Anda di halaman 1dari 10

TUGAS ETIKA PROFESI

TENAGA KERJA

Disusun Oleh :

1. Rizki Aji Darmawan (15508134009/B)

2. Didik Maulana Aksan (15508134010/B)

3. Tegar Sitoga (15508134017/B)

4. Bimo Satria Bagaskara (15508134021/B)

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena berkat
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. kami juga bersyukur
atas berkat rezeki dan kesehatan yang diberikan kepada kami sehingga dapat mengumpulkan
bahan-bahan materi makalah ini dari beberapa sumber.
Kami telah berusaha semampunya untuk mengumpulkan berbagai macam bahan
tentang Hukum Ketenagakerjaan. Kami sadar bahwa makalah yang kami buat ini masih jauh
dari sempurna, karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk
menyempurnakan makalah ini menjadi lebih baik lagi. Oleh karena itu kami mohon bantuan
dari para pembaca.
Demikianlah makalah ini kami buat, apabila ada kesalahan dalam penulisan, kami
mohon maaf yang sebesarnya dan sebelumnya kami mengucapkan terima kasih.

Hormat Kami,

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya untuk mewujudkan
masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, yang merata, baik materiil maupun spiritual
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dalam pelaksanaan pembangunan nasional, tenaga kerja mempunyai peranan dan
kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan. Sesuai dengan
peranan dan kedudukan tenaga kerja, diperlukan pembangunan ketenagakerjaan untuk
meningkatkan kualitas tenaga kerja dan peran sertanya dalam pembangunan serta
peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan. Perlindungan terhadap tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin hak hak
dasar pekerja/buruh dan menjamin kesamaan kesempatan serta perlakuan tanpa diskriminasi
atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya dengan
tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha.
Jika dibandingkan dengan hubungan antara seorang penjual dan pembeli barang atau
orang yang tukar menukar maka hubungan antara buruh dan majikan sangat berbeda sekali.
Orang yang jual barang bebas untuk memperjualbelikan barangnya, artinya seorang penjual
tidak dapat dipaksa untuk menjual barang yang dimilikinya kalu harga yang ditawarkan tidak
sesuai dengan kehendaknya. Demikian juga pembeli tidak dapat dipaksa untuk membeli suatu
barang jika harga barang yang diinginkan tidak sesuai dengan keinginannya.
Dalam hubungan antara buruh dan majikan, secara yuridis buruh adalah bebas
karena prinsip Negara kita tidak seorang pun boleh diperbudak, maupun diperhamba. Semua
bentuk dan jenis perbudakan, peruluruan dan perhambaan dilarang, tetapi secara sosiologis
buruh itu tidak bebas sebagai orang yang yidak mempunyai bekal hidup yang lain selain
tenaganya dan kadang-kadang terpaksa untuk menerima hubungan kerja dengan majikan
meskipun memberatkan bagi buruh itu sendiri, lebih-lebih saat sekarang ini dengan
banyaknya jumlah tenaga kerja yang tidak sebanding dengan lapangan pekerjaan yang
tersedia.
Pembangunan ketenagakerjaan harus diatur sedemikian rupa sehingga terpenuhi
hak-hak dan perlindungan yang mendasar bagi tenaga kerja dan pekerja/buruh serta pada saat
yang bersamaan dapat mewujudkan kondisi yang kondusif bagi pengembangan dunia usaha.
Pembangunan ketenagakerjaan mempunyai banyak dimensi dan keterkaitan. Keterkaitan itu
tidak hanya dengan kepentingan tenaga kerja selama, sebelum dan sesudah masa kerja tetapi
juga keterkaitan dengan kepentingan pengusaha, pemerintah, dan masyarakat. Untuk itu,
diperlukan pengaturan yang menyeluruh dan komprehensif, antara lain mencakup
pengembangan sumberdaya manusia, peningkatan produktivitas dan daya saing tenaga kerja
Indonesia, upaya perluasan kesempatan kerja, pelayanan penempatan tenaga kerja, dan
pembinaan hubungan industrial.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka rumusan masalahnya sebagai berikut :
1. Apa definisi tenaga kerja ?
2. Apa fungsi hukum ketenagakerjaan ?
3. Apa saja yang menjadi hak-hak pekerja ?
4. Bagaimana dampak rendahnya kualitas tenaga kerja ?
5. Bagaimana usaha meningkatkan kualitas tenaga kerja di Indonesia ?

1.3 Tujuan
Berdasarkan permasalahan di atas, yang menjadi tujuan dari makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui arti tenaga kerja
2. Untuk mengetahui fungsi hukum ketenagakerjaan
3. Untuk mengetahui hak-hak tenaga kerja
4. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan jika kualitas tenaga kerja rendah
5. Untuk mengetahui usaha-usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas
tenaga kerja

1.4 Manfaat
Dengan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Makalah ini diharapkan menjadi salah satu bahan informasi bagi masyarakat secara
umum dan para tenaga kerja secara khusus.
2. Dapat memberikan informasi ilmiah bagi kalangan pekerja dan instansiterkait tentang
ketenagakerjaan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Tenaga Kerja


Tenaga kerja adalah penduduk yang siap melakukan pekerjaan, penduduk yang telah
memasuki usia kerja (working age population), Angkatan kerja adalah penduduk yang
berumur 15 sampai dengan 65 tahun yang sedang bekerja atau mencari pekerjaan

Susunan penduduk menurut umurnya dapat dikelompokkan sebagai berikut :


a. Penduduk produktif (usia kerja): umur 15 – 65 tahun
b. Penduduk nonproduktif (dibawah usia kerja): umur 14 tahun kebawah
c. Penduduk nonproduktif (diatas usia kerja : umur 65 tahun keatas

2.2 Fungsi Hukum Ketenagakerjaan


Jadi hukum ketenagakerjaan dapat diartikan sebagai peraturan-peraturan yang
mengatur tenaga kerja pada waktu sebelum selama dan sesudah masa kerja. Sedangkan
Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan
barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
Menurut Profesor Mochtar kusumaatmadja, fungsi hukum itu adalah sebagai sarana
pembaharuan masyarakat. Dalam rangka pembangunan, yang dimaksud dengan sara
pembaharuan itu adalah sebagai penyalur arah kegiatan manusia ke arah yang diharapkan
oleh pembangunan. Sebagaimana halnya dengan hukum yang lain, hukum ketenagakerjaan
mempunyai fungsi sebagai sarana pembaharuan masyarakat yang mnyalurkan arah kegiatan
manusia ke arah yang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh pembangunan
ketenagakerjaan.
Pembangunan ketenagakerjaan sebagai salah satu upaya dalam mewujudkan
pembangunan nasional diarahkan untuk mengatur, membina dan mengawasi segala kegiatan
yang berhubungan dengan tenaga kerja sehingga dapat terpelihara adanya ketertiban untuk
mencapai keadilan. Pengaturan, pembinaan, dan pengawasan yang dilakukan berdasarkan
perundang-undangan yang berlaku di bidang ketenagakerjaan itu harus memadai dan sesuai
dengan laju perkembangan pembangunan yang semakin pesat sehingga dapat mengantisipasi
tuntutan perencanaan tenaga kerja, pembinaan hubungan industrial dan peningkatan
perlindungan tenaga kerja.
Masalah kontemporer ketenagakerjaan Indonesia itu sendiri tidak terlepas dari
banyaknya jumlah angkatan kerja yang pengangguran. Masalah tersebut menghadirkan
implikasi buruk dalam pembangunan hukum di Indonesia dan bila ditelusuri lebih jauh bahwa
akar dari semua masalah itu adalah karena ketidakjelasan politik ketenagakerjaan nasional.
Sekalipun dasar-dasar konstitusi UUD 1945 khususnya pasal 27 dan pasal 34 telah
memberikan amanat yang cukup jelas bagaimana seharusnya negara memberikan
perlindungan terhadap buruh/pekerja. Mengandalkan terus-menerus industri ke sektor padat
karya manufaktur, akan hanya membuat buruh Indonesia seperti hidup seperti dalam
ancaman bom waktu. Rentannya hubungan kerja akibat buruknya kondisi kerja, upah rendah.
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) semena-mena dan perlindungan hukum yang tidak
memadai, sebenarnya adalah sebuah awal munculnya rasa ketidakadilan dan potensi
munculnya kekerasan. Usaha keras dan pembenahan radikal harus dilakukan untuk
menambah percepatan investor baru.
Minimnya perlindungan hukum dan rendahnya upah merupakan salah satu masalah
dalam ketenagakerjaan kita. MeIalui undang-undang ketenagakerjaan seharusnya para
pekerja akan terlindungi secara hukum, mulai dari jaminan negara memberikan pekerjaan
yang layak, melindunginya di tempat kerja (kesehatan dan keselamatan kerja dan upah layak)
sampai dengan pemberian jaminan sosial setelah pensiun. Selain itu pekerja dapat juga
mendirikan Serikat Buruh. Sekalipun undang-undang ketenagakerjaan bagus, tetapi buruh
tetap memerlukan kehadiran serikat buruh untuk pembuatan Perjanjian Kerja Bersama
(PKB ). PKB adalah sebuah dokumen perjanjian bersama antara majikan dan buruh yang
berisi hak dan kewajiban masing-masing pihak. Hanya melalui serikat buruhlah bukan
melalui LSM ataupun partai politik bisa berunding untuk mendapatkan hak-hak tambahan (di
luar ketentuan UU) untuk menambah kesejahteraan mereka. Pemerintah harus merubah
sistem jaminan sosial ketenagakerjaan, sehingga buruh korban PHK danburuh pensiunan
akan mendapat tunjangan layak dari Jamsostek. Pemerintah dilarang mengambil keuntungan
apapun dari Jamsostek, bahkan sebaliknya. Pemerintah yang bertanggungjawab, harus
memberikan kontribusi setiap tahun, sehingga buruh bisa hidup layak. Dengan sistem
Jaminan sosial ketenagakerjaan yang baik akan mengurangi kriminalitas sosial.

2.3 Hak-hak Tenaga Kerja

Hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian kerja antara pengusaha dan
pekerja/buruh. Perjanjian kerja dibuat secara tertulis atau lisan. Perjanjian kerja yang
dipersyaratkan secara tertulis dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang undangan
yang berlaku. Perjanjian kerja dibuat atas dasar :
a. kesepakatan kedua belah pihak
b. kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum
c. adanya pekerjaan yang diperjanjikan
d. pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum,
kesusilaan, dan peraturan perundang undangan yang berlaku.

Perjanjian kerja yang dibuat oleh para pihak yang bertentangan dengan ketentuan
dapat dibatalkan. Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas

a. keselamatan dan kesehatan kerja


b. moral dan kesusilaan
c. perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama.

Untuk melindungi keselamatan pekerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja


yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. Perlindungan
sebagaimana dimaksud dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang
berlaku. Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan
kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan. Ketentuan mengenai penerapan
sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan


yang layak bagi kemanusiaan. Untuk mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan
yang layak bagi kemanusiaan maka pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang
melindungi pekerja/buruh. Kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh tersebut
meliputi :

a. upah minimum
b. upah kerja lembur
c. upah tidak masuk kerja karena berhalangan
d. upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya
e. upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya
f. bentuk dan cara pembayaran upah
g. denda dan potongan upah
h. hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah
i. struktur dan skala pengupahan yang proporsional
j. upah untuk pembayaran pesangon
k. upah untuk perhitungan pajak penghasilan

Karena upaya perluasan kesempatan kerja mencakup lintas sektoral, maka harus
disusun kebijakan nasional di semua sektor yang dapat menyerap tenaga kerja secara optimal.
Agar kebijakan nasional tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, maka pemerintah dan
masyarakat bersama-sama mengawasinya secara terkoordinasi.

Hak-hak pekerja yaitu:

a. Hak untuk mendapatkan upah


b. Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan
c. Hak untuk bebas memilih dan pindah pekerjaan sesuai dengan bakat dan
kemampuannya.
d. Hak atas pembinaan keahlian, kejuruan, untuk memperoleh serta menambah keahlian
dan ketrampilan.
e. Hak untuk mendapatkan perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja serta
perlakukan yang sesuai dengan martabat manusia dan moral agama.
f. Hak atas istirahat (cuti) serta hak atas upah penuh selama menjalaniistirahat.
g. Hak untuk mendirikan dan menjadi anggota serikat pekerja.
h. Hak untuk mendapat jaminan sosial.

Kewajiban pekerja, yaitu :

a. Melakukan pekerjaan bagi majikan/pengusaha dan perusahaan tempat bekerja.


b. Mematuhi peraturan pemerintah.
c. Mematuhi peraturan perjanjian kerja.
d. Mematuhi peraturan Kesepakatan Bersama (SKB) perjanjian perburuhan.
e. Mematuhi peraturan-peraturan majikan.
f. Menjaga rahasia perusahaan.
g. Memakai perlengkapan bagi keselamatan kerja.
Bagi buruh putusanya hubungan kerja berarti permulaan masa pengangguran dengan
segala akibatnya, sehingga untuk menjamin kepastian dan ketentraman hidup kaum buruh
seharusnya pemutusan hubungan kerja ini tidak terjadi. Karena itulah pemerintah
mengundangkan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1964 yang dalam pasal 1 ayat (1) secara
tegas menyatakan bahwa:
“ Pengusha harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan hubungan kerja jika
setelah usaha dilakukan pemutusan hubungan kerja tetap tidak dapat dihindarkan, majikan
harus merundingkan maksudnya untuk memutuskan hubungan kerja dengan organisasi buruh
yang bersangkutan atau dengan buruhnya sendiri jika buruh itu tidak menjadi anggota salah
satu organisai buruh”.

2.4 Dampak Rendahnya Kualitas Tenaga Kerja

Rendahnya kulitas tenaga kerja di Indonesia dapat mengakibatkan banyaknya


pengangguran. Pengangguran adalah penduduk usia kerja yang sedang mencari pekerjaan.
Orang semacam ini merugikan negara dan secara khusus memberatkan keluarga karena
kebutuhan menjadi beban atau tanggungan keluarga yang sudah bekerja. Indikator tingkat
beban disebut dependency ratio (DR).

2.5 Usaha Meningkatkan Kualitas Tenaga Kerja di Indonesia

Pada dasarnya ada beberapa upaya peningkatan kualitas kerja, antara lain sebagai
berikut :
 Magang di suatu lembaga-lembaga atau instansi pemerintah maupun swasta.
 Pelatihan-pelatihan atau job training agar mempunyai kesempatan kerja yang baik.
 Belajar di BLK (Balai Latihan Kerja) di suatu daerah atau kota.
 Kursus-kursus keterampilan.
 Penataran dan seminar atau lokakarya.
 Menekuni ilmu yang dipelajari untuk meningkatkan kualitas diri dengan menekuni
bidang yang diminati.
 Meningkatkan tenaga kerja terampil dengan meningkatkan pendidikan formal maupun
informal bagi setiap penduduk.
 Mengintensifkan pekerjaan di daerah pedesaan yang bersifat padat karya untuk
mengurangi pengangguran tenaga kerja kasar di pedesaan.
 Mendirikan pusat-pusat atau balai latihan kerja, untuk menyapkan tenaga terampil dan
kreatif.
 Meningkatkan transmigrasi untuk mengurangi pengangguran di daerah padat penduduk
dan memeratakan tenaga kerja.
 Industrialisasi untuk menyerap tenaga kerja.
 Menggiatkan program keluarga berencana, untuk mengurangi atau menghambat
pertambahan jumlah penduduk sehingga pertambahan jumlah angkatan kerja bisa
terkendali.
 Mengadakan proyek SP3 untuk menyerap lulusan perguruan tinggi yang diharapkan jadi
pelopor pembangunan dan pembaharuan di pedesaan. SP3 singkatan dari Sarjana
Penggerak Pembangunan Pedesaan.
 Mendorong pembangunan di daerah pedesaan untuk bisa menyerap tenaga kerja di
pedesaan.
 Penyediaan dana kredit secara lebih meluas dan merata bagi peningkatan kegiatan
produksi padat karya.
 Tingkat kurs devisa yang realistis dan memberikan intensif bagi peningkatan ekspor.
 Pengeluaran pemerintah ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja produktif
sebanyak mungkin.
 Pendidikan umum melalui pendidikan formal guna meningkatkan kualitas sumber daya
manusia.
 Kursus-kursus keterampilan, baik yang dilaksanakan pemerintah atau masyarakat.
 Pelatihan pendidikan
 Penataran-penataran, seminar, lokakarya.
 Meningkatkan kegiatan pembangunan yang banyak diserap tenaga kerjadan mendirikan
industri di daerah.
 Wajib belajar 9 tahun.
 Mencanangkan gerakan orang tua asuh.
 Memberikan beasiswa bagi siswa yang berprestasi.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian dalam pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Tenaga kerja (manpower) adalah penduduk dalam usia kerja (berusia 15 - 65 tahun) yang
potensial dapat memproduksi barang dan jasa. Sebelumtahun 2000, Indonesia
menggunakan patokan seluruh penduduk berusia 10 tahun ke atas (lihat hasil Sensus
Penduduk 1971, 1980 dan 1990). Namun sejak Sensus Penduduk 2000 dan sesuai dengan
ketentuan internasional, tenaga kerja adalah penduduk yang berusia 15-65 tahun.
2. Pengangguran adalah seseorang yang tidak atau sedang mencaripekerjaan. Kebanyakan
pemgangguran terjadi karena kurangnya kualitasketerampilan yang dimiliki oleh
penduduk sehingga mereka tidak dapat bekerja.
3. Faktor yang mempengaruhi kualitas penduduk diantaranya:
a. Tingkat pendidikan penduduk
Pendidikan merupakan modal dasar dalam mengembangkan kemampuan intelektual
seseorang. Melalui pendidikan seseorang akan mampu meningkatkan kemampuan
kognitif, efektif, dan psikomotoriknya.
b. Tingkat kesehatan penduduk
Kesehatan merupakan harta yang tak ternilai dan merupakan modal berharga bagi
seseorang untuk memulai aktifitasnya.
c. Tingkat kesejahteraan penduduk
Pencapain kesejahteraan merupakan arah cita-cita setiapmanusia yang ditandai dengan
terpenuhinya kebutuhan pangan,sandang dan papan. Masyarakat yang telah sejahtrera
merupakan cita-cita pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

3.2 Saran
Untuk terciptanya tenaga kerja yang berkualitas pemerintah supaya lebih memperhatikan
masyarakat, misalkan :
1. Lebih mengoptimalkan program Belajar 9 tahun karena kebanyakan pengangguran
terjadi disebabkan pendidikannya rendah/hanya lulus sampai SD.
2. Memberikan bantuan kepada anak yang tidak mampu misalkan memberikan beasiswa.
3. Memberikan sarana dan prasarana pendidikan misalkan gedung sekolah,perpustakaan
dan laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA

Sibali, Rachmat. Makalah tentang ketenaga kerjaan diakses pada tanggal 15 Oktober 2017
dari http://rachmatsibali.blogspot.co.id/2014/05/makalah-tentang-ketenagakerjaan.html
Palazzo,Anastasia. Makalah ketenaga kerjaan diakses tanggal 16 Oktober 2017 dari
http://itsmeanastasia.blogspot.co.id/2013/03/makalah-ketenagakerjaan.html
Triono, Asep. Makalah tenaga kerja diakses tanggal 16 Oktober 2017 dari http://situs-
aku.blogspot.co.id/2012/01/makalah-tenaga-kerja.html