan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan Dana
Cadangan Murni tidak sejalan dengan peraturan yang berkaitan dengan
pembentukan dana cadangan. Hal-hal yang tidak sesuai dengan ketentuan
pembentukan dana cadangan tersebut sebagai berikut:
Materi dalam ketentuan
No. Materi dalam Perda Nomor 14 Tahun 2000
yang berlaku
1. Menyebut tujuan Untuk menanggulangi keadaan yang memaksa
pembentukan dana yang tidak dapat diduga sebelumnya dan untuk
cadangan membiayai pelaksanaan pembangunan yang tidak
dapat dibebankan dalam satu tahun anggaran
2. Program dan Kegiatan Tidak disebutkan
3. Besaran dana yang akan Tidak disebutkan
dibentuk
4. Rincian Tahunan Dana hanya menyebutkan untuk tahun pertama (tahun

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 7


Materi dalam ketentuan
No. Materi dalam Perda Nomor 14 Tahun 2000
yang berlaku
Yang Harus Dianggarkan 2000)
5. Jangka Waktu tidak menyebut batasan jangka waktu
6. Tahun Anggaran Hanya menyebut tahun anggaran 2000 (pertama
Pelaksanaan Dana kali pembentukan dana cadangan)
Cadangan

Riwayat pembentukan dan penggunaan Dana Cadangan Murni sejak dibentuk


tahun 2000 adalah sebagai berikut.
No Tujuan Tahun Saldo awal Penambahan Pengurangan Saldo Akhir

1 Bencana Alam 2000 55.000.000.000,00 55.000.000.000,00


2 Jaminan Pinjaman 2002 55.000.000.000,00 41.500.000.000,00 96.500.000.000,00
3 Bencana Alam 2003 96.500.000.000,00 16.195.693.248,00 112.695.693.248,00
4 Bencana Alam 2004 112.695.693.248,00 25.000.000.000,00 137.695.693.248,00
5 Bencana Alam 2005 137.695.693.248,00 45.581.121.000,00 183.276.814.248,00
6 Pencairan (transfer ke pilgub) 2006 183.276.814.248,00 65.000.000.000,00 118.276.814.248,00
7 Pencairan (transfer ke pilgub) 2007 118.276.814.248,00 67.713.876.943,00 50.562.937.305,00

Dari daftar di atas dapat dilihat bahwa dana cadangan tersebut pada tahun
2002 digunakan untuk jaminan utang sebesar Rp41.500.000.000,00 dan pada tahun
2006 dan 2007 digunakan untuk membentuk Dana Cadangan PILKADA masing-
masing sebesar Rp65.000.000.000,00 dan Rp67.713.876.948,00. Hal ini
menunjukkan bahwa pembentukan dana cadangan murni tersebut tidak memiliki
tujuan yang jelas sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Pasal 122
1) Ayat (1) yang menyebutkan bahwa Pemerintah daerah dapat membentuk
dana cadangan guna mendanai kegiatan yang penyediaan dananya tidak
dapat dibebankan dalam satu tahun anggaran;
2) Ayat (2) yang menyebutkan bahwa Pembentukan dana cadangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan daerah;
3) Ayat (3) yang menyebutkan bahwa Peraturan daerah sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) mencakup penetapan tujuan, besaran, dan sumber dana

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 8


cadangan serta jenis program/kegiatan yang dibiayai dari dana cadangan
tersebut.
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, jo. Permendagri Nomor
59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Pasal 63

1) Ayat (1) yang menyebutkan bahwa Pemerintah daerah dapat membentuk dana
cadangan guna mendanai kegiatan yang penyediaan dananya tidak dapat
sekaligus/sepenuhnya dibebankan dalam satu tahun anggaran;

2) Ayat (2) yang menyebutkan bahwa Pembentukan dana cadangan


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan daerah;

3) Ayat (3) yang menyebutkan bahwa Peraturan daerah sebagaimana dimaksud


pada ayat (2) mencakup penetapan tujuan pembentukan dana cadangan,
program dan kegiatan yang akan dibiayai dari dana cadangan, besaran dan
rincian tahunan dana cadangan yang harus dianggarkan dan ditransfer ke
rekening dana cadangan, sumber dana cadangan, dan tahun anggaran
pelaksanaan dana cadangan.

Permasalahan tersebut mengakibatkan saldo dana cadangan murni sebesar


Rp50.562.937.305,00 tidak dapat diyakini kewajarannya.

Permasalahan tersebut disebabkan ketidakcermatan Pemerintah Provinsi


(Eksekutif dan Legislatif) dalam menetapkan Perda tentang pembentukan dana
cadangan tanpa memperhatikan ketentuan yang berlaku.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa pembentukan


dana cadangan dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 14 Tahun 2000 yang
diubah dengan Perda Nomor 18 Tahun 2001 tanpa mencantumkan tujuan
penggunaannya secara tegas, semata-mata dimaksudkan untuk fleksibilitas
penggunaannya, sebagai antisipasi pembiayaan terhadap hal-hal yang tidak dapat
diperkirakan (unpredictable).

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 9


Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur dan DPRD Jawa Timur agar melakukan revisi Peraturan
Daerah Nomor 14 Tahun 2000 tentang Dana Cadangan Daerah yang disesuaikan
dengan PP Nomor 58 Tahun 2008 dan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dengan
Permendagri Nomor 59 Tahun 2007.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 10


2. Pembebanan Realisasi Bantuan Rehabilitasi Sekolah Negeri Melalui Rekening
Bantuan Sosial Sebesar Rp67.350.000.000,00 Tidak Tepat

Dalam APBD Tahun 2007, Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Sekretariat


Daerah) menganggarkan Bantuan Sosial sebesar Rp866.827.818.854,00 yang
diantaranya sebesar Rp128.263.370.000,00 merupakan Bantuan Sosial untuk
Peningkatan Pendidikan. Dari anggaran Bantuan Sosial untuk Peningkatan
Pendidikan tersebut telah direalisasikan sebesar Rp127.335.701.000,00.
Realisasi Bantuan Sosial untuk Peningkatan Pendidikan tersebut diantaranya
digunakan untuk Bantuan Rehab Gedung Sekolah Negeri/Swasta sebesar
Rp100.200.000.000,00. Hasil pemeriksaan atas dokumen pertanggungjawaban
menunjukkan bahwa realisasi sebesar Rp67.350.000.000,00 dialokasikan untuk
sekolah negeri yang tersebar di seluruh kabupaten/kota dalam wilayah Provinsi Jawa
Timur.
Sekolah-sekolah negeri pada dasarnya merupakan unit organisasi dalam
lingkup entitas pemerintah kota/kabupaten. Oleh karenanya, alokasi bantuan sosial
untuk sekolah-sekolah negeri tidak tepat karena sekolah-sekolah negeri tidak berada
dibawah organisasi kemasyarakatan. Pemberian bantuan keuangan kepada sekolah
negeri lebih tepat dianggarkan dalam pos Bantuan Keuangan.

Permasalahan tersebut tidak sejalan dengan:

a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman


Pengelolaan Keuangan Daerah dalam Pasal 47:

1) Ayat (1) yang menyebutkan bahwa Bantuan keuangan sebagaimana


dimaksud dalam- Pasal 37 huruf g digunakan untuk menganggarkan bantuan
keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada
kabupaten/kota, pemerintah desa, dan kepada pemerintah daerah Iainnya
atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan
pemerintah daerah lainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan
kemampuan keuangan;

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 11


2) Ayat (2) yang menyebutkan bahwa Bantuan keuangan yang bersifat umum
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) peruntukan dan penggunaannya
diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah/pemerintah desa
penerima bantuan;

3) Ayat (3) yang menyebutkan bahwa Bantuan keuangan yang bersifat khusus
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) peruntukan dan pengelolaannya
diarahkan/ditetapkan oleh pemerintah daerah pemberi bantuan;

4) Ayat (4) yang menyebutkan bahwa Pemberi bantuan bersifat khusus


sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat mensyaratkan penyediaan dana
pendamping dalam APBD atau anggaran pendapatan dan belanja desa
penerima bantuan.

b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan


Keuangan Daerah pasal 45:

1) Bantuan sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf e digunakan


untuk menganggarkan pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau
barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan
masyarakat;

2) Bantuan sosial sebagaimana dimaksud ada ayat (1) diberikan tidak secara
terus menerus/tidak berulang setiap tahun anggaran, selektif dan memiliki
kejelasan peruntukan penggunaannya;

Permasalahan tersebut mengakibatkan saldo akun Bantuan Sosial disajikan


lebih tinggi (over stated) dan saldo akun Bantuan Keuangan disajikan lebih rendah
(under state) masing-masing sebesar Rp67.350.000.000,00.

Permasalahan tersebut terjadi karena Kepala Biro Keuangan kurang cermat


dalam mengalokasikan anggaran untuk Bantuan Sosial.

Pemerintah Propinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa rehabilitasi


sekolah negeri dan swasta pada awalnya dianggarkan pada DPA Dinas P dan K
dalam bentuk program kegiatan namun karena jumlah yang akan direhabilitasi ribuan
sekolah dan apabila dilaksanakan melalui pengadaan barang dan jasa (lelang)

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 12


dikhawatirkan menimbulkan masalah maka dilakukan perubahan DPA dengan
dianggarkan melalui bantuan dalam bentuk blockgrant ke nomor rekening masing-
masing sekolah.

Rekomendasi BPK RI
Direkomendasikan kepada Gubernur Jawa Timur agar menegur Kepala Biro
Keuangan untuk menganggarkan bantuan kepada sekolah negeri pada pos Bantuan
Keuangan.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 13


3. Penyajian Informasi Keuangan Dana Bergulir sebesar Rp379.995.700.850,00
Kurang Memadai

Dalam Neraca Pemerintah Provinsi Jawa Timur per 31 Desember 2007


disajikan saldo akun Investasi Non Permanen sebesar Rp379.995.700.850,00. Saldo
tersebut seluruhnya merupakan Investasi Dana Bergulir yang berada dalam
pengelolaan beberapa satuan kerja.
Pengelolaan dana bergulir diatur dengan Keputusan Gubernur Jawa Timur
Nomor 61 Tahun 2003 yang kemudian dicabut dengan terbitnya Peraturan Gubernur
Nomor 21 Tahun 2006. Berdasarkan peraturan tersebut, tugas pengelolaan dana
bergulir diberikan kepada Dinas/Badan yang mengelola fasilitas dana bergulir.
Dinas/Badan berwenang menerbitkan keputusan pemberian kredit kepada penerima
fasilitas dana bergulir yang dianggap layak menerima. Dalam menentukan keputusan
pemberian kredit, pihak Dinas/Badan memperhatikan saran dan pertimbangan
Kelompok Kerja Pengelola Dana Bergulir yang ditetapkan dengan Keputusan
Gubernur.
Dalam pelaksanaan pengelolaan, Dinas/Badan bekerja sama dengan PT. Bank
Pembangunan Daerah Jawa Timur atau PT. Bank Perkreditan Rakyat Jawa Timur.
Pihak Bank bertugas melakukan perjanjian kredit dengan penerima fasilitas dana
bergulir dan menyalurkan dana kepada penerima berdasarkan keputusan pemberian
kredit yang dikeluarkan oleh Dinas/Badan terkait.
Terhadap dana bergulir yang disalurkan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur
mengenakan bunga sebesar 6% per tahun untuk pinjaman dana bergulir yang
bersifat komersial dan 3% untuk pinjaman dana bergulir yang bersifat sosial.
Penerimaan bunga 6% yang diperoleh dari pinjaman yang bersifat komersial
dialokasikan sebesar 3% sebagai Pendapatan Asli Daerah, 1% untuk biaya
administrasi bank, dan 2% untuk biaya pembinaan Kelompok Kerja Pengelola Dana
Bergulir. Sedangkan penerimaan bunga 3% yang diperoleh dari pinjaman yang
bersifat sosial dialokasikan sebesar 1% sebagai Pendapatan Asli Daerah, 1% untuk
biaya administrasi bank, dan 1% untuk biaya pembinaan Kelompok Kerja Pengelola
Dana Bergulir.
Atas kegiatan pengelolaan dana bergulir tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa
Timur tidak menyajikan informasi yang memadai dalam Laporan Keuangan Daerah
mengenai hal-hal sebagai berikut:

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 14


a. Saldo dana bergulir sebesar Rp379.995.700.850,00 tidak dinilai berdasarkan
nilai bersih yang dapat direalisasikan. Nilai tersebut dihitung berdasarkan jumlah
pencairan dana bergulir dari Kas Daerah kepada Dinas/Badan Pengelola;
b. Jumlah dana yang diterima dari para peminjam dan yang disalurkan kembali
dalam periode Tahun Anggaran 2007 tidak disajikan dalam laporan keuangan.
Investasi dana bergulir dikelola oleh Dinas/Badan di lingkungan Pemerintah
Provinsi Jawa Timur yang ditunjuk untuk mengelola dana bergulir. Hal ini
menunjukkan bahwa pemberian pinjaman dana bergulir merupakan kegiatan
Dinas/Badan terkait. Oleh karena itu, transaksi keuangan yang berkaitan dengan
pemberian dan penerimaan kembali pinjaman dana bergulir semestinya disajikan
dalam laporan keuangan daerah.
c. Penerimaan bunga dari pemberian pinjaman dana bergulir yang dicatat sebagai
Pendapatan Asli Daerah hanya pendapatan yang disetorkan ke Kas Daerah.
Penerimaan bunga yang dialokasikan untuk biaya administrasi bank dan biaya
pembinaan POKJA Dana Bergulir tidak disajikan sebagai pendapatan daerah.
Hal ini tidak memenuhi asas bruto.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 20, ayat (2) yang mengatur bahwa seluruh
pendapatan daerah, belanja daerah, dan pembiayaan daerah dianggarkan
secara bruto dalam APBD;
b. Buletin Teknis yang diterbitkan Komite Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor
01 tentang penyusunan neraca awal pemerintah poin B.2 mengenai dana
bergulir menguraikan bahwa nilai investasi dalam bentuk dana bergulir dinilai
sejumlah nilai bersih yang dapat direalisasikan (net realizable value), yaitu
sebesar nilai kas yang dipegang unit pengelola ditambah jumlah yang
diharapkan dapat tertagih;
c. Pedoman Teknis Akuntansi dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban
APBD Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengenai pengakuan pendapatan,
halaman 24, mengatur bahwa pencatatan pendapatan dilaksanakan berdasarkan
asas bruto, yaitu mencatat penerimaan bruto, dan tidak diperbolehkan mencatat
jumlah neto (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 15


Permasalahan tersebut mengakibatkan Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi
Jawa Timur Tahun 2007 tidak menggambarkan secara lengkap seluruh transaksi
keuangan yang terjadi dalam periode tersebut.

Permasalahan tersebut terjadi karena Biro Keuangan dan SKPD terkait tidak
memperhatikan ketentuan mengenai pencatatan akuntansi dan pelaporan keuangan
dana bergulir.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa secara


organisatoris tidak ada leading sector di bidang investasi. Modal bergulir ini dikelola
oleh masing-masing SKPD. Evaluasi secara komprehensif oleh Pemerintah Provinsi
Jawa Timur sulit dilakukan karena tidak adanya leading sector yang ditunjuk untuk
merencanakan, mengelola, dan mengawasi pelaksanaan dana bergulir tersebut.
Tidak digunakannya asas bruto pencatatan penerimaan tersebut karena
menyederhanakan proses birokrasi dalam hal pemrosesan administrasi sehingga
waktu penilaian proposal dana bergulir tidak terganggu dan kelompok masyarakat
bisa dengan segera menerima dan mengoperasikan dana bergulir tersebut.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar menegur Dinas/Biro/Badan pengelola Dana bergulir
untuk:
a. Menyajikan nilai dana bergulir berdasarkan nilai bersih yang dapat direalisasikan
(net realizable value) yaitu sebesar nilai kas yang dipegang unit pengelola
ditambah jumlah yang diharapkan dapat direalisasikan;
b. Melaporkan realisasi penerimaan pengembalian dana bergulir dan penyaluran
kembali dana bergulir kepada Biro Keuangan agar dapat disajikan dalam laporan
keuangan daerah;
c. Melaporkan penerimaan bunga pinjaman dana bergulir secara bruto.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 16


4. Pengeluaran anggaran belanja tidak terduga sebesar Rp15.520.406.207,00 tidak
tepat

Pemeriksaan terhadap dokumen pelaksanaan atas pengelolaan anggaran


Belanja Tidak Terduga Tahun Anggaran 2007 menunjukkan bahwa dari anggaran
sebesar Rp56.063.183.400,00 telah direalisasikan sampai dengan 31 Desember
2007 sebesar Rp22.616.515.273,00. Dari realisasi tersebut, diantaranya sebesar
Rp15.520.406.207,00 direalisasikan untuk pengeluaran-pengeluaran yang
karakteristik/sifatnya tidak tepat bila dibebankan dalam akun Belanja Tidak Terduga.
Perincian realisasi belanja tidak terduga yang tidak tepat penggunaannya
sebesar Rp15.488.263.273,00 adalah sebagai berikut :
a. Pembiayaan Biaya Pelayanan Pasien Askes Masyarakat Miskin (ASKESKIN) yang
tidak ditanggung oleh PT. ASKES sebesar Rp9.316.418.437,00;
b. Pembayaran Bantuan Penanganan Darurat Prasarana Jalan/Jembatan Akibat
Bencana Alam di Lingkungan DPU Bina Marga sebesar Rp714.388.250,00;
c. Pembayaran Peningkatan Jalan dan Jembatan Alternatif Lintas Timur Pengalihan
Arus Lalu Lintas Ruas Jalan Raya Porong Kab. Sidoarjo sebesar
Rp3.427.355.000,00;
d. Bantuan Tambahan kebutuhan rambu dan Rambu Pendahulu Petunjuk Jurusan
(RPPJ) pada ruas jalan Alternatif Tanggulangin-Porong sebagai akibat bencana
Lumpur Lapindo sebesar Rp979.372.320,00;
e. Bantuan biaya untuk Penanganan Darurat Prasarana Jalan/Jembatan akibat
Bencana Alam di Lingkungan DPU Bina Marga Prop. Jatim sebesar
Rp1.082.872.000,00.

Peruntukan akun Belanja Tidak Terduga yang tidak tepat dapat dijelaskan
sebagai berikut :
a. Realisasi sebesar Rp9.316.418.437,00 diawali adanya usulan dari RSUD Dr.
Soetomo dan RSUD lain yang memerlukan pembiayaan pelayanan pasien Askes
Masyarakat Miskin yang tidak ditanggung oleh PT. Askes yang telah disetujui oleh
Gubernur Jawa Timur sesuai disposisi Nomor 7900 tanggal 6 Juli 2007. Sesuai
karakteristiknya pengeluaran seharusnya dapat diberikan dari akun Belanja
Bantuan Subsidi pada Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur. Pemeriksaan
menunjukkan dari realisasi tersebut masih terdapat sisa dari beberapa RSUD.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 17


b. Realisasi sebesar Rp714.388.250,00 diawali adanya permohonan usulan dari
Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga untuk Bantuan Penanganan Darurat
Prasarana Jalan dan Jembatan Jawa Timur. Usulan tersebut mendapatkan
persetujuan Gubernur Jawa Timur sesuai disposisi nomor agenda 26195 tanggal
13 Pebruari 2007.
Dari visualisasi/foto yang diajukan menunjukkan bahwa sifat pekerjaan yang
dilaksanakan sebenarnya bukan untuk penanggulangan bencana alam tetapi
merupakan pekerjaan yang bersifat permanen, yang bukan merupakan darurat
dan perbaikan kerusakan ruas jalan maupun bahu jalan yang pada umumnya
disebabkan tidak adanya perkuatan tebing pada sisi bahu jalan, dengan terjadinya
kerusakan kecil seharusnya dapat diperbaiki melalui pemeliharaan rutin, namun
tidak segera diperbaiki sehingga kerusakan makin bertambah parah.
c. Realisasi sebesar Rp3.427.355.000,00 diawali adanya surat Bupati Sidoarjo
No.050/2222/404.4.2/2007 tanggal 3 Juli 2007 perihal Peningkatan Jalan dan
Jembatan Alternatif Lintas Timur Kabupaten Sidoarjo dan Surat Kepala Dinas PU
Bina Marga No. 050/12920/119/2007 tanggal 6 Juli 2007 perihal Peningkatan
Jalan dan Jembatan Alternatif Lintas Timur dan pengalihan lalu lintas ruas jalan
Porong Kabupaten Sidoarjo. Berdasarkan surat tersebut, Sekretaris Daerah
menyampaikan Nota Dinas No. 050/355/022/2007 tanggal 30 Juli 2007 kepada
Gubernur Jawa Timur yang menyarankan agar biaya peningkatan ruas jalan
tersebut dibebankan pada dana Tak Tersangka Pemerintah Provinsi Jawa Timur
tahun 2007 yang mendapat persetujuan Gubernur Jawa Timur.
Kegiatan tersebut seharusnya dapat dianggarkan pada pos Belanja Bantuan
Keuangan pada Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur bukan diberikan pada
anggaran Belanja Tak Terduga karena bencana tersebut terjadi pada Tahun
2006.
d. Realisasi sebesar Rp979.372.320,00 diawali adanya usulan dari Kepala Dinas
Lalu Lintas dan Angkutan Jalan untuk keperluan bantuan pengadaan dan
pemasangan perlengkapan jalan pada jalur alternatif atau rambu RPPJ ruas jalan
alternatif. Usulan tersebut mendapat persetujuan dari Gubernur Jawa Timur sesuai
lembar disposisi nomor agenda 42962 tanggal 14 September 2007.
Kegiatan tersebut seharusnya dapat dianggarkan melalui anggaran
Pemeliharaan/perawatan RPPJ dan Pemeliharaan/perawatan Traffic Light pada
Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 18


e. Realisasi sebesar Rp1.082.872.000,00 diawali adanya usulan dari Walikota
Surabaya untuk musibah kebakaran Pasar Turi Surabaya yang disetujui oleh
Gubernur Jawa Timur sesuai disposisi Nomor 9311 tanggal 10 Agustus 2007.
Bantuan tersebut seharusnya dapat diberikan melalui pos Belanja Bantuan
Keuangan pada Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur setelah dilakukan
Perubahan Anggaran Kegiatan bukan diberikan pada anggaran tak terduga,
karena kejadian kebakaran tersebut pada tanggal 26 Juli 2007.

Daftar pengeluaran anggaran belanja tidak terduga yang tidak tepat tertuang
pada Lampiran 1.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah pada:
1) Pasal 4 yang menyatakan keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada
peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat;
2) Pasal 48 yang menyebutkan bahwa : Belanja tidak terduga sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 37 huruf h merupakan belanja untuk kegiatan yang
sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan
bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya,
termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun
sebelumnya yang telah ditutup;

b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 26 Tahun 2006 tentang Pedoman


Penyusunan Anggaran APBD Tahun 2007 Lampiran, Angka Romawi II Huruf 2b,
ayat 11 yang menyebutkan menyatakan bahwa Penyediaan dana untuk
penanggulangan bencana alam/bencana sosial dan/atau memberi bantuan
kepada daerah dalam penanggulangan bencana alam/bencana sosial dapat
memanfaatkan saldo anggaran yang tersedia dalam Sisa Lebih Perhitungan
APBD Tahun Anggaran sebelumnya dan/atau dengan dengan melakukan
penggeseran anggaran tak terduga atau dengan melakukan penjadwalan ulang
atas program dan kegiatan yang tidak mendesak.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 19


Realisasi pengeluaran belanja tidak terduga sebesar Rp15.520.406.207,00
yang tidak tepat tersebut mengakibatkan laporan keuangan tidak menggambarkan
keadaan yang sebenarnya atau riil.

Keadaan tersebut disebabkan:


a. Gubernur Jawa Timur dalam memberikan persetujuan penggunaan belanja tidak
terduga tidak memperhatikan ketentuan yang berlaku;
b. Pengguna Anggaran (dhi. Sekretaris Daerah) tidak mengkaji secara mendalam
terhadap usulan yang diajukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah;

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa:


a. Pemberian Biaya Askeskin tidak diterimakan secara langsung kepada
masyarakat miskin, namun diberikan kepada rumah sakit sebagai pengganti atas
biaya pengobatan yang dikeluarkan untuk masyarakat miskin sehingga
menerima pelayanan kesehatan secara gratis. Tahun 2007 ada kekurangan
biaya pelayanan dan obat untuk pelayanan masyarakat miskin yang tidak lagi
ditanggung oleh PT Askes. Maka dari itu, telah diambil kebijakan untuk
memberikan bantuan kepada rumah sakit melalui belanja tidak terduga dengan
pertimbangan bahwa kebutuhan pembiayaan ini bersifat mendesak.
b. Alokasi anggaran yang tertuang dalam DPA DPU Bina Marga untuk membiayai
kegiatan-kegiatan yang terencana dan bersifat regular. Karena kerusakan terjadi
akibat bencana alam dan menunggu proses PAPBD tidak memungkinkan maka
dipenuhi dari belanja tak terduga.
c. Ide pengalihan lalu lintas melalui peningkatan jalan dan jembatan alternative
merupakan ide hasil peninjauan lapangan sebagai perwujudan terhadap aspirasi
masyarakat yang mengeluhkan kemacetan lalu lintas jalan. Kebutuhan kegiatan
ini seharusnya ditampung pada anggaran belanja bantuan keuangan, namun
dengan tidak adanya anggaran pembiayaan untuk kegiatan ini dan bersifat
mendesak maka dipenuhi dari anggaran belanja tidak terduga.
d. Pengadaan dan pemasangan kelengkapan jalan (baru) pada jalan alternatif
merupakan rekomendasi DPRD untuk mengantisipasi kemacetan lalu lintas
menjelang Hari Raya Idul Fitri sehingga sifatnya sangat mendesak. Anggaran
perawatan dalam DPA DLLAJ relatif kecil dan tidak dimungkinkan dalam PAPBD.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 20


e. Pada dasarnya Belanja Bantuan Sosial diberikan dan diterimakan langsung
kepada masyarakat. Namun dengan adanya musibah kebakaran Pasar Turi yang
membutuhkan tempat penampungan sementara. Karena sifatnya mendesak
untuk pemenuhaannya dicukupi dari pos Belanja Tak Terduga.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar:
a. Memperhatikan ketentuan yang berlaku dalam menyetujui/memberikan
persetujuan pengeluaran belanja tidak terduga;
b. Memerintahkan Pengguna Anggaran lebih selektif dalam mengajukan usulan
belanja tak terduga dari masing-masing SKPD;

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 21


5. Realisasi Bantuan Sosial Kepada Instansi/Lembaga Daerah/Masyarakat sebesar
Rp24.646.471.050,00 digunakan untuk membiayai kegiatan SKPD

Pada Tahun Anggaran 2007 Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur telah
menganggarkan Belanja Bantuan Sosial Kepada Instansi/Lembaga
Daerah/Masyarakat yang dianggarkan sebesar Rp521.784.111.063,00 dan
direalisasikan sebesar Rp512.433.504.694,00 atau 98,21%.
Dari realisasi tersebut, diantaranya sebesar Rp430.980.227.954,00 dikelola
oleh Biro Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Jawa Timur yaitu untuk
Belanja Bantuan Sosial JPES dan Bantuan Sosial lainnya sebesar
Rp255.959.637.884,00 dari realisasi tersebut diantaranya terdapat bantuan JPES
dan Bantuan Lainnya yang diberikan kepada masing-masing SKPD sebesar
Rp24.646.471.050,00 untuk membiayai kegiatannya.
Hal tersebut diatas merupakan kegiatan yang bisa dianggarkan pada masing-
masing SKPD sehingga tidak perlu diberi bantuan. Sesuai ketentuan bantuan
diberikan kepada masyarakat. Rincian pengeluaran bantuan sosial untuk SKPD
adalah sebagai berikut:
NO. KEGIATAN PENERIMA JUMLAH (Rp)
1 2 3 4
1 Bantuan Operasional Program Biro Administrasi Pembangunan 4.500.000.000,00
JPES Tahun 2007 Tahap I II dan III a.n. Drs. AI, M.Si.
2 Bantuan Pengawasan Program Bawasprop a.n. Drs. I, MM 1.000.000.000,00
JPES Tahun 2007
3 Bantuan Operasional Perencanaan Beppeprop a.n. Ir. HP 400.000.000,00
Program JPES Tahun 2007
4 Bantuan Operasional Program dan Bakorwil I Madiun, a.n. Ir. BTS 120.000.000,00
Dokumentasi JPES Tahun 2007
5 Bantuan Operasional Program dan Bakorwil II Bojonegoro, a.n. SC, 120.000.000,00
Dokumentasi JPES Tahun 2007 SE.MM.
6 Bantuan Operasional Program dan Bakorwil III Malang, a.n. Drs. SS, 120.000.000,00
Dokumentasi JPES Tahun 2007 MM
7 Bantuan Operasional Program dan Bakorwil IV Pamekasan a.n. Drs. 120.000.000,00
Dokumentasi JPES Tahun 2007 H. MD, M.Si.
8 Bantuan Dana Pameran Dinas Perindag Jatim, a.n. Ir. CB 500.000.000,00

9 Bantuan Operasional Pengelolaan Biro Administrasi Pembangunan 550.000.000,00


Bantuan Sosial Prop Jatim Tahun a.n. Drs. AI, M.Si.
2007 (Tahap I)

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 22


1 2 3 4
10 Bantuan Operasional Pengelolaan Biro Administrasi Pembangunan 530.000.000,00
Bantuan Sosial Prop Jatim Tahun a.n. Drs. AI, M.Si.
2007 (Tahap II)
11 Bantuan Kegiatan Pengawasan Bawasprop a.n. Drs. I, MM 337.000.000,00
Fungsional Program Pembanunan
Jatim
12 Bantuan Pembangunan Bendung DPU Pengairan Prop. Jatim a.n. 215.241.400,00
dam gerak di afvour Kali Banger/ Ir. H. MCB, MM
Basin, Desa Sidorejo Rowo
kangkung Lumajang
13 Peningkatan Sarana Prasarana Kepala Dinas Permukiman 6.113.636.000,00
Lingkungan pada Lokasi Desa Provinsi Jawa Timur a.n. Ir. CD
Nelayan Kawasan Tertinggal dan
Lingkungan Kawasan Ponpes
tertinggal
14 Untuk distribusi barang Dinas Sosial Prop. Jatim an. Drs. 269.500.000,00
kesiapsiagaan penanggulangan FRS, M.Si.
bencana serta untuk pemantapan
pendamping program Keluarga
Harapan (PKH) Prop. Jatim
15 Bantuan Operasional Perencanaan Kepala Bappeprop Jatim, a.n. Ir. 318.532.650,00
Bantuan Sosial Pemprov. Jatim HP

15 Bantuan Sarana Prasarana Air Kepala Dinas Permukiman 750.000.000,00


Bersih Desa Mandung Kec. Kokokp Provinsi Jawa Timur a.n. Ir. BS,
Kab. Bangkalan M.Sc.
17 Bantuan Perbaikan Jalan Kepala Dinas Permukiman 454.000.000,00
Perumahan Pandogo Praja I Provinsi Jawa Timur a.n. Ir. BS,
M.Sc.
18 Bantuan Perbaikan Sarana Kepala Dinas Permukiman 2.110.000.000,00
Prasarana Lingkungan Permukiman Provinsi Jawa Timur a.n. Ir. BS,
Kota Probolinggo M.Sc.
19 Bantuan Program Pembinaan Dinas Perindag Jatim, a.n. Ir. CB 200.000.000,00
Industri Rokok dan Tembakau Jawa
Timur
20 Bantuan Pengembangan daerah Badan Ketahanan Pangan Prop.
rawan pangan di Kab. Bojonegoro Jatim an. Ir. TNK, MS. 75.000.000,00

21 Bantuan perbaikan kantor MUI Dinas Pemukiman Prop. Jatim 143.561.000,00


Prop. Jatim an. Ir. BS, M.Sc.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 23


1 2 3 4
22 Bantuan Program Pembinaan Kepala Dinas Perindag Prop. 200.000.000,00
Industri Rokok dan Tembakau Jawa Jatim a.n. Ir. CB
Timur
23 Bantuan Pengadaan Kebutuhan Kepala Dinas Kesehatan Prop. 5.500.000.000,00
PONED KIT sebanyak 22 unit untuk Jatim a.n. Dr. IMM, Mph.
22 Puskesmas
JUMLAH 24.646.471.050,00

Mekanisme pemberian bantuan sosial untuk SKPD dilakukan sebagai berikut :


a. Sekretaris Daerah mengajukan Nota Dinas No. 900/331/022/2007 tanggal 18 Juli
2007 perihal Permohonan dana administrasi pengelola bantuan sosial JPES tahun
2007 kepada Gubernur Jawa Timur. Gubernur Jawa Timur menyetujui
permohonan tersebut. Berdasarkan persetujuan tersebut, Biro Administrasi
Pembangunan selaku pengelola menyampaikan surat kepada masing-masing
SKPD yang menerima bantuan untuk melaksanakan Jaringan Pengamanan
Ekonomi Sosial (JPES);
b. Masing-masing SKPD menyampaikan proposal kepada Gubernur Jawa Timur
melalui Kepala Biro Administrasi Pembangunan. Berdasarkan permohonan
tersebut, Biro Administrasi Pembangunan membuat Nota Dinas untuk diajukan
kepada Gubernur Jawa Timur. Sesuai pengajuan tersebut Gubernur menyetujui
permohonan tersebut;
c. Lembaga Sosial mengajukan proposal pekerjaan kepada Gubernur melalui surat
permohonan. Kemudian Asisten Ekonomi Pembangunan ub. Kepala Biro
Administrasi Pembangunan membuat surat kepada Kepala Dinas Permukiman
untuk meneliti dan menelaah secara teknis kebutuhan biaya yang diajukan oleh
Lembaga tersebut. Dari permohonan tersebut Sekretaris Daerah membuat Nota
Dinas untuk diajukan kepada Gubernur Jawa Timur. Berdasarkan disposisi,
Gubernur menyetujui pekerjaan dimaksud.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 24


Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah pada :
1) Pasal 4 ayat (1) yang menyatakan keuangan daerah dikelola secara tertib,
taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis,
transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan,
kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat;
2) Pasal 45 ayat (1) yang menyatakan bahwa bantuan sosial sebagaimana
dimaksud dalam pasal 37 huruf e digunakan untuk menganggarkan
pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau kepada masyarakat yang
bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
b. Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 31 Tahun 2007 tanggal 6 Juli 2007 tentang
tata cara pemberian dan pertanggungjawaban subsidi, hibah, bantuan sosial dan
bantuan keuangan Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2007 Pasal 4 :
1) Ayat (1) yang menyatakan bahwa Bantuan Sosial dianggarkan untuk
pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat
yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat;
2) Ayat (3) yang menyatakan bahwa Bantuan Sosial sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat dilaksanakan langsung kepada masyarakat maupun
melalui lembaga, pemerintah Kabupaten/Kota dan SKPD dilingkungan
Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Kondisi tersebut mengakibatkan saldo akun bantuan sosial disajikan lebih tinggi
sebesar Rp24.646.471.050,00 dan saldo akun belanja pada masing-masing SKPD
disajikan lebih rendah.

Hal tersebut disebabkan Biro Administrasi Pembangunan dalam memberikan


Bantuan Sosial kepada masing-masing SKPD tidak memahami ketentuan yang
berlaku.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa pada saat


penganggaran masih bersifat global dan belum dilengkapi Belanja Operasional.
Untuk mempercepat proses pelaksanaan kegiatan tersebut maka kepada Dinas atau

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 25


Badan yang menangani diberikan anggaran melalui Bantuan Sosial JPES dan
Bantuan Sosial lainnya.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar:
a. Dalam menyetujui pelaksanaan pekerjaan atau memberikan bantuan kepada
masing-masing SKPD untuk mengacu pada ketentuan yang berlaku;
b. Menegur Kepala Biro Administrasi Pembangunan untuk lebih selektif dalam
memberikan bantuan sosial dan memperhatikan ketentuan yang berlaku.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 26


6. Realisasi Belanja Bantuan Sosial Kepada Instansi/Lembaga Daerah/Masyarakat
belum dipertanggungjawabkan sebesar Rp248.827.033.246,00.

Pada Tahun Anggaran 2007 Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur telah
menganggarkan Belanja Bantuan Sosial sebesar Rp868.574.059.064,00 dan
direalisasikan sebesar Rp856.283.627.972,71 atau 98,58%.
Belanja Bantuan Sosial dikelola oleh beberapa Biro sesuai Peraturan Gubernur
Nomor 31 Tahun 2007 tanggal 6 Juli 2007 tentang Tata Cara Pemberian dan
pertanggungjawaban Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial dan Bantuan Keuangan Provinsi
Jawa Timur Tahun Anggaran 2007 Pasal 7 yang menyatakan Pengelola Bantuan
Sosial dilingkungan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur yang berada pada :
c. Biro Kesejahteraan Rakyat
d. Biro Perekonomian
e. Biro Administrasi Pembangunan
f. Biro Mental Spiritual
g. Biro Organisasi
h. Biro Keuangan
i. Biro Umum
Mekanisme Belanja Bantuan Sosial tersebut diawali dengan adanya proposal
dari Instansi/ Lembaga/Kelompok Masyarakat yang diajukan kepada masing-masing
Biro. Setelah dilakukan penelitian, dibuatkan surat kepada Gubernur Jawa Timur.
Setelah disetujui oleh Gubernur Jawa Timur, masing-masing Biro membuat SPP- LS
dan SPM dengan disertai proposal kemudian disampaikan kepada Sekretariat
Daerah dhi. Biro Keuangan Sekretariat Daerah untuk diterbitkan SP2D dan
disampaikan kepada masing-masing penerima bantuan.
Berdasarkan pemeriksaan SPJ masing-masing Belanja Bantuan Sosial terdapat
Belanja Bantuan Sosial belum dipertanggungjawabkan sebesar
Rp248.827.033.246,00 yang terjadi pada :
a. Biro Kesra
- Belanja Bantuan Sosial Kemasyarakatan Rp 51.116.739.060,00
- Belanja Bantuan Sosial kepada Instansi/Lembaga
Daerah/Masyarakat Rp 1.775.400.000,00
Jumlah Rp 52.892.139.060,00

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 27


b. Biro Perekonomian
- Belanja Bantuan Sosial kepada Instansi/Lembaga
Daerah/Masyarakat Rp 130.513.470,00
Jumlah Rp 130.513.470,00

c. Biro Administrasi Pembangunan


- Belanja Bantuan Sosial kepada Instansi/Lembaga
Daerah/Masyarakat Rp 57.471.264.716,00
Jumlah Rp 57.471.264.716,00

d. Biro Mental Spiritual


- Belanja Bantuan Sosial untuk Peningkatan
Pendidikan Rp117.289.403.000,00
- Belanja Bantuan Sosial Organisasi Keagamaan Rp 6.214.000.000,00
- Belanja Bantuan Sosial Organisasi Kepemudaan
Dan Keolahragaan Rp 2.497.000.000,00
Jumlah Rp126.000.403.000,00
e. Biro Keuangan
- Belanja Bantuan Sosial Organisasi Kemasyarakatan Rp 10.945.713.000,00
- Belanja Bantuan Sosial untuk Peningkatan Pendi-
dikan Rp 0,00
- Belanja Bantuan Sosial Organisasi Kepemudaan dan
Keolahragaan Rp 0,00
- Belanja Bantuan Sosial kepada Instansi Lembaga
Masyarakat Rp 1.387.000.000,00
- Belanja Bantuan Partai Politik Rp 0,00
Jumlah Rp 12.332.713.000,00

Perincian daftar penerimaan dan pertanggungjawaban dapat dilihat pada


lampiran 2.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 28


Kondisi tersebut tidak sesuai dengan :
a. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah Pasal 61 ayat (1) yang menyatakan bahwa Setiap pengeluaran harus
didukung oleh bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh
pihak yang menagih.
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah pada:
1) Pasal 4 yang menyatakan keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada
peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat;
2) Pasal 132 yang menyatakan bahwa setiap pengeluaran belanja atas beban
APBD harus didukung dengan bukti yang lengkap dan sah;
3) Pasal 133 ayat (2) yang menyatakan bahwa penerima subsidi, hibah,
bantuan sosial, dan bantuan keuangan bertanggung jawab atas penggunaan
uang/barang dan/atau jasa yang diterimanya dan wajib menyampaikan
laporan pertanggungjawaban penggunaannya kepada Kepala Daerah;
c. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 31 Tahun 2007 tentang Tata Cara dan
Pertanggungjawaban Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial dan Bantuan Keuangan
Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2007 pada Lampiran Angka Romawi IV.
Tentang Pelaporan yang menyatakan bahwa :
1) Penerima bantuan bertanggung jawab atas penggunaan uang/barang
dan/atau jasa yang diterimanya.
2) Penerima bantuan menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan sebagai
bentuk pertanggungjawaban kepada Gubernur Jawa Timur selambat-
lambatnya 3 (tiga) bulan setelah uang bantuan diterima.

Kondisi tersebut mengakibatkan pengeluaran belanja bantuan sosial sebesar


Rp248.827.033.246,00 tersebut tidak dapat diyakini kebenarannya.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 29


Hal tersebut disebabkan
a. Masing-masing penerima bantuan sosial kurang memahami ketentuan yang
berlaku;
b. Masing-masing kepala Biro selaku pengelola bantuan sosial kurang aktif dalam
upaya penyelesaian pertanggungjawabannya.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa dalam


menyalurkan bantuan sosial, kepada pihak penerima sejak awal telah diberikan
penjelasan mengenai batasan waktu untuk menyampaikan laporan
pertanggungjawaban penggunaan dana bantuan sosial yang diterimanya,
sebagaimana tercantum dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 31 Tahun
2007 tentang Tata Cara Pemberian dan Pertanggungjawaban Subsidi, Hibah,
Bantuan Sosial, dan Bantuan Keuangan Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2007.
Namun dalam realisasinya, memang ada yang belum melaporkan
peranggungjawaban penggunaannya. Untuk hal ini telah diberikan
peringatan/teguran baik secara lisan/tertulis kepada pihak penerima bantuan dan
akan terus diupayakan penyelesaiannya.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar menegur masing-masing Kepala Biro selaku
pengelola untuk lebih aktif dalam upaya memperoleh pertanggungjawaban dari
penerima bantuan tersebut.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 30


7. Penggunaan Belanja Operasional Pimpinan DPRD Provinsi Jawa Timur tidak
didukung dangan bukti yang lengkap sebesar Rp233.300.000,00.

Dalam Draft APBD Tahun 2007 Belanja Penunjang Operasional DPRD Provinsi
Jawa Timur (kode rekening 102.400.001.5.1.1.05.001) dianggarkan sebesar
Rp280.800.000,00 dan direalisasikan sebesar Rp233.300.000,00 atau 83,08%.
Kepala Biro Keuangan Sekretariat Daerah menerbitkan SP2D sebanyak 5 kali
sesuai dengan SPP dan SPM dari Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Timur dhi.
Ketua/Wakil Ketua DPRD sebesar Rp233.300.000,00 dengan rincian sebagai berikut:
a. SP2D No. LS/008903/2007 tanggal 27 September 2007 sebesar Rp46.700.000,00
b. SP2D No. LS/0011775/2007 tanggal 7 Nopember 2007 sebesar Rp46.800.000,00
c. SP2D No. LS/0014483/2007 tanggal 3 Desember 2007 sebesar Rp46.600.000,00
d. SP2D No. LS/0014485/2007 tanggal 3 Desember 2007 sebesar Rp46.600.000,00
e. SP2D No. LS/0020706/2007 tanggal 27 Desember 2007 sebesar
Rp46.600.000,00
Penelusuran lebih lanjut terhadap Surat Pertanggungjawaban penggunaan
belanja penunjang operasional DPRD Provinsi Jawa Timur hanya berupa SPP-LS,
SPM, Pakta Integritas dan Daftar Rekap rincian Penerimaaan Belanja Penunjang
Operasional Pimpinan DPRD Provinsi Jawa Timur tanpa laporan hasil pelaksanaan
tugas.
Adapun penggunaan dana Belanja Penunjang Operasional DPRD Provinsi
Jawa Timur yang tidak didukung dengan laporan hasil pelaksanaan tugas, diuraikan
sebagai berikut:
No. Tgl Kegiatan Jumlah Penerima

1 2 3 4 5
1 7 Agustus 2007 Pemberian Bantuan Peringatan Isra' Mi'raj 1.000.000,00 Panitia HIKMA
& Malam HUT ke 17 HIKMA
2 7 Agustus 2007 Pemberian Bantuan untuk Panitia Lomba 7.000.000,00 Panitia (H. S.)
Mancing di Malang
3 8 Agustus 2007 Pemberian Bantuan Diklat Bantuan Hukum 500.000,00 Panitia (Sdr. M.)
& Advokasi HAM
4 8 Agustus 2007 Pemberian Bantuan Keagamaan 10.000.000,00 Ust. R., Situbondo
5 10 Agustus2007 Transport Pertemuan Ulama 2.500.000,00 H. T., Gresik
6 12 Agustus 2007 Pemberian bantuan Renovasi Gereja 5.000.000,00 Ketua Panitia
Santo Petrus Waru Jeyeng Nganjuk
7 12 Agustus 2007 Bantuan Pembangunan Tempat Wudhu 5.000.000,00 Ketua Panitia

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 31


1 2 3 4 5
Mesjid Desa Banjarsari Kab. Pacitan

8 14 Agustus 2007 Bantuan Haul/Temu Alumni PP Nurul Jadid 5.000.000,00 H.M. N. (Ketua Panitia)
9 14 Agustus 2007 Bantuan Panitia HUT RI ke 62 Kec. Taman 500.000,00 RT.06/RW.05 Taman
Candiloka Sidoarjo Candiloka Sidoarjo
10 19 Agustus 2007 Bantuan untuk penyelenggaraan Seminar 300.000,00 Panitia (F.)
& Pelantikan GPN
11 20 Agustus 2007 Pemberian Bantuan untuk pengganti foto 300.000,00 Sdr. Y.
12 23 Agustus 2007 Bantuan Keagamaan untuk Desa Keyen 4.600.000,00 Tokoh Agama
Kab. Pacitan
13 24 Agustus 2007 Pemberian bantuan kepada Panti Asuhan 4.500.000,00 Ketua Panitia
Don Bosco Surabaya
14 29 Agustus 2007 Bantuan transport untuk Konstituen dari 500.000,00 Sdr. D
Malang
15 3 September 2007 Bantuan Pembangunan Mesjid Pusat 2.000.000,00 Ketua Panitia
Surabaya
16 3 September 2007 Bantuan kepada Forum Kelompok 3.000.000,00 S. A.
Bersama JPES di Bondowoso
17 5 September 2007 Bantuan Langsung kepada Korban 5.000.000,00 H. I.
Bencana Alam di Bondowoso
18 5 September 2007 Bantuan untuk kegiatan Pertandingan 3.000.000,00 Panitia (S.)
Futsal Media I Thn. 2007
19 10 September 2007 Bantuan untuk penyelenggaraan Seminar 1.000.000,00 Panitia MPM IAIN Sunan
Ampel Sby
20 12 September 2007 Bantuan Pembangunan Ponpes Di Dander 3.000.000,00 Tokoh Agama
Bojonegoro
21 17 September 2007 Bantuan kepada Forum Kelompok 3.000.000,00 T.
Bersama JPES di Banyuwangi
22 17 September 2007 Bantuan Kelompok Tani di Pacitan 2.000.000,00 Ketua Kelompok Tani
23 18 September 2007 Pemberian Bantuan transport konstutien 600.000,00 Sdr. I.
untuk ke Jakarta
24 24 September 2007 Pemberian bantuan untuk Dewan Da'wah 3.000.000,00 H. T. A. I.
Islamiyah Indonesia
25 24 September 2007 Pemberian bantuan Renovasi Gereja 9.600.000,00 Ketua Panitia
Santo Petrus Waru Jeyeng Nganjuk
26 26 September 2007 Pertemuan tokoh Ulama & Habaib di 7.000.000,00 S. A.
Ampel Surabaya
27 26 September 2007 Bantuan Kelompok Tani di Magetan 2.600.000,00 Ketua Kelompok Tani
28 29 September 2007 Bantuan untuk kegiatan Nuzulul Qur'an & 2.000.000,00 PMII Jawa Timur ( Sdr. A.
Dialog Ramadhan N. A.)

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 32


1 2 3 4 5
29 14 Oktober 2007 Pemberian bantuan Renovasi Gereja 9.600.000,00 Ketua Panitia
Santo Petrus Waru Jeyeng Nganjuk

30 5 Oktober 2007 Bantuan temu tokoh/ulama dalam bentuk 10.800.000,00 H. Bahrur


dialog dengan masyarakat menyerap
aspirasi banyuwangi
31 8 Oktober 2007 Bantuan sosial kepada Jemaah Hafidz Al 6.000.000,00 Ketua Panitia
Qur'anAhad Wage desa Dongko
Trenggalek
32 8 Oktober 2007 Bantuan sosial kepada Jemaah Hafidz Al 6.000.000,00 Ketua Panitia
Qur'anAhad Wage desa Dongko
Trenggalek
33 17 Oktober 2007 Bantuan temu tokoh/ulama dalam bentuk 7.000.000,00 Purwanto
dialog dengan masyarakat menyerap
aspirasi banyuwangi
34 22 Oktober 2007 Bantuan Pembangunan Ponpes Di Dander 3.600.000,00 Ketua Panitia
Bojonegoro
35 22 Oktober 2007 Bantuan Pembangunan Ponpes Di Dander 3.600.000,00 Ketua Panitia
Bojonegoro
36 27 Oktober 2007 Haul Habib Soleh Al Hamid Tanggul Kab. 9.600.000,00 Panitia (Ust. Muchlisin)
Jember
37 1 Nopember 2007 Bantuan untuk kegiatan pelatihan Life Skill 4.000.000,00 Panitia (Eva
di Surabaya Desembriatita)
37 1 Nopember 2007 Bantuan untuk Pagelaran Seni Tradisional 5.000.000,00 Panitia (Ispono)
Ludruk di Surabaya
38 3 Nopember 2007 Pemberian Bantuan transport Tokoh 17.800.000,00 H. Imron
Ulama kegiatan pengajian akbar di Jember

39 12 Nopember 2007 Bantuan transport untuk Reporter JTV 300.000,00 Sdr. Zamzami

40 12 Nopember 2007 Bantuan Sarana Prasarana Sekolah TK 5.000.000,00 Ketua Panitia


Pertiwi desa Dongko Kab. Trenggalek

41 13 Nopember 2007 Pembelian Bunga Duka untuk alm. KH. 300.000,00


Amanullah Pengasuh PP. Bahrul Ulum
Jombang
42 14 Nopember 2007 Pemberian bantuan Renovasi Gereja 9.600.000,00 Ketua Panitia
Santo Petrus Waru Jeyeng Nganjuk

43 18 Nopember 2007 Bantuan Keagamaan untuk Desa Keyen 3.000.000,00 Tokoh Agama
Kab. Pacitan
44 22 Nopember 2007 Bantuan Pembangunan Ponpes Di Dander 1.600.000,00 Tokoh Agama
Bojonegoro

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 33


1 2 3 4 5
45 6 Desember 2007 Pemberian bantuan Renovasi Gereja 9.600.000,00 Ketua Panitia
Santo Petrus Waru Jeyeng Nganjuk

46 8 Desember 2007 Pemberian Bantuan transport Tokoh 17.800.000,00 Ketua Panitia


Ulama kegiatan pengajian akbar di
Situbondo
47 8 Desember 2007 Pelatihan Uji Kompetensi UNAS 2008 9.600.000,00 Ketua Panitia
JUMLAH 233.300.000,00

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 132 yang menyebutkan Setiap pengeluaran
belanja atas beban APBD harus didukung dengan bukti yang lengkap dan sah;
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pengelompokan
Kemampuan Keuangan Daerah, Penganggaran Dan Pertanggungjawaban
Penggunaan Belanja Penunjang Operasional Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Serta Tata Cara Pengembalian Tunjangan Komunikasi Intensif Dan Dana
Operasional pada:
1) Pasal 12 ayat (1) Sekretaris DPRD selaku Pengguna Anggaran/Pengguna
Barang bertanggung jawab atas pengelolaan BPO Pimpinan DPRD;
2) Pasal 12 Ayat (3) Pengajuan pencairan dana untuk bulan berikutnya dapat
dilakukan sepanjang penggunaan dana yang sudah diterima telah
dipertanggungjawabkan;
3) Pasal 13 Ayat (2) Pertanggungjawaban penggunaan BPO Pimpinan DPRD
dibuktikan dengan laporan hasil pelaksanaan tugas yang dilengkapi dengan
rincian penggunaan BPO Pimpinan DPRD;
4) Pasal 13 Ayat (4) Bukti pertanggungjawaban penggunaan dana sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Bendahara Pengeluaran setiap
bulan paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya.

Kondisi di atas mengakibatkan penggunaan belanja operasional Pimpinan


DPRD tidak dapat diyakini kewajarannya.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 34


Keadaan tersebut terjadi karena Pimpinan DPRD dan Sekretaris DPRD dalam
menggunakan belanja operasional Pimpinan DPRD tidak memperhatikan ketentuan
yang berlaku.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa berdasarkan


hasil rapat-rapat sosialisasi PP Nomor 21 Tahun 2007 tentang perubahan ketiga PP
Nomor 24 Tahun 2007 dan Permendagri 21 Tahun 2007 yang terkait dengan
pelaksanaan BPO Pimpinan DPRD baik yang diselenggarakan di Pusat dan di
Daerah (Jawa Timur) disampaikan bahwa pada pelaksanaan BPO Pimpinan DPRD
untuk pertanggungjawabannya tidak diperlukan kuitansi dari pihak penerima bantuan
operasional.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar meminta Pimpinan DPRD Provinsi Jawa Timur dan
Sekretaris DPRD untuk mempertanggungjawabkan penggunaan belanja penunjang
operasional pimpinan (BPOP) sesuai ketentuan yang berlaku.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 35


8. Aset Tak Berwujud Berupa Sofware/Sistem Aplikasi Komputer Tidak dicatat
dan Tidak Disajikan Dalam Neraca minimal sebesar Rp9.294.608.500,00

Neraca Pemerintah Provinsi Jawa Timur per 31 Desember 2007 menyajikan


Aset Tak Berwujud sebesar Rp0,00. Namun penyajian pos Aset Tak Berwujud senilai
tersebut tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Hasil pemeriksaan
menunjukkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur belum melakukan inventarisasi
atas aset-aset tak berwujud yang dimiliki sehingga belum dapat disajikan dalam
neraca, diantaranya aset berupa software/aplikasi komputer
Pendataan yang dilakukan secara uji petik pada tujuh Satuan Kerja Perangkat
Daerah diketahui bahwa sejak tahun 2002 sampai dengan 2007 telah dilakukan
pengadaan software/aplikasi komputer sebesar Rp9.294.608.500,00 tetapi tidak
dicatat dalam neraca, dengan rincian:
Tahun
No. SKPD & Software Yang dimiliki Pengembangan / Nilai Perolehan (Rp)
Pembelian
1. Biro Aset dan Perlengkapan
- Simbada Otoda Jatim Sub Sistem Administrasi Aset 2003 – 2004 750.000.000,00
- Simbada Otoda Jatim Sub Sistem Perencanaan 2005 125.000.000,00
- Simbada Otoda Jatim Sub Sistem Pengadaan Administrasi 2005 150.000.000,00
Gudang
- Simbada Pemetaan 2007 550.000.000,00
- SQL Server 2000 Standar Unlimited 2007 74.745.000,00
2. Biro Keuangan
- Aplikasi Penyusunan RAPBD dan PAPBD, SPD, SIPUSPA, 2007 1.428.750.000,00
SIPUSAKA, SPJ, SP2D, SIKDAKUN
3. Biro Kepegawaian
- Aplikasi pembuatan SK honorer menjadi CPNS 2007 40.469.000,00
- Aplikasi pembuatan SK CPNS menjadi PNS 2007 42.779.000,00
4. Badan Arsip
- Implementasi Kearsipan Tahap I 2002 605.000.000,00
- Operating System server AS – 400 2002 313.500.000,00
- Content Management iSeries 2002 539.000.000,00
- Firewall checkpoint NG 2004 166.000.000,00
- IBM Websphere Portal Extranet Proc. 2004 366.500.000,00
- Implementasi Web Internet, Intranet, dan Email 2004 1.293.500.000,00
- Application for server storage 2005 73.500.000,00
- McAffe viruscan enterprises 8.0 2005 21.235.500,00
5. Badan Perencanaan Pembangunan
- Sistem Informasi Manajemen Pengendalian Program 2007 240.000.000,00
Pembangunan
- Sistem Informasi Tata Ruang Provinsi Jawa Timur 2007 376.000.000,00

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 36


Tahun
No. SKPD & Software Yang dimiliki Pengembangan / Nilai Perolehan (Rp)
Pembelian
- Sistem Informasi Musyawarah Perencanaan Pembangunan 2007 400.000.000,00
- Mekanisme Perencanaan Pembangunan Daerah (penyesuaian 2007 250.000.000,00
dengan PP No. 58 Th. 2005 dan Permendagri No. 13 Th. 2006)
- Sistem Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah 2007 400.000.000,00
6. RSUD Syaiful Anwar Malang
- Software Penghitung Unit Cost 2007 12.540.000,00
- Software General Ledger, Account Receivable, Account 2007 83.600.000,00
Payable, Cash Book
- Modul IRNA 2007 33.000.000,00
- Modul Rekam Medik 2007 33.000.000,00
- Software Billing & Back Office 2007 56.870.000,00
7. Dinas Pendapatan
- Sistem Informasi dan SMS Info PKB 2007 44.500.000,00
- Sistem Informasi SMS Komplain WP 2007 43.500.000,00
- Sistem Informasi SMS Jatuh Tempo WP 2007 81.620.000,00
- Modul pada KB Samsat 2006
- Modul pada Samsat Drive Thru 2007 150.000.000,00
- Modul Laporan 2006 200.000.000,00
- Modul Samsat Link 2006 350.000.000,00
Jumlah Nilai Perolehan 9.294.608.500,00

Pengakuan aset tak berwujud sebenarnya telah diatur dalam Pedoman Sistem
Akuntansi dan Penyusunan Pertanggungjawaban APBD Provinsi Jawa Timur. Namun
pedoman tersebut tidak menguraikan cara pengukuran nilai yang harus dicatat
sebagai aset tak berwujud. Sehingga para pejabat pelaksana tatausaha keuangan
daerah tidak dapat melakukan pencatatan transaksi pengadaan software/aplikasi
komputer secara benar.

Hasil pengadaan aset tidak berwujud belum disajikan dalam neraca tidak
sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan, dalam PSAP Nomor 01 paragraf 8 yang menjelaskan bahwa aset
adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah
sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau
sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun
oleh masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya
non keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan
sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 37


b. Buletin Teknis KSAP nomor 1 tentang penyusunan neraca awal menguraikan
bahwa Aset tak berwujud meliputi :
1. Software komputer;
2. Lisensi dan franchise;
3. Hak cipta (copyright), paten, dan hak lainnya; dan
4. Hasil Kajian/penelitian yang memberikan manfaat jangka panjang.

Permasalahan tersebut mengakibatkan:


a. Saldo akun Aset Tak Berwujud tidak menyajikan kondisi sebenarnya;
b. Aser tak berwujud senilai Rp9.294.608.500,00 belum disajikan dalam neraca.

Hal tersebut disebabkan oleh:


a. Pedoman Akuntansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak memberikan petunjuk
yang jelas mengenai pencatatan transaksi pengadaan software/aplikasi komputer;
b. Kelalaian pengguna barang yang tidak cermat dalam melakukan pencatatan dan
penyajian aset tak berwujud sesuai SAP.

Atas permasalahan tersebut Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan


tanggapan bahwa sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 26 Tahun
2006 tentang Pedoman Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2007, Penganggaran
pengadaan software untuk system informasi manajemen keuangan daerah
dicantumkan dalam Belanja Barang dan Jasa dan untuk selanjutnya pengembangan
software akan ditindaklanjuti dengan dicatat dan dikapitalisasi sebagai Aset Tak
Berwujud.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar:
a. Menyusun Pedoman Akuntansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang
memberikan petunjuk pencatatan transaksi pengadaan software/aplikasi
komputer;
b. Memerintahkan Kepala SKPD menginventarisasi aset tak berwujud yang ada di
unit kerjanya untuk selanjutnya disajikan dalam neraca.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 38


9. Aset Tetap yang dimiliki pihak lain sebesar Rp225.421.673.283,00 tercatat dalam
Neraca per 31 Desember 2007

Pada tahun 2007 Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyajikan nilai aset tetap
sebesar Rp23.715.167.563.223,00. Nilai aset tetap yang disajikan tersebut
didasarkan pada Laporan Mutasi Barang dari Biro Perlengkapan dan Administrasi
Aset yang merupakan rekapitulasi Laporan Aset dari tiap-tiap SKPD.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah memanfaatkan aplikasi SIMBADA dalam
penatausahaan administrasi barang daerah. Nilai yang disajikan di neraca telah
sesuai dengan nilai aset tetap dalam aplikasi SIMBADA. Pada aplikasi tersebut telah
diberikan kode kepemilikan aset untuk mengidentifikasi status kepemilikan aset
tersebut.
Berdasarkan pemeriksaan data aset pada aplikasi SIMBADA dan Laporan dari
Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset diketahui bahwa nilai aset tetap yang
disajikan di neraca termasuk di dalamnya aset tetap dengan status kepemilikan
Departemen Dalam Negeri, Departemen Lain, Pemerintah Kabupaten/Kota, dan tidak
jelas status kepemilikannya. Aset tersebut senilai Rp225.421.673.283,00 dengan
rincian sebagai berikut:
Kode Kepemilikan
No Bidang barang Jumlah (Rp)
00 (Dep. Lain) 01 (Depdagri) 12 (Pemkab/kota) --
1 Tanah 167.151.560.650 4.084.950 23.499.906.602 0 190.655.552.202
2 Jalan dan Jembatan 5.062.582.100 0 0 0 5.062.582.100
3 Bangunan Air 0 0 0 0 0
4 Instalasi 0 0 0 0 0
5 Jaringan 0 0 0 0 0
6 Bangunan Gedung 8.455.535.279 0 5.526.326.004 0 13.981.861.283
7 Monumen 0 0 0 0 0
8 Alat - alat Besar 96.220.000 155.689.000 8.707.000 91.575.000 352.191.000
9 Alat - alat Angkutan 4.663.245.449 1.195.724.000 77.500.000 0 5.936.469.449
10 Alat - alat Bengkel 265.914.500 178.655.205 280.000 450.000 445.299.705
11 Alat - alat Pertanian 51.738.000 0 0 0 51.738.000
12 Alat - alat Kantor dan Rumah Tangga 1.313.214.470 2.123.617.304 114.349.250 161.397.500 3.712.578.524
13 Alat Studio 85.480.000 33.883.100 35.914.340 0 155.277.440
14 Alat Kedokteran 4.156.842.500 48.929.500 1.707.000 11.949.300 4.219.428.300
15 Alat Laboratorium 730.741.680 45.600.000 0 0 776.341.680
16 Buku / Perpustakaan 152.000 453.600 246.000 680.000 1.531.600
17 Bercorak Kesenian, Kebudayaan 63.422.000 6.400.000 0 1.000.000 70.822.000
18 Hewan/Ternak dan Tumbuh-tumbuhan 0 0 0 0 0
19 Alat Keamanan 0 0 0 0 0
192.096.648.628 3.793.036.659 29.264.936.196 267.051.800 225.421.673.283

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 39


Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset menjelaskan bahwa data tersebut
dihimpun berdasarkan laporan dari tiap-tiap SKPD sehingga Biro Perlengkapan dan
Administrasi Aset juga tidak dapat meyakini status kepemilikan yang sah atas aset
tersebut. Selama ini belum ada koordinasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur
dengan instansi terkait untuk menjelaskan status kepemilikan aset tersebut. Sesuai
ketentuan, aset tetap yang dimiliki pihak lain dapat disajikan di neraca apabila status
kepemilikannya telah beralih kepada Pemerintah Provinsi yang ditunjukkan dengan
Berita Acara Serah Terima antara pihak terkait dengan Pemerintah Provinsi Jawa
Timur.

Permasalahan di atas tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintah pada:
1) PSAP Nomor 7 tentang Akuntansi Aset Tetap Paragraf 20 disebutkan bahwa
pengakuan aset tetap akan sangat andal bila aset tetap telah diterima atau
diserahkan hak kepemilikannya dan atau pada saat penguasaannya
berpindah.
2) PSAP Nomor 7 tentang Akuntansi Aset Tetap Paragraf 21 disebutkan bahwa
saat pengakuan aset akan lebih dapat diandalkan apabila terdapat bukti
bahwa telah terjadi perpindahan hak kepemilikan dan/atau penguasaan
secara hukum, misalnya sertifikat tanah dan bukti kepemilikan kendaraan
bermotor. Apabila perolehan aset tetap belum didukung dengan bukti secara
hokum dikarenakan masih adanya suatu proses administrasi yang diharuskan,
seperti pembelian tanah yang masih harus diselesaikan proses jual beli (akta)
dan sertifikat kepemilikannya di instansi berwenang, maka aset tetap tersebut
harus diakui pada saat terdapat bukti bahwa penguasaan atas aset tetap
tersebut telah berpindah, misalnya telah terjadi pembayaran dan penguasaan
atas sertifikat tanah atas nama pemilik sebelumnya.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tanggal 9 Desember 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah pada pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa
Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-
undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan
memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 40


c. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah pada:
1) Pasal 1 angka 2 disebutkan bahwa barang milik daerah adalah semua barang
yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan
lainnya yang sah.
2) Pasal 2 ayat (1) disebutkan bahwa barang milik negara/daerah meliputi:
a) Barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN/D;
b) Barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah.
3) Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a) Barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis;
b) Barang yang diperoelh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak;
c) Barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang; atau
d) Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap.
d. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pada:
1) Pasal 1 angka 76 disebutkan bahwa barang milik daerah adalah semua
barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari
perolehan Iainnya yang sah
2) Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa Keuangan daerah dikelola secara tertib,
taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis,
transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan,
kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.
e. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Barang Milik Daerah pada:
1) Pasal 1 angka 3 disebutkan bahwa barang milik daerah adalah semua barang
yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah atau perlehan lainnya yang sah;
2) Pasal 2 disebutkan bahwa barang milik daerah sebagai bagian dari
pengelolaan keuangan daerah yang dilaksanakan secara terpisah dari
pengelolaan barang milik negara

Permasalahan tersebut mengakibatkan saldo akun Aset Tetap senilai


Rp225.421.673.283,00 tidak dapat diyakini kewajarannya.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 41


Permasalahan tersebut disebabkan oleh:
a. Kelalaian Kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset dalam melakukan
rekapitulasi daftar aset tetap tidak didahului verifikasi terhadap status
kepemilikan aset;
b. Kelalaian pengurus barang pada SKPD yang memasukkan aset pihak lain dalam
laporan aset;
c. Tidak adanya koordinasi dengan instansi terkait untuk menjelaskan status
kepemilikan aset tetap.

Atas permasalahan tersebut Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan


tanggapan bahwa data aset yang dilaporkan SKPD sebagai bahan penyusunan
neraca daerah seharusnya berkode kepemilikan 11 (Pemerintah Provinsi) tetapi tidak
seluruh SKPD yang melaporkan dengan kode kepemilikan 11. Jika status
kepemilikan benar-benar milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur, tahun 2008 akan
dimasukkan dalam Tahun Anggaran 2008

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar:
a. Menegur Kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset supaya dalam
melakukan rekapitulasi daftar aset tetap didahului dengan verifikasi terhadap
status kepemilikan aset;
b. Menegur Kepala SKPD selaku pengguna barang untuk tidak mencantumkan aset
kepemilikan pihak lain dalam laporan aset tetap;
c. Memerintahkan kepala SKPD selaku pengguna barang melakukan koordinasi
dengan instansi terkait untuk menetapkan status kepemilikan aset.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 42


10. Aset tetap hasil pengadaan APBN sebesar Rp2.910.023.050,00 diakui di Neraca
dan Aset Tetap senilai Rp2.503.589.040,00 tidak dapat diyakini kewajarannya.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyajikan nilai aset tetap di neraca per 31
Desember 2007 yang berasal dari hibah Pemerintah Pusat/ Pihak ketiga sebesar
Rp6.427.948.090,00. Nilai tersebut merupakan rekapitulasi dari nilai perolehan hibah
yang dilaporkan oleh masing-masing SKPD. Rincian penerimaan hibah barang dari
Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset adalah sebagai berikut:

No SKPD Nilai (Rp)


1 RS. Haji Surabaya 1.877.700.000,00
2 RSUD Dr. Soetomo 1.260.130.440,00
3 RS. Jiwa Menur 119.885.650,00
4 RS. Kusta Sumber Glagah 1.194.642.900,00
5 RS. Paru Dungus Madiun 695.689.500,00
6 RS. Paru Batu 899.800.000,00
7 Dinas Pemuda dan Olah Raga 150.000.000,00
8 Badan Perencanaan Provinsi 230.099.600,00
Jumlah 6.427.948.090,00

Berdasarkan konfirmasi dan permintaan data kepada masing-masing SKPD


diketahui bahwa nilai barang tersebut tidak seluruhnya merupakan hibah. Dari data
yang disampaikan SKPD, diketahui bahwa dalam Tahun Anggaran 2007 telah
diperoleh aset yang dibiayai dari hibah, APBN, dan lainnya dengan rincian sebagai
berikut:
(dalam rupiah)
Konfirmasi SKPD
Rekapitulasi Biro Pengadaan APBN Hibah/Pengalihan
No SKPD Tidak ada Penjelasan
Perlengkapan Belum dicatat di
Dicatat di Neraca Tidak di Catat Dicatat di Neraca
Neraca

1 RS. Haji Surabaya 1.877.700.000,00 23.677.802.208,00 1.877.700.000,00

2 RSUD Dr. 1.260.130.440,00 864.341.000,00 395.789.440,00


Soetomo
3 RS. Jiwa Menur 119.885.650,00 119.885.650,00
4 RS. Kusta Sumber 1.194.642.900,00 1.194.642.900,00
Glagah
5 RS. Paru Dungus 695.689.500,00 695.689.500,00 820.295.000,00
Madiun
6 RS. Paru Batu 899.800.000,00 899.800.000,00
7 Dispora 150.000.000,00 150.000.000,00
8 Bapeprov 230.099.600,00 263.624.500,00 230.099.600,00
Jumlah 6.427.948.090,00 2.910.018.050,00 23.941.426.708,00 1.014.341.000,00 820.295.000,00 2.503.589.040,00

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 43


Pemeriksaan lebih lanjut diketahui bahwa sebagian aset yang dicatat tidak
dapat diyakini kepemilikannya dan sebagian belum dicatat/disajikan dalam neraca
dengan penjelasan sebagai berikut:
a. Terdapat kelebihan pencatatan aset tetap di Neraca sebesar Rp2.910.023.050,00
(Rp119.890.650,00+Rp1.194.642.900+Rp695.689.500,00+Rp899.800.000,00)
yang merupakan barang hasil perolehan melalui beban DIPA APBN 2007 dan
dicatat sebagai perolehan hibah oleh RS. Jiwa Menur, RS. Kusta Sumberglagah,
RS. Paru Dungus Madiun, dan RS. Paru Batu, namun belum ada Berita Acara
Penyerahan yang menunjukkan pengalihan hak kepemilikan. Terhadap masalah
ini, Pemerintah Propinsi Jawa Timur bersedia melakukan koreksi di neraca;
b. Pengalihan aset senilai Rp820.295.000,00 berupa 3 unit gedung di RS. Paru
Dungus berdasarkan Berita Acara Serah Terima Barang Milik Negara dari Ditjen
Bina Pelayanan Medik Depkes RI kepada RS Paru Dungus Nomor
PL.02.01.1.2.69 belum dicatat di Neraca. Terhadap masalah ini, Pemerintah
Propinsi Jawa Timur bersedia melakukan koreksi di neraca;
c. Nilai perolehan hibah dalam bentuk barang sebesar Rp1.834.636.000,00
(Rp864.341.000,00 + Rp820.295.000,00 + Rp150.000.000,00) belum tersajikan
dalam Laporan Keuangan RSUD Dr Soetomo, RS Paru Dungus Madiun, dan
Dinas Pemuda dan Olah Raga.
d. Aset tetap senilai Rp2.503.589.040,00 (Rp1.877.700.000,00 + Rp395.789.440,00
+ Rp230.099.600,00) pada RS Haji Surabaya, RSUD Dr Soetomo, dan Badan
Perencanaan Provinsi tidak dapat diyakini kewajarannya. Jawaban konfirmasi dari
SKPD menunjukkan jumlah yang tidak sesuai dengan rincian berikut:
1) RS. Haji Surabaya
Rincian perolehan hibah RS Haji Surabaya dari Rekapitulasi Biro
Perlengkapan dan Administrasi Aset menunjukkan jumlah
Rp1.877.700.000,00. Namun jawaban konfirmasi dari RS Haji Surabaya
menjelaskan perolehan hibah sebesar Rp23.677.802.208,00 yang berasal dari
DIPA APBN. Jumlah yang tercatat di neraca sebesar Rp1.877.700.000,00
sehingga aset tetap tersebut tidak dapat diyakini kewajarannya.
2) RSUD Dr Soetomo
Rincian perolehan hibah RSUD Dr Soetomo dari Rekapitulasi Biro
Perlengkapan dan Administrasi Aset menunjukkan jumlah
Rp1.260.130.440,00 terdiri dari Alat Angkutan sebesar Rp864.341.000,00 dan

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 44


Alat Kedokteran sebesar Rp395.789.440,00. Jawaban konfirmasi dari RSUD
Dr Soetomo menjelaskan perolehan hibah sebesar Rp864.341.000,00 yang
berasal dari Departemen Kesehatan. Jumlah yang tercatat di neraca sebesar
Rp1.260.130.440,00 sehingga aset tetap sebesar Rp395.789.440,00 tidak
dapat diyakini kewajarannya.
3) Badan Perencanaan Provinsi
Rincian perolehan hibah Badan Perencanaan Provinsi dari Rekapitulasi Biro
Perlengkapan dan Administrasi Aset menunjukkan jumlah Rp230.099.600,00.
Namun jawaban konfirmasi dari Badan Perencanaan Provinsi menjelaskan
perolehan hibah sebesar Rp263.624.500,00 yang berasal dari DIPA APBN.
Jumlah yang tercatat di neraca sebesar Rp230.099.600,00 sehingga aset
tetap tersebut tidak dapat diyakini kewajarannya.

Hal tersebut tidak sesuai dengan


a. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tanggal 9 Desember 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah pada:
1) Pasal 1 angka 58 disebutkan bahwa barang milik daerah adalah semua barang
yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan
lainnya yang sah;
2) Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat
pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan,
dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat;
3) Pasal 24 disebutkan bahwa Lain-lain pandapatan daerah yang sah merupakan
seluruh pendapatan daerah selain PAD dan dana perimbangan, yang meliputi
hibah, dana darurat, dan lain-lain pendapatan yang ditetapkan pemerintah;
4) Pasal 25 ayat (1) disebutkan bahwa Hibah sebagaimana dimaksud dalam pasal
24 merupakan bantuan berupa uang, barang, dan/atau jasa yang berasal dari
pemerintah, masyarakat, dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri yang
tidak mengikat.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan pada:
1) PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap pada Paragraf 20 disebutkan
bahwa Pengakuan aset tetap akan sangat andal bila aset tetap telah diterima

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 45


atau diserahkan hak kepemilikannya dan atau pada saat penguasaannya
berpindah;
2) PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap pada paragraph 49 disebutkan
bahwa apabila perolehan aset tetap memenuhi criteria perolehan aset donasi,
maka perolehan tersebut diakui sebagai pendapatan pemerintah dan jumlah
yang sama juga diakui sebagai belanja modal dalam laporan realisasi
anggaran.
c. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah pada:
1) Pasal 1 angka (1) disebutkan bahwa Barang Milik Negara adalah semua
barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari
perolehan lainnya yang sah;
2) Pasal 1 angka (2) disebutkan bahwa Barang Milik Daerah adalah semua
barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari
perolehan lainnya yang sah;
d. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pada pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa
Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-
undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan
memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat;

Permasalahan di atas mengakibatkan:


a. Pendapatan hibah dan Belanja Modal disajikan lebih rendah sebesar
Rp1.834.636.000,00;
b. Aset tetap di Neraca sebesar Rp2.503.589.040,00 tidak dapat diyakini
kewajarannya.

Permasalahan tersebut disebabkan karena:


a. Ketidakcermatan Pengguna barang yang menyertakan perolehan barang dari
APBN ke dalam Laporan Mutasi Barang;
b. Kepala SKPD kurang memahami ketentuan mengenai pengakuan pendapatan
hibah dalam bentuk barang;
c. Pengguna barang kurang cermat dalam menyusun laporan mutasi barang tidak
memperhatikan dokumen pendukungnya.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 46


Atas permasalahan tersebut Biro Perlengkapan Sekretariat Daerah Pemerintah
Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa perolehan aset tetap tersebut
perlu dilakukan klarifikasi dengan SKPD. Sedangkan RSU Haji Surabaya memberikan
tanggapan bahwa Aset Tetap RSU Haji Surabaya sebesar Rp1.877.700.000,00
merupakan aset tetap yang dibiayai oleh APBN, tetapi belum ada serah terima dari
Pemerintah Pusat ke RSU Haji Surabaya.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar:
a. Menegur kepala SKPD selaku pengguna barang supaya menyusun laporan
mutasi barang tidak menyertakan aset yang diperoleh melalui beban APBN;
b. Menegur kepala SKPD selaku pengguna barang untuk mencatat pendapatan
hibah dalam bentuk barang;
c. Memerintahkan kepala SKPD selaku pengguna barang untuk berkoordinasi
dengan pihak yang memberikan barang guna mengklarifikasi status kepemilikan
aset tetap.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 47


11. Aset Tetap senilai Rp5.908.341.465,00 tidak dapat diyakini kewajarannya

Sebagai usaha untuk menyajikan nilai aset tetap di neraca, Biro Perlengkapan
dan Administrasi Aset mengumpulkan data mutasi aset tahun 2007 dari seluruh SKPD
dalam dua formulir. Formulir pertama berisi penjelasan realisasi belanja modal yang
merupakan penjelasan atas penggunaan barang yang dihasilkan dari Belanja Modal
SKPD. Formulir kedua berisi daftar penambahan aset yang berisi semua penambahan
aset SKPD baik dari realisasi belanja modal yang dipergunakan sendiri maupun
perolehan lainnya. Kedua laporan tersebut diolah untuk menghasilkan laporan aset
tetap di neraca.
Laporan penjelasan realisasi belanja modal pada salah satu SKPD yaitu Biro
Perlengkapan dan Administrasi Aset menunjukkan data sebagai berikut:
No. Uraian Jumlah (Rp)
1 Realisasi Belanja Modal Rp 11.197.893.040,00
2 Digunakan/dicatat SKPD sendiri Rp 405.651.530,00
3 Digunakan SKPD lain Rp 10.594.241.510,00
4 Dihibahkan Kab/Kota/Pihak III/LSM Rp 0,00
5 Penyesuaian peruntukan (tak menambah aset) Rp 198.000.000,00
6 Konstruksi Dalam Pengerjaan Rp 0,00

Berdasarkan pemeriksaan atas bukti-bukti Berita Acara Serah Terima,


rekapitulasi daftar aset yang dipergunakan SKPD lain, dokumen kontrak, serta daftar
penambahan aset dari masing-masing SKPD diketahui:
a. Aset yang diklasifikasikan sebagai kesalahan peruntukan sebesar
Rp198.000.000,00 berasal dari Belanja Modal Konstruksi Bangunan Khusus (kode
rekening 120.0311.32.015.5.2.3.26.009). Belanja modal ini digunakan untuk
membiayai perencanaan pembangunan masjid di lingkungan Kantor Gubernur
Provinsi Jawa Timur. Pelaksanaan melalui kontrak Nomor 027/4944/044/2006
tanggal 08 Desember 2006 yang diaddendum dengan addendum I Nomor
027/5211/044/2006 tanggal 28 Desember 2006 dan addendum II Nomor
0271/1529/044/2007 tanggal 15 Agustus 2007. Belanja ini merupakan DPA-L dari
Belanja Modal tahun 2006 yang tidak terselesaikan sehingga dianggarkan lagi
tahun 2007. Pelaksanaan konstruksi fisik dilakukan melalui DPA Dinas
Permukiman dan sampai dengan 31 Desember 2007 pembangunan belum

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 48


selesai. Biaya konstruksi fisik telah dicatat sebagai Konstruksi Dalam Pengerjaan
sedangkan Perencanaan tidak dicatat di neraca. Sesuai ketentuan, biaya
perencanaan sebesar Rp198.000.000,00 juga dicatat sebagai Konstruksi Dalam
Pengerjaan karena merupakan komponen biaya perolehan pembangunan masjid.
Terhadap masalah ini, Pemerintah Propinsi Jawa Timur bersedia melakukan
koreksi atas Laporan Keuangan.
b. Aset yang dipergunakan SKPD lain antara lain berasal dari Belanja Modal Tanah
Perkampungan (kode rekening 120.0311.32.016.5.2.3.01.029) dengan realisasi
sebesar Rp69.730.000,00. Belanja ini digunakan untuk membiayai proses
pengurusan sertifikat tanah, akta jual beli, dan pajak-pajak sebagai kelanjutan atas
jual beli tanah yang dilaksanakan pada tahun 2006. SKPD pengguna tanah
tersebut adalah RSUD Dr Soedono Madiun. Penyerahan nilai tanah tersebut dari
Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset ke RSUD Dr Soedono Madiun belum
disertai Berita Acara Serah Terima (BAST). Laporan penambahan aset pada
RSUD Dr Soedono Madiun tidak mencatat penambahan nilai tanah sementara
Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset juga tidak mencatatnya sehingga aset
tanah tersebut tidak disajikan di neraca. Seharusnya nilai aset tanah tersebut
dicatat dalam laporan barang Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset sampai
adanya BAST. Setelah adanya BAST, Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset
mengeluarkan nilai aset pada laporan aset tetapnya dan RSUD Dr Soedono
mencatat nilai aset tersebut dalam laporan aset tetapnya sehingga nilai tanah
tetap tersaji di neraca. Terhadap masalah ini, Pemerintah Propinsi Jawa Timur
bersedia melakukan koreksi atas Laporan Keuangan.
c. Barang bercorak seni dan kebudayaan sebesar Rp135.396.800,00 sesuai daftar
barang yang dipergunakan SKPD lain merupakan barang kesenian yang dipajang
di ruang VVIP Bandara dengan Biro Umum sebagai SKPD Pengguna.
Berdasarkan pemeriksaan atas dokumen terkait diketahui bahwa peralihan
penggunaan barang tersebut tidak disertai BAST. Laporan mutasi barang dan
laporan penjelasan mutasi aset Biro Umum juga tidak menunjukkan adanya
penambahan aset barang bercorak seni tersebut. Dengan demikian, barang
bercorak seni dan kebudayaan senilai Rp135.396.800,00 belum disajikan di
neraca. Terhadap masalah ini, Pemerintah Propinsi Jawa Timur bersedia
melakukan koreksi atas Laporan Keuangan.
d. Selain tanah dan barang bercorak seni, aset yang dipergunakan SKPD lain terdiri:

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 49


Alat-alat angkutan : Rp 8.344.692.000,00
Alat-alat Kantor dan Rumah Tangga : Rp 1.395.334.710,00
Alat Studio : Rp 649.088.000,00
Jumlah : Rp 10.389.114.710,00
Pemeriksaan atas laporan penjelasan realisasi belanja modal seluruh SKPD
menunjukkan bahwa selain Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset tidak ada
SKPD yang menyerahkan bidang-bidang barang tersebut ke SKPD lain.
Seharusnya jumlah tersebut sesuai dengan jumlah rekap pengelolaan barang dari
satker lain pada laporan penjelasan penambahan aset dalam mutasi barang untuk
bidang-bidang barang tersebut.
Rekap pengelolaan barang dari SKPD lain pada Laporan penjelasan penambahan
aset dalam mutasi barang untuk bidang barang tersebut adalah sebagai berikut:
Alat-alat angkutan : Rp 9.572.509.345,00
Alat-alat Kantor dan Rumah Tangga : Rp 2.788.469.925,00
Alat Studio : Rp 232.124.090,00
Jumlah : Rp 12.593.103.360,00
Dengan demikian, terdapat selisih nilai aset sebesar Rp2.203.988.650,00. Nilai
aset yang disajikan di Neraca adalah nilai berdasarkan laporan penjelasan
penambahan aset dalam mutasi barang yag dibuat SKPD sehingga aset senilai
Rp2.203.988.650,00 tidak dapat diyakini kewajarannya karena tidak dapat
dijelaskan/ditelusuri.
e. Pemeriksaan selanjutnya atas Laporan Penambahan aset dalam mutasi barang
terdapat pengelolaan barang dari SKPD lain selain aset tetap di atas yang tidak
diketahui secara pasti SKPD yang mengadakan aset tetapnya. Aset Tetap hasil
pengelolaan dari SKPD lain tersebut adalah sebagai berikut:
Bangunan Gedung : Rp 1.833.617.000,00
Monumen : Rp 428.693.900,00
Alat-alat Besar : Rp 223.839.000,00
Alat Bengkel : Rp 33.500.000,00
Alat Kedokteran : Rp 548.290.270,00
Jumlah : Rp 3.067.940.170,00
Pemeriksaan terhadap laporan penjelasan realisasi belanja modal pada seluruh
SKPD tidak menunjukkan adanya realisasi yang dipergunakan SKPD lain untuk

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 50


bidang barang tersebut. Dengan demikian aset tetap senilai Rp3.067.940.170,00
tidak dapat diyakini kewajarannya karena tidak dapat ditelusuri asal muasalnya.
f. Berdasarkan Berita Acara Serah Terima Barang antara Biro Perlengkapan dan
Administrasi Aset dengan 61 SKPD Penerima (Lampiran 3) diperoleh data aset
yang diserahterimakan terdiri dari bidang barang:
Alat-alat angkutan : Rp 7.619.300.000,00
Alat-alat Kantor dan Rumah Tangga : Rp 752.348.995,00
Alat Studio : Rp 260.191.800,00
Jumlah : Rp 8.631.840.795,00
Sedangkan yang belum disertai Berita Acara Serah Terima terdiri dari:
Alat-alat angkutan : Rp 45.000.000,00
Alat-alat Kantor dan Rumah Tangga : Rp 603.345.270,00
Alat Studio : Rp 472.516.000,00
Jumlah : Rp 1.120.861.270,00
Jumlah keduanya adalah Rp9.752.702.065,00 tidak sesuai dengan yang
dilaporkan dalam aset yang digunakan SKPD lain pada laporan penjelasan
realisasi belanja modal yang dibuat oleh Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset
sebesar Rp10.389.114.710,00. Selisih sebesar Rp636.412.645,00
(Rp10.389.114.710,00 – Rp9.752.702.065,00) tidak dapat ditelusuri atau
dijelaskan.

Permasalahan di atas tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tanggal 9 Desember 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah pada pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa
Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-
undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan
memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan pada:
1) PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap pada Paragraf 20 disebutkan
bahwa Pengakuan aset tetap akan sangat andal bila aset tetap telah diterima
atau diserahkan hak kepemilikannya dan atau pada saat penguasaannya
berpindah;

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 51


2) PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap pada paragraph 30 disebutkan
bahwa contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah:
diantaranya (d) biaya professional seperti arsitek dan insinyur;
3) PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap pada Paragraf 31 disebutkan
bahwa Tanah diakui pertama kali sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan
mencakup harga pembelian atau biaya pembebasan tanah, biaya yang
dikeluarkan dalam rangka memperoleh hak, biaya pematangan, pengukuran,
penimbunan, dan biaya lainnya yang dikeluarkan sampai tanah tersebut siap
pakai;
4) PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap pada paragraph 33 disebutkan
bahwa biaya perolehan gedung dan bangunan menggambarkan seluruh biaya
yang dikeluarkan untuk memperoleh gedung dan bangunan sampai siap
pakai. Biaya ini antara lain meliputi harga pembelian atau biaya konstruksi,
termasuk biaya pengurusan IMB, notaries, dan pajak.
c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa
Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-
undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan
memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat
d. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tanggal 21 Maret 2007
tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah pada pasal 20 ayat (1)
disebutkan bahwa Penyaluran barang milik daerah oleh penyimpan barang
dilaksanakan atas dasar Surat Perintah Pengeluaran Barang (SPPB) dari
Pengguna/Kuasa Pengguna disertai dengan Berita Acara Serah Terima;
e. Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/7/KPTS/013/2007 tentang
Pedoman Kerja dan Pelaksanaan Tugas Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun
2007 BAB XII Administrasi Pengelolaan Barang Daerah pada:
1) Huruf G. Akuntansi Barang:
a) Pencatatan barang khususnya yang berasal dari Pemegang barang agar
dapat dilaksanakan dengan akurat dan Akuntabel maka dasar pencatatan
barang berupa Bukti Pengeluaran Barang baik berupa PB.35, PB.29,
maupun Berita Acara Serah Terima Pengelolaan harus didistribusikan
sebagai berikut:

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 52


(1) Lembar ke 1 didistribusikan kepada Pemegang Barang
(Legger/pertinggal) sebagai bahan penyusunan Hasil Pengadaan barang
serta pencatatan pengeluaran dalam pembukuan barang di gudang;
(2) Tembusan/Lembar ke 2 didistribusikan kepada Pengurus
Barang/Pembantu Pengurus Barang SKPD Penerima (pengelola)
sebagai dasar pencatatan/pendaftaran barang dimaksud sebagai
kekayaan daerah dan pencatatan dimaksud dapat dilakukan secara
tepat waktu sesuai dengan metoda pengakuan akuntansi, sehingga
diperoleh data barang yang up to date dan akurat;
b) Pencatatan barang agar dapat dilaksanakan dengan akurat dan akuntabel
maka dasar pencatatan barang adalah Bukti Pengeluaran Barang berupa
Berita Acara Serah Terima Pengelolaan harus didistribusikan sebagai
berikut: b. Tembusan/lembar ke 2 didistribusikan kepada Pengurus
Barang/Pembantu Pengurus Barang SKPD Penerima (Pengelola) sebagai
dasar pencatatan/pendaftaran barang dimaksud sebagai kekayaan daerah
dan pencatatan dimaksud sebagai kekayaan daerah dan pencatatan
dimaksud dapat dilakukan secara tepat waktu sesuai dengan metoda
pengakuan akuntansi, sehingga diperoleh data barang yang up to date dan
akurat.
2) Huruf H. Penerimaan, Penyimpanan, dan Penyaluran Barang:
a) Dokumen yang menjadi dasar pelaksanaan Penerimaan Barang antara lain:
(1) Berita Acara Serah Terima Pengelolaan bagi barang-barang bantuan
dari SKPD lain lingkup Pemerintah Provinsi beserta data/dokumen yang
diperlukan;
(2) Berita Acara Serah Terima Hibah bagi barang-barang bantuan dari
Lembaga/Instansi/Perorangan di luar Pemerintah Provinsi beserta
data/dokumen yang diperlukan;
b) Khusus untuk barang-barang inventaris yang dikeluarkan untuk Unit Kerja
dilingkungan Pemerintah Provinsi harus dibuatkan Berita Acara Serah
Terima Pengelolaan dan harus diketahui serta dicatat oleh
Pengurus/Pembantu Pengurus Barang Unit/UPT Penerima (pengelola).
Sedangkan untuk barang inventaris yang dikeluarkan untuk dihibahkan
kepada Instansi/Badan Usaha/Perorangan di luar lingkup Pemerintah
Provinsi dibuatkan Berita Acara Serah Terima Hibah.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 53


Permasalahan tersebut mengakibatkan saldo akun Aset tetap sebesar
Rp5.908.341.465,00 (Rp2.203.988.650,00 + Rp3.067.940.170,00 +
Rp636.412.645,00) tidak dapat diyakini kewajarannya;

Permasalahan tersebut terjadi karena:


a. Kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset lalai tidak melakukan konfirmasi
dengan SKPD pengguna dalam penyusunan Laporan Mutasi Barang Daerah;
b. Kelalaian Kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset dalam penyaluran
barang kepada SKPD pengguna belum seluruhnya disertai Berita Acara Serah
Terima.

Atas permasalahan tersebut Pemerintah Propinsi Jawa Timur memberikan


tanggapan bahwa akan menindaklanjuti dengan serah terima dengan SKPD terkait.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar:
a. Menegur kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset untuk melakukan
konfirmasi dengan SKPD pengguna barang dalam penyusunan Laporan Mutasi
Barang Daerah;
b. Menegur kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset supaya dalam
penyerahan barang kepada SKPD lain disertai Berita Acara Serah Terima.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 54


12. Pencatatan Aset Tetap hasil pengadaan Dinas Permukiman tidak dilaksanakan
secara tertib serta Belanja Modal direalisasikan untuk Belanja Non Modal
sebesar Rp45.600.614.000,00

Pada Tahun Anggaran 2007 Dinas Permukiman merealisasikan Belanja Modal


untuk seluruh program yang dilaksanakan sebesar Rp72.314.053.779,00 dari
anggaran sebesar Rp76.679.754.880,00. Dalam hal penyajian aset tetap di neraca,
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Biro Perlengkapan dan Aset membuat
kebijakan dengan mengklasifikasikan realisasi belanja modal dalam beberapa
kelompok. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar nilai aset tetap yang disajikan di
Neraca merupakan nilai riil aset tetap yang berada di bawah pengelolaan SKPD yang
bersangkutan. Pemeriksaan atas mutasi aset dan realisasi Belanja Modal pada Dinas
Permukiman menunjukkan hal-hal berikut:
a. Penyajian Aset Tetap di Neraca
Berdasarkan Laporan Penjelasan Realisasi Belanja Modal Dinas Permukiman
yang dihimpun oleh Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset menunjukkan
realisasi Belanja Modal per bidang barang dan penggunaannya sebagai berikut:
(dalam rupiah)
Peruntukan
Realisasi Belanja Konstruksi
No Bidang Barang Dihibahkan Kesalahan
Modal Dipakai SKPD Lain Dalam
Kab/Kota peruntukan
Pengerjaan
1 Jalan dan Jembatan 21.938.911.100,00 0,00 114.400.000,00 21.824.511.100,00 0,00 0,00
2 Bangunan air 19.926.629.900,00 0,00 0,00 19.926.629.900,00 0,00 0,00
3 Instalasi 439.010.300,00 0.00 0,00 439.010.300,00 0,00 0,00
4 Jaringan 152.073.629,00 9.817.500,00 0,00 142.256.129,00 0,00 0,00
5 Bangunan Gedung 28.965.186.450,00 0,00 17.586.006.750,00 7.251.202.500,00 342.700.000,00 3.785.277.200,00
6 Alat-alat besar 261.982.000,00 261.982.000,00 0,00 0,00 0,00 0,00
7 Alat Kantor dan RT 344.575.000,00 344.575.000,00 0,00 0,00 0,00 0,00
8 Alat Studio 266.904.000,00 266.904.000,00 0,00 0,00 0,00 0,00
9 Alat Laboratorium 8.800.000,00 8.800.000,00 0,00 0,00 0,00 0,00
10 Buku/Perpustakaan 9.981.000,00 9.981.000,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Jumlah 72.314.053.779,00 902.059.900,00 17.700.406.750,00 49.583.609.929,00 342.700.000,00 3.785.277.200,00

Dari aset yang dihasilkan tersebut, yang telah dicatat di neraca adalah aset
yang dipergunakan sendiri oleh Dinas Permukiman sebesar Rp902.059.900,00
dan aset yang masih berupa konstruksi dalam pengerjaan sebesar
Rp3.785.277.200,00. Sedangkan aset-aset yang dipergunakan SKPD lain dan
aset yang dihibahkan ke Kabupaten/Kota tidak dicatat.
Data realisasi fisik belanja modal per kegiatan menunjukkan jumlah yang
berbeda dengan klasifikasi tersebut di atas. Oleh karena itu, setelah dilakukan
klasifikasi ulang oleh Dinas Permukiman, Laporan Penjelasan Realisasi Belanja
Modal Dinas Permukiman berubah menjadi:

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 55


(dalam rupiah)
Peruntukan
Realisasi Belanja Dihibahkan Konstruksi
No Bidang Barang Kesalahan
Modal Dipakai SKPD Lain Kab/Kota/Pihak Dalam
peruntukan
III/LSM Pengerjaan
1 Jalan dan Jembatan 23.942.190.200,00 0,00 119.291.000,00 23.822.899.200,00 0,00 0,00
2 Bangunan air 0,00 0,00 0.00 0,00 0,00 0,00
3 Instalasi 439.010.300,00 0,00 296.018.000,00 142.992.300,00 0,00 0,00
4 Jaringan 15.807.718.829,00 9.817.500,00 142.256.129,00 15.655.645.200,00 0,00 0,00
5 Bangunan Gedung 31.232.892.050,00 29.449.200,00 21.439.169.850,00 5.636.377.300,00 342.700.00,00 3.785.195.700,00
6 Alat-alat besar 261.982.000,00 261.982.000,00 0,00 0,00 0,00 0,00
7 Alat Kantor dan RT 344.575.000,00 344.575.000,00 0,00 0,00 0,00 0,00
8 Alat Studio 266.904.000,00 266.904.000,00 0,00 0,00 0,00 0,00
9 Alat Laboratorium 8.800.000,00 8.800.000,00 0,00 0,00 0,00 0,00
10 Buku/Perpustakaan 9.981.000,00 9.981.000,00 0,00 0,00 0,00 0,00
Jumlah 72.314.053.779,00 931.509.100,00 21.996.734.979,00 45.257.914.000,00 342.700.000,00 3.785.195.700,00

Berdasarkan data yang telah direvisi tersebut diketahui hal-hal berikut:


1) Aset yang dipakai sendiri dan belum dicatat di Neraca sebesar
Rp29.449.200,00 berupa kegiatan pembangunan rumah genset di Dinas
Permukiman. Terhadap hal ini, Pemerintah Propinsi Jawa Timur bersedia
melakukan koreksi atas Laporan Keuangan;
2) Konstruksi dalam Pengerjaan sebesar Rp3.785.195.700,00 dicatat sebesar
Rp3.785.277.200,00 sehingga lebih catat sebesar Rp81.500,00
(Rp3.785.277.200,00 - Rp3.785.195.700,00). Terhadap masalah ini,
Pemerintah Propinsi Jawa Timur bersedia melakukan koreksi atas Laporan
Keuangan;
3) Aset yang dikategorikan peruntukan SKPD lain sebesar Rp21.996.734.979,00
belum disertai Berita Acara Serah Terima antara Dinas Permukiman dengan
SKPD pengguna. Dinas Permukiman sudah tidak mencatat Aset tersebut
dalam laporan barangnya, sementara SKPD pengguna juga belum mencatat
aset tersebut. Seharusnya aset tersebut dicatat oleh Dinas Permukiman dan
menambah asetnya hingga adanya serah terima dengan SKPD Pengguna.
Terhadap masalah ini, Pemerintah Propinsi Jawa Timur bersedia melakukan
koreksi atas Laporan Keuangan;
Salah satu aset Bangunan Gedung yang dipergunakan SKPD lain adalah
gedung penunjang VVIP/VIP Bandara Juanda sebesar Rp4.584.007.700,00.
Berdasarkan pemeriksaan fisik di lokasi pembangunan pada tanggal 13 Mei
2008 diketahui bahwa didalamnya terdapat peralatan dan mesin berupa
meubelair. Perolehan meubelair tersebut menjadi satu kontrak dengan
pembangunan Bangunan Gedung. Sehingga harus dilakukan reklasifikasi atas
aset tetap Bangunan Gedung menjadi Alat Kantor dan Rumah Tangga sebesar

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 56


Rp64.936.000,00. Terhadap masalah ini, Pemerintah Propinsi Jawa Timur
bersedia melakukan reklasifikasi aset tetap di neraca;
4) Barang yang dikategorikan hibah ke pemerintah kabupaten/kota sebesar
Rp45.257.914.000,00 merupakan aset-aset yang dibangun di daerah-daerah
kabupaten/kota. Berdasarkan laporan realisasi belanja modal per kegiatan dan
konfirmasi dengan pengurus barang tiap-tiap subdinas diketahui bahwa:
a) Barang-barang tersebut nantinya akan dihibahkan kepada pemerintah
kabupaten/kota dan kelompok masyarakat.
b) Sampai dengan tanggal 31 Desember 2007 belum ada Berita Acara Serah
Terima antara Dinas Permukiman dengan Pemerintah Kabupaten/Kota;
c) Aset yang dihibahkan ke Kab/Kota sudah tidak dicatat sebagai Aset Dinas
Permukiman.
b. Realisasi Belanja Modal
Pemeriksaan atas dokumen realisasi belanja modal dan penjelasan dari Pengurus
Barang Dinas Permukiman diketahui sebagai berikut:
1) Laporan realisasi Belanja Modal per kegiatan menunjukkan adanya
penggunaan Belanja Modal sebesar Rp6.275.510.100,00 tidak sesuai dengan
klasifikasi aset yang dihasilkan sebagai berikut:
Kode Program/Kegiatan Nilai
No Realisasi Fisik
Belanja (Rp)
1 15.017.5.2.3.26.001 Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Belanja modal konstruksi/pembelian gedung kantor 119.291.000,00
2 15.021.5.2.3.26.009 Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Belanja modal konstruksi bangunan khusus 102.895.100,00
3 16.002.5.2.3.26.017
Belanja modal bangunan air kotor Gedung dan bangunan 446.036.600,00
4 17.009.5.2.3.26.009 Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Belanja modal konstruksi bangunan khusus 1.781.093.000,00
5 21.003.5.2.3.26.017
Belanja modal bangunan air kotor Gedung dan bangunan 81.187.700,00
6 21.008.5.2.3.26.017
Belanja modal bangunan air kotor Gedung dan bangunan 756.612.400,00
7 21.011.5.2.3.26.017
Belanja modal bangunan air kotor Gedung dan bangunan 974.446.200,00
8 21.012.5.2.3.26.016
Belanja modal bangunan air bersih/baku Gedung dan bangunan 88.554.400,00
9 21.013.5.2.3.26.017
Belanja modal bangunan air kotor Gedung dan bangunan 109.762.400,00
10 23.002.5.2.3.26.016
Belanja modal bangunan air bersih/baku Gedung dan bangunan 94.261.200,00
11 23.009.5.2.3.26,016
Belanja modal bangunan air bersih/baku Gedung dan bangunan 272.011.300,00
12 23.010.5.2.3.26.017
Belanja modal bangunan air kotor Gedung dan bangunan 502.410.700,00
13 23.011.5.2.3.26.017
Belanja modal bangunan air kotor Gedung dan bangunan 199.436.600,00
14 25.001.5.2.3.26.017 Bahan material yang
Belanja modal bangunan air bersih/baku dihibahkan 747.511.500,00
Total 6.275.510.100,00

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 57


Barang yang dihasilkan tidak disajikan di Neraca karena tidak dimanfaatkan
langsung oleh Dinas Permukiman;
2) Realisasi Belanja Modal sebesar Rp45.257.914.000,00 digunakan untuk
pengadaan barang yang akan dihibahkan kepada kabupaten/kota dan
kelompok masyarakat. Pengadaan barang yang akan dihibahkan lebih tepat
disajikan sebagai belanja hibah;
3) Realisasi Belanja Modal sebesar Rp342.700.000,00 digunakan untuk
pengadaan barang dan jasa yang tidak menambah nilai aset. Belanja tersebut
digunakan untuk:
Master Plan Anjungan Jatim TMII : Rp 196.000.000,00
Perencanaan Ruang Luar Anjungan Jatim TMII : Rp 97.800.000,00
Pembuatan maket dan animasi Anjungan Jatim TMII : Rp 48.900.000,00
Rp 342.700.000,00
Realisasi Belanja Modal untuk tiap kegiatan beserta penggunaannya dapat
dilihat pada lampiran 4.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:


b. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tanggal 9 Desember 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah pada pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa
Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-
undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan
memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan pada:
1) PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap pada Paragraf 20 disebutkan
bahwa Pengakuan aset tetap akan sangat andal bila aset tetap telah diterima
atau diserahkan hak kepemilikannya dan atau pada saat penguasaannya
berpindah;
2) Buletin Teknis Nomor 03 tentang Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan pada Bab IV.B.3 Skema
mapping Aset Tetap disebutkan bahwa Bangunan Air di mapping ke dalam
Jalan, Irigasi, dan Jaringan;

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 58


3) Buletin Teknis Nomor 03 tentang Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan pada Bab III.C.1.b Skema
Mapping Belanja;
d. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pada:
1) Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat
pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan,
dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat;
2) Pasal 42 ayat (1) disebutkan bahwa Belanja hibah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 37 huruf d digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah
dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada pemerintah atau pemerintah
daerah lainnya, dan kelompok masyarakat/perorangan yang secara spesifik
telah ditetapkan peruntukannya;
3) Pasal 42 ayat (3) disebutkan bahwa Pemberian hibah dalam bentuk barang
dapat dilakukan apabila barang tersebut tidak mempunyai nilai ekonomis bagi
pemerintah daerah yang bersangkutan tetapi bermanfaat bagi pemerintah atau
pemerintah daerah lainnya dan/atau kelompok masyarakat/perorangan;
4) Pasal 53 ayat (1) disebutkan bahwa Belanja modal sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 50 huruf c digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam
rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang
mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan untuk digunakan dalam
kegiatan pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin,
gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya;
5) Pasal 52 ayat (1) disebutkan bahwa Belanja barang dan jasa sebagaimana
dimaksud dalam pasal 50 huruf b digunakan untuk pengeluaran
pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas)
bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan
pemerintahan daerah;
6) Pasal 52 ayat (2) disebutkan bahwa pembelian/pengadaan barang dan/atau
pemakaian jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup belanja
barang pakai habis, bahan/material, jasa kantor, premi asuransi, perawatan
kendaraan bermotor, cetak/penggandaan, sewa rumah/gedung/gudang/parkir,
sewa sarana mobilitas, sewa alat berat, sewa perlengkapan dan peralatan

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 59


kantor, makanan dan minuman, pakaian dinas dan atributnya, pakaian kerja,
pakaian khusus dan hari-hari tertentu, perjalanan dinas, perjalanan dinas
pindah tugas dan pemulangan pegawai.
e. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tanggal 21 Maret 2007
tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah pada pasal 20 ayat (1)
disebutkan bahwa Penyaluran barang milik daerah oleh penyimpan barang
dilaksanakan atas dasar Surat Perintah Pengeluaran Barang (SPPB) dari
Pengguna/Kuasa Pengguna disertai dengan Berita Acara Serah Terima;
f. Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/7/KPTS/013/2007 tentang
Pedoman Kerja dan Pelaksanaan Tugas Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun
2007 BAB XII Administrasi Pengelolaan Barang Daerah pada:
1) Huruf G. Akuntansi Barang:
a) Pencatatan barang khususnya yang berasal dari Pemegang barang agar
dapat dilaksanakan dengan akurat dan Akuntabel maka dasar pencatatan
barang berupa Bukti Pengeluaran Barang baik berupa PB.35, PB.29,
maupun Berita Acara Serah Terima Pengelolaan harus didistribusikan
sebagai berikut:
(1) Lembar ke 1 didistribusikan kepada Pemegang Barang
(Legger/pertinggal) sebagai bahan penyusunan Hasil Pengadaan barang
serta pencatatan pengeluaran dalam pembukuan barang di gudang;
(2) Tembusan/Lembar ke 2 didistribusikan kepada Pengurus
Barang/Pembantu Pengurus Barang SKPD Penerima (pengelola)
sebagai dasar pencatatan/pendaftaran barang dimaksud sebagai
kekayaan daerah dan pencatatan dimaksud dapat dilakukan secara
tepat waktu sesuai dengan metoda pengakuan akuntansi, sehingga
diperoleh data barang yang up to date dan akurat;
b) Pencatatan barang agar dapat dilaksanakan dengan akurat dan akuntabel
maka dasar pencatatan barang adalah Bukti Pengeluaran Barang berupa
Berita Acara Serah Terima Pengelolaan harus didistribusikan sebagai
berikut: b. Tembusan/lembar ke 2 didistribusikan kepada Pengurus
Barang/Pembantu Pengurus Barang SKPD Penerima (Pengelola) sebagai
dasar pencatatan/pendaftaran barang dimaksud sebagai kekayaan daerah
dan pencatatan dimaksud sebagai kekayaan daerah dan pencatatan
dimaksud dapat dilakukan secara tepat waktu sesuai dengan metoda

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 60


pengakuan akuntansi, sehingga diperoleh data barang yang up to date dan
akurat.
2) Huruf H. Penerimaan, Penyimpanan, dan Penyaluran Barang:
a) Dokumen yang menjadi dasar pelaksanaan Penerimaan Barang antara lain:
(1) Berita Acara Serah Terima Pengelolaan bagi barang-barang bantuan
dari SKPD lain lingkup Pemerintah Provinsi beserta data/dokumen yang
diperlukan;
(2) Berita Acara Serah Terima Hibah bagi barang-barang bantuan dari
Lembaga/Instansi/Perorangan di luar Pemerintah Provinsi beserta
data/dokumen yang diperlukan;
b) Khusus untuk barang-barang inventaris yang dikeluarkan untuk Unit Kerja
dilingkungan Pemerintah Provinsi harus dibuatkan Berita Acara Serah
Terima Pengelolaan dan harus diketahui serta dicatat oleh
Pengurus/Pembantu Pengurus Barang Unit/UPT Penerima (pengelola).
Sedangkan untuk barang inventaris yang dikeluarkan untuk dihibahkan
kepada Instansi/Badan Usaha/Perorangan di luar lingkup Pemerintah
Provinsi dibuatkan Berita Acara Serah Terima Hibah.

Permasalahan tersebut mengakibatkan:


a. Saldo akun Belanja modal disajikan lebih tinggi sebesar Rp45.600.614.000,00
(Rp45.257.914.000,00 + Rp342.700.000,00);
b. Saldo akun Belanja hibah disajikan lebih rendah sebesar Rp45.257.914.000,00;
c. Saldo akun Belanja barang disajikan lebih rendah sebesar Rp342.700.000,00.

Permasalahan tersebut disebabkan karena:


a. Ketidakcermatan Dinas Permukiman dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah
dalam menyusun dan menganggarkan belanja modal dan belanja hibah;
b. Pengurus barang dalam menyusun laporan barang tidak memperhatikan
dokumen-dokumen pendukung;
c. Kurangnya koordinasi antara PPTK, Bendahara Pengeluaran, dan Pengurus
Barang dalam menatausahakan hasil pengadaan.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 61


Atas permasalahan tersebut Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset
memberikan tanggapan bahwa koreksi penambahan aset akan dilakukan setelah
berkoordinasi dengan Dinas Permukiman.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar:
a. Menegur Tim Penyusun Anggaran Daerah supaya dalam menganggarkan belanja
modal, belanja hibah, dan belanja barang memperhatikan ketentuan yang berlaku;
b. Menegur Kepala Dinas Permukiman supaya mencatat aset tetap yang akan
dipergunakan SKPD lain sampai Berita Acara Serah Terima Barang diterbitkan;
c. Memerintahkan PPTK, Bendahara Pengeluaran, dan Pengurus Barang untuk
meningkatkan koordinasi dalam penatausahaan pengelolaan pengadaan barang.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 62


13. Tanah seluas 10.524.378 m2 dan senilai Rp1.317.148.931.282,00 belum
bersertifikat atas nama Pemerintah Daerah dan tidak didukung bukti
kepemilikan

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyajikan nilai tanah di Neraca per 31


Desember 2007 sebanyak 3.082 bidang seluas 66.756.256 m2 dengan nilai sebesar
Rp12.382.282.231.109,00. Pemeriksaan atas data tanah dan konfirmasi dengan Biro
Perlengkapan dan Administrasi Aset diketahui bahwa belum semua tanah yang
dimiliki telah bersertifikat atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Data tanah
pada Biro Perlengkapan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
No Uraian Bidang Luas (m2) Nilai (Rp)
1 Tanah yang sudah bersertifikat 1.073 21.761.277 5.258.438.235.461,00
a.n. Pemprov
2 Tanah yang belum bersertifikat 2.009 44.994.979 7.123.843.995.648,00
a.n. Pemprov
Jumlah tanah yang dikelola 3.082 66.756.256 12.382.282.231.109,00

Tanah yang belum bersertifikat atas nama Pemprov dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a. Tanah pekarangan, perumahan, dan perkantoran yang tidak bersertifikat atas
nama pemerintah propinsi terdiri dari 562 bidang dengan luas 5.249.415 m2
senilai Rp4.224.945.720.029,00. Sejumlah 168 bidang tanah dengan luas
3.504.406 m2 senilai Rp3.444.188.658.310,00 telah dilengkapi dengan sertifikat
asli atas nama pihak lain, copy sertifikat, akte, surat ukur, dan petok D. Sementara
tanah 394 bidang dengan luas 1.745.009 m2 senilai Rp780.757.061.719,00 tidak
memiliki bukti pendukung.
b. Tanah berupa saluran dan jaringan yang tidak bersertifikat terdiri dari 553 bidang
dengan luas 1.549.912 m2 senilai Rp83.295.915.115,00;
c. Tanah berupa jalan dan jembatan yang tidak bersertifikat terdiri dari 627 bidang
dengan luas 33.907.809 m2 senilai Rp2.455.217.667.309,00. Sejumlah 543
bidang tanah dengan luas 26.678.352 senilai Rp2.002.121.712.861 telah
dilengkapi dengan sertifikat asli atas nama pihak lain, copy sertifikat, akte, surat
ukur, dan Petok D. Sementara 84 bidang tanah dengan luas 7.229.457 m2 senilai
Rp453.095.954.448,00 tidak memiliki bukti pendukung;
d. Tanah yang dimiliki pihak lain dan dicatat di neraca terdiri atas 267 bidang dengan
luas 4.287.843 m2 senilai Rp360.384.693.195,00. Status kepemilikan tanah ini

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 63


tidak jelas karena input dalam SIMBADA menggunakan kode kepemilikan pihak
lain, namun nilainya ikut disajikan dalam neraca.

Menurut penjelasan Kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset, sertifikasi


tanah telah dilakukan secara bertahap. Mulai tahun 2003 telah mengalokasikan
anggaran untuk sertifikasi tanah melalui DAP Biro Perlengkapan dan Administrasi
Aset maupun DPA masing-masing SKPD. Sertifikasi tersebut teah menghasilkan 123
bidang tanah seluas 1.020.461m2. Namun demikian, proses sertifikasi tanah di BKN
membutuhkan waktu yang cukup lama.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2006 tentang
Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah pada pasal 33 ayat (1) disebutkan
bahwa barang milik Negara/daerah berupa tanah harus disertifikatkan atas nama
Pemerintah Republik Indonesia/pemerintah daerah yang bersangkutan;
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Barang Milik Daerah pada:
1) Pasal 45 ayat (1) disebutkan bahwa Pengelola, pengguna dan/atau kuasa
pengguna wajib melakukan pengamanan barang milik daerah yan gberada
dalam penguasaannya;
2) Pasal 45 ayat (2) disebutkan bahwa Pengamanan barang milik daerah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi: diantaranya huruf d, disebutkan
bahwa pengamanan hukum antara lain meliputi kegiatan melengkapi bukti
status kepemilikan;
3) Pasal 46 ayat (1) disebutkan bahwa Barang milik daerah berupa tanah harus
disertifikatkan atas nama Pemerintah Daerah.

Kondisi di atas mengakibatkan:


a. Aset Tetap berupa tanah senilai Rp1.317.148.931.282,00 (Rp780.757.061.719,00
+ Rp83.295.915.115 + Rp453.095.954.448,00) tidak dapat diyakini kewajaranya;
b. Melemahkan posisi Pemerintah Daerah jika sewaktu-waktu terjadi sengketa tanah
dengan pihak lain

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 64


Permasalahan tersebut terjadi karena:
a. Pengguna barang kurang memperhatian pentingnya pengamanan atas dokumen
kepemilikan aset daerah;
b. Proses kepengurusan sertifikat tanah di BKN membutuhkan waktu yang cukup
lama.

Atas temuan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan


bahwa mulai tahun anggaran 2004 Pemerintah Provinsi secara bertahap dan
berkelanjutan mengalokasikan anggaran untuk sertifikat aset melalui DPA Biro
Perlengkapan dan Administrasi Aset maupun DPA masing-masing SKPD yang
asetnya belum didukung sertifikat, dan telah menghasilkan 123 bidang tanah seluas
1.020.461 m2 telah bersertifikat atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar:
a. Memerintahkan Kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset beserta kepala
SKPD selaku pengguna barang untuk bersama-sama melaksanakan inventarisasi
dokumen kepemilikan tanah;
b. Memerintahkan Kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset untuk
melengkapi bukti kepemilikan aset Pemerintah Daerah dan berkoordinasi dengan
Badan Pertanahan Nasional dalam proses sertifikasi tanah.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 65


14. Saldo Akun Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran sebesar
Rp990.653.996,00 tidak dapat diyakini kewajarannya serta belum dipisahkan
antara bagian lancar dan tidak lancar

Neraca Pemerintah Provinsi Jawa Timur per 31 Desember 2007 menunjukkan


saldo akun Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran sebesar Rp990.653.996,00.
Jumlah tersebut merupakan tagihan atas penjualan perumahan daerah kepada
pegawai Pemerintah Provinsi. Setiap bulan para pegawai mengangsur melalui
pemotongan gaji atau setoran langsung yang dikoordinir oleh Biro Perlengkapan dan
Administrasi Aset.
Dalam menyajikan saldo Tagihan Penjualan Angsuran, Pemerintah Provinsi
Jawa Timur tidak memilahnya menjadi bagian lancar dan bagian tidak lancar.
Seluruhnya disajikan sebagai bagian lancar Tagihan Penjualan Angsuran yang
diklasifikasikan sebagai aset lancar. Padahal berdasarkan karakteristiknya,
pembayaran angsuran tersebut tidak hanya berlangsung selama satu tahun. Sesuai
Standar Akuntansi Pemerintahan seharusnya Tagihan Penjualan Angsuran tersebut
disajikan sebagai Aset Lainnya, kemudian setiap tahun direklasifikasi ke Bagian
Lancar Tagihan Penjualan Angsuran sesuai jumlah yang harus dibayar pada tahun
berjalan. Sementara itu, rekening Aset Lainnya-Tagihan Penjualan Angsuran di
Neraca menunjukkan saldo nol.
Data yang diperoleh selama pemeriksaan hanya rekapitulasi jumlah penerimaan
angsuran selama tahun anggaran 2007 sebesar Rp178.721.032,00. Data mengenai
jangka waktu angsuran beserta besarnya kewajiban tidak diperoleh sehingga tim tidak
dapat mengajukan usulan jurnal koreksi.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun


2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan pada:
a. PSAP Nomor 01 paragraf 60 disebutkan bahwa Aset nonlancar lainnya
diklasifikasikan sebagai aset lainnya. Termasuk dalam aset lainnya adalah aset
tak berwujud, tagihan penjualan angsuran yang jatuh tempo lebih dari 12 (dua
belas) bulan, dan aset kerjasama dengan fihak ketiga (kemitraan);
b. Buletin Teknis SAP Nomor 02 tentang penyusunan neraca awal Pemda pada Bab
IV.C.1. Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran disebutkan bahwa Bagian
Lancar Tagihan Penjualan Angsuran merupakan reklasifikasi tagihan penjualan

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 66


angsuran jangka panjang ke dalam piutang jangka pendek. Reklasifikasi ini karena
adanya tagihan angsran jangka panjang yang jatuh tempo pada tahun berjalan.
Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran dicatat sebesar nilai nominal yaitu
sejumlah tagihan penjualan angsuran yang harus diterima dalam waktu satu
tahun;
c. Buletin Teknis SAP Nomor 02 tentang Penyusunan Neraca Awal Pemda pada
VIII.B. Tagihan Penjualan Angsuran disebutkan bahwa Tagihan Penjualan
Angsuran menggambarkan jumlah yang dapat diterima dari penjualan aset
pemerintah secara angsuran kepada pegawai pemerintah. Contoh tagihan
penjualan angsuran antara lain adalah penjualan rumah dinas dan penjualan
kendaraan dinas. Tagihan penjualan angsuran dinilai sebesar nilai nominal dari
kontrak/berita acara penjualan aset yang bersangkutan setelah dikurangi dengan
angsuran yang telah dibayarkan oleh pegawai ke kas negara/kas daerah atau
daftar saldo tagihan penjualan angsuran.

Kondisi di atas mengakibatkan penyajian saldo akun Bagian Lancar Tagihan


Penjualan Angsuran sebesar Rp990.653.996,00 tidak dapat diyakini kewajarannya.

Permasalahan di atas terjadi karena PPKD dalam menyusun neraca lalai


menyajikan Tagihan Penjualan Angsuran sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar menegur Kepala Biro Keuangan selaku Pejabat
Pengelola Keuangan Daerah untuk menyajikan Tagihan Penjualan Angsuran sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 67


15. Laporan Keuangan belum menyajikan pengelolaan keuangan Unit Paviliun dan
Depo Farmasi pada RSU Dr Saiful Anwar

Pada tahun anggaran 2007 Pemprov Jatim telah menyusun Laporan Keuangan
sebagai pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBD 2007. Laporan Keuangan
tersebut menyajikan kinerja keuangan seluruh SKPD dan nilai kekayaan Provinsi
Jatim. Pemeriksaan atas dokumen pertanggungjawaban menunjukkan adanya dana
cadangan sebesar Rp21.500.000.000,00 yang digunakan sebagai jaminan utang RSU
Dr Saiful Anwar dan penggunaan sisa dana dari belanja tak terduga sebesar
Rp1.479.314.252,00. LRA dan Neraca RSU Dr Saiful Anwar tidak menunjukkan posisi
utang dan sisa dana tak terduga tersebut. Berdasarkan konfirmasi dengan Direktur
RSU Dr Saiful Anwar yang dijawab dengan surat nomor 900/3533/308/2008 tanggal
13 Mei 2008 diketahui bahwa pinjaman digunakan untuk membangun Unit Paviliun
dan sisa dana dari belanja tak terduga digunakan oleh Depo Farmasi sebagai uang
muka pembayaran obat. Kedua hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Unit Paviliun
Unit Paviliun dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur Nomor 81 Tahun 2002
tentang Pengelolaan Penyelenggaraan Kelas Utama (Paviliun) di Rumah Sakit
Provinsi. Berdasarkan Keputusan tersebut, Unit Paviliun dibentuk dengan maksud
untuk memberikan pelayanan kepada pasien melalui pengelolaan khusus. Unit
Paviliun merupakan unit pelayanan kesehatan yang bersifat otonom berada di
bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Direktur. Dalam hal pengelolaan
keuangan, pendapatan unit paviliun dikelola melalui rekening tersendiri di Bank
Pemerintah dan terpisah dari pendapatan rumah sakit. Laporan keuangan tahun
2007 unit paviliun menunjukkan data berikut:
Pendapatan : Rp17.842.307.437,00
Belanja : Rp12.457.180.208,00
Pembayaran bunga pinjaman : Rp 1.015.875.000,00
Pembayaran pokok pinjaman : Rp 3.655.000.000,00
Neraca per 31 Desember 2006 menunjukkan posisi keuangan Unit Paviliun
sebagai berikut:
Total Aktiva : Rp28.912.135.492,50
Total Kewajiban : Rp20.615.593.272,70
Total Ekuitas : Rp 8.296.542.219,80

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 68


Posisi Kas di Bank per 28 Desember 2007 pada rekening 0041014966
menunjukkan saldo sebesar Rp1.786.148.534,96. Sedangkan Neraca per 31
Desember 2007 tidak diperoleh karena sedang dalam masa pemeriksaan oleh
KAP. Secara organisasi Unit Paviliun bertanggungjawab kepada Direktur Rumah
Sakit, namun pengelolaan keuangan dilakukan secara terpisah dan tidak digabung
ke dalam Laporan keuangan RSU Dr Saiful Anwar maupun Laporan Keuangan
Pemerintah Provinsi. Pemisahan pengelolaan keuangan unit paviliun dari
keuangan RSU Dr Saiful Anwar maupun Keuangan Daerah dijelaskan dalam
Keputusan Gubernur Provinsi Jawa Timur Nomor 81 Tahun 2002 tentang
Pengelolaan Penyelenggaraan Kelas Utama (Paviliun) di Rumah Sakit Bab V
Pengelolaan Keuangan sebagai berikut:
1) Pasal 8
a. Ayat (1): Pengelola Kelas Utama (Paviliun) menyusun daftar rencana
anggaran dan belanja Kelas Utama (Paviliun) yang diusulkan oleh
Pengelola Kelas Utama (Paviliun) dan ditetapkan oleh Direktur.
Pasal 8 ayat (1) ini menjelaskan bahwa pengesahan dan penetapan RAB
unit paviliun dilakukan oleh Direktur dan tidak digabung menjadi DPA
Rumah Sakit;
b. Ayat (2): Pendapatan Kelas Utama (Paviliun) dikelola melalui rekening
tersendiri di Bank Pemerintah dan terpisah dari pendapatan rumah sakit.
Pasal 8 ayat (2) ini menjelaskan bahwa pendapatan unit paviliun terpisah
dari pendapatan rumah sakit. Dengan demikian, pendapatan unit paviliun
bukan merupakan bagian dari pendapatan rumah sakit;
c. Ayat (3): Pendapatan Kelas Utama (Paviliun) dari penggunaan fasilitas
rumah sakit pengaturan kontribusi ke rumah sakit ditetapkan oleh masing-
masing Direktur.
Pasal 8 ayat (3) ini menjelaskan bahwa unit paviliun hanya memberikan
kontribusi ke rumah sakit atas dasar pemanfaatan fasilitas rumah sakit.
Penetapan besaran kontribusi ditetapkan oleh masing-masing Direktur.
Dengan demikian, unit paviliun merupakan unit yang terpisah dari rumah
sakit karena unit dalam pemerintah daerah tidak dikenakan retribusi atau
pungutan atas pemanfaatan aset/barang daerah. Selain itu, penetapan
besaran tarif kontribusi ditetapkan oleh Direktur. Padahal tarif retribusi atas

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 69


pemanfaatan kekayaan daerah seharusnya ditetapkan dengan Peraturan
Daerah.
2) Pasal 9 Ayat (1): Setiap tahun anggaran atasan langsung bendahara
ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur atas usulan Pengelola Kelas
Utama;
3) Pasal 10
a. Ayat (1): Setiap tahun anggaran Bendahara ditetapkan dengan Surat
Keputusan Direktur atas usulan Pengelola Kelas Utama (Paviliun);
Pasal 9 ayat (1) dan pasal 10 ayat (1) ini menjelaskan bahwa kewenangan
penetapan bendahara ada di Direktur. Sesuai ketentuan, penetapan
bendahara merupakan kewenangan Kepala Daerah selaku pemegang
kekuasaan pengelola keuangan daerah.
b. Ayat (3) Bendahara dengan atasan Langsung Bendahara, membuka
rekening atas nama jabatan pada Bank Pemerintah;
4) Pasal 12: Penatausahaan keuangan di Kelas Utama (Paviliun) dilaksanakan
sesuai ketentuan yang berlaku.
Pasal ini tidak menjelaskan ketentuan yang digunakan dalam pengelolaan
keuangan di Kelas Utama (Paviliun). Apakah menggunakan ketentuan
pengelolaan keuangan SKPD, BLUD, atau BUMD.
5) Pasal 13: Laporan pertanggungjawaban keuangan Kelas Utama (Paviliun)
memakai standar laporan akuntansi dan disampaikan oleh Pengelola Paviliun
kepada Direktur secara periodik (bulanan, triwulan, tahunan).
Pasal ini tidak menjelaskan secara jelas standar laporan akuntansi yang
digunakan oleh unit paviliun. Apakah menggunakan standar akuntansi
pemerintahan ataukah standar akuntansi sektor privat. Ketidakjelasan ini
berdampak pada laporan keuangan yang dihasilkan di mana laporan
operasional menggunakan format laporan realisasi anggaran SKPD sementara
neraca menggunakan format neraca perusahaan komersial.
b. Depo Farmasi
Depo Farmasi dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 4
Tahun 2003 tentang Pengelolaan Pelayanan Obat dan Alat Kesehatan di Rumah
Sakit Provinsi. Pembentukan depo farmasi dimaksudkan untuk memberikan
pelayanan obat-obatan dan alat kesehatan kepada pasien serta untuk
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Provinsi melalui

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 70


pengelolaan dengan Sistem Revolving Fund. Dalam hal pengelolaan keuangan,
pendapatan depo farmasi dikelola tersendiri di Bank Pemerintah dan terpisah dari
pendapatan rumah sakit. Tim tidak dapat memperoleh laporan keuangan Depo
Farmasi. Informasi keuangan yang diperoleh hanya sebatas pada jumlah klaim
depo farmasi kepada PT ASKES dan utang kepada penyedia dan pemasok obat-
obatan dengan rincian sebagai berikut:
Klaim kepada PT Askes yang belum dibayar : Rp13.401.114.315,00
Utang kepada pemasok obat : Rp 4.405.154.920,00

Pemisahan pengelolaan keuangan Depo Farmasi dari keuangan RSU Dr Saiful


Anwar maupun Keuangan Daerah dijelaskan dalam Keputusan Gubernur Provinsi
Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Pelayanan dan Alat
Kesehatan di Rumah Sakit Propinsi Bab IV Pengelolaan Keuangan sebagai
berikut:
1) Pasal 6
a. Ayat (1): Pengelola pelayanan obat dan alat kesehatan menyusun daftar
rencana anggaran pendapatan dan belanja yang diketahui oleh Kepala
Instalasi Farmasi dan ditetapkan oleh Direktur.
Pasal 6 ayat (1) ini menjelaskan bahwa pengesahan dan penetapan RAB
Depo Farmasi dilakukan oleh Direktur dan tidak digabung menjadi DPA
Rumah Sakit;
b. Ayat (2): Pendapatan dari pelayanan obat dan alat kesehatan dikelola
dalam rekening tersendiri di Bank Pemerintah, terpisah dari pendapatan
Rumah Sakit Propinsi dan harus disetor dalam waktu 1 x 24 jam.
Pasal 6 ayat (2) ini menjelaskan bahwa pendapatan Depo Farmasi terpisah
dari pendapatan rumah sakit. Dengan demikian, pendapatan Depo
Farmasi bukan merupakan bagian dari pendapatan rumah sakit;
c. Ayat (3): Pendapatan pelayanan obet dan alat kesehatan dari penggunaan
fasilitas rumah sakit propinsi dan pengaturan kontribusi ke rumah sakit
propinsi ditetapkan oleh Direktur.
Pasal 6 ayat (3) ini menjelaskan bahwa Depo Farmasi hanya memberikan
kontribusi ke rumah sakit atas dasar pemanfaatan fasilitas rumah sakit.
Penetapan besaran kontribusi ditetapkan oleh Direktur. Dengan demikian,
Depo Farmasi merupakan unit yang terpisah dari rumah sakit karena unit

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 71


dalam pemerintah daerah tidak dikenakan retribusi atau pungutan atas
pemanfaatan aset/barang daerah. Selain itu, penetapan besaran tarif
kontribusi ditetapkan oleh Direktur. Padahal tarif retribusi atas
pemanfaatan kekayaan daerah seharusnya ditetapkan dengan Peraturan
Daerah.
2) Pasal 7 Ayat (1): Setiap tahun anggaran atasan langsung bendahara
ditetapkan dengan Keputusan Direktur atas usulan Kepala Instalasi Farmasi.
3) Pasal 8
a) Ayat (1): Setiap tahun anggaran Bendahara ditetapkan dengan Keputusan
Direktur atas usulan Kepala Instalasi Farmasi;
Pasal 7 ayat (1) dan pasal 8 ayat (1) ini menjelaskan bahwa kewenangan
penetapan bendahara ada di Direktur. Sesuai ketentuan, penetapan
bendahara merupakan kewenangan Kepala Daerah selaku pemegang
kekuasaan pengelola keuangan daerah.
b) Ayat (3) Bendahara dengan atasan Langsung Bendahara, membuka
rekening atas nama jabatan pada Bank Pemerintah;
4) Pasal 10: Penatausahaan keuangan terhadap pengelolaan pelayanan obat
dan alat kesehatan dilaksanakan sesuai ketentuan yang ditetapkan Direktur.
Pasal ini menunjukkan adanya kewenangan Direktur untuk menetapkan
ketentuan penatausahaan keuangan Depo Farmasi. Dengan demikian tidak
ada kejelasan pedoman mengenai penatausahaan keuangan yang dilakukan
Depo Farmasi.
5) Pasal 11: Laporan pertanggungjawaban keuangan Pengelolaan Pelayanan
Obat dan Alat Kesehatan memakai standar laporan Akuntansi Keuangan
dengan Sistem Accrual Basic dan disampaikan oleh Pengelola Pelayanan
Obat dan Alat Kesehatan kepada Direktur dan diketahui Kepala Instalasi
Farmasi secara periodik (bulanan, triwulan, tahunan).
Pasal ini menjelaskan secara jelas standar laporan akuntansi yang digunakan
oleh Depo Farmasi adalah standar laporan Akuntansi Keuangan dengan
sistem accrual basic.

Berdasarkan penjelasan dari Sekretaris RSU Dr Saiful Anwar mengacu pada SK


Gubernur tentang pembentukan kedua unit tersebut diketahui bahwa pengelolaan
keuangan dilaksanakan secara terpisah di luar mekanisme APBD sehingga Laporan

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 72


Keuangan unit otonom tidak digabung dengan Laporan Keuangan RSU Dr Saiful
Anwar maupun Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Secara badan hukum, kedudukan kedua unit otonom tersebut bukan sebagai
BUMD maupun Badan Layanan Umum (BLUD). BLUD pun masih mensyaratkan
adanya konsolidasi Laporan Keuangan untuk disajikan sebagai bagian dari Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah. Sedangkan Laporan Keuangan BUMD dilampirkan
dalam pertanggungjawaban APBD. Secara organisasi unit otonom merupakan bagian
dari RSU Dr Saiful Anwar karena bertanggung jawab kepada Direktur Rumah Sakit.
Dengan demikian, Laporan Keuangan unit otonom seharusnya dikonsolidasikan
dengan Laporan Keuangan RSU Dr Saiful Anwar dan menjadi bagian dari Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah.
Dilihat dari sisi Laporan Keuangan yang disajikan, khususnya Laporan
Operasional, pada Unit Paviliun format dan susunannya sesuai dengan Laporan
Realisasi Anggaran SKPD. Jenis pendapatan yang dipungut unit paviliun dari pasien
berupa retribusi pelayanan kesehatan. Sesuai ketentuan, yang berhak memungut
retribusi adalah pemerintah daerah.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah pada:
1) Pasal 2 disebutkan bahwa ruang lingkup keuangan daerah meliputi:
a) hak daerah untuk memungut pajak Daerah dan retribusi daerah serta
melakukan pinjaman;
b) kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan Pemerintah daerah dan
membayar tagihan pihak ketiga;
c) penerimaan daerah;
d) pengeluaran daerah;
e) kekayaan Daerah yang dikelola sendiri atau pihak lain berupa uang, surat
berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan
uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah;
f) kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka
penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum;
2) Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa keuangan daerah dikelola secara tertib, taat
pada peraturan perundang-undangan, efisien, efektif, transparan, dan

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 73


bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat;
3) Pasal 4 ayat (2) disebutkan bahwa pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan
dalam suatu sistem yang terintegrasi yang diwujudkan dalam APBD yang setiap
tahun ditetapkan dengan peraturan daerah.
4) Pasal 145 disebutkan pemerintah daerah dapat membentuk BLUD untuk:
a) Menyediakan barang dan/atau jasa untuk layanan umum;
b) Mengelola dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau
pelayanan kepada masyarakat;
5) Pasal 146 ayat (2) disebutkan bahwa kekayaan BLUD merupakan kekayaan
daerah yang tidak dipisahkan serta dikelola dan dimanfaatkan sepenuhnya
untuk menyelenggarakan kegiatan BLUD yang bersangkutan;

Kondisi di atas mengakibatkan:


a. Laporan Keuangan Daerah tidak menggambarkan kondisi riil posisi keuangan yang
dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Timur minimal Pendapatan sebesar
Rp17.842.307.437,00 dan Belanja sebesar Rp12.457.180.208,00;
b. Tidak terpenuhinya prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan
keuangan daerah yang membuka peluang terjadinya penyalahgunaan keuangan
daerah.

Permasalahan tersebut terjadi karena kebijakan Gubernur dalam pembentukan


unit otonom di lingkungan Rumah Sakit Provinsi tidak memperhatikan ketentuan yang
berlaku.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa kebijakan


Gubernur Jawa Timur tentang pengelolaan Paviliun membantu kinerja RSU Syaiful
Anwar.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 74


Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar meninjau kembali Keputusan Gubernur Jawa Timur
Nomor 81 Tahun 2002 tentang Pengelolaan Penyelenggaraan Kelas Utama (Paviliun)
di Rumah Sakit Provinsi dan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2003
tentang Pengelolaan Pelayanan Obat dan Alat Kesehatan di Rumah Sakit Provinsi
untuk disesuaikan dengan ketentuan pengelolaan keuangan daerah dalam PP
58/2005, Permendagri 13/2006, dan Permendagri 59/2007.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 75


16. Pendapatan bunga deposito dana cadangan sebesar Rp28.492.471.087,75 belum
disajikan dalam pendapatan daerah maupun pembiayaan pengeluaran

Untuk persiapan membiayai kegiatan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur,


Pemerintah Provinsi Jawa Timur memutuskan membentuk Dana Cadangan. Dana
Cadangan Pilgub dibentuk berdasarkan Perda Nomor 7 Tahun 2006 tentang
Pembentukan Dana untuk Pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur
Jawa Timur Tahun 2008. Perda tersebut menyebutkan Dana Cadangan dibentuk
selama dua tahun dengan rincian sebagai berikut:
a. Tahun 2006 dicadangkan sebesar Rp210.000.000.000,00;
b. Tahun 2007 dicadangkan sebesar Rp190.000.000.000,00.
Sehingga total dana cadangan pilgub sebesar Rp400.000.000.000,00. Dana
Cadangan disimpan dalam rekening tersendiri pada Bank Jatim dengan nomor
rekening 0011203035 atas nama Dana Pilkada Jatim.
Dana Cadangan kemudian ditempatkan pada Deposito Bank Jatim untuk
memperoleh bunga yang akan menambah saldo Dana Cadangan. Selama tahun 2006
dan 2007, total bunga deposito dana cadangan yang diperoleh adalah sebesar
Rp28.492.471.087,75. Jumlah bunga tersebut telah disajikan di neraca sebagai
penambah nilai dana cadangan sehingga total dana cadangan pemilihan gubernur per
31 Desember 2007 telah mencapai Rp428.492.471.087,75. Hal ini telah sesuai
dengan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
pasal 63 ayat 8.
Pemeriksaan terhadap Laporan Realisasi Anggaran dan penjabarannya tidak
menunjukkan aktivitas penerimaan bunga tersebut maupun penambahan dana
cadangan melalui pembiayaan pengeluaran. Seharusnya penerimaan bunga deposito
dana cadangan dicatat dalam pos Lain-lain PAD yang Sah-Pendapatan bunga
kemudian penambahan dana cadangan dicatat dalam Pembiayaan Pengeluaran-
Pembentukan Dana Cadangan.

Permasalahan di atas tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri


Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
pada:
a. Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat
pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 76


bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat;
b. Pasal 20 ayat (2) disebutkan bahwa Seluruh pendapatan daerah, belanja daerah,
dan pembiayaan daerah dianggarkan secara bruto dalam APBD;
c. Pasal 26 ayat (4) disebutkan bahwa Jenis lain-lain pendapatan asli daerah yang
sah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, disediakan untuk
menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak
daerah, retribusi daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup: diantaranya b. jasa giro; c.
pendapatan bunga

Kondisi di atas mengakibatkan:


a. Saldo akun Lain-lain PAD yang Sah disajikan lebih rendah sebesar
Rp28.492.471.087,00;
b. Saldo akun Pembiayaan pengeluaran-pembentukan dana cadangan disajikan
lebih rendah sebesar Rp28.492.471.087,00.

Permasalahan tersebut terjadi karena:


a. PPKD lalai tidak menyajikan menganggarkan pendapatan bunga deposito dana
cadangan dalam APBD;
b. Tim Anggaran Pemerintah Daerah tidak cermat dalam mengevaluasi usulan terkait
anggaran pendapatan bunga Dana Cadangan dalam APBD;

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa penempatan


bunga deposito Dana Cadangan Pilkada sebagai penambah Dana Cadangan
dilakukan berdasar Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 63 ayat 8 tentang Dana Cadangan, sehingga
dalam Laporan Keuangan Pemerintah Propinsi Jawa Timur Dana Cadangan diakui
beserta bunganya.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 77


Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar:
a. Menegur PPKD untuk menyajikan pendapatan bunga deposito dana cadangan
dalam Laporan Realisasi Anggaran;
b. Menegur Tim Anggaran Pemerintah Daerah supaya menganggarkan pendapatan
bunga deposito dana cadangan dalam APBD;

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 78


17. Pengelolaan Dana Pinjaman tidak sesuai ketentuan dan pembayaran bunga
beserta pokok pinjaman sebesar Rp8.670.875.000,00 tidak sesuai Standar
Akuntansi Pemerintahan

Berdasarkan Neraca Pemerintah Provinsi Jawa Timur diketahui terdapat saldo


utang jangka panjang sebesar Rp6.559.051.226,00. Pemeriksaan terhadap
pembayaran angsuran dan bunga tersebut diketahui bahwa penetapan angsuran tidak
dianggarkan dalam pos pembiayaan. Selain utang RSU Dr Soetomo Surabaya, dari
pemeriksaan dana cadangan di Kantor Kas Daerah diketahui terdapat utang jangka
panjang pada RSU Dr Saiful Anwar Malang sebesar Rp21.500.000.000,00 yang tidak
disajikan dalam Neraca. Kedua utang jangka panjang tersebut dijamin dengan
Deposito Dana Cadangan senilai Rp41.500.000.000,00. Permasalahan tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
a. RSU Dr Soetomo Surabaya;
RSU Dr Soetomo melaksanakan pinjaman kepada Bank Jatim pada tahun
2002 melalui Surat Pemberitahuan Pemberian Kredit Nomor 040/071/Krd/SDK-II
tanggal 20 Agustus 2002 sebesar Rp20.000.000.000,00. Tingkat bunga pinjaman
sebesar 6% dengan masa pinjaman sampai dengan tahun 2010 (termasuk grace
period 2 tahun). Untuk memperoleh pinjaman tersebut, Pemprov menggunakan
sebagian dana cadangan sebagai jaminan pinjaman. Dasar penggunaan dana
cadangan sebagai jaminan adalah Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor
58 Tahun 2002 tentang Penggunaan Sebagian Dana Cadangan Pemerintah
Provinsi Jawa Timur sebagai Jaminan Fasilitas Kredit antara Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) Dr. Soetomo Surabaya dengan PT Bank Jatim.
Berdasarkan surat jawaban atas konfirmasi diketahui bahwa Dana
Pinjaman digunakan untuk pembangunan Gedung Rawat Inap Utama. Surat
perjanjian pinjaman ditandatangani oleh pihak Rumah Sakit dan Bank Jatim. Dana
Pinjaman diterima tidak melalui Kas Daerah melainkan langsung ditransfer ke
rekening pembangunan dan pengelolaan pavilyun RSU Dr Soetomo di Bank Jatim
Nomor: 200.03.01/01.05.533 atas nama Direktur RSU Dr Soetomo.
Sampai dengan 31 Desember 2007, jumlah utang yang masih harus
dibayar sebesar Rp10.034.219.279,00. Jumlah tersebut terdiri dari Bagian Lancar
Utang Jangka Panjang sebesar Rp3.475.168.052,00 dan Utang Jangka Panjang

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 79


Rp6.559.051.227,00. Jumlah tersebut telah disajikan di neraca dan diklasifikasikan
sesuai SAP.
Angsuran yang harus dilunasi selama tahun 2007 sebesar
Rp4.000.000.000,00 terdiri dari angsuran pokok sebesar Rp3.274.248.537,00 dan
bunga pinjaman Rp725.751.463,00. Pemeriksaan atas Laporan Realisasi
Anggaran tidak menunjukkan adanya transaksi pelunasan tersebut. Hal ini
ditunjukkan dengan nilai yang disajikan di LRA sebagai berikut:
1) Belanja bunga : Rp 0,00
2) Pembiayaan pengeluaran-Pembayaran
pokok pinjaman dalam negeri : Rp 149.395.217,00
Pembiayaan pengeluaran-pembayaran pokok pinjaman dalam negeri sebesar
Rp149.395.217,00 merupakan pembayaran angsuran penerusan pinjaman luar
negeri. Pemeriksaan lebih lanjut terhadap Laporan Realisasi Anggaran RSU Dr
Soetomo diketahui bahwa pembayaran bunga dan pokok pinjaman dianggarkan
pada DPA RSU Dr Soetomo dengan rincian sebagai berikut:
Program : Program peningkatan kualitas pelayanan publik
Kegiatan : Peningkatan kualitas pelayanan publik
Belanja : Belanja Barang dan Jasa
Belanja bunga dan angsuran pinjaman Rumah Sakit
Kode rekening : 102.0201.09.099.5.2.2.03.016
Nilai : Rp4.000.000.000,00

b. RSU Dr Saiful Anwar Malang


RSU Dr Saiful Anwar melaksanakan pinjaman kepada Bank Jatim pada
tahun 2002 melalui Surat Pemberitahuan Pemberian Kredit Nomor 040/038/Krd
tanggal 01 Februari 2002 sebesar Rp21.500.000.000,00. Tingkat bunga pinjaman
sebesar 6% dengan masa pinjaman sampai dengan tahun 2010 (termasuk grace
period 2 tahun). Untuk memperoleh pinjaman tersebut, Pemprov menggunakan
sebagian dana cadangan sebagai jaminan pinjaman. Dasar pennggunaan dana
cadangan sebagai jaminan adalah Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor
39 Tahun 2001 tentang Penggunaan Sebagian Dana Cadangan Pemerintah
Provinsi Jawa Timur sebagai Jaminan Fasilitas Kredit antara Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) Dr. Saiful Anwar Malang dengan PT Bank Jatim.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 80


Berdasarkan surat jawaban atas konfirmasi diketahui bahwa Dana
Pinjaman digunakan untuk pengadaan tanah dan pembangunan Gedung Paviliun
RSU Dr Saiful Anwar Malang. Surat perjanjian pinjaman ditandatangani oleh pihak
Rumah Sakit dan Bank Jatim. Dana Pinjaman diterima tidak melalui Kas Daerah
melainkan langsung ditransfer ke rekening Bank Jatim Nomor: 200.03.01/1496
atas nama Paviliun RSU Dr Saiful Anwar Malang.
Sampai dengan 31 Desember 2007, jumlah utang yang masih harus
dibayar sebesar Rp15.050.000.000,00. Jumlah tersebut terdiri dari Bagian Lancar
Utang Jangka Panjang sebesar Rp4.730.000.000,00 dan Utang Jangka Panjang
Rp10.320.000.000,00. Jumlah tersebut tidak disajikan di Neraca Pemerintah
Daerah karena dianggap unit paviliun merupakan unit otonom. Berdasarkan
Keputusan Gubernur Nomor 81 Tahun 2002 tentang Pengelolaan
Penyelenggaraan Kelas Utama (Paviliun) di Rumah Sakit Provinsi disebutkan
bahwa penyelenggaraan kelas utama (paviliun) dimaksudkan untuk memberikan
pelayanan kepada pasien melalui pengelolaan khusus yang bersifat otonom.
Angsuran yang harus dilunasi selama tahun 2007 sebesar
Rp4.670.875.000,00 terdiri dari angsuran pokok sebesar Rp3.655.000.000,00 dan
bunga pinjaman Rp1.015.875.000,00. Pemeriksaan atas Laporan Realisasi
Anggaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak menunjukkan adanya transaksi
pelunasan tersebut. Hal ini karena pembayaran pelunasan pinjaman dibebankan
pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Unit Paviliun yang terpisah dari APBD.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah Nomor 107 Tahun 2000 tentang Pinjaman Daerah pada
1) Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa Pinjaman Jangka Panjang hanya dapat
digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset
daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali
pinjaman, serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat;
2) Pasal 10 ayat (1) disebutkan bahwa daerah dilarang melakukan perjanjian
yang bersifat penjaminan terhadap pinjaman pihak lain yang mengakibatkan
beban atas keuangan Daerah;
3) Pasal 11 ayat (4) disebutkan bahwa perjanjian pinjaman sebagaimana
dimaksud dalam ayat (3) ditandatangani atas nama Daerah oleh Kepala
Daerah dan pemberi pinjaman;

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 81


4) Pasal 15 ayat (1) disebutkan bahwa semua penerimaan dan kewajiban dalam
rangka pinjaman daerah dicantumkan dalam APBD dan dibukukan sesuai
dengan standar akuntansi keuangan Pemerintah Daerah;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan pada:
1) PSAP Nomor 1 paragraf 39 disebutkan bahwa setiap entitas pelaporan
mengklasifikasikan asetnya dalam aset lancar dan nonlancar serta
mengklasifikasikan kewajibannya menjadi kewajiban jangka pendek dan
jangka panjang dalam neraca;
2) PSAP Nomor 1 paragraf 69 disebutkan bahwa suatu kewajiban diklasifikasikan
sebagai kewajiban jangka pendek jika diharapkan dibayar dalam waktu 12
(dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan. Semua kewajiban lainnya
diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang;
3) PSAP Nomor 2 paragraf 8 disebutkan bahwa Pembiayaan (financing) adalah
setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang
akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun
tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam penganggaran pemerintah
terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus
anggaran;
4) PSAP Nomor 2 paragraf 50 disebutkan bahwa sementara, pengeluaran
pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok
pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal oleh
pemerintah.
c. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah pada:
1) Pasal 4 ayat (2) disebutkan bahwa Pendapatan Daerah dan/atau barang milik
daerah tidak boleh dijadikan jaminan Pinjaman Daerah;
2) Pasal 19 ayat (19) disebutkan bahwa Pinjaman Daerah yang bersumber selain
dari Pemerintah dituangkan dalam perjanjian pinjaman yang ditandatangani
oleh Kepala Daerah dan pemberi pinjaman;
3) Pasal 38 ayat (1) disebutkan bahwa kewajiban pembayaran kembali pinjaman
daerah yang jatuh tempo wajib dianggarkan dalam APBD dan
direalisasikan/dibayarkan pada tahun anggaran yang bersangkutan;

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 82


4) Pasal 39 ayat (1) disebutkan bahwa semua penerimaan dan kewajiban dalam
rangka pinjaman daerah dicantumkan dalam APBD dan dibukukan sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintah;
d. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman
pengurusan, pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah serta tata
cara penyusunan anggaran pendapatan dan belanja daerah, pelaksanaan tata
usaha keuangan daerah dan penyusunan perhitungan anggaran pendapatan dan
belanja daerah pada pasal 63 ayat (1) disebutkan bahwa pinjaman daerah jangka
pendek dan jangka panjang disalurkan melalui rekening Kas Daerah;
e. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah pada:
1) Pasal 40 disebutkan bahwa belanja bunga sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 37 huruf b digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang
yang dihitung atas kewajban pokok (principal outstanding) berdasarkan
perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang;
2) Pasal 52 ayat (1) disebutkan bahwa belanja barang dan jasa sebagaiman
dimaksud dalam Pasal 50 huruf b digunakan untuk pengeluaran
pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas)
bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan
pemerintah daerah;
3) Pasal 60 ayat (2) disebutkan bahwa pengeluaran pembiayaan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 59 mencakup: diantaranya huruf c. pembayaran pokok
utang;
4) Pasal 74 disebutkan bahwa Pembayaran pokok utang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 60 ayat (2) huruf c digunakan untuk menganggarkan pembayaran
kewajiban atas pokok utang yang dihitung berdasarkan perjanjian pinjaman
jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang;
5) Pasal 142 ayat (1) disebutkan bahwa penerimaan pinjaman daerah dan
obligasi daerah dilakukan melalui rekening kas umum daerah;
6) Pasal 142 ayat (3) disebutkan bahwa pendapatan daerah/atau aset daerah
(barang milik daerah) tidak boleh dijadikan jaminan pinjaman daerah;

Permasalahan tersebut mengakibatkan:


a. Kinerja daerah dari pengelolaan pinjaman tidak dapat diukur secara akurat;

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 83


b. Saldo akun Belanja bunga disajikan lebih rendah sebesar Rp1.741.626.463,00
(Rp725.751.463,00+Rp1.015.875.000,00);
c. Saldo akun Pembiayaan pengeluaran disajikan lebih rendah sebesar
Rp6.929.248.537,00 (Rp3.274.248.537,00+3.655.000.000,00);
d. Saldo akun Bagian lancar utang jangka panjang disajikan lebih rendah sebesar
Rp4.730.000.000,00;
e. Saldo akun Utang Jangka Panjang disajikan lebih rendah sebesar
Rp10.320.000.000,00;

Kondisi tersebut terjadi karena:


a. Keputusan Gubernur yang memisahkan unit otonom rumah sakit di luar APBD;
b. Kelalaian Tim Anggaran Pemerintah Daerah dalam menganggarkan belanja bunga
dan pembiayaan pengeluaran tidak memperhatikan ketentuan dalam Standar
Akuntansi Pemerintahan dan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006..

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa dengan adanya


Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 81 Tahun 2002 Pasal 8 ayat 2 memberikan
kemudahan dan tanggung jawab bagi Rumah Sakit dalam pengembalian pinjaman
atas PT Bank Jatim sehingga dapat mengembalikan bunga dan pinjaman dengan
tepat waktu.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar:
a. Meninjau Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 81 Tahun 2002 tentang
Pengelolaan Penyelenggaraan Kelas Utama (Paviliun) di Rumah Sakit Provinsi
dan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengelolaan
Pelayanan Obat dan Alat Kesehatan di Rumah Sakit Provinsi untuk disesuaikan
dengan ketentuan pengelolaan keuangan daerah dalam PP 58/2005, Permendagri
13/2006, dan Permendagri 59/2007;
b. Menegur Tim Anggaran Pemerintah Daerah supaya dalam menganggarkan
belanja dan pembiayaan memperhatikan ketentuan yang berlaku;
c. Memerintahkan Direktur RSU Syaiful Anwar Malang untuk menyajikan saldo utang
sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 84


18. Penyertaan Modal dengan kepemilikan di atas 20% tidak dicatat menggunakan
metode ekuitas

Neraca Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2007 menyajikan saldo akun
Investasi Jangka Panjang-Penyertaan Modal Pemerintah sebesar
Rp910.070.658.500,00. Investasi tersebut merupakan nilai penyertaan modal
pemerintah pada 11 perusahaan. Rincian nilai investasi beserta mutasinya adalah
sebagai berikut:
Mutasi Tambah (Rp)
Saldo 31 Des 2006 Saldo 31 Des 2007
No Perusahaan Stock Deviden dan %
(Rp) Penyetoran Modal (Rp)
penyertaan aset
1 PT. SIER 7.500.000.000,00 7.500.000000 25,00
2 PD. Air Bersih 5.000.000.000,00 5.000.000.000,00 100,00
3 PT. Askrida 560.000.000,00 560.000.000,00 0,46
4 PT. Bank Jatim 416.966.000.000,00 93.983.000.000,00 510.949.000.000,00 78,35
5 PT. PWU 64.930.058.500,00 30.000.000.000,00 94.930.058.500,00 99,99
6 PT. BPR Jatim 30.380.300.000,00 11.000.000.000,00 41.380.300.000,00 86,16
7 PT. JMU 30.002.000.000,00 30.002.000.000,00 70,00
8 PT. JKU 1.800.000.000,00 1.800.000.000,00 60,00
9 PT. JIM 40.300.000.000,00 40.300.000.000,00 99,51
10 PT. JGU 35.000.000.000,00 42.775.300.000,00 5.000.000.000,00 82.774.300.000,00 99,82
11 PT. PJU 82.375.000.000,00 12.500.000.000,00 94.875.000.000,00 99,00
Jumlah 714.813.358.500,00 136.758.300.000,00 58.500.000.000,00 910.070.658.500,00

Tabel di atas menunjukkan bahwa mutasi penambahan penyertaan modal dicatat


sebesar biaya yang dikeluarkan untuk penambahan penyertaan modal dan besarnya
dividen saham yang diberikan. Pencatatan tersebut tidak melihat porsi kepemilikan
saham pemda di perusahaan.
Pada Tahun Anggaran 2007 kontribusi PAD dari penyertaan modal tersebut
adalah sebesar Rp99.510.836.622,96. Pendapatan cash dividen dicatat pada pos
Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaaan Daerah yang Dipisahkan. Pendapatan
dicatat sebesar jumlah yang dibagikan perusahaan sesuai hasil RUPS.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Pemerintah Provinsi
mencatat keseluruhan nilai investasi jangka panjang-penyertaan modal menggunakan
metode biaya, yaitu sebesar biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan investasi
tersebut dan pendapatan diakui sebesar cash dividen yang dibagikan perusahaan.
Seharusnya untuk porsi kepemilikan di atas 20%, penilaian penyertaan modal
menggunakan metode ekuitas, di mana investasi dinilai berdasarkan biaya perolehan
dan ditambah atau dikurangi sebesar bagian laba atau rugi pemerintah pada saat
adanya pengumuman laba/rugi perusahaan. Kemudian cash dividen yang diterima

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 85


dicatat mengurangi investasi. Pendapatan cash dividen tidak dilaporkan sebagai
pendapatan.

Permasalahan di atas tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintah pada:
1) PSAP Nomor 6 tentang Akuntansi Investasi paragraf 33 (b) disebutkan bahwa
dengan menggunakan metode ekuitas pemerintah mencatat investasi awal
sebesar biaya perolehan dan ditambah atau dikurangi sebesar bagian laba atau
rugi pemerintah setelah tanggal perolehan. Bagian laba kecuali dividen dalam
bentuk saham yang diterima pemerintah akan mengurangi nilai investasi
pemerintah dan tidak dilaporkan sebagai pendapatan. Penyesuaian terhadap
nilai investasi juga diperlukan untuk mengubah porsi kepemilikan investasi
pemerintah, misalnya adanya perubahan yang timbul akibat pengaruh valuta
asing serta revaluasi aset tetap;
2) PSAP Nomor 6 tentang Akuntansi Investasi pada paragraf 34 disebutkan
bahwa penggunaan metode pada paragraf 33 didasarkan pada kriteria sebagai
berikut:
a) kepemilikan kurang dari 20% menggunakan metode biaya;
b) kepemilikan 20% sampai 50%, atau kepemilikan kurang dari 20% tetapi
memiliki pengaruh yang signifikan menggunakan metode ekuitas;
c) kepemilikan lebih dari 50% menggunakan metode ekuitas;
d) kepemilikan bersifat non permanen menggunakan metode nilai bersih yang
direalisasikan.
b. Lampiran V Pedoman Teknis Akuntansi dan Penyusunan Laporan
Pertanggungjawaban APBD Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 10.2.1.5.
Investasi Jangka Panjang disebutkan bahwa penggunaan metode tersebut di atas
didasarkan pada kriteria sebagai berikut:
a) kepemilikan kurang dari 20% menggunakan metode biaya;
b) kepemilikan 20% sampai 50%, atau kepemilikan kurang dari 20% tetapi
memiliki pengaruh yang signifikan menggunakan metode ekuitas;
c) kepemilikan lebih dari 50% menggunakan metode ekuitas;
d) kepemilikan bersifat non permanen menggunakan metode nilai bersih yang
direalisasikan.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 86


Kondisi di atas mengakibatkan nilai investasi yang disajikan di neraca tidak
sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 yang mengatur tentang
Standar Akuntansi Pemerintahan.

Permasalahan tersebut terjadi karena kelalaian PPKD dalam menyajikan nilai


investasi tidak memperhatikan metode penilaian berdasarkan tingkat kepemilikan
sesuai Standar Akuntansi Pemerintah.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa untuk


selanjutnya pencatatan investasi jangka panjang ke BUMD yang semula
menggunakan metode cost akan disesuaikan dengan PSAP Nomor 6 tentang
Akuntansi Investasi paragraf 33 dan 34.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar menegur PPKD untuk memperhatikan metode
penilaian berdasarkan tingkat kepemilikan sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 87


19. Dua puluh lima bidang tanah seluas 47.039 m2 yang dimiliki Pemda disajikan
dengan nilai di bawah Rp5.000,00

Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengelola 3.082 bidang tanah dengan luas
66.756.256 m2 dengan nilai sebesar Rp12.382.282.231.109,00. Nilai tersebut
disajikan berdasarkan data tanah pada aplikasi SIMBADA. Pemeriksaan atas nilai
buku yang tercatat diketahui sebanyak 25 bidang tanah dengan kode kepemilikan
Pemerintah Provinsi memiliki nilai di bawah Rp5.000,00. Tanah tersebut merupakan
tanah yang dikelola oleh empat SKPD dengan rincian sebagai berikut:
No SKPD Jumlah Bidang Luas (m2) Nilai (Rp)
1 Sekretariat Daerah 1 0 0,00
2 Dinas Bina Marga 18 24.940 1,00
3 Dinas Peternakan 1 0 0,00
4 Dinas Pendapatan 5 22.099 4.475,00
Jumlah 25 47.039 4.476,00

Data di atas menunjukkan nilai seluruh tanah di neraca belum disajikan secara
wajar. Daftar lengkap tanah yang dinilai di bawah Rp5.000,00 dapat dilihat pada
lampiran 5.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintah pada:
1) PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap pada paragraf 24 disebutkan
bahwa barang berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu
aset dan dikelompokkan sebagai aset tetap, pada awalnya harus diukur
berdasarkan biaya perolehan;
2) Bila aset tetap diperoleh dengan tanpa nilai, biaya aset tersebut adalah sebesar
nilai wajar pada saat aset tersebut diperoleh;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Barang Milik Negara/Daerah pada pasal 38 disebutkan bahwa penetapan nilai
barang milik Negara/Daerah dalam rangka penyusunan neraca pemerintah
pusat/daerah dilakukan dengan berpedoman pada Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP).

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 88


Permasalahan tersebut mengakibatkan aset tetap berupa 25 bidang tanah di
neraca tidak disajikan secara wajar.

Kondisi tersebut terjadi karena Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset selaku
leading sector dalam pengelolaan aset daerah belum melakukan upaya penilaian atas
aset tetap tanah.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa 25 bidang tanah


yang dimiliki dan disajikan dengan nilai di bawah Rp5.000,00 adalah aset yang dicatat
setelah dilakukan appraisal, karena pengurus barang tidak mempunyai kompetensi
dalam hal penilaian aset maka sementara aset dicatat dengan nilai tersebut dan
selanjutnya apabila ada kegiatan penilaian aset maka aset dimaksud menjadi objek
penilaian.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar memerintahkan Kepala Biro Perlengkapan dan
Administrasi Aset untuk melakukan penilaian atas 25 bidang tanah agar diperoleh nilai
wajar.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 89


20. Deposito Senilai Rp41.500.000.000,00 Digunakan Sebagai Jaminan Pinjaman
Daerah

Berdasarkan Rincian Dana Cadangan yang disajikan dalam Laporan Neraca


Pemerintah Provinsi Jawa Timur diketahui Deposito Beku sebesar
Rp41.500.000.000,00. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa deposito tersebut
merupakan deposito yang dijadikan jaminan utang RSUD Dr. Soetomo sebesar
Rp20.000.000.000,00 dan utang RSUD Dr. Syaiful Anwar sebesar
Rp21.000.000.000,00.
Penjaminan utang tersebut dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur
Jawa Timur Nomor 58 Tahun 2002 untuk penjaminan utang RSUD Dr. Soetomo dan
nomor 39 Tahun 2001 untuk pinjaman RSUD Dr. Syaiful Anwar. Penggunaan dana
cadangan untuk penjaminan utang tersebut telah mendapat persetujuan DRRD Jawa
Timur sesuai Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Jawa Timur tanggal 17
Juni 2002 Nomor 7 Tahun 2002 tentang Persetujuan Pengalihan Pinjaman RSUD Dr.
Soetomo Surabaya dari Departemen Keuangan RI kepada PT. Bank Jatim dengan
jaminan Dana Cadangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Surat Ketua DPRD
Nomor 900/59009/040/2001 tentang Persetujuan Penggunaan Dana Cadangan
Untuk Pengembangan Pavilliun RSUD Dr. Syaiful Anwar Malang.
Tujuan penggunaan pinjaman RSUD Dr. Soetomo adalah sebagai take over
pinjaman RSUD Dr. Soetomo kepada Departemen Keuangan RI yang digunakan
untuk pembangunan Gedung Rawat Inap Utama (GRIU) RSUD Dr. Soetomo berikut
sarana dan prasarana penunjang operasional. Sedangkan pinjaman RSUD Dr.
Syaiful Anwar juga digunakan untuk pengembangan pavilliun rumah sakit.
Dalam perjanjian kredit diatur bahwa masa penjaminan pinjaman adalah
selama masa kredit yaitu masing-masing selama 8 tahun atau sampai dengan
pinjaman dilunasi. Dalam perjanjian tersebut juga diatur bahwa bila RSUD
mengalami wan prestasi maka pihak Bank Jatim memperoleh kuasa untuk
memperpanjang waktu deposito dan mencairkan apabila pihak yang dijamin wan
prestasi.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 90


Penggunaan deposito daerah untuk dijadikan jaminan utang tersebut tidak
sesuai dengan:
a. Peraturan Pemerintah Nomor 107 Tahun 2000 tentang Pinjaman Daerah, Pasal
10
1) Ayat (2) yang menyebutkan bahwa Barang milik Daerah yang digunakan untuk
melayani kepentingan umum tidak dapat dijadikan jaminan dalam memperoleh
Pinjaman Daerah;
2) Ayat (3) yang menyebutkan bahwa Pelanggaran terhadap ketentuan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), dikenakan sanksi sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah, Pasal 4:
1) Ayat (1) yang menyebutkan bahwa Pemerintah Daerah dilarang memberikan
jaminan atas pinjaman pihak lain.
2) Ayat (2) Pendapatan Daerah dan/atau barang milik Daerah tidak boleh
dijadikan jaminan Pinjaman Daerah.
c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah, Pasal Pasal 142 ayat (3) yang menyebutkan
bahwa Pendapatan daerah dan/atau aset daerah (barang milik daerah) tidak boleh
dijadikan jaminan pinjaman daerah.

Penggunaan deposito sebagai jaminan utang tersebut mengakibatkan dana


sebesar Rp41.500.000.000,00 tidak dapat digunakan oleh Pemerintah dalam rangka
membiayai kegiatan pelayanan masyarakat.

Hal tersebut disebabkan kebijakan Gubernur untuk membantu RSUD


memperoleh pinjaman dengan menggunakan dana cadangan murni sebagai jaminan
utang pada Bank Jatim tanpa memperhatikan ketentuan yang berlaku.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa jaminan


pinjaman kepada Bank Jatim dengan deposito dilakukan dengan mempertimbangkan
hal-hal berikut:
a. RSUD Dr Soetomo Surabaya dan RSUD Dr Saiful Anwar Malang merupakan
Satuan Kerja Perangkat Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur;

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 91


b. Suku bunga pinjaman pada BPD Jatim lebih rendah dari suku bunga pinjaman
bank umum lainnya dan Departemen Keuangan;
c. Bank Jatim adalah bank yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Pemerintah
Provinsi Jawa Timur;

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar meninjau kembali kebijakan Gubernur yang
mengatur penggunaan deposito dana cadangan murni sebagai jaminan utang rumah
sakit pada PT Bank Jatim.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 92


21. Dana Kas Daerah Yang Menganggur (Idle Cash) Tidak Dimanfaatkan Pemerintah
Provinsi Jawa Timur Kehilangan Kesempatan Memperoleh Tambahan
Pendapatan Sebesar Rp63.830.271.196,14.

Berdasarkan penjelasan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004, salah satu fungsi


perbendaharaan adalah pemanfaatan dana yang menganggur untuk meningkatkan
nilai tambah sumber daya keuangan. Dengan demikian, dana pemerintah yang tidak
segera diperlukan untuk membiayai kegiatan pemerintah dalam rangka melaksanakan
fungsi pelayanan publik dapat dimanfaatkan guna meningkatkan nilai tambah dengan
cara diinvestasikan baik dalam bentuk investasi jangka pendek maupun jangka
panjang dengan tanpa mengabaikan likuiditas keuangan daerah. Hasil evaluasi
menunjukkan bahwa terdapat dana menganggur (idle cash) pada Kantor Kas Daerah
Provinsi Jawa Timur yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah
keuangan.
Hasil pemeriksaan kas pada Bendahara Umum Daerah menunjukkan bahwa
saldo Kas Daerah per 31 Desember 2007 sebesar Rp1.237.638.636.382,43.
Sedangkan saldo awal Kas Daerah per 1 Januari 2007 sebesar
Rp810.854.071.190,99. Pengamatan lebih lanjut terhadap saldo kas bulanan
menunjukkan saldo rata-rata di atas satu triliun, yaitu sebesar
Rp1.769.891.167.064,87. Saldo kas daerah tersebut dalam kurun waktu tahun 2007
seluruhnya tersimpan di bank dalam bentuk rekening giro. Kantor Kas Daerah belum
memanfaatkan dana menganggur yang jumlahnya cukup besar tersebut dengan
menempatkan dalam bentuk investasi jangka pendek, misalnya deposito.
Pengamatan terhadap transaksi penerimaan dan pengeluaran menunjukkan
bahwa dalam kurun waktu Januari s.d Oktober 2007, transaksi kas daerah mengalami
surplus penerimaan dibandingkan belanja bulan yang bersangkutan. Sedangkan
pada bulan Nopember dan Desember transaksi pengeluaran kas menunjukkan
kenaikan yang sangat signifikan sehingga pada dua bulan tersebut transaksi
penerimaan dan pengeluaran kas daerah mengalami defisit.
Pengamatan transaksi harian kas pada kondisi transaksi normal yaitu antara
bulan Januari s.d Oktober, yang diambil secara uji petik untuk bulan Pebruari, Mei,
Agustus, dan Oktober menunjukkan rata-rata transaksi pengeluaran per hari sebesar
Rp19.301.826.943,12. Sedangkan transaksi harian terbesar terjadi pada tanggal 22
Oktober yaitu sebesar Rp78.142.977.744,00.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 93


Berdasarkan uraian paragraf di atas, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dapat
memperoleh tambahan pendapatan yang lebih besar bila menempatkan dana
menganggur dalam bentuk investasi jangka pendek. Dengan memperhatikan
transaksi harian kas, dalam kurun waktu Januari s.d Oktober 2007, Kantor Kas
Daerah cukup menempatkan Kas Daerah dalam bentuk giro sebesar
Rp80.000.000.000,00 (pembulatan ke atas dari kebutuhan tertinggi sebesar
Rp78.142.977.744,00) dan menempatkan sisanya dalam bentuk deposito. Jumlah
simpanan giro tersebut sudah lebih dari cukup untuk menjaga likuiditas mengingat
rata-rata transaksi harian hanya sebesar Rp19.301.826.943,12. Sedangkan untuk
bulan Nopember dan Desember yang biasanya mengalami lonjakan transaksi
pengeluaran yang sangat besar, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dapat mencairkan
investasi jangka pendeknya sesuai estimasi defisit transaksi kas pada bulan-bulan
tersebut. Dengan mengelola dana kas menganggur sedikit lebih baik, antara lain
dengan menempatkan dana dalam bentuk deposito, Pemerintah Provinsi Jawa Timur
seharusnya dapat memperoleh tambahan pendapatan dalam tahun 2007 sebesar
Rp63.830.271.196,14, dengan ilustrasi perhitungan sebagai berikut:
Potensi Pendapatan
No. Saldo Awal Bulan Safety Cash Idle Cash
Bunga
1 810.854.071.190,99 80.000.000.000,00 730.854.071.190,99 2.436.180.237,30
2 1.187.825.649.403,38 80.000.000.000,00 1.107.825.649.403,38 3.692.752.164,68
3 1.481.218.800.664,61 80.000.000.000,00 1.401.218.800.664,61 4.670.729.335,55
4 1.581.794.117.916,13 80.000.000.000,00 1.501.794.117.916,13 5.005.980.393,05
5 1.579.508.458.099,20 80.000.000.000,00 1.499.508.458.099,20 4.998.361.527,00
6 1.782.386.290.521,51 80.000.000.000,00 1.702.386.290.521,51 5.674.620.968,41
7 1.905.841.485.434,30 80.000.000.000,00 1.825.841.485.434,30 6.086.138.284,78
8 2.050.655.226.892,37 80.000.000.000,00 1.970.655.226.892,37 6.568.850.756,31
9 2.148.531.549.322,63 80.000.000.000,00 2.068.531.549.322,63 6.895.105.164,41
10 2.317.714.496.588,98 80.000.000.000,00 2.237.714.496.588,98 7.459.048.321,96
11 2.367.251.282.319,20 422.138.705.894,07 1.945.112.576.425,13 6.483.708.588,08
12 2.025.112.576.425,13 867.473.940.042,70 1.157.638.636.382,43 3.858.795.454,61
63.830.271.196,14
Catatan:
- Perbedaan tingkat bunga deposito dengan giro sebesar 4%, yaitu bunga deposito 8,25% dan giro 4,25%
- Safety cash bulan Nopember dan Desember telah memperhitungkan defisit transaksi kas daerah yaitu untuk bulan
Nopember sebesar Rp342.138.705.894,07 dan untuk bulan Desember Rp787.473.940.042,70.

Tidak optimalnya pemanfaatan dana kas menganggur (idle cash) tersebut belum
sejalan dengan:
a. Penjelasan umum Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara, angka 1, mengenai Penerapan kaidah pengelolaan keuangan yang sehat
di lingkungan pemerintahan menguraikan bahwa sejalan dengan perkembangan

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 94


kebutuhan pengelolaan keuangan negara, dirasakan pula semakin pentingnya
fungsi perbendaharaan dalam rangka pengelolaan sumber daya keuangan
pemerintah yang terbatas secara efisien. Fungsi perbendaharaan tersebut
meliputi, terutama, perencanaan kas yang baik, pencegahan agar jangan sampai
terjadi kebocoran dan penyimpangan, pencarian sumber pembiayaan yang paling
murah dan pemanfaatan dana yang menganggur (idle cash) untuk meningkatkan
nilai tambah sumber daya keuangan.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang
Negara/Daerah
1) Pasal 1 tentang pengertian umum, angka 19 menyatakan bahwa Pengelolaan
Uang adalah kegiatan pengelolaan yang mencakup pengelolaan kas dan surat
berharga termasuk kegiatan untuk menanggulangi kekurangan kas atau
memanfaatkan kelebihan kas secara optimal.
2) Pasal 37,
a) Ayat (1) menyebutkan bahwa Dalam hal terjadi kelebihan kas, Bendahara
Umum Daerah dapat menempatkan Uang Daerah pada rekening di Bank
Sentral/Bank Umum yang menghasilkan bunga/jasa giro dengan tingkat
bunga yang berlaku.
b) Ayat (2) menyebutkan bahwa Penempatan Uang Daerah pada Bank Umum
dilakukan dengan memastikan bahwa Bendahara Umum Daerah dapat
menarik uang tersebut sebagian atau seluruhnya ke Rekening Kas Umum
Daerah pada saat diperlukan.
c) Ayat (3) menyebutkan bahwa Ketentuan lebih lanjut mengenai penempatan
Uang Daerah pada Bank Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) diatur dengan Peraturan Kepala Daerah.
c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13, jo. Permendagri Nomor 59 Tahun
2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dalam:
1) Pasal 70 menyebutkan bahwa Investasi pemerintah daerah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) huruf b digunakan untuk mengelola
kekayaan pemerintah daerah yang diinvestasikan baik dalam jangka pendek
maupun jangka panjang.
2) Pasal 71,
a) Ayat (1) menyebutkan bahwa Investasi jangka pendek merupakan investasi
yang dapat segera diperjualbelikan/dicairkan, ditujukan dalam rangka

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 95


manajemen kas dan beresiko rendah serta dimiliki selama kurang dari 12
(duabelas) bulan.
b) Ayat (2) menyebutkan bahwa Investasi jangka pendek sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mencakup deposito berjangka waktu 3 (tiga) bulan
sampai dengan 12 (duabelas) bulan yang dapat diperpanjang secara
otomatis, pembelian surat utang negara (SUN), sertifikat bank Indonesia
(SBI) dan surat perbendaharaan negara (SPN).

Akibat tidak optimalnya pemanfaatan dana kas daerah yang menganggur


tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur kehilangan kesempatan memperoleh
tambahan pendapatan jasa giro sebesar Rp 63.830.271.196,14.

Tidak optimalnya pemanfaatan dana kas daerah tersebut disebabkan Kepala


Kantor Kas Daerah yang bertindak sebagai bendahara umum daerah kurang
memperhatikan penempatan kas daerah pada posisi yang paling menguntungkan
daerah.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan tanggapan bahwa selama ini dana
yang berada di kas daerah disimpan dalam rekening giro dengan maksud untuk
kehati-hatian, kemudahan dalam melakukan transaksi dan menjaga likuiditas dana,
namun untuk selanjutnya akan lebih diberdayakan sehingga dapat menambah
Pendapatan Asli Daerah, antara lain melalui deposito.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar memerintahkan Kepala Kantor Kas Daerah untuk
mengoptimalkan potensi dana menganggur untuk ditempatkan dalam bentuk investasi
jangka pendek yang lebih menguntungkan dengan memperhatikan prinsip kehati-
hatian dan liquiditas.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 96


22. Penatausahaan pendapatan belum tertib dan saldo sebesar Rp246.758.773,60
terlambat disetor ke Kas Daerah

Dalam Laporan Realisasi Anggaran 2007, pemerintah Jawa Timur


menganggarkan Pendapatan sebesar Rp5.133.847.177.458,00 dan telah terealisasi
sebesar Rp5.940.048.022.273,61 atau 115,7%. Pengelolaan pendapatan
dilaksanakan oleh beberapa Satuan Kerja di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa
Timur. Hasil pemeriksaan terhadap penatausahaan pendapatan pada tiga satuan
kerja menunjukkan bahwa penatausahaan pendapatan belum dilaksanakan dengan
tertib dengan uraian sebagai berikut:
a. Biro Perekonomian
Biro Perekonomian Provinsi Jawa Timur mengelola pendapatan bagian laba dari
penyertaan modal pada BUMD dan pendapatan bunga pinjaman dana bergulir
program UKMK dan PJTKI. Berdasarkan pemeriksaan terhadap Buku Penerimaan
Kas, Bukti Setor, dan Rekening Penerimaan diketahui bahwa :
1) Pendapatan yang diterima melalui Biro Perekonomian tidak disetorkan ke Kas
Daerah setiap hari;
2) Terdapat sisa di rekening penerimaan per 31 Desember 2007 sebesar
Rp220.872.916,60.
b. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Masyarakat
Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur mengelola pendapatan lain-lain
yang sah berupa pendapatan bunga pinjaman dana bergulir. Pendapatan bunga
pinjaman dana bergulir diterima oleh Bendahara Penerimaan melalui rekening
penerimaan Dinas Koperasi & UKM untuk selanjutnya disetorkan ke Kas Daerah.
Berdasarkan pemeriksaan terhadap Buku Penerimaan Kas, Rekening Koran, dan
Bukti Setor Pendapatan diketahui bahwa:
1) Pendapatan yang diterima melalui Dinas Koperasi tidak disetorkan ke Kas
Daerah setiap hari dan jumlah yang disetorkan tidak sama dengan jumlah
yang diterima;
2) Terdapat sisa di rekening penerimaan per 31 Desember 2007 sebesar
Rp185.469.125,24.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 97


Menurut penjelasan Bendahara Penerimaan, sisa rekening koran tersebut
merupakan angsuran peminjam dana bergulir yang seharusnya disetor ke
rekening angsuran dengan rincian:
1) Kesalahan transfer angsuran a.n. KUD Sumber
Makmur Kec. Rejotangan sebesar Rp156.000.000,00
2) Kesalahan transfer angsuran a.n. KUD Mekar sebesar Rp185.469.125,00
3) Pendapatan bunga dana bergulir dari KUD Sumber
Pangan sebesar Rp 4.000.000,00
4) Pendapatan sertifikasi hak atas tanah Rp 219.125,00
Jumlah Rp185.469.125,00
c. Dinas Perhubungan
Dinas Perhubungan mengelola pendapatan sumbangan pihak ke III dari PT
ASDP. Penyaluran sumbangan PT ASDP ditransfer ke rekening penerimaan
Dinas Perhubungan untuk selanjutnya disetor oleh Bendahara Penerimaan ke Kas
Daerah. Berdasarkan pemeriksaan terhadap Buku Penerimaan Kas dan Rekening
Penerimaan, diketahui bahwa:
1) Pendapatan yang diterima oleh Dinas Perhubungan tidak disetor ke Kas
Daerah setiap hari;
2) Terdapat sisa di rekening penerimaan per 31 Desember 2007 sebesar
Rp25.885.857,00 yang merupakan sumbangan dari PT ASDP.

Hal tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 122 ayat (4)
Penerimaan SKPD berupa uang atau cek harus disetor ke rekening kas umum daerah
paling lama 1 (satu) hari kerja.

Penerimaan daerah sebesar Rp246.758.773,60 (Rp220.872.916,60 +


Rp4.219.000,00 + Rp25.885.857,00) terlambat diterima Kas Daerah sehingga saldo
dalam akun pendapatan tidak mencerminkan hak Pemerintah Provinsi Jawa Timur
yang senyatanya.

Hal tersebut disebabkan oleh kelalaian bendahara penerimaan tidak memantau


dan menyetorkan pendapatan yang dikelola setiap hari sesuai ketentuan yang
berlaku.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 98


Kepala Biro Perekonomian memberikan tanggapan bahwa pendapatan dari
Program Dana Bergulir bagi UKMK dan PJTKI mekanisme penyetoran didasarkan
pada Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana Bergulir bagi UKMK dan PJTKI, yaitu
pendapatan bunga baru dapat diakui dan disetor kepada Kas Daerah apabila sudah
ada realisasi atas pencairan dana kepada pada UKMK. Untuk tahun I dipotong
sebesar 3% sedangkan Pendapatan bunga berikutnya baru dapat dipotong pada
tahun II. Pendapatan yang belum tertib penatausahaannya dan belum disetor ke Kas
Daerah akan ditindaklanjuti.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM memberikan tanggapan bahwa sebesar
Rp4.000.000,00 merupakan penerimaan pendapatan bunga dana bergulir dan
pendapatan sertifikasi hak atas tanah sebesar Rp219.125,24 yang dilakukan pada
tanggal 31 Desember 2007, sehingga waktunya tidak mencukupi untuk
penyetorannya.
Kepala Dinas Perhubungan memberikan tanggapan bahwa penerimaan tidak
diterima setiap hari tapi menunggu pemberitahuan dari pihak PT Bank Jatim baru
dilaksanakan transfer ke Kas Daerah karena pendapatan tidak diterima secara tunai.
Penerimaan telah disetor ke Kas Daerah pada tanggal 31 Januari 2008.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar memerintahkan Kepala Satuan Kerja terkait untuk
menegur Bendahara Penerimaan untuk menatausahakan dan menyetorkan
pendapatan yang dikelolanya dengan tertib dan tepat waktu.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 99


23. Penyelesaian Piutang Pasien Umum, Piutang Pasien Askes, dan Piutang Lain-
lain pada Rumah Sakit Umum Daerah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur
sebesar Rp54.223.863.309,00 berlarut-larut

Dalam Neraca Pemerintah Provinsi Jawa Timur per 31 Desember 2007


menyajikan saldo piutang yang diantaranya berasal dari Rumah Sakit Umum Daerah
milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur yaitu:
a. RSUD. Dr. Soetomo Surabaya;
b. RSUD. Dr. Syaiful Anwar Malang;
c. RSUD Dr. Soedono Madiun;
d. RS Jiwa Menur Surabaya.

Pemeriksaan atas laporan keuangan pada masing-masing RSUD dan hasil


konfirmasi terhadap beberapa rumah sakit diketahui terdapat Piutang Pasien Umum,
Piutang Pasien Askes, dan Piutang Lain-Lain sebesar Rp54.223.863.309,00, yang
terjadi pada periode 2002 s.d. 2007 belum tertagih.
Adapun piutang tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. RSUD Dr. Soetomo Surabaya, jumlah piutang seluruhnya sebesar
Rp32.201.644.304,00, dengan rincian sebagai berikut :
Piutang
No. Jenis Piutang Ket
(Rp)

1. Piutang Pasien Umum (periode


Tahun 2002 s.d. 2007) 1.304.258.429,00
2. Piutang Askes Maskin 28.180.453.300,00
3. Piutang Askes PNS 2.436.239.000,00
4. Piutang Askes Swasta 56.567.875,00
5. Piutang Pasien Kerjasama
(Pelayanan Graha Merta) 224.125.700,00

Jumlah A dan B 32.201.644.304,00

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 100


b. RSUD Dr. Syaiful Anwar Malang, jumlah piutang seluruhnya sebesar
Rp14.865.606.850,00 yang terjadi dalam periode tahun 2007, dengan rincian
sebagai berikut :
Piutang
No. Jenis Piutang Ket
(Rp)

1. Piutang Askes Gakin 11.734.599.000,00


2. Piutang Askes PNS 2.648.139.000,00
3. Piutang Umum 259.976.850,00
4. Piutang dengan Pinjaman 222.892.000,00

Jumlah 14.865.606.850,00

c. RSUD Dr. Soedono Madiun, jumlah piutang seluruhnya sebesar


Rp5.412.676.650,00 yang terjadi dalam periode tahun 2007 dengan rincian
sebagai berikut :
Piutang
No. Jenis Piutang Ket
(Rp)

1. Piutang Pihak ketiga 66.763.300,00


2. Setoran Jasa Sarana Paviliun 1.164.116.050,00
3. Piutang Umum 942.972.300,00
4. Piutang Askes Maskin 3.238.825.000,00
5. Piutang Sewa Bangunan 500.000,00

Jumlah 5.412.676.650,00

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 101


d. RSU Haji Surabaya, jumlah piutang seluruhnya sebesar Rp1.643.094.058,00 yang
terjadi dalam periode tahun 2006 dan tahun 2007 dengan rincian sebagai berikut :
Piutang
No. Jenis Piutang Ket
(Rp)

1. Piutang Pasien Umum 369.764.071,00


2. Piutang Askes PNS 471.188.000,00
3. Piutang Askeskin 523.137.250,00
4. Piutang Askes Sukarela 72.824.790,00
5. Piutang Pihak Ketiga 206.764.947,00

Jumlah 1.643.094.058,00

e. RS Jiwa Menur Surabaya, jumlah piutang seluruhnya sebesar


Rp1.000.841.447,00 yang terjadi dalam periode tahun 2005 s.d. tahun 2007
dengan rincian sebagai berikut :
Piutang
No. Jenis Piutang Ket
(Rp)

1. Piutang Pasien Umum 131.622.032,00


2. Piutang Askes PNS 5.121.540,00
3. Piutang Askeskin 862.897.875,00
4. Piutang Lain-lain (Sewa listrik wartel 1.200.000,00
danfoto copy)

Jumlah 1.00.841.447,00

Terhadap masalah tersebut di atas masing-masing Direktur Rumah Sakit


Daerah (dhi. Bagian Penagihan) kurang aktif dalam upaya mendatangi pasien dan
penagihan terhadap PT. Askes maupun Piutang lainnya dalam melakukan penagihan
sehingga piutang makin berlarut-larut.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Permendagri 13 Tahun 2006 tentang


pedoman pengelolaan keuangan daerah pada:

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 102


a. Pasal 4 yang menyebutkan bahwa keuangan daerah dikelola secara tertib, taat
pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat.
b. Pasal 128 yang menyebutkan bahwa Setiap SKPD yang memungut pendapatan
daerah wajib mengintensifkan pemungutan pendapatan yang menjadi wewenang
dan tanggung jawabnya.

Keadaan di atas mengakibatkan penerimaan tertunda bagi daerah sebesar


Rp54.223.863.309,00 atas piutang Pasien Umum, Piutang Pasien Askes, dan
Piutang Lain-lain yang belum tertagih.

Hal ini disebabkan masing-masing Direktur Rumah Sakit (dhi. Bagian Penagihan)
kurang koordinasi kepada PT. Askes dan kurang aktif dalam upaya penagihan atas
piutang pasien umum dan pasien Askes dan piutang lain-lain.

Atas permasalahan tersebut pihak RSU memberikan tanggapan bahwa upaya


penagihan piutang tersebut telah dilakukan dan pada tahun 2008 beberapa piutang
telah lunas dan dalam proses pelunasan.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar menegur masing-masing Direktur Rumah Sakit untuk
mengintensifkan upaya penagihan piutang.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 103


24. Sisa Dana Askeskin sebesar Rp1.479.314.252,00 dan Bunga Bank sebesar
Rp20.685.748,00 tidak disetorkan ke Kas Daerah

Pada Tahun Anggaran 2007, Pemerintah Provinsi Jawa Timur merealisasikan


dana bantuan askeskin untuk pasien yang tidak ditanggung oleh PT Askes melalui
Belanja Tak Terduga sebesar Rp12.000.000.000,00. Dana tersebut ditransfer melalui
RSU Dr Soetomo untuk selanjutnya didistribusikan kepada rumah sakit lainnya.
Alokasi dana untuk masing-masing rumah sakit beserta penggunaannya adalah
sebagai berikut:
Realisasi
No Rumah Sakit Sisa Dana
Alokasi Penerimaan Penggunaan
1 RSU Dr Saiful Anwar 3.500.000.000,00 1.114.072.500,00 2.385.927.500,00
2 RS Haji Surabaya 800.000.000,00 799.633.847,00 366.153,00
3 RSU Dr Soedono 510.000.000,00 212.823.912,00 297.176.088,00
4 RSU Jiwa Menur 75.000.000,00 74.999.640,00 360,00
5 RSU Dr. Soetomo 7.115.000.000,00 7.114.888.538,00 111.462,00
12.000.000.000,00 9.316.418.437,00 2.683.581.563,00

Berdasarkan pemeriksaan pada dokumen rekapitulasi pengembalian belanja dan


setoran pengembalian, diketahui bahwa sampai 31 Desember 2007 seluruh sisa dana
telah disetorkan ke Kas Daerah kecuali sisa dana pada RSU Dr Saiful Anwar. Sisa
dana yang telah disetor dicatat sebagai kontra pos belanja tak tersangka.
Hasil konfirmasi dengan pihak RSU Dr Saiful Anwar melalui surat nomor 15/TA-
Jatim/05/2008 dan dijawab dengan surat nomor 900/3533/308/2008 tanggal 13 Mei
2008 diketahui dana askeskin pada RSU Dr Saiful Anwar ditampung pada rekening
nomor 0042932698 dengan rincian penerimaan dan penggunaan sebagai berikut:
Penerimaan bantuan Rp 3.500.000.000,00
Bunga bank Rp 20.685.748,00
Rp 3.520.685.748,00
Pembayaran obat askeskin (Rp 1.114.072.500,00)
Sisa dana Rp 2.406.613.248,00
Penggunaan sisa dana
Setor ke Kas Daerah Rp 906.613.248,00
Tanggal 2 Januari 2008
Transfer ke Depo Farmasi tanggal 1 Rp 1.500.000.000,00
Oktober 2007
Pengunaan sisa dana Rp 2.406.613.248,00

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 104


Sesuai ketentuan, seluruh sisa dana, sebesar Rp2.385.927.500,00 disetorkan
ke Kas Daerah sebagai pengembalian belanja dan bunga bank sebesar
Rp20.685.748,00 disetorkan ke Kas Daerah sebagai pendapatan jasa giro. Dari sisa
dana tersebut, sejumlah Rp906.613.248,00 disetorkan ke Kas Daerah pada tanggal 2
Januari 2008. Sedangkan sisa dana Rp1.479.314.252,00 dan bunga bank sebesar
Rp20.685.748,00 dipergunakan Depo Farmasi.
Berkaitan dengan penggunaan sisa dana ke Depo Farmasi dapat dijelaskan
sebagai berikut:
a. Depo farmasi merupakan unit otonom di RSU Dr Saiful Anwar yang dibentuk
melalui Keputusan Gubernur Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengelolaan
Pelayanan Obat dan Alat Kesehatan di Rumah Sakit Provinsi;
b. Manajer Depo Farmasi melalui Nota Dinas tertanggal 27 September 2007
mengajukan permohonan pinjam dana kepada Direktur RSU Dr Saiful Anwar
sebesar Rp1.500.000.000,00 yang akan digunakan untuk pembayaran obat ke
distributor yang sudah jatuh tempo. Peminjaman ini dikarenakan klaim kepada PT.
ASKES sebesar Rp13.669.840.226,00 belum jelas waktu pembayarannya;
c. Dana sebesar Rp1.500.000.000,00 diserahkan Direktur kepada Depo Farmasi
melalui kuitansi tertanggal 1 Oktober 2007;
d. Menanggapi Nota Dinas tersebut di atas, Direktur mengajukan permohonan ijin
pembayaran obat dan alat kesehatan khusus kepada Gubernur melalui surat
nomor 900/7821/308/2007. Isi surat tersebut menyebutkan permohonan ijin
pembayaran hutang kepada penyedia obat dan alat kesehatan khusus yang telah
jatuh tempo melalui pinjaman dari dana bantuan biaya pelayanan pasien askes
masyarakat miskin (askeskin) dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebesar
Rp1.500.000.000,00. Dana pinjaman akan dikembalikan setelah PT ASKES
membayar klaim yang diajukan;
e. Sekretaris Daerah atas nama Gubernur melalui surat nomor 900/324/043/2008
tertanggal 9 Januari 2008 menjelaskan bahwa pelaksanaan dana bantuan
sepenuhnya menjadi tanggung jawab rumah sakit penerima dan rencana
penggunaan dana untuk pembayaran hutang dapat dipertimbangkan;
f. Penyerahan dana dari RSU ke Depo Farmasi mendahului ijin dari Gubernur, di
mana dana diserahkan pada tanggal 1 Oktober 2007 sementara surat perijinan
baru ditandatangani tanggal 9 Januari 2008;

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 105


g. Sisa dana yang tidak di pergunakan sampai dengan tanggal 31 Desember 2007
seharusnya disetor terlebih dahulu ke Kas Daerah, kemudian jika akan digunakan,
dianggarkan kembali tahun berikutnya.

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tanggal 9 Desember 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah pada:
1) Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat
pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan,
dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat.;
2) Pasal 59 ayat (1) disebutkan bahwa penerimaan SKPD yang merupakan
penerimaan daerah tidak dapat dipergunakan langsung untuk pengeluaran;
3) Pasal 59 ayat (2) disebutkan bahwa komisi, rabat, potongan, atau penerimaan
lain dengan nama dan dalam bentuk apapun yang dapat dinilai dengan uang,
baik secara langsung sebagai akibat dari penjualan, tukar menukar, hibah,
asuransi, dan/atau pengadaan barang dan jasa, termasuk penerimaan bunga,
jasa giro, atau penerimaan lain sebagai akibat penyimpanan dana anggaran
pada bank serta penerimaan dari hasil pemanfaatan barang daerah atas
kegiatan lainnya merupakan pendapatan daerah;
4) Pasal 59 ayat (3) disebutkan bahwa semua penerimaan daerah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) apabila berbentuk uang harus segera disetor ke kas
umum daerah dan berbentuk barang menjadi milik/aset daerah yang dicatat
sebagai inventaris daerah;
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 4 ayat (1) disebutkan
bahwa Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-
undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan
memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 106


Kondisi di atas mengakibatkan:
a. Saldo akun Pendapatan daerah dicatat lebih rendah sebesar Rp20.685.748,00;
b. Saldo akun Belanja tidak terduga dicatat lebih tinggi sebesar Rp2.385.927.500,00;
c. Ketidaktertiban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah yang
membuka peluang terjadinya penyalahgunaan keuangan daerah.

Permasalahan di atas disebabkan karena:


a. Kebijakan Sekretaris Daerah Propinsi Jawa Timur yang memberikan izin
penggunaan sisa dana askeskin untuk pembayaran utang Depo Farmasi.
b. Direktur Rumah Sakit tidak mentaati pertanggungjawaban penggunaan sisa dana ;
c. Keterlambatan pembayaran klaim oleh PT. ASKES atas tagihan yang diajukan
RSU Syaiful Anwar.

Atas permasalahan tersebut, Depo Farmasi RSU Dr. Syaiful Anwar telah
menyetorkan dana sebesar Rp1.479.314.252,00 dan bunga sebesar Rp20.685.748 ke
Kas Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 26 Mei 2008.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar:
a. Menegur Sekdaprov Jatim yang memberikan izin penggunaan sisa dana askeskin
di RS. Dr Saiful Anwar untuk digunakan pembayaran utang Depo Farmasi;
b. Menegur Direktur RS Dr Saiful Anwar untuk mempertanggungjawabkan sisa
penggunaan dana askeskin dan pendapatan bunga;

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 107


25. Pembiayaan Pengeluaran-Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri-
Pemerintah Pusat sebesar Rp149.395.217,00 di dalamnya termasuk Pembayaran
Bunga dan Jasa Bank

Pada Tahun Anggaran 2007, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menganggarkan


Pembiayaan Pengeluaran-Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri-Pemerintah
Pusat (kode rekening 6.2.3) sebesar Rp149.395.217,00 dan direalisasikan sebesar
Rp149.395.217,00. Anggaran ini dipergunakan untuk membayar angsuran pinjaman
dari pemerintah pusat yang merupakan penerusan pinjaman dari USAID. Pinjaman
dilaksanakan pada tahun 1988 dengan Nomor SLA: SLA-390/DDI/1988 tanggal 18
Juli 1988. Beberapa ketentuan dalam penarikan pinjaman tersebut adalah:
a. Plafond SLA US$1.500.000,00 dengan realisasi penarikan sebesar
Rp2.400.000.000,00.
b. Jangka waktu pinjaman 20 tahun dengan grace period 3 tahun.
c. Tingkat bunga 3% per tahun.
d. Tanggal jatuh tempo setiap 5 Februari dan 5 Agustus dengan jatuh tempo pertama
15 Januari 1991.
e. Pembayaran dilakukan melalui Bank Mandiri dengan jasa bank 0,4% per tahun.
Pembayaran atas pinjaman tersebut telah dilakukan sebanyak 32 kali dan
pembayaran tahun 2007 merupakan pelunasan atas pinjaman tersebut. Pada tahun
2007 dilakukan dua kali pembayaran sebagai berikut:
a. Angsuran ke 33 dibayar melalui penerbitan SPM Nomor
LS/0000001/1200310/2007 tanggal 11 Januari 2007 dan SP2D Nomor
LS/0000001/2007 tanggal 11 Januari 2007 sebesar Rp75.323.150,00.
b. Angsuran ke 34 dibayar melalui penerbitan SPM Nomor
LS/0000733/1200310/2007 tanggal 9 Juli 2007 dan SP2D Nomor
LS/0004388/2007 tanggal 11 Juli 2007 sebesar Rp74.072.067,00.

Pemeriksaan atas dokumen perjanjian dan daftar angsuran diketahui bahwa


jumlah angsuran sebesar Rp149.395.217,00 terdiri atas pembayaran pokok pinjaman,
bunga, dan jasa bank dengan rincian sebagai berikut:
Pokok Pinjaman Bunga Pinjaman Jasa Bank
Tanggal
(Rp) (Rp) (Rp)
11 Januari 2007 70.836.898,40 4.196.595,03 289.644,21
11 Juli 2007 70.836.898,40 3.092.720,03 142.460,87
Jumlah 141.673.796,80 7.289.315,06 432.105,08

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 108


Sesuai ketentuan, pembayaran bunga dan jasa bank lebih tepat dianggarkan dan
direalisasikan pada belanja bunga (kelompok Belanja Barang/Jasa) bukan
pembiayaan pengeluaran.

Permasalahan di atas tidak sesuai dengan:


a. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tanggal 9 Desember 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah pada pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa
Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-
undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan
memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.
b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tanggal 15 Mei 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah pada:
1) Pasal 4 ayat (1) disebutkan bahwa Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat
pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan,
dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat
2) Pasal 40 disebutkan bahwa Belanja bunga sebagaimana dimaksud dalam pasal
37 huruf b digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang yang
dihitung atas kewajiban pokok utang (principal outstanding) berdasarkan
perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
3) Pasal 60 ayat (2) disebutkan bahwa Pengeluaran pembiayaan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 59 mencakup: c. pembayaran pokok utang

Kondisi di atas mengakibatkan:


a. Saldo akun Belanja bunga disajikan lebih rendah sebesar Rp7.721.420,14;
b. Saldo akun Pembiayaan pengeluaran disajikan lebih tinggi sebesar
Rp7.721.420,14.

Permasalahan tersebut terjadi karena kelalaian Biro Keuangan dan Tim


Anggaran Pemerintah Daerah dalam menganggarkan belanja bunga dan pembiayaan
pengeluaran tidak memperhatikan peraturan yang berlaku.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 109


Atas permasalahan tersebut Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan
tanggapan bahwa tahun 2007 merupakan masa transisi dari penerapan Peratuan
Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 sehingga Pemerintah Provinsi Jawa
Timur masih terfokus pada pembenahan administrasi dan sistem pengelolaan
keuangan.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar menegur Tim Anggaran Pemerintah Daerah supaya
dalam menganggarkan belanja bunga dan pembiayaan pengeluaran memperhatikan
ketentuan yang berlaku.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 110


Lampiran 1
DAFTAR BELANJA TAK TERDUGA TA. 2007
TIDAK TEPAT

Jumlah
No. Jenis Kegiatan
Rp
1 2 3
1 Pembiayaan Biaya Pelayanan Pasien Askes Masyarakat Miskin 9.316.418.437,00
(ASKESKIN) yang tidak ditanggung oleh PT. ASKES yang
sangat mendesak
SP2D No. LS/0005269/2007 tgl. 27 Juli 2007 sebesar
Rp12.000.000.000,00 realisasi Rp 9.316.418.436,00 Sisa
Rp2.683.581.563
a. RSU. Dr. Saiful Anwar Malang Rp 1.114.072.500,00
b. RS. Haji Surabaya Rp 799.633.847,00
c. RSU Dr. Soedono Madiun Rp 212.823.912,00
d. RSU Jiwa Menur Surabaya Rp 74.999.640,00
e. RSU. Dr. Soetomo Surabaya Rp 7.114.888.538,00
Jumlah 1 Rp 9.316.418.437,00

2 Pembayaran Bantuan Penanganan Darurat Prasarana Jalan/Jem 714.388.250,00


batan Akibat Bencana Alam di Lingkunagan DPU Bina Marga
SP2D No.LS/006128/2007 tanggal 15 Agustus 2007
sebesar Rp2.723.760.250,00 realisasi Rp2.723.760.250,00 sisa
nihil
a. Pembuatan Tembok Penahan Jalan Jurusan Rp 423.752.000,00
Dengok - Pacitan
Pendem - Batas Kediri
b. Pembuatan Tembok Penahan dengan Pemasangan Rp 45.000.000,00
batu jalan Jurusan Talok - Druju - Sendangbiru
c. Pekerjaan Perbaikan Jembatan Munung jalan jurusan Rp 84.000.000,00
Ploso - Munung - Kertosono
d. Pemasangan Jembatan Bailly pada Jembatan Beng Rp 150.000.000,00
Jalan Jurusan Ploso - Munung - Kertosono
e. Pekerjaan Pembersihan Tanah dan Batu Gunturan Rp 11.636.250,00
Jalan Jurusan Arjosari - Nawangan
Jumlah 2 Rp 714.388.250,00

3 Pembayaran Peningkatan Jalan dan Jembatan Alternatif Lintas 3.427.355.000,00


Timur Pengalihan Arus Lalu Lintas Ruas Jalan Raya Porong Kab.
Sidoarjo.
SP2D No.LS/008198/2007 tanggal 19 September 2007
sebesar Rp3.516.000.000,00 realisasi Rp3.427.355.000,00 sisa/
dikembalikan Rp88.645.000,00
a. Peningkatan Jalan Ngaben - Banjarsari Rp 982.542.000,00
b. Peningkatan Jalan Banjarasri - Glagaharum Rp 999.800.000,00
c. Peningkatan Jalan Basuki - Tol Rp 281.089.000,00
d. Peningkatan Jalan Renokenongo - Glagaharum
(sisi utara) Rp 502.862.000,00
e. Peningkatan Jalan Renokenongo - Glagaharum
(sisi selatan) Rp 749.707.000,00
Jumlah 3 Rp 3.516.000.000,00

4 Bantuan Tambahan kebutuhan rambu dan RPPJ pada ruas jalan 979.372.520,00
Alternatif Tanggulangin-Porong sebagai akibat bencana lumpur
Lapindo
SP2D No.LS/0011355/2007 tanggal 2 November 2007
sebesar Rp1.000.000.000,00 realisasi Rp947.230.200,00 sisa/
dikembalikan Rp52.769.800,00
a. Pekerjaan dan Pemasangan Marka Jalan Balai Pelayanan Rp 175.465.400,00
LLAJ Wilayah III Mojokerto di Kab. Sidoarjo dan Mojokerto
b. Pemeliharaan dan Perawatan Traffic Light Balai Pelayanan Rp 208.791.500,00
LLAJ Wilayah III Mojokerto di Kab. Sidoarjo dan Mojokerto
c. Pekerjaan dan Pemasangan Marka Jalan Balai Pelayanan Rp 134.279.400,00
LLAJ Wilayah III Mojokerto di Kab. Sidoarjo dan Mojokerto
d. Pengadaan dan Pemasangan RPPJ Model F Rp 310.262.900,00
e. Pengadaan dan Pemasangan Rambu Lalu Lintas Balai Rp 118.431.000,00
Pelayanan LLAJ Wilayah III Mojokerto di Kab. Sidoarjo
dan Mojokerto
f. Biaya Umum teriri dari : 32.142.320,00
- Bantuan Transport dalam rangka pemasangan
lintas 17 kuitansi @ Rp400.000,00 Rp 6.800.000,00
- Biaya Penggandaan dan Foto Copy 2 kuitansi Rp 6.446.000,00
- Biaya Penggandaan ATK 1 kuitansi Rp 4.896.320,00
- Biaya Perjalanan Dinas dalam rangka pelaksa-
naan pemasangan RPPJ, 28 kuitansi
@ Rp500.000,00 Rp 14.000.000,00
Rp 32.142.320,00

Jumlah 4 Rp 979.372.520,00

5 Bantuan biaya untuk Penanganan Darurat Prasarana Jalan/Jembatan 1.082.602.000,00


akibat Bencana Alam di Lingkungan DPU Bina Marga Prop. Jatim
SP2D No.LS/0013998/2007 tanggal 28 November 2007
sebesar Rp1.145.874.000,00 realisasi Rp1.145.874.000,00 sisa/
Nihil
a. Kab Pacitan pekerjaan Tanah Gunturan Rp 41.582.000,00
b. Kab. Madiun pekerjaan Gorong-gorong ambrol Rp 100.000.000,00
c. Kab. Madiun pekerjaan Bahu Jalan longsor Rp 105.000.000,00
d. Kab. Madiun pekerjaan Bahu Jalan longsor Rp 224.890.000,00
e. Kab. Madiun pekerjaan Bahu Jalan longsor Rp 276.130.000,00
f. Kab. Madiun pekerjaan Bahu Jalan longsor Rp 135.000.000,00
g. Kab. Madiun pekerjaan Tanah Gunturan Rp 200.000.000,00
Jumlah 5 Rp 1.082.602.000,00

JUMLAH 1 s.d. 5 15.520.136.207,00


Lampiran 2
DAFTAR BELANJA BANTUAN SOSIAL
YANG BELUM DIPERTANGGUNGJAWABKAN

REALISASI Dipertanggungjawabkan
No. Kab/Kota Keterangan
(Rp) Sudah (Rp) Belum (Rp)
1 2 4 5
I. BIRO KESRA
1 Belanja Bantuan Sosial Organisasi
Kemasyarakatan
64.533.163.560,00 13.416.424.500,00 51.116.739.060,00
2 Belanja Bantuan Sosial kepada Instansi/
Lembaga Daerah/ Masyarakat
25.983.946.950,00 24.208.546.950,00 1.775.400.000,00
Jumlah 1 90.517.110.510,00 37.624.971.450,00 52.892.139.060,00
II. BIRO PEREKONOMIAN
1 Belanja Bantuan Sosial kepada Instansi/
Lembaga Daerah/ Masyarakat 36.203.766.500,00 36.073.253.030,00 130.513.470,00
Jumlah 2 36.203.766.500,00 36.073.253.030,00 130.513.470,00
III. BIRO ADMINISTRASI PEMBANGUNAN
1 Belanja Bantuan Sosial kepada Instansi/
Lembaga Daerah/ Masyarakat
430.980.227.954,00 373.508.963.238,00 57.471.264.716,00
Jumlah 3 430.980.227.954,00 373.508.963.238,00 57.471.264.716,00
IV. BIRO MENTAL SPIRITUAL
1 Belaja Bantuan untuk Peningkatan Pendidikan
127.335.701.000,00 10.046.298.000,00 117.289.403.000,00
2 Belanja Bantuan Sosial kepada Organisasi
Keagamaan 16.345.000.000,00 10.131.000.000,00 6.214.000.000,00
3 Belanja Bantuan Sosial kepada Organisasi
Kepemudaan dan Keolahragaan 72.175.657.500,00 69.678.657.500,00 2.497.000.000,00
Jumlah 4 215.856.358.500,00 89.855.955.500,00 126.000.403.000,00
1 2 4 5
V. BIRO ORGANISASI
1 Belanja Bantuan Sosial kepada Instansi/
Lembaga Daerah/ Masyarakat 2.750.000.000,00 2.750.000.000,00 -
Jumlah 2.750.000.000,00 2.750.000.000,00 -
VI. BIRO KEPEGAWAIAN
1 Belanja Bantuan Sosial Organisasi Masyarakat
249.998.000,00 249.998.000,00 -
Jumlah 5 249.998.000,00 249.998.000,00 -
VII. BIRO KEUANGAN
1 Belanja Bantuan Sosial Organisasi
Kemasyarakatan 53.363.759.898,00 42.418.046.898,00 10.945.713.000,00
2 Belaja Bantuan untuk Peningkatan Pendidikan
1.550.000.000,00 1.550.000.000,00 -
3 Belanja Bantuan Sosial kepada Organisasi
Kepemudaan dan Keolahragaan 4.599.849.951,00 4.599.849.951,00 -
4 Belanja Bantuan Sosial kepada Instansi/
Lembaga Daerah/ Masyarakat 16.515.563.290,00 15.128.563.290,00 1.387.000.000,00
5 Belanja Bantuan Partai Politik

2.100.000.000,00 2.100.000.000,00 -
Jumlah 6 78.129.173.139,00 65.796.460.139,00 12.332.713.000,00
JUMLAH SELURUHNYA 854.686.634.603,00 605.859.601.357,00 248.827.033.246,00
Lampiran 3

REKAPITULASI BERITA ACARA SERAH TERIMA BARANG BIRO PERLENGKAPAN DAN ADMINISTRASI ASET

Barang
No Berita Acara Nilai Klasifikasi Ket
Uraian Jumlah

1 Biro Umum
1 028/110/044/2007 AC Split 2 14.955.600,00 Alat Kantor dan RT Asisten II
2 028/100/044/2007 Body Camera 1 15.235.000,00 Alat Studio DASK 2006
Lenza 1 4.477.000,00 Alat Studio DASK 2006
Flash SB 1 4.997.300,00 Alat Studio DASK 2006
3 028/140/044/2007 LCD Sanyo 1 73.040.000,00 Alat Studio
4 028/127/044/2007 Toyota Kijang Innova G 2 176.000.000,00 Alat Angkutan 1 KPP
KIA Travello 2 322.000.000,00 Alat Angkutan
KIA Ambulance 1 231.000.000,00 Alat Angkutan
5 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 3 28.800.000,00 Alat Angkutan
6 028/135/044/2007 Note Book Toshiba Intel 1 15.180.330,00 Alat Kantor dan RT
LCD Toshiba 1 49.912.500,00 Alat Studio
7 028/165/044/2007 Komp Pavilion PC 1 13.677.950,00 Alat Kantor dan RT
MS Office 2007 1 3.642.870,00 Alat Kantor dan RT Aset tak berwujud
8 028/165/044/2007 Note Book Toshiba 1 18.655.890,00 Alat Kantor dan RT Asisten Tata Praja
9 028/165/044/2007 Note Book Toshiba 1 18.655.890,00 Alat Kantor dan RT Asisten Ekonomi

2 Biro Keuangan
1 028/140/044/2007 Printer Epson 1 41.965.000,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Susun 50 24.750.000,00 Alat Kantor dan RT
Rak Arsip 7 17.363.500,00 Alat Kantor dan RT
Meja Rapat 1 14.852.750,00 Alat Kantor dan RT
2 028/127/044/2007 Toyota Kijang Innova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan
3 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
4 028/119/044/2007 Printer Epson DFX 9000 1 41.965.000,00 Alat Kantor dan RT

3 Biro Kepegawaian
1 028/140/044/2007 AC Split 1 3.811.500,00 Alat Kantor dan RT
Scanner 8300 1 34.340.825,00 Alat Kantor dan RT
Whiteboard Elektrik 1 19.800.000,00 Alat Kantor dan RT
LCD Sanyo 1 46.986.500,00 Alat Studio
Air Cleaner 1 5.311.900,00 Alat Kantor dan RT
2 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
3 028/114/044/2007 Printer HP P 2015D 1 4.490.090,00 Alat Kantor dan RT

4 RSU Saiful Anwar


1 028/140/044/2007 Kursi Tunggu 10 13.200.000,00 Alat Kantor dan RT
2 028/127/044/2007 KIA Ambulance 1 231.000.000,00 Alat Angkutan
3 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan

5 Dinas Sosial
1 028/140/044/2007 Filing Kabinet Besi 5 21.084.250,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Eselon I Lama 1 4.151.400,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Eselon II Lama 5 16.269.000,00 Alat Kantor dan RT
Almari Arsip Kayu 15 36.712.500,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Tunggu 21 27.720.000,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Lipat 20 3.998.500,00 Alat Kantor dan RT
Meja Kursi Tamu 1 4.928.000,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Staf 3 3.022.800,00 Alat Kantor dan RT
Meja Komputer 2 3.685.000,00 Alat Kantor dan RT
Meja Kerja 1/2 Biro 3 3.412.200,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Susun 20 9.900.000,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Putar 2 1.815.000,00 Alat Kantor dan RT
2 028/117/044/2007 Toyota Hilux 1 121.350.000,00 Alat Angkutan
Honda Suprafit C NF 100D 7 73.500.000,00 Alat Angkutan
3 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan
4 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan

6 Dinas Perkebunan
1 028/127/044/2007 Toyota Kijang Innova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan
2 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan

7 Biro Pem. Otda


Lampiran 3

Barang
No Berita Acara Nilai Klasifikasi Ket
Uraian Jumlah

1 028/140/044/2007 Kursi Eselon II 1 2.998.600,00 Alat Kantor dan RT


Printer HPLJ Colour 1 3.811.500,00 Alat Kantor dan RT
Komputer HP Pavilion 1 13.677.950,00 Alat Kantor dan RT
Filing Kabinet Kayu 1 3.465.000,00 Alat Kantor dan RT
Mesin Penghancur Kertas 1 2.998.600,00 Alat Kantor dan RT
Tape Sony 2 9.559.000,00 Alat Studio
Kursi Lipat 10 1.999.250,00 Alat Kantor dan RT
AC Split 2 PK 3 11.434.500,00 Alat Kantor dan RT
2 028/120/044/2007 AC Split 2 PK 1 7.477.800,00 Alat Kantor dan RT
Printer Canon LJ 1 14.993.000,00 Alat Kantor dan RT

8 RSJ Menur
1 028/117/044/2007 Toyota Hilux 1 121.350.000,00 Alat Angkutan
2 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
3 028/140/044/2007 Almari Besi Tahan Api 1 5.747.500,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Tunggu 8 10.560.000,00 Alat Kantor dan RT

9 Dinas Kesehatan
1 028/117/044/2007 Toyota Hilux 1 121.350.000,00 Alat Angkutan
Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
2 028/13/044/2007 Toyota Hilux 1 121.350.000,00 Alat Angkutan
Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
3 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 1 10.500.000,00 Alat Angkutan
4 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
5 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
6 028/140/044/2007 Filing Kabinet Besi 1 4.216.850,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Putar 2 1.815.000,00 Alat Kantor dan RT
Meja Kerja 1/2 Biro 1 1.137.400,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Tunggu 3 3.960.000,00 Alat Kantor dan RT
7 028/118/044/2007 Meja Kursi Tamu 1 4.928.000,00 Alat Kantor dan RT
Almari Kayu 2 4.895.000,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Pimpinan 1 3.253.800,00 Alat Kantor dan RT
Meja Staf 2 - Alat Kantor dan RT
Kursi Staf 2 1.815.000,00 Alat Kantor dan RT
8 028/140/044/2007 Almari Besi 1 2.585.000,00 Alat Kantor dan RT
Filing Kabinet Kayu 1 3.465.000,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Staf Biru 3 3.022.800,00 Alat Kantor dan RT
White Board Elektrik 1 19.800.000,00 Alat Kantor dan RT
Wireless 1 8.998.000,00 Alat Studio
Almari Arsip Kayu 2 4.895.000,00 Alat Kantor dan RT
Meja Kerja 1/2 Biro 3 3.412.200,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Susun 20 9.900.000,00 Alat Kantor dan RT
9 028/140/044/2007 Kursi Putar 2 1.815.000,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Staf Biru 1 1.007.600,00 Alat Kantor dan RT
Meja Kerja 1/2 Biro 1 1.137.400,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Tunggu 4 5.280.000,00 Alat Kantor dan RT
Almari Arsip Kayu 1 2.447.500,00 Alat Kantor dan RT

10 RS Haji
1 028/117/044/2007 Toyota Hilux 1 121.350.000,00 Alat Angkutan
2 028/127/044/2007 KIA Ambulance 1 231.000.000,00 Alat Angkutan
3 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 3 28.800.000,00 Alat Angkutan

11 Bapemas
1 028/117/044/2007 Toyota Hilux 1 121.350.000,00 Alat Angkutan
2 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 1 9.600.000,00 Alat Angkutan

12 Dinas Perhubungan
1 028/117/044/2007 Toyota Hilux 1 174.700.000,00 Alat Angkutan
Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
2 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 1 9.600.000,00 Alat Angkutan

13 Set DPRD
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
14 Dinas Pariwisata
Lampiran 3

Barang
No Berita Acara Nilai Klasifikasi Ket
Uraian Jumlah

1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan


15 Dinas Peternakan
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 4 42.000.000,00 Alat Angkutan
16 Dinas Kop PKM
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
17 Dinas Infokom
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
18 Dinas ESDM
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
19 Dinas Permukiman
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 3 31.500.000,00 Alat Angkutan
2 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan
3 028/140/044/2007 White Board Elektrik 1 24.835.800,00 Alat Kantor dan RT
LCD Sanyo 1 46.986.500,00 Alat Studio

20 Dinas Pertanian
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 5 52.500.000,00 Alat Angkutan
2 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan

21 Dinas Perikanan dan Kelautan


1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 7 73.500.000,00 Alat Angkutan
22 Bakorwil IV
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
23 Dinas Tenaga Kerja
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
2 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan

24 Dinas P dan K
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 4 42.000.000,00 Alat Angkutan
25 Bakorwil II
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
26 Dinas Kehutanan
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
2 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan

27 RS Paru Jember
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
2 028/140/044/2007 Kursi putar 2 1.815.000,00 Alat Kantor dan RT
Meja Kerja 1/2 Biro 2 2.274.800,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Tunggu 8 10.560.000,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Eselon II 2 6.507.600,00 Alat Kantor dan RT

28 Dinas Pengairan
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
29 Bakorwil I
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
30 Bakorwil III
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
31 Kantor Satpol PP
1 028/117/044/2007 Toyota Kijang Inova E 1 174.700.000,00 Alat Angkutan
Honda Suprafit C NF 100D 2 21.000.000,00 Alat Angkutan
2 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan
3 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 1 9.600.000,00 Alat Angkutan
4 028/140/044/2007 AC Split 2 PK 2 14.955.600,00 Alat Kantor dan RT
Printer HPLJ Colour 1 1.815.000,00 Alat Kantor dan RT
Air Cleaner 1 5.311.900,00 Alat Kantor dan RT
Komputer Eks Perlengkapan 1 - Alat Kantor dan RT
Lampiran 3

Barang
No Berita Acara Nilai Klasifikasi Ket
Uraian Jumlah

32 DLLAJ
1 028/117/044/2007 Toyota Kijang Inova E 3 174.700.000,00 Alat Angkutan
2 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 1 9.600.000,00 Alat Angkutan

33 Bapedal
1 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan
2 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan

34 Dinas Kependudukan
1 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan
35 Badan Perpustakaan
1 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan
2 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan

36 Badan Arsip
1 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan
37 Badiklat
1 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan
2 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 3 28.800.000,00 Alat Angkutan

38 Baketpang
1 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan
2 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan

39 Balitbang
1 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan
2 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan

40 Dinas Perindag
1 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan
2 028/127/044/2007 KIA Travello 2 322.000.000,00 Alat Angkutan
3 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan

41 Bakesbang
1 028/127/044/2007 Toyota Kijang Inova G 1 176.000.000,00 Alat Angkutan KPU
2 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
3 028/111/044/2007 AC Split 2 PK 1 7.477.800,00 Alat Kantor dan RT Satkorlak
AC Split 1 PK 2 7.623.000,00 Alat Kantor dan RT Satkorlak
Filing Kabinet Kayu 10 34.650.000,00 Alat Kantor dan RT Satkorlak
Meja Tulis 10 10.340.000,00 Alat Kantor dan RT Satkorlak
Kursi Putar Etika 10 8.250.000,00 Alat Kantor dan RT Satkorlak

42 RS Soetomo
1 028/127/044/2007 KIA Ambulance 1 231.000.000,00 Alat Angkutan GRIU
2 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan

43 RS Soedono
1 028/137/044/2007 KIA Ambulance 1 231.000.000,00 Alat Angkutan
Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan

44 RS Paru Dungus
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
45 Biro Kerjasama
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
46 RS Paru Batu
1 028/117/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 1 9.600.000,00 Alat Angkutan
2 028/140/044/2007 Kursi Rapat 2 660.000,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Tunggu 4 5.280.000,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Putar 3 2.722.500,00 Alat Kantor dan RT
Lampiran 3

Barang
No Berita Acara Nilai Klasifikasi Ket
Uraian Jumlah

47 BPDE
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
48 BPM
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
49 Kantor Kas Daerah
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
50 Bapeprov
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
51 Biro Kesejahteraan Rakyat
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
52 Biro Hukum
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
53 KONI
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
54 Biro Mental Spiritual
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
55 Biro Perekonomian
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
56 Biro Organisasi
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
57 Biro Administrasi Pembangunan
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 2 19.200.000,00 Alat Angkutan
58 RSK Kediri
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 1 9.600.000,00 Alat Angkutan
59 Dispora
1 028/137/044/2007 Honda Suprafit C NF 100SE 1 9.600.000,00 Alat Angkutan
60 Badan Pengawas Propinsi
1 028/140/044/2007 AC Split 2 PK 2 14.955.600,00 Alat Kantor dan RT
AC Split 1 PK 3 11.434.500,00 Alat Kantor dan RT
Printer HP Business 2 3.630.000,00 Alat Kantor dan RT
TV Panasonic 1 4.290.000,00 Alat Studio
Filing Kabinet Besi 2 8.433.700,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Eselon II 1 3.253.800,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Eselon III 1 2.805.000,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Tamu 1 - Alat Kantor dan RT

61 RSK Sb Glagah
1 028/140/044/2007 Kursi Rapat 4 1.320.000,00 Alat Kantor dan RT
Kursi Tunggu 3 3.960.000,00 Alat Kantor dan RT

TOTAL 8.685.923.395,00
Lampiran 4

REALISASI BELANJA MODAL PER KEGIATAN BESERTA PENGGUNAANNYA

Bidang Barang yang


NO URAIAN PROGRAM KEGIATAN DAN BELANJA MODAL Realisasi Nilai Penggunaan Di catat di Neraca
dihasilkan

1 2 3 4 5 6 7

09 Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik


009 Pelayanan Kepada Masyarakat
Belanja modal Electric Generating Set 247.407.000,00 Alat Berat 247.407.000,00 Dipergunakan SKPD 247.407.000,00
Belanja modal Pompa 9.680.000,00 Alat Berat 9.680.000,00 Dipergunakan SKPD 9.680.000,00
Belanja modal mesin hitung 7.150.000,00 Alat Kantor dan RT 7.150.000,00 Dipergunakan SKPD 7.150.000,00
Belanja modal tabung pemadam kebakaran 2.970.000,00 Alat Kantor dan RT 2.970.000,00 Dipergunakan SKPD 2.970.000,00
Belanja modal air conditioner / kipas angin 29.370.000,00 Alat Kantor dan RT 29.370.000,00 Dipergunakan SKPD 29.370.000,00
Belanja modal almari 52.525.000,00 Alat Kantor dan RT 52.525.000,00 Dipergunakan SKPD 52.525.000,00
Belanja modal filling kabinet 6.737.500,00 Alat Kantor dan RT 6.737.500,00 Dipergunakan SKPD 6.737.500,00
Belanja modal printer 45.144.000,00 Alat Kantor dan RT 45.144.000,00 Dipergunakan SKPD 45.144.000,00
Belanja modal kelengkapan komputer (flash disk, mouse, keyboard, 7.260.000,00
7.260.000,00 7.260.000,00
hardisk, speaker) Alat Kantor dan RT Dipergunakan SKPD
Belanja modal meja kerja 42.350.000,00 Alat Kantor dan RT 42.350.000,00 Dipergunakan SKPD 42.350.000,00
Belanja modal meja rapat 7.260.000,00 Alat Kantor dan RT 7.260.000,00 Dipergunakan SKPD 7.260.000,00
Belanja modal kursi kerja 35.640.000,00 Alat Kantor dan RT 35.640.000,00 Dipergunakan SKPD 35.640.000,00
Belanja modal meja dan kursi umum 12.100.000,00 Alat Kantor dan RT 12.100.000,00 Dipergunakan SKPD 12.100.000,00
Belanja modal video monitor 33.275.000,00 Alat Studio 33.275.000,00 Dipergunakan SKPD 33.275.000,00
Belanja modal telepon 46.145.000,00 Alat Studio 46.145.000,00 Dipergunakan SKPD 46.145.000,00
Belanja modal konstruksi/pembelian gedung kantor 0,00 0,00
Belanja modal konstruksi bangunan khusus 29.449.200,00 Bangunan Gedung 29.449.200,00 Dipergunakan SKPD
Belanja modal Buku/Arsip 9.981.400,00 Aset Tetap Lainnya 9.981.400,00 Dipergunakan SKPD 9.981.400,00

15 Program Pengembangan Perumahan


Fasilitasi dan stimulasi pembangunan perumahan masyarakat
006 kurang mampu
Belanja modal konstruksi jalan biasa 1.700.183.000,00 Jalan dan Jembatan 1.700.183.000,00 Dihibahkan
Revitalisasi kawasan kumuh melalui perbaikan lingkungan
009 permukiman
Belanja modal konstruksi jalan biasa 1.357.770.000,00 Jalan dan Jembatan 1.357.770.000,00 Dihibahkan
Pengembangan kawasan siap bangun dan atau lingkungan
siap bangun di kota-kota metropolitan dan kota-kota besar
012
Belanja modal konstruksi jalan biasa 3.522.389.000,00 Jalan dan Jembatan 3.522.389.000,00 Dihibahkan
014 Pembayaran Angsuran Rusunawa Siwalankerto Tahap III
Belanja modal konstruksi bangunan khusus 3.793.004.000,00 Bangunan Gedung 3.793.004.000,00 Dipakai Satker Lain
Pembangunan dan rehab sarana prasarana Gedung Negara
017
Belanja modal konstruksi/pembelian gedung kantor 14.591.114.850,00 Bangunan Gedung 10.343.928.150,00 Dipakai Satker Lain
Bangunan Gedung 342.700.000,00 Kesalahan Peruntukan
Bangunan Gedung 3.785.195.700,00 Konstruksi Dalam Pengerjaan 3.785.277.200,00
Jalan dan Jembatan 119.291.000,00 Dipakai Satker Lain
Pengembangan teknologi tepat guna bidang permukiman
018
Belanja modal Aggregate & Concrete Equipment 4.895.000,00 Alat Berat 4.895.000,00 Dipergunakan SKPD 4.895.000,00
Belanja modal Proyektor + attachment 16.830.000,00 Alat Studio 16.830.000,00 Dipergunakan SKPD 16.830.000,00
Belanja Modal Audio Command Disk 8.855.000,00 Alat Studio 8.855.000,00 Dipergunakan SKPD 8.855.000,00
Belanja modal alat-alat laboratorium 8.800.000,00 Alat Lab 8.800.000,00 Dipergunakan SKPD 8.800.000,00
019 Peningkatan sarana prasarana permukiman perkotaan
Belanja modal konstruksi jalan biasa 1.249.447.650,00 Jalan dan Jembatan 1.249.447.650,00 Dihibahkan
Penyusunan Perencanaan Program Pembangunan Bidang
020 Permukiman pada Desa Miskin Tertinggal
Belanja modal almari 13.970.000,00 Alat Kantor dan RT 13.970.000,00 Dipergunakan SKPD 13.970.000,00
Belanja modal kamera + attachment 12.870.000,00 Alat Studio 12.870.000,00 Dipergunakan SKPD 12.870.000,00
Pengembangan Kawasan Agropolitan, Pembangunan/
021 Perbaikan sarana prasarana kawasan Agropolitan Jawa Timur
Belanja modal konstruksi jalan biasa 295.146.500,00 Jalan dan Jembatan 295.146.500,00 Dihibahkan
Belanja modal konstruksi bangunan khusus 102.895.100,00 Jalan dan Jembatan 102.895.100,00 Dihibahkan
022 Perbaikan Jalan/Saluran Lingkungan Permukiman
Belanja modal konstruksi jalan biasa 1.462.438.000,00 Jalan dan Jembatan 1.462.438.000,00 Dihibahkan
023 Pembangunan PSD Lingkungan PONPES Tertinggal
Belanja modal konstruksi jalan biasa 1.340.583.000,00 Jalan dan Jembatan 1.340.583.000,00 Dihibahkan
024 Gedung Penunjang VVIP & VIP Bandara Juanda
Belanja modal kamera + attachment 22.550.000,00 Alat Studio 22.550.000,00 Dipergunakan SKPD 22.550.000,00
Belanja modal Proyektor + attachment 33.275.000,00 Alat Studio 33.275.000,00 Dipergunakan SKPD 33.275.000,00
Belanja modal konstruksi/pembelian gedung kantor 4.584.007.700,00 Bangunan Gedung 4.584.007.700,00 Dipakai Satker Lain
025 Renovasi Gedung Bawas
Belanja modal konstruksi/pembelian gedung kantor 2.082.834.000,00 Bangunan Gedung 2.082.834.000,00 Dipakai Satker Lain
026 Renovasi Gedung Bappeprop
Belanja modal konstruksi/pembelian gedung kantor 112.792.000,00 Bangunan Gedung 112.792.000,00 Dipakai Satker Lain
037 Rehab Wisma DPRD untuk Kantor
Belanja modal konstruksi/pembelian gedung kantor 522.604.000,00 Bangunan Gedung 522.604.000,00 Dipakai Satker Lain
042 Pengaspalan dan Pengerasan Jalan dan Jembatan
Belanja modal konstruksi jalan biasa 4.484.587.000,00 Jalan dan Jembatan 4.484.587.000,00 Dihibahkan
043 Pavingisasi
Belanja modal konstruksi jalan biasa 2.074.662.000,00 Jalan dan Jembatan 2.074.662.000,00 Dihibahkan
044 Pembangunan Plengsengan dan Talud
Belanja modal konstruksi jalan biasa 430.261.000,00 Jalan dan Jembatan 430.261.000,00 Dihibahkan

16 Program Lingkungan Sehat Perumahan


Penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar terutama bagi
002 masyarakat miskin
Belanja modal Bangunan Air Bersih/Baku 1.980.548.900,00 Jaringan 1.556.187.300,00 Dihibahkan
Jaringan 424.361.600,00 Dihibahkan
Belanja modal Bangunan Air Kotor 3.488.474.000,00 Jaringan 2.408.235.750,00 Dihibahkan
Jaringan 634.201.650,00 Dihibahkan
Bangunan Gedung 334.816.700,00 Dihibahkan
Bangunan Gedung 111.219.900,00 Dihibahkan

17 Program Pemberdayaan Komunitas Perumahan


Fasilitasi dan stimulasi pembangunan perumahan swadaya
009 yang berbasis pemberdayaan masyarakat
Belanja modal konstruksi jalan biasa 362.683.000,00 Jalan dan Jembatan 362.683.000,00 Dihibahkan
Belanja modal konstruksi bangunan khusus 1.781.093.000,00 Jalan dan Jembatan 1.781.093.000,00 Dihibahkan
Lampiran 4
1 2 3 4 5 6 7
Program perbaikan perumahan akibat bencana alam/sosial
18
Fasilitasi dan stimulasi rehabilitasi rumah akibat bencana alam
001
Belanja modal konstruksi jalan biasa 1.360.600.000,00 Jalan dan Jembatan 1.360.600.000,00 Dihibahkan
005 Pemulihan perumahan yang rusak akibat bencana alam
Belanja modal konstruksi jalan biasa 1.247.359.000,00 Jalan dan Jembatan 1.247.359.000,00 Dihibahkan

Program peningkatan kesiagaan dan pencegahan bahaya


19 kebakaran
Penyusunan norma, standar, prosedur dan manual
001 pencegahan bahaya kebakaran
Belanja modal almari 24.970.000,00 Alat Kantor dan RT 24.970.000,00 Dipergunakan SKPD 24.970.000,00
Belanja modal Jaringan Pemancar 9.817.500,00 Jaringan 9.817.500,00 Dipergunakan SKPD 9.817.500,00

Program Utama Pengembangan Kinerja Pembangunan Air


21 Minum Dan Air Limbah
Pembangunan sarana air minum di perkotaan dan perdesaan
meliputi bangunan produksi sampai jaringan distribusi
001
Belanja modal Bangunan Air Bersih/Baku 3.776.113.000,00 Jaringan 3.776.113.000,00 Dihibahkan
Pemulihan sarana air minum dan air limbah yang rusak pada
003 lokasi bencana alam
Belanja modal Bangunan Air Bersih/Baku 1.619.409.000,00 Jaringan 1.619.409.000,00 Dihibahkan
Belanja modal Bangunan Air Kotor 161.841.900,00 Jaringan 80.654.200,00 Dihibahkan
Bangunan Gedung 81.187.700,00 Dihibahkan
007 Penyediaan sarana air bersih dan air limbah
Belanja modal Bangunan Air Bersih/Baku 1.147.272.500,00 Jaringan 1.147.272.500,00 Dihibahkan
008 Penyediaan sarana air bersih dan air limbah PONPES
Belanja modal Bangunan Air Bersih/Baku 858.556.600,00 Jaringan 589.181.000,00 Dihibahkan
Jaringan 711.698.300,00 Dihibahkan
Belanja modal Bangunan Air Kotor 1.198.935.100,00 Bangunan Gedung 756.612.400,00 Dihibahkan
010 Penyediaan sarana air bersih dan air limbah
Belanja modal konstruksi jaringan air bersih/air minum 142.256.129,00 Jaringan 142.256.129,00 Dipakai Satker Lain
Belanja modal instalasi listrik 296.018.000,00 Instalasi 296.018.000,00 Dipakai Satker Lain
011 Pembangunan MCK
Belanja modal Bangunan Air Kotor 974.446.200,00 Bangunan Gedung 974.446.200,00 Dihibahkan
012 Pengadaan Air Bersih
Belanja modal Bangunan Air Bersih/Baku 818.270.200,00 Jaringan 729.715.800,00 Dihibahkan
Bangunan Gedung 88.554.400,00 Dihibahkan
Pembangunan dan Perbaikan Saluran
013 Air/Plengsengan/Drainase
Belanja modal Bangunan Air Kotor 1.048.461.700,00 Jaringan 1.048.461.700,00 Dihibahkan

Program Utama Pengendalian Pembangunan Kota-Kota Besar


23 Dan Metropolitan
Penataan kota-kota metropolitan dan kota besar dalam rangka
001 peningkatan kualitas lingkungan perkotaan
Belanja modal konstruksi jalan biasa 261.668.000,00 Jalan dan Jembatan 261.668.000,00 Dihibahkan
Belanja modal Instalasi Pengolahan Sampah 49.500.000,00 Instalasi 49.500.000,00 Dihibahkan
Belanja modal Bangunan Air Kotor 109.762.400,00 Bangunan Gedung 109.762.400,00 Dihibahkan
Pengembalian fungsi-fungsi kawasan kota melalui peremajaan
kembali (redevelopment) dan revitalisasi (revitalization)
002 kawasan perkotaan, kawasan bersejarah dan sosial budaya
Belanja modal mesin tik 9.405.000,00 Alat Kantor dan RT 9.405.000,00 Dipergunakan SKPD 9.405.000,00
Belanja modal almari 15.576.000,00 Alat Kantor dan RT 15.576.000,00 Dipergunakan SKPD 15.576.000,00
Belanja modal filling kabinet 10.010.000,00 Alat Kantor dan RT 10.010.000,00 Dipergunakan SKPD 10.010.000,00
Belanja modal handycam 11.825.000,00 Alat Studio 11.825.000,00 Dipergunakan SKPD 11.825.000,00
Belanja Modal Photo Tustel 8.030.000,00 Alat Studio 8.030.000,00 Dipergunakan SKPD 8.030.000,00
Belanja modal Instalasi Pengolahan Sampah 93.492.300,00 Instalasi 93.492.300,00 Dihibahkan
Belanja modal konstruksi bangunan khusus 928.418.700,00 Bangunan Gedung 740.220.250,00 Dihibahkan
Bangunan Gedung 186.952.150,00 Dihibahkan
Belanja modal Bangunan Air Bersih/Baku 93.014.900,00 Bangunan Gedung 94.261.200,00 Dihibahkan
Penguatan dan pemberian ruang bagi sektor informal yang
004 mampu membuka banyak peluang lapangan kerja
Belanja modal komputer note book 0,00
Belanja modal kamera + attachment 6.270.000,00 Alat Studio 6.270.000,00 Dipergunakan SKPD 6.270.000,00
Belanja modal Proyektor + attachment 22.412.500,00 Alat Studio 22.412.500,00 Dipergunakan SKPD 22.412.500,00
Belanja modal konstruksi bangunan khusus 436.973.900,00 Bangunan Gedung 436.973.900,00 Dihibahkan
009 Pengadaan Air Bersih Perkotaan
Belanja modal Bangunan Air Bersih/Baku 272.011.300,00 Bangunan Gedung 272.011.300,00 Dihibahkan
Pembangunan dan Perbaikan Saluran
010 Air/Plengsengan/Drainase Perkotaan
Belanja modal Bangunan Air Kotor 502.410.700,00 Bangunan Gedung 502.410.700,00 Dihibahkan
011 Pembangunan MCK Perkotaan
Belanja modal Bangunan Air Kotor 199.436.600,00 Bangunan Gedung 199.436.600,00 Dihibahkan
012 Pavingisasi Perkotaan
Belanja modal konstruksi jalan biasa 452.714.350,00 Jalan dan Jembatan 452.714.350,00 Dihibahkan
013 Pembangunan Sarana dan Prasarana Perkotaan
Belanja modal konstruksi jalan biasa 336.419.600,00 Jalan dan Jembatan 336.419.600,00 Dihibahkan

Program Pengembangan Kelembagaan Pembangunan Air


25 Minum Dan Air Limbah
Menunjang pelaksanaan penyehatan PDAM serta pembinaan
teknis dan manajemen bagi HIPPAM dan instansi pengelola air
001 limbah
Belanja modal Bangunan Air Bersih/Baku 1.677.664.900,00 Jaringan 930.153.400,00 Dihibahkan
Bangunan Gedung 747.511.500,00 Dihibahkan
26 Program Perencanaan Tata Ruang
Penataan ruang kawasan perbatasan, rawan Tsunami
016 (resettlement) di Jawa Timur
Belanja modal kamera + attachment 9.927.500,00 Alat Studio 9.927.500,00 Dipergunakan SKPD 9.927.500,00
Belanja modal handycam 9.889.000,00 Alat Studio 9.889.000,00 Dipergunakan SKPD 9.889.000,00

28 Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh


Penyusunan Perencanaan Pengembangan Infrastruktur
004 Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh
Belanja modal UPS/stabilizer 0,00
Belanja modal mebeulair lainnya 22.137.500,00 Alat Kantor dan RT 22.137.500,00 Dipergunakan SKPD 22.137.500,00
Identifikasi Kebutuhan Infrastruktur Permukiman sebagai
005 Antisipasi Perkembangan Kawasan Pesisir
Belanja modal handycam 9.900.000,00 Alat Studio 9.900.000,00 Dipergunakan SKPD 9.900.000,00
Belanja modal Proyektor + attachment 14.850.000,00 Alat Studio 14.850.000,00 Dipergunakan SKPD 14.850.000,00
72.314.053.779,00 72.314.053.779,00 4.687.337.100,00
Lampiran 5

DAFTAR TANAH DENGAN NILAI BUKU DI BAWAH Rp5.000,00

Alamat Harga Tahun Nilai


No Kode Lokasi Nama Lokasi Uraian Tanah Luas
Desa/ Jalan Kabupaten Perolehan Perolehan Buku

1 130004 SETDA PROP. JATIM TANAH PERUMAHAN JL. GADELSARI KOTA SURABAYA 0 0 1987 0
2 13000501 DINAS BINA MARGA TANAH PERUMAHAN JL. BRAWIJAYA NO.3 KOTA MOJOKERTO 22 0 2004 0
3 13000501 DINAS BINA MARGA TANAH PERKANTORAN JL. AIRLANGGA 219 KAB. JEMBER 0 0 2003 0
4 1300050109 BPJ SURABAYA TANAH PEKARANGAN DESA NGELOM KAB. SIDOARJO 66 0 2005 0
5 1300050109 BPJ SURABAYA TANAH PEKARANGAN DESA CANDI KAB. SIDOARJO 350 0 0
6 1300050109 BPJ SURABAYA TANAH PERKANTORAN JL. RAYA CANDI KAB. SIDOARJO 1.032 0 2005 0
7 130005010902 R. SUBAG TATA USAHA TANAH PEKARANGAN DS. BEDILAN KAB. GRESIK 366 0 2005 0
8 130005010902 R. SUBAG TATA USAHA TANAH PERKANTORAN DS. SIDOKUMPUL KAB. GRESIK 716 0 2005 0
9 130005011002 R. SUBAG TU TANAH PERUMAHAN DS. BANJARAGUNG KAB. MOJOKERTO 1.143 0 1987 0
10 130005011002 R. SUBAG TU TANAH JALAN DS. NGRAME KAB. MOJOKERTO 2.538 0 2005 0
11 130005011102 R. TATA USAHA TANAH PERUMAHAN DS. KADIPATEN KAB. BOJONEGORO 3.100 0 2005 0
12 130005011102 R. TATA USAHA TANAH PERKANTORAN DS. KUNCEN KAB. BOJONEGORO 4.955 0 2005 0
13 130005011102 R. TATA USAHA TANAH PERKANTORAN DS. NGOWO KAB. BOJONEGORO 6.373 0 2005 0
14 13000501110201 R. TATA USAHA TUBAN TANAH PEKARANGAN DS. GADON KAB. TUBAN 1.790 0 2005 0
15 1300050114 BPJ MALANG TANAH PERKANTORAN DS. PURWANTORO KOTA MALANG 476 0 2001 0
16 130005011702 RUANG SUB BAG TATA USAHA TANAH PERKANTORAN DESA KETAPANG KAB. SAMPANG 1.800 0 0
17 1300050118 BPJ BANYUWANGI TANAH PEKARANGAN JL. SURABAYA - BANYUWANGI KAB. BANYUWANGI 0 0 2001 0
18 1300050119 BPJ PACITAN TANAH PEKARANGAN DS. WONOGONDO KAB. PACITAN 213 0 2005 0
19 130005011302 RUANG TATA USAHA TNH KSNG YG.TDK DIUSAHAKN JL.PERSADA SAYANG BUJEL KEDIRI -- 0 1 2002 1
20 13001105 DINAS PETERNAKAN TANAH PEKARANGAN JL. RAYA PEAJAMAN KAB. BANGKALAN 0 0 2004 0
21 1300130118 UPTD. MADIUN KABUPATEN TANAH PERKANTORAN SUMBER BENING KAB. MADIUN 2.100 1 2002 1
22 1300130124 UPTD. KEDIRI KABUPATEN TANAH PERKANTORAN JL. JAKSA AGUNG SUPRAPTO NO. 9 KAB. KEDIRI 16.255 1 2002 1
23 1300130124 UPTD. KEDIRI KABUPATEN TANAH KB. SAMSAT PARE JL. PAHLAWAN KUSUMA 23 KAB KEDIRI KAB. KEDIRI 1.910 1 1998 1
24 1300130127 UPTD. TRENGGALEK TANAH PERKANTORAN KELURAHAN SURODAKAN KAB. TRENGGALEK 1.000 1 2003 1
25 1300130134 UPTD. PROBOLINGGO TANAH PERKANTORAN JL. SUKARNO HATTA 135 KOTA PROBOLINGGO 834 4.470 1995 4.470
BUKU III

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA

HASIL PEMERIKSAAN
SEMESTER I TAHUN ANGGARAN 2008

LAPORAN ATAS PENGENDALIAN INTERN

DALAM KERANGKA PEMERIKSAAN

LAPORAN KEUANGAN
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
UNTUK TAHUN ANGGARAN 2007

DI

SURABAYA

AUDITORAT UTAMA KEUANGAN NEGARA V


PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA

Nomor : 112/R/XVIII.SBY/05/2008
Tanggal : 25 Mei 2008
DAFTAR ISI

Halaman
RESUME LAPORAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN ………………… 1
GAMBARAN UMUM SISTEM PENGENDALIAN INTERN ENTITAS YANG
DIPERIKSA .............................................................................................................. 3
HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN
1. Laporan Keuangan Sebelum Audit Tidak Direviu oleh Badan Pengawas
Daerah Provinsi Jawa Timur ............................................................................... 25
2. Penyimpanan Sebagian Akte (Bukti Kepemilikan) Tanah Masih Dilakukan
Oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (Pengguna Barang)................................. 27
3. Pemerintah Provinsi Jawa Timur Belum Membentuk Satuan Kerja Pengelola
Keuangan Daerah ............................................................................................... 29
4. Pemerintah Provinsi Jawa Timur Belum Memiliki Peraturan Daerah
Mengenai Pengelolaan Barang Milik Daerah ...................................................... 32

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

RESUME HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan


dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006
tentang Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
(BPK RI) telah memeriksa Neraca Pemerintah Provinsi Jawa Timur per 31 Desember
2007, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan
Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
Untuk memperoleh keyakinan memadai, apakah laporan keuangan bebas dari salah saji
material, Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh BPK RI
mengharuskan BPK RI melaksanakan pengujian atas sistem pengendalian intern
Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Sistem pengendalian intern merupakan tanggung jawab
Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Namun, tujuan pemeriksaan BPK RI atas laporan
keuangan tidak untuk menyatakan pendapat atas keseluruhan sistem pengendalian intern
tersebut. Oleh karena itu, BPK RI tidak menyatakan suatu pendapat seperti itu.
Sistem pengendalian intern Pemerintah Provinsi Jawa Timur terkait dengan laporan
keuangan merupakan suatu proses yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai
atas keandalan laporan keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
Pengendalian intern tersebut meliputi berbagai kebijakan dan prosedur yang: (1) terkait
dengan catatan keuangan; (2) memberikan keyakinan yang memadai bahwa laporan
tersebut telah sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan serta penerimaan dan
pengeluaran telah sesuai dengan otorisasi yang diberikan; (3) memberikan keyakinan
yang memadai atas keamanan aset yang berdampak material pada laporan keuangan.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bertanggung jawab untuk mengatur dan
menyelenggarakan pengendalian tersebut.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 1


SPKN mengharuskan BPK RI untuk mengungkapkan kelemahan dalam sistem
pengendalian intern atas pelaporan keuangan. Kelemahan dalam sistem pengendalian
intern atas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang ditemukan BPK RI
adalah sebagai berikut:
1. Laporan Keuangan Sebelum Audit Tidak Direviu oleh Badan Pengawasan Daerah
Provinsi Jawa Timur;
2. Penyimpanan Sebagian Akte (Bukti Kepemilikan) Tanah Masih Dilakukan Oleh
Satuan Kerja Perangkat Daerah (Pengguna Barang);
3. Pemerintah Provinsi Jawa Timur Belum Membentuk Satuan Kerja Pengelola
Keuangan Daerah;
4. Pemerintah Provinsi Jawa Timur Belum Memiliki Peraturan Daerah Mengenai
Pengelolaan Barang Milik Daerah.

Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut, BPK RI merekomendasikan kepada


Gubernur Jawa Timur agar:
1. Memerintahkan kepada Kepala Badan Pengawasan Daerah untuk melakukan reviu
atas Laporan Keuangan Daerah;
2. Memerintahkan kepada Kepala Satuan Kerja pengguna barang milik daerah yang
masih menyimpan bukti kepemilikan tanah untuk menyerahkan penyimpanan
dokumen tersebut kepada Pengelola Barang Daerah;
3. Merealisasikan pembentukan Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah
sebagaimana telah diamanatkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 2
Tahun 2007;
4. Menyusun Raperda tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah dan
menyampaikannya kepada DPRD untuk disahkan menjadi Peraturan Daerah.

Secara lebih rinci dijelaskan pada bagian Hasil Pemeriksaan Sistem Pengendalian Intern.

Surabaya, 25 Mei 2008


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA
PENANGGUNG JAWAB PEMERIKSAAN,

Sarjono, SE, Ak.


Akuntan, Register Negara No. D-25873

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 2


GAMBARAN UMUM

SISTEM PENGENDALIAN INTERN ENTITAS YANG DIPERIKSA

Provinsi Jawa Timur dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950


tentang Pembentukan Provinsi Jawa Timur Juncto Undang-Undang Nomor 18 Tahun
1950 tentang Mengadakan Perubahan dalam Undang-Undang Tahun 1950 Nomor 2
tentang Pembentukan Provinsi Jawa Timur (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 32).
Pada tanggal 14 Oktober 2002 dibuat Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur dengan Persetujuan DPRD Provinsi Jawa timur.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan, Negara Republik Indonesia sebagai
negara kesatuan menganut asas desentralisasi dengan memberikan kesempatan dan
kekuasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Karena itu Negara
Republik Indonesia di bagi dalam Daerah Provinsi, Daerah Kabupaten, Daerah Kota yang
bersifat otonomi, termasuk didalamnya Provinsi Jawa Timur. Sesuai Ketentuan Undang-
Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang kemudian diperbarui
dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, lembaga eksekutif di Pemerintah Jawa
Timur dipimpin oleh seorang Gubernur yang dibantu oleh seorang Wakil Gubernur.
Untuk menyelenggarakan pemerintahan, Gubernur membentuk perangkat daerah
yang terdiri dari Sekretariat Daerah Provinsi yang terbagi dalam 12 Biro, 1 Sekretariat
DPRD, 22 Dinas, 16 Badan, dan 3 Kantor. Sekretariat Daerah Provinsi dipimpin oleh
seorang Sekretaris Daerah Provinsi dan 4 orang Asisten. Selain itu, sampai dengan
Tahun 2007 Pemerintah Provinsi Jawa Timur memiliki 11 BUMD, 10 usaha berbentuk
Perseroan Terbatas (PT), dan 1 usaha berbentuk Perusahaan Daerah (PD).
Salah satu upaya kongkrit untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas
pengelolaan keuangan negara adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban
keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip-prinsip tepat waktu dan disusun dengan
mengikuti standar akuntasi pemerintahan yang telah diterima secara umum. Undang-
Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara khususnya Pasal 30, Pasal 31,
dan Pasal 32 menyebutkan bahwa Presiden/Gubernur/Bupati/Walikota menyampaikan
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD kepada DPR/DPRD berupa laporan
keuangan. Laporan keuangan dimaksud meliputi Laporan Realisasi Anggaran, Neraca,
Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). Laporan keuangan
tersebut disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 3


Dengan terbitnya tiga paket undang-undang di Bidang Keuangan Negara, yaitu
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004, dan
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004, yang harus diimplementasikan dalam
pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan Provinsi Jawa Timur paling lambat untuk
pelaksanaan APBD Tahunn Anggaran 2007, maka periode Tahun Anggaran 2007
merupakan masa kedua pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan yang berbasis
Undang-Undang Keuangan Negara.

Sistem perencanaan dan penganggaran Provinsi Jawa Timur Tahun 2007 dilaksanakan
dengan mekanisme sebagai berikut:
A. Sistem Perencanaan
Penyusunan Laporan Keuangan Provinsi Jawa Timur merupakan pelaksanaan
perencanaan tahunan, sebagai penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur Tahun 2006 – 2008, yang merupakan
acuan didalam menetapkan target kinerja menengah dalam kurun waktu 3 (tiga)
Tahun dengan memobilisasi potensi-potensi yang ada.

B. Sistem Penganggaran
Sistem penganggaran dilaksanakan oleh setiap satuan kerja berkoordinasi dengan
Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). TAPD terdiri dari unsur Badan
Perencanaan dan Pembangunan Daerah, Dinas Pendapatan Daerah, Biro
Keuangan, Biro Umum, Biro Administrasi Pembangunan, Biro Hukum, dan Biro
Perlengkapan.

C. Gambaran atas Pengelolaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)


pada Pemerintah Provinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut.
1. Definisi dan Struktur Organisasi Pengelolaan Keuangan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 mengisyaratkan perlunya
pembenahan secara organisatoris di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD),
perlu dilakukan penatausahaan di SKPD yang didalamnya meliputi penatausahaan
keuangan SKPD. Sistem penatausahaan SKPD merupakan sistem yang
digunakan untuk mencatat semua transaksi penerimaan dan pengeluaran kas di
SKPD.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 4


Struktur Pengelola Keuangan SKPD Provinsi Jawa Timur terdiri dari :
a. Struktur Pengelola Keuangan untuk SKPD Penghasil terdiri dari :
1) Kepala UPT sebagai KPA (SO SKPD 1A);
2) Kepala UPT sebagai KPAP (SO SKPD 1B);
b. Struktur pengelola keuangan SKPD Non-Penghasil :
1) Kepala UPT sebagai KPA (SO SKPD 2A);
2) Kepala UPT sebagai KPAP (SO SKPD 2B);
c. Struktur Pengelola Keuangan SKPD Bakorwil/Bawas (SO SKPD 3);
d. Struktur Pengelola Keuangan SKPD Kantor (SO SKPD 4);
e. Struktur Pengelola Keuangan SKPD Setda/Kdh (SO SKPD 5);
f. Struktur Pengelola Keuangan SKPD Sekwan/Dewan (SO SKPD 6);
g. Struktur Pengelola Keuangan SKPD Rumah Sakit (SO SKPD 7);
h. Struktur Pengelola Keuangan SKPD Rumah Sakit Khusus-UPT Dinas (SO
SKPD 8).

Dalam rangka pengendalian anggaran di SKPD, Pengguna Anggaran (PA)


mendelegasikan kewenangan pelaksanaan APBD kepada Kuasa Pengguna
Anggaran (KPA). Masing-masing KPA membawahi dan mengendalikan beberapa
kegiatan yang telah diprogramkan untuk tahun anggaran yang bersangkutan.
Dengan kata lain, aktifitas KPA adalah merupakan manajemen kegiatan. Secara
umum pejabat yang memegang kedudukan sebagai KPA adalah Wakil
Kepala/Kasubdin/Kabid, namun bila di SKPD tidak terdapat jabatan struktural
Kasubdin/Kabid maka jabatan KPA bisa dilimpahkan pada jabatan struktural yang
setara dengan Kasubdin/Kabid (sesuai dengan Struktur Organisasi Pengelola
Keuangan di masing-masing SKPD). Jumlah KPA disesuaikan dengan ruang
lingkup pekerjaan dan tupoksi dari masing-masing SKPD, artinya bahwa tidak
semua Wakil Kepala/Kepala Sub Dinas/Kepala Bidang (Kasubdin/Kabid) menjadi
Kepala Bagian TU atau Sekretaris sebagai salah satu KPA mengelola anggaran
Belanja Tidak Langsung (hanya untuk Belanja Pegawai saja) dan Belanja
Langsung.
Beberapa ketentuan yang melekat pada Penatausahaan Keuangan SKPD yaitu:
a. Dalam SKPD hanya ada 1 (satu) Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK-
SKPD) yang melaksanakan fungsi verifikasi (terkait dengan verifikasi SPJ),
fungsi pembelanjaan (terkait dengan penerbitan SPM), dan fungsi akuntansi

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 5


(terkait dengan proses akuntansi). Secara umum posisi PPK-SKPD ini
dipegang oleh Kepala Sub Bagian (Kasubag) Keuangan di masing-masing
SKPD. Dalam kondisi SKPD tidak memiliki jabatan struktural Kasubag
Keuangan maka dapat ditunjuk salah satu pejabat struktural yang
menjalankan fungsi sebagai PPK-SKPD (sesuai dengan struktur organisasi
pengelola keuangan di masing-masing SKPD);
b. Dalam SKPD hanya 1 (satu) Bendahara Pengeluaran yang melaksanakan
penatausahaan keuangan belanja SKPD. Posisi Bendahara Pengeluaran
dapat ditunjuk dari salah satu pejabat struktural yang menjalankan fungsi
sebagai Bendahara Penerimaan;
c. Kepala UPTD dapat bertindak sebagai Kuasa Pengguna Anggaran Pembantu
(KPAP) yang harus mempertanggunjawabkan pengelolaan keuangannya
kepada KPA yang memberi kewenangan untuk melaksanakan dan
membebankan anggaran. Dalam melaksanakan tanggung jawabnya KPAP
hanya menerima anggaran dari satu KPA yaitu Kepala Bagian Tata Usaha
(TU);
d. Kepala UPTD juga dapat bertindak sebagai KPA yang memiliki anggaran
yang berdiri sendiri dan tidak tergantung pada KPA yang lain;
e. Fungsi Kepala UPTD sebagai KPA atau KPAP ditentukan oleh kompleksitas
pekerjaan dan besaran anggaran;
f. Guna memperlancar administrasi pelaksanaan kegiatan masing-masing KPA
dibantu oleh satu orang Bendahara Pengeluaran Pembantu untuk
penatausahaan belanja dan satu orang Bendahara Pengeluaran Pembantu
untuk yang memiliki pendapatan;
g. Guna memperlancar pelaksanaan kegiatan, setiap KPA atau PA dibantu oleh
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK);
h. Bendahara Pengeluaran Pembantu mempertangungjawabkan pengelolaan
keuangannya kepada Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan
Pembantu mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangannya (terkait
dengan pendapatan) kepada Bendahara Penerimaan.

2. Penatausahaan Keuangan di Sekretariat


Sekretariat Daerah merupakan SKPD dengan struktur organisasi yang sangat
kompleks, hal ini disebabkan karena secara struktural Sekretariat Daerah

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 6


membawahi biro-biro yang kompleksitas pengelolaan keuangannya hampir sama
dengan SKPD lainnya. Dalam struktur pengelolaan keuangan, Sekretaris Daerah
bertindak sebagai Pengelola Anggaran, sedangkan fungsi PPK-SKPD, Bendahara
Pengeluaran, dan Bendahara Penerimaan berada di salah satu biro di Sekretariat
Daerah. Dengan kata lain, maka pada Sekretariat Daerah terdapat 1 (satu)
Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK-SKPD), 1 (satu) Bendahara
Pengeluaran, dan 1 (satu) Bendahara Penerimaan. Namun mengingat tanggung
jawab struktural dan fungsionalnya yang sangat tinggi, maka tugas Sekretaris
Daerah sebagai PA bisa didelegasikan sepenuhnya kepada KPA, dimana yang
bertindak sebagai KPA di Sekretariat Daerah adalah masing-masing Kepala Biro
yang membawahinya.
Kepala Biro dalam menjalankan tanggungjawabnya sebagai KPA dibantu oleh
pejabat struktural yang bertindak sebagai wakil KPA yang disebut KPAP. Secara
lengkap di masing-masing biro hanya terdiri dari 1 (satu) KPA, 1 (satu) KPAP, 1
(satu) Pembantu PPK-SKPD, 1 (satu) Bendahara Pengeluaran Pembantu, 1 (satu)
Bendahara Penerima Pembantu (khusus untuk biro yang mengelola pendapatan),
dan 1 (satu) PPTK. Atas pertimbangan tertentu dan mengingat pengelolaan
anggaran di beberapa biro yang sangat kompleks, maka dapat dibentuk lebih dari
satu KPA.
Masing-masing biro bisa langsung mengajukan SPP, mengesahkan SPJ, dan
menerbitkan SPM (PPK-18). SPP UP/GU/TU/LS dari masing-masing biro
ditandatangani oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu, sedangkan SPM
ditandatangani oleh KPA.
Pembantu PPK-SKPD secara periodik mengirimkan Laporan Keuangan Biro ke
PPK-SKPD untuk direkap menjadi Laporan Keuangan Sekretariat Daerah.
Bendahara Pengeluaran Pembantu setiap bulan mengirimkan Laporan Realisasi
Belanja Bendahara Pengeluaran Pembantu ke Bendahara Pengeluaran untuk
direkap menjadi Laporan Realisasi Belanja Sekretariat Daerah.
Bendahara Penerimaan Pembantu setiap bulan mengirimkan Laporan Realisasi
Pendapatan KPA ke Bendahara Penerimaan untuk direkap menjadi Laporan
Realisasi Pendapatan Sekretariat Daerah.

Khusus untuk SKPD Kepala Daerah, mengingat kecilnya kompleksitas anggaran


yang dikelolanya maka pejabat pengelola keuangan untuk Kepala Daerah

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 7


diserahkan ke Biro Umum. Terkait dengan hal tersebut maka struktur organisasi
khusus untuk Kepala Daerah mengadopsi struktur organisasi Sekretariat Daerah.

D. Sistem dan Prosedur Penerimaan Kas.


Penatausahaan penerimaan merupakan rangkaian proses kegiatan menerima,
menyimpan, menyetor, membayar, menyerahkan, dan mempertanggungjawabkan
penerimaan uang yang berada dalam pengelolaan SKPD dan/atau SKPKD.
Penerimaan daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah. Salah satu jenis
penerimaan daerah adalah Pendapatan Daerah yang meliputi semua penerimaan
uang melalui rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana, yang
merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali
oleh daerah.
Pendapatan daerah terdiri dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan lain-
lain pendapat yang sah, dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Pendapatan Asli Daerah.
Merupakan pendapatan yang diperoleh dan digali dari potensi pendapatan yang
ada di daerah, meliputi penerimaan dari:
a. Pajak Daerah, adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi tanpa
imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dilaksanakan berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku yang digunakan untuk membiayai
penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah;
b. Retribusi Daerah, adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas
pemakaian atau karena memperoleh jasa pekerjaan, usaha atau milik daerah
bagi yang berkepentingan atau karena jasa yang diberikan oleh daerah;
c. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, adalah pendapatan yang
diterima dari pembagian keuntungan atau laba atas perusahaan milik daerah
dan hasil pengelolaan daerah yang dipisahkan;
d. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah, adalah penerimaan lain-lain yang
merupakan bagian dari pendapatan yang dihasilkan daerah.
2. Dana Perimbangan
Merupakan pendapatan Pemerintah Provinsi yang sumber dananya berasal dari
penerimaan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan
daerah dalam pelaksanaan otonomi daerah. Pendapatan Dana Perimbangan
sesuai peraturan perundangan yang mengatur perimbangan keuangan pusat dan

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 8


daerah terdiri atas :
a. Dana Bagi Hasil, termasuk di dalamnya Dana Bagi Hasil Pajak dan Dana Bagi
Hasil Bukan Pajak. Dana Bagi Hasil Pajak menampung pendapatan yang
berasal dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan (PBHTB), serta Pajak Penghasilan Orang Pribadi (PPh Pasal
21). Sedangkan Dana Bagi Hasil Bukan Pajak menampung pendapatan bagian
daerah dari Sumber Daya Alam (SDA) yang merupakan bagi hasil penerimaan
negara yang berasal dari sumber daya alam sektor kehutanan, sektor
pertambangan umum, dan sektor perikanan yang dibagi dengan imbangan 20%
untuk pemerintah pusat dan 80% untuk pemerintah daerah;
b. Dana Alokasi Umum, merupakan dana APBD yang dialokasikan oleh
Pemerintah Pusat bagi Pemerintah Provinsi;
c. Dana Alokasi Khusus, merupakan dana APBN yang dialokasikan oleh
Pemerintah Pusat bagi Pemerintah Provinsi tertentu untuk membiayai
kebutuhan khusus yang dirinci menurut objek pendapatan menurut kegiatan,
dengan memperhatikan tersedianya dana dalam APBN.
3. Lain-lain Pendapatan yang Sah
Merupakan pendapatan di luar Pendapatan Asli Daerah dan Pendapatan Dana
Perimbangan, yaitu :
a. Hibah, berasal dari pemerintah, pemerintah daerah lainnya,
badan/lembaga/organisasi swasta dalam negeri, kelompok
masyarakat/perorangan, dan lembaga luar negeri yang tidak mengikat;
b. Dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan korban/kerusakan
akibat bencana alam;
c. Dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota;
d. Dana penyesuaian dan dana otonomi khusus yang ditetapkan oleh pemerintah;
e. Bantuan keuangan dari provinsi atau pemerintah daerah lainnya.
4. Aparat Bidang Pendapatan
Dalam bidang pendapatan daerah, penyelenggaraan pemungutan, kegiatan
menghasilkan, dan penerimaannya dilakukan oleh aparat di lingkungan
Pemerintah Provinsi sebagai berikut:
a. Dinas Pendapatan sepanjang mengenai pajak daerah, retribusi daerah, dan
pendapatan daerah lainnya yang pemungutannya tidak diselenggarakan oleh
aparat lain;

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 9


b. Dinas/Instansi lain selain Dinas Pendapatan sepanjang mengenai retribusi dan
pendapatan daerah lainnya yang tugas pemungutannya diselenggarakan
Dinas/Instansi tersebut;
c. Sekretariat Daerah sepanjang mengenai pendapatan daerah berupa retribusi
dan pendapatan daerah lainnya yang tidak diselenggarakan oleh aparat lain.

Aparat/perangkat yang melaksanakan kegiatan penerimaan dan penyetoran


kepada Kas Daerah adalah Bendahara Penerimaan/Bendahara Penerimaan
Pembantu (d/h. Bendahara Khusus Penerimaan) dengan tugas dan tanggung
jawab sebagai berikut:
a. Menyelenggarakan seluruh kegiatan penerimaan uang hasil pungutan
pendapatan daerah yang berada dalam kewenangan pengurusannya;
b. Menyetorkan seluruh uang hasil penerimaannya ke Kas Daerah dalam waktu
yang ditentukan;
c. Menyelenggarakan kegiatan pencatatan seluruh penerimaan dan
penyetorannya;
d. Menghimpun seluruh tanda bukti penerimaan dan penyetoran secara tertib dan
teratur;
e. Membuat laporan pertanggungjawaban seluruh penerimaan dan penyetoran
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

E. Sistem dan Prosedur Penerimaan dan Penyetoran Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Jaringan prosedur yang membentuk sub sistem penerimaan Pendapatan Asli Daerah
terdiri dari prosedur penerimaan, penyetoran kas, dan pencatatan, hal tersebut
merupakan uraian pelaksanaan kegiatan yang terdiri dari Fungsi/pihak yang terkait,
Dokumen yang digunakan, Catatan yang digunakan, serta Deskripsi Prosedur.
1. Fungsi/pihak yang terkait.
Fungsi yang terkait dalam sistem penerimaan pendapatan asli daerah adalah:
a. Bendahara Penerimaan
1) Menerima setoran dari wajib bayar/kasir lapangam;
2) Membuat tanda terima pembayaran (kuitansi);
3) Membuat tanda bukti penerimaan;
4) Mencatat semua penerimaan dan penyetoran pendapatan di Buku Kas
Umum (BKU) Penerimaan dan Buku Pembantu Per Rincian Obyek

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 10


Penerimaan;
5) Menyetor semua uang ke Bendahara Penerimaan Pembantu UPT
Dipenda;
6) Merekap Laporan Realisasi Pendapatan dari Bendahara Penerimaan
Pembantu;
7) Membuat laporan realisasi pendapatan secara periodik (setiap bulan).
b. Bendahara Penerimaan Pembantu
1) Menerima setoran dari wajib bayar/kasir penerimaan;
2) Membuat tanda terima pembayaran;
3) Membuat tanda bukti penerimaan;
4) Menyetorkan penerimaan ke Bendahara Penerimaan Pembantu UPT
Dipenda;
5) Mencatat penerimaan dan penyetoran ke BKU, Buku Rekapitulasi
Penerimaan Harian, dan Buku Pembantu Per Rincian Obyek Penerimaan;
6) Membuat Laporan Realisasi Pendapatan.
c. Subdin Pembukuan dan Pelaporan Dipenda
Merekap Laporan Realisasi Pendapatan dari Bendahara Penerimaan
Pembantu UPT Dipenda.
d. Bendahara Penerimaan Pembantu Dipenda
1) Menerima setoran dari wajib bayar/kasir lapangan;
2) Membuat tanda terima pembayaran;
3) Membuat tanda bukti penerimaan;
4) Menerima setoran dari Bendahara Penerimaan/Bendahara Penerimaan
Pembantu dinas penghasil;
5) Mencatat semua penerimaan dan penyetoran pendapatan di BKU
penerimaan dan Buku Pembantu Per Rincian Obyek Penerimaan;
6) Menyampaikan Surat Tanda Setoran (STS), Tanda Bukti Penerimaan
(TBP) dan laporan harian realisasi pendapatan setiap hari ke Kantor Kas
Daerah;
7) Membuat Laporan Bulanan Realisasi pendapatan dan menyampaikannya
ke Bendahara Penerimaan Dipenda.
e. Bank Jatim
Berfungsi menerima setoran uang dari Bendahara Penerimaan Pembantu
UPT Dipenda dan mengesahkan STS dan Slip Setorannya.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 11


f. Kantor Kas Daerah (Kasda).
Berdasarkan Nota Kredit dari Bank Jatim, Daftar Pengantar STS, STS, Slip
Setoran yang disahkan Bank Jatim, mencatat ke Buku Penerimaan Kas yang
menggambarkan posisi keadaan kas Provinsi.
g. Biro Keuangan (Bagian Akuntansi).
Berdasarkan STS, Slip Setoran dari Kas Daerah, mencatat di Jurnal
Penerimaan Kas dan di Buku Besar yang nantinya akan menghasilkan
Laporan Realisasi Pendapatan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
2. Dokumen yang Digunakan.
Dokumen yang digunakan dalam prosedur penerimaan, penyetoran kas, dan
pencatatan pada sub sistem Penerimaan Pendapatan Asli Daerah adalah Tanda
Terima Pembayaran, Tanda Bukti Penerimaan, STS, Surat Pengantar STS, Slip
Setoran, dan Laporan Realisasi Pendapatan.
3. Catatan yang Digunakan.
Catatan yang digunakan dalam prosedur penerimaan, penyetoran kas, dan
pencatatan pada Sub Sistem Penerimaan Pendapatan Asli Daerah adalah Buku
Kas Umum Penerimaan, Buku Pembantu Perincian Obyek Penerimaan, Buku
Rekapitulasi Penerimaan Harian, dan Buku Penerimaan dan Pengeluaran Kas.
4. Deskripsi Prosedur.
Penerimaan Pendapatan Asli Daerah dapat dilaksanakan melalui tiga mekanisme
yaitu :
a. Wajib Bayar melakukan pembayaran melalui Bendahara Penerimaan/
Bendahara Penerimaan Pembantu Dinas Penghasil;
b. Wajib Bayar melakukan pembayaran melalui kasir Lapangan dari Dinas
Penghasil non Dipenda yang kemudian melakukan pembayaran langsung ke
Bendahara Penerimaan Pembantu (UPT) Dipenda;
c. Wajib Bayar melakukan pembayaran melalui Bendahara Penerimaan
Pembantu UPT Dinas Pendapatan Daerah (khusus untuk pendapatan yang
dipungut Dipenda).

F. Sistem dan Prosedur Penerimaan dan Penyetoran Pendapatan Dana


Perimbangan.
Jaringan prosedur yang membentuk sub sistem penerimaan Pendapatan Dana
Perimbangan terdiri dari prosedur penerimaan, penyetoran kas, dan pencatatan. Hal

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 12


tersebut merupakan uraian pelaksanaan kegiatan yang terdiri dari Fungsi/pihak yang
terkait, Dokumen yang digunakan, Catatan yang digunakan, dan Deskripsi Prosedur.
Pendapatan Dana Perimbangan yang berasal dari Bagi Hasil Pajak jaringan
prosedurnya dibedakan menjadi dua yaitu jaringan prosedur Dana Perimbangan yang
berasal dari Bagi Hasil PBB dan BPHTB, dan jaringan prosedur Dana Perimbangan
yang berasal dari Bagi Hasil PPh Pasal 21. Dana Perimbangan yang berasal dari Bagi
Hasil PPh 21 memiliki jaringan prosedur yang sama dengan Dana Perimbangan yang
berasal dari Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus, sedangkan jaringan
prosedur Dana Perimbangan yang berasal dari Bagi Hasil PBB dan BPHTB memiliki
jaringan prosedur yang berbeda dengan Dana Perimbangan yang berasal dari Dana
Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus.
Jaringan prosedur untuk Dana Perimbangan yang berasal dari Bagi Hasil PBB dan
BPHTB terdiri dari Fungsi/pihak yang terkait, Dokumen yang digunakan, Catatan yang
digunakan, dan Deskripsi Prosedur adalah sebagai berikut :
1. Fungsi/pihak yang terkait
Fungsi yang terkait dalam sistem penerimaan, penyetoran kas, dan pencatatan
untuk sub sistem penerimaan dana perimbangan yang berasal dari Bagi Hasil PBB
dan BPHTB adalah:
a. Departemen Keuangan Republik Indonesia
Berfungsi untuk mendelagasikan kewenangan untuk menerbitkan Surat
Perintah Membayar (SPM) Bagi Hasil PBB dan BPHTB kepada Kantor
Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan (KPPBB) Propinsi Jawa Timur yang
diserahi tugas untuk menangani pemungutan PBB dan BPHTB untuk wilayah
Jawa Timur.
b. Kantor Pelayanan PBB (KPPBB) Propinsi Jawa Timur
Berfungsi untuk menerbitkan Surat Perintah Membayar (SPM) Bagi Hasil PBB
dan BPHTB berdasarkan realisasi atas penyetoran PBB dan BPHTB wilayah
masing-masing.
c. Bank BO III
Berfungsi untuk melaksanakan transfer uang dari rekening Bagi Hasil ke
rekening kas daerah di Bank Jatim dan mengirim nota debet kepada KPPBB.
d. Bank Jatim
Berfungsi untuk menerima transfer uang dari Bank BO III dan mengirim Nota
Kredit serta Rekening Koran kepada Kantor Kas Daerah.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 13


e. Kantor Kas Daerah (Kasda)
Berfungsi untuk menerima setoran kas (Nota Kredit/Rekening Koran) dari
KPPBB melalui Bank Jatim. Kasda mencatat penerimaan tersebut dalam
Buku Penerimaan dan Pengeluaran Kas berdasarkan Nota Kredit.
f. Bagian Akuntansi Biro Keuangan
Berfungsi untuk mencatat penerimaan kas berdasarkan Nota Kredit dari Bank
ke Buku Jurnal Penerimaan Kas dan Buku Besar.
2. Dokumen yang Digunakan
a. Surat Perintah Membayar (SPM) Bagi Hasil PBB dan BPHTB
Dokumen ini digunakan oleh KPPBB untuk merealisasikan Bagi Hasil PBB
dan BPHTB melalui Bank Persepsi;.
b. Nota Debet Bank
Dokumen ini digunakan oleh Bank Persepsi untuk memberitahukan adanya
transfer dari rekening Bagi Hasil.
c. Nota Kredit Bank
Dokumen ini digunakan oleh Bank untuk memberitahukan adanya transfer ke
rekening Kas Daerah
d. Rekening Koran (RC)
Dokumen ini digunakan oleh Bank untuk mencatat adanya transfer ke dan dari
saldo rekening Kas Daerah.
3. Catatan yang Digunakan
Catatan yang digunakan dalam prosedur penerimaan, penyetoran kas, dan
pencatatan pada sub sistem penerimaan Dana Perimbangan yang berasal dari
Bagi Hasil PBB dan BPHTB terdiri dari : Buku jurnal Penerimaan Kas, Buku Besar
dan Buku Penerimaan dan Pengeluaran Kas.
4. Deskripsi Prosedur
a. Departemen Keuangan RI mendelegasikan kewenangan kepada KPPBB
untuk menerbitkan SPM Bagi Hasil PBB dan BPHTB, kemudian KPPBB
menerbitkan SPM Bagi Hasil PBB dan BPHTB berdasarkan atas penyetoran
PBB dan BPHTB di wilayah masing-masing dan menyerahkannya ke Bank
BO III sebagai pemegang rekening Bagi Hasil;
b. Berdasarkan SPM Bagi Hasil PBB dan BPHTB, Bank Persepsi mentransfer ke
Rekening Kas Daerah di Bank Jatim. Berdasarkan transfer kas tersebut Bank
BO III akan membuat nota debet yang akan diserahkan ke KPPBB sebagai

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 14


bukti bahwa telah ditransfer sejumlah kas kepada rekening kas daerah dari
rekening Bagi Hasil PBB dan BPHTB. Selain mentransfer sejumlah kas ke
rekening kas daerah Bank BO III juga menyerahkan SPM Bagi Hasil PBB dan
BPHTB ke Bank Jatim;
c. Bank Jatim selanjutnya akan menerima transfer kas tersebut. Berdasarkan
penerimaan/transfer kas tersebut Bank Jatim akan merealisasikan
pengeluaran dan akan membuat nota kredit yang akan diserahkan ke Kas
Daerah bersamaan dengan SPM Bagi Hasil PBB dan BPHTB;
d. Kas Daerah menerima Nota Kredit dan SPM Bagi Hasil PBB dan BPHTB.
Berdasarkan Nota Kredit tersebut kas daerah akan mencatatnya kedalam
Buku Penerimaan dan Pengeluaran Kas. Nota Kredit yang telah diterima dari
Bank Jatim tersebut selanjutnya diserahkan ke Bagian Akuntansi pada Biro
Keuangan bersama dengan SPM Bagi Hasil PBB dan BPHTB.
e. Bagian Akuntansi pada Biro Keuangan berdasarkan nota kredit yang dilampiri
SPM Bagi Hasil PBB dan BPHTB mencatat ke buku Jurnal Penerimaan Kas.
Selanjutnya secara periodik di posting ke Buku Besar.

G. Sistem dan Prosedur untuk Dana Perimbangan yang Berasal dari Bagi Hasil PPh 21,
Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus terdiri dari :
1. Fungsi/pihak yang terkait.
Fungsi yang terkait dalam sistem penerimaan, penyetoran kas, dan pencatatan
untuk sub sistem penerimaan dana perimbangan yang berasal dari Bagi Hasil PPh
21, Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus adalah:
a. Bagian Anggaran Biro Keuangan.
Berfungsi untuk mengajukan SPP kepada KPKN sesuai dengan surat
keputusan yang diterima Pemerintah Provinsi. Surat keputusan tersebut dapat
berupa surat keputusan menteri keuangan atau lainnya.
b. Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPKN)
Berfungsi untuk mengajukan SPM berdasarkan SPP yang diterima dari
Bagian Anggaran. KPKN memerintahkan kepada Bank Persepsi untuk
melakukan transfer ke rekening kas daerah di Bank Jatim sesuai dengan
SPM.
c. Bank BO III
Berfungsi untuk menerima transfer uang dari KPKN dan mengirim nota debet

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 15


kepada KPKN.
d. Bank Jatim
Berfungsi untuk menerima transfer uang dari rekening KPKN di Bank Persepsi
dan mengirim Nota Kredit dan Rekening Koran kepada Kas Daerah.
e. Kantor Kas Daerah (Kantor Kasda)
Berfungsi untuk menerima setoran kas (Nota Kredit/Rekening Koran) dari
Bank Jatim. Kasda mencatat penerimaan tersebut dalam Buku Penerimaan
dan Pengeluaran Kas berdasarkan nota kredit.
f. Bagian Akuntansi Biro Keuangan.
Berfungsi untuk mencatat penerimaan kas berdasarkan nota kredit dari Kas
Daerah ke Buku Jurnal Penerimaan Kas dan Buku Besar.
2. Dokumen yang Digunakan.
a. Surat Permintaan Pembayaran (SPP);
b. Surat Permintaan Membayar (SPM);
c. Nota Kredit Bank;
d. Rekening Koran (RC).
3. Catatan Yang Digunakan
a. Buku Jurnal Penerimaan Kas;
b. Buku Besar;
c. Buku Penerimaan dan Pengeluaran Kas.
4. Deskripsi Prosedur
Uraian kegiatan prosedur penerimaan dan penyetoran kas pada sub sistem
penerimaan Dana Perimbangan yang berasal dari Bagi Hasil PPh 21, Dana
Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus adalah :
a. Bagian Anggaran Biro Keuangan berdasarkan surat keputusan atau surat
ketetapan mengenai penerimaan dana perimbangan yang berasal dari Bagi
Hasil PPh 21, Dana Alokasi Khusus dan Dana Alokasi Umum membuat SPP
rangkap 3. Surat keputusan/ketetapan tersebut antara lain berupa SPM
menteri atau surat keputusan sejenis. SPP dikirim ke KPKN;
b. Berdasarkan SPP dan dokumen pendukungnya KPKN menerbitkan SPM
rangkap 4. KPKN selanjutnya mengirimkan ke Bank BO III SPP lembar
pertama dan SPM lembar pertama. Mengarsip berdasarkan urutan tanggal
dokumen SPP lembar ke-3. Mengirimkan SPM lembar ke 2 s/d 4 dan SPP
lembar ke-2 ke Bagian Anggaran sebagai bukti telah disetujuinya SPP;

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 16


c. Bagian Anggaran selanjutnya mengirimkan SPM lembar 2 s/d 3 ke Kas
Daerah. Mengarsip SPP lembar ke-2 dan SPM lembar ke-4 sesuai urutan
tanggal;
d. Kas Daerah mengarsip sementara berdasarkan urutan tanggal SPM lembar 2
s/d 3 untuk selanjutnya menunggu realisasi kas dari Bank Jatim (Nota Kredit
Bank);
e. Setelah Bank menerima transfer kas, SPM dan SPP lembar ke-1, serta
merealisasi pengeluaran maka Bank menerbitkan Nota Kredit. Nota Kredit
dikirimkan ke Kas Daerah;
f. Setelah Kas Daerah menerima Nota Kredit, maka kas daerah selanjutnya
memeriksa dan mencocokkan dengan SPM yang telah diterima. Dokumen
tersebut selanjutnya distempel oleh Kas Daerah. Kas Daerah mengarsip
lembar ke-3 SPM berdasarkan urutan tanggal. Kas Daerah berdasarkan nota
kredit yang diterima juga akan mencatat penerimaan kas tersebut ke dalam
buku Penerimaan dan Pengeluaran Kas. Untuk selanjutnya Nota Kredit
dilampiri lembar ke-2 SPM dikirimkan oleh Kas Daerah ke Bagian Akuntansi
pada Biro Keuangan;
g. Bagian Akuntansi berdasarkan nota kredit yang dilampiri SPM lembar ke-2
mencatat ke Buku Jurnal Penerimaan Kas. Selanjutnya secara periodik
diposting ke Buku Besar.

H. Sistem dan Prosedur untuk Penerimaan Lain-Lain Pendapatan yang Sah terdiri dari :
1. Fungsi/pihak yang terkait.
Fungsi yang terkait dalam sistem penerimaan, penyetoran kas, dan pencatatan
untuk sub sistem penerimaan Lain-lain Pendapatan yang Sah adalah:
a. Bagian Anggaran Biro Keuangan.
Berfungsi untuk mengajukan SPP kepada KPKN sesuai dengan surat
keputusan yang diterima Pemerintah Propinsi surat keputusan tersebut dapat
berupa surat keputusan menteri keuangan atau lainnya.
b. Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPKN)
Berfungsi untuk mengajukan SPM berdasarkan SPP yang diterima dari
Bagian Anggaran. KPKN memerintahkan kepada Bank Persepsi untuk
melakukan transfer ke rekening kas daerah di Bank Jatim sesuai dengan
SPM.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 17


c. Bank BO III
Berfungsi untuk mengajukan penerimaan transfer uang dari KPKN dan
mengirim nota debet kepada KPKN.
d. Bank Jatim
Berfungsi untuk menerima transfer uang dari rekening KPKN di Bank Persepsi
dan mengirim Nota Kredit dan Rekening Koran kepada Kas Daerah.
e. Kantor Kas Daerah (Kantor Kasda)
Berfungsi untuk menerima setoran kas (Nota Kredit/Rekening Koran) dari
Bank Jatim. Kasda mencatat penerimaan tersebut dalam Buku Penerimaan
dan Pengeluaran Kas berdasarkan nota kredit.
f. Bagian Akuntansi Biro Keuangan.
Berfungsi untuk mencatat penerimaan kas berdasarkan nota kredit dari Kas
Daerah ke Buku Jurnal Penerimaan Kas dan Buku Besar.
g. Dokumen yang Digunakan.
1) Surat Permintaan Pembayaran (SPP);
2) Surat Permintaan Membayar (SPM);
3) Nota Kredit Bank;
4) Rekening Koran (RC).
2. Catatan yang Digunakan
a. Buku Jurnal Penerimaan Kas;
b. Buku Besar;
c. Buku Penerimaan dan Pengeluaran Kas.
3. Deskripsi Prosedur
Uraian kegiatan prosedur penerimaan dan penyetoran kas pada sub sistem
penerimaan Dana Perimbangan yang berasal dari Bagi Hasil PPh 21, Dana
Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus adalah :
a. Bagian Anggaran Biro Keuangan berdasarkan surat keputusan atau surat
ketetapan mengenai penerimaan dana perimbangan yang berasal dari Bagi
Hasil PPh 21, Dana Alokasi Khusus dan Dana Alokasi Umum membuat SPP
rangkap 3. Surat keputusan/ketetapan tersebut antara lain berupa SPM
menteri atau surat keputusan sejenis. SPP dikirim ke KPKN.
b. Berdasarkan SPP dan dokumen pendukungnya KPKN menerbitkan SPM
rangkap 4. KPKN selanjutnya mengirimkan ke Bank BO III SPP lembar
pertama dan SPM lembar pertama. Mengarsip berdasarkan urutan tanggal

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 18


dokumen SPP lembar ke-3. Mengirimkan SPM lembar ke 2 s/d 4 dan SPP
lembar ke-2 ke Bagian Anggaran sebagai bukti telah disetujuinya SPP.
c. Bagian Anggaran selanjutnya mengirimkan SPM lembar 2 s/d 3 ke Kas
Daerah. Mengarsip SPP lembar ke-2 dan SPM lembar ke-4 sesuai urutan
tanggal.
d. Kas Daerah mengarsip sementara berdasarkan urutan tanggal SPM lembar 2
s/d 3 untuk selanjutnya menunggu realisasi kas dari Bank Jatim (Nota Kredit
Bank).
e. Setelah Bank menerima transfer kas SPM dan SPP lembar ke-1 serta
merealisasi pengeluaran maka Bank menerbitkan Nota Kredit. Nota Kredit
dikirimkan ke Kas Daerah.
f. Setelah Kas Daerah menerima Nota Kredit, maka kas daerah selanjutnya
memeriksa dan mencocokkan dengan SPM yang telah diterima. Dokumen
tersebut selanjutnya distempel oleh Kas Daerah. Kas Daerah mengarsip
lembar ke-3 SPM berdasarkan urutan tanggal. Kas Daerah berdasarkan nota
kredit yang diterima juga akan mencatat penerimaan kas tersebut ke dalam
buku Penerimaan dan Pengeluaran Kas. Untuk selanjutnya Nota Kredit
dilampiri lembar ke-2 SPM dikirimkan oleh Kas Daerah ke Bagian Akuntansi
pada Biro Keuangan.
g. Bagian Akuntansi berdasarkan nota kredit yang dilampiri SPM lembar ke-2
mencatat ke Buku Jurnal Penerimaan Kas. Selanjutnya secara periodik
diposting ke Buku Besar.

I. Sistem dan Prosedur Pertanggungjawaban Dana dan Pencairan Dana


1. Pencairan Dana UP
a. Berdasarkan Keputusan Gubernur tentang Uang Persediaan Bendahara
Pengeluaran membuat SPP-UP untuk diajukan kepada PPK-SKPD.
b. PPK-SKPD meneliti dokumen SPP-UP. Setelah dinyatakan sah dan lengkap
diterbitkan SPP-UP yang ditandatangani oleh Kepala SKPD paling lambat 2
(dua) hari sejak diterimanya dokumen SPP-UP.
c. SPM beserta dokumen SPP-UP di ajukan ke Bagian Verifikasi pada Biro
Keuangan untuk diteliti kelengkapan dan keabsahannya, selanjutnya dibuat
surat rekomendasi UP paling lambat 1 hari sejak diterimanya dokumen SPM
sebagai dasar penerbitan SP2D di Bagian Pembelanjaan. Bagian

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 19


Pembelanjaan menerbitkan SP2D paling lambat 1 (satu) hari sejak
diterimanya Surat Rekomendasi UP, kemudian SP2D diteruskan ke Kantor
Kas Daerah.
d. Kantor Kas Daerah menerbitkan giro paling lambat 1 (satu) hari sejak
diterimanya SP2D sebagai dasar pencairan UP di Bank Jatim.

2. Pertanggungjawaban Dana UP/GU dan Pencairan Dana GU.


a. Untuk mempercepat dan mempermudah pelaksanaan program dan kegiatan,
Bendahara Pengeluaran Pembantu mengirim dokumen SPJ secara langsung
kepada PPK-SKPD, Bendahara Pengeluaran dan Bagian Verifikasi pada Biro
Keuangan, paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya.
Bendahara Pengeluaran merekap SPJ dari Bendahara Pengeluaran
Pembantu, kemudian hasil rekap SPJ dikirim kepada PPK-SKPD selambat-
lambatnya tanggal 10;
b. PPK-SKPD memverifikasi dokumen SPJ dan membuat pengesahan SPJ
selambat-lambatnya tanggal 13;
c. Berdasarkan pengesahan SPJ dari PPK-SKPD, Bendahara Pengeluaran
membuat SPP-GU kepada PPK-SKPD;
d. PPK-SKPD meneliti dokumen SPP-GU, setelah dinyatakan lengkap
diterbitkan SPP-GU yang ditandatangani oleh Kepala SKPD paling lambat 2
(dua) hari sejak diterimanya dokumen SPP-GU;
e. SPP-GU dokumen SPP-GU dan Pengesahan SPJ diajukan ke Bagian
Verifikasi pada Biro Keuangan untuk diteliti kelengkapan dan keabsahannya,
selanjutnya dibuatkan Surat Rekomendasi GU paling lambat 1 (satu) hari
sejak diterimanya dokumen SPP-GU sebagai dasar penerbitan SP2D di
Bagian Pembelanjaan;
f. Bagian Pembelanjaan menerbitkan SP2D paling lambat 1 (satu) hari sejak
diterimanya SP2D sebagai dasar pencairan dana UP di Bank Jatim;
g. Dalam hal dokumen SPM-GU dinyatakan tidak lengkap dan/atau tidak sah
dan/atau pengeluaran tersebut melampaui pagu anggaran, SKPKD menolak
menerbitkan SP2D. Untuk selanjutnya diserahkan kepada Pengguna
Anggaran agar dilakukan penyempurnaan SPM-GU.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 20


3. Pencairan dan Pertanggungjawaban Dana TU.
a. Pengguna Anggaran mengajukan Permohonan Tambahan Uang (TU) beserta
rincian Rencana Penggunaan TU kepada Sekretaris Daerah melalui Biro
Keuangan;
b. Berdasarkan Persetujuan Permohonan Tambahan Uang, Bendahara
Pengeluaran membuat SPP-TU kepada PPK-SKPD;
c. PPK-SKPD meneliti dokumen SPP-TU setelah dinyatakan sah dan lengkap
diterbitkan SPM-TU yang ditandatangani Kepala SKPD paling lambat 2 (dua)
hari sejak diterimanya dokumen SPP-TU;
d. SPM-TU beserta dokumen SPP-TU diajukan kepada Bagian Verifikasi pada
Biro Keuangan untuk teliti kelengkapan dan keabsahannya selanjutnya
dibuatkan Surat Rekomendasi TU paling lambat 1 (satu) hari sejak
diterimanya dokumen SPM-TU sebagai dasar penerbitan SP2D di Bagian
Perbelanjaan;
e. Bagian Perbelanjaan menerbitkan SP2D paling lambat 1 (satu) hari sejak
diterimanya Surat Rekomendasi TU kemudian SP2D diteruskan ke Kantor
Kas Daerah;
f. Kantor Kas Daerah menerbitkan Giro paling lambat 1 (satu) hari sejak
diterimanya SP2D sebagai dasar pencairan dana TU di Bank Jatim;
g. Dalam hal dokumen SPM dinyatakan tidak lengkap dan/atau tidak sah
dan/atau pengeluaran tersebut melampaui pagu anggaran, SKPKD menolak
menerbitkan SP2D. Untuk selanjutnya diserahkan kepada Pengguna
Anggaran agar dilakukan penyempurnaan SPM;
h. Dalam hal Dana TU tidak habis digunakan, maka sisa TU harus disetorkan ke
rekening Kas Daerah pada bulan yang berkenaan;
i. Penggunaan dana TU harus dipertanggungjawabkan secara terpisah dengan
SPJ-GU, namun pertanggungjawabannya bersamaan dengan SPJ-GU, SPJ-
TU dilampiri dengan bukti setor sisa TU;
j. Untuk mempercepat dan mempermudah pelaksanaan program dan kegiatan,
Bendahara Pengeluaran Pembantu mengirimkan dokumen SPJ-TU secara
langsung kepada PPK-SKPD, Bendahara Pengeluaran dan Bagian Verifikasi
pada Biro Keuangan, paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya;
Bendahara Pengeluaran merekap SPJ-TU dari Bendahara Pengeluaran
Pembantu, kemudian hasil rekap SPJ-TU dikirim kepada PPK-SKPD

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 21


selambat-lambatnya tanggal 10;
k. PPK-SKPD memverifikasi dokumen SPJ-TU dan membuat pengesahan SPJ-
TU selanbat-lambatnya tanggal 13;
l. Pengesahan SPJ-TU dikirim ke Bagian Verifikasi pada Biro Keuangan untuk
dibuat Surat Rekomendasi Pengesahan SPJ-TU dan dikirim ke Bagian
Pembelanjaan;
Berdasarkan Surat Rekomendasi Pengesahan SPJ-TU, Bagian Pembelanjaan
melakukan pembebanan sesuai rekening belanja.

4. Pencairan Dana LS
a. Berdasarkan SPD, PPTK menyiapkan dokumen SPP-LS pengadaan
barang/jasa untuk disampaikan kepada Bendahara Pengeluaran dalam
rangka pengajuan SPP-LS;
b. SPP-LS diajukan kepada PPK-SKPD;
c. PPK-SKPD meneliti dokumen SPP-LS satelah dinyatakan lengkap diterbitkan
SPM-LS yang ditandatangani oleh SKPD paling lambat 2 (dua) hari sejak
diterimanya dokumen SPP-LS;
d. SPM beserta dokumen SPP-LS, diajukan kepada Bagian Pembelanjaan pada
Biro Keuangan untuk diteliti kelengkapan dan keabsahannya;
e. Bagian Pembelanjaan menerbitkan SP2D paling lambat 2 (dua) hari sejak
diterimanya dokumen SPM-LS, kemudian SP2D diteruskan ke Kantor Kas
Daerah;
f. Kantor Kas Daerah menerbitkan Giro paling lambat 1 (satu) hari sejak
diterimanya SP2D sebagai dasar pencairan dana LS di Bank Jatim;

5. Pencairan dan Pertanggungjawaban Gaji


a. Berdasarkan SPD, Pengurus Gaji menyiapkan dokumen SPP Gaji untuk
disampaikan kepada Bendahara Pengeluaran dalam rangka pengajuan SPP
Gaji;
b. SPP Gaji diajukan kepada PPK-SKPD;
c. PPK-SKPD meneliti dokumen SPP Gaji setelah dinyatakan lengkap
diterbitkan SPM Gaji yang ditandatangani oleh kepala SKPD paling lambat 2
(dua) hari sejak diterimanya dokumen SPP Gaji;
d. SPM beserta dokumen SPP Gaji diajukan kepada Bagian Pembelanjaan pada

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 22


Biro Keuangan untuk diteliti kelengkapan dan keabsahannya;
e. Bagian Pembelanjaan menerbitkan SP2D, kemudian SP2D diteruskan ke
Kantor Kas Daerah;
f. Kantor Kas Daerah menerbitkan giro paling lambat 1 (satu) hari sejak
diterimanya SP2D sebagai dasar pencairan dana gaji di Bank Jatim;
g. Pengurus gaji mengirimkan dokumen SPJ Gaji induk kepada Bendahara
Pengeluaran paling lambat tanggal 20 bulan berkenaan, dikecualikan SPJ
Gaji selain gaji induk dapat dikirim bulan berikutnya;
h. Bendahara Pengeluaran mengirim SPJ Gaji kepada PPK-SKPD selambat-
lambatnya tanggal 25;
i. PPK-SKPD memverifikasi dokumen SPJ Gaji dan membuat pengesahan SPJ
Gaji untuk kemudian dikirim ke Bagian Verifikasi pada Biro Keuangan
selambat-lambatnya akhir bulan berkenaan;
j. Bagian verifikasi membuat Surat Rekomendasi Pengesahan SPJ Gaji dan
dikirim ke Bagian Pembelanjaan;
k. Surat Rekomendasi Pengesahan SPJ Gaji sebagai dasar bagi Bagian
Pembelanjaan untuk penerbitan SP2D Gaji bulan berikutnya;

J. Sistem Pertanggungjawaban
Pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Provinsi Jawa Timur TA 2007, dilakukan
dengan suatu tahapan yang dijadwalkan dengan DPRD Provinsi Jawa Timur.
Prosedur pertanggungjawaban yang telah dilalui hingga selesainya pekerjaan
lapangan pemeriksaan BPK RI atas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Jawa
Timur Tahun Anggaran 2007, adalah sebagai berikut:
1. Laporan Keuangan yang telah disusun adalah Laporan Keuangan versi SAP terdiri
dari:
a. Laporan Realisasi Anggaran TA 2007;
b. Neraca per 31 Desember 2007;
c. Laporan Aliran Kas TA 2007;
d. Catatan atas Laporan Keuangan TA 2007.
2. Penyampaian Laporan Keuangan dengan surat penyampaian yang ditandatangani
oleh Gubernur Jawa Timur dengan Nomor 941/5993/043/2008 tanggal 31 Maret
2008, yang diserahkan pada tanggal 31 Maret 2008 dan dituangkan dalam Berita
Acara Penyerahan Laporan Keuangan.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 23


3. Pada tanggal 07 April 2008, BPK RI memulai pekerjaan lapangan pemeriksaan
atas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur TA 2007 yang berakhir
pada tanggal 25 Mei 2008.
4. Laporan Keuangan yang telah dikoreksi oleh Biro Keuangan Sekretariat Daerah
Provinsi Jawa Timur berdasarkan hasil pemeriksaan BPK RI, selanjutnya
dibuatkan Surat Pernyataan Tanggung Jawab yang ditandatangani oleh Gubernur
Provinsi Jawa Timur tanggal 23 Mei 2008 yang menyatakan bahwa Laporan
Keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur TA 2007 merupakan tanggung jawab
Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 24


HASIL PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

1. Laporan Keuangan Sebelum Audit Tidak Direviu oleh Badan Pengawasan


Daerah Provinsi Jawa Timur

Dalam rangka menyajikan informasi keuangan yang handal, Pemerintah


Provinsi Jawa Timur berkewajiban menyelenggarakan sistem pengendalian intern
yang memadai. Salah satu proses pengendalian yang harus dilalui dalam rangka
menyusun Laporan Keuangan Daerah adalah dilakukannya reviu atas keandalan
Laporan Keuangan Daerah oleh Badan Pengawasan Daerah.
Tujuan reviu adalah untuk memberikan keyakinan akurasi, keandalan, dan
keabsahan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan sebelum disampaikan
oleh Gubernur kepada Badan Pemeriksa Keuangan. Namun proses reviu atas
Laporan Keuangan Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2007 (sebelum
audit) belum dilaksanakan oleh Badan Pengawasan Daerah Provinsi Jawa Timur.
Hal tersebut menunjukkan adanya kelemahan pada:
a. Kebijakan yang tidak memandang perlunya reviu atas Laporan Keuangan sebelum
disampaikan kepada Badan Pemeriksa Keuangan;
b. Pengawasan, di mana tidak berjalannya fungsi pengawasan atas Laporan
Keuangan Daerah untuk memperoleh akurasi, keandalan, dan keabsahan
informasi;

Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8


Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Pemerintah Pasal 33 ayat (3)
yang menyatakan bahwa Aparat pengawasan intern pemerintah pada Kementerian
Negara/Lembaga/pemerintah daerah melakukan reviu atas Laporan Keuangan dan
Kinerja dalam rangka meyakinkan keandalan informasi yang disajikan sebelum
disampaikan Gubernur kepada Badan Pemeriksa Keuangan.

Kondisi di atas mengakibatkan Laporan Keuangan Daerah kurang dapat


diandalkan sehingga tidak ada Quality Assurance yang memadai.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 25


Permasalahan tersebut disebabkan tidak tersedianya aparat pengawasan
yang memiliki kemampuan memadai untuk melaksanakan reviu atas Laporan
Keuangan Daerah.

Atas permasalahan tersebut Kepala Badan Pengawasan Provinsi Jawa Timur


memberikan tanggapan bahwa belum dilaksanakannya reviu dikarenakan sosialisasi
pelaksanaan reviu oleh Itjen Depdagri baru dilaksanakan pada tanggal 17 sampai
dengan 19 Maret 2008. Selain itu, adanya keterbatasan SDM/tenaga audit yang
memadai juga menjadi alasan belum dilaksanakannya reviu atas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar memerintahkan Kepala Badan Pengawasan
Daerah untuk melakukan reviu atas Laporan Keuangan Daerah.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 26


2. Penyimpanan Sebagian Akte (Bukti Kepemilikan) Tanah Masih Dilakukan oleh
Satuan Kerja Perangkat Daerah (Pengguna Barang)

Salah satu kegiatan dari pengelolaan barang milik daerah adalah pengamanan
barang. Kegiatan pengamanan bertujuan menghindari resiko kerugian sebagai akibat
kehilangan atau penyalahgunaan aset daerah. Bagian dari kegiatan pengamanan
diantaranya adalah kegiatan penyimpanan bukti kepemilikan barang milik daerah.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang
Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah, aparat yang mengemban tugas
pengamanan barang milik daerah adalah pengelola dan pengguna barang.
Pengelola barang milik daerah adalah pejabat yang berwenang dan bertanggung
jawab melakukan koordinasi pengelolaan barang milik daerah. Sedangkan pengguna
barang milik daerah adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang
milik daerah.
Dalam hal penyimpanan bukti kepemilikan barang milik daerah, Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Pasal 26 menyatakan bahwa
kewenangan penyimpanan bukti kepemilikan atas tanah dan bangunan berada pada
Pengelola barang milik daerah. Sedangkan kewenangan penyimpanan bukti
kepemilikan barang milik daerah selain tanah dan bangunan berada pada pengguna
barang milik daerah. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian dokumen
bukti kepemilikan barang milik daerah berupa tanah masih berada pada satuan kerja
pengguna barang yaitu:
a. Dinas Pertanian;
b. Dinas Pendapatan;
c. Dinas Permukiman;
d. Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
e. Dinas Kehutanan.

Hal tersebut menunjukkan adanya kelemahan pengendalian pada:


a. Kebijakan yang tidak memandang prinsip kehati-hatian dalam pengamanan
dokumen kepemilikan aset daerah terutama tanah;
b. Pelaporan, di mana tidak berjalannya fungsi pelaporan atas dokumen
kepemilikan barang daerah;

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 27


Permasalahan tersebut tidak sesuai dengan Permendagri Nomor 17 Tahun
2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah pasal 26, dalam:
a. Ayat (1) yang menyatakan bahwa Pengguna/Kuasa Pengguna menyimpan
dokumen kepemilikan barang milik daerah selain tanah dan bangunan;
b. Ayat (2) yang menyatakan bahwa Pengelola menyimpan seluruh dokumen
kepemilikan tanah dan/atau bangunan milik pemerintah daerah.

Permasalahan tersebut mengakibatkan timbulnya resiko keamanan barang


milik daerah.

Hal tersebut disebabkan oleh ketidaktaatan pengguna barang milik daerah


dalam melaksanakan ketentuan pengamanan barang.

Atas permasalahan tersebut Kepala Biro Perlengkapan dan Administrasi Aset


mengakui masih terdapat 5 SKPD yang belum menyerahkan dokumen kepemilikan
berupa sertifikat tanah. Penagihan penyerahan sertifikat tanah telah dilaksanakan
melalui Surat Gubernur tanggal 07 April 2004 Nomor 640/781/044/2004 tentang
Pengelolaan Aset Pemerintah Propinsi Jawa Timur dan ditindaklanjuti dengan Surat
Gubernur tanggal 30 April 2007 Nomor 030/5375/044/2007 tentang Penyimpanan
Bukti Kepemilikan Sertifikat Tanah Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar memerintahkan kepada Kepala Satuan Kerja
pengguna barang milik daerah yang masih menyimpan bukti kepemilikan tanah
untuk menyerahkan penyimpanan dokumen tersebut kepada Pengelola Barang Milik
Daerah.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 28


3. Pemerintah Provinsi Jawa Timur Belum Membentuk Satuan Kerja Pengelola
Keuangan Daerah

Dalam rangka pengelolaan keuangan daerah diperlukan Pejabat Pengelola


Keuangan Daerah. Menurut Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara, Pejabat Pengelola Keuangan Daerah mempunyai
tugas menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan APBD, menyusun
rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD, melaksanakan pemungutan
pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah, melaksanakan
fungsi bendahara umum daerah dan menyusun laporan keuangan yang merupakan
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Fungsi bendahara umum termasuk
didalamnya melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan
barang milik daerah.
Ketentuan yang diatur dalam undang-undang tersebut dipertegas dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Pasal 1 yang menyebutkan bahwa
Pejabat Pengelola Keuangan Daerah adalah kepala satuan kerja pengelola
keuangan daerah yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan
bertindak sebagai bendahara umum daerah.
Berkaitan dengan perlunya pembentukan satuan kerja pengelola keuangan
daerah tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah mengisyaratkan akan
membentuk satuan kerja tersebut. Hal itu tertuang dalam pasal 184 ayat 1 Peraturan
Daerah Nomor 2 tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi Jawa
Timur yang menyebutkan bahwa Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah Provinsi
Jawa Timur akan dibentuk sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
Sampai dengan saat pemeriksaan berakhir, satuan kerja dimaksud belum
dibentuk. Fungsi-fungsi pengelolaan keuangan daerah sebagaimana diatur dalam
peraturan perundang-undangan untuk sementara dilaksanakan oleh Biro Keuangan
Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Dinas Pendapatan, Biro Aset dan
Perlengkapan serta Kantor Kas Daerah.
Kelemahan pengendalian intern tersebut terjadi pada Organisasi, di mana
Pemerintah Propinsi Jawa Timur dalam penyusunan Organisasi Perangkat Daerah
belum mengacu pada ketentuan tentang pengelolaan keuangan daerah.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 29


Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. Undang-undang UU 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Daerah, pasal 10 ayat 2
mengatur bahwa dalam rangka pengelolaan Keuangan Daerah, Pejabat
Pengelola Keuangan Daerah mempunyai tugas sebagai berikut :
1) menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan APBD;
2) menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD;
3) melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan
dengan Peraturan Daerah;
4) melaksanakan fungsi bendahara umum daerah;
5) menyusun laporan keuangan yang merupakan pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah:
1) Pasal 1 butir 11 menyebutkan bahwa Pejabat Pengelola Keuangan Daerah
yang selanjutnya disingkat PPKD adalah kepala satuan kerja pengelola
keuangan daerah yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan
APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah.

2) Pasal 7 ayat 1 mengatur bahwa Pejabat Pengelola Keuangan Daerah


mempunyai tugas sebagai berikut:
a) menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah;
b) menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD;
c) melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan
dengan Peraturan Daerah;
d) melaksanakan fungsi Bendahara Umum Daerah;
e) menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD; dan
f) melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh
kepala daerah.
c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah, pasal 7 ayat 1 menyebutkan kepala SKPKD
selaku PPKD mempunyai tugas :
1) menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah;
2) menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD;
3) melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 30


Peraturan Daerah;
4) melaksanakan fungsi BUD;
5) menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD; dan
6) melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh
kepala daerah.
d. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2007 pasal 184 ayat 1 menyebutkan bahwa
Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah Provinsi Jawa Timur akan dibentuk
sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Permasalahan tersebut dapat mengganggu kelancaran pelaksanaan fungsi-


fungsi pengelolaan keuangan daerah.

Permasalahan tersebut disebabkan pihak ekskutif dan legislatif Pemerintah


Provinsi Jawa Timur lambat dalam merespon perubahan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Atas permasalahan tersebut Kepala Biro Keuangan memberikan tanggapan


bahwa pementukan SKPKD di Propinsi Jawa Timur belum tentu efektif dan efisien,
justru dapat menimbulkan permasalahan baru. Terutama dalam hal pemungutan
pajak dan retribusi daerah serta pengelolaan aset daerah. Dengan mengacu pada
Permendagri Nomor 57 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Organisasi Perangkat
Daerah dan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas maka pada masa
mendatang Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak membentuk SKPKD. Pemerintah
Provinsi hanya akan membentuk SKPD yang melaksanakan fungsi SKPKD.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar merealisasikan pembentukan Satuan Kerja
Pengelola Keuangan Daerah sebagaimana telah diamanatkan Peraturan Daerah
Provinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2007.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 31


4. Pemerintah Provinsi Jawa Timur Belum Memiliki Peraturan Daerah Mengenai
Pengelolaan Barang Milik Daerah

Untuk mewujudkan tertib administrasi pengelolaan barang milik daerah dalam


penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai dengan perkembangan dan kondisi di
daerah perlu ditetapkan pedoman pengelolaan barang daerah. Pengelolaan barang
daerah adalah rangkaian kegiatan dan tindakan terhadap barang daerah yang
meliputi perencanaan, penentuan kebutuhan, penganggaran, standarisasi barang
dan harga, pengadaan, penyimpanan, penyaluran, inventarisasi, pengendalian,
pemeliharaan, pengamanan, pemanfatan, perubahan status hukum serta
penatausahaannya.
Peraturan internal di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengenai
pengelolaan barang daerah adalah Surat Keputusan Gubernur Nomor
188/7/KPTS/013/2007 tanggal 11 Januari 2007 tentang Pedoman Kerja dan
Pelaksanaan Tugas Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2007. Pengelolaan
barang daerah dituangkan dalam Bab XII keputusan tersebut dengan judul
Administrasi Pengelolaan Barang Daerah. Administrasi Pengelolaan Barang Daerah
sebagaimana dituangkan dalam Surat Keputusan Gubernur tersebut merupakan
rangkaian aktivitas dan prosedur yang terdiri dari perencanaan kebutuhan,
pengadaan barang/jasa, pemeriksaan barang, akuntansi barang, penerimaan,
penyimpanan, dan penyaluran barang, inventarisasi, pemeliharaan barang daerah,
perubahan status hukum barang daerah, pemanfaatan dan penggunaan barang
daerah, dan laporan pengelolaan barang daerah. Sementara dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 Pasal 3 ayat (2) menjelaskan bahwa pengelolaan
barang daerah meliputi perencanaan kebutuhan, pengadaan, penggunaan,
pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan,
pemindahtanganan, penatausahaan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian.
Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 Pasal 4 ayat (2) menjelaskan bahwa
pengelolaan barang milik daerah meliputi perencanaan kebutuhan dan
penganggaran, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, dan penyaluran,
penggunaan, penatausahaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan,
penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, pembinaan, pengawasan, dan
pengendalian, pembiayaan, dan tuntutan ganti rugi.
Uraian di atas menunjukkan bahwa administrasi pengelolaan barang daerah

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 32


sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Gubernur Nomor 188/7/KPTS/013/2007
belum mengatur keseluruhan aspek aktivitas dan proses dalam pengelolaan barang
daerah. Pemerintah Provinsi Jawa Timur belum memiliki Peraturan Daerah yang
mengatur secara khusus tentang Pengelolaan Barang Daerah dengan mengacu pada
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 17 Tahun 2007.
Hal tersebut menunjukkan adanya kelemahan pengendalian intern pada:
a. Kebijakan yang tidak memandang penting proses pengelolaan barang daerah dan
perlindungan terhadap kekayaan entitas. Hal ini tercermin dengan belum
ditetapkannya peraturan daerah tentang pengelolaan barang daerah;
b. Prosedur pengelolaan barang daerah untuk memastikan tingkat keakuratan dan
kelengkapan serta tanggungjawab pengelolaan barang daerah di wilayah
Pemerintah Provinsi Jawa Timur;
c. Pengawasan atas pengelolaan barang daerah tidak dapat berjalan secara efektif
karena tidak adanya pedoman yang jelas tentang pengelolaan barang daerah.

Lemahnya pengendalian atas tidak adanya penetapan pedoman pengelolaan


barang daerah tersebut tidak sejalan dengan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah pada:
a. Pasal 5 ayat (1) disebutkan bahwa Gubernur/bupati/walikota adalah pemegang
kekuasaan pengelolaan barang milik daerah;
b. Pasal 5 ayat (2) disebutkan bahwa kekuasaan pengelolaan barang milik daerah
mempunyai wewenang yaitu menetapkan kebijakan pengelolaan barang milik
daerah;
c. Pasal 81 disebutkan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai pengelolaan barang
milik daerah diatur dalam Peraturan Daerah.

Belum adanya pedoman pengelolaan barang daerah yang komprehensif


mengakibatkan penatausahaan, pencatatan, dan penyajian atas pengelolaan Barang
Daerah tidak dapat dilakukan secara wajar dan akurat.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 33


Kondisi tersebut disebabkan karena Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang
tidak secara proaktif menyusun dan menetapkan pedoman pengelolaan barang
daerah secara jelas sebagai dasar pengelolaan barang daerah di wilayah Pemerintah
Provinsi Jawa Timur.

Rekomendasi BPK RI
Gubernur Jawa Timur agar menyusun Raperda tentang Pengelolaan Barang
Daerah dan menyampaikan kepada DPRD untuk disahkan menjadi Peraturan
Daerah.

PERWAKILAN BPK RI DI SURABAYA 34