Anda di halaman 1dari 15

BAB IV

KINERJA ALAT MUAT DAN ALAT ANGKUT

4.1 Pengambilan Data

Pada penelitian ini klasifikasi alat mekanis dibedakan menjadi dua berdasarkan
tinjauan dalam penelitian :

1. Alat Muat
Alat muat yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah Terex RH 200
(7001, 7002), Terex RH 340 (7003, 7004, 7005), dan Hitachi EX 5500
(7006, 7007).

2. Alat Angkut
Alat angkut yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah Liebherr T
262, Terex MT 4400 AC, dan Komatsu 730 E.

Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan dua cara yaitu pengumpulan data
yang diperoleh dari studi literatur dan pengumpulan data yang diperoleh dari
pengamatan lapangan. Data yang diperoleh dari studi literatur adalah spesifikasi
alat muat dan alat angkut (Lampiran A). Sedangkan data yang diperoleh dari
pengamatan lapangan adalah alokasi alat (Lampiran C), waktu edar alat muat dan
alat angkut pada berbagai kombinasi dan jarak angkut (Lampiran D), dan analisis
perhitungan produksi alat (Lampiran E).

Pengambilan data dilakukan pada bulan Juli 2007 hingga September 2007. Lokasi
pengambilan data berdasarkan alokasi alat dapat dilihat pada Gambar 4.1 dan 4.2.
Pengolahan data waktu edar alat muat dan alat angkut berdasarkan nilai rata-rata
populasi. Total waktu edar alat muat dan alat angkut merupakan penjumlahan

39
nilai rata-rata dari keseluruhan komponen waktu edar alat muat dan alat angkut.
Profile jalur pengangkutan masing-masing fleet dapat dilihat pada Lampiran D.

Gambar 4.1 Pit A South


(Lampiran C)

RH 340
(7005)

RH 200
(7001)

Gambar 4.2 Pit A North


(Lampiran C)

40
4.1.1 Waktu Edar Alat Muat

Waktu edar alat muat pada penelitian ini terdiri dari lima bagian, yaitu: waktu
mengisi bucket (digging time), waktu ayunan bermuatan (swing load), waktu
membuang isi bucket (dumping time), waktu ayunan kosong (empty swing), dan
waktu tunda (delay time). Delay time yang terjadi disebabkan karena alat muat
harus menunggu alat angkut untuk melakukan manuver di area pemuatan. Secara
keseluruhan derajat swing alat muat berkisar antara 0o sampai 135o. Total waktu
edar rata-rata alat muat pada berbagai kombinasi dapat dilihat pada Tabel 4.1
(Lampiran D).

Tabel 4.1 Waktu edar rata-rata alat muat


Swing Swing
Digging Delay Dumping Cycle Time
Alat Muat Load Empty
(s) (s) (s) (s)
(s) (s)
7001 13,86 8,02 4,66 4,59 7,25 38,39
7002 15,93 9,70 4,50 4,40 7,10 41,63
7003 15,60 10,70 3,63 4,17 7,53 41,63
7004 18,44 9,22 5,38 5,13 6,34 44,50
7005 17,03 8,23 4,03 4,13 7,63 41,07
7006 18,17 5,23 3,90 2,87 6,30 36,47
7007 17,07 6,30 3,77 2,90 6,43 36,47

4.1.2 Waktu Edar Alat Angkut

Waktu edar alat angkut pada penelitian ini terdiri dari tujuh bagian, yaitu waktu
mengambil posisi pemuatan, waktu pemuatan, waktu pengangkutan bermuatan,
waktu mengambil posisi dumping, waktu penumpahan muatan, waktu angkut
kosong, dan waktu menunggu pemuatan. Total waktu edar rata-rata alat angkut
pada berbagai kombinasi dapat dilihat pada Tabel 4.2 (Lampiran D). Sedangkan
kecepatan rata-rata alat angkut pada berbagai kondisi jalur pengangkutan dapat
dilihat pada Tabel 4.3.

41
Tabel 4.2 Waktu edar rata-rata alat angkut

Spot Travel Spot Travel Cycle


Alat Alat Loading Dumping Queuing
Time Load Time Empty Time
muat Angkut (s) (s) (s)
(s) (s) (s) (s) (s)
7001 Liebherr 33,07 146,17 310,63 32,63 40,73 230,73 280,93 1074,90

7002 Liebherr 32,90 166,23 434,87 31,07 42,00 405,77 314,93 1427,77

7003 Liebherr 37,50 164,37 389,97 34,73 42,17 291,43 359,40 1479,57

7004 Liebherr 33,90 146,07 456,73 34,00 40,43 381,20 318,03 1410,37

7005 Terex 31,87 122,93 387,90 31,37 40,97 313,53 251,53 1180,10

7006 Komatsu 36,50 163,03 403,60 30,43 42,90 299,80 364,20 1340,47

7007 Komatsu 33,00 149,97 458,27 33,50 38,53 374,73 362,70 1450,70

Tabel 4.3 Kecepatan rata-rata alat angkut pada berbagai kondisi jalur pengangkutan

Alat Alat Distance Travel V Load Travel V Empty Min Grade Max Grade
muat Angkut (km) Load (s) (km/jam) Empty (s) (km/jam) Load (%) Load (%)
7001 Liebherr 1,22 310,63 14,14 230,73 19,03 -4.5 11.6

7002 Liebherr 2,00 434,87 16,56 405,77 17,74 -5.5 6.5

7003 Liebherr 1,67 389,97 15,42 291,43 20,63 -3.5 5.6

7004 Liebherr 1,94 456,73 15,29 381,20 18,32 0.1 8.8

7005 Terex 1,79 387,90 16,61 313,53 20,55 -7.3 9.3

7006 Komatsu 1,64 403,60 14,63 299,80 19,69 -1.6 8.8

7007 Komatsu 1,93 458,27 15,16 374,73 18,54 -1.5 8.8

Dapat terlihat dari data pengamatan bahwa di setiap area pemuatan selalu terdapat
waktu tunggu rata-rata alat angkut dengan nilai antara 251,53 – 364,20 second.
Dengan adanya waktu tunggu ini, dapat terlihat bahwa kinerja alat angkut belum
mencapai kondisi yang optimum. Berdasarkan data pengamatan di lapangan,
selain jumlah alat angkut yang tidak sesuai, adanya waktu tunggu ini disebabkan
karena adanya variasi alat angkut dengan kapasitas yang berbeda pada satu
loading point. Jumlah dan jenis alat angkut pada setiap loading point dapat dilihat
pada Tabel 4.4.

42
Kecepatan rata-rata alat angkut dapat berbeda meskipun memiliki jarak tempuh
yang hampir sama. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kemiringan
jalan, banyaknya persimpangan, dan variasi alat angkut pada jalur yang sama
(Lampiran D).

Pengaruh kemiringan jalan dapat terlihat dari data hasil pengamatan 7003 dengan
alat angkut Liebherr dan 7006 dengan alat angkut Komatsu (jumlah persimpangan
sama), meskipun jarak yang ditempuh tidak berbeda jauh, namun kecepatan rata-
rata alat angkut Liebherr lebih besar dari Komatsu. Hal ini disebabkan karena
kemiringan yang dilalui alat angkut pada lokasi pemuatan 7006 lebih besar
dibandingkan lokasi pemuatan 7003, yaitu hingga 8,8 %.

Tabel 4.4 Jumlah dan variasi alat angkut


Alat Muat Alat Angkut Jumlah
Liebherr 4
7001 Terex 1
Komatsu 1
Liebherr 5
7002 Terex 2
Komatsu 1
Liebherr 7
7003
Komatsu 1
Liebherr 7
7004
Terex 2
Terex 4
7005
Komatsu 4
7006 Komatsu 6
7007 Komatsu 6

4.1.3 Effisiensi Kerja

Effisiensi kerja efektif adalah waktu yang benar-benar digunakan oleh operator
bersama alat mekanis untuk kegiatan produksi. Analisis terhadap effisiensi kerja
efektif masing-masing alat angkut dan alat muat yang tersedia dapat dilakukan
dengan menentukan nilai ketersediaan alat muat maupun alat angkut yang

43
merupakan fungsi waktu kerja, waktu standby, dan waktu perbaikan suatu alat.
Ketersediaan alat merupakan salah satu hal yang mempengaruhi produkivitas alat
muat maupun alat angkut.

Data yang dibutuhkan untuk melakukan perhitungan terhadap ketersediaan alat


diperoleh berdasarkan data “daily production monitoring report August 2007”
(Lampiran B). Ketersediaan alat muat dan alat angkut pada saat penulis
mengambil data pengamatan dapat dilihat pada Tabel 4.5 dan 4.6.

Tabel 4.5 Ketersediaan alat muat


Working Downtime Standby
Digger MA PA UA EU
Hours Hours Hours
7001 19 0 5 98% 99% 80% 79%
7002 18 4 2 82% 83% 90% 75%
7003 19 4 1 84% 84% 94% 79%
7004 22 1 1 96% 96% 96% 92%
7005 16 1 7 94% 96% 70% 67%
7006 16 2 6 89% 92% 73% 67%
7007 20 0 4 100% 100% 83% 83%

Tabel 4.6 Ketersediaan alat angkut


Alat Alat Working Downtime Standby
MA PA UA EU
Muat Angkut Hours Hours Hours
Liebherr 83 26 35 76% 82% 70% 58%
7001 Terex 49 8 15 86% 89% 77% 68%
Komatsu 12 4 8 77% 85% 59% 50%
Liebherr 149 17 26 90% 91% 85% 78%
7002 Terex 40 6 2 87% 88% 95% 83%
Komatsu 18 3 4 88% 90% 84% 75%
Liebherr 140 20 56 88% 91% 71% 65%
7003
Komatsu 17 0 7 100% 100% 71% 71%
Liebherr 143 21 28 87% 89% 83% 74%
7004
Terex 36 6 6 85% 87% 86% 75%
Terex 84 6 54 93% 96% 61% 58%
7005
Komatsu 71 0 25 100% 100% 74% 74%
7006 Komatsu 162 4 27 98% 98% 86% 84%
7007 Komatsu 182 15 43 92% 94% 81% 76%

44
Sedangkan penggunaan waktu alat muat secara keseluruhan pada bulan Agustus
2007 dapat dilihat pada Gambar 4.3 dan 4.4.

Operation Stb Weather Stb Maintenance


355,20 358,98 Delay
7% 7% 4,77
0%
Meal Break
205,67
Effective Working 4%
Break Down
Hours 1016,32
3004,05 20%
60%

Other
95,02
2%

Gambar 4.3 Distribusi waktu alat muat Agustus 2007

No Wait for No Trucks Shift Change


Operator Operator 26,48 10,75
3,03 2,70 7% 3% Preparing for
1% 1% Wait for Truck Blast/Blasting
46,48 30,88
13% 9%
Briefing
94,95 Refuelling/Lubric
27% ating
92,28
26%

Travelling for
Prepare loading production/move
point to other front
11,97 35,67
3% 10%

Gambar 4.4 Distribusi waktu operation standby alat muat Agustus 2007

45
Berdasarkan data distribusi waktu alat muat pada bulan Agustus 2007 (Gambar
4.3 dan 4.4), dapat terlihat adanya total waktu operation standby sebesar 7 % dari
keseluruhan waktu kerja yang disediakan. Sedangkan alokasi waktu operation
standby terbagi antara lain akibat adanya standby operator sebesar 2%, standby
shift change sebesar 3 % dan standby briefing sebesar 28%.

Selain data distribusi waktu alat muat yang tercatat, terdapat juga aktifitas meal
standby alat angkut yang kurang diperhatikan oleh PT. Darma Henwa sehingga
mengakibatkan adanya kehilangan waktu pada saat jam kerja akibat pengambilan
makan dan minum yang berada di luar jalur pengangkutan.

Berdasarkan pengamatan penulis, PT Darma Henwa tidak memiliki sistem


manajemen yang cukup baik untuk minimalisasi kehilangan waktu yang
diakibatkan oleh kegiatan ini. Hal ini dapat terlihat dari antrian yang sering terjadi
pada saat pengambilan makan dan minum, dimana dalam satu shift (siang)
terdapat 3 aktifitas meal standby, yaitu pembagian air mineral pada saat awal
shift, kotak makan siang menjelang waktu istirahat, dan pembagian kopi setelah
waktu istirahat. Waktu tunggu alat angkut rata-rata pada saat pengambilan makan
dan minum dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7 Meal standby shift siang


Kehilangan Jumlah Alat Kehilangan
Meal Standby
Waktu (s) Angkut Waste (BCM)
Air Mineral 134 1533
Kotak Makan 111 39 1270
Kopi 150 1716
Total kehilangan waste 4518

46
Selain kerugian waktu kerja, aktifitas ini juga menimbulkan beberapa kerugian
lain, yaitu :
1. Pemakaian bahan bakar bukan untuk kegiatan produksi. Hal ini
disebabkan karena alat angkut harus keluar dari jalur pengangkutan
menuju tempat pengambilan makan dan minum.
2. Dapat menimbulkan waktu tunggu alat muat pada saat alat angkut menuju
tempat pengambilan makan, dan kemudian menimbulkan antrian alat
angkut pada saat kembali menuju loading point.

4.1.4 Produksi Gabungan

Produksi gabungan yang dihasilkan berdasarkan data pengamatan tidak dapat


dicapai secara optimal. Hal ini diakibatkan karena adanya alokasi alat angkut yang
tidak sesuai pada beberapa loading point. Nilai produksi gabungan pada tiap
loading point diperoleh berdasarkan data “daily production monitoring report
August 2007” (Lampiran B).

Tabel 4.8 Produksi Gabungan


Produksi Gabungan
Alat Muat Alat Angkut Jumlah
(BCM/Jam)
Liebherr 4
7001 Terex 1 990
Komatsu 1
Liebherr 5
7002 Terex 2 948
Komatsu 1
Liebherr 7
7003 1165
Komatsu 1
Liebherr 7
7004 1199
Terex 2
Terex 4
7005 1100
Komatsu 4
7006 Komatsu 6 1028
7007 Komatsu 6 961
Total Produksi Gabungan (BCM/Jam) 7390

47
4.2 Pengolahan Data Pengamatan

4.2.1 Faktor Pengisian Bucket (Bucket fill factor)

Faktor pengisian bucket diperoleh berdasarkan analisis data payload dump truck
Komatsu 730 E, sehingga dapat diketahui volume nyata bucket per pass alat muat.
Nilai bucket fill factor alat muat dapat diperoleh berdasarkan perbandingan
volume nyata dengan volume munjung teoritis alat muat, sehingga diperoleh nilai
bucket fill factor sebesar 87 % (Lampiran E).

4.2.2 Faktor Pengembangan Material (Swell factor)

Faktor pengembangan material (swell factor) didapat dengan membagi massa


jenis material dalam keadaan terberai (loose conditon) dengan massa jenis
material waste dalam keadaan asli (bank conditon). Penulis menggunakan data
sekunder dari laporan penelitian sebelumnya, yaitu density loose 1,78 ton/m3 dan
density insitu 2,4 ton/m3, sehingga diperoleh faktor pengembangan material waste
di lokasi pengamatan sebesar 74 % (Lampiran E).

4.2.3 Kapasitas Nyata Alat Angkut

Kapasitas nyata alat angkut yang dimaksud adalah kapasitas sebenarnya yang
dimuat ke dalam alat angkut. Kapasitas nyata ini ditentukan oleh banyaknya
jumlah passing alat muat, ukuran bucket, bucket fill factor, dan swell factor.
Sehingga didapat kapasitas nyata alat angkut dalam satuan BCM (Tabel 4.9).
Detail perhitungan dapat dilihat pada Lampiran E.

48
Tabel 4.9 Kapasitas nyata alat angkut
Jumlah Kapasitas Kapasitas Kehilangan Kehilangan
Alat Muat Alat Angkut
Passing Nyata(BCM) Nyata(Ton) Waste(Ton) Waste(BCM)
Liebherr 4 87,75 210,61 29,39 12,25
Terex RH
Terex 4 87,75 210,61 25,39 10,58
340
Komatsu 3 65,82 157,96 28,04 11,68
Liebherr 5 90,34 216,80 23,20 9,67
Terex RH
Terex 5 90,34 216,80 19,20 8,00
200
Komatsu 4 72,27 173,44 12,56 5,23
Liebherr 5 87,11 209,06 30,94 12,89
Hitachi EX
Terex 5 87,11 209,06 26,94 11,22
5500
Komatsu 4 69,69 167,25 18,75 7,81

Berdasarkan data pengamatan dapat terlihat bahwa kapasitas alat angkut tidak
dapat dipergunakan secara maksimal. Hal ini disebabkan karena adanya
pembulatan jumlah passing alat muat. Jumlah passing alat muat dibatasi oleh
kapasitas angkut maksimal (Ton) untuk mencegah terjadinya kondisi overload.

Untuk menghindari alokasi alat muat dan alat angkut yang tidak sesuai maka
dibutuhkan analisis kesesuaian kapasitas nyata bucket dengan kapasitas nyata bak
truk, sehingga kerugian yang diakibatkan karena adanya pembulatan jumlah
passing alat muat dapat diminimalisasi.

4.2.4 Faktor Kesesuaian Alat

Peningkatan produksi alat angkut dan alat muat dapat dilakukan dengan
penentuan alokasi alat angkut yang sesuai pada tiap loading point, sehingga waktu
tunggu alat dapat diminimalisasi. Selain itu alokasi alat angkut yang sesuai dapat
meminimalisasi kehilangan waste (BCM) yang diakibatkan karena adanya
pembulatan jumlah passing.

Berdasarkan hasil perhitungan faktor keserasian alat muat dan alat angkut, dapat
diketahui kecenderungan alat muat atau alat angkut untuk menunggu. Besarnya
waktu tunggu dapat diperhitungkan berdasarkan nilai match factor yang telah
didapatkan (Lampiran E).

49
Dari nilai match factor dapat pula diketahui jumlah unit alat angkut yang sesuai
untuk masing-masing fleet (match factor mendekati 1). Adapun persamaan yang
digunakan untuk menghitung jumlah unit alat angkut yang dibutuhkan dapat
dilihat pada Lampiran E. Hasil perhitungan match factor dan waktu tunggu alat
dapat dilihat pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10 Faktor kesesuaian dan waktu tunggu alat


Alat Alat Jumlah Match Waktu Tunggu Waktu Tunggu
Muat Angkut Alat Angkut Factor Alat Muat (s) Alat Angkut (s)
Liebherr 4 0,97 22,59
7001 Terex 4 0,98 19,77
Komatsu 5 1,02 10,62
Liebherr 5 0,94 65,17
7002 Terex 5 0,95 62,18
Komatsu 6 0,94 68,87
Liebherr 5 0,92 82,56
7003 Terex 5 0,92 79,41
Komatsu 7 1,01 8,10
Liebherr 6 1,00 1,28
7004 Terex 6 1,00 1,59
Komatsu 8 1,04 61,83
Liebherr 6 1,06 54,04
7005 Terex 6 1,07 55,67
Komatsu 7 0,97 25,48
Liebherr 5 0,96 34,89
7006 Terex 5 0,97 32,03
Komatsu 6 0,96 37,70
Liebherr 6 1,02 21,54
7007 Terex 6 1,02 24,72
Komatsu 7 0,98 20,84

Berdasarkan hasil perhitungan match factor, dapat ditentukan jenis dan jumlah
alat angkut yang optimal pada masing-masing area pemuatan. Hasil perhitungan
ini perlu dianalisis kembali agar dapat disesuaikan dengan kondisi aktual jumlah
alat angkut yang dimiliki. Tabel 4.11 memberikan pasangan alat angkut yang
ptimal dengan total kehilangan waste terkecil.

50
Tabel 4.11 Pasangan alat muat dan alat angkut optimal
Alat Muat Alat Angkut Kebutuhan Aktual Kurang Berlebih
7001 Terex 4 4 0 0
7002 Terex 5 5 0 0
7003 Liebherr 5 5 0 0
7004 Liebherr 6 4 2 0
7005 Liebherr 6 6 0 0
7006 Komatsu 6 6 0 0
7007 Komatsu 7 9 0 2

Dapat terlihat pada Tabel 4.11 bahwa hasil perhitungan match factor pada area
pemuatan 7004 membutuhkan 6 unit Liebherr, sedangkan Liebher yang tersedia
hanya 4 unit. Oleh karena itu untuk mencapai nilai match factor yang sesuai
diperlukan tambahan 2 unit Liebherr.

Akan tetapi di area pemuatan 7007 tersedia 9 unit Komatsu sedangkan yang
dibutuhkan hanya 7 unit Komatsu. Oleh karena itu kelebihan 2 unit Komatsu pada
area pemuatan 7007 dapat dialokasikan ke area pemuatan 7004. Hal ini bertujuan
untuk mengoptimalkan produksi alat tanpa menambah jumlah alat angkut yang
ada.

Pada pekerjaan pengupasan tanah penutup, meskipun nilai match factor telah
mendekati ideal (MF = 1), masih terdapat beberapa kendala yang menyebabkan
kinerja sistem alat muat-alat angkut tidak optimal. Kendala-kendala tersebut
adalah :

1. Alokasi alat angkut ke suatu lokasi pekerjaan yang tidak sesuai, sehingga
kinerja sistem alat muat-alat angkut tidak optimal.
2. Alat angkut yang sedang bekerja di suatu lokasi pada gilir kerja tertentu,
seringkali dipindahkan ke lokasi kerja yang lain pada gilir kerja tersebut,
sehingga akan mengganggu pekerjaan di lokasi tersebut dan alat angkut
yang dipindahkan akan banyak kehilangan waktu kerja efektifnya.

51
4.2.5 Effisiensi Kerja

Data yang dibutuhkan untuk melakukan perhitungan terhadap ketersediaan alat


diperoleh berdasarkan data “daily production monitoring report August 2007”.
Ketersediaan alat muat dan alat angkut secara keseluruhan pada saat penulis
mengambil data pengamatan dapat dilihat pada Tabel 4.12 dan 4.13.

Tabel 4.12 Ketersediaan alat muat


Working Downtime Standby
Digger MA PA UA EU
Hours Hours Hours
7001 19 0 5 98% 99% 80% 79%
7002 18 4 2 82% 83% 90% 75%
7003 19 4 1 84% 84% 94% 79%
7004 22 1 1 96% 96% 96% 92%
7005 16 1 7 94% 96% 70% 67%
7006 16 2 6 89% 92% 73% 67%
7007 20 0 4 100% 100% 83% 83%

Tabel 4.13 Ketersediaan alat angkut


Alat Alat Working Downtime Standby
MA PA UA EU
Muat Angkut Hours Hours Hours
7001 Terex 137 29 50 83% 87% 73% 63%
7002 Terex 121 61 35 67% 72% 78% 56%
7003 Liebherr 214 40 82 84% 88% 72% 64%
7004 Liebherr 236 52 48 82% 85% 83% 70%
7005 Liebherr 207 36 93 85% 89% 69% 62%
7006 Komatsu 249 30 57 89% 91% 81% 74%
7007 Komatsu 245 33 58 88% 90% 81% 73%

PT. Darma Henwa memiliki target effective utilization (UT) sebesar 90% untuk
alat muat dan alat angkut. Berdasarkan data diatas dapat terlihat bahwa nilai
effective utilization sebagian besar alat yang dipergunakan tidak dapat mencapai
target yang telah ditetapkan.

52
4.2.6 Produksi Gabungan

Di area penambangan PT. Darma Henwa, produksi alat dinyatakan dengan satuan
BCM/jam. Oleh karena itu untuk menentukan produksi alat muat dan alat angkut
harus dikalikan dengan faktor pengembangan material (swell factor). Hasil
perhitungan produksi masing-masing alat muat dan alat angkut serta produksi
gabungan berdasarkan match factor dapat dilihat pada Tabel 4.14.

Tabel 4.14 Produksi alat muat dan alat angkut

Produksi Produksi Produksi


Jumlah Alat
Alat Muat Alat Angkut Alat Muat Alat Angkut Gabungan
Angkut
(BCM/Jam) (BCM/Jam) (BCM/Jam)
7001 Terex 4 942,15 1048,34 942,15
7002 Terex 5 1151,44 828,30 828,30
7003 Liebherr 5 1467,35 1107,54 1107,54
Liebherr 4
7004 1626,32 1098,32 1098,32
Komatsu 2
7005 Liebherr 6 1815,40 1242,74 1242,74
7006 Komatsu 6 1134,58 1223,93 1134,58
7007 Komatsu 7 1424,94 1229,47 1229,47

Berdasarkan hasil pengolahan data pada Tabel 4.14, dapat terlihat bahwa alokasi
alat angkut yang tepat berdasarkan match factor dan kehilangan waste terkecil
pada tiap loading point dapat meningkatkan produksi sebesar 2,61 % apabila
dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada Tabel 4.8.

53