Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persalinan merupakan pengeluaran buah kehamilan cukup ataupun kurang bulan
yang mencakup pengeluaran bayi, plasenta dan selaput ketuban dari rahim ibu. Untuk
mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu atau janin,
untuk itu penolong persalinan perlu mengetahui tentang penatalaksanaan Sectio Caesaria.
Sectio Caesaria merupakan salah satu persalinan bantuan. Menurut Liu (2008 :
227), Sectio Caesaria merupakan prosedur bedah untuk pelahiran janin dengan insisi
melalui abdomen dan uterus. Sectio Caesaria adalah tindakan pembedahan yang
bertujuan melahirkan bayi melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Sectio
Caesaria dilakukan pada ibu dengan indikasi cephalopelvic disproportion (CPD),
disfungsi uterus, distorsia jaringan lunak, plasenta previa, sedangkan indikasi pada anak
adalah janin besar, gawat janin dan letak lintang (Prawiroharjo)

B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang permasalahan di atas, maka terkait dengan penatalaksanaan
pembuatan Asuhan Keperawatan pada klien Ny.Y (P1A0) dengan Post Operasi SC atas
indikasi DKP, terdapat pokok permasalahan: Bagaimana pelaksanaan asuhan
keperawatan pada klien Ny.Y dengan Post Operasi SC atas indikasi DKP di ruang
Bougenville RSUD Sukoharjo?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Penyusunan Askep ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan
penatalaksanaan perawat pada kasus post sectio caesaria indikasi DKP di ruang
Bougenville RSUD Sukoharjo.

1
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada Ny.Y dengan Post OP Sectio Caesaria atas
indikasi DKP.
b. Mampu membuat analisa data pada Ny.Y dengan Post OP Sectio Caesaria atas
indikasi DKP
c. Mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada Ny.Y dengan Post OP Sectio
Caesaria atas indikasi DKP.
d. Mampu menyusun rencana asuhan keperawatan PADA Ny.Y dengan Post OP
Sectio Caesaria atas indikasi DKP.
e. Mampu melakukan implementasi pada Ny.Y dengan Post OP Sectio Caesaria
atas indikasi DKP.
f. Mampu melakukan evaluasi pada Ny.Y dengan Post OP Sectio Caesaria atas
indikasi DKP.

D. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan
informasi dibidang keperawatan maternitas tentang Post OP Sectio Caesaria atas
indikasi DKP.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Institusi Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan dan evaluasi yang diperlukan dalam pelaksanaan praktik
pelayanan keperawatan khususnya pada klien Post OP Sectio Caesaria atas
indikasi DKP.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan dalam kegiatan proses belajar mengajar tentang asuhan
keperawatan tentang Post OP Sectio Caesaria atas indikasi DKP dapat digunakan
acuan bagi praktik mahasiswa keperawatan.

2
c. Bagi Penulis
Sebagai sarana dan alat dalam memperoleh pengetahuan dan pengalaman
khususnya di bidang keperawatan maternitas pada klien Post OP Sectio Caesaria
atas indikasi DKP.
d. Bagi Profesi
Untuk melakukan tindakan aktif keperawatan dengan cara memberikan asuhan
keperawatan pada klien Post OP Sectio Caesaria atas indikasi DKP, sehingga
dapat mencegah dan mengurangi angka kesakitan.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN
Menurut Chaplin dalam Kartono (2006) post partum adalah sesudah kelahiran, satu
istilah yang digunakan untuk mencirikan kondisi normal atau kondisi patologis sesudah
kelahiran bayi (http:/digilib.ump.ac.id/files/diskI: Diakses 05 Maret 2015: 20.00 WIB)
Periode post partum adalah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ
reproduksi kembali keadaan normal sebelum hamil. Periode ini kadang disebut puerperium
atau trimester ke empat kehamilan (Cuningham, et. Al. 2006).
Sectio Caesarea menurut (Wikjosastro, 2000) adalah suatu persalinan buatan dimana
janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat
dinding dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram.
Sectio Caesaria (SC) adalah melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen
(laparotomi) dan dinding uterus (histeretomi). Indikasi SC antara lain : disproporsi janin-
panggul, gawat janin, plasenta previa, riwayat SC, kelainan letak, partus tak maju,
kehamilan dengan resiko tinggi, pre-eklampsia dan hipertensi (Cunningham, 2006).

B. ETIOLOGI
Manuaba (2002) indikasi ibu dilakukan sectio caesarea adalah ruptur uteri iminen,
perdarahan antepartum, ketuban pecah dini. Sedangkan indikasi dari janin adalah fetal
distres dan janin besar melebihi 4.000 gram. Dari beberapa faktor sectio caesarea diatas
dapat diuraikan beberapa penyebab sectio caesarea sebagai berikut:
1. CPD ( Chepalo Pelvik Disproportion )
Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai
dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat
melahirkan secara alami. Tulang-tulang panggul merupakan susunan beberapa tulang
yang membentuk rongga panggul yang merupakan jalan yang harus dilalui oleh janin
ketika akan lahir secara alami. Bentuk panggul yang menunjukkan kelainan atau
panggul patologis juga dapat menyebabkan kesulitan dalam proses persalinan alami
sehingga harus dilakukan tindakan operasi. Keadaan patologis tersebut menyebabkan

4
bentuk rongga panggul menjadi asimetris dan ukuran-ukuran bidang panggul menjadi
abnormal.
2. PEB (Pre-Eklamsi Berat)
Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung disebabkan oleh
kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas. Setelah perdarahan dan infeksi, pre-
eklamsi dan eklamsi merupakan penyebab kematian maternal dan perinatal paling
penting dalam ilmu kebidanan. Karena itu diagnosa dini amatlah penting, yaitu mampu
mengenali dan mengobati agar tidak berlanjut menjadi eklamsi.
3. KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan
ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Sebagian besar ketuban pecah dini adalah
hamil aterm di atas 37 minggu, sedangkan di bawah 36 minggu.
4. Bayi Kembar
Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini karena kelahiran
kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi daripada kelahiran satu
bayi. Selain itu, bayi kembar pun dapat mengalami sungsang atau salah letak lintang
sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal.
5. Faktor Hambatan Jalan Lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang tidak memungkinkan
adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat
pendek dan ibu sulit bernafas.
6. Kelainan Letak Janin
a. Kelainan pada letak kepala
1) Letak kepala tengadah
Bagian terbawah adalah puncak kepala, pada pemeriksaan dalam teraba UUB
yang paling rendah. Etiologinya kelainan panggul, kepala bentuknya bundar,
anaknya kecil atau mati, kerusakan dasar panggul.
2) Presentasi muka
Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga bagian kepala yang terletak paling
rendah ialah muka. Hal ini jarang terjadi, kira-kira 0,27-0,5 %.
3) Presentasi dahi

5
Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi berada pada posisi terendah dan
tetap paling depan. Pada penempatan dagu, biasanya dengan sendirinya akan
berubah menjadi letak muka atau letak belakang kepala.
b. Letak Sungsang
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan
kepala difundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Dikenal
beberapa jenis letak sungsang, yakni presentasi bokong, presentasi bokong kaki,
sempurna, presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki (Saifuddin,
2002).

C. TANDA DAN GEJALA


Manifestasi klinis sectio caesarea menurut Doenges (2010) adalah sebagai berikut:
1. Nyeri akibat ada luka pembedahan
2. Adanya luka insisi pada bagian abdomen.
3. Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak diumbilikus.
4. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan (lokhea tidak banyak).
5. Kehilangan darah selama proses pembedahan kira-kira 600-800ml.
6. Emosi labil/perubahan emosional dengan mengekspresikan ketidak mampuan
menghadapi situasi baru
7. Biasanya terpasang kateter urinarius
8. Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samar.
9. Penaruh anastesi dapt menyebabkan mual dan muntah
10. Pada kelahiran secara SC tidak direncanakan maka bisanya kurang paham prosedur.

D. PATOFISIOLOGI
SC merupakan tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di atas 500 gr dengan
sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Indikasi dilakukan tindakan ini yaitu distorsi
kepala panggul, disfungsi uterus, distorsia jaringan lunak, placenta previa dll, untuk ibu.
Sedangkan untuk janin adalah gawat janin. Janin besar dan letak lintang setelah dilakukan
SC ibu akan mengalami adaptasi post partum baik dari aspek kognitif berupa kurang
pengetahuan. Akibat kurang informasi dan dari aspek fisiologis yaitu produk oxsitosin yang

6
tidak adekuat akan mengakibatkan ASI yang keluar hanya sedikit, luka dari insisi akan
menjadi post de entris bagi kuman. Oleh karena itu perlu diberikan antibiotik dan perawatan
luka dengan prinsip steril. Nyeri adalah salah utama karena insisi yang mengakibatkan
gangguan rasa nyaman.
Sebelum dilakukan operasi pasien perlu dilakukan anestesi bisa bersifat regional dan
umum. Namun anestesi umum lebih banyak pengaruhnya terhadap janin maupun ibu
anestesi janin sehingga kadang-kadang bayi lahir dalam keadaan upnoe yang tidak dapat
diatasi dengan mudah. Akibatnya janin bisa mati, sedangkan pengaruhnya anestesi bagi ibu
sendiri yaitu terhadap tonus uteri berupa atonia uteri sehingga darah banyak yang keluar.
Untuk pengaruh terhadap nafas yaitu jalan nafas yang tidak efektif akibat sekret yan
berlebihan karena kerja otot nafas silia yang menutup. Anestesi ini juga mempengaruhi
saluran pencernaan dengan menurunkan mobilitas usus.
Seperti yang telah diketahui setelah makanan masuk lambung akan terjadi proses
penghancuran dengan bantuan peristaltik usus. Kemudian diserap untuk metabolisme
sehingga tubuh memperoleh energi. Akibat dari mortilitas yang menurun maka peristaltik
juga menurun. Makanan yang ada di lambung akan menumpuk dan karena reflek untuk
batuk juga menurun. Maka pasien sangat beresiko terhadap aspirasi sehingga perlu dipasang
pipa endotracheal. Selain itu motilitas yang menurun juga berakibat pada perubahan pola
eliminasi yaitu konstipasi (Saifuddin, Mansjoer & Prawirohardjo, 2002).

7
E. PATHWAY SC

8
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Sarwono 2009 pemeriksaan penunjang post Sectio Caesaria adalah sebagai
berikut:
1. Hemaglobin atau hematokrit untuk mengetahui kadar pra operasi dan mengevaluasi
efek kehilangan darah pada pembedahan.
2. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi.
3. Tes golongan darah, lama perdarahan atau pembekuan darah
4. Kultur urin
5. Pemeriksaan eletrolit untuk kebutuhan cairan

G. PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN


1. Pemberian cairan
Karena 6 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian cairan
perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi hipotermi,
dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. Cairan yang biasa diberikan
biasanya DS 10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan
tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan.
2. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu dimulailah
pemberian minuman dan makanan peroral.Pemberian minuman dengan jumlah yang
sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 - 8 jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
3. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
a. Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 8 jam setelah operasi
b. Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini
mungkin setelah sadar
c. Hari pertama post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan
diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
d. Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk
(semifowler)

9
e. Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan belajar duduk
selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan sendiri, dan pada hari ke-3
pasca operasi pasien bisa dipulangkan.
4. Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada penderita,
menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan.Kateter biasanya terpasang
24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.
5. Pemberian obat-obatan
a. Antibiotik
Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda setiap institusi
b. Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
1) Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam
2) Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
3) Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu
c. Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat diberikan
caboransia seperti neurobian I vit. C.
6. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan berdarah harus
dibuka dan diganti.
7. Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu, tekanan darah,
nadi,dan pernafasan.

H. KOMPLIKASI
Menurut (Bobak, 2003) Komplikasi yang terjadi pada post sectio caesarea, antara
lain :
1. Infeksi puerperal (nifas). Tahapan ringan suhu meningkat beberapa hari; tahapan sedang
suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung;
sedangkan pada tahapan berat terjadi peritonealis, sepsis, dan usus paralitik.

10
2. Perdarahan karena banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka serta perdarahan
pada plasenta bed.
3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi
terlalu tinggi.
4. Kemungkinan ruptur uteri pada kehamilan berikutnya

I. PENGKAJIAN
1. Identitas atau biodata klien
Meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa, status perkawinan,
pekerjaan, pendidikan, tanggal masuk rumah sakit nomor register , dan diagnosa
keperawatan.
2. Keluhan utama
3. Riwayat kesehatan
4. Riwayat kesehatan dahulu
5. Penyakit kronis atau menular dan menurun sepoerti jantung, hipertensi, DM, TBC,
hepatitis, penyakit kelamin atau abortus.
6. Riwayat kesehatan sekarang :
7. Riwayat pada saat sebelun inpartu di dapatka cairan ketuban yang keluar pervaginan
secara sepontan kemudian tidak di ikuti tanda-tanda persalinan.
8. Riwayat kesehatan keluarga:
Adakah penyakit keturunan dalam keluarga seperti jantung, DM, HT, TBC, penyakit
kelamin, abortus, yang mungkin penyakit tersebut diturunkan kepada klien.
9. Pola-pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata leksana hidup sehat
Karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini, dan cara
pencegahan, penanganan, dan perawatan serta kurangnya mrnjaga kebersihan
tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan dirinya
b. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari keinginan
untuk menyusui bayinya.

11
c. Pola aktifitas
Pada pasien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya, terbatas
pada aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, cepat lelah, pada klien
nifas didapatkan keterbatasan aktivitas karena mengalami kelemahan dan nyeri.
d. Pola eleminasi
Pada pasien post partum sering terjadi adanya perasaan sering /susah kencing
selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema dari trigono, yang
menimbulkan inveksi dari uretra sehingga sering terjadi konstipasi karena penderita
takut untuk melakukan BAB.
e. Istirahat dan tidur
Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena adanya
kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan
f. Pola hubungan dan peran
Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga dan orang
lain.
g. Pola penagulangan sters
Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas
h. Pola sensori dan kognitif
Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka janhitan dan nyeri
perut akibat involusi uteri, pada pola kognitif klien nifas primipara terjadi
kurangnya pengetahuan merawat bayinya
i. Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya, lebih-lebih menjelang
persalinan dampak psikologis klien terjadi perubahan konsep diri antara lain dan
body image dan ideal diri
j. Pola reproduksi dan sosial
Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau fungsi dari
seksual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan nifas.

12
10. Pemeriksaan fisik
a. Kepala
Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kadang-kadang terdapat adanya
cloasma gravidarum, dan apakah ada benjolan
b. Leher
Kadang-kadang ditemukan adanya penbesaran kelenjar tioroid, karena adanya
proses menerang yang salah
c. Mata
Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata, konjungtiva, dan kadang-
kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses persalinan yang
mengalami perdarahan, sklera kunuing
d. Telinga
Biasanya bentuk telingga simetris atau tidak, bagaimana kebersihanya, adakah
cairan yang keluar dari telinga.
e. Hidung
Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadang-kadang ditemukan
pernapasan cuping hidung
f. Dada
Terdapat adanya pembesaran payu dara, adanya hiper pigmentasi areola mamae dan
papila mamae
g. Pada klien nifas abdomen kendor kadang-kadang striae masih terasa nyeri. Fundus
uteri 3 jari dibawa pusat.
h. Genitalia
Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila terdapat
pengeluaran mekomium yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan
menandakan adanya kelainan letak anak.
i. Anus
Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena ruptur
j. Ekstermitas
Pemeriksaan odema untuk mrlihat kelainan-kelainan karena membesarnya uterus,
karenan preeklamsia atau karena penyakit jantung atau ginjal.

13
k. Tanda-tanda vital
Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun, nadi cepat,
pernafasan meningkat, suhu tubuh turun.

J. DIGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dari pembedahan (SC)
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan.
3. Gangguan intergritas kulit berhubungan dengan pembedahan (insisi)
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan
5. Ansietas berhubungan dengan perawatan post operasi
6. Kurang pengetahuan tentang perawatan pasien post op caesar berhubungan dengan
kurangnya sumber informasi.

14
K. RENCANA KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI

1 NYERI AKUT NOC : NIC :


Definisi : sensori yang tidak 1. Pain Level, Pain management
menyenangkan dan pengalaman 2. pain control, 1. lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
emosional yang muncul secara aktual atau 3. comfort level termasuk lokasi, karakteristik, durasi,
potensial, kerusakan jaringan atau Setelah dilakukan tindakan keperawatan frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
menggambarkan ada selama ….Pasien tidak mengalami nyeri, 2. observasi reaksi non verbal dari
nya kerusakan. dengan kriteria hasil: ketidaknyamanan
Batasan karakteristik : 1. Mampu mengontrol nyeri (tahu 3. gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk
1. Perubahan selera makan penyebab nyeri, mampu mengetahui pengalaman nyeri pasien
2. Perubahan tekanan darah menggunakan tehnik 4. kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
3. Perubahan frekwensi jantung nonfarmakologi untuk 5. evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
4. Perubahan frekwensi pernafasan mengurangi nyeri, mencari 6. evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan
5. Laporan secara verbal atau non verbal bantuan) lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri
6. Diaforesis 2. Melaporkan bahwa nyeri masa lampau
7. Sikap melindungi area nyeri berkurang demean menggunakan 7. bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan
8. Tingkah laku berhati-hati manajemen nyeri menemukan dukungan
9. Gangguan tidur (mata sayu, tampak 3. Mampu mengenali nyeri (skala, 8. kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi
capek, sulit atau gerakan kacau, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan
menyeringai) nyeri) kebisingan
10. Tingkah laku distraksi (jalan-jalan, 4. Menyatakan rasa nyaman setelah 9. kurangi faktor presipitasi pilih dan lakukan
menemui orang lain, aktivitas nyeri berkurang penanganan nyeri (farmakologi, non
berulang-ulang) farmakologi dan interpersonal)
11. Respon autonom ( diaphoresis, 10. kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan
perubahan tekanan darah, perubahan intervensi
pola nafas, nadi dan dilatasi pupil) 11. ajarkan tentang teknik non farmakologi
12. Fokus menyempit (penurunan persepsi 12. berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
pada waktu, kerusakan proses berfikir, 13. evaluasi keefektifan kontrol nyeri
penurunan interaksi dengan orang dan 14. tingkatkan istirahat
lingkungan)
13. Perubahan nafsu makan dan minum 15. kolaborasikan dengan dokter jika keluhan dan
tindakan nyeri tidak berhasil
Faktor yang berhubungan :
Agen injury (fisik, biologis, psikologis)

15
ANALGETIC ADMINISTRATION
1. tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan
derajat nyeri sebelum pemberian obat
2. cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis
dan frekuensi
3. cek riwayat alergi
4. pilih analgetik yang diperlukan atau kombinasi
dari analgetik ketika pemberian lebih dari satu
5. tentukan pilihan analgetik tergantung tipe dan
beratnya nyeri
6. tentukan analgetik pilihan, rute pemberian dan
dosis optimal
7. pilih rute pemberian secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri secara teratur
8. monitor vital sign sebelum dan sesudah
pemberian analgetik pertama kali
9. berikan analgetik tepat waktu terutama saat
nyeri hebat evaluasi efektifitas analgetik, tanda
dan gejala (efek samping)

2 Gangguan mobilitas fisik NOC : NIC :


Berhubungan dengan : ❖ Joint Movement : Active Exercise therapy : ambulation
- Gangguan metabolisme sel ❖ Mobility Level ▪ Monitoring vital sign sebelm/sesudah latihan dan
- Keterlembatan perkembangan ❖ Self care : ADLs lihat respon pasien saat latihan
- Pengobatan ❖ Transfer performance ▪ Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana
- Kurang support lingkungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan ambulasi sesuai dengan kebutuhan
- Keterbatasan ketahan kardiovaskuler selama….gangguan mobilitas fisik teratasi ▪ Bantu klien untuk menggunakan tongkat saat
- Kehilangan integritas struktur tulang dengan kriteria hasil: berjalan dan cegah terhadap cedera
- Terapi pembatasan gerak ❖ Klien meningkat dalam aktivitas fisik ▪ Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain tentang
- Kurang pengetahuan tentang kegunaan ❖ Mengerti tujuan dari peningkatan teknik ambulasi
pergerakan fisik mobilitas ▪ Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
- Indeks massa tubuh diatas 75 tahun ❖ Memverbalisasikan perasaan dalam ▪ Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs
percentil sesuai dengan usia meningkatkan kekuatan dan secara mandiri sesuai kemampuan
- Kerusakan persepsi sensori kemampuan berpindah ▪ Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi dan
- Tidak nyaman, nyeri ❖ Memperagakan penggunaan alat bantu penuhi kebutuhan ADLs ps.
- Kerusakan muskuloskeletal dan Bantu untuk mobilisasi (walker) ▪ Berikan alat Bantu jika klien memerlukan.
neuromuskuler ▪ Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan
- Intoleransi aktivitas/penurunan kekuatan berikan bantuan jika diperlukan
dan stamina
- Depresi mood atau cemas

16
- Kerusakan kognitif
- Penurunan kekuatan otot, kontrol dan
atau masa
- Keengganan untuk memulai gerak
- Gaya hidup yang menetap, tidak
digunakan, deconditioning
- Malnutrisi selektif atau umum
DO:
- Penurunan waktu reaksi
- Kesulitan merubah posisi
- Perubahan gerakan (penurunan untuk
berjalan, kecepatan, kesulitan memulai
langkah pendek)
- Keterbatasan motorik kasar dan halus
- Keterbatasan ROM
- Gerakan disertai nafas pendek atau
tremor
- Ketidak stabilan posisi selama
melakukan ADL
- Gerakan sangat lambat dan tidak
terkoordinasi

3 Kerusakan integritas kulit berhubungan NOC : NIC : Pressure Management


dengan : Tissue Integrity : Skin and Mucous ▪ Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang
Eksternal : Membranes longgar
- Hipertermia atau hipotermia Wound Healing : primer dan sekunder ▪ Hindari kerutan pada tempat tidur
- Substansi kimia Setelah dilakukan tindakan keperawatan ▪ Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
- Kelembaban selama….. kerusakan integritas kulit ▪ Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam
- Faktor mekanik (misalnya : alat yang pasien teratasi dengan kriteria hasil: sekali
dapat menimbulkan luka, tekanan, ❖ Integritas kulit yang baik bisa ▪ Monitor kulit akan adanya kemerahan
restraint) dipertahankan (sensasi, elastisitas, ▪ Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang
- Immobilitas fisik temperatur, hidrasi, pigmentasi) tertekan
- Radiasi ❖ Tidak ada luka/lesi pada kulit ▪ Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
- Usia yang ekstrim ❖ Perfusi jaringan baik ▪ Monitor status nutrisi pasien
- Kelembaban kulit ❖ Menunjukkan pemahaman dalam ▪ Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
- Obat-obatan proses perbaikan kulit dan mencegah ▪ Kaji lingkungan dan peralatan yang menyebabkan
Internal : terjadinya sedera berulang tekanan
- Perubahan status metabolik ❖ Mampu melindungi kulit dan ▪ Observasi luka : lokasi, dimensi, kedalaman luka,
- Tonjolan tulang mempertahankan kelembaban kulit karakteristik,warna cairan, granulasi, jaringan
- Defisit imunologi dan perawatan alami nekrotik, tanda-tanda infeksi lokal, formasi traktus

17
- Berhubungan dengan dengan ❖ Menunjukkan terjadinya proses ▪ Ajarkan pada keluarga tentang luka dan perawatan
perkembangan penyembuhan luka luka
- Perubahan sensasi ▪ Kolaburasi ahli gizi pemberian diae TKTP, vitamin
- Perubahan status nutrisi (obesitas, ▪ Cegah kontaminasi feses dan urin
kekurusan) ▪ Lakukan tehnik perawatan luka dengan steril
- Perubahan status cairan ▪ Berikan posisi yang mengurangi tekanan pada luka
- Perubahan pigmentasi
- Perubahan sirkulasi
- Perubahan turgor (elastisitas kulit)

DO:
- Gangguan pada bagian tubuh
- Kerusakan lapisa kulit (dermis)
- Gangguan permukaan kulit (epidermis)

4 RESIKO INFEKSI NOC : NIC :


Immune Status 1. Pertahankan teknik aseptif
Faktor-faktor risiko : Knowledge : Infection control 2. Batasi pengunjung bila perlu
1. Prosedur Infasif Risk control 3. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah
2. Kerusakan jaringan dan Setelah dilakukan tindakan keperawatan tindakan keperawatan
peningkatan paparan lingkungan selama…… pasien tidak mengalami 4. Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat
3. Malnutrisi infeksi dengan criteria hasil: pelindung
4. Peningkatan paparan lingkungan 1. Klien bebas dari tanda dan gejala 5. Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai
pathogen infeksi dengan petunjuk umum
5. Imonusupresi 2. Menunjukkan kemampuan untuk 6. Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan
6. Tidak adekuat pertahanan mencegah timbulnya infeksi infeksi kandung kencing
sekunder (penurunan Hb, 3. Jumlah leukosit dalam batas 7. Tingkatkan intake nutrisi
Leukopenia, penekanan respon normal 8. Berikan terapi antibiotik
inflamasi) 4. Menunjukkan perilaku hidup 9. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan
7. Penyakit kronik sehat local
8. Imunosupresi 5. Status imun, gastrointestinal, 10. Pertahankan teknik isolasi k/p
9. Malnutrisi genitourinaria dalam batas normal 11. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap
10. Pertahan primer tidak adekuat kemerahan, panas, drainase
(kerusakan kulit, trauma jaringan, 12. Monitor adanya luka
gangguan peristaltik) 13. Dorong masukan cairan
14. Dorong istirahat
15. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala
infeksi
16. Kaji suhu badan pada pasien neutropenia
setiap 4 jam

18
5 Kecemasan berhubungan dengan NOC : NIC :
Faktor keturunan, Krisis situasional, - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)
Stress, perubahan status kesehatan, - Koping ● Gunakan pendekatan yang menenangkan
ancaman kematian, perubahan konsep diri, Setelah dilakukan asuhan selama ● Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku
kurang pengetahuan dan hospitalisasi ……………klien kecemasan teratasi dgn pasien
kriteria hasil: ● Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan
DO/DS: ❖ Klien mampu mengidentifikasi dan selama prosedur
- Insomnia mengungkapkan gejala cemas ● Temani pasien untuk memberikan keamanan dan
- Kontak mata kurang ❖ Mengidentifikasi, mengungkapkan mengurangi takut
- Kurang istirahat dan menunjukkan tehnik untuk ● Berikan informasi faktual mengenai diagnosis,
- Berfokus pada diri sendiri mengontol cemas tindakan prognosis
- Iritabilitas ❖ Vital sign dalam batas normal ● Libatkan keluarga untuk mendampingi klien
- Takut ❖ Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa ● Instruksikan pada pasien untuk menggunakan
- Nyeri perut tubuh dan tingkat aktivitas tehnik relaksasi
- Penurunan TD dan denyut nadi menunjukkan berkurangnya ● Dengarkan dengan penuh perhatian
- Diare, mual, kelelahan kecemasan ● Identifikasi tingkat kecemasan
- Gangguan tidur ● Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan
- Gemetar kecemasan
- Anoreksia, mulut kering ● Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan,
- Peningkatan TD, denyut nadi, RR ketakutan, persepsi
- Kesulitan bernafas ● Kelola pemberian obat anti cemas:........
- Bingung
- Bloking dalam pembicaraan
- Sulit berkonsentrasi

6 Kurang Pengetahuan NOC: NIC :


Berhubungan dengan : keterbatasan ❖ Kowlwdge : disease process ● Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
kognitif, interpretasi terhadap informasi ❖ Kowledge : health Behavior ● Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana
yang salah, kurangnya keinginan untuk Setelah dilakukan tindakan keperawatan hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi,
mencari informasi, tidak mengetahui selama …. pasien menunjukkan dengan cara yang tepat.
sumber-sumber informasi. pengetahuan tentang proses penyakit ● Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul
dengan kriteria hasil: pada penyakit, dengan cara yang tepat
❖ Pasien dan keluarga menyatakan ● Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
DS: Menyatakan secara verbal adanya pemahaman tentang penyakit, kondisi, ● Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara
masalah prognosis dan program pengobatan yang tepat
DO: ketidakakuratan mengikuti instruksi, ❖ Pasien dan keluarga mampu ● Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi,
perilaku tidak sesuai melaksanakan prosedur yang dengan cara yang tepat
dijelaskan secara benar ● Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan
❖ Pasien dan keluarga mampu pasien dengan cara yang tepat
menjelaskan kembali apa yang ● Diskusikan pilihan terapi atau penanganan

19
dijelaskan perawat/tim kesehatan ● Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau
lainnya mendapatkan second opinion dengan cara yang
tepat atau diindikasikan
● Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan,
dengan cara yang tepat

20
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito. 2001. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa keperawatan


dan masalah kolaboratif. Jakarta: EGC
Doenges, M.E. 2001, Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
Errol norwiz,2011,anatomi dan fisiologi obstetric dan ginekologi,
Gary,F C,2006,Williams obstetric edisi 21,Jakarta : EGC
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New
Jersey: Upper Saddle River
Kartono. 2006. Pengertian Post Partum. http://digilib.ump.ac.id.diakses. Diakses 05 Maret
2015: 20.00 WIB)
Mansjoer, A. 2002. Asuhan Keperawatn Maternitas. Jakarta : Salemba Medika
Manuaba, Ida Bagus Gede. 2002. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana, Jakarta : EGC
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition.
New Jersey: Upper Saddle River
Muchtar. 2005. Obstetri patologi, Cetakan I. Jakarta : EGC
Muttaqin, A dan Kumala sari. 2008. Buku pre operatif ,Jakarta :EGC
http://firwanintianur93.blogspot.com/2014/01/laporan-pendahuluan-sectiocaesarea.
html.
Myles textbook for midwives,2011,Buku ajar bidan Edisi :14,Jakarta :EGC
Nurjannah Intansari. 2010. Proses Keperawatan NANDA, NOC &NIC. Yogyakarta :
mocaMedia
Saifuddin, AB. 2002. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
Jakarta : penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika
Sarwono Prawiroharjo. 2009. Ilmu Kebidanan, Edisi 4 Cetakan II. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka

21