Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULAN

A. Latar Belakang

Indonesia kini telah lahir kembali. Udara kebebasan dapat dihirup


olehmasyarakat Indonesia. Kebebasan pers, kebebasan berkumpul, berpendapat
danberekspresi di muka umum telah dijamin oleh Undang-undang. Walau
masihmalu-malu, namun sejak 10 tahun belakangan ini (era reformasi),
perkembangandemokrasi di Indonesia terasa jauh lebih baik.

Kini, berbagai tayangan yang mengungkapkan perilaku pejabat tinggi,


kritikanterhadap pemerintah, proses persidangan dapat dilihat oleh masyarakat
tanpaditutup-tutupi, mahasiswa dan masyarakat dapat berdemonstrasi
menyampaikanaspirasinya, dan lain sebagainya, sehingga masyarakat semakin
cerdas dan kritis.Puncaknya yaitu pemilihan langsung para kepala daerah serta
presiden RepublikIndonesia. Demokrasi memang identik dengan kebebasan,
namun harus dapatdipertanggungjawabkan. Karena demokrasi yang kebablasan
akan menimbulkanpotensi konflik yang tinggi.

Demokrasi dan HAM merupakan prasyarat mutlak bagi penyelenggaraan


Negara Hukum. Demokrasi adalah persoalan cara penyelenggaraan suatu
negara oleh penguasa, oleh sebab itu untuk mencegah pemerintahan yang
otoriter diperlukan pembagian kekuasaan yang memungkinkan adanya check
and balance dalam pelaksanaan roda pemerintahan. Ajaran trias politica dari
Montequieu yang membagi kekuasaan kedalam kekuasaan eksekutif, legislatif
dan yudikatif akan selalu bertumpu pada kewenangan yang ditentukan oleh
hukum (Abdul Gani, !985:157). Dengan demikian kewenangan antar lembaga
berfungsi mendasari pelaksanaan kekuasaan yang sah dalam penyelenggaraan
pemerintahan yang demokratis pada negara yang berdasarkan asas negara
hukum, agar HAM dapat ditegakkan.
Oleh karena itu pada Negara yang berasaskan Hukum, Demokrasi dan hak
asasi manusia (HAM) tidak dapat dipisahkan dalam menyelenggaraankan
negaranya. Demokrasi adalah cara pelaksanaan negara sebagai organisasi
kekuasaan yang menjamin pengakuan terhadap HAM, sedangkan pelaksanaan
demokrasi itu sendiri juga harus dilandasi oleh HAM, oleh sebab itu untuk
memahami demokrasi secara komprehensif maka didalamnya harus juga
memahami HAM, demikian juga sebaliknya.

Masalah HAM kalau dilihat dari sejarah perkembanganya melalui


perjalanan panjang, karena isu HAM sudah mulai dilontarkan sejak lahirnya
Magna Charta di Inggris pada Tahun 1215, sampai lahirnya piagam PBB
tentang HAM pada tanggal 10 desember 1948. Hak asasi manusia merupakan
hak dasar yang dibawa manusia sejak lahir sebagai anugrah Tuhan YME, oleh
karena itu perlu dipahami bahwa HAM tersebut tidaklah bersumber dari
negara, tetapi semata-mata bersumber dari Tuhan sebagai pencipta alam
semesta beserta isinya, sehingga HAM itu tidak bisa dikurangi (non derogable
right). Oleh karena itu yang diperlukan dari negara dan hukum adalah suatu
pengakuan dan jaminan perlindungan terhadap HAM tersebut. Secara umum
unsur-unsur bagi suatu negara hukum yang berlaku bagi negara-negara Eropa.

Kontinental memberikan ciri khas dari Rechsstaat adalah sebagai berikut:

1. Asas legalitas
2. Pengakuan dan perlindungan terhadap HAM
3. Pembagian kekuasaan negara yang jelas, adil dan konsisten
4. Pengawasan terhadap Badan Peradilan
Berdasarkan hal tersebut maka pada dasarnya dalam negara demokrasi
HAM itu harus dilindungi, oleh karenanya harus ada perangkat hukum yang
disepakati bersama, agar mempunyai kekuatan yang direalisasikan dalam
Konstitusi suatu Negara. Pelanggaran terhadap HAM tersebut merupakan
tantangan bagi pelaksanaan HAM di Indonesia, untuk terciptanya Negara
Hukum yang Demokrasi. Oleh sebab itu pengakuan dan perlindungan terhadap

2
HAM merupakan perlindungan terhadap warga negara sangat perlu diatur
berdasarkan kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang telah diakuai secara umum.
Di Indonesia Kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip perlindungan HAM harus
berdasarkan Pancasila, yang menurut Satjipto Rahardjo, Pancasila merupakan
sumber dari segala sumber Hukum, yang ditarik kedalam kehidupan
kenegaraan, kehidupan politik, praktek dan kehidupan sosial kemasyarakatan
yang bertumpu pada tatanan kehidupan yang adil, makmur, materiil maupun
spirituil sehingga terwujud manusia Indonesia seutuhnya sebagaimana manusia
yang diinginkan dewasa ini.

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana hakikat hak asasi manusia ( HAM ) ?
2. Bagaimana perkembangan HAM di Indonesia ?
3. Apa makna dan hakikat demokrasi ?
4. Bagaimana sejarah dan perkembangan demokrasi di Indonesia ?
5. Bagaimana hubungan HAM dengan demokrasi ?
6. Bagaimana implementasi HAM dan demokrasi di Indonesia ?

C. Tujuan penulisan
1. Untuk mengetahui hakikat hak asasi manusia ( HAM )
2. Untuk mengetahui perkembangan HAM di Indonesia
3. Untuk mengetahuimakna dan hakikat demokrasi
4. Untuk mengetahuisejarah dan perkembangan demokrasi di Indonesia
5. Untuk mengetahuihubungan HAM dengan demokrasi
6. Untuk mengetahuiimplementasi HAM dan demokrasi di Indonesia

D. Manfaat penulisan
1. Dapat mengetahui hakikat hak asasi manusia ( HAM )
2. Dapat mengetahui perkembangan HAM di Indonesia
3. Dapat mengetahuimakna dan hakikat demokrasi
4. Dapatmengetahui sejarah dan perkembangan demokrasi di Indonesia

3
5. Dapat mengetahuihubungan HAM dengan demokrasi
6. Dapat mengetahuiimplementasi HAM dan demokrasi di Indonesia

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Hakikat Hak Asasi Manusia ( HAM )


Hak Asasi Manusia merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang
bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Tuhan Yang Maha
Esa yang harus dihormati, dijaga, dan dilindungi oleh setiap individu,
masyarakat atau Negara dan sekaligus merupakan bagian dari nilai dasar
demokrasi dan merupakan indikator supremasi hukum. Masalah Hak Asasi
Manusia mempunyai akar budaya yang sangat kuat di Indonesia. Negara
Indonesia sendiri terbentuk sebagai reaksi pelanggaran Hak Asasi Manusia
yang absolut selama penjajahan 350 tahun. Dalam Undang - undang nomor 39
Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 1 disebutkan bahwa “ Hak Asasi
Manusia ( HAM ) adalah seperangkat Hak yang melekat pada hakekat dan
keberadaan manusia sebagai mahluk tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugerah - Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh
negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta
perlindungan harkat dan martabat manusia”.
Dengan demikian hakekat penghormatan dan perlindungan terhadap HAM
adalah menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi
keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta keseimbangan antara
kepentingan perseorangan dan kepentingan umum. Upaya menghormati,
melindungi dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia, menjadi kewajiban dan
tanggung jawab bersama antara individu, pemerintah bahkan Negara.

B. Perkembangan HAM di Indonesia


Dari Indonesia tidak ada tokoh-tokoh yang diakui secara internasional
sebagai pelopor HAM.Namun bukan berarti di Indonesia tidak ada perjuangan
untuk menegakkan HAM.Perjuaangan menegakkan HAM dimulai sejak
adanya penjajahan di Indonesia.Perjuangan ini tidak semata-mata hanya

5
perlawanan mengusir penjajah, namun lebih jauh dari itu pada dasarnya juga
merupakan perjuangan untuk menegakkan HAM
Indonesia mengalami penjajahan berabad-abad.Pada masa itu banyak sekali
pelanggaran HAM seperti penculikan, kerja paksa, pembantaian, penyiksaan,
pemindasan, kesewang-wenangan yang merupakan fenomena umum yang
terjadi.Tidak ada kebebasan, keadilan, perasaan, rasa aman, yang terjadi adalah
ekploitasi besar-besaran terhadap manusia dan kekayaan alam Indonesia untuk
kepentingan penjajah.
Pada masa penjajahan Belanda masyarakat Indonesia dibedakan menjadi
tiga strata sosial.Pembedaan kela-kelas dalam masyarakat ini mempunyai
implikasi yang luas.Ada diskriminasi di segala bidang kehidupan ekonomi,
politik, soaial, pendidikan dan hukum. Ketiga strata sosial itu adalah:
masyarakat Eropa sebagai kelas pertama, masyarakat Timut Asing (China,
India Arab) sebagai kelas dua dan masyarakat Irlander sebagai masyyarakat
kelas tiga. Perlakuan manusia yang didasarkan pada diskriminasi inilah yang
bertentangan dengan harkat dan martabatmanusia sebagai makhluk Tuhan yang
sederajat.Kondisi semacam ini mendorong tokoh-tokoh pejuang untuk
mengangkat senjata.
Tonggak-tonggak sejarah perjuangan HAM adalah sebagai berikut :
1. Kebangkitan Nasional (20 Mei 1908)
2. Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928)
3. Proklamasi Kemerdekaan (17 Agustus 1945); merupakan puncak
perjuangan untuk menghapuskan penjajahan dengan penetapan Undang-
undang Dasar 1945 yang didalamnya terkandung pengakuan HAM.
4. UUD RIS dan UUDS 1950 secara implicit mencantumkan konsep HAM.
5. Siding Umum MPRS tahun 1966 menetapkan Ketetapan MPRS Nomor
XIV/MPRS/1966 tentang Pembentukan Panitia Ad Hock untuk menyiapkan
dokumen rancangan Piagam HAM dan Hak serta Kewajiban Warga Negara.
Namun setelah meletusnya G30S/PKI masalah ini tertunda.
6. Tahun 1993 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 1993
dibentuk Komisi Hak Asasi Manusia.

6
7. Perumusan HAM mencapai kemajuan dengan dimasukkan masalah ini
dalam GBHN Tahun 1998.
8. Siding Istimewa MPR 1998 telah berhasil merumuskan Piagam HAM
secara ekplisit lewat Ketetapan MPR-RI Nomor XVII/MPR/1998 tentang
Pandangan dan Sikap Bangsa Indonesia Terhadap HAM.
9. Ketetapan MPR Nomor XVII ini dijabarkan dalam Undang-undang RI
Nomor 39 Tahun 2000 sebagai Hukum Positif bagi pelaksanaan HAM di
Indonesia.

a. HAM Secara Konseptual


Konsep tentang HAM bangsa Indonesia dapat diruntut sejak
Proklamasi Kemerdekaan:
1. Proklamasi
Sebagai pernyataan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia
berimplikasi kebebasan bagi rakyatnya.Kemerdekaan dan kebebasan
inilah merupakan unsur dasar HAM.
2. Pembukaan UUD 1945
Pada alenia pertama dinyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak
segala bangsa.Menurut Prof. Notonagoro setiap bangsa sebagai
kesatuan golongan manusia merupakan diri pribadi mempunyai hak
kodrat dan hak moril untuk berdiri sebagai pribadi atau hidup
bebas.Jika ada bangsa yang tidak merdeka hal ini bertentangan dengan
kodrat manusia.Lebih jauh lagi dijelaskan dalam alinea ke empat,
dimana terdapat Pancasila sebagai fundamen moral negara.Sila
kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung ajaran tentang
kemanusiaan dan keadilan yang merupakan unsur-unsur HAM.
3. Pancasila
Konsep HAM dalam Pancasila bertumpu pada ajaran sila kedua
Kemanusiaan yang adil dan beradab dalam kesatuan dengan sila-sila
yang lain. Konsep HAM dalam Pancasila ini lebih mendasar jika
dijelaskan dalam tatanan filosofis.Pemahaman Pancasila sebgai

7
filsafat bertitik tolak dari hakekat sifat kodrat manusia sebagai
manusia individu dan soaial.Konsep HAM dalam Pancasila tidak
hanya bedasarkan pada kebebasan individu namun juga
mempertahankan kewajiban sosial dalam masyarakat.Kebebasan
dalam Pancasila adalah kebebasan dalam keseimbangan antara hak
dan kewajiban antara manusia sebagai individu dan sosial, manusia
sebagai makhluk mandiri dan makhluk Tuhan, serta keseimbangan
jiwa dan raga.

b. HAM Kerangka Hukum Nasional


1. UUD 1945
Konsep HAM dalam Pancasila dijabarkan dalam UUD
1945.Pengumuman HAM tersebar dalam beberapa pasal yang
menyangkut HAM pada masa damai dan HAM pada masa sengketa
bersenjata. Bahkan terdapat HAM yang belum tercantum dalam
Universal Declaration
Human Right yaitu hak menentukan nasib sendiri, hak
mengunakan sumber daya alam, dan hak perutusan. Beberapa HAM
yang terdapat dalam UUD 1945:
a. Hak atas kedudukan yang sama atas hukum dan pemerintahan
(pasal 2 ayat 1).
b. Hak mendapatkan penghidupan yang layak (pasal 27 ayat 2).
c. Hak atas kebebasan berserikat dan berkumpul (pasal 28).
d. Hak atas kebebasan mengeluarkan pendapat (pasal 28).
e. Hak atas kebebasan mameluk agama (pasal 29 ayat 2).
f. Hak untuk mendapatkan pengajaran (pasal 31).
Selain itu masaih ada hak lain:
a. Hak yang berlaku dalam sengketa yang bersenjata (pasal 11 ayat
12,30).
b. Hak pembelaan diri (pasal 30).
c. Hak perutusan (pasal 13).

8
2. Ketetapan MPR-RI Nomor XVII/MPR/1998 Tentang HAM
Sikap dan pandangan bangsa Indonesia tentang HAM secara tegas
termuat dalam ketetapan ini.Untuk pertama kali secara eksplisit
dirumuskan dalam bentuk piagam HAM.Piagam ini terdiri dari
Pembukaan dan Batang Tubuh yang berisi X Bab dan 44 pasal.Dalam
pembukaan bahwa bangsa Indonesia pada hakekatnya mengakui,
menyadarim menjamin dan menghargai HAM.Dalam pelaksanaan ini
terpadu dalam kewajiban asasi manusia sebagai pribadi, anggota
keluarga masyarakat, bangsa dan negara serta anggota masyarakat
bangsa-bangsa di dunia.
 Undang-undang RI Nomor 29 Tahun 2000 Tentang HAM.
Undang-undang ini disahkan pada tanggal 23 September 2000,
terdiri dari XI Bab dan 106 pasal yang berisi tentang hak manusia
sebagai ciptaan Tuhan, manusia sebagai makhluk sosial, manusia
sebagai warga negara.
 Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1998
Tentang Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan dan
Pelaksanaan atau Penghukuman Lain yang Kejam, tidak manusiawi
atau merendahkan martabat manusia.
 Keputusan Presiden RI Nomor 181 tahun 1889

Tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan.

 Keputusan Presiden RI Nomor 129 Tahun 1998


Tentang Rencana Aksi Nasional HAM.
 Instruksi Presiden Nomor 26 Tahun 1998
Tentang Penghentian Penggunaan Istilah Pribumi dan Non
Pribumi dalam semua perumusan dan penyelenggaraan kebijakan,
perencanaan program ataupun pelaksanaan kegiatan-kegiatan
penyelenggaraan pemerintah

9
C. Makna dan Hakikat Demokrasi
Berdasar berbagai pengertian yang berkembang dalam sejarah pemikiran
tentang demokrasi, kita dapat mengkategorikan ada 3 (tiga) makna demokrasi
yakni demokrasi sebagai bentuk pemerintahan, demokrasi sebagai sistem
politik dan demokrasi sebagai sikap hidup.
1. Demokrasi sebagai Bentuk Pemerintahan
Makna demokrasi sebagai suatu bentuk pemerintahan merupakan
pengertian awal yang dikemukakan para ahli dan tokoh sejarah, misalnya
Plato dan Aristotoles.Plato dalam tulisannya Republic menyatakan bahwa
bentuk pemerintahan yang baik itu ada tiga yakni monarki, aristokrasi, dan
demokrasi.Jadi demokrasi adalah satu dari tiga bentuk pemerintahan.Ukuran
yang digunakan untuk membedakan adalah kuantitas dalam arti jumlah
orang yang berkuasa dan kualitas yang berarti untuk siapa kekuasaan itu
dijalankan.
Menurutnya, demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana
pemerintahan itu dipegang oleh rakyat dan dijalankan untuk kepentingan
rakyat banyak.Monarki adalah bentuk pemerintahan yang dipegang oleh
seseorang sebagai pemimpin tertinggi dan dijalankan untuk kepentingan
rakyat banyak.Aristokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan yang dipegang
oleh sekelompok orang yang memimpin dan dijalankan untuk kepentingan
rakyat banyak.
Ketiganya dapat berubah menjadi bentuk pemerintahan yang buruk yakni
tirani, oligarki dan mobokrasi atau okhlokrasi.Tirani adalah suatu bentuk
pemerintahan yang dipegang oleh seseorang sebagai pemimpin tertinggi dan
dijalankan untuk kepentingan pribadi.Oligarki adalah suatu bentuk
pemerintahan yang dipegang oleh sekelompok dan dijalankan untu
kelompok itu sendiri.Sedangkan mobokrasi/okhlokrasi adalah suatu bentuk
pemerintahan yang dipegang oleh rakyat, tetapi rakyat tidak tahu apa-apa,
rakyat tidak berpendidikan, dan rakyat tidak paham tentang
pemerintahan.Akhirnya, pemerintahan yang dijalankan tidak berhasil untuk
kepentingan rakyat banyak. Penyelenggaraan pemerintahan itu justru

10
menimbulkan keonaran, kerusuhan, kebebasan, dan kerusakan yang parah
sehingga dapatmenimbulkan anarki.
Sementara itu, Aristoteles dalam tulisannya Politics mengemukakan
adanya tiga macam bentuk pemerintahan yang baik yangdisebutnya good
constitution, meliputi: monarki, aristokrasi dan polity.Sedangkan
pemerintahan yang buruk atau bad constitution meliputi tirani,oligarki dan
demokrasi.Jadi berbeda dengan Plato, demokrasi menurutAristotele
merupakan bentuk dari pemerintahan yang buruk, sedang yangbaik
disebutnya polity atau politeia.Teori Aristoteles banyak dianut oleh para
sarjana di masa laludiantaranya Pollybius. Hanya saja menurut Pollybius,
bentukpemerintahan yang ideal bukan politeia, tetapi demokrasi yang
bentuk pemerosotannya adalah mobokrasi (pemerintahan yang chaostic).
Jadi Pollybius lebih sejalan dengan pendapat Plato.Ia terkenal dengan
ajarannya yang dikenal dengan nama Lingkaran Pollybius, bahwa bentuk
pemerintahan akan mengalami perputaran dari yang awalnya baik menjadi
buruk, menjadi baik kembali dan seterusnya.
Dengan demikian teori Pollybius telah mengubah wajah demokrasi
sebagai bentuk pemerintahan yang buruk menjadi sesuatu yang ideal atau
baik dan diinginkan dalam penyelenggaraan bernegara sesuai dengan
kehendak rakyat.Sampai saat itu pemaknaan demokrasi sebagai bentuk
pemerintahan masih dianut beberapa ahli.
Sidney Hook mengatakan demokrasi adalah bentuk pemerintahan di
mana keputusan keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau
tidak langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan
secara bebas kepada rakyat dewasa.
Menurut International Commission forJurist, demokrasi adalah suatu
bentuk pemerintahan di mana hak untuk membuat keputusan-keputusan
politik diselenggarakan oleh warga Negara melalui wakil-wakil yang dipilih
oleh mereka dan yang bertanggung jawab kepada mereka melalui suatu
proses pemilihan yang bebas (Mirriam Budiardjo, 2008: 116-117). Georg

11
Sorensen (2003: 1) secara lugas menyatakan demokrasi adalah suatu bentuk
pemerintahan oleh rakyat.
2. Demokrasi sebagai Sistem Politik
Perkembangan berikutnya, demokrasi tidak sekedar dipahami sebagai
bentuk pemerintahan, tetapi lebih luas yakni sebagai system politik. Bentuk
pemerintahan bukan lagi demokrasi , oligarki, monarki atau yang lainnya.
Bentuk pemerintahan, dewasa ini lebih banyak menganut pendapatnya
Nicollo Machiavelli (1467-1527).Ia menyatakan bahwa Negara (Lo Stato)
dalam hal ini merupakan hal yang pokok (genus) sedang spsesiesnya adalah
Republik (Respublica) dan Monarki (Principati). Monarki adalah bentuk
pemerintahan yang bersifat kerajaan.Pemimpin negara umumnya bergelar
raja, ratu, kaisar, atau sultan.Sedangkan Republik adalah bentuk
pemerintahan yang dipimpin oleh seorang presiden atau perdana menteri.
Pembagian dua bentuk pemerintahan tersebut didasarkan pada cara
pengangkatan atau penunjukkan pemimpin negara. Apabila penunjukkan
pemimpin Negara berdasarkan keturunan atau pewarisan maka bentuk
pemerintahannya monarki.Sedangkan bila penunjukkan pemimpin negara
berdasarkan pemilihan maka bentuk pemerintahannya adalah republik.Jika
bentuk pemerintahan adalah republik atau monarki, maka demokrasi
berkembang sebagai suatu sistem politik dalam bernegara.
Sarjana yang mendefinikan demokrasi sebagai sistem, misalnya Henry B
Mayo (Mirriam Budiardjo, 2008: 117) yang menyatakan sistem politik
demokrasi adalah sistem yang menunjukkan bahwa kebijaksanaan umum
ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif
oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip
kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya
kebebasan politik.
Samuel Huntington (1997: 6-7) menyatakan bahwa sistem politik di
dunia ini ada dua yakni sistem politik demokrasi dan sistem politik non
demokrasi.Menurutnya, suatu sistem politik disebut demokrasi apabila para
pembuat keputusan kolektif yang paling kuat dalam sistem itu dipilih

12
melalui pemilihan yang jurdil.Di dalam sistem itu, para calon bebas
bersaing untuk memperoleh suara dan semua penduduk berhak memberikan
suara.Sedangkan sistem politik non demokrasi meliputi sistem totaliter,
otoriter, absolut, rezim militer, sistem komunis, dan system partai
tunggal.Demokrasi sekarang ini merupakan lawan dari system politik
otoriter, absolut, dan totaliter.
Carter dan Herz dalam Ramlan Surbakti (1999: 221) menggolongkan
macam-macam sistem politik didasarkan pada kriteria siapa yang
memerintah dan ruang lingkup jangkauan kewenanganpemerintah.Berdasar
ini maka ada sistem politik otoriter, sistem politikdemokrasi, sistem politik
totaliter dan sistem politik liberal.Apabila pihak yang memerintah terdiri
atas beberapa orang atau kelompok kecil orang maka sistem politik ini
disebut “pemerintahan dari atas” atau lebih tegas lagi disebut oligarki,
otoriter, ataupun aristokrasi.
Di lain pihak, apabila pihak yang memerintah terdiri atas banyak orang,
maka sistem politik ini disebut demokrasi. Kemudian apabila kewenangan
pemerintah pada prinsipnya mencakup segala sesuatu yang ada dalam
masyarakat, maka rezim ini disebut totaliter.Sedangkan apabila pemerintah
memiliki kewenangan yang terbatas yang membiarkan beberapa atau
sebagian besar kehidupan masyarakat mengatur dirinya sendiri tanpa
campur tangan dari pemerintah dan apabila kehidupan masyarakat dijamin
dengan tata hukum yang disepakati bersama, maka rezim ini disebut liberal.
Pendapat lain dikemukakan oleh Arief Budiman (1996: 38), bahwahanya
ada dua kutub variasi sistem politik, yakni sistem politik yangotoriter dan
sistem politik yang demokratis.
Sukarna dalam bukuDemokrasi Versus Kediktatoran (1981) juga
membedakan adanya system politik demokrasi dan kediktatoran.Pada
intinya adalah demokrasi telahdipahami sebagai sistem politik yang
dilawankan dengan sistem politiknon demokrasi.Ukuran yang
membedakannya adalah prinsip-prinsip yangdigunakan dalam
bernegara.Sukarna (1981: 4-5) mengemukakan adanyabeberapa prinsip dari

13
demokrasi dan prinsip-prinsip dari otoritarian ataukediktatoran. Adapun
prinsip-prinsip dari sistem politik demokrasi adalahsebagai berikut:
a. Pembagian kekuasaan; kekuasaan eksekutif, legeslatif, yudikatifberada
pada badan yang berbeda
b. Pemerintahan konstitusional
c. Pemerintahan berdasarkan hukum
d. Pemerintahan mayoritas
e. Pemerintahan dengan diskusi
f. Pemilihan umum yang bebas
g. Partai politik lebih dari satu dan mampu melaksanakan fungsinya
h. Management yang terbuka
i. Pers yang bebas
j. Pengakuan terhadap hak hak minoritas
k. Perlindungan terhadap hak asasi manusia
l. Peradilan yang bebas dan tidak memihak
m. Pengawasan terhadap administrasi negarn.
n. Mekanisme politik yang berubah antara kehidupan politikmasyarakat
dengan kehidupan politik pemerintah
o. Kebijaksanaan pmerintah dibuat oleh badan perwakilan politik tanpa
paksaan dari lembaga manapun
p. Penempatan pejabat pemerintahan dengan merit sistem bukan poil sistem
q. Penyelesaian secara damai bukan dengan kompromi jaminan terhadap
kebebasan individu dalam batas-batas tertentu.
r. Konstitusi/ UUD yang demokratis
s. Prinsip persetujuan

Kebalikan dari prinsip demokrasi adalah prinsip kediktatoran


yangberlaku pada sistem politik otoriter atau toteliter. Prinsip-prinsip ini
bisadisebut sebagai prinsip non demokrasi, yaitu sebagai berikut:

14
a. Pemusatan kekuasaan yaitu kekuasaan legislatif, kekuasaaneksekutif dan
kekuasaan yudikatif menjadi satu. Ketiga kekuasaanitu dipegang dan
dijalankan oleh satu lembaga saja.
b. Pemerintahan tidak berdasar konstitusional yaitu pemerintahandijalankan
berdasarkan kekuasaan. Konstitusinya member kekuasaan yang besar
pada negara atau pemerintah.
c. Rule of power atau prinsip negara kekuasaan yang ditandai
dengansupremasi kekuasaan dan ketidaksamaan di depan hukum
d. Pembentukan pemerintahan tidak berdasar musyawarah tetapimelalui
dekrit
e. Pemilihan umum yang tidak demokratis. Pemilu dijalankan hanyauntuk
memperkuat keabsahan penguasa atau pemerintah negara.
f. Terdapat satu partai politik yaitu partai pemerintah atau adabeberapa
partai tetapi ada sebuah partai yang memonopolikekuasaan.
g. Manajemen dan kepemimpinan yang tertutup dan tidakbertanggung
jawab h. Menekan dan tidak mengakui hak hak minoritas warga negara
h. Tidak adanya kebebasan berpendapat, berbicara dan kebebasanpers.
Kalaupun ada pers maka pers tersebut sangat dibatasi.
i. Tidak ada perlindungan terhadap hak asasi manusia bahkan seringterjadi
pelanggaran atas hak asasi manusia..
j. Badan peradilan yang tidak bebas dan bisa diintervensi olehpenguasa.
k. Tidak ada kontrol atau pengendalian terhadap administrasi danbirokrasi.
Birokrasi pemerintah sangat besar dan menjangkaukeseluruh wilayah
kehidupan bermasyarakat.
l. Mekanisme dalam kehidupan politik dan sosial tidak dapat berubahdan
bersifat sama
m. Penyelesaian perpecahan atau perbedaan dengan cara kekerasandan
penggunaan paksaan
n. Tidak ada jaminan terhadap hak-hak dan kebebasan individu dalambatas
tertentu misalnya: kebebasan berbicara, kebebasan beragama,bebas dari
rasa takut.

15
o. Prinsip dogmatisme dan banyak berlaku doktrin.
3. Demokrasi sebagai Sikap Hidup
Perkembangan berikutnya, demokrasi tidak hanya dimaknaisebagai
bentuk pemerintahan dan atau sistem politik, tetapi demokrasidimaknai
sebagai sikap hidup. Jika demokrasi sebagai bentukpemerintahan atau
sistem politik maka hal itu lebih banyak berjalan padatingkat pemerintahan
atau kenegaraan. Demokrasi tidak cukup berjalan ditingkat kenegaraan,
tetapi demokrasi juga memerlukan sikap hidupdemokratis yang tumbuh
dalam diri penyelenggara negara maupun warganegara pada umumnya.
Tim ICCE IUN (2003: 112) menyebut demokrasisebagai pandangan
hidup.Bahwa demokrasi tidak datang dengan sendiridalam kehidupan
bernegara.Ia memerlukan perangkat pendukungnyayakni budaya yang
kondusif sebagai mind set dan setting sosial dan bentuk konkrit dari
manifestasi tersebut adalah dijadikannya demokrasi sebagaipandangan
hidup.
John Dewey (Zamroni, 2001: 31) menyatakan ide pokok
demokrasiadalah pandangan hidup yang dicerminkan dengan perlunya
partisipasidari setiap warga yang sudah dewasa dalam membentuk nilai-nilai
yangmengatur kehidupan
Menurut Padmo Wahyono (1991:227), demokrasi adalah suatu pola
kehidupan masyarakat yang sesuaidengan keinginan ataupun pandangan
hidup manusia yang berkelompoktersebut. Demokrasi Indonesia dalam arti
pandangan hidup adalahdemokrasi sebagai falsafah hidup (democracy in
philosophy)
Berdasar pendapat-pendapat di atas, demokrasi bukan sekedarsuatu
bentuk pemerintahan ataupun sistem politik melainkan yang utamaadalah
suatu bentuk kehidupan bersama dalam kehidupan bermasyarakat,berbangsa
dan bernegara. Bentuk kehidupan yang demokratis akan kokohbila di
kalangan masyarakat tumbuh nilai-nilai demokrasi. Demokrasisebagai sikap
hidup didalamnya ada nilai-nilai demokrasi yangdipraktikkan oleh
masyarakatnya yang selanjutnya memunculkan budayademokrasi.

16
Mohammad Hatta (1966: 9) juga pernah menyatakan bahwademokrasi
memerlukan syarat-syarat hidupnya yakni rasa tanggung jawabdan toleransi
pada pemimpin-pemimpin politik. Tanggung jawab dantoleransi merupakan
nilai demokrasi yang akan mendukung sistem ataupemerintahan
demokrasi.Jika demokrasi merupakan nilai-nilai yang dihayati
dandibudayakan dalam kehidupan sehingga menjadi sikap dan perilaku
hidupdemokratis, maka nilai-nilai demokrasi seperti apakah yang
hendakdikembangkan
Henry B Mayo (Mirriam Budiarjo, 2008: 118-119)mengidentifikasi
adanya 8 (delapan) nilai demokrasi, yaitu:
1. penyelesaian pertikaian secara damai dan sukarela,
2. menjaminperubahan secara damai dalam masyarakat dinamis,
3. pergantianpenguasa secara teratur,
4. penggunaan paksaan sedikit mungkin,
5. pengakuan dan penghormatan terhadap keanekaragaman,
6. penegakankeadilan,
7. memajukan ilmu pengetahuan, dan
8. pengakuan penghormatanatas kebebasan.

Zamroni (2001:32) menyatakan bahwademokrasi akan tumbuh kokoh bila


di kalangan masyarakat tumbuh kulturdan nilai-nilai demokrasi, yaitu

1. toleransi,
2. kebebasan mengemukakandan menghormati perbedaan pendapat,
3. memahami keanekaragamandalam masyarakat,
4. terbuka dalam berkomunikasi,
5. menjunjung nilaidan martabat kemanusiaan,
6. percaya diri atau tidak menggantungkan diripada orang lain,
7. saling menghargai,
8. mampu mengekang diri,
9. kebersamaan dan
10. keseimbangan.

17
Nurcholish Madjid (Tim ICCE UIN,2003: 113) menyatakan demokrasi
sebagai pandangan hidup paling tidakmemiliki 7 (tujuh) norma, yaitu:

1. pentingnya kesadaran akan pluralisme,


2. musyawarah,
3. pertimbangan moral,
4. permufakatan yang jujur dansehat,
5. pemenuhan segi segi ekonomi,
6. kerjasama antar wargamasyarakat dan sikap mempercayai iktikad
masing-masing, dan
7. pandangan hidup demokrasi harus menyatu dengan sistem pendidikan.

D. Sejarah dan Perkembangan Demokrasi di Indonesia


Perlu dipahami bahwa demokrasi yang berjalan di Indonesia telah
menghasilkan sejumlah kemajuan berarti dari segi prosedural.Pemilu legislatif,
pemilu presiden, hingga Pilkada dapat berlangsung dengan bebas, transparan,
demokratis, dan paling penting dalam suasana damai.
Check andbalance di antara lembaga-lembaga eksekutif dengan legislatif
juga berlaangsung sangat dinamis. Kebebasan berpendapat dan berserikat
jauhlebih baik dibanding masa Orde Baru.Hal paling mendasar adalah
dibenahinya beberapa kelemahan dalam Batang Tubuh UUD 1945
yangkemudian membuat wajah konstitusi kita tampil berbeda dibanding
Batang Tubuh UUD 1945 yang asli (As’ad Said Ali, 2009: 99).
Perubahan-perubahan penting dan mendasar tersebut membangkitkan dan
mendatangkan sejumlah harapan, seperti diuraikan As’ad Said Ali dalam
bukunya Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa (2009).
Masyarakat mengharapkan adanya peningkatan kualitas demokrasi seiring
dengan kemajuan prosedur demokrasi.Masyarakat juga mengharapkan
pemerintahan yang dihasilkan melalui prosedur demokrasi mampu menangkap
dan mengartikulasikan kepentingan publik jauh lebih baik dibandingkan masa
sebelumnya serta menjauhkan diri dari kepentingankepentingan sempit

18
kelompok atau golongan tertentu.Namun demikian, dalam realitas, harapan-
harapan tersebut belum terwujud secara optimal. Muncul keluhan bahwa sistem
demokrasi yang sekarang berjalan belum banyak menghasilkan kesejahteraan
ekonomi dan sosial lebih baik. Partisipasi rakyat dalam setiap proses
pengambilan keputusan nyaris seperti masa Orde Baru, sementara sirkulasi
elite nasional tidak banyak mengalami perubahan perilaku mendasar.
Pada saat bersamaan muncul rasa khawatir terhadap berbagai masalah yang
cenderung mengguncang sendi-sendi pokok kehidupan berbangsa dan
bernegara.Gerakan separatisme sempat mencuat.Beberapa daerah mengajukan
tuntutan sangat keras kepeada pemerintah pusat, dan Jakarta sering kali
mengabaikan kepentingan pemerintah daerah.Isu-isu sensitive dengan
mengatas-namakan agama kembali meruyak. Hal lain yang cukup
mengguncangkan adalah maraknya korupsi pada era reformasi. Deretan
masalah masih bisa diperpanjang. Semua mengakumulasi menjadi
kekecewaan. Pertanyaan yang mengusik: Benarkah langkah kita dalam proses
demokratisasi sekarang ini? Cara terbaik agar tidak terjebak dalam persoalan
yang tidak kunjung usai ini, adalah dengan mempelajari kembali pesan-pesan
penting pendiri negara dan konstitusi untuk diproyeksikan menjadi visi
membangun kehidupan demokrasi.

a. Ide Demokrasi Pendiri Negara


Apakah ide atau gagasan demokrasi ada pada benak para pendiri negara
saat membicarakan dasar-dasar bernegara di sidang BPUPKI tahun 1945?
Para pendiri negara (The Founding Fathers) kita umumnyamenyetujui
bahwa negara Indonesia yang akan didirikan hendaknyanegara demokrasi.
Ada kesamaan pandangan dan konsensus politik daripara pendiri negara
bahwa kenegaraan Indonesia harus berdasarkerakyatan/ kedaulatan rakyat
atau demokrasi. Jadi cita cita atau idedemokrasi itu ada pada para the
founding fathers bangsa ( Franz MagnisSuseno, 1997: 9-10).
Menurut Mohammad Hatta(1953:39-41), demokrasi telah berurat akar
dalam pergaulan hidup kita.Bangsa Indonesia sejak dahulu sesungguhnya

19
telah mempraktekkan ide tentang demokrasi meskipun masih sederhana dan
bukan dalam tingkat kenegaraan.Dikatakan bahwa desa-desa di Indonesia
sudah menjalankan demokrasi, misalnya dengan pemilihan kepada desa dan
adanya rembug desa.Itulah yang disebut "demokrasi asli". Demokrasi asli
itu memiliki 5 unsur atau anasir yaitu; rapat, mufakat, gotong royong, hak
mengadakan protes bersama dan hak menyingkir dari kekuasaan raja
absolut.
Saat itu, Mohammad Hatta lebih suka mengganakan istilah kerakyatan,
untuk membedakannya dengan demokrasi Barat yang cenderung
individualistik.Namun demikian, demokrasi desa tidak bisa dijadikan pola
demokrasi untuk Indonesia modern.Kelima unsur demokrasi desa tersebut
perlu dikembangkan dan diperbaharui menjadi konsep demokrasi Indonesia
yang modern.Demokrasi Indonesia modern, menurut Mohammad Hatta
harus meliputi 3 hal yaitu; demokrasi di bidang politik, demokrasi di bidang
ekonomi, demokrasi di bidang sosial.
DemokrasiIndonesia tidak berbeda dengan demokrasi di Barat dalam
bidang politik.Hanya saja demokrasi di Indonesia perlu mencakup
demokrasi ekonomi dan sosial, sesuatu yang tidak terdapat dalam
masyarakat Barat. Saat ini, ide demokrasi tersebut terungkap dalam sila
keempat Pancasila yakni kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusywaratan perwakilan dan pasal 1 ayat 2 UUD
1945 yakni kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut
Undang- Undang Dasar 1945.Oleh karena UUD 1945 merupakan derivasi
dari Pancasila sebagaidasar filsafat negara, maka secara normatif demokrasi
Indonesia adalahdemokrasi yang bersumberkan nilai Pancasila khususnya
sila keempat.Oleh karena itu demokrasi Indonesia dikatakan Demokrasi
Pancasila,dimana prinsip-prinsip demokrasi yang dijalankan berdasarkan
pada nilainilaiPancasila.Demokrasi Pancasila dapat diartikan secara luas
maupun sempit, sebagai berikut:

20
a. Secara luas demokrasi Pancasila berarti kedaulatan rakyat yang
didasarkan pada nilai-nilai Pancasila baik sebagai pedoman
penyelenggaraan maupun sebagai cita-cita.
b. Secara sempit demokrasi Pancasila berarti kedaulatan rakyat yang
dilaksanakan menurut hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan.
Demokrasi Pancasila dalam arti luas adalah kedaulatan atau kekuasaan
tertinggi ada pada rakyat yang dalam penyelenggaraannya dijiwai oleh nilai-
nilai Pancasila.Nilai-nilai Pancasila yaitu nilai Ketuhanan, kemanusiaan,
persatuan, kerakyatan dan nilai keadilan sangat mendukung demokrasi.
Nilai-nilai Pancasila menentang sistem otoriter atau kediktatoran.
Pelaksanaan demokrasi Pancasila agar tegak dan berkembang dipusatkan
pada 10 (sepuluh) pilar demokrasi (Achmad Sanusi, 2006: 193- 205), yaitu:
a. Demokrasi yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa Para pemeran politik
dan pemimpin negara dan semua warga negara dalam menerapkan
demokrasi tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. Ia dituntut agar
mempertanggungjawabkan segala tindakannya kepada Tuhan Yang
Maha Esa.
b. Demokrasi yang Menjunjung Hak Asasi manusia Demokrasi
mengharuskan adanya penghargaan terhadap harkat dan martabat
manusia dalam bentuk jaminan dan perlindungan hak-hak asasi manusia
demi terwujudnya keadilan dalam masyarakat.
c. Demokrasi yang mengutamakan Kedaulatan Rakyat Rakyat adalah
pemegang kedaulatan tertinggi dalam Negara demokrasi. Pelaksanaan
kedaulatan melalui sistem perwakilan.Untuk mengisi lembaga
perwakilan perlu dilaksanakan pemilu secara periodik.
d. Demokrasi yang didukung kecerdasan Warga negara yang cerdas dan
terdidik secara politik merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan
demokrasi. Oleh karena itu, pendidikan kewarganegaraan atau
pendidikan politik amat penting dalam negara demokrasi untuk
membekali warga negara kesadaran hak dan kewajibannya.

21
e. Demokrasi yang menetapkan pembagian kekuasaan Suatu negara yang
demokratis harus ada pembagian kekuasaan. Hal ini untuk menghindari
terjadinya pemusatan kekuasaan kepada satu orang. Dan memberikan
kesempatan kepada lembaga lain untuk melakukan pengawasan dan
meminta pertanggungjawaban jalannya pemerintahan.
f. Demokrasi yang menerapkan konsep Negara Hukum Hukum melandasi
pelaksanaan demokrasi. Untuk mengembangkan kebebasan yang
demokratis tidak bisa dengan meninggalkan hukum. Tanpa hukum
kebebasan akan mengarah perbuatan yang anarkis. Pada akhirnya
perbuatan itu meninggalkan nilai-nilai demokrasi. Untuk mewujudkan
demokrasi yang berdasarkan hukum tidak dapat lepas dari perlidungan
konstitusinal, badan peradilan yang bebas, kebebasan berpendapat,
berserikat, dan kesadaran kewarganegaraan.
g. Demokrasi yang menjamin otonomi daerah Pelaksanaan demokrasi harus
tetap menjamin tegaknya persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan
dilaksanakan otonomi daerah yang semakin nyata dan bertanggung jawab
mengindakasikan paham demokrasi juga semakin berkembang.Sebagai
wujud prinsip demokrasi kekuasaan negara tidak dipusatkan pemerintah
pusat saja namun sebagian diserahkan kepada daerah menjadi urusan
rumah tangga daerah itu sendiri.
h. Demokrasi yang berkeadilan social Pelaksanaan demokrasi diarahkan
untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Demokrasi bukan hanya politik saja melainkan juga demokrasi sosial dan
ekonomi.Demokrasi sosial artinya demokrasi yang ditemukan dalam
hubungan antar warga masyarakat dan atau warga negara.Juga harus
dilandasi oleh penghormatan terhadap kemerdekaan, persamaan dan
solidaritas antar manusia.
i. Demokrasi dengan kesejahteraan rakyat Demokrasi juga mencakup
dalam bidang ekonomi. Demokrasi ekonomi adalah sistem pengelolaan
perekonomian Negara berdasarkan prinsip ekonomi.Perekonomian harus
dijaga dari persaingan bebas tanpa batas melalui peraturan

22
perundangundangan.Negara juga mengambil peran yang cukup dalam
usaha mewujudkan kesejahteraan rakyat.
j. Demokrasi dengan pengadilan yang merdeka Sistem pengadilan yang
merdeka memberi peluang seluas-luasnya kepada semua pihak yang
berkepentingan untuk mencari dan menemukan hukum yang seadil-
adilnya. Pengadilan yang merdeka dan otonom tidak boleh dipengaruhi
oleh siapapun, namun hakim wajib mempertimbangkan keadilan yang
berkembang di masyarakat.Demokrasi Pancasila dalam arti sempit adalah
berdasar pada sila keempat Pancasila yaitu Kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.Dengan
demikian, demokrasi Pancasila dalam arti sempit adalah masalah
pengambilankeputusan yaitu pengambilan keputusan yang dipimpin oleh
hitmatkebijaksanaan.Wujud dari pengambilan keputusan yang dipimpin
olehhidmat kebijaksanaan adalah dengan musyawarah mufakat.

b. Praktik Demokrasi di Indonesia


Praktik demokrasi Indonesia berhubungan dengan periodisasidemokrasi
yang pernah dan berlaku dan sejarah Indonesia. MirriamBudiardjo
(2008:127-128) menyatakan bahwa dipandang dari sudut perkembangan
sejarah demokrasi Indonesia sampai masa Orde Baru dapatdibagi dalam 4
(empat) masa, yaitu:
a. Masa pertama Republik Indonesia (1945-1959) yang dinamakanmasa
demokrasi konstitusional yang menonjolkan perananparlemen dan partai-
partai dan karena itu dinamakan DemokrasiParlementer
b. Masa kedua Republik Indonesia (1959-1965) yaitu masaDemokrasi
Terpimpin yang banyak aspek menyimpang daridemokrasi konstitusional
yang secara formal merupakanlandasannya dan menunjukkan beberapa
aspek demokrasi rakyat
c. Masa ketiga Republik Indonesia (1965-1998) yaitu masademokrasi
Pancasila yang merupakan demokrasi konstitusionalyang menonjolkan
sistem presidensiil

23
d. Masa keempat Republik Indonesia (1998-sekarang) yaitu masareformasi
yang menginginkan tegaknya demokrasi di Indonesiasebagai koreksi
terhadap praktik-praktik politik yang terjadi padamasa ketiga Republik
Indonesia.
Afan Gaffar (1999: 10) membagi alur demokrasi Indonesia terdiriatas:
a. periode masa revolusi kemerdekaan (1945-1949)
b. periode masa demokrasi parlementer (1950-1959)
c. periode masa demokrasi terpimpin (1960-1965)
d. periode pemerintahan Orde Baru/demokrasi Pancasila (1966-1998).
Pada masa revolusi kemerdekaan (1945-1949), implementasidemokrasi
baru terbatas pada interaksi politik di parlemen dan persberfungsi sebagai
pendukung revolusi kemerdekaan. Elemen-elemendemokrasi yang lain
belum sepenuhnya terwujud, karena situasi dankondisi yang tidak
memungkinkan. Pada masa itu pemerintah masihdisibukkan untuk berjuang
mempertahankan kemerdekaan yang barusaja diproklamasikan.
Demokrasi parlementer (1950-1959) merupakan masa
kejayaandemokrasi di Indonesia, karena hampir semua elemen demokrasi
dapatkita temukan dalam perwujudannya pada kehidupan politik di
Indonesiayang ditandai dengan karakter utama:
a. Lembaga perwakilan rakyat atau parlemen memainkan perananyang
sangat tinggi dalam proses politik yang berjalan
b. Akuntabilitas pemegang jabatan dan politisasi pada umumnyasangat
tinggi;
c. Kehidupan kepartaian boleh dikatakan memperoleh peluangyang
sebesar-besarnya untuk berkembang secara maksimal. Halitu dibuktikan
dengan sistem banyak partai (multy party sistem)sehingga pada saat itu
ada sekitar 40 partai yang terbentuk
d. Pemilu tahun 1955 dilaksanakan dengan prinsip demokrasi
e. Hak-hak dasar masyarakat umum terlindungiMasa demokrasi terpimpin
(1960-1965) merupakan masa dimanademokrasi dipahami dan dijalankan

24
berdasar kebijakan pemimpin besarrevolusi dalam hal ini presiden
Soekarno.
Belajar dari kegagalandemokrasi parlementer yang dianggap liberal maka
presiden Soekarnomengajukan gagasan demokrasi yang sesuai dengan
kepribadianbangsa. Ciri yang muncul pada masa itu antara lain:
a. Mengaburnya sistem kepartaian
b. Peranan DPR-GR sebagai lembaga legislatif dalam system politik
nasional menjadi sedemikian lemah
c. Basic human right sangat lemah, dimana Soekarno denganmudah
menyingkirkan lawan-lawan politiknya yang tidak sesuaidengan
kebijaksanaannya atau yang mempunyai keberanianuntuk menentangnya
d. Masa puncak dari semangat anti kebebasan pers, dibuktikandengan
pemberangusan harian Abdi dari Masyumi dan harianPedoman dari PSIN
e. Sentralisasi kekuasaan semakin dominan dalam proses
hubunganpemerintah pusat dan daerah.
Demokrasi masa pemerintahan presiden Soeharto (1966-1998)dikenal
dengan demokrasi Pancasila. Namun demikian pada masa itu,pelaksanaan
demokrasi memberi gejala-gejala antara lain:
a. Rotasi kekuasaan eksekutif tidak pernah ada kecuali di tingkatdaerah
b. Rekrutmen politik tertutup
c. Pemilu masih jauh dari semangat demokrasi
d. Basic human right sangat lemah.
Pendapat lain menyebutkan, bahwa perkembangan demokrasiterbagi
dalam tiga periode sejalan dengan perkembangan politik diIndonesia, yakni:
periode 1945-1959 adalah demokrasi liberal, periode1959-1966 adalah
demokrasi terpimpin danperiode 1966-sekarangadalah demokrasi Pancasila
Perkembangan akhir menunjukkan bahwa setelah
berakhirnyapemerintahan Soeharto atau masa Orde Baru, Indonesia
memasuki OrdeReformasi (sejak 1998 sampai sekarang). Gambaran
mengenaipelaksanaan demokrasi di masa Reformasi dapat kita ketahui dari
naskahRencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025. Dalam

25
naskahtersebut dinyatakan tentang kondisi pembangunan demokrasi,
sebagaiberikut:
a. Perkembangan demokratisasi sejak tahun 1998 sampai denganproses
penyelenggaraan Pemilu tahun 2004 telah memberikanpeluang untuk
mengakhiri masa transisi demokrasi menuju arahproses konsolidasi
demokrasi.
b. Adanya pemilihan langsung presiden dan wakil presiden,
pemilihanlangsung anggota DPR, DPD dan DPRD, serta pemilihan
langsungkepala daerah merupakan modal awal yang penting bagi
lebihberkembangnya demokrasi pada masa selanjutnya
c. Perkembangan demokrasi selama ini ditandai pula denganterumuskannya
format hubungan pusat-daerah yang baru yaitupenguatan desentralisasi
dan otonomi daerah
d. Perkembangan demokrasi ditandai pula dengan adanya
consensusmengenai format baru hubungan sipil-militer yang
menjunjungtinggi supremasi sipil dan hubungan Tentara Nasional
Indonesia(TNI) dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terkait
dengankewenangan dalam melaksanakan sistem pertahanan dan
keamanan
e. Kemajuan demokrasi terlihat pula dengan telah berkembangnya
kesadaran-kesadaran terhadap hak hak masyarakat dalamvkehidupan
politik, yang dalam jangka panjang diharapkan mampu menstimulasi
masyarakat lebih jauh untuk makin aktif berpartisipasi dalam mengambil
inisiatif bagi pengelolaan urusan-urusan publik.
Apabila kita menyimak kembali butir pertama dari gambarandemokrasi
Indonesia sebagaimana tertuang dalam RPJP 2005-2025 di atas,maka proses
demokrasi atau demokratisasi kita sekarang sedang beradapada tahap tiga
yakni tahap konsolidasi demokrasi. Sebagaimana kitaketahui, tahapan
demokratisasi meliputi:
a. Tahapan pertama adalah pergantian dari penguasa non demokratiske
penguasa demokrasi

26
b. Tahapan kedua adalah pembentukan lembaga-lembaga dan tertibpolitik
demokrasi
c. Tahapan ketiga adalah konsolidasi demokrasi
d. Tahapan keempat adalah praktik demokrasi sebagai budaya
politikbernegara.
Refleksi: Bagaimana kehidupan demokrasi di Indonesia dewasa ini?
Apakah demokratis atau tidak? Pertanyaan demikian dapat dijawab dengan
menunjuk pada kriteria: Apakah prinsip-prinsip demokrasi memang telah
berjalan di Indonesia? Secara teoritik dapat dikatakan bahwa semakin
banyak prinsip demokrasi dijalankan, maka semakin demokratis negara
tersebut. Sebaliknya semakin banyak prinsip demokrasi ditinggalkan, maka
semakin jauh negara tersebut dari kriteria demokrasi. Berikut ini kita
cermati beberapa hasil penelitian tentang pelaksanaan demokrasi di
Indonesia, baik yang dilakukan oleh lembaga nasional maupun regional.
Laporan Program Penilaian Demokrasi di Asia Tenggara yang dirilis
ASEAN People’s Assembly sebuah jaringan think-tank masyarakat sipil di
tataran ASEAN berdasarkan penelitian kasus Indonesia periodeakhir 2003
hingga Mei 2005 dengan titik berat penilaian terhadap tema-tema:Pemilu
yang bebas dan adil, Partai Politik yang demokratis, danHubungan Sipil-
Militer, menyimpulkan bahwa proses demokratisasi di Indonesia bergerak
relatif maju (Chistine Sussana Tjhin, 2005: 14-15).
Namun kemajuan itu lebih banyak didorong oleh keteguhan sebagian dari
masyarakat sipil melalui Partisipasi Populer dan Media yang relativebebas
tetapi tidak sepenuhnya independen.Ancaman tersebar datingdari Partai
Politik yang tidak demokratis, Pemerintahan yang tidaktransparan dan
akuntabel; juga Inferioritas Sipil dan Ambisi Militer.Bentuk demokrasi
procedural yang relatiuf cukup baik dapat dilihat selamaPemilu 2004
(pengecualian pada kredibilitas KPU dan partai politik) danmencatat
tantangan besar Pilkada.Relatif tidak ada kemajuan berartiuntuk situasi
seputar tema Kewarganegaraan yang Setara.Namuntampak kemunduran
besar dalam konteks Hak-hak Sipil dan Politik.Proses-proses dalam

27
Supremasi Hukum masih berjuang, tetapi tetapterkontaminasi
korupsi.Desentralisasi sudah menjadi terhentikan denganhasil yang beragam
di berbagai wilayah di Indonesia, meskipun tercatatupaya-upaya
resentralisasi.Sementara itu, hasil penelitian Pusat Kajian Politik,
DepartemenIlmu Politik FISIP Universitas Indonesia (PUSKAPOL) dan
Center forDemocracy and Human Rights (DEMOS) tahun 2011
menyimpulkanbahwa indeks demokrasi Indonesia diperoleh angka sebesar
4.9. Ini berarticenderung berada di tengah jika diukur dari skala 0 hingga
10.Variabel atau indikator yang digunakan adalah 4 prinsip
demokrasi,yakni: otonomi, kompetisi, pluralisasi dan solidaritas. Jadi
menurutpenelitian ini, indeks demokrasi Indonesia berada di bawah angka
‘ratarata’(4.99) yang menggambarkan bahwa ‘demonopolisasi’ bahkan
belumsetengah jalan. Angka indeks mengindikasikan adanyaperkembangan
dan pencapaian yang timpang antara konsep penopangdemokrasi dalam
proses transisi yang berlangsung hingga saat ini.Demokrasi Indonesia
ditopang oleh liberalisasi politik yang cukup tinggi,namun secara kontras
tidak dikuti oleh ekualisasi di area ekonomi yangsangat rendah.Ekualisasi
ekonomi adalah komponen nilai indeks yangterendah dalam seluruh
komponen nilai indeks.Sementara itu perananmasyarakat sipil tergolong
mediocre (tanggung) dan kurang berperansignifikan dalam mendinamisasi
perubahan perubahan demokratikterhadap setting sosial yang sebelumnya
dipenuhi oleh monopoli kekuatankekuatanoligarkis. Liberalisasi dan
ekualisasi di medan masyarakat sipiltergolong rendah.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwauntuk
mengetahui tingkat perkembangan demokrasi di Indonesia dapatdilakukan
dengan mengukur seberapa jauh variabel atau indikator yangpada dasarnya
merupakan prinsip demokrasi itu dijalankan di IndonesiaSudah barang
tentu, prinsip yang tidak kalah penting adalah nilai-nilaidasar Pancasila
sebagai parameter demokratisasi di Indonesia.

28
E. Hubungan HAM dan Demokrasi
Demokrasi dan HAM dua hal yang berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan.
Didalam Negara yang menganut asas Demokrasi kedudukan rakyat sangat
penting, sebab didalam negara tersebut rakyatlah yang memegang kedaulatan
kepentingan dan hak asasi rakyat diakui dan dilindungi oleh negara, yaitu
dengan kata lain negara melindungi Hak asasi manusia yang diatur dalam
konstitusinya, atau kedaulatan adalah kekuasaan yang penuh dan langgeng ada
pada masyarakat. Di dalam negara Demokrasi suatu negara dianggap milik
masyarakat karena secara formal negara itu didirikan dengan perjanjian
masyarakat (dalam Moh. Mahfut MD. 1993:17)
Demokrasi sebagai dasar hidup bernegara memberi pengertian, bahwa pada
tingkat terakhir rakyat memberikan ketentuan dalam masalah-masalah pokok
yang mengenai kehidupan, termasuk dalam menilai kebijaksanaan negara oleh
karena kebijaksanaan tersebut menentukan kehidupan rakyat. Jadi negara
Demokrasi adalah negara yang diselenggarakan berdasarkan kehendak dan
kemauan rakyat, atau jika ditinjau dari sudut organisasi ia berarti suatu
pengorganisasian negara yang dilakukan oleh rakyat karena kedaulatan berada
ditangan rakyat.
Sistem demokrasi untuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara ini pada
hakekatnya berasal dari filosofis bahwa manusia adalah mahluk yang bebas
karena manusia mempunyai hak dan kemampuan untuk mengatur dan
menentukan hidupnya sendiri.Dengan demikian hubungnnya dengan
bernegara, demokrasi mempunyai arti penting bagi masyarakat untuk
menentukan adanya jaminan terhadap penyelenggaraan negara, serta jaminan
dan perlindungan terhadap HAM.
Dalam tahap perkembanganya, demokrasi mengalami berbagai penyesuaian
terhadap situasi dan keadaan. Demokrasi dalam pengertian Yunani dan Athena
Kuno berbeda dengan pengertian demokrasi moderen walaupun mungkin pada
prinsip dasarnya tetap sama. Hakekat demokrasi adalah bahwa kekuasaan ada
ditangan rakyat atau dengan kata lain negara diselenggarakan berdasarkan
kehendak dan kemauan rakyat.

29
Selanjutnya harus dipahami bahwa demokrasi sebagai sistem politik
bernegara berkaitan dengan standar tertentu, yaitu standar demokrasi. Di
negara-negara maju standar demokrasi cukup tinggi, disini demokrasi tidak
hanya menunjuk pada mekanisme politik bernegara, melainkan juga cara hidup
(way of life). Sebaliknya pada negara-negara dimana demokrasi belum
diterapkan secara mantap standar demokrasi lebih rendah ukurannya, yang
ditonjolkan dalam hal ini adalah mekanismenya dan bukan
pencapaiannya.Pada situasi demikian demokrasi semata-mata dipandang
sebagai pengaturan politik bernegara dan tidak memasukkan unsur-unsur
pesamaan didalam masyarakat.
Namun demikian, perumusan konsep hak asasi manusia dalam setiap
konstitusi dari masing-masing negara yang demokrasi mau tidak mau
dipengaruhi oleh pandangan hidup, pengalaman dan kepentingan masyarakat
dari masing-masing negara di dunia.Yang itu berarti pelaksanaan atau
perwujudan hak asasi manusia di tiap-tiap negara sangat dipengaruhi oleh
sejarah perkembangan masyarakat dari masing-masing negara tersebut.
Oleh sebab itu menurut Sri Soemantri (1987:2), tidak ada satupun negara
yang demokrasi didunia ini yang tidak memiliki konstitusi, karena negara dan
konstitusi merupakan dua institusi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Negara merupakan organisasi kekuasaan, sedangkan kekuasaan itu mempunyai
kecenderungan untuk disalah gunakan. Supaya hal tersebut tidak terjadi harus
diupayakan untuk mencegah penyalah-gunaan kekuasaan dengan
mempersiapkan konstitusinya atau undang-undang dasarnya, yang menurut A.
Hamid Attamimi (1990:215) mengatakan, konstitusi atau undang-undang dasar
adalah sebagai pemberi pegangan dan pemberi batas, sekaligus tentang
bagaimana kekuasaan negara harus dijalankan Selanjutnya apabila kita pelajari
semua konstitusi yang berlaku disetiap negara, didalamnya secara umum selalu
terdapat tiga kelompok materi muatan yaitu:

1. Pengaturan tentang jaminan dan perlindungan terhadap HAM


2. Pengaturan tentang susunan ketatanegaraan yang bersifat mendasar

30
3. Pengaturan tentang pembagian dan pembatasan tugas-tugas ketatanegaraan
yang juga bersifat mendasar.
Demikian juga halnya di Indonesia pasang surut perkembangan demokrasi
dan HAM dapat ditelusuri pengaturannya didalam konstitusinya pada
perkembangan sejarah kehidupan bermasyarakat dan bernegara sejak
berdirinya republik ini yang dikuasai oleh beberapa rezim.Mulai dari rezim
orde lama, orde baru dan orde reformasi.Kuatnya pengaruh perkembangan
demokrasi dan HAM didunia Internasional mendapat respon positip dari
penyelenggara negara.
Sebelum UUD 1945 yang berlaku sekarang ini, di Indonesia juga pernah
berlaku Konstitusi RIS 1949 dan UUS 1950. Seperti kita ketahui UUD 1945
hanya memuat 5 pasal yang mengatur tentang HAM, yaitu pasal 27 sampai
pasal 31, bila hal ini kita bandingkan dengan kontitusi RIS 1949 dan UUDS
1950 ternyata kedua konstitusi yang disebut terakhir lebih maju dalam
pengaturan HAM, karena kedua konstitusi itu sudah mengaturnya secara rinci
dalam banyak pasal. Konstitusi RIS 1949 mengatur dalam 35 pasal, yaitu pasal
7 sampai dengan pasal 41, sedangkan UUDS 1950 mengatur dalam 37 pasal,
yaitu pasal 7 sampai dengan pasal 43. Konstitusi RIS 1949 dan UUDS 1950
mengatur masalah HAM dengan pasal-pasal yang terperinci, jelas dan
tegas.Hal tersebut tidak terdapat dalam UUD 1945 yang jauh lebih sedikit
jumlah pasalnya, tidak terperinci dan hanya mengatur beberapa persoalan saja.
Setelah amandemen kedua UUD 1945 dan keluarnya Ketetapan MPR RI
No.XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia, perkembangan HAM di
Indonesia semakin pesat. Dalam upaya pengembangan HAM di Indonesia, kita
selalu berpegang pada prinsip sebagai berikut:
1. Ratifikasi berbagai instrumen PBB tentang HAM hanya dapat dilakukan
sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.
2. Hak Asasi Manusia dibatasi oleh hak dan kebebasan orang lain, moral,
keamanan dan ketertiban umum (TAP MPR No.XVII/MPR/1998).
Berdasarkan hal tersebut dan sesuai dengan kesepakatan Internasional,
pelaksanaan HAM adalah wewenang dan tanggung jawab setiap Pemerintah

31
Negara dengan memperhatikan sepenuhnya keaneka ragaman tata nilai,
sejarah, kebudayaan, sistem politik, tingkat pertumbuhan sosial dan ekonomi,
serta faktor-faktor lain yang dimiliki bangsa yang bersangkutan. Dengan
demikian Harmonisasi peraturan perundang-undangan nasional Indonesia
dibidang HAM, dilakukan antara lain dengan merevisi perundang-undangan
yang berlaku dan merancang Undang-Undang yang baru sesuai Isi Intrumen
Internasional HAM yang telah di Ratifikasi. Dengan demikian upaya yang
telah dilakukan antara lain adalah sebagai berikut:
1. Melakukan perubahan kedua atas UUD 1945, berkenaan dengan HAM,
dengan menambahkan Bab X A dengan judul Hak Asasi Manusia. Bab ini
terdiri dari 10 pasal, yaitu pasal 28 A sampai pasal 28 J.
2. Menetapkan Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi
Manusia, yang antara lain memuat sebagai berikut:
 Menugaskan kepada lembaga-lembaga tinggi negara dan seluruh aparatur
pemerintah untuk menghormati, menegakkan dan meyebarluaskan
pemahaman tentang hak asasi manusia kepada seluruh warga masyarakat.
 Menugaskan kepada Presiden serta Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia untuk segera meratifikasi berbagai intrumen Internasional
tentang hak asasi manusia sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila
dan UUD 1945.
3. Mengundangkan Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia, yang merupakan tonggak sejarah penting atas pengakuan dan
perlindungan HAM. Salah satu pertimbangan dari pembentukan undang-
undang ini adalah salah satu kesadaran bahwa pelaksanaan, penghormatan,
perlindungan dan penegakan HAM selama ini sangat lemah.
4. Mengundangkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang
Pengadilan Hak Asasi Manusia. Pengadilan HAM adalah Pengadilan khusus
terhadap pelanggaran HAM yang berat yang meliputi kejahatan terhadap
genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan kemanusian.Prinsip-prinsip
yang tertuang dalam undang-undang ini diantarang diadopsi dari The
Convention and punishment of the crime of genocide (1948).

32
F. Implementasi HAM dan Demokrasi di Indonesia
Praktik bagaimana demokrasi dan HAM berjalan di Indonesia sangat jelas
terlihat melalui adanya pemilu langsung di Indonesia. Dengan jumlah
penduduk yang terbesar keempat di Dunia, menjadikan Indonesia sebagai
Negara demokrasi terbesar di Dunia. HAM dan demokrasi merupakan konsepsi
kemanusiaan dan relasi sosial yang dilahirkan dari sejarah peradaban manusia
di seluruh dunia. Sehingga pada dasarnya HAM pasti ada kalau manusia yang
hidup dalam kehidupan sosialnya dan bisa dikatakan bahwa HAM terletak pada
keberadaan manusia yang melahirkan demokrasi yang sebenarnya. Seiring
berjalannya waktu, negara-negara di dunia mulai menetapkan berbagai
peraturan sebagai upaya untuk mempertahankan hak asasi manusia dari
masing-masing warga negaranya. Di Indonesia, peraturan mengenai HAM
secara tegas diatur dalam Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 pasal 2 tentang
asas-asas yang menyatakan, “ Negara Republik Indonesia mengakui dan
menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia sebagai hak
yang secara kodrati melekat pada dan tidak terpisahkan dari manusia, yang
harus dilindungi, dihormati, dan ditegakkan demi peningkatan martabat,
kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecerdasan serta keadilan “.
Namun, meskipun berbagai upaya telah diterapkan negara untuk
meminimalkan terjadinya pelanggaran terhadap HAM, sampai saat ini telah
terdapat ribuan kasus sejak terbentuknya KOMNAS HAM ( belum termasuk
kasus-kasus yang tidak tercatat di pengadilan ). Undang-Undang mengenai
HAM seolah-olah diacuhkan oleh para pelaku pelanggaran. Masyarakat saat ini
lebih banyak menuntut hak meskipun harus mengabaikan hak orang lain dan
kewajibannya sebagai manusia bermasyarakat, sehingga definisi mengenai
penyelenggaraan HAM itu sendiri menjadi tersamarkan. Melihat kondisi yang
terjadi saat ini, meskipun berbagai peraturan tentang demokrasi di Indonesia
telah dibentuk dan ditetapkan hingga sedemikian, tetapi masih saja terdapat
pelanggaran-pelanggaran di dalamnya. Misalnya saja pada pemilu tahun 2004
dan tahun 2009, baik pada pemilihan kepala daerah maupun pemilihan anggota
DPR, ditemukan kecurangan tentang pengadaan atau pemberian uang kepada

33
masyarakat dengan tujuan agar warga tersebut memilih salah satu calon.
Adanya kasus penyuapan secara tidak langsung menyisihkan hak untuk
memilih dan menyampaikan pendapat. Masyarakat didesak oleh keputusan
untuk memilih antara menyuarakan pendapat atau uang yang notabene menjadi
kebutuhan primer, mengingat rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat di
Indonesia. Padahal, pemilu merupakan salah satu kesempatan bagi rakyat
untuk dapat menyuarakan aspirasinya mengingat yang dipilih dalam pemilihan
umum tersebut akan menjadi pemimpin selama lima tahun ke depan.
Bukan hanya itu, salah pemaknaan dari demokrasi juga menjadi salah satu
pemicu adanya pelanggaran. Sejatinya demokrasi merupakan sistem
pemerintahan dimana rakyat seharusnya berperan aktif dalam jalannya
pemerintahan, namun pada kenyataannya, rakyat hanya bisa menunutut. Hal itu
dibuktikan dengan sering terjadinya tindak anarkis antara para demonstran
yang menuntut perbaikan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah,
dengan aparat keamanan. Para demonstran yang selama ini sebagian besar
adalah mahasiswa sering melakukan aksi anarkis hanya agar apa yang
disuarakannya didengar. Padahal tanpa kekerasan pun aspirasi mereka dapat
tersalurkan dengan baik jika melalui forum yang tepat dimana dapat melakukan
diskusi langsung dengan para wakil rakyat di pemerintahan. Dari sisi
pemerintah pun, telah ditemukan banyak pelanggaran yang dilakukan. Para
wakil rakyat mengkhianati kepercayaan masyarakat dengan melakukan tindak
korupsi pada dana yang semestinya diperuntukkan bagi rakyat. Kebijakan yang
dibuat mengatasnamakan rakyat akhirnya hanya menguntungkan kaum
minoritas semata. Bukan tidak mungkin hal itulah yang menyebabkan rakyat
bertindak lebih keras dalam memantau jalannya sistem pemerintahan.

34
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Demokrasi dan HAM merupakan dua hal yang berbeda tetapi tidak dapat
dipisahkan satu sama lainnya dalam konsep Negara Hukum (Rechsstaat).
Apabila Demokrasi menyangkut cara menyelenggarakan negara sebagai
organisasi, maka didalam menyelenggarakan negara tersebut HAM merupakan
elemen dasarnya, Dengan pelaksanaan demokrasi maka terdapat pengakuan,
perlindungan dan penegakan HAM. Pelaksaksanaan HAM itu memerlukan
intrumen hukum yang berfungsi sebagai standar, landasan dan sekaligus
pengendalian dalam penyelenggaraan negara.

B. Saran
Diharapkan dari makalah ini, pembaca dapat memahami bagaimana
pelaksanaan demokrasi dan HAM serta mengaplikasikannya dengan baik.

35
DAFTAR PUSTAKA

Neta, Y. 2011. Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Dalam Konsep Negara Hukum
Qua Vadis Demokrasi dan HAM di Indonesia di Era Globalisasi. 1-5.

Wilujeng, R. S. (2013). Hak Asasi Manusia Dari Aspek Historis dan Yuridis. 2-4.

36