Anda di halaman 1dari 8

Nama : Arina Zhabrina

NPM : 1102013042
INDIKASI TONSILEKTOMI
1. Indikasi Absolut
a) Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran nafas, disfagia
b) berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner
c) Abseb peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase
d) Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam
e) Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi

2. Indikasi Relatif
a) Terjadi episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi antibiotik adekuat
b) Halitosis akibat tonsillitis kronis yang tidak membaik dengan pemberian terapi medis
c) Tonsilitis kronis berulang pada karier streptokokus yang tidak membaik dengan pemberian
antibiotik b-laktamase resisten

KONTRAINDIKASI
1) Diskrasia darah kecuali di bawah pengawasan ahli hematologi
2) Usia di bawah 2 tahun bila tim anestesi dan ahli bedah fasilitasnya tidak mempunyai
pengalaman khusus terhadap bayi
3) Infeksi saluran nafas atas yang berulang
4) Perdarahan atau penderita dengan penyakit sistemik yang tidak terkontrol.
5) Celah pada palatum

The American Academy of Otolaryngology, Head and Neck Surgery

TEKNIK TONSILEKTOMI

1
1. Teknik Guilottine

Diperkenalkan pertama kali oleh Philip Physick (1828) dari Philadelphia, sedangkan cara
yang masih digunakan sampai sekarang adalah modifikasi Sluder. Di negara-negara maju
cara ini sudah jarang digunakan dan di bagian THT FKUI/RSCM cara ini hanya digunakan
pada anak-anak dalam anestesi umum.
Teknik :
a) Posisi pasien telentang dalam anestesi umum. Operator disisi kanan berhadapan dengan
pasien.
b) Setelah relaksasi sempurna otot faring dan mulut, mulut difiksasi dengan pembuka mulut.
Lidah ditekan dengan spatula.
c) Untuk tonsil kanan, alat guillotine dimasukkan ke dalam mulut melalui sudut kiri.
d) Ujung alat diletakkan diantara tonsil dan pilar posterior, kemudian kutub bawah tonsil
dimasukkan ke dalam lubang guillotine.
e) Dengan jari telunjuk tangan kiri pilar anterior ditekan sehingga seluruh jaringan tonsil
masuk ke dalam lubang guillotine.
f) Picu alat ditekan, pisau akan menutup lubang hingga tonsil terjepit.
g) Setelah diyakini seluruh tonsil masuk dan terjepit dalam lubang guillotine, dengan
bantuan jari, tonsil dilepaskan dari jaringan sekitarnya dan diangkat keluar.
h) Perdarahan dirawat.
Keuntungan :
a ) dikenal sebagai cara yang cepat dan praktis
b) komplikasi anestesi kecil
c) biaya lebih murah
Kerugian :
a) sering terdapat sisa dari tonsil karena tidak seluruhnya terangkat
b) dapat timbul perdarahan yang hebat

2. Teknik Diseksi
Cara ini diperkenalkan pertama kali oleh Waugh (1909). Di Bagian THT FKU1/RSCM
cara ini digunakan pada pembedahan tonsil orang dewasa, baik dalam anestesi umum
maupun lokal.
2
Teknik :
a) Bila menggunakan anestesi umum, posisi pasien terlentang dengan kepala sedikit
ekstensi. Posisi operator di proksimal pasien.
b) Dipasang alat pembuka mulut Boyle-Davis gag.
c) Tonsil dijepit dengan cunam tonsil dan ditarik ke medial.
d) Dengan menggunakan respatorium/enukleator tonsil, tonsil dilepaskan dari fosanya
secara tumpul sampai kutub bawah dan selanjutnya dengan menggunakan jerat
tonsil, tonsil diangkat.
e) Perdarahan dirawat.
Keuntungan :
a) perdarahan pasca operasi minimal
b) dapat mengangkat seluruh jaringan tonsil
Kerugian :
a) nyeri hebat pasca-operasi
b) durasi operasi lebih lama
c) nyeri pascaoperasi yang signifikan akibat digunakannya elektrokauter untuk
hemostasis
d) resiko perdarahan intraoperatif tinggi

3. Teknik Elektrokauter
Teknik ini memakai metode membakar seluruh jaringan tonsil disertai kauterisasi untuk
mengontrol perdarahan. Pada bedah listrik transfer energi berupa radiasi elektromagnetik
untuk menghasilkan efek pada jaringan. Frekuensi radio yang digunakan dalam spektrum
elektromagnetik berkisar pada 0,1 hingga 4Mhz. Pada teknik ini elektroda tidak menjadi
panas, panas dalam jaringan terbentuk karena adanya aliran baru yang dibuat dari teknik ini.
Teknik ini menggunakan listrik 2 arah (AC) dan pasien termasuk dalam jalur listrik
(electrical pathway).
Teknik bedah listrik yang paling paling umum adalah monopolar blade, monopolar
suction, bipolar dan prosedur dengan bantuan mikroskop. Tenaga listrik dipasang pada
kisaran 10 sampai 40 W untuk memotong, menyatukan atau untuk koagulasi.
Keuntungan :

3
a) perdarahan minimal
b) penggunaan gelombang pada frekuensi ini mencegah terjadinya gangguan konduksi
saraf atau jantung
c) bedah listrik merupakan satu-satunya teknik yang dapat melakukan tindakan
memotong dan hemostase dalam satu prosedur
d) dapat digunakan sebagai tambahan pada prosedur operasi lain
Kerugian :
a) menyebabkan luka bakar pada jaringan sekitar yang mengakibatkan ketidaknyamanan
pasca operasi
b) memiliki energi listrik yang ditransfer ke atau melalui pasien, sehingga tidak ada stray
energi (energi yang tersasar) yang dapat menyebabkan syok atau luka bakar

4. Teknik Radiofrekuensi
Pada teknik ini elektrode radiofrekuensi disisipkan langsung ke jaringan. Densitas baru di
sekitar ujung elektrode cukup tinggi untuk membuka kerusakan bagian jaringan melalui
pembentukan panas. Selama periode 4-6 minggu, daerah jaringan yang rusak mengecil dan
total volume jaringan berkurang.
Keuntungan :
a) proses ini terjadi pada suhu rendah (400C-700C), sehingga cedera jaringan sekitar
minimal dan perdarahan saat operasi lebih sedikit
b) nyeri pasca operasi lebih ringan karena tidak terdapat luka operasi yang terbuka
c) durasi operasi lebih singkat dan kadar penyembuhan lebih cepat
d) hanya memerlukan sedasi ringan atau anestesi lokal
e) jaringan tonsil dapat dibuang seluruhnya, ablasi sebagian atau berkurang volumenya
f) menurunkan morbiditas tonsilektomi
g) biaya relatif lebih murah dibanding beberapa teknik modern lainnya

Kerugian :
a) tidak efektif untuk tonsilitis kronik dan rekuren
b) biaya lebih tinggi

4
5. Teknik Skapel Harmonik
Skalpel harmonik menggunakan teknologi ultrasonik untuk memotong dan
mengkoagulasi jaringan dengan kerusakan jaringan minimal. Teknik ini menggunakan suhu
yang lebih rendah dibandingkan elektrokauter dan laser. Dengan elektrokauter atau laser,
pemotongan dan koagulasi terjadi bila temperatur sel cukup tinggi untuk tekanan gas dapat
memecah sel tersebut (biasanya 1500C-4000C), sedangkan dengan skalpel harmonik
temperatur disebabkan oleh friksi jauh lebih rendah (biasanya 500C -1000C). Sistim skalpel
harmonik terdiri atas generator 110 Volt, handpiece dengan kabel penyambung, pisau bedah
dan pedal kaki.

Alatnya memiliki 2 mekanisme memotong yaitu oleh pisau tajam yang bergetar dengan
frekuensi 55,5 kHz sejauh lebih dari 80 µm (paling penting), dan hasil dari pergerakan maju
mundur yang cepat dari ujung pemotong saat kontak dengan jaringan yang menyebabkan
peningkatan dan penurunan tekanan jaringan internal, sehingga menyebabkan fragmentasi
berongga dan pemisahan jaringan. Koagulasi muncul ketika energi mekanik ditransfer
kejaringan, memecah ikatan hidrogen tersier menjadi protein denaturasi dan melalui
pembentukan panas dari friksi jaringan internal akibat vibrasi frekuensi tinggi.

Keuntungan :

a) dapat memotong seluruh jaringan tonsil tanpa meninggalkan sisa


b) tidak memiliki energi listrik yang ditransfer ke atau melalui pasien, sehingga tidak
ada stray energi (energi yang tersasar) yang dapat menyebabkan shock atau luka bakar
berbanding elektrokauter dan laser
c) lapangan bedah jelas terlihat karena perdarahan minimal. Perdarahan pasca oprasi
juga minimal
d) nyeri pasca operasi minimal
e) menguntungkan bagi pasien terutama yang tidak bisa mentoleransi kehilangan darah
seperti pada anak-anak, pasien dengan anemia atau defisiensi faktor VIII dan pasien yang
mendapatkan terapi antikoagulan
Kerugian :
a) lapangan bedah tidak terlihat jelas karena lebih banyak perdarahan berbanding
elektrokauter
5
6. Teknik Coblation
Coblation atau cold ablation merupakan suatu modalitas yang unik karena dapat
memanfaatkan plasma atau molekul sodium yang terionisasi untuk mengikis jaringan.
Mekanisme kerja dari coblation ini adalah menggunakan energi dari frekuensi bipolar untuk
mengubah sodium sebagai media perantara yang akan membentuk kelompok plasma dan
terkumpul di sekitar elektroda. Kelompok plasma tersebut mengandung suatu partikel yang
terionisasi dan akan memecah ikatan molekul jaringan tonsil. Selain memecah ikatan
molekular pada jaringan juga menyebabkan disintegrasi molekul pada suhu rendah yaitu 40-
70%, sehingga dapat meminimalkan kerusakan jaringan sekitar.
Keuntungan :
a) kerusakan jaringan sekitar minimal
b) dapat mengangkat seluruh atau sebagian dari jaringan tonsil
c) dapat digunakan untuk tonsil yang hipertrofi dan infeksi kronik atau rekuren
d) nyeri ringan pasca-operasi, dan penyembuhan cepat
Kerugian :
a) komplikasi utama adalah perdarahan
b) dapat menyebabkan pembengkakan masif dari uvula
c) dilakukan di bawah anestesi umum di kamar operasi

7. Intracapsular Partial Tonsillectomy


Tonsilektomi intrakapsular merupakan tonsilektomi parsial yang dilakukan dengan
menggunakan endoskop mikrodebrider. Endoskop mikrodebrider bukan merupakan
peralatan ideal untuk tindakan tonsilektomi, namun tidak ada alat lain yang dapat menyamai
ketepatan dan ketelitian alat ini dalam membersihkan jaringan tonsil tanpa melukai
kapsulnya.

Keuntungan :
a) dapat mengangkat 90% daripada seluruh jaringan tonsil
b) tidak melukai kapsul tonsil
c) dapat mempertahankan kapsul tonsil untuk melindungi muskulus faringeal dari inflamasi,
iritasi, dan infeksi.
6
d) mengurangkan nyeri pasca-operasi, penyembuhan yang cepat, dan mengurangkan
komplikasi lambat.
Kerugian :
a) bukan alat ideal untuk tonsilektomi
b) jaringan tonsil yang tersisa akan meningkatkan insiden tonsillar regrowth
c) hanya dapat digunakan pada tonsil yang hipertrofi
d) merupakan kontraindikasi pada tonsilitis kronik
e) harga alat masih mahal

8. Laser (CO2-KTP)
Laser tonsil ablation (LTA) menggunakan CO2 atau Potassium Titanyl Phosphat untuk
menguapkan dan mengangkat jaringan tonsil.
Keuntungan :
a) mengurangi volume tonsil
b) menghilangkan recesses pada tonsil yang menyebabkan infeksi kronik dan rekuren.
c) efektif untuk tonsilitis kronik dan rekuren, nyeri tenggorok kronik, halitosis berat, dan
obstruksi saluran nafas akibat pembesaran tonsil
d) nyeri pasca-operasi minimal, morbiditas menurun, dan kebutuhan analgesia pasca-operasi
berkurang
Kerugian :
a) sisa tonsil dapat tumbuh kembali

b) memerlukan biaya yang tinggi

American academy of otolaryngology head and neck dissection. Lesspain and quicker recovery
with coblation assisted tonsillectomy

INTENSITAS BUNYI
Cakupan tekanan bunyi yang dapat diterima oleh telinga normal sangat luas sehingga sulit untuk
mengetahui angkanya. Dekat ambang dengar, bunyi mempunyai tekanan sebesar kira-kira
2/10.000 dyne/cm2. Tekanan ini harus dikalikan 10 juta kali untuk dapat menyebabkan rasa nyeri
di telinga. Skala desibel (dB) dipakai agar angka-angka dalam cakupan frekuensi itu dapat
7
diikuti. Hal ini dilakukan dengan memilih satu titik tertentu pada skala penekanan sebagai dasar,
dan menyatakan titik-titik lain pada skala sebagai rasio dari dasar ini, mengambil angka
logaritma dari rasio ini, kemudian angka logaritma tersebut dikalikan 20.

Tidak akan ada artinya membicarakan desibel bila titik awalnya tidak ditentukan. Suatu bunyi
dengan tekanan tertentu dapat mempunyai beberapa nilai desibel, tergantung dari tekanan mana
yang dipilih sebagai angka nol untuk titik awal pada skala. Pada prakteknya, ada 3 titik awal
yang sering dipakai pada skala desibel. Pertama yakni 0.0002 dyne/cm2, yang dipilih karena
dulu angka ini dianggap sebagai tekanan suara yang sesuai dengan pendengaran yang terbaik
manusia. Titik awal lain adalah ambang rata-rata pendengaran normal, yang terakhir, 1
dyne/cm2(1 mikrobar) sering dipakai sebagai tekanan pembanding, terutama untuk kalibrasi
mikrofon.

Skala dengan titik awal 0.0002 dyne/cm2 disebut skala tingkat tekanan suara (Sound Pressure
Level= SPL). Jadi 60 dB SPL berartitekanan 60 dB di atas 0.0002 dyne/cm2. Skala berdasarkan
ambang pendengaran rata-rata normal disebut skala tingkat ambang dengar (Hearing Treshold
Level) atau skala ambang dengar (Hearing Level= HL). Jadi 60 dBHL berarti tekanan 60 desibel
di atas ambang tekanan standar pembanding yang sesuai dengan pendengaran normal rata-rata
frekuensi ini. Perbedaan penting antara kedua skala ini adalah skala SPL berdasarkan suatu titik
awal fisika (0.0002 dyne/cm2), sedangkan skala HL berdasarkan titik awal ukuran psikologik
atau perilaku, yakni pendengaran normal rata-rata.

Tanda desibel pada angka gangguan pendengaran suatu audiometer mengikuti skala ambang
dengar (HL). Titik nol pada angka gangguan frekuensi tertentu adalah sebenarnya, tingkat suara
yang sesuai dengan rata-rata ambang dengar tersebut, seperti yang ditetapkan oleh American
National Standard Institute (ANSI).