Anda di halaman 1dari 34

Laporan Kasus

Struma Nodul Non Toksik

Pembimbing:
dr. Budi Suanto, Sp.B

Disusun Oleh:
Flapiana Simenceriau
11.2016.372

Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah


Rumah Sakit Imanuel Way Halim Bandar Lampung
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Periode 5 Februari 2018 – 14April 201

1
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl. Terusan Arjuna No. 6 Kebon Jeruk – Jakarta Barat

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF BEDAH
RUMAH SAKIT IMANUEL WAY HALIM LAMPUNG

Nama Mahasiswa : Flapiana Simenceriau Tanda Tangan :


NIM : 11.2016.372
Dokter Pembimbing : dr. Budi Suanto, Sp.B

IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. N Pekerjaan : PNS


Umur : 45 tahun Agama : ISLAM
Status Perkawinan :Menikah Pendidikan : S1
Jenis Kelamin : Perempuan Tgl.Masuk RS : 25 Februari 2018
Alamat :Perum Bahtera Indah Sejahtera Blok A, Sukarame Bandar Lampung

ANAMNESIS
Diambil dari : Autoanamnesis dengan pasien
Tanggal : 26 Februari 2018 Pukul 09.25 WIB
Dilakukan di : Bangsal Lavender

Keluhan Utama: Benjolan di leher.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke Poliklinik Bedah RS Imanueldiantar oleh keluarganya dengan keluhan
benjolan di leher.Benjolan sudah ada sejak 8 tahun SMRS dan tidak ada rasa nyeri saat dipegang
ataupun beraktivitas. Pasien mengatakan bahwa mengetahui benjolan karena diberitahu oleh
suaminya. Benjolan awalnya kecil sehingga pasien tidak memperdulikan benjolan tersebut lebih
lanjut. 2 minggu SMRS, pasien mengatakan bahwa agak terasa sesak ketika mau tidur saat

2
malam hari dan agak sedikit mengganjal ketika mengunyah makanan dan menelan. Pasien tidak
merasakan berdebar-debar maupun berkeringat. Pasien mengatakan bahwa tidak merasa lemas
ataupun cepat lelah dan tidak adanya penonjolan pada kedua bola mata pasien. Pasien
mengatakan tidak ada perubahan suara dan tidak ada penurunan berat badan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien mengatakan belum pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya. Pasien
memiliki riwayat benjolan di payudara kiri 1 tahun SMRS. Benjolan berukuran 3 x 3 cm tidak
terasa nyeri dan bisa digerakkan. Tidak dilakukan operasi.
Riwayat Keluarga
Pasien mengatakan keluarga tidak ada yang memiliki riwayat penyakit yang sama. Tidak
ada anggota keluarga yang memiliki riwayat diabetes melitus, penyakit jantung, hipertensi,
penyakit ginjal, penyakit paru-paru, alergi atau penyakit keganasan.

STATUS GENERALIS
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda- tanda vital
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi :80x/menit, regular, kuat angkat
Pernapasan : 20x/menit, regular, thorakoabdominal
Suhu : 36,0°C
Berat badan : 50 kg
Tinggi badan : 165 cm

PEMERIKSAAN SISTEMATIS
Kepala : Normocephali, distribusi rambut normal
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil isokor diameter 2 mm,
reflex cahaya langsung +/+, reflex cahaya tidak langsung +/+,
exopthalamus -/-
Telinga : Normotia, serumen (-), liang telinga lapang

3
Hidung : Deviasi hidung (-), normosepta, sekret (-)
Mulut : sianosis (-), lidah kotor (-)
Tenggorokan : T1-T1 tenang, faring tidak hiperemis
Leher : Tampak pembesaran tiroid. Tidak tampak pembesaran KGB
Kulit : Warna kuning langsat, turgor kulit baik, ikterik (-), sianosis (-),
anemis (-), suhu lembab.

Thoraks
1. Paru
Inspeksi : bentuk dada normal, simetris dalam keadaan statis maupun dinamis,
retraksi iga (-).
Palpasi : fremitus baik simetris, nyeri tekan (-), massa (-)
Perkusi : sonor di seluruh lapangan paru
Auskultasi : suara napas vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-
2. Jantung
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus cordis teraba di ICS IV Linea Midclavicula kiri, reguler, kuat
angkat
Perkusi : batas atas jantung di ICS II linea parasternal kiri.
batas kiri jantung di ICS VI, linea midclavicula kiri.
batas kanan jantung di ICS IV, linea sternal kanan.
Auskultasi : BJ I/II murni reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : warna kulit kuning langsat, perut datar, pelebaran pembuluh darah (-),
bekas operasi (-)
Palpasi : Supel, defens muskular (-), nyeri tekan (-) seluruh kwadaran perut, massa
(-), Murphy sign (-), nyeri tekan Mc Burney (-), Rovsing’s Sign (-),
Blumberg sign (-), Undulasi (-), Psoas sign (-), Abturator sign (-), nyeri
ketok CVA (-).
Perkusi : Timpani, shiffting dullnes (-)
Auskultasi :Bising usus(+), metalik sound (-)

4
STATUS LOKALIS :
Regio Colli
Inspeksi : Tampak benjolan di regio colli anterior dextra berukuran
diameter 8cm. Benjolan tidak berbenjol-benjol dan tidak tampak
adanya pulsasi.
Palpasi : Benjolan terasa kenyal, mobile saat menelan, nyeri tekan tidak
ada. Pembesaran KGB tidak ditemukan.
Auskultasi : bruit negatif.
Alat Kelamin (atas indikasi)
Genitalia eksterna : Tidak dilakukan pemeriksaan

Anggota Gerak
Lengan Kanan Kiri
Otot
Tonus : Normotonus Normotonus
Sendi : Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
Gerakan : Aktif Aktif
Kekuatan : +5 +5
Lain-lain : Palmar eritem (-) Palmar eritem (-)
Flapping tremor (-) Flapping tremor (-)

Tungkai dan Kaki Kanan Kiri


Luka : Tidak ada Tidak ada
Varises : Tidak ada Tidak ada
Otot : Normotonus Normotonus
Sendi : Normal Normal
Gerakan : Aktif Aktif
Kekuatan : +5 +5
Udema : Tidak ada Tidak ada
Lain-lain : Tidak ada Tidak ada

5
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium
Tanggal 26 Februari, pukul 13:30WIB di RS Imanuel Way Halim
Hematologi
Hematologi Lengkap
Hemoglobin 14.0 g/dL 12.0-16.0
Lekosit 6.530 /mm3 4.400 – 11.300
Eritrosit 4.66 juta/uL 3.6-5.8
Trombosit 222 ribu/mm3 150-450
Hematokrit 41 % 35-47
Hitung Jenis Lekosit
Basofil 0 % 0.1-1
Eosinofil 1 % 1-6
Batang 0 % 3-5
Segmen 60 % 40-70
Limfosit 34 % 30-45
Monosit 5 % 2-10
Index Eritrosit
MCV 87.6 fL 80-100
MCH 30.0 pg 26-34
MCHC 34.3 % 32-36
MPV 9.7 fL 7.2-11.1
Hemostasis
Masa Perdarahan/BT 1 menit IVY: 1-6
Masa Pembekuan/CT 11 menit 9-15
Kimia Klinik
Karbohidrat
GDS 96 mg/dL <150

6
Tanggal 2 Februari 2018, pukul 11:23 WIB di Prodia
Imunologi & Serologi
T4 112.78 nmol/L 71.00-142.00 CLIA
TSH 1.20 Uiu/ML 0.25-5.00 CLIA

Radiologi
Tanggal 1 Desember 2017
A. Radiologi Thorax

Hasil Pembacaan :
- Cor tidak membesar
- Sinuses dan diafragma normal
- Pulmo
Corakan bronkovaskuler normal
Tidak tampak gambaran infiltrat/nodul/konsolidasi
Kesan :
- Cor dan Pulmo tampak masih dalam batas normal
B. USG Tiroid8 Februari 2018 di Graha Radiologi

Hasil USG :
- Thyroid dextra tampak sangat membesar, dengan lesi isoechoic inhomogen berbatas
cukup tegas, berukuran ± 6.15 x 3.75 x 7.2 cm disertai lesi anechoic multipel di
dalamnya.
- Isthmus thyroid tidak melebar
- Thyroid sinistra tampak relatif mengecil, dengan bayangan lesi hipoechoic dengan
halo dan makrokalsifikasi, berukuran ±1.25 x 0.75 x 3.1 cm di sisi inferior lobus
- Trachea tampak terdesak ke arah sinistra
- Tidak tampak lymph node patologis di kedua jugular chain

7
Kesan :
Huge hyperplastic nodule of gotre with cystic degeneration a/r thyroid dextra &
small hyperplastic nodule of goitre a/r thyroid sinistra dengan ukuran thyroid
sinistra yang relatif kecil & indentasi trachea ke sisi sinistra.

RINGKASAN/RESUME

Nyonya Nora 45 tahun datang ke Poliklinik Bedah RS Imanuel diantar keluarganya


dengan keluhan benjolan di leher sudah 8 tahun SMRS. Pasien mengatakan bahwa mengetahui
benjolan karena diberitahu oleh suaminya. Benjolan awalnya kecil sehingga pasien tidak
memperdulikan benjolan tersebut lebih lanjut dan tidak ada rasa nyeri saat disentuh. 2 minggu
SMRS, pasien mengatakan bahwa agak terasa sesak ketika mau tidur saat malam hari dan agak
sedikit mengganjal ketika mengunyah makanan dan menelan.
Hasil pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien tampak sakit sedang,
kesadaran compos mentis. TD: 110/70 mmHg, HR: 80x/menit, regular, kuat angkat, RR:
20x/menit, regular, thorakoabdominal, T: 36.0ºC, Berat badan: 50kg, Tinggi badan: 165cm. Pada
inspeksi didapatkan benjolan dengan diameter 8cm di regio colli anterior dextra, konsistensi
kenyal, tidak berbenjol-benjol dan mobile saat menelan.
Pemeriksaan laboratorium Hb: 14.0 g/dL, Ht: 41%, Leukosit: 6.530/mm3, Trombosit
222.000/mm3. Gula darah sewaktu : 96mg/dL. T4 : 112.78 nmol/L, TSH 1.20 uIU/ml. USG
Thyroid: thyroid dextra membesar ukuran ±6.15 x 3.75 x 7.2 cm, thyroid sinistra berukuran
±1.25 x 0.75 x 3.1 cm, trakea tampak terdesak ke arah sinistra.

DIAGNOSIS KERJA
Struma Nodusa Non Toksik

DIAGNOSIS BANDING
Struma nodusa toksik
Struma difusa nontoksik
Goiter difus
Karsinoma tiroid

8
TATALAKSANA

Subtotal isthmulobectomy
Konsul anestesi
Ceftriaxone
Inform consent
Thorax PA
Infus RL 10tpm
CBC, CT/BT, GDS

Tatalaksana di ruang perawatan


Injeksi ceftriaxone 2x1 gr
Injeksi Ranitidine 2x1 amp IV
Injeksi Asam Tranexamat 3x1 amp IV
Injeksi Ketorolac 3x1 amp IV
Coditam tablet 3x1
PROGNOSIS

- Ad vitam : dubia ad bonam


- Ad functionam : dubia ad bonam
- Ad sanactionam : dubia ad bonam

Follow Up
27 Februari 2018 pukul 06.00 WIB
S: Os mengatakan ada benjolan di leher sudah 10 tahun sejak 2008. Benjolan berukuran kecil
kemudian membesar. 2 minggu ini Os merasa terganggu karena agak sesak saat tidur malam dan
terasa mengganjal saat menelan makanan.

O: Keadaan umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 70x/menit
Pernapasan : 20x/menit
Suhu : 36,5ºC
Status Lokalis
Inspeksi: terdapat benjolan di regio colli anterior dextra dengan diameter 8cm. Tidak tampak
adanya pulsasi. Tidak tampak adanya pembesaran KGB regio colli dextra. Benjolan bergerak
saat menelan.
Palpasi: Benjolan teraba kenyal. Nyeri tekan negatif. Tidak ditemukan pembesaran KGB regio
colli.
Auskultasi : Bruish (-)
A: Struma Nodusa Non Toksik
P: Pro Subtotal Isthmuslobectomy Dextra

9
Pukul WIB dilakukan operasi Subtotal Isthmuslobectomy dextra pada regio colli anterior
dextra dan sampel benjolan diambil untuk dilakukan pemeriksaan patologi anatomi.
Laporan operasi:
- Pasien tidur kepala ekstensi di meja operasi dalam narkose (general anastesi).
- Aseptik dan antiseptik daerah operasi dan sekitarnya
- Insisi 2 jari supra jugulare menembus kutis, subkutis, fascia, dan m. Platysma
- Dibuat flap sub platysma ke arah cranial sampai dengan incisura thyroidea dan ke arah
caudal sampai dengan suprasternal notch
- Insisi vertikal paramedial dengan memasuki m. Sternocleidomastoideus dextra secara
longitudinal dan melepaskan perlengketan hingga ke daerah bawah sampai dengan ke
lateral
- Dilakukan pembebasan lobus dextra kelenjar tiroid sampai dengan ke arah cranial dan
caudal
- Dilanjutkan dengan melakukan subtotal Isthmuslobectomy dextra
- Perdarahan dirawat, luka dicuci hingga bersih
- Luka operasi dijahit dengan meninggalkan drain
- Operasi selesai

10
Follow Up Pasca Operasi
28 Februari 2018 pukul 06.00 WIB
S : Nyeri di lokasi post operasi menjalar sampai ke kepala.
O: Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 68x/menit
Pernapasan : 22x/menit
Suhu : 36,0ºC
A: Post subtotal isthmuslobectomy dextra

P: injeksi ceftriaxone 2x1 gr


Injeksi Ranitidine 2x1 amp IV
Injeksi Asam Tranexamat 3x1 amp IV
Injeksi Ketorolac 3x1 amp IV
Coditam 3x1 tablet

1 Maret 2018 pukul 06.00 WIB


S: Pasien mengeluh leher terasa berlendir dan nyeri.

O: Keadaan umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 75x/menit
Pernapasan : 18x/menit
Suhu : 36,2ºC

A: Post subtotal isthmuslobectomy dextra


P:
R/Ciprofloxacin 2 dd 1
R/Coditam 2-3 dd 1 pc
R/OBH syr 3 dd 10cc
R/Multivitaplex 1 dd 1
Kontrol di Poliklinik Bedah 6 Maret 2018
S: Keluhan tidak ada
O:Dalam batas normal
A:Post Subtotal isthmuslobectomy dextra
P:GV + aff jahitan
- Multivitaplex 2x1
- Betadine I/ue
- Mefenamat acid 2-3 x 1
- Ranitidine 2x1

11
Hasil PA:
Asal organ : Regio colli (lobus dexdtra kelenjar thyroid)
Makroskopis : Diterima satu kantong jaringan identitas sesuai.
Satu buah jaringan ukuran 6,5 x 6,5 cm, berkapsul, kecoklatan, pada pembelahan
penampang berongga-rongga, kehitaman 2 kup.
Mikroskopis : Sediaan menunjukkan jaringan thyroid dengan folikel berbagai ukuran, sebagian
ukuran seragam, berkumpul padat dengan sel-sel relative monomorf. Lumen
berisi massa koloid. Tidak di dapat tanda ganas.
Kesimpulan : Thyroid: Struma Adenomatosa.

12
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Struma adalah pembesaran kelenjar tiroid yang disebabkan oleh penambahan jaringan
kelenjar tiroid itu sendiri yang biasanya terjadi karena folikel-folikel terisi koloid secara
berlebihan.Pembesaran kelenjar tiroid ini ada yang menyebabkan perubahan fungsi pada
tubuh dan ada juga yang tidak mempengaruhi fungsi.Struma merupakan suatu penyakit yang
sering dijumpai sehari-hari, dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti, struma
dengan atau tanpa kelainan fungsi metabolisme dapat didiagnosis secara tepat.Setelah
bertahun-tahun sebagian folikel tumbuh semakin besar dengan membentuk kista dan kelenjar
tersebut menjadi noduler.Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang
secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme.
B. ANATOMI TIROID1

Kelenjar tiroid terletak di leher, yaitu antara fasia koli media dan fasia
prevertebralis. Di dalam ruang yang sama terdapat trakea, esofagus, pembuluh darah besar
dan saraf. Kelenjar tiroid melekat pada trakea dan fascia pretrakealis dan melingkari
trakea dua pertiga bahkan sampai tiga perempat lingkaran.Keempat kelenjar paratiroid
umumnya terletak pada permukaan belakang kelenjar tiroid, tetapi letak dan jumlah
kelenjar ini dapat bervariasi.Arteri karotis komunis, vena jugularis interna dan nervus
vagus terletak bersama dalam suatu sarung tertutup di latero dorsal tiroid.Nervus rekurens
terletak di dorsal tiroid sebelum masuk laring.Nervus frenikus dan trunkus simpatikus
tidak masuk ke dalam ruang antara fasia media dan prevertebralis.

Gambar 1. Anatomi kelenjar tiroid.1

13
Vaskularisasi kelenjar tiroid berasal dari empat sumber antara lain arteri karotis superior
kanan dan kiri, cabang arteri karotis eksterna kanan dan kiri dan kedua arteri tiroidea inferior
kanan dan kiri, cabang arteri brakhialis. Kadang kala dijumpai arteri tiroidea ima, cabang dari
trunkus brakiosefalika. Sistem vena terdiri atas vena tiroidea superior yang berjalan bersama
arteri, vena tiroidea media di sebelah lateral dan vena tiroidea inferior. Terdapat dua macam saraf
yang mensarafi laring dengan pita suara (plica vocalis) yaitu nervus rekurens dan cabang dari
nervus laringeus superior.

Gambar 2. Vaskularisasi kelenjar tiroid.1


C. FISIOLOGI TIROID

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid utama yaitu tiroksin (T4) yang
kemudian berubah menjadi bentuk aktifnya yaitu triyodotironin (T3). Iodium nonorganik
yang diserap dari saluran cerna merupakan bahan baku hormon tiroid. Zat ini dipekatkan
kadarnya menjadi 30-40 kali sehingga mempunyai afinitas yang sangat tinggi di dalam
jaringan tiroid. T3 dan T4 yang dihasilkan ini kemudian akan disimpan dalam bentuk
koloid di dalam tiroid. Sebagian besar T4 kemudian akan dilepaskan ke sirkulasi
sedangkan sisanya tetap di dalam kelenjar yang kemudian mengalami daur ulang. Di
sirkulasi, hormon tiroid akan terikat oleh protein yaitu globulin pengikat tiroid Thyroid
Binding Globulin (TBG) atau prealbumin pengikat albumin Thyroxine Binding
Prealbumine (TBPA). Hormon stimulator tiroid Thyroid Stimulating Hormone (TSH)
memegang peranan terpenting untukmengatur sekresi dari kelenjar tiroid.TSH dihasilkan
oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Proses yang dikenal sebagai umpan balik negatif
sangat penting dalam proses pengeluaran hormon tiroid ke sirkulasi. Pada pemeriksaan

14
akan terlihat adanya sel parafolikular yang menghasilkan kalsitonin yang berfungsi untuk
mengatur metabolisme kalsium, yaitu menurunkan kadar kalsium serum terhadap tulang.1
Sekresi hormon tiroid dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid yaitu
Thyroid Stimulating Hormone (TSH) yang dihasilkan oleh lobus anterior hipofisis.
Kelenjar ini secara langsung dipengaruhi dan diatur aktifitasnya oleh kadar hormon tiroid
dalam sirkulasi yang bertindak sebagai umpan balik negatif terhadap lobus anterior
hipofisis dan terhadap sekresi hormon pelepas tirotropin yaitu Thyrotropin Releasing
Hormone (TRH) dari hipotalamus.2 Sebenarnya hampir semua sel di tubuh dipengaruhi
secara langsung atau tidak langsung oleh hormon tiroid. Efek T3 dan T4 dapat
dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu :
a) Efek pada laju metabolism

Hormon tiroid meningkatkan laju metabolisme basal tubuh secara keseluruhan.


Hormon ini adalah regulator terpenting bagi tingkat konsumsi O2 dan pengeluaran
energi tubuh pada keadaan istirahat.3
b) Efek kalorigenik

Peningkatan laju metabolisme menyebabkan peningkatan produksi panas.3


c) Efek pada metabolisme perantara
Hormon tiroid memodulasi kecepatan banyak reaksi spesifik yang terlibat dalam
metabolisme bahan bakar.Efek hormon tiroid pada bahan bakar metabolik bersifat multifaset,
hormon ini tidak saja mempengaruhi sintesis dan penguraian karbohidrat, lemak dan protein,
tetapi banyak sedikitnya jumlah hormon juga dapat menginduksi efek yang bertentangan.

d) Efek simpatomimetik
Hormon tiroid meningkatkan ketanggapan sel sasaran terhadap katekolamin (epinefrin
dan norepinefrin), zat perantara kimiawi yang digunakan oleh sistem saraf simpatis dan
hormon dari medula adrenal.3

e) Efek pada sistem kardiovaskuler


Hormon tiroid meningkatkan kecepatan denyut dan kekuatan kontraksi jantung sehingga
curah jantung meningkat.3

15
f) Efek pada pertumbuhan
Hormon tiroid tidak saja merangsang sekresi hormon pertumbuhan, tetapi juga
mendorong efek hormon pertumbuhan (somatomedin) pada sintesis protein struktural baru
dan pertumbuhan rangka.3
g) Efek pada sistem saraf
Hormon tiroid berperan penting dalam perkembangan normal sistem saraf terutama
Sistem Saraf Pusat (SSP). Hormon tiroid juga sangat penting untuk aktivitas normal SSP
pada orang dewasa.3

D. EPIDEMIOLOGI

Nodul tiroid pada umumnya jinak.Prevalensi yang dilaporkan penyakit tiroid nodular
tergantung pada populasi yang diteliti dan metode yang digunakan untuk mendeteksi nodul.
Insiden meningkat dengan bertambahnya usia dan angka kejadian tinggi pada wanita dengan
faktor resiko defisiensi yodium dan setelah paparan radiasi. Sejumlah penelitian menunjukkan
prevalensi 2-6% terdiagnosis dengan palpasi, 19-35% dengan USG dan 8-65% dalam data
otopsi.4 Prevalensi gondok nodular meningkat seiring bertambahnya usia dari 2,7% pada wanita
dan 2,0% pada pria menjadi 8,7% pada wanita dan 6,7% pada pria dengan rentang usia 26-30
tahun. Sedangkan usia 36-40 tahun bisa meningkat menjadi 14,1% wanita dan 12,4% pria. Untuk
usia 45-50 tahun bisa mencapai 18,0% pada wanita dan 14,5% pada pria .5 Karsinoma tiroid
menempati urutan ke-9 dari sepuluh keganasan tersering. National Cancer Institute dalam survei
yang telah dilakukan melaporkan bahwa dari 100.000 orang ditemukan kasus karsinoma tiroid
sebesar 12,9% per tahun baik pria maupun wanita. Angka kematian yaitu 0,5% dari 100.000
orang per tahun. Insidensi umur karsinoma tiroid yaitu umur <20 tahun sebesar 1,8%, 20-34
tahun sebesar 15,1%, umur 35-44 tahun sebesar 19,6%, umur 75-84 tahun turun sampai 1,4% dan
puncaknya pada umur 45-54 tahun yaitu 24,2%. Angka kematian tertinggi terletak pada umur 75-
84 tahun yaitu 28,9%. Estimasi kasus baru karsinoma tiroid adalah 62.980 orang pada tahun
2014. Sedangkan estimasi kematian pada tahun 2014 sebesar 1.890 orang. Angka insidensi
tahunan kanker tiroid bervariasi di seluruh dunia yaitu dari 0,5-10% per 100.000 populasi.
Karsinoma tiroid mempunyai angka prevalensi yang sama dengan multipel mieloma. Karsinoma
tiroid ini merupakan jenis keganasan jaringan endokrin yang terbanyak, yaitu 90% dari seluruh
kanker endokrin.6

16
E. KLASIFIKASI

Struma dapat dibagi menjadi :


1) Struma Toksik, yaitu struma yang menimbulkan gejala klinis pada tubuh,
berdasarkan perubahan bentuknya dapat dibagi lagi menjadi
a. Diffusa, yaitu jika pembesaran kelenjar tiroid meliputi seluruh lobus, seperti
yang ditemukan pada Grave’s disease.
b. Nodosa, yaitu jika pembesaran kelenjar tiroid hanya mengenai salah satu
lobus, seperti yang ditemukan pada Plummer’s disease
2) Struma Nontoksik, yaitu struma yang tidak menimbulkan gejala klinis pada tubuh,
berdasarkan perubahan bentuknya dapat dibagi lagi menjadi
a. Diffusa, seperti yang ditemukan pada endemik goiter
b. Nodosa, seperti yang ditemukan pada keganasan tiroid
3) Dari aspek fungsi kelenjar tiroid, yang tugasnya memproduksi hormon tiroksin, maka
bisa dibagi menjadi:
a. Hipertiroidi sering juga disebut toksik (walaupun pada kenyataannya pada
penderita ini tidak dijumpai adanya toksin), bproduksi hormontiroksin berlebihan.
b. Eutiroid bila produksi hormon tiroksin normal.
c. Hipotiroidi bila produksi hormon tiroksin kurang.
d. Struma nodosa non toksik bila tanpa tanda-tanda hipertiroid
4) Berdasarkan jumlah nodul;
a. Bila jumlah nodul hanya satu disebut struma nodosa soliter (uninodosa)
b. Bila lebih dari satu disebut struma multinodosa.
5) Berdasarkan konsistensinya:
a. Nodul lunak
b. Nodul kistik
c. Nodul keras
d. Nodul sangat keras

17
F. ETIOLOGI

Pembesaran kelenjar tiroid dapat disebabkan oleh :


1) Hiperplasia dan Hipertrofi
Setiap organ apabila dipicu untuk bekerja akan mengalami kompensasi dengan
cara memperbesar dan memperbanyak jumlah selnya. Demikian juga dengan
kelenjar tiroid pada saat pertumnuhan akan dipacu untuk bekerja memproduksi
hormon tiroksin sehingga lama kelamaan akan membesar, misalnya saat pubertas
dan kehamilan.
2) Inflamasi atau Infeksi
Proses peradangan pada kelenjar tiroid seperti pada tiroiditis akut, tiroiditis
subakut (de Quervain) dan tiroiditis kronis (Hashimoto)
3) Neoplasma
Jinak dan ganas.
G. MANIFESTASI KLINIS

Struma menimbulkan gejala klinis dikarenakan oleh perubahan kadar hormon tiroid
di dalam darah. Kelenjar tiroid dapat menghasilkan hormon tiroid dalam kadar berlebih atau
biasa disebut hipertiroid maupun dalam kadar kurang dari normal atau biasa disebut
hipotiroid. Gejala yang timbul pada hipertiroid adalah :
· Peningkatan nafsu makan dan penurunan berat badan
· Tidak tahan panas dan hiperhidrosis
· Palpitasi, sistolik yang tinggi dan diastolik yang rendah sehingga menghasilkan
tekanan nadi yang tinggi (pulsus celler) dan dalam jangka panjang dapat menjadi
fibrilasi atrium
· Tremor
· Diare
· Infertilitas, amenorrhae pada wanita dan atrofi testis pada pria
· Exophtalmus
Gejala yang timbul pada hipotiroid adalah kebalikan dari hipertiroid :
· Nafsu makan menurun dan berat badan bertambah
· Tidak tahan dingin dan kulit kering bersisik
· Bradikardi, tekanan sistolik yang rendah dan tekanan nadi yang lemah
· Gerak tubuh menjadi lamban dan edema pada wajah, kelopak mata dan tungkai.

18
Pada anamnesis, keluhan utama yang diutarakan oleh pasien bisa berupa benjolan di leher
yang sudah berlangsung lama, maupun gejala-gejala hipertiroid atau hipotiroidnya.Jika pasien
mengeluhkan adanya benjolan di leher, maka harus digali lebih jauh apakah pembesaran terjadi
sangat progresif atau lamban, disertai dengan gangguan menelan, gangguan bernafas dan
perubahan suara.Setelah itu baru ditanyakan ada tidaknya gejala-gejala hiper dan hipofungsi dari
kelenjer tiroid.Perlu juga ditanyakan tempat tinggal pasien dan asupan garamnya untuk
mengetahui apakah ada kecendrungan ke arah struma endemik.Sebaliknya jika pasien datang
dengan keluhan ke arah gejala-gejala hiper maupun hipofungsi dari tiroid, harus digali lebih jauh
ke arah hiper atau hipo dan ada tidaknya benjolan di leher.
Pada pemeriksaan fisik status lokalis pada regio coli anterior, yang paling pertama
dilakukan adalah inspeksi, dilihat apakah pembesaran simetris atau tidak, timbul tanda-tanda
gangguan pernapasan atau tidak, ikut bergerak saat menelan atau tidak.
Pada palpasi sangat penting untuk menentukan apakah bejolan tersebut benar adalah
kelenjar tiroid atau kelenjar getah bening.Perbedaannya terasa pada saat pasien diminta untuk
menelan. Jika benar pembesaran tiroid maka benjolan akan ikut bergerak saat menelan,
sementara jika tidak ikut bergerak maka harus dipikirkan kemungkinan pembesaran kelenjar
getah bening leher. Pembesaran yang teraba harus dideskripsikan :

- Lokasi: lobus kanan, lobus kiri, isthmus


- Ukuran: dalam sentimeter, diameter panjang
- Jumlah nodul: satu (uninodosa) atau lebih dari satu (multinodosa)
- Konsistensinya: kistik, lunak, kenyal, keras
- Nyeri: ada nyeri atau tidak pada saat dilakukan palpasi
- Mobilitas: ada atau tidak perlekatan terhadap trakea, muskulus sternokleidomastoideus
- Kelenjar getah bening di sekitar tiroid : ada pembesaran atau tidak.
Perbedaan Nodul Tiroid Jinak dan Ganas
Sekitar 5% struma nodosa mengalami keganasan. Di klinik perlu dibedakan nodul tiroid
jinak dan nodul ganas yang memiliki karakteristik :
1. Konsistensi keras pada beberapa bagian atau menyeluruh pada nodul dan sukar
digerakkan, walaupun nodul ganas dapat mengalami degenerasi kistik dan kemudian
menjadi lunak.
2. Sebaliknya nodul dengan konsistensi lunak lebih sering jinak, walaupun nodul yang
mengalami kalsifikasi dapat ditemukan pada hiperplasia adenomatosa yang sudah
berlangsung lama.

19
3. Infiltrasi nodul ke jaringan sekitarnya merupaka tanda keganasan, walaupun nodul ganas
tidak selalu melakukan infiltrasi. Jika ditemukan ptosis, miosis, dan enoftalmus
merupakan tanda infiltrasi ke jaringan sekitar
4. 20% nodul soliter bersifat ganas sedangkan nodul multipel jarang yang ganas.
5. Nodul yang muncul tiba-tiba atau cepat membesar perlu dicurigai ganas terutama yang
tidak disertai nyeri. Atau nodul lama yang tiba-tiba membesar progresif
6. Nodul dicurigai ganas bila disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening regional
atau perubahan suara menjadi serak.
7. Pulsasi arteri karotis teraba dari arah tepi belakang muskulus sternokleidomastoideus
karena desakan pembesaran nodul (Berry’s Sign).

H. DIAGNOSIS
Struma Nodosa Nontoksik
Definisi
Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid yang secara klinik
teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme. Istilah struma nodosa
menunjukkan adanya suatu proses, baik fisiologis maupun patologis yang menyebabkan
pembesaran asimetris dari kelenjar tiroid. Karena tidak disertai tanda-tanda toksisitas pada
tubuh, maka pembesaran asimetris ini disebut sebagai struma nodosa nontoksik.Kelainan ini
sangat sering dijumpai sehari-hari, dan harus diwaspadai tanda-tanda keganasan yang
mungkin ada.
Patofisiologi
SNNT dapat juga disebut sebagai goiter sporadis.Jika goiter endemis terjadi 10%
populasi di daerah dengan defisiensi yodium, maka goiter sporadis terjadi pada seseorang
yang tidak tinggal di daerah endemik beryodium rendah.Penyebabnya sampai sekarang belum
diketahui dengan jelas, bisa terdapat gangguan enzim yang penting dalam sintesis hormon
tiroid atau konsumsi obat-obatan yang mengandung litium, propiltiourasil, fenilbutazone,
atau aminoglutatimid.
Gejala Klinis
Pada umumnya struma nodosa non toksik tidak mengalami keluhan karena tidak ada
hipo- atau hipertiroidisme. Yang penting pada diagnosis SNNT adalah tidak adanya gejala
toksik yang disebabkan oleh perubahan kadar hormon tiroid, dan pada palpasi dirasakan
adanya pembesaran kelenjar tiroid pada salah satu lobus. Biasanya tiroid mulai membesar
pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. Karena

20
pertumbuhannya berangsur-angsur, struma dapat menjadi besar tanpa gejala kecuali benjolan
di leher.Sebagian besar penderita dengan struma nodosa dapat hidup dengan strumanya tanpa
keluhan. Walaupun sebagian struma nodosa tidak mengganggu pernafasan karena menonjol
ke depan, sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea bila pembesarannya
bilateral. Struma nodosa unilateral dapat menyebabkan pendorongan sampai jauh ke arah
kontra lateral.Pendorongan demikian mungkin tidak mengakibatkan gangguan
pernafasan.Penyempitan yang berarti menyebabkan gangguan pernafasan sampai akhirnya
terjadi dispnea dengan stridor inspiratoar.Keluhan yang ada ialah rasa berat di leher.Sewaktu
menelan trakea naik untuk menutup laring dan epiglotis sehingga terasa berat karena
terfiksasi pada trakea.
Tatalaksana
Tindakan operatif masih merupakan pilihan utama pada SNNT. Macam-macam
teknik operasinya antara lain :
a. Lobektomi, yaitu mengangkat satu lobus, bila subtotal maka kelenjar disisakan seberat 3
gram
b. Isthmolobektomi, yaitu pengangkatan salah satu lobus diikuti oleh isthmus
c. Tiroidektomi total, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar tiroid
d. Tiroidektomi subtotal bilateral, yaitu pengangkatan sebagian lobus kanan dan sebagian
kiri, sisa jaringan 2-4 gram di bagian posterior dilakukan untuk mencegah kerusakan pada
kelenjar paratiroid atau N. Rekurens Laryngeus.
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang dalam langkah menegakkan diagnosis klinis meliputi:


1.Pemeriksaan laboratorium
Hormon (TSH) tiroid stimulating hormon harus diperiksa pada pasien untuk menentukan
orang-orang dengan tirotoksikosis atau hipotiroid.Ketika tingkat TSH normal, aspirasi harus
dipertimbangkan. Ketika kadar hormon rendah, diagnosis hipertiroidisme harus dipertimbangkan.
Serum kalsitonin harus diukur pada pasien dengan riwayat keluarga kanker tiroid meduler.Tes
fungsi tiroid tidak boleh digunakan untuk membedakan apakah nodul tiroid jinak atau ganas. T4,
antibodi peroksidase antitiroid dan tes tiroglobulin tidak membantu dalam menentukan apakah
nodul tiroid jinak atau ganas, tetapi mungkin membantu dalam diagnosis penyakit Graves atau
tiroiditis Hashimoto.7

21
2. Pemeriksaan radiologi (Rontgen dan USG)
a. Foto rontgen
Pemeriksaan dilakukan dengan melakukan sinar rontgen ke paru pada posisi
anteroposterior (AP) untuk dapat menilai dan berperan dalam menentukan luasnya tumor
dan ada metastasis atau tidak.8
b. Ultrasonography (USG)

Pemeriksaan dilakukan dengan posisi transduser yaitu secara transversal mulai


dari pole bawah digeser ke arah cephalad sampai pole atas sehingga seluruh tiroid dapat
dinilai. Kemudian dapat dilakukan pemeriksaan dengan posisi transduser longitudinal
atau oblik dimulai dari lateral ke arah medial. Dilakukan pemotretan dengan foto polaroid
atau film multiformat, serta diambil ukuran tiroid dan ukuran tumor yang nampak.9
3. Pemeriksaan sidik tiroid
Dasar pemeriksaan ini adalah pengambilan dan pendistribusian yodium radioaktif dalam
kelenjar tiroid yang dapat dilihat dari pemeriksaan ini adalah besar, bentuk, dan letak kelenjar
tiroid serta distribusi dalam kelenjar serta dapat diukur pengambilan yodiumnya dalam waktu 3,
12, 24 dan 48 jam.9
4. Pemeriksaan FNAB
Penggunaan pemeriksaan sitologi ini sebagai alat bantu diagnostik dapat digunakan untuk
menegakkan diagnostik karsinoma tipe papilar, anaplastik, medular, tiroiditis dan kebanyakan
koloid nodul jinak. Namun demikian FNAB tidak bisa membedakan adenoma folikular dan
karsinoma folikular dan nodul koloid yang hiperseluler.10
5. Pemeriksaan histopatologi
Merupakan pemeriksaan diagnostik utama.Jaringan diperiksa setelah dilakukan tindakan
lobektomi atau isthmolobektomi. Kemudian di warnai degangan Hematoksilin Eosin (HE) dan
diamati di bawah mikroskop lalu ditentukan diagnosa berdasarkan gambaran pada peparat.10

22
J. DIAGNOSIS BANDING

Struma Difusa Toksik


Definisi
Struma difusa toksik dapat kita temukan pada Grave’s Disease.Penyakit ini juga
biasa disebut Basedow.Trias Basedow meliputi pembesaran kelenjar tiroid difus,
hipertiroidi dan eksoftalmus. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada orang muda
dengan gejala seperti berkeringat berlebihan, tremor tangan, menurunnya toleransi
terhafap panas, penurunan berat badan, ketidakstabilan emosi, gangguan menstruasi
berupa amenorrhea, dan polidefekasi ( sering buang air besar ). Klinis sering ditemukan
adanya pembesaran kelenjar tiroid, kadang terdapat juga manifestasi pada mata berupa
exophthalmus dan miopatia ekstrabulbi. Walaupun etiologi penyakit Graves tidak
diketahui pasti, tampaknya terdapat peran dari suatu antibodi yang dapat ditangkap
reseptor TSH, yang menimbulkan stimulus terhadap peningkatan hormon tiroid. Penyakit
ini juga ditandai dengan peningkatan absorbsi yodium radiokatif oleh kelenjar tiroid.
Patofisiologi
Grave’s Disease merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh kelainan
system imun dalam tubuh, di mana terdapat suatu zat yang disebut sebagai Thyroid
ReceptorAntibodies. Zat ini menempati reseptor TSH di sel-sel tiroid dan
menstimulasinya secaraberlebiham, sehingga TSH tidak dapat menempati reseptornya
dan kadar hormone tiroid dalam tubuh menjadi meningkat.
Gejala Klinis
Gejala dan tanda yang timbul merupakan manifestasi dari peningkatan
metabolisme di semua sistem tubuh dan organ yang mungkin secara klinis terlihat jelas.
Peningkatan metabolisme menyebabkan peningkatan kebutuhan kalori, dan seringkali
asupan ( intake) kalori tidak mencukupi kebutuhan sehingga terjadi penurunan berat
badan secara drastis.
Peningkatan metabolisme pada sistem kardiovaskuler terlihat dalam bentuk
peningkatan sirkulasi darah, antara lain dengan peningkatan curah jantung/ cardiac
output sampai dua-tiga kali normal, dan juga dalam keadaan istirahat. Irama nadi
meningkat dan tekanan denyut bertambah sehingga menjadi pulsus celer; penderita akan
mengalami takikardia dan palpitasi. Beban pada miokard, dan rangsangan saraf autonom
dapat mengakibatkan kekacauan irama jantung berupa ektrasistol, fibrilasi atrium, dan
fibrilasi ventrikel.
Pada saluran cerna sekresi maupun peristaltik meningkat sehingga sering timbul
polidefekasi dan diare.

23
Hipermetabolisme susunan saraf biasanya menyebabkan tremor, penderita sulit
tidur, sering terbangun di waktu malam.Penderita mengalami ketidakstabilan emosi,
kegelisahan, kekacauan pikiran, dan ketakutan yang tidak beralasan yang sangat
menggangu.
Pada saluran napas, hipermetabolisme menimbulkan dispnea dan takipnea yang
tidak terlalu mengganggu.Kelemahan otot terutama otot-otot bagian proksimal, biasanya
cukup mengganggu dan sering muncul secara tiba-tiba.Hal ini disebabkan oleh gangguan
elektrolit yang dipicu oleh adanya hipertiroidi tersebut.
Gangguan menstruasi dapat berupa amenorea sekunder atau
metrorhagia.Kelainan mata disebabkan oleh reaksi autoimun berupa ikatan antibodi
terhadap reseptor pada jaringan ikat dan otot ekstrabulbi dalam rongga mata.Jaringan ikat
dan jaringan lemaknya menjadi hiperplastik sehingga bola mata terdorong ke luar dan
otot mata terjepit.Akibatnya terjadi eksoftalmus yang dapat menyebabkan kerusakan bola
mata akibat keratitis. Gangguan gerak otot akan menyebabkan strabismus.
Tatalaksana
Terapi penyakit Graves ditujukan pada pengendalian keadaan tirotoksisitas/
hipertiroidi dengan pemberian antitiroid, seperti propil-tiourasil ( PTU ) atau karbimazol.
Terapi definitif dapat dipilih antara pengobatan anti-tiroid jangka panjang, ablasio dengan
yodium radiokatif, atau tiroidektomi.Pembedahan terhadap tiroid dengan hipertiroidi
dilakukan terutama jika pengobatan dengan medikamentosa gagal dengan kelenjar tiroid
besar.Pembedahan yang baik biasanya memberikan kesembuhan yang permanen
meskipun kadang dijumpai terjadinya hipotiroidi dan komplikasi yang minimal.

24
Struma Nodosa Toksik
Definisi
Struma nodosa toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid pada salah satu lobus
yang disertai dengan tanda-tanda hipertiroid. Pembesaran noduler terjadi pada usia
dewasa muda sebagai suatu struma yang nontoksik. Bila tidak diobati, dalam 15-20 tahun
dapat menjadi toksik.Pertama kali dibedakan dari penyakit Grave’s oleh Plummer, maka
disebut juga Plummer’s disease.
Patofisiologi
Penyakit ini diawali dengan timbulnya pembesaran noduler pada kelenjar tiroid
yang tidak menimbulkan gejala-gejala toksisitas, namun jika tidak segera diobati, dalam
15-20 tahun dapat menimbulkan hipertiroid. Faktor-faktor yang mempengaruhi
perubahan dari nontoksik menjadi toksik antara lain adalah nodul tersebut berubah
menjadi otonom sendiri (berhubungan dengan penyakit autoimun), pemberian hormon
tiroid dari luar, pemberian yodium radioaktif sebagai pengobatan.
Gejala Klinis
Saat anamnesis, sulit untuk membedakan antara Grave’s disease dengan
Plummer’s disease karena sama-sama menunjukan gejala-gejala hipertiroid.Yang
membedakan adalah saat pemeriksaan fisik di mana pada saat palpasi kita dapat
merasakan pembesaran yang hanya terjadi pada salah satu lobus.
Tatalaksana
Terapi yang diberikan pada Plummer’s Disease juga sama dengan Grave’s yaitu
ditujukan pada pengendalian keadaan tirotoksisitas/ hipertiroidi dengan pemberian antitiroid,
seperti propil-tiourasil ( PTU ) atau karbimazol. Terapi definitif dapat dipilih antara
pengobatan anti-tiroid jangka panjang, ablasio dengan yodium radiokatif, atau
tiroidektomi.Pembedahan terhadap tiroid dengan hipertiroidi dilakukan terutama jika
pengobatan dengan medikamentosa gagal dengan kelenjar tiroid besar.Pembedahan yang baik
biasanya memberikan kesembuhan yang permanen meskipun kadang dijumpai terjadinya
hipotiroidi dan komplikasi yang minimal.

25
Struma Difusa Nontoksik
Definisi
Struma endemik Struma endemik adalah penyakit yang ditandai dengan
pembesaran kelenjar tiroid yang terjadi pada suatu populasi, dan diperkirakan
berhubungan dengan defisiensi diet dalam harian.Epidemologi Endemik goiter
diperkirakan terdapat kurang lebih 5% pada populasi anak sekolah dasar/preadolescent
(6-12 tahun), seperti terbukti dari beberapa penelitian.Goiter endemik terjadi karena
defisiensi yodium dalam diet. Kejadian goiter endemik sering terjadi di derah pegnungan,
seperti di himalaya, alpens, daerah dengan ketersediaan yodium alam dan cakupan
pemberian yodium tambahan belum terlaksana dengan baik
Patofisiologi
Umumnya, mekanisme terjadinya goiter disebabkan oleh adanya defisiensi intake
iodin oleh tubuh.Selain itu, goiter juga dapat disebabkan oleh kelainan sintesis hormon
tiroid kongenital ataupun goitrogen (agen penyebab goiter seperti intake kalsium
berlebihan maupun sayuran family Brassica). Kurangnya iodin menyebabkan kurangnya
hormon tiroid yang dapat disintesis. Hal ini akan memicu peningkatan pelepasan TSH
(thyroid-stimulating hormone) ke dalam darah sebagai efek kompensatoriknya. Efek
tersebut menyebabkan terjadinya hipertrofi dan hiperplasi dari sel folikuler tiroid,
sehingga terjadi pembesaran tiroid secara makroskopik. Pembesaran ini dapat
menormalkan kerja tubuh, oleh karena pada efek kompensatorik tersebut kebutuhan
hormon tiroid terpenuhi. Akan tetapi, pada beberapa kasus, seperti defisiensi iodin
endemik, pembesaran ini tidak akan dapat mengompensasi penyakit yang ada. Kondisi
itulah yang dikenal dengan goiter hipotiroid. Derajat pembesaran tiroid mengikuti level
dan durasi defisiensi hormon tiroid yang terjadi pada seseorang.

26
Goiter Difus
Goiter difus adalah bentuk goiter yang membentuk satu buah pembesaran yang
tampak tanpa membentuk nodul.Benttuk ini biasa ditemukan dengan sifat non-toksik
(fungsi tiroid normal), oleh karena itu bentuk ini disebut juga goiter simpel.Dapat juga
disebut sebagai goiter koloid karena sel folikel yang membesar tesebut umumnya
dipenuhi oleh koloid.Kelainan ini muncul pada goiter endemik dan sporadik.
Goiter endemik muncul di tempat yang tanah, air, maupun suplai makanannya
mengandung sedikit iodin, sehingga terjadi defisiensi iodin secara meluas di daerah
teresebut. Contoh daerahnya adalah daerah pegunungan Alps, Andes atau Himalaya.
Sementara itu, goiter sporadik muncul lebih jarang dan dapat disebabkan oleh
berbagai hal, yaitu konsumsi bahan yang menghambat sintesis hormon tiroid atau
gangguan enzim untuk sintesis hormon tiroid yang turun secara herediter.
Pada goiter simpel, terdapat dua fase evolusinya, yaitu hiperplastik dan involusi
koloid.Pada fase hiperplastik, kelenjar tiroid membesar secara difus dan simetris,
walaupun pembesarannya tidak terlalu besar (hingga 100-150 gram).Folikel-folikelnya
dilapisi oleh sel kolumner yang banyak dan berdesakan. Akumulasi sel ini tidak sama di
keseluruhan kelenjar. Apabila setelah itu konsumsi iodin ditingkatkan atau kebutuhan
tubuh akan hormon tiroid menurun, terjadi involusi sel epitel folikel sehingga terbentuk
folikel yang besar dan dipenuhi oleh koloid. Biasanya secara makroskopik tiroid akan
terlihat coklat dan translusen, sementara secara histologis akan terlihat bahwa folikel
dipenuhi oleh koloid serta sel epitelnya gepeng dan kuboid.
Gejala Klinis
Sebagian besar manifestasi klinik berhubungan dengan pembesaran kelenjar
tiroid.Sebagian besar pasien tetap menunjukkan keadaan eutiroid, namun sebagian lagi
mengalami keadaaan hipotiroid. Hipotiroidisme lebih sering terjadi pada anak-anak
dengan defek biosintetik sebagai penyebabnya, termasuk defek pada transfer yodium.
Tatalaksana
Tujuan dari pengobatan struma endemik adalah untuk mengecilkan struma dan
mengatasi hipotiroidisme yang mungkin ada, yaitu dengan pemberian SoL Lugoli selama
4-6 bulan. Bila ada perbaikan, pengobatan dilanjutkan sampai tahun dan kemudian
tapering off dalam 4 minggu.Bila 6 bulan sesudah pengobatan struma tidak juga mengecil
maka pengobatan medikamentosa tidak berhasil dan harus dilakukan tindakan operatif.

27
Karsinoma Tiroid
Definisi
Karsinoma tiroid adalah suatu keganasan (pertumbuhan tidak terkontrol dari sel)
yang terjadi pada kelenjar tiroid. Kanker tiroid adalah sutu keganasan pada tiroid yang
memiliki 4 tipe yaitu: papiler, folikuler, anaplastik dan meduller. Kanker tiroid jarang
menyebabkan pembesaran kelenjar, lebih sering menyebabkan pertumbuhan kecil (nodul)
dalam kelenjar. Sebagian besar nodul tiroid bersifat jinak, biasanya kanker tiroid bisa
disembuhkan
Kanker tiroid seringkali membatasi kemampuan menyerap yodium dan
membatasikemampuan menghasilkan hormon tiroid, tetapi kadang menghasilkan cukup
banyak hormon tiroid sehingga terjadi hipertiroidisme.
Klasifikasi karsinoma tiroid
1. Karsinoma papiler, karsinoma ini berasal dari sel-sel tiroid dan merupakan jenis
paling umum dari karsinoma tiroid. Lebih sering terdapat pada anak dan dewasa muda
dan lebih banyak pada wanita. Terkena radiasi semasa kanak ikut menjadi sebab
keganasan ini. Pertama kali muncul berupa benjolan teraba pada kelenjar tiroid atau
sebagai pembesaran kelenjar limfe didaerah leher. Metastasis dapat terjadi melalui limfe
ke daerah lain pada tiroid atau, pada beberapa kasus, ke paru.
2. Karsinoma folikuler, karsinoma ini berasal dari sel-sel folikel dan merupakan 20-
25 % dari karsinoma tiroid. Karsinoma folikuler terutama menyerang pada usia di atas 40
tahun.Karsinoma folikuler juga menyerang wanita 2 sampai 3 kali lebih sering daripada
pria. Pemaparan terhadap sinar X semasa kanak-kanak meningkatkan resiko jenis
keganasan ini. Jenis ini lebih infasif daripada jenis papiler.
3. Karsinoma anaplastik, karsinoma ini sangat ganas dan merupakan 10% dari
kanker tiroid. Sedikit lebih sering pada wanita daripada pria. Metastasis terjadi secara
cepat, mula-mula disekitarnya dan kemudian keseluruh bagian tubuh. Pada mulanya
orang yang hanya mengeluh tentang adanya tumor didaerah tiroid. Dengan menyusupnya
kanker ini disekitar, timbul suara serak, stridor, dan sukar menelan. Harapan hidup
setelah ditegakkan diagnosis, biasanya hanya beberapa bulan.
4. Karsinoma parafolikular, karsinoma parafolikular atau meduller adalah unik
diantara kanker tiroid. Karsinoma ini umumnya lebih banyak pada wanita daripada pria
dan paling sering di atas 50 tahun. Karsinoma ini dengan cepat bermetastasis, sering
ketempat jauh seperti paru, tulang, dan hati. Ciri khasnya adalah kemampuannya
mensekresi kalsitonin karena asalnya. Karsinoma ini sering dikatakan herediter.

28
K. PENATALAKSANAAN

Medika Mentosa
Pemberian Tiroksin dan obat Anti-Tiroid
Tiroksin digunakan untuk menyusutkan ukuran struma, selama ini diyakini bahwa
pertumbuhan sel kanker tiroid dipengaruhi hormon TSH.Oleh karena itu untuk menekan TSH
serendah mungkin diberikan hormon tiroksin (T4) ini juga diberikan untuk mengatasi
hipotiroidisme yang terjadi sesudah operasi pengangkatan kelenjar tiroid.Obat anti-tiroid
(tionamid) yang digunakan saat ini adalah propiltiourasil (PTU) dan metimasol/karbimasol.
Non Medika Mentosa
1. Operasi/Pembedahan
Pembedahan menghasilkan hipotiroidisme permanen yang kurang sering
dibandingkan dengan yodium radioaktif.Terapi ini tepat untuk para pasien hipotiroidisme
yang tidak mau mempertimbangkan yodium radioaktif dan tidak dapat diterapi dengan obat-
obat anti tiroid.Reaksi-reaksi yang merugikan yang dialami dan untuk pasien hamil dengan
tirotoksikosis parah atau kekambuhan. Pada wanita hamil atau wanita yang menggunakan
kontrasepsi hormonal (suntik atau pil KB), kadar hormon tiroid total tampak meningkat. Hal
ini disebabkan makin banyak tiroid yang terikat oleh protein maka perlu dilakukan
pemeriksaan kadar T4 sehingga dapat diketahui keadaan fungsi tiroid.
Pembedahan dengan mengangkat sebagian besar kelenjar tiroid, sebelum
pembedahan tidak perlu pengobatan dan sesudah pembedahan akan dirawat sekitar 3 hari.
Kemudian diberikan obat tiroksin karena jaringan tiroid yang tersisa mungkin tidak cukup
memproduksi hormon dalam jumlah yang adekuat dan pemeriksaan laboratorium untuk
menentukan struma dilakukan 3-4 minggu setelah tindakan pembedahan.
2. Yodium Radioaktif
Yodium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada
kelenjar tiroid sehingga menghasilkan ablasi jaringan.Pasien yang tidak mau
dioperasi maka pemberian yodium radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar 50
%.Yodium radioaktif tersebut berkumpul dalam kelenjar.

Tindakan Pembedahan
Indikasi operasi pada struma adalah :
1. Struma difus toksik yang gagal dengan terapi medikamentosa
2. Struma uni atau multinodosa dengan kemungkinan keganasan
3. Struma dengan gangguan kompresi
4. Kosmetik

29
Kontraindikasi pada operasi struma :
1. Struma toksika yang belum dipersiapkan sebelumnya
2. Struma dengan dekompensasi kordis dan penyakit sistemik lain yang belum terkontrol
3. Struma besar yang melekat erat ke jaringan leher sehingga sulit digerakkan yang biasanya
karena karsinoma. Karsinoma yang demikian biasanya sering dari tipe anaplastik yang jelek
prognosisnya. Perlekatan pada trakea ataupun laring dapat sekaligus dilakukanreseksi trakea
atau laringektomi, tetapi perlekatan dengan jaringan lunak leher yang luas sulit dilakukan
eksisi yang baik.

Pertama-tama dilakukan pemeriksaan klinis untuk menentukan apakah


nodul tiroid tersebut suspek maligna atau suspek benigna.Bila nodul tersebut
suspek maligna, maka dibedakan apakah kasus tersebut operable atau inoperable.
Bila kasus yang dihadapi adalah inoperable maka dilakukan tidakan biopsi
insisi untuk keperluan pemeriksaan histopatologis.Dilanjutkan dengan tindakan
debulking dan radiasi eksterna atau kemoradioterapi.Bila nodul tiroid suspek
maligna yang operable atau suspek benigna dapat dilakukan tindakan
isthmolobektomi atau lobektomi.Jika setelah hasil PA membuktikan bahwa lesi
tersebut jinak maka operasi selesai, tetapi jika ganas maka harus ditentukan terlebih
dahulu jenis karsinoma yang terjadi.
Komplikasi pembedahan tiroid :
a. Perdarahan dari A. Tiroidea superior
b. Dispneu
c. Paralisis N. Rekurens Laryngeus. Akibatnya otot-oto laring terjadi kelemahan
d. Paralisis N. Laryngeus Superior. Akibatnya suara penderita menjadi lenih lemah
dan sukar mengontrol suara nada tinggi, karena terjadi pemendekan pita suara oleh
karena relaksasi M. Krikotiroid. Kemungkinan nervus terligasi saat operasi
L. PROGNOSIS
Prognosis struma dapat berbeda-beda, tergantung dari penyebabnya. Contohnya,
struma yang disebabkan kekurangan iodin tentunya akan memiliki prognosis lebih baik
daripada yang disebabkan kanker. Pada umumnya prognosis Struma Nodusa Non Toksik
baik.

30
M. KESIMPULAN
Struma nodosa non toksik adalah pembesaran dari kelenjar tiroid yang berbatas
jelas dan tanpa gejala-gejala hipertiroidi.Klasifikasi dari struma nodosa non toksik
didasarkan atas beberapa hal yaitu berdasarkan jumlah nodul, berdasarkan kemampuan
menangkap iodium aktif dan berdasarkan konsistensinya.
Etiologi dari struma nodosa non toksik adalah multifaktorial namun kebanyakan
struma diseluruh dunia diakibatkan oleh defisiensi yodium langsung atau akibat makan
goitrogen dalam dietnya. Gejala klinis tidak khas biasanya penderita datang dengan
keluhan kosmetik atau ketakutan akan keganasan tanpa keluhan hipo atau hipertiroidi.
Diagnosis ditegakkan dari hasil anamnesa.Pemeriksaan sidik tiroid, pemeriksaan USG,
Biopsi Aspirasi Jarum Halus (Bajah), termografi, dan petanda Tumor (tumor marker).
Penatalaksanaan meliputi terapi dengan l-thyroksin atau terapi pembedahan
yaitu tiroidektomi berupa reseksi subtotal atau lobektomi total. Komplikasi dari tindakan
pembedahan (tiroidektomi) meliputi perdarahan, terbukanya vena besar dan
menyebabkan embolisme udara, trauma pada nervus laryngeus recurrens, sepsis,
hipotiroidisme dan traceomalasia.

31
DAFTAR PUSTAKA
1. Wim de jong, Sjamsuhidayat.R. 2011 Buku ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta : EGC
2. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Penterjemah: Irawati,
Ramadani D, Indriyani F. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2006.
3. Sherwood, L., 2009. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi VI. Jakarta : EGC
4. Dean DS, Gharib H. 2008. Epidemiology of thyroid nodules. Clin Endocrinol. Metab.22(6):
901
5. Reiners C, Wegscheider K, Schicha H, Vaupel R, Wrbitzky R, Draeger PMS. 2004.
Prevalence of thyroid disorders in the working population of Germany ultrasonography
screening in 96.278 unselected employees. Thyroid. 14(11):926-32
6. Kumar V, Maitra A. 2007. Sistem endokrin dalam: Kumar, Cotran, Robbins. Buku ajar
patologi. Edisi ke-7. Jakarta: EGC
7. Hegedus L. 2004. The thyroid nodule. N Engl J Med. 351(1): 1764-71
8. Thyroid disease manager. 2012. Thyroid nodules. Shout Darmouth: Thyroid disease manager.
Diakses dari http://www.thyroidmanager.org/chapter/thyroid-nodules/#toc-therapy-for-
nodules-table-18-318-4-figure-18-13. Pada tanggal 8 Maret 2018.
9. Clark DP, Faquin WC. 2005. Thyroid cytopathology. 2nded. New York: Springer
10. Sriwidyani NP, Mulyadi K. 2007. Peranan fnab untuk diagnosis pembesaran kelenjar tiroid.
Medicine.

32
33
34