Anda di halaman 1dari 37

ILMU BIOMEDIK DASAR

Sistem Imun
Indriana Hikmatul Maftukhah
Ghafur Rasyid Arifin
Joy Samuel Saragih
Amalia Ghaisani Putri
Muammar Emir Ananta
Denny Grecius Siregar
Dzikrie Za'iemullah
Trienty Batari Gunadi
Aldeka Kamilia Mufidah
Diadikma Belarosa
Tentir
Muhammad Habiburrahman
Nagita Gianty Annisa
Quality Control

FKUI 2015 SOLID


FUNGSI SISTEM IMUN

Sistem imun memiliki fungsi:


 Mempertahankan tubuh dari patogen, misalnya mikroorganisme
 Menyingkirkan sel tua atau jaringan yang rusak
 Mengenali dan menghancurkan sel abnormal dari dalam tubuh (immune surveillance,
seperti pada sel kanker)
 Mengenali dan menghancurkan benda asing yang masuk ke dalam tubuh

KOMPONEN SISTEM LIMFATIK


Komponen aistem limfatik meliputi cairan limfe, sel limfatik, jaringan limfoid, organ limfoid,
dan pembuluh limfatik.

CAIRAN LIMFE
Cairan interstisial yang telah masuk ke pembuluh limfa disebut dengan cairan limfa Oksigen
yang terikat ke hemoglobin.

SEL DALAM SISTEM LIMFATIK


1. LEUKOSIT (SEL DARAH PUTIH)
 Jumlah normal : 7000-9000 per mm3
 Fungsi: melindungi tubuh terhadap invasi benda asing seperti bakteri dan virus.
Sebagian besar aktivitas leukosit berlangsung pada jaringan bukan dalam aliran darah.
 Karakteristik:

Memiliki sifat diapedesis, yaitu kemampuan menembus pori-pori membran kapiler
dan masuk ke dalam jaringan.

Leukosit bergerak sendiri dengan gerakan amuboid.

Kemampuan kemotaksis. Pelepasan zat kimia oleh jaringan yang rusak menyebabkan
leukosit bergerak mendekati (kemotaksis positif) atau menjauhi (kemotaksis negatif)
sumber zat.

Semua limfosit adalah fagositosik, tetapi jauh lebih berkembang pada neutrofil dan
monosit.

Ada yang memiliki granula sitoplasma disebut granulosit (neutrophil, eusinofil,
basofil). Ada pula yang tidak memiliki granula sitoplasma disebut agranulosil
(monosit, limfosit).

FKUI 2015 SOLID Page 2


Klasifikasi leukosit

FKUI 2015 SOLID Page 3


1. Neutrofil
 Jumlah: mencapai 60% dari jumlah total sel darah putih, (leukosit terbanyak)
 Struktur:
- Memiliki granula kecil berwarna merah pada sitoplasmanya. (granulosit)
- Nukleusnya memiliki 3-5 lobus yang dihubungkan dengan benang kromatin tipis.
(polymorphonuclear)
- Diameternya mencapai 9-12 µm
 Fungsi:
- Sangat fagositosik dan sangat aktif.
- Neutrofil adalah spesialis fagositik yang memiliki mobilitas tinggi serta mampu
menelan dan menghancurkan bahan yang tidak diinginkan.

2. Eusinofil
 Jumlah: mencapai 1-3 % dari jumlah total sel darah putih
 Struktur:
- Memiliki granula kasar dan besar berwarna oranye kemerahan pada
sitoplasmanya. (granulosit)
- Nukleusnya memiliki 2 lobus.(polymorphonuclear)
- Diameternya mencapai 12-15 µm
 Fungsi:
- Fagositosik lemah. Jumlahnya akan meningkat saat terjadi alergi atau penyakit
parasit, tetapi akan berkurang saat stress berkepanjangan.
- Eosinofil mengeluarkan bahan-bahan kimia yang menghancurkan cacing parasitik
dan berperan dalam reaksi alergik.
- Berfungsi dalam detoksifikasi histamine yang diproduksi sel mast dan jaringan
yang cedera saat inflamasi berlangsung.
- Eusinofil mengandung peroksidase dan fosfatase, yaitu enzim yang mampu
menguraikan protein.

3. Basofil
 Jumlah : mencapai kurang dari 1 % dari jumlah total sel darah putih
 Struktur :
- Memiliki granula besar yang bentuknya tidak beraturan berwarna ungu kehitaman
pada sitoplasmanya yang memperlihatkan nukleus berbentuk S (granulosit)
- Nukleus satu lobus (beberapa referensi tetap mengklasifikasikan sebagai
polymorphonuclear)
- Diameternya mencapai 12-15 µm

FKUI 2015 SOLID Page 4


 Fungsi :
- Basofil mengeluarkan histamine (untuk meningkatkan aliran darah ke jaringan
yang cedera) dan heparin (untuk membantu mencegah penggumpalan darah
intravaskuler)
- Berperan dalam reaksi alergik.

4. Monosit
 Jumlah: mencapai 3-8 % dari jumlah total sel darah putih
 Struktur:
- Agranulosit
- Merupakan sel darah terbesar.
- Nucleus besar, berbentuk seperti telur, yang dikelilingi sitlopasma berwarna biru
keabuan pucat. (mononuclear)
- Diameternya mencapai 12-18 µm
 Fungsi :
- Monosit sangat fagositik dan sangat aktif. Sel ini siap bermigrasi melalui
pembuluh darah. Jika monosit telah meninggalan aliran darah, maka sel ini
menjadi histiosit jaringan (makrofag tetap)
- Monosit akan berubah menjadi makrofag, yaitu spesialis fagositik besar yang
berada di jaringan.

5. Limfosit
 Jumlah: mencapai 30 % dari jumlah total sel darah putih
 Rentang hidup mampu mencapai beberapa tahun.
 Struktur:
- Agranulosit
- Mengandung nucleus bulat berwarna biru gelap yang dikelilingi lapisan tipis
sitoplasma.(mononuclear)
- Ukuran bervariasi. Ukuran terkecil 5-8 µm sedangkan ukuran terbesar 15 µm
 Fungsi :
Limfosit terdiri dari 2 tipe:
- Limfosit B (sel B) berubah menjadi sel plasma, yang mengeluarkan antibodi secara
tidak langsung menyebabkan destruksi benda asing (imunitas yang diperantarai
antibodi = imunitas humoral)
- Limfosit T (sel T) secara langsung menghancurkan sel yang terinfeksi virus dan sel
mutan dengan mengeluarkan bahan-bahan kimia yang melubangi sel korban
(imunitas yang diperantarai oleh sel = imunitas seluler)
FKUI 2015 SOLID Page 5
JARINGAN LIMFOSIT
1. JARINGAN TERASOSIASI (MALT = MUCOSAL ASSOCIATED LYMPHOID TISSUE)
Merupakan kumpulan jaringan limfoid yang memproteksi epitelium organ-organ sistem
pencernaan, pernapasan, urinari, dan reproduksi. Kelompok nodus limfoid yang
menyusup ke dalam epitel membatasi usus halus dikenal dengan aggregated lymphoid
nodules, or Peyer’s patches.
Banyak ditemukan di beberapa tempat di dalam tubuh, yang meliputi jaringan limfoid
ekstranodul yang berhubungan dengan mukosa diberbagai lokasi,seperti:
 BALT (Bronchus Associated Lymphoid Tissue)
 GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue)
 SALT (Skin Associated Lymphoid Tissue)
 Other examples of MALT include the appendix and the tonsils.

2. TONSIL
Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat
dengan kriptus di dalamnya. Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsil faringeal
(adenoid), tonsil palatina dan tonsil lingual yang ketiga-tiganya membentuk lingkaran
yang disebut cincin waldeyer.

Tonsil palatina yang biasanya disebut tonsil saja terletak di dalam fossa tonsil. Pada kutub
atas tonsil seringkali ditemukan celah intratonsil yang merupakan sisa kantong faring
yang kedua. Kutub bawah tonsil biasanya melekat pada dasar lidah. Permukaan medial
tonsil bentuknya beraneka ragam dan mempunyai celah yang disebut kriptus. Epitel yang
melapisi tonsil adalah epitel squamosa yang juga meliputi kriptus. Di dalam kriptus
biasanya ditemukan leukosit, limfosit, epitel yang terlepas, bakteri dan sisa makanan.
Permukaan lateral tonsil melekat pada fasia faring yang sering juga disebut kapsul tonsil.
Kapsul ini tidak melekat erat pada otot faring, sehingga mudah dilakukan diseksi pada
tonsilektomi.

Mengenai fungsi dari tonsil, masih terdapat kontroversi, tetapi ada beberapa hal yang
dapat diterima yaitu :
 Membentuk zat-zat anti yang terbentuk di dalam sel plasma saat reaksi seluler.
 Mengadakan limfositosis dan limfositolisis.
 Menangkap dan menghancurkan benda-benda asing maupun mikroorganisme yang
masuk ke dalam tubuh melalui hidung dan mulut.
 Memprodusir hormon, khususnya hormon pertumbuhan. Hal ini masih disangsikan
kebenarannya.
FKUI 2015 SOLID Page 6
ORGAN LIMFATIK
1. ORGAN PRIMER
Organ dimana stem cell membelah dan menjadi imunokompoten dan dapat
meningkatkan imun respon. Organ kelompok primer yaitu red bone marrow (di tulang
pipih dan epifisis dari tulang panjang) dan juga timus.

1. Sumsum Merah Tulang Belakang


Sumsum tulang atau bone marrow ini terletak dalam cavum medullare tulang panjang
dan substansinya spongiosa semua tulang.
Fungsi dari sumsum tulang :
 Sebagai tempat hematopoesis
 Dalam system imun sebagai tempat pembentukan dan pematangan sel limfosit B
dan pembentukan sel T
 Untuk imunitas

2. Thymus
Kelenjar timus merupakan organ limfoid yang berbentuk lobul-lobul berwarna pink
dan terletak pada mediastinum bagian posterior sternum. Kelenjar ini tumbuh dari
lapisan endoderm kantung faringeal ketiga pada usia lima minggu dalam kandungan.

Histologi kelenjar Timus:


1. Kapsul: Jaringan Ikat yang menutupi dan menyelubungi Timus
2. Trabekula (Septa): Jaringan ikat yang tumbuh pada bagian kapsul dan
memanjang masuk bagian anterior timus membaginya menjadi lobulus-lobulus
(diameter rata-rata sekitar 2mm).

FKUI 2015 SOLID Page 7


3. Korteks: Bagian luar lobul yang berwarna gelap, mengandung limfosit yang
tersusun rapat.
4. Medulla: Bagian dalam lobul yang berwarna terang, mengandung sedikit limfosit
namun banyak sel epitel reticular. Terdapat juga thymic (Hassal) corpuscles yang
menjadi karakterisitik dari kelenjar timus.
5. Thymic (Hassal) corpuscles: struktur berbentuk oval yang terdiri dari
pengumpulan sel-sel epitel berbentuk pipih (thymic epithelial cells) yang
mengatur perkembangan dan fungsional sel T.

2. ORGAN SEKUNDER
Organ atau wilayah dimana respon imun sering terjadi. Mencakup node lymph dan limpa
(organ karena dikelilingi kapsul).
1. Nodus Limfa
Limfonodus merupakan organ berbentuk ginjal/lonjong dan bersimpai yang terdiri atas
jaringan limfoid yang tersebar di seluruh tubuh sepanjang pembuluh limfe. Kelenjar
getah bening ini banyak ditemukan di ketiak, lipat paha, sepanjang pembuluh besar di
leher, dan serta banyak dijumpai di toraks dan abdomen, khususnya pada
mesenterium. Fungsi :
 Sebagai tempat filtrasi limpa
 Proses fagositosis oleh makrofag
 Memproduksi antibody sebagai aktifitas limfosit B

2. Limpa
Berisi sekumpulan jaringan limphoid terbesar dalam tubuh. Lokasi kelenjar limpa di
bagian atas kuadran kiri perut dekat dengan lambung dan terletak tepat di bawah
diafragma. Fungsinya:
 Menghancurkan sel darah abnormal dan komponen darah lainnya dengan cara
fagositosis.
 Menyimpan zat besi yang telah didaur ulang dari penghancuran sel darah merah.
 Memulai respon imun oleh sel B dan sel T yang merespon adanya antigen dalam
sirkulasi darah.

FKUI 2015 SOLID Page 8


Anatomi dan histologi kelenjar limpa:
 Kelenjar limpa berukuran panjang 12 cm dengan tebal 4 cm.
 Berat rata-rata 160 gram.
 Dalam pembedahan, limpa memiliki warna merah tua karena mengandung darah.
 Bagian hilum  mempermudah komunikasi antara limpa dengan splenic artery
dan splenic vena serta pembuluh lifatik
 Bagian permukaan terluar  kapsul jaringan ikat yang mempermudah aliran
pembuluh darah dan jaringan limfoid.

FKUI 2015 SOLID Page 9


Tersusun atas:
a. Stroma
 Kapsul berupa jaringan ikat padat (kolagen dan serat elastik)  dua lapis,
lapisan jaringan penyokong yang tebal dan lapisan otot halus.
 Trabekula  perpanjangan kapsula ke arah dalam parenkim limpa,
mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf.
 Serat retikuler, fibroblas.

b. Parenkima
 White pulp
White pulp dalah jaringan limfatik, yang terdiri terutama dari limfosit dan
makrofag yang disusun mengelilingi cabang-cabang arteri splenik. Dalam
white pulp, sel B dan sel T akan melakukan fungsi imunitas, serupa dengan
kerja nodus limfa, sementara itu makrofag-makrofag pada limpa akan
menghancurkan patogen di darah dengan fagositosis.
 Red Pulp
Red pulp terdiri dari sinus venous yang berisi darah dan Billroth's cords.
Billroth's cords mengandung sel darah merah, makrofag limfosit, sel plasma,
dan granulosit. Vena juga diasosiasikan dengan red pulp. Terdapat tiga
fungsi yang dilakukan oleh red pulp: (1) Pembuangan makrofag, platelet, dan
sel-sel darah yang sudah tua atau rusak; (2) Penyimpanan platelet; dan (3)
Produksi sel darah (hematopoiesis) ketika masa janin (fetus).

Perkembangan Timus mencapai puncaknya tidak lama setelah lahir dan memiliki
ukuran terbesar pada usia satu atau dua tahun. Akan tetapi, seiring bertambahnya
usia, kelenjar timus mengalami atrofi dikarenakan diferensiasi Limfosit T terjadi
pada masa awal perkembangan manusia. Selain itu, jaringan thymic akan digantikan
FKUI 2015 SOLID Page 10
dengan jaringan adipose dan jaringan ikat areolar. Proses pengurangan ukuran dan
perubahan menjadi jaringan fibrosa disebut dengan involution. Meskipun demikian,
Timus tetap menghasilkan hormon Timosin yang memiliki peran penting dalam
regenerasi Limfosit T. Setelah mencapai usia sekitar 40 tahun, fungsional dari timus
mulai menurun dan menjadi faktor mengapa lanjut usia rentan terhadap penyakit.
Hormon thymosin, thymic humoral factor (THF), thymic factor (TF), thymopoietin
dan thymulin yang dihasilkan oleh kelenjar timus (sel epitel reticular) berfungsi
untuk pematangan dan perkembangan dari limfosit T. Peran dari thymosin
(thymosin-a, thymosin-b, thymosin V) juga meningkatkan proliferasi sel T pada
jaringan limfoid perifer Limfosit T yang mengalami pematangan di Timus akan
berdiferensiasi menjadi immunocompetent T cells, helper T cells, dan cytotoxic T
cells dan memperoleh lapisan reseptor untuk mengenali antigen. Akan tetapi, tidak
semua limfosit dapat mencapai pematangan. Limfosit yang tidak dapat mengenali
self-antigens akan dihilangkan oleh makrofag (seleksi negative) sedangkan limfosit
yang dapat mengenali antigen asing akan selamat dan mencapai kedewasaan. Pada
proses perkembangan limfosit, blood-thymus barrier yang terdiri dari makrofag, sel
endotel, dan sel epitel reticular melindungi limfosit yang berkembang agar tidak
terekspos dengan antigen yang dibawa oleh darah. Setelah pematangan, sel T akan
memasuki aliran darah dan menempati limpa, nodus limfa dan jaringan limfatik lain.
Pada bayi yang baru lahir, apabila tidak ada timus, organ-organ limfoid tidak akan
mendapatkan immunocompetent T cells yang menyebabkan ketidakmampuan
dalam melawan pathogen, berujung pada kematian akibat komplikasi dan system
imun yang kurang fungsional.

SALURAN LIMFATIK
Saluran limfatik / pembuluh limfe membawa cairan limfe dari jaringan tepi menuju vena.
Pembuluh limfe dibagi menjadi 3 macam :
1. KAPILER LIMFATIK / TERMINAL LYMPHATIC

FKUI 2015 SOLID Page 11


Pembuluh limfe berbeda dengan pembuluh darah karena pembuluh limfe bermula dari
kantung-kantung bukan saluran seperti pembuluh darah, diameter lebih besar, dinding
lebih tipis, serta bentuknya tidak beraturan bila dilihat dari potongan horizontal.
Pembuluh kapiler limfatik dibatasi oleh sel-sel epithelial yang tersusun secara tumpang-
tindih (overlaping) sehingga membentuk suatu katup (one-way valve) yang
memungkinkan cairan dan partikel baik kecil maupun besar, termasuk protein, masuk
tanpa bisa kembali ke ruang interseluler.

Pembuluh kapiler limfatik hampir terdapat di seluruh jaringan tubuh. Pembuluh kapiler
limfatik yang terdapat di usus halus disebut lacteal, berfungsi sebagai pembawa lemak
dari sistem pencernaan. Pembuluh limfatik tidak ditemukan di area yang tidak dilalui
pembuluh darah seperti kornea, sumsum tulang, dan SSP.

2. PEMBULUH LIMFATIK KECIL


Dari pembuluh kapiler limfatik, cairan limfe diteruskan ke pembuluh limfatik kecil.
Pembuluh ini juga memiliki katup yang berfungsi untuk mencegah aliran balik cairan
limfe. Katup-katup tersebut membentuk tonjolan-tonjolan. Meskipun tekanan dalam
sistem limfatik kecil, katup-katup dalam sistem limfatik dapat mempertahankan aliran
normal dalam cavum toraks.

3. PEMBULUH LIMFATIK PENGUMPUL


Terdapat dua pembuluh limfatik pengumpul yang menjadi muara dari kapiler limfatik,
yaitu limfatik superfisial dan limfatik dalam.
 Limfatik superfisial, terletak di lapisan subkutan yang jauh dari kulit; pada jaringan
aeolar dari membran mukosa yang membentuk saluran digesti, respirasi, urinaria,
dan reproduksi; serta pada membran serosa yang membentuk kantung pleura,
pericardium, dan peritoneum.
 Limfatik dalam, adalah pembuluh limfatik yang besar yang tersusun bersama arteri
serta vena pada otot skeletal, leher, lengan dan dinding organ-organ viseral.
Kedua pembuluh tersebut menyatu menjadi pembuluh pengumpul. Pembuluh
pengumpul terdiri dari pembuluh (duktus) thorakalis, yang menjadi muara dari inferior
tubuh menuju diafragma serta dari tubuh bagian kiri menuju bagian superior diafragma,
dan pembuluh (duktus) limfatik kanan, yang mengumpulkan cairan limfe dari tubuh
bagian kanan menuju bagian superior diafragma. Muara dari pembuluh-pembuluh
pengumpul disebut sisterna chili. Pembuluh limfa kemudian akan bermuara di vena
subklavia.

FKUI 2015 SOLID Page 12


RESPON IMUN SPESIFIK DAN NON-SPESIFIK

RESPON IMUN NON-SPESIFIK (INNATE)


Innate immunity (nonspecific)  Tidak membedakan jenis ancaman; merespon sama
terhadap semua jenis ancaman; didapatkan sejak lahir.
Innate immunity meliputi pertahanan garis pertama (kulit dan membran mukosa) dan
pertahanan garis kedua (pertahanan internal). Pertahanan garis pertama dibagi menjadi
faktor fisik dan faktor kimia. Pertahanan garis kedua meliputi substansi antimikrobial
(interferon, sistem komplemen, iron-binding proteins, antimicrobial proteins (AMPs)),
immunological surveillance (sel NK), fagosit, respon inflamasi, dan demam/panas.

A. FIRST LINE DEFENSE (PERTAHANAN GARIS PERTAMA)


Garis pertahanan pertama untuk melawan patogen terbagi atas dua faktor, yaitu faktor
yang bersifat fisik dan faktor yang bersifat kimiawi.
Komponen Fungsi
Faktor Fisik
Epidermis Kulit Membentuk penghalang fisik bagi masuknya bakteri
ke dalam tubuh
Membran Mukosa Menghambat masuknya mikroba
Mukus Menjebak mikroba di saluran respiratori dan
pencernaan
Rambut Menyaring mikroba dan debu di hidung
Cilia Bersama dengan mucus, menjebak dan
menghilangkan mikroba di saluran respiratori atas
Apparatus Lacrimalis Memproduksi air mata yang menghilangkan zat
penyebab iritasi dan mikroba
Saliva Mencuci mikroba dari permukaan atas gigi dan
memebran mukosa mulut
Urine Mencuci mikroba dari uretra
Defekasi dan muntah Mengeluarkan mikroba dari dalam tubuh
Faktor Kimia
Sebum Membentuk lapisan pelindung tipis berasam di atas
permukaan kulit untuk menghambat pertumbuhan
mikroba
Lisozim Zat anti mikroba di keringat, air mata, air liur, nasal

FKUI 2015 SOLID Page 13


secretion, dan cairan jaringan (melisiskan bakteri)
Getah Lambung Merusak bakteri dan toksin di lambung dengan
sekresi HCl yang bersifat asam
Sekresi Vagina Zat asam yang menghambat pertumbuhan bakteri
dan membilas bakteri ke luar dari vagina

B. SECOND LINE DEFENSE (PERTAHANAN GARIS KEDUA)


1. Substansi Antimikrobial
1) Interferon
Interferon yaitu protein yang dihasilkan oleh limfosit, makrofag, fibroblas yang
terinfeksi virus. Interferon berikatan di permukaan reseptor di membran sel normal
dan memicu antiviral protein di sitoplasma. Antiviral ini berfungsi untuk
menghambat-menghentikan replikasi virus.

2) Sistem Komplemen
Sistem komplemen yaitu sistem pertahanan yang tersusun dari kurang lebih 30
protein yang diproduksi di hati dan beredar di plasma darah dan jaringan di seluruh
tubuh. Protein komplemen menghancurkan mikroba dengan cara fagositosis,
sitolisis, dan inflamasi; juga mencegah kerusakan berlebih pada jaringan tubuh.
Protein komplemen ditandai dengan huruf C; dari C1-C9. C1-C9 bersifat nonaktif
dan menjadi aktif ketika dipisahkan oleh enzim; ditandai dengan huruf a dan b.
Contoh: C3 nonaktif, dipisahkan menjadi fragmen aktif  C3a dan C3b. Aktivasi

FKUI 2015 SOLID Page 14


komplemen berlangsung dengan tiga cara dan semuanya mengaktifkan C3. Protein
C3 adalah komponen pertama dalam aktivasi sistem komplemen.
a. Classical Pathway
Paling cepat dan efektif. Protein komplemen C1 berikatan dengan antibodi
yang sudah berikatan dengan antigen (contoh: dinding sel bakteri)  C3 aktif.
b. Alternative Pathway
Tidak melibatkan antibodi. Interaksi antara kompleks lipid-karbohidrat di
permukaan mikroba dan protein komplemen faktor B, D, P (properdin) di
plasma  C3 aktif.
c. Lectin Pathway
Makrofag mencerna mikroba  menghasilkan senyawa kimia yang
menyebabkan hati memproduksi lectin (protein). Lectin berikatan dengan
karbohidrat di permukaan mikroba  C3 aktif.

Setelah C3 aktif akan menyebabkan cascade (reaksi berantai) yang menyebabkan


fagositosis, sitolisis, dan inflamasi.
(untuk lebih jelas, lihat gambar di halaman selanjutnya)

FKUI 2015 SOLID Page 15


Sistem komplemen juga akan membentuk MAC (Membrane Attack Complex) yang
kemudian akan membentuk lubang atau pori pada membran sel pathogen. Lubang
atau pori ini dapat menyebabkan masuknya air ke dalam sel dan pada akhirnya
menyebabkan lisis.

3) Iron-binding proteins
Menghambat pertumbuhan bakteri tertentu dengan cara mengikat zat besi (Fe)
yang dibutuhkan oleh bakteri. Contoh: transferrin (ditemukan di susu manusia atau
mamalia lain, darah dan cairan jaringan), lactoferrin (ditemukan di saliva, mukus),
ferrittin (ditemukan di hati, limpa, dan sumsum tulang merah), dan hemoglobin
(ditemukan di sel darah merah).

4) Antimicrobial proteins (AMPs)


Peptida pendek yang dapat menghentikan-menghancurkan mikroba dan juga
menarik sel dendritik dan mast cells untuk respon imun. Contoh: dermicidin
(dihasilkan oleh kelenjar keringat), defensins dan cathelicidins (dihasilkan oleh
neutrofil, makrofag, dan epitel), dan thrombocidin (dihasilkan oleh trombosit).

2. Immunological Surveillance (NK (Natural Killer) Cells)


Immunological surveillance yaitu pengawasan secara konstan jaringan-jaringan normal
oleh sel NK. Sel NK bertanggung jawab terhadap adanya sel abnormal di jaringan
perifer dan menghancurkannya. Aktivasi sel NK:
1) Pengenalan dan Pelekatan; terdapat komponen aneh di membran plasma sel 
sel abnormal. Sel NK aktif  melekat dengan sel target.
2) Penyusunan Badan Golgi; badan golgi mengelilingi nukleus hingga menghadap
langsung dengan sel abnormal. Golgi menghasilkan granula yang mengandung
protein, disebut perforin.
3) Sekresi Perforin; perforin terlepas dari permukaan sel NK melalui eksositosis
dan berdifusi melewati celah sempit antara sel NK dan sel target.
4) Lisis Sel Abnormal; Interaksi perforin dengan membran  menyebabkan
lubang/celah  ion, protein, dll masuk  sel lisis.

FKUI 2015 SOLID Page 16


Beberapa granula sel NK yang lain melepaskan granzymes; protein-digesting enzymes
yang menyebabkan sel target mengalami apoptosis atau penghancuran diri.

3. Fagosit
Pertahanan sel garis pertama terhadap invasi patogen. Dibagi menjadi dua:
 Mikrofag. Meliputi neutrofil dan eusinofil. Mikrofag ini meninggalkan aliran darah
dan masuk ke jaringan perifer yang telah terinfeksi.
 Makrofag. Meliputi kebanyakan turunan dari monosit.
 Makrofag terikat (histiosit). Makrofag terikat tidak dapat bergerak; targetnya
harus berdifusi atau bergerak di sekitar jaringan hingga mencapai jangkauan.
 Makrofag bebas. Makrofag bebas berkeliling ke seluruh tubuh hingga sampai ke
lokasi luka.

Fagositosis terjadi dalam lima tahapan:


1) Chemotaxis. Tahap awal fagositosis; fagosit terangsang bergerak oleh senyawa
kimia menuju ke daerah yang rusak. Senyawa-senyawa kimia yang menarik fagosit
ke daerah yang rusak dihasilkan dari mikroba yang menyerang, sel darah putih, sel
yang rusak, atau protein komplemen yang aktif.
2) Adherence. Merupakan proses pelekatan fagosit ke mikroba atau materi asing lain.
FKUI 2015 SOLID Page 17
3) Ingestion (Penelanan). Proyeksi perpanjangan membran plasma fagosit disebut
pseudopods  menelan mikroba. Kumpulan pseudopod yang bertemu bergabung
mengelilingi mikroorganisme dengan kantung yang disebut fagosom.
4) Digestion (Pencernaan)
Fagosom masuk ke sitoplasma dan bergabung dengan lisosom membentuk
struktur tunggal, besar yang disebut fagolisosom. Lisosom memproduksi lisozim
yang berfungsi menghancurkan dinding sel mikroba, dan enzim pencernaan lain
yang menghancurkan karbohidrat, protein, lipid, dan asam nukleat. Fagosit juga
membentuk oksidan letal, contohnya anion superoksida (O2-), anion hipoklorit (OCl-
), dan hidrogen peroksida (H2O2) untuk proses oxidative burst (ledakan oksidatif).
5) Killing. Senyawa kimia berupa lisozim, enzim pencernaan, dan oksidan di
fagolisosom membunuh mikroba dengan cepat.

4. Respon Inflamasi
Karakteristik  kemerahan (rubor), nyeri (dolor), panas (calor), bengkak (tumor).
 Kemerahan dan panas disebabkan oleh meningkatnya aliran darah di sekitar
daerah luka.
 Pembengkakan disebabkan oleh meningkatnya aliran plasma ke cairan interstitial
yang disebabkan oleh meningkatnya permeabilitas pembuluh darah dan
perpindahan protein plasma dan leukosit ke cairan interstisial.
 Nyeri disebabkan oleh pembengkakan yang merangsang reseptor rasa nyeri pada
kulit.

FKUI 2015 SOLID Page 18


Tiga tahap respon inflamasi:
1) Vasodilatasi dan Peningkatan Permeabilitas Pembuluh Darah
Vasodilatasi  menyebabkan darah mengalir menuju daerah yang rusak
Peningkatan permeabilitas  menyebabkan protein defensif dan faktor pembeku
memasuki area yang terluka
Faktor yang mempengaruhi:
 Histamin. Dilepaskan oleh sel mast di jaringan ikat dan basofil dan trombosit di
darah.
 Kinin. Terbentuk dalam darah dari prekusor yang tidak aktif (kininogen). Salah
satu contohnya yaitu bradikinin.
 Prostaglandin. Dilepaskan oleh sel yang mengalami luka dan menguatkan efek
histamin dan kinin. Merangsang perpindahan/emigrasi fagosit.
 Leukotrien. Dihasilkan oleh basofil dan sel mast. Menyebabkan peningkatan
permeabilitas.
 Komplemen. Merangsang pelepasan histamin; menarik neutrofil;
menghancurkan bakteri.

2) Perpindahan Fagosit dari Darah ke Cairan Interstitial


Neutrofil bergerak ke dinding pembuluh darah untuk sampai ke daerah yang luka.
Neutrofil mengfagositosis mikroba-mikroba yang menyerang. Setelah beberapa
waktu, monosit juga membantu neutrofil.

3) Perbaikan Jaringan

FKUI 2015 SOLID Page 19


5. Fever (demam/panas)
Area preoptik di hipotalamus terdapat pusat pengaturan suhu. Pyrogen (protein)
dapat mereset termostat dan menyebabkan suhu tubuh naik. Beberapa jenis
rangsangan dapat bertindak sebagi pyrogen itu sendiri atau merangsang makrofag
untuk melepaskan pyrogen. Rangsangan-rangsangan meliputi patogen, toksin bakteri,
kompleks antigen-antibodi. Makrofag yang aktif melepaskan interleukin-1 (IL-1)
(menyebabkan suhu tubuh naik). Dalam batasan yang tepat, kenaikan suhu tubuh
dapat bermanfaat baik untuk menghambat virus atau bakteri dan untuk metabolisme
tubuh. Tiap 1oC kenaikan suhu tubuh, laju metabolisme naik 10%. Dengan ini sel dapat
bergerak lebih cepat, reaksi enzimatik berlangsung lebih cepat sehingga proses
perbaikan jaringan juga menjadi cepat.

RESPON IMUN SPESIFIK (ADAPTIVE)


Adaptive immunity (specific) Membedakan tiap jenis ancaman; bergantung pada aktivitas
limfosit yang spesifik; berkembang setelah lahir akibat dari lingkungan atau masalah
kesehatan. Adaptive immunity meliputi imunitas aktif dan pasif yang masing-masing dibagi
menjadi didapatkan secara alami dan buatan.

FKUI 2015 SOLID Page 20


Adaptive immunity dihasilkan dari kerja/aktivitas sel limfosit B dan T. Sel limfosit T
bereperan dalam cell-mediated immunity/imunitas selular dan sel limfosit B berperan
dalam antibody-mediated immunity/imunitas humoral.

1. CELL-MEDIATED IMMUNITY
Sel T berperan dalam mengawali, menjaga, dan mengendalikan respon imun. Agar sel T
dapat mengenali antigen, antigen harus berikatan dengan glikoprotein di membran
plasma sel lain yaitu Major Histocompatibility Complex (MHC) antigens. Membran
glikoprotein ini juga disebut Human Leukocyte Antigens (HLAs).

MHC dibagi menjadi dua tipe; kelas I dan kelas II. Molekul MHC kelas 1 (MHC-I) dibentuk
di membran plasma di semua sel tubuh bernukleus (contoh sel tidak bernukleus yang
juga tidak memiliki MHC Kelas I: sel darah merah). Molekul MHC kelas II (MHC-II) muncul
di membran plasma Antigen-Presenting Cells (APCs). Pengenalan dan pemrosesan
antigen terjadi dalam dua cara tergantung pada letak antigen. Pertama yaitu antigen
endogen; muncul di dalam sel tubuh. Contohnya protein virus, protein dari sel kanker.
Kedua yaitu antigen eksogen; muncul di luar sel tubuh. Contohnya bakteri, toksin dari
bakteri, cacing parasit.

Sel T memiliki T-Cells Receptors (TCRs) yang dapat berikatan dengan MHC-I maupun
MHC-II. Sel T sendiri juga disebut CD8 (mengandung protein CD8) dan CD 4 (mengandung
protein CD4) (CD  Cluster of Differentiation). CD8 ditemukan di sel T sitotoksik dan sel T
supresor; juga disebut CD8 T Cells atau CD8+ T Cells; CD8 T Cells merespon adanya
FKUI 2015 SOLID Page 21
antigen oleh MHC-I. CD4 ditemukan di sel T helper; juga disebut CD4 T Cells atau CD4+ T
Cells. CD4 T Cells merespon adanya antigen oleh MHC-II.

FKUI 2015 SOLID Page 22


A. Aktivasi, Seleksi Klonal, dan Penyerangan Sel T Sitotoksik (CD8 T Cells)
Sel T sitotoksik yang awalnya tidak aktif harus diaktifkan dulu melalui proses
kostimulasi (proses pengikatan kedua; untuk memastikan) oleh interleukin-2. Setelah
aktif, sel T mengalami seleksi klonal menjadi sel T sitotoksik aktif dan sel T sitotoksik
memori (memory Tc cells). Sel T sitotoksik aktif menyerang sel yang telah terinfeksi
antigen (picture below) sedangkan sel T sitotoksik memori pada respon pertama tidak
berkembang lebih lanjut dan pada respon selanjutnya akan memecah dan
berkembang menjadi sel T sitotoksik aktif dan sel T sitotoksik memori.

FKUI 2015 SOLID Page 23


B. Aktivasi dan Seleksi Klonal Sel T Helper (CD4 T Cells)
Sel T Helper yang awalnya tidak aktif menjadi aktif ketika sel T Helper dan APC
(terdapat kompleks MHC-II dan antigen) berinteraksi dengan bantuan protein CD4 dan
terjadi kostimulasi. Setelah aktif, sel T Helper mengalami seleksi klonal menjadi sel T
Helper aktif dan sel T helper memori (memory Th cells). Sel T Helper aktif
menghasilkan/sekret sitokin khususnya IL-2 yang berfungsi untuk mempercepat
aktivasi-pembelahan sel T, sel B, dan sel NK. Sedangkan sel T Helper memori kurang
lebih bekerja dengan cara yang sama dengan sel T sitotoksik memori.

Tambahan: CD4 adalah molekul yang diserang oleh virus HIV

FKUI 2015 SOLID Page 24


FKUI 2015 SOLID Page 25
2. ANTIBODY-MEDIATED IMMUNITY
A. Sensitisasi, Aktivasi, dan Seleksi Klonal Sel B
Setiap Sel B membawa molekul antibodi khusus (B-cell Receptors (BCRs)) di membran
plasmanya . Jika terdapat antigen di cairan interstitial, maka antigen akan berinteraksi
dengan antibodi. Ketika berikatan, sel B yang awalnya tidak aktif bersiap mengalami
aktivasi yang disebut sensitisasi. Antigen juga dapat diproses di dalam sel B dengan
cara yang sama dengan antigen exogenus. Setelah terjadi ikatan antigen-MHC-II, sel T
helper akan menyadari dan memberi kostimulasi (baik IL-2 ataupun sitokin lain) untuk
aktivasi sel B (pembelahan dan perkembangan).

Setelah aktif, sel B mengalami seleksi klonal yang menghasilkan sel plasma dan sel B
memori. Sel plasma menyintesis dan menyekresikan antibodi yang spesifik terhadap
antigen yang ada. Sel B memori memiliki cara kerja yang sama dengan sel memori (sel
T sitotoksik dan sel T helper).

FKUI 2015 SOLID Page 26


MEKANISME KERJA SISTEM LIMFATIK
HUBUNGAN ANTARA KAPILER LIMFA DAN PEMBULUH DARAH
Jumlah cairan yang keluar dari kapiler sewaktu
filtrasi/ultrafiltrasi sedikit lebih banyak daripada
cairan yang direabsorbsi kembali ke kapiler
darah. Secara rerata, tekanan ultrafiltrasi bersih
hanya mencapai 11 mmHg, dan tekanan
reabsorbsi bersih hanya mencapai 9 mmHg.
Kelebihan cairan di interstisial akibat
ketidakseimbangan ini akan diserap oleh sistem
limfa. Sistem limfa merupakan pembuluh satu
arah menuju vena cava yang merambah hampir
semua jaringan tubuh, kecuali pada jaringan
yang tidak dilalui oleh darah, seperti kornea
mata. Cairan interstisial yang telah masuk ke
Sherwood L. Human Physiology: pembuluh limfa disebut dengan cairan limfa.
From Cells to Systems. 9th ed. Belmont:
Brooks/Cole; 2013. p.358.

Tekanan cairan interstisial di luar limfa


mendorong masuk tepi yang paling dalam dari
sepasang tepi yang tumpang tindih,
menciptakan celah antara tepi-tepi, sehingga
cairan interstisial dapat masuk.

Tekanan cairan limfa di dalam pembuluh limfa


mendorong tepi-tepi tumpang tindih saling
melekat, sehingga cairan limfa tidak dapat
keluar.

Lubang pada pembuluh limfa ini jauh lebih besar daripada pori kapiler darah, sehingga
materi seperti protein plasma atau bakteri dapat masuk ke kapiler limfa, tapi tidak dapat
masuk ke kapiler darah.

FKUI 2015 SOLID Page 27


Sistem limfa tidak mempunyai pompa seperti
jantung pada pembuluh darah. Sehingga
dibutuhkan 2 mekanisme berikut:

1. Pembuluh limfa (bukan kapiler limfa)


memiliki otot polos yang berkontraksi secara
ritmis akibat aktivitas miogenik. Saat otot
teregang akibat pembuluh terisi, maka otot
akan secara inheren berkontraksi mendorong
cairan limfa di dalam pembuluh.

2. Kontraksi otot rangka memeras cairan


limfa untuk mengalir.
Hubungan sistem limfatik dengan sistem sirkulasi dapat dijelaskan oleh gambar berikut:

Saluran aliran limfatik dapat dibagi menjadi:


1. Kapiler limfa
2. Pembuluh limfa
3. Pembuluh limfa pengumpul

FKUI 2015 SOLID Page 28


PEMBULUH LIMFATIK PENGUMPUL
Terdiri dari 2 saluran besar, yakni right lymphatic duct
dan thoracic duct. Thoracic duct akan mengosongkan
cairan limfe ke perhubungan antara vena jugular internal
dan vena subklavian kiri, sementara right lymphatic duct
ke perhubungan antara vena jugular internal dan vena
subklavian kanan.
Sherwood L. Human Physiology: From
Cells to Systems. 9th ed. Belmont:
Brooks/Cole; 2013. p.359

NODUS LIMFA
Seperti stasiun, terdapat hampir seluruh tubuh. Didalamnya terdapat makrofag (di tengah
nodus limfatikus sekunder) dan sel limfosit untuk membersihkan cairan limfa dari patogen.

Sumber gambar: Marieb E. Essentials of Human Anatomy


& Physiology. 7th ed. Lake Ave: Pearson Education; 2015.

FKUI 2015 SOLID Page 29


Tortora G., Derrickson B., Principles of Anatomy & Physiology. 13th ed. United States of America:
John Willey & Sons; 2012. p.879.

Secara garis besar dapat disimpulkan aliran dari saluran limfatik adalah sebagai berikut:

kapiler darah  cairan interstisial  kapiler limfatik  pembuluh limfatik kecil  duktus
limfatikus (right lymphatic duct dan thoracic duct)  penghubung di vena jugular internal
dan vena subklavian.  vena cava  atrium kanan jantung  kembali peredaran darah

FKUI 2015 SOLID Page 30


STRUKTUR, JENIS DAN REAKSI ANTIGEN-ANTIBODI
REAKSI ANTIGEN-ANTIBODI
Antibody tidak bisa secara langsung menghancurkan antigen. Ia menggunakan
kemampuannya untuk secara fisik menghalangi antigen atau meningkatkan respon imun
bawaan (innate immune response). Reaksi- reaksinya adalah:

1. NEUTRALIZATION AND AGGLUTINATION ( NETRALISASI DAN AGLUTINASI)


A. NETRALISASI
Bergabung dengan toksin bakteri, mencegah zat kimia berbahaya berinteraksi dengan
sel atau dengan berikatan dengan antigen permukaan virus agar mencegah virus
masuk ke sel
B. AGLUTINASI
Antibody-antibodi cross-link dengan molekul antigen membentuk kompleks antigen-
antibodi membentuk gumpalan.
C. PRESIPITASI
Ketika kompleks antigen-antibodi melibatkan antigen yang larut ( soluble antigen)
contoh toksin tetanus, kompleks akan membentuk endapan( endapan berpisah dari
larutan)

2. AMPLIFICATION OF INNATE IMMUNE RESPONSES


Salah satu fungsi utama antibody adalah meningkatkan respons imun bawaan. Antibody
menandai zat asing sebagai target dari pengrusakan melalui system komplemen, fagosit
dan natural killer yang meningkatkan aktivitas dari system pertahanan yang lain.
1. Mengaktifkan system komplemen
Ketika antigen yang sesuai berikatan dengan antibody, reseptor dari bagian ekor
antibodi berikatan dan mengaktifkan C1, komponen pertama dari system
komplemen. Kejadian kaskade menyebabkan terbentknya serangan membrane se
lasing oleh system kompleks. Faktanya, antibody adalah activator system komplemen
paling utama (classical complement pathway).
2. Meningkatkan fagositosis dengan opsonisasi. Porsi ekor dari antibody berikatan
dengan reseptor yang ada pada permukaan fagosit yang meningkatkan fagositosis
dari antigen.
3. Menstimulasi natural killer (NK) cells. Pengikatan antibody dengan antigen juga
menginduksi serangan dari sel NK. Sel NK memiliki reseptor untuk bagian ekor-
daerah konstan antibody . Ketika sel target dikelilingi oleh antibody, bagian ekor dari
antibody mengikat sel target ke NK, dan NK merusak sel target dengan melisiskan
membrane plasmanya.

FKUI 2015 SOLID Page 31


FKUI 2015 SOLID Page 32
STRUKTUR ANTIBODI

(Sumber gambar: Martini)

 Antibodi termasuk dalam kelompok glikoprotein yang bernama globulin sehingga


antibodi disebut juga sebagai Immunoglobulin (Ig).
 Antibodi memiliki empat rantai polipeptida, dua rantai berat yang mengandung sekitar
450 asam amino dan dua rantai ringan yang mengandung sekitar 220 asam amino.
 Terdapat ikatan Sulfida/sulfide bond (S-S) yang mengikat masing-masing rantai ringan
dengan rantai berat. Ikatan sulfida juga mengikat bagian tengah antara dua ikatan berat.
Bagian ini fleksibel sehingga bagian tengah antara dua ikatan berat disebut sebagai
bagian engsel (hinge region). Bagian engsel ini dapat bengkok sehingga antibodi dapat
berbentuk huruf T atau huruf Y. Selain itu, fleksibilitas dari bagian engsel ini
memungkinkan antibodi untuk berikatan dengan dua epitope (bagian dari antigen yang
berikatan dengan reseptor antigen) yang jaraknya agak berjauhan.
 Sebuah antibodi memiliki dua antigen-binding fragments (Fab) yang identik pada setiap
ujung lenganya dan satu constant region (Fc) pada ekornya.
o Antigen-binding fragments adalah bagian yang berikatan dengan antigen. Setiap
antibodi yang berbeda memiliki antigen-binding fragments yang unik sehingga
setiap antibodi hanya dapat berikatan dengan antigen yang cocok dengan bagian
tersebut (seperti lock and key).
o Constant region adalah bagian yang terdapat pada ekor antibodi dan memiliki
tempat untuk berikatan dengan mediator of antibodi-induced activities tertentu.
Constant region selalu sama dalam sub kelas antibodi yang sama, namun selalu
berbeda dalam sub kelas antibodi yang berbeda. Oleh karena itu, constant region
dijadikan sebagai penentu sub kelas immunoglobulin. Contohnya adalah bagian ekor
IgG berikatan dengan makrofag dan berperan sebagai opsonin apabila IgG diaktivasi
oleh antigen di Fab.
FKUI 2015 SOLID Page 33
JENIS-JENIS ANTIBODI (Sumber: Sherwood, Martini, Tortora)

(Sumber gambar: Tortora)

1. IgG
 Antibodi yang jumlahnya paling banyak
 Berfungsi sebagai untuk pertahanan terhadap berbagai virus dan bakteri dengan cara
opsonisasi (meningkatkan kerja fagosit), neutralisasi toksin, dan merangsang sistem
komplemen
 IgG maternal berfungsi untuk memberikan imunitas pasif terhadap fetus saat
perkembangan embrio
 Satu-satunya antibodi yang menyebrang dari plasenta ke fetus. Namun, IgG juga
merupakan antibodi anti-Rh yang diproduksi oleh ibu yang memiliki Rhesus darah
negative, yang dapat menyebabkan eristoblastis fetalis pada bayi
 Banyak diproduksi saat tubuh terekspos oleh antigen yang sama (respons imun
sekunder)

2. IgA
 Banyak terdapat dalam keringat, air mata, saliva, mucus, Air Susu Ibu (ASI), dan sekresi
gastrointestinal, sedikit terdapat dalam darah dan limfa.
 Menyediakan proteksi local membrane mukosa terhadap bakteri dan virus
 Jumlah IgA menurun apabila sedang stress, sehingga pertahanan terhadap infeksi
menurun

FKUI 2015 SOLID Page 34


3. IgM
 Terdapat dalam darah dan limfa
 Merupakan pentamer (lima unit), walaupun mensekresi molekul IgM individual
 Jenis antibodi yang pertama diproduksi pada tahap awal respon sel plasma (pada
respons imun primer)
 Bekerja dengan cara mengaktivasi sitem komplemen dan menyebabkan aglutinasi dan
lisis mikroba
 Antibodi anti-A dan anti-B merupakan IgM

4. IgD
 Monomer
 Terdapat pada permukaan sel B sebagai reseptor antigen
 Berfungsi dalam mengaktivasi sel B
 Tidak dapat mengaktivasi sistem komplemen

5. IgE
 Antibodi yang jumlahnya paling sedikit dalam darah
 Ekor IgE menempel pada permukaan basophil dan mast cells. Jika IgE berikatan degnan
antigen, maka basophil atau mast cells akan mengeluarkan histamine dan zat kimia
lain yang mempercepat proses inflamasi
 Berperan dalam reaksi alergi dan hipersensitivitas
 Menyediakan perlindungan terhadap cacing parasite

REAKSI KOMPLIT DAN INKOMPLIT ANTIGEN


 Antibodi mengikat antigen pada antigenic
determinant sites (epitopes).
 Antigen komplit  dua epitopes mengikat
satu molekul antigen.
 Antigen inkomplit  satu epitopes
mengikat satu molekul antigen.
 Pengikatan antara antigen komplit dapat
memicu terjadinya respons imun.
 Sebaliknya, pengikatan antara antibody
dengan antigen tak komplit tidak dapat
menimbulkan respons imun.
 Antigen tidak komplit harus berikatan
dengan protein karier untuk menimbulkan
respons imun.
 Antigen tak komplit bisa disebut juga
sebagai hapten.

FKUI 2015 SOLID Page 35


PRINSIP IMUNISASI
Imunisasi merupakan pemberian sebuah vaksin yang biasanya terbuat dari pathogen yang
telah dilemahakan daya virulennya tapi masih ada salah satu komponen yang masih bisa
dikenali antigen sehingga bisa memicu terjadinya mekanisme pembuatan antibody.

JENIS-JENIS IMUNISASI
1. IMUNISASI AKTIF
Yaitu pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan terjadi proses infeksi buatan
sehingga tubuh mengalami reaksi imunologi spesifik yang menghasilkan respon seluler
dan humoral sehingga menghasilkan sel memori, dan apabila terjadi infeksi yang
sebenarnya tubuh secara cepat dapat merespon.

2. IMUNITAS SECARA PASIF


Dapat diperoleh melalui dua bentuk pemberian, yaitu imunoglobulin non-spesifik
(gamaglobulin) dan imunoglobulin spesifik, berasal dari plasma donor yang sudah
sembuh atau baru saja mendapatkan vaksinasi penyakit tertentu. Imunoglobulin non-
spesifik diberikan pada anak dengan defisiensi imunoglobulin, sehingga memberikan
perlindungan dengan sengaja dan cepat. Perlindungan ini tidak permanen, hanya
berlangsung beberapa minggu saja dan tidak menghasilkan sel memori. Imunoglobulin
spesifik diberikan pada anak yang belum terlindung karena belum pernah mendapatkan
vaksinasi kemudian terserang, misalnya penyakit difteri, tetanus, hepatitis A dan B.

MENGAPA HARUS IMUNISASI?


Hal ini terkait dengan mekanisme prinsip kerja sistem imun sendiri yang diharapkan
nantinya imunisasi akan membuat kekebalan tubuh meningkat dengan adanya suatu sistem
respons yaitu respons primer dan respons sekunder.
 Respon imun primer diaktivasi imunisasi terhadap antibodi atau sel B. Akibat dari
invasi antigen tersebut maka sel tersebut akan berdiferensiasi menjadi sel plasma dan
memulai mekanisme sekresi antibodi sebagai upaya imunitas tubuh namun sekresi
antibody ini berjumlah sedikit sehingga kurang efektif dalam penanganan lebih lanjut
 Respon imun sekunder ditandai dengan invasi antigen (pemberian imunisasi kembali
atau booster) yang sebelumnya menyerang pada saat respon primer. Oleh karena itu
peran sel B memori yang berperan dalam mengingat antigen sebelumnya mulai
bekerja dan menaikkan kosentarsi IgG

FKUI 2015 SOLID Page 36


VAKSINASI
JENIS-JENIS VAKSIN
 Live attenuated vaccine, berasal dari pathogen yang masih hidup, tapi dilemahkan
 Killed (inactivated) vaccine, berasal dari pathogen yang sudah mati
 Vaksin toksoid, berasal dari toksin (bukan sel pathogen) yang sudah dilemahkan
 Vaksin selular, berasal dari struktur tertentu dari sel pathogen

KEUNTUNGAN VAKSINASI
 Meniru infeksi alami
 Rangsangan antigenik yang adekuat (cukup)
 Merangsang limfosit T dan B
 Umumnya memberi proteksi jangka panjang karena terbentuknya sel memori

KERUGIAN VAKSINASI
 Beberapa kasus menimbulkan patogenitas
 Dapat menimbulkan virulensi virus
 Tidak cukup aman pada penderita dengan gangguan kekebalan

FKUI 2015 SOLID Page 37