Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

Gempabumi berskala besar kembali terjadi di Indonesia dalam kurun waktu dua bulan
berturut-turut. Setelah Banggai, Sulawesi Utara, terguncang pada tanggal 4 Mei 2000 dengan 6.5
skala Richter dan menewaskan 46 jiwa serta merusak 23.000 unit bangunan (Kompas, 9 Mei
2000), kini giliran Pulau Enggano, Bengkulu, diguncang pada tanggal 5 Juni 2000 dengan 7.3
skala Richter dan menewaskan 92 orang serta merusak 16.900 unit bangunan (Kompas, 30 Juni
2000). Kedua bencana tersebut hanyalah lanjutan dari catatan panjang bencana alam geologi yang
terjadi di Indonesia. Menarik untuk dicermati adalah posisi geografis kedua lokasi musibah
tersebut, keduanya merupakan daerah pesisir. Pada kasus Banggai, gempabumi yang terjadi diikuti
oleh tsunami setinggi 6 m. Pada kasus Bengkulu, masyarakat yang tertimpa musibah juga dilanda
kecemasan akan munculnya tsunami.

Indonesia sebagai negara maritim dengan ribuan pulaunya, secara geologis memang rentan
terhadap bencana alam. Karena posisi geografis tersebut, hampir semua bencana alam yang terjadi
merupakan jenis bencana alam pesisir. Indonesia termasuk dalam rangkaian “ring of fire” (sebutan
untuk rangkaian gununapi di Pasifik), dengan volkanisme aktif dari Sumatra Utara hingga
kepulauan timur Indonesia. Posisi geologis Indonesia sendiri yang terletak pada pertemuan
beberapa lempeng tektonik aktif membawa implikasi terhadap kemungkinan bencana alam.
Sekitar 70% gempabumi tektonik terjadi di dasar laut yang berpotensial menyebabkan tsunami
(tsunamigenik).

Kondisi Geologi Indonesia dan Bahaya Tsunami

Indonesia terletak pada pertemuan 3 lempeng utama: Australia, Eurasia dan Pasifik, dan beberapa
lempeng kecil lainnya seperti Sangihe, Maluku dan Halmahera (gambar 1 dan 2). Pertemuan
lempeng-lempeng ini menghasilkan aktifitas kegunungapian dan kegempabumian.
Gambar 1. Konfigurasi lempeng tektonik di Indonesia.

Gambar 2. Konfigurasi lempeng tektonik dan penyebaran gunungapi di daerah Halmahera –


Sulawesi Utara.

Sebagian besar gunungapi terletak pada busur Sunda yang terbentang 3000 km dari ujung utara
Sumatra hingga ke Laut Banda, terbentuk akibat proses subduksi Lempeng Australia dibawah
Lempeng Eurasia. Sekitar ¼ dari total gunungapi Indonesia terletak pada sebelah utara Busur
Sunda. Gunungapi di Sulawesi, Halmahera dan Sangihe terbentuk dari konfigurasi beberapa
subduksi lempeng kecil yang memanjang utara-selatan (gambar 2) (Hamilton, 1979). Gunungapi
di Laut Banda terbentuk akibat subduksi Lempeng Pasifik dibawah lempeng Eurasia.

Indonesia memiliki 76 gunungapi yang tercatat aktif, angka terbesar di seluruh dunia untuk suatu
daerah volkanik. Gunungapi-gunungapi tersebut telah meletus paling sedikit 1.171 kali,
menempatkan Indonesia di tempat kedua (setelah Jepang) sebagai daerah dengan bahaya letusan
gunungapi paling tinggi.
Gempabumi umumnya berkaitan dengan pergerakan lempeng tektonik pada kulit bumi. Beberapa
daerah sensitif gempabumi di Indonesia adalah: sebelah barat Sumatra, sebelah selatan Jawa dan
Bali, Nusa Tenggara, Laut Banda dan Sulawesi Tenggara, sebelah utara Maluku dan Sulawesi
Utara, sebelah utara Papua, dan Selat Makassar (gambar 3).

Salah satu akibat gempabumi dan letusan gunungapi tersebut adalah tsunami (dalam bahasa Jepang
yang berarti gelombang pelabuhan -- “harbour wave”). Indonesia sepanjang dasawarsa terakhir
paling sedikit telah mengalami 5 kali tsunami (tabel 1).

Tabel 1. Peristiwa tsunami di Indonesia dalam dasawarsa terakhir (ITSU, 1999; * dari Kompas, 9
Mei 2000).

Perkiraan korban
Tanggal Lokasi
jiwa

12 Dec 1992 Flores Island 1000

3 Jun 1994 Jawa 222

1 Jan 1996 Papua 9

17 Feb 1996 Sulawesi 110

4 May 2000 Banggai 45*

Tsunami terbesar akibat letusan gunungapi adalah peristiwa letusan bersejarah Krakatau di tahun
1883 yang menciptakan gelombang setinggi 40 meter diatas muka laut dan menewaskan 34.000
orang, melemparkan kapal hingga 2,5 km ke arah darat (Simkin and Siebert, 1994). Gelombang
masih tercatat hingga pesisir selatan Semenanjung Arab – dengan jarak lebih dari 7.000 km dari
Krakatau (Kious and Tilling, 1996).

Gambar 3. Zona gempabumi tsunamigenik di Indonesia (ITSU, 1999).


BAB II

PENGERTIAN DAN KLASIFIKASI

Tsunami (bahasa Jepang: tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah berarti
"ombak besar di pelabuhan") adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan
permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa
disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah
laut, longsor bawah laut, atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke
segala arah.

Tsunami merupakan salah satu jenis bencana alam yang berkaitan dengan gelombang lautan.
Gelombang lautan yang sangat besar dan menerjang daratan ini disebut dengan tsunami. Secara
harfiah, tsunami mempunyai arti ombak besar di pelabuhan. Lebih ilmiah lagi, yang dimaksud
tsunami adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara
vertikal yang berlangsung dengan tiba- tiba. Gelombang tsunami merupakan jenis gelombang yang
dapat bergerak ke segala arah hingga mencapai jarak ribuan kilometer. Daya kerusakan yang
diakibatkan gelombang ini akan semakin kuat apabila berada di daratan yang dekat dengan pusat
gangguan. Apabila di lautan, tinggi gelombang tsunami ini tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 1
meter saja. Meski demikian, kecepatan yang dimiliki oleh gelombang ini bisa mencapai 500 hingga
1000 kilometer per jam, kecepatan ini menyamai dengan kecepatan pesawat jet. Saking cepatnya
gelombang ini, kapal yang berada di lautan sampai tidak terasa akan kehadiran gelombang ini.

Sebaliknya, semakin mendekati ekosistem pantai, kecepatan gelombang ini semakin menurun,
hanya sekitar 35 hingga 50 kilometer per jam. Namun, tingginya gelombang akan semakin naik,
hingga mencapai 20 meter. Dengan ketinggian yang sedemikian ini, maka gelombang tsunami
dapat masuk ke daratan hingga jarak puluhan kilometer. Inilah sekilas gambaran umum mengenai
gelombang tsunami.

Kebanyakan tsunami dihasilkan oleh gempabumi, dimana pergeseran tektonik vertikal dasar laut
di sepanjang zona rekahan pada kulit bumi menyebabkan gangguan vertikal tubuh air. Sumber
mekanisme lainnya adalah letusan gunungapi yang berada di dekat atau di bawah laut, perpindahan
sedimen dasar laut, peristiwa tanah longsor di daerah pesisir yang bergerak ke arah air laut, ledakan
buatan manusia dan tumbukan benda langit /meteor yang terjadi di laut.

Gambar 2.1. Model terjadinya tsunami akibat pergerakan sesar/gempabumi (Gonzales, 1999).

KLASIFIKASI TSUNAMI DI INDONESIA

Indonesia merupakan kepulauan yang terletak di antara dua samudera, yaitu ; Samudera Pasifik
dan Samudera Hindia. Melihat kepada lokasi ini maka untuk daerah di Indoensia penyebab
tsunami berasal dari 3 lokasi yaitu :

a. Tsunami Samudera Pasifik.

Tsunami yang berasal dari Samudera Pasifik pada waktu sekarang ditangani oleh PTWC (Pasific
Tsunami warning Center) yang berpusat di Honolulu, Hawaii, yang merupakan bagian dari ITIC
(International Tsunami Information Center) apabila terjadi gempa bumi di Laut Pasifik, dimana
memang gempa bumi di dunia ini 75 persen terjadi di sekitar pasifik, yang mempunyai
kedalaman dangkal dan bermagnitudo cukup besar maka perhatian khusus diberikan oleh PTWC
dengan tujuan untuk mengetahui apakah gempa bumi ini menimbulkan tsunami atau tidak.
Apabila menimbulkan tsunami, maka diadakan Tsunami Watch dengan jalan menanyakan
kepada petugas yang berada di sekitar episenter gempa bumi tersebut apakah ada penambahan
ketinggian gelombang laut.
Apabila di sekitar episenter terdapat Tide Gauge dengan sistem telemeter , maka hal ini dapat
dilakukan dengan melihat kepada recorder dari Tide Gauge ini. Bila terjadi tsunami yang
disebabkan karena gempa bumi, maka PTWC dapat memperhitungkan jam berapa gelombang
tsunami ini akan sampai di masing-masing negara anggota disekitar Samudera Pasifik.
Pemberitahuan ini diberikan oleh PTWC untuk kemudian Pemerintah setempat berusaha
mengungsikan penduduk pantai yang kira-kira akan dilanda tsunami.
Dalam hal ini di Indonesia yang termasuk salah satu negara di sekitar Samudera Pasifik tentunya
juga akan diberitahu oleh PTWC apabila akan ada tsunami yang melanda bagian utara dan timur
dari Indonesia (Irian Jaya bagian utara, Maluku bagian utara dan timur).
Untuk daerah Irian Jaya bagian utara dan Maluku bagian utara dan timur, telah dapat di
perkirakan waktu jalar gelombang tsunami yang berasal dari Pasifik ke daerah Jayapura dan
Sangihe, seperti dapat dillihat pada peta kountur waktu jalar gelombang laut di Lautan Pasifik.
Peta kountur ini dibuat berdasarkan peta waktu jalar tsunami dari Pasifik ke negara-negara
sekitar Pasifik, kemudian waktu jalur tersebut di plot untuk sampai ke dua tempat di Indonesia
ini, dengan pengertian kecepatan gelombang laut adalah sama untuk daerah yang berlawanan
dengan daerah yang sama.

b. Tsunami Samudera Hindia

Tsunami dari Lautan Hindia yang melanda Indonesia sejak tahun 1797 sampai 1928, terdapat 14
buah tsunami. Diperkirakan tsunami tersebut kebanyakan berasal dari gempa tektonik yang
bersumber pada Belt Mediterania, dimana gempa-gempa dangkal yang terjadi di Samudera
Hindia ini terdapat sepanjang Belt Mediterania yang membujur mulai dari Sumatera, Jawa dan
Nusa Tenggara sejauh ± 200 km dari daratan.
Kedalaman laut dari batas plate tektonik lautan Hindia dengan plate tektonik Eurasia di daratan
Sumatera dan Jawa pada umumnya :
Untuk daerah selatan Jawa, 1000 m, sehingga waktu jalar tsunami tersebut kira-kira
membutuhkan waktu 1/2 jam untuk sampai ke pantai selatan Jawa.
Untuk sebelah barat daya Sumatera kedalaman Laut Hindia mulai dari batas plate tektonik
tersebut sampai ke pantai barat Sumatera, rata-rata berkedalaman 500 meter sehingga waktu jalar
gelombang tsunami sampai ke pantai barat Sumatera adalah kurang lebih ¾ jam.

Dengan demikian untuk mengurangi korban manusia akibat tsunami yang berasal dari Lautan
Hindia masih ada waktu selama antara ½ dan ¾ jam untuk dapat mengungsikan penduduk
pantai.
Untuk dapat mengatasinya membutuhkan jaringan stasiun tsunami (stasiun seismo dan tide
gauge) yang telemeter untuk dapat mengetahui terjadinya gempa dangkal di laut hindia yang
cukup kuat beserta terjadinya tsunami yang harus sudah dapat diketahui sebelum gelombang
tsunami ini melanda daratan. Disamping itu juga di butuhkan kesiagaan penduduk pantai beserta
aparat pemerintah yang sangat tinggi.

c. Tsunami Lokal.

Diihat dari peta tsunami pontensial area di Indonesia, daerah yang sering mengalami glombang
tsunami akibat gempa lokal atau tanah longsor di dasar lautan, teradapat di daerah sekitar
Maluku termasuk Nusa Tenggara pantai sebelah utara.
Penyebab tsunami ini kebanyakan berasal dari gempa-gempa lokal yang terjadi di daerah Maluku
di lautan yang kedalaman lautnya rata-rata 200 m.
Waktu jalar gelombang tsunami tentunya tergantung dari jaraknya sumber tsunami kepantai.
Kalau di lihat pada peta Major Salau Earthquake (1897-1977), ternyata pada umumnya terdapat
dekat dengan pantainya.
Umpamanya Nusa Tenggara lokasi epiknya dekat dengan pantai sebelah utara maupun sebelah
selatan, sehingga waktu jalarnya sampai ke pantai akan sangat singkat.
Tetapi untuk gempa-gempa disebelah selatan Nusa Tenggara juga terdapat gempa-gempa
dangkal yang kuat yang berjarak ± 150 km dari pantai-pantai sebelah selatan Nusa Tenggara
yang waktu jalar gelombang tsunaminya sekitar 20 menit.
Demikian pula untuk daerah daerah di Laut Banda, lokasi dari pusat gempa dangkalnya dekat
dengan pantai yang juga terdapat di daerah di antara Halmahera dan Sulawesi.
Karena keadaan waktu jalar gelombang tsunami yang singkat pada umumnya, maka dalam hal
pengamanan penduduk dari gelombang tsunami, yang terpenting adalah pendidikan kepada
penduduk setempat di pantai di daerah iini.
Pada umumnya daerah rawan tsunami adalah daerah yang lokasinya dekat dengan jalur gempa
yang terletak di lautan dan episenternya dekat dengan pantai.

Klasifikasi Kerusakan oleh Tsunami

Berdasarkan tingkat kerusakan lahannya, lahan-lahan pasca bencana tsunami dapat


diklasifikasikan menjadi 4 (FAO, 2005):

Kelas A “kerusakan ringan”

Lahan dengan jumlah puing dan sampah bangunan yang sedikit atau tidak ada, erosi rendah, dan
sedimentasi pasir bergaram tebalnya hanya beberapa cm, lahan tergenang beberapa jam, laju
infiltrasi yang relatif lambat (endapan lumpur liat), dan indeks daya hantar listrik (DHL) < 4.

Kelas B “kerusakan sedang”

Lahan dengan jumlah puing dan sampah bangunan yang tersebar agak merata, erosi sedang, dan
sedimentasi pasir bergaram tebalnya > 10 cm, lahan tergenang > 1 hari, laju infiltrasi sedang
(tanah/endapan lempung), dan lahan tidak mempunyai fasilitas irigasi/drainase.

Kelas C “kerusakan berat”

Lahan dengan jumlah puing dan sampah bangunan yang tersebar sangat merata, erosi berat, dan
endapan pasir bergaram tebalnya > 20 cm, lahan tergenang > 1 minggu, laju infiltrasi cepat, dan
lahan tidak mempunyai fasilitas irigasi/drainase serta curah hujan yang relatif rendah.

Kelas D “lahan tergenang (lost area)”

Beberapa lahan di pantai barat NAD tetap tergenang air laut, sehingga tidak dapat dimanfaatkan
kembali untuk pertanian. Lahan-lahan yang demikian dianggap sebagai lahan yang hilang, yang
berarti hilangnya mata pencaharian bagi pemilik atau penggarap lahan tersebut.
BAB III

FAKTOR DAN DAMPAK TSUNAMI

Faktor- faktor Penyebab Tsunami

Tsunami merupakan sebuah bencana alam yang dahsyat. Tsunami adalah gambaran ombak yang
sangat besar yang menerjang hingga ke wilayah daratan. Tidak bisa dipungkiri bahwa bagian
daratan (baca: angin darat) yang terkena sapuan ombak akan luluh lantak karena kekuatan yang
dimiliki oleh ombak tersebut. Terjadinya tsunami ini biasanya tidak bencana alam tunggal.
Maksudnya, biasanya tsunami tidak datang sendiri dengan tiba- tiba. Namun biasanya ada yang
menghantarkan, sehingga terjadilah tsunami. Beberapa peristiwa alam menjadi
penyebab terjadinya tsunami. Hal- hal yang menghantarkan terjadi tsunami antara lain adalah
sebagai berikut:

1. Gempa Bumi bawah laut

Gempa bumi merupakan hal yang paling umum yang dapat menyebabkan terjadinya tsunami.
Gempa bumi yang dimaksud tentu adalah gempa bumi bawah laut (baca: jenis gempa bumi).
Gempa bumi bawah laut menimbulkan banyak getaran yang akan mendorong timbulnya
gelombang tsunami. Gempa bumi bawah laut merupakan penyebab mayoritas terjadinya tsunamu
di dunia. Hampir 90 persen kejadian tsunami di dunia ini disebabkan oleh gempa bumi yang terjadi
di bawah laut. Gempa bumi yang terjadi dibawah laut ini merupakan jenis gempa bumi tektonik
yang timbul akibat adanya pertemuan atau tubrukan lempeng tektonik. Meski gempa bumi bawah
laut merupakan penyebab utama terjadinya tsunami, namun tidak berarti bahwa semua gempa
bumi bawah laut Sdapat menimbulkan tsunami. Gempa bumi bawah laut akan menimbulkan
tsunami apabila memenuhi beberapa syarat antara lain adalah sebagai berikut:

• Pusat gempa terletak di kedalaman 0 hingga 30 kilometer dibawah permukaan air laut
Gempa bumi bawah laut yang berpotensi menimbulkan tsunami adalah apabila pusat gempa
berada di kedalaman antara 0 hingga 30 meter dibawah permukaan air laut. Semakin dangkal pusat
gempa, maka akan semakin besar kesempatan untuk terjadi tsunami. Dengan kata lain semakin
dangkal pusat gempa bumi, maka peluang terjadinya tsunami juga semakin besar. Hal ini karena
getaran yang dirasakan juga semakin besar dan semakin kuat, sehinnga peluang terjadinya tsunami
pun juga semakin kuat.

• Gempa yang terjadi berskala di atas 6,5 skala richter


Kriterian yang selanjutnya adalah gempa bumi yang terjadi harus mempunyai kekuatan di atas 6,5
skala richter. Jadi misalnya ada gempa dangkal, namun gempanya kecil, hal itu kemungkinan tidak
akan memberikan peluang terjadinya tsunami. Gempa yang terjadi dengan kekuatan minimal 6,5
skala richter dianggap sudah mampu untuk mempengaruhi gelombang air laut, yang pada akhirnya
akan menyebabkan terjadinya tsunami. Pengalaman bencana yang terjadi di Aceh pada tahun 2004
silam, gempa yang terjadi memiliki kekuatan sekitar 9 skala richter. Untuk mengetahui besar
gempa digunakan alat pengukur getaran gempa bumi.

• Jenis sesar gempa adalah sesar naik turun


Kriteria lainnya yang juga mendukung terjadinya gelombang tsunami adalah mengenai jenis sesar.
Persesaran gempa yang dapat menimbulkan gelombang tsunami adalah jenis persesaran naik
turun. Adanya persesaran naik turun ini akan dapat menimbulkan gelombang baru yang mana jika
bergerak ke daratan, maka bisa menghasilkan tsunami. Hal ini akan diperparah apabila terjadi
patahan di dasar laut, sehingga akan menyebabkan air laut turun secara mendadak dan menjadi
cikal bakal terjadinya tsunami.

Nah, itulah beberapa kriteria gempa yang dapat menimbulkan tsunami. Gempa bawah laut yang
tidak sesuai dengan kriteria di atas maka peluang menimbulkan tsunami juga kecil.

2. Letusan gunung berapi bawah laut

Penyebab terjadinya tsunami yang selanjutnya adalah terjadinya letusan gunung api yang ada di
bawah laut. Lautan yang memenuhi dua per tiga dari permukaan bumi ini menyimpan banyak
sekali rahasia. Kita tidak tau banyak mengenai rupa penampakan di bawah laut, bahwa sebenarnya
tidak hanya daratan saja yang mempuyai gunung aktif, namun juga bawah laut mempunyai banyak
gunung aktif. Beberapa gunung aktif yang ada di bawah laut bisa berpotensi meledak atau erupsi
sewaktu- waktu. Akibat adanya letusan yang besar atau kuat dari gunung berapi bawah laut ini,
maka menyebabkan terjadinya tsunami.

Salah satu peristiwa akbar yang menggambarkan kejadian tsunami diakibatkan oleh letusan
gunung berapi adalah di Indonesia, tepatnya di sebelah barat pulau Jawa. Gunung Krakatau
namanya, meletus pada tahun 1883. Peristiwa ini menimbulkan gelombang tsunami yang dasyat
sehingga menyapu bersih area di sekitar Selat Sunda. Selain peristiwa gunung Krakatau, di
Indonesia juga terjadi letusan gunung Tambora pada tahun 1815 yang berada di Nusa Tenggara
Timur hingga megakibatkan terjadinya kepulauan Maluku. Indonesia merupakan negara yang
mempunyai banyak gunung api sehingga dijuluki Ring of Fire. Hal ini membuat Indonesia harus
selalu waspada karena letusan gunung berapi bisa terjadi sewaktu- waktu.

3. Terjadiya longsor bawah laut

Penyebab gelombang tsunami selanjutnya adalah terjadinya longsor dibawah laut (baca: tanah
longsor). Tsunami yang disebabkan karena adanya longsor di bawah laut dinamakan Tsunamic
Submarine Landslide. Ternyata longsor tidak hanya terjadi di daratan saja. Seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya, bentuk permukaan bawah lait menyerupai daratan. apabila di daratan kita
menemukan bukit dan jurang, maka di dalam lautan pun juga demikian (baca: palung laut),
sehingga ada potensi terjadi longsir. Longsir bawah laut ini pada umunya disebabkan oleh adanya
gempa bumi tektonik atau letusan gunung bawah laut. Getaran kuat yang ditimbulkan olehlongsir
inilah yang bisa menyebabkan terjadinya tsunami. Selain gempa bumi tektonik dan letusan
gunung berapi, tabrakan lempeng yang ada di bawah laut juga bisa menyebabkan terjadinya
longsor. Pada tahun 2008 dilakukan penelitian di Samudera Hindia yang menyebutkan adanya
palung laut yang membentang dari pulau Siberut hingga ke pesisir Pantai Bengkulu yang mana
apabila palung tersebut longsor maka akan terjadi tsunami di pantai barat Sumatera.

4. Adanya hantaman meteor

Penyebab selanjutnya dari terjadinya tsunami adalah adanya hantaman meteor atau benda langit.
Benda langit yang jatuh ini tentu saja benda langit yang berukuran besar. Meskipun jarang sekali
terjadi, dan bahkan belum ada dokumentasi yang menyebutkan adanya tsunami akibat hantaman
meteor, namun hal ini bisa saja terjadi. Seperti yang disimulasikan oleh komputer canggih, bahwa
apabila ada meteor besar (karena meteor kecil biasanya akan habisa terbakar di atmosfer bumi)
misalnya berdiameter lebih dari 1 kilometer saja, maka dapat menimbulkan bencana alam yang
dasyat. Mega tsunami yang ditimbulkan memiliki ketinggian hingga ratusan meter. Kita bisa
memprediksi apa yang akan terjadi selanjtnya. Kelaparan akibat pertanian yang rusak dan
perubahan iklim, akan membunuh manusia di bumi secara massal. Selain karena ukuran dari
meteor, hal lain yang berpengaruh adalah kecepatan atau laju meteor yang mencapai puluhan ribu
kilometer per jam.utern belum ada dokumentasi yang menyebutkan adanya tsunami akibat
hantaman meteor.

Tanda- tanda Terjadinya Bencana Tsunami

Sebelumnya telah disebutkan diatas bahwa bencana alam tsunami merupakan tipe bencana alam
yang selalu dibarengi dengan tanda- tanda tertentu. maka dari itulah terjadinya tsunami ini bisa
diprediksi kejadinnya. Ada beberapa tanda yang menandakan bahwa akan ada tsunami. Maka dari
itulah masyarakat harus waspada dan segera mengambil tindakan yang tepat. Beberapa tanda akan
terjadinya tsunami akan kita ketahui dalam artikel ini. berikut ini merupakan beberapa tanda atau
Ciri-ciri tsunami.

1. Terjadinya gempa atau getaran yang berpusat dari bawah laut

Terjadinya tsunami diawali oleh adanya gempa bumi atau semacam getaran yang asalnya dari
bawah atau dari dalam lautan. Gempa yang terjadi ini tentu seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, yakni berpusat atau memiliki kedalam kurang dari 30 kilometer dan getarannya
melebihi 6,5 scala richter.

2. Air laut tiba- tiba surut

Setelah adanya gempa atau getaran, selanjutnya adalah surutnya air laut (baca: ekosistem air laut)
secara tiba- tiba. surutnya air laut secara tiba- tiba ini merupakan tanda- tanda yang paling jelas
ketika akan terjadi tsunami. Semakin jauh surut air laut (baca: pasang surut air laut), maka
kekuatan tsunami yang akan terjadi akan semakin besar. Dengan demikian ketika surut air ini
terjadi maka langkah yang paling tepat adalah segera melakukan evakuasi supaya tidak banyak
korban yang jatuh. Surutnya air laut ini sebenarnya karena disebabkan oleh permukaan laut turun
secara mendadak sehingga terdapat kekosongan ruang dan menyebabkan air laut pantai tertarik.
Dan ketika gelombang tsunami telah tercipta yang baru, maka air akan kembali ke pantai dengan
wujud gelombang yang sangat besar.

3. Tanda- tanda alam yang tidak biasa

Sebelum terjadinya tsunami, juga terdapat beberapa tanda alam yang tidak biasa. Tanda- tanda
alam yang tidak biasa ini seperti gerakan angin (baca: jenis angin) yang tidak biasa, perilaku hewan
yang aneh. Beberapa perilaku hewan yang aneh ini contohnya adalah aktifnya kelelawar di siang
hari, kemudian banyak burung- burung terbang bergerombol (padahal biasanya tidak pernah
terlihat), dan juga beberapa perilaku binatang darat. Contoh di Thailand, sebelum terjadinya
tsunami, gajah- gajat Thailang saling berlarian menuju ke bukit untuk menyelamatkan diri.

4. Terdengar suara gemuruh

Tanda akan etrjadinya tsunami yang selanjutnya adalah terdengarnya suara gemuruh. Ada
pengalaman oleh masyarakat yang mengalami bencana tsunami tahun 2004 di Aceh, dimana
beberapa saat sebelum tsunami terjadi mereka mendengar suara gemuruh yang sangat keras dari
dalam laut, yakni seperti suara kereta pengangkut barang. Beberapa diantaranya juga mendengar
suara ledakan dari dalam lautan. Hal ini cukup menjadi suatu pertanda yang kuat akan terjadinya
bencana tsunami.

Itulah beberapa tanda terjadinya tsunami yang dapat kita lihat sebelum tsunami terjadi. Tanda-
tanda di atas merupakan tanda- tanda alam. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan
teknologi, maka diciptakan suatu alat yang dapat digunakan untuk mendetersi terjadinya tsunami.
Dengan demikian kita dapat memperoleh informasi yang lebih akurat.

Dampak Bencana Tsunami

Bencana alam merupakan peristiwa sangat kejadiannya sungguh sangat tidak diharapkan dan tidak
dirindukan. Bagaimana tidak, bencana alam hanya akan membawa dampak buruk, seperti
kehilangan, kemiskinan, kelaparan, dan kesedihan. Apapun jenis bencana alam yang di bumi,
maka tidak ada satupun dari mereka yang diharapkan kedatangannya olah manusia. seperti halnya
bencana tsunami ini. seperti jenis bencana alam lainnya, bencana tsunami juga menimbulkan
banyak sekali dampak atau kerugian. Beberapa dampak tsunami antara lain adalah sebagai berikut:

1. Terjadi kerusakan dimana- mana

Dampak terjadinya tsunami yang pertama adalah terjadinya kerusakan dimana- mana. Kerusakan
yang dimaksud adalah kerusakan fisik baik bangunan dan non bangunan. Gelombang besar yang
timbul karena tsunami ini dapat menyapu area daratan, baik daerah pantai (baca: manfaat pantai)
maupun daerah- daerah di sekitarnya. Kerusakan yang terjadi ini adalah di daerah yang terkena
sapuan ombak. Gelombang ombak yang berkekuatan tinggi ini dalam sekejap bisa meluluh
lantakkan bangunan, menyapu pasir atau tanah, merusak perkebunan dan persawahan masyarakat,
merusak tambak dan ladang perikanan, dan lain sebagainya. Kerusakan yang terjadi ini akan
menimbulkan banyak kerugian, terutama kerugian berupa material.

2. Lahan pertanian dan perikanan rusak

Gelombang tsunami yang dasyat juga dapat menyebabkan lahan pertanian dan perikanan rusak.
Gelombang tsunami dengan kekuatan yang besar mampu menyapu bersih apa saja yang ada di
daratan. Jangankan tanaman yang ada di sawah, bahkan bangunan pun banyak sekali yang roboh.
Selain itu ikan- ikan yang ditanam di kolam perikanan juga akan tersapu oleh air dari gelombang
tsunami tersebut.

3. Menghambat kegiatan perekonomian

Kita sepakat bahwa semua bencana alam dapat mengacaukan kegiatan perekonomian di suatu
wilayah. Hal ini juga termasuk bencana tsunami. Kerusakan dan kehilangan yang terjadi akibat
gelombang tsunami akan melumpuhkan kegiatan perekonomian sampai beberapa waktu. Tidak
hanya itu saja, namun kerugian yang disebabkan oleh tsunami mungkin akan menggantikan
kegiatan produksi dan perdagangan dalam waktu tertentu.

4. Kerugian material

Semua bencana alam dapat menimbulkan kerugian yang bersifat materiil, termasuk juga
gelombang tsunami. Kerugian material diantaranya karena robohnya bangunan, rusak lahan
pertanian dan perikanan, dan kehilangan harta bendanya.

5. Kerugian spiritual

Selain kerugian yang bersifat material atau yang dapat diukur dengan uang, bencana tsunami juga
dapat menimbulkan kerugian spiritual. Yang dimaksud dengan kerugian spiritual adalah kerugian
yang tidak berupa harta benda, namun lebih ke jiwa. Bagaimana seorang anak kecil akan tabah
setelah mengalami bencana alam yang besar, apalagi apabila ia kehilangan anggota keluarganya,
maka hal itu akan menimbulkan trauma di jiwa anak kecil. Akibatnya anak tersebut harus
menjalani beberapa terapi agar terbebas dari traumanya itu. Bahkan hal seperti ini hanya dialami
oleh anak kecil saja, namun juga orang dewasa dan bahkan lanjut usia.

6. Menimbulkan bibit penyakit

Dampak selanjutnya dari bencana alam tsunami adalah timbulnya bibit penyakit. Ketika
gelombang laut yang tinggi meluluh lantakkan daratan, maka yang akan kitemukan adalah benda-
benda kotor, tanah yang berlumpur dan sebagainya. Lingkungan yang tidak bersih akan
meimbulkan bayak sekali bibit penyakit. Apalagi jika ditambah dengan jasad- jasad makhluk hidup
yang meninggal, maka lingkungan akan semakin tidak sehat. Disamping itu, apabila tinggal di
pengungsian maka yang akan terjadi adalah timbulnya bibit penyakit karena kurangnya saranan
dan pra sarana.

Nah, itulah beberapa dampak terjadinya tsunami. Dampak- dampak yang telah disebutkan di atas
merupakan dampak jangka pendek. Selain dampak jangka pendek, adalagi dampak jangka panjang
yang akan kita rasakan, seperti kondisi perekonomian daerah tersebut yang tidak stabil, dan masih
banyak lagi.

Bencana turunan setelah tsunami terjadi :

 Air Bah adalah banjir besar yang datang secara tiba-tiba dengan meluap, menggenangi, dan
mengalir deras menghanyutkan benda-benda besar (seperti kayu dan sebagainya). Banjir
ini terjadi secara tiba-tiba di daerah permukaan rendah akibat hujan yang turun terus-
menerus. Banjir bandang terjadi saat penjenuhan air terhadap tanah di wilayah tersebut
berlangsung dengan sangat cepat hingga tidak dapat diserap lagi. Air yang tergenang lalu
berkumpul di daerah-daerah dengan permukaan rendah dan mengalir dengan cepat ke
daerah yang lebih rendah. Akibatnya, segala macam benda yang dilewatinya dikelilingi air
dengan tiba-tiba. Banjir bandang dapat mengakibatkan kerugian yang besar.

 Longsor atau sering disebut gerakan tanah adalah suatu peristiwa geologi yang terjadi
karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya
bebatuan atau gumpalan besar tanah.
BAB IV

MITIGASI BENCANA TSUNAMI

Mitigasi meliputi segala tindakan yang mencegah bahaya, mengurangi kemungkinan terjadinya
bahaya, dan mengurangi daya rusak suatu bahaya yang tidak dapat dihindarkan. Mitigasi adalah
dasar managemen situasi darurat. Mitigasi dapat didefinisikan sebagai “aksi yang mengurangi atau
menghilangkan resiko jangka panjang bahaya bencana alam dan akibatnya terhadap manusia
dan harta-benda” (FEMA, 2000). Mitigasi adalah usaha yang dilakukan oleh segala pihak terkait
pada tingkat negara, masyarakat dan individu.

Untuk mitigasi bahaya tsunami atau untuk bencana alam lainnya, sangat diperlukan ketepatan
dalam menilai kondisi alam yang terancam, merancang dan menerapkan teknik peringatan
bahaya, dan mempersiapkan daerah yang terancam untuk mengurangi dampak negatif dari
bahaya tersebut. Ketiga langkah penting tersebut:

1. Penilaian Bahaya (Hazard Assessment)

Unsur pertama untuk mitigasi yang efektif adalah penilaian bahaya. Untuk setiap komunitas
pesisir, penilaian bahaya tsunami diperlukan untuk mengidentifikasi populasi dan aset yang
terancam, dan tingkat ancaman (level of risk). Penilaian ini membutuhkan pengetahuan tentang
karakteristik sumber tsunami, probabilitas kejadian, karakteristik tsunami dan karakteristik
morfologi dasar laut dan garis pantai. Untuk beberapa komunitas, data dari tsunami yang pernah
terjadi dapat membantu kuantifikasi faktor-faktor tersebut. Untuk komunitas yang tidak atau hanya
sedikit memiliki data dari masa lalu, model numerik tsunami dapat memberikan perkiraan.
Tahapan ini umumnya menghasilkan peta potensi bahaya tsunami (contoh pada gambar 5) yang
sangat penting untuk memotivasi dan merancang kedua unsur mitigasi lainnya, peringatan dan
persiapan.

1.1. Data rekaman tsunami (Historical tsunami data)


Rekaman data umumnya tersedia dalam banyak bentuk dan di banyak tempat. Format yang
ada mencakup publikasi dan katalog manuskrip, laporan penyelidikan lapangan, pengalaman
pribadi, berita koran, rekaman film dan video. Salah satu instansi riset penyimpan data terbesar
adalah International Tsunami Information Center di Honolulu, Hawaii.

1.2. Data paleotsunami


Penelitian paleotsunami juga dapat dilakukan pada endapan tsunami di daerah pesisir dan
bukti-bukti lainnya yang terkait dengan pergeseran sesar penyebab gempabumi tsunamigenik.

1.3. Penyelidikan pasca tsunami


Survey penyelidikian pasca tsunami dilakukan mengikuti suatu peristiwa tsunami yang baru
terjadi untuk mengukur batas inundasi dan merekam keterangan saksi mata mengenai jumlah
gelombang, waktu kedatangan gelombang, dan gelombang mana yang terbesar.

1.4. Pemodelan numerik


Seringkali karena rekaman data minimal, satu-satunya jalan untuk menentukan daerah potensi
bahaya adalah menggunakan pemodelan numerik. Model dapat dimulai dari skenario terburuk.
Informasi ini kemudian menjadi dasar pembuatan peta evakuasi tsunami dan prosedurnya.
Gambar 5. Contoh peta zonasi potensi bencana tsunami Eureka, California, dibuat dengan
pemodelan numerik. Peta ini juga memperlihatkan potensi gempabumi, inundasi, tanah longsor
yang harus diperhitungkan ketika merancang rute evakuasi (ITSU, 1999).

2. Peringatan (warning)

Unsur kunci kedua untuk mitigasi tsunami yang efektif adalah suatu sistem peringatan untuk
memberi peringatan kepada komunitas pesisir tentang bahaya tsunami yang tengah mengancam.
Sistem peringatan didasarkan kepada data gempabumi sebagai peringatan dini, dan data perubahan
muka airlaut untuk konfirmasi dan pengawasan tsunami. Sistem peringatan juga
mengandalkan berbagai saluran komunikasi untuk menerima data seismik dan perubahan muka
airlaut, dan untuk memberikan pesan kepada pihak yang berwenang. Pusat peringatan (warning
center) haruslah: 1) cepat – memberikan peringatan secepat mungkin setelah pembentukan
tsunami potensial terjadi, 2) tepat – menyampaikan pesan tentang tsunami yang berbahaya seraya
mengurangi peringatan yang keliru, dan 3) dipercaya – bahwa sistem bekerja terus-menerus, dan
pesan mereka disampaikan dan diterima secara langsung dan mudah dipahami oleh pihak-pihak
yang berkepentingan.

2.1. Data
Sistem peringatan membutuhkan data seismik dan muka airlaut setiap saat secara cepat
(real atau near-real time). Sistem ini juga membutuhkan rekaman data gempabumi dan tsunami
yang pernah terjadi. Kedua jenis data tersebut dipergunakan untuk dapat secara cepat mendeteksi
dan melokalisasi gempabumi tsunamigenik potensial, untuk mengkonfirmasi apakah tsunami
telah terbentuk, dan untuk memperkirakan dampak potensial terhadap daerah pesisir yang
menjadi tanggungjawabnya.
2.1.1. Data seismik
Sinyal seismik - getaran dari gempabumi yang bergerak secara cepat melalui kulit bumi -
dipergunakan oleh pusat peringatan untuk mendeteksi terjadinya gempabumi, dan kemudian
untuk menentukan lokasi dan skalanya. Berdasarkan informasi tersebut,
statistik likelihood tsunami yang terbentuk dapat diperkirakan secara cepat, dan peringatan dini
atau informasi yang sesuai dapat dikeluarkan.
Seismometer standard periode pendek (0.5-2 sec/cycle) dan periode panjang (18-22 sec/cycle)
menghasilkan data untuk menentukan lokasi dan skala gempabumi. Seismometer skala luas -
- broadband seismometers (0.01-100sec/cycle) dapat pula dipergunakan untuk kedua tujuan
diatas dan juga untuk penghitungan momen seismik yang sangat berguna untuk
menyempurnakan analisis data yang dilakukan.

2.1.2. Data muka airlaut


Pengukur variasi muka laut (water-level gauges) adalah instrumen yang sangat penting dalam
sistem peringatan tsunami. Mereka dipergunakan untuk konfirmasi secara cepat tentang
kehadiran atau tidaknya suatu tsunami mengikuti peristiwa gempabumi, untuk mengamati
perkembangan tsunami, untuk membantu estimasi tingkat bahaya, dan menyediakan alasan untuk
memutuskan bahaya telah berlalu. Gauges kadangkala merupakan satu-satunya cara untuk
mendeteksi tsunami ketika data seismik tidak mendukung, atau bila tsunami bukan disebabkan
oleh gempabumi.
Untuk bisa memberikan peringatan secara efektif, gauges perlu diletakkan di dekat sumber
tsunami sehingga konfirmasi secara cepat diperoleh, apakah tsunami telah terbentuk atau tidak,
dan perkiraan awal mengenai ukuran tsunami. Mereka harus pula diletakkan diantara sumber dan
daerah pesisir yang terancam untuk memonitor perkembangannya dan membantu memprediksi
dampaknya. Untuk tsunami lokal, gauges dibutuhkan di sepanjang garis pantai untuk
memperoleh konfirmasi tercepat dan untuk evaluasi.

2.1.3. Data rekaman tsunami dan gempabumi


Pusat peringatan membutuhkan akses cepat kepada data rekaman tsunami dan gempabumi
untuk membantu memperkirakan apakah suatu gempabumi dari suatu lokasi dapat menyebabkan
tsunami, dan apakah tsunami tersebut berbahaya bagi daerah tanggung jawab mereka. Sebagai
contoh, adalah sangat berguna untuk mengetahui bila zona subduksi pada suatu daerah pernah
mengalami gempabumi berskala 8 tetapi tidak pernah menghasilkan tsunami. Juga sangat
berguna untuk mengetahui karakteristik rekaman data muka airlaut untuk tsunami yang
berbahaya dan yang tidak berbahaya pada suatu daerah.

2.1.4. Data model numerik


Dewasa ini, pusat peringatan mulai mempergunakan data dari model numerik untuk
memberikan panduan dalam prediksi tingkat bahaya tsunami berdasarkan parameter gempabumi
dan data muka airlaut tertentu.

2.1.5.Data lainnya
Jenis data lainnya yang diperlukan oleh pusat peringatan adalah seperti data letusan gunungapi
atau tanah longsor yang terjadi di dekat tubuh airlaut.

2.2. Komunikasi
Sistem peringatan tsunami membutuhkan komunikasi yang unik dan ekstensif. Data seismik
dan perubahan muka airlaut harus dikirim dari lokasi secara cepat dan dapat dipercaya oleh
penerima.
2.2.1 Akses data real time
Data seismik dan perubahan muka airlaut supaya berguna haruslah dapat diterima secara cepat
real atau very near real time. Banyak teknik komunikasi yang bisa dipergunakan, seperti radio
VHF, gelombang mikro, transmisi satelit.

2.2.2. Penyebaran pesan


Penyampaian pesan kepada para pengguna juga sama pentingnya sebagaimana mendapatkan data
secara real time. Penyampaian pesan dapat secara cepat dilakukan melalui Global
Telecommunications System (GTS) atauAeronautical Fixed Telecommunications
Network (AFTN). Pesan dapat pula disampaikan secara konvensional melalui e-mail, telpon atau
fax.

3. Persiapan

Kegiatan kategori ini tergantung pada penilaian bahaya dan peringatan. Persiapan yang layak
terhadap peringatan bahaya tsunami membutuhkan pengetahuan tentang daerah yang kemungkina
terkena bahaya (peta inundasi tsunami) dan pengetahuan tentang sistem peringatan untuk
mengetahui kapan harus mengevakuasi dan kapan saatnya kembali ketika situasi telah aman.
Tanpa kedua pengetahuan akan muncul kemungkinan kegagalan mitigasi bahaya tsunami. Tingkat
kepedulian publik dan pemahamannya terhadap tsunami juga sangat penting. Jenis persiapan
lainnya adalah perencanaan tata ruang yang menempatkan lokasi fasilitas vital masyarakat seperti
sekolah, kantor polisi dan pemadam kebakaran, rumah sakit berada diluar zona bahaya. Usaha-
usaha keteknikan untuk membangun struktur yang tahan terhadap tsunami, melindungi bangunan
yang telah ada dan menciptakan breakwater penghalang tsunami juga termasuk bagian dari
persiapan.

3.1. Evakuasi
Rencana evakuasi dan prosedurnya umumnya dikembangkan untuk tingkat lokal, karena
rencana ini membutuhkan pengetahuan detil tentang populasi dan fasilitas yang terancam
bahaya, dan potensi lokal yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah. Tsunami lokal hampir
tidak menyediakan waktu yang cukup untuk peringatan formal dan disertai gempabumi,
sementara tsunami distan mungkin memberi waktu beberapa jam untuk persiapan sebelum
gelombang yang pertama tiba. Sehingga persiapan evakuasi dan prosedurnya harus disiapkan
untuk kedua skenario tersebut.
3.1.1. Evakuasi untuk tsunami lokal
Ketika tsunami lokal terjadi, satu-satunya tanda yang ada mungkin hanyalah goncangan
gempabumi, atau suatu kondisi yang tidak biasa pada tubuh airlaut. Masyarakat harus mampu
mengenali tanda-tanda bahaya tersebut, kemudian pindah segera dan secepatnya kearah darat
atau ke arah dataran tinggi karena gelombang tsunami dapat menghantam dalam hitungan menit.
Para pengungsi juga menghadapi bahaya yang disebabkan oleh gempabumi seperti tanah
longsor, runtuhnya bangunan dan jembatan yang mungkin menghambat usaha mereka dalam
menyelamatkan diri. Untuk itu diperlukan sekali kepedulian publik dan pendidikan tentang
tsunami dan kemungkinan bahaya yang mengikuti. Hal ini juga membutuhkan perencanaan
resmi tentang zona bahaya dan rute evakuasi yang aman. Kunci utama untuk memotivasi
pendidikan publik adalah pemahaman tentang bahaya tsunami dan dimana kemungkinan banjir
tsunami tersebut terjadi.

3.1.2. Evakuasi untuk tsunami distan.


Pada kasus tsunami distan, pihak yang berwenang masih memiliki waktu yang cukup untuk
mengorganisir evakuasi. Mengikuti peringatan dari pusat peringatan bahwa tsunami telah
terbentuk dan waktu kedatangan gelombang pertama telah diketahui, pihak yang berwenang
membuat keputusan tentang apakah evakusi diperlukan. Keputusan ini didasarkan kepada data
rekaman atau model tentang ancaman dari sumber tsunami dan panduan lebih lanjut dari pusat
peringatan tentang pergerakan tsunami. Masyarakat diinformasikan tentang bahaya yang
mengancam, dan diinstruksikan tentang bagaimana, kemana, dan kapan harus mengungsi.
Badan-badan pelayanan masyarakat seperti polisi, pemadam kebakaran dan tentara, difungsikan
untuk membantu kelancaran pengungsian. Zona evakuasi dan rute pengungsian harus ditentukan
secara aman, masyarakat harus cukup diberi pengarahan tentang bahaya tsunami dan prosedur
evakuasi, sehingga mereka tidak tetap berada di tempat tinggal ketika tsunami datang atau telah
kembali ketika ancaman masih belum berakhir. Evakuasi yang tidak perlu harus dikurangi untuk
menjaga kepercayaan publik terhadap sistem.

3.2. Pendidikan
Mitigasi tsunami harus mengandung rencana untuk meningkatkan pemahaman dan
pengetahuan oleh masyarakat luas, pemerintah lokal, dan para pembuat kebijakan tentang sifat-
sifat tsunami, kerusakan dan bahaya yang disebabkan dan langkah-langkah yang diperlukan
untuk mengurangi bahaya.
3.2.1 Pendidikan publik.
Pendidikan publik yang dilaksanakan akan efektif bila ikut memperhitungkan bahasa dan
budaya lokal, ada-istiadat, praktek keagamaan, hubungan masyarakat dengan kekuasaan, dan
pengalaman tsunami masa lalu.

3.2.2. Pendidikan untuk para operator sistem peringatan, manager bencana alam, dan
pembuat kebijakan.
Operator sistem peringatan, manager bencana alam, dan pembuat kebijakan harus memenuhi
suatu tingkat pendidikan dan pemahaman terhadap bahaya tsunami. Sebab tsunami, baik lokal
maupun distan, jarang terjadi pada suatu daerah tertentu, sehingga orang-orang kunci tersebut
tidak memiliki pengalaman probadi terhadap fenomena yang menjadi dasar keputusan
menyangkut persiapan atau tindakan yang harus dilakukan ketika bahaya tersebut menimpa.

3.3. Tata guna lahan


Sebagai konsekuensi pertumbuhan penduduk global, daerah pesisir yang rawan tsunami
berkembang dengan cepat. Karena tidak mungkin untuk menghentikan pembangunan, sebaiknya
dilakukan pencegahan pembangunan fasilitas umum pada zona rawan bencana tsunami, seperti
sekolah, polisi, pemadam kebakaran dan rumah sakit yang memiliki arti penting bagi populasi
ketika bahaya sewaktu-waktu terjadi. Sebagai tambahan, hotel dan penginapan juga perlu
ditempatkan pada lokasi yang sesuai dengan prosedur evakuasi untuk memberikan keamanan
kepada para tamunya.

3.4. Keteknikan
Keteknikan dapat membantu mitigasi tsunami. Bangunan dapat diperkuat sehingga tahan
terhadap tekanan gelombang dan arus yang kuat. Fondasi struktur dapat dikonstruksikan
menahan erosi dan penggerusan oleh arus. Lantai dasar suatu bangunan dapat dibuat terbuka
sehingga mampu membiarkan airlaut melintas, hal ini menolong mengurangi sifat penggerusan
arus pada fondasi. Bagian penting dari suatu bangunan seperti generator cadangan, motor
elevator dapat ditempatkan pada lantai yang tidak terkena banjir. Benda-benda berat berbahaya
seperti tanki yang dapat hanyut terbawa banjir sebaiknya ditanamkan ke tanah. Sistem
transportasi dikonstruksikan atau dimodifikasi sehingga mampu memfasilitasi evakuasi massal
secara cepat keluar dari daerah bahaya. Beberapa struktur penahan gelombang laut
seperti seawall, sea dikes, breakwaters, river gates, juga mampu menahan atau mengurangi
tekanan tsunami.

4. Penelitian

Meskipun tidak terkait langsung dengan aktivitas mitigasi, penelitian yang terkait dengan
tsunami sangatlah penting untuk meningkatkan kualitas mitigasi. Riset yang menyelidiki bukti-
bukti paleotsunami, mengembangkan database, kuantifikasi dampak bahaya tsunami, atau
pemodelan numerik dapat meningkatkan tingkat akurasu penilaian bahaya. Teknik sistem
peringatan untuk penilaian cepat dan akurat bahaya gempabumi tsunamigenik potensial dari data
seismik dan instrumen pengukur muka airlaut dikembangkan melalui riset. Penelitian juga mampu
meningkatkan cara pendidikan publik sehingga tingkat kepedulian masyarakat akan bahya tsunami
meningkat. Menciptakan prosedur evakuasi yang efektif juga membutuhkan riset tersendiri
tentang bahaya susulan, terutama pada kasus tsunami lokal. Penelitian juga memberikan panduan
perencanaan tata ruang dalam zona inundasi potensial. Demikian juga halnya riset mengenai sifat
keteknikan untuk meningkatkan daya tahan struktur dan infrastruktur terhadap tekanan tsunami.
Bencana tsunami senantiasa mengintai masyarakat pesisir Indonesia, karena kepulauan Indonesia
tergolong sebagai daerah gempa aktif. Untuk itu masyarakat diminta mempersiapkan diri dalam
menghadapi ancama tersebut dan pihak yang berwenang harus dengan serius melakukan program
mitigasi bencana tsunami.

Salah satu tahapan paling penting yang harus segera dilakukan dalam mitigasi adalah
pembuatan peta (zonasi) daerah rawan tsunami. Pembuatan peta tersebut membutuhkan
pengetahuan tentang: 1) kemungkinan sumber tsunami dan karakteristiknya, 2) karakteristik
tsunami, 3) probabilitas kejadian, dan 4) karakteristik morfologi dasar laut dan garis pantai.
Pembuatan peta tersebut juga membutuhkan data rekaman tsunami dan/atau data paleotsunami.
Apabila data-data tersebut tidak tersedia secara lengkap, seperti di Indonesia, maka pemodelan
numerik merupakan jalan keluar yang menarik.
BAB V

KESIMPULAN

Dari uraian makalah di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :

1. Tsunami adalah gelombang laut yang disebabkan oleh gempa bumi , tanah longsor atau
letusan gunung berapi yang terjadi di laut.

2. Terjadinya Tsunami diakibatkan oleh adanya gangguan yang menyebabkan perpindahan


sejumlah besar air meluap ke daratan, seperti letusan gunung api, gempa
bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat
gempa bumi bawah laut.

3. Dampak Tsunami sebagian besar mengakibatkan kerusakan parah dan banyak menelan
korban jiwa dan harta benda sehingga perlu adanya upaya untuk menghadapi tsunami baik
dalam keadaan waspada,persiapan,saat terjadi tsunami dan setelah terjadi tsunami
DAFTAR PUSTAKA

http://www.ilmudasar.com/2017/04/Pengertian-Proses-Terjadi-Dampak-dan-
Penyebab-Tanah-Longsor-adalah.html

https://ilmugeografi.com/bencana-alam/bencana-tsunami

https://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_bandang

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/saefur-rochmat-
spdmir/20053inovasi.pdf#page=10
http://rocketmanajemen.com/definisi-tsunami/
https://id.wikipedia.org/wiki/Tsunami
http://www.alpensteel.com/article/126-113-energi-lain-lain/2912--definisi-dari-tsunami